Kyumin story

Genderswitch (gs)

Romance

.

.

.

sorry for typo(s)

.

Chapter 9

KETIKA ponselku berbunyi tepat tujuh jam kemudian, aku sedang bermimpi bahwa Yoochun dan aku berada di tengah-tengah taman bermain Lotte World. Ada banyak orang di sekitarku yang menghitung mundur, seven, six, five, four, three, two, one...Happy New Year.

Aku mendengar bunyi terompet yang ekstra keras. Anehnya bunyi terompet itu tidak berhenti, tapi justru bertambah keras. Saat itu aku pun terbangun, dan sadar bahwa itu bukanlah bunyi terompet, tetapi bunyi ponselku.

Dengan malas aku mencoba membuka mata. Kubiarkan panggilan itu masuk ke voicemail sembari melirik jam beker yang terletak di samping tempat tidur. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Aku merasa itu masih terlalu pagi untukku. Aku berniat untuk tidur hingga tengah hari. Tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu, dan segera meloncat dari tempat tidurku, berlari mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.

Perjalanan menuju mall yang ditemani lagu-lagu yang dilantunkan Bigbang membantuku menjernihkan pikiranku yang sedang campur aduk. Aku memikirkan tentang Yoochun dan Junsu. Yoochun mengatakan bahwa dia akan meninggalkan Junsu untuk aku. Tapi apa mungkin ? Senekat-nekatnya Yoochun, tidak mungkin dia senekat itu.

Beberapa bulan yang lalu memang aku sempat berpikir bahwa aku mau melakukan apa saja untuk mendapatkan Yoochun, termasuk sampai harus menyakiti Junsu. Tapi sekarang, setelah ada tawaran itu dari Yoochun, aku tidak berani dan tidak tega. Aku bukan hanya takut terkena karma, tapi karena aku menyukai Junsu, orang baik yang lembut dan penuh kasih sayang. Aku tidak mau menyakiti hatinya. Junsu tidak pernah berbuat apa pun yang menyakiti hatiku. Dia berhak mendapatkan lebih baik dari itu.

Tapi Yoochun juga mengatakan bahwa dia mencintaiku. Is that true ? Jujur saja, secara fisik mungkin aku masih tertarik dengannya, karena oh my God, he is such a good kisser. Aku tidak akan berkeberatan kalau setiap pagi dicium olehnya. Tapi ketertarikan fisik saja tidak cukup untuk membangun hubungan serius.

Tepat pukul satu siang aku memasuki pelataran parkir mall tempat aku dan Taemin bertemu. Karena hari itu adalah hari Minggu, hampir seluruh penghuni Seoul sepertinya sedang ada disana. Tiba-tiba aku melihat ada tempat parkir kosong, buru-buru aku melaju menuju tempat parkir itu. Ketika aku sedang mencari tasku setelah parkir, seseorang mengetuk kaca mobilku. Orang itu ternyata Taemin. Dia melambaikan tangannya kepadaku. Aku buru-buru keluar dari mobil dan memeluknya.

"Mianhae, aku telat," ucapku buru-buru.

"Gwaenchana, aku juga baru sampai. Jalanan macet sekali," balas Taemin.

"Kau parkir di mana?"

"Oh, itu di sana." Taemin kemudian menunjuk ke arah sebuah Audy berwarna hitam.

Ketika melihat mobil itu otomatis tubuhku langsung jadi kaku. Bukankah itu mobil Kyuhyun, dalam hati aku berkata. Melihat reaksiku yang tiba-tiba terdiam, Taemin membalas.

"Tenang, eon, itu bukan mobil Kyuhyun, itu mobil eomma."

"Mwo..?" balasku.

Taemin hanya memandangiku sambil mengulum senyum. Ketika aku perhatikan lebih saksama, mobil itu berwarna maroon bukan hitam. Astaga, sepertinya aku mulai berhalusinasi lagi.

.

.

.

Kami lalu menuju ke arah food court dan memesan makanan masing-masing. Aku memilih spageti dan segelas Pepsi sedangkan Taemin dengan teppanyaki dan ice lemon tea. Setelah kami menemukan meja kosong. Taemin pun meluncurkan rudalnya.

"Eonnie, eonnie itu ada apa dengan Kyuhyun ?"

"Maksudmu ?" aku bertanya balik, pura-pura tidak tahu sambil mencoba untuk mencampur spagetiku dengan dua garpu.

