Manik biru Kuroko melebar. Ia menatap tidak percaya kearah pemuda bersurai crimson yang baru saja mencium dahinya dan berlalu dari hadapannya.

"Maca' Tetcu pacalnya Sei-nii..."

Bukan pacar Kuroko-kun, tapi calon pacar.

What the Hell?

9/?

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

OC © Kuro Kid

AkashixKuroko

GoMxKuro

YAOI. Chibi!Kuroko. OOC. Typo.

Satu lagi cobaan dalam hidup mereka sudah terlewati.

Dan Kiseki no Sedai beserta dua manager itu bisa menghirup nafas lega. Baiklah, selamat datang untuk kehidupan yang lebih baik mulai dari hari ini.

Namun, sepertinya itu tidak berlaku untuk seorang perempuan yang memiliki surai baby blue.

Seharusnya pagi itu menjadi pagi yang indah untuknya—setelah mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, kejadian suram dalam lembaran hidupnya. Tapi, semua berubah ketika Akashi Seijuurou menelponnya.

Serius, lebih baik Rika ditelpon oleh petugas rumah sakit jiwa saja daripada ditelpon Akashi.

Apalagi, Akashi memberitahukan hal yang sama sekali tidak pernah Rika bayangkan—bahkan kepikiran saja tidak.

Yaitu,

"Hari ini kami akan datang kerumahmu. Kami akan mengawasimu dalam membuat penawar untuk Tetsuya."

Rika sangatlah tau siapa yang dimaksud oleh Akashi dengan kami. Siapa lagi jika bukan gerombolan remaja yang menamai mereka sebagai Kiseki no Sedai? Yang menurut Rika berisi oleh orang-orang kurang waras.

Doakan semoga saja Akashi tidak tau tentang pendapat Rika yang satu itu.

Dan pagi ini, Rika disibukkan dengan acara membersihkan ruangan pribadinya—mungkin bisa disebut dengan laboratorium pribadi—mengingat banyak sekali bahan-bahan aneh yang berserakan disana.

"Baiklah, aku harus berjuang lagi hari ini. Semoga saja dengan melihat Tetsu-chan penderitaan ini sedikit berkurang."

Uhh, Rika menjadi tidak sabar ingin melihat wajah imut, unyu, menggemaskan nan polos milik sang bocah bersurai baby blue yang sungguh sangat membuat hidupnya cerah.

Huft, sebahagiamu sajalah, nak.

.-.-.

Berbeda dengan Rika yang sedari pagi sudah sibuk sendiri membersihkan ruangannya.

Maka sang tuan muda Akashi Seijuurou kini tengah bersantai-santai dengan malaikat mungilnya—Kuroko Tetsuya—setelah sarapan.

Manik dwiwarna milik Akashi tiada hentinya memandangi bocah 5 tahun yang sedang asyik dengan televisi dihadapannya lengkap dengan segelas susu vanilla hangat.

Tidak ada yang lebih nikmat dari menonton Pororo ditemani segelas susu vanilla untuk seorang Kuroko.

Hah, akhirnya setelah sekian lama, dirinya bisa menonton acara kartun favoritnya—yang merupakan musuh terbesar Akashi, mengingat fetish Kuroko terhadap kartun itu. Akashi pernah berpikir, jangan-jangan Kuroko versi remaja juga gemar menontonnya?

Atau mungkin, Kuroko lebih gemar menonton kartun Masha and The Bear?

Sudahlah Akashi, pikiranmu semakin melantur saja.

Fokus Akashi teralih ketika ia merasakan getaran ponselnya disaku celana yang ia kenakan. Seketika sebuah seringai tersungging di parasnya ketika mendapati e-mail dari teman—anak buahnya yang menyanggupi ajakan—perintahnya—untuk berkunjung ke rumah Rika.

'Sesuai rencana. Semuanya berjalan lancar, baiklah Rika. Saatnya hukuman untukmu.'

Usai membalas semua e-mail itu, Akashi menatap Kuroko yang tengah tenggelam dalam dunianya sendiri. Sesekali bocah itu tertawa ketika mendapati tokoh kartun favoritnya itu bertingkah konyol—dan tentu saja itu mengundang seulas senyum kecil diparas Akashi.

Pemuda bersurai crimson itu mengacak rambut Kuroko gemas, membuat bocah itu mengalihkan pandangannya kearah Akashi.

"Ada apa Sei-nii?" tanyanya sambil memiringkan kepalanya.

Sukses membuat wajah Akashi memerah saking tidak kuatnya dengan pesona bocah mungil itu.

Akashi menggelengkan kepalanya ketika berbagai pikiran nista mulai berdatangan ke dalam otak jeniusnya, 'Hentikan. Kau masih suci, kau belum ternodai oleh virus Daiki. Fokus Seijuurou!' batin Akashi—nista.

"Kau mau jalan-jalan Tetsuya?" tawar Akashi.

Mata Kuroko langsung berbinar-binar. Ia tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya semangat. Ayolah, memang bocah mana sih yang tidak tergiur dengan tawaran jalan-jalan?

"Kalau begitu letakkan gelas itu di dapur dan kita akan segera berangkat."

Kuroko langsung bangkit dari duduknya dan menuju dapur untuk melaksanakan perintah Akashi. Sedangkan Akashi, ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum ketika mendapati tingkah bocah yang teramat manis itu.

Pemuda bersurai crimson itu beranjak untuk segera bersiap-siap. Akashi hampir saja terjungkal kaget ketika merasakan sesuatu menubruk kakinya, siapa lagi jika bukan si mungil Kuroko?

Bocah itu tersenyum innocent kearah Akashi yang mengerutkan keningnya bingung.

"Ada apa Tetsuya?"

"Ayo kita belangkat sekalang!" teriak Kuroko. Akashi tidak bisa menahan senyumnya. Ia mengacak surai baby blue milik sang bocah.

Kuroko terlonjak kaget ketika ia merasakan tubuhnya melayang. Manik matanya menatap jengkel Akashi yang tanpa kata-kata langsung menggendongnya dan membawanya ke...

Kamar.

Tenang, Akashi tidak berniat yang aneh-aneh. Ia hanya ingin mengambilkan jaket untuk si mungil Kuroko. Ia hanya sedang menunggu waktu yang pas untuk menganeh-anehkan bocah mungil itu.

Mari sejenak kita berdoa untuk keselamatan Kuroko. Berdoa dimulai.

.-.-.

