Dakishimetai

Tokoh yang saya pakai milik Kishimoto Masashi-sensei, saya cuma pinjem doang

Warning: typo, alur cepet, dan masih banyak lainnya

Pairing: Sasuhina

Don't Like, Don't Read

.

.

.

Sasuke berusaha untuk fokus, tumpukan berkas yang harus ia periksa akan semakin bertambah jika dia hanya berdiam diri di kursi kerjanya. Pikiran mengenai kejadian semalam harus dia alihkan dulu, dimana di malam dingin itu dia hampir saja lepas kendali menyentuh ibu anaknya.

Sial!

Dia teringat kembali. Hati dan bagian bawahnya sesak bersamaan. Double sial.

Sasuke menepuk dahinya, mengurut pelan untuk menghilangkan pening ringan. Dia menghela nafas kasar, dia pastikan hari ini tidak ada satu pun berkas yang diperiksanya.

"Sasuke!" suara milik kakaknya, entah bagaimana Itachi sudah berada di dalam ruang kerjanya sekarang.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Syukurlah. Aku kira kau ke mana."

"Apa yang kau lakukan di sini, kak?" ulang Sasuke. Ini masih jam kerja kantor dan bukannya jam istirahat.

"Tentu saja mencarimu. Kau tidak pulang semalam dan kau tidak bisa kuhubungi sama sekali. Kupikir kau–sudahlah," Sasuke memutar matanya bosan.

"Ke mana kau semalam?" Itachi duduk di sofa yang berada di tengah ruangan kerja Sasuke, mengeluarkan smartphone keluaran terbaru untuk mengecek beberapa pesan dari sekertarisnya.

"Kau tidak lupa dengan anakmu, kan? Dia menunggu semalaman karenamu," Sasuke mengutuk dirinya sendiri. Bersama dengan Hinata sampai membuatnya lupa pada anaknya. Dia benar-benar ayah yang buruk.

"Bohong kok. Dia tidur jam sembilan," Itachi tertawa dari tempat duduknya melihat ekspresi Sasuke barusan. Mengabaikan bagaimana wajah Sasuke sekarang yang kesal luar biasa.

"Jika kau ke mari cuma untuk itu, pergilah!" usir Sasuke.

"Tapi serius, Sasuke. Ke mana kau semalam?" meskipun membubuhi kata serius, Itachi masih belum bisa menghentikan kekehannya.

"Nami," singkat, padat, dan jelas.

"Nami? Ke rumah Hinata?"

"Hn."

"Wah, hebat sekali. Ternyata kau gerak cepat sekarang. Meninggalkan Ken di rumah supaya bisa berduaan dengan Hinata. Aku akui idemu lumayan," Sasuke tidak memerlukan pendapat Itachi. Tapi entah kenapa dia sengaja memberi tahu kakaknya ke mana dia pergi kemarin.

"Kau melakukannya?" seringai Itachi semakin miring saja melihat gelagat adiknya. Tersedak ludahnya sendiri dan sedikit merona. Pemandangan super langka di usia Sasuke yang sekarang.

"Itu pembicaraan yang kurang sopan, Uchiha Itachi," Sasuke menirukan suara kakeknya ketika menegur kakaknya. Sejak dulu, Itachi terlihat sangat berbeda dengan kebanyakan Uchiha lainnya.

"Iya, iya," kali ini gantian Itachi yang memutar matanya bosan. "Tapi kau tidak lupa memakai pengaman, kan?"

"Kak!" Sasuke menggeram. Ingin sekali Sasuke lemparkan papan namanya ke kepala Itachi sekarang juga. Sumpah, dia jengkel luar biasa pada ayah dua anak itu.

"Bisa-bisa Ken punya adik dalam waktu dekat," seolah tidak peduli, Itachi tetap terus mengerjai adiknya. Ini balas dendamnya untuk waktu itu. Meskipun Itachi tahu Sasuke adalah laki-laki dewasa, dia yakin adiknya itu menahan diri demi Hinata. Dia hapal peringai adiknya, mana ada Sasuke yang mau menunggu ataupun bersikap lembut jika bicara mengenai perempuan.

"Pergi dari sini!" usir Sasuke untuk kedua kali. Itachi malah tertawa lepas, adiknya ternyata masih cukup lucu setelah digoda habis-habisan.

