YAKUZA BLOODY LOVE
Story (c) Eri Tii
Characters/manga/anime :Naruto by Masashi Kishimoto
Rated : M (for gore,sexualy content and dark them)
Gender : Yaoi, Shounen-Ai, Angst,tragedy and romantic
Pairing : Sasunaru (always),kyunaru, Gaanaru
Awas, alur maju-mundur. Flash back lumayan sedikit. sudah lama fakum karena tidak ada mood, akhirnya dikeluarkan juga...maaf buat reader menunggu. Karena saya pikir cerita ini terlalu pasaran, suram OOC dan bla...bla...tapi saya akan mencoba bertanggung jawab melanjutkannya. Semoga saya terus termotivasi dan dibelikan Nb baru?. mungkin saya kena kutukan, makin malas nulis ffn NB makin banyak macam errornya.
Yakuza 10-
Kolombia International Hospital.11.a.m-
Seorang dokter baru saja masuk melewati pintu kaca otomatis sebuah rumah sakit besar. Seperti dokter pada umumnya, ia memakai jas putih bersih dengan stethoscopes terselip di kantung bawah kanan Jas putih kebanggaannya. Sebuah papan nama hitam mengkilat bertulis 'Dr. Tsunade -Ahli Bedah-' terlihat cukup jelas di sematkan di dada kirinya.
"selamat malam, dok." Sapa dua orang dokter muda jangkung disela perjalanannya. Tsunade mengangguk singkat sembari tersenyum.
Hampir semua orang mengenal baik dokter wanita ini. Selain ahli bedah saraf dan paru-paru, Tsunade adalah dokter terahli dalam kasus bedah pita suara. Hanya beberapa saja rumah sakit besar di dunia yang menangani operasi bedah pita suara dikarenakan kerumitannya dan bentuk khas jaringan pita suara. Namun jika sudah di tangan Tsunade maka orang bisu selama apapun bisa kembali bernyanyi. Orang-orang menyebutnya dewi dari langit. Sudah bukan rahasia juga kalau kecantikan Tsunade tak sebanding dengan umurnya yang sudah mencapai kepala lima. Bahkan ia telah memiliki cucu. Namun kecantikannya tak pernah pudar oleh usia. Orang akan salah paham ketika melihat wajahnya awet muda.
Tsunade memiliki ciri orang Amerika seperti pada umumnya. Rambutnya pirang pucat begitu pula kulitnya yang kurang terkena paparan sinar sehingga nampak urat-urat halus di kedua punggung tangan putih bersihnya. Wajahnya cantik terlihat 20 tahun lebih muda dari umur sebenarnya yang sekarang berusia kepala enam. Matanya elang emasnya itu terlihat sayu dan sedikit berair karena lelah setelah ia hanya pulang istirahat ke rumahnya tidak kurang 4 jam setelah menangani operasi pengangkatan tumor gondok salah satu pasiennya kemarin lalu. Kemudian kabar bahwa pasiennya dari jepang yang sebelumnya telah membuat janji dengannya memintanya segera melaksanakan tindakan operasi secepatnya dan ia dimintai melakukan pemeriksaan pertama siang hari ini. Pasiennya jauh-jauh datang ke rumah sakit ini kabarnya untuk mengembalikan suara yang rusak parah karena keracunan obat, setidaknya itu yang ia dengar dari menejer rumah sakit ini; selebihnya adalah privasi pasien.
" Dokter, syukurlah anda sudah tiba," seorang wanita berpakaian perawat berwarna biru muda datang dengan tergesa-gesa. " Pasien anda telah menunggu sejak tadi."
Ia Shizune. Salah satu suster senior disini. Jika kau mengharapkan ia adalah suster tinggi langsing dan tercantik di Kolombia maka sayang sekali, suster Shizune tidak memiliki ciri-ciri seperti itu. Hampir semua suster di rumah sakit Internasional disini cantik, tapi tidak untuk Shizune. Namun Shizune adalah ketua suster dan ia yang biasa menjadi sekretaris pribadi tiap dokter karena ketangkasan dan kinerjanya yang menakjubkan diumurnya yang memasuki 30 tahun. Biasanya Shizune akan pertanggung jawab sendiri untuk mengarahkan dan mengawasi setiap pegawai baru di rumah sakit Kolombia Internasional. Shizune tidak jelek. Ia keturunan Jepang. Seperti kebanyakan orang jepang umumnya,tinggi Shizune tak terlalu menonjol dan wajahnya yang seperti boneka membuatnya sering dikira anak ingusan (oh, tapi siapa yang tak suka dikatakan lebih muda). Orang-orang harus menahan diri untuk tak mengganggunya jika tak mau terkena pukulan mematikannya. Namun di banding yang lain ia malas berdandan. Ia merasa berdandan atau memakai sepatu highthills itu hanya menyiksa diri saja. Wanita keturunan jepang ini ingin tampil apa adanya tanpa perias apapun di tubuhnya. Selagi tidak mengganggu karirnya ia tak butuh berdandan dan pakaian mini ala jalang Eropa.
Shizune langsung membacakan beberapa lembar data di map biru tua yang ia pegang sekarang. ''Nama pasien Naruto. Umur 20 tahun. Golongan darah A. Komplikasi di dalam tenggorokan. Pengoperasian guna mengangkatan pita suara lama dan pemulihan seperti sedia kala. Operasi akan dilaksanakan setelah anda memeriksa kesiapan pasien. Pihak keluarga ingin segera ditangani."