Disebuah gedung yang terlihat cukup besar, dimana banyak suara anak-anak yang terdengar dan sebuah papan nama bertuliskan 'Yukimura's Day Care', terdapat enam orang remaja bersurai warna-warni dan seorang bocah bersurai baby blue yang berada digendongan salah satu remaja tersebut.

"Jadi, untuk apa kita berdiri diam disini seperti orang bodoh?" si hitam manis Aomine Daiki berbicara—dan otomatis dihadiahi tatapan tajam dari teman-temannya yang lain.

"Kau 'kan orang bodoh, Ahominecchi." Bisa ditebak siapa yang menyahuti si hitam manis Aomine, siapa lagi jika bukan speaker berjalan Kiseki no Sedai, Kise Ryouta.

Abaikan Kise dan juga Aomine yang kini sedang sibuk bergulat disana.

"Sebaiknya kita segera masuk, Akashi." Si hijau lumut yang tsun-tsun melirik kearah remaja bersurai crimson—yang disinyalir memiliki fetish terhadap warna biru muda imut-imut.

Akashi melirik sinis, tanpa mengatakan sepatah kata, ia berjalan menuju sebuah pintu kayu berwarna coklat yang letaknya tidak terlalu jauh dari pintu otomatis—yang merupakan pintu masuk menuju Day Care.

Lima remaja disana—sebut saja Kiseki no Sedai—menatap bingung kearah sang kapten.

Dan mereka terlonjak kaget ketika mendapati Akashi menendang pintu kayu tersebut hingga lepas dari tempatnya.

Serius, dia itu manusia atau monster?!

"Apa yang kalian tunggu disana? Cepat masuk!" perintah Akashi sambil berjalan masuk—tentu saja masih dengan Kuroko Tetsuya yang masih terdiam digendongan sang remaja sambil minum vanilla shake kesukannya.

"BAIK!"

Dan manusia warna-warni itu lari tunggang-langgang menuju pintu yang sudah dijebol oleh Akashi. Bahkan Murasakibara yang biasanya terlihat selalu malas-malasan dan tak bertenaga itu pun berlari menyusul teman-temannya.

Sesungguhnya, para remaja absurd itu hanya bisa tunduk pada Maha Raja Akashi Seijuurou.

.-.-.

Rika yang baru saja kembali dari mengecek keadaan Day Care melongo ketika melihat sekumpulan remaja yang kini sedang duduk dengan tenang diruang tamu rumahnya.

Serius, seingatnya tadi ia sudah mengunci pintu rumah. Tidak mungkin juga kakaknya yang membukakan pintu untuk mereka—karena kakaknya sendiri juga bersamanya. Lagipula ia tidak mendengar ada suara bel yang dibunyikan.

"Kalian... bagaimana bisa masuk?" tanya Rika heran, ia menatap remaja bersurai crimson yang tengah sibuk dengan ponselnya.

"Oh itu, Akashicchi mendobrak pintu coklat yang tidak jauh dari pintu masuk Day Care." Balas Kise.

Tanpa aba-aba, Rika langsung melesat menuju pintu rumahnya, dan gadis itu langsung menangis batin ketika mendapati pintu rumahnya yang kini sudah tinggal kenangan. Pintu malang berwarna coklat yang sudah terlepas dari engselnya. Pintu tak bersalah yang mendapatkan kesempatan untuk merasakan tendangan super dari Akashi.

'Dia benar-benar hasil persilangan dari iblis dan juga monster...' batin Rika.

Gadis itu pun segera kembali kedalam dengan langkah gontai. Didalam benaknya sudah terbayang akan amukan kakaknya yang mendapati pintu rumah yang rusak, bagai dirampok.

Sekedar info, rumah Rika dan Day care menjadi satu. Hanya saja ada dua pintu berbeda, satu pintu masuk menuju Day Care dan satu lagi pintu tersembunyi yang letaknya cukup jauh dari pintu masuk Day Care, pintu tersebutlah yang langsung menghubungkan menuju rumah utamanya.

Sesampainya diruang tamu, Rika langsung mendudukkan dirinya disofa yang bersebelahan dengan Momoi. Gadis itu memijat pelipisnya yang berdenyut. Pusing akan kelakuan temannya yang sungguh sangat tidak masuk akal bin absurd.

Akashi melirik Rika dengan tatapan tajam setajam gunting, "Apa kau lupa? Kami kesini bukan untuk melihatmu bersantai."

"Kalian serius ingin mengawasiku membuat penawarnya?" tanya Rika tanpa melihat Akashi.

Gadis itu bergidik ketika ia menyadari ada yang salah dengan atmosfer ruangan ini. Hawa-hawa dingin, mencekam, dan horror mulai terasa. Ia tau betul siapa orang yang menghasilkan hawa horor seperti itu.

Siapa lagi jika bukan Akashi Seijuurou?

Remaja bersurai crimson itu menatap tajam Rika, lengkap dengan senyuman 'termanis' yang ia miliki, tidak lupa tangannya yang sudah memegang gunting sakti berwarna merah.

"Apa aku terlihat sedang bercanda? Sebaiknya kau segera mulai sebelum gunting ini melayang tepat ke kepala bodohmu itu." ucap Akashi sambil menggunting-gunting udara—tidak lupa dengan senyum sadis yang masih terpajang diparasnya.

Kuroko yang duduk disebelahnya menatap kagum Akashi yang entah mengapa begitu keren dimatanya.

Lain Kuroko, maka lain pula dengan Kiseki no Sedai dan juga duo manager. Rasanya mereka ingin segera pergi darisana karena mode yandere sang kapten sudah mulai aktif. Hidup mereka sekarang benar-benar berada diujung tanduk.

Baiklah, neraka dunia akan segera dimulai.

.-.-.

Terlihat seorang remaja bersurai crimson tengah duduk dengan tenang disudut sebuah ruangan yang cukup remang. Ditangannya tergenggam secangkir teh hangat yang masih mengepulkan asapnya. Remaja itu hanya terfokus kepada kegiatannya sendiri, yaitu—

Memandangi sesosok anak manusia yang memiliki surai biru secerah langit musim panas—yang sekilas warnanya mirip dengan warna permen—membuat orang yang melihatnya ingin mengemutnya.

Coret kalimat terakhir.

Remaja tersebut nampaknya tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, yang sangat jauh dari kata tenang.

