"Nii-chan, kenapa aku harus ikut ke tempat ini juga, sih? Tempatnya terlalu membosankan." Laki-laki berambut perak yang kini sudah berpakaian rapi dengan tuxedo hitamnya hanya bisa tersenyum kecil. Tangan kirinya mengelus pelan pipi kiri milik gadis imut yang ada di hadapannya itu seraya memberikannya segelas jus jeruk. Gadis tersebut yang ternyata adalah adiknya tampak cemberut, walau tetap saja diambil jusnya.
"Ne, Nii-chan," panggil sang adik dengan wajah masam.
"Hm?"
Mata amethyst itu terlihat meredup sesaat yang justru membuat si kakak tersenyum.
"Apa yang kau lihat?" tanyanya setelah beberapa menit menunggu pergerakan dari gadis kecil yang mirip dengan putri bangsawan sungguhan. Ia mengelus pelan rambut indigo-nya yang dihiasi dua buah jepitan berbentuk pita dan berwarna senada dengan gaun selututnya yaitu putih. "Mau menceritakannya denganku atau mau istirahat saja?" tawarnya.
Ia menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. "Tidak perlu, terima kasih."
"Mau ke mana? Energimu pasti menurun, Michi."
"Cari angin," jawab gadis yang sempat dipanggil Michi itu singkat.
Uta no Prince-sama Disclaimer by Broccoli
Maji Love STARISH by Oto Ichiiyan
Rate : M (Siapkan jantung, hati dan pikiran Anda. Jangan sampai Anda terbawa dengan suasana yang ada *maksud lo!? #lol)
Genre : General, Romance, Drama, Friendship
Pairing : TxOxC, NxSxS, MxR, etc.
Warning : OOC, OC, Typos, Gaje, etc. Saya sudah peringatkan ya di chapter sebelumnya XD
I Kiss You, R! (Part I)
Pergerakan dari seseorang yang baru-baru ini menghantui pikirannya membuat Ren Jinguji ikut bergerak. Dari wajah serta tubuhnya, ia tahu kalau orang itu agaknya syok dengan apa yang dilihatnya. "Maaf, aku pulang duluan karena bagianku untuk hari ini juga sudah selesai." Samar-samar Ren bisa mendengar ucapan dari laki-laki tertua di keluarga Hijirikawa tersebut. Senyum jahil tercetak jelas di wajah Ren begitu melihat raut wajahnya seperti orang melamun dan terlihat pucat.
"Oh iya, kau minta antar mobil agensi saja ya, Masato-kun," sahut Minato.
Masato Hijirikawa mengangguk seraya berjalan keluar lokasi syuting.
Tap, tap, tap.
Tap, tap, tap.
Laki-laki terus berjalan sampai keluar gedung tanpa menyadari keberadaan Ren yang terus berjalan di belakangnya. Pluk. Tawa tertahan terdengar jelas dari mulut Ren saat melihat tubuh Masato menegang karena tiba-tiba memasangkannya sebuah topi berwarna coklat khas seorang pelukis ke atas rambutnya. "J-Jinguji!" seru laki-laki yang sering dipanggil 'Masa' oleh Otoya.
"Heeeh? Kenapa kau kaget begitu, Hijirikawa?" tanya Ren dengan nada usil.
"U-u-urusai...!" Wajah Masato tampak memerah dan menutupi sebagian wajahnya dengan topi milik Ren.
"Kau sudah mau pulang juga?" tanyanya lagi.
Masato hanya mengangguk seraya memberikan topinya kepada sang pemilik.
"Oh." Mata sapphire Ren menatap ke atas langit yang sedikit mendung.
Kedua mata laki-laki yang selalu memakai baju tertutup dan formal itu melirik sebentar ke arah Ren. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya balik Masato. "Pulang." Alisnya mengkerut seketika. Kalau boleh jujur, ia ingin menenangkan dirinya yang kaget karena baru pertama kali ini melihat adegan berbahaya yang menjurus ke arah hubungan seksual. Terlebih itu dilakukan dengan sesama laki-laki. Kalau ada Ren, bagaimana bisa menenangkan diri? Yang ada aku akan di-bully habis-habisan olehnya, batin Masato.
Tak butuh waktu lama, sebuah taksi melintas di depan mereka. Tentu saja Masato langsung menghentikannya. Saat pintu belakang terbuka, sosok Ren juga berniat untuk ikut masuk ke dalam. "Jangan ikuti aku, Jinguji!" seru Masato kesal.
"Apa? Aku juga mau pulang, Hijirikawa," sahut Ren tak mau mengalah.
Laki-laki berponi rata itu menatap laki-laki lainnya yang lebih tua setahun darinya.
Diam. Keduanya saling memberikan tatapan tidak suka, namun itu tak berakhir lama. Dengan paksa, Ren masuk ke dalam taksi yang sudah dihentikan Masato tadi. "Jinguji! Apa yang kau lakukan!? Cepat keluar!" seru Masato lagi.
"Kau mau pulang, kan?"
Dengan polosnya Masato mengangguk.
"Ya sudah, kita pulang sama-sama."
"Huh? Aku ingin pulang sendiri. Lagipula aku sudah mengalah padamu untuk tidak memakai mobil milik agensi." Kedua tangannya ia lipat ke depan dada. Orang ini... sikapnya semakin keterlaluan tiap harinya, batin laki-laki tersebut kesal setengah mati.
"Mengalah? Bukannya dari awal memang kau mau naik taksi?"
Geh!
Sang supir taksi ternyata diam-diam memperhatikan tingkah mereka dari kaca kemudian berdeham sedikit.
"A-ah! Sumimasen." Reflek Masato ikut masuk ke dalam taksi karena sudah ditegur.
"Akhirnya kau masuk juga, kan?"
Laki-laki itu tak menyahut. "Pak, ke base camp STARISH. Bapak tahu, kan?"
"Ya, baik."
