Title: Rendezvous
Pair: AkaKuro, AoKise, MidoTaka, MuraHimu
Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki, i gain no profit from this fiction
Warn: OC, OOC, typos, languages, Hybrid Cat!AU, M-preg, BL.
Rendezvous 9: Blue Hearts.
.
—It's so sad, without you...
.
"Halo, ibu?"
/"Tetsu-kun?"/
"Maaf mengganggu waktu istirahatmu." bola mata biru bergulir menatap langit-langit kamar dalam keremangan cahaya. Jarum jam mengarah pada angka-angka yang menunjukkan waktu sudah lewat dari tengah malam, dan sekarang ini bukanlah saat yang tepat untuk membuat sebuah panggilan.
Kalaupun ada, mungkin saja Si Penelepon sedang dalam satu kesulitan.
Terdengar suara gemerasak kain disibak tergesa, lalu steker lampu meja dinyalakan dengan segera.
/"Ada apa, nak?"/
Kuroko Keiko masuk mode siaga. Tidak biasanya Tetsuya menelepon pada waktu-waktu seaneh ini. Dulu, saat pertama kali mulai menempati petak apartemennya sendiri, Tetsuya memang sering menelepon Keiko tanpa maksud jelas. Biasanya Tetsuya akan memberikan alasan kalau ia tidak dapat memejamkan mata karena kangen pada Sang Ibu.
/"Kau sakit? Di mana kau sekarang? Bisa menghubungi Imayoshi-san, manajermu? Atau biar aku yang melakukannya..."/
Tetsuya tersenyum samar mendengar itu. "Ibu, aku tidak apa-apa, aku tidak sedang sakit atau apa..." jeda sejenak sebelum dilanjutkan. "... aku hanya rindu mendengar suaramu."
Napas lega dihela, tubuh Keiko bersandar pada kepala ranjang.
/"Tidak biasanya Tetsu-kun menelepon selarut ini, ah—dulu pernah... waktu awal-awal belum terbiasa tinggal sendiri di Tokyo..."/
Tetsuya jadi merasa malu mengingat itu. Sejak kecil, hanya Keiko satu-satunya yang menjadi tempat untuk mengadu. Sudah sebesar inipun ia masih tidak dapat menghilangkan kebiasaan bergantung pada ibu. Beliau seakan sudah sangat hapal dengan gestur atau nada bicara Tetsuya yang berhubungan dengan suasana hatinya. Kapan Tetsuya merasa senang, kapan ia sedih, atau sedang merasa tidak ingin diganggu. Jadi, mendapati anak semata wayangnya membuat panggilan lewat dini hari semacam ini, Keiko jadi merasa Tetsuya tengah menyembunyikan sesuatu.
/"Apa Ogiwara-kun belum pulang? Padahal Tetsu-kun baru bercerita mengenai kedatangannya kemarin, dan kau sudah rindu pada suaraku? Ah, ibu terharu."/
Tetsuya tergelak pelan. Walau diucapkan dengan sangat datar, tapi Keiko malah membuat kalimat tadi terdengar lucu.
"Besok dia sudah harus kembali, bu. Shigehiro-kun sudah membeli tiket penerbangan paling pagi menuju Hokkaido. Kami baru pulang berkeliling, dan ia kini tidur seperti bayi setelah makan dua mangkuk ramen dan tiga porsi gyoza."
Di seberang telepon, Keiko gantian tertawa. Anak tetangga, teman kecil Tetsuya itu memang pribadi periang. Ia sangat bersyukur Tetsuya memiliki sahabat seperti Ogiwara. Walau lama tidak bertemu, tapi setidaknya mereka masih berhubungan baik.
/"Ada lagi?"/
Hati Tetsuya berdenyut nyeri mendengar pertanyaan Keiko. Ibunya sudah mengetahui jika ia menyembunyikan sesuatu.
"Huum..." mata Tetsuya mendadak panas ketika mengingat peristiwa tadi pagi.
/"Tidak apa-apa, Ibu mendengarkan..."/
Dada Tetsuya sesak, bibirnya mengerucut menolak bicara. "Ini sangat buruk, bu."
/"Hmm, apa ini berhubungan dengan pekerjaan?"/
Tetsuya berguling ke samping, meremat ujung bantal empuk yang menjadi alas kepala.
"Bukan." Ia memikirkan sebuah kalimat yang mungkin terdengar cukup wajar. "Tapi ini soal... hati?" Tetsuya bahkan melontarkan pertanyaan untuk diri sendiri karena tidak yakin dengan jawaban apa yang akan ia berikan pada Keiko.
Diam sejenak. Cukup lama, sampai Tetsuya mengira jika ibunya itu kembali tidur seraya menggenggam ponsel.
/"Eeh? Tetsu-kun sudah punya kekasih?"/
"Bukan, bu... Kenapa ibu terdengar heran sekali? Memangnya tidak boleh jika aku punya kekasih?"