Perlu dilihat lebih jauh lagi, ternyata remaja tersebut tidak hanya berdua dengan makhluk biru tersebut, melainkan bersama dengan makhluk-makhluk lainnya yang memiliki warna rambut seperti warna pelangi.

Sebut saja Kiseki no Sedai.

Sekumpulan remaja ajaib bin absurd yang menamai diri mereka sebagai generasi keajaiban itu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Mulai dari yang tidak penting—sampai yang sangat penting.

Contoh kegiatan tidak pentng adalah sosok makhluk berwarna kuning yang sibuk bermain dengan botol berukuran sedang yang didalamnya terdapat cairan berwarna hijau dengan gelembung-gelembung yang masih meletup.

Kegiatan sangat pentingnya tentu saja sosok manusia yang mengenakan masker dan penutup kepala yang tengah sibuk dengan acara mencampurkan berbagai jenis benda kedalam sebuah botol.

"Aominecchi, coba lihat, cairan ini mencurigakan sekali-ssu." Bisik sang makhluk kuning, sebut saja Kise kepada soulmate sehidup sematinya, Aomine, sambil menunjukkan sebuah botol berisi cairan hijau yang sedari tadi diamatinya.

Aomine melirik, raut malasnya seketika berubah menjadi raut jijik, "Singkirkan benda itu. Benda itu mirip dengan ingus yang terkontaminasi rambutnya Midorima."

Kise mengangguk, dalam hati ia membenarkan ucapan Aomine tentang warna dari cairan hijau yang sungguh mencurigakan itu. Tidak mau membuang waktu, Kise pun langsung meletakkan botol itu tidak jauh dari tempat Momoi berdiri.

"Kise-kun, botol ini berisi apa?" tanya Momoi ketika gadis itu menyadari keberadaan Kise.

Pemuda bak speaker berjalan itu mengedikkan bahunya, "Kata Aominecchi itu isinya semacam ingus yang terkontaminasi rambutnya Midorimacchi."

Momoi bergidik, ia langsung memberikan botol itu kepada Murasakibara yang berdiri disampingnya dan setelah itu, Momoi tengah berusaha untuk menghilangkan najis ditangannya karena sudah menyentuh botol yang disinyalir berisi ingus Midorima.

"Sa-chin lagi-lagi memberiku benda menjijikkan." Gumam Murasakibara. Ia berjalan mendekati Rika yang tengah sibuk dengan kegiatannya dalam membuat penawar untuk si bocah mungil unyu menggemaskan bernama Kuroko Tetsuya.

Pemuda bak titan jejadian itu justru bengong ketika sudah sampai didekat sang gadis bersurai baby blue. Dia dilema, antara ingin menanyakan keaslian dari benda yang dibawanya atau mengembalikannya kepada sang pemilik.

Tap Tap Tap

"Rika, apa aku harus menunggu sampai lebaran kucing untuk sebuah penawar yang sudah lama kau janjikan?" sebuah suara menggema didalam ruangan tersebut.

Hening.

Hening sehening-heningnya.

Suara—yang sebenarnya kalem itu membawa dampak besar pada atmosfer ruangan tersebut. Bukan dampak positif, tetapi dampak negatif.

"haphaajshdysadgasdyawjs."

Bukan, itu bukan kesalahan teknis ataupun kejadian dibawah alam sadar. Itu adalah suara Rika yang menjawab pertanyaan sarkartis dari Akashi.

Iya, memang tidak jelas—sangat tidak jelas. Buktinya manusia-manusia yang berada diruangan tersebut saja bingung enampuluhsembilan keliling mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh manusia berambut imitasi dari Kuroko.

'Dia itu bicara atau baca mantra?'

Yakali nak, baca mantra, kalian kira Rika itu seorang nenek sihir? Penyihir? Dukun sakti?

"Kau ini bicara apa?" tanya Akashi bingung. Hebat, seorang Akashi Seijuurou yang terkenal jenius pun bisa bingung.

Rika diam, ia tidak menanggapi Akashi. Gadis itu justru masih sibuk dengan benda aneh yang berada didepannya. Benda berbentuk tabung reaksi yang berisi cairan berwarna merah kebiruan yang meletup-letup dan mengeluarkan bau yang—maaf—seperti kentut Aomine.

Abaikan saja teriakan gaib diujung sana.

Manusia bak titan yang sedari tadi hanya bisa berdiri dengan tampang malas, memilih untuk pergi dari dekat Rika—masih dengan botol berisi ingus Midorima. Murasakibara ternyata tidak tahan dengan bau busuk yang menguar dari benda aneh yang tengah dibuat oleh Rika.

Abaikan saja teriakan Midorima yang sedari tdi menjerit kalau cairan itu bukan ingusnya.

GREP

Murasakibara menghentikkan langkahnya. Ia menatap bingung kearah Rika yang baru saja menahan lengannya. Manusia bersurai ungu itu merinding ketika mendapati tatapan mata Rika yang berbeda dari biasanya. Mata berwarna gold itu berbinar berbahaya. Binar seorang pemburu.

"Eh, Rika-chin—"

"Sssttt." Rika memotong ucapan Murasakibara dengan cara meletakkan jari telunjuknya yang berbalut sarung tangan kebibir sang pemuda, yang otomatis membuat pemuda tersebut bungkam—tak memprotes lagi.

Cie romantisnya.

Salah fokus.

Murasakibara menatap nanar Rika yang kini sudah berlalu dari hadapannya—lengkap dengan botol berisi cairan—yang menurut semua orang—ingus Midorima.

Semua manusia disana hanya bisa menahan mual melihat adegan abal-abal yang baru saja disuguhkan oleh duo Murasakibara dan Rika.

Sialan, mata mereka sudah tidak perjaka lagi.

.-.-.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya apa yang dinantikan pun datang juga.

Saat paling bersejarah dalam perjalan hidup mereka.

Bukan, bukan saat dimana mereka bisa melihat dengan puas seorang Kuroko Tetsuya berpose hot—yang sebenarnya itu sangat amat mustahil untuk terjadi, mengingat kelakuan si manusia biru muda yang kelewat datar melebihi tembok.

Namun, saat dimana seorang Yukimura Rika mengumumkan kepada segerombolan remaja yang tengah bosan setengah mati diujung ruangan sana—pengecualian untuk Kuroko, karena bocah itu sudah terlebih dahulu hijrah ke pulau kapuk—kasur— dan dibawa oleh kakak Rika menuju kamar miik Rika—jika penawar hasil karyanya sudah selesai dan siap untuk diuji coba.

