Title : Kiseki no Sedai
Cast :
Kim Jong In a.k.a Kai
Do Kyung Soo a.k.a Kyungsoo
Other Cast
Pair / Slight : KaiSoo / Exo Official Couple
Genre : Romance, School Life
Rate : T
Leght : Chapter(s)
.
.
.
.
.
Story By; Miss Galaxy
.
.
.
.
.
WARNING THYPO !
DON'T READ IF YOU NOT LIKE !
.
.
.
.
Happy Reading ^^
.
.
.
.
.
.
Ini hari keempat training camp, dan itu artinya Chanyeol dan yang lain hanya memiliki sisa waktu dua hari saja disini. Pagi menjelang saat Kyungsoo berjalan menuju teras dengan baju tidurnya yang manis. Suasana masih sepi karna anak-anak yang lain belum bangun, ah, dia bangun terlalu pagi ternyata. Setelah menguap dan melakukan peregangan ringan, Kyungsoo berniat menuju dapur untuk membuat secangkir kopi jika saja dia tidak menemukan sosok Akashi yang baru datang, sepertinya pelatih tampan itu baru saja pulang dari joggingnya.
"Akashi-kun."
"Selamat pagi." Sapanya dengan manis, mengusap keringat didahinya dengan handuk kecil yang melingkar dilehernya. Kyungsoo melihat badannya sendiri dan merasa malu dengan penampilannya.
"Apa kau mau secangkir kopi?"
"Boleh." Kyungsoo tersenyum lalu bergegas menuju dapur. Dia menyempatkan diri untuk mencuci muka sebelum menyeduh dua cangkir kopi. Kepulan asap beraroma menemaninya bersama Akashi yang sedang duduk santai diteras menikmati pemandangan pagi. Meski belum terlalu lancar, namun Akashi bisa mengobrol dalam bahasa Korea dengan baik.
"Um, bagaimana dengan latihannya?" Kyungsoo bertanya, memeluk erat cangkir kopi dengan kedua telapak tangannya.
"Sejauh ini, berjalan lancar."
"Begitukah?" Kyungsoo mengguman, menyeruput kopinya sekali. "Mereka semua berbakat, hanya perlu sedikit asahan dan arahan. Dan yang terpenting, mengatur agar mereka menjadi tim yang kompak."
"Mereka bekerja sama dengan baik, kecuali satu orang."
"Kai." Akashi tersenyum tipis melihat Kyungsoo yang mendengus.
"Kau pasti bekerja keras untuknya ya."
"Begitulah."
"Kenapa kau tidak menyerah saja?"
"Menyerah?" Kyungsoo menatap pria Jepang disebelahnya sejenak sebelum berpaling menatap lurus kedepan.
"Menyerah saat inipun sudah tidak berguna, karna aku sudah percaya padanya." Kyungsoo menarik nafas sekali lalu kembali melanjutkan. "Seberapa keraspun dia menolak atau mengabaikanku, aku akan tetap memperhatikan dan percaya padanya. Aku ingin melihatnya bermain basket dengan perasaannya, bukan hanya untuk kepuasan diri semata." Jawab Kyungsoo dengan seyuman.
Akashi terdiam mencerna kata-kata Kyungsoo, dalam hati memuji tekad Kyungsoo yang begitu kuat untuk seorang Kai yang sangat sulit untuk diatur. Andai manager Seirin bukanlah sosok Kyungsoo, Akashi tidak yakin apakah club basket akan berjalan dengan baik. Kai terlalu keras, memiliki dinding kebal yang terlalu kokoh untuk dihancurkan. Dan Kyungsoo, gadis manis yang terlihat lemah ini bertekad kuat untuk menghancurkan dinding kokoh itu sendirian. Akashi tanpa sadar tersenyum penuh arti, tangannya lantas terangkat mengusap kepala Kyungsoo yang menatap kaget kearahnya.
"Kyungsoo, kau adalah gadis yang kuat." Pujinya tulus. Kyungsoo tidak tahu harus bereaksi seperti apa atas perlakuan tiba-tiba Akashi padanya, namun akhirnya dia hanya menganggap itu sebagai perhatian seorang saudara. Mereka saling melempar senyum dan bercanda, mengabaikan Kai yang berdiri dibelakang mereka dengan muka kusut. Entahlah, apakah lelaki itu sudah berdiri disana sedari tadi atau bagaimana, namun intinya dia tidak suka melihat interaksi Kyungsoo bersama pelatih yang sialnya sangat ingin dia kalahkan tersebut.
"Kyungsoo." Panggilnya, kedua manusia di teras itu lantas menoleh bersamaan.
"Oh, kau sudah bangun." Kai hanya mengguman malas sebagai jawaban, dia melirik sekilas pada Akashi sebelum menatap fokus pada Kyungsoo.
"Aku mau kopi."
"Kau bisa membuatnya didapur." Kai mengernyitkan alisnya, menatap Kyungsoo dengan malas.
