Title: The Holy Grail War

Cast: Exo Members (ot12), other idols, OCs

Pairing: (Main) KaiSoo, ChanBaek, Slight!KaiBaek, other will be revealed later.

Rating: T/M for later chapters

Warning: Fate/Stay Night!AU, yaoi, typo, tidak sesuai dengan EYD

Disclaimer: Member EXO milik Tuhan dan keluarganya. Fate/Stay Night ©TYPE-MOON. I don't own anything except my OCs.

A/N: Kata-kata yang diketik dengan huruf italic adalah dialog dalam hati atau telepati(?). FF ini terinspirasi dari Visual Novel Fate/Stay Night jadi akan ada sedikit kemiripan ^^.

Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, baru kali ini Kim Jongin melihat sosok yang semenarik ini. Wajahnya terlihat tampan tapi ia juga terlihat cantik. Kulitnya putih pucat namun tampak berkilau terkena cahaya sinar bulan yang menjadi satu-satunya sumber penerangan di ruangan itu. Rambutnya berwarna hitam legam, sangat kontras dengan kulit putih pucatnya. Matanya lebar dan memberikan kesan innocent, tapi ada sesuatu di dalam kedua bola mata hitam itu yang membuat Jongin merasa terpesona dan terintimidasi dalam waktu yang bersamaan.

Pemuda pemilik pemilih bibir merah muda berbentuk hati itu kemudian berkata,

"Kau telah memanggilku kemari dan aku menjawab jawablah kau adalah Master-ku?"


BRUK!

"Oomph! Aduuh.." Rintih Baekhyun sambil mengelus bokongnya yang kesakitan karena ia jatuh terduduk akibat pendaratan teleportasi dari Jongin yang bisa dibilang kurang mulus. Lelaki mungil itu menolehkan kepalanya kesana kemari, memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua.

"Phew..aman." batin Baekhyun sambil menghela nafas lega.

"Baek, kau baik-baik saja?" Tanya Jongin sambil mengulurkan tangannya, hendak membantu Baekhyun berdiri dari tempatnya.

Baekhyun menganggukan kepalanya, "Yeah, hanya saja bokongku sedikit sakit. Lain kali cari tempat yang lebih bagus untuk mendarat." Gerutunya sambil merapikan seragamnya. Jongin menatapnya bingung,

"Maksudmu tempat yang lebih bagus itu, tempat mendarat yang empuk seperti di kasur atau semacamnya begitu?"

"Astaga orang ini…"

"Bukan begitu bodoh. Kau sendiri juga tahu kan biasanya di jam-jam seperti ini banyak murid-murid dari sekolah kita yang lewat, dan bagaimana kalau ada yang melihat kita tiba-tiba muncul di depan mereka? Atau yang lebih parah lagi, kita menindihi orang lain. Huh?"

"Iya aku tahu.." Gumam Jongin sambil melanjutkan perjalanannya. "Lain kali aku akan menteleportasikan kita berdua ke tempat yang lebih sepi."

"Hmm.."

Kemudian keheningan menyelimuti mereka berdua, suara yang terdengar hanyalah bunyi angin, kendaraan yang berlalu lalang, dan suara orang-orang yang berjalan di sekitar mereka.

"Aku tidak percaya Kyungsoo langsung menyerah begitu saja setelah kau berjanji padanya akan menggunakan command-spell-mu. Mengingat dia sangat keras kepala."

Jongin mengangkat kepalanya dan menatap Baekhyun yang menyengir lebar ke arahnya, "Aku juga tidak tahu kenapa. Tapi Baek, entah kenapa aku merasa kalau kau merencanakan sesuatu di kepalamu, karena aku ingat sekali kemarin kau marah-marah dan hampir membunuhku karena aku berkeliaran tanpa ada seorang Servant di sisiku. Tapi hari ini.."

Baekhyun tertawa kecil, "Hmm..aku tidak merencanakan sesuatu sih."

"Lalu?"

"Well, tidak akan ada yang merasa curiga kan apabila Master yang lemah sepertimu berkeliaran tanpa Servant-nya disisinya. Dan aku yakin sekali, musuh-musuhmu yang lain pasti merasa nervous apabila Kyungsoo tidak ada disisimu."

Jongin memiringkan kepalanya, "Nervous? Kenapa begitu?"

