Don't like. Don't read.
Warning: cerita didominasi oleh konten Boys Love a.k.a Yaoi, OOC demi keperluan cerita, miss typo. Rated M untuk konten dewasa secara tidak langsung. Maybe, Change for genre.
Pairing: Many pairing Yaoi: PrusCan, USUK, NetherIndo, SpaMano, GerIta Etc.
Summary:Coklat berbeda dengan merah. Tanah berbeda dengan api. Begitu pula kita, manusia berbeda dengan iblis...
.
.
Aku selalu merasakan kebencian tak berujung.
Merasa tak adil akan takdir yang digariskan.
Menggerutu sengit karenanya.
Yang perlahan semua itu berubah.
Ketika diri dibawa berhadapan dengannya.
Yang membuat pandang kuberubah mengenai kebenaran yang sesungguhnya.
.
.
Fate Line
(...Bisakah kita melewatinya... Garis tipis sejengkal yang begitu tebal? Bisakah kita mengubah... apa yang sudah digariskan?...)
.
Original Story by Rin
Disclaimer © Hidekaz Himaruya
Hurt/Comfort, Supranatural, Romance, Poetry
Rated M
.
Chapter. 8
.
Semilir angin setelah senja. Berhembus dingin membuat riak. Menerbangkan surai dedaunan. Yang jatuh gugur kemudian terhempas. Dibawah naungan kelam keunguan langit. Berjalan kedua mahluk itu ditengah hening bangunan depi. Akan pengunjung dan eksitensi.
Kerlap hura-hura ketika matahari terduduk pada singasananya. Menjadi bisu kuburan ketika bulan berganti jaya. Tak urung diri itu bergidik sedikit karena angin yang menggelitik diri.
"Dingin?" Tanya yang diutarakan, membuat pirang itu menoleh pada pemilik suara yang menggandeng jemarinya hangat. Yang menyadari perubahan tubuhnya. Tersenyum bibir itu manis dan mengucap hal yang membuang kekhawatiran. "Sedikit. Tapi, tidak apa-apa." Hanya seulas senyum kecil tertarik menanggapi, sebelum akhirnya membuang ruby itu dari tangkap retina violet tersebut.
Hening menggantung tiap langkah yang dipijak dalam riuh pengunjung yang tak seberapa. Tak mempedulikan mereka yang semakin menjauhi kerumunan, melangkah menuju hening kegelapan malam.
Dalam genggam yang menariknya pergi. Terdiam diri itu mengikuti. Diam menatap sang kasih. Dalam seribu kecamuk perasaan dalam batin. "Gil…" panggilnya. "Kita mau kemana?" tanyanya penasaran. Karena sedarinya mereka berjalan, langkah mereka semakin membawa mereka pada wahana-wahana minim pengunjung. Yang sepi tanpa keberadaan siapapun.
"…" tak ada sahut yang menjadi jawab. Hanya tarut yang dieratkan mencengkram jemari. Yang membuatnya meringis tanpa suara.
Setitik kecemasan yang menelusup, melihatr sikap yang berbeda dari sang kasih. Sesirat bimbang yang menguasai relung, akan dingin tanggap yang selalu membuat dirinya menyepi sedih. Tersurat ragu dalam hati. Dan mungkin takut karena semuanya.
Namun, tak ingin ia berprasangka buruk padanya. Berusaha diri untuk mempercayainya. Ingin percaya.
Karena tulus hati, dia menyayangi orang itu apa adanya
.
.
"Hei, kenapa kamu disini?"
"Karena aku ingin disini."
"Pergi! Kau tidak sama denganku."
Selalu itu, alasan untuk mengapatiskan diri dari yang lain.
"Apa yang berbeda?"
"Semuanya!"
"Bukankah kita sama?"
"Tidak!"
Menyangkal kebenaran dan menenggelamkan diri dalam keputus asaan.
Itulah manusia.
"Tidakkah kita memiliki persamaan? Disini?"
Merengkuh tangan yang terkepal itu. Tepat menyentuh dimana hati tertanam kuat didalamnya.
.
Bukankah sesungguhnya kita sama? Kita sama-sama memiliki 'hati' bukan?
.
Ketahuilah kawan, didalam sudut hati yang membeku.
Ada kilau berlian yang tengah tertidur.