"Kau mau aku menghancurkan dapur?" Ancamnya. Kyungsoo mendengus kesal, dia sebenarnya juga tidak yakin membiarkan lelaki itu untuk menyalakan kompor sendiri, setahunya lelaki itu sangat jarang berada didapur meski hanya untuk membuat air panas. Dengan menghela nafas, Kyungsoo berdiri dan berpamitan pada Akashi sebelum menghampiri Kai dan mengajaknya kedapur. Meninggalkan sosok Akashi yang hanya menatap penuh arti pada keduanya.
"Menyusahkan sekali." Guman Kyungsoo, namun begitu dia menyalakan kompor untuk membuat air hangat dan mengambil sebuah cangkir.
"Kau mau kopi yang bagaimana?"
"Tidak terlalu manis." Jawab Kai yang kini duduk disalah satu kursi didapur tersebut, memperhatikan Kyungsoo yang tengah mengaduk kopinya dengan santai, seolah dia memang sudah terlatih berada didapur. Gadis impian semua orang!
"Ini." Kyungsoo menyerahkan secangkir kopi dengan asap mengepul pada Kai yang menerimanya dengan gumanan terimakasih samar, lalu menyeruputnya sekali. Keduanya lantas saling terdiam, suasana yang canggung karna biasanya mereka akan selalu beradu mulut jika sudah bersama.
"Seminggu lagi babak pertama akan dimulai, apa kau sudah siap?" Tanya Kyungsoo memecah keheningan, menatap Kai sambil menyeruput kopinya.
"Aku selalu siap." Jawab Kai acuh, seperti biasa.
"Yayaya, kau memang memang berbakat. Tapi maksudku apa kau siap bermain bersama anggota tim?" Kai melirik melalui mata birunya yang bersinar cerah, menatap Kyungsoo yang menunggu jawabannya kemudian berdecak kesal, meletakkan cangkirnya ke atas meja.
"Kau membuat kopi ini terasa sangat pahit."
Kyungsoo untuk yang kesekian kalinya hanya bisa mengelus dada dengan sabar, menghadapi orang macam Kai butuh waktu yang tidak sedikit dan Kyungsoo harus melakukan berbagai macam upaya untuknya.
.
.
.
Para anggota sudah berkumpul diruang tengah dengan rapi, menunggu para perempuan yang masih belum keluar dari dalam kamar mereka. Rencananya mereka akan makan malam bersama di restoran tak jauh dari penginapan. Karna para anggota sudah menghabiskan banyak waktu untuk berlatih, jadi diputuskan untuk menghabiskan sisa waktu dengan bermain-main, seseorang mengatakan besok akan dibuka sebuah pasar malam, itu berita bagus untuk liburan sempit mereka.
"Ouh, kenapa para wanita selalu lama?" Jongdae menggerutu sementara Ken sudah mengeluh sangat lapar. Tak lama, Baekhyun, Luhan dan Kyungsoo keluar dari kamar mereka setelah bersiap-siap untuk sekian lama. Sebenarnya yang lama adalah Baekhyun karna gadis itu harus memakai eyelinernya.
"Ayo berangkat!" Seru Baekhyun bersemangat. Mereka keluar dari penginapan beriringan, karna jarak restoran tidak terlalu jauh jadi mereka memutuskan untuk berjalan kaki, sekaligus menikmati suasana. Semua anggota terlihat sangat gembira, terutama pemain kelas satu. Suga terpaksa menaiki kursi roda dibantu oleh Jin karna itu akan berbahaya jika dia harus berjalan kaki, Chanyeol dan Baekhyun bergandengan, sementara Sehun dan Luhan berjalan beriringan sambil sesekali mengobrol. Berbanding dengan sosok Kyungsoo yang berjalan satu meter dibelakang Kai. Gadis itu memang berada dibelakang karna dia harus mengunci pintu dahulu, Kyungsoo berlari-lari kecil agar bisa berjalan disamping Kai dengan langkah super lebarnya tersebut.
"Hei, berjalanlah perlahan."
Kai meliriknya, menemukan Kyungsoo yang kesusahan mengimbangi langkahnya dengan kaki kecilnya itu.
"Aku sudah pelan, kau saja yang lelet!"
"Aku tidak lelet! Langkahmu saja yang lebar seperti raksasa." Kai mendecak, namun akhirnya karna kasihan, pria itu meraih tangan Kyungsoo dan menggandengnya. Dia sendiri juga terkejut, memikirkan dorongan apa yang membuatnya melakukan hal ini pada Kyungsoo. Sementara Kyungsoo sendiri juga kaget, dia mendongak menatap Kai dan tangannya sendiri bergantian.
"Jangan salah sangka. Aku hanya tidak mau kau tertinggal sementara yang lain sudah sampai." Ucap Kai mencoba acuh, Kyungsoo hanya mendengus sebagai jawaban, namun diam-diam mengulum senyum senangnya.