"Kamar berapa pasienku itu?" tanya Tsunade.
" Bangsal VIP,di kamar nomor 501, dok."
" Baiklah, mari kita lihat calon pasienku. Kuharap wajahnya seperti artis korea. Dia dari asia bukan?"
" Ya, tetapi sayangnya bukan korea. Dia dari Tokyo. Ia datang bersama keluarganya. Dan ia sangat tampan."
"Siapa? Pasienku?"
"Bukan,bukan. tapi walinya," Shizune menggeleng cepat.
"Haa~ tampannya...pasti sulit mendapatkannya. Rasanya seperti ada yang meremas perutku ketika melihatnya." Shizune mendesah mengenang kembali pria jepang tingga tegap nan tampan bak model yang memiliki tatapan tajam beberapa saat yang lalu. Ia berharap ia dapat pulang kampung dan menemukan orang setampan itu. Ah, namun itu hal yang mustahil. Baginya Orang tampan itu hanya ada 1000 tahun sekali. Ia yakin pekerjaan orang bermarga Uchiha itu seorang public figure; seperti artis,yeah semacam itu lah...
"haa~h,tapi dia sangat tampan." Ulang Shizune kembali penuh peyakinan. Kali ini mengerang frustasi. Shizuna tak bisa menutupi keterpesonanya pada pria asing itu. Ia menyesal tak dapat melihat pria itu lebih lama.
"Kau seperti anak muda jaman sekarang saja. Penggila KPOP,Eh?Hahaha," Tsunade bercanda sedikit.
Shizune tersenyum tipis dan menjawab," Tapi mereka sangat tidak mirip. Yang satu wajah oriental asli sedangkan yang satu lagi tidak ada miripnya dengan orang asia. Dia dari jepang dan terakhir ku cek wajahnya tak menunjukan wajah asia dok. Dia lebih mirip orang Itali."
" Hahaha. Lucu sekali, orang asia berwajah eropa. Orangtua jaman sekarang memang gila. Untuk memperbaiki keturunan mereka rela menikah dengan orang luar atau dengan teknologi memungkinkan mereka dapat membeli sperma bibit unggul."
Kedua wanita ini terus berbincang, berbelok ke lorong sebelah kanan kemudian menemukan pintu lift di sana. Shizune menekan tombol lift untuk memanggil lift. Sembari menunggu
" Sepertinya ia orang penting". Lanjut Shizune sembari menunggu lift mereka datang.
Mereka memasuki lift besar. Hanya ada penjaga lift yang mengisi kotak besi itu. Ada dua lift di bangsal VIP. Pertama untuk penghuni rumah sakit umum dan yang satunya untuk liftt pasien khusus ke ruang disini cukup luas karena untuk mempermudah membawa tempat tidur pasien ke ruang operasi.
" Ah, kita sudah sampai." Guman Tsunade karena memang tak lama kemudian mereka telah sampai di kamar si pasien. Tsunade cukup penasaran dengan pasien spesial, si asia-yang-tidak-berwajah-asia itu.
Di hadapan mereka kamar bernomor 501 berdiri angkuh. Tsunade dapat mendengar suara TV diputar lumayan keras dari dalam.
"wah sepertinya pasien kita sangat bosan di dalam. Jam berapa dia tiba?" Gumam Tsunade sembari memegang ganggang pintu kamar. Siap-siap membukanya.
"Empat jam yang lalu. Dari bandara pihak keluarga langsung mengantarnya. Beserta beberapa bodyguard bermuka mengerikan. Karena ini bangsal khusus kami melarang semua pengawalnya masuk. Orang tampan yang kuceritakan tadi adalah walinya. Dia tidak lama mengantar. Langsung meninggalkannya sendiri setelah mengurus administrasi operasi. "
"Orang penting, eh?" Guman Tsunade ambigu. Lalu ia membuka pintu itu. "Kuharap mereka tak menakut-nakuti pasien yang lain."
KLEK.
Pintu terbuka.
Suara TV yang bervolume tidak kecil itu makin keras terdengar ketika membuka pintu itu. Suara berat seorang pembawa berita meramaikan seisi kamar.
'Dan kembali diklasifikasikan bahwa ledakan tangki bahan inti nuklir milik iran ini disebabkan kesalahan pemerintah Iran menjamin akan-'
"Halo, selamat malam?" Tsunade berseru lebih keras untuk mengalahkan suara tv,namun ia mendapati kamar pasiennya kosong. Tak ada pasien di dalam kamar. Tsunade kemudian mendengar suara air shower mengalir dari balik pintu kamar mandi yang tak jauh dari ranjang pasien. Pintu kamar mandi tertutup rapat dan suara air itu terdengar monoton.
Tsunade mendelik kearah Shizune agar ia segera mencari remot tv untuk mengecilkan volumenya.
"Dimana pasiennya? Dia baru saja berbaring disini tadi." Seru Shizune penuh tanda tanya.
"kurasa ia di dalam kamar mandi." Kata Tsunade. Tsunade langsung berjalan mendekati pintu kamar mandi dan mengetuk pintu tersebut.
TOK TOK TOK
Senior ahli bedah saraf itu mengetuk pintu,
"Permisi, tuan Naruto. Apa anda di dalam? Kami ingin segera melakukan tes ceck up pertama. Sebaiknya anda segera bersiap"
BRAKK!
