Pagi-pagi sebuah mobil melaju dengan kencang membelah jalanan Seoul yang sedang lengang. Sang pengemudi melajukan kendaraannya dengan cepat karena sudah terlambat akan sesuatu. Ia merogoh ponselnya untuk menjawab panggilan seseorang. Lengah, ponselnya terjatuh kebawah jok pengemudi dan ia berusaha untuk mengambil ponsel tersebut dengan tangan yang meraba-raba jok mobil dan mata yang fokus pada jalanan. Ia mendapatkan ponsel tersebut dan sedikit menunduk untuk melihat keberadaan ponselnya.

Setelah ia mendapat ponselnya, pandangannya langsung disuguhkan dengan lampu yang menampilkan warna merah disana. Ia menginjak dengan segera rem mobilnya. Tanpa sadar, ia sudah berada di tengah perempatan dan sebuah mobil besar datang dari sebelah kanan jalan dengan laju yang cukup kencang.

Kejadiannya seperti slow motion. Pengemudi tersebut menoleh, dan saat itu juga truk besar itu menginjak remnya kencang. Namun gagal, karena truk tersebut tidak dapat mengimbangi muatannya dan sehingga truk besar tersebut oleng kesamping dan badan truk tersebut menabrak mobil si pengendara yang berhenti mendadak tadi.

"Halo.. halo.. Apa kau disana? Halo? Jawab aku!" Teriak seseorang dari sebrang sana.

Love Like This

Chapter 9 : Missing You

Sorry for typo(s)

" Tekanan darah 180/100 . pasien mengalami shock selama perjalanan kesini. Kami sudah memasangkan ambu pada pasien. Selama perjalanan ia mengalami serangan sebanyak 3 kali." Ujar seorang perawat pada dokter yang sedang memeriksa tubuh seseorang yang terbaring tidak sadarkan diri.

"Pergelangan kakinya mengalami keretakan. Nampaknya juga dibagian kepala ada pendarahan, dok. Lihat bagian yang membengkak ini." Ujar salah seorang dokter kepada dokter lain.

"Siapkan ruang OK sekarang. Hubungi walinya!"

"Walinya tidak menjawab, dok. Tapi seseorang akan datang kesini."

.

Seorang pria dengan balutan jas berlari kencang menuju rumah sakit Seoul. Ia melangkahkan kakinya lebar-lebar dengan rapalan doa disetiap langkahnya.

Tuhan tolong selamatkan dia

Matanya berpendar disetiap sudut rumah sakit, tapi ia tidak juga menemukan orang yang dicarinya. Ia kemudian menarik tangan salah seorang perawat yang sedang berlari menuju ruang operasi.

"Dimana korban kecelakaan yang barusan dibawa kesini?" Tanya nya dengan nafas yang terengah-engah.

Perawat itu terlihat bingung, tapi sedetik kemudian ia beralih. "Lewat sini."

Kemudian pria itu hanya mengikuti sang perawat dari belakang dengan hati yang gusar. Keringat di dahinya tak ia hiraukan lagi. Ingin melihat orang itu sekarang. Apakah dia baik-baik saja atau tidak.

" Apa anda walinya?" Lamunan Pria itu buyar.

"Ya. Bagaimana keadaannya?" Aku berharap dia baik-baik saja Tuhan

" Pergelangan kakinya mengalami keretakan dan ada pendarahan internal disekitar paru-parunya karena tulang rusuknya sedikit retak dan menggores beberapa organ dalam." Jelas sang dokter. Sang pria itu merasa kakinya lemas. Ia merasa ingin jatuh mendengar pernyataan dari dokter.

"Tolong selamatkan dia, apapun yang terjadi." Ujar sang pria dengan penuh permohonan.

"Baiklah. Eum.."

"Kris, aku Kris Wu."

"Ya Kris-ssi. Kami akan berusaha yang terbaik untuk kesembuhan nona Kim Luhan."

Flashback

Jam menunjukkan pukul 8 KST. Luhan merasa bodoh hari ini karena ia kesiangan dna buru-buru ia membersihkan diri dan berpenampilan seadanya. Ia lupa jika hari ini ada rapat dengan pemilik toko di Mall yang ada di Gangnam.

"Tamatlah kau Luhan, isssh! Mengapa kau bodoh sekali" Luhan merutuki dirinya sendiri sambil menyetir. Kebetulan, jalanan hari ini sangat lengang. Tidak banyak kendaraan lalu lalang. Dan luhan bersyukur untuk hal itu, setidaknya ia bisa melajukan mobilnya sedikit lebih kencang.

Ponselnya berbunyi dan menampilkan nomor tanpa nama. Luhan menebak-nebak siapa yang menelefonnya, kemudian ia mengangkatnya.

"Ha-"

"Luhan.." Sepertinya Luhan mengenali suara ini.

"Ada apa?" Tanya Luhan dengan malas.

" Bisakah kita bertemu hari ini?"

"Maaf, Kris, tapi aku tak bisa- ah tidak. Aku tidak ingin bertemu denganmu." Jawab Luhan lantang

"Setidaknya berikan aku kesempatan untuk menjelaskannya."

"Maaf, tidak-"

Ponsel Luhan terjatuh kebagian bawah jok. Tangannya meraba-raba sembari matanya yang terus terlihat fokus pada jalan. Tak lama, ia menemukan ponselnya, ia pun melihat kebawah untuk sekedar melihat dengan pasti letak ponselnya.

"Maaf, kau bica-?"

Luhan tak melihat bahwa lampu merah sudah menyala, ia baru sadar ketika mobil yang ia bawa melewati lampu merah -buru ia menginjak rem. Baru saja bernafas lega, tanpa diduga, sebuah mobil datang dari arah kanan dengan kecepatan yang melaju dengan cepat. Sang pengendara tidak memperhatikan jalan karena ia sedang sibuk bersenandung dengan lagu yang dipasang di earphone nya.

