Title : First Love
Disclameir : Semua cast yang ada di sini bukan milik saya.
Pairing : Yewook, Siwook, kyumin. Sligh little: Haehyuk, little: Zhoury, kim kibum, Tan Hangeng.
Warning : BL,Typo, aneh, abal, gaje, M-PREG, EYD berantakan, alur rada maksa.
Tidak suka jangan di paksakan membaca silahkan klik back aja... warning berlaku jadi No Bash
Previous chapter
Siwon melihat kearah yang di tunjukan Tiffany, dua orang yang berdiri di depan pintu ruangan Siwon tampak membeku dengan sorot mata terkejut begitu juga dengan Siwon sampai-sampai berkas yang berada di tangan Siwon jatuh berserakan di lantai.
"Kau."
Deg deg
Jantung Siwon berdetak dua kali lebih cepat, tubuhnya bergetar seketika, di depannya berdiri dua orang yang sangat di kenalnya, Jeremy dan Joshua atau Yesung dan Hangeng, adalah dua orang yang sama-sama pernah terlibat dengan pasangan di masa lalunya.
Chapter 10
"Lama tak berjumpa Siwon." Siwon tak menjawab sapaan Joshua matanya hanya terpaku pada seseorang di sebelahnya, siapalagi kalau bukan Jeremy alias Yesung.
'Kenapa dia ada disini?' ucapnya dalam hati, kedua matanya bahkan tak berkedip sedetikpun begitu pula dengan Yesung entah kenapa dirinya merasa beruntung bisa bertemu dengan sosok di depannya ini, 'jadi di negara ini Siwon dan Ryeowook tinggal, sayang sudah ku katakan kalau kemanapun kau pergi aku pasti bisa menemukanmu bagaimanapun caranya'.
"Mr Andrew, dokumentnya terjatuh." Siwon terhenyak lalu mengalihkan perhatiannya.
"Ah benar juga." Siwon berjongkok lalu memunguti berkas-berkas yang berserakan, selesai memunguti berkasnya yang berserakan Siwon kembali berdiri.
"Oh iya, Mr Andrew perkenalkan ini adalah Mr Jeremy Kim pemilik J-Clouds dan yang di sebelahnya Mr Joshua Tan asisten pribadinya." Tiffany memperkenalkan keduanya, tak ada sahutan dari Siwon hanya aura tak bersahabat yang dapat di rasakan di sekitarnya, tatapan mata Siwon begitu tajam seolah ingin membunuh namja di depannya.
"Batalkan perjanjian ini." Tukasnya dingin lalu melangkah melewati Yesung menuju ruangannya.
Tiffany menatap tak percaya, "Tapi Mr.."
"Aku bilang batalkan." Nada suara Siwon bertambah satu oktav membuat sang sekertaris memilih bungkam dengan keputusan pemimpinnya.
"Pengecut." Ucap Yesung saat jarak keduanya dekat.
"Bukan urusanmu." Sahutnya ketus lalu mendorong pintu masuk ruangannya.
Blam
Pintu ruangan di tutup agak keras oleh pemiliknya, Hangeng dan Tiffany kecuali Yesung terlonjak kaget, ada apa dengan pemimpinya itu? Batin Tiffany.
"Maafkan atasan saya Mr Jeremy, mungkin beliau ada sedikit masalah."
'Ya, dan masalah itu dariku' Yesung mengaku dalam hati, "Tak apa, baiklah sepertinya kami harus pergi." Ucap Yesung.
"Silahkan Mr, maaf soal kerjasama perusahaan kami dengan anda yang juga harus di batalkan."
"Ya, tak apa kami bisa mencari partner perusahaan yang lain." Sahut namja bermata sipit itu, "kami permisi dulu." Lanjutnya lalu melangkah menuju lift yang akan mambawa keduanya menuju lantai bawah.
.
.