"Mereka pasti akan bertanya-tanya apakah ini adalah sebuah jebakan atau semacamnya, dan membuat mereka cenderung kurang tertarik untuk menyerangmu. Kau sendiri juga setuju kan?" Ujar Bekhyun sambil mempercepat langkah kakinya sambil menggumamkan "Gawat, 10 menit lagi bel berbunyi."

Sementara itu, Jongin sedikit tercengang beberapa saat setelah ia mendengar penjelasan Baekhyun barusan, "Kurasa dia ada benarnya juga. Byun Baekhyun..kau ini..menyeramkan juga ya."

Setelah kurang lebih 50 meter mereka berjalan, akhirnya Jongin dan Baekhyun sampai juga di depan pintu gerbang sekolah mereka. Sudah banyak murid-murid yang berdatangan, tiba-tiba entah kenapa Jongin merasa ada sesuatu yang menekannya disaat ia menginjakkan kakinya ke dalam pintu gerbang. Pewaris keluarga Kim itu terdiam beberapa saat sambil menyandarkan bahunya di tembok.

"Yah, ada apa?" Tanya Baekhyun menghampiri Jongin.

"Aku merasakannya lagi.." gumam lelaki bersurai coklat itu sambil mencoba berdiri. "Terkadang aku merasakan ada yang aneh setiap kali aku melewati pintu gerbang sekolah, rasanya seperti udara di sekitar sini membuatku merasa mual."

"Mungkin segel yang di tempatkan di sekolahlah yang membuatmu merasa seperti ini. Sama sekali tidak mengejutkan kalau benda sialan itu menjadi lebih kuat dari hari ke hari. Apabila kita tidak segera bertindak, segel itu akan segera aktif kurang lebih dua atau tiga hari lagi."

"Dua atau tiga hari!?" Sahut Jongin, agak meninggikan suaranya membuat Baekhyun memukul bagian belakang kepalanya dengan cukup keras, "Pelankan sedikit suaramu bodoh! Bagaimana kalau ada yang dengar dan—"

"UWOOOOOO!" Teriak seseorang dari belakang Baekhyun dan Jongin, membuat sang pewaris keluarga Byun menolehkan kepalanya dengan kesal sambil memelototi siapapun yang berteriak tadi.

"Yah! Apakah ada cara yang lebih sopan dalam mengucapkan 'Selamat Pagi' selain berteriak?"

"Oh? Taemin!"

Dengan cepat Taemin langsung berjalan menghampiri Jongin dan menariknya jauh-jauh dari Baekhyun yang hanya menatap mereka dengan aneh, "Oi, Jongin! Apa yang kau lakukan bersama Byun Baekhyun di tempat seperti ini."

"Uhh..berangkat sekolah?"

"Bukan begitu maksudku!" Teriaknya kemudian melepaskan Jongin dan berjalan menghampiri Baekhyun, "Aku memiliki firasat yang aneh sejak aku bangun tidur pagi ini, tapi aku benar-benar tidak menyangka firast burukku ternyata lebih buruk dari yang aku perkirakan. Menjauhlah darinya Jonginnie! Baekhyun itu beracun! Hiiii!"

Baekhyun menyipitkan matanya, "Kau aneh Lee Taemin..haaah sudahlah, aku masuk saja duluan." Ujar Baekhyun sambil berlalu, tapi sebelum itu ia membisikkan sesuatu pada Jongin agar bertemu dengannya di atap gedung sekolah ketika jam makan siang, dan diiyakan Jongin dengan sebuah anggukan kecil.


Jongin menatap bangku kosong di sebelahnya, sudah beberapa hari berlalu sejak hilangnya Oh Sehun dan masih belum ada petunjuk yang jelas kemanakah lelaki cadel itu menghilang. Tiba-tiba ia teringat kejadian yang terjadi kemarin sore ketika Rider menyerangnya, kalau tidak salah Jongin melihat sosok Sehun sedang berada di hutan belakang gedung olahraga tapi ia sendiri juga tidak yakin.

"Ngin..Jongin..Jongin!"

"Huh?"

Taemin mendecakkan lidahnya, "Aku memanggilmu berkali-kali dan kau sama sekali tidak mendengarkanku." Ujar lelaki bersurai gelap itu sambil menyelentik dahi Jongin, yang diselentik malah tertawa kecil sambil meminta maaf.

