My Silky Love

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto ( And this story is mine ^_^ )

Pairing : Uzumaki Naruto and Hyuuga Hinata

Rate : T ( Rate bisa berubah sewaktu-waktu )

.

[[ Warning = Gaje, Miss-Typo, Abal, Ngaco, DLL ]]

.

Notif :

-Uzumaki Naruto, 17 tahun.

-Hyuuga Hinata, 17 tahun.

-Uzumaki Menma, 22 tahun ( Kakak Naruto )

-Hyuuga Hanabi, 22 tahun ( Kakak Hinata )

.


Don't Like Don't Read

~Happy Reading Chapter 9 Minna~


"Demi tuhan, Naruto.."

.

"ishh"

Hanabi menghela nafas. Wanita Uzumaki ini memang belum mengenal adik iparnya lebih jauh lagi. Namun, seingatnya Menma tidak pernah mengatakan kalau si pirang adiknya senang berkelahi.

Siang ini, Naruto dan keluarga Anikinya tengah berada di ruang tengah. Naruto masa bodoh dengan apa yang kakaknya katakan. Huh, persetan dengan cacian kakaknya. Lagipula itu tidak akan mengubah apa yang telah terjadi padanya.

Hinata, gadis yang sedaritadi hanya diam sembari mengobati lebam di wajah Naruto, tak mampu mengatakan apapun. Ini bukan sepenuhnya kesalahan Naruto. Bagaimanapun, Hinata juga terlibat -Meskipun Naruto sendiri tidak mengait-ngaitkan namanya- perihal luka-luka yang ia dapatkan.

"Hinata."

Suara Kakak iparnya membuyarkan lamunan Hinata. Ia reflek mengangkat wajah dan tidak sengaja menambahkan sedikit tenaga lengannya di pipi lebam Naruto yang tengah ia obati-Hal ini otomatis membuat si empunya meringis. "G-Gomennasai."

"Sudahlah, Hinata. Kau tidak perlu mencemaskan si bodoh ini. Ia hanya meringis, aku yakin ia bahkan bisa bertahan meski ditikam Katana sekalipun." Cibir Menma. Hanabi menyikut perut suaminya agak keras. Kemudian, dengusan Naruto menyusul.

Merasa hanya dirinyalah yang masih berpikiran jernih, Hanabi menatap Naruto yang masih saja memasang wajah tak peduli. Hanabi memajukan kursi yang di dudukinya. "Jadi, Bisa kau jelaskan arti dari luka-luka yang kau dapatkan, Naruto?" Tanya Hanabi to the point.

Hening sesaat. Hinata melirik Naruto lama. Dirasa Naruto tidak akan menjawab pertanyaan yang diajukan Hanabi, Hinata lantas berinisiatif menjawabnya, "A-Ano.. Sebenarnya tadi s-saat Ak-" "-Kau tidak berhak menceritakannya, Hinata."

Naruto berdiri dari posisinya. Tak memerdulikan tatapan Hanabi, Menma, maupun Hinata. Lengan Tan milik Naruto meraih tasnya. Dan tanpa tendeng alih langsung melesat ke kamarnya. Ia bahkan tak mengindahkan bentakan Menma yang terus memanggil Namanya. Ayolah, Kenapa tidak ada yang mengerti? Yang Naruto butuhkan sekarang bukanlah orang untuk ia bagi masalahnya. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah sendirian. Ia ingin menjernihkan kembali pikirannya. Hari ini terlalu banyak hal yang terjadi padanya. Dan itu membuat Naruto muak.

Debaman keras dari pintu kamar Naruto adalah hal terakhir yang didengar Hinata. Gadis itu merasa hatinya perih. Naruto berlalu bahkan tanpa menatapnya.

"Ada apa dengan anak itu? Dia benar-benar bermasalah. Haruskah kuhubungi Kaa-chan dan Tou-chan soal dia? Gezz"

"Tenangkan dirimu, Menma."

