Disclaimer:

Naruto : Masashi Kishimoto

High School DxD: Ichiei Ishibumi

.

.

.

My Husband From the Last

By Hikasya

.

.

.

Chapter 10. Sosok yang mengejutkan

.

.

.

"Ada apa, Koneko-chan?" tanya Naruto tiba-tiba.

"Eh?" Koneko terkesiap. Lamunannya buyar. Jawabnya, "Ah, tidak ada apa-apa, Naruto-kun."

"Kamu pasti bohong."

"Aku tidak bohong."

Koneko menggeleng cepat. Naruto menatap wajahnya lekat-lekat. Koneko menundukkan kepalanya.

"Pasti kamu memikirkan keluargamu, kan, Koneko-chan?"

Netra emas itu membulat sempurna. Koneko menengadah untuk menatap wajah Naruto.

"Itu ... benar. Tapi, itu masa lalu. Aku tidak sedih lagi. Karena aku sudah memilikimu."

Naruto tersenyum mendengar perkataan Koneko. Ia membelai lembut puncak rambut istrinya.

"Ya. Tidak ada waktu untuk bersedih lagi. Sama halnya denganku. Aku sering teringat Kaasan-ku, dan berpikir kenapa Kami-sama tidak menghidupkan Kaasan-ku lagi. Ini tidak adil. Tapi, kata Tousan, Kaasan memang tidak ada di dunia ini, tetapi dia menunggu di akhirat sana karena Kaasan adalah manusia. Aku yang seorang manusia setengah Dewa, tentu bisa menemui Kaasan kapan saja."

"Begitu ya? Apa itu berarti aku bisa menemui keluargaku nanti?"

"Iya, bisa."

Naruto tersenyum lagi. Ia tetap membelai rambut Koneko. Koneko terpaku, lalu ikut tersenyum.

Api unggun tetap menyala. Menghangatkan suasana di sekitar pasangan suami-istri itu, hingga muncul suara yang memanggil.

"Naruto, Koneko!"

Suara yang berasal dari luar goa. Naruto dan Koneko senang saat melihat pria berambut pirang masuk, kemudian menghampiri mereka.

"Tousan!" seru Naruto langsung berdiri bersama Koneko, "kami baru saja membicarakan Tousan dengan Kaasan."

Minato tersenyum. "Hmmm, aku tahu itu."

"Lalu, apa tujuan Tousan datang ke sini lagi?"

"Aku datang ke sini untuk memberitahukan sesuatu yang penting padamu, Naruto."

"Apa itu, Tousan?"

"Identitas dua kloningmu yang menyamar menjadi kalian berdua, telah terbongkar saat melawan makhluk mitologi yang menyerang Asia di apartemen. Tiga ksatria Akatsuki, telah mengetahui jati diri kalian yang sebenarnya."

"Apa?"

Naruto membelalakkan mata. Koneko terdiam. Minato mengangguk.

"Ya. Sekarang dua kloningmu sedang berbicara dengan tiga Ksatria Akatsuki. Mereka berencana akan membantu dua kloningmu untuk mengalahkan dewa kegelapan. Jadi, kalian berdua tertolong karena mendapatkan bantuan tambahan."

"Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Dua kloningku itu sama saja dengan diriku sendiri. Apapun yang mereka alami, pasti aku akan mengalaminya."

"Ya. Kamu malah asyik berduaan terus dengan istrimu. Kamu tidak pernah datang untuk membantu kami saat pasukan dewa kegelapan menyerang."

"Ah, maaf, Tousan. Aku tidak bermaksud begitu. Tujuanku dari awal, aku ingin menjaga istriku sampai melahirkan nanti. Jika istriku dibiarkan sendiri selama aku pergi, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya."

"Aku paham. Memang itulah tanggung jawab suami yang sebenarnya. Suami harus melindungi istrinya. Ya, kamu memang pantas untuk memikul beban itu."

"Maafkan aku, Tousan."

