Crazy Love

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Miina Cherry

M

Sasuke Uchiha & Sakura Haruno

Warning!

OOC, AU, Typo, Romance, Drama, Blushing Scene, Alur semakin menjurus sinetron, etc.

DON'T LIKE, DON'T READ!

.

.

.

.

Crazy Love chapter 10...

.

.

.

.

Happy reading...

.

.

.

.

"Sakura?"

Pemuda raven tersebut masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia–Sasuke–tersenyum lembut saat melihat gadis yang sangat dicintainya tertidur pulas diatas kasur. Mungkin Sakura kelelahan karena tak henti-hentinya menangis sejak dua jam yang lalu. Sasuke ingat, bagaimana Sakura menangis meraung-raung dimobil sepanjang perjalanan pulang, dan akhirnya tertidur seperti saat ini.

Sasuke mendekat, lalu duduk dipinggir kasur pelan agar tidak membangunkan Sakura. Tangannya terangkat untuk mengelus rambut serta pipi kekasihnya. Wajah Sakura yang tampak damai dalam tidurnya mampu membuat senyum manis diwajah Sasuke tak kunjung hilang. Manis sekali, batin Sasuke. Jari telunjuknya dengan jahil menekan pipi chubby Sakura sehingga membuat pemiliknya melenguh pelan, dan sedikit bergerak. Tapi tak membuat Sakura bangun. Sekali lagi, Sasuke menekan pipi Sakura lalu terkekeh.

Puas menjahili Sakura saat tidur, Sasuke berdiri lalu terdiam sesaat. Berfikir sesuatu, Sasuke berjalan menuju laptop yang disimpan diatas meja. Menyalakannya dan mengotak-atik sesuatu. Jarinya mengetik suatu nama diatas keyboard laptop. Menunggu beberapa saat, senyuman tipis terbentuk diwajah tampannya. Sasuke mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.

Sambungan telepon terhubung. "Hn, Juugo."

"Sasuke? Ada apa? Tumben malam begini kau meneleponku." balas orang itu disebrang telepon

Sasuke menatap laptop didepannya yang menampilkan profile Haruno Kizashi dan Haruno Mebuki. "Kau saat ini sedang berada di Suna bukan? Bisa bantu aku sesuatu?"

"Tentu saja. Apapun untukmu."

"Tolong cari orang yang bernama Haruno Kizashi dan Haruno Mebuki di Suna. Pastikan bahwa mereka masih hidup. Jika kau sudah menemukannya jangan lupa untuk foto mereka." jelas Sasuke

Disisi lain Juugo tampak berfikir. Lalu menjawab "Apakah mereka targetmu selanjutnya?"

"Bukan. Mereka calon mertuaku."

He?

Juugo menatap ponselnya dengan bingung, tak lama dia tertawa. "Baiklah. Besok sore kupastikan info tentang mereka lengkap sudah ada. Akan kukirim lewat email padamu."

"Hn.. Terimakasih."

Tuttt tuutt!

Juugo yang sekarang sedang terduduk dikursi meja kerjanya cengo, sejak kapan Sasuke berterimakasih?

Sedangkan Sasuke lagi-lagi tersenyum, manik onyxnya bergulir kearah Sakura yang masih setia dengan posisinya. Sasuke berjongkok dihadapan Sakura, dia mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening kekasihnya penuh sayang.

"Mimpi indah." bisiknya.

oOo

Itachi menyenderkan kepalanya yang terasa berat pada sandaran sofa diapartemen Sakura. Kedua kelopak matanya terpejam, mengingat bayangan dimana Orochimaru dibawa polisi tadi sore mengiang-ngiang dikepalanya, masalahnya Itachi tahu bahwa Orochimaru bukan orang yang akan berhenti sebelum keinginannya tercapai. Itachi bahkan sempat melihat Orochimaru menyeringai sebelum dirinya dibawa masuk kedalam mobil polisi.

Alasan Itachi ada diapartemen Sakura saat ini adalah karena tadi dia mengantarkan Sasuke dan Sakura pulang. Adik Uchiha Itachi itu tidak membawa kendaraanya, terpaksa Itachi yang mengantar. Sedangkan Kakashi dan teman-teman Girly Sakura tidak bisa menemani, mereka harus menjelaskan pada publik sebelum muncul gosip yang tidak-tidak tentang Sakura. Mengingat gadis merah muda itu tidak hadir dikonser Girly tadi sore.

"Apa yang kau fikirkan?"

Itachi terhenyak saat suara sang adik terdengar, lelaki tampan berkucir satu ini membuka matanya kembali dan menatap Sasuke yang ikut duduk disebelahnya. "Hn. Tidak ada."

Sasuke tampaknya tak ambil pusing, dia mengambil cemilan yang tersedia diatas meja dan memakannya. "Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

"Aku tidak tahu." lelaki yang umurnya lebih tua dari Sasuke itu mengidikkan bahunya. "Tapi Sasuke, walau sekarang Orochimaru sudah ditangkap. Kau harus tetap waspada padanya."

Sasuke mengangguk "Tentu."

Keheningan melanda, baik Sasuke maupun Itachi terlihat asik dengan fikiran mereka masing-masing. Jam dinding diruang tamu sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam, sama seperti manusia pada umumnya. Kedua makhluk tuhan berwajah tampan ini mulai digerayangi rasa kantuk–terlihat dari Itachi dan Sasuke yang menguap bersamaan.

Sasuke menoleh kearah sang kakak. "Kau tidur saja disini. Tapi tidak ada tempat lain selain tidur disofa." ucapnya menjelaskan.

Itachi terkekeh pelan "Ya, baiklah. Tapi–" dia memicingkan matanya menatap Sasuke mengintrogasi "–Jangan bilang kau akan tidur dikamar Sakura?"

"Tenang saja. Aku tidak akan macam-macam dengannya." Sasuke menghela nafasnya sejenak "Karna jika tidak, pukulan gadis itu akan melayang indah diwajahku."

Itachi tertawa lepas. Kasihan juga ternyata adik satu-satunya ini. "Yasudah. Pergi sana, aku mengantuk."

"Kau mengusirku?"

"Antara 'ya', dan 'tentu saja'. Kau fikir bagaimana caranya aku tidur disofa dengan kau disini?"

"Cih." Sasuke mendelik sesaat sambil berdiri dan berjalan kekamar Sakura. Meninggalkan Itachi yang lagi-lagi tertawa. Uchiha bungsu ini terdiam tepat didepan kamar saat dia hendak memutar kenop pintu. "Oyasumi, Nii-san." ucapanya tanpa menoleh kearah Itachi sambil berlalu begitu saja.

Itachi yang tadinya tertawa langsung terdiam mendengar ucapan pelan adiknya. Sudah sejak lama dirinya tidak mendengar Sasuke berkata manis–walau hanya ucapan selamat tidur–dari bibirnya. Ah, ternyata kehadiran gadis merah muda itu benar-benar mengubah Sasuke. Itachi tersenyum simpul. "Oyasumi mou, Otoutou."

oOo

"Enghh~" Sakura melenguh pelan saat dirasakan cahaya putih yang membuat penglihatannya silau.

Hm?

Tapi tunggu.

