Disclaimer: I don't own Digimon
Chapter 10
Penjaga Dua Dunia, Kami.. Anak-anak terpilih!
Seseorang tengah berdiri didepan kelas sambil memperhatikan mereka. Ia tersenyum mengejek, karena ia memang sedikit muak dengan kelakuan ketiga orang dihadapannya.
"Yuki, apa lagi sekarang?" Hikari berbalik dan menatapnya tajam.
"Hahaha, cobalah bersikap sedikit santai padaku."
"Orang sepertimu tidak pantas untuk mendapatkannya." Hikari sedikit menyentak.
"Oh, begitu? Baiklah.. sampai nanti.." Yuki beranjak keluar kelas. Sikapnya yang tidak perduli selalu menyelimuti dirinya.
"Huh, orang yang menyebalkan." Hikari geram.
"Hikari-chan, tenang dan duduklah." Takeru menarik tangan Hikari supaya ia duduk ditempatnya.
"Kau tau? Kau lebih menyeramkan dari Taichi saat kau marah." Takeru menyisirkan rambut depan yang menutupi wajah Hikari dengan tangannya. Ia memang terlihat cantik dari sisi manapun.
"Aku setuju, Taichi-san tidak pernah berhenti dan tidak membiarkan aku pergi jika berbuat kesalahan." Daisuke menaruh tangannya di saku, dan menghela nafas.
"Seburuk itu kah?" Hikari bertanya untuk memastikan bagaimana rupa-nya saat kesal.
"Sebenarnya tidak, bahkan kau tetap manis walaupun saat tertidur." Takeru seperti biasa ingin membuat Hikari nyaman.
"Apa kau pernah tau bagaimana saat aku tidur?" Hikari mengingat kapan ia pernah tertidur saat Takeru bersamanya.
"Tentu, apa darimu yang tidak diketahui olehku hahaha"
Hikari melihat Takeru yang tertawa atas kalimatnya, dan mencoba memperbaiki posisi duduknya. Seketika, Hikari melihat dompet Takeru yang terjatuh dari saku celana.
Hikari mengambil dompet itu, dan membukanya.
"Takeru-kun, kau tidak boleh menghilangkannya" Hikari menatap sesuatu yang ada di dalam dompet Takeru dan tersenyum.
"A-Apa? Dompetku! Hikari-chan, kembalikan!" Takeru merogoh sakunya, dan melihat Hikari sudah membuka bagian dalam dompet tersebut.
Hikari menatap sesuatu yang membuat dirinya tercengang, Foto dirinya saat sedang tertidur. Senyum malaikatnya terlihat sangat cerah dan ceria. Ia tidak menyangka ada beberapa foto dirinya dan Takeru juga.
Daisuke yang melihat kedua orang temannya didepan itu, sudah sangat panas. Ia ingin sekali berteriak, namun tidak ada alasan untuknya. Ia hanya bisa mencoba memfokuskan pada hal lain, hanya itu.
Hikari yang sedang melihat foto-foto itu, kembali tersenyum saat ia melihat foto Takeru, dirinya, Tailmon dan Patamon disebuah taman. Hikari yang sedang memeluk Tailmon dan Takeru berdiri dibelakangnya sambil memegang pundak Hikari. Dan ya, Patamon ditempat biasa dengan senyum kecilnya.
"Takeru-kun, boleh aku meminta yang ini? Sangat lucu." Hikari terus menatap foto yang ia baru saja ia temukan.
"Apapun untukmu, Hikari-chan." Takeru mengambil kembali dompetnya dan merapikan foto-foto itu kedalamnya.
"Terlihat bagus bukan?" Hikari menaruh foto tersebut di dompetnya.
"Sempurna." Takeru melihat perpaduan warna pink dompet itu dengan foto-nya. Sangat lucu jika dipadukan.
"Nee, Daisuke-kun.. kenapa kau diam saja?" Hikari menoleh kebelakang tempat Daisuke duduk.
"Hah? Ah tidak, tidak apa-apa. Hahahaha" Daisuke seperti biasa memberi alasan klasik. Kepalanya terasa makin pusing setelah Ia melihat mereka.
Hari itu mereka tidak menemukan Kazu, walaupun sampai pelajaran hari itu selesai. Ini hanya membuat Takeru bertambah cemas jika Kazu merencakan sesuatu.
"Cukup untuk hari ini, selamat berakhir pekan. Anak-anak." Shiba-sensei menutup kelasnya hari itu.
Satu kelas terdengar riuh oleh teriakkan bahagia.
"Baiklah, aku senang ini sudah berakhir.." Daisuke merapikan tasnya.
"Sebenarnya, ini baru dimulai.." Takeru mengingatkan bahwa besok ada pertemuan antara anak-anak terpilih, terkecuali Kazu dan Yuki. Mereka tidak mungkin mengundang anak terpilih kegelapan untuk datang. Karena akan sia-sia saja.
"Dimulai?" Daisuke mengangkat alisnya.
"Apa Taichi-san tidak memberitakan mu? Besok akan ada pertemuan anak-anak terpilih!" Takeru menjelaskan apa maksudnya.
"Hah? Aku tidak mendengar apapun!" Daisuke menyangkal.
"Datang lah besok, aku tunggu di depan sekolah pukul 7 pagi." Takeru mengisyaratkan.
Daisuke mengangguk, Ia sebenarnya tidak ingin datang. Karena ia pasti akan melihat Takeru dan Hikari berduaan lagi.
Seperti biasa, mereka berkemas di loker sebelum mereka menuju ruang komputer. Namun kali ini, mereka tidak berlama-lama. Sekejap, mereka sudah selesai dan beranjak menuju ruang komputer tempat mereka menyimpan digimon.
"Takeruuu" Patamon terbang kearahnya saat Takeru membuka pintu.
"Hai teman, bagaimana hari-mu?" Takeru menangkap Patamon dengan kedua tangannya.
"Menyenangkan, kami mencoba bermain apa yang biasa kalian mainkan. Truth or Dare!" Patamon menjawab pertanyaan itu dengan riang.
"Lalu, apa saja yang terjadi?" Hikari masuk ke ruangan.
"Ya begitulah, Chibimon harus mengatakan apa yang ia dan Daisuke lakukan saat dirumah. Poromon terbang mengelilingi ruangan sambil bernyanyi, yaa semacam hal gila yang kalian gunakan." Tailmon mengangkat bahunya sambil menjelaskan.
"Lalu, apa yang kau lakukan?" Takeru bertanya pada Patamon yang sudah berpindah ke kepalanya.
"Aku akan menceritakannya nanti" wajah Patamon yang berwarna orange sedikit memerah.
"Hei hei, Chibimon.. apa saja yang kau katakan kepada mereka?" Daisuke bertolak pinggang dan menatap kearah Chibimon.
"Tidak banyak, hanya kau yang tidak pernah merapikan lemarimu, lalu saat kau menarik selimut yang aku pakai untuk tidur, dan ya jangan lupakan saat kau.." Chibimon berkata tidak henti-hentinya.
"Cukup! Aku tidak percaya kau mengatakannya" Daisuke menggendong dan segera menutup mulut Chibimon.
"Hahahahaha" Semua yang ada disitu tertawa.
"Gomen minna, aku terlambat" Suara langkah Iori mendekat.
"Ah Iori-kun" Daisuke berbalik dan menemukan Iori masuk ke ruangan.
"Iori-kun, apa kau sudah mengetahuinya?" Takeru mendekati Iori yang baru saja menggendong Upamon di lengannya.
