Hohoho~ Akhirnya chapter terakhir update juga. Karena ini sudah chapter yang terakhir, makanya Hikaru tidak banyak basa-basi lagi seperti dichapter yang sebelum-sebelumnya. Jadi langsung saja dimulai ceritanya ya, Hikaru akan mengucapkan kata-kata perpisahan.
Selamat membaca~
::
::
Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
::
::
Hinata Sensation © Hikaru-Ryuu Hitachiin
::
::
~ Happy Reading ~
::
::
::
"Hinata!"
Material dari tebing itu padah berjatuhan semua, bebatuan, tanah-tanah dan apa pun yang berada diatasnya ikut berjatuhan. Retaknya tebing itu menandakan akan ada sesuatu yang berjatuhan ke bawah. Termaksud wig dan satu orang yang jatuh, lalu ada lagi satu orang yang sengaja untuk melompat.
Pemuda bernama Uzumaki Naruto ini melompat untuk menyelamatkan sosok gadis yang berada didepannya itu. Gadis tersebut terjatuh akibat retaknya tebing yang dipijakinya. Ia Berusaha meraih dirinya dan akhirnya ia pun berhasil menangkapnya. Meraih, memegang, memeluk dan jatuh bersama-sama.
BYUUURR~
Selamat. Ya~ Mereka selamat. Untungnya mereka jatuh tepat di bagian sungai, jika sampai salah haluan pasti mereka sudah jatuh di bebatuan yang tajam itu. Yang bisa saja memungkinkan untuk membunuh diri mereka.
Masih ada halangan lagi, keberadaan mereka sekarang berada di sungai yang arusnya cukup deras. Masih sadarkan diri, Naruto yang masih memiliki tenaga membawa Hinata yang pingsan ke tepian. Ia berenang dengan sisa kekuatannya, di arus yang cukup deras. Mengeluarkan segala tenaga dan akhirnya sampai juga mereka di daratan. Walaupun dirinya kelelahan, ia tetap mengangkat Hinata menjauhi sungai itu. Ia berjalan ke pohon rindang yang keberadaannya tidak jauh dari sana.
Meletakkan Hinata dengan perlahan.
"Untung aku memiliki banyak tenaga" katanya, ia menyingkirkan rambut Hinata yang menutupi wajah Hinata.
"Masa depan dirimu dan aku memang kematian, tapi kematianmu bukan ditempat ini" Naruto kembali bangkit, melihat wajah Hinata yang tidak sadarkan diri.
"Karena masa depanmu yang sebenarnya adalah, kebahagiaan bersama denganku"
Hinata Sensation
Ch. 10
"Ngghh~" erangan keluar dari mulut mungil gadis berambut indigo tersebut, sepertinya Hinata sudah terbangun dari pingsannya yang cukup lama itu. Karena Hinata terlalu lama pingsan, sampai-sampai pakaiannya sudah kering. Yang paling dipastikan lagi, pasti Hinata tidak mengetahui kalau mereka berdua basah tadi akibat jatuh ke sungai.
Ia menegadakkan kepalanya ke atas, ia melihat sebuah pakaian yang menggantung di dahan pohon tepat diatas kepalanya. Menyaksikan secara seksama, kalau dilihat dengan sangat teliti, itu adalah baju Naruto! Kenapa ada diatas sana? Itulah seruannya dalam hati. Kini ia menggeser kepalanya menengok ke arah timur, bukan seperti surga ataupun neraka. Yang dilihatnya malah Naruto yang sedang bertelanjang dada yang sedang melihat ke atas tebing.
'Naruto~'
Ia menundukkan kepalanya, menutup matanya dan memasukkan ke dalam otaknya bahwa dirinya hanya sedang berhayal. Memegang pipinya, dan sedikit mencubitnya. Ada rasa sakit yang sangat terasa, kalau memang akan terasa sakit seperti itu seharusnya tadi ia mencubitnya secara pelan saja. Pasti pipinya yang tadi dicubit akan menjadi warna merah. Tapi itu tandanya dia masih hidup! Dirinya masih berada di dunia nyata, masih hidup dan belum mati.
"Tunggu dulu! Kematianku kan harusnya di tebing itu? Kenapa sekarang aku masih hidup?" seru Hinata tiba-tiba. Seruan itu membuat Naruto yang mendengarnya berbalik badan dan melihat Hinata yang ternyata sudah sadar dari pingsan.
