Disclaimer : Hunter xHunter ©Togashi-sensei
Story : Qierra Sabian a.k.a Qiessa
Title : My F.A.M.I.L.Y
(Father And Mother I Love You)
[Sequel My and You Family?]
Pairing : KuroXfemKura, slight Kuroro X OC, FemKurapika X Oc
Warning : Fic ni mengandung banyak keGAJEan author, OOC dan TYPO yang mungkin bertebaran dimana-mana. Fic berupa AU, jadi ceritanya tak sama dengan seri asli milik Togashi-sensei, jadi harap dimaklum. So, DON'T LIKE, DON'T READ!
A/N : akhirnya bisa apdet juga setelah perjuangan mencari inspirasi selama ini #lebay. Hai minna! #lambaitangan qiessa harap apdet kali ini ga terlalu lama ya. Qiessa mencoba sebisanya untuk apdet lebih cepat. Kali ini qiessa coba untuk sekalian apdet fic yang lain. Ok, ga mau lama2, silakan baca chappy baru ini. happy reading ^^
.
.
.
Chapter 9
Seminggu telah berlalu sejak kejadian ledakan kecil di dekat sekolah Al. Anak-anak sudah bersekolah seperti biasa sekarang. Kegiatan pagi mereka di lalui seperti biasa. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini, Kurapika ikut sarapan bersama anak-anak. Ia memutuskan untuk ikut mengantar anak-anak hari ini.
"Mama hayi inyi bangkat bayeng Ayes?" tanya batita itu dengan wajah berseri.
"Hu um. Mama hari ini berangkat sama Ares dan kakak Al ke sekolah." Jawab Kurapika sambil menyuapi anak itu.
"Nanti antey ke keyas juda?" Ares sedikit menghindar, menunggu jawaban.
Kurapika mengangguk setuju.
"Yeaay! Papa juda antey ke keyas ya." Ares melompat senang. Ia melihat Kuroro yang ada duduk di sebelah Kurapika.
Kuroro mengangguk setuju.
"Tapi sekarang makan dulu. Al juga makannya jangan di emut dong." Kurapika kembali menyuapi Ares dan melihat Al yang masih saja belum selesai makan.
Al hanya mengangguk kemudian mengunyah makanannya.
"Apa kau pulang malam lagi hari ini?" tanya Kuroro sambil melahap roti bakarnya.
"Hm... sepertinya begitu, ada apa?" Kurapika melirik ke arah Kuroro.
"Hari ini aku harus ke markas, jadi kemungkinan anak-anak akan kubawa ke sana."
"Sou... hmm... jaga mereka baik-baik jangan sampai terluka, perhatikan juga makanan mereka, jangan pulang terlalu malam, kasian mereka kalau mau tidur dan yang paling penting jauhkan mereka dari hisoka." Pesan Kurapika panjang lebar.
"Kalau urusanku selesai sebelum sore, mereka tak perlu ikut aku ke markas. Itu hanya pilihan terakhir."
Kurapika hanya mengangguk pelan, tanda setuju.
"Sebaiknya kita bersiap sebelum terlambat." Lanjut Kuroro lagi seraya bangkit dari kursinya dan berjalan mengambil kunci mobilnya.
. . .
Mobil Kuroro terparkir di depan sekolah Al dan Ares, Kurapika dan Kuroro menggandeng anak-anak berjalan memasuki gerbang. Anak-anak terlihat sangat gembira hari ini. sudah lama sejak terakhir kali mereka di antar oleh kedua orang tuanya. Ares terus bersenandung sambil melompat-lompat di gandengan Kuroro dan Kurapika. sedang Al, ia tak berhenti menebarkan senyum ramah ke setiap orang yang di temuinya.
"Ohayou, Al-kun... ohayou, Ares-kun." Sapa salah seorang guru di depan pintu.
"Ohayou sensei... ohayou cencei!" balas kedua anak itu dengan bersemangat.
"Cencei, hayi inyi Ayes di antey Papa Mama ke cekoyah." Lapor Ares langsung dengan wajahnya yang ceria.
"Sou, Ares senang ya di anter Papa Mama?" tanya guru itu, ia ikut senang melihat batita itu begitu bahagia.
"Um! Ceneng! Tadi cayapan bayeng, Mama tadi cuapi Ayes juda." Ceritanya kemudian dengan penuh antusias.
Guru tersebut hanya tersenyum sambil mengusap rambut lembut Ares.
"Kalau begitu, nanti jangan minta pulang ya. Ares bobo siang disini sambil tunggu Papa jemput lagi." Lanjut guru itu, mengingat beberapa hari ini Ares sering minta pulang setelah makan siang.
"Um! Bobo cini!" angguk Ares dengan cepat, menyetujui.
"Ayo Papa." Rengek Al mengintrupsi, anak itu segera menarik tangan Kuroro mendekati kelasnya. Kuroro dan Kurapika berjalan mengikuti Al dan memberi salam kepada guru itu.
"Al belajar yang pintar ya. Ares juga, jangan nangis lagi, tunggu Papa jemput sore nanti." Pesan Kurapika pada kedua jagoan kecilnya. Ia berjongkok seraya merapikan baju kedua anak itu.