Mereka lantas mencapai jalanan yang ramai setelah berjalan kurang lebih lima belas menit, ada banyak restoran dan toko yang berjajar disepanjang jalan. Daerah ini kan memang daerah wisata, jadi kebanyakan toko menjual pernak-pernik serta buah tangan. Mereka semua memasuki salah satu restoran yang memiliki halaman luas yang terbuka. Mungkin restoran ini dikhususkan untuk pelanggan yang banyak, jadi satu meja yang panjang mampu menampung belasan orang, para anggota mengambil duduk masing-masing, begitupun dengan Kai yang langsung melepaskan gandengan tangan Kyungsoo dan mengambil posisi yang sialnya selalu berada didekat Kyungsoo. Chanyeol sebagai kapten lantas mengambil daftar menu dan mulai memesan berbagai macam makanan yang diributkan oleh para anggota. Restoran nampak ramai, beberapa meja juga sudah penuh dengan rombongan seperti mereka.
"Oh, apakah pelatih tidak ikut?" Tanya Baekhyun yang baru menyadari ketiak hadiran Akashi disana.
"Dia bilang memiliki urusan lain, jadi tidak ikut." Jawab Kyungsoo yang memang tadi ditemui Akashi perihal ketidak hadirannya. Memang sih, penginapan mereka terletak ditempat yang berbeda meski berada di lingkup yang sama, Akashi juga jarang makan malam atau sarapan bersama, jadi itu tidak akan masalah.
Dua puluh menit kemudian makanan datang dan para anggota dimeja itu mulai ribut berebut makanan. Daging panggang, berbagai olahan sea food dan sup memenuhi meja, membuat para anggota saling berebut satu sama lain. Yah sebenarnya tidak semua sih, hanya anggota kelas satu bersama si biang rusuh Jongdae, sementara yang lain makan dengan tenang.
"Apakah tidak ada acar?" Tanya Minhyun, padahal udang goreng terselip disumpitnya.
"Oh sudah habis? Biar aku pesankan lagi." Kyungsoo yang menawarkan diri itu lantas bangkit dan berbalik sebelum–
Dug!
–dia menabrak seseorang dan mendapat tumpahan lemon ice dibajunya.
"Astaga!" Pria yang tanpa sengaja menabraknya itu melebarkan mata, menatap Kyungsoo dengan penuh rasa bersalahnya.
"Nona maafkan aku, sungguh aku tidak sengaja." Sesalnya bersungguh-sungguh yang membuat Kyungsoo tidak tega untuk merasa marah, gadis itu lantas menggeleng menenangkan.
"Tidak apa, aku juga yang ceroboh."
"Tapi–" Kyungsoo mengibaskan tangannya dan berpamitan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara para anggota yang melihat itu hanya memperhatikan, tidak mau ikut campur karna merasa itu hanya masalah kecil. Pria dengan lemon ice ditangannya itu menatap kepergian Kyungsoo kekamar mandi sebelum memutuskan untuk mengikutinya, hal itu tentu saja tertangkap dalam pandangan Kai yang sedari tadi mengawasinya.
"Aku yang akan memesan acarnya." Kai berucap tiba-tiba, bangkit dan berlalu menuju meja pemesanan membuat para anggota menatap satu sama lain dengan pandangan kaget, heran dan bingung. Heh, tumben sekali orang itu.
Dikamar mandi, Kyungsoo membersihkan noda minuman itu dibajunya, beruntung dia memakai kaus berwarna pink, jadi tidak akan terlalu masalah. Saat dia keluar dari kamar mandi, betapa terkejutnya karna pria yang tadi menabraknya itu berdiri menunggunya.
"Eoh, kau kan pria yang tadi." Ucap Kyungsoo dan pria didepannya tersenyum manis, menyodorkan sebuah sapu tangan kepadanya.
"Ini apa?" Tanya Kyungsoo menatap pria itu dan sapu tangannya bergantian.
"Ini mungkin tidak membantu, tapi aku ingin kau menerimanya sebagai permintaan maafku." Pria itu tersenyum dengan tulus, membuat Kyungsoo menerima sapu tangan berwarna pink pastel itu dengan percaya.
"Terimakasih, eng.."
"Jonghyun, Kim Jonghyun." Pria itu mengulurkan tangannya yang Kyungsoo sambut dengan senang hati.
"Tapi kau bisa memanggilku JR."
"JR?"
"Junior Royal." Jonghyun tertawa dan suara tawanya entah kenapa begitu menyenangkan ditelinga Kyungsoo.
"Siapa namamu?"
"Do Kyungsoo."
"Nama yang manis." Pujinya lagi-lagi dengan senyuman, entahlah sepertinya pria ini sangat suka tersenyum.
"Kau kesini untuk berlibur?"
"Ya dengan teman-temanku."
"Ah, begitu. Aku juga."
"Wah, itu terdengar seperti sebuah kebetulan." Keduanya tertawa lalu suasana seperti menjadi sangat canggung, Kyungsoo meremas sapu tangan pemberian Jonghyun dengan gugup, sial kenapa juga dia harus berdebar? Apa karna senyum Jonghyun begitu mempesona?
