CHAPTER 10

REASON

.

.

.

"Apa?"

Yoongi menatap Hoseok dengan mata berkaca-kaca. Apa Hoseok sudah gila? Disentaknya genggaman Hoseok pada tangannya sehingga tangannya terbebas sekarang. Ia memilih untuk berlari meninggalkan kerumunan para murid yang masih saja terdiam akibat perkataan Hoseok tadi. Ia tak habis fikir apa yang ada di otak dokter itu. Tapi yang pasti, Hoseok hanya memperkeruh suasana dan menambah masalahnya saja. Ia tiba di perempatan dekat sekolah ketika hendak menyebrang. Yoongi merutuk dalam hati 'Kenapa harus lampu merah di saat seperti ini?'.

"Tunggu Yoongi"

Bersamaan dengan suara itu, lagi-lagi tangan Yoongi berhasil di genggam oleh Hoseok. Laki-laki itu berhasil mengejarnya. Yoongi memberontak untuk melepaskan genggaman itu tapi sial, genggamannya terlalu kuat.

"Apa lagi sekarang?" Yoongi berkata putus asa

"Dengarkan penjelasanku"

"Jika oppa melakukannya hanya karena kasihan padaku, maka jawabannya adalah 'TIDAK'"

"Aku melakukan ini bukan karena kasihan. Percayalah"

"Lalu untuk apa?"

"Kita bicarakan ini nanti. Ayo kembali, kau akan terlambat!"

Hoseok menarik tangan Yoongi tanpa persetujuan gadis itu. Percuma jika Hoseok menjelaskannya sekarang. Suasana hati Yoongi sedang buruk, gadis itu hanya akan berprasangka terus menerus tanpa mau memahami maksudnya. Hoseok akan mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan semua ini. Dari hati Hoseok terdalam, ia ingin menolong Yoongi. Karena semua masalah gadis ini terlibat dengan sepupunya, Jimin.

Setibanya di depan gerbang sekolah, Hoseok menarik nafas dalam dan membalikkan badan menghadap Yoongi. Dipeganginya pundak gadis itu agar tidak kabur dari hadapannya.

"Dengar baik-baik Min Yoongi! Sekarang masuklah ke dalam, tutup telingamu jika kau mendengar pembicaraan mereka tentangmu. Percayalah aku akan membantumu keluar dari masalah ini. Jika suasana hatimu sudah baik, hubungi aku, aku sudah mencatat nomerku di ponselmu! Aku akan menjelaskan semuanya. Arra?"

"Tapi oppa…"

"Cha, sekarang masuklah!"

Sebelum Yoongi bertanya panjang lebar dan melontarkan berbagai perkataan, Hoseok segera saja mendorong gadis itu melewati gerbang sekolahnya. Yoongi menatap Hoseok sesekali saat berjalan. Laki-laki itu tengah melambaikan tangan padanya dengan senyum ceria seolah tak terjadi apapun. Melihat hal itu, Yoongi hanya pasrah saja dan menunduk dalam. Memilih untuk melanjutkan langkahnya.

.

.

.

Para murid sekarang sedang berdesak-desakan di depan mading sekolah. Kang seosangnim saat ini tengah memegang kertas yang diyakini merupakan hasil dari ujian akhir mereka. Saat kertas tersebut telah tertempel dengan sempurna, sontak saja para murid segera menyerbunya. Hal sama juga di lakukan oleh Jungkook dan Taehyung yang sebelumnya juga ikut berdesak-desakan. Dengan tubuh yang tak setinggi murid lain, Jungkook mencoba membelah kerumunan untuk melihat hasil ujiannya.

"Oh Tae lihat! Aku peringkat tiga"

Jungkook memekik ceria saat menemukan namanya berada di urutan tiga teratas. Hasil yang didapatkannya ini sungguh memuaskan hatinya. Ia tak menyangka akan mendapat peringkat setinggi ini mengingat ia hanya siswa rata-rata jika di banding yang lain.

"Kerja bagus. Lalu aku ada diperingkat berapa?"

Dengan senyum yang terukir di wajah, Taehyung mengusak pelan rambut Jungkook. Posisinya yang saat ini berada tepat di belakang Jungkook memudahkannya untuk melakukan kebiasaannya tersebut. Sedangkan Jungkook mau tak mau hanya menerima dengan pasrah saat lagi-lagi tatanan rambutnya harus berantakan karena Taehyung.