"Iya Mama, Al nanti belajar yang pintar." Jawab Al dengan cepat.
"Um. Ayes juda. Nda nannis." Ares ikut menjawab sambil menggeleng perlahan.
"Pintar." Puji Kurapika seraya mengusap rambut kedua anak itu.
Al dan Ares tersenyum bahagia. Mereka segera memeluk Kurapika erat.
"Papa cini." Pinta Ares sambil melihat Kuroro dari balik bahu Kurapika.
Kuroro berjongkok di dekat mereka.
"Peyuk juda." Pinta Ares lagi, ia sudah merentangkan salah satu tangannya, sedangkan tangan yang masih memeluk tubuh Kurapika.
Kuroro menggeleng pelan, ia mengelus rambut kedua anak itu lembut kemudian mencium puncak kepala mereka.
"Mama pergi dulu ya. Kalian jadi anak yang pintar ya." Pamit Kurapika kemudian.
"Um!" mereka menjawab dengan penuh semangat.
Kurapika tersenyum lembut kemudian pergi menjauh bersama Kuroro.
.
.
.
Markas Ryodan.
Seorang wanita berambut sebahu berpakaian seperti sekertaris terlihat berjalan dengan tenang melewati bongkahan puing di gedung tua itu. mata sayunya menangkap sosok yang begitu ia kenal sedang duduk di singga sananya. Ia melangkahkan kaki jenjangnya mendekati sosok sang danchou itu.
Kuroro sedang duduk dengan tenang sambil membaca bukunya, di pangkuannya tertidur seorang anak berwajah manis berambut senada dengannya. Jemari lentik Kuroro memainkan rambut anak itu dengan lembut, membuainya dalam alam mimpi yang indah.
"Danchou." Ucap wanita itu pelan, tak ingin mengganggu tidur sang anak.
Kuroro hanya melirik ke arah wanita itu dengan ekor matanya.
"Ini laporan yang danchou minta." Wanita itu memberikan setumpuk kertas.
Kuroro mengambil kertas itu kemudian mengangguk berterima kasih. Wanita itu membalas tunduk, berniat untuk pamit.
"Paku." Panggil Kuroro pada akhirnya. Ia menaruh tumpukan kertas itu di sebelahnya.
Wanita yang di panggil Paku itu terdiam di tempatnya, kembali melihat Kuroro dan menunggu pria itu kembali berbicara.
"Apa Al terganggu?" tanya Kuroro kemudian. Ia menutup bukunya.
"Tidak danchou. Shal sedang menemaninya di ruang sebelah. Ia sedang menggambar tadi." Lapor Paku.
Kuroro hanya mengangguk tenang, ia lega sulungnya itu tak terganggu karena ikut ke markas.
"Danchou, apakah aman membawa mereka berdua kesini? Dan lagi Ares sudah sangat sering kemari akhir-akhir ini, kurasa ini bukanlah tempat yang baik untuk tumbuh kembang mereka." Kali ini Paku yang balik bertanya.
"Mungkin ini yang terakhir kalinya. Aku tak akan membawa mereka kemari lagi dan mungkin aku tak akan sering kemari, kalau kalian butuh sesuatu denganku hubungi aku atau datang ke apartemenku. Membawa mereka kesini terus tentu bukan pilihan utama untukku. Kurasa kalian bisa berjalan tanpa aku disini." Putus Kuroro kemudian.
"Baik danchou, akan kami urus semua yang perlu urusan disini."
"Siapkan juga untuk rapat hari ini." perintah Kuroro kemudian.
"Baik danchou." Paku kembali mengangguk dan pamit pergi.
Kuroro kembali mengangguk, ia membenarkan posisi tidur Ares, membiarkan anak itu tertidur di pundaknya.
. . .
"Paman Hisoka, kata Papa, Papa tetap sayang sama Ares kalau punya adik lagi." Al menatap Hisoka dengan mata polosnya. Ia menaruh krayonnya kemudian duduk bersila di atas tempat tidur tua di ruangan itu. Shal yang diminta menemaninya sedang tak ada.
"Hoo~~ benarkah Papa bilang begitu?" tanya Hisoka santai. Ia berjalan mendekati Al. Kemudian duduk di sebelahnya sambil menangkat sebelah kakinya.
"Um! Papa dan Mama bilang begitu. Tetap sayang Ares." Anak itu menjawab mantap. Ia berbalik, duduk menghadap hisoka. Tak ada keraguan dari sinar matanya.
"Lalu bagaimana dengan Al? Apa Papa dan Mama tetap sayang sama Al?" pria badut itu kembali bertanya.
"Eh?" Al terdiam, ia tak sempat menanyakan soal ini sebelumnya. Al tampak berpikir mendengar pertanyaan Hisoka yang kali ini.
"Jangan suka memprovokasi anak kecil." Suara bariton terdengar mengintrupsi, Kuroro masuk ruangan sambil menggendong Ares yang masih tertidur pulas.
"Papa." Al segera melompat turun tempat tidur tua itu seraya berlari mendekati Kuroro dan memeluk kakinya.
"Aku tak memprovokasinya, aku hanya bertanya." Kilah hisoka kemudian sambil tersenyum licik.