"Tidak apa-apa, Naruto."

Minato tersenyum sambil memegang bahu Naruto. Naruto berwajah kusut. Minato melewatinya untuk mendekati Koneko.

"Koneko-chan, bagaimana keadaanmu dan bayi di kandunganmu?"

"Aku sehat, dan bayiku juga sehat, Tousan."

"Baguslah. Tetap semangat, makan makanan yang bergizi, dan tidur tepat waktu. Lalu, kalau bisa, jauhi dulu suamimu itu."

"Eh? Jauhi Naruto? Kenapa, Tousan?"

Koneko bingung. Minato berbisik pelan padanya. Koneko mendengarkan sambil manggut-manggut. Membuat Naruto heran plus sweatdrop di kepalanya.

"Apa yang kalian bisikkan itu?" tanya Naruto curiga.

"Tidak ada apa-apa, Naruto-kun," jawab Koneko.

"Ya, bukan apa-apa," ucap Minato tersenyum.

"Kudengar Tousan melarang Koneko menjauhiku."

"Kamu salah dengar, Naruto."

"Mana mungkin aku salah dengar?"

"Sudah cukup. Tousan pergi dulu. Sampai nanti."

Minato menghilang menjadi terurai cahaya. Naruto menghelakan napas kesal. Koneko tersenyum simpul.

"Jangan marah, Naruto-kun."

"Aku tidak marah."

"Tousan memang melarangku untuk menjauhimu."

"Kenapa begitu?"

"Dia pikir kamu bisa membahayakan kehamilanku."

"Membahayakan bagaimana?"

Beberapa tanda tanya muncul di kepala Naruto. Laki-laki berambut pirang itu bingung setengah mati. Koneko tersenyum, langsung memegang dua pipi Naruto.

"Selama aku hamil, kita harus bersikap seperti kekasih. Tidak berhubungan lebih jauh dari itu. Itu yang dimaksud Tousan," kata Koneko dengan wajah yang memerah, "kamu mengerti, kan?"

Naruto terdiam. Ia pun tersenyum.

"Aku mengerti," sahut Naruto, "tentu aku tidak akan membahayakan anakku sendiri."

"Syukurlah. Kuharap kamu bisa menguasai dirimu."

"Ya. Aku akan mencobanya."

"Baguslah."

Koneko merangkul leher Naruto. Naruto membelit pinggangnya. Mereka berpelukan untuk beberapa saat.

.

.

.

"Hoaaam." Yahiko menguap panjang selama berjaga di depan pintu apartemen Asia, "kenapa kita harus bergadang semalaman suntuk begini? Sementara tiga gadis itu malah asyik tertidur di dalam."

"Jangan banyak protes, Yahiko!" celetuk Naruto yang menyumpal mulut Yahiko dengan roti rasa strawberry.

"Ya. Kita laki-laki harus siap untuk menghadapi kemungkinan yang terjadi," ucap Nagato yang melahap roti pemberian Naruto tadi.

Ketiga laki-laki itu sedang duduk bersila di lantai yang dingin. Di depan mereka, beberapa cemilan dan minuman kaleng beraneka rasa tersedia. Naruto yang membelikan semua itu.

Hanya mereka yang masih nekad tinggal di sana, karena semua penghuni apartemen telah mengungsi ke tempat lain, pasca diserang makhluk mitologi. Beberapa bagian apartemen yang rusak, telah diperbaiki oleh kekuatan dewa Naruto.

Ketiga lelaki sibuk berceloteh sepanjang malam untuk mengusir rasa kantuk. Ada satu gadis yang belum tertidur, Asia yang mengkhawatirkan keadaan Koneko asli - Asia sudah mengetahui Naruto dan Koneko yang tinggal bersamanya selama ini adalah kloning Naruto.

Asia terbaring bersama Koneko palsu yang tidur dalam ranjang yang sama. Konan ikut juga menemani mereka, memilih tidur di lantai beralaskan kasur sederhana. Di dalam kegelapan, keheningan menemani ketiga gadis itu.