"Kau di peringkat tujuh Tae" Jungkook berujar gembira saat berhasil menemukan nama Taehyung.

"Mwo? Jinjja?"

Merasa tak percaya, Taehyung menggeser badannya untuk bertukar posisi dengan Jungkook. Dibacanya dengan seksama nama yang berada di peringkat tujuh dan itu benar-benar tertulis 'Kim Taehyung'.

"Kau hebat Tae" Jungkook balas memuji

"Tentu saja. Aku ini kan Kim Taehyung" Taehyung berujar bangga pada dirinya

"Kau menyombongkan diri eoh?"

"Tidak juga. Dan kau tau Kook, Yoongi berada di peringkat pertama. Bukankah itu bagus?"

"Apa?"

"Yoongi berada di peringkat pertama"

Air muka Jungkook berubah seketika saat Taehyung menyebutkan nama itu. Dengan perlahan, Jungkook mencoba untuk meninggalkan kerumunan para murid yang masih bergerombol di depan mading. Menyadari ia telah keceplosan bicara, Taehyung segera menyusul Jungkook yang sudah sedikit jauh darinya. Ia tau perasaan Jungkook masih sensitive jika mendengar hal yang berkaitan dengan Yoongi. Hingga saat ini, Taehyung berusaha memberi pengertian pada Jungkook. Ia tak ingin masalah ini semakin berlarut dan merusak persahabatan mereka. Ya, walaupun faktanya persahabatan mereka sudah hampir rusak sepenuhnya.

"Jungkook, tunggu dulu!" Taehyung berujar saat berhasil mendapatkan gadis tersebut

"Ada apa Tae?" Tak seperti biasanya, Jungkook berujar datar kali ini

"Aku tau kau masih sensitive dengan masalah yang terjadi saat pesta kelulusan"

"Jangan bahas masalah itu lagi"

"Hei, apa kau tak ingin mendengar penjelasan dari Yoongi, Kook?"

"Untuk apa?" Jungkook memalingkan muka

"Kau pernah bilang padaku jika kau tak ingin menjadi gadis jahat karena salah mengambil keputusan. Menurutmu bagaimana masalah ini akan selesai jika kau terus menghindar dan tak mendengarkan penjelasan Yoongi? Ambilah keputusan setelah mendengar penjelasannya. Aku tak akan ikut campur setelah itu"

"Kau membelanya?"

"Tidak. Aku hanya ingin kau menjadi seorang perempuan yang bijak"

Jungkook menatap mata Taehyung dalam. Tak ada perkataan dan tak ada yang berniat untuk mengalihkan perhatian. Dari matanya, Jungkook mencoba mencari kebohongan di mata Taehyung. Jungkook takut sahabatnya ini hanya ingin menenangkan hatinya saja. Tapi tidak, Jungkook tak menemukan kebohongan itu di mata Taehyung. Dengan perlahan, Jungkook meraih tangan Taehyung yang masih ada di pergelangannya dan berusaha untuk melepasnya. Setelah genggaman itu terlepas, Jungkook memilih untuk meninggalkan Taehyung seorang diri. Taehyung hanya bernafas lega menatap kepergian Jungkook. Ia yakin gadis itu akan mengambil keputusan yang bijak suatu saat nanti.

.

.

.

Yoongi berjalan menyusuri lorong sekolahan dengan perasaan kosong. Terlalu banyak masalah dalam hidupnya akhir-akhir ini hingga ia sendiri merasa bingung harus memulai dari mana untuk menyelesaikannya. Para murid masih saja mencacinya sesekali. Yoongi dapat mendengar itu dengan jelas, tapi ia mengabaikan semua itu, layaknya perkataan Hoseok. Entah mengapa, terkadang ia merasa sejak kehadiran Hoseok dirinya mulai kuat menghadapi setiap masalah yang menimpanya. Mungkinkah Hoseok seorang malaikat yang dikirim untuknya? Yoongi hanya tertawa dalam hati saat pikiran itu melintas begitu saja.

