Marriage Not Dating Part 10
.
.
.
Cast:
Jung Yunho, Kim Jaejoong
.
Genre:
Comedy, Romance
.
Warning:
Remake/Saduran dari drama Korea dengan judul yang sama.. Yaoi/BL..
Disarankan untuk membaca secara perlahan.. kkkk.
don't like don't read..
.
.
** Happy Reading **
.
.
.
Yunho dan Ahra terlihat sedang berenang bersama. mereka terlihat sedang berlomba. Ahra memimpin di depan Yunho.
"Kau terlihat lebih cepat sekarang". Ucap Yunho sesaat setelah mereka mencapai pinggiran kolam renang.
"Aku tidak mau pria mengalahkanku". Sahut Ahra dengan nafas tersengal sehabis berenang.
Ahra kemudian duduk di pinggiran kolam renang, kemudian disusul oleh Yunho.
"Ini kencan untuk 100 juta won itu, jadi aku mau melakukannya". Kata Yunho sesaat setelah melihat ke arah meja di pinggiran kolam yang penuh akan hidangan mewah.
"Tapi kau tidak menikmati semua ini". Ucap Ahra sambil berdiri untuk mengambil bathrobenya.
Mereka berdua kini mulai makan menu yang sudah dihidangkan, sepotong steak dan wine pilihan.
"Sangat bagus dan tenang di sini. Kupikir, seleramu telah berubah ke orang yang berisik dan kasar". Ucap Ahra menghilangkan keheningan yang sedari tadi mereka buat.
"Maksudmu Kim Jaejoong?" tanya Yunho enteng.
"Jalan denganku saja bila kau bosan. Tidak usah menipu Ibumu". Lanjut Ahra percaya diri.
Yunho langsung meletakkan pisau dan garpunya kemudian meneguk winenya. "Siapa yang bilang aku menipu dia?". Tanyanya kemudian.
"Kita sudah saling setuju 3 tahun lalu, saat kita membatalkan pernikahan kita. Kita sangat buruk dalam membangun hubungan yang serius. Tapi, kita harus menjalani hidup kita sendiri. Bukannya merusak kehidupan orang lain. Hmmm?" ahra mencoba menasehati Yunho dan Yunho hanya memasang muka datarnya.
"Ayo pergi". Ajak Yunho. Dia tidak mau mendengar ocehan Ahra lebih lama lagi.
"Waktunya Cinderella pulang? Tepat sekali waktunya". Ahra hanya bisa pasrah saat Yunho mengajaknya pulang.
Yunho kemudian berdiri terlebih dahulu namun langkahnya terhenti saat Ahra mengatakan ingin mein ke rumahnya.
Yunho hanya diam seperti memikirkan sesuatu.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan melakukan itu. Kau kan suka di rumah sendirian". Lanjut Ahra saat melihat keterdiaman Yunho.
.
.
Jaejoong terlihat sedikit mabuk saat berjalan menuju rumahnya. Setibanya di rumah, dia menari-nari tidak jelas. Rumahnya juga terlihat gelap, sepertinya orangtuanya tidak ada di rumah.
Saat melihat di dalam rumahnya sepi dan gelap, raut wajahnya kemudian berubah sedih. "Aku tidak ingin di rumah sendirian".
Jaejoong menolehkan kepalanya saat mendengar seorang bocah kecil menangis, ternyata dia melihat bayangannya saat masih kecil. Jaejoong kecil menangis sambil memeluk boneka beruangnya. Jaejoong kecil terus saja menangis dan memanggil-manggil Ibu dan Ayahnya.
Karena tidak ingin kembali teringat akan masa lalunya, Jaejoong pergi keluar dari rumahnya.
.
Di lain tempat, yunho terlihat sedang tiduran di kamarnya. Menikmati waktunya seorang diri. Dia merasa sangat nyaman dan tenang apabila sendirian.
"Kenapa kau sangat menyukai rumah itu? Kau menyembunyikan sesuatu di sana?" Yunho teringat perkataan Ahra beberapa tahun yang lalu. Mengapa dia begitu menyukai apartement Ibunya itu.