Kenapa Sakura tidak bisa bergerak? Ini seperti ada yang sedang memeluknya. Dan, seperti ada angin halus yang menyapu wajahnya. Salah satu personil Girly ini membuka pelan kelopak matanya. Pertama kali yang Sakura lihat adalah wajah closeup seksi Sasuke yang tertidur dengan bertelanjang dada sedang memeluknya.

Oh Sasuke ternyata. Pemuda itu tertidur sambil memeluknya–

Memeluknya.

Memeluknya.

Memeluknya.

Memeluk–DAN BERTELANJANG DADA!?

"KYAAAAAAAAA!"

SRET–BRUK!

Karna panik, Sakura refleks bangun dan memundurkan tubuhnya tanpa dia sadari dirinya tidur dipinggir kasur tanpa penghalang, lalu sukses membuat Sakura terjungkal kebelakang. Sasuke yang mendengar suara berisik disekitarnya sontak terbangun, dia mengusap kedua matanya sebelum menatap kearah Sakura yang kini tertidur dibawah dengan kakinya yang masih menempel pada kasur.

Sasuke bangkit terduduk dan melihat Sakura yang kini berulang kali menggaduh sambil mengusap kepala belakangnya. Sebelah halis Sasuke terangkat naik. "Kau kenapa?"

"Jangan banyak bicara! Dan cepat bantu aku berdiri!"

Pemuda yang saat ini bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana panjang hitam itu menghela nafas. Dasar memang nyawanya belum berkumpul penuh, berniat membantu Sakura berdiri, tapi tangannya salah sasaran dan memegang suatu benda kenyal nan empuk milik Sakura.

Nyut-nyut.

"Ng? Sakura, sejak kapan tanganmu seempuk ini?" ujar Sasuke dengan mata yang setengah tertutup.

Sakura menggeram dengan wajah yang memerah sepenuhnya. "BODOHH! JANGAN SENTUH DADAKU!"

PLAK–PLAK–PLAK–PLAK!

Tamparan keras bolak-balik dikedua pipi Sasuke membuat pemuda itu terlonjak kaget. Sasuke mengelus-elus kedua pipinya yang memerah. Perih. "Sakit Sakura!"

"Salah sendiri! Lihat-lihat makanya kalau mau pegang!" bentaknya galak. Cih sudah tidur seenaknya, tak pakai baju, mana dadanya dipegang–sedikit diremas–oleh pemuda mesum yang notebenya adalah kekasihnya sekarang. "M-m-m-mau apa kau!?" Sakura bergidik saat melihat Sasuke menyeringai, kemudian mendekat kearahnya. Sakura mengesot menjauh hingga punggungnya menubruk tembok.

Sasuke menunduk dihadapan Sakura, membuat nafas gadis tersebut terhenti sesaat ketika Sasuke menarik dagunya untuk mendekat. Lalu berbisik "Dadamu lumayan juga sayang. Boleh kusentuh lagi?"

"TIDAAKKK–!"

BAG

BUK

"ARGH!"

MEOW!

oOo

Itachi sedang berada didapur, berniat membuat segelas teh untuk dirinya saat ini. Kemudian maniknya menatap heran saat Sakura berlari keluar dari kamarnya dengan wajah yang sangat memerah–tapi juga ketakutan, gadis itu menuju kearahnya dan bersembunyi dibalik punggungnya. Membuat kedua halis Itachi bertautan bingung "Ada ap–"

"Hoi Sakura! Kemari kau!"

Perkataan Itachi terpotong ketika melihat Sasuke mendekat dengan wajah sangar sambil memegang selangkangannya. Itachi merasakan tubuh gadis yang kini bersembunyi dibelakangnya semakin merapat. "Tunggu dulu. Kau kenapa Sasuke?"

"Ini!" Sasuke menunjuk kearah selangkangannya yang terasa ngilu akibat tendangan Sakura tadi. "Sakit sekali. Agh!"

Itachi sweatdrop. "Ha?"

Sakura yang melihat Sasuke kembali mendekat mengambil spatula yang disimpan tak jauh darinya. "B-berani mendekat! Benda ini melayang Uchiha Sasuke!"

"Hm?" Sasuke memandang Sakura sarkatik–juga menantang–sambil melipat kedua tangannya didepan dada. "Coba saja."

Sasuke menerjang, Sakura siap melawan, Itachi tampak menahan.

"Kalian! Tung–"

"HIYAAATTTT!"

PLETAK!

"–gu..."

Itachi nekat melompat ketengah-tengah antara Sasuke dan Sakura, namun naas spatula yang harusnya mengenai kepala sang adik, kini mendarat manis diatas kepalanya. Lelaki berkucir satu itu meringis lalu menatap Sasuke dan Sakura bergantian "Kalian..."

TAK–TAK!

"Aw!" / "Aduh!"

oOo

"Lihat? Gara-gara kau kita jadi kena marah kakakmu! Kau ini–"

Sasuke mendengus lagi-lagi mengabaikan Sakura yang sedari tadi terus mengoceh dengan kecepatan cahaya padanya. Sejak kejadian tadi Itachi memarahi mereka habis-habisan seperti sang ibu yang memergoki anaknya sedang melakukan hal terlarang. Yah, salahnya juga sih menggoda Sakura tadi pagi. Sebenarnya, Sasuke sengaja menggoda Sakura tadi. Agar Sakura tidak murung dipagi hari libur yang indah sekarang, karna mengingat perkataan–belum tentu benar–tentang orang tuanya. Dan see? Triknya berhasil, walaupun harus mengorbankan miliknya yang ditendang dengan kekuatan seperti kapten Tsubatsa oleh Sakura.

Setelah Itachi puas memarahi keduanya, lelaki itu memberitahu Sakura tentang siapa dirinya, sebagai ketua anggota mafia Akatsuki, kakak Sasuke, dan lainnya. Sasuke fikir Sakura akan marah atau tersinggung tapi ternyata tidak sama sekali. Malah berkata 'Ah benarkah? Pantas wajah Itachi-nii mirip sekali dengan Sasuke. Kyaaa Itachi-nii tampan!' mengabaikan Sasuke yang melihatnya dengan sejuta tatapan menusuk.

"Hei kau mendengarku?" Sakura menoleh kebelakang, memergoki Sasuke yang menatap kearahnya sambil tersenyum lembut. Pipi Sakura memerah tanpa alasan, grogi ditatap seperti itu oleh Sasuke, Sakura mencoba menutupi semburat merah dipipinya dengan melempar makanan kaleng kearah Sasuke. "Jangan lihat aku seperti itu! Kau menakutkan."

Dengan sigap Sasuke menangkap makanan kaleng tersebut sebelum mengenai wajah tampannya. "Bilang saja kau senang kutatap begitu. Tsundere." ledeknya.

Sakura menggeram gemas "Kau bilang apa tadi? Tsun–"

"Sakura-san!"

"Sakura-chann!"

"Haruno-san!"

Belum sempat Sakura melanjutkan, mereka berdua sudah lebih dulu dikerubungi orang-orang. Girlyfans, batin Sakura takut-takut. Memang tidak banyak sih, tapi salah satu dari mereka terlihat membawa kamera dan alat perekam suara. Membuat Sakura kikuk bukan main, Sasuke mendekat dan memandang bingung orang-orang yang mengerubungi kekasihnya.