Saat akan tiba di ruang kelas, Yoongi dapat melihat Jungkook sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Mereka berdua sama-sama akan memasuki ruang kelas, Yoongi yakin itu. Di percepatnya langkah kakinya saat ini, ia tak ingin kehilangan kesempatan lagi untuk berbicara dengan Jungkook. Sekuat apapun Jungkook menolak, ia akan tetap berusaha untuk menjelaskan semua kejadian yang terjadi di pesta kelulusan. Ia tak masalah jika Jungkook membencinya suatu saat nanti tapi ia tak ingin di cap 'penghianat' oleh sahabatnya itu. Jungkook harus mengetahui kebenarannya dan kembali pada Jimin.

"Jungkook-ah"

Tepat saat Yoongi menyerukan namanya, saat itu juga Jungkook menghentikan langkahnya. Jungkook terdiam saat dengan jelas Yoongi memanggil namanya. Sungguh, Jungkook masih belum siap untuk bertemu gadis itu. Sebagian dari hatinya masih menyimpan rasa sakit walaupun sebagian lainnya mengatakan untuk mendengar penjelasan dari Yoongi.

"Aku tak peduli kau akan mempercayaiku atau tidak, tapi yang pasti tolong dengarkan penjelasanku kali ini!"

"Haruskah?" Jungkook memberanikan diri untuk menatap mata Yoongi

"Semua yang kau lihat di malam itu hanya salah paham. Aku hanya merasa pusing setelah meminum jus jeruk dan Jimin mengantarku ke UKS saat itu. Aku tertidur dan tak tau apa-apalagi hingga akhirnya terbangun bersama Jimin dengan keadaan yang berantakan. Aku tau Jimin kadang memang brengsek tapi malam itu dia tak melakukan apapun padaku. Laki-laki normal pasti telah melakukan hal yang lebih bukan jika melihat seorang perempuan tertidur di hadapannya? Tapi Jimin tidak melakukan apapun. Jika kami memang sengaja, mungkin kami sudah bercinta saat itu. Ini semua jebakan, aku yakin itu. Kau tau kenapa? Karena Jimin hanya mencintaimu"

"Apa sudah selesai?" kata Jungkook dengan dingin.

"Itu sudah semuanya. Kau boleh membenciku setelah ini, tapi aku tak akan sudi jika kau memanggilku 'penghianat' karena aku memang bukan penghianat"

Jungkook memilih masuk ke dalam kelasnya setelah perkataan Yoongi selesai. Dari depan kelas, Yoongi dapat melihat gadis itu duduk di bangkunya dengan tenang. Dikeluarkannya earphone berwarna pink dari tasnya dan memasangnya ke telinga. Tak lama kemudian, Jungkook menelungkupkan wajahnya di atas meja. Yoongi menarik nafas lega. Ia telah menyampaikan semuanya hari ini. Untuk apa yang terjadi selanjutnya, biarlah waktu yang akan memberi jawaban.

.

.

.

Bel pulang berbunyi tepat saat jam menunjukkan pukul 15.00. Para murid berhamburan keluar kelas untuk segera menuju parkiran dan pulang ke rumah masing-masing. Jungkook yang beberapa hari ini tinggal bersama Taehyung mau tak mau harus berangkat bersama laki-laki tersebut. Saat ini, Taehyung tengah memboncengnya menggunakan sepeda milik SeokJin yang memiliki tempat duduk di belakang. Taehyung sempat berdebat dengan SeokJin untuk mendapatkan sepeda yang mereka gunakan saat ini. Ia berdalih tak ingin Jungkook sakit pantat jika harus dibonceng dengan sepedanya yang memang model laki-laki dan tak memiliki tempat duduk di belakang seperti milik SeokJin. Sementara SeokJin bersikeras menyuruh Taehyung naik motor saja untuk ke sekolah, atau membawa mobil NamJoon yang lain jika perlu. Tapi bukan Kim Taehyung namanya jika tidak menang dari kakaknya, saat perempuan itu sibuk mengurusi Ji Eun,Taehyung dengan segera membawa keluar sepeda itu dari garasi dan membonceng Jungkook menuju ke sekolah. Akibat perbuatannya itu, Taehyung dan Jungkook harus menebalkan telinga saat medengar umpatan SeokJin yang berkacak pinggang di depan gerbang rumah saat itu.

"Ayo kita mampir ke Sungai Han terlebih dahulu" tawar Taehyung

"Untuk apa?"

"Untuk berkencan mungkin?"