"Huah! Minna-san! akhirnya selesai sudah! Aku telah membuat penawar yang pasti akan sangat manjur untuk mengembalikan Tetsu-chan kewujud semula!" teriaknya girang.

Semua orang disana menghela nafas lega—lega karena penawarnya sudah selesai dan juga lega karena Rika sudah bisa berbicara dengan normal, tidak seperti dukun membaca mantra.

Remaja pemilik mata dwiwarna yang sedari tadi terdiam beranjak dari duduknya, ia mendekati salah satu anak buahnya yang sudah terdaftar dalam list rahasia miliknya.

Yaitu, 'Anak buah yang wajib dan harus disiksa. By Akashi Seijuurou yang tampannya sejagad raya galaksi bima sakti dan calon suami masa depan Kuroko Tetsuya.'

Coret kalimat terakhir.

Akashi mengambil botol berisi cairan berwarna bening yang dibawa oleh Rika. Manik dwiwarnanya mengamati dengan serius, takut jika cairan tersebut berbahaya untuk kesehatan raga dan juga jiwa calon istrinya tersayang.

Ia sedikit bingung ketika mendapati cairan yang disodorkan Rika tidak berwarna alias bening, padahal saat prosesnya tadi, cairan yang dibuat oleh Rika berwarna merah kebiruan dan mengeluarkan bau seperti kentut Aomine.

Sekali lagi, tolong abaikan teriakan gaib disana.

Akashi menatap curiga cairan itu, berbagai spekulasi mampi ke otak jeniusnya. Bagaimana kalau ternayata cairan buatan ilmuwan gila itu beracun? Bagaimana kalau cairan ini justru membuat Kuroko menjadi bocah permanen?

Masa dia harus menikahi seorang bocah? Yang ada dia bisa dikira pedofil.

"Yakin ini aman?" tanya Akashi ragu.

Rika menganggukkan kepalanya dengan semangat, ia mengacungkan jempolnya sembari tersenyum lebar—mirip tokoh anime tetangga, "Tenang saja, sudah pasti aman! Sudah teruji secara klinis oleh laboratorium terakreditasi!"

'Laboratorium terakreditasi kepalamu itu.' batin semua orang yang ada disana jengkel.

Akashi masih ragu, ia pun berusaha mengamati lebih jauh dengan cara membaunya.

"Hm, tak berbau." Ucapnya heran. Heran karena sudah tidak ada bau menyengat bak kentut Aomine.

"Jadi, sudah yakin jika ini aman?" tanya Rika memastikan. Akashi menganggukkan kepalanya mengiyakan.

Sementara dua orang disana sibuk berbicara sendiri, empat jantan dan satu betina disana hanya bisa melongo. Merasa familiar dengan obrolan mereka.

Hah, yasudahlah, mungkin hanya perasaan mereka saja.

"Jadi, haruskah kita meminumkannya langsung kepada Tetsuya?" tanya Akashi.

Semua orang disana terdiam—berpikir.

"Ah! Aku punya ide-ssu!" seru Kise dengan lantang—yang sukses mendapat pukulan gratis sebuah sandal rumah berwarna biru tua yang sungguh baunya—apek sekali.

"Aominecchi hidoi-ssu. Kau ini jahat sekali sih-ssu! Kau tidak tau apa?! Sandal rumahmu itu baunya tidak enak sekali-ssu!" rengek Kise.

Manusia bersurai biru tua yang menjadi pelaku memutar kedua bola matanya malas, "Itu 'kan sandal rumah milik Rika, salahkan saja dia."

Rika mendelik, "Sandal rumah disini selalu wangi! Kakimu saja yang bau!"

Pfft—

Wajah Aomine mendadak memerah—tolong jangan dibayangkan, karena nanti terbayangnya justru belang-belang—karena bantahan Rika yang sesungguhnya sangat benar adanya.

Sebenarnya itu adalah rahasia Aomine yang ingin dia sembunyikan rapat-rapat dari teman-temannya. Mau ditaruh dimana mukanya jika semua orang tau seorang Aomine Daiki—yang kata orang rabun—paling tampan sedunia itu punya kelainan berupa kaki bau?!

Yakali Aomine, semua orang juga sudah tau kalau kau itu joroknya sudah bawaan dari lahir.

SYUT

Hening.

Jangan tanyakan apa yang baru saja terbang.

Apalagi jika bukan gunting sakti milik sang raja iblis dari semua iblis, Akashi Seijuurou.

Pelaku pelemparan tersebut mengulas senyum lebar—yang jika dilihat lebih dekat lagi, itu sangatlah horror, "Jadi, kalian sudah selesai berdiskusinya?"

Aomine dan Rika mengangguk kaku—takut jika akan ada gunting terbang yang akan menyusul.

Akashi beralih ke Kise yang kini tengah mengucurkan keringat dingin, "Lalu, apa idemu Ryouta?"

Begitu kata ide disebutkan, Kise langsung berbinar cerah. Akhirnya ia bisa menyampaikan ide yang menurutnya sangatlah jenius dan awesome ini.

Pemuda bersurai kuning yang kelewat hiperaktif itu tersenyum lebar, "Begini, bagaimana jika cara meminumkannya ke Tetsuyacchi itu melalui mouth to mouth-ssu? Jadi, aku meminum airnya, lalu aku mencium Tetsuyacchi dan menyalurkannya-ssu. Bagaimana? Hebat 'kan-ssu?"

Dafuq.

Kalau itu mah yang untung dirimu, nak. Mencari kesempatan dalam kesempitan.

"Mati kau Kise/Ryouta/Kise-chin/Kise-kun."

Mari sejenak kita berdoa untuk keselamatan Kise yang tengah mendapatkan pelajaran dari teman-temannya yang begitu ia cintai.

.-.-.

Setelah melalui perdebatan yang sangat panjang, menguras tenaga, berhiaskan gunting yang terbang kesana kemari, serta diselingi dengan pertumpahan darah. Akhirnya didapatkan sebuah keputusan akhir.

Yaitu,

Memberikannya langsung kepada Kuroko dengan mengatakan jika itu adalah air zam-zam.

Yakali, memangnya Kuroko tau air zam-zam itu apa?

Sebahagia kalian sajalah nak.

Lalu, yang bertugas untuk memberikannya kepada Kuroko tidak lain dan tidak bukan adalah Akashi Seijuurou.

Memang siapa yang sanggup melawan sang tuan muda Akashi dengan semua gunting sakti yang ia punya?!