"Ano.. Maaf mengganggu waktumu Sakura-chan. Bolehkah kami bertanya sesuatu padamu?" salah satu dari mereka angkat bicara.

Sakura menggaruk pipinya sendiri yang tidak gatal "Y-ya, tentu saja."

"Kenapa kemarin kau tidak hadir dikonser Girly?"

"Iya itu benar!"

"Iya iya!"

Sasuke melirik Sakura sekilas, terlihat dari samping gadis itu menggigit bibir bawahnya sendiri dengan maniknya yang bergerak gelisah. Menyadari satu hal, Sasuke berdeham "Maaf. Kemarin, Sakura sibuk karna ada keperluan."

Orang-orang tersebut kini menatap kearah Sasuke dengan antusias "Benarkah? Acara apa?"

"Kau kekasihnya Sakura-chan benar?"

"Keperluan apa?"

Giliran Sakura yang kini menatap Sasuke dengan tatapan seolah berkata 'jangan-bicara-macam-macam-atau-kau-kupukul' tapi yang ditatap malah menyeringai seolah menjawab 'terserah-aku'

"Kalian lihat?" Sasuke menarik Sakura mendekat dan mengangkat tangan kanan gadis itu–lebih tepatnya memamerkan sesuatu yang terpasang dijari manis Sakura. "Acara pertunangan kami."

Sakura cengo, orang-orang disana bengong.

Krik.

Krik.

Krik–

...

–Dia bilang apa? Pertunangan?

..

"APA!?"

"KYAAAAAA SAKURA-CHAANNN!"

"TEGANYA KAUUU!"

"TIDAAKKKK!"

oOo

Sakura diam, Sasuke juga. Atmosfer diantara keduanya menjadi dingin semenjak Sasuke bicara asal pada Girlyfans yang mereka temui disupermarket tadi. Sakura juga, kenapa dia tidak peka ada cincin permata yang entah kapan terpasang dijari manisnya. Meski senang bukan main, tapi tetap saja Sakura kesal. Pertama Sasuke seenak jidatnya bilang bahwa mereka bertunangan, kedua Sasuke sama sekali tidak meminta persetujuannya terlebih dahulu, ketiga mereka kan masih sangat muda! Yang benar saja! Pasti dalam kurun waktu satu atau dua hari, gosip perihal pertunangannya akan menyebar. Cih.

Sasuke menghela nafasnya panjang. Sampai kapan acara diam-diaman ini berlanjut? Selama perjalanan pulang sampai mereka tiba diapartemen Sakura sama sekali tak bicara sepatah katapun padanya. Dan itu membuat Sasuke uring-uringan, ayolah dia benci diabaikan seperti ini. "Sakura?"

Tak ada jawaban.

"Pink?"

Masih sama.

"Jidat?"

"Apa sih!?" Sakura akhirnya menjawab meski dengan nada tinggi. Sebal juga dikatai jidat oleh Sasuke. "Ayam!"

Sasuke memutar kedua bola matanya, sudah dia duga respon Sakura pasti begini. Sasuke melirik jam dinding, sudah sore rupanya. Pemuda raven itu merongoh ponselnya dan mengetik suatu pesan pada seseorang. Tak lama, ponsel Sasuke bergetar pertanda ada balasan. Seketika senyum pemuda tampan tersebut mengembang cerah. Sakura yang melihatnya memandang Sasuke sebal dan bertanya "D-dari siapa?"

"Hn?" sebesit ide jahil terlintas diotaknya. "Dari Karin."

"Karin?..." Sakura terdiam sejenak "P-perempuan?"

"Iya. Kenapa?"

"Uh." gadis merah muda itu meremas ujung bajunya sendiri gugup–cemburu lebih tepatnya. "Tidak ada."

Tanpa Sakura sadari–karna dia menundukkan kepalanya–Sasuke mendekat sambil menjilat permukaan bibirnya sendiri gemas. "Cemburu 'eh?" bisik Sasuke pelan tepat didepan telinga Sakura.

Gadis itu terlihat gelagapan, apalagi ditatap dengan jarak sedekat ini oleh Sasuke, membuatnya bisa melihat secara detail setiap inci wajah kekasihnya yang dipahat sempurna oleh Tuhan. Tiga kata. Oh my god. "T-tidak!" oh ayolah! Kenapa suaranya tidak bisa diajak kompromi!?

"Benar juga."

"Eh?"

"Kau tidak mungkin cemburu." Sasuke mendesah lesu dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat. "Jika benarpun, kau tidak punya hak apapun untuk cemburu padaku."

JDER!

Sakura diam seribu bahasa, kelopak matanya melebar dengan pupil yang mengecil. Hatinya mencelos seakan puluhan panah tertancap dijantungnya. Kedua bahunya naik, tanda bahwa Sakura mulai tegang. Tentu saja Sakura punya hak untuk cemburu, dia kan kekasih Sasuke yang sekarang naik jabatan menjadi tunangannya–walau Sakura belum menyetujuinya. Tapi, tapi.. "A-aku punya hak!"

Kedua mata Sasuke yang tadi terpejam, kini terbuka sebelah. Melirik gadis disampingnya yang masih menunduk. Sudut bibir pemuda raven itu terangkat membuat sebuah seringaian. Tangannya kembali mengotak-atik ponselnya lalu menaruh benda persegi panjang itu diatas meja. "Hak apa?"

"A-aku kan..." Sakura meneguk salivanya sendiri gugup. "Aku..."

"Hn?"

"K–keka... Kekasihmu."

"Hanya sebatas kekasih?"

"I-itu..." Sakura mulai berani menatap Sasuke walau tak lama. "T-tapi kau bilang.. Aku t-tu–"

Sasuke menegakkan tubuhnya menghadap Sakura sepenuhnya "Tu, apa? Tukang pukul?"

"B-bukan!"

"Katakan dengan jelas." tangan Sasuke menarik dagu Sakura agar gadis itu menatapnya. Sasuke tersenyum sangat tipis sehingga membuat Sakura yang jelas-jelas dihadapannya tidak bisa melihat senyuman itu. Sasuke dapat melihat, rona merah dikedua pipi Sakura, kedua maniknya yang berkaca-kaca. Membuat Sakura terlihat imut dimata Sasuke saat ini. "Cepat."

"U-uh.." emeraldnya bergulir tak tahan melihat onyx mempesona milik Sasuke. Sehingga dia nenurunkan pandangannya keleher kokoh tu–kekasihnya. "A-aku... Tu.. na." Sakura menempelkan keningnya pada dada bidang Sasuke, menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat. "Aku tunanganmu! Aku berhak cemburu padamu!" ucapnya setengah berteriak. Ah, Sakura menelan bulat-bulat rasa malunya. Masa bodoh dengan apa yang akan Sasuke katakan nanti padanya. "K-kau harusnya tahu!"

"Tahu apa?" Sasuke menarik pinggang ramping Sakura, agar tubuh sang gadis mendekat padanya. Udara diantara keduanya memanas, tangan mungil Sakura bahkan sudah meremas kaos hitam yang Sasuke kenakan erat sehingga terlihat kusut. Ah biar sajalah.

"Aku.. Menyukaimu. S-sasuke-kun.."

Sasuke menyeringai.

"Aku m-menyayangimu.."

Bagus. Lanjutkan lagi.

