My Heart is Yours—

Author: Rin

Chapter: 10/?

Disclaimer: All casts is belong to theirselves.

Rated: T to M

Pair: YeKyu (Yesung x Kyuhyun), slight HaeHyuk, HanChul, ZhouRy, MinWook, HoMin, KangTeuk (on the past), KrisHo, and other couples.

Genre: Romance – Hurt/Comfort – Supernatural

.

Warning: AU, Vamp!Fic, Crack Pair, YAOI, OOC untuk keperluan cerita, GS for Leeteuk, dll.

Ket: italic: flashback. Italic, center: flashback dalam flashback.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

Jaejoong masih dalam posisinya, kedua matanya masih membulat dan ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang. Kedua kakinya terasa dipaku ke tanah. Waktu serasa terhenti, bahkan bisa disadarinya kalau Changmin pun sama terkejutnya dengan dirinya.

"Yunho-hyung…?"

Suara Changmin membuatnya sadar kalau apa yang dilihatnya ini memang bukan semacam ilusi atau sejenisnya.

Dirinya selamat.

Tapi bukan berarti apa yang akan terjadi setelah ini akan baik-baik saja.

Jung Yunho berdiri tepat di hadapannya, membelakanginya dan menahan Siwon. Ia selamat, setidaknya ia tidak benar-benar menemui ajalnya sekarang. Tapi justru apa yang terjadi setelah ini yang sebenarnya membuat ia benar-benar merasa takut.

Pureblood adalah sekumpulan makhluk yang sangat jarang berinteraksi, bahkan dengan sesamanya. Dan melihat bagaimana kedua pureblood ini bertemu dalam keadaan yang buruk seperti ini jelas bukan sesuatu yang nantinya akan berakhir baik.

Dan ia khawatir… kalau dirinya mungkin saja terkena imbasnya…

"Apa kau lupa dengan peraturan untuk tidak menyentuh milik orang lain seenaknya, Siwon-ssi?"

Siwon menyeringai mendengar hal itu. Keduanya masih dalam posisi statis, begitupula dengan Jaejoong. "Apa hyung lupa? Aku bahkan sudah pernah melanggar itu sejak dulu…"

Yunho diam, tapi ia tidak ada niat melepaskan cengkramannya. Jaejoong melirik ke arah Changmin. Namja tinggi itu kini bersandar pada batang pohon di belakangnya, berusaha menstabilkan nafasnya. Changmin sudah lama tidak berhadapan dengan situasi seperti sekarang, jadi serangan Siwon tadi sebenarnya sedikit membuatnya kaget hingga ia hanya bisa melakaukan pertahanan seadanya—yang sebenarnya tidak berefek apapun, tapi setidaknya ia masih selamat.

"Jae-hyung…"

"Ne?"

"Hyung bisa berjalan kan?"

Jaejoong menatap Changmin sekarang. "Apa?"

"Aku punya firasat buruk. Kalau benar dugaanku, kita seharusnya tidak berada di tempat ini…"

"Hah—"

BRAKK!

.

.

.

Kyuhyun tidak mengingat semuanya begitu saja.

Itu yang kini berseliweran dalam benak Heechul. Ia kini berada di luar rumah Kyuhyun, hanya untuk berjaga-jaga dari hasrat untuk menyerang Yesung lagi. Tapi… jujur saja, rasanya tadi tangannya benar-benar terasa sakit. Sudah lama ia tidak memukul sesuatu dan yang barusan beruntung mendapat serangannya justru seorang pureblood.

Ia lupa kalau makhluk jenis itu memiliki kulit yang cukup keras. Rasanya seperti memegang potongan batu es yang benar-benar beku.

Heechul melangkahkan kedua kakinya mengelilingi pekarangan yang tidak terawat itu.

Kyuhyun tidak mengingat semuanya begitu saja. Kalaupun iya, secara logika ia tidak akan langsung mengingat semuanya. Ada beberapa tahapan, tergantung dari bagaimana sihir yang digunakan untuk memanipulasi ingatannya. Lagipula biarpun tanda itu sering muncul sejak anak itu ada di sini, Yesung selalu membuatnya kembali lupa.

Kalau langsung, artinya orang ini benar-benar kuat…

"Halfblood, eoh? Kibummie… apa kau yang melakukannya?"

