Cast:

V as Kim Taehyung

J-Hope as Jung Hoseok

Jungkook as Jeon Jungkook

Other BTS members

Summary:

Kim Taehyung hanyalah seorang pemuda biasa yang tidak terlalu istimewa. Itulah kesan yang didapat Hoseok saat pertama kali berkenalan, setidaknya sampai Hoseok menyadari bahwa Taehyung memiliki sesuatu yang selalu membuntutinya.

Disclaimer:

Member BTS bukan punya author, tapi cerita fiksi ini murni ide author. Terinspirasi dari kisah nyata. Jika ada kesamaan cerita, itu adalah unsur ketidaksengajaan.

Unknown Memories


"Kapan giliranku, hyung?"

.

Chapter 10

Jungkook menatap selembar kertas berisikan gambar wajah Taehyung yang tengah tersenyum. Ia lalu memindahkan kertas tersebut ke dalam sebuah kotak besar yang berada di atas meja di kamar Taehyung. Di dalam kotak itu, sudah terisi oleh boneka kelinci biru milik Taehyung—entah darimana ia dapatkan kotak itu. Makhluk bergigi kelinci itu pun menutup kotak tersebut, dan meletakkan sebuah kertas kecil berwarna kuning di atasnya.

Ia lalu menatap kakinya, yang masih mengenakan sepatu converse milik Taehyung. Dengan senyum kecut ia perlahan melepaskan sepatu itu dan menaruhnya di samping meja milik hyung tersayangnya itu.

Jungkook beralih menatap Taehyung yang tengah tertidur pulas dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya. Entah apa yang terjadi dalam mimpinya, Jungkook tidak akan pernah tahu.

Arwah imut itu perlahan mendekati Taehyung, dan mengelus surai coklatnya dengan hati-hati. Dengan lembut ia singkirkan helai-helai rambut Taehyung yang menutupi dahinya, lalu ia mengecupnya pelan. Setelah itu, ia tersenyum kecil dan mengucap kata maaf pada Taehyung.

Maaf. Semua barang-barangmu kukembalikan. Selamat ulangtahun yang ke-20, dan selamat tahun baru, Taetae hyung.

-JK

.

Pagi harinya, Taehyung bangun dari tidurnya dengan enggan. Sosok pemuda berambut merah itu muncul lagi dalam mimpinya, dan ia terasa begitu akrab. Anehnya, Taehyung tidak bisa mengingat wajahnya—walaupun ia sudah berusaha keras untuk mengingatnya—yang dapat ia ingat hanyalah rambutnya yang semerah darah, dan namanya, Chimchim.

Taehyung mengingat-ingat lagi mimpinya semalam. Mimpinya berbeda dengan yang ia dapatkan kemarin saat ia tertidur di kelas, tapi ada satu hal yang mengganjal di pikirannya. Orang itu ada hubungannya dengan Yoongi, namun gadis itu sepertinya enggan membuka identitas si rambut merah.

Entahlah, mungkin ia akan bertanya lagi pada Yoongi lain kali.

Setelah mengumpulkan nyawanya sambil mengingat-ingat mimpinya, Taehyung pun berdiri dan berjalan menuju pintu kamarnya. Namun sebuah kotak besar di mejanya menghentikan langkahnya. Seingatnya, ia tidak pernah meletakkan kotak besar itu di kamarnya. Ia lalu mengambil sebuah kertas kuning kecil di atas kotak itu dan membacanya. Keningnya sedikit berkerut ketika ia membacanya, dan ia dengan cepat mengambil ponselnya dan menyalakan layarnya.

Tanggal 31 Desember.

Berarti, kemarin itu hari ulangtahunku? Kenapa Seokjin hyung tidak memasakkan sesuatu untukku? Kenapa Namjoon hyung dan Hoseok hyung tidak memberiku hadiah? Kenapa Kris tidak mengucapkan apapun? Yoongi noona juga... Ah, ini tidak bisa dibiarkan, mereka tidak boleh melupakan ulangtahunku!

Taehyung pun langsung melesat keluar dari kamarnya, mengabaikan inisial yang tertera pada kertas kuning yang tadi dibacanya.

.

"Jadi, apa kalian tahu hari ini tanggal berapa?" kata Taehyung sambil melipat tangannya di dada.

