Where Is It?
By : Natsu D. Luffy
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Fantasy, Romance
Main Pair : NaruHina
Warning : (miss) Typo, OOC, GaJe, Abal-abal, SKS (Sistem Kebut Sejam)
.
.
Chapter 9 : I'm coming
.
.
A/N : Yo, Minna~! Saya kembali lagi dengan chapter yang saya aja gk yakin mau di pubish apa gk, tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Oh ya, saya punya suatu pemikiran. Coba perhatikan, mungkin saya akan dimusuhi oleh senpai-senpai saya dengan pemikiran saya yang satu ini. Sensei saya pernah bilang, menulis itu seni. Dan hey! Dalam seni tidak ada sesuatu yang salah,bukan? Semuanya benar, hanya saja ada yang baik dan ada yang tidak baik. Dan bahkan, baik dan tidaknya suatu karya seni itu tergantung penilaian masing-masing orang. Kalau begitu, berarti tidak terlalu penting tentang penulisan fict itu benar atau tidak, asal readers dapat menikmatinya, fict itu sudah dikatakan baik. Apa saya salah? OK, let's begin the story,
.
.
.
Konohagakure, Ruang Hokage…
Terlihat seorang wanita paruh baya dengan rambut pirang panjangnya yang diikat menjadi dua, tengah melipat kedua tangannya di depan dada sambil memandang keluar gedung Hokage melalui jendela kaca yang berada di ruangan itu. Sedangkan di belakangnya, tepatnya di belakang meja Hokage, terlihat seorang gadis berambut indigo panjang yang tengah menundukkan kepalanya dalam diam. "Aku tidak bisa mengambil resiko terlalu besar dengan mengirimmu kesana, Hinata." Ujar wanita berambut pirang yang tak lain adalah Hokage ke-5, Tsunade Senju. Mendengar itu, gadis berambut indigo yang dipanggil Hinata itu semakin menundukkan kepalanya.
Setiap hari, ia –Hinata- datang ke gedung Hokage hanya untuk memohon hal yang sama pada sang Godaime Hokage. "A-aku mohon Tsunade-sama.., tolong kirim aku ke tempat Naruto-kun berada." Ya, kurang lebih itulah yang dikatakan Hinata setiap datang ke gedung Hokage ini. Dan jawaban diataslah yang setiap hari menjawab permohonan Hinata. Hinata telah lama bersabar menunggu Sasuke dan Sakura pulang membawa Naruto, tapi semakin lama menunggu, hatinya semakin tak tenang. Setiap hari pula ia harus menahan tangisnya setiap ia mendengar jawaban yang keluar dari mulut sang Godaime Hokagetersebut. Miris memang, tapi apa boleh buat…
Tanpa bisa ditahan lagi, perlahan air mata jatuh mengalir dari pelupuk mata Hinata. Ia tidak kuat lagi, ia tidak kuat lagi menahan rasa sedih dan khawatirnya saat Naruto tak ada disampingnya. Isak tangispun akhirnya keluar dari mulut sang Heiress Hyuuga itu. "A-aku mohon Tsunade-sama…" ucap Hinata lirih di sela-sela isak tangisnya. Sebenarnya Tsunade sangat tidak tega melihat sang Heiress Hyuuga yang memohon setiap hari dan bahkan sampai menangis hanya demi menemui sang kekasih hati yang terlempar ke masa depan. Tapi apa boleh buat, ia tidak mau mengambil resiko dengan mengirim sang Heiress dari clan Hyuuga ke masa depan hanya untuk membawa kembali sang Rokudaime Hokage.