Ren menyangga dagu sambil memasang topinya kembali. Dari saku celana panjang warna hitamnya, ia keluarkan ponselnya lalu memasang handset ke kedua telinga. "Masato," panggil Ren tiba-tiba seraya menengok.
"Apa?" tanya balik Masato dengan nada dingin.
"Pinjamkan aku naskahmu."
"Memang naskahmu ke mana?"
Walau ditanyai seperti itu seolah tak mau meminjamkannya, Masato tetap memberikannya pada Ren yang justru membuat Ren menahan tawa. Dalam diam ia membaca dialog dalam naskah milik laki-laki yang tengah menjaga jarak dengannya. Perlahan kedua matanya mulai mengantuk. Kepalanya pun beberapa kali terkantuk kaca taksi.
.
.
.
Huft, tempat ini membosankan, keluh seorang bocah berumur lima tahunan sambil memperhatikan keadaan sekitar. Sesekali ia melirik ke arah orang tuanya yang sibuk menyapa teman-teman bisnisnya di tengah-tengah hall. Tanpa disadarinya, ada sesosok bocah lainnya tengah memperhatikannya sedari tadi. Mungkin karena terlalu banyak mengeluh dalam hati, Masato Hijirikawa—nama bocah tersebut—sampai tak sadar.
Terdengar seseorang menghela napas di sisi kiri Masato.
Mata itu terbuka setelah terpejam untuk beberapa saat.
Orang itu melirik ke arah Masato kecil. "Bosan, kan?"
Jangan bicara dengan orang asing, ujarnya dalam hati sambil mengingat pesan-pesan dari sang ibu yang selalu ia dengar saat ingin pergi keluar rumah. Ia pura-pura tak mendengar laki-laki berambut jingga yang sepertinya seumuran dengannya. "Di sini membosankan, bukan?" Masato mulai berpikir dua kali untuk tidak mengacuhkan orang di sampingnya ini karena mana mungkin seorang bocah sepertinya mau melakukan hal-hal jahat padanya. Dengan ragu ia melirik pada laki-laki tersebut.
Manis, spontannya dalam hati.
Ah! Anak itu tersenyum miring pada Masato.
"Mau keluar dari sini denganku?"
Eh? Mendengar ajakan darinya yang—mungkin—takkan membuatnya mati kebosanan di tempat itu, tentu saja Masato mau. Ia tersenyum dan membuat wajahnya makin terlihat manis. "Ya," jawabnya singkat. Tanpa ragu anak laki-laki itu menarik tangan kiri Masato dan mengajaknya keluar dari ruang tersebut.
"Ore, Jinguji Ren. O-namae?" tanyanya sambil berlari.
"Masato, Hijirikawa Masato... desu."
"Sou ka. Oh iya, kudengar di belakang gedung ini ada danau!"
"Eh? Danau? Untuk apa ke sana?" bingung Masato.
Ren hanya tersenyum lebar dan memandang lurus ke depan. "Tentu saja bersenang-senang!"
Masato Hijirikawa hanya bisa tersenyum kecil mengingat kenangannya sewaktu ia dan Ren pertama kali bertemu. Mereka sangat senang bermain di danau yang ditunjukkan oleh laki-laki beriris mata sapphire itu. Ia menyangga dagu dengan tatapan jauh keluar kaca. Tapi semakin kami dewasa, kami jadi rival. Padahal dulu, aku sudah menganggapnya seperti kakak kandungku sendiri, kata Masato dalam hati.
"Hijirikawa, bagaimana menurutmu Michiko Sawaragi?"
Pertanyaan itu membuat pandangan Masato mengarah pada Ren sepenuhnya.
"Kau tahu, kadang aku berpikir, Sawaragi tahu segalanya tentang kita."
Ah, kalau dipikir-pikir lagi, Masato memang sempat berpikiran hal yang sama dengan teman sekamarnya itu. Ia sudah membaca semua naskah miliknya dan Masato tak habis pikir, kenapa naskah Michiko dan kehidupannya hampir mirip. Mungkin bisa dikatakan, 11 : 12. Minus hubungannya dengan Ren yang 180° berbeda dari naskah. Tanpa sadar, ia tersenyum miring sambil menatap keluar kaca lagi.
Ren menatap laki-laki berambut rata tersebut dengan pandangan heran. "Kau kenapa?"
"Bukan apa-apa, mungkin Sawaragi-san hanya kebetulan tahu."
"Sampai-sampai ia tahu masalahku dengan kakakku?"
"Kalau soal itu, aku tidak tahu."
'-' Maji Love STARISH ._.
Berulang kali Ren memikirkan hal ini, tapi tak satu pun jawaban yang ia dapat. Ingin bertanya, namun lidahnya terasa kelu jika bertanya langsung pada sang objek pembicaraan, Michiko Sawaragi. Ia melangkah beriringan dengan Masato menuju base camp STARISH. Tak ada sepatah kata pun keluar dari keduanya. Masato sendiri merasa nyaman dengan keadaan tersebut. Matanya sesekali melirik ke samping, ke arah Ren yang sama sekali tidak sadar jika sedari tadi terus diperhatikan.
"Kenapa perasaanku jadi tidak enak, ya?" gumam Ren.
Alis sebelah kanan Masato terangkat. "Memang ada apa?"
Tap. Langkah mereka berhenti tepat di depan pintu base camp.
"Sepertinya, ada orang di dalam," kata Ren tiba-tiba setelah memperhatikan kenop pintu dan benar. Pintu itu tak dikunci dan tak ditutup. Ia menatap laki-laki lain di sebelahnya dengan pandangan heran.
Tanpa ragu Masato masuk ke dalam diikuti Ren.
"Ternyata ada Kurosaki-senpai. Konnichiwa," sapa Masato sopan.