.

.

.

Kyuhyun masih mengeratkan pelukannya pada Yesung, sementara pureblood itu memilih untuk tidak mengeluarkan suaranya, hanya saja tangan kirinya digunakan untuk membalas pelukan itu sementara tangannya yang satu lagi mengelus rambut Kyuhyun perlahan. Ini memang bukan pelukannya yang pertama setelah sekian lama tidak bertemu, karena di saat anak ini tertidur ia sering memeluknya—lalu melepasnya ketika dirasakannya kalau ia akan segera terbangun. Hanya saja… rasanya pelukan ini sudah lama tidak ia rasakan…

"Bogoshippeo, hyung…"

Yesung memejamkan kedua matanya, masih memilih untuk diam. Kyuhyun lebih dari sekedar mengerti untuk memahami bagaimana perasaannya kini hanya dengan merasakan kalau pelukannya pada Kyuhyun semakin erat—dan anak itu juga melakukan hal yang sama detik berikutnya.

Nado

.

.

.

"Kurasa sebaiknya kita pergi dari tempat ini…"

Zhou Mi langsung menarik tangan Henry untuk segera menjauh dari tempat ini. Tadinya ia berniat untuk melihat bagaimana keadaan kedua orang itu, tapi ketika iris gelapnya melihat pemandangan keduanya sedang berpelukan rasanya justru kehadirannya tidak diperlukan sama sekali di sini.

"Eh? Wae?"

"Biarkan saja mereka berdua, toh tujuanku ke sini bukan untuk berurusan dengan mereka tapi mencari seseorang…"

Henry langsung diam mendengar hal itu. Ia memang tahu itu, tapi setiap kali diingatkan rasanya hanya sakit yang dirasa—bukan tubuh tapi hatinya. Ia tidak tahu apa hubungan Zhou Mi dengan orang yang sedang dicarinya. Tapi melihat bagaimana Zhou Mi bersikukuh untuk tetap mencarinya selama beberapa tahun ini bahkan dengan hasil yang sama sekali tidak ada, membuatnya yakin kalau seseorang yang sedang dicarinya itu adalah orang yang benar-benar berarti untuknya—

—lebih daripada dirinya… mungkin?

Zhou Mi menghentikan langkahnya ketika dirasakannya kalau kekasihnya itu tidak mengikutinya. Tatapan matanya menyorot bingung. "Wae?"

Henry diam, memilih untuk menggelengkan kepala. Menarik nafasnya perlahan, berharap rasa sesak itu bisa hilang dalam sekejap walau nyatanya justru semakin terasa parah. Ia menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyum miliknya yang biasa—

"Gwaenchana~"

—dan Zhou Mi terlalu buta untuk menyadari apa sebenarnya yang ada di balik senyum itu.

.

.

.

Kyuhyun bergerak gelisah di balik selimutnya. Posisinya meringkuk dengan selimut yang benar-benar menutupi seluruh tubuhnya. Bahkan tak ada seujung rambut pun yang bisa terlihat karena ia benar-benar menutupi seluruhnya dengan begitu rapat. Ia tidak tidur—dan tidak mungkin bisa tidur. Jujur saja, ia malu sekarang. Sekali lagi, benar-benar malu!

"Kau bisa sesak nafas kalau terlalu rapat menutupi tubuhmu seperti itu…" Suara baritone itu menginterupsinya.

"Berisik, hyung…"

"Ayolah hanya menangis saja tidak usah sampai semalu itu kan…" Yesung masih dalam posisinya. Duduk di pinggir tempat tidur, dengan Kyuhyun yang menguasai dua per tiga bagian ranjang. Tidak ada niat untuk memeluk anak itu, karena ia yakin secara refleks Kyuhyun akan langsung menendangnya.

"Tapi aku benar-benar malu…"

Ia yakin kalau wajah Kyuhyun sedang memerah sekarang—dan sayangnya tidak bisa ia lihat sama sekali. Benar-benar menyebalkan…

"Dulu juga kau sering menangis kan…"

Srak!

Kain yang cukup tebal itu kini tersibak, dan Kyuhyun langsung mengubah posisinya menjadi duduk—kelihatannya sedikit terpancing dengan kalimat yang baru saja dikeluarkan oleh Yesung.