/"Hanya merasa kaget. Kukira Tetsu-kun akan fokus pada pekerjaan, dan tidak tertarik pada hal-hal semacam itu... Jadi, siapa orang ini?"/
Sejak dulu, Keiko tidak pernah mendengar Tetsuya bicara tentang hal-hal semacam rasa suka atau ketertarikan berlebih pada orang lain. Keiko sempat khawatir jika suatu saat nanti Tetsuya mengalaminya, maka ia akan merasa bingung dan kesulitan. Dan sekarang, anak itu mengatakan bahwa ia mengalami masalah dengan 'hati', well... ini sungguh di luar dugaan.
Menarik napas dalam-dalam, Tetsuya berucap pelan. "Dia sangat baik." Kejadian tadi pagi otomatis berputar tanpa diminta. "Dan aku sudah menyakitinya, bu... Aku harus bagaimana?" Tetsuya berbisik nyaris tidak terdengar. "Dia mengatakan cinta, tapi aku mengatakan tidak. Aku menolak tawarannya..."
Ini adalah pengalaman pertama bagi Tetsuya untuk jatuh hati. Dan jujur saja, ia kebingungan harus berbuat apa. Tetsuya mengaku bahwa ada sesuatu yang menariknya mendekat pada Seijuuro sejak awal pertemuan mereka. Dan saat kerangka hubungan mereka mulai membentuk, tiba-tiba saja Tetsuya menghancurkannya hanya karena ego dan rasa tidak percaya.
Tetsuya merasa buruk. Ia adalah orang paling jahat di dunia.
Keiko tersenyum setelah mendengarkan cerita Sang Anak.
/"Tetsu-kun tidak bersalah. Mungkin iya, tapi itu karena kau belum paham akan perasaanmu sendiri. Katakan..., apa Tetsu-kun sungguh-sungguh saat mengatakan hal tadi? Bahwa kau tidak memiliki perasaan apapun pada orang ini?"/
Jeda lama.
Sekarang gantian Keiko yang mengira jika Tetsuya tertidur karena tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Tidak."
/"Nah, mulai sekarang, Tetsu-kun harus lebih jujur pada diri sendiri. Ibu tahu jika ini pengalaman pertama bagimu, tapi... Tetsu-kun sudah dewasa, kau sudah bisa memilah mana yang benar dan mana yang salah. Kalau Tetsu-kun tidak jujur pada diri sendiri, bukan hanya menyakiti orang lain, kau otomatis sudah menyakiti dirimu juga."/
"Ibu benar."
/"Dan jangan sampai hal ini mempengaruhi keseimbangan hidupmu. Selesaikan apapun itu masalah yang sudah kau buat, minta maaf kalau kau bersalah, dan jangan diulangi. Tetsu-kun janji?"/
Sebuah 'oke' pelan sungguh-sungguh diucapkan. Beban di hati sedikit terangkat setelah sesi konsultasi bersama Sang Ibu dijalani.
/"Kalau begitu, sekarang kembalilah tidur. Kau pasti lelah."/
Tetsuya menatap rindu pada dinding kamar yang dingin. "Aku sayang ibu."
/"Ibu juga. Kalau sempat, pulanglah saat malam natal nanti... Sampaikan salam ibu untuk Ogiwara-kun"./
"Hu-um. Terima kasih, bu. Selamat malam."
/"Selamat malam, Tetsu-kun. Mimpilah yang indah..."/
.
"Tetsuya, aku bisa saja menghajar orang itu sampai babak belur! Katakan di mana ia tinggal, aku gatal ingin memberinya satu kepalan maut... Dan hei, apa itu alasan bahwa kau sakit perut sampai menangis segala! Sangat tak masuk akal, tahu! Kau kira aku seperti dulu, mudah kau perdaya!" Ogiwara berkacak pinggang, ransel siap di pundak. Sebentar lagi ia mesti masuk boarding room bersama para penumpang lain.
"Maafkan aku, Shigehiro-kun. Tapi, sungguh... aku sudah tidak apa-apa." Senyum disungging, isyarat agar Ogiwara tidak usah khawatir pada dirinya. Kelebatan kisah tentang Ogiwara 'Si Pahlawan Kesiangan' bagi Tetsuya, melintas lagi dalam ingatan.
Mereka kini bukan anak-anak, tapi Tetsuya tidak bisa membohongi diri, kalau ia rindu pada masa kecil mereka dulu. Dan baginya, pertemuan mereka kemarin hanya terasa bagai sekedipan mata.
"Awas, kalau kau sampai menangis lagi!"
"Tidak akan."
Pelukan bertukar, Ogiwara lalu menepuk kepala Tetsuya sekali.
"Jaga dirimu." Wajahnya berubah serius. "Atau temukan orang lain yang akan menjagamu untuk menggantikanku..."
Tetsuya tidak menjawab, poni rapi langsung diacak gemas oleh jemari hangat Ogiwara.