"Johsua, apa kau kenal dengan Siwon ah ah maksudku Andrew?" tanya Yesung, keduanya kini sudah berada di dalam mobil ferrari hitam milik Yesung.
"Ya, kami berteman sejak SMA dulu, anda sendiri apa anda mengenalnya? Kulihat sepertinya dia sangat tidak senang melihat anda bahkan sampai membatalkan perjanjian perusahaan." Hangeng menolehkan kepalanya kearah Yesung.
"Dia adalah musuh terberatku."
"Haa~?" Hangeng melongo di tempatnya, 'Musuh?' batinnya.
"Lupakan. Ah sepertinya aku tidak akan kekantor hari ini, tolong kau urus semuanya."
"Baik Mr." Sahut Hangeng.
Yesung menyamankan posisi duduknya di kursi penumpang, perasaan sesak sekaligus senang bersatu di pikirannya.
.
.
Suasana di sebuah sekolah elit yang ternama di London begitu ramai saat jam istirahat berlangsung, Eunhyuk bocah bergummy smile itu kini duduk dengan santai di meja kantin di temani sepotong sandwitch dan segelas susu di meja makan.
"Hai, apa aku boleh duduk di sini?" tanya seorang bocah bermata sipit berambut coklat dengan pipi yang bulat seperti kue mhoci.
"Boleh, uhm kamu siapa?" tanya Eunhyuk.
"Namaku Henry Lau, kau tidak ingat jika kita satu kelas." Eunhyuk berpikir sebentar kemudian menggeleng.
"Aku lupa, lagipula aku masih baru di sini jadi belum mengenal semua murid di kelasku." Ungkapnya, Henry tersenyum maklum.
"Apa kau sendirian saja?"
"Tidak, aku bersama seseorang." Jawab Eunhyuk.
"Mana dia?"
"Sedang memesan makanan, itu dia."
"Maaf menunggu lama, pesananku baru saja jadi." Kata Donghae meminta maaf, bocah kecil itu menaruh nampan berisi makanannya di meja lalu mulai mendudukan dirinya di samping Eunhyuk.
"Hai, kau temannya diakan, kenalkan namaku Henry Lau." Henry memperkenalkan dirinya kembali.
"Namaku Aiden Choi, kau dari kelas berapa?"
"Aku dari kelas 1 dan aku satu kelas dengan.." Henry bingung ingin menyebut nama Eunhyuk karena bocah blonde itu belum memprkenalkan namanya.
"Spencer Cho." Potong Eunhyuk cepat.
"Yah, aku sekelas dengan Spencer." Henry tersenyum canggung pasalnya Eunhyuk agak dingin padanya.
"Hyuk, kau hebat sudah memiliki teman baru dalam sehari." Puji Donghae membuat bocah blonde itu merona.
"Wah kalian serasi sekali." Celetuk Henry yang membuat bocah blonde itu makin merona, ckck ada-ada saja.
.
.
Siwon merapikan beberapa dokumennya dengan serampangan pikirannya benar-benar tidak focus dalam pekerjaan hari ini semua pertemuam dan rapat yang harusnya di hadiri hari ini di batalkan secara sepihak olehnya, dirinya tidak peduli dengan semua itu yang ada di pikirannya saat ini adalah secepatnya sampai di rumah dan bertemu dengan pendamping hidupnya.
Brak
"Argghh! Sial!" umpatnya keras melempar beberapa documentnya keatas meja, amarah jelas sekali terlihat di kedua bola mata onixnya.
"Tidak bisa, ini tidak boleh terjadi, jangan sampai 'istri'ku bertemu dengannya, akan ku pastikan Wookie tidak akan pernah bertemu dengan namja itu lagi, tidak akan pernah." Siwon beranjak dari kursinya menyambar jas kerjanya lalu berjalan tergesa menuju pintu keluar ruangannya.
"Mr Andrew, anda mau pergi kemana?" tanya Tiffany.
