Copyright © 2016 by Happyeolyoo
All rights reserved
.
.
The Way To Love You
Genre : Drama, Hurt/Comfort
Rate : M
Pairing : HunHan as Maincast.
Chapter : 10/11
Warning : Genderswitch. Miss typo(s).
Disclaimers : The cast is belonged to God, their parents, and their company. All text here is mine. Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari cerita ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin dari penulis.
Summary : Luhan tahu jika dia tidak punya hak untuk jatuh cinta, mencintai, dan dicintai. Kala Oh Sehun datang, persepsi itu pun dikesampingkan dan dia menjatuhkan diri padanya. Kiranya, semuanya akan baik-baik saja jika Luhan terus diam menyimpan rahasianya. Berbohong akan menjadi satu dispensasi untuknya; agar dia bisa terus bahagia bersama Oh Sehun.
BGM : It's Okay by Orange Marmalade
Luhan paling menyukai akhir pekan. Sehun mendapatkan waktu libur sehingga 24 jam merupakan waktu milik Luhan. Sepenuhnya. Di akhir pekan, Sehun suka mengajaknya jalan-jalan. Mereka biasa menghabiskan waktu di beberapa tempat; restoran, taman bermain, pusat perbelanjaan, resort ski, atau pun pantai.
Pada pagi-pagi buta, Sehun akan membangunkan Luhan dan memberi tahu rencananya untuk akhir minggu ini. Dia selalu bangun dua jam lebih awal untuk menyiapkan bekal, yang mana itu merupakan tugas Luhan tapi secara licik Sehun malah mencurinya. Laki-laki itu memang senang melakukannya.
"Bangun, rusa gendut. Kau mau tidur sampai kapan?"
Tubuh mungil Luhan di bawah selimut menggeliat, tapi dia bangun secara cepat. Mendengar panggilan rusa gendut dari kekasihnya merupakan hal yang tidak pernah diinginkannya.
"Kau selalu curang."
Luhan yang baru keluar dari kamar mendapati kekasihnya tengah meletakkan kimbab terakhir di kotak makan. Yang bisa dilakukan cewek rusa gendut itu cuman menggosok matanya, menguap sebentar, lalu jatuh di atas punggung Sehun.
"Mandi."
"Sebentar lagi."
"Berhenti merengek seperti bayi atau apakah aku perlu membawamu ke bathup?"
"Sejak kapan kau jadi pandai bicara seperti ini, Sehun?" Luhan mengerutkan bibir. "Kau benar-benar keterlaluan."
Sehun tiba-tiba berbalik dan mencengkeram erat pinggang gadisnya, membawanya duduk di atas meja pantri dapur. Luhan menjerit karena terkejut akan perilaku kekasihnya dan Sehun cuman terkekeh. Jarak di antara wajah mereka dihapus secara sepihak, Sehun melakukannya secara sengaja.
"Kau yang membuatku begini." Sebelah tangan Sehun terus bergerak dan berhenti tepat di bokong Luhan. "Ayolah. Jangan bertingkah seperti gadis perawan."
Dahi Luhan mengeryit saat tangan Sehun melecehkan bokongnya, meremasnya sensual. Secara naluriah, Luhan tersentak—karena tingkah laku Sehun yang tidak bisa diprediksi sekaligus kalimatnya barusan. "Kalau memang aku sudah tidak perawan, kau mau apa? Dasar sialan."
Tubuh mungil Luhan meluncur dari pantri, mengacuhkan Sehun yang hanya terkekeh-kekeh seperti orang bodoh. Pintu kamar mandi dibanting oleh Luhan. Melalui tindakan itu, Sehun baru menyadari jika kekasihnya baru saja ngambek.
"Kenapa dia jadi sensitif sekali," Sehun menggerutu, menghampiri kamar mandi dan memutar knopnya. Di dalam bathup, Luhan sedang menggosok kakinya. "Apa kau barusan marah padaku?"
"Pintu keluar berada tepat di belakangmu, Tuan," Luhan tidak mau ambil pusing dengan kehadiran Sehun. Karena uap air, wajah sedih Luhan tersamarkan—sayangnya itu masih cukup mudah diketahui Sehun.
"Apa menurutmu aku perlu mandi dua kali?"
Luhan memandang kekasihnya yang kini tengah duduk berjongkok tepat di samping bathup. "Kupikir tidak."
"Kalau kau terus marah, aku akan masuk ke bathup sekarang juga."