"Ya sudah! Ini sama seperti lima tahun lalu. Aku tidak akan mengatakan selamat tinggal, tapi 'sampai jumpa' lagi Tetsuya!" kaki Ogiwara melangkah mundur, tangan terangkat untuk melambai penuh semangat.
Angguk mantap diberi, Tetsuya melambaikan tangan sebelum sosok Ogiwara berbalik pergi. "Hati-hati, Shigehiro-kun." Katanya dengan suara keras. "Dan sampai jumpa lagi..."
.
Dering ponsel kembali diabaikan, sosok dalam selimut memilih untuk mengubah posisi menjadi tengkurap di atas ranjang besar. Sudah sejak dua jam lalu ia terjaga. Diam menatapi langit-langit kamar dengan pikiran bak benang kusut, dan ia sadar bahwa hari masih belum mau beranjak menuju pagi.
Dua jam kemudian, dan Seijuuro masih melakukan hal sama.
Tangan kiri merogoh ke bawah bantal, menatap nama Masaomi tertera pada benderang layar ponsel sebagai penelepon terakhir, barusan.
Wajah ditutupi sebelah lengan, Seijuuro menghela napas panjang.
Semalam ia menghabiskan ujung hari di bar langganan. Membiarkan pikiran kacau—dan rasa kecewa dibakar habis oleh teguk demi teguk alkohol dalam shot-glass. Hampir ia membuat dirinya bak orang bodoh di sana, jika saja larangan bartender untuk berhenti tidak ia terima. Atas saran seorang staff, ia membiarkan dirinya diantar taksi, sementara mobil di parkiran akan diantar menuju alamatnya keesokan hari.
Memalukan.
Seumur hidup, Seijuuro belum pernah berbuat se-absurd ini.
Hanya karena sebuah penolakan, dan ia tiba-tiba bagai separuh binasa.
Ck, Kuroko Tetsuya, kau memang sungguh luar biasa.
Seijuuro coba bangkit dari posisinya semula dan mendadak didera gelombang hang-over sisa semalam. Ia terhuyung, tubuhnya limbung sejenak lalu memilih untuk bersandar pada kepala ranjang. Seijuuro butuh segelas air dan dua butir aspirin, namun ia tidak punya tenaga untuk menjangkau mereka semua.
Sial.
Getar halus dari ponsel di genggaman sedikit mengejutkan. Nama ayahnya kembali muncul di tampilan layar depan. Meski enggan, ia terpaksa menerima panggilan.
"Ya, ayah. Aku ada di apartemenku." Wajah diusap setengah frustasi. "Maaf, sejak kemarin ponselku dalam mode diam. Tadinya aku berniat untuk mengabarimu," ia menyeka helai-helai merah ke belakang. "... bahwa aku tidak bisa pulang ke mansion... Tapi aku lupa." selimut hangat disibak, pakaian kemarin masih menempel kusut membalut tubuh. "Aku mengerti." Tiga kancing teratas kemeja hitam dibuka lambat-lambat, pandangan masih kosong ke depan.
Setelah jeda lama di antara mereka, tangan kiri Seijuuro mengusap tengkuknya ragu. "Ayah," ia berujar datar tidak berniat, namun sudah kepalang, ia membulatkan tekat. "... masih adakah anak dari kolegamu yang belum kau kenalkan padaku?"
.
Ryota baru bertemu Tetsuya pada Selasa siang, saat akan membeli camilan di kafetaria gedung agensi. Akhir-akhir ini nafsu makan Ryota mendadak naik, dan ia jadi sering menyetok makanan ringan di manapun ia berada. Omelan panjang Sang Manajer sudah siap diterima kedua telinga, andaikan saja Ryota tertangkap basah kedapatan tengah mengudap secara diam-diam. Ia sadar, jika dalam sebulan terakhir, bobot tubuhnya meningkat cukup signifikan—dasar angka-angka timbangan pengkhianat, huh! Tapi biarkanlah, setelah ini ia akan diet ketat jika diperlukan.
Ryota tersenyum, pemuda mungil itu duduk sendiri di meja paling sudut kafetaria, tepat menghadap kaca jendela yang memberikan pemandangan kelabu di luar ruangan.
Maka, setelah ia membawa nampan berisi dua potong roti kismis, sebuah curry-bun, sepotong cinnamon roll, dan gelas karton yang menampung moka panas, Ryota bergegas menghampiri meja Tetsuya.
"Kuroko-cchi!"
Yang terpanggil menoleh lambat. Senyum lebar Ryota hanya dibalas seulas garis tipis di wajah sebagai tanda menanggapi kehadiran Si Pirang.
"Hampir seminggu tidak bertemu, aku kangen-ssu!" bahu kecil diraih tangan lain yang tidak membawa nampan, Ryota menggosokkan pelipisnya berulang kali pada sisi kepala Tetsuya.
Meski sudah menikah, sikap Ryota ternyata masih saja sama. "Tolong hentikan. Nampan Kise-kun nanti bisa terbalik." Dan Tetsuya masih memanggil Ryota dengan sapaan lama, karena telah terbiasa.