Lihatlah manusia-manusia yang terkapar tidak berdaya di laboratorium milik Rika, disinyalir mereka terkapar karena terlalu banyak mendapatkan gunting sakti dan juga tekanan mental yang sangat hebat ketika berusaha mendapatkan pekerjaan mulia tersebut.

Siapa tau selain mengantarkannya kepada Kuroko mereka bisa mengapa-apakan bocah mungil nan imut satu itu.

Nista sekali pikiran kalian nak.

Akashi dengan bangga melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar yang merupakan milik Rika. Ditangannya terdapat sebuah gelas yang berisi penawar buatan ilmuwan gila dan juga sebuah kemeja berwarna putih yang sengaja dibawanya dari rumah.

Jangan tanyakan apa fungsi kemeja itu, karena kalian pasti tau.

Eits, tapi bukan untuk hal yang aneh-aneh—misalnya, untuk dipakai oleh Kuroko dan melakukan pose hot.

Udara musim panas yang hot terkadang membuat pikiran menjadi hot juga.

Pemuda bersurai crimson itu dengan hati-hati membuka pintu bercat coklat muda—takut membangunkan sosok malaikat kecil yang mungkin saja masih tertidur didalam sana. Akashi mengulas senyum tipis tatkala manik dwiwarnanya mendapati malaikat kecilnya tengah duduk diatas kasur sambil mengusap matanya dengan lesu.

"Sei-nii?" panggil Kuroko ketika ia mendapati sosok pemuda yang sudah sangat familiar dengannya itu berjalan mendekatinya.

"Apa mimpimu sangat indah sampai kau enggan untuk bangun Tetsuya?" tanya Akashi. Pemuda itu terkekeh ketika ia mendapati raut wajah Kuroko yang masih mengantuk—dan tidak mengindahkan pertanyaannya.

Akashi meletakkan gelas yang tadi dibawanya di meja nakas yang berada disamping single bed yang ditempati oleh Kuroko. Tangan milik Akashi mengusap surai baby blue Kuroko dengan lembut, "Cucilah mukamu dulu Tetsuya."

Bocah mungil itu mengangguk dan beranjak dari kasur meski enggan. Ia tidak mau mengambil resiko—digendong oleh Akashi dan dipaksa untuk cuci muka, sungguh sangat tidak elit.

Akashi menggelengkan kepalanya melihat Kuroko yang berjalan dengan lesu dan tertatih-tatih—karena ngantuk. Membuat otaknya—yang sepertinya sudah teracuni oleh virus milik Aomine—berpikir yang 'iya-iya'.

'Hentikan itu Seijuurou! Kau itu masih waras! Kau masih suci, meski tidak normal lagi. Tapi demi Tetsuya aku rela menjadi belok.' Inner Akashi—gaje.

"Sei-nii, kenapa melamun?"

Pemuda bersurai crimson itu hampir saja terjungkal kaget dengan kedatangan si bocah unyu satu ini yang tiba-tiba, untung saja Akashi masih mengingat imagenya yang terkenal cool dan tenang, jadi ia tidak mungkin melakukan hal—yang menurutnya—sangat memalukan tersebut.

"Aku tidak melamun Tetsuya. Nah, apa kau sudah mencuci mukamu?" tanya Akashi. Bocah mungil dihadapannya itu mengangguk dengan lucunya. Saking lucunya sampai membuat wajah Akashi bersemu merah.

Akashi hampir saja memeluk bocah itu jika saja ia tidak teringat dengan tujuan mulianya datang kemari. Apalagi jika bukan untuk memberikan penawarnya kepada Kuroko?

"Kalau begitu, minumlah dulu Tetsuya." Ucap Akashi sambil memberikan gelas berisi penawar kepada Kuroko.

Bocah mungil itu tanpa menaruh rasa curiga langsung meminumnya—hingga habis. Sedangkan Akashi yang memperhatikannya daritadi gregetan tidak sabar—tidak sabar akan reaksinya.

1 menit.

Nihil. Masih belum terjadi apapun.

5 menit.

Masih sama saja.

10 menit.

Akashi sudah mulai jengah, dan sepertinya Kuroko juga sudah mulai risih karena diperhatikan lekat oleh Akashi.

Hingga 30 menit kemudian...

Akashi merasa tidak sabar dan menjambak rambutnya sendiri—membuat Kuroko menjadi heran dengan sikap orang yang menurutnya adalah kakaknya itu.

"Sei-nii kenapa menalik lambut cepelti itu? Memangnya tidak cakit?" tanya Kuroko. Bocah itu pun dengan polosnya ikut menjambak surai merah milik Akashi.

"Ittai! Tetsuya, apa yang kau lakukan?!" hardik Akashi. Ia berusaha melepaskan cengkeraman tangan Kuroko yang ternyata cukup kuat tersebut.

Mendengar seruan Akashi, Kuroko pun mengendurkan cengkeramannya. Ia memiringkan kepalanya dan menatap polos kearah Akashi.

"Mengecek Sei-nii, cakit atau tidak." Jawabnya dengan polos. Ia memiringkan kepalanya kekiri, dan manik bulatnya itu menatap Akashi dengan pandangan tidak bersalah. Uhh~

Wajah Akashi memerah—menyaingi warna rambutnya. Dari sekian banyak manusia didunia, dari sekian manusia nista yang kini tengah berada diluar kamar, dirinyalah yang mendapatkan kehormatan untuk menyaksikan secara langsung betapa imutnya makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini.

Duh, ia jadi tidak sabar menunggu reaksi penawarnya.

Ia sudah tidak sabar menunggu Kuroko kembali menjadi usia normal.

Yah, bisa dibilang alasan Akashi setia menunggu reaksinya karena ingin segera—piip—lalu—piiip—dan—piiip—makhluk didepannya itu—dan menganeh-anehkan makhluk imut satu itu.

Aduh nak, tolong jangan racuni pikiran polos 'teman'mu.

.-.-.

Serius.

Demi neptunus dan semua pengikutnya.

Akashi ingin rasanya menggunting, mencabik, membunuh dan membakar seorang manusia yang sungguh sudah memberikan harapan palsu padanya.

Siapa lagi jika bukan Rika?

Manusia aneh dan—mungkin—tidak waras tersebut sudah mengatakan jika penawar yang dibuatnya pasti akan manjur dan tidak membutuhkan waktu yang lama.

Tapi buktinya?