Ketika si pengendara itu membuka matanya, ia dikejutkan dengan mobil yang berhenti tiba-tiba di perempatan jalan. Ia tak sempat menghentikan laju mobilnya. Kejadian itu berlangsung dengan cepat. Bagian depan mobil si pengendara itu menghantam bagian kanan mobil Luhan, sehingga membuat mobil itu berputar tak menentu, dan kemudian menabrak mobil lain yang datang dari arah kiri. Kecelakaan beruntun ini mengakibatkan lalu lintas menjadi ricuh karena beberapa orang menghampiri mobil Luhan untuk melihat keadaan si Pengemudi.

Seseorang terlihat menelepon ambulans dan seseorang menelepon polisi, sementara yang lain hanya berdiri dengan prihatin menatap mobil Luhan yang kondisinya tidak bisa dibilang baik-baik orang terlihat berbisik-bisik yang entah apa. Sementara didalam mobil, Luhan terlihat tak sadarkan diri, kepalanya mengucurkan darah segar. Dengan sebagian mukanya yang terlihat lebam-lebam. Ponsel yang ia pegang di tangannya terlempar ke dashboard mobil.

"Halo.. halo.. Apa kau disana? Halo? Luhan jawab aku!" Kris masih berteriak di telepon tapi hasilnya Nihil, karena tak ada jawaban apapun dari Luhan.

Tak lama, beberapa mobil ambulance datang dan para tim penyelamat segera membuka pintu mobil Luhan dan mengangkat Luhan keluar. Seorang petugas mengambil ponsel Luhan yang tergeletak di dashboard, berniat untuk menghubungi kerabat Luhan. Tetapi ia melihat masih terdapat panggilan disana dan dengan segera ia merespon panggilan tersebut. Awalnya ia terkejut dengan teriakan orang disebrang telepon, kemudian.

"Selamat siang, ini dari Rumah Sakit Seoul ingin memberitahukan bahwa seseorang yang mempunyai ponsel ini baru saja mengalami kecelakaan di Gwanghwamun."

Tidak ada suara balasan dari panggilan tersebut. Seorang tim penyelamat itu melihat ponsel Luhan untuk memastikan bahwa panggilan itu tidak terputus, tapi kemudian ada suara balasan disana.

"Aku akan segera kesana"

Flashback end

Operasi berlangsung sudah lewat dari 3 jam. Kris masih menunggu dengan menggenggam erat ponsel Luhan. Kepalanya tertunduk, ia merapalkan doa supaya Luhan baik-baik saja. Tiba-tiba saja ponsel Luhan berdering. Itu Baekhyun. Dan Kris baru ingat jika ia lupa memberitahu adik Luhan jika kakaknya mengalami kecelakaan.

Yebosseyeo eonnie? Apa kau melihat catatan yang kutinggalkan di-

"Baekhyun, ini aku Kris."

Hening, tak ada jawaban dari sana. Kris pun menghela napasnya. "Luhan berada dirumah sakit. Ia mengalami kecelakaan beberapa jam yang lalu."

Terdengar suara benda jatuh disana. Kris yakin, Baekhyun terkejut mendengar berita ini. Tak lama, Baekhyun kembali berbicara.

" Aku akan menyusul kesana"

PIP

Sambungan dimatikan. Kris pun memasukkan ponsel Luhan kedalam saku celananya.

.

Tentu kalian pasti tahu keadaan Baekhyun sekarang. Air matanya tak berhenti mengalir. Ia berlari keluar gedung apartemennya seperti orang gila. Tangannya menggenggam erat ponsel miliknya. Ia memberhentikan sebuah taksi dan menyuruh sang sopir untuk mengantarnya menuju Rumah Sakit Seoul. Kakinya sedari tadi menghentak-hentak tidak jelas. Ia merasa kenapa waktu berjalan sangat lama sekali.

"Pak, tolong cepat sedikit." Ucap Baekhyun yang diangguki oleh si supir.

Sesampainya di sana, ia langsung berlari lagi seperti orang gila dan mencari-cari ruang dimana Luhan dirawat. Ia bertanya kepada petugas dan setelah mendapat informasi, ia berlalu. Di depan kamar operasi, ia meenemukan Kris sedang duduk dengan kepala tertunduk. Baekhyun pun berjalan pelan menghampiri Kris.

"Ba-bagaimana eonnieku?" Yatuhan jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi pada kakakku.

"Dia masih didalam sana. Sudah 4 jam berlalu."

Baekhyun terjatuh. Ia tak kuasa menahan air matanya lagi dan kembali menangis sejadi-jadinya disana. Kris yang melihatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tak terlalu kenal dekat dengan adik Luhan. Dan lagi, ia sedikit takut karena mengingat kejadian Baekhyun yang pernah menendangnya dimasa lalu.

"Jangan menangis, Baek. Kau harus berdoa supaya operasinya berjalan lancar." Ujar Kris sambil menepuk pelan bahu baekhyun.

"Kau-" Ucap Baekhyun disela tangisannya. "Bagaimana kau tahu bahwa eonnieku kecelakaan?"

"Aku…" Kris teringat kejadian beberapa jam lalu saat ia mendengar semua suara-suara tabrakan itu ditelinganya. "Aku sedang menelepon Luhan saat itu. Dan seseorang memberitahuku bahwa Luhan kecelakaan."