"Aku tidak marah."
"Katakan apa salahku," Sehun membuka kausnya dan melemparnya ke keranjang pakaian kotor. Luhan memandanginya dengan tatapan bingung.
"Aku benar-benar tidak—Sehun!"
Kancing celana jeans Sehun akan segera dilepas tapi Luhan buru-buru keluar dari bathup demi menggagalkannya. Tubuh Luhan yang mengilat dan dibubuhi busa-busa berkilau menjadi santapan gratis bagi Sehun.
"Jangan coba-coba, Lu."
"Kau yang jangan coba-coba!" Luhan meringsut lagi ke bathup. Busa-busa itu kembali menyembunyikan lekuk tubuhnya. Rona-rona merah datang memenuhi pipi. Dia sedang malu setengah mati.
"Jangan bertingkah seperti perawan."
Luhan menoleh cepat, memandangi wajah kekasihnya dengan tatapan tidak percaya. Dia tersakiti karena hal seperti itu, seharusnya Sehun tahu.
"Kalau kau terus-terusan bertingkah seperti itu, kau membuatku terangsang," Sehun kembali duduk di sebelah bathup, mencuri ciuman singkat dari bibir Luhan. "Apa kau menggodaku dengan sikapmu?"
Oke. Itu merupakan pertanyaan konyol. Luhan menyadari jika Sehun tidak pernah mencoba merendahkannya lewat kata-kata. Yang dikatakan laki-laki itu memang benar. Sikap Luhan yang seperti seorang perawan memang sanggup membuatnya terangsang.
Sehun bilang, dia butuh satu paket seks untuk pagi ini—sebagai hukuman karena Luhan sudah bertingkah seperti seorang perawan.
oOo
Sehun mengatakan sesuatu mengenai akhir pekan di pantai. Mobil mereka pagi itu dipacu menuju pantai di utara dan menghabiskan waktu selama 2 jam untuk perjalanannya. Luhan saat itu yang terlalu lelah karena dihajar habis-habisan oleh Sehun di kamar mandi, tertidur sepanjang waktu. Sesampainya di pantai, Luhan sempat bermain ombak sebentar lalu kembali tertidur di bawah payung pantai hingga matahari nyaris tenggelam.
"Yaampun. Apakah aku tertidur terlalu lama?" Luhan menggeliat dan mengucek mata. "Kupikir cuman lima belas menit."
"Mataharinya sudah mau terbenam."
"Tubuhku terasa sangat lelah."
"Apa kau barusan menyalahkan seks kita tadi pagi? Hei, kau duluan yang menggodaku."
"Aku 'kan tidak tahu kalau tingkahku yang seperti itu bisa merangsangmu."
Sehun merenggangkan kakinya yang berada di atas pasir. "Sudahlah," katanya. "Aku cuman sedang memikirkan pernikahan."
"Pernikahan siapa?"
"Pernikahan kita."
"Huh?" Luhan kelihatan bingung. "Apa maksudmu?"
"Bagaimana menurutmu .., pernikahan itu?"
"Ya, hmm, yeah," Luhan kelihatan sedikit grogi dan bingung. "Aku belum sempat memikirkannya karena kita baru saja setuju memulai lagi hubungan ini."
"Itu bukan jadi alasan."
Bibir Luhan tergigit oleh giginya. "Ya, aku tahu. Tapi, kita masih terlalu jauh dari pernikahan."
"Kenapa?"
"Karena kita masih butuh waktu untuk mengenal .."
"Ayo kita menikah saja," ujarnya. "Aku tidak bisa hidup tanpamu. Jadi, ayo kita menikah."
Kalimat ajakan Sehun seperti sebuah bom yang tidak diharapkan Luhan. Percakapan seperti ini memang sangat sensitif baginya. Luhan ingin sekali mempertahankan keseriusan hubungan mereka, namun belum saatnya pernikahan ikut campur. Dalam tahapan ini, Luhan masih mencoba memperbaiki dirinya sendiri; mencoba menyingkirkan segala trauma dan depresi yang diakibatkan oleh masa lalu. Sehun harusnya tidak terburu-buru. Toh Luhan tidak akan lari kemana pun walau pun belum diikat oleh pernikahan.
"Bahkan ini masih berjalan kurang dari sebulan," Luhan kembali memandang ke laut lepas setelah membenarkan letak duduknya. "Terlalu cepat untuk menikah, Sehun."