Sebelum benar-benar pergi, Itachi sempatkan untuk berbalik. "Aku ingin punya keponakan perempuan–"

Brakk

Papan nama sudah terlempar membentur pintu cukup keras bertepatan dengan Itachi yang menutup pintu. Dia masih mendengar suara tawa kakaknya yang berjalan di lorong. Sasuke menggeram, setelah kedatangan kakaknya pikirannya semakin bertambah kacau. Lupakan soal baby-making, menempelkan bibirnya pada tubuh Hinata adalah dosa besar, termasuk menyentuhnya. Dia tidak ingin membuat wanita itu kembali terluka karena dirinya lagi.

...

"Ayah?"

Sasuke melambai melihat anaknya yang berjalan keluar dari gerbang sekolah. Langkah kaki kecil itu semakin bertambah cepat saat jarak mereka semakin terkikis. Ayah satu anak itu tidak bisa menyembunyikan senyumannya melihat rambut jabrik itu bergoyang diterpa angin.

"Kenapa ayah bisa di sini?" tanya Kenichi. Ini masih jam tiga sore, di jam segini ayahnya biasanya masih bekerja.

"Menjemputmu tentu saja," Sasuke tahu anaknya heran. Selama ini dia hanya mengantar Kenichi sekolah setiap pagi. Bocah itu tersenyum senang mendapati ayahnya yang datang menjemptnya.

"Apa perjalanan ayah menyenangkan?" tanya Kenichi saat di dalam mobil.

"Huh?" Sasuke yang menyetir sedikit bingung.

"Paman Itachi bilang ayah kemarin pergi ke luar kota."

"Ya, begitulah," Sasuke tersenyum canggung. "Mumpung ayah pulang awal, kau ingin sesuatu? Atau pergi ke suatu tempat misalnya."

Sasuke melirik anaknya yang sedang berpikir. "Hari ini Temujin-sensei datang," Temujin adalah nama guru privat yang mengajari Kenichi di rumah.

"Jadilah berani untuk hari ini. Kita bolos."

"Un!" Kenichi tersenyum lebar melihat tingkah ayahnya hari ini.

"Satetto, ke mana Kenichi bon-chan ingin pergi sekarang?" Kenichi tertawa lepas mendengar sebutan ayahnya untuknya. Sasuke ikut tersenyum mendengar suara cempreng itu.

"Apa kita bisa ke museum, ayah? Aku ingin lihat dinosaurus di sana."

"Kashikomarimashita."

...

"Kau senang?" Sasuke menggandeng tangan Kenichi. Di hari biasa, ternyata museum dipadati banyak orang.

"Iya. Mereka menambah dinosaurus lagi," tunjuk Kenichi pada sebuah dinding kaca yang diisi dua dinosaurus yang hidup di air.

"Sepertinya kau pernah ke mari," Sasuke meminum kopinya. Untuk Kenichi, bocah itu memilih minuman rasa mangga.

"Dulu dengan ibu. Kami ke mari sebelum ke rumah ayah," Sasuke menoleh, memandang anaknya yang menatap takjub replika triceratops dari dekat. Pandangan laki-laki itu berubah sendu.

"Ayah dulu menakutkan?"

Kenichi mendongak, lalu tersenyum. "Sangat."

Melihat wajah polos anaknya, membuat Sasuke mau tidak mau ikut tersenyum. "Kau saja yang penakut," tangan Sasuke mengacak rambut Kenichi hingga berantakan. Kenichi menatap sebal ayahnya, sesaat kemudian merapikan rambut jabriknya sekenanya.

Sasuke perhatikan lagi anaknya yang kembali terfokus pada simulasi telur triceratops yang menetas. Bocah itu terlihat mirip dengan sang ibu jika begitu, senyumnya mudah sekali mengembang hanya karena hal-hal sederhana. Tidak seperti dirinya dulu yang pelit senyum.

"Ayah," panggil Kenichi tanpa menatap ayahnya.

"Hn?" Sasuke juga begitu. Dia ikutan melihat robot berbentuk hewan bercula tiga itu yang memberi makan anak-anaknya.

"Minggu ini...ayah sibuk?" tanya Kenichi lirih.

Sasuke menunduk, "Kenapa?"