"Ya" Iori mengangguk. "Aku mengetahuinya dari Jyou-senpai."
"Nee, Apa kita memerlukan Ichijouji-kun untuk hadir?" Daisuke bertanya.
"Dia itu partner jogress-mu, dan kau masih menanyakannya?" Iori memasang pandangan aneh.
"Yaa, siapa yang mengira jika ia memakai lagi kacamata dan jubah bodohnya itu, lalu bangkit bersama Chimairamon." Daisuke mengingat bagaimana kenampakkan Digimon Kaiser.
"Daisuke-kun, kata-katamu sama sekali tidak membantu." Takeru menatap kearah Daisuke.
"Lebih baik kita pulang, aku akan membawa Poromon. Miyako-san ternyata sudah menunggu kita dibawah." Iori menunduk untuk mengambil Poromon.
"Ya, ayo kita pulang!" Hikari membawa Tailmon di pelukannya.
Sementara itu di kediaman Kazu.
"Devimon.." Kazu bergumam sambil duduk di kamarnya.
"Mengapa kau mundur, tidak seharusnya orang sepertimu untuk mengalah pada mereka.." Suara Devimon terdengar dari belakangnya.
"Aku mengetahuinya.. hanya saja.." Kazu terhenti sejenak. "Apa kau pernah bertemu dengannya?"
"Ya, ia adalah salah satu anak terpilih.. dan Angemon pernah mengorbankan dirinya untuk memusnahkan ku.."
"Berarti, ia adalah lawan yang cukup tangguh.." Kazu menatap pada digivicenya.
"Tapi tidak untuk kedua kalinya.. dengan kekuatan mu, aku tidak akan terkalahkan.. Haha.." suara tawa jahat Devimon.
Hari itu, mereka memutuskan untuk tidak berkunjung dirumah siapapun. Karena esok hari, adalah hari yang penting bagi mereka. Selain akan bertemu digimon-digimon kembali, ada kemungkinan besar mereka akan kembali ke Dunia Digital.. Kecuali Daisuke. Ia memilih untuk tidak ikut, dan masih dengan alasan yang sama. Berhubung ia sudah mengetahui semuanya, maka ia merasa tidak perlu datang ke pertemuan itu. Ia sebenarnya membuat keputusan yang salah, karena tidak hadir sama saja dengan menentang Taichi.
"Nah, sampai bertemu.. semuanya!" Hikari melambaikan tangan sambil berlari masuk ke apartementnya.
"Sampai besok!" Mereka bertiga melambaikan tangan dan melanjutkan langkah pulang.
"Besok pasti akan menyenangkan! Aku akan bertemu Mimi-san, Sora-san, dan yang lebih baik lagi. Aku akan bertemu Ken-kun!" Miyako berkata sangat semangat.
"Ah, aku lupa menyampaikan sesuatu. Ichijouji-kun akan datang terlambat, ia diperlukan oleh orang tuanya sampai sekitar dua jam setelah kita sampai disana." Takeru kembali mengingat email dari Ken yang diterimanya malam itu.
"Ahh, baiklah.." Miyako sedikit kecewa mendengar berita itu.
"Akhirnya kita sampai, aku cukup lelah hari ini. Untung saja tidak ada latihan kendo." Iori berjalan masuk.
"Simpan tenaga kalian untuk besok, karena kita tidak hanya berkumpul biasa" Takeru tersenyum dan melangkah keluar lift.
"Baiklah, sampai nanti Takeru-kun!" pintu lift itu tertutup.
"Hei, Patamon.." Takeru melirik keatas.
"Ya, Takeruu?" Patamon menjawab dengan suaranya yang ringan.
"Jadi, apa yang kau lakukan saat bermain Truth or Dare bersama yang lain?" Takeru masih penasaran.
"Aku memilih Truth, dan Upamon menanyakan suatu hal bodoh.." Patamon menjawabnya dengan nada sedikit kesal.
"Apa yang ia katakan?" Takeru sedikit menahan tawa.
"Ia menanyakan, siapa digimon di ruangan itu yang aku sukai.." Patamon memelankan suaranya.
"Lalu?"
"Tentu aku menjawabnya.."
"dan Kau menjawab?" Takeru terus bertanya, walaupun ia sudah tau jawabannya.
"Tailmon." Muka-nya memerah. "Dan itulah alasan mengapa ia lebih diam hari ini.."
"Haha, aku tau itu. Tak usah dipikirkan, teman."
Patamon hanya mengangguk.
Sore hari tidak terasa lama hari itu, orang-orang sudah tidak sabar untuk mengakhiri pekan itu dan bersantai di keesokan hari. Keadaan jalanan terlihat seperti biasa, adalah sesuatu yang tidak masuk akal jika jalan raya kosong saat sore hari.
"Ya, begitulah.. Jadi, bisakah kau mengantarku?" Sora terlihat sedang menelepon seseorang.
"Jika seperti itu, baiklah.. Aku jemput kau disana sekitar pukul 7" Suara disebrang sana menjawab pertanyaanya.
"Arigatou Yamato.." Sora menutup gagang teleponnya.
Ia yang memang diminta Mimi untuk menjemputnya dibandara, merasa tidak nyaman untuk menjemputnya sendiri. Namun dengan Yamato, ia akan merasa semuanya baik-baik saja.
Sora kembali ke ruang tengah untuk menemui Ibunya, mereka sedang merangkai bunga. Ia duduk disana sambil melihat bagaimana cara Ibu-nya merangkai.
"Sora, kemana kau akan pergi?" Ibu-nya bertanya setelah Sora duduk di ruangan itu.
"Aku akan menjemput Mimi, ia akan menginap disini malam ini." Sora menjawab pertanyaan ibunya.
"Baiklah, Ibu akan menyiapkan selimut tambahan dikamarmu selagi kau pergi." Ibunya tersenyum pada Sora.
"Terimakasih bu, dan sepertinya tidak lama lagi aku akan pergi." Sora melirik kearah jam. Menunjukkan pukul 18:40
"Kau pergi sendiri, Sora?"
"Tidak, Yamato akan menjemputku.." Sora beranjak dari tempatnya duduk untuk bersiap.
Tidak sampai menunggu lama, pintu apartement Sora diketuk.
"Hai, Yamato.."
"Hai.. Sora" Yamato berdiri didepannya dengan rambut pirang yang acak-acakan, kemeja putih dan celana hitam.
"Baiklah, ayo! Aku tidak mau membuat Mimi-san menunggu." Sora berkata sambil melangkah keluar pintu.
"Ibu! Aku pergi dulu!"
Malam itu, langit sangat cerah. Tidak sedikitpun awan atau kabut terlihat. Keadaan ini sangat memicu Mimi untuk sampai di Jepang lebih cepat.
Mimi tertidur sepanjang perjalanannya di pesawat, ia tidak perlu memikirkan dengan siapa ia akan berada di sana. Karena Sora sudah mengatakan bahwa ia akan menjemputnya, Mimi pun meminta agar dirinya dapat menginap di rumah Sora sampai hari minggu.
Ia mendengar suara yang membangunkannya, ternyata itu adalah suara pilot yang menginformasikan, bahwa sekitar 30 menit lagi mereka akan tiba di Bandara Internasional Tokyo.
"Huaaaaahhmm…" Mimi mengangkat kedua tangannya sambil menguap.
"Sepertinya aku sudah sampai.. Semoga Sora tidak terlambat" Mimi melirik jam tangannya.