Terselimut kelam salju tertutup.
Bisakah kau bangunkan dia?
.
.
.
Tap.
Kret.
Tap.
Kret
…
Krieett.
Ruang kosong dalam gelap. Itu yang didapatnya ketika pintu terbuka. Dalam gelap dengan minim cahaya yang menyusup. Melangkah diri itu masuk dalam genggam yang penuh dengan seorang pemuda yang tertidur dalam gendongnya. Dibawa hati-hati seperti putrid yang rapuh, menidurkannya terbaring dalam empuk kasur.
Diam terduduk disampingnya, dalam sunyi mengelus surai kecoklatan dia yang tertidur lelap. Damai mengarungi mimpi dalam alam bawah sadar. Entah apa yang diimpikannya dalam tidur yang tenang utu layaknya bocah yang selalu tertawa tanpa beban.
'Benar-benar.'
"Kupikir kau sama saja dengan manusia yang lain."
Yang terjebak begitu saja lalu mati."
"Aku yang dulu … padtinya tidak akan peduli dengan mereka."
"…"
"Salam kenal. Aku Feliciano, kamu duka pasta, Vee~?"
"Ludwig selamat datang!"
"Peluk! Peluk aku, Vee~."
"VEEEE! TOLONG AKU LUDWIG~~!"
"Vee~, aku juga suka Ludwig. Ludwig temanku yang paling berharga!"
"Aku saying denganmu Ludwig. Karena itu jangan tinggalkan aku."
Tak pernah sekalipun diri ini menyangka bahwa dirinyalah yang terjebak dalam ulas senyum yang diumbar tulus tanpa paksaan. Tanpa terbebani dalam putih hati yang memancarkan kepolosan. Tanpa mengeluh dalam perbuat yang menunjukkan betapa baik hati dirinya, dalam permata amber yang menyiratkan cinta damai. Juga dirinya. Yang membelenggu diri ini hingga berbelot arah. Perlahan tertarik dalam cahaya setelah kegelapan mengungkung dirinya sekian lama. Yang mampu membuatnya mengukir tulus bahagia tanpa kepalsuan semata.
"Terima kasih untuk semuanya." Berbisik diri itu pelan, sepelan mungkin hingga seperti gumaman.
"Untuk sikapmu yang selalu bermanja dan kecerobohanmu yang bias membuaku kesal." Miris, menutupi tangkup wajah tampan dibalik jemari kekar.
"Juga ketulusanmu dan ….pengertianmu."
"Menerima diriku."
Tertutup safir itu, menghempas hembus mengingat saudara sedarahnya kini dalam sekelebat baying yang muncul. Yang sesungguhnya tak menyadari semua itu. Selalu menyangkal semua ketulusan dari orang yang tanpa disadarinya telah menjadi berharga untuknya. Yang selalu tersenyum untuknya. Yang membuatnya mampu tertawa tanpa kepalsuan tanpa disadari. Sama seperti dirinya.
"Ludwig…"
Teringat pula dirinya pada kasih yang dicintainya.
Kehangatan sesaat yang ditularkan, dalam sebuah taut yang membungkam ranum kemerahan bibir itu yang tertidur sang empunya. Yang kali ini hanya sebuah cium lembut, yang berpindah kemudian membisikkan suatu mantra yang bersenandung.
Diri ini, masih memiliki satu hal tugas. Masih memiliki kewajiban. Setidaknya apa yang dipilihnya tidak akan membuatnya menyesal berkepanjangna.
Karena mantap dia memilih fana takdir dalam putaran hidupnya.
"Maafkan aku… dan terima kasih. Sekali lagi."
.
Tak kuucap kata perpisahan.
Tak ada lantun 'selamat tinggal'.
Karena yang ditinggalkan, maupun yang meninggalkan… sama-sama terluka.
Karena dengan keegoisan kuberpikir.
Pikir yang menjadi harap.
Harap yang menjadi do'a.
Selama diri masih bernafas.
Dalam detak jantung yang masih bergerak.
Dan dunia terus berputar.
Juga waktu yang masih berdetak tiap detiknya.
Dan jika Tuhan mengizinkan.
Kita pasti bertemu lagi.
.
Meski dalam wujud yang lain.
.
.