Terlihat sosok sang senior bernama Ranmaru Kurosaki yang kini telah resmi diperpanjang kontraknya sebagai personil Quartet Night itu tengah berdiri di depan meja. Sepertinya ia baru saja duduk di sofa lalu berdiri setelah mendengar pembicaran mereka. Kedua iris mata dengan beda warna itu menatap tajam Ren dan Masato secara bergantian. Di tangannya ada sebuah majalah dengan sampul STARISH sebagai berita utamanya dan naskah milik Ren yang tertinggal.
"Apa yang kau lakukan di sini, Ran-chan?" tanya Ren seraya mendekat.
Ranmaru hanya diam kemudian melempar kedua barang tersebut ke meja.
"Bagaimana bisa kalian menerima tawaran pekerjaan itu!? Sebagai senior, aku tidak terima!" marahnya. Ia mendengus dan melipatkan kedua tangannya ke depan dada. "Sebenarnya apa sih, yang Sachou pikirkan sampai mau menerima proposalnya? Kalian juga, bukannya menolak malah langsung setuju dengan kontrak itu," tambah Ranmaru masih dengan nada emosi di dalamnya.
Masato nampak menunduk di belakang Ren.
"Siapa bilang kami langsung setuju? Kami sempat memikirkannya beberapa hari sebelum mengambil keputusan," cerita Ren, atau lebih tepatnya mengoreksi ucapan Ranmaru.
"Tapi tetap saja, pada akhirnya kalian menerima kontrak itu."
"Memangnya apa yang membuat Senpai tidak terima dengan keputusan kami?"
Pertanyaan polos Masato tentu saja membuat Ranmaru gemas sendiri.
"Kau tidak baca genre-nya, Hijirikawa? Jelas-jelas tertulis Shounen Ai, masih saja bertanya 'kenapa'," sahutnya seraya menghela napas berat. "Kalian sudah mempermalukan diri kalian sendiri," tambah Ranmaru lagi.
"Maaf, tapi kami tidak bermaksud untuk mempermalukan diri sendiri," sahut Masato.
Lama-lama, ia mulai jengah dengan sikap Ranmaru yang seenaknya.
"Kami tidak bisa melihat penggemar kami kecewa," tambah Ren.
Setelahnya tak ada lagi ucapan terdengar dari Ranmaru. Dua lawan satu. Tentu saja sang senpai harus mengalah, tapi bukan berarti ia mau mengakui bahwa pendapatnya salah atau sebagainya. Sudah setahun lebih hubungan mereka bertiga jadi lebih dekat lagi dari sebelumnya seperti saat mereka masih kecil dulu, tentu membuat Ranmaru tahu bagaimana watak kedua kouhai-nya itu. Keras kepala dan sama-sama tak mau mengalah.
"Terserah kalian sajalah! Aku sudah menasihati kalian, jadi jangan menyesal jika keputusan yang kalian ambil membuat reputasi kalian jadi hancur," kata Ranmaru seraya berjalan melewati Ren dan Masato.
Ren tersenyum. "Jangan khawatir, Ran-chan."
"Kami takkan menyesalinya, kami janji," tambah Masato.
"Terserah, terserah!"
Brak! Pintu pun ditutup dengan kerasnya oleh laki-laki beriris mata dwi warna. Terdengar helaan napas dari mulut Ren yang kini tengah duduk di atas sofa. Ia sandarkan punggunya pada sandaran sofa dan menatap langit-langit ruangan. "Memang sih, memalukan. Tapi aku menyukai pekerjaan itu," gumamnya yang membuat Masato heran, tapi hanya bisa mengangguk menanggapi gumaman tersebut.
Sementara di luar base camp, nampak Ranmaru menatap serius seseorang yang tengah berjalan ke arahnya. Seorang gadis yang diketahuinya bernama Michiko Sawaragi. Sesaat ia berhenti melangkah, ekspresi terkejut sempat ia perlihatkan sebelum melangkah lagi.
"Kurosaki-senpai ka?" tanya Michiko lebih dulu dengan wajah datar.
Yang ditanya mendengus pelan. "Kau 'kan si penulis naskah 'Maji' apalah itu?"
"Doumo." Sang gadis membungkukkan badan sedikit, masih dengan wajah tanpa ekspresinya. Kedua mata amethyst-nya menatap Ranmaru. "Apa yang Senpai lakukan di sini? Apa Senpai ingin bertemu dengan Jinguji-san dan Hijirikawa-san?" tebak Michiko, pura-pura tidak tahu. Belum sempat Ranmaru menjawab, ia kembali berucap. "Aa, pasti kalian sudah bertemu dan berbicara, tadi aku sempat mendengar suara berisik dari dalam base camp." Michiko tersenyum kecil. "Senpai tidak terima dengan kontrak kerja kami, kan?"
Lagi. Ia menebak dan—jujur—membuat Ranmaru bertambah kesal.
Apa-apaan gadis ini? Seolah-olah dia sudah tahu segalanya, kesal laki-laki itu.
"Kalau 'iya', kenapa?" Terdengar jelas Ranmaru ingin menantang Michiko.
"Sou... ah! Jangan-jangan Senpai cemburu ya, melihat Jinguji-san dengan Hijirikawa-san," sahut sang gadis yang seenaknya menyimpulkan. Sontak saja membuat emosi salah satu personil Quartet Night tersebut memuncak.
"Apa kau bilang?" geram Ranmaru.
Michiko tak henti-hentinya menyunggingkan senyum kecilnya.
Tap, tap, tap.
Ia melangkah mendekati Ranmaru dan berhenti tepat di samping laki-laki tersebut. "Aa, Senpai. Kau tahu? Aku sempat berpikir untuk membuatkan Quartet Night sebuah novel yang mirip dengan 'Maji Love STARISH'," ceritanya yang langsung dihadiahkan tatapan tajam dari Ranmaru. "Dou? Berminat untuk kerja sama denganku nanti, Kurosaki-senpai?" Sebuah tawaran dari Michiko itu tentu saja serius, walau terdengar ada nada canda di dalamnya yang membuat Ranmaru semakin kesal karena merasa dipermainkan sekarang.
"Berhenti bermain-main denganku, Teme."