Kuroko yang sudah hampir 3 jam yang lalu meminum penawar tersebut belum juga menunjukkan tanda-tanda akan kembali ke wujud semula. Lihat saja, bocah biru itu justru sibuk bermain dengan Aomine dan juga Midorima.

Lalu kenapa Akashi tidak langsung saja melakukan semua hal itu?

Bersyukurlah karena Rika, Momoi, Kise, dan juga Murasakibara diperintahkan oleh kakak Rika untuk berbelanja bahan makanan untuk makan malam—karena kebetulan persediaan dirumah Rika sudah mulai menipis karena dihabiskan oleh teman-teman nistanya ketika makan siang.

Dan yang tersisa hanyalah Akashi—yang tengah badmood, Aomine dan Midorima yang kebagian tugas mulia untuk mengasuh Kuroko sementara waktu.

Midorima yang tengah tidak digelayuti oleh Kuroko melirik kearah Akashi yang masih duduk disofa diruang keluarga dengan aura suram yang mengelilinginya. Sesungguhnya Midorima ingin sekali menghibur Akashi dan mengatakan untuk lebih bersabar.

Tapi ia tidak melakukannya karena takut disambit gunting oleh Akashi yang sedang badmood to the max. Daripada itu, sebenarnya Midorima tidak ingin meninggalkan si bocah biru unyu-unyu bernama Kuroko ini berdua saja dengan seorang manusia mesum dan dakian bernama Aomine Daiki.

"Shintalou-nii, hiks—"

The hell.

Pemuda berkacamata itu langsung menoleh kearah suara yang—sumpah demi semua lucky item miliknya—terdengar sangat imut dan menggemaskan.

"Ku-Kuroko, ke-kenapa kau me-menangis nanodayo?" Midorima mendadak gagap. Gagap karena panik dan tidak kuasa melihat betapa imutnya makhluk Tuhan yang satu ini, dengan mata berair dan wajah memerah menahan tangis.

Serius, kalau saja Midorima sudah tidak sayang nyawa, ia pasti akan langsung membawa pulang bocah satu ini.

Bocah imut itu langsung berlari kepelukan Midorima, "Daiki-nii menggigit pipiku, hiks—cakit cekali." Adunya sambil menangis.

Mata Midorima langsung memicing tajam. Ia memandang Aomine yang tengah menggaruk tengkuknya dengan tatapan tajam.

"O-oi, jangan melihatku dengan tatapan seperti itu Midorima." Ucap Aomine. Ia merasa jengah ditatap sedemikian rupa oleh sang megane.

"Kenapa kau menggigit pipi Kuroko? Kau kira pipinya itu bapao nanodayo?" tanya Midorima.

Aomine terlihat mengalihkan pandangannya dari Midorima, wajahnya sedikit bersemu merah, "Jangan salahkan aku, salahkan saja pipinya Tetsu."

Midorima sweatdrop, ia menatap bosan temannya yang agak-agak idiot tersebut, "Kau ini benar-benar bodoh Ahomine."

"Oi! Aku ini tidak bodoh! Salahkan saja Tetsu yang terlalu imut! Aku 'kan jadi ingin menggigit pipinya yang kemerahan itu." bela Aomine.

'Kau pikir cuma kau saja yang kepikiran ingin menggigit pipi Kuroko? Aku juga ingin nanodayo. Tapi aku masih sayang nyawa.' Batin Midorima—tidak tsundere.

Pemuda bersurai hijau itu memilih untuk tidak berdebat lagi dengan Aomine—yang sebenarnya membuatnya semakin emosi. Ia lebih memilih untuk memeluk dan menenangkan si bocah mungil yang masih menangis sambil memegang pipinya yang kini terdapat bekas gigi Aomine. Tangan Midorima tidak ketinggalan ikut bagian dalam mengusap-usap surai baby blue milik Kuroko.

Modus.

CKRIS CKRIS

Suara gaib tiba-tiba saja mulai terdengar. Suara yang sungguh sangat horror. Bahkan saking horrornya, Aomine yang sedari tadi menggerutu tidak jelas dan juga Midorima yang tengah menikmati masa bahagianya langsung membeku.

Midorima sendiri tidak berani untuk mencari tau bunyi gaib apa itu. Karena ia sudah sangat tau, suara apa dan berasal dari siapa.

"Siapa yang mengizinkanmu untuk memeluk dan mengusap rambut Tetsuya penuh kasih sayang seperti itu Shin-ta-rou?"

GLEK

Midorima merasa nyawanya berada diujung tanduk ketika mendengar sang kapten menyebutkannya namanya.

Baiklah, sepertinya masa bahagianya hanya berakhir sampai disini. Selamat datang neraka, I'm coming.

Pemuda berkacamata itu pun dengan takut-takut menolehkan kepalanya kearah sumber suara.

Dan detik itu juga, Midorima menyesali keputusannya. Apa yang ia lihat sungguh merusak kejiwaannya. Pemandangan Akashi yang tengah tersenyum sadis sambil membawa dua buah gunting dimasing-masing tangannya, tidak lupa aura gelap dan suram yang menguar dari tubuh remaja bertubuh—ehem—boncel tersebut.

Tidak tidak. Akashi tidak boncel. Hanya saja tingginya terbatas.

"Jadi, bisa kau jelaskan tindakanmu pedofilmu itu, hm?" tanya Akashi dengan nada yang sungguh berbahaya.

Yang ditanyai sudah berkeringat dingin sekaligus jengkel, "Kau 'kan juga sering melakukan hal ini nanodayo. Jadi kau ini benar-benar seorang pedofil?"

Akashi kicep.

Aura hitam yang keluar dari dalam tubuhnya kini semakin pekat dan hitam.

Makanya, lebih baik lain kali ngaca dahulu sebelum mengatai orang lain, Akashi-kun.

Midorima benar-benar cari mati.

Aomine yang sedari tadi menjadi orang terlupakan bergidik ngeri. Diam-diam ia sudah mencari tempat yang aman untuk bersembunyi dari amukan iblis yang tengah murka.

Sedangkan objek yang dijadikan perdebatan justru masih betah didekapan Midorima—seolah ia tidak merasakan aura iblis dari Akashi.

Akashi berjalan mendekati Midorima. Ia menyunggingkan seringai mematikan sambil menggunting-gunting udara kosong—membuat Midorima semakin gemetaran.

"A-Akashi, jika kau menyakitiku, kau juga akan menyakiti Kuroko." Ucap Midorima.