"Kepada seluruh penumpang, mohon tetap duduk, mengencangkan sabuk pengaman, menegakkan sandaran kursi. Sesaat lagi, pesawat ini akan segera mendarat. Terimakasih" Suara pramugari itu mendapatkan perhatian dari semua penumpang. Seisi pesawat sibuk mengatur posisi duduknya.
Dari jendela, Mimi sudah bisa melihat Jepang di malam hari yang bercahaya. Ia terus menatap keluar jendela, dan melihat pesawatnya terbang lebih rendah.
Roda pesawat yang baru saja menyentuh landasan, menyebabkan guncangan kecil pada pesawat.
Mimi akhirnya sampai di Jepang. Ia menurunkan koper kecil yang ia bawa, dan berjalan keluar pesawat.
Mimi mengeluarkan ponselnya saat sudah masuk ke dalam terminal bandara.
"Halo?" Suara disebrang sana menyapa Mimi.
"Hai Sora-san, aku sudah sampai di terminal bandara."
"Baiklah, kau diterminal mana sekarang?" Sora menjawab
"Aku rasa, aku di terminal 1" Mimi mencari-cari dimana ia dapat menemui Sora dengan mudah.
"Kami sudah sampai disana, dibagian mana?"
Belum sempat Mimi menjawabnya. Ia mendengar suara yang lain.
"Itu dia.." Suara itu samar-samar, namun berada didekat Sora.
Sora yang memang berada tidak jauh dari Mimi, menyadarinya juga. Ia memutus telepon nya dengan Mimi.
"Moshi-Moshi? Sora-san?" Mimi yang terputus sambungannya, memastikan apakah Sora masih ada disana.
"Ahh, kenapa dia? Aku kan butuh untuk dijemput!" Mimi menutup ponselnya dan menaruh kembali di tas kecilnya.
"Mimi!" Sora berteriak mendekatinya.
"Hah? Sora? Sora!" Mimi berbalik dan menemukan Sora berlari kearahnya.
Mereka saling memberi pelukan hangat, dan Yamato segera menyusul.
"Lho? Kau kemari dengan Yamato-san?" Mimi melihat sesosok pemuda yang ia kenal.
"Hai, Mimi-san. Sepertinya kau membutuhkan bantuan untuk tas itu." Yamato menunjuk pada sebuah koper kecil milik Mimi.
"Yamato-san! Haha Tidak perlu repot-repot. Aku bisa membawanya sendiri." ujar Mimi.
"Sudahlah, aku bawakan. Ayo kita segera pulang, dan beristirahat." Yamato mengangkat koper kecil itu.
"Ada alasan kenapa aku membawa Yamato, hahaha." Sora tertawa karena ia pikir membawa Yamato untuk menjemput Mimi akan membantu.
Setelah perjalanan yang cukup lama melewati padatnya kota Tokyo malam itu, akhirnya mereka sampai didepan apartement Sora.
"Nah, kita sampai.." Sora membantu menurunkan koper Mimi dari taksi.
"Ya, sebaiknya aku juga pulang. Besok akan menjadi hari yang panjang." Yamato merapikan kemejanya yang sedikit berantakan.
"Yamato.." Sora memanggilnya sebelum Yamato berbalik dan meninggalkan mereka berdua.
"Apa?"
"Terimakasih sudah menemaniku" Wajah Sora sedikit memerah.
"Tidak masalah, nah, Sampai besok.." Yamato melambaikan tangan dan berbalik melanjutkan langkahnya pulang.
"Ayo, kita masuk. Kau pasti belum makan malam." Sora tersenyum pada temannya itu.
"Kau baik sekali, hihi. Terimakasih banyak, Sora-san" Mimi menarik kopernya mengikuti Sora.
"Aku pulang" Sora membuka pintu apartementnya, "Permisi" Mimi setelahnya. "Selamat datang.." Suara Ibunya dari dapur menyambut kedatangan mereka.
"Mari, anggap rumah sendiri, Mimi-chan." Ibu Sora memang sangat lembut. "Sora, kamarmu sudah Ibu benahi dan Mimi bisa tidur denganmu."
"Terimakasih banyak, nyonya Takenouchi." Mimi membungkuk untuk menyatakan rasa terima kasihnya.
"Mimi.. ayo" Sora mengantar Mimi menuju kamarnya.
Malam itu, anak-anak terpilih generasi pertama sudah berada di Jepang. Mereka hanya perlu istirahat dalam kedamaian. Sebelum mereka kembali..
"Makan malam sudah siap, Sora!" Ibu-nya memanggil dari arah dapur.
"Ya, sebentar.." Sora mengancingkan pajama-nya. Sedangkan, Mimi hanya memakai kaos dan celana pendek. Sepertinya ia biasa tidur seperti itu.
05:25 – Odaiba
Mentari pagi bangkit dari pembaringan, embun menyelimuti dingin-nya udara Odaiba. Hawa kedamaian dan kebahagiaan menyertai pagi hari anak-anak terpilih. Hari itu, mereka akan membawa kembali keadilan yang dulu pernah bersama mereka.
"Tailmon, bangun.." Hikari yang baru saja bangun dari tidurnya, ikut membangunkan digimon berbentuk kucing yang memang salah satu kesenangannya adalah tidur.
"5 menit lagi, Hikari.." Tailmon bergumam tanpa sedikitpun membuka matanya.
"Hei, bangun.. Kau sama saja dengan patamon.." Hikari menyerah dan berjalan keluar kamar.
"Terserahlah.." Tailmon akhirnya dapat membuka matanya, sambil terduduk. Ia mencoba untuk mengumpulkan kesadaran.
Hikari kembali kedalam kamarnya sambil membawa beberapa kaleng minuman, cokelat, dan kue.
"Hei, Hikari.. apa kita perlu membawa itu semua?" Tailmon melompat turun dari tempat tidur dan berjalan kearahnya.
"Ah ini, aku memiliki rencana sendiri bersama Takeru setelah pertemuan itu." Hikari tersenyum pada partnernya itu.
"Apa aku boleh ikut?" Tailmon menunjuk dirinya sendiri.
"Tentu, hanya saja kau dan Patamon tidak boleh menghabiskan makanan kami hahaha." Hikari memasukkan semuanya kedalam tas dan menutup resleting.
"Apa aku se-rakus itu?" Tailmon memandangnya dengan tatapan tidak percaya.
"Cokelat yang aku beli kemarin, lalu beberapa kue yang aku tinggalkan di lemari, dan.." Hikari menghitung dengan jarinya.
"Baik Hikari, itu menjelaskan semuanya." Tailmon tertunduk pasrah.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi, dan Takeru belum saja bangun. Sepertinya, kebiasaan dari Yamato sudah mulai ada padanya. Ia bermimpi, bahwa ia sedang bersenang-senang bersama Hikari di dunia digital. Begitu juga Patamon dan Tailmon yang sedang berkejar-kejaran. Di dalam mimpinya, dunia itu terasa sangat aman, damai, dan ceria. Tapi tidak lagi, mimpinya berubah sesaat pandangannya tertuju pada langit yang menghitam. Ia didalam mimpi, berusaha menjaga Hikari dari segala macam bahaya. Takeru mendengar tawa seseorang, namun ia tidak terlalu mengetahuinya. Karena suara itu tidak terlalu jelas di benaknya.
"Kau tidak memiliki kesempatan apapun. Hahaha.."
Suara itu didengar Takeru, dan seketika.. Permukaan tanah yang ia jejak, terpecah. Ia dan Hikari terjatuh didalam mimpinya.