"Tidak ada yang terlalu cepat. Aku cuman ingin kita semakin .."
"Apa mungkin kau masih tidak percaya padaku?"
Hening. Luhan butuh banyak waktu untuk memikirkan apa yang sebenarnya bisa ia katakan. Sehun yang punya banyak kejutan tidak terduga memang kadang kali membuatnya senang. Tapi kalau pernikahan sudah diungkit, kepala Luhan terasa akan meledak.
"Kau tidak mau menikah denganku?"
Luhan bisa menyadari jika ada kekecewaan yang terselip dalam nada suara Sehun barusan. Dia yang bertanggungjawab atas hal itu.
"Tidak mau?"
Luhan memilih merenggangkan kepalan tangan Sehun lalu beralih menyelipkan jemari mereka. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Sehun-ah."
"Yang kutanyakan, kau mau-tidak kalau menikah denganku?" Sehun kelihatan mendambakan jawaban akan pertanyaannya. "Ya atau tidak?"
"Bukan masalah aku mau atau tidak," Luhan membuang pandangan. "Tapi tentang kita siap atau tidak."
"Rupanya kau tidak mau." Sehun bangkit dan menepuk-nepuk celananya yang ditempeli pasir. Dia menghampiri kotak bekal mereka yang bahkan belum tersentuh dan berniat akan membawanya ke mobil. Dia kelihatan marah sekaligus kecewa, Luhan bisa melihatnya dengan jelas.
Kebimbangan yang ada pada Luhan memang tidak bisa dilewati dengan mudah. Ada banyak pertimbangan yang muncul dalam kepala. Semua itu tampak seperti batu sandungannya untuk menjadi wanita yang lebih terbuka terhadap kekasihnya sendiri. Luhan ingin sekali menguatkan dirinya sendiri, tapi dia tahu jika Sehun pasti bisa membantunya.
Luhan pun ikut berdiri, lalu dia memeluk punggung Sehun dari belakang.
"Hei."
"Aku sangat ingin bilang iya, Sehun," pelukan Luhan mengerat saat otot punggung laki-laki itu menegang karena ucapannya barusan. "Aku cuman banyak memikirkan tentang hal-hal yang kurasa belum bisa kuterima. Keluargamu, teman-temanmu, dan hubungan kita yang lebih serius dan normal. Kau mengerti maksudku?"
Kedua pundak Sehun melunak dan dia tahu jika dia bisa memutar tubuhnya sekarang. Sehun melakukannya sehingga mereka bisa berhadap-hadapan dengan lengan Luhan yang masih melingkar padanya. "Aku sudah bilang kalau aku yang akan memperkenalkan semuanya padamu."
"Tapi kau terlalu terburu-buru."
"Bukan terburu-buru. Aku cuman ingin memulai semuanya tanpa banyak buang waktu."
Luhan terdiam, kembali memikirkan apa yang sebenarnya diinginkan Sehun darinya melalui sebuah pernikahan.
"Pernikahan adalah satu-satunya hal yang ingin kulakukan denganmu secepatnya," lanjut Sehun. "Aku tidak mau lagi membuang-buang waktu dalam hubungan ini. Yang kita butuhkan adalah pernikahan, awal yang baru untuk kita berdua."
"A-aku butuh keberanian yang banyak untuk memberi tahu orangtuamu tentang masa laluku."
"Kita yang akan menyimpan masa lalumu. Cuman kita, oke?"
Karena pernyataan tersebut, entah mengapa dada Luhan terasa lebih ringan dan sejuk. Senyuman tidak bisa ditahan dan Luhan tahu jika dirinya sedang dilanda kebahagiaan. Sehun sudah membuatnya mantap mengenai hal tentang pernikahan. Dia juga ditawari memulai hidup baru dengan Sehun.
Itu merupakan hal yang sangat membahagiakan bagi Luhan.
"Sehun-ah, gomawo."
Sehun tersenyum sambil mengusak rambut Luhan. "Kita bisa memulai semuanya dari awal. Kita berdua, Lu."
oOo
"Halo, Luhan."
Luhan tidak pernah menyangka jika Park Chanyeol punya keberanian untuk datang ke apartemen Sehun sore itu. Seperti biasa, dia membawa senyuman lebar menggemaskan miliknya dan dua lusin gukwa ppang—jajanan yang paling disukai Luhan.
"Apa yang kau lakukan di sini sepulang kerja?" Luhan menerima gukwa ppang itu dengan suka cita. "Seharusnya kau langsung pulang karena istrimu sedang hamil."
