Standar Disclaimer Applied
.
.
.
.
.
.
.
.
FATE © Tsurugi De Lelouch
BAB 10
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke Uchiha & Sakura Haruno
.
.
.
.
.
.
.
Enjoying to reading and reviewing
I don't get any profit from this story
.
.
.
.
.
.
.
Suasana kamar yang bernuansa putih biru itu memanas ketika kehadiran laki-laki bermarga Akasuna berada disana. Tampak tatapan menusuk diantara kedua laki-laki itu tanpa mengetahui keberadaan Tsunade, Akira dan Sakura yang masih tertidur di sofa. Bocah berusia tiga tahun lebih itu kebingungan melihat Ayahnya dan Om Sasori tidak saling bicara satu sama lain. Pertanyaan timbul di benak putra kesayangan Sasuke Uchiha dan Sakura Uchiha ini, walau usianya masih muda. Akan tetapi, pemikirannya melebih anak seusianya.
"Kenapa Ayah dan Om Sasori diam? Apa Ayah marah kalau Om Sasori ke sini?"
Pertanyaan dari mulut Akira mengalihkan tatapan mengintimidasi kedua pria itu dan melirik Akira yang memasang wajah bingung. Sebelum bocah yang akan genap berusia empat tahun ini mengatakan hal lain, sang Ayah dari anak ini—Sasuke Uchiha mendekati putra kesayangannya dan mengusap kepala—hal yang disukai Akira sama seperti sang Ibu.
"Ayah hanya terkejut dan senang kalau Om Sasori datang menjengukmu. Katanya mau mengundang Om Sasori di pesta Ulangtahunmu, nak?" ujar Sasuke terselip dusta.
Mengapa ia mengatakan itu—karena dia tidak mau membuat putra kesayangan sedih hanya gara-gara masalah internal yang dialami orangtuanya dan Sasori. Dirinya tidak mau anaknya terlalu cepat dewasa—dan ingin tetap Akira tumbuh seperti anak seusianya. Ia terpaksa berbohong demi kebaikan anaknya.
Sejenak beberapa detik raut wajah Akira kembali cerah membuat Sasuke lega dengan perubahan emosi yang ditampilkan oleh anaknya. Seketika mata kelam milik Akira menatap Sasori dengan senyuman lebar mampu merubah wajah datar Sasori sebelumnya menjadi memasang wajah senang dengan senyuman khas dirinya.
"Om Sasori! Nanti datang ke pesta ulangtahunku ya! Bawa kado paling besar daripada yang lainnya…!" seru Akira.
Mau tak mau Sasori hanya mengiyakan permintaan anak dari wanita yang ia cintai itu. "Memangnya Akira mau hadiah apa dari Om?" kekehnya.
"Pokoknya yang besar sekaliiii…."
"Kalau dari orangtuamu, Akira minta apa?" tanya Sasori.
Dengan pose berpikir khas orang dewasa, Akira hanya menjawab singkat dengan nada riang yang mampu membuat wajah tenang Sasori kaget.
"Akira minta adik! Kata Ayah dan Ibu akan memberikannya nanti!"
Seketika Sasori menoleh pada musuhnya—Sasuke yang memasang raut wajah datar seperti biasa. 'sialan' gumam Sasori dalam hati.
"Enggh…"
Suara bening wanita musim semi memusatkan atensi mereka disana menatap padanya, yang paling panik adalah kedua pria itu yang serempak bertanya dengan kata yang sama dan membuat Sakura terkejut bukan main melihat ada kedua pria yang—sama-sama menaruh hati padanya berada disini di tempat yang sama.
"Sakura, apa kau baik-baik saja?" tanya Sasuke dan Sasori secara bersamaan.
Sakura malah memllih menatap Akira daripada kedua pria yang berusaha mencari perhatian padanya. Walau ia telah memilih diantara kedua pria itu, tapi di saat seperti ini dia belum siap apalagi di depan sang Ibu dan putranya.
"Aku hanya kelelahan saja. Bagaimana dengan keadaan Hinata, Sasuke?" tanya Sakura.
