Suara rintik hujan memantul saat menyentuh lantai bebatuan yang telah tergenang oleh air hujan yang turun semakin lama semakin deras. Suara pantulan air yang deras terdengar saat menghantam lapisan payung hitam yang mengembang bagai bunga mawar hitam, yang membuat suasan dipemakaman semakin kelam dan gelap.

Langkah kakinya yang berat menyeret genangan air bersamanya, dan terus berputar dikepalanya pertanyaan yang sama.

'Untuk apa aku hidup sekarang?'

Matanya berwarna merah dan terlihat membengkak. Senyuman yang biasa menghiasi wajahnya, senyuman khasnya kini hilang bagai matahari yang ditelan oleh awan hujan yang gelap.

Ia berdiri diantara para pelayat yang lain, berdiri terdiam ditengah-tengah suara isak tangis yang memilukan hati.

"Na...Apa kah kau harus benar-benar pergi?" Ia terus berjalan, menyeret tubuhnya mendekati batu nisan yang dingin.

"Aku memintamu untuk menunggu ku kan?! Iyakan?!" Ia menundukan wajahnya, membiarkan poni salmon panjangnya yang telah basah oleh air hujan menutupi matanya yang mengeluarkan air mata.

Badanya basah oleh air hujan yang turun tanpa henti bagai air matanya yang terus mengalir keluar.

"Apakah kau benar-benar harus meninggalkan ku..."

Natsu Dragneel berdiri didepan batu nisan seseorang yang dulu menjadi mataharinya.

Tertera dibatu kaku itu nama seseorang yang ia cintai sepenuh hatinya…

"Luce..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suara jam weker membangunkan ia dari dunia mimpi yang terasa bagai kenyataan. Ia tersentak bangkit dari tidurnya dengan wajah pucat pasi, seraya keringat dingin membasahi tubuhnya, dan terus mengalir turun tanpa henti. Detak jantungnya berdetak tak karuan terutama saat mengingat mimpi yang ia alami.

"Luce…"

Bisiknya pelan pada dirinya sendiri yang semakin lama tenggelam dalam pelukan ketakutan. Natsu menoleh kearah jendela kamaranya yang berada tak jauh dari tempat tidur. "Langit tak terlihat bersahabat hari ini..." Ia bangkit dan berjalan perlahan, melangkahi berkas-berkas laporan pembunuhan Killer Blonde yang bergeletakan dilantai.

Natsu menghela nafasnya berat sebelum melihat kearah langit untuk kedua kalinya dan ia melihat sinar matahari menerobos masuk dari sela-sela awan hitam yang kelam. Ia tersenyum kecil pada dirinya, "Masih ada kesempatan..."

'Aku akan datang untukmu. Ini adalah sebuah janji, Luce.'


Mira mengigit roti bakarnya tanpa mengalihkan perhatian matanya dari laporan hasil otopsi mayat yang baru ditemukan beberapa hari lalu. Disebelah kanan dan kiri mejanya, terdapat hasil foto tim forensic di TKP. Semua data-data para korban menumpuk dimejanya.

'Aku pasti akan menemukanmu…'

Matanya terhenti saat ia melirik kearah salah satu foto TKP. Ia menelan potongan roti yang ia gigit tadi dan bibirnya menyuingkan senyuman kecil.

'Pasti!'

Natsu mengambil glock miliknya dan memasukannya kedalam kantong celana jins yang ia kenakan. Sekotak berisi peluru juga ia masukan kedalam tas kecil yang ia bawa. Ia meraih jaket bertudung berwarna hitam, tas pinggang hitam serta pisau lipat kecil berwarna perak yang ia taruh didalam kantung belakangnya.

"Kau sudah siap?"

Ia melihat kearah surat pemberhentian dari tugas sementara yang tergeletak diatas meja makan sebelum mengangguk singkat.

Sorotan matanya tajam dan penuh keyakinan.

"Ayo kita pergi."

Mira mengangguk singkat lalu berlari kedalam mobil Mercedes silvernya. Natsu menatap kearah langit yang terlihat mendung hari ini dan membuat suasana suram seperti dalam mimpinya.