"Aaah!" Takeru membuka mata, dan segera terduduk. Ia berkeringat.
"Ada apa.. Takeruuu?" Patamon yang mendengar suara Takeru, bertanya walaupun tanpa membuka matanya.
"Huh.. huh.." Takeru mengatur nafasnya. "Tidak, itu hanya mimpi. Maaf, Patamon.." Takeru mengelus kepala digimon bersayapnya itu.
"Jam berapa sekarang?" Patamon bertanya dalam kondisi mata tertutup.
"Jam 6 pagi, kita sebaiknya bersiap dari sekarang." Takeru menyingkap selimutnya, dan membuka pintu kamarnya.
"Huuahhmm, baiklah.. Takeruu" Patamon mengusap kedua matanya.
Pagi yang sama, kali ini di kediaman Motomiya.
Daisuke sudah terjaga pagi itu, ia mengutak-atik D-Terminal. Hari itu ia berharap, tidak ada yang akan mencarinya. Walaupun sebenarnya itu mustahil.
"Chibimon, apa kita harus datang?" Ia bertanya pada partner kecilnya yang sedang berbaring.
"Sepertinya kita harus.." Chibimon melompat ke pangkuan Daisuke.
"Tapi.. Hikari dan Takeru…" Daisuke tertunduk lemas.
"Kau tidak mau bertemu dengan mereka?" Chibimon melompat kehadapan Daisuke.
"Bukan seperti itu.." Daisuke menjawabnya.
"Lalu?" Chibimon memasang ekspresi muka tidak mengerti.
Di kediaman Yagami, Hikari sedang menyelesaikan rambutnya.
"Sepertinya, kau ingin tampil menarik didepan Takeru.." Tailmon berkomentar dibelakangnya.
"Selain itu, aku memang harus berpenampilan menarik setiap hari." Hikari menjepit rambut bagian kiri-nya.
"Nah, selesai."
Pintu apartement-nya tiba-tiba terdengar diketuk.
"Aku yang ambil!" Hikari berlari menuju pintu depan. Ia memutar gagang pintu, dan menariknya.
"Selamat pagi, malaikat cahaya" Takeru sudah berdiri disana dengan Patamon.
"Takeru-kun!" Hikari melompat dan memeluk-nya.
"Kau siap?" Takeru bertanya pada gadis manis didepannya itu.
"Sebentar, aku melupakan sesuatu." Hikari berbalik dan masuk kembali ke kamarnya.
Takeru menunggu diluar, sesekali ia melihat kedalam. "Kemana Taichi-san?" Takeru berkata pada dirinya sendiri.
Kamar Hikari kembali terbuka, kali ini ia sudah membawa tas berwarna pinknya dan Tailmon ada di pelukannya.
"Kami siap" Hikari tertawa kecil.
"Hai, Tailmon!" Patamon tersenyum ceria melihat digimon yang dibawa Hikari.
"Hai.." Tailmon membalasnya singkat, dengan senyum ala kucingnya.
"Hikari-chan, ngomong-ngomong dimana Taichi-san?" Takeru bertanya.
"Dia pergi lebih dulu, ia berangkat bersama Koushiro-san." Hikari menjelaskan kemana kakaknya pagi ini.
"Oh, seperti itu. Baiklah, sekarang kita menuju ke sekolah untuk bertemu dengan Daisuke-kun, Iori dan Miyako-san." Takeru melirik jam tangannya.
"Aku harap kau tidak melupakan rencana hari ini.." canda Hikari.
"Tenanglah Hikari-chan, aku tidak mungkin melupakannya.." Takeru mengedipkan mata pada Hikari.
"Ibu, Ayah.. aku pergi!" Hikari menutup pintu apartementnya.
Mereka berdua berjalan ber-iringan menuju ke sekolah, hari itu sangat tenang. Tidak banyak orang berlalu lalang seperti biasanya. Patamon dapat terbang dengan bebas, tanpa seorang pun menyadari.
"Aku tidak percayaaaa! Kalian membuatku menunggu disini ternyata kalian sedang berduaan!" Miyako tidak terima setelah melihat Takeru dan Hikari sampai di gerbang sekolah.
"Mi.. Miyako-san, kami baru saja berangkat" Takeru menunduk lesu.
"Aku tidak peduli kapan kau akan berangkat, tapi tega-nya kau membuatku menunggu dari satu jam yang lalu!"
Takeru melirik jam tangannya.
"Apa? Jadi kau sudah berada disini pukul 5:30 pagi?"
"Tentu saja, pertemuan anak-anak terpilih tidak boleh aku lewatkan!" Miyako berkacak pinggang.
"Tapi, tidak seperti ini.." Hikari ikut tertunduk.
"Nee,nee.. Miyako-san, kau mau sesuatu? Sebagai permintaan maaf kami." Hikari membuka tasnya yang berisi penuh makanan.
"Tidak, terimakasih Hikari-chan. Aku sudah sarapan." Miyako seakan masih kesal pada mereka.
"Apa kau yakin..?" Hikari mengambil salah satu cokelat yang ia bawa.
"Ya, aku yak.. oh.." Miyako berbalik dan menatap sesuatu yang digenggam Hikari.
"Miyako-san, cokelat ini tidak akan bertahan sampai aku memakannya." Hikari berusaha menggoda Miyako, dan sepertinya itu berhasil.
"Ka-Kau.. Baiklah, kalian aku maafkan" Miyako mengambilnya dari tangan Hikari.
"Aku sudah menduga.."
Takeru dan Hikari tertawa melihat tingkah Miyako yang sebenarnya cukup aneh.
"Dimana Iori?" Takeru berkeliling untuk mencari anak itu.
"Ah, dia belum berangkat saat terakhir aku bertemu dengannya. Mungkin sedang ditengah jalan menuju kesini."
"Sepertinya seseorang mencariku.." Pemuda bertubuh kecil itu mendekat dari belakang Takeru.
"Ya, terimakasih sudah datang secara diam-diam" Takeru mengacak-ngacak rambut Iori.
"Baiklah, ayo pergi!" Miyako berkata sambil mengangkat tangannya.
"Tunggu! Kita melupakan seseorang" Patamon berkata dari atas kepala Takeru.
"Siapa?"
"Daisuke belum berada disini kan?" Patamon mengepak-kan sayapnya dan melayang berputar-putar untuk memastikan keberadaan Daisuke.
"Ah benar, lebih baik kita tunggu." Takeru masuk ke halaman sekolah dan duduk disana, diikuti oleh yang lain.
"Aku akan memanggilnya.." Hikari mengeluarkan D-Terminal.
Pagi Daisuke-kun,
Aku harap kau tidak lupa hari ini, cepatlah.. Kami sudah menunggu di sekolah.
Hikari
Daisuke yang sedang sarapan, mendengar D-Terminalnya berbunyi.
"Aku tidak peduli, cukup Takeru yang bersama-mu.." Daisuke kembali menutup D-Terminalnya dan melanjutkan sarapan.
"Lama sekali.." Hikari masih menunggu jawaban dari Daisuke yang tidak kunjung datang.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang, kita akan terlambat jika menunggu lebih lama.." Takeru melihat pada jam tangannya.
"Bagaimana dengan Daisuke?"
"Biarkan, mungkin ia sedang sibuk pagi ini." Takeru mengambil tasnya dan Patamon kembali hinggap di kepala Takeru.
"Baiklah.. Ayo Miyako-san.." Hikari menaruh kembali D-Terminal kedalam tasnya.
