My Husband Is Park Chanyeol
ChanBaek
M
BGM = EXO - Moonlight (Soalnya ku ngetiknya sambil dengerin itu)
.
.
.
Dengan sangat tergesa Baekhyun berlari kerumahnya, saat merasakan perasaan tidak enak yang sudah ia rasakan beberapa hari terakhir ini, ia langsung berlari dari rumah Bibi Nicole. Dengan nafas lega ia bersandar dipintu, memerosotkan tubuhnya disana ketika melihat Jackson masih tertidur dengan sangat nyaman.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu tadi. Jantungku hampir meledak secara tiba-tiba asal kau mau tahu. Tapi syukur kau tidak apa-apa. Selamat malam sayang!"
Baekhyun mengecup kening Jackson kilat sebelum ia berlalu untuk membasuh dirinya. Hari ini ia sangat lelah, mengurusi berkas kelulusannya ditambah dengan pekerjaan paruh waktunya.
Setelah kepergian Cathrine dan Robert seminggu yang lalu, Baekhyun benar-benar menguras habis isi dompetnya. Ia berbaik hati membiayai pemakaman sahabatnya karena keluarga mereka tidak menginginkan keduanya. Baekhyun sangat sedih waktu itu, ia bahkan menangis dihadapan orang tua Cathrine dan Robert, ia juga menawarkan mereka untuk merawat Jackson. Tapi, tidak ada satupun diantara keduanya yang ingin mengasuh anak manis itu.
"Kau bawa saja bocah itu! Aku tak membutuhkan cucu dari anak sialan itu!"
Hanya kata-kata itu yang terus-terusan terngiang ditelinga Baekhyun. Baik Orang tua Cathrine maupun Robert, keduanya bahkan tidak hadir di pemakaman anaknya. Membuat Baekhyun ingin sekali rasanya mencekik para paruh baya itu.
Tapi mau bagaimana lagi? Cathrine dan Robert adalah orang yang paling berjasa untuk kehidupannya disini. Ia rela menghabiskan uangnya untuk mereka, orang yang ia sayangi seperti keluarganya sendiri. Dan untuk Jackie, Baekhyun bukanlah orang yang jahat. Walau Orang tua Cathrine memintanya untuk menaruh Jackson di panti asuhan saja Baekhyun tidak akan melakukannya. Baekhyun tidak setega itu untuk melepaskan anak itu, Cathrine dan Robert mempercayakan Jackson padanya, ia bersumpah ia akan menjaga anak itu dengan baik. Lagipula ia merasa masih sanggup, ia juga yakin kalau keluarganya di Korea sana pasti akan mengerti dan menerima Jackson dengan baik.
Ngomong-ngomong tentang keluarganya, sudah seminggu Baekhyun tak mengabarinya. Sejak seminggu lalu ia mengabaikan ponselnya, meletakan benda itu diatas nakas begitu saja tanpa berniat menyentuhnya sedikitpun.
Dibawah guyuran shower ia tersenyum memikirkan kebodohannya yang terlalu sibuk bekerja hingga menitipkan Jackson kerumah Bibi Nicole. Ia mengabaikan keluarganya dan juga Jackson hanya karena merasa sedih, ia menyesal sungguh.
Setelah cukup dengan ritual mandinya Baekhyun kembali ke kamarnya, masih mendapati Jackson terlelap dengan damai. Ia rogoh ponselnya, menyalakan benda yang sudah seminggu ini terbengkalai.
Ponselnya bergetar beberapa kali, mendapati beberapa pesan singkat dari eomma-nya dan juga 47 panggilan tak terjawab. Baru saja ia hendak membuka pesan singkat itu sebelum ponselnya kembali bergetar.
"Eomma!"
Ia memekik senang ketika ia menggeser ikon hijau yang tertera disana. Senyumnya mengembang dengan lebar, ia merindukan eomma-nya sungguh. Seharusnya ia tak perlu merajuk pada ponselnya kemarin hingga ia tak perlu merasakan rindu berat pada eomma-nya.