Wanita itu berbalik menatap mata kelam milik suaminya dan menuntut jawaban yang pasti dan tanpa berbelat-belit. Yaah—walaupun suaminya terkenal dengan jawaban singkat dan tepat sasaran tentunya. Ia tak menyadari mengabaikan kehadiran Sasori yang ada disana juga. Karena disini ada sang Ibu, suaminya sendiri bahkan putra kesayangannya, mau tak mau ia harus bersikap menghormati suami sebagai kepala keluarga.
"Hn, Hinata melahirkan anak prematur, tapi ia baik-baik saja,"jawab singkat ala Sasuke Uchiha, pebisnis muda tersukses mengalahkan kakaknya itu.
Dengan senyuman, "Ah, begitu ya," gumam Sakura.
"Ehem, jadi kalian mengabaikan kehadiranku?" suara tenang Tsunade tapi bernada tajam mampu membuat Sakura, Sasuke dan Sasori melirik pada kepala rumah sakit ini.
Baik ketiganya sedikit merunduk untuk meminta permohonan maaf atas kesalahan mereka walau hanya sebagai bentuk kesopanan yang lebih tua. Melihat ketiga orang dewasa ini membuat Tsunade menghela napas.
"Sebernanya tadi saya mau menyampaikan sesuatu. Khususnya untuk Sakura—dan kau, Sasuke sebagai menantuku. Tapi berhubungan kondisi tak memungkinkan… Sakura." Tsunade mengalihkan tatapan itu pada putri kesayangannya.
"Ya, Ibu."
"Ikut Ibu," ajak Tsunade lalu melihat menantunya ingin ikut bersama mereka segara dicegah oleh wanita awet muda ini. "—Sasuke, nanti biar anakku yang akan menyampaikan padamu nanti. Kau tetap disini." Ucap final Tsunade yang kemudian berpamitan dengan cucu kesayangannya, begitu juga dengan Sakura.
Sasuke, walau ia seorang pebisnis muda terkenal yang sukses dan mampu mempengaruhi banyak orang. Tapi kali ini, ia berhadapan dengan Ibu mertuanya sendiri. Dirinya tetap hormat dan patuh dengan perkataan Tsunade, walau bagaimanapun, itu bentuk kesopanan pada Ibu dari wanita yang ia cintai sekaligus mertuanya.
Setelah Sakura dan Tsunade meninggalkan ketiga laki-laki di dalam ruangan tersebut. Sejenak Sasori memilih untuk mendekati Akira dan membuat Sasuke mengepalkan tangan untuk tidak meninju pria itu. Karena ada putra kesayangannya, ia langsung menahan emosi itu dan akan menghantamnya pada pria itu disaat mereka berdua saja.
"Sasori."
Panggilan dengan nada datar juga dingin tertuju pada pria yang menaruh hati pada Sakura. Sasori tahu kalau suami dari wanita yang ia cintai tengah menahan amarah—namun tak bisa tersalurkan karena ada Akira disini. Dengan senyuman meremehkan tertampil di wajah awet muda Sasori yang mampu membuat pengendalian emosi Sasuke—nyaris lepas.
"Ne, ada apa Sasuke? Disini ada Akira kalau ada urusan sebaiknya nanti kita keluar saja."
Sasuke menggeram. "Tidak ada waktu. Apa tujuanmu datang kemari?"
"Bukan sudah kukatakan kalau aku mau menjenguk Akira. Bukan hal lain yang kau pikirkan, Sasuke." Sasori seraya mengusap kepala Akira dengan lembut.
Helaan napas kasar tertahan di tenggorokan Sasuke melihat kedekatan anaknya dan Sasori. Walaupun ia mengatakan itu padanya hari ini, Sasori akan tetap merebut dua orang yang ia cintai. Putra bungsu dari Fugaku dan Mikoto ini hanya berujar singkat yang sekali lagi membuat Sasori menghentikan usapan di kepala Akira—yang tentunya membuat bocah tampan itu tertidur.
"Hal lain yang kupikirkan? Memang kau tahu apa heh?"
Secepat kilat Sasori menatap tajam Sasuke yang menampilkan senyuman mengejek seolah ia kalah dalam pertarungan antar mereka berdua. "Kau…"
"Sepertinya kau mudah menenangkan anakku sampai tertidur pulas. Sedekat apa kalian berdua? Ooh, kau ingin menjadi Ayah sah dari putraku?"