"Heeeh? Aku serius, Senpai."
Wajah ramah Michiko langsung berubah menjadi wajah datar layaknya sebuah robot.
Melihat wajah itu, Ranmaru berdencih. "Dasar fujoshi gila," gumamnya sambil berjalan melewati Michiko yang nampak terkejut.
Ekspresi kaget bercampur sedih terlihat jelas di wajahnya. Apa-apaan itu? Dia tak tahu apa-apa tentangku tapi men-judge-ku dengan sebutan 'fujoshi gila'? Ia memejamkan mata, berusaha menurunkan emosinya yang hampir keluar. "Tarik ucapanmu, Senpai." Itu perintah, bukan sekedar permintaan.
"Heh?" Langkahnya terhenti dan berbalik. "Nyatanya begitu, kan?"
Sang gadis ikut berbalik dengan tatapan menantang. "Lalu bagaimana dengan Senpai?"
"Hm? Apa maksudmu, Teme?"
"Kalau kuberitahu pada publik tentang hubunganmu dengan Kotobuki-senpai, bagaimana jadinya, ya? Apa Senpai langsung dipecat dari agensi atau Saotome-san akan memaafkanmu karena jadian dengan Kotobuki-senpai?" Michiko tersenyum kecil, namun pandangannya tidak tersenyum sama sekali. Di sana tak ada kehidupan. Datar seperti tatapan Ai Mikaze, begitulah menurut pemikiran Ranmaru.
"Teme—!"
"—ah! Aku harus mengambil beberapa dokumenku di dalam. Ja, Kurosaki...-senpai."
"Oi!" Laki-laki itu tidak terima Michiko lari begitu saja dari hadapannya, tapi pintu itu sudah terkunci dari dalam. Pandangannya terlihat serius menatap pintu kemudian menunduk. "Kenapa... bocah itu tahu tentangku dan Reiji?" gumam Ranmaru dengan tangan terkepal.
.
.
.
Ren Jinguji baru saja selesai mandi saat Masato mulai membuat shoudou seperti yang biasa ia lakukan sebelum tidur. Ia menghela napas entah sudah ke berapa kali ia lakukan begitu mengingat keadaan saat mereka—STARISH, Michiko, dan Haruka—tengah makan malam bersama. Rasanya aneh dan... tak ada pembicaraan yang berarti, kecuali Natsuki dan Shou yang tak henti-hentinya bertengkar, dalam artian bercanda. "Kau menyadarinya, Hijirikawa?" tanyanya seraya duduk di tepi ranjang dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Tentu saja. Semuanya jadi lebih diam dari biasanya," sahut Masato tanpa menoleh.
"Kau juga termasuk."
"Biasanya juga diam."
Ren berhenti mengeringkan rambutnya sejenak. "Diamnya beda."
Mendengar ucapannya itu membuat Masato bingung. Matanya melirik ke belakang sebentar lalu melanjutkan kegiatannya lagi. "Aku tak mengerti apa maksudmu, Jinguji," sahutnya.
Laki-laki berambut jingga itu berbaring di kasurnya dengan handuk masih menutupi rambutnya. Rasa kantuk menyerangnya membuat Ren ingin cepat-cepat tidur tanpa memakai baju lebih dulu. Tapi—lagi-lagi—ada saja hal yang kembali mengusik pikirannya. Mata sapphire Ren bergulir menatap siluit seseorang yang sibuk dengan shoudou-nya, siapa lagi kalau bukan Masato. Ia berbaring menyamping sambil menyangga dagu pipi kanannya.
Masato yang sadar sedang diperhatikan oleh Ren mulai risih. "Tak bisakah kau berhenti memandangiku, Jinguji?"
Senyum kecil mengembang di wajah Ren. "Aku kepikiran soal scene besok."
Gerakan Masato terhenti seketika.
"Mau latihan dulu sekarang?"
Kedua mata Masato terbelalak mendengarnya. Danger alert! Dengan tenang ia menyahut setelah menatap Ren tajam. "Jangan bercanda, Jinguji. Aku tak mau melakukannya kecuali di lokasi syuting." Suasana hening seketika. Merasa aneh dengan suasana tersebut, Masato mencoba untuk berbalik tapi sepasang tangan mengunci pergerakannya di daerah leher. "Jinguji, apa yang kau lakukan!?" pekiknya.
"Kau yang menerima ciumanku, tapi aku yang menciummu. Aku tak pernah berpikir untuk mencium laki-laki sebelumnya, terlebih kau itu musuhku."
"Jadi, kau tetap bersikeras untuk latihan?"
"Tentu."
Laki-laki itu agak terkejut dan berusaha lepas dari kuncian Ren, tapi percuma. "Jinguji, aku yakin kita bisa melakukannya besok tanpa mengulang," kata Masato dengan maksud meyakinkan Ren dan bilang secara tidak langsung kalau dirinya tetap tidak mau latihan.
"Oke, oke," kata Ren menyerah, ia pun melepas pelukannya.
Satu menit berlalu, kepala Masato menengok ke samping.
Cup! Sebuah ciuman dicuri oleh Ren, tepat di bibir!
Sontak Masato menutup mulutnya sambil bergerak mundur. "Jinguji, apa yang kau lakukan!? Kau gila, hah!?" marahnya dengan wajah agak memerah.
"Pfft, ahahaha!" Ren tertawa lepas melihat ekspresi laki-laki itu.
"H-hei!" Masato tidak terima karena ditertawakan.
"Ahaha, ekspresimu lucu, Masato."
Panggilan Ren—yang nampaknya ia sendiri tidak menyadari panggilannya pada Masato—membuat laki-laki berpakaian kimono itu termangu. Tubuhnya tak bergerak sama sekali dan terus menatap Ren yang masih tertawa. "Tadi... kau memanggilku d-dengan nama... Masato?"
Pertanyaan dari laki-laki yang berumur satu tahun lebih muda darinya itu membuat tawanya terhenti. "Hah? Aku memanggilmu 'Masato'?" Ia nampak berpikir seraya duduk di dekat Masato. "Kau serius?" tanyanya tak percaya.