"Sepertinya kau masih bersekolah ya,"
"Ya. Aku tingkat dua di sekolah Seirin." Mendengar itu sontak Jonghyun kaget dibuatnya.
"Jangan bilang kau sedang melakukan training camp dengan anggota club basket?" Tebaknya dan kali ini Kyungsoo yang membulatkan matanya dengan lucu.
"Apakah kau juga?" Jonghyun lagi-lagi tertawa dan sialnya Kyungsoo kembali terpesona.
"Aku dan temanku juga sedang melakukan training camp disini."
"Dimana kau bersekolah?"
"Rakuzan. Tingkat tiga."
Rakuzan?
Sekolah dengan title 'Raja Bertahta' tersebut?
"Woah. Kau pasti salah satu pemain inti disana."
"Ah tidak, aku hanya salah satu anggota kok." Jonghyun mengedip dan entah untuk alasan apa Kyungsoo merona dibuatnya, keduanya saling tertawa seolah mereka sudah mengenal lama, mengabaikan Kai yang datang dan mendekat kearah keduanya.
"Ternyata kau disini." Kai muncul dan berdiri didekat Kyungsoo begitu saja, melirik Jonghyun sekilas dan menatap Kyungsoo dingin.
"Semua orang menunggu dan kau malah disini berdua, dengan orang asing?" Ucapnya dengan intonasi datar, Kyungsoo merengut lantas berdecak.
"Dia bukan orang asing, dia Jonghyun!"
"Persetan. Kau fikir aku peduli?" Kai lalu meraih tangan Kyugsoo untuk pergi, membuat gadis itu berdecak kesal dan akhirnya hanya melambai-lambai kearah Jonghyun dengan saputangannya. Jonghyun sendiri masih tersenyum sampai sosok Kyungsoo menghilang bersama pria tadi. Well, Kyungsoo ternyata gadis yang manis. Pria itu berfikir sejenak dan mengira-ngira apa hubungan Kyungsoo dengan pria tadi.
"Ah, aku bahkan belum meminta nomor ponselnya."
.
.
.
Saat mereka selesai makan dan membayar tagihan, para anggota segera saja beranjak dan berjalan keluar dari restoran itu. Di pintu keluar Kai melihat pria bernama Jonghyun tadi melambai pada Kyungsoo. Apa yang dia lakukan? Kai tanpa sadar ikut menghentikan langkah saat Kyungsoo berlari-lari kecil kearah Jonghyun, keduanya mengobrol dan terlihat bertukar sesuatu dengan ponselnya. Oke, Kai memang tidak ada hubungannya dengan hal ini, terserah apa yang dilakukan si kurcaci itu, tapi kenapa dia harus kesal saat menunggu Kyungsoo yang kembali dengan wajah ceria menatap ponselnya?
Sial, ada apa dengannya.
"Kau menungguku? Ayo pulang!" Ajaknya dengan ceria, menarik tangan Kai dan berjalan dengan riang, sesekali meloncat-loncat seperti anak kecil, membuat Kai terheran hal apakah yang membuat gadis ini begitu senang?
Saat mencapai penginapan, semua anggota langsung memasuki kamar mereka untuk beristirahat, namun pengecualian untuk Kyungsoo, gadis itu memasang kasur lipat diruang tengah dengan beberapa tumpuk bantal, sepertinya menonton tivi sebentar tidak masalah. Waktu menunjukkan pukul sepuluh saat suasana penginapan menjadi hening dan dering singkat ponsel menyadarkan Kyungsoo. Gadis itu menemukan sebuah notifikasi dari akun Linenya.
Pockyjr: Haii.
Kyungsoo mengernyitkan dahinya bingung, mengira-ngira siapakah pemilik akun line dengan username unik ini, namun saat Kyungsoo membuka profil id tersebut, betapa senangnya karna itu adalah akun milik Jonghyun. Well, mereka tadi memang bertukar nomor ponsel dan username instagram. Tapi Kyungsoo tidak menyangka bahwa Jonghyun akan menemukan akun Linenya. Ah, itu tertulis di bio instagramnya, pasti Jonghyun membaca itu. Kyungsoo lantas mengechek akun instagramnya dan benar saja, username dengan nama yang sama telah mem-follownya dan memberikan like pada beberapa fotonya. Gadis manis itu tersenyum lantas membalas chat dari Jonghyun.
SoKyung: Hai Jonghyun^^
Pesan balasannya itu tanpa diduga langsung dibaca dan sebuah pesan balasan kembali masuk.
Pockyjr: Wah kau sudah tahu itu aku ya.
Kyungsoo menjadi semangat, dia bahkan mengabaikan Drama 'Tunnel' favoritnya dan memilih membalas pesan chat dari Jonghyun. Itu menyenangkan sekali, Kyungsoo merasa nyaman dengannya meski mereka baru bertemu beberapa jam yang lalu, bahkan dengan insiden yang tidak terduga. Mungkin karna Jonghyun yang selalu bersikap sopan –bahkan di SNS sekalipun. Ah, kenapa Kyungsoo berdebar begini?