"Aku akan pulang tolong urus semuanya, aku sedang kurang sehat hari ini." Jawabnya dengan nafas yang sedikit memburu.
"Tapi..." Tiffany tidak meneruskan ucapannya karena sang atasan sudah masuk kedalam lift.
.
-oooo-
.
Mobil lamborghini hitam milik seorang namja tampan bermarga Choi melaju bak mobil balap di tengah jalanan kota London, beberapa kali mobil mewah itu hampir menyerempet mobil lain dan juga menerobos lampu merah jika saja dia tidak buru-buru menyadarinya, namja tampan bertubuh kekar tampak mengatur nafasnya dengan susah payah sambil matanya tetap focus menatap jalanan di depannya.
Raut wajah Siwon begitu tegang dengan sorot mata yang menggelap tercampur kabut amarah dan juga... cemburu, ya intinya Siwon saat ini sedang cemburu pada namja yang berstatus mantan suami dari namja yang sudah ia nikahi sekarang, berlebihan memang tapi begitulah sifat sebenarnya seorang Choi Siwon, cemburu pada sesuatu yang belum pasti.
Ah~, Siwon sepertinya baru saja mengingat sesuatu, ya namja berkebangsaan china yang bersama dengan Yesung, Tan Hankyung atau sekarang adalah Joshua Tan, Siwon tidak menyangka akan bertemu dengan namja jangkung itulagi, namja yang juga merupakan mantan kekasih dari 'istri' pertamanya siapalagi kalau bukan Choi Heechul 'istri' yang di anggapnya sudah meninggal 11 tahun yang lalu, dunia memang begitu sempit, begitulah pikirnya.
Ckiitt
Mobil mewah itu berhenti tepat di tempat parkir mansion Choi, Siwon turun dari mobilnya dan langsung masuk kedalam rumahnya, Sungmin yang kebetulan berada di ruang depan menatap heran sepupu iparnya, tidak biasanya Siwon pulang saat masih jam kerja, batin namja berwajah aegyo itu.
Tap tap tap
Cklek
Siwon mempercepat langkahnya menuju kamarnya memutar knop pintu lalu masuk kedalamnya, dilihatnya sosok sang 'istri' kini sedang berdiri di dekat jendela.
"Hyung sudah pulang?" tanya Ryeowook ketika namja mungil itu menoleh dan mendapati suaminya masuk kedalam kamar.
Tap tap tap
Grep
Siwon menghampiri 'istri'nya lalu memeluk tubuh kurus itu dengan erat, tubuhnya bergetar dengan kelopak mata yang terpejam menahan sebuah isakan yang pasti akan lolos walau di tahan sekuat apapun.
"Kau tidak akan pergikan? kalian tidak akan meninggalkanku kan?" tanyannya dengan suara bergetar dan semakin mempererat pelukannya seakan takut jika pelukan itu lepas maka namja di dipelukannya pun akan ikut terlepas dari hidupnya.
"Hyung ini bicara apa? siapa yang akan pergi?" tanya Ryeowook heran.
"Jangan pergi, aku mohon jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku." Lirihnya, Ryeowook mengernyit heran, bingung dengan sikap suaminya yang tiba-tiba seperti ini.
"Aku tidak akan pergi kemana-mana, aku berjanji." Ryeowook mendorong pelan tubuh kekar di depannya, namun namja mungil itu langsung membelalakan matanya begitu melihat sebutir airmata mengalir di pipi suaminya.
'Apa yang terjadi padanya?'
"Hyung, wae?" tanya Ryeowook lembut, di usapnya butiran bening di pipi suaminya, bagaimanapun kekar dan kuatnya tubuh seorang pria pasti akan tetap menangis jika ada hal yang membuatnya bersedih.
Siwon meraih tangan mungil itu lalu mengecupnya lama, "Tak apa, aku hanya rindu padamu saja."