Yunho kembali terbayang saat dirinya masih kecil. Dia sedang tiduran sambil memegang mobil-mobilan miliknya. Dia tertidur dengan senyum yang mengembang.
Kesenangan Yunho saat menikmati waktu sendiri di rumah akhirnya terganggu oleh suara bel apartementnya.
"Hah.. Eommoni". Yunho membuang nafas kasar dan sedikit mengutuk Ibunya yang datang bertamu tengah malam.
Yunho berjaan malas untuk membukakan pintu, namun dirinya kaget saat melihat siapa yang datang.
"Apa ini?" teriak Yunho.
"Aku bawakan ramen. Kau kan tidak punya makanan". Ucap Jaejoong lantang sambil menyelonong masuk ke dalam paartement Yunho.
"Katanya kau tidak pernah mau datang ke sini lagi. Tapi apa ini?" geram Yunho sambil mencengkeram tangan mungil Jaejoong.
"Setiap orang pasti punya hari, dimana mereka tidak ingin sendirian". Jelas Jaejoong setengah mabuk.
"Tapi bukan aku". Lanjut Yunho.
"Aku tahu. Kau bahkan tidak mau Ibumu datang ke sini. Kau sangat kasar sekali!". ucap Jaejoong sambil mendekat ke arah wajah Yunhi.
Yunho hanya menutup matanya dan kemudian langsung menutup hidungnya saat mencium bau alkohol dari mulut Jaejoong.
Tanpa malu Jaejoong langsung ke arah dapur dan mencari panci untuk membuat ramen. Jaejoong membuka rak-rak penyimpan perkakas dapur dengan acak.
"Maafkan aku. Tapi tolong pergilah sekarang". Ucap Yunho kepada Jaejoong yang sibuk mempersiapkan ramen.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku saaaaangat mabuk".
Yunho menghampiri Jaejoong, mematikan air kran dan membuang air di dalam panci yang tadinya akan digunakan Jaejoong membuat ramen.
"Aku akan memanggilkan taksi" lanjut Yunho.
Jaejoong hanya diam kemudian berbalik dan melihat akuarium Yunho. Dia tertawa dan kemudian mendekat ke arah ikan-ikan Yunho.
"Jika kau tidak mau membuatkan ramen, buatkan saja aku sup ikan dengan cabai pedas". Ucap Jaejoong sambil menempelkan pipinya di kaca akuarium. Tangannya kemudian mencoba menangkap ikan yang ada di dalam akuarium. "Nemo~ua". Lanjut Jaejoong.
Yunho yang tadinya ingin menelpon taksi untuk Jaejoong akhirnya mencoba berlari ke arah Jaejoong. "Apa yang kau lakukan?" marah Yunho.
Jaejoong terus berusaha menangkap ikan yang bernama Nemo itu. Yunho mencoba dengan sekuat tenaga menjauhkan Jaejoong dari ajuarium kesayangannya.
"Kau sudah gila ya?" teriak Yunho.
Yunho akhirnya menangkap tangan Jaejoong yang berada di dalam akuarium kemudian menariknya keluar. Namun, seekor ikan berwarna orange putih itu ikut keluar dan jatuh di lantai.
"Nemo!ya". teriak Yunho saat kaget melihat ikan kesayangannya keluar dari air.
"Ini benar-benar Nemo". Teriak Jaejoong sambil tersenyum.
"Pergi kau!" teriak Yunho dengan kesal di hadapan Jaejoong setelah dia menyelamatkan ikan kesayangannya.
Jaejoong terjatuh karena kaget dengan teriakan Yunho yang sangat keras. Jaejoong jatuh terduduk. "Kasar sekali. perutku kosong, tapi aku Cuma minum soju". Ucap Jaejoong merengek seperti anak keecil kemudian menangis. Dan itu membuat Yunho semakin frustasi.
"Aku tidak memintanya begini". Kesal Yunho
Karena tidak tahan dengan rengekan Jaejoong, Yunho akhirnya mau membuatkan ramen.