"Kau sudah sadar?" tanya Naruto, ia berjalan mendekati Hinata kembali.
Hinata mengangguk, ia masih tidak berani melihat langsung mata Naruto. Tatapannya terus ke bawah, padahal sekarang Naruto sudah ada didepannya. Tapi apa daya, setelah kejadian beberapa hari yang lalu hubungannya dengan Naruto jadi memburuk. Mungkin karena hal itu sekarang dirinya hanya berani menunduk dan melihat kaki Naruto terus.
"Hah~ Baiklah. Aku akan mencari pertolongan. Jadi, kalau mau kau tunggu disini saja" kata Naruto, ia mengambil bajunya yang masih menggantung di dahan. Baju tersebut juga sudah kering, makanya ia memakainya. Setelah selesai memakai baju tersebut, akhirnya ia beranjak pergi. Hampir setengah jalan dirinya meninggalkan Hinata sendiri, Naruto terhenti karena ada yang memanggilnya.
"Naruto!" suara teriakkan itu dikeluarkannya dengan sekuat tenaga, karena pada dasarnya Hinata memang tidak bisa berteriak.
"Ada apa?" ia menengok dan kembali menatap wajah Hinata, dilihatnya Hinata yang telah bangkit dari duduknya.
"Aku ikut" katanya dan berlari kecil ke arah Naruto. Setelah lumayan dekat dengan Naruto, ia memperlambat jalannya. Ia hanya mau jalan dibelakang Naruto, tidak mau disampingnya.
Naruto tersenyum tipis, menghela napas dan membalikkan badannya kembali ke arah semulanya. Kembali berjalan~
"Ya sudah"
::
::
::
"Kenapa pipimu merah?" tanya Naruto, sebelumnya ia tidak menyadari bahwa pipi Hinata merah.
"Mungkin digigit nyamuk" ia tidak mau memberitahukan pada Naruto bahwa dirinya telah mencubit pipinya sendiri untuk mengetahui kenyataan yang sebenarnya, pasti akan langsung ditertawakan oleh Naruto jika ia memberitahukan hal tersebut.
"Oh" sebuah balasan yang singkat telah diutarakan oleh Naruto. Tapi entah kenapa rasanya Hinata jadi sedih karena Naruto hanya memberikan balasan yang seperti itu. Kalau hubungan mereka seperti biasanya pasti Naruto akan mencari sesuatu atau mengoceh sendiri.
• Hinata P.O.V. •
"Naruto~" aku memanggil namanya, entah dia akan menengok atau tidak saat mendengar aku memanggilnya. Aku yang sekarang tidak mengerti dengan perubahannya, apa dia masih menjauhiku?
"Apa?" tanyanya. Balasan yang kuanggap jutek itu membuat aku sedih. Kenapa? Karena itu bukan seperti Naruto yang biasanya.
Tapi aku sangat ingin mengetahuinya, kenapa Naruto berada didekatku saat ada terbangun? Mengapa aku bisa selamat? Bagaimana aku ada disini sekarang? Dan kenapa Naruto membuka bajunya padahal bajunya tidak basah. Kenapa Aku ingin mengetahui semuanya?
"Kenapa kamu berada didekatku? Seharusnya kamu berada diatas dan tidak akan bersama denganku yang sudah jatuh ke bawah" aku bertanya seperti itu karena aku ingin menanyakan kejadian apa yang terjadi padaku sebelum berada ditempat ini. Kalau memang Naruto ikutan jatuh, pastinya ia akan jatuh ke tempat lain dan tidak akan ada didekatku.
"Aku hanya ikutan melompat saja, mungkin akan menyenangkan jika aku terjun bebas seperti itu" jawaban yang diberikan Naruto benar-benar tidak masuk akal, aku tidak dapat mempercayai alasan yang seperti itu.
"Terjun bebas? Itu sangat berbahaya jika tanpa perlengkapan terlebih dahulu. Aku tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya" pemikiranku dan perkataanku ternyata benar, itu memang bukan jawaban yang benar yang diberikan oleh Naruto. Aku menginginkan jawaban yang sebenarnya, bukan yang salah. Makanya aku meminta Naruto untuk berkata yang sebenarnya.
