.
.
.
Avery Emmeline present:
The Uchiha
Chapter 10
.
.
.
Kemampuan menyanyi Shiina semakin bagus saja. Misa yang selalu melihatnya mengakuinya. "Apakah kau pernah pergi ke opera lagi?" tanya Misa.
"Terakhir aku pergi 2 tahun yang lalu".
Misa mengangguk.
"Bagaimana suaraku?" tanya Shiina malu-malu.
"Semakin meningkat". Shiina merasa ingin meloncat kegirangan. Tapi itu ia urungkan. Ia hanya tersenyum senang.
"Aku permisi dulu," Misa baru saja berbalik saat suara Shiina menghentikannya.
"A…apakah besok kau senggang?".
Misa menatap Shiina. "Um… tidak".
"Maukah besok kau pergi menemaniku ke pertunjukan ballet? Salah satu sahabatku akan menjadi ballerina di sana," Shiina bertanya dengan gugup. Bodohnya aku. Alice pasti sibuk.
Misa nampak berpikir sejenak.
"Hmm, baiklah. Kurasa pertunjukan ballet adalah ide yang bagus," jawaban Misa di luar dugaan Shiina yang saat ini tersenyum lebar. "Terima kasih".
…
"Jadi, kapan maniak itu datang?" tanya Ruby yang saat ini berada di kamar Misa yang berada di kediaman walikota. "Entahlah, ia datang dan pergi sesuka hatinya," Misa menggelengkan kepala. Yang saat ini dua agen itu bicarakan adalah Soru. "Seperti pencuri, huh?" dengus Ruby. "Jika kita beruntung bisa saja ia kemari sekarang," kata Misa. "Mengapa tidak kita coba peruntungan kita?" tawar Ruby. Misa tersenyum. "Ayo".
Kedua agen ahli itu mengendap-endap di taman kediaman walikota. Misa merasa jika suatu saat nanti ia berganti pekerjaan, menjadi pencuri bukan hal mustahil baginya dan Ruby. Dan bagi Soru tentunya. "Mari kita lihat," bisik Ruby saat mereka sudah dekat kamar Shiina yang terletak di lantai dua. "Kurasa kita beruntung," Misa tersenyum penuh kemenangan. Tak lama kemudian muncullah Soru.
"Ah, kamera itu…" bisik Misa.
"Untuk memfoto diam-diam, huh? Privasiku sebagai wanita merasa terganggu," Ruby dan Misa saat ini sedang bersembunyi untuk mengawasi Soru.
"Dia mulai memanjat pohon," bisik Misa.
"Dia kira Romeo & Juliet apa," dengus Ruby, kesal.
"Dia sudah di atas. Dia mengeluarkan kameranya," seru Misa pelan.
"Dia sudah gila!".
"Itu yang kupikirkan saat awal melihatnya".
Dan kedua agen itu sudah 30 menit mengawasi Soru.
"Jam berapa sekarang?" tanya Ruby.
"12. 53," bisik Misa.
"Apa yang dilakukan gadis itu kira-kira?".
"Aku yakin dia sudah tertidur".
"Sial, di mana para penjaga saat ini?".
"Aku sudah menambah personil. Tapi tetap saja kecolongan".
"Dasar pasukan tak berguna!".
"Lihat, dia melompat turun!".
Kedua agen itu melihat Soru menolehkan kepalanya untuk melihat keadaan sebelum lari.
"Kita tak perlu menangkapnya," kata Ruby.
"Tentu, aku ingin menunggu saat yang pas," kata Misa. Kedua agen itu tersenyum bersama.
…
"Jadi tidak ada tanda-tanda kehadirannya sama sekali?" tanya Ruby ditelepon.
"Tidak, ini sangat aneh. Ia tidak menunjukan aktivitas seperti biasanya akhir-akhir ini. Ia seperti menghilang begitu saja".
"Sial," umpat Ruby. Ia lalu mematikan sambungan teleponnya, dengan kasar.
"Sial, sial, siaaallll," Ruby menggeram frustasi.
"Ada apa?" Misa yang duduk di sofa sambil membaca koran bertanya.
"Si kakak! Ia tidak nampak sama sekali akhir-akhir ini," Ruby nampak kesal.
"O… okay," Misa nampak ngeri karena telah menganggu Ruby yang sedang kesal.