Cukup lama Kenichi terdiam, "Ibu merindukanku, jadi–"

"Kita ke Nami," belum sempat Kenichi menyelesaikan kalimatnya, Sasuke sudah keburu tahu.

"Benarkah?!" mata Kenichi mengkilap menatap wajah ayahnya.

"Hn," Sasuke mengangguk, Kenichi tersenyum lebar sampai matanya menutup. Tidak pernah Kenichi meminta untuk mengantarnya ke rumah ibunya. Selama ini, Sasukelah yang selalu mengajak untuk bertemu dengan Hinata. Sepertinya anaknya sangat merindukan ibunya kali ini.

"Katakan saja jika kau yang merindukan ibumu, bocah cengeng," ejek Sasuke senang. Ayah muda itu tersenyum miring melihat wajah memerah anaknya. Padahal dia sendiri juga merasakan hal yang sama.

...

Sasuke dan Kenichi datang di hari Jumat malam. Tetap seperti biasa, Kenichi memeluk Hinata erat. Menyalurkan rasa rindu pada sang ibu yang tidak dia temui selama dua minggu. Berlaku juga pada sikap orang tuanya yang tetap canggung seperti biasa.

Kenichi membantu ibunya membuat makan malam, sembari menunggu ayahnya yang sedang mandi. Bocah kecil itu bercerita apa saja kegiatannya pada sang ibu selama ini, dimulai dari dirinya yang belajar naik sepeda sampai pergi ke museum bersama ayahnya tiga hari lalu.

"Lututmu baik-baik saja?" tanya Hinata yang teringat tentang luka anaknya karena terjatuh dari sepeda.

"Sudah sembuh beberapa hari lalu," kata Kenichi sambil memecah telur. Sesaat Kenichi tersadar, "Bagaimana ibu bisa tahu aku terluka?" bocah itu merengut bingung, dia sengaja melewati bagian itu supaya dia terdengar langsung mahir naik sepeda.

"Ah...itu..." bagaimana Hinata mengatakannya, perempuan itu gelagapan sendiri. Tidak mungkin dia bilang dia tahu dari ayahnya yang kemari beberapa hari lalu tanpa dirinya, apalagi sampai menginap. Mengingat bagaimana kejadian malam itu.

"Ibu tahu dari–"

"Makan malamnya sudah siap?" Sasuke tiba-tiba datang mengagetkan ibu-anak itu.

Kenichi berbalik. "Ayah tidak pakai baju?" tanya Kenichi otomatis saat melihat tubuh ayahnya yang hanya terbalut handuk di pinggang.

"Ah...ini..." Sasuke mencoba untuk menjelaskan. Mendengar Hinata yang tanpa sengaja bisa membocorkan kedatangannya waktu itu, membuat Sasuke tanpa pikir panjang keluar dari kamar mandi. Mengabaikan lantai kayu di belakangnya yang basah akibat tetesan air di tubuhnya yang tidak di keringkan dengan benar.

"Baju–baju ayah terjatuh di bak mandi," Sasuke tidak berbohong. Dia memang akan memakai pakaiannya ketika Kenichi bertanya hal itu pada ibunya. Tapi karena sedikit panik, dia menjatuhkan kaus dan celananya.

"Begitu ya," Kenichi mengangguk paham. Sedang Hinata tidak berani menatap mantan tuannya. Wajahnya sudah memerah duluan mendengar perkataan anaknya yang bilang ayahnya tidak memakai baju.

"S-saya akan ambilkan baju ganti," Hinata berjalan sambil menunduk, mengindari memandang kondisi tubuh Sasuke yang topless. Tanpa tahu jika Sasuke mengikutinya dari belakang.

Hinata memasuki kamar ayahnya yang sudah berganti fungsi menjadi tempat penyimpanan barang. Lemari pakaian yang tertutupi tumpukan kardus membuat Hinata sedikit kesulitan untuk mengambil baju yang ada di dalam, butuh waktu untuk memindahkan kardus-kardus itu. Sebuah yukata berwarna coklat tua berhasil Hinata ambil, berada di tumpukan teratas yang bisa dijangkaunya. Kondisinya masih bagus untuk dipakai Sasuke sebagai pakaian ganti sementara.