Mereka berjalan dari sekolah menuju stasiun Nakano-sakaue.
"Aku masih ingat, saat pertama kali kembali dari dunia digital.. Kami harusnya berhenti disini, namun kami terlewat perhentian hanya karena tertidur. Hahaha" Takeru mengingat kejadian saat ia berumur 8 tahun.
"Sayang sekali aku belum bergabung" Hikari tersenyum mendengarnya.
"Nah, sekarang kita menuju Hikarigaoka." Takeru menekan tombol tiket.
"Ah, itukan tempat saat aku dan Onii-chan tinggal sebelum di Odaiba"
"Ya, aku juga tinggal disana.. Aku tidak percaya, kau adalah gadis paling berani saat itu." Takeru mengingat saat ia dan kakaknya menyaksikan pertarungan Greymon dan Parrotmon.
Muka Hikari memerah, ia terbayang saat mencoba membangunkan Greymon dengan pluitnya. Saat itulah, terpilih anak-anak dengan sifat paling kuat. Ke delapan anak terpilih generasi pertama. hanya saja.. Hikari mendapat pengecualian. Ia adalah anak terpilih yang berbeda dari lainnya, atau dengan kata lain.. Special.
"Nah, Patamon.. kau tidak ingin mereka merasakan apa yang Pyocomon rasakan saat itu bukan?" Takeru tersenyum pada temannya.
Patamon mengangguk, dan terbang kehadapan yang lain.
"Perhatian, Digimon dan Digiwomon yang saya hormati. Selama dalam perjalanan, diharapkan kalian tidak berbicara, ataupun bergerak sedikitpun. Karena, kami tidak ingin mengulangi tragedy yang pernah terjadi. Terimakasih." Patamon mengintruksikan layaknya pemandu wisata.
"Tapi kami akan sangat bosan.." Poromon memprotes.
"Aku tidak akan menolong jika seorang bayi menarik-narik bulu yang ada diatas kepalamu itu." Patamon kembali mendarat di kepala Takeru.
"Kita sebaiknya mengikut saran Patamon, akupun tidak tau apa yang terjadi saat itu. Aku datang ke dunia ini pertama kali bersama Vamdemon.." Tailmon menunduk lemas.
"Kau tidak perlu memikirkan yang sudah-sudah, Tailmon." Hikari mengelus kepala digimon berbentuk kucing itu.
"Hikari.." Tailmon mendongak keatas sambil tersenyum.
"Baiklah, kereta kita sudah datang.." Takeru mendekati peron.
Selama perjalanan, Takeru mencoba untuk tetap bangun. Karena ia tidak ingin terlewat stasiun lagi.
"Hikari-chan, jika kau mengantuk. Tidur saja.." Takeru melihat Hikari yang sudah mulai kehilangan kesadaran.
"Baiklah.. Terimakasih Takeru.." Lalu Hikari bersandar pada bahu Takeru.
Miyako yang mendapat tempat duduk ditempat mereka berdua, melihat itu. Ia langsung merogoh tasnya, dan mengambil ponsel. Ia berpura-pura sedang mengetik pesan singkat.
"Satu.. dua.. tiga, cheese.." Miyako berbisik pelan.
"Bingo." Ia menutup ponselnya dan menaruh kembali kedalam tasnya.
Tanpa sadar, Takeru juga mengantuk. Ia mencoba untuk bangun, namun sepertinya ia tidak kuat menahan rasa kantuknya. Ia pun kehilangan kesadaran, rambut pirangnya menyentuh kepala Hikari.
"Ahh, seharusnya aku ambil yang ini.." Miyako kembali mengeluarkan ponselnya.
"Miyako-san, apa tidak baik mengambil gambar secara diam-diam?" Iori berkata saat ia melihat layar ponsel Miyako.
"Sudahlah, ini momen langka" Miyako mengedipkan mata pada Iori.
"Hikarigaoka, Hikarigaoka station, silahkan keluar dari pintu sebelah kiri." Suara itu menginformasikan kepada seluruh penumpang kereta, termasuk membangunkan Patamon.
"Ahh, Takeruuu kita sudah sampai!" Patamon terbangun dan langsung bersuara.
"Dasar, ia yang menyuruh kita diam.. Tapi ia sendiri yang berisik" Poromon berkomentar.
"Hah? Oh, Hikari-chan.. bangun, kita sudah sampai." Takeru kembali terjaga, dan mencoba membangunkan Hikari.
"Oh, maaf.. Ayo" Hikari segera mengambil tasnya dan menggendong Tailmon.
Onii-chan, aku dan yang lainnya sudah sampai di Stasiun Hikarigaoka..
Kemana kami selanjutnya?
Hikari
Ia membuka D-Terminal sesaat setelah mereka turun. Sesaat, ada balasan untuknya.
Baiklah, sekarang kalian menuju ke taman didekat sana.
Keluar dari stasiun, dan ambil jalan lurus. Kalian akan menemukan taman.
Taichi
"Takeru-kun, kau tau?" Hikari bertanya setelah membaca balasan.
"Tentu, Onii-chan sering membawaku kesana."
"Ah, sepertinya aku sudah lupa dimana letaknya." Hikari mengembalikan D-Terminal kedalam tasnya.
"Andai aku seperti Angemon, aku tidak perlu berjalan untuk mengantarmu kesana. Hahaha" Takeru memeluk Patamon.
"andai aku Angewomon, aku tidak perlu diantar oleh mu kesana. Hahaha" Hikari juga membayangkan jika ia seperti Angewomon.
"dan andai aku Holsemon, aku akan dengan senang hati mengantar kalian semua." Miyako melingkarkan tangan pada leher Takeru dan Hikari.
"Sudahlah, kalian tidak perlu membayangkan bagaimana rasanya menjadi digimon." Iori menyudahi fantasi mereka.
"Yoush, ayo kita pergi ke tempat mereka!" Takeru menarik tangan Hikari.
"Ah tunggu!" Iori mengambil tas dan Upamon.
Mereka berlari sepanjang jalan itu, hari Sabtu yang sangat segar dan cerah. Mereka tidak merasa lelah, ataupun kehausan. Bangunan-bangunan, jembatan di Hikarigaoka yang telah diperbaiki untuk kesekian kalinya tetap mengingatkan pertarungan Digimon pertama yang mereka saksikan. Ah, terkecuali Daisuke, Miyako dan Iori. Mereka terpilih saat pertarungan melawan VenomVamdemon.
"Hikari!" Suara yang tidak asing memanggilnya.
"Ah, Takeru.. itu Onii-chan!" Hikari menghentikan langkahnya dan mencari asal suara.
"Hooi! Disini!" Taichi berteriak memanggil.
"Taichi-san!" Takeru melambaikan tangan, dan melanjutkan langkahnya.
Terlihat Koushiro juga sedang mengutak-atik laptop, sepertinya ia sedang mengantisipasi lokasi untuk pembukaan gerbang digital.
"Taichi-san, apakah kau siap untuk bertemu Agumon?" Koushiro tersenyum sambil mengetikkan sesuatu.
"Kau seharusnya tidak membuka kejutan, walaupun itu untukku." Taichi berkomentar.
"Ah, maaf.. Hahahaha"
"Oi Takeru, dimana Yamato?" Taichi berputar dan menatap kearah Takeru.
"Sepertinya ia menjemput Sora-san, tapi tidak yakin.." Takeru mengangkat bahunya.