Hinata masih mematung. Ia mencengkram dasi seragamnya kuat-kuat. Ini terlalu sakit. Sebenarnya apa yang terjadi pada Naruto? Ia pikir, Naruto akan kembali seperti sedia kala ketika pulang kerumah. Terlebih pemuda itu menciumnya. Tapi kenapa?

Padahal ciuman itu begitu berbeda untuk Hinata. Ciuman yang sensasinya berbeda dengan saat dimana Toneri menciumnya. Ada perasaan aneh yang bergemuruh di sudut hatinya ketika bibir Naruto bertemu dengan bibirnya.

Tapi kenapa justru Naruto bersikap dingin padanya tadi? Apa gara-gara ciuman itu? Apa itu berarti Naruto berpikir ciuman tadi itu tidak berarti apa-apa?

.

Dan tanpa sadar, Air matanyapun menetes.


.

"Ohayou, Hinata."

"..."

"Hinata?"

Hinata mengerjap. Ia lantas membenarkan posisi duduknya kemudian tersenyum ramah, "Ohayou, Ino."

Ino berjalan kearah bangkunya. Gadis Yamanaka itu meletakan tas, kemudian dengan gesit kembali ke bangku Hinata. Mengambil posisi duduk menghadap Hinata. "Hei, Ada apa dengan senyuman diwajahmu itu Hinata? Kau sedang ada masalah ya?" Seru Ino seraya menangkupkan wajahnya diatas meja.

Hinata terkesiap. Ia menggeleng cepat. Namun, sepertinya usaha Hinata tidak berefek apa-apa terhadap gadis Yamanaka didepannya. Bagi Ino, gelagat Hinata ketara sekali aneh dimatanya.

.

Bel masuk sudah berbunyi lima belas menit yang lalu. Namun, Kakashi-sensei masih belum menunjukan batang hidungnya dikelas pagi ini. Hinata menangkupkan wajahnya diatas meja. Pandangannya mengarah keluar jendela.

Namun sepertinya bukan hanya Kakashi-sensei yang terlambat memasuki kelas, Narutopun belum memasuki kelasnya sedari pagi. Hinata bertanya-tanya kemana si pirang itu pergi? Tadi pagipun, Naruto berangkat lebih dulu dengan alasan ada latihan pagi dengan tim basketnya.

"Ohayou, Maaf aku terlambat."

Suara Kakashi Hatake membuyarkan lamunan Hinata. Gadis dengan marga Hyuuga itu cepat-cepat membenahi posisi duduknya. Ia menoleh kekanan dan kekiri –guna mencari sosok Naruto yang sampai sekarang belum muncul dikelas. Hey, bagaimanapun, Hinata tentu khawatir. Naruto tak biasanya membolos.

Didetik yang sama dimana Kakashi-sensei akan mengabsen muridnya, riuh langkah kaki terdengar dari koridor, dan-

BRAK!

"Maaf aku terlambat, Senseiii!"

Kakashi menyenderkan tubuhnya di meja guru. Ia mengusap dagunya sekilas. "Tidak masalah Naruto. Aku baru saja akan mengabsen. Silahkan duduk di bangkumu." Seru sang sensei. Naruto menyunggingkan senyuman lebarnya. Ia mengusap keringat didahinya, lantas melangkah menuju bangku diujung sana.

Senyuman cerah sang Uzumaki masih nampak hingga iris Blue Ocean milik Naruto bersirobok dengan sepasang manik Lavender. Naruto menghentikan langkahnya. Ia menatap gadis dengan surai indigo itu dengan pandangan datar yang tidak bisa diartikan siapapun. Datar dan tanpa arti. Sunguh berbeda dengan tatapan hangat yang biasa ia bagi.

"Naruto, Ada apa?" Naruto menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya. Didapatinya kakashi-sensei tengah menatapnya bingung. Pemuda Uzumaki itupun kembali memamerkan senyum lebarnya. Kemudian menjawab, "Ahaha, tidak apa-apa."

Naruto memutar badannya. Irisnya bergerak liar kesana-kemari. "Aaa... Sakura-chan! Boleh aku duduk disebelahmu? Kumohonnn~" Ujar Naruto manja.