Baru saja Tsunade berdiri didepan pintu kamar mandi tiba-tiba terdengar suara jatuh yang cukup keras dari belakangnya. Tsunade berbalik secepat kilat dan mendapati Shizune terkapar di karpet tak sadarkan diri.
"AP-APA!? Siapa yang..." dokter Tsunade nyaris menjerit panik. Nafasnya tertahan di tenggorokan sehingga hanya jeritan terbata-bata yang keluar. Ia langsung mundur hingga punggungnya menabrak pintu kamar mandi. Semua berkas yang ia bawa berserakan di lantai karpet.
Ia sangat ketakutan menemukan sebuah pistol perak mengacung tepat ke wajahnya.
"Diamlah jika kalian ingin selamat." Desis pria itu sambil memberi bahasa isyarat menempelkan telunjuknya dibibir. Menyuruhnya tak membuat keributan lebih.
Seorang pria berambut pirang dengan pakaian rumah sakit berdiri dihadapannya dengan tatapan mengancam. Pasiennya dari tokyo baru saja ia bicarakan 5 menit lalu sekarang mengacungkan pistol kepadanya. Dan Tsunade tak pernah bermimpi untuk menemukan adekan real action didalam rumah rakitnya terutama tersangka utamanya adalah pasiennya dan ia sebagai korbannya. Sudah dipastikan dia sedang tidak berulang tahun atau dikerjai mengingat ini bukan bulan april.
"Ikuti semua perkataanku dan jangan melawan atau kepala wanita ini akan kubocorkan."seru pria itu kembali. Ia segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Kemudian ia memasang katup peredam bunyi atau cilincer di moncong pistolnya,guna menghilangkan bunyi letusan keras pistol yang dapat memicu alarm keamanan rumah sakit berbunyi.
Tsunade terduduk lemas karena ketakutan.
"A-anda Naruto bukan? Pasien yang seharusnya mendapat penanganan operasi pembedahan pita suara minggu i-ini?"Cara untuk meredamkan sikap brutal tak terduga pasien adalah berbicara dengan baik-baik kepada pasien agar dapat menenangkannya terutama pasien bagian kejiwaan. Tapi Tsunade tak yakin kalau pasiennya ini benar-benar sedang dalam efek obat-obatan,atau rusak mental karena ia bukan seorang dokter psikologi! Tapi bukannya berbicara adalah salah satu langkah efektif menangani keadaan mendesak dan tak terduga seperti ini? Bahkan Tsunade tak yakin pria ini adalah pasiennya karena terakhir ia baru saja sadari adalah 'pasiennya ini tak bisu dan IA BARU SAJA MENGANCAM AKAN MEMBOCORKAN KEPALA PERAWATKU DENGAN SENJATA API DITANGAN. WTH!' jerit Tsunade dalam hati.
Dunia pasti sudah gila. Tidak! Jaman yang sudah berubah. Bahkan bocah 20 tahun bisa membawa senjata kerumah sakit tanpa terlacak dan sekarang pasiennya mengancam nyawa orang tak bersalah yang seharusnya menolong nyawa orang lain. Gila . Benar-benar gila.
"Ck,ck,ck...kau tahu? Membiarkanmu hidup adalah hal merepotkan. Tapi kali ini aku akan memberikanmu kesempatan," Pria berpakaian baju piyama rumah sakit menyeringai lalu berlahan mengambil posisi berjongkok di depan sang dokter. Ia tak pernah melepas kontak mata dengannya. Mata biru shapier itu menatap Tsunade dengan penuh intimidasi, tak ada satu pun gerakan maupun nafas Tsunade yang tak terekam olehnya. Sejenak pria blondy itu melirik papan nama di dada kiri si dokter ,"Nyonya Tsunade. Kau akan berguna.".
Tsunade sangat membenci ada orang yang menyebut namanya tanpa rasa hormat seperti ini apa lagi oleh bocah amatir seperti pria didepannya.
"Lepaskan dia! Apa maumu,bocah!" geram Tsunade. Mencoba mengertak bocah ini namun sayang ia telah melakukan tindakan yang salah.
GREBB
"Akh..!"
Menma menerkam leher jenjang dokter pirang itu secepat kilat. Aura wajah Menma berubah suram. Tsunade tak bisa bernafas dan tenggorokannya terasa nyaris diremuk seperti kaleng bir.
"Akh...le...pashkkk...bre...sk..!" Tsunade mencoba mendang –nendang dan memukul pria ini namun itu malah membuat Menma semakin menyeringai.
"Kau pikir aku tak bisa membunuhmu saat ini juga?huh,itu sangat muda. Meskipun aku tak suka bertindak bodoh seperti Kurama,tapi jika aku mau..." cengkramnya semakin kuat. Tsunade mencoba melepaskan tangan itu dari lehernya namun tenaganya tak dapat menandingi. Entah apa yang dimakan anak ini, ia sangat kuat.
"ahkkkhh..." wajah Tsunade semakin merah. Oksigen di otaknya mulai menipis.
" Diamlah. Disini aku yang berkuasa. Selama kau mengikuti aturanku kalian selamat." Pria bernama Naruto itu menyeringai sembari mengelus moncong pistolnya ke pipi kanan Tsunade. Kemudian mengarahkan ke tubuh terbaring di belakang Menma. Ia akan menembak Shizune!