Tiba-tiba ponsel Koushiro berdering
"Moshi-moshi, Koushiro berbicara" Ia menjepit ponsel itu diantara telinga dan pundaknya, tentu sambil tetap fokus pada pekerjaan di laptopnya.
"Koushiro-kun! Aku sudah berada di sekitar Hikarigaoka, apa kalian sudah disana?" Suara disebrang sana bertanya.
"Ya, jika kau dari stasiun, kau tinggal ikuti jalan menuju taman." Koushiro masih terlihat sibuk.
"Baiklah, arigatou Koushiro-kun"
"Ya, sampai nanti Jyou-senpai.." Ia menutup ponselnya dan meletakan disebelah laptop.
"Bagus, lalu kita butuh bebera…"
"Minna!" Suara yang tidak asing mengarah ke telinga Taichi.
"Hah? Mimi?" Taichi berputar-putar untuk mencari asal suara.
"Tetap sama seperti Taichi yang dulu" Sora tertunduk lemas sambil melangkahkan kaki.
"Dia memang seperti itu, pantas saja tidak ada wanita yang tertarik padanya hahahaha" Yamato sambil menaruh tangannya di saku celana, berkomentar atas sifat Taichi.
"Yamato!" Sora menyikut bagian perut Yamato.
"Sudah lama tidak bertemu!" Mimi berlari kearah mereka.
"Hai, Mimi-san" Hikari menyapa nya.
"Hah? Hikari-chaan!" Mimi melompat dan memeluknya.
Anak-anak terpilih terlihat sangat gembira hari itu, akhirnya mereka bisa berkumpul kembali setelah pertarungan terakhir melawan BelialVamdemon.
"Satu.. dua.. tiga.. empat.. lima.. tujuh.. dan delapan.." Mimi menunjuk satu-satu.
"Kau melewatkan satu angka.." Taichi mengomentari.
"Minna!" Jyou berlari menuju mereka.
"enam!" Mimi menunjuk sambil mengedipkan mata.
"Oh, aku mengerti.." Taichi menaruh kedua tangannya dibelakang kepala.
"Baik, apa ada yang tertinggal?" Taichi memandang kearah anak-anak terpilih didepannya.
"Ichijouji-kun akan datang 1 jam lagi." Takeru menatap jam tangannya.
"Baik, sekarang tolong kalian duduk dengan tenang. Sebentar lagi aku akan menerima pesan dari Gennai untuk membuka gerbang digital" Koushiro berpaling sebentar dari laptopnya.
Semua anak-anak terpilih duduk melingkar.
"Ini dia.. Kalian siap?" Koushiro masih terlihat sibuk.
"Sekarang, Dejitaru Geeto.. Open!" Ia menekan tombol Enter.
Cahaya yang sangat terang keluar dari layar laptop Koushiro. Ia berjalan mundur beberapa langkah dari laptopnya. Cahaya itu semakin terang, dan menjadi berwarna-warni. Lalu, mereka melihat cahaya itu berkumpul di satu titik dan terbagi menjadi 6.
"Waaaaaaaaa!" Suara teriakkan yang berbeda-beda terdengar dari laptopnya.
Cahaya itu menyusut, dan membentuk 6 kumpulan cahaya dihadapan anak-anak terpilih.
Dari cahaya itu, terlihatlah. Para digimon terpilih legendaris, yang telah menyelamatkan kedua dunia dari bahaya.
"Agumon!" Taichi melompat kearah para digimon.
"Gabumon!" Yamato ikut berlari kearahnya.
"Piyomon!" Sora juga ikut terlihat bahagia
"Terimakasih telah membantuku, Tentomon."
"Hahaha, Palmon! Aku sangat kehilanganmu!" Mimi memeluk Palmon yang baru saja tiba didepannya
"Go-Gomamon.." Jyou membenarkan kacamatanya, ia seperti melihat ilusi.
Para digimon memanggil nama partnernya masing-masing, sudah sekitar satu tahun mereka tidak bertemu. Alangkah bahagia mereka saat itu, dari wajah mereka terpancar aura ceria.
"Aku tidak percaya akan melihatmu lagi, teman" Taichi menunduk didepan Agumon.
"Yamato.. kau bertambah tinggi" Gabumon memeluk partner ber-rambut pirang itu.
"Soraa~ Soraa~" Piyomon menyanyikan nama Sora dengan nada yang biasa ia nyanyikan.
"Ah Mimi, akhirnya aku bertemu lagi denganmu" mata Palmon terlihat berkaca-kaca.
"Aku jugaaa" Mimi dan Palmon menangis bahagia dipelukan mereka.
Miyako dan Iori juga terlihat senang, mereka bisa melihat bagaimana persahabatan yang sangat erat dari anak-anak terpilih sebelum mereka. Takeru dan Hikari ikut berdiri dan ikut tertawa bersama. Seketika itu..
"Ah! Daisuke-kun belum ada.." Hikari baru menyadarinya lagi.
"Kemana dia? Bukankah seharusnya datang bersama kalian?" Taichi sambil memeluk Agumon.
"Dia tidak membalas email ku" Hikari membuka D-Terminalnya.
"Biar aku.." Taichi merogoh D-Terminal dari sakunya.
Daisuke-kun, cepat datang ke taman Hikarigaoka, kami menunggumu.
Jika kau tidak datang, maka aku dan WarGreymon akan menjemputmu.
Taichi
Daisuke menerima email tersebut, ia yang memang bertekad tidak pergi.. Langsung membalasnya tanpa dipikir terlebih dahulu.
Taichi-san, sepertinya aku tidak perlu hadir. Aku sudah mengetahui semuanya.
Dan, jika kau memang kau mau menjemputku. Aku tidak keberatan..
Imperial-Motomiya.
"Sejak kapan ia berganti nama?" Taichi yang baru saja selesai membaca email itu.
"Tunggu, Imperial.. itu sepertinya Imperialdramon, dan Motomiya.. adalah dirinya" Koushiro menebak isi dari email Daisuke.
"Oh, jadi dia menantangku.." Taichi menutup D-Terminalnya, menaruh kedalam saku dan menukarnya dengan Digivice.
"Ikuzo, Agumon!" Taichi mengarahkan Digivicenya pada Agumon.
"Er, Taichi.. aku tidak bisa memaksakan. Apalagi, kita sedang dalam kondisi bahagia seperti ini." Agumon menunjuk dirinya.
"Na-Nani? Taichi-san, duduklah dan tenang! Daisuke tidak mungkin mengatakannya!" Koushiro tidak percaya bahwa Taichi akan menganggapnya serius.
"Tidak, ia sudah berkata seperti itu.. Maka ia pantas mendapatkannya." Ia menggenggam digivice makin erat.
Koushiro tidak berkomentar apa-apa selagi Taichi mencoba Agumon untuk warp-shinka, walaupun hasilnya sama saja.
"Moshi-moshi, Daisuke-kun?" Koushiro diam-diam mengambil ponselnya.
"Ne, Izumi-senpai. Ada apa?" Suara disebrang sana menjawab.
"Lebih baik kau minta maaf atas kata-katamu, ia sedang berusaha untuk menjadikannya WarGreymon!" Koushiro berkata sedikit kencang.
"Ahh, apa aku perlu takut? Imperialdramon adalah digimon level Mega." Daisuke berkata semaunya.
"Dengar, kau mungkin lupa. Imperialdramon adalah bentuk mega dari Paildramon, dan kau memerlukan Ichijouji-kun.
Satu hal lagi yang mungkin kau tidak mengetahuinya, WarGreymon memiliki data bernama 'Dramon Killer' pada tangannya.