"Bukankah setiap kali kita selalu bertemu di rumah, bahkan kita tidur di ranjang yang sama." Ucapnya pelan takut menyinggung suaminya.
"Aku tahu, tapi entah kenapa tiba-tiba aku merindukanmu lalu ingin cepat pulang." Katanya, rona merah menghiasi kedua pipi tirus Ryeowook.
"Hyung kau berlebihan." Ryeowook berbalik membelakangi suaminya yang langsung di hadiahi sebuah pelukan dari suaminya.
"Itu memang kenyataanya Umma." Bisik Siwon di telinga Ryeowook sambil sesekali menghirup aroma apel yang menguar di tubuh Ryeowook.
"Hyung, sebaiknya hyung mandi dulu tubuhmu lengket dan berkeringat."
"Ah benar juga, uhmm mau mandi bersama?" tanya Siwon dengan nada sedikit menggoda, sepertinya namja kekar itu sudah melupakan sedikit kecemburuan dan ketakutannya.
Glek
"Se-sepertinya aku harus kekamar Donghae sekarang, hyung mandi saja sendiri." Ryeowook melepaskan diri dari pelukan suaminya dan berjalan cepat keluar dari kamar mereka, meninggalkan Siwon yang kini berusaha menahan tawanya namun rau wajahnya kembali berubah seperti beberapa saat yang lalu, 'mungkin aku harus sedikit protective padanya mulai dari sekarang,' batinnya.
.
.
Suasana taman kota masih tampak ramai di sore hari, sinar jingga di langit sore terasa sejuk dan nyaman layaknya di pagi hari, di sebuah taman tepatnya di tempat biasa anak-anak bermain tampak sosok namja bermata sipit tangah berbincang dengan bocah berusia 7 tahun yang menurutnya sangat menarik perhatiannya ketika mereka bertemu untuk yang pertama kalinya tempo hari.
"Woah~, jinja? Uncle aslinya berasal dari Korea?" tanya bocah yang ternyata adalah Aiden atau Donghae.
"Ne itu benar, jadi jangan memanggilku uncle panggil saja ahjussi." Ujarnya, Donghae mangut-mangut tanda mengerti, sejak berkenalan beberapa saat yang lalu keduanya menjadi langsung akrab.
"Appa dan Umma Aiden juga berasal dari sana."
"Jinja? Lalu kenapa kalian pindah kesini?" tanya Yesung penasaran, adahal yang sedikit mengganjal pikirannya yaitu nama bocah di depannya yang saat berkenalan tadi mengaku bernama Aiden Choi.
'Choi? Bukankah..'
"Umma bilang Appa mengajak kami pindah saat mereka menikah."
"Oh ya~, seperti apa Appamu itu?"
"Appa itu sangat keren, tubuhnya besar seperti superman." Celotehnya dengan memperagakan gerakan superman karakter kartun kesukaannya.
"Lalu Ummamu?"
"Umma itu.."
"Aiden, sudah waktunya pulang." Panggil sang Umma pada anaknya.
"Ah itu Umma-ku." Serunya sambil menunjuk sosok namja mungil yang tak jauh dari sana.
Yesung menoleh namun seketika kedua matanya terbelalak menatap sosok di depannya, Aiden berdiri lalu berlari menghampiri Ryeowook di ikuti Yesung yang ingin memastikan penglihatannya salah atau tidak.
"Jeremy ahjussi, ini Umma Aiden." Ucapnya dengan nada riang memperkenalkan sang Umma yang berdiri terpaku menatap sosok namja di depannya, Ryeowook merasa de javu dengan situasi ini.
Tbc
Yeahh akhirnya selesaiiii gak nyangka udah chap 10 juga ini ff... gomawo bagi yang udah bersedia selalu review di setiap chapnya... jika bukan karena dukungan kalian ff ini pasti akan terbengkalai.. sampai jumpa di chap selanjutnya...
Review please^^