Kuroro hanya terdiam. Anak buahnya yang satu ini memang sulit ditebak dan dikendalikan. Tak bisa ia pahami maksud dan tujuan pria nyentrik ini.
"Tapi Papa janji ga buat adik bayi, ya kan Papa?" ucap Al kemudian, ia menatap sang ayah dengan tatapan tak ingin di bantah.
Mendengar ucapan Al barusan, Hisoka terkekeh pelan sambil berjalan mendekati Kuroro. ia menutupi wajahnya dengan jemari panjangnya.
"Apa kau yakin bisa menjanjikan hal itu, danchou?" bisik badut itu kemudian sambil melewati Kuroro yang hanya terdiam.
Kuroro sedikit berbalik, melihat Hisoka yang keluar ruangan sambil terkekeh dengan ekor matanya.
"Aku harap aku bisa memegang janji itu terus." Ucap Kuroro dalam hatinya.
.
.
.
Beberapa hari kemudian.
"Mama, Ayes mau beyi itu." seorang batita berlari mendekati tumpukan makanan ringan baru. Ia melompat-lompat di depan stand makanan itu.
"Papa, Al mau beli ini." anak lain yang lebih besar berjalan mendekati stand coklat.
Kurapika dan Kuroro berjalan mendeti mereka dan segera menggendong mereka.
"Nanti kita beli itu, sekarang belanja buat di rumah dulu ya." Pesan Kurapika seraya menaruh Ares dalam troli belanjaannya, itu adalah tempat paling aman untuk anak itu sekarang. Gadis itu berjalan sambil mendorong troli, Kuroro berjalan di sebelahnya sambil menggedong Al.
"Tapi Al mau Mama." Rengek Al, ia berniat protes pada sang ibu.
"Tidak. Kau jadi susah makan kalau sudah lihat coklat." Tolak Kuroro kemudian. Ia ingat beberapa hari yang lalu, saat Loki memberi sekotak besar coklat pada Al dan berakhir Al yang tak mau makan apapun selama seharian.
"Al makan Papa, beli coklat ya." Pinta Al lagi, ia melihat Kuroro dengan wajah memelas.
"Tidak." tolak Kuroro lagi, kali ini lebih tegas dengan nada penuh perintah.
Al terdiam, ia masih belum mampu melawan Kuroro. Ia hanya bisa cemberut dan membuang wajahnya, tak mau menatap Kuroro.
"Mama, Ayes boyeh beyi itu?" tanya Ares pelan, tak ingin Kuroro mendengar dan akhirnya ikut marah padanya.
"Hu um. Tapi nanti ya setelah kita belanja." Bisik Kurapika santai.
"Kakak Ay juda beyi cotat ya ma." Pinta Ares, iba melihat kakaknya tak di turuti kemauannya.
"Hu um. Kita belikan coklat juga buat kakak Al." Kurapika menyetujui.
Ares tersenyum senang. Ia duduk manis di dalam troli. Kuroro melihat ibu dan anak itu dan pura-pura tak mendengar percakapan keduanya.
Hari ini Kurapika pulang lebih cepat karena ia berhasil menyelesaikan tugasnya siang tadi. Ia sudah berjanji akan menemani anak-anak berbelanja hari ini, dan disini mereka sekarang. Di mall besar di dekat apartemen mereka, membeli semua keperluan mereka selama sebulan kedepan. Kurapika juga meminta Kuroro menjemput anak-anak lebih cepat hari ini.
Sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka pergi belanja bersama. Anak-anak terlihat sangat antusias dan senang. Banyak yang mereka minta selama acara belanja ini dan anak-anak tak berhenti berceloteh sepanjang jalan. Baik Kuroro maupun Kurapika bisa saja mengabulkan semua keinginan anak-anak, tapi demi kebaikan anak-anak mereka akhirnya membatasi keinginan anak-anak.
"Mama, udah boyeh beyi kue tadi?" tanya Ares penuh harap setelah melihat troli belanjaan mereka hampir terisi penuh oleh semua kebutuhan mereka.
"Hm... coba tanya Papa, boleh beli sekarang ga?"
Ares terdiam, ia hanya melirik Kuroro dari balik badan Kurapika. Ragu untuk bertanya, mengingat sang ayah tadi bernada tak bersahabat. Ares hanya memainkan ujung bajunya kemudian menggeleng perlahan, urung bertanya.
"Ares mau beli makanan tadi?" Kuroro bertanya dengan suara baritonnya. Ia melihat ke arah Ares yang tertunduk di tempatnya.
Ares mengangkat wajahnya, melihat Kuroro kemudian mengangguk pelan.
"Tapi janji jangan rewel terus. Malam ini Papa ada kerjaan."
Ares kembali menatap Kuroro kemudian mengangguk, kali ini lebih yakin.
"Tapi kakak Ay juda beyi." Pinta anak itu lagi. Ia melihat Al yang masih bad mood karena penolakan tadi dan tak mau banyak bicara.
"Tapi kakak Al harus janji mau makan kalau di belikan coklat." Kali ini Kurapika angkat bicara menawarkan syarat.
Al menatap Kurapika, ia masih mengerucutkan bibirnya. Kurapika hanya tersenyum santai, menunggu anak itu kembali berbicara padanya.