"E-eomma menangis?"
"..."
"Kenapa? J-jangan menangis eomma!"
"..."
"Aku tidak akan pul- Apa? K-kecelakaan?"
"..."
"A-aku..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya sudah meringkuk disisi ranjang, memeluk lutunya sambil menangis sesegukan tanpa memperdulikan eomma-nya yang meneriakinya di telepon.
Ia menggelengkan kepalanya tak percaya, berusaha beranggapan kalau eomma-nya baru saja berbohong. Ia bahkan sampai menangis tersedu-sedu memanggil-manggil nama Chanyeol didalam tangisannya. Ia sungguh tak percaya pada eomma-nya, ia tak habis pikir pada eomma-nya, kenapa bisa wanita itu membohonginya sampai seperti itu.
"A-aku harus pulang! Ya, aku harus pulang!"
Dan setelah merasa cukup puas untuk menangis Baekhyun segera menghapus air matanya kasar, melirik ponselnya yang sambungannya sudah terputus dengan eomma-nya sebelum akhirnya ia segera membuka lemari besarnya untuk segera berkemas.
.
.
.
"Dia menangis hiks"
Chanyeol yang melihat Noona-nya menangis terkejut, dengan susah payah ia berusaha bangkit dari ranjang sambil menahan sakit disekujur tubuhnya.
Ayahnya menahan anak itu, memintanya untuk berbaring saja daripada terluka lagi. Namun Chanyeol tak peduli, ia tak suka melihat Noona-nya menangis, apalagi wanita itu baru saja menghubungi Baekhyun, ia kan juga penasaran dengan apa yang terjadi dengan Baekhyun-nya.
"Baekhyun hiks, ia menangis"
"N-noona"
"Aku ingin menyusulnya ayah! Biarkan aku menjemputnya pulang"
"Noona, maaf. Semuanya gara-gara ulahku"
"Tidak Yeol, ini bukan salahmu! Anak itu harus tahu, dia harus tahu kalau kau sedang sakit"
Tuan Park yang melihatnya menghela nafas, ia hampiri anak wanitanya dan memeluk anak itu. Minkyung kembali menangis, ia sedih mengingat bagaimana histerisnya tangis Baekhyun ditelepon tadi. Bisakah ia menjemput anak itu sekarang?
Bukannya ia tak ingin menjaga adiknya yang masih dirumah sakit itu, tapi lihatlah, bahkan Chanyeol sudah tidak kenapa-kenapa. Anak itu bahkan sudah bisa duduk dan berbicara banyak, walau masih ada perban membalut kepalanya.
Ia hanya ingin menemui anaknya, naluri seorang ibu. Ia merindukan Baekhyun, setelah semua musibah yang membuat adiknya seperti orang gila, Minkyung tak sanggup lagi. Ia harus bisa membawa Baekhyun pulang, ia menyangi kedua orang itu. Ia tak bisa melihat salah satu dari keduanya menangis lagi.
"Aku akan menjemput Baekhyun! Bagaimanapun caranya!"
.
.
.
Dengan sangat tergesa Baekhyun berlari memasuki bandara dengan Jackson digendongannya. Kopernya sudah masuk bagasi pesawat terlebih dahulu tadi. Ia ingin cepat pulang dan menemui keluarganya secepat yang ia bisa. Ia merindukan eomma-nya, kakeknya, dan juga Chanyeol tentunya. Ia merasa bersalah pada lelaki itu, sangat sangat bersalah. Ia ingin memeluk lelaki itu, membisikan jutaan kata maaf yang akan keluar dari mulutnya dengan tulus.
"Appa~"
"Kau akan ikut aku pulang. Bersabarlah dan jangan menangis oke"
Baekhyun mengecup pipi Jackson, menunjukan senyum termanisnya pada bayi tampan yang kini akan ia jaga seperti anaknya sendiri sebelum akhirnya menaiki pesawat besar itu.