Sakura Haruno memandang sahabatnya dengan pandangan jijik. Nada bicara yang Naruto gunakan membuatnya bergidik ngeri. "Kenapa kau ingin pindah tempat duduk, Naruto?" Tanya Kakashi-sensei heran. Naruto menggaruk tengkuknya kaku. Memutar otak demi mendapatkan alasan yang tepat.

"S-sebenarnya aku mengidap miopi. Dan aku akan lebih konsentrasi belajar jika aku duduk didepan. Dengan Sakura-chan tentu saja."

Sakura ingin tertawa terbahak-bahak andai saja saat ini bukan sedang dalam keadaan belajar. Demi Tuhan, sejak kapan kata belajar ada dalam kamus seorang Naruto Uzumaki?

'Alasan yang tidak masuk akal. Shannaro!'

Kakashi mangut-mangut tanda ia mengerti. Tak mau ambil pusing, Guru dengan surai Silver itupun memperbolehkan si bungsu Uzumaki berpindah tempat duduk disebelah Sakura.

"Baiklah, kita mulai pelajarannya."

-Dan tentu saja, Kejadian ganjal tersebut tak luput dari pandangan seorang ino Yamanaka.

.


.

"Naruto menghindarimu. Katakan padaku kenapa hal ini bisa terjadi, Nona Hinata?"

Ketika kelas Kakashi-sensei telah usah, Ino Yamanaka menyeret Hinata ke taman belakang sekolah. Ino tak tahan lagi. Ia sudah gatal ingin menanyakan hal yang terjadi diantara Hinata dan Naruto hingga membuat keduanya berlagak seperti orang asing. Sikap keduanya yang saling menghindar dengan mudahnya ia sadari. Hey! Tentu saja! Aneh bukan ketika kau melihat Naruto Uzumaki tak ingin berdekatan dengan gadisnya–Hinata?

"..."

Ino menghela nafas. Hinata masih bungkam meskipun ia sudah menanyakan pertanyaan yang sama tiga kali berturut-turut. Gadis indigo itu menunduk dengan kedua tangan yang saling meremas diatas pangkuannya.

"Hinata, kau tahu kau tidak perlu menyimpan masalahmu seorang diri." Ujar Ino pasrah. Ia mengusap puncak kepala Hinata lembut. Gadis Yamanaka itu masih setia menunggu sahabatnya angkat suara. Hinata adalah sahabatnya. Tentu ia ingin meringankan masalah Hinata meski tak seberapa. Terlebih, Hinata adalah gadis yang masih lugu. Ia tak tega membiarkan sahabatnya menghadapi masalahnya sendiri.

Hingga lima menit kemudian-

"N-Naruto-kun melihat kami." Suara lirih yang menyerupai bisikan itu membuat Ino mengernyit heran. "Apa?"

Hinata Hyuuga menyenderkan kepalanya dibahu Ino. "Ia melihatku dan Toneri berciuman kemarin."

"Apa?!" Ino menjauhkan tubuhnya dari Hinata cepat. Irisnya melebar tak percaya. "Tunggu –maksudku, Kau apa?"

Hinata menegakan tubuhnya, kemudian menghela nafas, "Kau mendengarku, Ino."

Ino menutup mulutnya dengan kedua tangan, Raut keterkejutan jelas terlihat diwajahnya. "Ya Tuhan, Tidak heran Naruto jadi seperti ini."

Hinata kembali menghela nafas. Ia mengusap wajahnya. Menutup mata guna membuat emosinya tak terlalu meluap. Ino mengibaskan poninya pelan. "Naruto melihatmu bersama Toneri dan dia marah?"

Hinata menggeleng, "Tidak."

"Apa maksudmu?"

Hinata menyentuh bibirnya lembut. Pandangannya berubah sendu. "...Setelah.. Ia menciumku."

"APAAAA?!"

Ino mencengkram pundak Hinata. Ia menatap Hinata dengan tatapan tak percaya. Yang benar saja?! Hinata mendapatkan dua ciuman dari dua pemuda yang berbeda dalam sehari?! Terlebih pemuda yang menciumnya bukanlah pemuda sembarangan. Naruto adalah Ace basket kebanggaan Konoha High School dengan jutaan fangirls nya. Sedang Toneri Ootsutsuki adalah Senpai ningrat yang juga digilai para gadis. Oh, Hinata. Ingin rasanya Ino bertukar tempat denganmu~

"..."

