A/N : Aku kembali update! Semoga kalian puas dengan chapter ini ya~ Dan umm, bukannya aku hiatus, tapi update akan terjadwal maksimal satu kali sebulan hehe. Kenapa? Karena author sibuk menempuh pendidikan dan ini tanggung jawab yang besar dengan resiko yang besar pula. Harap maklum ya.
Terimakasih banyak untuk ceexia, JidatLebarnya PantatAyam (Seriously girl, your name and comments makes me happy at the same time), Pure Lady, dindatetsumura, dan Ahsan Tamvans. Terimakasih sudah menyempatkan me-review ffku. Aku menghimbau kalian semua untuk me-review setiap ff atau karya lainnya juga. Bukan berarti aku memaksa kalian untuk review sih, aku cuma sedikit sedih saat liat seorang author dengan ff luar biasa keren dan sekalinya update words-nya sampe 15000 lebih tapi yang me-review cuma sedikit…
Anyway, Happy reading!
oOoOoOo
Sakura terbangun dan menemukan keadaan di luar sana masih gelap. Tidak ada cahaya matahari yang masuk di antara celah-celah ventilasi udara ataupun di antara tirai yang menutupi jendela. Sebelah tangannya menutup mulutnya ketika menguap dan sebelah lagi menyangga tubuhnya untuk bangkit dari posisi tidurnya.
Jam menunjukkan pukul lima dan Sasuke tidak ada di sampingnya. Pintu menuju walking closet terbuka sedikit dan ruangan tersebut terlihat terang – lampunya jelas dinyalakan – pertanda Sasuke ada di dalam sana.
Memikirkan Sasuke membuat Sakura mengingat kejadian semalam. Mau tidak mau, dia harus mengakui kalau Sasuke sukses memberikannya kejutan. Sakura tidak pernah menduga lelaki yang lebih muda darinya itu akan memberikannya cincin, atau lebih tepatnya, dia melamar Sakura.
Sakura tahu betul semua ini hanyalah bagian dari skenario besar mereka. Sakura juga sudah mengubur impian masa kecilnya – untuk menikah dengan seseorang yang akan membuatnya bahagia – sejak lama sekali. Oh, tepatnya sejak ayah biologis Ayumi datang ke kehidupannya dan memberikannya anugerah serta kutukan di waktu yang sama. Ayumi sebagai anugerah dan kehancuran masa depannya sebagai kutukan. Siapa yang mau menikahi seorang wanita yang sudah memiliki anak tanpa menikah sebelumnya dan tentu saja punya latar belakang yang buruk? Itulah kenapa Sakura betul-betul terkejut sekaligus terharu saat Sasuke mewujudkan sebagian dari impian masa kecilnya.
Sakura menyentuh cincin di jari manisnya sambil tersenyum. Cincin itu sangat indah dan tentu saja terlihat sangat mahal. Tapi makna dibaliknya dan kenangan semalam membuat cincin ini berkali-kali lipat lebih indah.
Dia kemudian beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju walking closet. Sasuke ada di sana, sedang memilih-milih dasi mana yang akan ia pakai. Tangan kanannya memegang sebuah dasi berwarna emas yang terlihat mencolok.
"Kau akan memakai itu?"tanya Sakura. Lelaki itu menatapnya tetapi tidak menjawabnya.
Sakura melihat-lihat isi laci yang penuh dengan berbagai macam dasi dan menjatuhkan pilihan pada sebuah dasi berwarna maroon dengan motif garis-garis diagonal. Sakura menyerahkannya pada Sasuke yang menerimanya tanpa banyak komentar.
"Kenapa berangkat pagi sekali?" Sakura membuka pembicaraan.
"Aku tidak bisa tidur lagi setelah terbangun."jawab Sasuke sembari memakai dasinya. Dia terlihat professional saat membuat simpulnya tetapi hasilnya jauh dari kesan professional.
"Ingin kubantu?" Awalnya, ia mengira Sasuke akan menolaknya dengan raut kesal, tapi lelaki itu justru mengiyakannya dengan nada yang bersahabat. Sakura membuka tiap simpul dasi yang acak-acakan itu dan memulainya dari awal. "Apa kau selalu memakai dasi seperti ini?"