Setelah itu tak ada lagi percakapan diantara mereka. Baekhyun masih menatap lurus pada pintu operasi yang lampunya masih menyala disana. Hari makin beranjak sore. Tetapi tidak ada satupun dokter yang keluar atau lampu kamar operasi yang dimatikan. Ini semakin membuat Baekhyun gelisah sejadi-jadinya. Tak berhenti ia mondar mandir didepan pintu tersebut dengan air mata yang terus mengalir.

"Eonnie, tolong sadarlah untukku." Gumam Baekhyun. Tak lama, ponsel Baekhyun berdering.

Baekkie, kau dimana? Mengapa apartemenmu sepi?

"Chan, hiks" Baekhyun kembali menangis tersedak-sedak.

Hey, mengapa kau menangis? Apa terjadi sesuatu? suara Chanyeol mulai terlihat khawatir

"Luhan eonnie, " Baekhyun ingin menjelaskan tetapi masih sesegukan "Ia kecelakaan dan sekarang sedang dirumah sakit."

Apa?! Astaga, Baek. Baekhyun sayang, kau tenanglah. Jangan kemana-mana aku akan kesana secepat mungkin

Baekhyun kembali mematikan ponselnya dan terduduk dilantai rumah sakit yang dingin. Ia masih setia menunggu Luhan yang tak kunjung keluar dari sana. Kris pun sama, ia masih menunggui Luhan hingga beberapa panggilan di teleponnya ia abaikan.

Lampu kamar operasi mati dan Baekhyun yang melihatnya segera bangkit. Begitu juga Kris. Sang dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan tersebut untuk memberitahukan keadaan Luhan.

"Wali Kim Luhan?" Tanya si dokter kepada Baekhyun.

"Ya, saya." Baekhyun menghalau jalan Kris menuju dokter.

"Operasinya berjalan lancar, dan nona Kim sudah dibawa keruang ICU untuk pemulihan. Kalian bisa melihat nya nanti jika sudah sadar."

Baekhyun dan Kris bernafas lega seakan seperti beban di punggungnya terangkat.

"Satu lagi. Nona kim mengalami keretakan di pergelangan kaki sebelah kiri karena sempat terjepit. Jadi ia akan memakai gips untuk beberapa minggu kedepan"

"Terimakasih dok." Ucap Baekhyun sembari membungkuk hormat. Sang dokter hanya tersenyum dan berlalu pergi

.

Pertemuan dengan investor berlangsung dengan baik. Sehun berhasil menggaet salah satu brand Amerika untuk meluncurkan produk nya di Seoul. Ditemani dengan Kyungsoo, asisten Luhan. Seharusnya yang menemani Sehun adalah Luhan atau Chanyeol. Tapi Luhan hari ini tidak datang kerja tanpa memberi alasan. Sedangkan Chanyeol, ia sedang ditugaskan di Mapo kemarin dan baru kembali siang tadi, sehingga ia tidak bisa menemani Sehun.

"Terimakasih atas bantuanmu.."

"Kyungsoo, sajangnim." Ucap Kyungsoo sambil tersenyum.

"Ya, terimakasih Kyungsoo. Kau bekerja dengan baik." Puji Sehun. "Oh ya, " Langkah Sehun terhenti sebentar, membuat Kyungsoo pun ikut berhenti melangkah. "apa kau tahu mengapa Luhan tidak masuk hari ini?"

"Saya juga tidak mengetahuinya, Sajangnim. Saya dan teman saya sudah mencoba menghubunginya tetapi tidak ada jawaban." Kyungsoo ingin merutuki Luhan karena ia yang dijadikan tumbal oleh Xiumin untuk menggantikannya menemani Sehun.

"Ah, begitu." Sehun mengangguk paham dan berjalan lagi diikuti Kyungsoo dibelakangnya.

Mereka mengendarai mobil Sehun untuk menuju kembali ke kantor, karena Kyungsoo masih ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan. Sesampainya di kantor, Sehun memberi salam pada Kyungsoo dan langsung berbalik arah untuk pulang. Ia merasa lelah hari ini karena tidak ada Luhan yang bisa ia jahili. (Biasanya ia akan menjahili Luhan tiada henti hingga Luhan kesal sendiri).

Sehun merebahkan badannya di dalam kamar dengan nuansa putih dan hitam disekelilingnya. Matanya terpejam untuk beberapa saat dan ia menyunggingkan sedikit senyum mengingat kelakuan bar-bar Luhan selama ini terhadapnya. Tak ayal, ia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel dan melihat beberapa foto Luhan yang tak sengaja ia ambil saat Luhan tidak sadar. Ada Luhan yang terlihat melamun, dan sedang tersenyum saat mengobrol dengan rekan kerjanya. Mata indahnya akan menampilkan bulan sabit saat tersenyum, dan sangat cantik. Seorang Oh Sehun jadi dibuat senyum karenanya.

"Ah, aku mulai gila" Ejek nya pada diri sendiri

Ia pun bangkit dan beralih menuju cermin yang menampilkan keseluruhan badan atletisnya dari atas sampai bawah. Ia membuka kancing kerah kemejannya dan sebuah kalung mencuat keluar. Ia langsung menggenggam kalung itu sambil berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin.

"Luhan, kau sudah membuatku gila." Diiringi dengan senyum khas Seorang direktur Oh. Ia pun melepas kemejanya dan masuk kedalam walk in closet untuk mengganti pakaian.

Sehun terlihat mengotak atik ponselnya. Ia menimang-nimang apakah harus menelepon Luhan atau tidak. Akhirnya, ia memutuskan untuk menelepon perempuan itu. Mendengar umpatan Luhan adalah hal yang sudah menjadi kebiasaan Sehun akhir-akhir ini.

Lama menunggu, telepon tersebut diangkat.

"Halo?" Ini bukan suara Luhan. Sehun memastikan bahwa ia tidak salah nomor.. tetapi itu benar, itu nomor ponsel Luhan.