Kembali, Sasori menarik kerah Sasuke. Tapi suami dari Sakura ini sudah menebak kalau pria satu ini mudah tersulut emosi, ia hanya bersikap santai dan tenang menghadapi Sasori. "Memang kau tahu apa tentang kedekatanku dengan Akira hah?"
"Walau kau bersikeras. Aku Ayah kandung dari Akira dan suami dari Sakura. Jangan berani mengusik keluargaku, Sasori," desis Sasuke dengan nada tenang yang terkandung sarat dingin dan mengancam.
Seketika Sasori melepas kerah Sasuke. "Aku tidak akan menyerah sebelum Sakura mengatakan kalau dia mencintaimu."
Pria berwajah Adonis ini menatap mata hazel Sasori dengan tajam. Apa-apaan dengan ancamannya itu. Mencintai? Sakura bahkan belum pernah sekalipun mengatakan mencintainya. Walau Sakura tidak mengatakan membencinya, namun... ah sudahlah, yang terpenting kali ini ia tetap tenang dalam menghadapi Sasori. Kalau ia salah langkah, bisa jadi ia akan kalah. Ia adalah Uchiha. Prinsipnya—adalah apa yang diinginkan harus ada dan jika ada yang merebutnya—akan menderita.
"Hn, akan kuterima tantanganmu itu, Sasori. Tapi kuharap kau tak menyesal jika hal yang tidak kau inginkan terjadi."
"Apa maksudmu?"
Sasuke mengendikkan bahu. "Minggu depan ulangtahun Akira. Aku mengundangmu sebagai teman dari putraku—bukan hal lebih. Ingat janjimu dengan Akira." Ia mengindahkan perkataan Sasori dan mengatakan hal lain.
Sasori tak menjawab—melainkan kembali mendekati Akira. Ia mengusap kepala Akira dengan lembut dan mengecup dahi lebarnya—dan dengan tanpa diketahui oleh Sasuke. Sasori menyelipkan gantungan kunci di tangan Akira—berbentuk tomat. Kemudian ia meninggalkan Akira dan Sasuke tentunya.
Tanpa pamit, Sasori keluar dari ruangan itu yang membuat Sasuke kebingungan. Kemudian pria berwajah Adonis ini mendekati putra kesayangannya, dan mengusap kepala Akira dengan lembut—lalu berbisik pelan tepat di telinga anaknya.
"Ayah akan membahagiakan kalian. Itu pasti." Dengan kecupan lembut di dahi Akira—yang tujuannya menghapus bekas dari Sasori tentunya.
Karena Uchiha tidak mau kalah, bukan?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura tak bisa mempercayai perkataan Ibunya. Seakan suara Ibunya bergema di telinganya berulangkali, walau ia mendengarnya beberapa jam yang lalu. Bahkan sampai kepulangan Akira dari rumah sakit. Pikirannya masih memikirkan ucapan Tsunade hingga ia kehilangan fokus dan nyaris terjatuh di tangga kalau saja—Sasuke menahan tubuhnya yang memandang bingung dengan kondisi istrinya.
Sekarang Sakura tak terkejut dengan sentuhan tiba-tiba dari sang adam. Ini aneh baginya, kenapa dulunya ia sangat takut jika satu jari suaminya menyentuhnya—namun sekarang ia menginginkan sentuhan itu lebih dari sebelumnya. Juga rasa yang dulunya membenci berubah menjadi satu frasa yang ia tak ingin sebutkan dan pastikan—karena masih ambigu di hati dan pikirannya. Apalagi ia masih ada urusan dengan Sasori. Entah kenapa, ia merasa tak lega ketika urusan itu tidak selesai.
Selain itu, ia sekarang memiliki kehidupan yang berbeda. Mempunyai suami dan anak. Tanggungjawabnya sebagai seorang istri dan Ibu ada di depan matanya, memang dulunya ia masih tergantung dengan Sasori dan sangat membenci Ayah dari anaknya. Namun seiring waktu, itu berubah. Padahal Sakura menginginkan tidak, akan tetapi itu berkata lain.
"Sakura, kau tampak pucat?" ucap Sasuke seraya menyentuh dahi sang hawa dengan tatapan khawatir.
Sakura tersentak dan hanya menatap sendu suaminya. Karena tak mendapat jawaban dari istrinya. Tanpa berkata panjang, Sasuke menggendong ala bridal style menuju kamar mereka berdua.