Sekarang lupakan omong kosong mu itu, dan minta maaf padanya." Koushiro mencerca Daisuke di telepon, tanpa membiarkan Daisuke membalas sedikitpun.
"A-Apa? Bi-Bilang padanya.. Aku se-segera kesana, ya aku segera kesana!" Daisuke baru menyadari apa yang dikatakan Koushiro, ia menutup telepon dan langsung bersiap.
"Dais.. waaaa" Chibimon pun langsung ditarik oleh Daisuke. Ia menyambar kacamata yang biasa ia pakai, dan melesat keluar apartement.
Taichi-san, kau tidak perlu menjemputku. Ya, aku bercanda tentang Imperialdramon.
Aku sedang dalam perjalanan. Aku minta maaf, tolong jangan membawa WarGreymon.
Daisuke Motomiya
Hikari merasa, D-Terminalnya berbunyi. Ia membuka, dan menerima pesan disana.
"Sepertinya, Daisuke-kun salah kirim.." Hikari tertunduk setelah melihat isi pesan itu.
"Ayo Agumon! Aku tidak percaya ia berkata seperti itu padaku" Ia terus-terusan mengarahkan digivicenya.
"Taichi.. seberapa lamanya kau mencoba, itu tidak mungkin dilakukan. Lagipula tidak ada situasi yang berbahaya." Agumon mencoba meyakinkan Taichi.
"Taichi-san!" Suara pemuda yang ia kenal mendekat padanya.
"A-Apa? 7 menit?" Takeru terkejut pada kedatangan Daisuke yang sedang berlari dengan diikuti Veemon, lalu melirik jam tangannya.
"Ternyata trik itu sangat ampuh, hahahaha" Taichi berhenti dan mengembalikan digivice ke kantung celananya.
"Gomen Taichi-san, aku berjanji untuk tidak mengulanginya" Daisuke membungkuk, ia berkeringat.
"Maafkan aku juga, Agumon.." Ia membungkuk kepada Agumon.
"Onii-chan.." Hikari melihatnya kakaknya dengan ekspresi aneh.
"Hehe, kau mungkin akan menggunakan trik yang sama suatu hari nanti" Taichi mengedipkan mata pada adiknya.
"Tidak, terimakasih." Hikari membalas ucapan kakaknya.
"Yoush! Ayo kita mulai pertemuan anak-anak terpilih!" Taichi yang memiliki sifat dan jiwa pemimpin, selalu menjadi yang utama dalam menentukan sesuatu.
"dan, kita akan memulai dengan Takeru." Hikari menaruh tangannya pada pundak belakang Takeru.
"Aww.." Yamato sedikit mengejek adiknya yang duduk disebelah Hikari..
Namun, tidak seorang pun mengerti apa maksud Yamato. Lalu mereka semua menatapnya heran.
"Uh, ada yang salah?" Yamato melihat berkeliling, karena semua mata tertuju padanya.
"Hei Takeru! Cepatlah kau mulai saja.." muka Yamato memerah, dan untuk mengalihkannya, ia menyuruh Takeru untuk lebih cepat.
"Baiklah Onii-chan.." Takeru merubah posisi duduknya lebih maju.
"Jadi, alasan kami mengumpulkan kalian disini. Karena kami menemukan 2 anak terpilih yang baru." Takeru terhenti sejenak melihat ekspresi kaget beberapa anak terpilih, khususnya Mimi, Sora dan Jyou.
"seperti yang terpikir di benak kita, pasti kita heran akan partner mereka.." Takeru berkata sambil mencabuti beberapa rumput.
"Kami hanya mengetahui 1 saja, dan belum menemukan sisanya." Hikari membantu Takeru menjelaskan.
"Namun, salah satu partner mereka.. Adalah ancaman untuk kita.." Takeru berkata dengan serius.
"Siapa digimon mereka?" Piyomon bertanya dari pangkuan Sora.
"D-Devimon.." Takeru menunduk lesu setelah mengatakannya.
"Devimon?" Anak-anak terpilih terkejut mendengarnya, kecuali mereka yang sudah mengetahuinya.
"Ti-Tidak mungkin…" mata Agumon meluas setelah mendengar nama digimon itu.
"Ia adalah digimon kejam yang kuat.." tatapan Piyomon tiba-tiba menjadi kosong.
"Baiklah, Takeru.. terimakasih" Hikari berkata untuk mengizinkan Takeru kembali mundur.
"Ya, jadi seperti yang baru saja kalian dengar.." Hikari melanjutkan topik itu. "Bagaimanapun, kita sebagai anak-anak terpilih. Harus waspada, karena.. Digimon seperti itu bisa melakukan hal yang tidak wajar."
"Jadi seperti itu.." Sora berkomentar.
"Ini adalah kenyataan, sepertinya pengaman dunia digital dan dunia nyata kembali terganggu. Jadi, aku memutuskan untuk membawa para digimon untuk kembali ke dunia nyata. Untuk berjaga-jaga" Koushiro menambahkan.
"Jadi itulah mengapa kami dipanggil" Gabumon kali ini mengangkat suara.
"Ya, sejauh ini.. ada bagian yang tidak kalian mengerti?" Taichi berdiri untuk bertanya.
Tidak ada yang merespon pertanyaan Taichi.
"Bagus, karena sepertinya tidak lama lagi kita akan menghadapi sesuatu yang tidak terduga." Taichi kembali duduk.
"Bagaimana dengan Ichijouji-kun?" Miyako berbicara keluar topik.
"Ia sudah mengetahui hal pentingnya, dan ia akan datang sebagai penghormatan anak terpilih" Takeru melihat kearah Miyako.
"Baiklah.."
"Baru itu berita yang kami miliki, jika terjadi sesuatu.. Akan aku informasikan lebih lanjut" Koushiro membuka laptopnya dan mengetikkan sesuatu.
Untuk mengisi waktu, mereka kembali bernostalgia tentang dunia digital, mereka kembali bercerita, tertawa, dan mengingat kejadian-kejadian yang sulit dilupakan.
"Ya, aku ingat saat pertama berubah menjadi Greymon" Agumon menunjuk dirinya.
"dan aku berubah menjadi Garurumon untuk menyelamatkan Yamato" Gabumon tersenyum pada partnernya itu.
"Hei, apa kalian ingat saat Jyou-senpai bertekad untuk mendaki gunung Mugen sendirian? Hahaha" Sora tertawa dan menatap pada Jyou.
"Ya, itu karena kalian yang tidak kunjung selesai memutuskan!" Jyou tidak terima.
"oh iya, aku ingat saat.."
Banyak sekali memori yang mereka ceritakan. Tidak terasa, waktu sudah berlalu 2 jam dari awal mereka sampai.
"Minna-san, maaf aku terlambat"
"Hoi! Ichijouji-kun!" Daisuke berdiri dan melambaikan tangan.
"Itu diaaa. Ken-kun!" Miyako menarik-narik Poromon.
"Miyako.. Miyako-san, aaarh" Poromon kesakitan karena terus ditarik olehnya.
"Ichijouji-kun! Duduklah.." Taichi mempersilahkan.
"Arigatou gozaimasu.." Ken yang membawa Wormmon di tangannya, mengambil tempat disebelah Taichi.
"Sekarang, semuanya lengkap!" Mimi berteriak senang.
Setelah Ken duduk disebelahnya, ada cahaya yang keluar dari layar laptop Koushiro, dan mengarah ke langit.