"Coklatnya dua ya." Al mencoba menawar.
"Boleh, tapi tetap makan ya." Kurapika menyetujui.
"Papa belikan tiga coklat, tapi makan yang banyak dan ga boleh di emut." Kuroro datang dengan penawaran yang lebih menggiurkan dengan syarat yang lebih berat untuk Al.
Al tampak menimbang-nimbang penawaran tersebut, tak lama anak itu mengangguk tanda setuju.
Kuroro tersenyum puas, begitu pun dengan Kurapika. Al akan memegang janjinya, setidaknya selama ini mereka tahu bahwa anak itu sangat keras, begitu juga dengan janji yang telah ia ucapkan sendiri.
. . .
Sementara itu.
Tampak seorang wanita berdiri di kejauhan memperhatikan keberadaan keluarga kecil Kuroro. gadis bersurai burgundy itu telah menyembunyikan hawa keberadaannya, memperhatikan Kuroro dari tempatnya berada. Ia dapat melihat Kuroro terlihat santai dan bahkan tersenyum pada Kurapika dan anak-anak. Sebuah rasa sakit menjalar di dadanya. Tak pernah ia lihat Kuroro dapat sesantai itu terlebih di depan anak-anak.
"Senyum itu milikku Kuroro. aku akan kembali, aku berjanji akan kembali ke sisimu dan menjadi yang nomor satu lagi. Tunggulah." Ucap gadis itu seraya beranjak pergi dan menghilang di balik keramaian.
. . .
Kuroro menghentikan lagkahnya, ia merasakan hawa kehadiran seseorang, meski samar tapi ia yakin akan hal itu. Ia membalikkan badannya dan melihat ke belakang, mencari sosok yang mungkin ia kenal.
"Papa, ayo." Pinta Al tidak sabar, ia menarik Kuroro dan memintanya berjalan.
"Ah ya... ayo." Kuroro mengikuti Al.
"Apa hanya perasaanku saja?" tanyanya dalam hati.
.
.
.
Kuroro dan Kurapika berjalan dari parkiran, membawa semua belanjaan mereka. Anak-anak sudah berlari sambil melompat kecil di depan mereka. Al dan Ares sudah memeluk mainan baru dan tak sabar untuk berjalan ke apartemen mereka.
"Selamat sore Al dan Ares." Sapa rinda sopan sambil membukakan pintu untuk kedua anak itu.
"Selamat sore... ceyamat coye." Jawab kedua anak itu bersemangat.
Penjaga muda itu hanya tersenyum dan menunduk memberi salam pada Kuroro juga Kurapika.
"Bisa saya bantu, Nyonya? Sepertinya belanjaan Nyonya banyak sekali." Tawar Rinda kemudian melihat belanjaan di tangan Kurapika.
"Tak perlu repot, Rinda-san." Tolak Kurapika.
"Tapi Nyonya... eh? Ya?" penawaran rinda terinterupsi, ia melihat ke arah Ares yang sedari tadi menarik-narik celananya, meminta perhatian.
"Ayes tadi beyi cawat cama Papa." Lapor anak itu segera sambil mengangkat mainan pesawatnya.
"Al beli mobilan tadi." Al pun tak mau kalah, ia mengangkat mainan mobil remote kontrolnya.
"Eh? Waaah... bagus sekali. Nanti paman rinda boleh pinjem ya?" penjaga itu berjongkok di depan anak-anak dan tampak ikut senang.
Kedua anak itu mengangguk senang.
"Kalian baru pulang ya?" sapa seseorang dari belakang. Kurapika berbalik badan.
"Ah... rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali kita bertemu ya, Kurapika?" sapa orang itu seraya tersenyum ramah mendekati Kurapika.
"Hu um. Sedikit sibuk di kantorku akhir-akhir ini, jadi aku pulang larut, Maria." Jawab Kurapika ramah.
"Jangan terlalu lelah, kau mulai pucat." Ucap Maria cemas. Ia menyentuh wajah tirus Kurapika.
"Aku baik, tenanglah. Mungkin ini karena aku telat makan tadi," Kilah Kurapika sambil tersenyum. Kuroro melirik gadis itu dan memperhatikannya baik-baik.
"Aku sungguh baik-baik saja, setelah ini aku akan minum vitamin agar besok tubuhku lebih baik." Lanjut Kurapika kemudian melihat Maria yang masih sangat cemas.
Kuroro melirik Kurapika dengan ekor matanya. Memperhatikan gadisnya itu.
"Kau harus lebih memperhatikannya, Kuroro. kasian kan kalau sampai sakit lagi." Maria beralih melihat Kuroro.
"Tentu akan ku perhatikan dia. Kau mau bareng kami ke lift?" tawar Kuroro.
Maria menggeleng. "Aku masih mau tunggu suamiku. Kalian istirahatlah, terutama kau Kurapika." Pesan ibu muda itu cemas yang hanya di jawab dengan anggukan ringan oleh Kurapika.
"Kalau begitu kami duluan ya. Al Ares, bilang dadah sama bibi Maria." Perintah Kuroro kepada kedua anaknya.
"Bye bye, bibi." Ucap kedua anak itu sambil melambaikan tangan mereka.