Dengan hati-hati dan erat, Sasuke membuka pintu kamar mereka—ia dan Sakura dengan kakinya. Kemudian ia membaringkan istrinya di kasur king size dan dirinya duduk di samping Sakura dengan mengusap kepala sang hawa.
Wanita musim semi ini bangun dan memegang tangan suaminya, sejenak Sasuke agak terkejut namun raut wajahnya tetap tenang dan menatap istri tercintanya. Lalu Sakura mencoba duduk dibantu oleh sang adam yang tampak sekali khawatir jelas tercetak di wajahnya.
"Sakura, kau memikirkan apa?"
Dengan menatap balik sang suami, Sakura hanya menggelengkan kepalanya. "Aku mau bertanya sesuatu padamu."
"Soal apa?"
Menghela napasnya, "kapan terakhir kali kita melakukan… hubungan seks ?" tanya Sakura dengan tatapan menuntut jawaban jelas dari mulut suaminya itu.
Mata kelam milik pria Adonis ini sedikit mengerjap atas pertanyaan Sakura yang jarang keluar dari bibir sang istri. Secara tumben, Sakura tidak menolak sentuhannya bahkan ia bertanya soal… seks. Atau jangan-jangan ia mengalami sesuatu sehingga bertanya dengan perkataan itu. Segera ia enyahkan pikiran negatif itu dan membalas pertanyaan sang istri dengan nada tenang dan lembut.
"Sekitar sebulan yang lalu. Memang ada apa, Sakura?"
Sakura mengenggam erat tangan sang suami yang berada di pangkuannya dan wajahnya sedikit menunduk. "Ini hal yang sebelumnya ingin disampaikan Ibu pada kita berdua. Namun karena situasinya berbeda.. jadi aku yang harus menyampaikannya secara langsung padamu." Ia menarik napas panjang dan menatap sang adam yang menatap balik padanya. "Ingat apa keinginan Akira di hari ulangtahunnya minggu depan?"
Walau sedikit mengerutkan dahinya, kejeniusan Uchiha tak dipungkiri. "Meminta adik," jawabnya singkat.
"Kalau begitu. Keinginan Akira terkabul sekarang. A-aku… mengandung anakmu, Sasuke."
Untaian perkataan Sakura seketika membuat tubuh Sasuke terdiam sejenak. Berulangkali ia mengingat ucapan sang istri. Sakura hamil? Hamil anaknya. Tanpa berucap, Sasuke langsung memeluk tubuh sang istri dan menggumamkan kata terima kasih. Sakura pun sedikit membeku dengan reaksi suaminya, ia tak mengerti kenapa sekarang dirinya menginginkan suaminya selalu berada disampingnya dan tak memperdulikan lagi orang yang dulunya—menyelamatkannya dulu. Dulu saat terpuruk. Itu dulu, sekarang sudah berubah.
Sejenak Sasuke mengingat kalau istrinya masih takut akan sentuhannya, ia melepaskan dekapannya tiba-tiba yang membuat Sakura bingung. Dengan cepat, sang hawa kembali memeluk suaminya.
"Sa-sakura, bukannya kau memben… ciku?" tanya Sasuke.
Sakura menggelengkan kepalanya dan menatap lurus-lurus suaminya. "Aku tidak membencimu lagi."
"Kalau mencintaiku?"
Diam sesaat, "Aku tak tahu… jangan tanya itu… lagi," ucapnya.
Pria berwajah Adonis walau sedikit kecewa dengan jawaban Sakura. Akan tetapi, ia masih ada kesempatan karena istrinya tidak membencinya dan lagipula sekarang Sakura tengah mengandung anaknya. Sekarang bisa dilihat Sakura menginginkan pelukannya bahkan jika Sasuke melepaskan sentuhan—istrinya menginginkannya lagi. Apakah pengaruh kehamilannya. Entahlah, yang terpenting Sakura mungkin—sudah membuka hatinya.
Ia tidak mau terlalu percaya diri, karena akan menunggu dimana Sakura menyatakan sendiri. Biarlah air mengalir, nanti indah akan waktunya. Tanpa menunggu waktu lama, Ayah dari Akira—mungkin akan bertambah satu lagi ini mengelus kepala istrinya dan mengecup dahi lebar Sakura.