"Ayo kita ke kantin, kudengar hari ini mereka membagikan susu rasa pisang dengan gratis." Ajak Taemin sembari menarik lengan sahabatnya itu. Dengan tidak enak Jongin melepaskan dirinya dari Taemin kemudian menepukkan tangannya meminta maaf, "Maafkan aku Hyung, tapi aku ada janji dengan seseorang hari ini. Lain kali saja ya?"

"Pasti dengan Si Byunbaek ya?" Ujar Taemin, curiga.

Jongin menganggukan kepalanya dengan cepat sambil mundur beberapa langkah, ia bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini.

"Kim Jongin, sudah berapa kali aku bilang padamu untuk menjauhi laki-laki aneh itu!"

"Heissh, sudh kuduga dia akan bilang seperti ini lagi." Batin Jongin sambil membuat wajah mengejek. Taemin terus-terusan mengomel sampai seorang gadis datang menghampiri mereka berdua dan melingkarkan tangannya di lengan Taemin dengan manja.

"Taemin-ah, disini kau rupanya. Oh, hai Jongin." Sapa gadis cantik itu. Namanya Song Naeun, gadis ini adalah umm..stalker Taemin? Ya kurang lebih seperti itu, keman apun Taemin pergi gadis itu pasti ada disana.

Memang mengerikan, tapi itulah resiko menjadi cowok populer.

"Hyung, kau pergi saja dengan Naeun ya? Baekhyun pasti sudah menungguku. See you!"

"A-apa!? Yah! Kim Jongin! Jangan tinggalkan aku hey!" Teriak Taemin, Jongin hanya tertawa sambil meninggalkan sahabatnya itu.

"Maafkan aku Hyung, tapi ada hal yang lebih penting yang harus kulakukan demi keselamatan kalian semua."

Jongin hendak menaiki tangga menuju ke lantai 3 dan berpapasan dengan Minseok disana, "Hai Hyung." Sapa Jongin sambil melambaikan tangannya, Minseok tersenyum ramah dan menghampiri dongsaeng-nya itu.

"Kau mau kemana?"

"Aku ada janji dengan Baekhyun di atap sekolah." Ujar Jongin sambil menunjuk ke atas. Sekilas Jongin melihat ekspresi wajah Minseok sedikit berubah ketika ia menyebut nama Baekhyun, tetapi lelaki berwajah bulat itu dengan cepat menutupinya dengan ekspresi wajah cerianya.

"Oh, Baekhyun ya? Aneh, aku tidak melihatnya lewat di depan kelasku. Berhubung kelasnya ada disebelah kelasku. Mungkin dia melompat keatas lewat jendela ahaha, kaki anak itu cukup kuat."

Jongin tertawa setengah ikhlas, "Haha iya…"

"Yeah, cukupkuat sampai ia bisa terjun bebas dari atap gedung dan mendarat dengan mulus." Batin Jongin.

"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Jangan membuatnya menunggu lebih dari lima menit, anak itu bisa marah besar." Ujar Minseok sambil menepuk bahu lebar milik Jongin.

"Ah..eh iya. Hyung tunggu dulu!" kata Jongin sebelum Minseok berjalan terlalu jauh dari dirinya, "Kau..kakak angkat Sehun kan?"

Minseok terdiam beberapa saat lalu menganggukan kepalanya pelan, "Ya, tapi iyu dulu. Kenapa?"

"Kau..tahu kan? Beberapa hari yang lalu dia menghilang. Apakah ada perkembangan baru tentang pencariannya?"

"Tidak, belum ada kabar baru lagi." Ucapnya pelan.

"Oh..begitu. Terimakasih Hyung, aku pergi dulu." Ujar Jongin sambil berlalu, Minseok masih memperhatikannya sampai lelaki berkulit tan itu menghilang dari penglihatannya dan kembali melanjutkan perjalanannya.

Dan benar saja, Baekhyun sudah menunggunya di atap sekolah. Lelaki berwajah imut itu terlihat kesal dan siap meledak kapan saja. Memang sebaiknya Jongin tidak pernah membuat lelaki mungil itu menunggu lebih dari 5 menit saja.

"Kau terlambat 7 menit lebih 29 detik." Ujarnya datar sambil melipat kedua tangannya dan menghampiri Jongin.

"Maaf Baek, Taemin tadi melarangku untuk pergi lalu aku tadi bertemu dengan Minseok-hyung di dekat tangga kemudian kami sedikit mengobrol, yaaa begitulah."

"Minseok-Hyung?"