"Hu um. Bye, istirahat ya." Maria balas melambai sambil tersenyum.
Kuroro menggandeng Ares dan berjalan menuju lift diikuti oleh Kurapika di belakang.
"Kau masih ingat perjanjian kita kan?" tanya Kuroro saat mereka memasuki lift.
"Iya, aku ingat. Aku tak akan sakit." Jawab Kurapika datar. Ia yakin dengan baik bahwa tubuhnya baik-baik saja sekarang, bahkan ia tak merasa sesuatu yang tak benar di tubuhnya.
"Kau tak perlu menyiapkan makan malam, istirahatlah bersama anak-anak, biar aku yang mengurus semuanya." Perintah Kuroro kemudian.
"Baiklah."
.
.
.
Besoknya.
Matahari telah tergelincir dari tahta tertingginya, pertanda sore telah datang. Kuroro baru saja pulang menjemput anak-anak. Hari ini anak-anak bersikap sangat baik, terutama Ares. Ia tak minta ikut dengan Kuroro maupun rewel. Kuroro berharap ini akan terus berlangsung.
"Taruh tasnya di kamar kalian lalu jangan lupa cuci tangan." Perintah Kuroro sambil berjalan ke kamarnya sendiri, ganti baju.
"Um." Jawab kedua anak itu dan segera melakukan perintah sang ayah. Al membantu Ares mencuci tangannya juga memastikan sang adik mencuci tangannya dengan benar.
"Sudah Papa." Lapor Al sambil menggandeng Ares mendekati Kuroro yang berada di dapur sekarang.
"Kalian mau kue?" tawar Kuroro sambil membuka kulkas, mencari kue yang kemarin mereka beli.
"Mau!" jawab mereka bersemangat. Al dan Ares segera naik ke bangku mereka masing-masing dan menunggu sang ayah menghidangkan kue untuk mereka.
Kuroro memotong kue dan memberikannya pada Al dan Ares juga tak lupa mengambil kopi untuknya sendiri.
"Ittadakimasu~!" ucap Al dan Ares sebelum menyantap kue mereka.
Kuroro duduk di tempatnya sambil menopang dagu memperhatikan mereka. Kedua anak itu menyantapnya dengan antusias. Ares tak berhenti tersenyum sambil menyantap kuenya, pipinya semakin terlihat gembil saat kue itu berada di dalam mulutnya. Al tampak menikmati, kakinya tak berhenti bergoyang di bawah meja. Remah kue dan krim terlihat di sekitar mulut dan pipinya. Wajah putihnya jadi terlihat kemerahan oleh krim. Kuroro hanya menggeleng melihat tingkah mereka.
"Papa mau?" tawar Al, ia mengangkat suapan kuenya. Berniat menyuapi Kuroro.
Kuroro menggeleng. "Buat Al saja. Habisin ya." Kuroro menyeruput kopinya.
Ting tong! Ting tong! Ting tong!
Suara bel berkali-kali menginterupsi acara makan kue mereka.
"Kalian makan dulu ya, Papa mau buka pintu." Kuroro bangkit.
Ting tong! Ting tong! Ting tong!
Suara bel kembali terdengar, sepertinya sang tamu sangat tak sabar.
"Sebentar!" jawab Kuroro sambil berlari ke arah pintu dan membukakannya.
Brught!
Kurapika segera menyambar masuk dan berlari ke kamar.
"Kurapika?" Kuroro mengangkat sebelah alisnya. Setelah menutup pintu, ia berjalan kembali ke dalam.
"Mama kenapa, Pa?" tanya Al yang kebingungan.
Kuroro mengangkat bahu. "Papa lihat keadaan Mama dulu ya. Kalian makan dulu ya. Kalau sudah selesai taruh di meja saja." perintah Kuroro sambil berjalan ke kamar.
Al mengangguk. Ia kembali melanjutkan makannya.
Kuroro berjalan memasuki kamar. Ia melihat pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, berjalan mendekatinya dan diam di dekat pintunya.
"Kurapika?" panggil Kuroro pelan.
Tak ada jawaban dari dalam. Kuroro hanya bisa mendengar suara keran air.
"Kurapika?" panggil Kuroro kembali, kali ini lebih keras.
"Sebentar." Jawab Kurapika. Ia menyeka mulutnya dan berjalan keluar kamar mandi.
"Kau kenapa?" tanya Kuroro saat melihat gadis kuruta itu keluar kamar mandi.
"Aku mual." Jawab Kurapika dengan nada lemas.
"Kau sakit? Wajahmu pucat." Kuroro menghadapnya. Melihat wajah gadis itu sangat pucat, ia mengangkat tangannya.
"Sebentar." Kurapika kembali berlari ke dalam kamar mandi dengan tergesa.
"Eh? Kurapika?" Kuroro terheran kembali.
Kali ini terdengar suara Kurapika muntah dari dalam kamar mandi. Kuroro melihat kamar mandi.
"Kurapika, aku masuk ya." Entah apa yang membuat sang danchou itu ingin masuk, namun ia merasa tak nyaman saat melihat Kurapika sepucat tadi.
Tak ada jawaban dari Kurapika. Gadis itu masih saja muntah, seakan mengeluarkan semua isi perutnya.