"Hn, sekarang istirahatlah. Aku akan buatkan teh manis untukmu."
Tanpa disadari lengkungan tipis menghiasi wajah ayu Sakura. "Aku ingin jus tomat, tapi buatan kamu," pintanya.
"Hn."
Sasuke langsung keluar dan tak lupa mengusap kepala istrinya. Ah, inilah yang sebernanya yang diinginkan pria berwajah tampan ini dari sitrinya, memang butuh kesabaran tinggi untuk meluluhkan hati Sakura. Walau ini adalah karmanya dulu, namun seiring waktu telah berubah, bukan? Karena manusia bisa berubah dan pemaaf. Tuhan saja pemaaf, apalagi manusia. Ia pun keluar dan membuat pesanan istrinya itu di dapur.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tak terasa, hari ulangtahun cucu kesayangan dari Fugaku dan Mikoto Uchiha diselenggarakan. Hari ini, Akira genap berusia empat tahun. Pesta pun diadakan sangat meriah, dengan warna-warni yang lucu khas bajak laut. Bukan itu saja, Ayah Akira ini memesan kue langsung dari pembuat kue terkenal dan kini kue itu sangat tinggi dengan topping warna dominasi biru muda dan putih serta tema bajak laut menghiasi kue tersebut. Selain itu banyak kolega dari Sasuke datang—hanya untuk menghadiri pesta putra kesayangan—yang menjadi pewaris Uchiha selanjutnya.
Memang banyak desas-desus yang tidak mengenakan mengenai putra kesayangan Sasuke ini. Namun seiring waktu, hilang seketika karena seluruh pihak bisa menerima dengan senang hati walau dulunya tidak, bukan itu saja, ada para sahabat dari kedua belah pihak datang menghadiri pesta ulangtahun Akira. Suasana pesta semakin ramai ketika Sasuke, Sakura serta anaknya dengan kostum bajak laut turun dari tangga.
Semua pasang mata melihat keharmonisan keluarga kecil itu, tak terkecuali yang mengetahui masa lalu mereka berdua—Sasuke dan Sakura. Mereka pun takjub mendapati kedua sahabatnya terlihat akur bahkan wajah keduanya sangat berbeda seperti biasanya. Bukan karena pengaruh pesta ulangtahun anaknya, melainkan ada sesuatu yang disembunyikan oleh keduanya.
"Waaah, ramai sekaliii…" seru Akira dengan wajah senang.
Sakura mengacak rambut anaknya, "kamu senang, sayang? Itu lihat ada kue besar sekali dan kado-kadonya banyak. Itu khusus untukmu semua, nak."
"Hmm…,asyiiiik" Ia langsung berlari mendekati kado-kadonya dan meninggalkan orangtuanya disana.
Baik Sasuke dan Sakura hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku putra sulungnya. Mereka berdua pun mendekati para sahabatnya yang sudah menunggu akan kehadirannya.
"Sakuraaaa…, kau tampak cantik dan berbeda seperti biasanya. Ada yang kulewatkan disini?" Ino langsung memeluk Sakura dengan erat.
Kekehan pelan keluar dari bibir Sakura, "Tidak ada yang kau lewatkan, Ino-pig!"
"Ino Shimura, bisa kau tak terlalu erat memeluk Sakura."
Semua pasang mata sahabatnya sedikit terkejut mendengar pernyataan dari Ayah dari Akira ini. Tumben sekali dengan Sasuke yang sangat khawatir, padahal hanya memeluk. Itupun seperti biasanya, kenapa Sasuke menghentikan sesi peluk kangen Sakura dan Ino.
"Maksudmu apa, ttebayo?" tanya Naruto penasaran.
Dengan senyuman tipis, Sakura mengusap perutnya seakan memberikan isyarat tersembunyi. "Aku hamil," ucapnya singkat.
"Benarkah, Sakura? Kau hamil? Kyaaa—selamaat!" seru Ino memeluknya lagi.
"Aku turut senang dengan kehamilanmu, Sakura," ujar Shikamaru.
"Akhirnya Akira dapa adik! Ah, selamat ya!" ucap Temari seraya menggendong anaknya yang baru berumur lima bulan.
Sakura menyentuh pipi bulat anak dari Shikamaru dan Temari. "Dia lucu sekali, siapa namanya?" tanyanya.