"Hinata, Sungguh, Naruto benar-benar meciummu? Maksudku, kalian berciuman?!" Tanya Ino mendramatisir. Hinata membuang wajah kearah lain. Wajahnya sudah memerah total. "K-Kau tak perlu mengatakannya sejelas i-itu, I-Ino."

Ino memundurkan tubuhnya. Memberikan ruang pada Hinata untuk bernafas. Ino mengerang pasrah. "Lalu bagaimana dengan Toneri-senpai, Hinata?"

"Ketika Naruto-kun memergokiku dengan Toneri, Naruto-kun langsung menghajar Toneri habis-habisan."

Ino menepuk jidatnya. Masalah Hinata bahkan lebih rumit dari apa yang ia prediksikan. "Lalu bagaimana dengan Naruto?"

"Dia jadi pendiam begitu–" " –Tidak. Maksudku, bagaimana dengan perasaanmu pada Naruto sekarang ini, Hinata? Ayolah, kau bahkan tidak pernah terlihat sesedih ini, Hime.""

Hinata mengerjap, "Maksudmu?" Ino mendengus bosan. "Kau itu terlalu naif. Cobalah untuk lebih terbuka pada dirimu sendiri. Sudah jelas Naruto menyukaimu."

"!"

Blush~

Hinata berusaha menutupi kedua pipiya yang merona. Ia menggeser tubuhnya menjauhi Ino. Masih dengan gerakan kikuk, Hinata kembali bertanya, "A-Apa M-maksudmu I-Ino?"

Ino menoleh menatap Hinata. Kali ini air muka gadis Yamanaka itu berubah serius.

"Tidakkah kau sadar? Naruto menyukaimu, Hinata."

.


.

"Narutooo!"

Naruto yang tengah mendrible bola menghentikan gerakannya. Maniknya menatap bosan kearah Sakura dan Sasuke yang datang menghampirinya. "Ada apa? Kalian mau menggangguku latihan?"

Sakura mendengus kesal. "Sejak kapan kau bersikap dingin seperti ini, heh?" Naruto mengedikan bahunya, tak menjawab. Si Pirang itu kembali fokus memainkan bola berwarna orange itu. Sasuke melangkah santai mendekati Naruto. Dan-

Puk~

-Sasuke mengetukan botol air mineral di kepala pirang Naruto pelan. "Istirahatlah. Kau sudah berlatih lebih dari 3 jam. Dan, Seragammu juga sudah basah oleh keringatmu yang menjijikan itu."

Naruto terkekeh. Mengambil botol yang disodorkan Sasuke padanya. "Haha, Sangkyu, Teme. Pacarku ini perhatian sekali." Goda Naruto sembari mengerling nakal.

DUAK!

"Itttaaaiiiiiiii!" "Jangan bertingkah seperti itu pada Sasuke-kun, Shannaro!"

Naruto mngelus perutnya sambil meringis sakit. "Gh, Tendanganmu menyakitkan, Sakura-chan."

Sakura menggerutu kesal. Pipinya ia kembungkan lucu. Cha! Naruto bersumpah setelah ini ia tak akan pernah berani menggoda Sakura lagi. Tentu ia sadar. Pukulan Sakura bahkan lebih menyakitkan daripada pukulan Kaa-channya dan Tsunade-baachan. Meskipun begitu, Sakura tidak kehilangan pesonanya sebagai seorang gadis.

"Menjijikan." Komentar Sasuke dingin. Naruto memberengut, ia bangkit dan mencolek pinggang Sasuke jahil. "Perkataanmu jahat sekali, Sayang."

Kali ini Sasuke lan yang menendang tulang kering sang Uzumaki pirang. Si Uchiha juga merasa risih jika Naruto bersikap layaknya mereka ini pasangan Yaoi didepan gadisnya. Cih, bagaimana kalau Sakura benar-benar menganggap mereka berdua Yaoi? Hell No!