"Kau harus mengerti ini, Hinata. Jika aku mengirimmu ke masa depan, aku takut kau tidak akan diizinkan oleh Hiashi dan nantinya malah membawa dampak buruk bagimu." Jelas Tsunade pada Hinata, berharap Hinata akan dapat mengerti alasannya menolak permohonan Hinata setiap hari. Mendengar itu, Hinata semakin terisak. Ya, tentu saja, mana mungkin ayahnya mengizinkannya datang ke masa depan dan membahayakan nyawanya. Sekali lagi, Hinata hanya bisa menangis terisak. Tapi tanpa sepengetahuan keduanya, sebenarnya sedari tadi ada dua orang Shinobi elit yang tengah menguping pembicaraan keduanya dari balik pintu ruang Hokage.
"Bagaimana pendapat anda, Hiashi-sama?" Tanya Shikamaru kepada Hiashi yang tengah menunduk saat mendengar isak tangis putri sulungnya barusan. "Hh.., kau sendiri? Bagaimana pendapatmu, Shikamaru?" bukannya menjawab, Hiashi malah balik bertanya kepada Shikamaru. "Menurut saya, izinkan saja Hinata-san pergi ketempat Naruto-sama berada. Saya yakin Naruto-sama pasti akan segera pulang jika Hinata yang menjemputnya." Jawab Shikamaru pada Hiashi yang hanya menganggukkan kepalanya lemah saat mendengar jawaban dari Shikamaru.
"Ya, mungkin inilah yang seharusnya dilakukan seorang ayah untuk putrinya." Gumam Hiashi sambil mengetuk pintu ruang Hokage. "Masuk!" seru Tsunade dari dalam ruangan saat mendengar seseorang mengetuk pintu. Setelah itu, pintu terbuka, menampakkan sosok Hiashi dan Shikamaru yang berdiri dibelakangnya. "Hiashi-san." Ujar Tsunade agak kaget saat melihat sosok Hiashi yang tengah berjalan mendekat kearah Hinata bersama Shikamaru di belakangnya. "Tsunade-hime, saya mohon kirimkan putri saya ini ketempat dimana Rokudaime-sama berada, mungkin saja dia bisa membantu Sasuke dan Sakura untuk membawa kembali Rokudaime-sama." Ucap Hiashi dengan wajah tegasnya, membuat semua orang yang ada diruangan itu kaget bukan kepalang .
Mendengar suara ayahnya, refleks Hinata menoleh kearah belakang dimana sumber suara itu berasal. Dan Hinata pun sukses membulatkan matanya saat melihat Hiashi tengah berdiri di belakangnya sambil menatap tegas pada Tsunade. 'Apa barusan Tou-san baru saja memohon untukku?' batin Hinata tidak percaya sambil menatap kaget pada Hiashi. Merasa ditatap putrinya, Hiashi pun menoleh kepada Hinata dan membalas tatapan kaget dari Hinata dengan senyum lembut seorang ayah. Tentu saja, tangis Hinata langsung pecah, dan seketika itu juga, ia langsung menghamburkan diri memeluk ayahnya tercinta.
"Apa kau yakin, Hiashi-san?" Tanya Tsunade dengan nada ragu. "Aku sangat yakin, Tsunade-hime." Jawab Hiashi tegas. Mendengar jawaban dari Hiashi yang terdengar meyakinkan, akhirnya Tsunade menghela nafas panjang. Ya, mungkin dengan dengan begini Naruto akan bisa dibawa kembali dengan lebih cepat. "Baiklah, Hinata, ayo ikut aku." Ujar Tsunade sambil keluar dari ruang Hokagenya. Mendengar ucapan Tsunade, tangis Hinata pun langsung digantikan dengan senyum kebahagiaan. Setelah sekilas mengecup pipi Hiashi tanda berterimakasih, Hinata segera berlari menyusul Tsunade yang sudah berada jauh di depannya. 'Tunggu aku, Naruto-kun.' Batin Hinata sambil tersenyum lembut.
.
.
.
Natsu D. Luffy
.
.
.