Bagaimana keadaan Koneko-chan sekarang ya? Batin Asia.

Ingin rasanya Asia pergi menemui Koneko sekarang. Tapi, ia tidak bisa pergi ke sana, mengingat tempatnya sangat jauh.

Semoga kamu baik-baik saja di sana, Koneko-chan. Karena aku tahu, Naruto akan menjagamu dengan baik, batin Asia lagi.

.

.

.

Di goa, tempat keluarga Uzumaki tinggal untuk sementara waktu.

Wsssh!

Malam yang dingin, tiba-tiba muncul angin yang bertiup sangat kencang hingga membuat semua tanaman bergemerisik. Kilatan merah sesekali muncul di kaki langit. Memberi tanda bahwa badai angin akan tiba.

Koneko terbangun ketika mendengar suara angin itu. Ia menggeliat, lalu melepaskan diri dari Naruto karena memeluk Naruto saat tidur. Kemudian ia menyibak selimut. Berencana keluar dari gua.

Naruto juga terbangun saat menyadari istrinya tidak ada di dekatnya. Ia keluar dari selimut.

"Koneko-chan, kamu mau kemana?" tanya Naruto yang mendekati Koneko.

"Aku mendengar suara yang memanggilku," jawab Koneko yang berhenti di dekat mulut gua. Di sekitar mulut gua, telah ditutupi dengan energi pelindung transparan yang bisa menolak energi kejahatan.

"Suara apa?"

"Suara yang sangat kukenali."

Koneko melihat ke ujung kegelapan. Naruto berdiri di sampingnya, turut memandang ke arah yang dipandang Koneko. Ia penasaran tentang suara yang dimaksud Koneko.

Mereka tetap bertahan di posisi itu, untuk beberapa lama. Di antara dersik yang bertiup, muncul sosok yang datang dari kegelapan. Sosok itu berjalan pelan menuju ke gua.

Tap! Tap! Tap!

Jejak-jejak tertinggal saat kakinya melangkah. Kaki yang tidak berbungkus, tertutupi dengan kimono hitam terusan hingga mencapai setengah betis. Matanya yang berwarna emas, bersinar terang seperti mata kucing yang tertimpa cahaya. Ia berhenti ketika berjarak beberapa langkah dari mulut gua.

"Koneko-chan," panggilnya dengan nada yang parau.

Koneko terkesiap begitu tahu siapa orang yang memanggilnya. "Kuroka-nee!"

Naruto membelalakkan matanya. Koneko begitu senang, hendak berlari untuk menghampiri gadis dewasa berperawakan tinggi yang diduga adalah kakaknya, tetapi niatnya batal ketika tangannya digenggam kuat oleh Naruto.

"Jangan dekati dia, Koneko-chan!"

"Tapi, Naruto-kun. Dia itu kakakku, Toujou Kuroka."

"Dia sudah mati, bukan?"

"Ya. Dia sudah mati, saat berumur 14 tahun."

"Tidak mungkin dia hidup lagi."

"Ah, benar juga."

Koneko tersentak. Ia menoleh, mengamati gadis yang terselimuti kegelapan. Naruto memandang gadis berkimono hitam dengan tajam seraya berkata, "Apa benar kamu kakaknya Koneko-chan?"

Gadis itu mengangguk pelan. "Benar. Aku kakaknya Koneko-chan. Toujou Kuroka yang tewas saat diserang naga hitam pada umur empat belas tahun."

"Jika kamu benar-benar dia, aku akan mengujimu."

"Aku siap diuji."

"Baiklah. Aku minta kamu masuk ke sini sekarang juga."

"Aku mengerti."

Gadis itu mengangguk cepat. Ia berjalan pelan mendekati mulut gua. Jantung Koneko berdetak kencang tatkala gadis itu mendekati energi pelindung transparan yang menutupi mulut gua.