.

"Naruto. Ku dengar, kau menerima ajakan kencan Shion?" Tanya Sakura akhirnya. Naruto menatap Sakura sembari meminum air mineral ditangannya.

"Fuah~ Ya. Memang kenapa?"

Sakura menatap sahabatnya tak percaya. "Kau serius?" Naruto mengangkat bahunya, "Kenapa aku harus berbohong?"

Sakura menggeram kesal. Ia menepuk jidat lebarnya frustasi. "Demi Tuhan, Naruto Uzumaki."

"kenapa tidak? Apa salahnya kalau aku berkencan dengan seorang gadis?" Tanya Naruto polos. Sasuke menghela nafas, Sahabatnya ini terlampau tidak peka–atau bodoh?– untuk mengerti perkataan yang tersirat. "Bagaimana dengan Hinata, Dobe?"

Gerakan Naruto terhenti sesaat. Ia menundukan wajahnya. Pandangannya menerawang entah memikirkan apa.

"..."

"..."

"Kau menghindarinya hari ini." Todong Sakura langsung.

Naruto tidak menjawab. Ia malah melempar pandangannya kearah lain. "Apa yang kau–" "–Aku menciumnya."

Sasuke dan Sakura bertukar pandang. "Kau apa?"

Naruto mengacak rambutnya frustasi. "kemarin, Aku mencium Hinata." Jawabnya parau.

Sakura menepuk pundak Naruto, "Lalu apa masalahnya?"

Naruto menyembunyikan wajahnya diantara lipatan tangannya. "Karena itu! Hatiku juga sakit begitu ingat Ootsutsuki menciumnya terlebih dahulu."

Sakura melebarkan iris Emeraldnya tak percaya. Sasuke hanya diam, berusaha menyimak apa yang sebenarnya ingin Naruto sampaikan.

Naruto menatap telapak tangannya dengan pandangan yang dipertajam. "Aku bahkan belum puas kalau hanya membuatnya babak belur.." Naruto mengepalkan tangannya keras. "...Tidak, pukulanku bahkan tidak merubah fakta bahwa ia telah mencium gadisku."

"Naruto.."

Pemuda Uzumaki itu berdiri. Ia memasukan perlengkapan basketnya kedalam tas. "Tidak. Jangan kasihani aku. Aku baik-baik saja." Seru Naruto. Kembali ia pamerkan senyuman mentarinya. Meski tak secerah biasanya, ia memaksakan senyumannya agar tidak terlihat pedih dan menyedihkan.

"Aku sudah paham sekarang.. Kalau memang harus meninggalkan untuk sebuah kebahagiaan, Kenapa harus bertahan untuk tersakiti?"

-Dan Sasuke serta Sakura tak mampu menjawabnya.

.


.

"Kami akan pergi selama seminggu. Tolong jaga diri kalian baik-baik."

Sore ini, Hanabi dan Menma akan berangkat ke Sunakakure untuk berbulan madu. Meskipun sempat terjadi cekcok mulut diantara keduanya, Perdebatan yang terjadi diantara keduanya akhirnya terselesaikan. Ya, walaupun pada kenyataanya Menma-lah yang harus mengalah dan terpaksa melimpahkan pekerjaan kantornya pada Tobi–Asistennya.

"Hinata, Tolong jaga Naruto ya." Ujar Menma lantas mengusap puncak kepala gadis bernama Hinata tersebut.

"Hey! Bukankah aku yang seharusnya diembani tugas untuk menjaga Hinata, Baka Aniki?" Sela Naruto sarkatis.

Menma dan istrinya tertawa kecil. Si sulung Uzumaki-pun mejulurkan lidahnya seolah mengejek, "Kau dan Hinata. siapa yang kau pikir lebih dewasa?"

"Sialan."

Menma mengambil koper besar yang dibawa Hanabi menuju ke mobilnya. Hanabi yang sedaritadi diam lantas angkat suara, "Bahan makanan sudah ku siapkan di kulkas. Hinata, pastikan Naruto tidak hanya makan ramen. Dan Naruto, jangan tidur terlalu larut. Kalian mengerti?"