Kuroro mendekati sosok Kurapika yang berada di depan wastafel sambil tertunduk. Ia memijat leher belakang Kurapika, pelan. Gadis itu sempat terkejut dan melihat Kuroro dari kaca di hadapannya, namun gejolak di perutnya kembali terasa meminta di keluarkan.
Cukup lama gadis itu muntah-muntah. Ia sudah kehabisan tenaga, semua isi perutnya sudah dikuras habis. Kurapika hampir jatuh terduduk kalau saja Kuroro tak menahan tubuh mungilnya.
"Kau demam." Ucap Kuroro sambil menggendong Kurapika di depan.
Kurapika membiarkan pria itu. Ia sudah terlalu lelah untuk melawan, hari ini kondisi tubuhnya sangat buruk. Gadis itu hanya bersender sambil menutup mata di dada bidang Kuroro.
"Akan kupanggil Leorio untuk memeriksamu." Kuroro berjalan keluar kamar mandi.
Kurapika hanya mengangguk pelan. Rasanya ia ingin cepat tidur. Kuroro membaringkan tubuhnya di tempat tidur lalu menyelimuti gadis itu. Kurapika membuka mata dan melihat Kuroro menelepon Leorio.
"Papa?" Ares mengintip masuk.
Kurapika melirik bungsunya itu, ia melambaikan tangannya meminta anaknya itu mendekati. Ares berlari mendekat dan berusaha naik tempat tidur.
"Mama cakit?" tanya batita itu dengan wajah penuh kecemasan dan sedih.
Kurapika menggeleng pelan sambil tersenyum. "Mama cuma cape, Ares mau temani Mama bobo?" tanya Kurapika sambil mengelus pipi gembil Ares.
"Um! Ayes temenin." Ares segera menelusup ke dalam selimut dan memeluk Kurapika.
"Leorio akan datang sebentar lagi. Kau istirahatlah dulu. Apa kau masih mual? Mau kubuatkan teh?" tanya Kuroro sambil mendekati mereka.
"Arigatou. Sepertinya agak lebih baik. Tak perlu teh, tapi aku mau air hangat." Kurapika melirik ke arah Kuroro yang membenarkan kembali selimutnya.
"Baik, akan kubawakan. Ares temani Mama ya." Kuroro mengelus rambut Ares lembut.
"Um." Jawab anak itu sambil tetap memeluk Kurapika.
"Panggilkan Al juga." Pinta Kurapika lagi.
"Baik." Kuroro berjalan keluar kamar.
. . .
Sementara itu.
Seorang gadis bersurai violet terlihat bersender di salah satu dinding gedung di pusat kota. Ia tampak tak terganggu dengan hiruk pikuk dan keramaian di sekitar. Mata tajamnya mengawasi setiap sudut kota dengan awas. Letupan-letupan permen karet kadang terdengar darinya. Cukup lama ia berdiam disana, menunggu. Gadis itu menatap ke langit, langit lembayung senja terlihat jelas dari tempatnya sekarang. Pikirannya kembali mengawang jauh.
Flashback.
"Ada apa kau meneleponku?" tanya gadis bersurai violet itu. Ia sedang berada di markas sambil melatih kemampuannya.
"Aku hanya ingin menyapamu, Machi." Jawab seorang gadis dari sebrang telepon sana.
"Kau bukan tipe yang senang basa-basi denganku hanya untuk menanyakan kabarku." Jawab gadis bernama Machi itu datar.
"Tepat sekali. Aku memang tak meneleponmu untuk basa-basi. Bisakah kita bertemu sekarang? Aku sudah di York shin city sekarang. Kita bertemu di tempat biasa. Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Aku gadis itu dengan tenang.
Machi terdiam. Ia tahu pasti apa yang akan di bahas oleh lawan bicaranya ini, terlebih lagi dia sudah tiba di kota ini sekarang.
"Kenapa kau diam? Kita bisa bertemu kan?" pertanyaan itu menyadarkan Machi kembali.
"Di tempat biasa? Baiklah." Gadis itu menyetujui.
"Bagus kalau begitu, kita bertemu 30 menit lagi." Ucap gadis itu sebelum mengakhiri teleponnya.
End of flashback.
Machi terkesiap. Ia melihat sekitar dengan ekor matanya. Hawa keberadaan yang begitu kuat terasa di sekitarnya.
"Jangan terlalu tegang seperti itu, aku bukan musuh." Ucap seseorang dari sisi lain gedung, sisi yang tersembunyi di dalam gang.
"Kau terlambat." Sambar Machi, ketus.
"Ada yang menarik perhatianku tadi jadi terlambat." Jawab gadis itu dengan suara anggunnya.
"Jadi, apa yang ingin kau bahas?" sambar Machi dengan segera.
"Bagaiman kabar danchou? Apa dia baik-baik saja?" tanya gadis itu. Ia ikut bersender. Mata indahnya menerawang jauh ke depan, sama sekali tak menatap ke arah Machi.
"Danchou baik." Jawab Machi dengan nada mengambang.
"Tadi aku melihatnya. Dia pergi bersama dengan seorang gadis dan dua orag anak. Mereka terlihat seperti..." gadis itu terdiam tak melanjutkan ucapannya.