Tsunade semakin bergerak liar, mencoba menghentikan aksi gila Menma yang menyamar menjadi Naruto ini.
Dokter itu kembali terdiam menahan nafas ketika benda dingin itu menyentuh kulitnya."Aku ingin kau melaksanakan sandiwara operasi. Kau tahu bukan, cukup bawa aku keruang operasi dan berektinglah seperti rutinitas penanganan pasien biasa. Aku tak ingin bodyguard orang brengsek itu curiga dan penyamaranku terbongkar. Dan kabar baiknya si Uchiha itu akan menjengku setelah operasi. Kau mengerti?"
Mata Tsunade melebar. Ia berusaha memahami serentetan informasi itu. Dan dokter kepala lima ini dapat menyimpulkan bahwa ia sedang berurusan dengan bukan orang sembarang. Ia sedang berhadapan dengan seorang anak mafia. Bagus.
Suara tv yang keras membuatnya tak dapat didengar dari kali ini Tsunade tahu ia harus menuruti kemauan orang ini jika tak ingin nyawa Shizune dan dirinya melayang.
Namikaze manor. Dari sayap kiri rumah mewah itu kau dapat menemukan sebuah ruangan besi tertutup rapat. Pintu besi itu dilengkapi kombinasi kunci canggih yang menggunakan sidik jari. Dilihat dari bentuknya yang lain dari kamar sebelumnya, hanya kamar ini yang sulit ditemukan di dalam manor. Cukup aneh untuk menyebut itu adalah sebuah kamar karena pintu ini lebih mirip pintu ruangan pendingin ketimbang kamar namun sebuah papan bertulis 'kamar KURAMA. DILARANG MASUK!' membuat orang terheran-heran.
Di dalam kamar itu pun tak jauh lebih aneh dari penampilan luarnya. Kamar ini cukup luas namun minim pencahayaan. Kamar ini tak memiliki jendela. Wallpaper gelap yang dihiasi aneka poster-poster band punkrock mengerikan mendominasi kamar. Pemiliknya sepertinya memiliki hobi mengoleksi berbagai macam pisau, hingga katana. Semua terpajang rapih di dinding suram itu. Ditengah ruangan ada satu tempat tidur Queen size, ditutupi selimut dan bantal bergambar serba tengkorak dan mata manusia entah asli atau bukan dalam tabung berisi cairan kehijaunan, memastikan organ-organ itu dan lainnya tetap mengambang. Namun perhatian kita bukan pada kamar mengerikan itu melainkan seluit dua sosok tinggi yang sedang sibuk melakukan sesuatu di balik ruangan lain bertulis toilet. Pintu kamar mandi itu sedikit terbuka. Hanya kamar mandi itu yang nampak terang di ruangan ini hingga cahaya meyelip keluar lewat daun mandi sangat mengerikan. Kamar mandi itu telah disulap menjadi kamar 'praktek bedah' pribadi Kurama.
" Sepertinya kamar mandimu telah menjadi tempat bersenang-senang, huh?" komentar pria bermuka ular sembari menjelajahkan matanya ke segala arah. Ia akan berfikir 1000 kali jika ia yang diajak anak psikopat ini. Kamar mandi ini lebih baik disebut sebuah 'ruangan sempit berdarah'. Lihat saja bak mandi sauna di pojok ruangan, bak itu diisi oleh gumpalan cairan pekat berwarna merah. Bau besi menyengat berasal dari sana.
"Yeah. Semenjak Ibu melarangku memakai ruang bawah tanah sebagai tempat praktek, aku memindahkan semua alat bedahku ke sini. Setidaknya tidak terlalu sempit. Aku tak mau bau busuk mereka mengganggu tidurku jika ku taruh di dalam kamar." Jawab Kurama enteng. Seakan Orochimaru menanyakan mengapa ia tidak menonton bola hari ini. Kurama sendiri yang telah lengkap dengan baju operasinya yang persis milik rumah sakit sungguhan dan sarung tangan karet ditangan. Ia datang membawa baskon stenlis berisi air hangat dan handuk wajah.
" Lalu bagaimana kau mendapatkan darah sebanyak itu? Apa kau punya kegemaran aneh mandi dengan darah?" sindir Orochimaru.
"Semua darah dari koran mainanku. Totalnya 44 orang. Aku memeras daging mereka semua di dalam mesin, kemudian ku kumpulkan semua darah itu di dalam bak. Mandi? Tidak. Aku hanya suka melihat darah saja." Jawab tak acuh Kurama."Sensasi melihat darah itu mengalir sungguh aku tak tahan." Lalu ia menyeringai seakan sedang merasakan sabu-sabu.
Sempat terfikir juga olehnya untuk mandi bersama orang yang ia sayangi selayaknya sepasang manusia yang sedang kasmaran di dalam riak merah darah yang kental. Menikmati waktu intim berdua di dalam bak penuh oleh pekat darah itu. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergairah. Dan impiannya sebentar lagi menjadi nyata.
" apa darah sebanyak ini tidak membeku setelah terkena udara?"
"Aku memasukan anticoagulant (zat yang mencegah pembekuan darah), bisa juga heparin. Setiap pagi dalam jumlah tertentu."
Orochimaru tidak tahu seberapa sakit anak ini tapi sudah dipastikan ia tak bisa meremehkannya. Jika bukan bayaran mahal Orochimaru tak berminat mengunjungi keluarga namikaze. Selamanya.