"Gezz, Kami bukan anak kecil lagi, Hanabi-neechan." Celetuk Naruto setengah bercanda.

Hinata tertawa pelan. Gadis dengan surai indigo itu mengangguk mengerti, tak lupa diiringi senyuman meyakinkan.

"Baiklah, Sayang. Kupikir semuanya sudah siap. Kita harus berangkat sekarang atau kita akan terlambat untuk penerbangan sore ini." Menma merangkul bahu istrinya. Ia melirik arloji ditangannya sebentar.

"Oke, anak-anak! Kami berangkat." Seru Menma semangat.

Hinata dan Naruto mengikuti langkah kakak-kakaknya kedepan pintu gerbang. "Hati-hati dijalan. Bersenang-senanglah." Hinata melambaikan tangannya ketika Menma memasuki mobil–diikuti Hanabi.

"Byyee~~ Naruto. Jangan macam-macam pada Hinata!" Teriak Menma asal. Naruto mendengus, kemudian umpatan menyusul.

Mobil yang ditumpangi suami-istri Uzumaki itupun melesat perlahan dijalanan yang ramai. Meninggalkan remaja berbeda gender dengan keheningan yang tiba-tiba melanda.

"..." Hinata melirik Naruto diam-diam. Ia masih belum berani menggerakan sekujur tubuhnya dari sana. Berpura-pura menatap kepergian mobil kakak dan kakak iparnya.

"Ayo masuk." Ajak Naruto tanpa menatap Hinata. Uzumaki bungsu itu melangkah masuk kedalam rumah tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi. Meninggalkan Hinata yang masih membatu ditempat dengan wajah tersakiti.

.


.

Keadaannya masih sama. Canggung dan dingin. Hingga kini, Naruto atau bahkan Hinata masih belum mau berbicara satu sama lain. Kini hari sudah tergantikan oleh gelapnya malam. Lampu-lampu jalan mulai menerangi sepanjang jalan di trotoar. Salju akhir bulan Februari membuat membuat lanpu jalanan terefleksi dengan sangat indah. Membuat keadaan berubah tidak sedingin yang seharusnya.

Saat ini, Hinata dan juga Naruto tengah menikmati makan malamnya dalam diam. Well, kata 'menikmati' ebenarnya lebih cocok ditambah dengan kata 'terpaksa'. Ya, mereka terpaksa menikmati makan malamnya. Sebenarnya Naruto sendiri juga malas kalau harus makan sendirian, maka dari itu ia terpaksa bergabung dengan Hinata untuk makan malam bersama.

Tapi, bukankah keadaan seperti ini sama halnya dengan makan sendirian?

"Aku sudah selesai." Suara Naruto akhirnya memecahkan keheningan yang sedaritadi menyelimuti. Naruto berjalan menuju wastafel untuk mencuci piringnya, sebelum-

"Bi-Biar aku saja yang mencucinya." Hinata mengambil piring dari tangan tan Naruto. Naruto menatap datar gadis yang berstatus sebagai saudara iparnya. Tak banyak bicara, Naruto menyerahkan piringnya dan melenggang pergi meninggalkan Hinata.

Hah, pemuda itu bahkan tidak menyadari tatapan Hinata yang seolah menahan tangis.

.

.

Pemuda dengan surai pirang itu mengambil handphonenya dan meraih headseat yang tak jauh dari posisinya sekarang. Naruto menyenderkan tubuhnya disebelah pintu kamarnya. Pikirannya kacau. Dan ia pikir, mendengarkan musik adalah jalan terbaik untuk meringankan beban di otaknya.

Naruto memilih-milih list lagu di handphone touchscreennya. Berdecak sebal kala mendapati tak ada satupun lagu yang menarik minatnya saat ini. Naruto memutuskan untuk sekedar melihat-lihat gallery di handphonenya. Tersenyum tipis begitu maniknya melihat foto-foto dirinya bersama para fansnya yang baru diambil siang tadi. Hey! Sejak kapan kau jadi suka berada di sekeliling wanita, Naruto?