Didalam sana ia hanya diam, tak banyak berbicara atau melihat-lihat. Jackson sudah kembali tertidur dengan nyaman dipelukannya, matanya menerawang jauh. Ia tak percaya dengan kehidupannya saat ini, kenapa cobaan yang ia alami sangatlah berat? Sebegitu tega kah tuhan padanya?
Baekhyun ingin menangis sungguh, kalau tetus-terusan seperti ini jujur ia tidak sanggup. Ia hanya anak kecil, ia masih sangat muda untuk menerima cobaan seberat itu. Membuatnya ingin menyerah saja dengan kebidupannya kalau ia bisa.
.
.
.
"B-baekhyun akan pulang hari ini! ia ikut penerbangan pagi buta tadi"
Kedua lelaki yang ada diruang rawat itu membelalakan matanya terkejut ketika Minkyung secara tiba-tiba memekik keras dari atas sofa.
Tuan Park terkejut tentunya, tapi Chanyeol jauh lebih terkejut dari ayahnya. Setelah sempat merintih sakit karena ia bangun dari ranjangnya dengan terpaksa, matanya membulat lebar dengan perasaan senang membuncah didadanya.
"S-sungguh?"
"Hn, dia sampai sore nanti. Aku akan menjemputnya~"
"Aku ikut!"
"TI-DAK!"
"Aku tidak mau tau, aku akan ikut dan berdiri paling depan untuk menyambutnya!"
"Tidak! Dia anakku! Aku yang harus menyambutnya!"
"Dia calon istriku! Aku akan berdiri paling depan walaupun aku harus memaki kursi roda taupun tongkat!"
Mata Minkyung membulat, tak berbeda jauh dengan Tuan Park yang mendengar dengan jelas pekikan Chanyeol. Bukan, bukan masalah kursi roda atau tongkat. Tapi, bisa-bisanya dengan lantang lelaki itu mengecap Baekhyun adalah calon istrinya.
"Cih, terserah kau saja!"
"Ya memang, aku tak mau tahu aku harus ikut menjemput Baekkie!"
"Sudah sudah! Kita semua akan menjemput Cucuku bersama, tak ada protes lagi karena aku pusing mendengar kalian berdebat"
"Noona duluan yang me-"
"Diam atau tak ada satupun dari kalian yang boleh menemui Baekhyun!"
Keduanya menutup mulut, Chanyeol kembali berbaring lagi diatas ranjangnya dengan perlahan. Menahan rasa sakit di punggungnya sebelum akhirnya ia benar-benar berbaring dengan nyaman diatas sana.
Matanya terpejam lagi dengan senyum kecil yang kini mengembang, ia senang tentu saja. Setelah menahan rindu setahun lebih akhirnya rasa rindu itu pun bisa terbayarkan dalam beberpa jam nanti.
Lega rasanya mendengar kabar kepulangan orang yang sangat ia rindukan, setelah menjalani hari-hari yang berat hingga merasa tak sanggup lagi untuk hidup akhirnya Chanyeol tersenyum. Jantungnya berbedar tak karuan dan ia sangat senang akan hal itu.
"Bangunkan aku kalau kalian sudah ingin berangkat ke bandara! Aku akan tidur sebentar! Jangan berani-beraninya meninggalkanku!"
Dan setelahnya Chanyeol terlelap dengan damai, menemukan Baekhyun tengah tersenyum dengan sangat manis didalam mimpinya. Bahkan didalam mimpi pun Baekhyun masih bisa membuat jantung Chanyeol terasa ingin meledak.
.
.
.
"Pelan-pelan saja!"