Pockjr: Besok ada pasar malam, sekaligus hari terakhir aku disini sebelum kembali ke Seoul. Apakah mungkin kau mau pergi bersama? Kau bisa mengajak temanmu.
Apa? Jonghyun mengajaknya pergi bersama?
SoKyung: Kau bercanda, besok juga hari terakhirku disini.
Pockyjr: Sungguh, wah apakah ini yang dinamakan kebetulan?
SoKyung: Kkk~ entahlah.
Pockyjr: Hahaha, jadi bagaimana? Apakah kau mau? Aku tidak akan memaksa.
SoKyung: Hm, bagaimana ya? Akan kufikirkan.
Pockjr: Ah, aku akan menunggu.
SoKyung: Bagaimana jika aku mau?
Pockyjr: Sungguh?
SoKyung: Mungkin aku akan mengajak temanku, atau sendiri. Besok jam tuju direstoran kemarin, oke?
Pockyjr: Ah terimakasih, aku akan menunggu disana^^
Kyungsoo tersenyum tanpa alasan, menggigit ujung ponselnya menahan tawa. Selama delapan belas tahun hidupnya, Kyungsoo memang dekat dengan beberapa orang pria, namun itu tidak lebih hanya sebatas seorang teman atau junior disekolahnya. Sebelum pindah ke Seoul, disekolah lamanya dulu, Kyungsoo cukup popular karna dia salah satu anggota club music, bahkan ada beberapa senior yang terang-terangan mendekatinya. Tapi Kyungsoo disekolah adalah Kyungsoo yang tegas, sehingga tidak akan mudah untuk mendapatkan hatinya, termasuk saat dia menjadi manager tim basket Seirin, dia akan menjadi tegas namun lembut dalam bersamaan. Hanya ada empat hal yang membuat sifat 'kekanakan' aslinya keluar. Pertama: Orang tua serta adiknya, Kedua: Sahabatnya, Ketiga: Orang yang dia sukai, dan terakhir: Kai. Okay, sebenarnya hanya ada tiga, namun semenjak dia bertemu Kai, pria itu telah sukses menghancurkan ketegasannya dan menarik keluar semua sifat aslinya. Yaya, hanya Kai seorang yang mampu membuatnya marah, frustasi, kesal, melas, merajuk, bahkan nyaris membuatnya menangis, iya hanya Kai seorang. Tapi tunggu, kenapa harus lelaki itu yang lebih banyak? Harus Kyungsoo akui sih, dia lebih sering merengek didepan lelaki itu yang jelas-jelas adalah Juniornya. Wah ini pertama kalinya, sialan sekali. Bagaimana Kyungsoo tidak akan bersikap seperti itu? Mereka bahkan selalu bertengkar setiap saat.
Pockyjr: Ini sudah malam, cepat tidur ya. Good Night^^
Itu adalah pesan terakhir dari Jonghyun sebelum Kyungsoo meletakkan ponselnya didekat bantal, kembali fokus pada tivi yang sempat dia abaikan. Tak lama, gadis itu menguap. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dia harus tidur karna besok dia harus bangun pagi untuk menyiapkan sarapan dan membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang.
.
.
.
Kai adalah anggota yang datang paling akhir saat sarapan akan dimulai pagi itu, pria itu belum mandi, masih terlihat mengantuk dengan rambut berantakannya, tapi sepertinya itu cukup menarik perhatian beberapa wanita untuk menjerit.
"Kufikir kau tidak bangun, aku berniat menghabiskan semua sarapan." Sahut Kungsoo dengan wajah acuh saat Kai mengambil posisi duduk disebelahnya, menarik roti selai nanas ditangan Kyungsoo sesuka hati, membuat gadis bermata bulat itu mendengus sebal.
"YA!" Kesalnya, namun begitu dia kembali meraih selembar roti dan mengoleskannya dengan selai nanas. Dia harus bersabar atau kerutan didahinya akan membuat raut wajahnya nampak buruk, dia akan pergi dengan Jonghyun nanti. Eh?
"Kudengar akan ada yang berkencan nanti malam." Ucap Baekhyun tiba-tiba.
"Siapa?" Tanya Luhan penasaran. Baekhyun menggerakkan dagunya kearah Kyungsoo yang kini membulatkan matanya, semua anggota membawa arah pandang padanya.
"E–eh, apa yang kau bicarakan Baek?"
"Kau akan kencan kan nanti malam." Baekhyun menaik-turunkan alisnya.
"Aku?" Kyungsoo menunjuk dirinya sendiri sementara semua anggota nampak penasaran. "Dengan siapa?"
"Kim Jonghyun. !"
Uhuk!
Kyungsoo tersedak rotinya dan buru-buru meneguk susunya, melotot pada Baekhyun yang terkikik seorang diri.
"Bagaimana kau tahu?"