Tokyo Senior High School…
Waktu Istirahat…
Waktu istirahat di kelas 12-C adalah waktu yang sungguh membuat Hinata tidak enak hati. Kenapa? Karena ia PASTI harus menolak ajakan dari Sasuke untuk pergi ke kantin bersama. Dan seperti dugaan Hinata, Sasuke pun segera berjalan ke arah meja Hinata. "Hinata-chan, mau pergi ke kantin bersamaku?" Tanya Sasuke pada Hinata dengan nada yang sama sekali tidak mencerminkan keseriusan, seperti biasa. Dan jawaban Hinata? Sudah bisa ditebak, "Gomen, Sasuke-kun, aku mau pergi ke taman belakang dengan Naruto-kun." Yup! Itulah jawaban dari Hinata.
"Dia sudah pergi bersama seorang gadis pirang bermata lavender barusan." Ujar Namikaze Naruto yang tiba-tiba saja turut ikut dalam pembicaraan, karena memang tempat duduknya berada di samping Hinata. 'S-Shion-chan?' batin Hinata kaget. Sedetik kemudian, ekspresi kecewa terlihat dengan jelas diwajah cantik milik Hinata. Tapi sesaat kemudian, lagi-lagi Namikaze Naruto bertindak agresif seperti kemarin –menarik tangan Hinata keluar kelas-, dan sukses membuat Hinata maupun Sasuke kaget karena ulahnya. Tapi hari ini agak berbeda dari biasanya, Sasuke hanya menghela nafas panjang dan akhirnya berlalu saat melihat adegan itu didepannya.
'Mungkin sudah saatnya berhenti berharap.' Batin Sasuke sambil berjalan kembali menuju mejanya. Sebenarnya ia sendiri juga heran, kenapa teman sebangkunya –Uzumaki Naruto- yang biasanya selalu mengajak Hinata pergi kemanapun ia pergi, hari ini malah pergi bersama gadis yang ia ketahui bernama Shion itu. "Dobe," gumam Sasuke sambil kembali menghela nafas panjang yang entah untuk keberapa kalinya hari ini.
"N-Namikaze-san, kita mau kemana?" Tanya Hinata gugup saat Namikaze Naruto terus saja menarik tangannya kearah yang sepertinya tidak asing lagi baginya. "Ikut saja, dan kau akan tahu,Hime" jawab Namikaze Naruto sambil menoleh sesaat kearah Hinata dan tersenyum lebar, mengingatkan Hinata pada sosok Uzumaki Naruto yang juga memiliki senyum lebar yang sama. "Nah, sudah sampai." Ujar Namikaze Naruto saat mereka-NaruHina- telah sampai di tempat tujuan mereka – tujuan Namikaze Naruto-. "Eh?" Hinata pun agak kaget saat mengetahui bahwa ternyata dirinya dibawa ke taman belakang TSHS oleh Namikaze muda ini. "Nah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Hime." Ucap Namikaze Naruto sambil menuntun Hinata kearah salah satu bangku panjang yang berada di pojok taman itu.
.
.
"Shion-chan, ada apa kau membawaku kemari?" Tanya Naruto bingung saat Shion membawanya ke tengah taman belakang TSHS, tepatnya ke pinggir kolam air mancur tempat dulu Naruto pertama kali datang dari dunia Shinobi. "Ada seseorang yang akan datang berkunjung, Naruto-kun." Jawab Shion sembari tersenyum manis kepada Naruto. "Eh? Siapa?" Tanya Naruto bingung. "Kita lihat saja nanti, Naruto-kun." Mendengar jawaban dari Shion, Naruto pun menggembungkan pipinya tanda tidak suka. 'Pelit!' batin Naruto kesal. Sedangakan Shion yang melihat wajah kesal Naruto, malah berusaha mati-matian untuk tidak berteriak 'KAWAAIII… !' di depan sang penyelamat dunia ini.