Jongin mengiyakan pertanyaan Baekhyun dengan gumaman kecil.

"Ada informasi yang kau dapat darinya?"

"Aku hanya menanyakan kabar Sehun, tidak ada yang lain. Katanya belum ada perkembangan baru lagi dalam pencariannya. Memangnya kenapa? Minseok-Hyung tidak ada hubungannya dengan pemasangan segel di sekolah ini kan?"

Baekhyun memutar bola matanya malas, "Mungkin? Oh, omong-omong sekolah baru saja menerima kabar kalau Jung Soojung sudah ditemukan."

Jongin terkesiap kaget.

"Tubuhnya terkulai lemas, dan tatapan matanya kosong seakan-akan jiwanya tersedot habis oleh sesuatu. Menurut pihak rumah sakit dia mungkin keracunan, tapi menurut prespektifku dia—"

"Seorang Servant menyedot habis jiwanya!?" Ucap Jongin, kaget.

Baekhyun menganggukan kepalanya, "Aku rasa sang Master menyuruhnya untuk menyerang Soojung dan menyedot habis dirinya. Lalu, segel yang ditempatkan di sekolah ini adalah segel berbahaya yang nantinya akan menyedot habis jiwa semua orang setelah segel itu diaktifkan." Ujar lelaki itu dengan nada serius, ia berjalan menjauh beberapa langkah lalu menyenderkan tubuh mungilnya di pagar pembatas. Iris gelapnya bertemu dengan iris kecoklatan milik Jongin.

"Orang itu pasti berencana menggunakan car apapun untuk memperkuat Servantnya."

Jongin mengangguk setuju, "Servant millik orang itu pasti adalah Servant yang menyerangku kemarin."

"Maksudmu Rider?"

"Iya."

"Kita belum memiliki bukti yang kuat, tapi bisa jadi Servant milik bajingan itu adalah Rider."

Jongin terdiam beberapa saat dan teringat akan sosok misterius di hutan yang mengingatkannya dengan Sehun, lelaki tan itu menggelengkan kepalanya, "Bukan, pasti bukan dia. Tidak ada bukti yang menunjukkan kalau Sehun adalah seorang Master."

"Ada apa? Kenapa tiba-tiba diam?" Tanya Baekhyun sembari memainkan ujung rambutnya.

"Ah, tidak bukan apa-apa. Jadi apa yang harus kita lakukan setelah ini Baek?"

Baekhyun berfikir beberapa satu sebelum ia menjentikkan jarinya, mendapatkan ide. "Kita bisa menunda waktu pengaktifan segel di sekolah ini."

"Bagaimana caranya? Memangnya bisa?"

"Segel itu adalah thaumaturgy tingkat tinggi yang di buat oleh Servant. Jadi tidak mungkin kalau harus menghancurkannya dalam satu kali serangan. Disisi lain, kita dapat menghancurkan beberapa segel kecil yang di tempatkan di sekolah ini untuk memperlambat pengaktifannya."

"Segel kecil?"

Baekhyun tersenyum tipis, "Benar sekali, untuk mengaktifkan segel yang asli diperlukan beberapa buah segel kecil yang ditempatkan di berbagai tempat di sekolah ini. Semakin banyak segel kecil yang ditempatkan di suatu tempat, maka semakin kuat dan lebar pula segel utamanya."

"Jadi untuk sementara waktu, kita bisa memperlemah kinerja segek utama dengan menghancurkan segel –segel kecil itu?" Tanya Jongin dengan antusias.

"Yep, tapi tidak lama kemudian segel kecil itu akan terbentuk lagi dengan sendirinya lagi, karena satu segel kecil bisa memproduksi banyak segel kecil lain. Kau mengerti kan Jongin?"

"Iya, aku mengerti. Jadi saat ini kita seperti melakukan permainan kucing dan tikus ya?"

"Singkatnya, ini seperti menuangkan air dingin ke dalam air yang sedang direbus untuk memperlambat air itu untuk mendidih. Untuk sementara ini, hanya itu yang bisa kita lakukan."

"Lalu, pertama-tama apa yang harus kita lakukan?" Tanya Jongin.

"Pertama-tama kita harus menemukan tempat diman segel kecil itu berada. Dan itu adalah tugasmu."

Jongin menunjuk dirinya sendiri, "Eh, aku!? Bagaiman caranya—"

"Aku belum selesai bicara anak muda."