Seringai Akashi semakin lebar, "Kalau begitu kenapa kau tidak lepaskan saja tangan kurang ajarmu itu dari TetsuyaKU?"

Entah Midorima itu budek, mendadak idiot atau apa, ia justru mengeratkan pelukannya pada bocah kecil yang masih belum peka terhadap keadaan yang sedang terjadi.

Benar-benar cari mati.

Akashi yang sudah darisananya sedang badmood, semakin badmood melihat kelakuan salah satu anak buahnya yang mendadak menjadi super duper biadab.

"Bersiaplah untuk segera pergi menuju neraka Shintarou."

Dan Aomine hanya bisa berdoa dalam hati, semoga saja temannya yang tsundere satu itu masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati hari esok.

.-.-.

Rika, Momoi, Kise dan juga Murasakibara hanya bisa mengerutkan kening mereka bingung ketika mendapati seonggok tubuh remaja bersurai hijau yang terlihat sungguh sangat mengenaskan tergeletak tak berdaya di ujung ruang keluarga.

Mereka pun semakin bingung ketika mendapati Aomine yang tengah pundung dipojokan—wajahnya terlihat seperti orang yang tengah mengalami trauma mental.

"Aominecchi, kau kenapa-ssu?" tanya Kise penasaran. Ia menendang-nendang kaki Aomine. Namun sang ganguro sama sekali tidak merespon tindakan Kise. Sepertinya nyawanya sudah melayang entah kemana.

"Are, Aka-chin kemana?" pertanyaan Murasakibara mengusik kegiatan Kise yang baru saja ingin memukulkan sandal rumah yang dipakainya ke kepala Aomine.

Semua orang disana langsung celingukan mencari seonggok rambut berwarna merah.

Nihil. Selain itu, mereka juga tidak menemukan warna baby blue diruangan tersebut.

"Tetsuyacchi juga tidak ada-ssu. Dia dan Akashicchi kemana? Apa yang sebenarnya sudah terjadi-ssu?!" panik Kise. Wajahnya terlihat sangat panik. Ia takut jika iblis merah satu itu menganeh-anehkan Kuroko.

Sebenarnya semua orang yang baru saja menginjakkan kakinya disana sama paniknya dengan Kise. Mereka takut jika tiba-tiba Akashi kalap dan langsung menyerang Kuroko tanpa mengindahkan apapun alias cuek dengan apapun yang akan terjadi.

Bagaimana jika Kuroko saat ini disiksa oleh Akashi? Bagaimana jika saat ini kepolosan Kuroko sudah dinodai oleh Akashi?!

TIDAAAAK!

Batin mereka menjerit tidak terima. Mereka tidak rela jika Kuroko dimonopoli begitu saja oleh kapten mereka yang sadis tersebut—apalagi sampai dinodai kepolosannya.

Tidak boleh.

Hal tersebut tidak boleh terjadi.

Meski nyawa mereka adalah taruhannya, mereka tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi pada sang makhluk Tuhan paling unyu bernama Kuroko Tetsuya.

"Kita harus mencari mereka berdua!" pekik Momoi. Gadis bersurai merah muda tersebut sudah kalap berlari kesana-kemari saking paniknya. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi tanpa sepengetahuan dirinya. Dia belum menyiapkan kamera dirumah Rika. Jadi akan mubazir seandainya Akashi sudah mengapa-apakan Kuroko tanpa direkam olehnya.

Dafuq.

Diam-diam dia ini fujoshi ternyata.

Tanpa dikomando lebih lanjut, Rika, Kise dan Murasakibara langsung melesat meninggalkan ruang keluarga untuk mencari keberadaan Kuroko dan juga Akashi—meninggalkan Midorima dan juga Aomine yang sepertinya sedang berada dialam lain.

Pertama, Kise, ia pergi kekamar Rika. Entah kenapa ia punya firasat jika Akashi dan Kuroko berada disana. Maka dengan percaya diri, Kise melangkahkan kakinya menuju kamar Rika.

Sesampainya dikamar pemilik rumah, Kise langsung mendobrak pintu kamar tersebut hingga salah satu engselnya lepas.

SIIING

Kosong.

Tidak ada siapapun didalam sana. Yang ada hanyalah sebuah gelas kosong dimeja nakas dan juga sebuah kemeja putih yang masih terlipat rapi yang diletakkan diatas single bed milik Rika.

"Kemana perginya Akashicchi dan Tetsuyacchi? Aku harus menemukan mereka secepatnya-ssu!" serunya pada dirinya sendiri. Ia pun langsung melesat menuju ruangan lain.

Sementara Kise sibuk mencari lagi, mari kita pindah fokus ke manager Kiseki no Sedai yang terkenal dengan keseksiannya, Momoi.

Gadis bersurai merah muda itu berjalan dengan sedikit tergesa-gesa, tempat yang ia kunjungi adalah kamar mandi.

Tidak ada yang tau bagaimana sebenarnya jalan pikiran gadis satu itu.

Yakali mencarinya dikamar mandi, kalau dia masuk dan malah menemukan Aomine lagi boker 'kan justru jadi skandal.

Yasudahlah.

Dengan semangat—iya, semangat—Momoi membuka pintu kamar mandi.

SIIING

Sama halnya dengan kamar Rika, kamar mandi tersebut juga kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada keberadaan Akashi maupun Kuroko, apalagi Aomine yang sedang boker. Aman.

Hm, tapi jika dilihat lebih dekat, kenapa wajah Momoi terlihat lesu dan sedih?

Tidak ada yang tahu—apalagi tempe.

Beralih dari Momoi, mari menuju Rika.

Gadis bersurai baby blue yang disinyalir merupakan manusia paling normal yang ada di Kiseki no Sedai itu dengan malas melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri—yang baru saja ditinggalkan oleh Kise dalam keadaan mengenaskan.

Sebenarnya, tujuan Rika mencari dikamarnya sendiri adalah sekalian tiduran sebentar. Punggungnya sudah minta untuk ditidurkan sejenak.

Hah, modus sekali kau Rika.

Sesampainya dikamarnya sendiri, Rika kicep. Shock. Tidak percaya. Miris. Rasanya ingin nangis darah saat itu juga.

Ini manusia biadab mana lagi yang dengan idiotnya kembali merusak salah satu pintu yang ada dirumahnya?