"Itu kan dulu saat usiaku bahkan belum genap sepuluh tahun~!"

Benar kan dugaannya, wajahnya tengah merona sekarang.

Kyuhyun melipat kedua tangannya di depan dada, sedikit tidak habis pikir dengan namja ini. Sifatnya bahkan tidak berubah sama sekali padahal mereka sudah lama tidak bertemu.

"Peluk aku lagi…"

Yesung mengerjapkan kedua matanya. Tadinya ia berniat untuk mengambil sesuatu yang bisa dibaca dan membuat pikirannya yang sedang mengarah entah kemana itu teralih, tapi ucapan Kyuhyun justru lebih sukses untuk mengalihkan perhatiannya.

"Apa?"

"Peluk. Aku. Lagi. Pokoknya. Kalau tidak, hyung akan kutendang dari kamar ini~!"

Yesung menghela nafasnya. Bukannya ia tidak mendengar permintaan—yang lebih terkesan seperti paksaan itu—hanya saja... bagaimana ya, mungkin sebenarnya ia hanya sedang ingin mengerjainya saja... mungkin...

"Aku dapat apa kalau memelukmu~?" Yesung menyeringai—dan seringainya semakin lebar, ketika dilihatnya wajah Kyuhyun yang kini dihiasi rona merah. Tipis dan hampir tidak terlihat, tapi tetap saja terlihat manis.

Kyuhyun menarik bantal begitu saja lalu memukulkannya pada Yesung, setelahnya ia langsung menarik selimutnya dan kembali ke posisi semula. "Ahhhh! Terserah hyung saja~!"

Kalau saja Yesung tidak ingat akan imagenya mungkin ia akan dengan senang hati tertawa saat ini.

.

.

.

Sungmin diam, memilih untuk tidak melakukan apa-apa walau nyatanya ia sangat ingin menghajar namja di hadapannya. Tapi biar bagaimanapun ia harus bersikap tenang saat ini, berpikir dengan kepala dingin kalau tidak semuanya mungkin tidak akan berakhir baik. Tidak untuknya atau mungkin juga yang lainnya.

Kibum masih berdiri di tempatnya. Namja berkacamata itu bahkan tidak punya keberanian untuk sekedar menatap lawan bicaranya saat ini. Iris gelapnya menyapu liar sekelilingnya, asalkan tidak mempertemukan irisnya itu dengan iris tajam di depannya.

Ini memang salahnya, walau sebenarnya ia tidak bisa disalahkan sepenuhnya—tapi tetap saja. Bahkan akan terasa wajar kalau misalnya Sungmin menghajarnya sekarang. Di saat semua orang tidak menginginkan ingatan Kyuhyun kembali, ia malah dengan sengaja membuatnya teringat kembali.

Kalau saja bukan karena Donghae... ia benar-benar tidak akan melakukannya...

BRRAKKK!

Kibum tersentak. Ia mendongakkan kepalanya, salah satu lampu di sisi jalan hancur—terbelah menjadi dua. Sungmin menatap Kibum datar, dan namja berkacamata itu bahkan bersumpah kalau itu adalah pertama kalinya ia melihat Sungmin dengan aura menakutkan seperti ini. Lampu itu hancur karena pukulan Sungmin, dan Kibum tahu kalau namja ini benar-benar marah—padanya.

Tubuhnya menegang, semakin tegang ketika dilihatnya Sungmin berjalan mendekatinya dan—

—melewatinya begitu saja...

Lalu menghilang.

Brugh.

Kibum merasakan kalau seluruh persendiannya kini benar-benar terlalu lemas, bahkan dirinya tidak bis menahan ketika ia jatuh dengan lutut yang terlebih dulu mencium tanah. Ia tahu kalau pureblood itu memang menakutkan—sama seperti Choi Siwon, tapi melihat aura menakutkan itu keluar dari seorang Lee Sungmin itu baru pertama kalinya. Ah, ia bahkan lupa dengan fakta kalau namja berwajah aegyo itu adalah seorang pureblood.

"Eottokhae...?"

.

.

.

Jaejoong menatap Changmin, ragu. "Tapi..."