"Hehehe, maaf-ssu! Kau sudah selesai dengan jadwalmu, atau baru datang kemari?"
"Baru datang."
Ia ambil duduk di hadapan Tetsuya, menatap sebentar pada bungkus melon-pan milik Si pemuda bermarga Kuroko yang masih menyisakan setengah isinya. Hei, kenapa Ryota merasa jika Tetsuya sedikit berbeda dari ia yang biasa? Tetsuya jauh lebih pendiam—oke, bocah satu ini memang tidak banyak bicara—daripada hari-hari kemarin. Ada apa juga dengan wajah lesu dan kantung hitam di bawah mata itu? Ah, Ryota jadi teringat misi Seijuuro di Sabtu lalu, bagaimana ya hasilnya? Ia penasaran.
Seraya melahap potongan roti kismis, Ryota berdeham untuk basa-basi.
"Hei, Kuroko-cchi." Ujarnya hati-hati. "Kau tahu..., um... Akashi-cchi berulangtahun tanggal 20 di bulan ini, lho..."
Ryota tidak siap ketika ekspresi wajah Tetsuya berubah drastis dari perkiraan. Ia terlihat terkejut, namun dengan pandai menyembunyikan semua di balik raut datar tanpa ketertarikan.
"Oh. Itu bagus."
Suaranya pelan, terdengar sedikit gemetar. Tapi Ryota bisa menangkap nada getir penuh penyesalan di sana.
Ada apa ini? Ryota tidak berharap mendapat respon macam begini dari Tetsuya. Bukankah seharusnya dia—mereka bersikap bahagia? Apa pada Sabtu kemarin Seijuuro telah melakukan sesuatu? Yang buruk? Oh, Ryota hapal benar dengan perangai sahabatnya satu itu...
"Hei, ada apa Kuroko-cchi...?"
Tetsuya menggeleng, namun wajahnya mengatakan hal berbeda: bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
"Apa telah terjadi sesuatu-ssu? Kuroko-cchi terlihat sedih..." Ryota berbisik tidak suka. "Jangan bilang kalau Akashi-cchi yang melakukan ini-ssu. Aku tahu kalau Sabtu kemarin dia berniat datang untuk menemuimu, katakan... apa dia menyakitimu?"
Gelengan diberi lagi, Tetsuya menggigit bibir bawah dengan ekspresi penuh rasa bersalah. Berbisik nyaris tak terdengar, mulut Tetsuya terbata merangkai kalimat. "Kalau mengingat itu..., lebih baik... Kise-kun tidak usah menyebut namanya di hadapanku."
Dahi Ryota berkerut dengan alis-alis hampir menyatu saking herannya mendengar ucapan depresi Tetsuya. Oh, tidak. Jangan katakan kalau hal yang ia takuti benar-benar telah terjadi.
Mata biru Tetsuya meredup, tatapannya begitu serupa dengan pemandangan langit menghitam di luar sana.
Melihat itu, selera makan Ryota mendadak hilang—beruntung ia sudah menghabiskan hampir separuh isi nampan di hadapan. Tidak bisa dibiarkan, Si Setan merah itu benar-benar...
"... bukan dia."
Ucapan pelan Tetsuya membuyarkan berbagai macam skenario jahat yang tercipta dalam otak Ryota demi meminta penjelasan langsung pada Seijuuro.
"Dia tidak bersalah, Kise-kun." Tetsuya mencoba tersenyum, namun sama sekali tidak terbias di kedua mata. "Katakan, apakah aku masih bisa memperbaiki ini?"
Mulut Ryota membuka, ia sungguh tidak siap mendengar kalimat terakhir meluncur keluar dari mulut Tetsuya. Kenapa Tetsuya sampai berkata seperti itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi di antara mereka?
Duh, Ryota sama sekali tidak mengerti-ssu!
.
.
Hidung Tetsuya memerah, setiap embusan napas menciptakan kumpulan uap tipis beku di udara. Walau kedua tangan sudah masuk saku jaket tebal ber-hoodie, Tetsuya tetap mencari kehangatan lain lewat timbunan syal abu-abu yang membelit di leher. Belum turun salju, dan Tetsuya bagai ikan kaku dalam lemari pembeku.
Setelah mobilnya aman terkunci, Taiga bergegas menyusul langkah Tetsuya menyusuri paving block di sepanjang pusat belanja Ginza—yang ternyata malah ramai, walau Jumat sore ini udaranya terbilang lebih dingin dari biasa. Mungkin karena sebentar lagi menjelang natal dan tahun baru, orang-orang sibuk mencari hadiah atau pernak-pernik penunjang pesta.
"Maaf karena membuatmu harus menemaniku ke sini, Kuroko..." Taiga merapatkan jaket, tidak mengizinkan tiupan angin bulan Desember menyusup masuk lewat celah-celahnya.
