NIGHT PLEASURES

.

.

.

Novel karangan Sherrilyn Kenyon. Disini saya hanya meREMAKE, saya sedikit merubah tempat,nama dan ada yang kurangi maupun ditambah untuk keperluan cerita. Ini series dari Dark Hunter, ini buku ke2 yang pertama berjudul Fantasy Lover. Fantasi Lover sudah ada yang ngeremake dengan cast KyuMin setau saya dan katanya lagi ada yg versi HaeHyuk YAOI

Cast : Donghae, Eunhyuk, Dan Yang Lain

GS!

TYPO, Banyak Kekurangan, DLL, DLDR!

.

.

.

Bab 7

Happy reading

.

.

"oh tidak. Kau sangat keliru. Aku menginginkan hidupku kembali. Aku menginginkan hidup yang membosankan dan aku menginginkan hidup yang panjang." Kata eunhyuk.

Semangat eunhyuk membuat donghae geli saat wanita itu menekankan kata yang terakhir. Eunhyuk luar biasa kalau sedang gusar, dan donghae bertanya-tanya sampai berapa lama ia bisa mempertahankan warna di pipinya. Bibir donghae sudah gatal ingin mencium eunhyuk, tangannya sudah nyeri ingin menyentuh tubuh eunhyuk sampai wanita itu menjerit penuh kenikmatan. Demi para dewa, wanita ini menggodanya seolah ia belum pernah di goda sebelumnya dan ia pernah menyukai godaan dengan cara yang tidak bisa di jelaskan kata-kata.

Sedikit demi sedikit donghae bisa merasakan eunhyuk meruntuhkan penghalang yang sudah ia bangun di sekelilingnya, kebebasan. Ia sudah menjauhkan diri dari perasaan-perasaannya selama berabad-abad dan walaupun ada makhluk fana yang mempedulikannya selama itu, belum pernah ada yang menyentuhnya sebagaimana eunhyuk menyentuhnya.

Rasanya sangat aneh.

Mengapa sekarang? Sekarang di saat ia membutuhkan pikiran yang jernh untuk menghadapi desiderius. Para dewi takdir kembali mempermainkannya dan ia sama sekali tidak menyukainya.

Tapi eunhyuk manusia dan ia tidak bisa menawarkan apa-apa kepada wanita itu selain dirinya sendiri. Jiwa dan loyalitasnya sudah menjadi milik artemis. Lagi pula, eunhyuk berhak mewujudkan impian tentang hidup yang normal. Impian akan rumah dan keluarga dengan seorang pria biasa. Donghae tidak mau merenggut impian eunhyuk, ia tidak mau eunhyuk seperti dirinya.

Eunhyuk layak untuk menjalani hidup yang panjang, dan membosankan. Setiap orang berhak mendapat kesempatan untuk mewujudkan impian-impian mereka. Donghae menelan ludah, eunhyuk tidak akan pernah bisa menjadi miliknya. Takdir eunhyuk adalah kembali kesebuah keluarga yang menyayanginya dan menemukan seorang pria fana yang bisa...

Donghae tidak menyelesaikan pemikiran itu, memikirkannya saja sudah terlalu menyakitkan.

"demi kebaikanmu. Kuharap itu benar, tapi kurasa karena kekuatan terpendammu dan karena perburuan vampir yang dilakukan oleh ryeowook, kau tidak bisa menjalani hidup yang membosankanmu selama beberapa hari kedepan."

"aku tidak punya kekuatan apa-apa."

Donghae mengulurkan tangan dan menyentuh dagu eunhyuk, ia ingin meredakan kegelisahan yang ia lihat di mata eunhyuk, ketakutan yang tidak ia pahami. Mengapa eunhyuk tidak mau mengakui bakat yang telah diberikan kepadanya?

"mungkin kau tidak mengakuinya, eunhyuk, tapi kekuatan itu ada. Kau bisa merasakan firasat dan melakukan telepati. Proyeksi dan empati. Sangat mirip dengan kekuatan ryeowook, tapi kekuatanmu jauh lebih hebat dan kuat."

"kau membohongiku."

"untuk apa aku membohongimu?"

"aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa aku tidak punya kekuatan apa-apa."

"mengapa kau begitu takut?"

"karena..."

"karena?" desak donghae.

"waktu usia lima belas tahun, aku bermimpi. Aku sering bermimpi lebih tepatnya. Semuanya selalu menjadi kenyataan. Dalam mimpi yang ini, sahabatku tewas dalam kecelakaan mobil. Aku merasakan kepanikannya dan pikiran-pikiran terakhir yang terlintas di benaknya sebelum meninggal. Waktu di sekolah, aku berusaha semampu mungkin mencegahnya pulang dengan orang yang menyukainya. Aku menceritkan mimpiku. Dia tidak percaya, dan mengatakan aku cemburu. Aku tidak cemburu, aku... hanya tidak ingin kehilangannya."

Donghae mengelus jemari eunhyuk, berusaha menghangatkan tangannya. "aku tahu, eunhyuk."