Changmin berdecak kesal. Susah payah, ia berusaha untuk berdiri. Sebisa mungkin—kalau bisa secepatnya—mereka berdua tidak boleh berada di tempat ini. Yang ada mereka bisa mati—walau yang itu sebenarnya sedikit ia ragukan... tapi... berada di tempat yang sama dengan dua pureblood yang sedang bertarung jelas bukan sesuatu yang aman.

Trek. "Aww...!"

Namja bertubuh tinggi itu kembali jatuh, kali ini dalam posisi duduk. Ia menatap horror pada kedua kakinya. Terkilir? Di saat seperti ini?

"Changminnie, gwaenchana?" Jaejoong berjalan menghampiri Changmin, ketika dilihatnya namja itu memekik sakit lalu terjatuh. Baik Yunho dan Siwon sudah tidak berada dalam jarak pandang mereka jadi setidaknya mereka aman... mungkin.

Jaejoong berjongkok di samping Changmin, membuka sepatu yang dikenakan namja itu lalu menggulung sedikit bagian bawah celana panjangnya. Pergelangan kakinya memerah—belum sampai bengkak tapi tetap saja sulit untuk digunakan berjalan. Kalau seperti ini rasanya Jaejoong ingin sekali merutuki dirinya sendiri yang benar-benar tidak berguna di saat seperti ini. Ia tahu sedikit basic pertolongan pertama... tapi tahu dan bukan memahami jelas berbeda...

Srrrkkk...

Suara gesekan rumput di dekatnya langsung membuatnya menoleh. Ada seseorang yang tengah berjalan ke tempat ini... siapa?

.

.

.

Yunho terus mendorong Siwon hingga mereka berdua kini berada jauh dari tempat Jaejoong dan Changmin, tidak ingin membahayakan mereka berdua. Toh membiarkan mereka di sana cukup untuk setidaknya memberi kesempatan untuk kedua namja itu segera pergi. Namja bertubuh tinggi itu terus mendorong Siwon semakin dalam memasuki hutan, tanpa memberikan peluang bagi Siwon untuk membalasnya.

"Hyung tahu... ini hanya akan membuatku semakin dekat dengan apa yang kutuju sekarang..." Siwon menyeringai, dan itu cukup untuk membuat perhatian Yunho sedikit teralih—sedikit, tapi fatal.

"Ap—"

Duagh.

Dan kelengahan yang hanya sekejap itu langsung digunakan Siwon untuk mendorong balik Yunho hingga namja itu menabrak batang pohon di belakangnya. Tidak berpengaruh apa-apa sebenarnya, kecuali pohon yang ditabraknya kini benar-benar hancur, dan mereka benar-benar terhenti sekarang.

"Ini bukan wilayah kita ataupun wilayah netral, hyung... pemiliknya pasti akan segera keluar..."

Yunho menatap sekelilingnya. Terlalu fokus menjauhkan Siwon dari Changmin dan juga Jaejoong membuatnya tidak menyadari kalau ia sudah terlalu dalam memasuki hutan. Ini memang bukan wilayahnya, tapi milik Kim Jongwoon...

.

.

.

Perlahan iris gelap milik Yesung terbuka. Ia tidak tertidur, tapi berhubung Kyuhyun tertidur setelah merajuk padanya ia jadi ikut memejamkan kedua matanya—sambil memeluk anak itu. Yesung segera beranjak, tanpa menimbulkan suara sedikitpun atau gerakan yang berarti agar tidak mengganggu Kyuhyun.

Ada yang memasuki wilayahnya—tidak masalah sih kalau hanya memasuki, tapi ini... sampai bertarung? Tch, yang benar saja...

Yesung menyambar jubah hitamnya, mengenakannya lalu melangkahkan kedua kakinya keluar kamar. Meninggalkan Kyuhyun sekarang memang tidak masalah, toh untuk sementara ada yang bisa menjaganya dan orang itu ada di luar—

"Kau mau pergi, hyung?"

—benar kan?

"Mungkin..."

Sungmin hanya menghela nafasnya. Yah, ia tahu kalau memang ada yang memasuki wilayah hutan ini, tapi... bisakah Yesung membiarkannya saja? Toh, paling-paling hanya sedikit bagian hutan saja yang nantinya akan hancur...

"Berhati-hatilah, hyung..."

Dan belum sempat Sungmin menyelesaikan kalimatnya, namja bersuara baritone itu telah lebih dulu menghilang.

.

.

.