"Maaf.."

"Jadi begini, kau tadi merasa tidak nyaman dan mual sewaktu kau melewati pintu gerbang sekolah kan?"

Jongin menganggukan kepalanya, "Iya, lalu?"

"Coba kau temukan tempat yang membuatmu merasa seperti itu, mungkin saja segel kecil itu berada di sekitar situ."

Jongin mengedipkan matanya beberapa kali, kemudian lelaki berkulit tan itu menunjuk ubin yang tak jauh berada di tempat ia berdiri, "Maksudmu seperti disini?" ujarnya. Baekhyun menatap Master di depannya itu dengan tatapan tidak yakin, tetapi lelaki berwajah imut itu tetap berjalan menuju ke tempat yang Jongin maksud.

"Seandainya saja menemukan segel kecil itu semudah ini kita tidak mungkin berada di dalam kekacauan seperti saat ini." Ujar Baekhyun, sarkasme. "Bahkan aku saja butuh waktu untuk berkonsentrasi agar bisa merasakan mereka dan menemukan mereka satu per satu dan—"

DEG!

Baekhyun terdiam beberapa saat lalu berjongkok di tempat itu dan menyentuh ubinnya. Saat jemari lentik miliknya menyentuh ubin itu, sebuah pentagram perlahan-lahan muncul dan terbentuk sperti semacam sebuah segel.

"Abzug Bedienung. Mittelstand. " gumam Baekhyun, dan beberapa saat kemudian segel kecil itu menghilang begitu saja.

"Yang barusan itu..segel kecil?"

"Hmm..sepertinya kau berbakat dalam menemukan hal-hal seperti ini Jongin." Ujar Baekhyun, masih menatap ubin itu dengan tatapan tajam, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Jongin sambil tersenyum. "Menarik sekali! Hey Jongin, sepulang sekolah jangan langsung pulang ya? Kita akan mencari dan menghancurkan segel-segel kecil ini bersama-sama dan merusak rencana Si Master sialan itu."

"Tapi, Kyungsoo—"

Baekhyun menepuk bahu Jongin, "Tidak apa-apa, kau kan sudah berjanji padanya akan menggunakan command spell-mu jika terjadi apa-apa kan? Lagi pula ada aku dan Chanyeol yang akan membantumu."

"Jerapah itu..dia disini ya?"

Baekhyun tertawa kecil, "Pftt..jerapah katanya. Yah, kau dengar kan Chanyeol? Dia memanggilmu jerapah. Dan ya, dia ada disini aku menyuruhnya agar ia menggunakan wujud spiritualnya. Memangnya kenapa?"

"Tidak, bukan apa-apa. Jadi sepulang sekolah kan?"

"Iya, sepulang sekolah." Ucap Baekhyun dengan mantap.


Sesuai dengan perjanjian, sepulang sekolah Jongin dan Baekhyun tetap berada di sekolah dan berkeliaran kesana kemari mencari segel kecil yang berada di sekolah mereka dengan bantuan insting perasa milik Jongin dan kemampuan sihir Baekhyun untuk menghancurkan segel kecil tersebut. Segel kecil itu berada di berbagai macam tempat seperti ruang kelas, pojokan perpustakaan, di balik papan tulis, bahkan di dalam loker ruang ganti murid perempuan yang membuat Jongin dan Baekhyun harus beradu mulut terlebih dahulu menyuruh siapa yang harus membuka pintu ruang ganti terlebih dahulu, dan pada akhirnya mereka lakukan secara bersamaan.

"Aku merasa seperti orang mesum." Begitu kata Baekhyun sewaktu ia memasuki ruangan itu membuat Jongin tertawa.

Waktu berlalu dengan cepat, dan mereka berdua hampir selesai dengan urusannya. Baekhyun berjalan mendahului Jongin, "Apakah kau merasakan keberadaan segel lain?" Tanya lelaki bertubuh mungil itu sambil mengambil dua kaleng minuman dingin dari dalam vending machine dan memberikannya satu pada Jongin.

"Terimakasih." Ujar Jongin kemudian meneguk minumannya, "Tidak, aku rasa kita sudah menghancurkan semuanya."