Mereka berdua tertawa karena perkataan Taehyung. Dengan jelas, Taehyung dapat merasakan gadis yang diboncengnya memukul pundaknya akibat perkataannya tadi. Dengan semangat, Taehyung mempercepat kayuhan pada sepedanya yang sukses membuat Jungkook berseru ceria dan mengeratkan pegangannya pada kemeja laki-laki tersebut.

Setibanya di pinggiran Sungai Han, Jungkook segera turun dan Taehyung memarkirkan sepedanya di tempat yang telah disediakan. Mereka berdua berjalan beriringan menikmati cuaca di Sungai Han yang kebetulan begitu cerah sore itu. Tak ada pembicaraan yang berarti di antara mereka. Hanya sesekali tersenyum dan tetawa untuk memuji keindahan alam yang ada di hadapan mereka.

"Jungkook-ah, ingin ku gendong?" Taehyung tiba-tiba berhenti berjalan dan menghadap Jungkook

"Tidak perlu. Kau sudah mengayuh sepeda dan ingin menggendongku? Kau nanti akan kelelahan"

"Ayolah, aku tau kau lelah. Jangan khawatir, aku ini kan laki-laki kuat"

Taehyung menaikkan sebelah alisnya sebagai tanda mengulang penawaran. Dengan senyum malu-malu, akhirnya Jungkook menerima tawaran Taehyung. Laki-laki itu segera berjongkok di hadapan Jungkook dan Jungkook segera naik ke punggung Taehyung lalu meraih lehernya untuk berpegangan. Seperti biasa, Jungkook akan menyenderkan kepalanya di bahu Taehyung untuk mencari kenyamanan. Entah mengapa, Jungkook suka berada di posisi ini saat Taehyung menggendongnya. Dengan pelan, Taehyung berjalan menyusuri Sungai Han dengan Jungkook di gendongannya.

"Kau akan kemana Kook setelah lulus?" Taehyung mulai bertanya

"Aku? Entahlah. Tapi aku berencana akan melanjutkan kuliah di Seoul University"

"Fighting"

"Kau sendiri akan kemana Tae setelah ini?"

"Aku akan ke Jepang. Menyusul eomma dan appa"

Perasaan sedih mendadak menyusup di hati Jungkook. Jika Taehyung pergi ke Jepang, itu artinya ia akan sendirian, apalagi hubungannya dengan Yoongi saat ini masih kacau. Tak akan ada yang menjahilinya lagi setelah ini, tak akan ada lagi yang memarahinya dan tak akan ada lagi yang menggendongnya dengan nyaman seperti saat ini. Jungkook sedih membayangkan jika hal tersebut benar-benar terjadi. Seharusnya Jungkook senang, Taehyung akan menemui orang tuanya yang jarang dilihatnya selama ini, tapi Jungkook juga sedih karena hatinya tak siap untuk berpisah. Egois memang, tapi begitula manusia.

"Kau akan kembali kan?" Entah datang dari mana, Jungkook ingin sekali menanyakan hal tersebut.

"Tentu saja. Aku pasti akan kembali"

"Untuk siapa kau kembali? Kau punya kekasih di sini?"

"Dia belum menjadi kekasihku. Jadi aku akan kembali untuk orang yang ku cintai"

"Perempuan itu sangat beruntung mendapatkan cintamu. Aku iri padanya" Jungkook berujar iri

"Kenapa begitu?"

"Karena kau laki-laki baik Taehyung-ah"

.

.

.

Yoongi berjalan gontai menuju rumahnya setelah turun dari bus di halte dekat rumahnya. Ia berniat pulang kali untuk mengambil beberapa potong pakaian guna di bawa ke rumah sakit. Ya, Yoongi memutuskan untuk menginap beberapa hari di rumah sakit. Selain untuk menjaga sang eomma, ia juga ingin menenangkan diri sejenak. Setidaknya saat bersama eommanya, suasana hatinya akan membaik dan ia bisa mengabaikan sedikit masalahnya.

Saat tiba di depan rumahnya, Yoongi mendapati seorang laki-laki dengan rambut hitam dan pakaian casual tengah memungguninya saat ini. Karena penasaran, ia pun memutuskan untuk menyapa.

"Nuguseo?"

Mendengar ada yang bertanya, laki-laki itupun menoleh dan tersenyum senang saat melihat orang yang dicarinya sudah sampai. Laki-laki itu menuruni beberapa anak tangga untuk berada lebih dekat dengan Yoongi. Sementara itu, ekspresi berbeda justru ditunjukkan oleh Yoongi. Gadis itu nampak terkejut dan beberapa detik kemudian air mukanya berubah penuh kebencian saat laki-laki tersebut makin mendekat ke arahnya.