"Bukan hal yang besar, Kagami-kun. Aku bisa sekaligus mencari hadiah untuk ibuku." Mata Tetsuya sibuk mengamati keadaan di sekeliling, pada terang neon dan display brand-brand ternama di etalase kaca. "Meski begitu, Kagami-kun harus tetap menepati janji untuk mentraktirku setelah ini..." walau diucapkan tanpa emosi, tapi Taiga bisa menangkap maksud mengancam dari balik kalimat Tetsuya.
"Tenang saja. Aku pegang janji..." Taiga mengibaskan tangan berbalut glove dari rajutan wol hangat tanpa beban. "By the way, kau pulang ke rumah saat natal nanti?"
Tetsuya angkat bahu. "Semoga saja bisa. Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu ibu secara langsung. Aku rindu makan masakan rumah."
Taiga terkekeh mendengar nada putus asa dari pemuda di sebelahnya. "Akupun sama."
Mereka berbelok sebentar, lalu berjalan memasuki pintu kaca ganda mall. Setelah menaiki lift menuju lantai tiga, Taiga memandu Tetsuya memasuki sebuah toko perhiasan terkemuka yang memiliki gerai cabang di gedung ini.
"Barangnya sudah kupesan, hanya tinggal membayar saja." Ia menyahuti sapaan ramah petugas keamanan toko, lalu menuju salah seorang pramuniaga di sana. "Kalau kau ingin melihat-lihat, silakan, mungkin saja ada sesuatu yang menarik perhatianmu..." ujarnya pada Tetsuya.
Tak menjawab, Tetsuya memisahkan diri dari Taiga yang kini tengah bercengkrama dengan pramuniaga toko. Ia melihat-lihat display perhiasan dengan berbagai bentuk dan jenis, tentunya mereka semua berharga di atas puluhan juta. Ah, mungkin setelah tabungannya cukup nanti, Tetsuya bakal membelikan sepasang anting-anting atau seuntai kalung berhias batu mulia untuk Keiko. Untuk sekarang, ia punya niat lain dengan uang hasil kerja kerasnya selama di Tokyo. Yang pasti, semua itu akan Tetsuya gunakan demi kepentingan Sang Ibu.
Sedang asyik melihat-lihat, Tetsuya dikejutkan oleh kelebat dua sosok pria muda dari balik sekat kaca yang memisahkannya dengan area luar toko.
Entah takdir sekarang ini sedang senang mempermainkannya—atau garis kehidupan mereka memang sudah ditulis untuk saling bersinggungan—sampai-sampai hari ini Tetsuya mesti berselisih jalan dengan orang yang paling tidak ingin ia temui belakangan.
Meski berbaur di antara keramaian, bagaimana bisa Tetsuya melupakan warna merah brilian yang sudah mengakar dalam benak? Tidak juga pada refleksi rasa sakit sewaktu mata mereka terakhir bertatap.
/Aku berbohong saat itu./
Kalimat tadi tercekat di kerongkongan, mencekik Tetsuya layaknya sulur-sulur hidup merambat. Meski sekilas, terpaan rindu berbalut perasaan bersalah membuatnya malah betah berlama-lama menatap kepergian mereka dalam diam.
"Oi, Kuroko!"
Seruan Taiga membuat Tetsuya sejenak mengalihkan pandang, dan ketika ia melihat lagi ke luar, objek pengamatannya sudah menghilang di antara orang-orang yang berlalu lalang.
"Kenapa? Kau seperti baru melihat hantu..." Taiga ikut mengamati keadaan di luar lewat sekat kaca, namun segera mengganti topik pembicaraan. "Ada yang membuatmu tertarik? Masih mau melihat-lihat atau bagaimana? Aku sudah dapat barangnya..." tas karton berukuran kecil dimasukkan dalam postman bag yang tersampir di bahu.
Tetsuya menggeleng. Ini bahkan lebih parah daripada melihat hantu. Entah delusi atau apa, ia menganggap kalau hal tadi adalah salah satu dari sekian banyak fase dalam menjalani kesalahpahaman dan penyesalan yang menyisa. "Kukira aku melihat seseorang yang kukenal tadi..." sahutnya cepat.
"Oh." Taiga tidak banyak bertanya. Kelakuan Tetsuya sudah cukup aneh beberapa hari kemarin, jadi ia memilih untuk diam saja. "Mau mengambil jatah traktiranmu sekarang?" Taiga berharap tawarannya sanggup menaikkan mood Tetsuya. "Sushi? Ramen? Burger? Kau pilih saja menu favoritmu..."
"Kalau boleh aku sedang ingin menu hot-pot, Kagami-kun..."
Mata Taiga berbinar senang. "Aha! Bagaimana kalau Sukiyaki?"
"Deal."
Taiga merangkul bahu mungil Tetsuya, lalu menyeretnya menjauhi lokasi gerai perhiasan tempat ia berbelanja barusan.
.
Seijuuro berhenti melangkah, lalu menoleh ke belakang. Mungkin hanya perasaannya saja, karena mendadak ia seperti sedang diperhatikan.