Seokjin, Namjoon, dan Hoseok yang duduk di sofa menatap Taehyung bingung. Pemuda bersurai coklat tua itu meminta mereka bertiga untuk berkumpul di ruang tamu karena hal penting—katanya.

"Bukankah hari ini tanggal 31 Desember?" Hoseok menatap Taehyung, Seokjin, dan Namjoon bergantian. "Kita sudah membeli terompet dan kembang api untuk tahun baru, kan?"

Seokjin dan Namjoon mengangguk. Lalu ketiganya kembali menatap Taehyung.

"Bukan itu maksudku! Apa kalian tidak ingat kalau kemarin itu... uh, ulangtahunku?" Taehyung mengerang kesal sambil mengacak-acak rambutnya. Ia lalu menengadahkan tangannya ke arah tiga hyungnya yang masih kebingungan. "Seokjin hyung, mana sup rumput lautku? Namjoon hyung dan Hoseok hyung, mana hadiahku?"

"Tunggu," sela Hoseok. "Kemarin itu hari ulangtahunmu?"

Taehyung mengangguk cepat. Bibirnya mengerucut lucu, hingga Hoseok tidak bisa menahan dirinya untuk berteriak dan mencubit kedua pipi Taehyung.

"Wah, selamat ulangtahun Kim Taehyung!" seru Hoseok sambil memeluk adiknya dan berputar-putar—yang ternyata berhasil membuat Taehyung kembali ceria.

Sementara Hoseok dan Taehyung berputar-putar sambil berpelukan, Seokjin memijat kepalanya pelan, ia lalu berdiri dan mengarahkan kakinya menuju dapur. "Aku akan membuat sup rumput laut dulu untuk—"

"Maaf, Taehyung-ah," kata Namjoon. Ketiga teman serumahnya sontak menoleh kepadanya. "Biasanya Jungkook yang mengingatkan kami, tapi karena sekarang ia sudah tidak ada... Kurasa, hadiahmu akan menyusul?"

Taehyung melepas pelukan Hoseok, wajah cerianya berubah menjadi wajah bingung. Ia menghampiri Namjoon yang masih duduk di sofa. Seokjin yang masih berada di dekat Namjoon menjitak kepalanya pelan, sedangkan Hoseok masih terkejut mendengar Namjoon menyebut nama Jungkook. Di belakang Taehyung, ada sesosok makhluk yang menatapnya penuh harap.

"Siapa itu Jungkook?"

.

"Kim Namjoon, kau gila?!" kata Seokjin setelah ia menutup pintu kamarnya.

Setelah Taehyung bertanya tentang Jungkook, Seokjin langsung memotong omongan Namjoon yang hendak menjawab pertanyaannya. Seokjin dengan susah payah mencari kalimat yang tepat, agar Taehyung tidak bertanya lebih lanjut tentangnya. Dan setelah itu, pemuda yang berstatus sebagai koki di rumah itu pun langsung menyeret Namjoon ke dalam kamarnya, meninggalkan Taehyung dan Hoseok yang tidak mengetahui apapun—menurutnya.

"Memangnya kenapa? Kurasa tidak apa jika Taehyung mengetahui segalanya, hyung. Itu lebih baik daripada kita terus menyembunyikannya. Aku yakin Taehyung akan lebih sedih jika kita tidak memberitahu yang sebenarnya," jelas Namjoon.

Seokjin menggaruk tengkuknya. Ia bingung harus bagaimana menjelaskan pendapatnya pada Namjoon. "Kau benar, tapi... apa tidak terlalu cepat? Ia bahkan tidak ingat siapa Jungkook. Aku khawatir, karena yang ia lupakan bukan hanya Jungkook, tapi juga Jimin."

Dirasakannya sebuah tangan mengelus rambutnya pelan, dan dirasakannya bibir Namjoon menempel pada bibirnya. Sebuah kecupan singkat yang lembut itu berhasil membuat wajah Seokjin merona. Ia pun menundukkan kepalanya untuk menutupinya.

"Aku melihatnya, Namjoon-ah," gumam Seokjin. "Wajah Taehyung. Ia pasti merasa bersalah karena sudah melupakan seseorang yang... bahkan setelah diceritakan pun ia masih belum bisa mengingatnya. Pikirannya pasti terbebani, aku takut ia akan tenggelam dalam rasa bersalah itu."