Ia cepat-cepat menggelengkan kepalanya dan masuk kedalam mobil Mira yang langsung melaju dengan kecepatan penuh.

'Luce…bertahanlah.'

Ia memperhatikan gedung-gedung yang berlarian melewatinya. Suara rintikan hujan yang turun semakin lama semakin deras, seakan-akan mengetuk-ngetuk sisi mobil bagai detik dari bom waktu yang akan meledak.

'Aku akan menyelamatkan mu.'

Suara tetesan hujan yang memantul dan pecah saat mengenai lantai kayu terdengar diatas loteng yang sepi dan pengap itu. Udara lembab bertambah kental dengan datangnya hujan yang dingin.

Deru nafas lembut diatas lantai kayu yang dingin kini terdengar tak beraturan. Darah yang berwarna merah kental kini mulai berubah menjadi kecoklatan. Ia membuka matanya perlahan, berharap ia baru saja bangun dari mimpi buruk yang membelenggunya. Rambut pirang panjangnya kini mengaku karena dinginnya udara.

Hujan dibulan November yang membeku, bukanlah hal yang biasa...

Akan kah ini menjadi pertanda baik?

.

.

.

Atau ini pertanda perpisahan abadi?

.

.

.

Alia DragFillia Present

.

.

.

.

"Natsu…"

.

.

.

.

.

Good Bye

.

.

.

.

Suara ban yang membelah genangan air terdengar jelas dijalan yang sepi ditengah badai hujan malam itu. Mobil berwarna silver yang melaju dengan sangat cepat keatas gunung tanpa mempedulikan air hujan yang deras, bagai memaksanya untuk mundur.

"Dia berada diatas gunung ini. Aku yakin." Natsu hanya memperhatikan hutan-hutan yang mulai terselimuti oleh kabut tebal. Pikirannya menerawang jauh ke tempat Lucy berada, bagai mencoba menjangkaunya dengan telepati.

"Ne, Natsu… Apa kau ingat janjimu pada Lisanna?" Natsu menghela nafasnya sebelum menoleh kearah Mira dan mengangguk singkat. Mira tersenyum kecil tanpa memperlambat laju mobilnya, "Ia berulang kali mengatakan bahwa ia akan menikah dengan mu. Dan kalian akan menjadi sebuah keluarga… yang bahagia…"

Senyum manis dibibirnya perlahan berubah menjadi senyum yang menyakitkan. Luka dihatinya perlahan terbuka. Luka yang tak pernah benar-benar kering sampai kapan pun.

"Aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama, Mira."

Mira menoleh kearah Natsu dan menatap langsung kearah mata onyx nya yang tajam. Ia tahu, Natsu tidak main-main dengan kata-katanya. Ia benar-benar akan menyelamatkan Lucy dan mengakhiri ini semua. Perbuatan gila si 'killer blonde' yang selalu menghantui tidur malamnya.

Ini akan segera berakhir

.

.

.

.

Atau mungkin

.

.

.

.

.

Hidup Lucy lah yang akan berakhir?

Natsu mengenakan tudung jaketnya saat keluar dari mobil. Ia bersembunyi dibalik pohon cemara yang menjulang tinggi tanpa melepas pandangannya dari rumah kayu kecil yang berada tak jauh darinya. Rumah itu terlihat gelap tanpa adanya cahaya yang keluar dari dalam. Natsu mengisi peluru kedalam glock kesayangannya sebelum melangkah maju.

Ia berlari kecil dari balik satu pohon kebalik pohon lainnya sebelum merapat kearah pintu masuk utama rumah itu. Mira yang pertama kali melangkah kedalam dengan langkah cepat, lalu memeriksa ruangan yang ada didalamnya.

"Aman. Sepertinya dia tidak disini, Natsu." Mira menoleh kearah Natsu dengan senyuman diwajahnya, tetapi perhatian Natsu teralihkan oleh tangga kayu yang mengarah entah kemana karena gelapnya ruangan.

"Lucy…" bisiknya sebelum berlari keatas loteng tanpa menurunkan tingkat kewaspadaannya.