Tidak terjadi apa-apa. Gadis itu berhasil masuk melewati energi pelindung transparan itu. Koneko bernapas lega.

Wajah gadis berkimono hitam terlihat karena cahaya api unggun yang masih menyala. Gadis itu tersenyum pada Naruto dan Koneko.

"Aku telah membuktikan bahwa aku ini benar-benar Kuroka," ucap gadis itu, "Sekarang kalian percaya padaku, kan?"

"Aku percaya," sahut Koneko yang berlari mendekatinya. Ia pun memeluk sang kakak. Sambungnya, "Nee-chan. Tidak kusangka kamu masih hidup. Kukira kamu telah meninggal waktu itu."

"Aku memang sudah meninggal. Tapi, aku dihidupkan kembali oleh Kami-sama dengan perantara Zeus. Aku diminta membantu kalian untuk melawan dewa kegelapan."

"Syukurlah."

"Ya. Dengan begitu, Naruto tidak terlalu mengkhawatirkanmu. Aku bisa menemanimu jika Naruto pergi untuk membantu teman-teman yang lain."

"Apa?" Naruto membulatkan matanya.

Dua saudara perempuan menjauh, kini memandang Naruto. Kuroka tersenyum.

"Ya. Apa kamu keberatan, Naruto?"

"Aku keberatan."

"Seorang pembela kebenaran harus pergi memerangi kejahatan, kan? Bukan mengurung diri bersama istri di sini. Berarti kamu hanya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk selalu bersama istrimu."

"Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya tidak ingin istriku tidak mengalami hal yang buruk, makanya aku menjaganya."

"Kalau begitu, tugasmu sudah selesai. Biar aku yang menjaga Koneko. Benar 'kan, Koneko?"

"Benar."

"Koneko-chan, kamu berpihak dengan kakakmu ya?"

"Iya, Naruto-kun."

"Koneko-chan, kamu tidak mencintaiku lagi?"

"Aku mencintaimu."

"Aku akan tetap memegang teguh apa yang kukatakan karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan menjagamu hingga melahirkan. Tidak mungkin aku mengingkari janjiku sendiri."

"Jadi, kamu membuat janji itu. Apa boleh buat. Terserah kamu saja."

Kuroka menyela di akhir percakapan. Ia menghelakan napasnya. Koneko berwajah kusut. Naruto mendengus sewot.

Hening. Kuroka mengedarkan pandangan ke semua sudut tempat itu. Sampai pandangannya tertancap pada kasur yang menjadi tempat tidur Naruto dan Koneko.

"Hoaaam, aku mengantuk sekali. Aku mau tidur di sana ya. Koneko-chan, ayo, kita tidur sama-sama!"

Dengan seenak jidat, Kuroka sudah terbaring dalam selimut milik Naruto. Ia menepuk-nepuk di sampingnya untuk mengisyaratkan Koneko tidur di sana.

"Itu 'kan tempat tidur kita," celetuk Naruto yang sewot lagi.

"Koneko-chan, ayo, ke sini!" pinta Kuroka dengan suara lembut.

"Tidak, Nee-chan," tolak Koneko menggeleng pelan.

"Kenapa?"

"Aku tidak bisa tidur tanpa ada Naruto-kun di sampingku."

Koneko mengatakannya dengan kedua pipi yang memerah. Naruto menatapnya, terpaku. Koneko menjeling Naruto, lalu menunduk malu.

Menyaksikan adegan itu, Kuroka terdiam. Ia pun tersenyum.

"Aku mengerti. Aku tidak memaksamu untuk tidur bersamaku, Koneko-chan. Kalau begitu, aku tidur dulu ya."

Kuroka langsung memejamkan mata. Dalam sekejap, ia terhanyut dalam buaian mimpi. Membuat Naruto dan Koneko ternganga.

Hela napas panjang terdengar mulut Naruto. "Aaah, kita tidur di mana? Ayo, pikirkan itu!"