"Aku hanya ikutan jatuh saat melihatmu terjatuh" aku juga tahu bahwa itu jawaban yang salah, mana mungkin kalau diriku jatuh dan orang yang melihatnya akan ikutan jatuh juga? Kurang kerjaan itu namanya~
Tapi untuk pertanyaan itu, aku urung dulu untuk meminta jawaban yang sebenarnya. Jadi langsung saja pertanyaan kedua kutanyakan.
"Mengapa aku bisa selamat?" pertanyaan yang tidak penting memang, tapi aku mau mengetahuinya.
"Karena Tuhan masih memberimu nyawa" jawaban itu memang tidak salah, tapi aku tahu kalau masih ada jawaban yang lainnya. Tapi pertanyaan itu aku anggap saja sudah mendapatkan jawaban yang benar, makanya aku kepertanyaan yang selanjutnya saja.
"Bagaimana aku bisa berada dibawah pohon itu setelah aku terbangun?" aku menunggu jawaban darinya, ia cukup lama menjawabnya. Apakah mungkin dia sedang memikirkan jawaban yang tepat agar tidak memberikan jawaban yang salah?
"Karena aku yang membawamu kesana" jawabnya, aku masih mau mengetahui banyak hal. Kutanyakan beberapa pertanyaan lagi, agar semuanya lebih jelas.
"Jadi kamu terjun karena menyelamatkanku?" tanyaku lagi, dia hanya mengangguk. Aku tidak menyangka, Naruto melompat hanya untuk menyelamatkanku. Padahal mati pun tidak masalah bagiku, karena aku sudah terlalu banyak membohongi semua orang dan aku sudah mengecewakan orang tuaku sendiri. Aku sudah tidak pantas untuk hidup~
"Kenapa? Padahal jika kamu membiarkanku begitu saja pasti kau akan selamat dan aku akan mati. Kamu bisa kembali bersama dengan teman-temanmu dan bersenang-senang dengan mereka. Tidak tersesat seperti ini, tidak ikut jatuh karena menyelamatkanku" aku mengatakan sebuah kata-kata yang mungkin membuatnya marah, karena aku melihat matanya yang kesal dan tangannya yang mencengkram. Aku tidak tahu kata-kata mana yang membuatnya kesal seperti itu.
"Naruto" kembali aku memanggilnya.
"Sudah cukup! Aku tidak mau mendengarmu berbicara lagi. Aku tidak mau mendengar kau mengucapkan kata 'mati' lagi. Kamu tahu? Aku melakukan ini agar aku masih bisa melihat dirimu. Aku tidak mau kehilangan dirimu! Makanya aku menyelamatkanmu saat itu. Aku mengeluarkan sekuat tenagaku agar dirimu dan aku selamat tidak terbawa arus sungai. Aku mau kita tetap bersama seperti biasanya! Bisakah kamu mengerti apa yang kurasakan selama ini, Hinata?!" kata-kata panjang yang aku anggap bentakkan itu hanya membuat aku tertunduk sedih.
"Maafkan aku" aku meminta maaf pada Naruto, karena memang selama ini aku tidak dapat merasakan apa yang dirasakannya. Aku tidak mengerti sama sekali~ Kenapa aku malah jadi tidak mengerti apa yang Naruto rasakan? Apa hatiku sudah tidak peka lagi? Apa kemampuanku sudah menurun? Apa yang harus kulakukan?
"Tidak, akulah yang seharusnya minta maaf. Karena selama ini aku telah menjauhimu" aku tidak tahu, kenapa Naruto minta maaf padaku? Dia tidak bersalah, karena akulah yang telah membuat pertengkaran itu terjadi. Aku yang telah memulainya, dan aku yang membuat semuanya menjadi tidak nyaman.
Aku jadi ingat kata-kata sebelum kami bertengkar, aku tahu kenapa Naruto berkata seperti itu. Memarahiku ketika aku tidak menghormati orang tuaku, tidak memperdulikan keluargaku sendiri. Karena... Naruto memang tidak mempunyai keluarga.