Ketika Hinata berbalik untuk menghampiri Sasuke yang bersama Kenichi, perempuan itu terlonjak kaget dengan sesosok tubuh tegap yang berdiri tepat di belakangnya. Saking kagetnya Hinata menabrak lemari kayu hingga membuat kardus yang ada di atasnya terjatuh. Melihanya, Sasuke segera melindungi tubuh kecil itu. Memerangkap dengan tubuh tegapnya agar kardus berisi apapun itu tidak melukai Hinata. Gantinya, punggungnya sendiri yang tertiban.

"S-Sasuke-sama!" Hinata memekik panik. Mata keperakan itu terlihat sayu dengan linangan air di pinggirannya.

"Anda baik-baik saja?" suara Hinata terdengar sangat khawatir. Bagi Sasuke, rasa sakit di punggungnya tidak berasa apa-apa mendengar suara lirih Hinata. Mata hitamnya menatap lurus wajah perempuan di hadapannya, wajah memerahnya membuat Sasuke mendapatkan gejolaknya. Dia menginginkannya. Sangat menginginkannya.

"Sasuke...sama?" melihat ayah Kenichi tidak merespon, membuat Hinata memastikan jika laki-laki itu tidak apa-apa.

Tapi panggilan nama itu, membuat Sasuke membuang jauh akal sehatnya. Dia tidak bisa menahannya lagi. Maka tanpa meminta ijin dari perempuan itu, Sasuke mengecup leher jenjang Hinata. Melakukannya berkali-kali hingga terdengar erangan lirih perempuan itu. Tangan Hinata mencoba mendorong bahu telanjang Sasuke, namun sayangnya hal itu tidak berhasil sama sekali. Semakin Hinata mendorong, semakin Sasuke gencar mendaratkan ciumannya. Sayangnya kegiatan itu harus terhenti ketika suara bocah kecil berdengung di telinganya.

"Apa terjadi sesuatu?" Kenichi datang dengan membawa boneka dinosaurus yang dibelikan ayahnya. Niatan untuk bermain sebentar sebelum makan malam gagal karena dia mendengar suara benda terjatuh dari kamar kakeknya.

Seketika Sasuke menjauh dari Hinata.

"K-Ken...ti-tidak ada apa-apa, nak," jawab Hinata terbata. Wajahnya yang merah ditutupi dengan sebelah tangannya.

"Apa kardus itu menjatuhi wajah ayah dan ibu?" tunjuk Kenichi pada kardus yang isinya berceceran di lantai. "Soalnya wajah kalian memerah. Apa sakit?"

"Tidak, kami baik-baik saja," kali ini gantian Sasuke. Laki-laki itu menghindari memandang Hinata saat ini, sadar dengan apa yang akan dilakukannya pada perempuan itu.

"Ke-kenapa kau tidak main saja dulu dengan mainan barumu? Ibu akan memasak makan malam setelah membereskan ini."

"Baiklah," Kenichi melenggang pergi, dia sedikit berlari menuju kamarnya.

Hinata memungut yukata yang terjatuh karena mendapat serangan Sasuke tadi. Kedua tangannya sedikit gemetar ketika menyodorkan pada Sasuke. Melihat itu, Sasuke seakan mendapat satu pukulan telak di hatinya. Dia kembali membuat Hinata ketakutan, bahkan yang lebih parah, dia kembali menyakitinya. Dasar laki-laki brengsek, tidak bisakah dia mengalihkan pikirannya untuk tidak menyentuh Hinata barang sejenak saja? Dia sendiri saja masih belum yakin bagaimana perasaannya pada ibu anaknya itu. Hubungannya dengan Hinata pasti akan merenggang setelah semua yang terjadi.

Sasuke menghela nafas. Untungnya dia tidak sampai menjamah Hinata terlalu jauh. Kerja bagus Ken, terima kasih sudah datang menyelamatkan ibumu, batin Sasuke lega.

...

Tidak biasanya Kenichi sudah tertidur di jam segini, bocah itu terlelap di futon-nya sendiri sambil memeluk bonekanya. Kelelahan pasti menjadi alasannya, semenjak siang dia terus bermain sampai malam. Bahkan saat di mobil sekalipun.