"Tidak , karena Kyuhyun jadi mudah marah akhir-akhir ini," jawab Taemin sambil memisahkan sumpit kayu untuk teppanyaki-nya.

"Masalah pekerjaan, mungkin," balasku sok tenang.

"Jika masalah pekerjaan dia tidak akan seperti ini anehnya. Hanya jika sudah urusan yeoja dia biasanya langsung seperti ini." Taemin memberikan pandangannya yang menuduh.

Setelah dipikir-pikir, selama ini aku selalu bingung kenapa Kyuhyun bisa kakak-beradik dengan Taemin, mereka berdua benar-benar tidak mirip. Tapi setelah melihat tatapan Taemin, aku bisa melihat persamaan reaksi wajah Kyuhyun pada Taemin.

"Ya mana aku tahu, Taemin-ah, Kau tidak bertanya langsung saja padanya ?" jawabku akhirnya sambil memasukkan segulung besar spageti ke mulutku dan mulai mengunyah.

"Aku sudah bertanya, lalu dia mengatakan ini karena eonnie," Taemin berkata dengan polos.

Aku langsung tersedak. Buru-buru aku minum Pepsi-ku. Taemin mencoba membantu dengan menepuk-nepuk punggungku.

"Karenaku ? Enak saja dia menuduh, memangnya aku melakukan apa ?" kataku, berusaha menangkis tuduhan Taemin setelah batukku reda.

"Apa gara-gara kejadian di rumah eonnie itu jadi eonnie tidak mau menerima teleponnya?" lanjut Taemin. Kini aku benar-benar kaget dan tidak mampu berkata apa-apa.

"Ya, dia bercerita kepadaku. Eonnie kenapa harus kaget seperti itu ? Eonnie tahu bukan jika si Evil selalu menceritakan semuanya padaku. Lagipula memang sudah seharusnya dari dulu dia melakukan itu. Dia dengan eonnie bukankah selalu dekat."

"Astaga, kalian berdua itu dekat sekali ya. Bukan begitu Taemin-ah, aku..."

Aku mencoba menjelaskan situasi yang sebenarnya, tapi entah kenapa aku tidak bisa. Yang ada aku malahan mengingat kejadian tadi pagi. Masih kuingat jelas sentuhan bibir Yoochun di bibirku.

"Memangnya kenapa eonnie, sepertinya eonnie terlihat tidak nyaman dengan Kyuhyun? Ada namja lain yang lebih tampan darinya, nde ?"

Ketika Taemin selesai mengatakan kalimatnya yang kedua, kami pun saling pandang dan mulai tertawa. Alhasil Taemin menyenggol gelas ice lemon tea-nya dan tumpahlah semua ke meja dan mengalir ke lantai. Aku buru-buru mengeluarkan tisu dari tasku, sementara petugas restoran yang membersihkan meja langsung datang untuk membantu kami membersihkan tumpahan teh itu.

"Mianhae, kami tidak sengaja," kata Taemin sambil masih mengulum senyum dan mencoba membersihkan tumpahan itu. Setelah meja kami kembali bersih dan Taemin memesan satu gelas ice lemon tea lagi, percakapan kami pun bersambung.

"Eonnie, jangan katakan pada Kyuhyun bahwa aku menyebutnya tampan, dia bisa besar kepala nanti

dan membuatku menjadi semakin pusing," ucap Taemin setelah kembali ke meja.

Aku hanya tertawa dan mengangguk untuk meyakinkan dan menenangkan Taemin.

"Jadi, bagaimana ? Memangnya ada laki-laki lain?" Taemin bertanya lagi.

Aku tidak menjawabnya tapi hanya menaikkan kedua alisku.

"Yoochun, mungkin?"

Sekarang aku benar-benar kaget, aku tidak menyangka Kyuhyun akan menceritakan semuanya pada Taemin. Aku selalu tahu Taemin dan Kyuhyun memang dekat, tapi tidak tahu bahwa sedekat ini. Apalagi, sampai Kyuhyun bercerita tentang love life-nya.

"Demi Tuhan aku tidak tahu kenapa aku mencium Kyuhyun hari itu," ucapku akhirnya.

Kini giliran Taemin yang tersedak mendengar pernyataanku. Aku lalu melanjutkan,

"Jangan salah paham padaku Taemin-ah, Kyuhyun itu baik, hot as hell, tapi dia laki-laki yang hanya bisa menjadi teman denganku." Aku melihat senyum terbentuk di bibir Taemin.