"Oh, well. Aku rasa kita sudah menghancurkan cukup banyak segel kecil hari ini. Aku yakin sekali Si Master sialan itu pasti akan kaget karena banyaknya segel yang dihancurkan dalam satu hari, dan sudah pasti ia akan memberikan respon terhadap kejadian ini." Ujar Baekhyun dengan yakin. Jongin menganggukan kepalanya setuju, "Mungkin kita bisa menangkap pelakunya saat ia sedang melakukan tindakannya."

"Benar sekali. Nah, segeralah keluar dari tempat persembunyianmu dan disaat kau keluar dari tempatmu aku akan menghabisimu sebagai bayaran sudah membuatku terjebak dalam masalah ini." Gumam Baekhyun sambil tersenyum dan ia terdengar serius! Jongin melirik lelaki mungil di sebelahnya ini sambil memandangnya ngeri. Terkadang Baekhyun bisa sangat menyeramkan, tidak ada yang tahu rencana apa yang ada di dalam kepala pewaris tunggal keluarga Byun ini.

"Kau tahu Baek? Kau mengingatkanku dengan serigala berbulu domba."

"Cih." Decih Baekhyun sambil menyenggol lengan Jongin dengan sikutnya, membuat Jongin mengaduh kesakitan. "Apa yang membuatmu berfikir seperti itu, dasar kau bocah coklat."

"Bocah coklat katamu!?" Baekhyun tertawa, membuat mata sipitnya semakin sipit dan berbentuk bulan sabit. "Seandainya saja semua orang tahu kalau Byun Baekhyun, sang idola sekolah ternyata bermulut kasar, dan berisik." Ujar Jongin tak mau kalah.

"Yah! Berani kau bilang pada orang lain, aku akan mengejarmu sambil menembakimu dengan gandr!"

"Coba saja kalau berani—"

"Menutupi identitas aslimu adalah hal yang penting bagi seorang magus." Potong Baekhyun lalu menyeruput sodanya, "Selain itu, aku ini pewaris tunggal keluarga Byun. Aku ingin membuat ayahku bangga padaku di surga sana, kerena itulah aku harus menjadi murid teladan."

Jongin menolehkan kepalanya, "Surga, katamu?"

"Iya. Beliau meninggal dunia saat aku masih kecil. Tapi tak masalah, beliau sudah hidup terlalu lama jadi sudah sewajarnya beliau meninggal dengan umur yang sudah tua. Aku sama sekali tidak merasa sedih, karena aku adalah seorang magus. Aku tidak ada waktu untuk menangisi kematian seseorang."

Lagi-lagi keheningan menyelimuti dua remaja itu, Jongin menyeruput sodanya dalam diam dan Baekhyun memandangi pemandangan kota Seoul senja hari.

"Bohong." Kata Jongin tiba-tiba, memecah keheningan diantara mereka berdua. Baekhyun menolehkan kepalanya ke arah Jongin.

"Jika seseorang meninggal dunia, paling tidak kau seharusnya merasa sedih. Apalagi jika orang yang meninggal dunia adalah kerabat dekatmu." Ucap Jongin sambil menatap Baekhyun yang balik menatapnya, "Kau tidak bisa menghiraukan perasaan itu dengan mengatakan 'Aku adalah seorang magus, aku tidak punya waktu untuk menangisi kematian seseorang,' "

Tatapan mata Baekhyun melembut dan lelaki bersurai sandy brown itu mengalihkan pandangannya, "Kau benar. Apa yang kau katakana barusan itu benar Jongin, aku tidak bisa menghiraukan perasaan itu."

Flashback:

Baekhyun menatap pria di hadapannya, pria yang sangat ia kenal, pria berwajah keras dan hampir tidak pernah tersenyum. Berjongkok dan menepuk kepalanya.

Terlalu keras jika dibilang menepuk kepalanya, mau bagaimana lagi ini pertama kalinya pria itu menepuk kepala bocah kecil itu.

"Aku harus pergi sekarang— kau tahu apa yang harus kau lakukan kan?" katanya, suaranya datar. Baekhyun kecil menggumamkan "Iya." Dengan suara pelan. Lelaki itu menganggukan kepalanya lalu berdiri.

Seandainya saja Baekhyun tahu kalau saat itu adalah saat dimana ia melihat pria berwajah keras itu terakhir kalinya, dia pasti akan mencoba membuat pria Itu tersenyum dengan lelucon yang ia buat.