Sebenarnya aku beruntung masih memiliki keluarga yang menyayangiku. Aku mengerti, mungkin Naruto menginginkan memiliki keluarga juga. Keluarga yang selalu menyayanginya dan menjadi tempat dimana ia bisa pulang. Mungkin waktunya untuk diriku berubah, aku akan memberi kabar kepada orang tuaku. Meski waktuku untuk bersenang-senang dan bebas hanya sementara, tapi melakukan hal yang menyenangkan bersama dengannya sudah cukup bagiku.
• Normal P.O.V. •
"Aku akan pulang" mendengar itu Naruto kaget. Kenapa? Ini masih hari yang ketiga, dan masih ada empat hari lagi untuk bersenang-senang digunung. Banyak tempat yang menyenangkan, kenapa mau pulang secepat itu?
"Mau pulang? Tapi Ini hari yang ketiga, masih ada empat hari lagi loh" sepertinya Naruto salah mengartikan kata 'pulang' yang sebenarnya. Bukan pulang itu yang dimaksud Hinata.
Hinata menggeleng.
"Bukan pulang itu yang kumaksud, tapi yang kumaksud adalah pulang ke rumahku. Aku akan meminta maaf atas kesalahanku selama ini pada kedua orang tuaku, aku sadar bahwa selama ini aku salah. Walau aku baru mengenalimu hanya beberapa minggu, tapi aku sangat senang sudah mengenalmu. Aku teringat dengan kata-katamu saat kita bertengkar, aku baru mengerti. Itulah alasan mengapa aku mau pulang sekarang. Ya, Aku akan pulang" mendengar itu Naruto sedikit kecewa.
Ia tertunduk. Karena ia tahu, kalau Hinata pulang ke rumahnya maka akan ada kemungkinan besar ia tidak akan bertemu dengan Hinata lagi. Tapi Hinata akan kembali pada keluarganya, bahagia bersama dengan keluarganya kembali. Mungkin dengan adanya kejadian ini keluarganya akan semakin mengerti apa yang dirasakan Hinata. Lebih mengenal Hinata lebih dan lebih jauh lagi dibandingkan dengan dirinya.
Kini dirinya mengangkat kepalanya kembali dan menyegir seperti biasanya, sambil mengacungkan jempol tangan kanannya. Mengucapkan kalimat yang membuat mereka akan berpisah...
"Pilihan yang bagus, Hinata"
::
::
::
"Hoaam~" pemuda berambut pirang ini baru saja terbangun dari tidurnya yang nyenyak.
Sejak kejadian setengah tahun yang lalu, kamarnya menjadi terasa sepi. Belum ada murid baru yang mengisi kamarnya, tapi itulah yang diinginkan dirinya. Karena tempat satu lagi hanyalah tempat untuk Hinata, walau mungkin itu tidak akan terjadi. Barang-barang Hinata tersusuh rapi ditempatnya,
"Sekolah~ Tahun ajaran ketiga, baiklah" selesai mengucapkan kata itu, ia langsung berdiri dan bergegas untuk membersihkan dirinya. Ia akan kembali ke sekolah setelah selesai liburan semester. Sekarang akan dimulai kegiatan seperti biasanya walau dengan tingkat yang lebih susah.
Selesai membersihkan badan, ia langsung bergegas ke sekolah. Ditengah jalan kembali dirinya mengingat kejadian itu. Kejadian sebelum perpisahan benar-benar terjadi...
- Flashback -
"Aku menitipkan barang-barangku padamu, dan aku akan mengambilnya kembali jika suatu saat aku kembali" Hinata naik ke dalam taxi yang dipanggilnya memalui telepon umum terdekat di persimpangan jalan. Menutup pintu dan menengok ke arah Naruto, ia membuka jendelanya.
"Sayonara.. Naruto" jendela kembali tertutup, kini ia menghadap ke depan dan tidak melihat Naruto.
Taxi jalan sudah. Lima meter jauhnya, Naruto pun berlari untuk mengejar taxi tersebut. Dipanggilnya Hinata~ "Hinata!"
Mendengar teriakkan Naruto, Hinata mengurung niatnya untuk berbalik menghadap, karena kalau sampai itu terjadi, kemungkinan besar dirinya akan membatalkan niatnya untuk pulang karena Naruto.