"Kenapa kau tersenyum?" tanyaku.

Lalu barulah Taemin bertanya,

"Eonnie mencium Kyuhyun ?"

Kini giliranku yang melongo.

"Mwo, memang maksudmu kejadian di rumahku itu yang mana?" balasku.

"Eonnie mencium Kyuhyun?" tanya Taemin lagi.

Aku melihat bahwa Taemin berusaha keras untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Aku dapat merasakan mukaku mulai memerah. Aku lalu menuntut Taemin untuk menceritakan kejadian di rumahku, versinya Kyuhyun.

"Kyuhyun hanya bercerita bahwa eonnie mengatakan akan mengenalkan Kyuhyun dengan kakak perempuan eonnie yang baru saja melahirkan ," jelas Taemin.

"Oh my God, oh my god, oh my god...," ucapku berkali-kali sambil menguburkan mukaku ke kedua belah tanganku.

"Dia tidak pernah bercerita soal cium-mencium," lanjut Taemin.

Aku lalu memandang Taemin, menimbang-nimbang apakah aku ingin menceritakan kejadian seluruhnya. Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan versiku.

"Interesting, tapi aku sedikit bingung juga kenapa Kyuhyun tidak menceritakan padaku tentang itu," ucap Taemin setelah mendengarkan ceritaku.

"I know."

"Jadi itulah sebabnya eonnie tidak ingin berbicara dengannya."

Aku mengangguk.

"Aku hanya sedang membutuhkan waktu untuk bisa memberikan penjelasan yang masuk akal untuk Kyuhyun."

Kami kemudian terdiam beberapa saat dan berkonsentrasi pada makanan masing-masing.

"Jadi, bagaimana dengan masalah Yoochun ?"

"Kenapa tentang Yoochun ?" jawabku singkat sebelum kemudian aku sadar bahwa Taemin sedang memancingku.

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang Yoochun?" aku balik bertanya dengan penuh curiga.

"Jadi eonnie tidak ingin berkencan dengan Kyuhyun, tetapi lebih prefer pining over pada Yoochun yang sudah tunangan?"

"What ?" teriakku.

"Kau dikirim oleh Kyuhyun untuk menanyakan soal ini ?" Taemin terlihat kaget oleh reaksiku dan menjawab.

"Eh, tidak, aku hanya bingung... bagaimana hubungan eonnie, Kyuhyun, dengan Yoochun ini."

Setelah menghabiskan suapan terakhir spagetiku, aku pun melayani keingintahuan Taemin.

"Akupun juga masih bingung, Taem. Bagaimana jika kau bertanya tahun depan saja ?."

Kami berdua hanya berdiam diri untuk beberapa saat sebelum Taemin kemudian bertanya,

"Semua orang yang sudah melihat eonnie dengan Kyuhyun sudah tahu bahwa kalian berdua itu saling cinta. Yang tidak tahu soal itu hanya eonnie dengan Kyuhyun."

"Kyuhyun tidak cinta padaku," seruku kaget.

"Benar kan. Eonnie juga mencintainya," balas Taemin.

"Astaga Taemin-ah, untuk orang seumuranku, susah untuk bisa membicarakan tentang cinta. Terlalu banyak hal lain yang bersangkutan dengan kata itu. Tapi jika soal menyukai, ya memang aku menyukainya." Taemin mencoba berargumentasi tapi aku potong.

"Kau mungkin berpikir kakakmu itu mencintaiku, tapi sebenarnya dia bukan mencintaiku, tapi dia hanya... comfortable denganku. Tapi so what ? Bantal pun comfortable bukan ?."

"fine, pertanyaannya aku ganti. Jika misalnya oppa tercintaku yang terkadang suka menjadi bodoh jika sudah urusan cinta itu mengatakan pada eonnie bahwa dia mencintai eonnie , apa eonnie ingin setidak-tidaknya untuk percaya bahwa dia betul-betul mencintai eonnie ?"

"Taem, percaya padaku, dia t-i-d-a-k mencintaiku. Kau tahu sendiri bukan berapa banyak jumlah perempuan yang berkencan dengganya selama setahun terakhir ini? Tidak satu pun dari mereka yang tampangnya sepertiku. Aku ini terlalu „biasa‟untuk Kyuhyun."

"oohhhhh, God, I am wasting my time with this woman," teriak Taemin frustrasi.