"Ini sudah 3 minggu si kakak tidak muncul. Sial, aku ingin segera menangkap Soru—si adik, dan memaksanya mengatakan padaku di mana kakak sialannya yang tersayang itu!" umpat Ruby.
Si kakak yang dimaksud adalah kakak lelaki dari Soru, target Misa saat ini. Dari desas-desus yang beredar di underground nama sang kakak adalah Satoshi. Dan ia juga masih muda sekaligus pewaris salah satu dari 13 klan pembentuk kelompok itu. Singkatnya, di masa depan ia akan menjadi seorang pemimpin klan. Dan itu mengerikan. Sekaligus berbahaya.
Ruby tiba-tiba melompat dan selonjoran di kasur Misa dengan cueknya. Yah, mereka beruntung. Kediaman walikota saat ini sedang sepi. Keluarga Doumoto pergi karena memiliki kesibukan masing-masing.
Tiba-tiba Misa merasa perlu mengajak Ruby berjalan-jalan untuk memperbaiki moodnya yang kacau.
"Tertarik mencari udara segar?".
Ruby membuka mata hazelnya dan menatap tajam Misa.
"Kebanyakan udara di perkotaan sudah tercemari polusi," kata Ruby tajam yang membuat Misa serba salah. Ugh…
"Tapi, idemu boleh juga," suara Ruby melunak. Fiiuuuhhh…
…
"Kurasa aku perlu membeli minuman hangat," kata Ruby.
Saat ini mereka berada di tengah kota. Untuk mencari udara segar. Dan udara musim gugur membuat Ruby sangat ingin membeli minuman hangat untuk menghangatkan perutnya.
"Ide yang bagus," kata Misa. Mereka lalu memasuki sebuah café.
"Ini pesanan anda," kata petugas kasir café itu dengan ramah. Ruby lantas membayar pesanannya lalu pergi keluar ke arah Misa yang menunggunya di luar.
"Ah, hangatnya," kata Ruby setelah meminum seteguk coffe lattenya.
"Aku setuju," begitu juga dengan Misa yang meminum choco lattenya.
"Kau benar-benar pecinta coklat," kata Ruby saat melihat minum Misa.
"Coffe latte juga favoritku," kata Misa.
"Aku yakin kau meminumnya 1:3 dengan susu coklat," tebak Ruby. Misa terdiam. "Ya, bisa dibilang".
Kedua agen ahli itu asyik berbincang sambil berjalan di tengah kota saat tiba-tiba Misa terlonjat kaget. "Soru". Mendengar apa yang digumamkan Misa, Ruby segera mengikuti arah pandang Misa.
Nampaklah seorang remaja berusia kira-kira enam belas tahun dengan pakaian kasual layaknya orang-orang pada umumnya sedang berdiri di bawah pohon memainkan smartphonenya. Sekilas tidak ada yang aneh dengan anak itu kecuali fakta bahwa ia adalah Soru, anggota kelompok itu.
Misa dan Ruby saling berpandangan sebelum mengangguk bersamaan. Kita dekati dia.
Misa dan Ruby bercanda tawa layaknya anak muda pada umumnya dan berlagak seolah tanpa sengaja berhenti di sisi lain pohon tempat Soru berdiri. Tiba-tiba hp Soru bordering. Wajah Soru nampak kesal lalu menerima telepon itu dengan ogah-ogahan.
"Apa maumu, kak?". Jantung Misa dan Ruby serasa berhenti berdetak. Kak? Satoshi kah? Soru melanjutkan percakapan itu. "Itu bukan urusanmu apakah aku pergi atau tidak. Urus saja urusanmu sendiri," Wah, kasar sekali. Misa dan Ruby mendengarkan dengan serius. "Persetan denganmu. Aku ingin bebas. Aku lelah denganmu," sedetik kemudian Soru memutus sambungan telepon itu dengan kasar. Persis seperti Ruby tadi, pikir Misa.
"Dasar sok! Padahal dirinya sendiri juga pergi tanpa jejak masih saja sok mengaturku," Soru meluapkan amarahnya. Misa dan Ruby memasang telinga dengan tajam. Ni anak sadar gak sih kalau dia anak keluarga kriminal terkenal? Bisa dengan tenangnya ngoceh di tempat umum. Biasanya kan orang macam mereka—juga macam Misa dan Ruby, gak bakal sesumbar kayak gini. Misa dan Ruby kagum dengan 'kenekatan' Soru.