"aku mencoba mencegahnya dan menyuruhnya untuk keluar dari mobil. Semua orang yang ada di sekolah memandangiku, tapi aku tidak peduli. Ryeowook menarikku supaya mereka bisa pergi dan semua orang tertawa. Dan keesokannya saat mengetahui sahabatku meninggal, mereka menyebutku aneh. Selama tiga tahun berikutnya, tidak ada yang mau berdekatan denganku. Aku menjadi gadis aneh yang bisa melihat berbagai hal. Katakan padaku, apa gunanya kekuatan ini jika membuat orang lain takut padaku dan aku tidak bisa mengubahnya? Aku mau menjadi normal. Aku tidak mau seperti kangin atau siapalah namanya yang mendengar orang mati bicara padaku. Aku tidak mau tahu apa yang kau rasakan. Aku hanya mau menjalani hidupku seperti orang lain. Apa kau tidak pernah menginginkannya?"

Donghae memejamkan mata sambil melawan penderitaan tak berdasar yang meremas hatinya, ia melepaskan kelembutan kulit eunhyuk dan melangkah mundur dari wanita itu. "apa yang kuinginkan tidaklah penting."

Eunhyuk mengamati ekspresi donghae. Entah bagaimana ia telah melukai pria itu. "m-mianhe, aku tidak bermaksud..."

"tidak apa-apa. Kau benar, ada saatnya ketika aku rindu merasakan sinar matahari di wajahku. Aku merindukan begitu banyak hal yang bahkan tidak bisa kuhitung satu-persatu. Aku sudah belajar bahwa hal terbaik yang bisa kulakukan adalah tidak menyiksa diriku sendiri dengan kenangan."

Donghae memandang eunhyuk, dan hawa panas pada matanya seolah menghanguskan wanita itu. "tapi orang-orang seperti kita mempunyai bakat istemawa. Kita tidak bisa menjadi normal."

"mungkin kau tidak bisa, tapi aku bisa. Aku tidak mengijinkan diriku merasakan kekuatan-kekuatan itu lagi, semua itu sudah mati bagiku."

Donghae tertawa getir. "dan menurutmu aku keras kepala."

"hunter, kumohon." Ucap eunhyuk, membenci kesedihan yang ia dengar pada suaranya sendiri. Saat itu, eunhyuk merasakan sesuatu yang membuatnya takut. Sentakan sesaat dari kekuatannya dan sensasi yang ditimbulkan menyayat hatinya seolah ia bisa mendengar pikiran-pikiran donghae.

Eunhyuk mendekati donghae. "hunter..."

Donghae menghindari sentuhan eunhyuk dan menghampiri konter dimana ponselnya berada. Ia mengambil ponselnya dan memberikannya pada eunhyuk.

"telpon ryeowook dan minta dia untuk tinggal dirumah ibumu sampai hari jumat. Dia boleh keluar masuk pada siang hari tapi setelah gelap dia harus tinggal dirumah."

"dia tidak akan menyukainya."

"kalau begitu, minta ibumu mengikatnya. Kita bukan berurusan dengan vampir biasa sekarang. Para daimon ini sudah mendapat kekuatan yang lebih dari sekedar berbahaya dan sebelum kangin hyung dan aku tahu kita sedang berurusan dengan apa, dia harus bersembunyi."

"baiklah, aku akan berusaha semampu mungkin."

Donghae mengangguk. "selagi kau biacara dengannya, aku mau ganti pakaian."

Eunhyuk memperhatikan ketika donghae keluar dari dapur, hatinya sedih. Ia tidak mau donghae meninggalkannya walau hanya mengganti pakaian. Ia merasakan suatu keinginan aneh untuk megikuti dan membantu donghae menanggalkan pakaian itu... tapi, akhirnya ia memilih untuk menelpon ryeowook.

Eunhyuk duduk sendirian selama beberapa menit sampai donghae kembali setelah ia menelpon ryeowook. Donghae sudah berganti pakaian dan mengenakan kaos hitam berlengan panjang yang membalut bahu bidangnya. Lengan kaosnya di gulung hingga keatas siku dan eunhyuk melihat bekas luka dalam yang melintang dilengan donghae.

"daimon itu menggigimu atau itu luka sayatan belati?"

Donghae melirik bekas lukanya sambil duduk diseberang eunhyuk. "ini luka gigitan."

"itu harus dirawat kan?"

"tidak, seluruh lukanya pasti sudah hilang besok."

"memang. Tapi bukankah gigitan itu bisa mengubahmu menjadi vampir?"

Donghae tertawa dan memandang eunhyuk dengan geli. "secara teknis, aku sudah menjadi vampir. Mengenai berubah, itu mustahil kecuali kalau kau seorang apollite."

"jadi, mereka tidak bisa menggigit manusia dan mengubahnya menjadi vampir?"

"itu dongeng sebelum tidur."

Eunhyuk mengerucutkan bibirnya. "jadi, darimana datangnya seluruh kesalahpahaman mengenai vampir ini?"