"Keluarga." Lanjutnya lagi setelah jeda lama tercipta diantara mereka.
"Inikah yang sedang dilakukan Kuroro sekarang? Membina sebuah keluarga... mereka terlihat bahagia. Aku tak pernah melihat Kuroro tersenyum seperti itu." gadis itu berbicara dengan mata nanar.
Machi terdiam. Ia membuat balon dengan permen karetnya. Tak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan gadis itu.
"Aku tak ingin melihat senyum itu jadi milik orang lain. Senyum itu hanya untukku." Nada sang gadis kali ini terdengar menggebu.
"Jangan usik danchou sekarang. Kau hanya akan membuat semua makin kacau dan akan kau sesali di akhirnya." Akhirnya Machi angkat bicara.
"Kita lihat apakah aku akan mensyukurinya atau akan menyesalinya." Seringai menghiasi wajah cantiknya.
"Jangan macam-macam!" Machi berbalik menghadap gadis itu, namun gadis itu telah menghilang seakan lenyap di telan bumi.
"Sial!" rutuk Machi kesal sambil mengepalkan tangannya.
. . .
"Kuroro ada yang ingn kubicarakan denganmu tentang keadaan Kurapika." Leorio keluar kamar berjalan mendekati Kuroro dengan wajah serius.
"Kurasa kita bisa membicarakan ini di perpustakaan... kalian main disini dulu ya, jangan berisik. Mama lagi tidur." Melihat ekspresi Leorio, Kuroro menurunkan Ares dari pangkuannya dan memberi pesan singkat kepada mereka, kemudian berjalan ke perpustakaan diikuti Leorio.
"Jadi bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Kuroro langsung saat mereka di dalam perpustakaan kecil itu. Kuroro duduk di meja kerja sederhana di tengah ruangan.
Leorio tak langsung menjawab, ia hanya diam memperhatikan lawan bicaranya itu. Dokter muda itu mengambil kursi dan duduk di hadapan Kuroro.
"Untuk sementara ini dia akan baik-baik saja hanya butuh makanan bergizi dan istirahat. Aku juga sudah memberinya vitamin, tapi mungkin akan sulit baginya dalam beberapa bulan ke depan, terutama dalam 2-3 bulan. Di tambah dengan perubahan fisik dan mood yang mungkin saja terjadi padanya nanti." Jelas Leorio pada akhirnya dengan tenang.
"Memang apa yang akan terjadi padanya? Dia sakit apa?" Kuroro tampak kebingungan.
"Dia bukan sakit." Jawab Leorio kembali.
"Lalu?" Kuroro mendesak, ia semakin penasaran dan tak mengerti ke arah mana pembicaraan ini.
Leorio kembali diam. Ia menatap iris onyx Kuroro, mencoba membaca pikirannya sekarang. Tak mendapat hasil seperti yang diiginkan, dokter muda itu menghela nafas.
"Kurapika bukan sakit, tapi dia... hamil." Jawab Leorio pada akhirnya.
Kali ini Kuroro yang terdiam. Dia sudah menduga hal ini akan terjadi, ia tahu bahwa telah terjadi sesuatu saat liburan kemarin, tapi mendengar Kurapika benar-benar hamil tetaplah membuatnya terkejut.
"Kenapa kau diam? Kau tak berniat untuk menyangkal bahwa itu anakmu kan?" Leorio bertanya sinis. Ia akan langsung menghajar Kuroro kalau ia berpikir untuk menyangkal ini dan Leorio sudah menyiapkan pukulan terbaiknya untuk itu.
"Aku bukan anak kecil yang akan lari dari tanggung jawab. Aku tahu itu anakku dan akan tetap bertanggung jawab." Jawab Kuroro tenang.
Meski terlihat tenang, tapi ini tetap saja mengganggu pikirannya. Ia sudah cukup terkejut saat harus memainkan peran sebagai ayah dan itu berlangsung sampai sekarang. Berada dalam sebuah keluarga memang membuatnya lebih nyaman. Sekarang ia harus menerima kenyataan lain bahwa ia akan memiliki seorang anak, anak kandung. Dia akan benar-benar menjadi seorang ayah. Tak pernah terbayang sebelumnya ia akan menjadi seorang ayah. Sebuah perasaan menjalar di dalam hatinya.
"Lalu bagaimana kau akan menjelaskan hal ini pada Kurapika? Sepertinya dia tak mengetahui soal ini, pasti akan sulit." Pertanyaan Leorio menghadapkan Kuroro pada kenyataan lain yang juga harus ia hadapi. Penerimaan Kurapika.
"Biar aku yang urus soal ini. Ini masalah keluarga kami, terima kasih telah memeriksanya." Jawab Kuroro sambil bangkit dari duduknya. Ia harus menekan kebahagiaannya dulu sampai gadis Kuruta itu bisa lebih di kendalikan emosinya. Memberi tahunya soal ini pasti bukanlah hal yang mudah.
"Sama-sama. Usia kandungannya sekarang sekitar 2-3 minggu." Leorio ikut bangkit.
Mendengar hal itu membuat Kuroro semakin yakin, malam itu telah terjadi sesuatu di antara mereka. Ia mengangguk.