"Ahya, maaf. Tapi aku mengecek ponselmu tadi. Dia bahkan mengucapkan selamat pagi padamu kekeke." Kyungsoo tidak tahu harus bagaimana menghadapi Baekhyun saat ini. Kapan gadis itu mengecek ponselnya? Ya! Sialan.
"Dia mengajakmu pergi kepasar malam nanti kan?"
"Bukan begitu, aku berniat mengajak kalian tahu."
"Ah, sayangnya kami tidak akan ikut karna kami tidak mau mengganggu kencanmu. Benar kan?" Semua anggota yang mulai paham situasi mengangguk menyetujui perkataan Baekhyun. Zelo bertanya apakah Jonghyun itu pria yang menabrak Kyungsoo direstoran kemarin dan Baekhyun mengangguk, membuat anak kelas satu membulatkan bibirnya dan mulai tersenyum dengan aneh. Wah, Baekhyun sialan!
"Kau harus pergi sendiri, siapa tahu setelah ini kau akan punya pacar!"
"YA! Baekhyun!" Kesal Kyungsoo dengan wajah memerah, saat semua orang sibuk menggoda Kyungsoo, Kai yang duduk disebelahnya hanya diam, menelan habis rotinya sebelum meneguk susu digelas Kyungsoo –lagi.
"Aku pergi." Ucapnya bangkit lalu berlalu pergi begitu saja, membuat semua orang menatapnya namun tidak ingin bertanya.
"Kau mau kemana?" Tanya Kyungsoo, tentu saja hanya gadis itu yang berani. Namun Kai tidak menyahut dan dia sudah menghilang keluar, membuat Kyungsoo hanya mendengus kesal.
"Biarkan saja, kau fokus saja untuk kencan nanti."
"Ya! Luhan eonni, kenapa kau ketularan Baekhyun sih?"
.
.
.
Kai keluar dari penginapan dengan bola basketnya menuju lapangan tak jauh dari pantai. Pria itu berjalan dengan tenang, sesekali memantulkan bolanya ke jalanan aspal, namun fikirannya sedang berkecamuk, entah karena apa, dia sendiri juga tidak memahaminya. Namun dia menjadi kesal karna percakapan saat sarapan tadi, percakapan tentang Kyungsoo yang akan pergi kepasar malam bersama pria direstoran kemarin –mungkinkah? Tapi tunggu, apa pedulinya memang? Jikapun kurcaci itu pacaran atau menikah dengan pria itu sekalipun, toh tidak ada hubungan apapun dengan dirinya, dia tidak harus peduli tentang itu, tapi kenapa dia menjadi kesal? Sialan, Kai tidak bisa memahami perasaannya sekarang, dia butuh pelampiasan.
Setengah mendengus pada dirinya sendiri, pria itu memasuki lapangan dan mendapati seseorang sudah berada disana. Dengan kaus tanpa lengan serta snapback berwarna hitam, pria itu terlihat santai melakukan shoot yang sempurna, jemarinya mendorong bola dengan terampil, seolah jemarinya itu menari dengan luwes. Dia berbakat, tapi cih –Kai juga lebih berbakat. Kai mendekati pria tersebut dan mendadak merasa tidak nyaman dengan suhu tubuhnya sendiri. Ah sial, dia ingat jika kemarin dia tanpa sengaja memakan sup kepiting, tapi mementingkan egonya saat ini, dia mengabaikan itu dan mendekati pria tersebut yang kini menatap kearahnya dan tersenyum kecil.
Oh pria itu, pria yang kemarin.
Kim Jonghyun?
.
.
.
Kyungsoo bersiap-siap didalam kamarnya, memakai sebuah terusan motif bunga-bunga dengan polesan make up yang tipis, membuatnya terlihat imut dan dewasa dalam waktu bersamaan. Dibelakangnya Luhan dan Baekhyun saling menatap dengan senang.
"Wah, kau sudah siap berkencan ya rupanya." Goda Baekhyun.
"Aku berniat mengajak kalian, tapi kalian tidak mau, yasudah." Jawab Kyungsoo sambil mengecek jam diponselnya, gadis itu lantas bersiap, memasukkan ponsel kedalam tas dan merapikan rambutnya sejenak.
"Baiklah aku siap."
Kyungsoo keluar kamar diikuti Luhan dan Baekhyun yang berniat akan mengantarnya sampai teras depan. Namun tiba-tiba saja Zelo datang menghampiri mereka.
"Noona!" Ketiga wanita itu menoleh dan menemukan wajah cemas Zelo.
"Zelo, ada apa?"
"Kai."
"Kai?" Kyungsoo mengernyitkan alisnya, menebak apakah preman itu kembali membuat ulah.
"Ada apa dengan Kai?"
"Saat aku masuk kekamarnya untuk mencari pewangi ruangan, aku menemukannya tidur dengan tidak nyaman diranjang, Itu, badannya panas dan ada ruam diwajahnya." Kyungsoo adalah orang pertama yang berbalik memasuki kamar Kai, memastikan keadaan lelaki itu. Dan memang benar, pria itu terlihat sedang tidak baik. Tubuhnya berkeringat tapi saat Kyungsoo menyentuh dahinya dengan punggung tangan, itu terasa panas, juga ruam kemerahan yang muncul disekitar wajah dan tangannya. Ada apa ini?