"kebanyakan dari penduduk desa yang ketakutan dan acheron menyukainya, ia bahkan mengoleksi dan menyembunyikan catatan kuno yang bercerita tentang vampir."

"acheron? Siapa dia?"

"dia dark hunter pertama yang dipilih oleh artemis."

"dan dia masih hidup?"

"iya. Kurasa dia ada di california minggu ini."

Eunhyuk mengerutkan dahi. Donghae tersenyum melihat eunhyuk. "dia berpergian ke lokasi baru setiap beberapa hari."

"bagaimana? Mengapa?"

Donghae mengangkat bahu. "kurasa kalau kau sudah berusia sebelas ribu tahun, segalanya menjadi sangat membosankan. Kalau tentang bagaimana, dia punya helikopter yang di rancang khusus."

Eunhyuk mencerna informasi itu dan berusaha membayangkan seperti apa dark hunter yang tertua ini. Entah mengapa, yoda terlintas di benaknya. Seorang makhluk kuno kecil dan berkulit kelabu-hijau yang berjalan dengan tubuh bungkuk, mengocehkan kata-kata mutiara kepada orang lain.

"apa kau pernah bertemu acheron?" tanya eunhyuk.

"semua dark hunter pernah bertemu dengannya, dia melatih dark hunter dan menjadi pemimpin tak resmi kami. Juga ada teori yang mengatakan bahwa dia adalah pembunuh yang diminta para dewa untuk mengeksekusi kami kalau kami melewati batas kewajaran."

"melewati batas bagaimana?"

"misalnya, memangsa manusia. Kami memiliki aturan yang harus dipatuhi. Tidak boleh menunjukkan kekuatan kami didepan massa, tidak boleh berhubungan dengan apollite atau daimon, dan masih banyak lagi aturan."

Anehnya, rasanya menenangkan setelah tahu mereka memiliki peraturan semacam itu, tapi juga menakutkan kalau membayangkan salah satu dari orang-orang ini berubah jahat dengan kekuatan yang ia miliki.

"kalau dark hunter dilarang untuk saling melukai dan kalian menghisap kekuatan satu sama lain, bagaimana bisa acheron menjadi eksekutor?"

"dia tidak menghisap kekuatan kami. Acheron itu dark hunter eksperimen. Karena dia yang pertama, para dewa belum menuntaskan kekacauan yang ada. Jadi, dia memiliki beberapa... bisa di bilang efek samping yang aneh."

Sekarang eunhyuk benar-benar membayangkan wujud mutan. Dark hunter kecil yang berpunggung bungkuk dan cadel.

"dan persisnya ada berapa jumlah dark hunter?"

"ribuan."

"serius?"

Dari kilatan dimata donghae. Eunhyuk bisa melihat jawabannya.

"seberapa sering dark hunter diciptakan?"

"tidak sering, sebagian besar dari kami sudah ada untuk waktu yang lama."

"wow~ jika acheron yang tertua. Siapa yang termuda?"

Donghae mengerutkan dahi sambil memikirkan jawabannya. "aku hanya bisa menebak, menurutku baro, mino, atau sundown, tapi aku harus memastikannya dengan acheron."

"sundown? Itu nama panggilan atau ibunya memang tidak terlalu menyukainya?"

Donghae tertawa. "dia seorang jago tembak dan itu nama yang mereka gunakan di poster-poster pencariannya. pihak berwenang menyatakan karyanya yang terbaik selalu dibuat setelah matahari terbenam."

"kurasa para dark hunter bukan pedagang biasa atau..."

"penduduk baik-baik yang taat hukum?"

Eunhyuk tersenyum. "aku tidak bermaksud mengatakan bahwa kalian tidak baik. Tapi kau sudah punya gambaran tentang apa yang ingin kukatakan."

Donghae membalas senyum eunhyuk. "dibutuhkan pembawaan dan hasrat tertentu untuk menjadi seorang dark hunter. Artemis tidak mau membuang waktunya atau waktu kami dengan memilih orang yang tidak bisa berburu. Kurasa kau bisa mengatakan bahwa kami semua gila, jahat, dan abadi."

Senyum eunhyuk bertambah lebar. "kau memang jahat dan abadi, tapi apa kau benar-benar gila?"

"jika gila berarti tidak waras, menurutmu bagaimana?"

Mata eunhyuk berkilat nakal. "berarti kau sangat gila. Tapi kau tahu, kurasa aku menyukai sisi itu darimu. Ada sesuatu yang menarik dari ketidakpastian."

Donghae tidak yakin siapa yang paling dikejutkan oleh pengakuan eunhyuk. Eunhyuk cepat-cepat memalingkan wajahnya, pipinya merah padam. Eunhyuk menyukainya... kata-kata itu membangkitkan respon yang sangat kekanakan didalam diri donghae. Ia merasakan keinginan aneh untuk berlari dan memberitahu seseorang. "dia menyukaiku, dia menyukaiku."