Koneko tersenyum maklum. "Habis mau bagaimana lagi, Naruto-kun."

"Kalau tidur di luar, sebentar lagi badai angin akan tiba."

"Lalu?"

"Aku tahu tempat yang tepat untuk tidur."

"Eh? Di mana itu?"

Koneko penasaran. Naruto langsung menggendongnya dengan gaya bridal. Mereka berteleportasi ke tempat lain.

.

.

.

Badai angin telah datang bersama petir yang mengamuk dahsyat. Angin kencang bertiup ganas hingga menerbangkan apa saja yang dilaluinya.

Di gua lain, sangat jauh dari gua yang dihuni Kuroka, Naruto dan Koneko menyaksikan pemandangan badai angin dari gua yang ditutupi dengan energi pelindung transparan. Mereka berpelukan erat untuk menghangatkan diri.

"Ini mengerikan, Naruto-kun," ucap Koneko yang menyembunyikan wajahnya di dada Naruto, "ini mengingatkan aku pada kejadian saat naga hitam menyerang desaku."

"Ada badai angin seperti ini ya?" tanya Naruto yang tetap tenang.

"Iya."

"Kamu takut sekali."

"Hn."

"Kita masuk lebih dalam lagi."

"Hn."

Mereka berdua pergi ke ujung gua. Jarak mulut dengan ujung gua yang buntu, kira-kira 25 meter.

Api unggun buatan Naruto menyala terang untuk menghangatkan suasana gua. Naruto dan Koneko duduk seraya berpelukan erat. Koneko ketakutan.

Tak lama kemudian, mereka saling menatap dalam jarak yang sangat dekat.

"Kamu tidak takut lagi, kan?"

"Tidak, Naruto-kun."

"Syukurlah. Tapi, badai belum berhenti sampai sekarang."

"Iya. Tapi, Nee-chan bagaimana?"

"Tidak apa-apa. Dia akan baik-baik saja selama tidak keluar dari gua itu."

"Semoga saja begitu."

Koneko mengangguk pelan. Naruto kembali mengurungnya dalam dekapan hangat.

Sudah hampir lima jam, badai angin ini masih berlangsung. Kegelapan total menguasai dunia karena awan-awan Cumulonimbus yang menguasai langit. Naruto dan Koneko merasakan keganjilan itu.

"Tidak reda juga, Koneko-chan."

"Apa ini perbuatan dewa kegelapan?"

"Tidak salah lagi."

"Tapi, apakah kloning-kloningmu akan menyadarinya?"

"Ya. Mungkin mereka sekarang sedang mencari tahu siapa yang menyebabkan badai angin ini."

"Kupikir sebaiknya kamu pergi juga untuk membantu mereka."

"Tidak bisa. Aku harus menjagamu sampai janjiku itu lunas."

"Tapi..."

"Percayalah pada kloning-kloningku dan ketiga Ksatria Akatsuki itu. Serahkan semuanya pada mereka."

Naruto memegang dua pipi Koneko. Menatap wajah Koneko lekat-lekat. Memberikan injeksi kepercayaan pada diri Koneko.

"Aku percaya itu, Naruto-kun."

Naruto tersenyum.

"Ya. Karena kloning-kloning berkekuatan yang sama dengan kita."

"Lalu, apa yang kita lakukan sekarang?"

"Menunggu badai ini reda."

Naruto memeluk Koneko sekali lagi. Mereka sama-sama memandang ke luar gua. Cahaya terang bagaikan kilat kamera, menampakkan sosok misterius yang bertengger di batang pohon, tak jauh dari gua yang dihuni pasangan Uzumaki.

Seulas seringai tipis terukir di wajah makhluk yang terselimuti kegelapan.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/N:

Sepertinya masih panjang. Jadi, saya rasa cerita ini akan lewat dari chapter 15 lebih.

Oke, makasih ya buat yang baca fic ini.

Selasa, 16 Juli 2019