Yunho mengukur takaran air yang diperlukan untuk membuat ramen sesuai dengan petunjuk cara membuat ramen. Kemudian memasukkannya ke dalam panci. Memasukkan bumbu dan kemudian mie ramennya. Tidak lupa Yunho menggunakan timer selama 4 menit untuk pemberitahuan bahwa mie ramen sudah matang.
Jaejoong membuka kimchi yang ada di meja makan Yunho, kimchi yang tadi diantarkan oleh Ibu Yunho.
"Kenapa dia membawakan sepatuku? Kenapa dia mengajakku makan bersama? kenapa dia bilang akan menelpon? Sungguh gila". Ucap Jaejoong sebal saat memikirkan Changmin.
"Kau benar-benar ingin tahu? Ma kuberitahu?" tanya Yunho kepada Jaejoong. Kemudian Yunho melemparkan sebuah buku bersampul pink kepada Jaejoong.
"Dia Hanya Mau Memanfaatkanmu" judul buku yang diberikan Yunho.
Jaejoong terlihat kesal saat membaca judul buku itu. Kemudian ia berdiri dan menghampiri Yunho yang berdiri di depan kompor.
Jaejoong kemudian mematikan kompornya dan segera membawa ramennya.
"Mienya belum siap. Kurang 2 menit lagi". Ucap Yunho.
"Hidup tidak usah harus teratur" Jaejoong membawa panci ramen dan meletakkannya di atas buku pink milik Yunho tadi.
"Cobalah pahami maksud dia. Jangan gegabah dulu". Yuno mencoba menasehati. Kemudian duduk di depan Jaejoong.
"Teori dan praktek berbeda". Jawab Jaejoong.
"Lihat cara bicaramu" gerutu Yunho sambil mengambil panci ramennya dan meletakkan di tengah meja.
"Kenapa kau sangat tidak ingin menikah?" tanya Jaejoong sambil mengambil sesumpit ramen.
"Aku tidak ingin merusak hidupku dengan hidup bersama namja sepertimu" jawab Yunho sarkastik.
"Ahra bukan hanya sekedar temanmu kan? Aku dengar kalian berdua pernah berpacaran. Tapi apa yang terjadi?" tanya Jaejoong lagi.
"Kami memang sangat saling mengenal dan sangat peduli satu sama lain". Jawab Yunho.
"Itu sempurna". Sahut Jaejoong.
"Ya, tapi kami tidak ingin menyia-nyiakan untuk menikah".
"Dasar, orang pintar selalu saja merumitkan sesuatu". Ucap Jaejoong kemudian memakan mie ramennya langsung dari panci.
"Kau ini jorok sekali. taruh di mangkok". cibir Yunho.
"Hm.. kimchi Ibumu sangat mengagumkan". Ucap Jaejoong setelah mencoba kimchi buatan Ms. Jung.
"Ambil saja. Lagian aku akan membuangnya nanti".
Jaejoong kembali akan memakan ramen langsung dari panci dan itu membuat Yunho mendorong dahi Jaejoong agar menjauh dari panci ramen.
"Apa?" tanya Jaejoong kesal saat Yunho mendorong dahinya.
"Jangan melewati batas. Itu masalahmu. Emosimu adalah milikmu. Emosiku adalah milikku. Kau tidak usah sampai terlalu baik karena mereka berbeda. Jaga emosimu sendiri. Tetaplah tenang.". Ucap Yunho sambil memberikan mangkok kepada Jaejoong.
"Tapi aku.. percaya padanya".
"Tidak, kau begitu karena kau ingin mempercayainya. Kau seharusnya melihatnya sendiri. Foto SNS Changmin semuanya makanan. Tapi, dia tidak bisa memakan itu semua sendirian". Ucap Yunho menjelaskan. Kemudian Yunho melihat ponsel Jaejoong yang ketinggalan jaman dan kemudian mencibir Jaejoong "Belilah smartphone, agar kau bisa mendapatkan cinta".