"Kekasih Luhan, bukan?" sahut suara dari seberang sana. Sehun seperti mengenali suara ini. Tapi ia lupa dimana tepatnya.

"Dimana Luhan?" Tanya Sehun dengan nada dingin.

"Aku Kris. Dan jika kau bertanya tentang Luhan, sekarang ia berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan tadi pagi"

DEG

Sehun merasa dunia berhenti berputar. Ia tidak salah dengar, kan? Luhan? Kecelakaan? Tidak mungkin.

"Jangan bercanda." Terdengar suara gugup Sehun yang berusaha ia tutupi.

Terserah jika kau percaya atau tidak direktur Oh. Aku sedang bersama Baekhyun sekarang untuk melihat keadaan Luhan

PIP

Sambungan dimatikan dan buru-buru Sehun meraih kunci mobilnya dan meninggalkan Apartemen untuk menuju rumah sakit.

.

Disana sudah ada Baekhyun, Kris dan Chanyeol yang baru saja datang. Baekhyun langsung berhambur kedalam pelukan Chanyeol sambil menangis. Chanyeol mengusak pelan surai Baekhyun. Ia juga edih atas apa yang terjadi dengan noona kesayangannya. Ia tak menyangka Luhan bisa seperti ini. Terkulai tak sadarkan diri, dengan selang infus, dan peralatan penunjang kehidupan yang lainnya. Ia ingin menangis, tetapi ia harus kuat, agar Baekhyun bisa bersandar padanya.

Mata Chanyeol beralih pada Kris yang berada disampingnya sedang melihat lurus kearah Luhan tanpa menoleh sedikitpun.

"Terimakasih sudah menunggu Luhan noona" Walaupun Chanyeol sangat kesal pada Kris, tapi ia harus meredam amarahnya karena ini rumah sakit.

"Kau tidak perlu berterimakasih" Jawab Kris tanpa mengalihkan pandangannya.

"Lebih baik kau pulang lah, Yifan-ssi. Kini sudah ada aku dan Baekhyun yang akan menjaganya." Usir Chanyeol secara halus.

Kris terlihat menatap dalam Luhan sebelum ia memutuskan untuk pergi dari sana dan berpamitan pada chanyeol.

"Baiklah, kalau begitu. Aku permisi. Aku akan kembali lagi, tolong beritahu kabar tentang perkembangan Luhan. Apapun". Kris menatap mata Chanyeol tajam meminta kepastian. Ia sangat ingin berada disana untuk menjaga Luhan, tapi Baekhyun dan Chanyeol tidak mengharapkan kehadirannya.

Sehun memasuki rumah sakit dengan terburu-buru, ia berlari tanpa arah dan menabrak orang-orang disekitarnya.

"Maafkan aku" Ucap Sehun pada seseorang dan berlari lagi

"Perhatikan langkahmu!" Teriak seseorang yang lain.

"Ba-bagaimana Luhan?" Tanya Sehun dengan napas yang terengah-engah karena ia berlari setelah meninggalkan mobilnya di lobby utama tanpa diparkir terlebih dahulu. Kenapa setiap orang hari ini sangat senang berlari?

Baekhyun mengisyaratkan dengan anggukan. "Luhan eonnie dalam proses pemulihan." Sehun melihat kearah dimana Luhan berbaring. Sehun merasa kacau. Kakinya terasa lemas dan dadanya terasa sesak melihat Luhan tak sadarkan diri disana. Kaki Luhan dibalut gips dan Luhan dibantu oleh alat pernafasan.

.

.

Sudah 1 minggu berlalu tidak ada tanda-tanda kehidupan pada diri Luhan. Baekhyun tidak berhenti menangis dengan Chanyeol yang selalu membisikkan kata-kata penenang padanya. Kyungsoo dan Xiumin datang bergantian untuk menjenguk Luhan setiap sore dan membawakan makanan untuk Baekhyun. Sehun akan bergantian dengan Baekhyun berjaga pada malam hari karena Baekhyun harus istirahat juga. Ia tidak ingin Baekhyun menjadi sakit karena kelelahan.

Setelah kepulangan Baekhyun dan Chanyeol, Sehun menatap Luhan dalam diam. Ia tak mengerti mengapa ia sangat sangat amat mengkhawatirkan gadis ini. Ia ingin sekali menggantikan rasa sakit gadis yang terbaring dihadapannya ini. Ia teringat perkataan dokter Ko sewaktu memeriksa Luhan tadi.

"Jika nona Kim tidak sadar kurun waktu 2 hari ini. Dengan sangat menyesal kami mengatakan nona Kim mengalami kematian otak (koma)."

Sehun ingin Luhan'nya' mengumpat. Sehun ingin Luhan'nya' berteriak keras-keras. Sehun ingin Luhan'nya' tersenyum. Ia ingin Luhan bangun dan sadar. Ada perasaan takut teramat sangat yang terselip di hati Sehun jika Luhan tidak bangun.

"Yak, gadis Amerika." Sehun memajukan kepalanya mendekat kearah Luhan dan tersenyum. " biasanya kau akan mengumpat atau menendangku jika wajahku berjarak sedekat ini denganmu."

Lambat-lambat Sehun mengamati wajah Luhan yang terlihat semakin tirus dan pucat. Tentu saja itu karena Luhan tidak makan dan hanya mendapat nutrisi dari selang infus. Sehun mendesah pelan.

"Jika kau diam seperti ini terasa aneh tahu. " Ledek Sehun. "Kuharap kau bangun segera, Lu. Harus"

"Ingat ya, ini pernyataan! Mau tidak mau kau harus melakukannya."

"…"

Lu, apa yang harus kulakukan untuk membuatmu bangun?