"Untuk apa kau kemari?" Yoongi berujar ketus

"Tentu saja untuk menemuimu" laki-laki itu berujar santai dan memasukkan sebelah tangannya ke saku celana.

"Pergilah! Aku tak ingin bicara denganmu"

Menghindar. Yoongi memilih untuk melanjutkan langkahnya agar bisa segera masuk ke dalam rumah. Laki-laki brengsek yang menyuruhnya menghilang berada di depannya saat ini. Jimin di hadapannya dan Yoongi benci itu. Belum sempat Yoongi menjauh, bahu bagian depannya sudah ditahan oleh lengan panjang Jimin sehingga ia tak bisa melangkah karena terhalang. Laki-laki itu tetap berada di posisinya sehingga posisi mereka berdua sekarang berada dalam satu garis lurus. Yoongi bersyukur dalam hati, setidaknya dengan posisi seperti ini ia tak harus melihat wajah Jimin.

"Ku dengar kau mencoba untuk membunuh eommamu dan dirimu sendiri beberapa hari yang lalu. Apa itu karena aku?"

Yoongi mengerutkan keningnya saat Jimin melontarkan pertanyaan itu. Darimana Jimin tau soal kejadian itu? Bukankah hanya Dokter Jung, Suster Song dan Taehyung yang mengetahuinya?

"Jangan terlalu percaya diri Jimin-ssi. Untuk apa aku bunuh diri hanya karena dirimu"

"Baguslah. Aku tak perlu minta maaf padamu jika kau sampai bunuh diri suatu hari nanti"

"Brengsek kau Park Jimin" Yoongi mendesis

"Ya, aku memang brengsek Min Yoongi. Aku mencintai sahabatmu tapi aku justru berakhir tidur denganmu dan lari dari tanggung jawabku terhadapmu"

"Jika hanya itu yang ingin kau katakana lebih baik kau pulang sekarang juga"

"Hei… Aku bahkan belum memberimu sebuah kejutan, bagaimana kau bisa mengusirku seperti ini?"

"Katakan, aku tak punya banyak waktu"

Jimin tersenyum miring mendengar jawaban Yoongi. Dengan gerakan cepat, Jimin mengubah posisinya menjadi memeluk Yoongi dari belakang. Direndahkan kepalanya yang lebih tinggi beberapa senti di atas Yoongi itu dan mendekatkan ke telinga gadis tersebut. Yoongi merasa tak nyaman dengan posisi yang diberikan Jimin pun mencoba untuk memberontak. Ia berusaha melepas tangan Jimin yang melingkar di bahunya, tapi sayang, tangan Jimin terlalu kokoh untuk tangan Yoongi yang mungil. Yoongi mulai menahan nafas tatkala nafas Jimin mulai berhembus di telinganya, menyebabkan beberapa kupu-kupu terasa terbang di perutnya. Dengan suara rendah, Jimin mulai membisikkan sebuah kalimat yang membuat gadis di pelukannya ini membulatkan mata dengan sempurna.

"Kau tau Yooongi-ya siapa yang menjebak kita malam itu? Itu semua ulah Bang Yong Guk"

Perlahan, pelukan Jimin terlepas dari tubuh Yoongi. Laki-laki itu tersenyum dengan tampannya setelah mengucapkan serentet kalimat tersebut. Yoongi masih mematung di tempatnya hingga tak menyadari bahwa Jimin telah pergi meninggalkan pekarangan rumahnya.

Yoongi mendadak teringat sesuatu dan segera menggeledah isi tasnya untuk mencari ponselnya. Hoseok. Yoongi butuh bantuan Hoseok. Setelah berhasil menemukan ponselnya, Yoongi segera mencari nama Hoseok di daftar kontaknya. Ditekannya ikon panggilan dan tak lama kemudian panggilan pun tersambung

"Yeoboseo"

.

.

.

"Bisa oppa jelaskan padaku, kenapa oppa mengaku sebagai tunanganku saat itu?"