"Aku..." jeda sesaat, Sakura mendongkak. Memaksakan menatap Sasuke yang kini tersenyum manis padanya "Mencintaimu... Uchiha Sa–emp!"

Belum beres Sakura berucap Sasuke sudah lebih dulu meraup bibirnya. Terlalu gemas akan gelagat Sakura, membuat Sasuke tak tahan untuk 'memakan' gadis impian didepannya. Bibir pemuda Uchiha bungsu itu melumat santapannya dengan ganas. Entah sejak kapan, tangan Sasuke menahan tengkuknya agar Sakura tidak bisa memundurkan diri. Gadis merah muda itu mengerang saat Sasuke mengigit bibir bagian bawahnya agak keras sontak membuat Sakura membuka mulutnya.

Lidah pemuda itu melesak masuk, mengamuk didalam mulut hangat Sakura. Keduanya memejamkan mata mereka masing-masing. Bohong jika Sakura tidak menikmati kegiatan panas mereka saat ini. Bahkan Sakura tidak sadar kedua tangannya sudah melingkar manis dileher Sasuke. Seakan enggan membiarkan Sasuke lepas.

Sasuke dan Sakura sama-sama memiringkan kepalanya kearah berlawanan membuat ciuman yang sedang berlangsung itu semakin dalam. Saliva yang entah milik siapa itu menetes turun melalui dagu Sakura. Nafas keduanya memburu. Dengan wajah memerah Sakura membuka sedikit kelopak matanya yang sayu. Ternyata Sasuke juga tengah membuka setengah matanya. Ciuman panas itu terlepas hingga menimbulkan bunyi Plop! Saat kedua bibir itu terlepas. Sakura terengah-engah, meraup udara disekitarnya rakus. Berbeda dengan Sasuke yang terlihat sedikit tenang meski sedang dilanda kabut nafsu.

"S-sah.. Ak–ahh!"

Ciuman Sasuke turun menuju leher jenjang kekasihnya, tangan lihay miliknya melepas satu persatu kancing kemeja yang saat ini Sakura kenakan. Sementara mulutnya sibuk membuat tanda kepemilikan dileher Sakura. Sakura memejamkan matanya erat dengan halis mengernyit, geli sekaligus nikmat disaat bersamaan ketika lidah Sasuke menjilat, serta giginya yang mengigit kecil permukaan lehernya–yang pasti akan menimbulkan kissmark disana.

"E-engh–Sasu.. ke..." jemari Sakura meremas rambut bagian belakang Sasuke tak tahan. Perlakuan manis Sasuke terhadapnya tak ayal berhasil membuat suara-suara aneh–bagi Sakura–lolos tanpa pertahanan. Sasuke semakin semangat, perlahan dia menidurkan Sakura diatas sofa. Dengan posisi Sakura tidur terlentang dibawahnya, dengan kedua kakinya yang terbuka melingkari pinggang Sasuke posesif.

"Kau jadi nakal sekarang.." bisik Sasuke pelan, tangannya membelai wajah cantik Sakura yang kini dibanjiri keringat. Bibir gadis itu membengkak merah akibat ulahnya. Sasuke terkekeh saat Sakura melirik kearahnya sekilas lalu membuang mukanya yang kembali memerah. "Kenapa?"

"Habisnya.. Kau menyebalkan." jawab Sakura nyaris seperti gumaman. Terlalu malu untuk menatap Sasuke secara langsung.

Sasuke menyeringai "Oh ya?" jarinya menarik dagu Sakura agar gadis itu menatapnya "Tapi akui saja Nona. Kau menyukainya, benar 'kan?" Sasuke mencium sudut bibir Sakura gemas. Mereka berdua masih setia dengan posisinya saat ini. Hingga sebuah suara membuat tubuh keduanya tegang.

"Sasuke?" / "Sasu-chan?"

Dengan kecepatan luar biasa, baik Sasuke maupun Sakura menolehkan kepalanya menuju asal suara. Disana, didepan pintu Itachi berdiri mematung, disebelahnya seorang peremuan berambut hitam panjang tak henti-hentinya mengejap menatap tak percaya adegan panas live didepannya tadi.

Sakura dengan sigap mendorong tubuh Sasuke sehingga membuat pemuda itu jatuh tersungkur. Tangannya segera memasangkan kembali kancing kemejanya yang sempat tebuka. "I-i-itachi-nii!" ucapnya terbata-bata. Ini memang bukan yang pertama kalinya mereka berdua tertangkap basah sedang dalam posisi yang you know lah. Tapi tetap saja Sakura malu! Apalagi didepan kakaknya Sasuke, oh yah biarkan Sakura mengubur dirinya hidup-hidup karena malu saat ini.

Sedangkan Sasuke tampak memandang tak selera kearah dua makhluk yang menganggu kegiatannya. "Cih, Itachi. Izumi. Mengganggu saja."

oOo

Itachi memijat pangkal hidungnya pusing. "Baru kutinggal sebentar. Sudah begini." ujarnya sambil memandang frustasi sang adik satu-satunya yang tak berkutik sama sekali.

Sebenarnya kedatangan Itachi keapartemen Sakura adalah untuk memberitahukan sesuatu pada Sasuke, tapi tak disangka begitu membuka pintu–yang kebetulan tidak dikunci–Itachi melihat adegan panas antara sang adik dan calon adik ipar. Bahkan Izumi–kekasihnya, terus menerus melotot tak berkedip saat melihatnya. Adik yang bodoh, bukankah tadi pagi Sasuke berjanji tidak akan macam-macam pada Sakura.

"Sudahlah, Itachi-kun. Kau juga dulu sama seperti Sasu-chan kok."

Perkataan Izumi yang kelewat polos sukses menohok hati Itachi. Sedangkan Sasuke dan Sakura yang mendengarnya terkikik geli. "Aku berbeda dengannya, Izumi."

"Sama." Izumi memandang sebal dengan sedikit menjulurkan lidahnya "Bahkan kau lebih ganas darinya."

"Ada pepatah. Like Brother, Like Young Brother." celetuk Sasuke asal.

DZIG!

Tak mau semakin terpojok disini, Itachi berdeham "Baiklah, sudah lupakan." sekali lagi, lelaki tampan berkucir itu menatap pemuda raven dan gadis merah muda dihadapannya sekarang. "Sasuke.." ucapnya nyaris seperti bisikkan.

Sasuke yang merasa terpanggil menoleh "Apa?" terlihat, Itachi tersenyum lembut. Dan itu membuat Sasuke bergidik ngeri "K-kenapa? Jangan memandangku seperti itu, baka aniki!" desisnya galak. Melihat Itachi yang menatapnya dengan gitu-banget membuat Sasuke berfikir, kakaknya yang seperti ini terlihat seperti om-om hidung belang mencari mangsa. Hiii.

Itachi mendengus, ternyata niatnya salah diartikan oleh Sasuke. "Bodoh, jangan berfikir macam-macam!"

Sakura yang melihatnya terkekeh geli, lalu tersentak seakan ingat sesuatu. "Ah iya! A-aku akan membuatkan sesuatu untuk kalian. Hehe." ucapnya sambil menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal, ada tamu diapartemennya tapi Sakura tidak memberikan apa-apa. Tuan rumah yang baik. "Tunggu sebentar."