'Semua orang disini sakit,' pikir profesor muka ular itu.
"Aku akan membersihkan tubuh Naruto dulu." Ujar Kurama. Matanya menatap sendu sesosok pemuda tak sadarkan diri di meja besi sedari tadi. Naruto terbaring tanpa sehelai benang pun. Hanya sebuah handuk putih yang di bentangkan pada area bawahnya guna menutupi pinggul hingga pahanya. Kulitnya pucat memiliki beberapa bekas lebam biru dan luka bakar di punggung tangannya. Bonekanya yang dulu sangat indah harus ternodai oleh tangan pria jepang brengsek itu. Jika saja ia tahu dari awal musuhnya adalah penculik adiknya ia tak akan segan-segan menembakan nuklir ke markas pria pantat ayam tidak, ia akan langsung memenggal kepalanya dan memberi makan Kyubi, lalu memaku kedua matanya di tembok.
"Ia begitu indah." Guman Kurama. Dengan telaten tangannya membimbing hantuk basah ditangannya mengusap tubuh Naruto. Membersihkan semua noda keringat dan debu diatas permukaan kulit tannya. Ia ingat Naruto tak seberwarna ini. Ketika masih kecil Naruto sangat putih karena ia tak pernah keluar bermain dan merasakan teriknya matahari. Namun sekarang ada banyak ada sisi sekecil apapun yang ia lewatkan. Dengan hati-hati ia melakukannya seakan takut akan membangunkan malaikat kecilnya yang sedang tertidur damai.
"Setelah ini aku ingin kau menyembuhkannya. Itulah alasannya kau ada disini, orang tua."
Orochimaru mendelik tak suka, meskipun senyum lebar masih terpajang diwajahnya. Pria itu pun berkata"ya, yah..aku mengerti."
Orochimaru mengambil sebuah alat suntik dari menja besi rak bersusun tiga yang penuh dengan alat-alat bedah. Kurama memang menyimpan berbagai alat bedah asli guna mempermudah menyalurkan kegemarannya membedah. Ia tak perlu ikut sekolah kedokteran jika ia bisa membaca buku sedikit dan mempraktekannya langsung. Orangtua dulu bilang 'pengalaman adalah guru terbesar' so untuk apa sekolah tingi-tinggi dan buang-buang waktu mendengar ocehan dosen sok pintar diluar sana. Untuk itu ia harus memiliki semua alat-alat itu demi kesuksesan prakteknya langsung. Kurama lebih suka menyebutnya berseni dari pada malpraktek atau kerja nyata.
"Bagaimana ia bisa terkena racun?"
" Entahlah, Menma mendapat informasi kalau Naruto telah diberi racun kemungkinan besar oleh musuhnya. Racun itu sampai menggrogoti sistem saraf dan membakar pita suaranya."
Orochimaru mengangguk sekilas, "oh, ini menarik." Ia menjilat bibirnya yang kering. Orochimaru mengambil suntik lumayan besar, guna mengambil sampel darah pasiennya.
"Aku akan mulai sekarang. Pertama akan ku keluarkan racunnya dan mengujinya sehingga kita dapat mengetahui racun apa yang menggrogoti tubuh adikmu ini."
Kurama memperhatikan pria muka ular itu menyuntikan jarum ke perpotongan lengan mulus sang adik berlahan kemudian menyedot darahnya. Cairan pekat merah berlahan memasuki tabung suntikan. Setelah cukup, Orochimaru segera memasukannya ke dalam tabung reaksi kemudian menambahkan beberapa tetes zat entah apa guna menentralkan darah sehingga ia dapat lihat campuran murni terkandung dalam kepingan darah Naruto.
Ia mengaduk-aduk tabung reaksi dengan tangannya hingga zat itu beraksi dan berubah warna. " Kita akan melihat hasilnya sebentar lagi."
Kemudian berlahan warna merah pekat itu berubah menjadi oranye kemudian menjadi abu-abu pekat, mirip warna lumpur. Mata Orochimaru menyipit ketika mendapatkan keganjalan pada racikannya.
"hohoho, sepertinya adik kecilmu ini masih beruntung. Jika tebakanku benar adikmu ini baru saja mengalami siksaan malaikat maut. Ini racun yang sangat mematikan. Menyiksa korban peminumnya secara berlahan hingga putus asa. Kematian adalah pilihan terbaik. Kita berdoa saja agar saya dapat mencari penangkal secapatnya, tuan Kurama. Waktunya tak banyak."
Kurama memutar bola matanya, orang bermuka ular itu berbicara seakan ia adalah orang terbodoh di sini. Oh, ayolah, Kurama memang tak terlalu mahil dalam hal kimia dan farmatologi untuk itu ia meminta tolong orang ini namun bukan berarti ia tak tahu soal racuna-meracuni. Ia hidup dengan membunuh sejak kecil. Ia mempelajari segala hal untuk membunuh orang (meskipun ia lebih suka melihat wajah penuh darah dan rintihan memohon mereka), salah satunya belajar meracik racun untuk membunuh. Tetapi yang dilakukan Orochimaru sedikit , Orochimaru adalah ahli racun dan ia tahu jenis-jenis racun. Dan orang nyetrik ini tahu penangkal hampir semua jenis racun didunia.
Terkadang Kurama berfikir wajah Orochimaru jadi seperti itu karena terlalu banyak menghidup zat berbahaya di labnya. Yeah, siapa yang tahu,bukan?