"Hm. Aku sudah bilang padanya kalau aku akan pulang pukul sebelas," Chanyeol menyeruput jus jeruk yang disuguhkan padanya. Sesekali, dia mengedarkan pandangan dan mengamati beberapa hal yang kelihatan janggal baginya. "Apakah Sehun mendekor ulang apartemennya?"
"Oh, iya. Aku yang menatanya ulang. Apartemen Sehun kelihatan tidak layak huni saat aku masuk kemari."
"Ya, kau benar. Sehun memang butuh satu cewek yang bisa mendekr ulang apartemennya." Chanyeol menyandarkan punggungnya pada sofa. "Kau benar-benar cewek istimewa. Aku tidak mengerti kenapa kau bisa tertarik pada Sehun."
"Itu takdir, takdir," Luhan kelihatan tersinggung. "Yang seharusnya kau pertanyakan itu, kenapa dia bisa tertarik dengan cewek sepertiku. Kau tahu sendiri kalau aku bukan cewek baik-baik."
"Sudahlah. Kau harus mulai melupakan masa lalumu. Setidaknya, lupakan bagian yang buruk."
"Sehun juga memberitahuku tentang hal itu."
Chanyeol merenung selama beberapa saat. "Apakah beberapa hari yang lalu, Baekhyun kemari?"
Kedua mata rusa Luhan membulat, yang mana itu malah memberi klu bagi Chanyeol.
"Dia benar-benar kemari, ya. Wah, wanita itu benar-benar."
"Dia cuman cemburu padaku."
"Perilakunya kadang tidak masuk akal. Bagaimana bisa dia cemburu padamu sedangkan aku sudah menikahi dan menghamilinya?"
"Itu karena kau yang masih kurang ajar, Berengsek! Bukankah kau sering punya keinginan untuk meniduriku?!"
Luhan dan Chanyeol sama-sama terlalu asyik berdebat mengenai masalah konyol yang melibatkan Baekhyun hingga mereka tidak menyadari seseorang masuk ke apartemen. Oh Sehun yang baru pulang kerja, dikejutkan dengan kehadiran Park Chanyeol. Walau pun terkesan lucu, Sehun langsung tampak keberatan dengan kehadiran Park Chanyeol di ruang TV mereka.
"Hai, Sehun. Lama tidak jumpa, ya?" Chanyeol menyapa duluan setelah dia menggigit gukwa ppang, masih berada di posisinya dengan cara yang paling santai.
Sehun berusaha tersenyum, "Hai, Chanyeol hyung," sapanya balik. "Sedang apa kau di sini?"
"Cuman ingin mengunjungi apartemenmu," Chanyeol menjawab dengan nada ringan.
Sehun cuman mengangguk-angguk lalu berlalu ke kamar. Dia tidak melontarkan apa-apa mengenai kedatang Chanyeol dan melengos ke kamar.
"Kupikir, Sehun tidak menyukai kehadiranmu," celetuk Luhan.
"Aku juga menyadarinya."
"Laki-laki memang tidak bisa diprediksi. Maksudku, apakah dia baru saja cemburu padamu? Wah, tidak bisa dipercaya."
"Aku bisa mengerti kenapa dia cemburu padaku. Kau tahu sendiri kalau aku itu spesial bagimu ..."
"Lu, apakah kau sudah menyiapkan makan malam?" Sehun menginterupsi secara tiba-tiba, mengejutkan mereka berdua. "Chanyeol hyung, kau bisa bergabung dengan kami."
Malam itu, acara makan malam di apartemen terasa sangat dingin dan tidak nyaman. Sehun kelihatan lebih senang menutup mulut, sedangkan Chanyeol sebaliknya. Luhan tahu jika laki-laki bermata bulat itu ingin mencairkan suasana yang tegang. Tapi kiranya, candaannya itu sama sekali tidak tepat.
oOo
Begitu makan malam itu sudah selesai, Chanyeol bilang jika dia harus pulang sebelum Baekhyun mencarinya. Saat dia akan keluar, Sehun malah menawarinya untuk minum sebentar di kedai pinggir jalan yang dekat perempatan jalan.
"Kapan Baekhyun noona akan melahirkan?" Sehun bertanya selagi dia menuang soju pada gelas pertama.
"Dua atau tiga minggu lagi. Yang jelas, aku mungkin akan sulit datang ke pernikahanmu dengan Luhan."