"Kai? Kau baik-baik saja?" Ucapnya panik. Kai membuka matanya dan menemukan Kyungsoo yang terlihat rapi kemudian menggeleng.
"Aku baik." Ucapnya mencoba meyakinkan dengan suara serak. Kyungsoo berdecak kesal dibuatnya, gadis itu bangkit mengambil handuk dan mengusap keringat didahi pria tersebut, namun Kai berusaha menepisnya.
"Apa yang kau lakukan? Aku baik-baik saja." Ucapnya setengah galak.
"Tapi keringatmu mengatakan tidak." Kyungsoo lalu bangkit dan berniat menuju dapur membuat air hangat sebelum Luhan mencegah.
"Kau pergilah Kyung, biar kami yang merawatnya." Kyungsoo melirik Kai yang mencoba tidur dengan tidak nyaman diranjangnya kemudian menggeleng.
"Aku tidak bisa pergi."
"Tapi bagaimana dengan Jonghyun?"
"Dia akan mengerti."
"Kyung, tapi–"
"Kami masih bisa pergi bersama saat di Seoul nanti Baek, yang terpenting adalah Kai saat ini, aku tidak ingin dia semakin parah." Kyungsoo menghela nafas kemudian menatap kedua temannya dengan meyakinkan.
"Lagipula hanya aku yang bisa merawatnya, kalian tenang saja." Gadis itu lalu menatap Zelo. "Zelo, kau bisa kembali kekamarmu dan istirahat, jangan khawatir, aku akan merawat Kai. Jika anggota lain bertanya, katakan dia tidak apa-apa, mengerti?" Pria jangkung itu mengangguk, lalu menurut pergi menuju kamarnya.
"Aku akan membuat bubur, kalian berdua istirahat saja dulu. Percuma saja jika kalian membantu, hanya aku yang bisa mengurus anak itu." Baekhyun dan Luhan saling menatap satu sama lain. Okay, mereka pasti tidak akan membantu banyak karna Kai tidak akan mendengarkan mereka, tapi mereka memutuskan menemani Kyungsoo membuat bubur didapur. Chanyeol dan Sehun kemudian datang kedapur. Kapten Seirin itu memang mendengar bahwa Kai sakit dari Zelo, karna itu dia datang untuk memastikan, sementara Sehun yang merasa tahu apa yang terjadi pada Kai memutuskan ikut mengeceknya tanpa diminta.
"Ada apa? Kai sakit?" Tanya Chanyeol.
"Entahlah, badannya panas dan ada ruam diwajahnya, mungkin dia alergi sesuatu. Tapi apa ya? Dia kan tidak makan sesuatu yang aneh-aneh." Ucap Baekhyun, sementara Kyungsoo tengah menyeduh segelas susu hangat.
"Haruskah kita membawanya keklinik terdekat?"
"Kurasa tidak, itu hanya alergi." Sehun tiba-tiba menyahut, membuat semua yang ada disana menatap kearahnya.
"Mungkin dia alergi dengan makanan laut, entah udang atau kepiting, mungkin salah satunya." Kyungsoo mengernyit, dia terlihat berfikir membenarkan ucapan Sehun.
"Seharusnya jika dia alergi, akan muncul ruam setelah dia memakan makan laut itu."
"Tidak semua alergi akan muncul setelah seseorang memakan makanan yang menjadi pantangannya, dalam beberapa kasus, alergi akan muncul dalam jangka waktu yang agak lama, mungkin Kai salah satu yang mengalaminya. Ruam ditubuhnya juga menimbulkan efek demam pada tubuhnya."
"Woah Sehun, kau terlihat tahu banyak. Kau mengenal Kai dengan baik ya?"
"A–ah tidak, aku hanya membaca diinternet." Sangkal Sehun mencoba memasang wajah biasanya. Kemudian pria itu mengambil segelas air sebelum berpamitan kembali kekamarnya. Mungkin itu biasa saja, namun Luhan mampu menangkap gelagat aneh Sehun disana.
"Baiklah, aku dan Baekhyun akan keluar membeli obat alergi untuknya."
.
.
.
Kyungsoo memasuki kamar Kai dengan nampan dikedua tangannya, meletakkannya dinakas sebelum duduk disisi ranjang Kai.
"Hei."
Pria tan itu membuka matanya dan nampaknya sedikit terkejut menemukan Kyungsoo ada disana.
"Bangun dan duduklah."
"Kenapa kau disini?"
"Menemanimu, apa lagi?" Sahut Kyungsoo.
"Tapi kau akan pergi bukan?"
"Memang." Kyungsoo mengambil mangkuk bubur dan mengaduknya perlahan. "Tapi tidak jadi."
"Kenapa?"