Tak lama kemudian, tepat diatas air mancur, muncul sebuah pusaran menyerupai portal yang semakin lama semakin membesar, sampai akhirnya.., "Kyaaaaa~!" jerit sosok yang tiba-tiba saja keluar dari dalam pusaran itu dan sekarang tengah jatuh bebas menuju kolam air mancur di bawahnya. *GREB* tetapi sebelum sosok itu sempat tercebur kedalam air kolam, tubuhnya telah ditahan oleh seseorang yang tiba-tiba saja berada dibawahnya. "H-Hinata-chan?" ujar seseorang yang tengah menahan tubuh sosok gadis yang dipanggil Hinata tersebut dengan nada kaget saat melihat sosok gadis yang ditolongnya barusan. Mendengar namanya dipanggil, Hinata refleks membuka matanya yang tadi sempat terpejam dan mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang telah memanggilnya sekaligus menolongnya itu.
Dan mata Hinata pun membulat dengan sempurna saat melihat sosok pemuda berambut pirang yang tengah menopang tubuhnya agar tak jatuh menyentuh air, yang tengah berdiri diatas air dengan gagahnya, ya, tidak salah lagi, ialah tunangan tercintanya, Uzumaki Naruto. "N-naruto-kun!" seru Hinata histeris sambil memeluk Naruto yang masih mebopongnya ala pangeran. Isakan kecil pun meluncur dengan indahnya dari bibir sang Heiress Hyuuga. "Cup,cup,cup… Aku disini,Hinata-chan, tenanglah..," ujar Naruto berusaha menenangkan Hinata sambil membelai helaian mahkota Indigo milik tunangannya itu. Setelah isakan Hinata berhenti, Naruto pun menurunkan Hinata dari bopongannya secara perlahan.
"Hey,Hinata-hime.., apa kabar?" Tanya Naruto diiringi senyum lembutnya pada Hinata saat Hinata telah menyeimbangkan tubuhnya diatas kolam –sama seperti Naruto-. Dan sekali lagi, Hinata kembali menghambur kedalam pelukan hangat Naruto tercintanya. "N-Naruto-kun.., A-aku sangat m-merindukanmu," ucap Hinata di sela pelukannya dengan Naruto. "Ya, aku juga, Hime." Balas Naruto sambil mengencangkan pelukannya pada Hinata. Shion yang melihan adegan roman picisan di depannya hanya memutar bola mata bosan.
"Ehm.., masih ada seseorang disini." Ujar Shion yang merasa diacuhkan oleh sepasang merpati cinta ini. "Eh? Ahahaha.., Gomen, Shion-chan…" ujar Naruto sambil melepas pelukannya pada Hinata dan menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Hinata yang merasa mendengar suara yang cukup familiar di telinganya, refleks menoleh kearah yang sama dengan arah yang dilihat Naruto. "Eh? Shion-chan?" ujar Hinata terkejut saat melihat salah satu sahabatnya, Shion, juga ada di dunia yang sama dengan mereka-NaruHina- saat ini berada. Hinata kenal Shion? Tentu saja, karena acara pertunangan Rokudaime Hokage adalah acara besar yang dihadiri seluruh petinggi dari seluruh Negara Shinobi, jadi wajar saja jika Hinata bisa mengenal Shion.
"Ah, Hyuuga-san." Balas Shion sambil membungkukkan badan tanda hormat pada Hinata. Melihat itu, Hinata semakin kaget sekaligus bingung dibuatnya. Akhirnya, Hinata pun menolehkan kepalanya kearah Naruto untuk meminta penjelasan. Naruto yang merasa memang harus menjelaskan apa yang terjadi, akhirnya memulai menjelaskan apa yang terjadi pada Hinata dari huruf kapital sampai titik-?-. Setelah mendengarkan cerita dari Naruto mengenai dunia aneh yang ternyata adalah dunia masa depan ini, Hinata pun hanya bisa menganggukkan kepala tanda mengerti."Ah, baiklah, Naruto-kun, Hinata-san, tugas saya telah selesai. Saya mohon undur diri." Ucap Shion sopan pada Naruto dan Hinata yang saat ini tengah tersenyum kepadanya. Setelah sekali lagi membungkukkan badan tanda hormat, Shion pun segera berlalu dari taman itu.