Sehun pun menyerah. Ia mengusap surai Luhan yang tergerai dan memajukan lagi kepalanya untuk mengecup kening Luhan, menyalurkan semua perasaannya disana. Ia menempelkan dahinya di dahi Luhan dan terdiam.

"Lu, kau mendengarku kan?" Sehun memberi jeda sebentar pada ucapannya " Kembalilah dengan segera. Semua disini merindukanmu"

.

.

Kris menatap layar ponselnya. Ia menerima pesan dari Chanyeol yang mengatakan bahwa belum ada perkembangan apa-apa dari Luhan. Kris mengerang. Ia mengacak rambutnya asal. Kris merasa bersalah pada dirinya sendiri karena ialah penyebab Luhan mengalami kecelakaan. Tak seharusnya ia melanjutkan pembicaraan dikala Luhan menyetir. Kris sangat menyesali itu.

Suara ketukan pintu terdengar, Kris pun melangkah gontai untuk membuka pintu.

"Oppa!" Krystal menghentak-hentakan kakinya kesal masuk ke ruangan Kris. "kenapa baru membukanya skearang ishh."

"Ah, oppa mian." Ucap kris tanpa jiwa. Krystal melihat gelagat sepupunya yang agak aneh itu. Tak ingin basa-basi, ia menanyakan langsung "Oppa, mengapa kau terlihat kusut begitu? Apa terjadi sesuatu?"

"Ah-…" Kris kembali sadar. "Tidak ada apa-apa."

"You know what, you can't lie to me" Krystal seperti bisa membaca pikiran Kris. Kris pun mengalah dan duduk disamping adik sepupunya itu.

"Wanita yang kuceritakan padamu waktu itu kecelakaan. Dan itu adalah kesalahanku."

Mata Krystal melebar. Ia segera membalikkan tubuhnya kearah Kris dengan mata yang melotot horror.

"Maksudmu, Luhan itu?"

Kris mengangguk.

"Aku sedang meneleponnya saat kecelakaan itu terjadi. Dan hingga detik ini ia tak kunjung sadar, Krys." Keluh Kris pada Krystal.

"Ani, kenapa oppa merasa bersalah? Itu kesalahannya karena tidak berhati-hati. Sudahlah oppa." Krystal mendengus sebal.

" Ini kesalahanku cantikk." Kris menepuk pelan pipi Krystal yang memberengut kesal. " tidak akan terjadi kecelakaan jika aku tidak menghubunginya saat itu."

"Lalu.." " Apa yang akan oppa lakukan?"

"Apapun. Agar ia sadar kembali." Kris menyenderkan punggungnya di bantalan sofa. "Pun jika memungkinkan aku akan menggantikan tempatnya menjadi yang terbaring disana."

Krystal menepak dahi Kris. Ia merasa jengkel pada sepupu nya itu. Mengapa Kris sampai seperti itu terhadap Luhan. "Kau melakukannya karena perasaan bersalahmu dimasa lalu?"

Kris menggeleng. "Tidak, aku melakukannya karena aku benar-benar mencintainya."

"Bodoh."

"Memang, aku memang bodoh karena melepasnya dulu karena kejenuhanku sesaat." Kris memandang langit-langit ruang tamunya. Memikirkan betapa bodohnya dia mencampakkan Luhan.

"Bagaimana jika ia tidak ingin bersama oppa lagi?" Tanya Krystal takut-takut jika Kris meledak.

"Aku akan mengambilnya dari kekasihnya yang sekarang jika itu diperlukan." Tekad Kris seperti sudah bulat. Krystal hanya tersenyum miring menanggapinya.

Dan aku akan mengambil Sehun sebagai hadiahnya. BINGO

.

.

"Oppa, aku datang." Suara lemah Baekhyun menyambut pendengaran Sehun dan ia baru sadar jika ini sudah pagi. Ia tertidur dikursi sebelah kanan tempat tidur Luhan.

"Ah, kau sudah datang." Sehun bangkit dari kursinya dan pergi mencuci muka. "Kau bersama Chanyeol?"

"Ne, tadi ia mengantarku kesini sebelum pergi ke kantor. Ah, eomma dan appa akan datang lusa. Mereka baru bisa kesini karena sebelumnya eomma sempat pingsan seharian setelah mendengar eonnie kecelakaan" Baekhyun terlihat menyiapkan sarapan untuk Sehun dan dirinya di sofa tepat di depan tempat tidur Luhan. "Tumben sekali oppa belum terlihat rapi?"

"Eum. Aku memutuskan untuk meliburkan diri hari ini." Sehun menampilkan sederetan giginya yang bersih sehabis sikat gigi. Baekhyun pun dibuat keheranan.

"Apa terjadi sesuatu? Oppa sakit?" Baekhyun meraba dahi Sehun yang lebih tinggi darinya. Sehun pun menahan tangan Baekhyun.

"Tidak dongsaengku yang cantik." Sehun menuntun Baekhyun untuk duduk dan mulai memakan makanan bawaan Baekhyun. "Aku ingin disini seharian. Daripada aku kerja dan tidak berkonsentrasi. Lebih baik aku disini."

Baekhyun pun mengangguk paham. "Oppa sangat mengkhawatirkan eonnie ne?"

"Entahlah. Kau ingat ini sudah 2 hari. Dokter Ko akan datang siang nanti."

Baekhyun mengangguk lemah. Ia baru ingat jika ini sudah lewat dari 2 hari setelah seminggu berlalu dan Luhan belum juga menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Sudah seminggu ini Baekhyun tak berhenti menangis. Sampai-sampai matanya sekarang ini sudah seperti panda. Chanyeol berkali-kali mengatakan pada Baekhyun bahwa eonnienya akan baik-baik saja dan menyuruh Baekhyun untuk beristirahat. Tapi Baekhyun tak bisa tidur. Apartemen yang mereka huni 5 tahun belakangan ini terasa sangat sunyi tanpa kehadiran Luhan disana. Baekhyun hanya menangis dibalik selimut dan tertidur selama beberapa jam hingga pagi.