"Smartphone malah membuat orang kesepian. Itu, kesendirian dari manusia modern". Balas Jaejoong tidak mau kalah.
"Kau perlu kesendirian. Kau baru saja dicampakkan, dan kau.. " Yunho tidak melanjutkan kata-katanya tapi langsung memakan ramen yang ada di mangkuknya. "Berhenti terobsesi padanya. Cobalah nikmati waktu lajangmu ini!" kesal Yunho sambil meletakkan sumpitnya.
"Kau suka sekali sendirian, nanti kau bisa mati kesepian". Ejek Jaejoong.
"Siapa yang peduli?" tanya Yunho.
"Komunikasi itu kunci bagi setiap manusia".
"Kau itu pengguna ponsel bodoh yang keras kepala. Komunikasi?". Lanjut Yunho tidak kalah. Namun perdebatan mereka harus terhenti karena ponsel milik Jaejoong berdering.
"Tapi, aku tetap bisa berkomunikasi dengan baik menggunakan ponsel ini". Ejek Jaejoong lagi. "Yeoboseyo". Ucap Jaejoong menjawab teleponnya.
"Shim Changmin?" kata Jaejoong pelan. Yunho kemudian melihat ke arah Jaejoong.
"Kau ingin bertemu denganku sekarang?" lanjut Jaejoong.
"Nikmati waktu sendirimu!" ucap Yunho keras agar Jaejoong mendengarnya, atau bahkan Changmin yang di line seberang juga.
"Kau bersama seseorang? Sepertinya seorang pria?" tanya Changmin saat mendengar suara Yunho.
"Ah tidak. Itu suara TV". Jawab Jaejoong menjelaskan. Jaejong menyuruh Yunho untuk diam.
"Kau menganggapku produk elektronik?" teriak Yunho marah,
"Ah tidak, aku sendirian". Jawab Jaejoong kemudian pergi meninggalkan ruang makan.
Yunho terlihat kesal saat Jaejoong pergi. "Ramennya sudah dingin!" teriak Yunho dengan lantang.
.
Jaejoong akhirnya masuk ke dalam kamar mandi yang berada tidak jauh dari ruang makan.
"Kau penasaran dengan siapa aku tadi? Dia kaya dan baik." tanya Changmin.
"Kaya dan baik?" tanya Jaejoong balik.
"Dia yang memberiku 50 juta won untuk digunakan sebagai amal". Jawab Changmin menjelaskan.
"Ah, kencan pesta amal itu". Jawab Jaejoong senang karena seseorang yang dilihatnya tadi bukanlah pacar Changmin. "Ya aku akan segera kesana".
Jaejoong menutup teleponnya kemudian beranjak keluar dari dalam kamar mandi. Namun pintu kamar mandi tidak bisa dibuka.
"Hei, Jung Yunho~ssi. Pintunya tidak mau terbuka". Teriak Jaejoong sambil mengetukkan tangannya ke pintu.
"Luangkan waktumu untuk sendirian". Jawab Yunho dari depan pintu kamar mandi.
"Kau mengunciku?" tanya Jaejoong kaget.
"Siapa yang bilang kau hanya bisa bahagia bersama pasangan jika kau bisa bahagia sendiri". Ucap Yunho.
"Buka pintunya". Ucap Jaejoong memohon.
"Aku serius. Dengarkan aku, ini masalah hidup atau mati seseorang. Bergantung kau baik padanya atau tidak".
"Haish, hentikan omong kosongmu! Buka pintunya!" marah Jaejoong.
"Jika kau merasa tidak mengerti, maka turuti saja" Yunho dan Jaejoong terlibat aksi menarik pintu. Jaejoong berusaha membuka pintu dan Yunho berusaha menutup pintu agar Jaejoong tidak bisa keluar.
"Kau tidak kenal dia" teriak Jaejoong.
"Dia tidak akan menyukaimu jika kau terus menuruti permintaannya". Ucap Yunho.
"Buka".
"Dengarkan saja aku!" lanjut Yunho.