Izumi berdiri "Aku akan menbantu!" gadis yang Sakura perkirakan lebih tua darinya itu menampilkan cengiran lebarnya "Dari pada aku diam melihat duo Uchiha yang mesra-mesraan, lebih baik aku membantumu. Iya 'kan?"

Sakura tersenyum penuh arti lalu menatap Sasuke dan Itachi bergantian. Telihat wajah kedua Uchiha tampan itu mengkerut sebal atas ucapan Izumi tadi. "Hihi baiklah."

Setelah keduanya berlalu Sasuke mengusap permukaan kulit wajahnya lelah "Sial, Izumi apa yang dia maksud dengan mesra-mesraan. Bodoh."

Itachi yang mendengarnya mendelik "Berani kau bilang dia bodoh lagi, kulempar sekarang juga ketempat om-om hidung belang." Itachi menahan tawa melihat wajah Sasuke yang memucat "Dan kupastikan, lubang belakangmu tidak perawan lagi."

"What the..."

"Bercanda." Itachi melempar bantal sofa kearah Sasuke, dan ditangkap dengan sigap oleh Sasuke sebelum benda itu mengenai wajahnya. "Ngomong-ngomong Sasuke, entah kenapa. Aku merasakan bahwa kau akan pergi dari sisiku."

Pemuda raven itu memutar kedua bola matanya bosan. "Jangan konyol. Aku tidak akan kemana-mana." lalu menatap Itachi "Perasaanmu berlebihan."

Itachi menggeleng. "Tapi aku serius. Aku dan Izumi mengunjungimu kesini hanya untuk memastikan keadaanmu." lelaki berkucir satu tersebut melirik sekilas kearah dapur "Kau tahu sendiri, bahwa prediksiku tidak pernah salah. Sesuatu yang buruk akan menimpamu, hanya aku tidak tahu apa itu, dan kapan akan terjadi."

Sasuke terdiam, dia tahu bahwa prediksi kakaknya tidak pernah meleset. Tak dapat dipungkiri jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Sasuke takut. Ya. Dia takut atas perkataan Itachi. Takut jika memang benar sesuatu yang buruk akan menimpanya.

Itachi yang mengetahui gelagat Sasuke tersenyum "Tenang saja. Jika ada apa-apa kau hubungi aku secepatnya."

"Cih, ingin jadi pahlawan begitu?"

DZIG–!

"Bukan." Itachi menepuk jidatnya frustasi, apakah Sasuke tak mengerti perasaan cemasnya? "Kau–"

"Aku tahu." potong Sasuke cepat. "Terimakasih sudah mengkhawatirkanku."

Itachi mendesah lega lalu mengangguk. "Hn."

oOo

"Wahh Izumi-nee sepertinya sudah terbiasa didapur ya?" Sakura menatap kearah Izumi yang menyiapkan kopi hitam untuk Itachi dengan cepat, seolah Izumi sudah bisa melakukan itu dengan mata tertutup sekalipun. "Ajari aku!"

Izumi terkekeh, gadis–atau wanita–Uchiha itu menepuk bahu Sakura pelan "Itu mudah Sakura-chan. Kau hanya perlu membiasakan diri didapur, dan nikmati setiap sensasi yang kau dapat, seolah kau puas dengan hasil buatanmu." ujarnya panjang lebar.

Sakura mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, tangannya dengan sigap mengambil cangkir dan bahan-bahan untuk menbuat kopi hitam seperti yang Izumi buat. "Ah iya, Izumi-nee. Bolehkah aku bertanya?"

"Tentu saja." Izumi tersenyum.

"Ano.. Izumi-nee ini kekasih Itachi-nii kah?"

"Hmm.." wanita cantik dengan tahi lalat dibawah kelopak mata kanannya itu mengusap dagunya seolah berfikir "Dibilang kekasih. Bisa juga."

Sakura memandang Izumi heran "Bisa juga?"

"Iya. Lebih tepatnya aku tunangan Itachi." jawabnya sambil memamerkan cincin permata yang dihiasi berlian biru bertengger manis dijari tangannya.

"Waahhh." emeraldnya terlihat berbinar-binar "Kalian romantis sekalii!"

Izumi merona malu "E-ehehe. Tidak juga sih, terkadang Itachi-kun menyebalkan. Dia selalu meledekku jika aku salah berkata, menjahiliku, dan sesekali berbuat sesuatu yang membuatku jengkel." ucapnya lalu melanjutkan "Tapi disisi sifatnya yang seperti itu. Dia adalah lelaki terbaik yang pernah kutemui."

Sakura terdiam, sepertinya Izumi tidak berniat melanjutkan perkataannya. "Benarkah? Lalu bagaimana kalian bisa bertemu?"

"Yah.. Pada pertama kami bertemu sangat tidak elit sih. Dia adalah mafia yang tiba-tiba datang keapartemenku saat aku masih SMA. Dengan seenak jidatnya tinggal diapartemenku. Hahaha."

Deg!

"S-sama..." gumam Sakura tak percaya "Kisah kita samaa! Sasuke juga pertama bertemu denganku seperti itu."

Izumi terhenyak lalu tertawa keras "Benarkah? Lalu, menurutmu Sasuke itu lelaki yang seperti apa hm?" godanya sambil menompang dagu menunggu gadis manis disebelahnya menjawab, mengabaikan kopi untuk Itachi yang sudah siap.

Wajah Sakura memerah tanpa alasan, gadis pinky ini mengulum senyumnya malu "Ngg.. Sasuke-kun, tidak jauh berbeda dengan Itachi-nii bagimu. Hanya saja, Sasuke-kun lebih dari itu.." Sakura memainkan sendok yang berada didalam cangkir. "Dia, walau aneh dan mesum. Tapi dia selalu bisa membuat suasana hatiku membaik dengan caranya sendiri. Terkadang, aku takut Sasuke-kun akan meninggalkanku suatu saat nanti.. Dia, adalah cinta pertamaku." Sakura memelankan volume suaranya diakhir kalimat.

Tanpa Sakura dan Izumi sadari, dua orang yang menjadi topik pembicaraan itu sedari-tadi berdiri dibelakang mereka. Sasuke mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman bangga. Sedangkan Itachi menahan rasa malunya–karena mendengar tuturan kata Izumi diawal tadi.

Wanita bernama lengkap Uchiha Izumi itu terkekeh lembut. "Souka, aku hanya ingin memberimu satu nasihat." dia menghela nafas sesaat "Jangan pernah lepaskan apa yang menjadi milikmu saat ini, sampai besok, atau bahkan nanti. Pertahankan dia, apapun yang terjadi. Jika kau mencintai seseorang berarti kau harus siap dengan segala resiko kedepannya." Izumi tersenyum "Kau mengerti 'kan, maksudku?"

Sakura mengejapkan kelopak matanya beberapa kali, memandang takjub wanita didepannya dengan manik yang berkaca-kaca. "Izumi-nee... Arigatou gozaimasu!" kemudian refleks Sakura memeluk Izumi erat "Perkataanmu, membuatku menyadari suatu hal."

Tangan putih Izumi terangkat mengelus punggung gadis pink yang sedang memeluknya dengan penuh sayang "Douitashimashite. Lain kali, jika kau butuh teman cerita. Hubungi aku ya?" ujarnya diakhiri kekehan kecil. Sakura yang berada dipelukannya mengangguk sambil bergumam mengiyakan.