"Kuharap kau tak membayangkan hal-hal yang jelek tentangku, tuan." Guman Orrochimaru ketika melihat ekspresi Kurama.
"Terserah," dengus Kurama.
Orochimaru terdiam ketika melihat hasil endapat zat di gelas tabung reaksi itu. Cukup lama seakan sedang memutuskan sesuatu yang sulit. Untuk mempertajam dugaannya dan membuktikan prasangka didalam otak jeniusnya ia harus melakukan pemeriksaan lebih jauh,kemudian ilmuan ini segera memasukan pipet kaca di dalam tabung reaksi itu dan mengambil berapa bagian yang akan ia teteskan kembali di atas permukaan cawang kaca. Cawang kaca ini kemudian ia letakan di meja microskop nano milik Kurama.
"pegang ini," Orochimaru menyerahkan tabung reaksi hasil sulingan tadi kepada Kurama. Kurama sendiri masih penasaran dengan hasilnya hanya mampu menuruti tiap perintah si ilmuan nyentrik itu. Ia dengan sabar menunggu hasil dari Orochimaru.
"Menarik, sudah kuduga..."
Kurama mendengar Orochimaru berbicara dari balik mickroskop. Tangan pucat Orochimaru terus memutas-mutar skala pembesar untuk memperjelas gambar objek yang ia amati.
"apa yang menarik pak tua? Cepat beritahu!" Gerutu Kurama tak sabaran.
Orochimaru akhirnya bangkit – ia tersenyum semakin lebar dan sangat mencurigakan. " Aku melihat sendiri pola racun itu. Mirip tumor ganas. Memakan sel secepat yang ia mampu sehingga korban akan mendapatkan rasa terbakar hebat ketika mengenai organ sensitif seperti tenggorokan dan krongkongan. Lalu beraksi di perut kemudian menyusup di darah hingga ke otak. Jika tak beruntung adikmu ini telah lama mati setelah 5 hari proses injeksi. Ah, untunglah ada orang yang tahu sedikit penanganan racun macam ini dan memberikan obat penghambat. Meskipun justru mengakibatkan kerusakan beberapa jaringan ah...tapi lebih jauhnya kau pasti tak akan mengerti,tuan Kurama"
Kurama meyipitkan bola matanya," hentikan omong kosongmu dan katakan racun dari siapa ini,muka ular."
Orochimaru terkekeh sebentar lalu menjilat bibir nya yang kering." Pertanyaan bagus. Yang kutahu racun menakjubkan ini hanya pernah diciptakan oleh seseorang jenius sepertiku. Kebetulan aku pernah bertemu dan melihatnya. Ia pernah mendemonstrasikan hasil penemuannya ini di Rusia, tentu saja disebuah pertemuan tertutup hanya untuk ilmuan dibidang rekayasa biokimia. Ia menemukan sebuah bunga langkah di hutan tropis dan mencampurnya dengan batuan kristal indah dari perut bumi yang mematikan. Reaksinya sama dengan radiasi nuklir 100kali berniat menjualnya pada militer Rusia. Nyaris terwujud namun berhenti mendadak ketika pabrik pengembangannya di bom. Ku pikir ia telah membatalkan proyeknya ini selamanya ketika perusahaannya dihancurkan oleh mafia suruhan ayahmu 20 tahun lalu. Dan...Namanya Sasori"
"siapa?"
" Sasori. Sasori dari Timur. Kurasa ini makin jelas mengapa ia mengirim racun ini kepadanya. Bukankah baru saja kau mengatakan adikmu ini hidup bersama mafia dijepang selama ini ? atau karena ia tahu adikmu adalah anak salah satu musuhnya?"
"Sasori? " Kurama mendengus meremehkan, seringai evil nampak pada wajah tampannya.
" Aku tak butuh riwayat meyedihkan dirinya tapi jika sudah menyangku nyawa adikku, aku tak akan tinggal diam."
Orochimaru terkekeh."penuh ambisi seperti kushina. Yah kalian memang mirip."
"jangan samakan aku dengan wanita itu! Cepat kau obati adikku jika sudah paham." Kurama melemparkan tatapan mengancam . ia nampak tak suka mendengar nama itu.
"Well, Akan ku coba. Itulah gunanya semua gelar jeniusku selama ini. kukhuhkhuhkhu"
Di dunia alam bawah sadar Naruto
Sesak.
Dingin.
Ia dapat merasakan dirinya seperti tercekik dan ditenggelamkan dalam bak berisi air es. Sebuah tangan besar tak kasat mencoba meremuk tulang lehernya,
Naruto mencoba menggapai lehernya namun ia tak menemukan apa-apa seperti yang ia bayangkan.
Tubuhnya sekan terus berenang ke dasar lautan tak berujung dan ia dapat mendengar suara familiar sayup-sayup terdengar.
"Selamat atas ulang tahun pertama kedua anak kembar anda, tuan minato." Seperti sorang wanita berseru dengan gembira. Tapi menggunakan bahasa lain. Terdengar bukan seperti bahasa jepang.
Lalu terdengar suara pria menjawab " kembar? Ini mukzizat!" ia nampak begitu bahagia disela nada keterkejutannya,"Aku berharap keduanya berguna untuk family kelak."
Itu suara ayahnya! Rasa rindu itu mendadak mengrogoti dadanya. Rasanya seperti ada kembang api diperutnya. Ia begitu merindukan suara khas ayahnya yang lembut dan berkharisma.