Mereka berdua tidak ada yang mau mengalah. Jaejoong berusaha sekuat tenaga agar pintunya dapat terbuka. Dan akhirnya, kenop pintu kamar mandi Yunho rusak dan membuat pintu itu terbuka.
Jaejoong terjatuh karena menarik pintu terlalu kuat. Saat pintu terbuka dia berdiri dan memaki Yunho.
"Bagaimana kalau suka?" tanya Jaejoong kesal. "Memangnya kau bisa menemukan seseorang yang suka padamu kalau kau terus di rumah setiap hari?"
"Maksudku..."
"Sendirilah saja sendiri jika kau maunya begitu. Aku tidak mau sendirian!" teriak Jaejoong kemudian berlalu dari hadapan Yunho.
Jaejoong pergi ke meja makan untuk mengambil tasnya dan tidak lupa membawa kimchi yang dibuat oleh Ms. Jung,'
"Kau bilang aku bisa mengambilnya". Yunho hanya melihat Jaejoong datar. "Aku mengambil ini, jadi kau tidak usah membuangnya".
.
.
.
Jaejoong menemui Changmin di taman. Changmin terlihat mengambil sesuatu dari dalam paperbag yang dibawanya dan ternyata itu adalah sebuah makanan.
"Kau yang membuat ini sendiri?" tanya Jaejoong.
"Aku mencoba memasaknya". Jawab Changmin senang.
"foto SNS Changmin semuanya makanan. Tapi, dia tidak akan bisa makan itu semua sendirian". Jaejoong teringat ucapa Yunho tadi mengenai Changmin.
"Kau suka memasak ya? Itu sebabnya.." jaejoong berkata sambil tersenyum tipis.
.
.
Yunho terlihat sedang melanjutkan sesi makan ramennya. Namun Yunho sedikit kesal karena ulah Jaejoong. "Dia datang dan pergi ke sini semaunya saja. Selalu saja membuang waktuku!" gumam Yunhosebal.
.
.
Jaejoong mencoba memakan makanan yang dibawa Changmin.
"Hmm. Sangat enak". Ucap Jaejoong memuji. "Ah, aku juga punya sesuatu untukmu"
"Kimchi?" tanya Changmin ragu. "Aku tidak suka kimchi". Lanjut Changmin.
"Cobalah. Ini kimchi buatan rumah".
Jaejoong kemudian memakan makanan yang dibuat Changmin, setelah itu memakan kimchi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Changmin saat melihat Jaejoong mencampurkan makanan yang dibuatnya dengan kimchi.
"Enak sekali dimakan bersamaan. Kombinasi yang sempurna". Ucap Jaejoong senang. "Cobalah, Ahhh".
Jaejoong mencoba menyuapi Changmin, namun Changmin tidak mau. Beberapa kali mencoba akhirnya Changmin mau juga.
"enak kan?" tanya Jaejoong.
Changmin hanya mengiyakan, karena memang rasanya sangat enak.
"Kau ingin jadi teman makanku? Kau selalu saja makan di dapur itu. Makan di luar itu penting. Jadi ayo makan bersama, saat kau tidak ingin makan sendirian. Bagaimana?" tanya Jaejoong.
"Tentu". Jawab Changmin tanpa ragu.
"Ya, aku akan meluangkan waktuku. Aku tidak perlu terburu-buru". Ucap Jaejoong dalam hati.
.
.
.
-HARI INSIDEN—
.
.
"Dia pegawai di Departemen Store?" tanya Jihye saat melihat foto-foto Jaejoong saat bekerja.
"Apa yang dia pikirkan?" tanya Ms. Jung penasaran.
"Ternyata Yunho tertarik kepada seseorang yang tidak seperti Ibunya". Sahut Halmonie Jung. "Aku akhirnya memahaminya".
"Mengamankan, menguntit, menyadap, keluarga macam apakah kita ini? Aku diam saja selama ini, demi keluarga kita tetap damai. Tapi, dia pasti tidak bisa menahannya lagi. Itu sebabnya Yunho ingin dirinya hidup sendiri". Ucap halmonie Jung sedikit kesal.