Tirai putih yang terhempas melambai. Tersapu angin yang menyusup daun jendela. Yang terbuka mengekspos pandang malam. Memberi izin semilir udara dingin menghembuskan bisu yang menggelitik. Yang membuat surai kecoklatan itu tersibak. Yang membuat erang tertahan ditengah sunyi malam. Yang membiarkan permata coklat itu berkilat alam sendu kelopaknua diusap.
Ketika menyadari diri itu tengah sendiri, dalam balutan kain putih yang menyelimutinya suci. Terduduk memandang langit. Yang terpenuhi butir Kristal bintang. Dan sabit rembulan menyayat langit. Yang terlukis semua pemandangan langit fana itu dalam bingkai coklat. Fana yang kemudian akan musnah dan terganti.
Terduduk diri itu memandang. Bisu bibir itu diam. Sunyi mencengkam telinga. Dan hati yang telah kosong akan kenangan. Kemudian bibir itu melantunkan tany apolos akan ketidak mengerttian.
"Siapa?"
Tanya yang bergaung menjadi gema. Entah pada siapa ditunjukkn. Terbawa kemudian bersama sunyi angin semilir. Tanpa jawab kemudian hilang. Bersamaan dengan seseorang yang berharga. Yang telah fana dari ingatan.
.
.
"Sudah sampai."
Seketika kakinya berhenti menanggapi sebuah isyarat. Mendongak violet itu yang kemudian disuguhkan dihadapannya sebuah bangun tua yang mungkin salah satu sarana wahana yang tak terpakai. "Tempat ini…?" tak melanjutkan katanya, membiarka titik-titik kosong itu diisi oleh penjelasan darinya,
"Dulu ini rumah kaca, tapi Karen atidak laku makannya ditutup. Terakhir aku menyusup kesini, bagian dalamnya sama sekali tidak dibongkar."
"Me-menyusup?" matanya membelalak. Menatap horror mendengar yang telah dikatakannya. Yang reaksi darinya sama sekali tidak dianggap oleh kekasihnya.
"Ayo!"
.
.
"Gil.. kupikir sebaiknya kau hentikan."getar bibir itu mengucap khawatir. Menatap diri yang lain yang tengah sibuk menyabotase aliran listrik dalam bangun itu. Yang kembali tidak ditanggapi dan hanya bisu yang mengudara pada sekitar.
"Sedikit lagi."
"Tapi…"
"…aku ingin menunjukkan ini padamu." Terpaku diri kembali. Tenggelam dalam keseriusan kata yang diucap.
.
Deg.
.
"!" bisa dipastikan dirinya akan ambruk bila tidak bertumpu pada dinding yang tertanam kokoh disampingnya. Nafasnya memburu sementara, jemari tangannya mencengkram pada kain kemeja tepat dimana sakit yang melanda berada. Kenapa sakit ini tiba-tiba menyerangnya lagi?
"Ayo, Mattie." Seakan tidak menyadari atau sebenarnya menyadari tapi tidak menanggapi. Dia hanya ingin menyelesaikan semua ini. Segera. Agar tidak semkin termakan perasaan aneh koyol yang menghinggapi.
Kekar jemari itu menarik dirinya, membawa dirinya memasuki bangun tua yang kelam terlihat diluar. Entah apa yang terjadi ketika dia membuka mata ditengah gelap. Diri ini mendapati beribu Kristal yang menampilkan optik bayang diri ini didalamnya yang menipu penglihatan. Yang dalam minim cahaya ruangan itu menambah kesan indah dalam berbagai arti tersendiri tiap arsitekturnya. Membuat sebuah kilau kagum pada retina ungu mendapatisemua yang tertangkap. Ketika bayyang diri itu terpantul dalam cermin yang tertimpa cahaya remang. Seperti diri ini berada dalam sebuah istana es yang kristalnya berkilat menarik hati.
"Kau suka, Mattie?"
Begitu terpukaunya ia hingga tak sanggup berkata-kata. Membuat sakit yang tadinya mendera terlupakan begitu saja. "Indah sekali." Bisiknya memuji. Tak menyadari bahwa bisik itu mengundang hasrat sang iblis yang tengah berdiam diri.