"–ehem!"

Itachi berdeham cukup keras dan sontak membuat Sakura maupun Izumi terlonjak kaget masing-masing dari mereka menjauh dan salah tingkah. Apalagi wajah Sakura yang sudah sangat memerah, dia berkata "E-eh, Sasuke-kun dan I-itachi-nii sejak kapan ada disini?"

"Sejak Izumi mengaku tunangannya Itachi." jawab Sasuke santai

Berarti sudah dari tadi?

Oh tidak.

Dia mendengar semuanya.

oOo

Sasuke bingung. Padahal Sasuke yakin dia tidak salah apa-apa pada Sakura kali ini, tapi kenapa Sakura tak bicara apapun padanya? Sampai Itachi dan Izumi pamit pergi, Sakura sama sekali tidak berkata apapun padanya, bahkan seperti enggan bertemu pandang dengannya. Oh ayolah, apalagi cobaannya kali ini?

"Sakura."

Gadis itu tetap diam, memandang serius kearah televisi yang menyala. Keduanya duduk bersebelahan diatas sofa ruang tamu. Sudah seperti ini semenjak sejam yang lalu, dan ini membuat Sasuke uring-uringan tak karuan. "Hoi!" panggil Sasuke yang sudah kesekian kalinya. Masih tak ada tanggapan, Sasuke menghela nafas panjang, biarkan sajalah. Nanti juga dia akan melunak kembali.

Sebenarnya alasan Sakura diam sedari tadi semenjak insiden Sasuke Itachi Nguping Bareng didapur tadi, Sakura malu setengah mati. Semua ucapannya. Perkataannya. Pengakuan tak langsungnya. Kami-sama, Sakura malu sekali... Ingin rasanya dia mereply kejadian tadi, sebelum berkata harusnya Sakura memastikan bahwa didapur tadi hanya ada dirinya dan Izumi. Ah sudahlah, pusing-pusing Sakura memikirkan itu. Tangannya terulur untuk mengambil remote televisi diatas meja, memilih channel yang bagus untuk dirinya tonton nalam ini.

KLIK–!

'Ya! Seperti yang kalian ketahui, bahwa personil dari band kesayangan kita Girly, akan mulai beradu akting!'

Sakura cengo, apa kata presenter pembawa acara gosip ini? Girly? Apa juga dia membawa-bawa nama girlband kesayangannya? Sakura mengklik tombol untuk membesarkan volume televisi.

'Haruno Sakura! Beliau mulai besok akan mulai berakting difilm perdananya yang berjudul FLY dengan partnernya Rei Gaara! Ditemani Hyuuga Hinata dan Yamanaka Ino didalamnya–'

"APA!? SEJAK KAPAN!?" Tanpa sadar Sakura berteriak kencang, maniknya mengejap tak percaya pada layar televisinya yang menampilkan sosok berambut perak melawan gravitasi memakai masker seperti biasa, sedang dikerubungi banyak wartawan. Tapi seingat Sakura, Shizune waktu itu menyuruh Sakura saja yang keluar dari Girly dan pindah aliran? Tapi jika Hinata dan Ino juga ikut. Berarti dirinya tetap personil Girly bukan? Seperti yang pembawa acara ini katakan.

'Hatake-san! Apa benar GirlBand Girly yang berada dibawah naungan agensi anda akan mulai debut mereka dalam dunia perfilman?' tanya salah seorang wartawan dengan mengarahkan mic padanya.

'Iya benar, karena selain sukses dibidang musik. Artis dari agensi kami harus pandai dalam segala hal. Termasuk berakting.'

JPRET!

Tanpa basa-basi Sakura mematikan televisinya kemudian bangkit dari duduknya. Menuju kamarnya berniat mengambil ponsel dan menelepon Kakashi menuntut penjelasan akan berita yang tadi dia lihat. Meninggalkan Sasuke yang berdiam diri didepan televisi, fikiran pemuda itu melayang. Membayangkan aksi Sakura yang dinobatkan sebagai pemeran utama bersama Rei Gaara yang tadi disebutkan, tentu saja Sasuke tidak bodoh dia sadar bahwa Rei Gaara itu pasti laki-laki. Dahinya berdenyut tak suka.

Sakura menghentak-hentakkan kakinya kelantai, sial. Lama sekali Kakashi mengangkat teleponnya. "Cepatlah!"

"Moshi-moshi?"

Akhirnya terhubung. "Kakashi! Apa maksudmu membuatku bermain dalam film flay–ah apalah itu! Aku bahkan tidak bisa berakting kau tahu! Aku tidak mau!"

"Hoo, kau baru melihatnya ya? Baguslah."

"APANYA YANG BAGUS!?"

"Turunkan sedikit volume suaramu Sakura. Ini sudah malam."

"TAP–TAPI–TAPI!"

"Hhh. Sudahlah, jika kau ingin tahu lebih rinci besok datang ketempat lokasi syuting pukul 9 pagi. Alamat lokasi akan aku kirim besok lewat email. Aku juga sudah mengizinkan kalian bertiga untuk tidak masuk sekolah besok. Sudah ya."

"HOI KAKA–"

TUT.. TUT.. TUT..

"SIALAANNNNNN!"

Sasuke bergidik saat mendengar teriakan keras dari kamarnya–kamar Sakura–dengan bergegas Sasuke berdiri menyusul Sakura. Halisnya mengernyit tak paham saat melihat gadisnya meringkuk diatas kasur seperti janin bayi. "Kau kenapa?"

"S-sasuke-kun.."

Akhirnya Sakura bicara. "Hn?"

"Aku... tidak mau berakting.." rengeknya, Sakura bangkit terduduk diatas ranjang, diiringi Sasuke yang duduk disebelahnya. "Aku akan grogi dihadapan kamera."

"Tapi kau kan sudah biasa, Sakura. Bernyanyi dan menari dihadapan kamera."

"Benar sih, tapi.. Ini beda, aku harus berakting menjadi orang lain. Menghafal naskah, lalu memperagakannya. Oh sial."

Sasuke diam, dia bukan tipe lelaki yang mudah menghibur hati seorang perempuan. Apalagi perempuan yang sedang galau–seperti Sakura sekarang. Dia harus memutar otak jeniusnya lebih cepat, well memahami perempuan lebih rumit ketimbang memahami rumus-rumus matematika. "Aku tidak mengerti, tapi jika tidak dicoba tidak akan tahu 'kan?" bisiknya lembut.

Kini Sakura yang diam, Sasuke ada benarnya juga. Jika tidak dicoba maka tidak akan tahu. Perlahan senyum manis mengembang diwajahnya. "Hehehe kau benar."

Sasuke mendesah lega. Mudah juga membujuk Sakura. "Oh iya. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu." Sasuke mengambil laptopnya lalu mengotak-atik sesuatu disana. Sedangkan Sakura hanya duduk menunggu Sasuke. "Lihat."

Sakura memajukan kepalanya guna melihat layar laptop dipangkuan Sasuke. Seketika emeraldnya melebar tak percaya. "I-ini..."

Pemuda raven itu tersenyum tipis. "Hn. Temanku tadi sore mengirimkan informasi ini. Lebih tepatnya, aku yang menyuruhnya."