Sasuke menangkap maksud Sakura. "Tidak ada yang pernah memprotes caraku memakai dasi." Kecuali Shikamaru tentunya.
Pukul enam lewat empat puluh lima menit keduanya keluar dari kamar. Sasuke turun lebih dulu sementara Sakura pergi ke kamar Ayumi. Wanita itu membangunkan anaknya dan membantunya untuk bersiap. Kemudian mereka turun menuju ruang makan.
Ketika Sakura sampai di sana, Madara dan Sasuke tidak ada di meja makan tetapi mereka ada di luar ruang makan, tepatnya di teras yang menghubungkan ruang makan dengan taman. Keduanya berdiri sambil memegang secangkir kopi. Mereka terlihat sibuk mendiskusikan sesuatu. Mikoto dan Karin tidak terlihat sama sekali.
Setelah memastikan Ayumi duduk dengan nyaman di kursinya, Sakura menghampiri pelayan yang sedang menyiapkan sarapan. Wanita paruh baya tersebut tersenyum sopan dan menyapa Sakura.
"Selamat pagi, ada yang bisa kubantu?"tanya Sakura.
"Sebenarnya anda tidak perlu membantu, tapi meski aku berkata demikian anda pasti akan memaksa." Dia tertawa. "Jadi, bagaimana kalau anda menyiapkan salad?"
Sakura membalasnya dengan senyum sembari memakai apron berwarna merah muda yang senada dengan rambutnya.
"Oh, lihat itu. Sungguh pekerjaan yang cocok untukmu, Sakura." Karin masuk ke ruang makan dengan tatapan paling menyebalkan yang pernah Sakura lihat. "Seharusnya kau melamar sebagai seorang pelayan di sini. Kami memang butuh seorang pelayan lagi, um, mungkin untuk membersihkan kandang anjing milik Jii-san? Aku tidak tahu kenapa kau bisa lolos saat melamar sebagai menantu di sini."
Pelayan yang ada di samping Sakura menunjukkan wajah tidak enak pada Sakura. Ya, situasi ini memang sangat canggung baginya, tapi Sakura rasa ia bisa mengatasi Karin. Cemoohannya hampir sama persis seperti cemoohan anak kecil.
"Aku tidak keberatan membantu Genma membersihkan kandang Kuro – oh, mungkin kau tidak tahu, itu nama anjing kesayangan Jii-san – dan sayangnya, aku tidak pernah melamar sebagai menantu di sini. Aku tidak pernah mengirim CV dan semacamnya." Sakura membalas tanpa berhenti menggerakkan tangannya untuk mengaduk sayuran yang ada di dalam mangkuk. "Kau mengerti maksudku, kan? Kau sudah sering melamar untuk berbagai pekerjaan."
Sindiran terakhir itu adalah kartu as Sakura. Karin memang cantik, tapi perilakunya yang buruk bahkan tidak bisa ditolerir untuk pekerjaan seperti pelayan restoran atau bahkan model. Dia tidak bisa bekerja dalam tim dan tidak sabaran. Untungnya, dia sudah menemukan pekerjaan sebagai seorang beauty vlogger. Pekerjaan yang sangat cocok untuk Karin, karena dia tidak perlu berhadapan dengan banyak orang dan menunjukkan sifat buruknya itu.
Karin memberikan senyuman yang tidak sampai ke mata. Dia terlihat kesal. "Aku mencium bau busuk dari mulutmu, Sakura."
"Kaa-chan sudah gosok gigi, kok."timpal Ayumi tiba-tiba. Ia mengayunkan kakinya di bawah meja, kedua tangannya memegang sekotak susu yang diberikan oleh Sakura sebelumnya. Dia sangat imut, dan saat dia membela Sakura, Sakura bersumpah ia bisa pingsan karena ke-imutannya.
"Awalnya kukira kau seorang ibu yang sangat baik, ternyata kau mengajarkan hal buruk pada anakmu." Karin kembali menyindir Sakura.