"Akashi-san? Ada apa?"
Seijuuro menatap orang yang berdiri di sebelahnya. "Ah, tidak." Ia mengulas segaris senyum, dan memberi gestur agar mereka melanjutkan lagi perjalanan yang tertunda.
Pemuda mungil bernama Rin dengan rambut pirang itu membalas senyum Seijuuro. "Wajah Akashi-san seperti baru melihat hantu..." ia terkekeh pelan.
Walau karakter Sang pemuda manis—anak kedua dari seorang pengusaha percetakan di kawasan Setagaya, kenalan Masaomi itu—hampir memenuhi kriteria, nyatanya pikiran Seijuuro malah terfokus pada hal lain.
"Mungkin." Seijuuro menggumam. Baru seminggu putus kontak, dan ia mulai diserang penampakan Tetsuya di sana-sini. Jangan bilang kalau Seijuuro kini terkena sindrom 'tidak mau kehilangan' alias masih tidak dapat menerima kenyataan bahwa Tetsuya sudah menolak mentah-mentah tawarannya.
(Karena hati kecil Seijuuro tetap saja masih kuat menyangkal. Apalagi ini menyangkut satu urusan yang bernama cinta. Ia tidak mau dikalahkan. Ia tidak menerima penolakan—namun anehnya itu semua tidak berlaku bagi sosok bernama Tetsuya. Seijuuro sungguh tidak sanggup memaksakan kehendak padanya.)
"Ah! Mungkin Akashi-san hanya lapar... Setelah menemaniku mencari hadiah untuk ayah, kurasa ini saatnya aku membalas budi..."
Dan Seijuuro hanya diam mengikuti, kemana langkah kakinya dipandu pergi.
.
Mungkin saja mitos tentang benang merah yang mengikat takdir itu memang benar adanya. Karena, meski telah memutuskan untuk tidak lagi mencampuri kehidupan masing-masing— dengan dalih tidak ingin membuat pihak lain semakin terluka—mereka malah dipertemukan dalam kesempatan yang sama sekali tak pernah mereka prediksi sebelumnya.
Seperti sekarang ini...
"Eh, Akashi-san?"
Jantung Tetsuya nyaris melompat dari rongga dada, matanya membelalak terkejut, ketika mendengar Taiga menyapa dua pria muda yang berniat memasuki ambang pintu restoran bersamaan dengan mereka. Kaget? Tentu saja. Apa yang ia lihat tadi, ternyata bukan ilusi.
Seijuuro ada di sini, berpijak pada satu tempat yang sama dengan Tetsuya.
Dan kini, dia berdiri bersisian dengan orang lain.
Dan juga mereka terlihat begitu serasi.
(Apa Seijuuro semudah itu melupakan Tetsuya? Kalau iya, berarti kata-kata Daiki bukan sekedar omongan belaka. Bahwa Seijuuro memang memiliki hobi bermain-main dengan cinta.)
Yang disapa hanya menatap datar—seakan-akan tidak tertarik, walau kilatan terkejut jelas-jelas melintas di kedua mata.
Berbalut mantel hitam trendi, helai-helai sepekat peoni merah itu telah dipangkas rapi hingga penampilan Seijuuro semakin jauh memikat hati. Kadar maskulinitas Seijuuro naik tingkat dengan gaya rambut baru, membuat orang lain tidak henti mencuri pandang dengan malu-malu, atau bahkan ada yang tak tahu malu.
(Kalau terus begini, bagaimana bisa Tetsuya melupakan sosok yang sudah ia sakiti? Ini sama saja dengan bunuh diri!)
"Ah. Selamat sore, Kagami-san, Kuroko-san..." Kalimat dingin itu meluncur dari mulut Seijuuro layaknya bongkahan es. Ia memanggil Tetsuya dengan sapaan lama, seakan-akan mereka kembali menjadi dua orang asing setelah insiden minggu lalu terjadi.
Jahat sekali.
"..."
Tengkuknya berkeringat dingin, Tetsuya mengalami serangan gugup mendadak dan memilih untuk menghindar lagi dari tatap tanpa emosi milik Seijuuro. Bibir bawah terjepit deretan gigi, ia tidak peduli jika jaringan lembutnya robek hingga menerbitkan gumpalan merah darah di sana.
Fokus, Tetsuya! Fokus!
Taiga sempat melongo mendapati atmosfer aneh yang melingkupi. Bukankah mereka sudah akrab? Lalu kenapa suasananya mendadak bagai orang yang baru kali pertama bertemu, sih? Berbagai pertanyaan berkelebat dalam otak Taiga, namun ia tidak sanggup berkata-kata.
Tidak tahan diam saja, pemuda pirang di sebelah Seijuuro ikutan bicara. "Eeh? Mereka kenalan Akashi-san?" Rin menatap tertarik pada Taiga juga Tetsuya. "Aku merasa seperti pernah melihat mereka, tapi di mana ya...?"