Pirang itu melangkah maju, mendekat pada sebuah Kristal, memperhatikan tiap lekuk tubuh yang terpantul disana. Meraba bening licin yang dingin itu. Mengaguminya. Dirinya memang sangat menyukai hal-hal yang seperti ini.
Tak ada kata lagi. Dari violet maupun ruby yang menatap dirinya mengakui, tempat ini memang indah. Bahkan untuk ukuran mahluk sepertinya. Menampilkan tiap sisi tubuh yang terpantul. Andai hati manusia tidaklah rumit, dia tidak akan melakukan hal ini. Sekedar memberi kebahagiaan padanya. Kebahagiaan dia. Dia yang akan dijerumuskannya.
Bruk.
.
.
.
Deg
.
Lagi.
Sekali lagi dia merasakan gejolak aneh pada sesuatu didalam tubunya. Seperti sesuatu yang membuat darahnya terpompa begitu cepat dan berhenti seketika kemudiannya. Membuat syarafnya otomatis membentuk suatu reaksi memeluk tubunya. Yang semua itu membuat satu firasat buruk yang pasinya tidak akan baik.
"Alfred." Berpaling diri itu, menatap emerald yang berada mendahuluinya. Berhenti sejenak menungguinya. "Jangan melamun. Cepat." Tidak mau membuat masalah, dirinya menurut saja. Terdiam mengikutinya kembali dalam bisu. Ingin dia menginterogasi kekasihnya satu ini dengan beribu Tanya yang belum sempat dijawabnya. Atau mungkin memang sengaja tidak dijawabnya. Yang berarti diri itu tengah merahasiakan sesuatu darinya. Gezz.
Krak.
Satu langkah yang diayun menginjak suatu keberadaan hingga hancur menimbulkan suara. Sepanjang iris safirnya memandang sekitar. Yang tertangkap hanyalah sekumpulan gedung-gedung tua tidak terpakai yang lapuk dimakan waktu, bahkan ada pula yang telah teronggok hanur menjadi puing-puing. Kemungkinan besar tempat ini pernah menjadi lokasi pembantaian. Karena tak sedikit dirinya menangkap sisa-sisa noda darah yang terpecik menghitam pada runtuh yang berserakan.
"Artie." Satu panggil yang dicap mengiringi langkah mereka dalam kesunyian. "Kau… apa memang disini tempat pertemuannya?"
"Bukan."
"Hah?"
"Bukan disini, tapi digedung itu." Tunjuknya pada sebuah gedung yang tampak tidak terlalu tua dan masih terlihat lebih baik diantara barikade puing bagunan disekelilingnya.
"Uhukuhuk."
Terbatuk sedikit dia saat memasuki gedung yang debu-debu menguar bertebangan kala ia menginjakkan kakinya. Kepalanya menoleh kekanan dan kekiri memperhatikan tiap sudut ruang itu. Gelap dan lembab. Seperti gedung tua yang biasanya. Juga dengan kesan menyeramkan yang membuat orang-orang mengarang cerita mistis tentang tempat ini. Dia yang dulu mungkin akan mengelak mentah-mentah dari hal-hal semacam itu. Tapi, mungkin sekarang tidak lagi. Karena sejak hari itu, sejak dirinya menyetujui syarat untuk membuka 'penglihatannya', dirinya kini dapat melihat sesuatu yang mungkin orang awam tidak akan mempercayainya.
"Ngomong-ngomong Alfred…?
"Eh? Em, apa Artie?"
"Bandul itu.. yang kau berikan pada Matthew. Sesuai perintahku, kau meneteskan darahmu disana?"
"…ya, kenapa?"
"Lalu?" tanyanya berbalik pada American yang mengikutinya. "Kau merasa ada sesuatu yang aneh, sekarang?" tidak mengerti apa maksudnya. Namun, keseriusan dalam gurat wajah sang British membuatnya enggan mengucap jawab yang bertele-tele. Apa mungkin yang dimaksud..
.
Deg
.
…perasaan ini?
"…Mungkin, ya…? Mema-…."berjenggit diri itu mendapati emerald tersebut memicing dingin menatapnya. Dingin. Dingin tapi. Apa itu kekhawatiran?
Deg.