Aku langsung meminta Taemin untuk menurunkan volume suaranya, karena orang-orang mulai melirik ke arah kami.

"Sudahlah, tidak perlu memikirkan tentang aku dan Kyuhyun. Lebih baik kita membicarakan tentang persiapan pesta lamaranmu."

Wajah Taemin masih terlihat frustrasi, tapi akhirnya kami mengganti bahan pembicaraan ke persiapan pesta lamaran Taemin.

Kami baru menuju pelataran parkir untuk pulang sekitar pukul delapan malam itu. Sebelum pulang Taemin berkata,

"Well, setidak-tidaknya tolong eonnie hubungi Kyuhyun ne. Aku kasihan dengannya karena untuk pertama kalinya dia tahu rasanya patah hati."

"Stop it, dia tidak patah hati."

"Ya, eonnie kan tidak tahu. Terima teleponnya saja tidak mau, bagaimana bisa tahu ?"

Aku tadinya ingin menyangkal tuduhan itu, tapi kata-kata Taemin memang mengena sekali.

"Well, okay," akhirnya aku setuju.

.

.

.

Semalaman aku tidak bisa tidur. Ketika bekerku berbunyi tepat pukul 05.30 keesokan harinya, dengan kesal aku langsung mematikannya dan kembali bersembunyi di bawah selimutku. Dalam perjalanan ke kantor aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menyelesaikan masalahku dengan Kyuhyun yang sudah berkelanjutan ini sampai tuntas.

Jika aku memang ingin tahu perasaan Kyuhyun yang sebenarnya kepadaku, aku harus memberanikan diri untuk menanyakan hal itu padanya. Memang ada kemungkinan aku akan malu jika misalnya ternyata dia mengatakan bahwa dia tidak ada perasaan apa-apa kepadaku. Tapi aku tidak peduli, aku sudah bertekad.

.

.

.

Tepat pukul 12.00 siang aku memutuskan bahwa sudah tiba saatnya bagiku untuk menghadapi Kyuhyun. Aku harus bertemu dengan Kyuhyun minggu ini karena minggu depan sudah libur Natal, aku takut dia berencana untuk cuti. Aku tidak akan mampu menunggu hingga Januari untuk berbicara dengannya. Dengan berat hati aku melangkah ke arah ruangannya. Yoochun masih belum menghubungiku lagi, dan aku sangat bersyukur. Mudah-mudahan dia sudah melupakan kejadian hari Sabtu itu.

Pintu ruangan Kyuhyun tertutup, aku pun bimbang sesaat. Apa aku harus mengetuk atau menunggu hingga pintu itu terbuka? Aku melangkah bolak-balik di depan ruangannya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintunya. Setelah beberapa ketukan dan tidak ada jawaban, aku kemudian membuka pintu ruangannya dan melihat ke dalam. Ternyata kosong. Aku buru-buru menutup pintu itu kembali sebelum kemudian berpapasan dengan Jihyo, resepsionis kantorku,

yang sedang terburu-buru melangkah kembali ke mejanya sambil menggenggam secangkir kopi di tangan kanannya.

"Ya, Sungmin-ah...," teriak Jihyo dengan keras tepat sebelum dengan tidak sengaja tangan kiriku menghantam cangkir yang sedang dipegangnya. Alhasil, cangkir itu jatuh dan menumpahkan kopi hitam ke karpet biru yang menutupi lantai kantor.

"Omo, mianhae, Jihyo-ah, aku tidak melihat," ucapku buru-buru.

Jihyo hanya memberiku tatapan kesal, sebelum bertanya,

"Kau mencari siapa ? Jika kau mencari Kyuhyun, dia sedang ke convention di Hongkong."

Aku berusaha untuk terlihat tenang sebelum menjawab,

"Eh, tidak...aku.. aku tidak mencari siapa-siapa." ucapku buru-buru sebelum kembali berjalan kembali ke arah ruanganku. Seperti membaca pikiranku Jihyo pun berteriak.

"Dia baru kembali minggu depan, Min."

.

.

.

Selama satu minggu aku menunggu Kyuhyun kembali dari Hongkong dengan keresahan yang tidak tergambarkan. Memang benar aku bisa menelepon atau mengirimkan email untuk menyelesaikan masalah ini, tapi aku merasa lebih baik jika dapat bertemu langsung dengannya.