"Aish Ibu". Interupsi Jihye agar ibunya tidak kembali berbicara yang nantinya membuat Ms. Jung sedikit tidak enak hati.
"Ibu benar. Ini semua salahku. Ibu, jika kau mau membantuku, pasti aku akan sangat terbantu". Ucap Ms. Jung.
"Membantumu?"
"Cari tahu apa yang dia pikirkan. Dia pasti akan terbuka padamu".
"Ah ya, dia selalu begitu padaku. Baiklah". Halmonie Jung sangat senang diminta bantuan seperti itu. Dia akan bertemu dengan Jaejoong.
.
.
Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tidak jauh dari restoran Italia milik Yoochun. Halmonie Jung turun dari dalam mobil tersebut.
"Oh, Yunho. Ini nenek, bisakah kita bertemu sekarang?" tanya Halmonie Jung lewat ponselnya sesaat setelah turun dari mobilnya.
"Tidak bisa sekarang Nenek" jawab Yunho tegas.
"Aish, tenang saja, aku ada di pihakmu. Dengarkan saja.." ucap Halmonie Jung merayu Yunho agar mau bertemu dengannya.
"Sampai nanti" tanpa menunggu lama, Yunho langsung mematikan sambungan teleponnya. Halmonie Jung hanya bisa menghela nafas pasrah dengan tingkah cucunya.
Tiba-tiba, cuaca berubah dan mulai turun hujan, Halmonie Jung langsung berlari untuk menyelamatkan diri dari derasnya hujan.
.
.
Di lain tempat, setelah mematikan sambungan telepon dari sang nenek, Yunho hanya bisa menghela nafas mencoba menenangkan dirinya.
Setelah merasa sudah sedikit tenang, Yunho membalikkan kursi putarnya untuk menyambut kedatangan tamu yang sedari tadi duduk di depan meja kerjanya.
"Aku sungguh minta maaf, kau sepertinya sedang sibuk". Ucap sang wanita paruh baya dengan nada kalem.
"Ah tidak apa-apa. Kenapa Ibu kesini?" tanya Yunho dengan senyumnya kepada sang wanita yang ternyata adalah Ibu Kim Jaejoong.
"Aku Cuma ingin tahu saja. Sepertinya klinikmu berjalan dengan lancar, Oh maksudku, kau pasti punya banyak pasien. Kau pasti punya daftar janji dengan banyak pasien kan?" tanya Ms. Kim masih dengan senyum bahagianya.
"Oh, ya". Jawab Yunho sekenanya.
"Kulitmu terlihat kasar, dan matamu bengkak". Ucap Ms. Kim setelah memperhatikan wajah Yunho.
"Ah, semalam aku memakan ramen". Jawab Yunho jujur sambil mengusap-usap pipinya.
"Bukannya menangis sampai tertidur?" sindir Ms. Kim dan itu membuat Yunho bingung. "Karena Jaejoong membuatmu menderita". Lanjut Ms. Kim.
Yunho hanya bisa merespon dengan tawa hambarnya. "Ya, aku begini karena dia" tambah Yunho mendramatisir.
"Aku akan buat dia berubah pikiran nanti. Jangan khawatir, oke?" ucap Ms. Kim menenangkan.
Yunho hanya mengangguk mengerti dan menuruti semua apa yang dikatakan Ms. Kim.
"Kulit seorang ahli bedah plastik seharusnya lebih mulus". Ucap Ms. Kim sambil membelai pipi Yunho. "Usahakan jangan makan ramen lagi". Lanjut Ms. Kim sambil memegang tangan Yunho.
"Akan ku usahakan". Jawab Yunho sambil tersenyum manis.
.
.
Yunho kemudian menjauh dari Ibu Jaejoong sambil membawa ponselnya. Dia ingin menelpon seseorang. Sedangkan Ms. Kim masih duduk manis di depan meja kerja Yunho sambil sesekali merapikan penampilannya.
"Kau tidak memberitahu Ibumu?" tanya Yunho sedikit memelankan suaranya.
