CHAPTER 10

THAT DOG BACK AGAIN?

Kelima orang itu asyik bersenandung dalam kehangatan api unggun dan juga ditambahnya ikan bakar hasil memancing tadi. Namun, ditengah kegiatan ada sesuatu yang tidak beres dan seperti lupa sesuatu. Keiji secara langsung memandang Kise yang sedang asyik bernyanyi lagu 'Wildest Dream'. Keiji menghampiri Kise. "Psst..psstt, Kise," sambil menepuk pundak Kise. "Ada apa-ssu?" Kise melanjutkan bernyanyi. "Sebaiknya, kau dan aku harus pergi dulu," bisik Keiji. "Aahh.. Pergi apa lagi-ssu? Keiji-senpai gak lihat aku sedang asyik bernyanyi?" omel Kise. "Iya. A-aku tahu kamu sedang bersenang-senang, tapi ini penting. Apa kau sudah lupa?" bisiknya lagi. "Lupa apa? Kau kira aku.." ucapannya terputus ketika sesuatu menembus bagian belakangnya. Kise terkejut, lalu ia membalikan tubuhnya. Ekor lagi! Kise ingin berteriak namun tenggorokannya terasa kering. Keiji langsung mendekatinya di depan dan mendekap mulut Kise. "Ssstt.. Jangan berteriak. Sekarang, kau ikut aku ke hutan.". Kise hanya bisa mengangguk cepat. "Ki-chan, Kei-chan, mau kemana kalian?" tanya Momoi. "Eh! Momocchi. Kita, ehmm..kita.." , "Kita mau ke hutan sebentar." jawab Keiji sambil terburu-buru. "Aneh." gumam Momoi.

"Aku harus bagaimana-ssu?" Kise melengking kecil. "Pergilah sekarang," Keiji memerintahkan. "Ta-tapi.." , "Cepatlah pergi sebelum terlambat. Berlarilah ke dalam hutan. Jangan melihat ke belakang dan jangan kembali." lanjut Keiji terburu-buru sekaligus ketakutan. Kise berusaha, namun perubahannya semakin cepat. Bulu-bulu mulai tumbuh di tangannya. "Cepat berlarilah!" Keiji mendorong Kise. Dengan cepat-cepat, Kise pun menjauhi Keiji dan masuk ke dalam hutan. "Padahal baru jam 6.00 PM. Aku harus memberitahu mereka," kata Keiji berlari terburu-buru. Di tepi danau, Aomine, Momoi, dan Kagami masih asyik melanjtkan kegiatannya. Keiji datang menghampiri mereka dengan nafas terengah-engah. "Oi Keiji, kenapa kau.." , "An-anjing.. anjing itu akan kembali!". Ketiganya terkejut. "Hii! Apa iya?" tanya Momoi melengking. "Jangan bertanya atau melakukan apa pun, pokoknya kita harus lari dari tempat ini!" perintah Keiji. "Ta-tapi, Ki-chan.. Kyaahh!" Momoi serentak kaget ketika mendengar suara lolongan keras. "Oh tidak! Dia akan datang! Sebaiknya kita lari! Dan Cepat!" ajak Keiji. Ketiga teman itu menyusulnya, namun terlambat. Anjing itu sudah berada dibelakang mereka. Keempat pemuda itu lari dari danau dan memasuki kawasan hutan. "A-apakah i-ini jalan menu-ju ke-ke pondok?" tanya Kagami. "Aku rasa iya," jawab Keiji dengan penuh yakin. "La-lalu bagiamana dengan Ki-chan?" Momoi bertanya penuh ketakutan. "Dia kabur ke arah yang berlawanan." lanjut Keiji. Mereka berlari secepatnya agar tidak diserang oleh anjing rabies itu. Namun, anjing itu semakin mendekat. Tiba-tiba,

KRAKK! Terdengar suara seperti tulang patah. Aomine! Dia terjatuh! "Aaaa! Sa-Satsuki!" teriaknya membuat Momoi, Kagami, dan Keiji berbalik. "Kakiku! Aku tidak bisa bergerak." rintihnya kesakitan. Anjing itu semakin mendekat dan melompat. Ia akan menggigit keempat orang itu. BUUKK! Seseorang telah memukulnya dengan bat. Anjing itu terlempar jauh. Rupanya Keiji, yang sejak tadi sudah membawa bat selama dikerjar oleh anjing itu. "Cepat bawa Aomine ke pondok! Terus jalan ke dalam hutan itu!" perintahnya lagi. "Ta-tapi.. Bagaimana dengan kau?" tanya Kagami tergagap-gagap. "Aku akan mengurus anjing ini! Cepat!". Momoi segera menggotong Aomine. "Da-Dai-chan! Kau bisa kan berlari menggunakan satu kaki?" tanyanya. Aomine mengangguk sambil menahan rintihannya. Mereka berlari menjauhi Keiji, kecuali Kagami. Sepertinya dia ingin membantu Keiji. "Apa yang kau lakukan? Sudah aku bilang cepat pergi!" seru Keiji sambil menoleh Kagami yang mengambil sebuah kayu besar. "Aku tidak mau! Apa pun yang aku lakukan, aku akan membantumu!" katanya dengan sok setia. "Baiklah kalau itu maumu!" balas Keiji yang terus melawan anjing itu. Kagami kemudian berlari untuk membantu melawannya. Belum menghampirinya, anjing itu sudah menggigit kaki Keiji! Tapi ada sesuatu yang aneh. Keiji tidak menunjukan ekspresi kesakitannya, ia justru diam dan tenang. Ia tidak berteriak seperti orang pada biasanya! Ekspresi Kagami justru bertambah takut. Kaki Keiji yang digigit Kise tembus. Tembus pandang! Kakinya tembus pandang! Sontak Kagami bergidik ngeri dan ia menjatuhkan kayu besar itu tanpa bergerak. Tanpa berpikir panjang, Keiji langsung memukul anjing itu lalu melawannya dengan sekuat tenaga. Dan akhirnya anjing itu menyerah dan berlari ke dalam hutan.