Hari Sabtu sore akhirnya aku menyerah untuk mencemaskan Kyuhyun dan menemani eomma dan appa pergi menghadiri pesta pernikahan Hyoyeon, anak salah satu teman baik eomma. Pesta yang diselenggarakan di hotel ternama di Seoul itu betul-betul megah. Aku tentunya hanya datang untuk menemani orangtuaku harus banyak duduk diam di sudut ruangan sambil makan karena tidak

mengenal siapa pun. Aku hanya pernah bertemu dengan Hyoyeon mungkin lima kali sepanjang hidupku. Hyoyeon memang lebih seumuran dengan kakakku, tetapi meskipun begitu mereka juga tidak pernah dekat.

Ketika aku sedang berjalan menuju area yang menghidangkan pencuci mulut, tiba-tiba aku melihatnya... Kyuhyun. Dia yang seharusnya masih ada di Hongkong ternyata sekarang berdiri di hadapanku dan mengantri untuk mengambil hidangan favoritnya.

Kaget, aku mundur selangkah dan bertabrakan dengan seorang ibu dengan anaknya yang sedang bergegas menuju toilet. Tetapi tiba-tiba ada secercah keberanian yang mendorongku untuk menyapanya. Aku sadar bahwa Kyuhyun belum melihatku dan setelah cukup dekat aku baru tahu kenapa. Ternyata dia sedang berdiri di sebelah seorang wanita paling cantik yang pernah aku lihat, dan... Tidak salah lagi, wanita itu adalah Jung Bora, mantan kekasihnya yang merupakan model sekaligus merangkap bintang film itu.

Kaget untuk yang kedua kalinya selama kurang dari lima menit, aku berhenti melangkah dan hampir tersandung kakiku sendiri. Aku melihat tangan wanita itu sedang melingkari tangan kiri Kyuhyun dan mereka seperti sedang terlibat pembicaraan yang sangat romantis. Reaksi pertamaku adalah terkesima, lalu aku dapat merasakan bahwa apabila aku tetap berdiri di sana, bisa-bisa aku mulai menangis tersedu-sedu.

Aku sempat mencoba untuk merasionalkan bahasa tubuh mereka, tapi tidak ada prasangka lain selain bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Rasa cemburu, marah, dan sedih langsung menyelimutiku. Aku paham bahwa aku bukan siapa-siapanya Kyuhyun dan biasanya aku tidak pernah cemburu saat melihatnya bermesraan dengan perempuan lain.

Kenapa sekarang aku seperti orang kebakaran jenggot melihatnya bersama Bora ? Mungkin karena aku sudah menunggunya selama satu minggu dengan kecemasan yang tidak tergambarkan dan sekarang, ketika aku sudah bertemu dengannya, dia malah bersama perempuan lain sehingga aku tidak bisa meluapkan apa yang ada di hatiku.

Ternyata Kyuhyun tetap Kyuhyun. Dia akan selalu dikerumuni perempuan. Kyuhyun yang selalu menjadi penyebab utama kenapa lima puluh persen penghuni Seoul yang perempuan, mengalami patah hati. Bagaimana mungkin aku percaya bahwa dia telah memperlakukanku berbeda dengan perempuan lainnya ? Bagaimana bisa aku berpikir bahwa aku spesial di matanya? Ini salahku sendiri.

Terselimuti dengan kemarahan pada diri sendiri, buru-buru aku berbalik ke arah aku datang, tapi

terlambat, Kyuhyun sudah melihatku. Dengan tatapan agak kaget dia melambaikan tangan ke arahku dengan penuh semangat. Tapi aku tidak memedulikannya. Aku harus keluar dari sini, kataku dalam hati dan melangkah cepat ke arah pintu keluar.

Dalam perjalanan keluar aku mencari ponselku dan menekan angka dua, memori untuk nomor HP appa. Takut diikuti oleh Kyuhyun, aku menolehkan kepalaku ke belakang, tetapi aku tidak melihatnya di antara kerumunan. Rasa tenang juga kesal karena dia tidak mencoba mengejarku semakin meresahkan hatiku yang memang sedang galau.

Buru-buru aku menyampaikan pesan singkat kepada appa bahwa aku ada keadaan darurat dan harus segera pulang. Aku meminta orangtuaku untuk menemuiku di pintu masuk. Mengambil alih posisi seorang petugas valet parking, aku masuk ke sisi pengemudi SUV appa. Aku melihat kedua orangtuaku sedang bergegas ke arahku. Tetapi kemudian aku lihat di belakang mereka ada Kyuhyun yang sedang berlari-lari, mencoba menutup jarak dengan kedua orangtuaku.