Taiga berdeham untuk melepas kecanggungan, karena Seijuuro terlihat tidak berniat untuk mengenalkan mereka pada rekannya. "Ah, kami..."
"Mereka orang-orang yang sangat sibuk," Seijuuro menyaksikan bagaimana tubuh mungil Tetsuya berjengit sewaktu mendengar ucapannya. "... bahkan mungkin tanpa waktu luang." Pemuda berambut biru itu semakin merapatkan diri mendekati Taiga, seperti berusaha mencari perlindungan dari amukan badai yang siap menghadang di depan mata.
Rin menelengkan kepala tidak mengerti. Begitu juga Taiga.
Seijuuro ini sedang bicara apa sebenarnya?!
"Bukan begitu, Kuroko-san...? Kau berkata bahwa pekerjaanmu sangat menyita waktu," ia berhenti untuk memandang Taiga dan Tetsuya dengan wajah dingin. "... tapi tidak kusangka kau memilikinya jika bersama orang lain."
Kalimat tajam itu bagai pecahan kaca menggores nadi, Tetsuya serasa ditampar oleh kenyataan bahwa Seijuuro membahas kembali kejadian yang sudah lalu. Saat di mana ia coba menghindari Seijuuro hanya karena perkataan milik Daiki. Tetsuya tahu kalau ia salah, oleh karena itu ia cuma bisa berharap jika Seijuuro tidak menghukumnya seperti ini.
Hati Tetsuya sakit. Ucapan Seijuuro seakan membuatnya terpojok tanpa sanggup membela diri. Kedua matanya memanas hendak berkhianat, ia heran kenapa mendadak bisa serapuh ini di hadapan orang lain.
"Kenapa, Kuroko-san? Bukankah aku benar?" Seijuuro bertanya lagi. Ia berubah geram saat melihat Tetsuya malah menggenggam lengan jaket Taiga, seraya berbisik lemah.
"... pergi, Kagami-kun..."
Seijuuro tidak suka melihat ini. Yang seharusnya melindungi Tetsuya adalah dirinya! Kenapa pemuda itu malah ketakutan saat ia melihat Seijuuro? Kenapa ia malah menghindar?
(Hei, bukankah saat ini kau sendiri yang tengah menyakiti Tetsuya, wahai tuan muda?)
Tapi ia terlalu buta untuk menyadari itu semua. Buta karena rasa bernama cemburu keburu menggerogotinya dari dalam. Menggerus akal sehat, membuatnya jadi terlihat buruk di mata Tetsuya.
"Jawab aku, Kuroko-san."
"Kagami-kun..." lengan jaket ditarik putus asa, begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Bawa aku pergi..."
"Tetsuya!"
"Kumohon, Kagami-kun! Bawa aku pergi dari sini!"
Taiga tersentak begitu mendengar jerit tertahan Tetsuya. Ia mengangguk lalu membawa Tetsuya—yang masih menggenggam erat lengan jaketnya—menjauh dari Seijuuro maupun Rin. Taiga melempar tatap waspada begitu ia melewati Seijuuro seakan berkata: jika kau berniat menyakiti Tetsuya lagi, aku bersumpah demi seluruh koleksi Iron Man-ku, aku tidak akan memaafkanmu.
Mereka berlalu secepat angin. Meninggalkan Tetsuya dan Rin, dengan pandangan heran orang-orang di sekitar.
"Akashi... san?"
Kedua mata sewarna rubi menatap kosong pada tempat di mana Tetsuya terakhir berdiri. Seijuuro memejamkan keduanya lambat sembari menghela napas frustasi. Rahangnya terkatup rapat, menahan diri untuk tidak mengeluarkan sumpah serapah di ruang publik.
"Maaf, Yamato-san." Ia menatap tidak berdaya pada Rin di sampingnya. "Kurasa aku akan mengantarmu pulang lebih awal."
Rin terdiam sebentar, namun ia mengangguk cepat walau tidak mengerti permasalahan apa yang sebenarnya telah terjadi di antara mereka. Ia anak penurut dan bukan tipe orang yang suka ikut campur. Tapi ia berharap jika Seijuuro berhenti memasang tatap bak orang terluka itu di matanya. Rin hanya ingin semua orang merasa bahagia, termasuk Seijuuro.
.
"Sial..." Seijuuro memukul setir dengan gusar. Setelah mengantar Rin pulang, ia merenung lama dalam mobil di area parkir. Ia merutuki kebodohannya sewaktu menghadapi Tetsuya tadi.
Menyesal sekarangpun sudah terlambat.
Ia tidak termaafkan.
Kenapa juga ia harus membalas perbuatan Tetsuya tempo lalu dengan tindakan semacam itu! Apa Seijuuro tidak melihat ketika mata biru itu mulai mengeruh dan semakin menampakkan luka?
Seijuuro menyadari semua, tapi tindakan impulsifnya muncul tiba-tiba sewaktu melihat Tetsuya berdampingan dengan Taiga. Ia cemburu, ia posesif, ia bodoh, karena masih berbuat begitu walau jelas-jelas Tetsuya sudah menolaknya.