"Aku tahu. Kedua anak kita kelak akan menjadi penerus mimpimu"kali ini suara lembut ibunya menyapa pendengarannya.
"Ayah...aku rindu ayah, naru juga rindu ibu,hik,hik..."isak Naruto.
Bersamaan dengan isakan Naruto suara lain menyahut,"Bohong! Kau munafik! Sesungguhnya kau sangat membencinya,bukan!"
Muncul entah dari mana sosok yang mirip dirinya. Dirinya yang lain itu benar-benar seperti cermin refleksi pantulan dirinya,"Tidak! Kau yang berbohong" Naruto membantah.
"akui saja! Kenapa kau selalu lari dari kenyataan? Kedua orangtuamu sangat membenci anak terberguna sepertimu. Menma 1000 kali lebih baik darimu. Memang dari mana rasa percaya dirimu ini?" peniru dirinya kembali memanasinya.
"tidak! ayah dan ibu masih mencintaiku" Naruto kecil membantah keras. Kedua bola matanya memicing marah.
"jika mereka mencintaimu, mereka tak akan mengurungmu di dalam ruangan itu!" Si dublikat menunjuk suatu kamar suram tanpa jendela yang tak asing. Ruangan yang menjadi mimpi buruk naruto. Tempat yang 99% dia habiskan masa kanak-kanaknya disana. Suram, lembab dan tanpa cahaya matahari di bawah tanah. Kamarnya.
Berlahan ingatan naruto kembali dipaksa keluar. Ingatan yang bahkan ia tak ingat lagi. Seperti film jadul, terputar acak di hadapannya.
TAP TAP TAP. Bunyi langkah tergesa-gesa meramaikan jalan sempit yang semuanya terlihat sama di lorong bawah tanah itu. Di kiri kanan hanya terlihat tembok kokoh dari beton dan beberapa pintu besi terkunci rapat terlewati begitu saja.
" Daddy...Tangan Naru sakit..."
"..."
"daddy..naru bisa jalan sendiri...lepas.."
"..."
Anak kecil berambut pirang lusuh diseret paksa seorang pria dewasa berambut pirang. Anak berpakaian bak gembel itu hanya menatap takut sang pria alias ayah kandungnya yang sama sekali tak berniat berlaku lembut padanya.
" Daddy, naru tidak mau tidur di bawah lagi. Naru janji gak akan nakal...daddy..naru gak mau..."
"Diam. Bukankah aku sudah melarangmu bermain keatas?"
"Ta-tapi naru juga mau bermain dengan Menma dan Kurama. Naru juga mau tiup lilin..dan..."
Sang pria berhenti dan menatap nyalang ke sosok mungil itu.
" Apa aku tak pernah membuatmu jera? Sudah ku katakan untuk tidak berkeliaran diatas? DISINI ADALAH TEMPATMU!"
PLAKK
Pria itu menampar anaknya hingga terjatuh di lantai beton.
"Ma...maafkan aku daddy...naru hik..naru..." si kecil mengusap pipinya yang memerah.
"Aku sudah sering memperingatkanmu, jika sampai orang luar melihatmu..."
Lalu matanya melayang ke benda asing yang terlempar dari kantong baju si anak. Sebuah box music. Seingatnya ia tak pernah memberikan anaknya mainan perempuan seperti itu. Mendadak amarahnya meningkat.
"Siapa yang memberikanmu ini? siapa?!"
"Ampun daddy... jangan di rucak...hik..hik...itu hadiah naru..."
"SIAPA YANG MEMBERIKANMU?"
BAAKK
BAKK
"GHAAAA...NA—NAHRU TIDAK ...GHAA... TIDAK TAU ..."
Bunyi tendangan dan jeritan kesakitan memantul dilorong terowongan bawah tanah.
SHET. Pria itu menarik ikat pinggang dan kembali meyeret anak setengah pingsang di bawah kakinya menuju ujung bawah tanah. Sel ah, tidak, kamar pribadi anaknya. Music box itu telah ia banting dengan sadis ke dinding hingga kerangkanya terpisah. Sang anak menatap horor dengan bibir bernoda darah kering sabuk kulit asli ayahnya.
"Tidak...tidak...naru tak mau... naru.. tak mau...daddy, daddy, ampuni naru...pinggang naru..hik.. masihh sakit..."si anak menggeleng kuat-kuat. Ia ketakutan.
"Bohong. Kau makin pandai berbohong padaku. Aku sudah lama tak menyentuhmu. kurasa hanya hukuman itu kau baru bisa menangkap maksudku naruto." Tak perdduli tangan anaknya patah, ia terus menariknya hingga di hadapan pintu besi itu.
Pria tersebut menekan beberapa tombol sandi di depan pintu hingga terbuka otomatis, memperlihatkan ruangan gelap nan suram," Masuk!" mata biru dingin sang ayah menatap bocah itu penuh intimidasi. Seakan mengatakan 'masuk atau aku akan melakukan hal yang lebih kejam lagi.
BLAM
Pintu tertutup rapat dan mengunci dari dalam. Anak itu menjerit kian keras di dalam namun karna efek peredam suara, hanya seperti siaran horor di TV yang diperkecil volumenya.
Ingatan itu terpotong. Ia tak begitu ingat kejadian itu pernah terjadi. Seperti bukan ingatannya.