Sasuke mengusap surai hitam milik anaknya. Jika seperti ini, dalam satu kali lihat semua orang pasti sepakat jika anak itu adalah duplikat dirinya. Bentuk wajah, bentuk hidung dan bibir, semua itu turunannya. Untuk mata, irisnya yang hitam juga merupakan turunannya. Tapi satu hal yang tidak ingin Sasuke turunkan pada putranya, dia harap mata bulat anaknya akan tetap terus seperti itu. Tidak berubah menajam beberapa tahun lagi, apalagi saat menatapnya. Aneh memang. Semua Uchiha selalu memiliki mata tajam mengintimidasi. Tapi Sasuke tidak menginginkannya, biarkan anak laki-lakinya itu mirip dengan sang ibu yang baik hati.

Saking tenggelam dengan pikirannya tentang Kenichi, Sasuke hampir melupakan kejadian dua jam lalu bersama Hinata. Perempuan itu baru saja memasuki kamar dengan membawa sesuatu di tangannya.

Sasuke sedikit menjauh, memberikan ruang bagi Hinata untuk bersama Kenichi. Laki-laki itu berada di posisi yang biasa ia gunakan ketika tidur bersama Hinata di atas futon, duduk bersila menghadap dinding. Dia tahu Hinata pasti tidak ingin memandangnya sekarang dan Sasuke juga tahu Hinata terlalu sungkan untuk bilang begitu.

Tapi di beberapa menit setelah Hinata datang, sebuah sapuan tangan hangat terasa di punggungnya. Sasuke memberanikan diri berbalik, ia tahu itu tangan Hinata. Dan pemandangan yang tidak diduganya adalah senyum Hinata yang merekah di bibir ranumnya. Walaupun tipis, Sasuke merasakan jantungnya melompat mendapati senyum itu ditunjukkan padanya.

"Sasuke-sama baik-baik saja?"

Bukan. Jangan menanyakan itu. Salahkan aku. Maki aku karena perbuatanku tadi.

"Te-terima kasih," Hinata menunduk ketika mengatakannya. Ada rona merah yang berhasil Sasuke kenali di pipi Hinata. Sayangnya itu bukan rona merah menahan marah, tapi malu.

"S-Sasuke-sama telah melindungi saya."

Lalu dengan kejadian selanjutnya? Apa dia lupa? Dia hampir lepas kendali jika Kenichi tidak datang tadi.

"Hi–" Sasuke urung menyebut namanya. Tapi jika dia tidak mengatakannya, dia jamin Hinata akan semakin menjauh nantinya.

"Hinata, maafkan aku," ucap Sasuke tulus.

"Maaf karena hanya itu yang bisa kukatakan padamu. Maaf karena aku pernah menyakitimu. Maaf karena aku akan menyakitimu. Maaf karena aku–" Sasuke memandang Hinata dalam.

"–menginginkanmu berada di sampingku."

Hinata kembali tertegun dengan ucapan laki-laki itu.

"Aku tahu itu terdengar egois. Tapi jika tidak bersamamu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana sisa hidupku nanti. Dan itu terdengar seperti rayuan gombal, tapi aku serius mengatakannya," Sasuke sedikit terkekeh pada bagian terakhir, menertawakan dirinya sendiri.

"Aku belum membuktikan padamu, aku juga belum menjadi ayah yang baik bagi Ken. Tapi aku begitu menginginkannya. Tinggal bersama kalian sebagai keluarga utuh, di mana aku menjadi suamimu dan kau jadi istriku. Mengantar Ken sekolah dan pergi bekerja. Pulang malam hari kemudian disambut anakku yang bercerita tentang kegiatannya di sekolah dan istriku yang manis. Tidur dipangkuannya ketika aku lelah dan anakku yang besikap manja padaku."

"Kau dan Ken–kalian, kalian membuatku menginginkan hal yang tidak pernah terbayang di benakku sekalipun. Maaf aku bicara panjang lebar, aku tidak akan memaksamu lagi. Kau yang menentukan, Hinata. Apapun keputusanmu."

Sasuke tersenyum. Dia menyerah? Ya, dia memutuskan untuk menyerah. Jika Hinata pernah berpikir bersama dengannya akan membuatnya merasa tidak nyaman, maka Sasuke ingin membalik pikiran itu. Bersama dengannyalah perempuan itu tidak akan merasa nyaman. Dia masih ingat betapa brengseknya ia, dan ia rasa masih akan tetap begitu untuk kedepannya lagi.