"Ayumi, Kaa-chan sudah mengajarimu untuk tidak meniru perilaku buruk orang-orang di sekitarmu." Sakura tersenyum puas saat melihat Karin yang terlihat lebih marah dari sebelumnya.
"Baik hentikan semua omong kosong ini. Aku lebih suka langsung menghajar wajahmu, Sakura." Sakura cukup kaget saat Karin menarik lengan bajunya dan berjalan menuju tempat ia berdiri, tapi sebelum Karin ada dalam jarak satu lengan dari Sakura, seseorang menarik bahu Karin ke belakang.
"Hentikan perkelahian bodoh ini."ujar Uchiha Mikoto. Sorot matanya yang tajam menatap Karin lekat-lekat. "Sikapmu itu benar-benar tidak sopan. Tidak sepatutnya dimiliki seseorang dari keluarga ini."
Karin mendengus. "Lihat siapa yang bicara. Bibi pikir tidak ada yang menyadari seberapa busuk Bibi sebenarnya?"
Mikoto tidak membalasnya dan duduk di kursinya. Kursi di sebelah kiri kursi milik Madara. Melihat Mikoto yang tidak berniat membalas perkataannya, Karin semakin kesal dan berniat keluar dari ruangan, tapi langkahnya terhenti saat pintu menuju taman digeser. Madara dan Sasuke masuk ke ruang makan.
Madara menatap Karin dan tanpa disuruh, Karin duduk di kursi yang berada tepat di hadapan Mikoto.
Kurasa Naori-san tidak hadir lagi di sarapan kali ini.
Sakura duduk di samping Sasuke, seperti seharusnya. Ia memperhatikan tata letak mereka duduk dan dia semakin merasa kalau tata letak mereka duduk sangat aneh. Kenapa bagian di sebelah Karin selalu kosong, sedangkan kini di sisi kiri sudah ada empat orang? Mungkin jika Naori hadir, setidaknya bagian kanan tidak akan terlihat sangat sepi.
"Naori tidak hadir lagi?"tanya Madara. Karin menggelengkan kepala sebagai jawaban. Untuk sesaat Sakura tidak bisa membaca ekspresi wajahnya, tapi kemudian ia melihat senyum licik di wajah Karin.
"Entah kenapa sekarang aku merasa sedikit kesepian. Kenapa tidak kita undang saja Sasori untuk tinggal di sini? Dia akan menetap dalam waktu yang cukup lama di Konoha." Senyumnya cantik, Sakura akui itu. Mungkin ada orang yang akan langsung mengiyakan apapun yang ia minta saat dia tersenyum begitu.
"Bukankah Sasori menolak karena dia sibuk dengan segala macam bisnisnya? Lagipula Ino-san sering datang untuk menginap, dia tidak ingin berada di situasi yang canggung."ujar Sasuke.
Mendengar itu, Karin justru tertawa. "Astaga Sasuke, kau mengatakannya seperti kau sangat dekat dengan Sasori." Sakura bisa merasakan ketegangan yang semakin menjadi. "Ayolah, bukankah kita keluarga? Sasori punya hak untuk bersama dengan keluarganya. Kita tidak mungkin membiarkan dia semakin dekat dengan keluarga tunangannya sedangkan dia semakin menjauh dari kita. Dia juga keturuan Uchiha, Jii-san. Dia cucumu, dan kau semakin dekat dengannya akhir-akhir ini."
Sakura cukup terkejut saat Karin menatapnya. "Tentang Yamanaka Ino, kita tidak perlu khawatir. Mereka sudah bertunangan dan tinggal menunggu waktu sampai mereka menikah. Lagipula, kudengar dia dan Sakura sangat dekat. Aku bisa melihat wajah Sakura di setiap update media sosialnya. Anggap saja dia dan Sakura sedang mengadakan slumber party."
Kemudian hening. Semua mata menatap Madara yang justru menutup matanya dan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknnya di meja. Ia sedang berpikir.
