KH_10

IT IS YOU I HAVE LOVED

Terra's POV...

Aku masih belum melepaskan bibirku yg menempel dengan bibirnya. Bibirnya yg lembut dan berukuran lebih kecil daripada bibirku, aku sangat menyukainya ketika bibir itu menyentuhku. Aqua memelukku semakin erat, tanda bahwa ia belum mau melepaskan ciumannya dariku, dan lagi bibir serta lidahnya seolah terus memaksa untuk bermain-main dengan lidahku. Aku pelan-pelan menjatuhkan diriku yg masih memeluknya, dan akhirnya tubuhku mendarat tepat di antara kebun Lavender Aqua dengan posisi Aqua menimpa tubuhku, namun karena dia langsing aku sama sekali tidak merasa berat. Aqua melepaskan ciumannya dariku, aku bisa melihat warna wajahnya yg memerah, hal yg sering terjadi setiap kali kami selesai berciuman.

"...Terra", Aqua meletakkan kepalanya di atas dadaku, "aku ingin terus seperti ini.."

Aku tersenyum mendengarnya, tangan kananku membelai rambut berwarna biru lautnya, "aku juga..."

"Aku sangat mencintaimu Terra... aku tak mau kehilangan dirimu"

"Memangnya aku mau pergi kemana?"

Aqua mengangkat wajahnya, dan menatapku, "aku tahu kau sebenarnya khawatir Terra"

"Khawatir apa? Aku tidak..."

"Jangan bohong...", Aqua menyela ucapanku yg belum selesai, "aku melihatnya dari wajahmu..."

Bola mata Aqua seolah menembus pandanganku hingga ia bisa membaca pikiranku. Dia tahu kalau aku berbohong padanya, dia tahu kalau sebenarnya aku khawatir, kalau sebenarnya aku juga takut. Aku memang bukan tipe orang yg penakut, aku sama sekali tak takut meskipun puluhan unversed mengelilingiku, aku juga sama sekali tak takut andaikan lawan yg akan kuhadapi nanti adalah musuh yg sangat kuat sekalipun. Jujur saja, sebelum ini aku tidak pernah merasa takut. Tetapi kali ini... entah kenapa rasa takut malah memenuhi diriku. Aku sempat bingung akan asal rasa takut itu, tetapi ketika kulihat wanita yg sekarang ada di hadapanku ini... kurasa aku tahu sebabnya. Yg kutakutkan bukanlah kegelapan di dalam hatiku, yg seolah selalu mengancam diriku akan kekuatannya, tetapi yg kutakutkan adalah... kalau aku akan kehilangan Aqua suatu saat nanti. Aqua yg kucintai dan selalu menemaniku setiap hari sebagai teman dan kekasih. Apa artinya hidupku jika dia tak menemaniku?

"Aqua, aku...", aku memalingkan wajahku darinya, "aku hanya tak ingin membuatmu khawatir"

"Khawatir? Terra, justru akulah yg paling khawatir denganmu"

"Aku... aku tak pantas kau khawatirkan"

"... kenapa?", Aqua mendekatkan wajahnya, "kenapa kau merasa begitu?"

"Karena...", aku menatapnya kali ini, menatapnya dengan tatapan bersalah, "karena aku sudah membuat menderita orang yg kucintai, dan juga orang yg mencintaiku"

"Ini semua terjadi bukan karena salahmu...", Aqua membelai pipi kananku, bisa kurasakan telapak tangannya yg halus dan lembut bergerak naik turun di pipiku yg agak kasar, "dan kaulah yg paling menderita Terra, bukan aku"

"Tidak Aqua", aku mengangkat setengah badanku, dengan kaki yg masih terbaring, "aku tahu... kau sering menangis karena aku, kau juga sering memikirkan dan mencemaskanku, dan selagi kau seperti itu, aku tak bisa menghiburmu... aku... aku merasa tak pantas untukmu"

"Kau sangat pantas untukku Terra... dan kau jadi seperti ini juga bukan salahmu, aku mengerti itu!"

"...", semua perkataanku bisa dilontarkan balik olehnya, kenapa dia selalu membela diriku? aku saja tidak membela diriku sendiri.

"Terra... jangan membenci dirimu sendiri"

"... kenapa?"