Hoseok menatap Yoongi dalam diam. Kakinya menyilang dengan angkuh dan jari-jarinya menyusuri dagunya yang lancip. Yoongi saat ini tengah duduk manis di hadapannya menuntut penjelasan dari dirinya. Hoseok sudah menantikan hal ini sejak beberapa hari yang lalu dan ia siap sekarang. Ia akan membantu Yoongi terbebas dari masalahnya dengan Jimin. Paling tidak, ia memberi solusi untuk jalan keluarnya. Ia memiliki tanggung jawab terhadap Jimin. Dan jika Yoongi bermasalah dengan sepupunya itu berarti juga tanggung jawab Hoseok.

"Aku hanya ingin membantumu agar terbebas dari masalahmu. Aku membantumu bukan karena kasihan, percayalah. Coba fikirkan baik-baik, masalahmu dengan temanmu itu menyangkut harga diri bukan? Kau butuh seorang laki-laki untuk bertanggung jawab dan aku akan melakukannya"

"Kenapa harus oppa? Oppa tak terlibat, aku tak mau mengorbankan masa depan oppa"

"Lalu kau ingin di cemooh di masyarakat?"

"Tentu saja tidak, mana ada orang yang ingin di cemooh di masyarakat. Rumor akan menghilang dengan sendirinya, aku yakin itu. Lagipula ini hanya jebakan. Aku tak ingin menikah tanpa cinta"

"Pernahkah kau berfikir untuk meminta tanggung jawab temanmu itu?" Hoseok mencoba menggali informasi

"Dia mencintai temanku oppa. Aku tak bisa egois dengan memintanya bertanggung jawab terhadapku. Jimin tak sepenuhnya bersalah"

Yoongi tersenyum kecut setelah mengatakan hal tersebut. Ia fikir percuma saja meminta pertanggungjawaban Jimin. Tak ada cinta di antara mereka berdua, terlebih lagi Jimin mencintai Jungkook. Pertanggungjawaban Jimin hanya akan menimbulkan luka di antara mereka semua. Oleh karena itu, lebih baik ia mengalah.

"Jadi namanya Jimin?" Hoseok tersenyum senang, dugaannya benar.

"Ya"

"Kalau begitu terima tawaranku. Cinta akan tumbuh seiring waktu. Kau akan menjadi wanita terhormat Min Yoongi"

.

.

.

Jungkook dan Taehyung tiba di mansion keluarga Kim ketika hari sudah petang. Saat mereka berdua memasuki rumah, suasananya sangat sepi. Tak ada tanda-tanda SeokJin maupun NamJoon yang biasanya sudah berisik di ruang keluarga saat hari sudah petang. Merasa kakaknya tak ada di rumah, Taehyung memilih untuk menuju ke kamarnya, begitupun dengan Jungkook.

Setibanya di kamar, laki-laki itu langsung menyambar handuknya dan pergi ke kamar mandi. Air yang mengucur dari shower membuat dirinya terasa lebih rileks saat ini. Taehyung merasa dirinya tertimpa banyak beban akhir-akhir ini. Appanya menelfon minggu dan mengatakan untuk menyusul laki-laki tua itu ke Jepang dengan alasan mempelajari bisnis keluarga. Awalnya Taehyung menolak, hingga akhirnya ia harus tunduk karena sang appa mengancam akan menjodohkannya dengan anak rekan bisnisnya. Taehyung sangat benci membicarakan masalah perjodohan. Usianya terlalu muda dan ia belum siap menikah untuk saat ini. Oleh sebab itu, Taehyung memilih mengalah. Lagipula, ada gadis yang dicintainya di Negeri Korea ini dan Taehyung tak ingin kehilangannya.

Saat asyik membasuh diri, tiba-tiba saja lampu rumah padam dengan tiba-tiba. Taehyung gelagapan sendiri karena ia tak bisa melihat apapun. Tangannya meraba-raba ke sisi tembok untuk mencari bathrobe yang biasa tersedia di kamar mandi. Dengan asal, ia ikat bathrobe tersebut dan keluar dari sana.

Taehyung mengelilingi kamarnya hanya sekedar untuk mencari senter ataupun handphone. Ia tak memiliki penglihatan yang cukup baik karena ia menderita miopi, oleh sebab itu, suasana gelap seperti ini sangat berbahaya untuknya. Taehyung takut menabrak berbagai barang ataupun memecahkan berbagai koleksi guci antik SeokJin di situasi seperti ini. Digeledahnya laci-laci meja yang ada di kamarnya, namun ia tak kunjung menemukan apa yang ia cari. Jantung Taehyung berdetak kencang saat ia merasa pundaknya ditepuk oleh seseorang. Taehyung memutar badannya ke belakang untuk melihat siapa yang menepuk pundaknya. Di pandangannya saat ini, seorang perempuan dengan gaun putih dan rambut basah terurai menatapnya dengan pandangan sayu sambil memegang sebuah handphone.