Ketika ia membuka mulutnya untuk menjawab perkataan Karin, Sakura bisa merasakan kalau semua orang menahan nafasnya.
"Aku akan menghubungi Sasori."
oOoOoOo
Sakura melihat jam tangannya, sekitar 10 menit lagi sebelum jam yang ia dan Sasori setujui untuk bertemu. Sakura ada di sebuah café dan sedang menikmati secangkir es kopi. Ia merasa beruntung bahwa ia ada kegiatan hari ini dan tidak perlu tinggal di rumah terlalu lama setelah kejadian tadi pagi.
Setelah Madara menyatakan bahwa ia akan menghubungi Sasori, suasana di ruang makan sangat tidak mengenakkan. Karin tersenyum puas karena berhasil membuat Mikoto dan Sasuke berada di posisi yang kurang mengenakkan. Jika Sasori tinggal di kediaman Uchiha, maka dia dan Madara mungkin akan semakin dekat dan itu membahayakan posisi Sasuke. Lalu, mungkin mereka akan sedikit kesulitan dalam menjalankan rencana-rencana mereka (yang tidak Sakura ketahui) terhadap Sasori.
Sementara itu, bahkan sampai sarapan selesai, Mikoto dan Sasuke sama sekali tidak mengatakan satu patah kata pun. Sakura juga menjadi serba salah, karena untuk beberapa saat, Madara justru membuka pembicaraan dan hanya Sakura yang menjawab.
Aku dan Ayumi benar-benar korban dari kejadian tadi pagi.
Sakura melihat sebuah mobil berwarna hitam terparkir di luar café. Mobil itu mengklakson dua kali, seakan memanggil seseorang. Sakura melihat ponselnya dan melihat satu pesan dari Sasori yang menyuruhnya untuk keluar. Ah, itu mobil Sasori.
Sakura segera keluar. Ia mengetuk kaca jendela mobil dan ketika mendengar bunyi klik, ia membuka pintu mobil. Sasori yang berada di kursi pengemudi tersenyum. "Selamat pagi."sapanya dengan nada tidak bersalah.
Oh, dia memang tidak bersalah. Dia tidak tahu-menahu tentang kejadian tadi pagi.
Sakura duduk di kursi penumpang depan dan mengenakan sabuk pengaman. "Selamat pagi."jawabnya datar.
Sasori mengemudikan mobil, lalu bertanya, "Boleh aku tahu kenapa wajahmu ditekuk begitu, Sakura-san?"
Sakura menatapnya sebentar, menimbang apakah dia harus memberitahunya atau tidak. "Tidak ada sesuatu yang spesial."jawabnya pada akhirnya. "Oh, dan kau bisa memanggilku Sakura. Aku tidak terlalu suka formalitas, apalagi sekarang kita partner."
Sasori mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu kau juga bisa memanggilku Sasori."
Sasori menyalakan musik untuk mengisi keheningan yang tidak mengenakkan di antara mereka setelah itu. Sakura merasa tidak enak pada Sasori karena lelaki itu sama sekali tidak tahu apa-apa, tapi mood-nya tidak bisa diajak kompromi.
"Jadi, bisa kau beri tahu aku bagaimana sebenarnya rencana kita hari ini? Kau hanya memintaku untuk tidak membawa mobilku yang biasanya, mengenakan topi, dan menjemputmu di sana, di jam yang kau tentukan."ujar Sasori pada akhirnya.
"Aku lupa tentang itu, maaf. Seharusnya aku langsung mengatakannya tadi." Ya, terimakasih pada kejadian itu yang membuatnya hampir melupakan segala rencananya.
Sakura berdeham pelan. "Sebenarnya simple saja, kita akan mengorek informasi dari kasir yang kemarin. Gadis itu terlihat mudah untuk dimanipulasi. Aku akan menahannya saat dia keluar dari toko di jalan sempit yang ada tidak jauh dari sana. Kau bisa menunggu di sana."
Sasori sekarang mengerti kenapa Sakura tidak memintanya membawa mobilnya. "Kau mau aku membiarkanku membuatmu melakukan semua pekerjaan dalam misi ini?"