"Shikadai Nara. Iya kan sayang?" jawab Temari mengusap kepala putra kecilnya.
Wanita musim semi terkekeh pelan, "nanti Shikadai dapat teman dong!"
"Bukan itu Shikadai saja. Boruto juga—ttebayo!"
Ino melirik jahil. "Jadi… program hadiah untuk Akira berhasil ya? Bagaimana bisa terjadi hm? Tanya istri Sai Shimura ini dengan nada sedikit usil.
Wajah Sakura bersemu merah. "T-tidak! Ini sudah masuk empat minggu, Ino-pig!"
"Wah.. wah, temee baru dibilang minggu kemarin. Sudah berhasil membuatnya—ttebayo? Apa resepnya?" ujar Naruto dengan menyikut tulang rusuk sahabatnya itu.
Dengan tatapan tajam, "bukan urusanmu, dobe," jawab singkat Sasuke.
Kekehan dan tawa pelan menghiasi pertemuan para sahabat yang sudah terjalin lama sejak SMA. Bahkan ada sedikit kejahilan demi menghangatkan suasana mereka. Tak seperti biasanya, mereka selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Usia mereka tergolong dewasa sehingga pekerjaan yang dilakukan melunturkan setiap pertemuan antar sahabat. Kali ini mereka menyempatkan diri demi menyenangkan tuan rumah serta yang berulang tahun—Akira.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lain halnya dengan pria yang merupakan kakak dari Temari, Kankuro dan Gaara ini. Dia hanya menatap kejauhan kebersamaan adiknya bersama teman-temannya tak terkecuali—wanita yang ia cintai. Tangannya mengepal karena posisi Sakura sangat menempel erat dengan Sasuke—dengan memegang pinggang wanita musim semi itu. Tampaknya Sakura tak keberatan—malah Sakura meletakkan kepalanya di bahu suaminya. Kebencian Sasori semakin kental melihat interaksi mereka berdua itu.
Tak berlangsung lama, keduanya menjauh dan mengambil mic—juga bersamaan Akira berlari kencang dan berdiri di tengah-tengah kedua orangtuanya. Sasori menghela napasnya kasar dan hanya menatap tajam mereka di sana. Ia tak mau gegabah dalam bertindak. Jika dirinya berbuat kekacauan—maka bukan saja mempermalukan keluarganya melainkan hubungannya dengan Sakura dan Akira akan merenggang.
Biarlah. Biarlah mereka bersenang ria kali ini. Tenang saja, setelah ini ia akan menculik Sakura diam-diam dengan alih hanya mengobrol sebentar. Seringai licik menguar di bibir Sasori.
"Tunggu aku, Sakura. Kita akan hidup tenang bersama."
.
.
.
.
.
.
.
.
Kedua pasang mata yang berbeda warna ini saling menatap lalu membuka acara pesta ulang tahun putra kesayangan mereka. Tampak riuh tepuk tangan meramaikan suasana pada siang itu. Tuan rumah sekaligus pembuka acara ini mengucapkan banyak terima kasih pada seluruh tamu yang berkenan hadir—hingga suasana menjadi tenang ketika Ayahnya dari Akira ini berdeham pelan. Mereka tahu jika ia berdeham pelan—maka ada sesuatu yang ingin disampaikan.
"Tanpa saya berbicara panjang. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Sebelum itu saya bertanya pada anakku. Akira." Mata kelamnya melirik anaknya dalam euphoria bahagianya yang berbalik menatap Ayahnya.
"Ingat hadiah apa yang Akira inginkan dari Ayah dan Ibu, nak?" tanya Sasuke.
Dengan jawaban lantang, "Akira mau adik!" serunya keras.
"Kalau begitu, hadiahmu terkabul, nak." Tangan Sasuke membimbing tangan kecil Akira untuk menyentuh perut Ibunya. "Disini ada calon adik Akira," lanjutnya.
"Selamat ya anak, nanti Akira sebentar lagi punya adik." Sakura mengelus kepala putra sulungnya dengan sayang.
Mata kelam Akira berbinar menatap kedua orangtuanya. "Benarkah? Ayah? Ibu?" serunya lagi.