Pandangan malas ia berikan pada Ren lalu kembali menulis kanji dengan kuas.
"Memang kenapa kalau aku memanggilmu begitu? Tidak boleh?"
Tangan Masato berhenti sejenak. "Agak aneh saja mendengarnya."
Walau bilang 'aneh', tapi ia tak bisa bilang kalau dirinya malu. Pasalnya Ren terakhir kali memanggilnya dengan nama kecil waktu mereka masih SD. Setelah laki-laki itu lulus dan masuk sekolah lanjutan, sikapnya mulai berubah pada Masato, termasuk dengan panggilannya. Mereka berdua juga tak pernah bertemu lagi. Ah, kalau diingat lagi, Ren mulai berubah sejak ditinggal sang Ibu. Entah sejak kapan Masato melamun sampai-sampai ia tak sadar kalau tangan Ren bergerak menyentuh kedua pipinya untuk melihat wajahnya.
"Kau melamun? Seaneh itukah panggilanku tadi?" tanya Ren.
"A-a, bukan begitu. Terakhir kau memanggilku seperti itu, sewaktu SD, kan?"
Tangan itu bergerak menarik dagu Masato karena laki-laki itu agak menunduk. Masato menepis tangannya dan ingin melanjutkan kegiatannya yang sedari tadi tertunda. Tapi Ren menghentikannya lagi dengan menarik bahu Masato agar tetap menatap wajahnya yang tengah serius. Ia ingin protes namun mulutnya sudah dibungkam oleh mulut Ren. Lagi-lagi ia mencium Masato. Laki-laki berambut biru itu meronta dan terus mendorong tubuh Ren untuk menghentikan ciumannya.
"Mmph! R-Re—mmph!"
Dengan sekali dorongan, Ren Jinguji menindih Masato tanpa melepas ciuman itu.
Ingatan Masato tentang syuting hari ini kembali terlintas. Sontak ia panik.
Ren berhenti menciumnya namun matanya tak pernah lepas dari wajah Masato. "Aku ingin kau memanggilku dengan nama kecil. Tadi kau hampir mengucapkannya," kata Ren dengan nada—err—ah! Masato tak mau mengakui kalau suara itu agak seksi. Ia memalingkan wajahnya dan bergumam tidak jelas yang membuat laki-laki penyuka hal-hal romantis itu tertawa kecil.
"Kenapa? Bukannya kau masih normal?"
"..." Pandangan tajam dari Masato membuat Ren tidak bergeming.
"Aaa, kau terangsang dengan akting Ittoki dan Ichinose?"
Lagi, pertanyaan Masato hanya disahuti oleh angin yang keluar masuk dari jendela.
Melihat Ren yang tidak berkutik sama sekali, Masato mendorong tubuh Ren hingga tubuhnya bisa duduk berhadapan dengan laki-laki tersebut. Ia duduk bersila dan sedikit menggeser meja kecil yang selalu dijadikan tempat untuk melakukan kegiatan shoudou atau kegiatan menulis lainnya. "Maaf saja, aku tak mau jadi pelampiasan sesaatmu, Jinguji." Masato bermaksud untuk keluar kamar, tapi lengannya ditarik dan membuatnya kehilangan keseimbangan.
Bruk! Tubuhnya tak bisa bergerak begitu tahu kalau dirinya mendarat di pangkuan Ren.
"Kalau kau bukan sekedar pelampiasanku, bagaimana?"
Masato meronta saat lidah Ren menyapu daerah tengkuknya. "J-Jingu—nnh!"
"Jawab pertanyaanku," pintanya sambil memeluk erat tubuh Masato.
"Lepaskan aku! Aku tidak mengerti sama sekali tentang apa yang kau ucapkan tadi!" Kedua matanya melotot begitu tersadar ada benda asing mencoba masuk ke dalam pakaian kimono hitamnya. "J-Jinguji—nnh!—k-kumohon... berhenti. J-jangan mempermainkanku, hahh." Masato menahan gerakan tangan Ren yang mulai meraba tubuhnya dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak mendesah karena tubuhnya yang sangat sensitif.
Ren menghisap wangi tubuh Masato yang khas lalu tangannya berhenti bergerak dan memperhatikan wajah laki-laki tersebut. "Kau ingat waktu pertama kali kau ingin ikut audisi teater drama beberapa bulan yang lalu?"
Ia mencoba untuk berdiri lagi dan menjauh dari Ren seraya menjawab pertanyaannya.
"Iya, lalu kenapa?" tanya Masato balik.
"Mengingat hal itu membuatku ragu tentang scene besok."
"Tenang saja." Masato memperbaiki kimono-nya yang sedikit terbuka di bagian dada dan menatap Ren tanpa rasa ragu di kedua bola matanya. "Kejadian waktu itu takkan terjadi lagi karena aku sudah bisa mengatasinya—"
"—dengan membayangkan Nanami lagi, kan?"
Terdiam, Masato hanya bisa membisu di tempat.
Kepala Ren mendongak. "Jika tanpa membayangkan Nanami, apa kau bisa?"
"...ya, bisa." Terselip nada ragu di dalamnya. Ia memandang kesal ke arah laki-laki yang betah tidak berpakaian saat tidur tersebut. "Jinguji, aku akan memaafkan sikapmu barusan asal kau mau pergi menjauh dari tempat tidurku sekarang," kata Masato dengan nada mengancam.
"Kalau tidak mau?"
"Akan kuusir kau keluar dari kamar ini secara paksa."
"Heeeh? Mereka akan tahu kalau kita hampir melakukannya."
Uap panas keluar dari ubun-ubunnya. "Lebih tepatnya kau yang ingin memperkosaku!" Keduanya saling berpandangan. Melihat wajah tak berdosa Ren yang agaknya sedang kaget bercampur bingung membuat Masato semakin kesal. "Kau sadar tidak sih, tanganmu itu seenaknya masuk ke dalam kimono yang kukenakan, Jinguji!?"