Sakura seakan bisa membaca kalimat 'Yang benar saja' di dahi Sasori. "Percayalah Sasori, kau adalah pemeran utama dalam misi ini. Aku hanya berperan di bagian pembuka."
Sasori menghela nafasnya dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Mereka sampai tidak lama kemudian. Sakura keluar dari mobil dan memantau toko tersebut dari sebuah toko serba ada yang ada di seberangnya. Sekitar 10 menit kemudian, gadis itu keluar dengan pakaian kasual, yang berarti dia tidak dalam shift-nya hari ini.
Sakura mengenakan topi untuk menutupi rambut merah mudanya yang sangat tidak biasa. Sebuah masker menutupi sebagian wajahnya. Ia bergegas keluar dan berlari menuju gadis tersebut. Begitu gadis itu sudah dalam jangkauan tangannya, Sakura segera merangkulnya dengan sebelah tangannya.
"Jangan berteriak dan ikuti aku. Kau tidak dalam bahaya, tapi jika kau melawan kau akan mendapat masalah."
Sakura melirik gadis itu dan dia terlihat sangat ketakutan. Dia menggigit bibir bawahnya dan matanya sudah berkaca-kaca. Apa aku semengerikan itu?
"Sebutkan namamu."perintah Sakura.
"S-Sara."jawabnya.
Sakura melihat sekeliling sebelum masuk ke jalan tempat Sasori menunggu. Sepi, mungkin ini masih terlalu pagi untuk orang-orang di sekitar sini beraktivitas. Mereka masuk ke jalan yang sempit dan gelap itu. Sasori menunggu di ujung jalan. Ketika dia melihat mereka, dia memberikan gestur agar mereka mempercepat langkah dan langsung masuk ke mobil.
Sakura membuka pintu penumpang belakang dan menyuruh Sara masuk lebih dulu. Ia juga duduk di belakang untuk memastikan gadis itu tidak melakukan apapun yang berbahaya.
Begitu Sasori mengunci pintu dan menghidupkan mesin, Sara langsung berkata, "Kemana kalian akan membawaku? Siapa kalian sebenarnya dan apa yang kalian inginkan dariku?"
Sakura melepas topi dan maskernya, membuat Sara menatapnya dengan mata terbelalak. "Kau… kau yang kemarin kan?"
"Yap. Namaku Haruno Sakura, kau bisa memanggilku Sakura." Sasori menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan Sakura. "Apa? Aku belum resmi menjadi seorang Uchiha."
"Uchiha? Apa yang diperlukan orang sepertimu dariku?" Crap, mereka kembali membuat gadis ini bertanya-tanya.
Sasori menjalankan mobil, dan Sakura memulai interogasinya. "Aku langsung saja, apa yang atasanmu itu sembunyikan?"
"Ti-tidak ada. Tidak ada yang dia sembunyikan."jawabnya terbata-bata.
"Aku bahkan belum menyebut siapa atasanmu itu. Kau punya seseorang dalam pikiranmu? Mungkin orang yang ribut denganku kemarin?"
Sara semakin terlihat tidak nyaman. Dia memilih untuk diam. Tangannya meremas rok yang ia kenakan.
Sakura meletakkan kedua tangannya di atas kedua tangan Sara. Dia memberikan senyuman yang lembut. "Percayalah Sara, kau tidak sedang dalam masalah selama kau berada di pihak kami. Kami ingin menuntaskan masalah apapun itu yang ada di tempatmu bekerja, dan semua itu bisa kami lakukan jika kau mau membantu."
Sekarang Sara terlihat ragu tapi dia masih memilih untuk diam. Sakura meremas tangannya kemudian berkata, "Kau bisa percaya pada kami."
Sara menatap Sakura tepat di matanya yang berwarna hijau emerald. "Kalian berjanji?"
Sakura tersenyum. "Kami berjanji."
Sara menghela nafasnya. "Kusuna-san sudah melakukan itu beberapa bulan terakhir ini. Semua karena ia ingin dekat dengan orang-orang penting, terutama orang-orang penting dari keluarga Yamanaka. Ia sering membiarkan mereka pergi tanpa membayar atau member mereka banyak potongan hara, untuk memberikan kesan baik, katanya."