"Sasuke-kun..." Sakura berucap dengan nada setengah bergetar, tak menyangka Sasuke akan melakukan hal seperti ini. Sampai susah-susah mencari informasi tentang kedua orang tuanya. "Huwaaaa! Terimakasih! Hiks.. Terimakasih banyak!"

"O-oi!"

Hampir saja Sasuke terjungkal kebelakang karna Sakura yang tiba-tiba menerjangnya, baru saja Sasuke hendak memarahi Sakura, niatnya terhenti saat mendengar ucapan yang keluar dari bibir sang kekasih. "Hiks. Terimakasih banyak. Aku mencintaimu.."

Sasuke mengangguk pelan, membalas pelukan Sakura dengan erat namun lembut. Dia lega, karena pada nyatanya Haruno Kizashi dan Haruno Mebuki masih hidup sampai sekarang. Dengan informasi yang tadi Juugo kirim beserta foto Kizashi dan Mebuki yang sedang berbincang-bincang dengan klien kerja perusahaannya. Dan terbukti bahwa Orochimaru hanya berkata omong kosong.

"Satu lagi, Sakura."

Sakura mendongkak memandang wajah tampan pemudanya dengan bingung seolah bertanya ada-apa "Ingat kata-kata 'ku ya.." giliran Sasuke memajukan wajahnya mendekat kearah telinga Sakura dan membisikkan sesuatu.

"Wherever you are. I'll always make you smile,

Wherever you are. I'll always by your side,

Wherever you say, kimi wo omou kimochi,

I promise you forever right now."

Sakura membisu. Tubuhnya bergetar saat mendengar Sasuke menyanyikan sebait lagu padanya. Emeraldnya kembali berkaca-kaca, gadis itu kembali memeluk Sasuke erat dengan sedikit terisak "K-kenapa.. Kenapa kau bicara seperti itu? Hiks, itu sama saja.. Seperti kau akan meninggalkanku 'kan? Jangan.."

"Tidak.. Aku hanya ingin memastikan, bahwa dimanapun dan apapun yang kau katakan, aku akan selalu membuatmu tersenyum." Sasuke menutup kedua kelopak matanya lalu melanjutkan "Berada disampingmu. Selalu merasakan yang sama sepertimu. Dan aku berjanji padamu selamanya mulai sekarang.."

Sakura tiba-tiba menggadah dan memandang galak pada Sasuke. Kedua telapak tangannya menghapus kasar jejak air mata yang melewati pipinya. "Kau tidak akan kemana-mana! Berjanji itu padaku sekarang juga Uchiha Sasuke!" bentaknya terdengar seperti perintah. "Cepat!"

Sasuke menghela nafas "Aku tidak bisa janji soal itu. Tapi, aku berjanji. Jika memang suatu saat aku pergi, aku akan pergi untuk kembali." ujarnya tulus "Cincin dijari manismu, adalah janjiku."

Maniknya begulir kearah cincin pemberian Sasuke, benar juga. Dengan adanya cincin ini, pertanda bahwa Haruno Sakura hanya milik Uchiha Sasuke, begitupun sebaliknya. "Baiklah.." Sakura menyenderkan tubuhnya didada bidang Sasuke. "Ngomong-ngomong sejak kapan kau memasangkan ini?"

"Hn? Aku memasangkannya saat kau tertidur tadi pagi." jawab Sasuke sekenanya, penciumannya fokus meresapi aroma cherry yang mengeruar dari tubuh Sakura. Memabukkan. "Kau tidak akan tidur?"

Sakura menggeleng "Aku akan tidur jika kau tidur." jarinya memainkan jari tangan Sasuke yang ukurannya lebih besar dari miliknya. "Tapi.. Sasuke-kun. Besok, temani aku kelokasi syuting ya?"

Sasuke mengangguk "Ayay Captain."

oOo

Cicitan burung mengawali pagi ini. Terlihat disebuah tempat, beberapa orang mulai ramai memenuhi Konoha Beach. Beberapa dari mereka adalah dua orang gadis yang terlihat sedang sibuk membenahi penampilan mereka. Itu Hinata dan Ino. Well, sekedar informasi saat ini mereka sedang berada dilokasi syuting yang Kakashi sebutkan pada Sakura tadi malam. Sekarang sudah pukul sembilan pagi, tandanya tiga puluh menit lagi pengambilan video untuk trailer film perdana Girly dimulai. Lalu dilanjut oleh isi dari film itu sendiri. Tapi sepertinya pemeran utama wanita dari film ini sendiri belum hadir.

"Ino-chan. Apakah sudah ada jawaban dari Sakura-chan?" gadis berambut ungu gelap–Hyuuga Hinata. Dia tampak cantik dengan memakai pakaian pantainya, memakai atasan tanpa lengan berwarna putih berenda namun panjangnya hanya sampai dada, sehingga membuat perut ratanya terekspos. Dipadu dengan hotpans berwarna ungu. Juga rambutnya yang digerai. Menambah kesan manis tersendiri baginya.

"Hhh, aku tadi sudah memberinya pesan dan dia bilang akan berangkat sekitar lima belas menit lagi." jawab Yamanaka Ino. Gadis seksi ini tampak elegan menggunakan pakaian pantai modelnya sendiri. Dia mengenakan cardigan putih tipis, sedangkan untuk menutupi dadanya Ino menggunakan bra berenda warna putih, yang dipadukan dengan rok setengah paha pada bagian pinggirnya sedikit robek keatas. Penampilannya sukses membuat GirlyFans–khususnya pemuda–yang sengaja menonton idola mereka syuting terperangah kagum.

Terlihat lelaki berambut perak menghampiri mereka. "Ino, Hinata. Apakah sudah ada tanda-tanda kedatangan Sakura?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Belum Hatake-san." jawab Hinata

"Ah kemana gadis itu." gumam Kakashi kemudian memperhatikan sekelilingnya. "Para kru sudah siap, Rei Gaara dan pemain lainnya juga sudah, tinggal menunggu Sakura" desisnya.

Ino terkekeh kaku, lalu menyikut Kakashi pelan "Tunggu saja, Kakashi-san. Sakura sebentar lagi sampai, kuras–"

"KYAAAAAA GAARA-KUUNN~

"GAARAAAA MANISSS LIHAT SINIII!"

"AAAA DIA TERSENYUM!"

"AKU BUTUH OKSIGEN!"

Ino maupun Hinata sama-sama mendelik saat mendengar jeritan gaduh khas perempuan terdengar saat sosok pemuda berambut merah, dengan tattoo didahinya keluar dari basecamp. Pemuda itu–yang mereka panggil Gaara–tampak mempesona dengan bertelanjang dada. Memamerkan dada serta perutnya yang sixpack. Sedangkan kebawahannya hanya mengenakan celana training berwarna merah.

"Ino-chan. Itu lawan main Sakura-chan ya?" bisik Hinata

Ino yang mendengarnya hanya mendengus sambil menepuk jidatnya pelan "Kau baru tahu Hinata? Rei Gaara memang aktor terkenal. Beruntung kita bisa bermain satu film dengannya." gadis blonde itu berhenti sejenak "Hmm, atau lebih tepatnya Sakura-jidat yang beruntung."