"Sadar," jawab Ren sambil mengangguk.
"Lalu kenapa—"
"—karena ketagihan, mungkin?" Senyum menggoda nampak di wajah Ren.
Gila, nggak waras, sinting. Berbagai sebutan Masato utarakan pada laki-laki tersebut walau hanya dalam hati. Rasa tidak nyaman muncul seketika dan membuatnya harus waspada. Sekarang memang Ren tidak menyerangnya lagi, tapi kalau ia diserang saat tidur bagaimana? Haruskah ia terjaga semalam suntuk?
"Hei, Hijirikawa." Laki-laki itu memanggilnya lagi dengan nama marga.
"Hm?" Masato bergumam tidak jelas.
"Sepertinya... aku mulai menyukaimu lagi."
"...hah?" Ia salah dengar, kan? Yang tadi itu hanya candaan Ren, kan? Masato mendengus, tentu saja dia bercanda, pasti. Awalnya memang ia menganggap perkataan Ren tadi sekedar candaan belaka, tapi ada sesuatu yang mengganjal. "...lagi?" Tanpa sadar Masato menggumamkan kata yang mengganjal hatinya seraya memperhatikan sosok di depannya, sedang Ren hanya diam sambil tersenyum menggoda.
"Ternyata kau masih manis seperti dulu kalau kuperhatikan dari dekat," katanya lagi.
Twitch! Dari dulu Masato sangat benci jika orang-orang menganggapnya manis.
"Shi... ne..." Dengan nada berat dan horror ia berucap.
"Oh, kowaii~," sahut Ren dengan nada dan ekspresi pura-pura takut. Perlahan ia berdiri sambil mengeringkan rambutnya yang masih sedikit basah. Dalam diam Ren berjalan melewati Masato yang memandangnya dengan pandangan waspada. Takut kalau dirinya diserang lagi seperti sebelumnya. Langkahnya terhenti tepat di depan Masato. Mulut Ren sedikit terbuka, namun tertutup lagi dan memalingkan wajah. Ia kembali melangkah dan duduk di tepi ranjangnya yang empuk. Berbeda dengan Masato yang memilih memakai tatami sebagai tempat tidurnya.
Tangan Ren mengambil naskah miliknya yang tergeletak begitu saja di atas bantalnya. Ia berbaring seraya membaca ulang naskah tersebut, mencoba mengingat kembali tiap-tiap kata yang akan ia ucapkan esok hari di lokasi syuting.
Dengan ragu Masato bertanya, "Ada yang ingin kau bicarakan lagi?"
"Tidak ada." Laki-laki itu menjawab tanpa menoleh.
"..."
"Ah, sebenarnya ada yang ingin kukatakan lagi," kata Ren seraya mengambil posisi duduk di tepi kasur. Seringaian kecil muncul perlahan di wajahnya yang membuat Masato mundur selangkah secara reflek. "Tadi... aku sempat merasakan sesuatu dari tubuhmu menegang. Apa kau terangsang karena tanganku, Hijiri—"
—BUK!
Sebuah bantal yang lumayan keras dan cukup berisi mendarat di wajah Ren.
"Dasar playboy hentai!" seru Masato dengan wajah memerah.
"Pfft, sebutan apa itu? Ahaha!"
Masato bersumpah, ia ingin membunuh teman sekamarnya itu sekarang juga. Tapi ia mesti berpikir berulang kali untuk melakukannya, mengingat kedua keluarga mereka bisa dibilang dekat sewaktu Ren dan Masato masih kecil. Bahkan saking dekatnya, Ibu Masato hanya memperbolehkan anaknya pergi keluar rumah jika dengan Ren. Ah, tapi sekarang itu hanya jadi cerita lama bagi keduanya. Mata dark sapphire-nya menatap Ren yang masih sibuk tertawa. "Berhenti tertawa, kau jadi makin aneh, Jinguji," katanya memerintah plus menyindir.
"Hai, hai." Ren kembali berbaring dan membaca naskahnya.
Laki-laki itu terlihat serius, membuat Masato bisa bernapas lega.
Ia berniat untuk tidur, tapi tiba-tiba badannya berbalik lagi. "Lemparkan bantalku."
"Hm?" Ren melirik bantal biru yang ada di sisi kiri kepalanya sebentar lalu kembali membaca, walau ia tak yakin bisa menghafal seluruh dialog untuk scene besok. Salahkan Masato yang selalu menarik perhatiannya sedari tadi. Terdengar protesan dari laki-laki tersebut, Ren pun menyahut. "Kau 'kan punya kaki untuk berjalan kemari dan mengambilnya dengan tangan."
Dan nyawaku akan dalam bahaya, lanjut Masato dalam hati.
Detik demi detik berubah jadi menit.
Tak ada pembicaraan lagi setelahnya.
Melihat Ren yang terlalu malas mengembalikan bantalnya, mau tak mau Masato yang mengambilnya sendiri. Ia menggerutu dalam hati karena entah kenapa jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Debarannya lebih kuat ketimbang saat ia saling berhadapan dengan sang komposer STARISH, Haruka Nanami. Tenang, dia takkan berbuat sampai sejauh itu, katanya dalam hati, berusaha menenangkan diri.
Begitu sampai di sisi kasur Ren, tangan Masato langsung mengambil bantal tersebut.
"Jantungmu..."
"...!"
"...berdebar keras, ya?"
Mendengarnya tentu membuat Masato kaget. Sekencang itu 'kah debarannya? Sampai-sampai Ren bisa mendengarnya? Ia menatap sosok tersebut yang masih dalam posisi sebelumnya, berbaring sambil membaca naskah. Tangan itu mulai bergerak mengambil bantal birunya dan dengan gerakan slow motion, tangan lainnya menarik pergelangan tangan Masato. Sontak ia memekik karena kehilangan keseimbangan. Sensasi geli dapat ia rasakan saat tangan lainnya melingkar di pinggangnya dengan erat. Masato berusaha melepaskan diri tapi pelukan Ren terlalu kuat.