Demi para dewa, apa-apaan itu? Usianya sudah dua ribu tahun. Jauh dari usia yang lazim berkelakuan seperti itu. Namun, kepuasan dan kebahagiaan yang ia rasakan tidak bisa disangkal. Keheningan yang caggung terbentuk di tengah-tengah mereka selagi mereka makan.

Begitu selesai, eunhyuk berusaha semampu mungkin untuk tidak memikirkan rumahnya. Segala yang sudah hilang darinya. Ia akan mengurusnya besok. Sekarang, ia hanya ingin melewati malam.

"ryeowook tidak akan kemana-mana," kata eunhyuk sambil memperhatikan donghae membawa piring ke tempat cuci dan mencucinya.

"bagus."

"kau tahu, kau belum memberitahuku kau bisa tahu begitu banyak tentang ryeowook pada malam kita bertemu." Ujar eunhyuk pelan.

"kangin hyung dan ryeowook mempunyai teman yang sama."

Mata eunhyuk membelalak, mata-mata... siapa yang menyangka? "salah seorang dari awak kebun binatang ryeowook?"

Donghae mengangguk.

"nugu?"

"karena orang ini menjadi mata-mata untuk kami, aku tidak akan memberitahukannya padamu."

Eunhyuk tertawa sewaktu mendengarnya, kemudian memicingkan mata, berusaha menebak orangnya. "kurasa hyungsik."

"aku tidak mau bicara apa-apa."

Eunhyuk menghela napas, ia kembali makan dan memandang ke sekeliling dapur mewah itu, sementara donghae menyimpan makanan. Ada konter marmer yang agak mirip dengan kuil yunani. Konter itu memisahkan meja dimana eunhyuk duduk dari bagian dapur yang lain. Tiga buah kursi bar terdapat didepannya. Semuanya rapi dan bersih dan sangat besar.

"rumah ini agak terlalu besar untuk ditinggali oleh satu orang. Sudah berapa lama kau tinggal disini?"

"sedikit lebih lama dari seratus tahun."

Eunhyuk tersedak. "jeongmal?"

"aku tidak perlu pindah. Aku suka disini. Sebelumnya aku mengembara."

Eunhyuk memperhatikan wajah donghae ketika pria itu hati donghae tidak bisa ditebak. Donghae menyembunyikan perasaan-perasaanya dan eunhyuk bertanya-tanya apa ada cara yang bisa digunakan untuk memancing pria itu.

"kedengarannya kau sangat kesepian."

"tidak masalah." Jawab donghae datar.

Eunhyuk membayangkan kehidupan yang telah dijalani donghae. Berabad-abad sendirian, melihat orang-orang yang disayanginya mati karena tua sementara ia tidak pernah berubah. Pasti sulit baginya. Tapi sejalan dengan itu hidup donghae pasti memiliki beberapa keunggulan yang menarik.

"seperti apa rasanya kalau kau tahu kau akan hidup selamanya?"

Donghae mengangkat bahu. "sejujurnya, aku tidak memikirkannya lagi. Seperti orang lain di dunia, aku bangun, melakukan pekerjaanku, dan tidur."

Betapa donghae membuatnya terkesan sederhana. Tapi eunhyuk merasakan sesuatu yang lain dalam diri pria itu. Kesedihan yang berakar. Hidup tanpa impian pasti sangat menyiksa. Semangat manusia membutuhkan tujuan yang layak diperjuangkan, dan membunuh daimon tidak seperti suatu tujuan di mata eunhyuk.

Eunhyuk mengarahkan pandangan ke konter dan berusaha membayangkan seperti apa donghae sewaktu menjadi seorang manusia. Kyuhyun memberitahunya bagaimana mereka minum-minum sehabis perang dan betapa donghae mendambakan anak. Eunhyuk ingat seperti apa ekspresi donghae sewaktu menggendong minhyun.

"apa kau pernah punya anak?"

Kepedihan dasyat melintas dimata donghae selama sesaat sebelum digantikan dengan ketenangan. "tidak. Semua dark hunter steril."

"oh, kau impoten."

"aish, bukan begitu. Aku bisa berhubungan seks, hanya saja tidak bisa menghasilkan keturunan."

"oh, maafkan aku."

"tidak apa-apa. apa kau mau berkeliling rumah?"

Eunhyuk mengangguk. Donghae membawa eunhyuk melewati ambang pintu disebelah kiri, memasuki ruang tamu yang sangat besar. Dinding, mahkota, dan medali-medalinya luar biasa indah dengan keanggunan dan keelokan yang terkesan kuno, tapi perabotan di rumah itu sangat modern.

Ruangan itu didekorasi untuk kenyamanan, bukan untuk membuat tamu terkesan. Tapi kalau dipikir lagi, menurut eunhyuk vampir memang tidak terlalu sering menjamu tamu.

Sebuah pusat hiburan yang sangat besar berjejer di salah satu dinding dengan sistem komponen JVC, TV layar lebar, VCR dua tingkat, dan pemutar DVD. Walaupun lampu ada dimana-mana, ruangan itu hanya diterangi oleh lilin dari tiga buah tempat lilin berhias.