Anggukan dan senyuman tipis menguar di bibir orangtuanya—mampu membuat Akira melonjak-lonjak gembira. "Terima kasih! Ayah! Ibu! Akira sayaaang sekali dengan kalian."
"Sama-sama nak."
Tepuk haru menghiasi suasana pesta ulangtahun cucu kesayangan Fugaku dan Mikoto ini—karena mendengar kabar bahagia dari pasangan muda Uchiha ini yang akan mendapatkan anggota keluarga baru.
Dan kini pesta inti dimulai, dari acara tiup lilin sampai pemotongan kue disambut gembira. Bahkan Akira sangat senang karena mendapatkan hadiah spesial dari kedua orangtuanya. Yang membuatnya tambah senang ketika ia mendapatkan kado juga dari sahabat-sahabat orangtuanya. Jadi, hari ini Akira melupakan apa yang terjadi pada orangtuanya. Yang terpenting—adalah bersenang-senang.
.
.
.
.
.
.
.
"Sakura."
Suara berat yang berasal dari belakang membuat wanita musim semi yang terpisah dari sang suami yang asyik mengobrol dengan para sahabatnya menoleh. Sejenak ia hanya tersenyum kecil sedangkan Akira yang mendapati Sasori datang langsung memeluk pria itu.
"Sasori?"
"Om Sasori! Mana hadiahku?" Akira mengadahkan tangannya seolah meminta sesuatu pada Sasori.
Sasori terkekeh pelan dan mengacak rambut Akira. "Tentu saja Om Sasori ingat. Itu—" jari pria itu menunjuk pada salah satu petugas yang membawa kado besar masuk ke dalam ruangan tersebut. "—hadiahmu Akira."
"Apa isinya, Om?" tanyanya dengan wajah berbinar-binar.
"Rahasia. Nanti buka sendiri ya." Sasori hanya tersenyum tipis.
Kemudian Akira mengikuti petugas yang membawa kadonya dan meninggalkan sang Ibu bersama Sasori. Lalu pria berambut merah pucat ini menatap Sakura dengan serius yang membuat wanita musim semi mengernyitkan dahinya bingung dengan perubahan sikap Sasori yang tiba-tiba.
"Bisa ikut aku keluar dari ruangan ini sebentar, Sakura."
Sesaat keraguan muncul di benak Sakura. Namun demi menyelesaikan urusan yang belum selesai dengan Sasori. Mau tak mau Sakura mengikutinya dari belakang—tanpa menyadari Sasori menyeringai kecil mendapati wanita pujaannya berada di belakangnya.
Setelah mereka berdua berada jauh dari keramaian, serta berada di luar rumah. Sasori kemudian berbalik dan menatap lurus-lurus wanita yang ia cintainya itu. Tentu saja Sakura merasa risih ditatap seperti itu oleh Sasori—walau dulunya pria ini yang membantunya. Namun jikalau seperti ini lain lagi.
"Apa maumu, Sasori? Jika tidak ada yang dikatakan aku—"
"Benar kau mengandung anak Sasuke, Sakura?"
Anggukan kecil dari Sakura mampu membuat tangan Sasori kembali terkepal kuat. Lalu pria ini tak menyerah dengan bertanya satu hal penting yang menentukan masa depannya nanti bersama Sakura.
"Kau mencintai suamimu, Sakura."
Dengan helaan napas pendek lalu senyuman tipis, Sakura menjawabnya dengan tenang. "Aku telah menyukainya. Karena kukira Sasuke sudah mendapatkan karmanya setimpal beberapa bulan ini. Kalau tentang frasa cinta. Mungkin aku merasakannya sekarang."
"Kau sudah memberitahu hal itu pada… suamimu?"
Gelengan kepala lalu dengan jawaban singkat. "Belum. Tapi nanti setelah ini aku akan memberitahunya," ujar Sakura.
"Kau tidak ingat apa yang kulakukan padamu? Sekarang Sasuke menikmati apa kerja kerasku untuk mengubahmu seperti ini hah?" Sasori memegang bahu Sakura dan menatap wanita itu dari dekat.
"Aku minta maaf jika perasaanmu padaku tidak terbalas. Aku sekarang sudah memiliki suami dan anak—sekarang mengandung anak kedua. Bukan hanya itu, aku sudah menerima kehadiran Sasuke sebagai suamiku dan aku menyukainya!"