"Aku punya alasan tersendiri". Jawab seseorang dari line seberang.
"Apa alasannya? Ibumu ada di klinikku sekarang. Dia kesini mau mengunjungiku". Ucap Yunho sedikit kesal.
"Aku akan beritahu nanti. Aku juga ada tamu disini" jaawab Jaejoong berbisik.
.
.
Jaejoong menutup teleponnya dan menghampiri sang tamu yang ternyata adalah Nenek Yunho. Halmonie Jung terlihat sangat basah kuyup akibat kehujanan.
"Wah, bagaimana ini. Nanti Nenek bisa masuk angin". Ucap Jaejoong sambil mengeringkan rambut Halmonie Jung dengan handuk yang baru saja diberikan oleh Junsu.
"Bisa kau luangkan waktumu untukku?" tanya Halmonie Jung sambil menggenggam tangan Jaejoong.
"Sekarang?" tanya Jaejoong sesekali melirik ke arah Junsu.
"Kau bilang, kau mau buatkan pancake untukku. Kau harus tepati janjimu". Ucap Halmonie Jung sedikit memaksa.
.
.
Dan disinilah sekarang, Halmonie Jung membawa Jaejoong ke apartement Yunho.
"Dia tidak ada di rumah. Apa tidak apa nanti?" tanya Jaejoong karena Halmonie Jung membawanya ke tempat Yunho.
"Tidak apa. Kita buka saja". Jawab Halmonie Jung santai. "Aku tahu kau sering mengunjungi dia disini". Lanjutnya.
"Tapi aku tidak tahu kode akses untuk membuka pintunya". Ucap Jaejoong gugup.
"Ah jadi kalian belum terlalu dekat. Dia dulu selalu menempel padaku, seperti permen karet. Pasti kodenya tanggal ulang tahunku". Jelas Halmonie Jung penuh percaya diri.
Halmoni Jung kemudian menekan tanggal ulang tahunnya. Mencoba membuka pintu apartemen Yunho.
"Silahkan coba lagi"
"Ah, pasti 4 digit terakhir nomorku". Kata Halmonie Jung sesaat suara seorang wanita memberitahukan bahwa kode akses yang dimasukkan salah.
"Silahkan coba lagi" kembali percobaan kedua Halmonie Jung gagal.
"Dia sangat mencintai dirinya sendiri. Coba tanggal ulang tahunnya". Ucap Jaejoong memberikan pendapatnya.
"Tidak mungkin. Tapi ayo kita coba". Seru Halmoni Jung.
"Pintu telah dibuka" dan ternyata benar, Yunho memang benar-benar mencintai dirinya senediri.
Jaejoong dan Halmonie Jung akhirnya bisa masuk ke dalam apartement Yunho.
.
.
Jaejoong tengah sibuk memasakkan pancake untuk Halmonie Jung, sedangkan halmonie Jung hanya duduk diam melihat bagaimana Jaejoong memasak pancake.
Jaejoong melakukan beberapa gerakan aneh, merenggangkan otot-otot di tangannya, setelah dirasanya cukup, dia mulai memegang pegangan teflon. Kemudian mengangkatnya dan mencoba membalik pancake dengan cara melemparkan adonan pancake ke atas dengan keras.
Halmonie Jung hanya melihatnya dengan takjub, melihat bagaimana lihainya Jaejoong memasakkan pancake untuknya.
.
.
"Kau tidak bertemu Nenek?" Tanya sang bibi lewat sambungan telepon.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Yunho bingung.
"Dia tadi di antar supir untuk bertemu denganmu. Tapi aku belum dengar kabar darinya. Dia juga tidak mengangkat ponselnya". Ucap sang Bibi menjelaskan.
.
.
.
Sepertinya keluarha Halmonie Jung benar-benar mencarinya, namun yang di cari sedang bernyanyi-nyanyi tidak jelas bersama Jaejoong. Mereka berdua terlihat sedang makan pancake dan meminum anggur beras.
Jaejoong maupun Halmonie Jung terlihat sedikit mabuk saat ini.