"Aku takut oppa." Sehun berhenti menyendokkan makanan ke mulutnya dan beralih menatap Baekhyun.

"Gwaencanha." Sehun mengusap puncak kepala Baekhyun. "Dokter belum memutuskan apapun. Dan jika dokter memutuskan sesuatu, bisa jadi itu salah. Kita hanya perlu berdoa. Arrasseo?"

Baekhyun pun mengangguk dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Sehun menatap Baekhyun dalam diam. Ia juga sangat takut terhadap Luhan. Mengingat tak ada perkembangan apa-apa tiap harinya. Tapi Sehun yakin, Luhan pasti bangun, entah kapan.

Mereka berdua bergantian duduk disamping Luhan. Terkadang Baekhyun yang duduk disamping Luhan selama Sehun menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Dan jika Baekhyun lelah, ia bertukar tempat. Seperti sekarang ini.

"Oppa." Panggil Baekhyun sambil menatap Sehun.

"Hmm?" Sehun pun menoleh.

"Mengapa oppa sampai sejauh ini?"

"Maksudmu Baek?" Sehun tidak mengerti dengan perkataan Baekhyun.

"Maksudku.." Baekhyun memperbaiki posisi duduknya. "Mengapa oppa sampai rela bermalam untuk menjaga eonnie? Ini tidak masuk akal.." Baekhyun terlihat berpikir dengan wajah kusutnya " Kalian berdua terlihat seperti musuh setiap bertemu. Dan entah karena apa kalian berdua belakangan ini terlihat sering bersama walaupun sedikit 'terpaksa' menurutku?"

Sehun membalikkan tubuhnya pada Baekhyun "Aku tidak punya jawaban apapun atas pertanyaanmu baek. Aku sendiri tidak mengetahuinya."

"Sekarang aku ingin bertanya pada oppa." Baekhyun menatap lurus kearah Sehun. "Tolong oppa jawab dengan jujur. Disana Luhan eonnie sebagai saksinya." Baekhyun memberikan isyarat dengan kepala.

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Oppa benar-benar menyukai eonnieku bukan?"

"Tentu aku menyukainya. Dia teman yang baik dan-"

"Bukan jawaban itu yang aku inginkan." Baekhyun bangkit dan menghampiri Sehun. "Oppa lihat wajah eonnie." Sehun mengalihkan pandangannya pada Luhan. "Katakan yang benar-benar oppa rasakan saat melihat Luhan eonnie."

Sehun mengamati Luhan dalam diam. Ia menerka-nerka perasaan apa yang tepat ia rasakan untuk Luhan. Sehun senang saat melihat Luhan tersenyum. Dan sangat benci ketika melihat Luhan menangis dikala ia bertemu dengan mantan kekasihnya. Ia bahagia ketika dengan tanpa sengaja mencium Luhan. Ia suka cara Luhan memakan ice cream dengan mulut penuh. Bagaimana Luhan membuat hari-harinya penuh cerita yang berbeda. Tidak mungkin ini hanya perasaan sayang sebagai teman atau partner in crime-nya. Apa Sehun menyukainya? Ia masih ragu. Sehun, jawabannya sudah jelas. Apa yang kau ragukan lagi?

"Entahlah Baek-ah. Oppa tidak tahu."

Baekhyun menggeleng lemah. "Oppa bukannya tidak tahu, tetapi oppa belum menyadarinya."

Baekhyun berjalan kearah pintu dan berhenti sesaat sebelum benar-benar keluar. "Jika oppa tidak mencintainya, oppa sangat membuang-buang waktu oppa dengan menjaganya." "Dan jika oppa memang tidak mencintainya lebih baik berhenti disini. Aku tak ingin melihat eonnie seperti dulu lagi."

Terdengar suara pintu tertutup. Sehun menghela nafasnya dan kembali menatap Luhan.

"Adikmu persis sekali sepertimu, kan? Keras kepala?" Sehun tersenyum-senyum sendiri.

"…"

"Awalnya, aku memang menganggapmu sebagai bahan kejahilanku. Aku minta maaf. Kau mau kan?" Sehun meraih jemari Luhan yang terlihat sangat kurus itu dan menggenggamnya. "Aku juga minta maaf karena menjadikanmu sebagai kekasih pura-puraku."

"…"

"Kejahilanku menggodamu setiap hari menjadi rutinitas harianku yang tak pernah kulewatkan. Aku sangat senang melihatmu mengumpat setiap hari. Kau tahu?" Sehun mengamati Luhan dalam-dalam. "Kau sudah mengambil keperjakaan bibirku ini tahu?" Sehun tersenyum sendiri mengingatnya. "Oke, itu memang kesalahanku karena aku yang menciumu lebih dulu. Aku juga minta maaf soal itu."

".."

" Mungkin aku masih menyangkalnya. tapi sekarang, aku menyadari sesuatu." Sehun kembali mengecup kening Luhan. Seperti sudah menjadi tambahan dalam rutinitasnya. " Aku menyukaimu, Kim Luhan. Ah tidak, aku menncintaimu." Ucap Sehun sesaat setelah melepas ciumannya. Keningnya menempel dengan kening Luhan, matanya pun ikut terpejam. "Bagaimana kau akan bertanggung jawab sekarang, nona Kim? Kau harus bangun." "Lu, kumohon bangunlah. Aku mencintaimu."