"Taehyung-ah" Perempuan itu berujar lirih

Sontak saja Taehyung mendorong pundak perempuan itu karena terkejut. Kakinya mundur beberapa langkah untuk menghindari perempuan mengerikan di depannya. Sungguh, Taehyung memang tak mempercayai hantu tapi perempuan di hadapannya ini memang seperti hantu. Tangannya yang bebas di atas nakas mencoba menggapai apapun yang dapat ia gapai. Saat berhasil menggapai sebuah vas kayu, Taehyung siap melempar vas tersebut untuk mengusir perempuan mengerikan di hadapannya ini. Tangannya sudah melayang di udara hingga suara wanita itu menghentikannya.

"Tae, ini aku Jungkook" seru perempuan itu.

Sebuah helaan nafas terdengar begitu keras setelah Jungkook mengucapkan kalimatnya tersebut. Taehyung sudah takut setengah mati melihat penampilan Jungkook di hadapannya saat ini dan perempuan itu hanya memanyunkan bibir dengan tatapan puppy-nya seolah ia yang merasa ketakutan.

"Astaga Kook, kau menakutiku" Taehyung berujar frustasi

"Apa aku terlihat menakutkan?" Jungkook memperhatikan penampilannya, 'tak ada yang salah'

"Kau tau penglihatanku buruk apalagi di saat gelap seperti ini. Ku fikir kau tadi hantu"

"Kau mengataiku hantu?" Perempuan itu berseru tak terima

"Hanya mirip. Ayo turun! Tak baik di dalam kamar saat mati lampu"

Taehyung merebut ponsel Jungkook yang telah dijadikan senter sebelumnya dan berjalan meninggalkan kamar. Saat menuruni tangga, Taehyung dapat mendengar suara langkah Jungkook di belakang juga mengikutinya. Setibanya di lantai bawah, perempuan itu memilih untuk duduk di sofa, menunggu Taehyung yang sibuk mencari lilin di dapur.

Setelah laki-laki itu berhasil mendapatkan lilin, ia membawanya ke ruang tamu dan menyalakannya. Diletakkannya lilin tersebut di atas meja guna menjadi penerangan mereka berdua malam ini.

"Kau tak takut gelap?" Taehyung mendudukkan dirinya di samping Jungkook

"Aku sudah terbiasa. Kau saja yang terlalu penakut"

"Penglihatanku buruk, aku takut memecahkan guci antik SeokJin jika nekad berjalan"

"Kau baru mandi?"

Mata Jungkook menelusuri Taehyung dari ujung rambut hingga ujung kaki di tengah suasana remang. Rambut laki-laki itu masih basah dan hanya mengenakan Bathrobe di tubuh atletisnya. Dari tempat duduknya, Jungkook dapat mencium aroma mint khas Kim Taehyung yang biasa ia cium saat bersama laki-laki tersebut.

"Ya, aku baru saja mandi dan belum sempat memakai baju tadi"

Jungkook memalingkan wajahnya saat Taehyung mengatakan hal tersebut. Jika Taehyung belum sempat memakai baju itu artinya…. Jungkook menggelengkan kepalanya kuat untuk mengusir fikiran kotor yang tiba-tiba saja melintas di otaknya.

"Kenapa? Kau memikirkan hal yang kotor?" Taehyung tersenyum menggoda

"Tidak"

Perempuan itu beringsut menjauhi Taehyung. Pipinya sudah memerah saat ini karena merasa malu, dan semoga saja Taehyung tak melihatnya. Merasa Jungkook menjauhinya, Taehyung segera meraih pundak gadis itu dan memepet tubuhnya yang mungil.

"Hei Jeon Jungkook, apa kau sudah punya kekasih?" Taehyung kembali menggoda

"Tidak" Jungkook mejawab singkat

"Bagaimana dengan Park Jimin itu? Kau menyukainya?"