"Buatlah Asosiasi Magus berhutang budi padamu saat kau dewasa nanti. Untuk kedepannya aku akan membiarkanmu memutuskan apa yang akan kau lakukan pada dirimu setelah itu. Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri, kau mengerti kan?" Kata pria itu, meskipun dia berkata demikian Baekhyun tahu kalau dia sedikit merasa khawatir. Setelah itu dia member tahu semuanya kepada Baekhyun, bahkan hal-hal yang seharusnya belum bisa dimengeti oleh anak-anak berusia 7 tahun. Tapi Baekhyun anak yang special, seharusnya dia sudah mengerti.

Entah kenapa Baekhyun merasa kalau oria ini tidak akan kembali lagi kerumahnya.

"Baekhyun, Sang Cawan Suci sebentar lagi akan muncul. Dan sudah menjadi tugas utama keluarga Byun untuk memenangkannya. Dan yang terpenting adalah, jika kau ingin menjadi seorang magus kau tida dapat menghindari perang ini." Katanya.

Sekali lagi pria itu menepuk kepala Baekhyun sambil sedikit mengelus rambut sandy brown nya. Kemudian pergi.

Saat itu merupakan saat terakhir dimana seorang Byun Baekhyun melihat pria itu. Pria yang mengikuti perang memperebutkan cawan suci sebagai seorang Master dan mati.

Pria yang merupakan gurunya, dan juga ayahnya.

"Selamat jalan, ayah." Ujar Baekhyun dengan sopan. Jujur saja ia merasa sedih, rasanya ia ingin menangis saat itu juga. Baekhyun mencintai ayahnya, tidak ada sosok manapun yang dapat menggantikan ayahnya. Menurut Baekhyun, ayahnya adalah magus terhebat yang pernah ada.

Baekhyun mengingat-ingat lagi pesan terakhir ayahnya. Ironis memang, tapi pesan terakhir ayahnya bukan ia katakan sebagai seorang ayah tapi sebagai seorang magus.

Present time:

"Heh, kenapa tiba-tiba aku mengingat kejadian itu disaat seperti ini." Gumam Baekhyun pada dirinya sendiri.

"Kau bilang apa barusan Baek?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Bukan apa-apa. Ayo kita pulang sekarang, Kyungsoo pasti khawatir."

"Baiklah."


Lalu dua remaja itu berjalan bersama-sama sampai akhirnya mereka berpisah di depan pintu gerbang sekolah. Baekhyun berpesan pada Jongin agar lelaki tan itu langsung pulang kerumah dan tidak mampir kemana-mana sambil sedikit menggodanya dengan "Kyungsoomu menunggu dirumah seperti seorang istri yang menunggu suaminya pulang." Dan sukses membuat wajah Jongin memerah karena malu.

"Byun Baekhyun! Awas ya ka— Ugh!"

Perasaan tidak enak itu muncul lagi, tapi kali ini rasanya semakin kuat. Membuat Jongin hampir terduduk lemah dan sesak nafas, "Apa-apaan ini!? Kepalaku terasa berat, bahkan aku tidak bisa bernafas."

Sama cepatnya dengan munculnya, perasaan tidak enak itu tiba-tiba menghilang begitu saja. Jongin melirik command spell di tangan kirinya.

"Haruskah aku memanggil Kyungsoo?"

Lelaki berkulit tan itu menolehkan kepalanya ke arah sekolahnya, "Tidak perlu, aku hanya ingin mengecek sebentar saja. Aku akan baik-baik saja." Gumamnya pada dirinya sendiri.

Lalu Jongin kembali masuk ke sekolahnya dan kembali berkeliling, keadaan di sekelilingnya terasa mencekam ditambah lagi dengan langit yang mulai gelap. Jongin terus berjalan sampai akhirnya ia tiba di lapangan yang terletak di belakang sekolah, dan disitulah perasaan tidak menyenangkan itu datang lagi kali ini berasal dari..

"Gedung olahraga?" Ujar Jongin tidak percaya, daritadi dirinya dan Baekhyun memang tidak berkeliaran sampai disini walaupun lelaki mungil itu sebenarnya merasa curiga dengan gedung olahraga. Tapi ia mengesampingkan hal itu karena rasanya mustahil jika Master dalang dibalik semua ini akan menempatkan segel di dalam gedung olahraga.

Tanpa ragu Jongin memasuki gedung itu, yang anehnya tidak di kunci padahal jam sekolah sudah berakhir. Bola mata kecoklatan itu melirik kesana kemari sampai ia menemukan pentagram yang ukurannya berkali-kali lebih besar dari apa yang ia dan Baekhyun temukan tadi,

"I-ini.."