"Bisa kutitip anak-anak? Kami perlu bicara empat mata." Pinta Kuroro.
Leorio mengangguk dan mengikuti Kuroro keluar perpustakaan. Ketenangan dan suasana yang baik adalah hal yang sangat dibutuhkan mereka sekarang.
.
.
.
Kurapika bergerak pelan. Ia membuka matanya kemudian melihat sekitar. Ia menangkap sosok Kuroro yang sedang duduk di samping tempat tidur sambil membaca buku.
"Anak-anak dimana? Berapa lama aku tidur?" tanya gadis itu parau. Tubuhnya masih terasa lemas.
"Mereka main bersama Leorio di luar. Kau tidur selama dua jam. Kau istirahatlah." Jawab Kuroro tenang, ia menutup bukunya.
"Leorio sudah datang? Lalu apa katanya?" Kurapika mencoba bangkit. Ia berhasil duduk dan menyenderkan punggungnya di kepala tempat tidur.
"Kau istirahatlah dulu. Kau butuh itu sekarang."
"Memang aku sakit apa?" Kurapika mulai penasaran.
"Kau tidak sakit." Jawab Kuroro mengambang.
"Lalu? Ayolah... jangan berbicara berputar-putar. Langsung pada intinya." Desak Kurapika, ia semakin penasaran. Memiliki tubuh yang lemah tanpa alasan jelas membuatnya kesal.
"Kau... hamil." Jawab Kuroro akhirnya setelah jeda yang sempat tercipta.
Kurapika terdiam. Ia sedang mencerna dengan baik jawaban Kuroro tadi. Meresapinya dan berharap ia salah dengar.
"Kau tak salah dengar. Leorio yang mengatakan ini langsung." Ucap Kuroro tenang. Seakan bisa membaca pikiran Kurapika.
Mendengar itu mata Kurapika terbelalak. Iris saphirrenya berubah menjadi scarlet. Rantai muncul menghiasi tangannya, membelit tangannya kemudian chain jail mengarah pada Kuroro.
"Keluar." Ucap Kurapika dingin. Ia menatap Kuroro dengan hawa pembunuh yang sangat besar. Iris scarletnya menatap tajam dengan luapan emosi yang tak bisa di tahan.
Kuroro menghela nafas kemudian bangkit. Ia tahu hal ini mungkin saja akan terjadi saat Kurapika tahu kenyataannya. Pria itu menuruti kemauan Kurapika dan berjalan keluar kamar.
"Aku akan tidur dengan anak-anak malam ini. Pikirkan ini baik-baik saat kau sendiri." Ucap Kuroro lagi di depan pintu.
"KELUAAR!" teriak Kurapika keras.
Kuroro kembali menarik nafas dan pergi ke balik pintu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sekarang ia harus menyiapkan diri untuk amukan dan penolakan Kurapika, tapi sebelum itu ia harus bersiap untuk kenyataan lain. Memberi tahu Al soal ini, bukan hal yang mudah juga untuknya memberi tahu ini pada Al.
Contenyu~~
.
.
.
A/N : akhirnya selesai? Dou? Semoga ga mengecewakan ya ^^. Sekarang saatnya balas review ^^
HiNa devilujoshi : kapan ya? Mungkin nanti setelah aang menyelamatkan dunia dari negara api #lho? Hehehe... semoga cepat terwujud ya kedamaiannya ^^... ini udah apdet ko ^^. Hope u like it ^^
Amaya Kuruta : waah berarti momennya pas banget ya waktu qiessa apdet chappy yang kmarin ^^. Arigatou juga udah bersedia baca chappy kemarin meski apdetnya kelamaan. Qiessa akan tetap berusaha lanjut fic ini ko meski butuh waktu untuk lanjutnya ^^;... panggil qiessa juga gaPapa ko ^^
kenapa nomor 4 pulang? Dan darimana dia? Hmmm... nanti akan terjawab pelan2 di chappy selanjutnya ^^.. nasib hisoka? Baik ko, smua aman ^^. GaPapa ko, qiessa senang masih ada yang berniat review. Arigatou buat supportnya. Happy reading ^^
Moku-Chan : waaah.. gomen ya kelamaan, smoga untuk apdet yang ini kamu ga perlu baca dari awal lagi. Happy reading ^^
Chafujitaoz : lupa juga jalan ceritanya? Hehe.. gomen... semoga yang kali ini kamu ga lupa, udah qiessa coba tetep apdet cepat ^^. Happy reading ^^
Rhalucifer : 'dia' msih menjadi misteri n belum banyak muncul. Waah.. akhirnya ada yang bhas pertanyaan Al juga ^^. Ini udah lanjut ko, Happy reading ^^
Eien desu : lama ya apdetnya? Gomen ^^.. qiessa kudu semedi dulu kemaren ^^... kurang nendang? Oalah ^^;... ini udah apdet ko, happy reading ^^
Nameayuistiara : ini udah lanjut ko ^^... happy reading ^^
A/N : ok, segitu dulu untuk apdet kali ini, berharap kalian tetap suka ^^. Untuk chappy selanjutnya qiessa akan berusaha tetep apdet dalam jadwal yang pasti... tetep sabar ya... happy weekend minna ^^. Mind to RnR? ^^