"Suki~ Daisuki! Anata wa Daisuki!" mendengar itu Hinata menjadi kaget, supir taxi yang mendengarnya pun hanya tersipu dan mengucapkan kata 'anak muda zaman sekarang' dalam hatinya. Hinata membuka jendela taxi tersebut, ia ingin membalas pernyataan Naruto. Membalas perasaannya dengan perasaan bahagia, sampai-sampai dirinya menangis karena begitu bahagia.
"Atashi mo, daisuki" Naruto berhenti mengejar taxi itu, perlahan demi perlahan sosoknya telah menghilang. Kembali menyengir..
"Yosh! Waktunya kembali seperti semula"
- End of Flashback -
::
::
::
"Wali kelas... Kakashi-sensei lagi. Baiklah~" setelah selesai melihat papan pengumuman kelas, Naruto langsung berjalan menuju kelasnya. Mencari tempat duduk yang tepat. Ia melihat sepertinya Sasuke telah menemukan tempat duduk pas yang diinginkannya.
"Ohayou~" Naruto menyapa Sasuke dan menaruh tasnya diatas meja dengan lesu, lalu duduk ditempatnya. Ia menengok ke luar jendela, matanya membulat ketika melihat rambut yang sama persis dengan Hinata sedang masuk ke dalam sekolah. Cuma rambutnya doang, setelah itu menghilang.
"Sudah lama sekali tidak bertemu dengannya"
TENGNONGNENGNONG~
Bel sekolah awal pembelajaran sudah dimulai, sekarang waktunya untuk mempersiapkan semuanya. Menunggu Kakashi-sensei masuk dan memulai pengawalan pembelajaran.
"Lelet" seperti biasanya, Naruto mengeluh karena Kakashi-sensei selalu datang telat. Sampai-sampai membuat Naruto menguap dan bersiap-siap untuk tidur. Terombang-ambing dalam kengantukan~
"Selamat pagi anak-anak, awal pembelajaran baru ini kalian harus tetap semangat ya. Karena kalian sudah saling kenal, jadi tidak perlu ada perkenalan lagi. Tapi sekarang kita kedatangan murid baru, dan kalian mungkin belum pada mengenalnya. Oleh karena itu diawali dengan sesi pengenalan murid baru"
• Hinata P.O.V. •
Ohayou~ minna! Namaku Hinata Hyuuga, sudah lama sekali diriku tidak memperkenalkan namaku yang asli.
"Silakan masuk" mendengar Kakashi-sensei menyuruhku masuk, aku pun masuk ke dalam kelas tersebut. Sebenarnya aku juga tidak menyangka akan menjadi murid Kakashi-sensei kembali. Di tahun pembelajaran tahun ketiga ini, aku akan memperkenalkan diriku yang sebenarnya, bukan diriku yang palsu.
Apakah aku akan sekelas dengan Naruto? Atau mungkin Naruto tidak disekolah ini lagi? Aku berharap dirinya masih ada, karena aku sangat menantikan hari ini.
Aku masuk ke dalam kelas, kulihat ke sisi, sudut, dan semua isi ruang kelas tersebut. Mataku tertuju pada pemuda berambut pirang sedang terantuk-antuk dan kepalanya terhantup meja. Itu yang membuatnya menjadi sadar setengahnya.
"Naruto! Ayo Bangun! Akan dimulai sesi perkenalan" Kakashi-sensei melempar kapur dan tepat mengenai kepala Naruto dan itu sukses membuatnya sadar seutuhnya.
Aku tersenyum...
Kumelihat dirinya yang tadi mau marah menjadi kaget, mungkin karena dirinya telah melihat diriku. Aku akan memulainya, awal dari segalanya..
Diriku yang asli, bukan yang palsu. Bukan sebuah kebohongan, tetapi kebenaran yang sudah ditetapkan..
'Masa depanku adalah kebahagiaan'
"Hinata~"
"Hajimemashite! Watashi namae wa Hinata Hyuuga desu. Yoroshiku onegaishimasu~"
The End
::
::
::
Tamat! Akhirnya selesai juga diriku membuat cerita ini, sekian dariku. Karena ini adalah chapter terakhir, jadi kemungkinan besar fic ini tidak akan lanjut #yaiyalah. Pokoknya sekian saja dari Hikaru.
Jadi...
Sayonara~
Thanks for your review, favorite andfollow.
Arigatou gozaimashu~
Ttd,
Hikaru-Ryuu Hitachiin