Suara langkahnya menggema diantara dinding kayu yang lembab karena rembasan air hujan. Suara nafasnya yang terengah-engah membentuk uap tipis diudara. Terlihat pintu kecil yang terbuat dari kayu dijung lorong yang gelap. Walau terlihat samar. Bau darah yang amis tercium oleh Natsu karena penciumannya yang tajam.

Detak jantungnya berpacu semakin cepat dan tanpa menarik nafas, Natsu berlari kearah pintu itu dan menendangnya hingga terbuka.

Pintu yang terbuka itu perlahan menampakan sosok mahluk yang tergeletak dilantai kayu yang dingin. Ia tampak tak berdaya dengan kedua tangan dan kakinya terikat kbelakangnya dengan rantai, bagai hewan buruan yang siap untuk dikuliti. Terdapat beberapa sayatan di wajah dan kedua tangannya begitu juga kakinya.

Pakaian yang melapisi tubuhnya kini tak sesempurna seperti sebelumnya. Sebelum ia diambil dan direngut tepat dihadan Natsu.

Mata Natsu melebar saat ia menyadari siapa yang tergeletak lemas dihadapannya. Mulutnya terbuka lebar namun tak ada kata-kata yang keluar darinya. Detak jantungnya berdetak lebih cepat dari seharunya dan membuat nafasnya terasa sesak.

Mahluk itu perlahan membuka matanya, mulai terangsang karena suara hantaman pintu yang keras. Ia berbisik lirih tak jelas, namun hal itu cukup bagi hatinya yang bimbang.

hal itu cukup untuk mengangkatnya dari lubang keputus asaan.

Ia berlari kearah Lucy lalu mengangkatnya perlahan kedalam pelukan hangat dan erat. Air mata hangat mengalir dikedua pipi Lucy. Ia terisak kecil, sambil menyembunyikan wajahnya didalam pelukan hangat Natsu.

"Daijoubu…semua akan baik-baik saja. Aku disini." Bisik Natsu lembut sambil mengelus punggung Lucy.

"N-Natsu… Hiks..N-Natsu…"

Sang pemburu perlahan menaiki tangga kayu yang berderit dalam kegelapan

"Ya… Aku disini, Luce…" Bisik Natsu sambil mengelus punggung Lucy dengan lembut, namun Lucy malah memberontak dan menggeleng kearahnya. Terbesit ketakutan diwajahnya yang pucat.

"Luce, kau aman. Aku akan melindungi mu, aku janji!" Natsu berusaha mendekati Lucy dan menenangkannya tetapi ia ditolak mentah-mentah olehnya.

Air mata Lucy kembali turun saat melihat bayangan hitam yang berdiri dibelakang Natsu. Dengan suara lirih, ia berbisik.

"L-larilah…N-Natsu…"

"Huh?"

Nafasnya tertahan saat ia merasakan mulut pistol menempel dibelakang kepalanya. "Maafkan aku, Natsu." Bisik Mira pelan kepada angin dingin yang berhembus kearahnya.

Suara dentuman yang tak terelakan menggelegar di tengah badai di pagi yang kelam itu. Semua mendadak hening seketika, semua gerakan terasa lambat, pelan…

Semua kenangan terputar saat itu juga. Semua senyuman, tawa, keluarga, teman...

Semuanya muncul dalam satu video yang diputar mundur seperti saat menonton video komedi untuk mengulang bagian yang lucu. Hanya saja yang ini, terasa menyakitkan.

Nafasnya mulai berubah menjadi uap putih yang semakin lama menipis dan menipis.

Ini kah akhirnya?

Apa kau tak memberiku kesempatan….

Lisanna…

Dan uap putih itu...

Menghilang dari udara

.

.

.

"NATSUUUUUU!"


Hai minna-san *nyengir* Naah, maaf ya telat mulu.. aku baru saja selesai UAS! Yaaay! Aku akan update fast! aku usahain!

Mohon doa dan review nya yaa!

Oh, Lupa! Fairy Tail beserta charas itu punya Hiro Mashima tapi kaalu cerita pure punya ku ya ;D

Sekian Minna! Aku sayang kaliaan! #AbaikanYangIni