Entah sejak kapan naskah yang dipegang laki-laki bersuara—ehem—seksi itu sudah terlempar dan memilih memfokuskan diri pada sosok di atas tubuhnya. Kedua tangan Ren menangkup wajah Masato yang memandangnya kesal. Tapi dari jarak sedekat itu, ia bisa melihat dengan jelas rona merah di kedua pipinya. Terlihat polos dan manis.
"J-Jinguji, tolong hentikan."
"Aku ingin latihan lagi, tapi kau menolak terus."
"...oke, aku akan turuti kemauanmu. Puas?"
Ren tersenyum dengan tangan masih menempel di pipi Masato. "Maaf saja, aku sudah tidak menerimanya lagi." Laki-laki itu melotot begitu Ren menciumnya lagi untuk kesekian kalinya. Tangan Ren kini beralih pada bahu Masato dan entah kenapa posisinya jadi terbalik.
Tangan itu menarik paksa kimono yang Masato pakai. "Ji—mmphhh!?"
"Kalau kubilang kau harus membayarnya dengan tubuhmu, bagaimana?"
Sialaaaaan! teriak Masato dalam hati. Napasnya memburu saat tangan kiri Ren mulai menelusuri tubuh laki-laki yang sangat identik dengan warna biru itu. Sementara tangan lainnya berhasil mengunci tangan kiri Masato. Ia mendorong tubuh Ren dengan tangan kanan agar menjauh. "J-Jinguji! B-berhen—ahnn!" Masato menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahan suaranya, walau suara itu tetap saja lolos. Suatu benda yang ia ketahui adalah bibir Ren kini menempel pada bibirnya. Kedua mata Masato terbelalak begitu lidah Ren ingin coba masuk ke dalam mulutnya yang mulai mengeluarkan saliva.
"Ahn!" Ia memekik karena tiba-tiba saja bibir bawahnya digigit oleh Ren.
Tangan kiri laki-laki topless itu mencoba untuk melepas obi putih yang dipakai Masato.
Kini bukan hanya tangan kanan Masato saja yang memberontak. Kedua kakinya pun ikut bergerak secara tak berurutan, sehingga membuat kasur milik Ren berantakan. Bahkan setengah dari selimutnya sudah mengenai lantai. "Hahh... hahh..." Napas keduanya terdengar terputus-putus beberapa menit kemudian, bersamaan dengan tubuh Masato yang mulai melemah. Tak jauh beda dengan laki-laki yang berada di bawahnya, Ren pun mulai melepas cengkeraman tangannya pada tangan kiri Masato.
Suasana tampak hening, tapi atmosfir terasa berat dan sedikit panas.
Begitulah yang dirasakan si salah satu model Boys Japan Collection.
Apalagi setelah melihat betapa manisnya laki-laki yang satu tahun lebih muda darinya tengah menatapnya dengan pandangan sayu. Wajah putih pucatnya juga terlihat memerah sekarang. "Baru bermain sebentar saja, kau sudah seperti ini, Masato," ucap laki-laki itu dengan nada mengejek. Tangan kanannya menyentuh salah satu pipi Masato lalu mengusap peluhnya yang ada di sekitar kening secara lembut.
Plak!
Sebuah tamparan yang cukup keras menyapa pipi kiri Ren.
"Brengsek kau, Jinguji!" seru Masato seraya mengambil posisi setengah duduk dengan tangan kiri ia gunakan untuk menahan tubuhnya. Ucapan kasar itu untuk pertama kalinya Ren dengar dari laki-laki sulung keluarga Hijirikawa tersebut. Masato sendiri memilih untuk diam dan menundukkan kepalanya sambil mengatur napasnya yang masih terengah-engah.
Laki-laki tersebut mendengus pelan lalu menghapus darah yang sempat keluar dari ujung mulutnya akibat tamparan tersebut. "Tamparanmu lumayan juga, Masato."
"Orang brengsek sepertimu memang pantas mendapatkannya," sahut Masato dingin.
Laki-laki berambut biru itu mendorong tubuh Ren dengan tangan kanan.
"Kau ingin kabur diriku?"
Pertanyaan bernada dingin dan tatapan tajam dari Ren membuat tangan Masato agak gemetar setelah kedua mata mereka saling menatap. Takut, tentu saja Masato takut dengan sosok Ren di hadapannya sekarang. "J-Jinguji..." Tubuh itu condong ke depan, mendekatkan wajahnya pada wajah pucat Masato. Ren kembali mencium, melumat, dan mengajaknya bertarung lidah. "Nngh! J-Jingu—ahnn!" Masato mendesah dan memberontak lagi saat salah satu tangan Ren mulai menyentuh bagian tubuhnya yang masih tertutupi celana pendek berwarna hitam.
Terdengar suara laki-laki berambut jingga panjang itu berdencih tidak suka.
"Nnh! A-ap-apa yang—hahh!"
Tangan milik Ren dengan cepat masuk ke dalam celana yang dipakai Masato dan membuat tubuhnya bergetar hebat. Tanpa sadar ia berhenti bernapas saat tangan itu benar-benar menyentuh salah satu organ vitalnya yang ada di balik celana tersebut. "J-Jingu...-ji, hahh, b-breng—ahnn!" Laki-laki itu benar-benar marah sekarang, tapi ia tak bisa berbuat banyak selain mencoba memberontak walau kekuatannya kalah jauh dari Ren. Kepalanya terus menggeleng, sementara tangannya sibuk mendorong tubuh laki-laki yang ingin men-seme-kannya(?).
Seringaian kecil tercetak jelas di wajah bungsu keluarga Jinguji. "Sepertinya kau menikmati permainan ini, Masato?" bisiknya dengan nada deduktif. Kini tubuhnya berada tepat di belakang tubuh laki-laki itu seolah tengah memeluk pinggang Masato tanpa menghentikan tangannya yang mulai mengelus tubuh bagian bawah si sulung Hijirikawa dengan gerakan pelan.