Memang Seijuuro punya hak apa?!
Mereka kini dua orang berbeda.
Dan kini semua habislah sudah.
Melenguh pelan, Seijuuro mulai mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran gedung apartemen keluarga Rin dengan pikiran berkabut.
Ia salah jika berpikir dapat menggantikan Tetsuya dengan orang lain.
Tidak. Seijuuro tahu bahwa Tetsuya tidak dapat terganti.
Bagaimana bisa ia melupakan tatap teduh setara malaikat biru itu? Atau pada raga mereka yang terasa saling melengkapi satu sama lain bagaikan kepingan puzzle?
Seijuuro terkekeh miris. Kini semua sudah berakhir, dan ia tahu bahwa detik demi detik akan menghapus nama Kuroko Tetsuya dari garis hidupnya.
Che. Jangan cengeng, seorang Akashi bukanlah manusia lemah. Meski harus kembali seperti dulu, asal tidak menyakiti orang yang ia sayangi, Seijuuro berpikir bahwa ia akan baik-baik saja.
Selamat tinggal komitmen. Selamat tinggal hidup bahagia selamanya.
Walau baru sebentar mengenal Tetsuya, Seijuuro merasa ia telah mendapat anugrah yang sungguh luar biasa.
Seijuuro begitu larut dalam pemikiran, sampai-sampai tidak menyadari mobilnya sudah memasuki jalan utama yang padat kendaraan saat weekend.
Atau tidak sadar saat sebuah minivan putih bergerak tidak konstan dari arah berlawanan dengan decit ban yang menyakiti pendengaran.
Jarak mereka terlalu dekat saat minivan itu mengalami pecah ban.
Sungguh, di saat seperti ini?
.
Tetsuya membiarkan empuk kasur menahan lemparan bobot tubuh. Ia lalu berguling ke samping, menghirup aroma segar sabun cuci aroma bunga dari serat-serat katun putih.
Setelah diantar pulang Taiga, ia banyak merenungi kejadian hari ini.
Tidak apa Tetsuya.
Anggap ini adalah hukuman atas dosamu terhadap Seijuuro waktu itu.
Ia tidak menangis, walau sempat merasakan basah di sudut-sudut matanya tadi. Taiga cukup ahli menenangkan Tetsuya, dan ia menghormatinya dengan tidak banyak bertanya.
Padahal tadi Tetsuya berniat meminta maaf atas kejadian tempo lalu, meski ia sempat kecewa melihat Seijuuro begitu cepat melupakannya dan memilih untuk berdampingan bersama orang lain.
Tapi hal tidak terduga malah terjadi.
Tetsuya menerima, jika Seijuuro sampai semarah itu padanya.
Ia telah berbohong, dan kini balasan yang setimpal sudah ia dapat.
Tetsuya hanya berharap jika Seijuuro tidak selamanya memiliki persepsi seperti itu terhadap dirinya.
(Karena sekali lagi, ini hanyalah sebuah kesalahpahaman belaka.)
Ia merenung lama seraya menatapi langit-langit kamar.
Begitu lama hingga kedua matanya mulai terpejam perlahan. Tetsuya nyaris tertidur sewaktu ponsel di atas meja berdering nyaring memecah sunyi. Ia menjulurkan tangan ke arah meja di samping ranjang, berniat meraih ponsel, namun malah menyenggol gelas berisi air di sebelahnya.
Bunyi 'praak!' keras langsung menyaingi dering ponsel.
Terkejut, ia buru-buru bangkit dan mendapati tumpahan air mineral meluber di atas parket kayu. Sebuah retakan panjang terlihat jelas pada salah satu sisi gelas.
Haa, baru ia ingin beristirahat, malah diberi pekerjaan lain untuk merapikan kekacauan barusan.
Ponselnya masih meraung seakan tidak sabar agar Tetsuya menerima panggilan. Sedikit heran, ia menatap nama Ryota tertera pada layar terang di genggaman.
"Kise-kun?"
Simbol hijau digeser, ia baru akan mengatakan 'halo' ketika suara putus asa Ryota menyerbu pendengaran.
"Kuroko-cchi! Aka-Akashi-cchi... dia mengalami kecelakaan-ssu! Paman Akashi baru saja mengabariku..."
Telapak tangan langsung mendingin, jantung Tetsuya seakan berhenti mengalirkan darah begitu ucapan gemetar Ryota merayapi gendang telinga.
"A-apa...?"
.
TBC
A/N: Ahay, apakah yang akan terjadi selanjutnya? *gunting melayang. Terimakasih pada yang sudah menyempatkan membaca atau memberi review *i loph you. Disarankan untuk denger lagu-lagu galau sewaktu baca—walau gak ngefek juga sih... Hahaha. *Mudah-mudahan ada yang asem-asem di chapter final... Hohoho... Sampai jumpa di chapter depan, en Ciao!