Namjoon tersenyum kecil mendengar kalimat Seokjin. Hyungnya ini memang sangat pengertian. Ia lalu mengelus surai hitam Seokjin dengan lembut.

"Kau tidak perlu khawatir, hyung. Taehyung tidak selemah itu."

.

Nyatanya, Taehyung memang selemah itu. Setelah Namjoon dan Seokjin meninggalkannya dan Hoseok di ruang tamu, pemuda itu terus diam dengan wajah murungnya. Nama Jungkook terus memenuhi pikirannya. Siapa itu Jungkook, mengapa ia bisa mengetahui ulangtahunnya sedangkan semua hyungnya tidak, dan mengapa Taehyung tidak bisa mengingatnya sama sekali. Bahkan ia tidak bisa membayangkan bagaimana wajah seorang Jungkook, atau mungkin umurnya. Taehyung tidak ingat apapun.

"Hyung," panggil Taehyung. "Kenapa aku bisa melupakan orang itu? Aku bahkan baru mendengar namanya."

Hoseok tidak tahu harus menjawab apa. Ia melirik pada Jungkook yang memeluk Taehyung sambil mengelus rambutnya pelan, namun bocah imut itu hanya tersenyum kecut pada Hoseok.

"Lalu kenapa aku bisa mengingat Namjoon hyung dan Seokjin hyung? Dan juga Yoongi noona, dan—"

"Tae-ya," potong Hoseok. Ia tersenyum lembut pada Taehyung. "Kau hanya lupa. Ingatlah pelan-pelan."

Hoseok dapat melihat raut wajah sendu Taehyung. Jungkook pun memasang raut wajah yang sama, kini ia memeluk Taehyung lebih erat. Hoseok tidak suka, sebenarnya. Taehyungnya bersedih dan hal yang membuatnya bersedih kini tengah memeluknya erat. Ingin rasanya ia mengusir Jungkook agar tidak mengganggu Taehyung lagi, namun semua itu sia-sia. Kini Taehyung sudah mendengar nama Jungkook, tidak ada artinya jika ia mengusir arwah itu sekarang.

"Akhir-akhir ini aku bermimpi, hyung," Taehyung kembali berbicara, ia menundukkan kepalanya sehingga Hoseok tidak bisa melihat wajahnya. "Ada seseorang bersamaku. Ia berkali-kali muncul, dan ia terasa begitu akrab denganku. Tapi..."

Setetes airmata terjatuh dari mata indah Taehyung. Sontak pemuda itu menutupi kedua matanya dengan lengannya agar tidak ada lagi airmatanya yang terjatuh.

"Aku tidak tahu, hyung, aku tidak ingat. Wajahnya, suaranya. Aku tidak bisa mengingatnya. Aku hanya ingat... rambutnya merah, seperti warna darah yang mengalir. Dan dalam mimpiku, aku berulang kali memanggilnya Chimchim," lanjut Taehyung sambil terisak pelan.

Tangan Hoseok terulur untuk memeluk Taehyung. Ia menepuk punggung adiknya dengan lembut, mengelus kepalanya pelan, namun tidak mengucap kata-kata untuk menenangkan tangisnya. Tidak apa jika Taehyung menangis, asalkan ini yang terakhir baginya. Hoseok berjanji pada dirinya sendiri, ia akan melindungi Taehyung setelah ini.

Pada saat yang sama, Namjoon baru saja keluar dari kamar Seokjin. Ia melihat pemandangan itu—Taehyung yang direngkuh oleh Hoseok. Ia melihatnya. Untuk pertama kalinya, Namjoon melihat tangis seorang Kim Taehyung. Dan itu semua adalah salahnya.

.

.

.

TBC


Haloooo fast update lagi nih mhehehe *ngengir ala Hoseok* maaf ya pendek (lagi) maklum ngebut ngetiknya, saking pengen dipost di tanggal 31 ._.

Chap depan agak panjangan kok, janji nih janji, tapi ga janji bakalan update kurang dari seminggu hahaha.

Maaf kalo readers kecewa sama cerita di chap ini ya T-T abisnya anon pengen banget masukin Namjoon disini, walaupun agak maksa jadinya, tapi... GET WELL SOON NAMJOON! T-T

Oki doki, terimakasih banyak banget buat semua readers yaaaa, yang baca doang, yang mampir doang, yang follow favorite review apalagi. Makasih gaes! Alavyu

See you in 2016~