Sasuke merasa sakit. Sakit yang benar-benar sakit. Melepas Hinata dan Kenichi untuk bahagia tanpa dirinya, menimbulkan luka dalam di hatinya. Tapi jika itu sepadan, maka dia akan melakukannya. Hinata sudah berkorban selama ini, jadi biarkan dia yang berkorban sisanya.

"H-hai."

Sasuke menatap Hinata, tersenyum sambil mengangguk. Perempuan itu tentu setuju semua keputusan berada di tangannya.

"Hai," ulang Hinata lagi kala melihat respon Sasuke. Kali ini lebih tegas.

Ayah Kenichi berpikir jika Hinata mengulangi katanya karena dia tidak dengar. Membalasnya dengan tersenyum lagi.

"Hai desu yo, Sasuke-sama."

Wajah Hinata memerah akut saat mengucapkannya, bahkan sampai telinga dan lehernya. Hinata tidak menunduk untuk sembunyi, dia ingin menunjukkan dia juga serius seperti Sasuke.

Melihat wajah itu, otak Sasuke mulai mengerti. Kenapa di saat seperti ini otak jeniusnya tidak bekerja dengan benar?

"H-huh?" otaknya yang tumpul membuatnya jadi tergagap. Tapi tidak dengan jantungnya. Alat vitalnya itu malah bekerja lebih cepat dari biasanya.

"S-soal...aja–ajakan Sasuke-sama pa-pagi itu..." sekuat tenaga Hinata tidak pingsan di tempat.

"Hai!" empat kali. Harus empat kali supaya katanya tersampaikan, sama seperti ucapan maaf Sasuke padanya yang membuatnya tersadar. Dia juga ingin bersama dengannya. Juga menginginkan hal-hal yang Sasuke ucapkan, bersama dengannya, bersama Kenichi juga.

Wajah merah, nafas pendek, lengan yang panjang, Hinata rasakan dari laki-laki di hadapannya. Lagi-lagi dia mendapat pelukan erat dari Sasuke, Hinata tidak menegang. Dia menikmatinya, mencoba menikmatinya. Pelukan ini nanti yang akan sering dia rasakan di waktu yang akan datang. Mungkin jika dia sudah memiliki kepercayaan diri, kedua lengannya akan gantian memeluk tubuh tegapnya.

"Terima kasih, Hinata," Sasuke mengecup ubun-ubun Hinata beberapa kali di sela-sela memeluk tubuh kecilnya. Ada pesta kembang api di hatinya saat ini. Meletup-letup menimbulkan percikan hangat yang menyesakkan. Indah dan terasa menyenangkan. Tapi kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja? Dan kenapa dia baru menyadarinya?

Jika terus seperti ini, dialah yang akan jatuh cinta pada Hinata duluan. Cinta mati padanya.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

aku sih iyes, gak tau mas anang

ya ampun, knp malah begini?! sumpah dari kemarin2 saya udah ngerancang gmn jalan ceritanya buat chap ini, tp malah melenceng jauh. sangat jauh malah. rasanya kayak dapat 4 yes trus gugur di babak selanjutnya. tp semoga minna-san masih berkenan mampir untuk membaca fic saya ini.

author note: a) hina jadi wanita penghibur? bukan kok, ken hanya nganggap jalannya hina kayak orang mabuk aja, soalnya sempoyongan krn dia kerja dari malam sampe pagi. b) buat pov mikoto...hm...awalnya saya malah mau buat povnya semua chara yg terlibat tp tdk jadi krn nanti jd banyak chap #authornya aja yg malas luar biasa. c) ken saya buat sifatnya mirip hina, supaya sasu cepat jatuh cinta ke hina lewat ken. d) fugaku yg buat hiashi mati? itu semua salahnya, pak polisi! tolong penjarakan dia. e) untuk masalah ending saya blm tentukan, happy atau sad tergantung mood saya yg labil ini, hontou ni gomenasai

sekian dari saya, saya akan sangat berterima kasih jika minna-san meninggalkan jejak, seperti uang, deposito, surat jaminan misalnya, atau apapun yg berharga #plaaakkkk. tolong lupakan. hehehehe XD

jaa adios