Kali ini buruk firasatlah yang mampu membuat dirinya mengucurkan jalur dingin keringat. Ketika sekelebat nama menghantui pikirnya. Tiba-tiba saja dirinya merasa gelisah yang sangat. Seakan mengerti tatap yang diberikan Arthur. Lebih-lebih tatap itu yang membuatnya meyadari sesuatu.
Kelu lidahnya bicara, meneguk ludah sebelum mengucap Tanya. Berharap dalam hati terdalam firasat ini tidak ada hubungannya. Tidak ada kaitannya. Berharap diri itu sangat. "Apa… Matt?" sangat dirinya berharap. Yang tahu tanya itu sia-sia terlontar. Karena sebuah angguk kaku sebagai jawab menjadi isyarat.
"Bandul yang kuberikan, sebenarnya adalah warisan turun temurun yang diberikan bayi yang lahir dalam keluarga Kirkland." Penjelasan itu membuat dirinya kembali menatap sang British.
"Alasannya sama dengan alasan utama aku memberikanya padam, dan Matthewsemata-mata untuk melindungi." Tertunduk Emerald itu tanpa menatap safir yang berkilat heran dan Tanya yang terguratdalam safir itu. "Kenapa?" yang semuanya terpental keluar dalam satu kata Tanya, yang mewakili senua rasa ketidak tahuannya.
"Karena, keluarga Kirkland adalah eluarga yang dalam silsilahnya mewarisi kemampuan indra keenam, sedari mereka kanak-kanak pula."
Satu jawab menjelaskan satu Tanya. Yang jawab itu bukanlah terlontar dari seeorang Arthur yang diyakini menjawab perkataannya. Melainkan bergaung dalam gema yang berasal dari seseorang yang mendekat dari dalam gelap. Membalik diri sekedar ingin mendapati siapa yang disana.
Tap.
"Yang karena bocah-bocah berkemmpuan adalah mangsa empuk dan nikmat bagi 'mereka'."
Tap.
Yang langkahnya terhenti dalam satu hentak menguar. Yang berdiri diri itu gagah menopang tangan didepan dada. Dalam balut jaket hitam seperti jubah selutut yang berkibar. Terpantul segurat familiar wajah menampilkan abu yang berkilat dalam timpa rembulan yang menyusup bersinar. Surai ikal hitamnya bergoyang perlahan, bersamaan ketuk angin yang menubruk terdengar.
"Nesia?"
"Benar 'kan, alis tebal?"
"Huh."
"Seperti kata si alis tebal tadi, bandul itu dikenakan untuk melidungi pemiliknya dari pengaruh Iblis."
"Karena itu aku menyuruhmu mengkenakannya pada Matthew."
"Kalau begitu, Matthew akan baik-baik saja, kan?" setitik harap diulas dalam tanya bersama dengan senyum lebar dipaksakan yang mengharapkan cahaya dalam gelap. "Artie?"
". Tidak."
"Apa maksudmu."
"…"
Tak ada jawab. Dari siapapun yang mendengar. Hanya sebuah dongak dilakukan oleh pirang British. Menatap sesuatu diatas sana. Dalam kilat hijau yang memancarkan tajam penglihatan. Yang terbakar api yang bernama dendam. "Bandul itu mempunyai kelemahan."
Ketuk bebatuan terhempas pda tanah. Yang terduduk dua siluet hitam bayang dalam sebuah kotak yang membetuk abadi lukis fana keduanya. Yang tersenyum kaduanya menatap mereka dengan pandang merndahkan. "benda itu tidak bias melindungi Iblis yang memakai wujud manusia." Emerald dan abu yang ikut mendongak balas mebatap menantang. Dalam dingin tajam tersirat kebencian yang dalam.
.
Tabuh gendang telah dibunyikan.
Mulailah kalian bertarung mempertahankan jiwa.
.
"Lama tidak bertemu."
.
.
TBC
.
.
A/N: sebelumnya saya minta maaaf. Publishnya telt. Dikarenakn computer saya dalam masa perawatan yang artinya diservis total, dan berarti untuk sementara saya tidak bisa mempublish terlalu kilat. Sekarang aja lagi ngetik di Warnet.
Untuk para Reviewers saya tidak membalas dulu. Dan yang menunggu LEMON, diusahakan Chap depan.
Tidak mau banyak bacot karena lai dikuber waktu.
Thank's a lot for You
REVIEW?