Dengan emosi, Sasori menempelkan bibirnya di bibir Sakura. Sontak wanita musim semi ini terkejut dan berontak atas perlakuan kurang ajar dari orang yang menolongnya itu. Namun belumlah ia melepaskan kungkungan dari Sasori. Pria itu lebih cepat memukul tengkuk Sakura hingga ia pingsan.
Tanpa menunggu waktu lama, Sasori membawa Sakura jauh-jauh darisana. Pria itu tertawa keras ketika wanita yang ia cintai berada didalam genggamannya tanpa ada yang mengusiknya. Sasori langsung memasukkan Sakura ke dalam mobilnya lalu ia menginjak pedal gas kencang dan menjauh dari komplek perumahan mewah tersebut.
"Sakura, akhirnya kau menjadi milikku"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Firasat Sasuke Uchiha merasa tidak enak beberapa saat yang lalu. Mata kelamnya menyisir untuk mencari keberadaan sang istri tercintanya—namun nihil. Segera ia melepas dari obrolan para sahabatnya. Sikap yang tiba-tiba dari Sasuke ini membuat para sahabatnya—Naruto,Shikamaru,Neji, Sai dan Gaara menatapnya bingung.
"Apa yang terjadi, Sasuke?" tanya Neji.
Sasuke mengabaikan pertanyaan dari Neji dan masih mencari Sakura. Lalu ia melihat Akira asyik bermain dengan Shikadai yang digendong oleh Temari. Nihil, keberadaan istrinya tak ada. Ia mencari kesana kesini dengan raut wajah panik walau tertutupi dengan khas datarnya itu.
"Sakura, kau ada dimana?" gumam Sasuke.
Tepukan pelan di bahu Ayah dari Akira ini, lalu mata kelamnya menoleh ke belakang dan mendapati para sahabatnya berada di dekatnya.
"Apa yang terjadi teme?"
"Sakura menghilang."
"Bukannya tadi bersama Akira, Sasuke." Ucap Sai.
Akira yang melihat Ayahnya bersikap aneh, lalu mendekati Sasuke dan menarik celana Ayahnya itu. "Ayah mencari Ibu. Tadi bersama Om Sasori."
Seketika raut wajah Sasuke mengeras dan mencoba menghubungi istrinya—namun tidak berhasil—karena nomor yang dituju tidak aktif. Ia mengingat urusan dengan kakak dari Gaara itu belum selesai—sekarang pasti dia berbuat macam-macam dengan istrinya.
"Biar kucoba menelepon kakakku," ujar Gaara sekali lagi.
Sama halnya yang dilakukan Sasuke, nomor ponsel Sasori juga tidak aktif. Pasti. Pasti Sasori mengetahui celah dimana dirinya lengah mengawasi Sakura. Sekarang begini jadinya.
"Brengsek! Sasori…"
"A-ayah…" Akira pun takut melihat aura yang terlihat dari sikap Ayahnya itu dan bocah itu memilih bersembunyi di balik tubuh Sai.
"Sakura… Sakura!"
Perkataan dengan nada frustasi Sasuke meredam suasana pesta ulangtahun Akira menjadi kekacauan tak berujung.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-Obsession make people are doing all thing to get what people want-
-Writter-
.
.
.
.
.
.
*To be Continued*
.
.
Wulanz Aihara Notes
Assalamualaikum .
Akhirnya Fate bab 10 sudah selesai. Dengan perjuangan keras, alhamduliah. Maafkan saya bila sangat lambat dalam mengupdate karyaku ini. Kemungkinan tinggal dua atau tiga bab lagi. Jadi tunggu saja walau lambat sekalipun. Juga maaf bila plotnya agak ngerush dan masih banyak typo yang belum sempat saya cek ulang.
Kemudian saya berterimakasih sebanyak-banyaknya pada kalian yang setia menunggu karyaku ini. Walau dulunya banyak tidak menyukai, tapi sekarang alhamduliah perlahan-lahan diterima. Bila juga ada kemiripan pada cerita lain, saya memohon maaf. Karena ini murni ide saya sendiri.
Saya akhiri.
Wassalamualaikum
Lubuklinggau, 22 Februari 2015. 11.40 a.m
Wulanz Aihara Phantomhive – Tsurugi De Lelouch.