Jemarinya berhenti bergerak saat sebuah foto nampak di layar handphonenya. Foto berharga yang ia ambil secara diam-diam. Foto gadisnya. Orang yang sangai ia cintai, Hinata.

"Hinata.."

Naruto menatap langit-langit kamarnya. Apa ia sudah keterlaluan? Sebenarnya ia tidak tega pada Hinata. Ia tentu tidak mau melihat gadisnya sedih. Tapi, hatinya bagai dirajam kala otaknya memutas kembali adegan ciuman Toneri dengan gadisnya. Ia muak...

Tok! Tok! Tok!

Naruto Uzumaki bangkit dari posisi duduknya. Baru saja ia akan membuka pintu-

Suara itu terdengar-

"Naruto-kun."

-Suara itu menghentikan kinerja tubuhnya dalam sesaat.

"..."

"N-Naruto-kun masih marah padaku?" Naruto tidak menjawab. Ia lebih memilih menatap pintu didepannya dengan pandangan penuh arti.

"N-Naruto-kun.. Kumohon maafkan aku. Aku..tidak mau terus kau jauhi" Naruto mengepalkan tangannya. Ia tidak suka mendengar suara Hinata yang bergetar seperti ini. Tapi, entah kenapa, tubuhnya seolah lumpuh. Egonya masih belum bisa mengalah.

"A-Aku tidak tahu harus berbuat a-apalagi. A-Aku tidak mau kau membenciku.." Suara Hinata bahkan sudah menjadi bukti bahwa kini gadis itu mulai menangis. Sudah cukup. Naruto, bersikap dewasalah dan kesampingkan egomu.

.

"A-Aku.. Aku menyukaimu.."

DEG!

Narutoo terbelalak. Apa katanya?

"G-gomen, Tapi aku t-tidak i-ingin membuat orang yang kucintai malah balik membenciku." Suara Hinata semakin pelan. Gadis itu berusaha menyampaikan perasannya dan itu malah semakin membuat Naruto tidak bisa merasakan seluruh anggota tubuhnya.

"A-Aku tidak bisa membaca perasaanmu.. hiks, K-karena itu aku khawatir ketika Naruto-kun menjauhiku."

"..."

"...T-Tanpa Naruto-kun, Aku tidak akan bisa tersenyum... Naruto-kun adalah satu-satunya alasanku untuk tersenyum"

Naruto mengangkat wajahnya. Ia yakin Hinata masih ada didepan kamarnya. Gadis itu menangis karenanya.

Naruto mencengkram kaos bagian dadanya. Tatapan blue ocean itu menajam.

.

"Sebenarnya.. Apa yang kupertahankan?"

.

Zzreegg.

Hinata terperanjat begitu pintu kamar Naruto terbuka.

Kejadiannya begitu cepat. Sepersekian detik Hinata merasa dirinya ditarik masuk, suara pintu yang tertutup adalah hal terakhir yang didengarnya. Dan sentuhan lembut dibibirnya menyadarkannya bahwa Naruto kini berada dihadapannya. Memeluknya posesif. Dengan bibir yang saling bertaut. Lagi.

=To be contineud=


A/N : Halloooo! Aduh ff ini bulukan banget -_- Apa chapter kali ini lebih panjang dari chapter sebelumnya? Masih gaje? Banyak typo?

Sekedar info nih, Untuk chapter selanjutnya, akan full Hinata POV! Akan dijelaskan juga kenapa tiba-tiba Hinata ngungkapin perasaannya sama Naruto! _ Dan, Dan, Mungkin ratenya juga akan naik menjadi M, atau seenggaknya T++ XD

Arigatou buat Review/Fav/Follow nya ^ ^ Bieber seneng banget baca review kalian, nyahahaha, Bieber sampai kehabisan kata deh sekarang.

Oh, Bieber brokoro soal Naruto gaiden ch 7 ( TTwTT) Apapun yg dikatain orang, Bieber Cuma percaya Sarada itu anak SasuSaku! Titik! #UdahWoy

Akhir kata,

Mind to review?