Tidak disangka, didalam cahaya itu terbentuk sosok seseorang.
"Selamat datang, Gennai-san" Koushiro yang dari tadi sibuk mengetik, langsung menyambutnya.
"Apa kabar, Erabareshi Kodomotachi?"
"Gennai!" Seluruh anak terpilih berteriak saat melihat Gennai pada cahaya itu.
"Sepertinya kalian sudah bertemu dengan para digimon." Gennai melambaikan tangannya.
"Ya" Mereka menjawab bersamaan.
"Aku dengar.. Ada anak terpilih baru yang kalian temukan?" Gennai bertanya, sepertinya itu hanyalah transmisi dari proyektor atau semacamnya.
Tidak ada yang menjawabnya, mereka hanya mengangguk.
"Baik, yang perlu aku katakan.. Mereka bukanlah anak terpilih seutuhnya."
"A-Apa? Apa maksudmu?" Taichi memasang ekspresi serius.
"Jika kau lihat, ini adalah kesalahan. Devimon yang telah bisa masuk ke dunia kalian, berkat bantuan dari manusia." Gennai menjelaskan.
"Jadi, kau mengatakan bahwa Ia hanya dimanfaatkan?" Takeru kali ini mengambil suara.
"Kemungkinan seperti itu, aku tidak terlalu yakin. Namun melihat kasus Devimon beberapa waktu yang lalu. Ia hanya ingin menguasai dunia. Entah itu dunia digital ataupun dunia nyata."
"Lalu, apa yang harus kami lakukan?" Taichi kembali bertanya.
"Dengar, aku baru saja menyadari.. kemampuan dari Digivice kegelapan mereka berbeda dengan milik kalian. Mereka dapat merubah bentuk dewasa ke bentuk sempurna tanpa bantuan apapun." Gennai berkata sangat antuasias. "Maka, jika kalian sudah siap. Aku akan mengirim kalian kembali ke dunia digital. Ada sesuatu yang harus kalian siapkan sebelum menghadapi apapun nantinya."
"Aku mengerti, berikan kami waktu. Aku akan menghubungi mu saat kami siap." Koushiro berkata dari depan laptopnya.
"Sampai nanti, anak-anak terpilih." Sosok Gennai menghilang dari cahaya itu, dan laptop Koushiro kembali normal.
"Baik, sekarang kita pikirkan kapan waktu yang cocok untuk pergi ke dunia digital. Karena ini bukanlah kunjungan sehari-hari dan bisa pulang kapanpun." Taichi memulai kembali pembicaraan.
"Bukankah, jika kita menemukan TV, kita bisa pulang?" Miyako yang selalu mengingat jalan pulangnya dari dunia digital, langsung sedikit menyangkal.
"Sepertinya tidak kali ini, Miyako.." Koushiro berkata sambil menutup laptopnya.
"Ah, Izumi-senpai.. mengapa bisa begitu?" Miyako tidak mengerti.
"Karena, Gennai memanggil kita dengan alasan khusus. Dan kita hanya bisa kembali ke dunia nyata, setelah kita selesai di dunia digital." Koushiro kembali menjelaskan.
"Jadi.. seperti petualangan pertama kita?" Mimi bertanya dari sudut lain.
"Ya" Koushiro mengangguk.
"Bagaimana jika kita pergi saat hari 8 per 1?" Hikari mengeluarkan note-nya.
"Ide bagus! Kebetulan, jika tidak salah.. SD Odaiba diliburkan selama satu minggu, dimulai dari tanggal 30 besok!" Takeru bersemangat.
"Bagaimana dengan sekolah kita?" Sora bertanya pada Taichi.
"Aku akan membuat surat permohonan, kalian tolong bantu aku. Semoga saja permohonan kita diterima" Taichi menyarankan.
"Baiklah" Koushiro menyetujui ide Taichi.
"Karena kalian sudah disini, bagaimana jika kita bersenang-senang?" Sora tersenyum menatap para digimon.
"Yaa! Palmon dan aku akan pergi ke mall!" Mimi memeluk Palmon sangat erat.
"Bagaimana dengan-mu, Piyomon?" Sora bertanya pada digimonnya.
"Kita ikut saja dengan Mimi" Piyomon melihat kearah Sora.
"Gabumon, maukah kau ikut ke latihan band ku siang ini?" Yamato mengajaknya.
"Tentu, pasti akan menyenangkan" Gabumon tersenyum mendengarnya.
"Jyou, apa yang akan kita lakukan?" Gomamon di pangkuannya bertanya.
"Ah Gomamon, sebenarnya.. aku harus belajar hari ini. Hari Senin aku menghadapi ulangan harian. Hahaha"
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa belajar bersama-mu" Gomamon tersenyum padanya.
"Ne, Daisuke! Bagaimana jika kita bermain sepak bola? Agumon dan Veemon bisa ikut dengan kita!" Taichi memanggil Daisuke yang dari tadi hanya diam saja.
"Ide bagus Taichi-san!" Ia tiba-tiba bersemangat.
"aku dan Iori akan kembali ke apartement.." Miyako memberi tau kemana ia akan pergi setelah ini.
"Aku dan wormmon akan kembali pulang, ternyata Ibuku masih membutuhkanku." Ken tersenyum sambil mengatakannya.
"dan.. Kalian berdua?" Sora menatap Takeru dan Hikari yang belum mengatakan apapun kemana mereka akan melanjutkan hari ini.
Mereka saling berpandangan, dan tersenyum. Tangan mereka melingkari pundak satu sama lain.
"Kami memiliki rencana sendiri!" teriak Takeru dan Hikari bersamaan. Patamon dan Tailmon pun tertawa di pangkuannya.
"A-Apa?" Taichi dan Daisuke merespon terkejut.
"Ja-jadi, kau d-dan Takeru.." Taichi tertegun mendengarnya.
"Kau belum mengetahuinya?" Takeru menatap bingung pada Taichi.
"Takeru Takaishi! Berani-nya kau…" Taichi bangkit dari duduknya.
"Hoi Taichi!" Yamato ikut berdiri. "Biarkan mereka, kau ini tidak berubah dari dulu."
"Yamato.." Taichi menatapnya.
"Aku tau, kalian sudah tidak bisa terpisahkan saat petualangan kalian di dunia digital." Sora kali ini beranjak mendekati mereka. "Selamat untuk kalian"
"Aku tidak percaya, Hikari-chan bisa mendahului-ku hahaha" Mimi tertawa mengingat ia belum memiliki pasangan.
"Terimakasih, Min'na. Hahaha.." Takeru tertawa dengan muka-nya yang sedikit memerah.
"Yoush, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ayo Agumon" Taichi bangkit dan menarik tangan Agumon.
"Sampai nanti, Onii-chan" Hikari melambaikan tangannya.
"Mimi, ayo kita segera bersenang-senang!" Palmon mengajak Mimi.
"Ah, Mimi-san.. Aku dan Piyomon ikut denganmu ya" Sora melangkah kearah Mimi.
"Benarkah? Asyik!" Mimi berteriak senang.
"Nah, selamat bersenang-senang. Jangan lupa, beritau aku jika menemukan sesuatu." Taichi mengintruksikan.
"dan Hikari.." Taichi menatap kearah adiknya. "Kau harus pulang sebelum malam." Taichi tersenyum padanya.
"Serahkan padaku, Taichi-san" Takeru melambaikan tangan padanya.
Taichi melambai sambil berlari dengan Agumon, diikuti Daisuke dan Veemon.