Dengan bantuan Noona dan juga Ayahnya akhirnya Chanyeol bisa duduk diatas kursi rodanya dengan nyaman. Sebenarnya ia bisa berjalan, namun ia lebih memilih duduk dikursi roda karena ia tak perlu repot-repot merasa pegal karena menopang dirinya dengan tongkat. Dan lagipula, ia ingin memberikan kejutan pada Baekhyun, ia ingin melihat bagaimana wajah khawatir si manis Byun saat mengetahui keadaannya seperti ini. Katakan saja Chanyeol jahat, tapi memang begitu kenyataannya. Ia hanya penasaran.
"Aku tak sabar!"
"Diamlah Yeol!"
Dengan perlahan seorang suster dari rumah sakit mendorong kursi roda Chanyeol memasuki bandara. Kenapa suster itu? Karena dokter yang menangani Chanyeol tadi memaksa kalau Chanyeol tidak boleh keluar tanpa dampingan dari pihak rumah sakit. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan katanya.
"Mana? Aku tidak melihat Baekkie!"
"Ck, bersabarlah!"
"A-aduhh kepalaku! Appa jahat sekali padaku!"
"Diam dan jangan banyak bicara!"
Chanyeol merajuk, ia cibir ayahnya tanpa suara hingga suster dbelakangnya yang mengetahui ia sedang mencibir hanya menahan tawa. Chanyeol mengedarkan pandangannya, memperhatikan banyak orang berlalu lalang disekeliling mereka. Posisinya yang duduk terasa sangat menyulitkan karena ia tidak bisa bebas memandang kesegala arah. Ia jadi sedikit menyesal menggunakan kursi roda ini.
"Byun Baekhyunnie! Anak Eomma!"
Chanyeol terkejut mendengar teriakan Noona-nya, ingin sekali rasanya memukuli wanita berisik yang sialnya adalah Noona-nya, ia lihat ayahnya tengah tersenyum dengan hangat, ia kembali perhatikan Noona-nya pun sama, wanita itu tengah melambai dengan penuh semangat. Menyapa seaeorang diujung sana yang tengah kesusahan membawa kopernya.
Chanyeol menoleh, mengikuti arah pandang Noonanya, dan BOOM. Baekhyun langsung mematung ditempatnya ketika mata mereka bertemu. Chanyeol sempat bingung kenapa anak itu berhenti berjalan, namun beberapa detik kemudian ia tersenyum dalam hati, sepertinya Baekhyun benar-benar terkejut melihatnya.
Baekhyun bergetar, Chanyeol dapat melihatnya dengan jelas walau banyak orang yang berlalu lalang didepannya. Chanyeol pun tak menunjukan ekspresi apapun walau pada kenyataannya ia sangat ingin berlari dan menghujani sepupunya itu dengan ciuman. Tapi mungkin nanti setelah anak itu tidak membatu ditempatnya.
"BAEKHYUN!"
Noona-nya kembali berteriak, menyadarkan Chanyeol dan juga Baekhyun dari pikirannya masing-masing. Baekhyun menoleh kepada Eomma-nya dan kembali berjalan menghampiri keluarganya. Matanya tak terlepas barang sedikitpun dari Chanyeol ketika ia berjalan, Jackson yang mulai tak nyaman dipelukannya pun ia abaikan dan tetap menatap lurus kearah mata Pamannya.
Matanya memanas, melihat orang yang ia cintai hanya duduk dikursi roda tanpa berniat menghampiri dan memeluknya erat. Bahkan senyum pun tak Chanyeol berikan untuknya, apa lelaki itu marah padanya? Baekhyun tak mau itu terjadi sungguh.
Benar yang dikatakan eomma-nya selama ini. Chanyeol terlihat kurus dengan kantung hitam dibawah matanya, pandangan matanya terlihat kosong tidak seperti Chanyeol yang Baekhyun kenal.
Tanpa sadar ia menghapus air matanya, mengabaikan sambutan ceria dari Eomma dan juga Kakeknya yang sudah mengoceh panjang lebar. Ia hanya diam dihadapan Chanyeol, tepat didepan kursi roda pamannya
Ia serahkan Jackson pada Eomma-nya yang langsung diterima wanita itu dengan bingung. Belum sempat mendengar protes dari Eomma-nya, Baekhyun sudah menubruk Chanyeol, memeluk lelaki itu erat dengan air mata mengalir bebas.