"kau tidak suka bola lampu modern ya?" tanya eunhyuk saat donghae beranjak untuk menyalakan lilin di sebuah tempat lilin bercabang.

"ya, terlalu terang untuk mataku."

"cahaya menyakitimu?"

Donghae mengangguk, "mata dark hunter diciptakan untuk kegelapan. Pupil kami lebih besar daripada pupil kalian dan tidak melebar dengan cara yang sama. Akhirnya, mata kami menerima lebih banyak cahaya daripada mata manusia."

Selagi donghae bicara, eunhyuk melihat jendela yang terbentang dari lantai sampai ke langit-langit dan ditutup dengan daun jendela hitam yang bisa melindungi rumah dari cahaya matahari.

Saat mengitari sebuah sofa kulit hitam, langkah eunhyuk terhenti. Ada sebuah peti mati didepan sofa.

"apa itu..." eunhyuk tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Tidak ketika ia membayangkan donghae tidur didalam peti itu setiap siang.

Donghae melirik peti mati itu, lalu menatap mata kaget eunhyuk tanpa berkedip. "ya benar, itu... meja kopiku."

Donghae berjalan menghampiri peti mati itu, mengangkat penutupnya dan mengeluarkan sebuah remote dari dalam. "untuk tv kalau mau nonton besok."

Eunhyuk menggelengkan kepala. Setelah memperhatikan, ia melihat berbagai pernak-pernik vampir yang kecil dan aneh berserakan dimana-mana. Patung-patung mini, busur silang kecil, bahkan tumpukan tarot vampir diatas perapian.

"menurut giljun itu lucu. Setiap menemukan sesuatu yang berbau vampir, dia membawanya ke sini dan meninggalkannya untuk kulihat."

"apa itu mengganggumu?"

"tidak. Dia anak yang baik."

Ketika donghae membawanya dari satu ruangan ke ruangan lain dirumah besar yang tua itu eunhyuk mulai kehilangan arah. "persisnya, seberapa besar tempat ini?" tanyanya sewaktu mereka masuk ke ruang permainan.

"ada dua belas kamar tidur dan luasnya sedikit lebih besar dari enam ratus lima puluh meter persegi."

"ya ampun, aku pernah berada di mall yang lebih kecil."

Donghae tertawa menanggapi ocehan eunhyuk.

Sebuah meja biliar yang dihias dengan rumit berada di tengah-tengah ruang permainan. Bersama dengan sekumpulan permainan dingdong dan sebuah tv layar lebar dengan sederet permainan konsol yang dijejerkan diatas sebuah meja kopi rendah didepannya. Tapi yang paling aneh menurut eunhyuk adalah sepasang sarung tangan bisbol dan sebuah bola bisbol diatas meja lipat yang terdapat di salah satu sudut ruangan. Eunhyuk menghampirinya.

"aku main lempar bola dengan giljun pada malam-malam tertentu." Donghae menjelaskan.

"waeyo?"

Donghae mengangkat bahu. "membantuku menjernihkan pikiran saat aku berusaha merenungkan berbagai hal."

"giljun tidak keberatan?"

Donghae tertawa saat mendengarnya. "giljun keberatan dengan segala hal kecuali dance. Kurasa aku belum pernah memintanya melakukan sesuatu yang tidak dia keluhkan."

"kalau begitu, kenapa masih mempekerjakannya?"

"aku suka memberi hukuman."

Sekarang giliran eunhyuk yang tertawa. "aku ingin sekali bertemu dengan giljun ini."

"besok kau pasti bertemu dengannya."

"jinjja?"

Donghae mengangguk. "apapun yang kau butuhkan beritahu dia dan dia akan membawakannya untukmu. Kalau dia menyinggungmu dengan cara apapun, beritahu aku dan aku akan membunuhnya."

Ada kesan pada suara donghae yang memberitahu eunhyuk bahwa mungkin itu bukan hanya ancaman kosong. Donghae kemudian membuka pintu kaca yang besar dan membawa eunhyuk ke atrium yang tertutup kaca. Langit-langitnya jernih dan menunjukkan jutaan bintang yang berkelap-kelip diatas kepala mereka.

"disini indah."

"terima kasih."

Eunhyuk berjalan menghampiri patung besar berbentuk tiga orang wanita. Karya seni itu sangat menakjubkan. Wanita yag termuda sedang berbaring menyamping sambil memegang sebuah naskah, sedangkan dua wanita lainnya sedang duduk dengan posisi saling memunggungi. Yang seorang memegang kecapi sedangkan yang seorang lagi seperti sedang bernyanyi. Tapi yang paling memikat eunhyuk adalah bagaimana mereka dibentuk. Masing-masing tampak sungguhan, dan mereka memiliki kemiripan yang mencengangkan dengan donghae.

"apa ini dari yunani?" tanya eunhyuk.