Bagaimana bisa ingatan buruk itu bisa menimpanya dulu. Tidak. Itu pasti salah.
"Tidak! Ayah dan ibu sayang naru!"
"Hahaha!tolol! ayah tak menginginkanmu! Ayah lebih memilih bermain dengan Menma dan Kurama,ibu meninggalkanmu di dalam penjara itu. Semua karena mereka tak mau mengurusmu. Mereka tak menginginkanmu."
Berlahan semua pertahanannya runtuh. Naruto tak dapat menahan matanya yang perih. Badan dan bibirnya bergetar menahan perasaan sedih dan marah yang ia tahan sejak tadi,"hik...tidak...ayah ibu sayang kok sama naru..."
"Kau anak nakal dan selalu merepotkan maka dari itu mereka tak menyayangimu lagi, naru"
"hueeeee...naru gak nakal...naru sayang ayah dan ibu naru...hueee.." pecahlah tangisan keras Naruto kecil kembali terngiang di kepalanya. Entah mengapa anak yang meniru dirinya menghilang setelah puas mengganggu hingga menangis meringkuk ditanah.
Sebuah pusaran kabut berlahan menguasai sekeliling Naruto kembali. Semua menjadi dipenuhi kabut berubah menipis, meperlihatkan sebuah taman yang asing bagi ingatannya.
Lalu Naruto dapat merasakan rumput yang basah menyapa indra peraba telapak kakinya. Naruto mendapati dirinya dengan ukuran tubuh kecil. Mata Naruto membulat sempurna melihat kedua tangan mungilnya.
"Aku mengecil?" Naruto nampak semakin bingung.
"apa ini mimpi yang lain?" Tanya Naruto . Ia yakin bayangan yang mirip dengan wajahnya barusan masih ada di dekatnya. Dimana dia? Dimana ini?
'bodoh, ini salah satu kenanganmu. Aku membantumu mengingatnya kembali.' Suara yang mirip dengannya kembali menjawab. Kali ini ia melihat dublikat dirinya, dengan baju kemeja putih dan celana jean pendek selutut, persis dirinya sekarang berdiri tepat di belakangnya.
' Mereka datang! Sebaiknya cepat kau sembunyi!'perintah dirinya yang lain. Mendadak wajahnya nampak panik dan gelisah.
"siapa yang datang-?" baru saja Naruto hendak bertanya balik naruto yang lain telah menghilang, ketika tiba-tiba dari balik pepohonan muncul 3 orang pria besar entah dari mana.
Naruto terdiam ditempat. Tubuhnya tidak mau diperintah untuk lari dari sini. Naruto tak tahu siapa mereka semua tapi ia yakin mereka adalah berniat tidak baik kepadanya dengan melihat wajah mengerikan mereka. Ketiga pria itu berlahan mendekat dan mengepungnya.
" Mau kemana adik kecil?" tanya pria sebelah kiri bermuka runcing kurus.
" Aku yakin ini anak bangsawan rumah besar itu? Namanya Menma kalau tidak salah. Aku yakin dia sama persis dengan yang di foto."
"ya kau benar,bung. Tunggu apa lagi? Cepat kita bawa dia. Dipasar pasti mahal sekali." Sahut lainnya.
"Tidak! Kita akan serahkan pada boss besar! Ingat rencana awal kita, Bodoh!" mereka sedikit berdebat dengan suara diminimaliskan sekecil mungkin.
'Mereka pasti penculik! Mereka orang jahat!' pikir Naruto.
Ketiga pria itu mengepungnya. Salah seoang mengeluarkan tali dari balik tas pinggangnya. Yang lain bersiap menangkapnya.
"ayo ikut dengan paman," bujuk pria berkumis dengan topi kumal dikepalanya sok baik hati. Namun dengan tampang mengerikan begitu malah membuat anak manapun semakin ketakutan.
Naruto gemetaran hingga keujung kaki mungilnya. Embun rerumputan semakin terasa dingin di sela-sela kakinya. Bayangan tangan tangan besar nan kokoh itu berlahan siap menerkamnya. Naruto menutup mata ketakutan. Ia tersesaat didalam hutan jauh mension rumahnya. Tidak ada yang akan menolongnya.
Namun sesosok lain bersurai merah darah melayang di pikirannya. Hanya sosok itu yang ia pikirkan sampai sejauh ini ia melangkah.
'Gaara..tolong aku...!' Batinnya memohon.
TBC
APA INI?
Sekian dulu. Yang pasti chapter depan akan ada flashback naruto yang lebih jelas mengingat sang tokoh utama sedang dalam masa kritis, saya akan mengajak dirimu berkunjung ke masa lalu naruto sebenarnya. Yang pasti gak ada bahagia-bahagianya ( kaya anak tiri aja) -.-. semacam kata pepatah engkong saya dulu, semakin tinggi pohon itu semakin kencang angin menerjang (?) what... okey bye.
Ps: Usahain saya akan lanjut n bertanggung jawab secara berkala kepada fic GAJE ini. Maaf kalo gak memuaskan, typo (lebih dari) sedikit, dan berputar-putar. Maklum saya suka gender ANGST, GORE DAN LEVI(?)
terima kasih banyak tuk yang menyediakan waktu membaca fic yg jauh dari kata sempurna ini dan menekan tombol follow, review maupun cuma numpang lewat...but dont forget to review lagi yaaa. author bukan apa-apa selain saran dan suport kalian...bye
See ya...