"N-Naruto-kun..," ucap Hinata meminta perhatian dari Naruto. Mendengar Hinata memanggilnya, Naruto pun langsung menolehkan kepalanya kesamping, dimana Hinata berada. "Ya,Hinata-chan?" balas Naruto pada Hinata. "Umm.. a-ano… kapan N-Naruto-kun akan p-pulang?" Tanya Hinata to the point pada Naruto. "Segera setelah urusanku disini selesai." Jawab Naruto cepat sambil memandang lurus kedepan, membuat Hinata sempat tertegun sejenak dibuatnya. "M-memang urusan a-apa N-Naruto-kun?" Tanya Hinata penasaran pada Naruto. "Ya, hanya masalah kecil. Kau tidak perlu khawatir, Hime." Jawab Naruto sambil menolehkan kepalanya kepada Hinata dan memberikan senyuman terlebar yang ia punya untuk meyakinkan Hinata. 'Ya, hanya masalah kecil.' Gumam Naruto dalam hati. Mendengar jawaban Naruto, Hinata hanya bisa menganggukkan kepala tanda mengerti.
.
.
"Baiklah, apa yang ingin anda bicarakan, Namikaze-san?" Tanya Hinata tidak sabaran pada Namikaze Naruto yang saat ini tengah duduk di bangku panjang di pojok taman belakang TSHS. "Kau tahu kalau kau sudah di jodohkan oleh orang tuamu bukan?" Tanya Namikaaze Naruto dengan nada santai. Mendengar pertanyaan dari Namikaze Naruto, Hinata tidak bisa lagi menyembunyikan raut wajah terkejutnya. Sejenak Namikaaze Naruto menoleh kearah Hinata untuk melihat ekspresinya, dan ia pun terkekeh kecil saat melihat raut keterkejutan di wajah Hinata. "Kau tahu Hinata? Harusnya kau senang, karena…" Namikaze Naruto menggantungkan kata-katanya, membuat Hinata menoleh penasaran padanya. "Aku adalah orang yang akan dijodohkan denganmu."
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
A/N : Wah, wah ,wah… para readers memang baik. Coba kita lihat, review sudah mencapai 20 lebih! Dan seperti janji saya, itu sudah cukup untuk membuat saya mengupdate chapter ini. Oh ya, maaf kalau chapter ini terkesan pendek dan alur gk jelas. Karena, chapter ini cuma sebagai batu loncatan untuk chapter 10 nanti. Dan hey! Tadi saya sudah mengeflame 2 fic dari pair sebelah. Wah, pengalaman pertama saya XD. Oh ya, dirumah lagi ribet banget gara-gara sodara lagi main kesini. So, maklumin aja kalo ada typo or deskripsi yang ngawur. Gomen gk bisa bls review satu persatu. Tapi saya udh baca semuanya lewat HP kok! Dan… Terimakasih banyak atas pujian, saran dan pollingnya! OK, pair utama sudah ditentukan. Terimakasih banyak, para reviewers tercinta! Dan saya sungguh sangat tersanjung ada yang minta diajarin mbuat fic sama saya, padahal saya masih newbie. Sebenernya mbuat fic itu gk perlu mikir terlalu keras, cukup inspirasi & imajinasi aja. Kalo lagi gk ada inspirasi or imajinasi, mending jangan dulu mbuat fic. Nanti malah fic nya terkesan dipaksain. OK, walaupun chapter ini mengecewakan, tapi semoga pertanyaan para readers sudah terjawab di chapter ini. Langsung aja, seperti biasa, Keep Read and Review! SEE YA!
Author,
Natsu D. Luffy