Terlihat sangat mustahil memang. Baekhyun melihat semuanya dari balik pintu kamar Luhan. Ia ikut bahagia mendengar bahwa Sehun mencintai eonnienya. Ia sengaja memancing Sehun agar lelaki itu menyadari bahwa ia mencintai Luhan. Baekhyun pun menghela nafasnya lega dan pergi meninggalkan ruangan itu untuk menelepon Chanyeol.

Sehun masih setia menempelkan dahinya pada dahi Luhan. Ia merasakan kenyamanan yang teramat sangat pada posisi seperti ini. Jika Luhan sadar, ia pasti akan menendang Sehun dan mengumpat dengan kata-kata kasar andalannya. Tapi sekarang Luhan belum bangun, jadi bairkan Sehun menikmati posisi seperti ini untuk sementara.

"Se-hun.." panggil seseorang dengan nada terputus-putus

"…"

"Sehun-ah.." panggil seseorang itu lagi

"Eumm wae?"

"Minggir, kau berat.."

TUNGGU

Sehun seperti mengenali suara ini walaupun terdengar serak-serak. Ini seperti suara..

"Jebal…"

Sehun membuka matanya dan mata elangnya langsung bertemu dengan mata cantik milik Luhan yang terlihat sayu. Sehun terkejut bukan main hingga dirinya terjungkal kebelakang. Jantungnya berdegup sangat kencang seperti orang habis bertemu hantu. ia pun bangun dengan segera.

"Luhan? Luhan? Kau sadar?" sehun menepuk-nepuk pelan pipi Luhan.

Sehun pun memencet bel yang ada diatas tempat tidur Luhan untuk memanggil dokter. Kakinya bergemelatuk tak sabar karena belum ada perawat ataupun dokter yang datang. Luhan yang masih lemah dengan pandangan yang kabur, mengambil sebelah tangan Sehun dan menariknya mendekat.

"go-ma-wo." Ucap Luhan dengan nada tertatih

"Lu jangan mengatakan apapun dulu, kau masih baru pulih. " Nada Sehu yang khawatir terdengar sangat lucu. Tapi Luhan tidak bisa tertawa karena terlalu lemas.

.

.

Baekhyun langsung berhambur kedalalam pelukan Luhan setelah tahu eonnienya siuman. Ia tak kuasa untuk menangis tersedak-sedak karena bahagia eonnienya sudah sadar

"EONNIE HIKS KENAPA JAHAT SEKALI HIKS " Luhan Cuma bisa tersenyum dan membelai surai Baekhyun dengan gerakan amat sangat lembut karena ia juga masih sangat lemah. Anggota tubuhnya terasa sulit untuk digerakkan.

"eo-nnie mi-an ne?"

Baekhyun pun mengangguk.

"Baek, Luhan baru pulih jangan terlalu erat nanti tulangnya retak." Sambar Sehun

" Hiks Jinjja?" Baekhyun pun kembali menangis "Eonnie hiks maafkan aku hiks.."

Terdengar kekehan Sehun memenuhi ruang rawat inap Luhan. "Aku hanya bercanda baek sayang."

"KYAAAA, OPPA JAHAT SEKALI"

Terdengar dobrakan pintu dari arah luar dan menampakkan tubuh jangkung Chanyeol yang berlari karena mendengar kabar Luhan siuman. Diikuti dengan Xiumin dan Kyungsoo dibelakangnya.

"Luhannie/Luhan eonnie" Mereka berdua mulai menangis terharu karena melihat Luhan yang tersenyum lemah menyambut kedatangan mereka.

"Aishh, kau jahat sekali." "Kenapa baru sadar sekarang? Aku mengkhawatirkanmu arra?" Omel Xiumin disela-sela tangisannya.

"Ma-af-kan a-ku ne?" Luhan berusaha mengucapkan tiap kata dengan kuat, tapi suaranya sangat serak.

"Sudahlah eonnie tak apa, melihatmu kembali sadar sudah berita bahagia untukku." Timpal Kyungsoo yang diangguki oleh Xiumin dan juga Chanyeol.

Luhan memberi isyarat kepada Chanyeol untuk mendekat. Dan Luhan pun langsung memeluk Chanyeol. "Go-ma-wo Chanyeol-ah."

"Gwaencanha noona, sudah menjadi tugasku untuk menjaga Baekhyun dan noona." "Aku senang noona sudah sadar."

Sehun yang melihat adegan itu serasa jengkel sendiri. ia pun berdehem pelan, tetapi nyatanya itu didengar oleh Chanyeol, dan Chanyeol pun melepaskan pelukannya pada Luhan.

"Jangan lupa untuk berterimakasih padanya juga noona." Bisik Chanyeol yang mendapat anggukan dari Luhan.

.

.

Malam sudah tiba. Xiumin dan Kyungsoo sudah berpamitan terlebih dahulu, tersisa Sehun Chanyeol dan Baekhyun disana. Luhan sudah tertidur beberapa menit yang lalu.

"Baek, lebih baik kau pulang saja. Oppa akan disini hingga besok." Usul Sehun

"Ani, oppa yang harus pulang. Aku tak apa. Oppa sudah disini selama seminggu. Nanti eomma oppa bisa marah"

"Ani, oppa tinggal terpisah dengan eomma. Gwaencanha baek."

"Tidak oppa. Oppa harus pulang dan beristirahat. Aku tidak tega melihat oppa." Baekhyun menilik penampilan Sehun dari atas hingga bawah.

"Hmmm begini saja." Sehun terlihat memohon pada Baekhyun "Izinkan aku untuk menjaga Luhan malam ini. Kau pulanglah terlebih dahulu bersama Chanyeol. Besok oppa akan bekerja. Eotte?"

Baekhyun berpikir sebentar. Kemudian ia mengangguk. "Geurae, gomawo oppa. Aku titip eonnie ne?"