Kepanikan langsung muncul di hatiku. Tetapi sebelum orangtuaku sampai ke pintu mobil dan masuk, Kyuhyun telah berhasil menarik perhatian mereka. Orangtuaku yang belum tahu duduk permasalahan aku dan Kyuhyun menyambut sapaan hangat dari Kyuhyun dengan terbuka.

"Minnie, kenapa tidak menyapa Kyuhyun?" tanya Eomma polos.

Aku sedikit kaget mengapa eomma mengenali Kyuhyun bahkan sampai mengingat namanya . Tapi

aku menepikan pikiran itu. Karena tidak mau membuat keributan di depan banyak orang yang sedang menunggu jemputan, aku pun turun dari sisi pengemudi dan bergegas menghampiri eomma.

"Hai, Ming, tadi aku melihatmu di dalam, aku sudah memanggilmu beberapa kali, tapi sepertinya kau tidak mendengarnya," ucap Kyuhyun padaku sambil mendekat untuk memberikan ciuman di pipiku seperti biasanya. Kyuhyun memegang lenganku ketika melakukannya, tetapi dia tidak melepaskan pegangannya setelah itu.

Dari tatapannya aku tidak menemukan adanya rasa bersalah ataupun pandangan bahwa dia mau memberikan penjelasan padaku tentang Jung Bora. Bukannya aku merasa bahwa Kyuhyun harus menjelaskan apa-apa kepadaku, karena dia tidak harus. Lagi-lagi aku mengingatkan diriku siapa aku, pacar bukan, saudara bukan, jadi apa urusanku untuk tahu dengan siapa dia datang ke acara resepsi ini. Menyadari hal itu ternyata justru membuatku semakin kesal.

"Eh itu, tidak, karena orangtuaku sudah ingin pulang, jadi aku harus segera mengambil mobil" balasku dengan cepat sambil memberikan kode kepada eomma dan appa.

Tentunya eomma yang memang suka telat berfikir jika sudah urusan kode hanya memandangiku dengan tatapan bingung, untungnya appa segera tanggap atas dilema yang sedang kuhadapi.

Aku dapat merasakan bahwa genggaman tangan Kyuhyun semakin mengerat.

"Iya, kami harus buru-buru, sampai bertemu lagi ya," ucap appa kepada Kyuhyun.

"Ne, ajusshi, ajhumma," balas Kyuhyun sopan.

Lalu orangtuaku pun beranjak mendekati mobil. Tapi ketika aku akan masuk ke mobil, Kyuhyun tetap tidak melepaskan lenganku. Aku memandangnya, memberikan tatapan memohon, kemudian perlahan-lahan dia melepaskan cengkeramannya. Aku buru-buru masuk ke mobil. Kyuhyun kemudian membukakan pintu belakang agar eomma bisa naik ke mobil dan menutupnya dengan rapat. Lalu appa masuk ke kursi penumpang di sampingku. Aku baru sadar kemudian bahwa Kyuhyun sedang berdiri di samping jendela pengemudi. Aku tidak ada pilihan selain menurunkan

jendela.

"Hati-hati, Ming," ucapnya pelan.

Aku pun berlalu meninggalkan Kyuhyun dengan muka bingungnya.

.

.

.

Malam itu, setelah satu hari berusaha menahan rasa sedih karena kebodohanku sendiri, aku masih duduk terdiam di kamarku dan mulai menangis ditemani oleh SNSD yang sedang melantunkan "Mistake". Terakhir kali aku menangis seperti ini adalah lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika aku memikirkan nasibku yang tidak bisa menghapuskan Yoochun dari pikiranku. Tapi sekarang... aku menangis karena perasaanku yang tidak jelas.

Bagaimana mungkin aku mencintai Yoochun tapi tidak mau menerima pernyataan cintanya ? Bagaimana mungkin kalau aku mencintai Yoochun, tetapi aku bisa cemburu ketika melihat Kyuhyun dengan perempuan lain ?

TBC

Chap 9 update~~

Chapt kemaren bikin emosi ya ? *garuktembok

Diawal kan udah ditulis Kyumin chingu, jadi pasti endingnya Kyumin ko~~ anggaplah kehadiran Yoochun sebagai ujian dalam rumah tangga uri Kyumin *ditabok

Yang udah review kemaren gamsahaeyo~~~ review lagi nde chingu~

anyeong~