"Kris-hyung... memangnya kau tidak penasaran dengan apa yang terjadi di hutan itu?"

Namja bertubuh tinggi itu memfokuskan pandangan pada buku, walau telinganya tetap fokus pada namja bertubuh lebih kecil darinya yang sedari tadi merajuk di sampingnya. "Tidak, dan aku juga tidak mau tahu—tidak peduli juga—dengan apa yang terjadi di sana, karena itu bukan urusanku..."

Namja bertubuh kecil itu sedikit mempoutkan bibirnya.

"Hhh... Aku sudah menuruti keinginanmu untuk mengikuti namja berambut merah itu sampai ke rumah yang ada di dalam hutan... apa itu belum cukup?"

"Tapi aku penasaran..."

Kris mengelus perlahan surai kecoklatan namja itu. "Itu berbahaya. Namja itu bahkan sudah menyadari kalau kita mengikutinya sejak dari penginapan ini... Joonmyeon-ah..."

"Ng... jinjja?"

Kris memutar kedua bola matanya malas. "Lalu kau pikir untuk apa aku mengajakmu pergi dari sana secepatnya?"

"Yang jadi masalahnya... aku punya firasat buruk soal namja itu..."

Joonmyeon menjatuhkan kepalanya di atas satu-satunya meja panjang yang berada di penginapan itu. Ini penginapan miliknya—dan kebetulannya setelah sekian lama, akhirnya ada juga yang menginap di tempat ini. Dua orang namja China, yang satu bertubuh tinggi dengan surai merahnya dan satunya lagi lebih pendek dari namja berambut merah itu tapi lebih tinggi darinya (-_-) dan pipinya juga chubby.

Dan atas dasar rasa penasaran dan juga khawatir, ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti orang itu.

Grek.

"Kalau kau punya firasat buruk soal aku, kurasa kau tidak perlu sekhawatir itu..."

Joonmyeon tersentak, lalu mendongakkan kepalanya. Kedua matanya membulat melihat siapa yang baru saja berbicara. "A-ah..."

Kris melengos pelan. Toh kalau namja ini berada di tempat ini, itu justru bukan sesuatu yang aneh.

"Aku sudah biasa dengan kejadian buruk beberapa tahun ini jadi tidak perlu khawatir..." Zhou Mi menatap namja bertubuh kecil yang masih duduk dengan tubuh tegak. Ia lalu ikut duduk tak jauh dari kedua namja itu diam.

"Ah dan satu lagi... aku tahu kalau kalian yang mengikutiku sampai ke rumah itu, makanya aku tidak terlalu khawatir..." Yang kukhawatirkan justru beberapa orang yang juga mengikutiku...

"Kau tahu?"

Zhou Mi menganggukkan kepalanya. "Tidak sulit, toh aku juga tahu kalau namja berambut pirang ini juga bukan manusia..."

"Dia pasanganmu?" lanjut Zhou Mi.

Rona merah sedikit terlihat di kedua pipi Joonmyeon. Dan itu sudah jadi cukup untuk menjadi jawaban atas pertanyaan Zhou Mi.

"A-ah... kau juga sama kan? Namja yang bersamamu itu juga kekasihmu kan?"

Zhou Mi diam. "Entahlah..."

"Hah?"

.

.

.

Heechul berdiri diam sambil bersandar pada salah satu tiang lampu di pinggir jalan. Gesturnya statis, seperti menunggu seseorang. Dan memang itu yang sedang dilakukannya. Namja berwajah cantik itu menoleh ke samping kanannya, tapi hanya ada kosong yang seharusnya terlihat—setidaknya bukan itu yang sebenarnya dilihatnya.

"Teukie..." gumamnya lirih.

"Apa aku melakukan sesuatu yang benar pada Jongwoon...?"

Sesosok namja berpakaian serba putih menatapnya miris. Tapi ia tidak bisa berbuat apapun dengan dirinya yang sekarang. Hanya makhluk astral yang hanya bisa berkomunikasi dengan mereka yang memang dianugerahi kemampuan untuk berbicara dengan makhluk seperti dirinya.

"Apa yang aku korbankan tidak sebanding dengan apa yang harus dia korbankan, bukan?"

Kalian sama-sama bodoh kurasa...

Kyuhyun akan baik-baik saja sebenarnya—mungkin selama Jongwoon masih berada di dekatnya...