Jongin mencoba untuk menyentuh segel itu, tapi ia langsung menarik tangannya karena ia merasa seperti tersengat listrik. "Baekhyun! Aku harus member tahunya soal in—"

Kalimatnya terpotong karena ia melihat ada seseorang yang berdiri tak jauh darinya. Jongin mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan apakah ia tidak salah melihat. Dan ternyata memang ada seseorang yang berdiri di sana.

Seorang Servant.

"Rider!" Seru Jongin sambil mengambil aba-aba hendak menggunakan command spell miliknya.

"Kau yakin akan menggunakannya?" Ujar seseorang. Kali ini bukan Rider yang berbicara, Jongin kenal betul dengan pemilik suara ini.

"Sehun?"

Lelaki itu hanya tertawa sambil berjalan keluar dari tempat ia bersembunyi, wajah tampannya menunjukkan ekspresi sadis yang tidak pernah Jongin lihat sebelumnya,

"Kau boleh meninggalkan kita berdua, Lay." Ujar Sehun, Servant miliknya menganggukan kepalanya dan langsung menghilang begitu saja. Kemudian lelaki bersurai platinum blonde itu berjalan menghampiri kawan lamanya yang sedang menatapnya dengan tidak percaya.

"Sehun, kau..Aku sudah menduganya! Kau lah Master yang cukup gila untuk melakukan semua ini!?."

Sehun mengangkat kedua tangannya, "Hey, tenanglah kawan. Aku tidak berniat untuk bertarung denganmu saat ini." Katanya sambil tersenyum ramah yang kesannya di buat-buat.

"Lalu apa maumu?" Tanya Jongin sambil mencoba menahan amarahnya dengan mengepalkan telapak tangannya erat-erat. Lelaki tampan di depannya itu berjalan mendekatinya, masih dengan senyum palsu itu.

"Nampaknya kau juga menjadi seorang Master dengan terpaksa ya? Kita berdua sama saja ternyata, aku juga dipaksa untuk berpartisipasi dalam perang ini sebagai seorang Master, padahal aku sama sekali tidak tertarik untuk bertarung, tapi mau bagaimana lagi."

"Kalau kau memang tidak tertarik, lalu ini apa?" Tanya Jongin, meninggikan suaranya sambil menunjuk pentagram yang digambar di tembok gedung olahraga. Sehun memalingkan pandanganya ke arah pentagram itu lalu berkata,

"Eh? Itu bukan milikku."

"Hah!?"

"Jongin, kau tahu kan kalau aku benci keributan, apalagi jika harus bertarung. Lagipula, kita ini sudah berkawan dari kecil kan?."

Dua remaja dengan warna kulit kontras itu saling beradu pandang tanpa bekata apa-apa, beberapa saat kemudian Sehun memutuskan kontak mata mereka dengan membalikkan tubuh kurusnya memunggungi Jongin,

"Nah, Jongin. Bagaimana kalau kita bicarakan hal ini baik-baik di rumahku? Sudah cukup lama kau tidak berkunjung kesana, bagaimana?" Ujar Sehun sambil sedikit menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap Jongin yang masih memelototinya dengan tajam.

Lelaki di belakangnya itu mengiyakan ajakan Sehun dengan anggukan kecil.


-TBC-

[A/N]: Jadi ini chapter 9 nya, rencananya sih mau update kemarin tapi author gabisa log in, "503 error server not found" katanya. Nihil kaisoo oke maafkan author, mungkin chapter depan atau chapter depannya lagi, tunggu aja pokoknya. Karena di ff ini author lebih menitik beratkan ke perkembangan karakter dan jalan ceritanya, bukan romansanya, jadi memang agak slow-paced gitu. Sekali lagi author minta maaf kalo suka bikin geregetan gara-gara sedikitnya momen kaisoo di ff ini padahal ff ini ber-label 'kaisoo' OTL.

Maaf kalo ga balesin review kalian satu per satu, tapi author sangat berterimakasih sama kalian semua yang udah mau kasih review :3 author juga mau bilang makasih sama silent rider diluar sana ufufu.

Oke, sekian A/N kali ini, panjang amat yak? Tapi biarlah. Kritik dan saran masih sangat di terima jadi jangan lupa review ya

Yours,

-kimkainekiken-