Ekspresi sedih melintas diwajah donghae saat mengangguk. "mereka saudara perempuanku."

Dengan hati sedih, eunhyuk mengamati patung itu baik-baik. Hunter menyentuh lengan patung yang sedang memegang naskah dengan lembut. Dahinya sedikit berkerut ketika memandang patung seukuran manusia yang menyerupai seorang gadis yang usianya menginjak akhir belasan tahun itu. Gaunnya yang mirip toga dan berwarna biru tampak sangat serasi dengan matanya.

"dahye adalah yang termuda diantara kami," katanya, suaranya satu oktaf lebih rendah. "dia pendiam dan pemalu dan entah mengapa bicaranya gagap kalau sedang gugup. Demi para dewa, dia sangat membenci hal itu, tapi menurutku dia manis. Hyelim..." donghae menunjuk patung berkecapi yang mengenakan gaun merah, "dua tahun lebih tua dariku dan lekas marah. Kata ayahku, kami sangat mirip dan karena itulah kami tidak bisa akur. Sedangkan soyeon satu tahun lebih muda dariku dan memiliki suara malaikat."

Eunhyuk memandang wanita muda yang mengenakan gaun kuning. Ada keanggunan yang lembut pada ketiga saudara perempuan donghae. Pemahatnya telah membentuk mereka seolah mereka sedang bergerak. Bahkan lipatan pada pakaian mereka nampak realistis dan halus. Eunhyuk belum pernah melihat keahlian yang seperti itu. Mereka kelihatan begitu hidup sehingga ia setengah menyangka mereka akan bicara kepadanya. Pantas saja donghae begitu terluka.

"kau sangat menyayangi mereka." Donghae mengangguk.

"apa yang terjadi pada mereka?"

"mereka menikah dan menjalani hidup yang panjang dan bahagia. Hyelim menamakan putra pertamanya dengan namaku."

Senyum lemah terbentuk dibibir eunhyuk, karena justru yang paling sering bertengkar dengan donghaelah yang melakukannya. Itu mengungkapkan banyak hal tentang hubungan mereka. Ketika memandang wanita-wanita itu, eunhyuk teringat akan apa yang dikatakan donghae tentang saudara perempuannya yang mencukur rambutnya waktu kakaknya sudah tiada. Pasti mereka menyayangi donghae sebesar donghae menyayangi mereka.

"apa pendapat mereka tentang perubahanmu menjadi dark hunter?"

Donghae berdeham. "mereka tidak pernah tahu. Bagi mereka, aku sudah mati."

"jadi, darimana kau tahu begitu banyak tentang..."

"aku bisa mendengar mereka saat mereka masih hidup. Merasakan mereka, sama seperti kau bisa membuka hatimu untuk ryeowook dan merasakan kalau dia sedang bermasalah."

Eunhyuk menegang sewaktu mendengar kata-kata donghae. "darimana kau tahu tentang itu?"

"sudah kubilang, aku bisa merasakan kekuatanmu."

Suatu getara merambat di punggung eunhyuk dan ia bertanya-tanya apa ada yang bisa ia sembunyikan dari donghae. "kau manusia yang menakutkan."

"aku bukan manusia. Aku sudah menyerahkan kemanusiaanku."

Eunhyuk tahu. Mungkin donghae tidak memiliki jiwa, tapi pria itu memiliki hati yang baik dan sangat manusiawi. "mengapa kau mau menjadi dark hunter walaupun tidak pernah membalas dendam pada sohyun?"

"menjadi dark hunter terkesan seperti ide yang bagus waktu itu."

Eunhyuk merasa sesuatu dalam dirinya mencair. Mungkin kesepian pada suara donghae, penerimaan takdir pada matanya. Eunhyuk tidak tahu persis, tapi ia tahu ia tidak bisa kembali ke kehidupan lamanya begitu saja dan melupakan pria ini. Ia sudah melihat terlalu banyak kebaikan donghae. Terlalu banyak kepedihan donghae dan semoga tuhan menolongnya, semakin ia mengenal donghae, semakin ia menginginkan pria itu.

Menginginkan donghae dengan cara yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mereka baru saja bertemu, namun ada sesuatu yang menyatukan mereka. Eunhyuk menatap mata tersiksa yang sedang menatapnya dengan berhasrat dan panas. Donghae adalah pria yang disebut ibunya dengan 'bagian yang hilang'. Itu istilah yang digunakan ibunya untuk mendiskripsikan ayahnya. Istilah yang digunakan junsu saat membicarakan yoochun.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, eunhyuk mengerti dan setelah menemukannya dalam diri donghae, ia tahu ia tidak bisa melepaskan begitu saja.

Tidak tanpa perjuangan.

Tidak tahu menahu tentang pikiran-pikiran eunhyuk. Donghae kembali membawa eunhyuk kedalam rumah. Ia mengantar eunhyuk ke sebuah kamar tidur yang berada dilantai bawah. "kau bisa tidur disini. Aku akan bawakanmu sesuatu yang nyaman untuk dipakai."