"Maafkan aku! Maaf membuatmu seperti ini hiks. Maafkan aku paman. Aku hiks, jangan tinggalkan aku hiks. Aku minta maaf, aku tak seharusnya mengabaikanmu kemarin, hiks maafkan aku!"
Chanyeol terkejut dan akhirnya tersenyum, ia hanya diam dan tak membalas pelukan anak itu. Eomma Byun sudah sibuk dengan Jackson yang tiba-tiba saja menangis didalam gendongannya. Berbeda dengan tuan Park yang hanya bisa tersenyum sambil mengusak kepala anak dan cucunya secara bergantian.
Mendengar sang Kakek menyerukan namanya, Baekhyun mengangkat kepalanya, menunjukan bagaimana wajah merah berlelehan air mata tepat didepan wajah pamannya.
"Kakek~"
Pelukan hangat itu pun terjadi, Baekhyun menenggelamkan kepalanya didada tuan Park dan kembali menangis. Tuan Park yang mendapati cucu-nya menangis hanya menepuk punggung anak itu beberapa kali sambil berusaha menenangkan cucu-nya.
Baekhyun pun beralih pada Eomma-nya, ia kecup pipi Jackson yang masih menangis dipelukan eomma-nya hingga anak itu terdiam. Eomma Byun yang melihat itu sedikit terkejut, ia sudah susah payah membuat bayi digendongannya diam dan hanya dengan kecupan singkat dari Baekhyun anak itu langsung terdiam.
"Anak siapa ini Baekkie?"
"Namanya Jackson Eomma!"
"Aku bertanya anak si-"
Baekhyun tak menjawab dan langsung mencium pipi Eomma-nya, mengusap-usap pipi Jackson dengan senyum manis mengembang diwajahnya. Saat Chanyeol melihatnya ia langsung berpikiran negatif, mengira Jackson adalah hasil hubungan Baekhyun-nya dengan orang lain selama anak itu berada di luar negeri. Tapi pikiran itu melayang pergibjauh ketika Baekhyun kembali menjelaskan.
"Dia anak temanku, tapi sekarang sudah menjadi anakku!"
"Bagaimana bis-"
"Aku akan menjelaskannya nanti"
Setelah meyakinkan eomma-nya bahwa ia akan menjelaskan perihal Jackson nanti ia kembali berhadapan dengan Chanyeol. Ia bersimpuh didepan lelaki itu, ia genggam tangan Chanyeol, tersenyum seadanya dan kembali memeluk lelaki itu.
"Maafkan aku paman"
Ia melepaskan peluknnya, matanya kembali memerah dengan tumpukan air mata disudut-sudutnya. Dan dalam hitungan sepersekian detik ketika matanya berkedip, cairan bening itu kembali mengalir. Membuat Chanyeol tak tega melihatnya, namun ia ingin sekali mengerjai anak itu.
"Mungkin k-kalau waktu itu aku tidak mengabaikanmu kau tidak akan seperti ini. I-ini salahku hiks, kau boleh marah padaku paman. A-aku...kau boleh hiks menghukumku hiks. Aku sungguh tak tahu kalau perbuatanku akan berdampak seperti ini. Maafkan aku~"
Ia menenggelamkan kepalanya dilutut Chanyeol, mulai kembali sesegukan hingga membuat Kakek Park dan juga Eomma Byun menatap iba pada pria manis itu. Chanyeol menoleh ketika Minkyung menyentuh bahunya, ia lihat mata wanita itu melotot tajam dengan bibirnya yang bergumam 'katakan sesuatu pada anakku!'pada Chanyeol yang hanya diangguki oleh pria tampan itu.
"A-aku... Hiks Maafkan Baekkie~ Baekkie berjanji tidak akan meninggalkan pa-"
"T-tunggu! S-sebenarnya kau ini siapa?"