"Apa?"

"Kenapa... kau selalu bersikeras bahwa ini bukalah salahku? Kenapa kau selalu membelaku?"

Aku tahu ini pertanyaan yg bodoh, dan kurasa buat apa aku menanyakannya? Rasanya aku bisa menebak apa jawaban dari Aqua, aku bisa melihatnya dari ekspresi wajahnya.

"Kenapa kau masih harus menanyakannya Terra?", tanya Aqua, sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku, "It's because, It Is You I have loved... All Along"

"Hah?"

"... itulah jawabanku"

Aqua bangkit berdiri, sambil menghadap ke arahku. Aku melihat mulutnya yg mulai terbuka , kurasa ia mau menyanyi... lagi. Entah kenapa, dia jadi lebih suka menyampaikan perasaannya padaku lewat lagu yg dinyanyikannya, tetapi... harus kuakui kalau suaranya bagus. Dan, entah kenapa setiap lagu yg dipilihnya selalu cocok dengan apa yg dia rasakan, begitu pula denganku. Aku memutuskan untuk mendengarkan nyanyiannya, sekaligus melihat sosoknya diantara bunga Lavender, ya... dia terlihat cantik, sangat cantik.

There is something that I see
In the way you look at me
There's a smile, there's a truth in your eyes

But an unexpected way
On this unexpected day
Could it mean this is where I belong
It is you I have loved all along

It's no more mystery
It is finally clear to me
You're the home my heart searched for so long
And it is you I have loved all along

There were times I ran to hide
Afraid to show the other side
Alone in the night without you

But now I know just who you are
And I know you hold my heart
Finally this is where I belong
It is you I have loved all along

It's no more mystery
It is finally clear to me
You're the home my heart searched for so long
And it is you I have loved all along

Over and over
I'm filled with emotion
Your love, it rushes through my veins

And I am filled
With the sweetest devotion
As I, I look into your perfect face

It's no more mystery
It is finally clear to me
You're the home my heart searched for so long
And it is you I have loved
It is you I have loved
It is you I have loved all along

(Based from Dana Glover – It Is You)

Aqua selesai menyanyikan lagu itu, dan setelah itu aku berdiri. Aku mendekatkan diriku ke Aqua, menatap mata emerald birunya yg terus menatapku. Aku sudah tak tahan lagi untuk memeluknya, baru kusadari kalau betapa bodohnya aku. Mengapa aku tak menyadari cinta Aqua yg sangat tulus kepadaku? Ternyata selama ini aku hanya mementingkan diriku sendiri, dan tidak memperdulikan perasaannya.

"Kau sudah tahu kan jawabannya?", tanya Aqua yg berada di dalam dekapanku.

"...ya", aku mempererat pelukanku, "maafkan aku Aqua, ternyata selama ini aku sangat egois"

"Terra... kenapa kau berkata begitu?", Aqua bertanya sambil mendongakkan kepalanya ke atas.

"Setelah mendengar nyanyianmu tadi, aku baru sadar kalau... aku sama sekali tak memikirkan mu"

Aqua sedikit bereaksi mendengarnya, "Hah? Apa maksudmu?"

"Maksudku...", aku melonggarkan pelukanku dengannya, membuatku bisa menatap wajahnya lebih jelas, "aku selalu membuatmu cemas dan sedih... tetapi, aku tak pernah menghiburmu. Malahan, yg aku malah terus terpuruk sendiri, sama sekali tidak mengerti perasaanmu"

"... Terra"

"Aku bukanlah kekasih yg baik untukmu... karena aku sering sekali menyakitimu"

"Aku sama sekali tak pernah mempermasalahkan itu, Terra"

"Itu semua karena kau terlalu baik Aqua... kau sudah terlalu sering mengorbankan perasaanmu demi aku"

"Tapi aku..."