Eunhyuk mondar-mandir di kamar tidur mewah itu. Tempat tidur king size bergaya tropisnya kelihatan seperti didatangkan dari sebuah film kuno. Cat hijau tuanya seharusnya membuat kamar itu tampak kecil, tapi di ruangan yang luas ini, catnya malah memberi kesan kuno dan nyaman.

Donghae kembali beberapa menit kemudian dengan kaos hitam dan celana longgar yang pasti kedodoran kalau dipakai eunhyuk.

"gomawo."ucap eunhyuk, menerima pakaian itu dari donghae.

Donghae berdiri dihadapan eunhyuk, mata pria itu menatap matanya dengan tajam. Yang membuat eunhyuk terkejut, donghae mengangkat tangan dan menggerakkan jemari di rahangnya. Kuku pendek pria itu menggesek kulitnya dengan lembut, membuatnya panas dingin. Ia tahu ia ingin donghae menciumnya dan ia terkejut betapa ia menginginkan ciuman pria itu. Tapi donghae tidak menciumnya. Pria itu hanya menatapnya dengan mata gelap yang bergairah. Kemudian donghae menggerakkan ibu jari di bibirnya dan ia hampir tidak bisa menahan erangan karena sentuhan yang begitu menyenangkan itu. Aroma tubuh donghae begitu menyamankan. Udara di sekeliling mereka dipenuhi ketegangan. Dengan gairah dan hasrat yang timbal balik. Intensitasnyan membuat eunhyuk tidak bisa bernapas dan membuatnya lemah sekaligus kuat pada saat yang bersamaan.

Tepat ketika eunhyuk merasa yakin donghae akan menciumnya, pria itu malah menjauh. "selamat malam, eunhyuk."

Dengan jantung berdebar-debar, eunhyuk menatap donghae pergi.

-night pleasures-

Donghae mengutuki dirinya sediri dengan setiap langkah yang ia ambil untuk menuju ruangan kerjanya. Seharusnya ia mencium eunhyuk. Seharusnya ia...

Tidak! Ia sudah melakukan hal yang tepat. Tidak akan ada apa-apa diantara mereka. Dark hunter boleh berhubungan dengan wanita selama beberapa malam, tapi mereka tidak boleh terlibat secara serius. Resikonya terlalu besar. Membuat wanita itu rentan terhadap daimon dan membuat dark hunter lemah. Membuat dark hunter berhati-hati dan dalam pekerjaan seperti ini,berhati-hati bisa membunuhmu. Hal itu belum pernah merisaukannya sebelumnya. Malam ini, kepedihan sudah hampir cukup kuat untuk menghancurkannya.

Donghae membenci perasaan-perasaan didalam dirinya. Benci mendambakan eunhyuk. Ia sudah lama membuang emosi-emosinya dan lebih suka hidup seperti itu, di dalam kepompong yang aman dan bebas dari pergolakan.

"aku harus menyingkirkannya dari pikiranku." Donghae memasuki ruang kerjanya dan masuk kesitus web dark hunter.

Donghae duduk di kursi kulit hitam dan mengecek email masuk dan chat dari dark hunter yang lain. Mencoba membalas satu persatu email dan chat yang menurut donghae penting. Setelah merasa ia membalas email dan chat, donghae keluar dari ruang kerjanya dan berkeliaran di koridor, kemudian menuruni tangga. Sebelum menyadari apa yang sedang ia lakukan, ia sudah mendapati dirinya berada didepan kamar eunhyuk. Ia menempelkan tangannya di pintu kayu yang gelap dan merentangkan jemarinya. Memejamkan mata, ia bisa melihat eunhyuk sedang duduk ditempat tidur, kaki wanita itu telanjang di balik kaos miliknya.

Donghae bisa merasakan kesedihan eunhyuk karena kehilangan rumahnya. Merasakan ketakutannya karena berpikir desiderius bisa menyakiti ryeowook dan kecemasannya teman sekamar ryeowook. Lebih parah lagi, donghae bisa merasakan air mata yang ditahan eunhyuk. Wanita itu sangat kuat. Sangat tangguh. Ia belum pernah mengenal wanita yang seperti eunhyuk sebelumnya. Mimpi tadi pagi mencabik-cabik donghae. Ia masih bisa merasakan eunhyuk didalam pelukannya.

"aku menginginkanmu."

Ia rela menyerahkan apa saja asal bisa mendengar eunhyuk mengucapkan kata-kata itu secara nyata. Asal bisa melihat wanita itu memandangnya seolah ingin menaklukkannya. Sekarang, satu-satunya hal yang ingin ia lakukan adalah menendang pintu itu hingga terbuka dan bercinta dengan eunhyuk. Merasakan sentuhan eunhyuk, merasakan eunhyuk memeluknya.

Menyambutnya,

Tapi itu mustahil!

Dengan hati sedih, donghae memaksakan diri untuk meninggalkan eunhyuk. Ia harus bekerja.