"Entahlah. Aku sempat berfikir menyukainya sebelum kejadian itu, tapi sekarang aku tak tau bagaimana perasaanku padanya"

"Jika kau mempunyai kekasih, kau ingin kekasih yang seperti apa?"

"Yang tampan sepertimu, baik sepertimu, dan perhatian kepadaku sama seperti dirimu sehingga aku merasa nyaman"

Jungkook mengatakan hal tersebut dengan menelusuri garis wajah Taehyung yang tampan. Dari mata ke hidung, kemudian turun ke bibir tipis Taehyung dan berakhir mengusap pipi Taehyung. Sahabatnya ini sungguh tampan, wajahnya sempurna dan ia juga sangat baik terhadap Jungkook. Ia benar-benar ingin memiliki kekasih seperti Taehyung suatu saat nanti. Mata Jungkook tak henti-hentinya menatap wajah Taehyung hingga tak menyadari laki-laki itu juga sedang menatapnya dengan intens.

"Bagaimana jika aku benar-benar menyukaimu? Apa kau mau menjadi kekasihku?"

.

.

.

TBC

A/N :

Annyeong, aku comeback bawa chapter 10 :D

Sebenernya udah pengen ngepost dari tadi siang, tapi mendadak kehilangan ide dan harus pending sampek malam. Begitu malamnya mau ngepost, eh malah sinyal operator sebelah lagi K.O. Kan kamvret -_-

Tapi gpp deh, walaupun malem syukur aja masih bisa update

Chapter 10 ini mungkin chapter terpanjang dari semua chapter LIMITLESS yang pernah aku post sebelumnya. Ya, pengen gak panjang-panjang tapi gak nemu moment yang tepat buat potong cerita.

Kali ini aku mau bahas banyak banget hal terutama soal peran Jungkook, kisah Yoongi dan juga gaya penulisan aku.

Aku gak ngerti kenapa banyak readers-deul yang gak suka dengan karakter Jungkook. Mungkin kesannya manja gitu ya? Tapi beneran deh, aku merasa gak ada yang salah sama sikap Jungkook :v

Ya, coba lihat dari sudut pandang Jungkook sesekali lah. Dia suka sama seseorang dan saat dia mau menerima orang tersebut malah dia mendapati hal yang gak diinginkan. Kan ya maklum aja klo dia sakit hati :v

Tapi aku ngerti kok, pandangan setiap orang itu beda-beda. It's Okey, aku sama sekali gak masalah. Aku hanya sedikit terkejut dengan tanggapan readers-deul terhadap Jungkook :D

Trus yang kedua soal konflik Yoongi. Nah, mungkin mulai Chapter 10 ini konflik Yoongi mulai menemui titik terang. Buat yang kemarin nanya kapan Yoongi bahagia, maka aku akan jawab "Klo gak Chapter depan ya Chapter berikutnya". Ini seriusan, jadi tunggu aja. Trus ada lagi yang nanya kapan eomma Yoongi bakal sadar? siapa bapak Yoongi sebenernya? Nah, klo soal itu ditunggu aja ya :D soal bapaknya Yoongi aku masih dalam tahap berfikir mau aku munculin atau tidak nantinya

Untuk yang terakhir, kemarin aku dapat kritik soal FF aku ini gaya bahasanya sederhana banget dan alurnya pasaran.

Aku sadar banget akan hal itu. Jujur aja aku sendiri kadang merasa gagal membuat cerita yang menarik di beberapa chapter sebelumnya. Di chapter 10 ini aja aku merasa bahasa ku sangat berantakan. Entah karena gak sepenuhnya mood untuk nulis atau kenapa, aku merasa berantakan banget di chapter 10, Jadi maaf banget ya klo chapter ini sedikit mengecewakan. Aku memang gak begitu bisa menerapkan diksi di suatu tulisan, jadi ya gini hasilnya. Maaf klo bahasa aku yang abal ini mengganggu sekali. Aku bakal belajar lagi untuk next story yang akan aku tulis supaya memiliki diksi yang lebih baik.

Untuk next chapter mungkin akan aku post hari Kamis. Aku berniat gak isi kuota minggu ini buat ngehindari WINGS TOUR :v dan juga aku baru ada jadwal masuk sekolah hari Kamis, jadi ya nunggu WiFi buat update :D

Sekian aja deh curhatan aku yang super panjang ini

Jangan bosen review dan kasih saran buat tulisan aku :)

See you on next chap ^_^