Seseorang, tolong pukul kepala Chanyeol!
Baekhyun yang mendengar itu terkejut, matanya membulat dan dengan perasaan sedikit sakit ia mengangkat kepalanya, menatap dalam-dalam mata kecoklatan Chanyeol tanpa berkedip.
"E-eomma? K-kakek? K-kenapa...k-kenapa bisa sep- hiks Maafkan aku~"
Kembalilah Baekhyun menangis dalam kehebohan, ia tutupi wajah menangisnya dengan telapak tangan, air matanya sudah meleleh bahkan melalu sela-sela jemari indahnya.
Didepan sana Chanyeol menyeringai menang, mengabaikan tatapan membunuh yang ditunjukan oleh Noona dan juga Ayahnya. Ia puas membuat Baekhyun menangis hingga tersedak seperti itu. Hitung-hitung balas dendam setelah anak itu membuatnya seperti mayat hidup belakangan ini.
"K-kau tidak mengenalku hiks?"
Baekhyun menghapus air matanya, kembali mendekatkan diri denang Chanyeol yang hanya dihadiahi gelengan dari Chanyeol. Baekhyun merasa hatinya baru saja dihujami ribuah anak panah, ia tak pernah mengira hal ini akan terjadi. Pamannya melupakan dirinya? Sungguh, Baekhyun tak bisa mempercayai ini semua.
"Jangan mnbohongiku Paman~ Aku sudah lelah menangis dan memikirkanmu. Aku lelah, aku tak bisa hidup dengan nyaman karenamu, aku...sudah cukup menderita menjalani setahun ini tanpamu. Apa lagi sekarang? Jangan begini hiks"
"..."
"Kau sungguh tidak ingat? Paman~ Kau bilang kau menyayangiku! Kau bilang kau mencintaiku! Tapi kenapa kau seperti ini hiks. Kenapa kau seperti ini? Jangan lupakan aku hiks, kau pasti mengingatku! Ayo ingat-ingat lagi hiks! Kumohon~"
"..."
"Aku. Aku sudah cukup terkejut mendengar kau kecelakaan. Dan sekarang? Jangan membuatku ingin mengakhiri hidupku hanya karena kau tidak mengenalku paman! Kau bilang ingin menikahiku dan menghabiskan hidup bersamaku! Hiks, tapi... Aku bahkan sudah jauh-jauh dari Paris dan kau... Kumohon~ Ingat-ingat Paman~"
"A-aku...tidak...ingat"
Baekhyun tak tahu lagi harus berbuat apa, ia sudah lelah menangis. Tenggorokannya sakit karena sesegukan. Wajahnya sudah memerah tak karuan. Ia pun kini hanya berjongkok sambil menenggelamkan kepalanya diantara lututnya. Ia menangis lagi, Eomma dan Kakeknya baru saja hendak menenangkan anak itu kalau saja Chanyeol tidak memohon kepada keduanya untuk membiarkan anak itu menangis.
TBC
Annyeong~
Aku tahu ini udah jauh banget dari kata terlambat wkwk Miian~ Aku baru bisa update sekarang nih hehe.. Ini juga gara liburan abis UN wkwk.
Oke, sedih-sedihnya cuma sampe sini yaaa~ Chap depan kita mulai yang Fluffy Fluffy lagi~ yang mau ChanBaek loveydovey sambil naena jangan lupa review wkwk
Next Chap bakalan ASAP kalau review-nya memuaskan^^ udah siap publish loooh sampe End wkwk.
Makasih buat yang udah review di Chap sebelumnya, maaf lagi nih belum bisa balesin... Aku susah kalo harus ngetik di HP, ini aja aku publish sama ngetik FF lainnya di HP. Pegel banget sumpah, mohon doa-nya ya semoga leppy-ku sayang cepet selesai sevice wkwk.
Plisplisplisplis Review~