Keadaan lalu menjadi hening. Misa yang curiga melirik Soru sekilas karena ia lebih dekat dengan Soru daripada Ruby. Dan mata Misa melotot.
Sempak! Malah liat-liat foto(curian) Shiina!
Misa merasa ingin sekali menabok Soru. Udah ngoceh gak jelas di temapt terbuka, sekarang liat foto nyuri-nyurinya Doumoto Shiina. Dasar remaja labil sejati! Atau psikopat? Misa pusing memikirkan semua itu.
"Bagaimana?" tanya Ruby yang tidak bisa melihat apa yang Soru lakukan.
"Dasar remaja labil," maki Misa dengan pelan.
"A… apa?!" Ruby menatap Misa bingung.
Kurang lebih kedua agen itu mengawasi Soru selama 15 menit sebelum Soru pergi dan dari kejauhan Misa dan Ruby bisa melihat ada mobil serba hitam yang menjemputnya.
"Sudah hanya begitu saja? Penonton kecewa!" kata Ruby begitu mereka berada di dalam kereta untuk pulang.
"Hanya itu yang dilakukannya. Mau bagaimana lagi," kata Misa kalem.
"Cih, anak itu," kata Ruby garang. Walaupun tidak mengatakannya, Misa tau dengan pasti bahwa Ruby mengharapkan adanya informasi mengenai Satoshi.
Tiba-tiba pengumuman bahwa mereka sudah sampai di stasiun tujuan terdengar.
"Ayo, aku tidak mau stasiunnya terlewat," kata Ruby begitu pintu kereta terbuka. Misa hanya mengangguk saja.
Ruby baru saja membeli sebungkus roti hangat saat mendengar sebuah teriakan.
"KYAAAAAAAA! Orang mesum!".
Ruby menoleh ke arah teriakan itu. Beberapa petugas stasiun nampak mengejar seorang pria. Ruby bersiap-siap. Begitu lelaki mesum itu mendekat ke arahnya…
BUAAAAKKKK!
Ruby menendang orang itu dengan teknik beladirinya hingga lelaki mesum itu terjatuh menghantam lantai dengan keras.
…
Misa baru saja kembali dari toilet saat terkejut melihat Ruby bersama beberapa petugas stasiun. Ada apa? Misa mendekat kepada Ruby. Misa dapat melihat beberapa petugas itu membungkuk pada Ruby—yang dibalas anggukan singkat oleh Ruby, lalu pergi.
"Ada apa?" tanya Misa. Ruby membalikan badan.
"Oh, itu. Aku hanya membantu mereka menangkap orang mesum," kata Ruby santai. "Orang-orang Jepang benar-benar kurang siaga. Bisa-bisanya kecolongan sama orang mesum".
Misa melihat jam tangannya sekilas. "Ayo, kita harus pulang. Satu jam lagi Shiina akan pulang".
To be continue
Halo~ ada yang merindukan saya? #gak ada. Oke, ganti pertanyaan. Ada yang merindukan fiction ini? #krik #mojoksendiri.
Iya, saya tau saya lama gak update lagi T_T… apaboleh buat, di RL saya sangat sibuk. Manalagi laptop sempet dibegal bokap :v. Begitu balik, saya malah amnesia mau ngetik apa #plak.
Bersamaan dengan update ini, saya mau ijin hiatus. Klo sempet, saya usahain update. Maunya sih gak hiatus tapi, keterlambatan update ini sudah membuktikan kepada saya klo saya harus hiatus dulu sampe beberapa bulan ke depannya. Mungkin Juli/Agustus saya baru free. Jangan tanya kenapa, saya juga heran kok tumben sibuk begini. Apalagi habis ujian bulan depan saya harus pulkam #GakAdaInternetBuatUpdate, sebelum pulkam harus graduation di sekolah #PisahSamaAdekKelas dan kesibukan lainnya #hiks...
Karena itulah saya mau bilang, rindukan saya ya~ #dibakar. Klo gak mau rinduin saya rinduin aja The Uchihas, abang Itachi, akang Sasuke, mas Naruto, mbak Sakura, dan non Misa~~ klo mau juga boleh tagih update—klo sempat saya pasti uppp. Satu hal yang pasti. Saya pasti merindukan kalian dan review kalian.
See ya!