"Tidak usah datang juga tidak apa-apa."
Chanyeol memandang wajah Sehun saat sebelah alisnya melengkung. "Tapi akan kuusahakan datang."
"Kenapa harus, hyung? Mungkin Luhan juga tidak ingin kau datang." Sehun terkekeh.
"Eih, dia pasti sangat berharap agar aku bisa datang."
Sehun menenggak sojunya dengan oneshoot lalu membanting gelasnya. "Jangan terlalu percaya diri."
"Coba kau tanyakan sendiri pada Luhan. Kalau aku bilang tidak bisa datang, dia pasti akan langsung mencebikkan bibirnya," Chanyeol memberi tatapan yang lebih tajam dari tatapan yang dilayangkan Sehun. "Sejak SMA, Luhan selalu ngambek dengan mencebikkan bibirnya kalau aku bilang tidak bisa."
Kalimat Chanyeol ditanggapi oleh tawa penuh nada ejekan dari Sehun. "Hyung, aku baru tahu kalau kau sangat egois," katanya. "Luhan akan segera jadi istriku. Kau tidak bisa mengikatnya seperti dulu."
"Hm. Aku tahu itu."
"Jujur saja aku tidak suka melihatmu dekat-dekat dengan Luhan," Sehun melontarkan somasi. "Aku berharap, kau tidak akan sering-sering datang menemuinya setelah kami menikah, hyung,"
"Dan aku berharap kau tidak akan lari seperti pengecut seperti setahun lalu."
Segelas soju di tangan Sehun urung diangkat. Otot-otot pada tubuhnya serasa kaku kala kalimat tadi dilontarkan oleh Chanyeol. Sehun merasa disindir oleh pernyataan barusan.
"Kalau kau ketahuan bertingkah seperti pengecut dan membuat Luhan jatuh lagi, akan kupastikan aku sendiri yang akan mengurus surat cerai kalian dan Luhan akan kusimpan untuk diriku sendiri."
Kusimpan untuk diriku sendiri. "Hyung, kau sangat berengsek."
"Ya. Aku tahu itu," sebelah bibir Chanyeol terangkat. "Tapi setidaknya, aku tidak pernah punya pikiran untuk lari meninggalkan Luhan setelah mengetahui fakta kotor tentangnya."
Untuk yang kedua kali, Sehun tertohok.
"Aku sudah ada di sampingnya sejak dia memutuskan untuk bergabung di rumah bordir," jeda sebentar. "Waktu itu, Luhan adalah satu-satunya cewek yang kusukai, yang sayangnya malah menolak perasaanku dan memilih untuk bergabung di rumah bordir karena alasan ekonomi."
Chanyeol menerawang sebentar ke masa lalu, ke masa di mana dirinya masih sangat labil dan penuh emosi remaja. "Waktu itu, dia datang padaku dan menangis, mengutuk langit karena sudah memberinya waktu yang sulit," emosi tampak bergejolak di manik mata Chanyeol.
"Lalu pada suatu waktu, aku membawanya ke motel, mengatakan padanya jika aku harus jadi laki-laki pertama sebelum semuanya terlambat," telapak tangannya tergulung, tapi senyuman hampa itu tak jua luput dari bibir. "Lalu sejak saat itu, aku bertekad untuk mengawasi Luhan dengan menjadi pelanggan tetapnya. Aku selalu menidurinya tepat setelah dia ditiduri oleh .."
"Hyung, hentikan. Cukup," Sehun kelihatan ingin muntah. "Aku tidak ingin tahu apa saja yang sudah terjadi antara kau dan Luhan."
"Kenapa? Kau takut kau tidak akan bisa melakukan apa yang sudah kulakukan pada Luhan?"
Tidak ada jawaban.
"Sehun, kau akan menikahinya," sambung Chanyeol. "Dan itu berarti, aku harus mempercayakan dia padamu."
Setelah mengatakan itu semua, Chanyeol benar-benar pergi dari sana. Dia tidak mengendarai mobilnya karena sudah sedikit mabuk. Sehun yang masih duduk di tempatnya, mengamati punggung Chanyeol yang makin lama makin menjauh.
Tanpa diduga, akal sehatnya yang penuh kelogisan menyahut dengan amat bijak; membisik padanya jika Chanyeol hanya ingin Sehun menggenggam Luhan dengan penuh tanggungjawab—seperti yang pernah Chanyeol lakukan dulu.
TBC