"Sayangnya keluarga Yamanaka tidak seperti itu, mereka hanya menerima sesekali untuk jumlah yang sangat sedikit dan itu semua bisa dilupakan dengan mudah. Kusuna-san tidak menginginkan hal itu. Dia ingin dikenal mereka agar dia bisa mendapatkan akses atau sesuatu dengan lebih mudah. Karena itu ia mengincar wanita dari keluarga yang terpandang dan istri-istri pejabat. Ternyata yang ia inginkan sedikit demi sedikit tercapai."
"Tapi itu berakibat pada penghasilan toko yang semakin kacau. Awalnya yang kurang hanya sedikit dan bisa dia tutupi sendiri. Lama-kelamaan dia tidak bisa lagi menutupinya dan akhirnya mengambilnya dari gaji kami."
"Tunggu, dia mengambil sebagian dari gaji kalian dan kalian tidak mempermasalahkannya?"
Saat itulah Sara mulai terisak. Sakura memeluknya dan menepuk-nepuk punggung Sara. Sasori menawarkan tisu dengan sebelah tangannya tanpa memalingkan pandangan dari jalan.
"Suami Kusuna-san adalah anggota gangster, semua takut padanya. Tapi yang lebih menakutkan lagi adalah dia memegang rahasia terdalam dari tiap staf. Ayahku berhutang pada seorang rentenir dan ternyata rentenir itu adalah teman dari Kusuna-san. Dia mengancamku. Dia bilang dia akan meminta rentenir itu menambah bunganya atau malah menagih pada Ayahku dengan cara yang kasar." Sara melepas pelukan Sakura dan mengelap wajahnya dengan tisu.
"Yang paling sengsara adalah Sasame-san. Dia dulu bekerja di sana sebagai staf. Dia punya mimpi untuk menjadi seorang aktris tetapi dia ditipu oleh agensinya. Agensinya selalu mengancam Sasame-san agar mau melakukan apapun yang mereka mau kalau ia tidak mau fotonya yang tidak senonoh disebar. Pada akhirnya Sasame-san bisa mengatasi hal tersebut dan dia keluar dari agensi itu, tapi entah dari mana, Kusuna-san mendapat foto tersebut dan menggunakannya untuk mengancam Sasame-san lagi. Sasame-san adalah orang yang kuat dan dia tidak mempedulikannya. Dia bahkan berniat melaporkan kegiatan Kusuna-san. Kusuna-san marah, dia langsung menyebar foto tersebut. Sejak saat itu, aku tidak pernah melihat Sasame-san lagi."
"Kami tidak berani melawan lagi, sedangkan nominal uang yang kurang juga semakin besar. Akhirnya dia melakukan hal yang ia lakukan pada Sakura-san kemarin kepada banyak orang."
Sakura mengelap matanya dengan tisu. Tanpa ia sadari ia juga sudah meneteskan air mata. Dia tidak habis pikir, ternyata ada orang sekejam Kusuna itu. Dia merusak hidup banyak orang demi kepentingannya sendiri yang sebenarnya tidak ada apa-apanya dibanding mimpi Sasame untuk menjadi aktris. Sekarang mungkin sulit bagi Sasame untuk diterima sebagai public figure.
"Sara-chan, yang kami perlukan sekarang hanya bukti. Baik berupa foto ataupun rekaman suara. Aku ingin kau menyimpan recorder ini pada saku rokmu. Usahakan kau mendapat rekaman saat dia melaksanakan aksinya secepatnya." Sakura memberikan sebuah recorder berbentuk pulpen pada Sara.
"Kau tidak perlu takut."ucap Sasori sembari membuka topinya, membiarkan Sara melihat rambut merah miliknya yang khas. "Kita berada di pihak yang sama. Begitu aku mendapat buktinya, aku akan segera menindak tegas Kusuna itu."