"Karna kau sedang sakit." Kai mengernyitkan alisnya, terlihat tidak suka.
"Lalu?"
"Ya tentu saja aku tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan begini."
"Cih, aku baik-baik saja."
"Tapi ruam dan suhu tubuhmu mengatakan tidak." Kungsoo mengangkat satu sendok bubur hangat yang sudah dia tiup sebelumnya kedepan Kai.
"Apa-apan?" Tanyanya mendelik, tidak terima. Hei, dia tidak selemah itu sampai Kyungsoo harus menyuapinya.
"Apa lagi? Ayo buka mulutmu."
"Aku bisa makan sendiri, aku bukan anak kecil."
"Kau memang bukan anak kecil, tapi sayangnya kau sedang sakit sekarang." Bantahnya, balas mendelik pada Kai.
"Cepat buka mulutmu atau aku akan mengurungkan niatku dan pergi menemui Jonghyun." Ancamnya, terdengar konyol sih. Namun pada akhirnya Kai membuka mulutnya meski harga dirinya sedikit tersakiti. Dia sendiri juga heran kenapa dia mau-mau saja diperintah oleh kurcaci ini. Ah sial, andai alergi ini tidak datang.
"Nah begitu, jadilah anak yang penurut." Ucap Kyungsoo kembali menyuapkan bubur tersebut. Kai menatapnya, menemukan Kungsoo sudah berganti pakaian menjadi baju santai.
"Aku bisa melanjutkan makanku sendiri, kau bisa pergi berkencan sekarang."
"Ayolah, itu bukan ajakan kencan, kami hanya akan pergi ke pasar malam bersama."
"Itu sama saja dengan kencan bodoh!"
"YA! Tapi kami tidak punya hubungan, lagipula aku dan Jonghyun juga baru mengenal." Kyungsoo mengaduk mangkuknya, menemukan tiga sendok terakhir lagi.
"Aku sudah mengirim pesan bahwa aku tidak bisa datang, dan ya, dia mengatakan bahwa kita bisa pergi lain waktu di Seoul nanti." Memang benar, Kyungsoo tadi menghubungi Jonghyun dan mengatakan bahwa dia tidak bisa datang karna salah satu anggotanya sedang sakit, dan pria itu mengatakan tidak apa-apa, mereka bisa bertemu lain waktu jika sudah kembali ke Seoul, dia bahkan menitip salam dan mendo'akan agar Kai cepat sembuh.
"Nah sekarang minum obatmu." Setelah buburnya habis, Kyungsoo memberikan pria itu obat yang dibeli Chanyeol tadi dan menyuruhnya agar cepat tidur. Lihatlah, bukankah Kyungsoo terlihat seperti seorang ibu yang sedang merawat anaknya yang sakit?
"Hei kurcaci, kau mau kemana?" Tanya Kai saat Kyungsoo akan beranjak.
"Aku? Aku akan keluar."
Oke, meski ini sedikit memalukan dan menyakiti harga dirinya, namun Kai berkata.
"Diamlah disini." Ucapnya dengan datar. Entah, Kai sendiri juga tidak tahu kenapa dia masih menginginkan Kyungsoo ada disini. Sementara itu Kyungsoo menatapnya bingung, namun gadis itu menurut dan kembali duduk ditempatnya.
"Ada apa?"
"Tidak. Aku hanya ingin ada seseorang disini jika aku butuh sesuatu nanti."
"Ah begitu, sekarang tidurlah." Kai agak menggeser tubuhnya, membiarkan Kyungsoo duduk bersandar disandaran ranjang, pria itu dengan sengaja membelakangi Kyungsoo dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Hm, apa aku perlu menina bobokkanmu?"
"Aku bukan anak kecil sepertimu."
"Ah, bagaimana jika aku mendongeng?"
"Tidak."
"Menyanyikan lagu tidur?"
"Suaramu jelek, itu akan menghantui tidurku nanti."
"YA!" Setengah berseru kesal, gadis itu memukul lengan Kai dengan marah.
"Kau menyakiti orang yang sedang sakit."
"Kau bilang kau baik-baik saja?"
"Tapi ruam dan suhu tubuhku mengatakan tidak." Sontak saja Kyungsoo mengatupkan bibirnya, sungguh barusan apa yang Kai katakan itu adalah kalimatnya. Bagaimana pria ini bisa begitu pandai bersilat lidah dengannya? Menghela nafas, Kyungsoo mengalah dengan diam dan mencoba ikut tertidur. Sepertinya obat Kai juga sudah bereaksi karna pria itu hanya diam tidak mengeluarkan suara. Tak berselang lama Kyungsoo tertidur diposisinya, membuat pria disampingnya tersebut membuka mata dan tanpa sadar tersenyum, senyum kesekian yang hanya bisa dia tunjukkan pada Kyungsoo seorang.
.
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
.
.
Warning thypo!
Ditulis dan diedit dalam waktu yang singkat XDD
Hope you like it~
Haiii~
I'M BACK!
See you next chap and next fanfict!
Thanks! ^^