-night pleasures-

Eunhyuk mellirik jam. Dua belas tiga puluh. Biasanya ia sudah tertidur pulas pada jam seperti ini. Tapi bagi donghae malam masih belum larut. Eunhyuk bertanya-tanya apa yang dilakukan donghae saat dini hari. Tentunya pria itu tidak membunuh daimon setiap malam. Tidak ada daimon sebanyak itu kan?

Sebelum menyadari apa yang sedang ia lakukan, eunhyuk sudah turun dari tempat tidur dan berkeliaran di rumah besar itu. Eunhyuk tidak tahu donghae ada dimana. Donghae tidak mau repot-repot menunjukkan kamarnya kepada eunhyuk sewaktu mengajaknya berkeliling. Tapi naluri eunhyuk memberitahunya bahwa kamar donghae pasti ada di lantai atas. Bisa jadi sejauh mungkin dari kamarnya.

Eunhyuk sudah berada ditengah tangga saat mendengar suara aneh dari luar. Suara berdesing yang ganjil. Eunhyuk mundur dan menemukan jalan yang menuju ruang permainan. Tidak ada lampu, tapi bulan dan bintang sudah sangat terang diluar sehingga ia bisa melihat sosok atrium. Dorongan pertama yang ia rasakan adalah memanggil donghae, langkah eunhyuk terhenti. Ada sesuatu yang sangat akrab dari sosok itu. Berjalan mendekati pintu kaca, eunhyuk mengenali terminator dan donghae. Donghae mengenakan kaos dan celana loggar. Ia sedang bermain lempar bola bisbol ke rangka berjaring yang kembali melontarkan bola itu kepadanya.

Begitu donghae melempar bola, terminator akan mengejar, lalu anjing itu akan kembali sambil melompat-lompat kepadanya. Eunhyuk tersenyum melihatnya. Donghae menepuk-nepuk terminator, kemudian melempar bola lagi. Eunhyuk sudah mau pergi, tapi tidak bisa. Sebaliknya, ia malah membuka pintu. Donghae langsung menoleh. Bola yang terlupakan memantul dan mengenai kepalanya. Ia mendesis sambil menggosok-gosok kepalanya dan terminator mengejar bola bisbol itu.

"apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya donghae, suaranya tajam.

Eunhyuk menelan ludah dengan susah payah. "a-aku... aku hanya ingin tahu kau ada dimana."

"sekarang kau sudah tahu."

Es sudah kembali ke suara donghae. Ini bukan donghae yang menghabiskan waktu dengannya beberapa saat yang lalu, ini dark hunter yang terbangun di pabrik bersamanya. Eunhyuk kemudian menjaga jarak dan sebenarnya itu menyayat hati eunhyuk. Bukan benjolan di kepala yang membuat donghae kasar; penghalang-penghalang lamanya sudah kembali. Ia menjauhkan eunhyuk.

Memahami isyarat itu, eunhyuk mengangguk. "iya. Kalau begitu... selamat malam."

Donghae melihat eunhyuk pergi. Ia melukai wanita itu. Ia bisa merasakannya dan ia membenci dirinya sendiri karena itu. Tapi... tidak ada yang bisa diwujudkan di antara mereka. Persahabatan saja tidak. Donghae menggertakkan gigi dan kembali melempar bola. Sambil melakukan itu, ia memusatkan pikiran pada desiderius. Berusaha untuk membawa daimon itu kedalam genggamannya.

Sia-sia.

Eunhyuk masih bersamanya. Wajak eunhyuklahh yang ia lihat sewaktu memejamkan mata. Aroma wanita itulah yang merasuki indra-indranya. Kalau tidak menyingkirkan eunhyuk dari pikirannya, ia akan membuat dirinya sendiri terbunuh dan kalau ia mati, desiderius akan mengincar eunhyuk. Donghae menggeram, melempar bola ke jaring. Ia berputar untuk menangkap pantulannya, tapi sebelum tangannya menyentuh bola, rasa sakit yang hebat sudah menyerang kepalanya.

Donghae mengumpat. Ia menempelkan telapak tangan di mata kanannya dan sambil memerangi rasa sakit itu, sekilas bayangan melintas di kepalanya.

Itu shim changmin, desiderius.

Ketika bayangan itu bertambah nyata, donghae membeku. Dengan sangat jelas, ia melihat desiderius membunuhnya dan ia mendengar eunhyuk menangis.

.

.

TBC

Bab 7 sudah saya update nih. Maaf jika ada kesalahan atau typo yak. Sepertinya chap ini untuk nama tempat tidak saya rubah.

Untuk chap depan alias bab 8, je eh maksudnya saya kebiasaan dipanggil je sih -_- saya tidak merubah nama tempat dikarenakan chap depan (bab 8) banyak flashbacknya.

Okay mungkin yang masih tidak mengerti dengan ceritanya atau alurnya atau apalah tentang ini ff bisa tanya tanya kesaya ke line saya idnya : atau yg gapunya line bisa bbm saya pinnya 5a478c30 yang mau temenan juga boleh kok.