Sasori menghentikan mobilnya. Mereka sudah sampai di tempat tinggal Sara ternyata. "Sara-san, maafkan aku karena tidak dapat segera menyelesaikan masalah ini. Aku akan berhutang banyak padamu nantinya, terimakasih sudah mau membantu." Sasori menundukkan kepalanya, tanda menghormati Sara.
"Lalu, bisakah aku meminta informasi tentang Sasame-san?"
oOoOoOo
Tidak butuh waktu lama bagi Sasori untuk menyelesaikan masalah tersebut setelah Sara memberikan foto dan rekamannya seminggu kemudian. Sara bercerita bahwa mendapatkan fotonya adalah yang tersulit. Rekaman CCTV sangat sulit didapatkan karena Kusuna menjaganya dengan sangat hati-hati, tapi pada akhirnya Sara bisa mendapatkan rekaman CCTV dari CCTV yang ada di dekat kasir dan dari kamera tersembunyi yang dipasang secara diam-diam. Tentu saja oleh salah satu bawahan Sasori.
Kusuna dan suaminya ditangkap dan diserahkan ke polisi atas semua kejahatan yang mereka lakukan. Sasori juga memberikan bonus pada staf toko sebagai permintaan maaf dan meminta mereka untuk bekerja lebih giat agar reputasi toko kembali membaik. Sara diangkat sebagai Manager yang baru.
Sakura menatap papan reklame besar dengan wajah Fuuma Sasame di sana. Dia terlihat sangat manis. Sasori membantunya untuk mencapai mimpinya. Sasame menjadi model baru untuk berbagai produk MI.
"Sakura-san?"
Sakura menoleh dan mendapati Sasori dengan pakaian kasual dan satu cup kopi di tangan. "Hai, senang bertemu kembali."
Sasori mengangguk. Lelaki berambut merah itu menatap papan reklame yang sama seperti yang barusan ditatap oleh Sakura. "Aku senang bisa membantunya."
"Aku lega karena masalah itu sudah selesai. Semua karena kau dan tangan dinginmu, Sasori."
"Jangan lupa dengan jasamu juga. Karenamu, aku bisa mendapatkan informasi itu. Kau memegang peran penting juga. Kau bukan hanya pemeran pembuka."
Keduanya saling bertatapan lalu tersenyum. "Kukira kau adalah orang yang sulit diajak berteman, SasoriKau punya aura misterius dibalik senyum yang sering kau berikan itu."
Sasori tertawa. "Begitukah? Awalnya aku pun tidak ingin mempunyai hubungan yang baik denganmu."
Sakura menunggu perkataan Sasori selanjutnya. Lelaki itu masih tersenyum. "Kau adalah calon istri Uchiha Sasuke, rival terberatku. Orang yang membenciku, dan orang yang kubenci. Well, untuk kasusku aku tidak membencinya, aku hanya tidak suka padanya. Tapi jujur aku membenci Uchiha Mikoto."
Sakura tidak bisa menahan tawanya saat mendengar pengakuan Sasori yang sangat jujur. Sasori menatapnya dan bertanya, "Apa akan ada masalah karena aku memberi tahumu tentang ini?"
Wanita berambut merah muda itu menggeleng. "Tidak, kau bisa percaya padaku."
"Ya, kurasa aku bisa percaya padamu, Sakura-san." Sakura tidak akan membohongi dirinya sendiri. Senyum Sasori saat mengatakan itu sanggup membuat jantung Sakura seperti melewatkan satu detakan. Sakura rasa tidak akan berlebihan kalau mengatakan senyum barusan adalah senyum seorang malaikat.
Sakura tertawa untuk menghilangkan pikiran tersebut dari kepalanya. "Kurasa kau lupa untuk memanggilku Sakura."
"Oh, maafkan aku. Kita tidak bertemu lagi setelah kejadian itu dan masih canggung bagiku untuk memanggilmu hanya dengan nama."
"Kau harus membiasakannya, Sasori. Lagipula kita adalah keluarga."
Sasori tersenyum. "Bicara tentang keluarga…"
"Hm?"
"Aku akan pindah ke kediaman Uchiha."
Oh, God.