Hinata terkekeh "Iya kau benar."

oOo

Sakura menggeram melihat Sasuke yang tampak ogah-ogahan. Jika saja Sakura tidak sedang terlambat dan tidak membutuhkan Sasuke untuk mengantarnya ketempat lokasi syuting, gadis ini dengan senang hati meninggalkan Sasuke–meski Sakura meminta Sasuke menemaninya. Demi apapun, Sakura akan benar-benar terlambat jika Sasuke tidak gerak cepat.

"Sasuke-kun, cepat! Astaga!" desisnya jengkel.

Sasuke yang diteriakinya mengambil kunci mobilnya kalem. "Tenang sedikit Sakura. Aku masih mengantuk." ucapnya nyaris seperti gumaman.

"Tentu saja! Kau mematikan alarm jam tidurku! Untung aku terbiasa bangun pagi. Ayam! lelet! Pemalas!"

Sasuke menghela nafas "Yaudah ayo ki–"

"Permisi, apakah disini benar kediaman Haruno?"

Sasuke mengernyit bingung saat melihat dua orang lelaki berseragam khusus dengan lencana berlambangkan kepolisian Konoha. Tepat saat dirinya membuka pintu apartemen, tanpa basa-basi kedua polisi ini menyemburnya dengan pertanyaan tanpa titik koma.

Sakura yang mendengar marganya disebut mengintip, kelopak matanya melebar, jantungnya berdegup kencang. Ada masalah apa Sakura dengan polisi ini? Setahunya Sakura tidak pernah melakukan sesuatu yang menjurus kriminal sehingga harus berurusan dengan pihak hukum. Dengan gugup Sakura maju dan berkata. "I-iya, Saya. Haruno Sakura."

"Apakah Saudara Sasuke masih tinggal disini?"

Nah.

Sekarang Sasuke.

Pemuda raven yang namanya ikut disebut semakin dibuat bingung. Namun tak lama menjawab "Saya sendiri."

"Anda ikut kami kekantor polisi."

Eh.

Lagi. Kelopak mata Sakura terbelalak. Wajahnya memucat, begitu pula Sasuke.

"Tunggu.. Apa?"

.

.

.

.

Kedatangan tamu tak diundang dan jadwal penting Sakura. Mana yang lebih membuat kalian takut 'eh?

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

A/N: Fiuhh. /ngelap keringet/ yaampun 5600+ words :" Miina sengaja buat panjang karena berhubung chapter 9 kemarin kayanya gabikin readers puas ya? :" gomen /sungkem/ Miina tau kok chap kemarin ngga ada romansnya sama sekali #dzig. Dan... Miina sedih banget pas liat review's berkurang drastis. Apa readers udah lupa sama fic Miina ya? Uhuk :") tapi gapapa deh, karena masih ada readers yang ngerespon Miina lanjutin xD karena ini juga fic Miina pas pertama banget masuk dunia FFN. Sayang kalau ga lanjut /curhat.

Miina juga kayanya bakal lama update lagi, karena /karena terus thor/ senin udah mulai masuk sekolah. Wihh ga kerasa Miina udah kelas 2 SMK :" udah tuwir #dzig yak, gabanyak congcrit lagi. Neh neh Minna-sannn~ gimana kesannya chapter 10 ini? kalau feelnya gakerasa maaf ya x'Da kekurangan fic ini boleh kalian ungkapin dikolom review^^ oh iya, yang Sasu bisikin keSaku itu reff dari lagu One OK Rock - Wherever you are xD/

Jawab beberapa review readers dari chap 8&9:

Misshire: hontou ni? Ah gomen kalau aksi disetiap scene ff ini berlebihan^^ Miina juga gaberniat buat ff kaya sinet kok, maaf lagi ya hehe xD

Lynn: wuahh makin gaje kah? Hahaha maaf, Miina bukan author yang pinter buat alur^^

Sesilssl: ah gomen xD Miina udah buat next chapternya. Semoga gabanyak scene yang bertele-tele ya, makasih sarannya ^^

Cumanbaca: hm.. Usernamemu unik mz :"D iyaa alur buat sendiri. Waahh makasihhh xD syukur deh kalau cumanbaca-san suka xD

Williewillydoo: iiee iiee :'3 Sasuchan gasetega itu bunuh ortu Saku iya ga sas? *toel sasuke* *digiles sakura* kwkwk pernyataan yang bener tentang kematian ortu Saku ada dichap ini ya^^ arigato reviewnya, again? /puppy/

Nurulita as Lita-san: etto.. Soal itu Miina belum tau sih, mungkin 2 chapter lagi juga beres ^^

Dianarndraha: waahh makasih udah nunggu :"" jawaban diana-san sudah terjawab dichapter ini yaa xD Old Building juga udah aku publish chap 3nya^^

Hoshi Riri: Anakonda?... ASDFGHJKL Miina kok ngakak bacanya ya :""""v jawaban Riri-san sudah terjawab dichapter ini yaa xD

Jamurlumutan462: jahaatttt mantan sidermen kamu ya :"" /nak/ituspider kwkwk tapi makasih loh udah mau nunjukin wujudmu kak/? XD ini udah dilanjut kok, selamat membacaa~^^ review again? /puppy/

Ny. Valery: wess puppy eyes no jutsunya on kwkwk xD jawaban Valery-chan udah terjawab yaa xD makasih reviewnya, again again? /balik puppy/

Aozora21: weheheh iyaa dong harus semangatt, karna Miina juga ngerasain jadi readers yang digantung kelamaan itu gaenak hiks :" /curhat lagi/ siipp doakan Miina yaa'^')9! Review again? /puppy/

Joanna Katharina 37: eheheheh /nyengir/ maap Miina lupa soal itu hiks :" karna pertama Miina gabegitu ngerti soal buat ff :" tapi makasih yaa masukannya /terjang-peluk/ tjiee kita sama-sama SS Shipper nih *toel* /ditabok/ makasih juga review dan lain-lainnya. Salam kenal Joanna-san xD review again? /puppy/

Ryiikoo-chan: iyaa ryiikoo-chan? /balik puppy/ huwaaaa makasih :" /sungkem/ ehehe ini udah lanjut kok, selamat membaca yaa ^^ review again? /puppy/

And special thanks to:

Dragneelhyuga, mantika mochi, santidwim, nikechaann, dianarndraha, caesarpuspita, chanbaeksaranghaeHeni, YOktf, Dyn Adr, Ayuniejung, Sasara Keiko, Kawagase Aoi, HanaYuki22, Guntur708, hanazono yuri, ongkitang, Vinda, Stanlic, Aoi Kiriya, pinktomato, Rizuki Yoshida, FaniSakura, Diska-chan, MaelafarRon II, black cherry, lia, yaya, galuh kirana 159, Haruno Akame, A panda-chan, Ika, Genie Luciana, Mia-chan, Hikamichi1416, andinah, cherrysand1, Nox Serus, AsahinaUchiHaruno, SSF, xolounain, Uchiha Javaraz, Hyuugadevit-cherry, Cahya Gitchan, hhh, himeko, eka, miiuchiha28, meilchan, zazachan, Fara Cherry, Diah Cherry, Spring, lewat. And all of Guest.

Maaf kalau ada namanya yang salah ketik, Miina suka salah fokus kalau ngetik pas bergadang :'v /nak. Dan gabosen-bosen Miina bilang makasih buat semuanya yang udah follow/fav fic ini. Akhir kata.

Review?

Miina Cherry

15-07-2016