"Bagaimana menurutmu tentang Yunho?" tanya Halmonie Jung penasaran.
"Ehm.. dia pria yang kasar dan egois!" jawab Jaejoong semangat dan itu membuat Halmonie Jung sedikit kaget dengan jawaban Jaejoong.
"Ah, maafkan aku". Lanjut Jaejoong.
" Dia memang terlihat cuek. Tapi, dia itu penuh kasih sayang dan cinta". Jelas Halmoni Jung. Jaejoong hanya mendengarkan Nenek Yunho itu. Tidak berani melawan semua ucapan Halmonie Jung.
"Dia itu, butuk seseorang yang ceplas ceplos seperti dirimu. Jadi, jaga dia ya". Lanjut Halmonie Jung.
"Tapi, dia itu lebih suka menyendiri". Ucap Jaejoong pelan.
"Aku tahu itu. Dia orangnya tidak pedulian. Pada keluarganya juga begitu". Ucap Halmonie Jung sedih.
"Bukan itu maksudnya. Sebenarnya..."
"Ini semua salahku". Sahut Halmonie Jung. "Alasan kenapa dia pergi dari rumah. Kenapa dia ingin hidup sendiri. Itu semua salahku". Lanjut Halmonie Jung sambil menangis sedih.
"Aku merasa sangat bersalah. Sampai aku tidak bisa tidur nyenyak. Walaupun aku tertidur, pasti akan mimpi buruk. Kau harusnya mati saja, kalau sudah tua begini". Cerocos Halmonie Jung semakin tidak jelas. Jaejoong hanya bisa memegang tangan Halmonie Jung untuk menenangkannya.
"Jangan bilang begitu" ucap Jaejoong sedih.
Halmonie Jung kemudian menegak minumannya lagi. "Seharusnya aku mati saja. Tentu saja aku harus mati".
Setelah mengatakan kalimat itu, Halmonie Jung mendadak kehilangan kesadarannya. Kepalanya membentur meja dan itu membuat Jaejoong menjadi panik.
"Halmonie. Oh, tidak". Teriak Jaejoong histeris.
"Halmonie, kau baik-baik saja?" jaejoong mencoba menyadarkan Halmonie Jung dengan cara menggoyang-goyangkan tubuh Halmonie Jung. Namun Halmonie Jung tidak mau bangun.
Jaejoong kemudian mencari ponselnya, mencoba tenang kemudian mencoba menelpon Yunho.
"Bicaranya nanti saja" jawab Yunho cepat.
"Cepat ke rumah sekarang". Teriak Jaejoong panik.
"Berhenti memerintahku. Kenapa aku harus ke rumahmu?". Kesal Yunho.
"Bukan rumahku, tapi rumahmu!" panik Jaejoong.
"Apa yang kau lakukan disana?" tanya Yunho.
"Nenekmu pingsan".
Yunho langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
.
.
Yunho akhirnya tiba di rumahnya bersamaan dengan beberapa petugas medis yang datang untuk membantu Nenek Yunho.
"Maafkan aku, ini semua salahku". Ucap Jaejoong kepada Yunho.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Yunho marah kepada Jaejoong sesaat setelah melihat pancake dan berbotol-botol anggur beras di meja ruang tamu.
"Nenek datang ke Departement Store, dengan badan yang basah kuyup. Aku tidak bisa mengantarnya pulang ke rumah. Jadi, aku membuatnya hangat. Dan aku juga janji akan memasakkan pancake untuknya". Jelas Jaejoong panjang lebar.
"Tidak apa. Pulanglah". Ucap Yunho datar kemudian pergi meninggalkan Jaejoong untuk menyusul sang Nenek.
.
.
.
.
.TBC.
.
.
Gamsahamnida..
Terimakasih buat yang sudah mau review, follow, maupun favorite..
Akhirnya bisa posting juga. Maaf update lama. Semoga chap ini tidak mengecewakan..
Sekali lagi, Thank's..
.
.
^,^ Phicha Gyuzizi ^,^