Sehun pun mengangguk. Baekhyun kemudian mengajak Chanyeol keluar sehingga menyisakan Sehun disana. Ia kembali duduk di kursi sebelah ranjang Luhan dan menatap Luhan yang tertidur dengan damai.

Terimakasih karena sudah bangun, Lu.

Ia mengamati Luhan begitu lama hingga tak terasa sudah sejam terlewatkan. Kemudian, Sehun hendak bangkit untuk mengambil minum, tetapi tangannya dicegah oleh tangan mungil milik Luhan

"Se-hun.."

"Ya, Lu, apa kau butuh sesuatu?" Tanya Sehun sambil membalas genggaman Luhan. Luhan pun menggeleng.

"Kau tidurlah lagi, ini sudah malam." Luhan menggeleng, kemudian ia mengisyaratkan Sehun untuk mendekat. Sehun memajukan tubuhnya sehingga ia berjarak sangat dekat dengan Luhan. Sebelah tangan Luhan menarik leher Sehun untuk mendekat dan memeluk Sehun dalam gerakan lambat.

"Te-ri-ma-kasih." Ucap Luhan dengan tulus. Sehun hanya bisa tersenyum dan membalas pelukan Luhan.

"Tak apa, nona Kim. Aku senang bisa melakukannya untuk 'kekasihku'." Canda Sehun. Luhan terlihat terkekeh pelan. Mereka berpelukan dalam waktu yang cukup lama. Menyelami kenyamanan masing-masing. Hingga Sehun melonggarkan sedikit pelukannya untuk menatap Luhan tanpa melepas rangkulannya pada wanita itu.

"Sssh, kau terlihat sangat kurus sekarang. Setelah ini, kau harus makan banyak"

Luhan hanya mengangguk.

" Setelah ini, pergi dan pulang kantor hanya aku yang boleh mengantarmu."

Luhan mengangguk lagi.

"yang terakhir. Aku tidak ingin penolakan."

Lagi, Luhan mengangguk disertai dengan senyuman nya yang masih lemah itu. Sehun terlihat gemas kemudian mencubit hidungnya pelan.

"Aku sangat mengkhawatirkanmu tahu."

"a-ku ta-hu kok." Jawab Luhan pelan.

Sehun pun tersenyum mendengarnya. Ia memejamkan matanya dan merasakan hembusan anfas Luhan menerpa wajahnya. Sehun merasa tenang karena Luhan 'nya' sudah kembali.
"Terimakasih karena sudah kembali untukku,Lu." Sehun mengatakan itu tanpa sengaja. Ia tidak bisa mengendalikan rasa senangnya karena Luhan sudah pulih. Luhan tak bisa merespon berlebihan karena tenaganya belum pulih benar.

Memang selama 9 hari ini Luhan tidak sadar. Tetapi ia bisa mendengar dan merasakan setiap orang yang berada disekitarnya. Ia berusaha untuk bangun, tetapi badannya seperti tidak mengijinkannya untuk bangun. ia mendengar setiap tangisan Baekhyun, perkataan penenang Chanyeol. Termasuk ocehan Sehun disetiap malam tentang dirinya yang seperti ini dan seperti itu. Ia juga bisa merasakan kecupan ringan Sehun di dahinya setiap malam. Luhan merasa nyaman dengan itu. Dan kehadiran Sehun yang menjadi salah satu keinginan kuat Luhan untuk bangun.

"Lu, kumohon bangunlah. Aku mencintaimu." Perkataan Sehun inilah yang selalu terulang-ulang seperti kaset rusak didalam pikiran Luhan. Ia ingin menanyakan ini pada Sehun, hanya ia belum bisa mengatakannya sekarang karena masih belum kuat untuk berbicara banyak.

" Beristirahatlah Lu kau masih belum boleh banyak bergerak." Sehun hendak bangkit tetapi Luhan menarik tangannya lagi. "apa ada sesuatu lagi?"

Luhan menunjuk keningnya. Sehun terlihat bingung. Ia pun meraba kening Luhan. "Kau tidak demam kok."

Luhan menghela nafasnya dan menggeleng. Ia menunjuk dahinya kemudian menunjuk kearah bibir Sehun. Sehun menelaah maksud dari isyarat Luhan kemudian matanya membola seketika.

"Lu, kau-?" Sehun menganga tak percaya

"A-ku kan bi-sa mera-sakan-nya." Luhan kemudian tersenyum.

Sehun yang semula terlihat malu, perlahan menampilkan senyum menawannya. "Kau tidak keberatan?"

"Ti-dak kok." Geleng Luhan pelan. "Aku ti-dak akan ma-rah ka-li ini."

Sehun terkekeh kemudian ia mengusap punggung tangan Luhan. " Tidurlah, Lu." Sehun mendekat dan Luhan mulai memejamkan matanya. Sehun tersenyum geli melihatnya, kemudian ia dengan segera mengecup kening Luhan untuk beberapa detik. Mereka berdua merasakan kenyamanan dalam diri masing-masing.

TBC

Hey, hey readersnim. Maafin karena sudah 3 minggu menghilang tanpa berita.. ff ini sengaja dibikin alurnya cepet hehe. Soalnya buat masuk ke konflik di next chap hehehe. Jadi tenang aja ya readersnim. Luhan gak apa2 kok. Sengaja juga aku taruh Sehun lovey dovey duls sama Luhan. Soalnya nanti bakalan banyak ranjau di chap-chap berikutnya. Sehun dan Luhan jadian? Eumm kapan ya kira-kira? Biarkanlah mereka menikmati masa-masa seperti inilah dulu.

Happy reading^^ and thanks buat yang udah review

And.

HAPPY 5th ANNIVERSARY EXO!