Sebelum dia sempat bicara lagi, aku langsung mencium bibirnya. Aqua berusaha mendorongku, tetapi aku menahannya, karena dia pasti akan menjawab perkataanku lagi jika aku melepaskan bibirku. Daripada menahan perkataannya dengan perkataan juga, lebih baik kujawab seperti ini, dengan hal yg sering kami lakukan berdua. Setelah mencoba memberontak daritadi akhirnya Aqua menyerah dan malah ikut membalas ciumanku, sepertinya ia tahu kalau aku sudah capek berdebat dengannya daritadi. Awalnya, aku hanya ingin mencium bibirnya sebentar saja karena aku hanya ingin menahannya bicara, tetapi entah kenapa Aqua malah memperkuat ciumannya denganku. Terutama, kali ini dialah yg duluan memainkan lidahnya jika sebelumnya selalu aku yg lebih dulu melakukannya. Rasanya tak mungkin aku menolak ciuman darinya, dan tangan Aqua yg memeluk punggungku memberikan isyarat dengan menekan-nekan punggungku, maksudku... dia ingin kami berdua seperti ini sambil berbaring lagi di kebun Lavendernya.

Aku menurut, dan setelah itu aku dan Aqua menjatuhkan diriku kembali ke kebun bunga Lavender itu, bedanya kali ini Aqua berada di bawahku. Akhirnya, kami jadi seperti kembali ke momen sebelumnya tadi, kami kembali berciuman di antara kumpulan bunga Lavender ini. Wangi tubuh Aqua serta wangi bunga Lavender bercampur menjadi satu memasuki hidungku, tetapi aku merasa kalau bau mereka cocok, sama sekali tidak berbenturan atau berlawanan yg menyebabkan hidungku sakit. Saat aku baru saja mau meneruskan ciumanku, tiba-tiba saja Aqua malah melepas bibirnya, dari desahan nafasnya aku bisa menebak kalau ia butuh udara. Dasar, dia sendiri yg memulai tetapi dia sendiri yg kelelahan duluan, aku hanya tersenyum melihatnya.

"..."

"Kau tak apa-apa?"

"I... iya", Aqua menjawabku sambil mengambil nafas berkali-kali.

"Kau bukan pencium yg baik, Aqua. Kau yg memulai, tapi kau duluan juga yg kelelahan"

"...", Aqua memasang muka yg sedikit jengkel, "kau sendiri, waktu kau menciumku di kamarku, kau juga yg mulai duluan, tapi kau sendiri juga yg kehabisan nafas"

"... oh ya?"

"Yap... aku sampai menyuruhmu untuk tidur di dadaku. Ingat?"

Aku mencoba mengingat-ingat, dan ternyata... benar. Aku memang pernah begitu di 'malam pertama' kami. Aqua tertawa melihat reaksi wajahku yg malu-malu, dan setelah itu ia kembali mencium bibirku... singkat.

"Aku mencintaimu Terra..."

"Aku juga", aku bergerak memeluk Aqua yg sedang terbaring di tanah, "aku juga mencintaimu, Aqua"

Aku benar-benar tidak ingin melepaskannya, aku juga tak ingin kehilangan dirinya. Wajahnya, aroma tubuhnya, senyumnya, tatapan matanya, tangisannya, gerakannya, pelukannya, ciumannya, aku ingin agar bisa selalu merasakan dan mengingatnya. Aqua, aku sungguh membutuhkan dirimu, aku yakin aku takkan bisa hidup tanpa dirimu. Tak ada wanita yg bisa menggantikanmu di hatiku, karena hanya kaulah wanita yg kucintai di dunia ini. Aku ingin sekali berjanji padamu kalau aku akan hidup bersama denganmu selamanya, tetapi kegelapan di dalam hatiku seakan menghalangiku untuk mengucapkan semua itu. Aqua... andaikan aku mati, tidak... aku tak boleh berpikiran seperti itu lagi. Aku sudah cukup membuatnya cemas dan menangis, dan yg seharusnya kulakukan untuknya adalah melindungi serta mencintainya, bukan malah membuatnya semakin khawatir akan diriku. Aqua... kuharap kau tidak bosan aku kalau aku mengucapkan kalimat ini lagi, tetapi aku memang ingin sekali terus mengatakannya meskipun kau sampai bosan. Aqua... aku, aku mencintaimu.

Entah kenapa saya malah membuat 2 chapter ini menjadi sebuah drama musikal, apa menurut kalian bagus? Mohon kritik dan sarannya untuk mengetahui pendapat kalian. Bagi yg ingin tahu lagunya, silahkan cek di youtube, lagunya enak kok. Please read n review!