"Begitu? Jadi apa yang kulakukan ini sia-sia?" Heechul mendengus.

Tidak juga... setidaknya kalian membuat waktunya sedikit panjang untuk Kyuhyun dan juga Jongwoon...

"Apa?" Heechul menegakkan tubuhnya. Ia menatap sosok transparan di sampingnya. Berbicara dengan hantu memang bukan sesuatu yang menjadi keahliannya—setidaknya ia bisa sedikit melakukannya walau tenaganya akan terkuras.

"Ah... satu lagi... ada sesuatu yang ingin kutanyakan..."

Ne?

"Kalau berdasarkan apa yang diucapkan oleh Jaejoong, bukannya sosokmu harusnya seorang yeoja? Dan di kehidupanmu yang terakhir juga kau kan yeoja?"

Leeteuk memejamkan kedua matanya. Ia harus menghilang sekarang juga. Pertanyaannya yang terakhir benar-benar tidak berguna.

Kau ingin aku menghantuimu seumur hidupmu atau bagaimana? Bisakah kau berhenti menanyakan sesuatu yang tidak berguna seperti itu?

.

.

.

"Bagaimana, hyung? Mau menunggu atau kita lanjutkan saja?"

Yunho menatap Siwon yang kini berdiri tepat di hadapannya. Namja ini berubah terlalu banyak, dari seseorang yang benar-benar dikenalnya dulu menjadi orang asing yang tidak dikenalnya. Ia mengepalkan tangannya, rasanya ingin tertawa. Ini gila, semuanya benar-benar gila. Ia pikir ia tidak terlibat dalam hal ini, dan setidaknya juga berpikir bahwa semua ini sudah berakhir lama, tepat ketika Kim Heechul mengorbankan waktu hidupnya dan Yesung mengorbankan kebebasannya sendiri...

...tapi ini justru masih berlanjut ke arah yang jauh lebih buruk.

"Kau tahu, kurasa Jongwoon-ssi tidak akan masalah kalau wilayahnya hancur sedikit... Apalagi kalau itu kulakukan untuk menghajarmu..."

Dan dalam satu kedipan mata, Yunho telah lebih dulu menerjang Siwon hingga namja berdimple itu terdorong ke belakang, menghantam pohon lain yang ada di dekat mereka. Serangan itu tidak menimbulkan kerusakan yang berarti—hanya retak yang dapat terlihat. Nyatanya walau usia Siwon masih di bawah Yunho, refleksnya bertahan dari serangan Yunho jauh lebih baik.

Siwon langsung memukul perut Yunho, menyebabkan namja itu kembali terdorong ke belakang. Namun alih-alih menabrak pohon lagi, seseorang telah lebih dulu menangkap tubuhnya.

"Kau terlalu melonggarkan perhatianmu, Jung Yunho..."

Siwon menyeringai melihat siapa yang baru saja muncul di tengah mereka. Bukan seseorang yang ingin ditemuinya, tapi setidaknya sedikit memberi salam pada orang yang sudah lama tidak ia jumpai tidak buruk juga kan...

"Lama tidak bertemu, Yesung-hyung..."

.

To Be Continued—

.

a/n Hai~ ^^ entah kenapa saya lagi enak banget nerusin ff ini, mungkin karena ini mau nyampe klimaksnya dan sekitar beberapa chapter lagi bakalan tamat. Saya juga sedikit nambahin masalah buat ZhouRy, karena kalau gak ada masalah, itu bukan saya banget. :p #plak

Saya lagi seneng dengerin lagu ALI Project yang Yuukyou Seishunka sama AKB48 yang Eien Pressure, gak tau kenapa kayaknya musiknya itu pas banget buat ff ini. Ditambah saya juga ngeliat foto Yesung sama Kyuhyun berdua di Boys in City Paris terus di halaman sebelahnya ada Siwon—hampir aja jejeritan di Gramed waktu liatnya soalnya pas banget sama ff ini. -_-v

Btw, saya udah nyoba bikin ini lebih panjang, tapi gatau kenapa selalu mentok di angka 2k+ words. .-.

Oke… sekian dari saya ya… next, saya gak tahu bakal update yang mana… ada usul? ._.

See You~

.

BEST REGARDS

RiN—

.