Mendengar bisikan tersebut, tentu saja si korban—ehem—pemerkosaan mendelik dan mendesah tanpa sadar. "H-hentikan—hahhh—R-Ren!"
Seringaian itu semakin lebar begitu mendengar panggilan Masato padanya.
Tubuh Masato terus memberontak dengan tangan kiri mencengkeram lengan Ren.
Desahan demi desahan mengalun di gendang telinga laki-laki penyuka musik jazz tersebut. Entah apa yang terjadi pada sosok itu sekarang. Yang ia tahu adalah kedua mata Ren kini telah dibutakan oleh hawa nafsu, sehingga ia tak mempedulikan keadaan Masato yang terus memohon padanya untuk menghentikan kegiatan hina ini. Desahan itu semakin menjadi saat Ren menggigit daerah leher Masato dan membuat kiss mark di sana.
"J-Jingu—aahhh!" Tubuh itu menggeliat dengan kedua tangan mencengkeram tangan kiri Ren yang tak berhenti untuk bermain dengan daerah tersensitifnya. Tiba-tiba saja tangan kanan laki-laki tersebut mendorong wajah Masato untuk menghadap ke belakang.
Cup.
Sebuah ciuman yang terkesan halus dan tidak memaksa kini ia rasakan.
Kedua mata Ren tertutup sehingga Masato tak bisa membaca apa yang tengah dipikirkannya. Ciuman itu tak berlangsung lama, Ren yang mengakhiri ciuman tersebut lalu menatap lurus pada kedua mata biru keunguannya. Iris mata sapphire itu melebar begitu melihat genangan air di ujung mata Masato. "Masato..." Reflek, tangan kirinya berpindah melingkari perut laki-laki tersebut, sementara tangan kanan Ren menghapus genangan air mata itu. Perlahan ia melonggarkan pelukan di perut Masato agar laki-laki penyuka warna biru tersebut bisa menghadap ke arahnya.
Saat tubuh itu benar-benar berbalik, dengan cepat ia menarik Masato ke dalam pelukannya. "Maaf... aku kelewatan..." bisik Ren. Dari nadanya jelas ia teramat sangat menyesali perbuatan hinanya itu. Beberapa detik kemudian, tubuh Masato bergetar, isakan tangis pun terdengar lirih namun memilukan. Ia tak berucap apa-apa lagi dan kembali memakaikan kimono laki-laki itu walau tidak sepenuhnya benar. Yang terpenting kimono tersebut berhasil menutupi tubuh Masato yang dibanjiri keringat.
"B-brengsek..." lirihnya.
Ren hanya meringis kecil mendengar suara itu. "Maaf."
"Dasar playboy hentai..."
Empat sudut siku-siku muncul di kening laki-laki berambut jingga panjang tersebut.
"Homo lagi..."
Oke, itu keterlaluan dan menyesakkan hati. Ren menghela napas berat. "Siapa suruh punya wajah manis mirip perempuan begitu?" sahutnya asal. Setelahnya tak ada sahutan lagi dari sosok yang masih berada di dalam pelukannya itu. Saat ia melirik ke bawah, sosok Masato sudah pergi ke alam bawah sadarnya dengan jejak air mata masih menempel di ujung kedua matanya. Rasa bersalah menghantui perasaan Ren.
Perlahan ia melepas pelukan tersebut lalu pergi dari tempat tidurnya yang kini tengah ditiduri oleh Masato. Sementara laki-laki itu tertidur dengan lelapnya, ditemani musik lullaby yang sengaja disetel oleh Ren. Selimut hangat milik laki-laki berambut jingga yang kini sudah memakai kaos hitam berlengan pendek pun ikut menemani kegiatan tidurnya.
"Gomen, Masato... Iya, Masato ja nai. Gomen, Hijirikawa."
Dan Ren kembali memanggil laki-laki berparas manis itu dengan nama marganya lagi.
To Be Continued
#GarukGarukPipiKanan Heyaaa... hampir setahun fanfic ini nggak di-update dan membuat hidup saya dihantui rasa bersalah ._. Hontou ni gomennasai, minna-san! #Bow Waktu itu saya pernah curhat soal hubungan MasaRen, dan gara-gara itu saya sempat meng-hiatus-kan fanfic MLS ini. Yaaa, kalau ditanya alasannya, yaaa karena mereka bukan couple favorit saya. Jadi susah-susah gampang buat chapter 10-nya. ._.
Ada satu masalah lagi yang buat saya kepikiran untuk discontinued-kan fanfic ini. Ada beberapa reviewers bilang kalau peran Michiko terlalu banyak. :) Jujur, saya bingung, saya galauin itu terus. Sedikit-sedikit liat plot yang ada terus mikir, gimana caranya bisa ngelanjutin MLS dengan peran Michiko yang sedikit tapi tetap pada plot yang ada. Akhirnya saya nyerah tanpa mengubah plot dan lanjutin fanfic ini. Bagi yang masih keberatan dan belum kebayang sosok Michiko, anggap saja Michiko itu readers (kalian). :D Tapi kalau masih nggak kebayang juga, yaaah saya nggak bisa berbuat banyak :)
Untungnya dengan mampir sebentar ke profil diri sendiri dan baca-baca review MLS, saya jadi termotivasi untuk melanjutkannya lagi. :) Terima kasih reviewers!
Saya nggak bisa nge-bales review kalian satu per satu tapi... hontou ni arigatou gozaimashita! #Bow Untuk silent readers, followers, dan yang sudah memfavoritkan fanfic ini, saya sangat berterimakasih! #Bow
:) Terakhir, masih bersediakah minna-san membaca chapter 10 ini dan memberikan review-nya?
:D Dengan senang hati, saya akan terima saran, kritik, bahkan flame dari readers semua. #Bow
See You Next Time!
CHAU!