Mengabaikan pintunya yang sudah rusak, Rika melangkahkan kakinya kedalam sambil mencari keberadaan duo manusia cebol yang sudah membuat heboh para manusia.

Nihil. Ia tidak menemukannya.

Gadis itu menghela nafas, ia melirik kearah pintu kamarnya, "Siapa saja yang merusak pintu kamarku, ku sumpahi dia akan terpeleset. Mau terpeleset kulit jeruk, kulit manggis, atau kulitnya Aomine tidak masalah."

Nan jauh disana, Aomine sedang bersin tidak jelas.

Lalu, ia teringat dengan sejoli yang belum ia sumpahi, "Oh ya, untuk mereka berdua juga. Ku sumpahi Sei-chan akan terjungkal dan Tetsu-chan akan semakin imut."

Nan jauh disana, dipelosok rumah Rika yang tidak diketahui dibagian mana, ditemukan seorang pemuda yang sudah tergeletak tidak berdaya. Disinyalir dia sudah tepar akibat terpeleset kulit durian.

Sedangkan ditempat lain, ditemukan pula seorang pemuda bersurai merah yang tiba-tiba saja terjungkal tidak jelas dengan seorang bocah unyu yang menatapnya dengan tatapan imut.

Tidak usah dijelaskan secara detail siapa dua pemuda itu.

Kasihan.

Beralih kemanusia terakhir yang mendapat kesempatan untuk menjadi detektif dadakan, Murasakibara.

Berbeda dengan ketiga temannya yang lain, pemuda dengan tinggi badan yang diatas rata-rata itu jsutru pergi ke suatu tempat yang sebenarnya tidak terlalu asing untuknya. Dengan malas-malasan, ia membuka sebuah pintu...

...kulkas.

Hidup Murasakibara memang tidak pernah jauh dari yang namanya makanan, makanan dan makanan.

Usai menggeledah seluruh bagian rumah Rika, empat remaja itu kembali ketempat pertama—yaitu ruang tamu, disana Aomine dan Midorima sudah kembali mejadi normal.

Aomine mengernyit ketika mendapati Kise datang dengan langkah tertatih, "Kau kenapa Kise?"

Kise meringis, "Aku tadi kepeleset kulit duren-ssu. Siapa yang iseng meletakkan kulit duren dikoridor sih-ssu?!"

Semua orang disana sweatdrop. Yakali, kepeleset kulit durian, umumnya sih kepeleset kulit pisang atau kulit manggis.

Remaja bersuria hijau yang sudah bangkit dari mautnya berdehem, "Apa kalian sudah menemukan Akashi dan Kuroko nanodayo? Aku bertanya bukan berarti aku peduli pada mereka." ucapnya sambil menaikkan kacamatanya—yang sama sekali tidak merosoti seinchipun.

Empat remaja disana menggeleng.

Aomine menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, "Apa kalian sudah mencari ke laboratorium Rika?"

TING

Tanpa dikomando, semua remaja disana langsung beringsut menuju tempat yang baru saja dikatakan oleh Aomine, meninggalkan remaja bersurai biru tua itu terbengong diruang tamu dengan bodohnya.

"Aku yang memberi ide kenapa aku yang ditinggal? Dasar manusia." Umpat Aomine malas sambil berjalan menyusul temannya yang lain.

Dasar, memangnya kau bukan manusia?

.-.-.

Ditempat lain, dimana seorang remaja bersurai merah tengah berdiam diri dengan seorang bocah bersurai baby blue dipangkuannya.

Ya, benar, dipangkuannya.

Tolong singkirkan semua pikiran aneh-aneh kalian, bung.

Sang bocah terlihat tengah bermain dengan ponsel milik Akashi. Sedangkan Akashi, ia sibuk memainkan surai baby milik sang bocah sembari menonton televisi—yang entah kenapa bisa ada disana.

Manik matanya menatap bosan siaran yang tersaji didepannya, sementara punggungnya ia sandarkan pada kaki sofa. Akashi lebih memilih untuk duduk dibawah beralaskan karpet berwarna merah maroon.

Remaja itu mengalihkan pandangannya dari televisi kearah bocah yang masih asyik sendiri dengan ponselnya. Senyum kecil terlukis diparas tampannya ketika mendapati raut wajah polos milik sang bocah yang sungguh sangat menggemaskan.

Memandang paras manis didepannya ini sungguh tiada membuatnya bosan. Ia suka dengan manik bulat milik sang bocah yang terlihat polos dan juga jernih. Ia suka hidung mancung miliknya. Dan ia juga menyukai bibir mungil milik sang bocah yang terlihat merah semerah cherry.

Tapi, ia lebih menyukai jika bocah bersurai baby blue itu dalam keadaan normal.

Dengan kata lain, dalam usia 15 tahun.

Akash menghela nafas, sampai kapan ia harus menunggu?

"Sei-nii?"

Akashi menoleh, ia mendapati sang bocah tengah menatapnya dengan tatapan polos, "Ada apa Tetsuya?"

Bocah itu menatap Akashi dengan tatapan sendu, "Sei-nii celing melamun. Apa Sei-nii punya macalah?"

Akashi tidak bisa menahan senyumnya mendengar pertanyaan sang bocah, ia mengusap surai baby blue itu penuh sayang. Didekatkannya wajahnya pada sang bocah, hingga ia bisa merasakan hembusan nafas lembut milik sang bocah yang membelai parasnya.

"Aku punya masalah. Masalah dengan hatiku." Ucap Akashi ambigu.

Remaja itu memberi jeda, manik dwiwarnanya menatap dalam manik bulat milik Kuroko. Ia mengulas senyum tipis.

"Sepertinya aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu."

CUP

Akashi mencium lembut bibir mungil sang bocah. Katakanlah ia gila, katakanlah ia pedofil. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan setiap perasaannya yang seakan siap meledak ketika dirinya dekat dengan sang bocah.

Bocah yang sudah mencuri hatinya—entah sejak kapan.

"Sei—"

POOF!

BRUAK!

"I-ittai..."

.-.-.

Enam ekor—ehem salah—maksudnya, enam manusia yang memiliki surai bak pelangi terdiam didepan sebuah pintu yang disinyalir merupakan pitnu laboratorium pribadi milik Rika.

Mereka menimbang-nimbang, lebih baik masuk langsung atau mengetuk pintunya dulu?

Mereka merasa tidak enak jika langsung masuk dan menemukan Akashi dan Kuroko tengah—ehem.

TIDAAAAK!

Demi kolor Aomine yang sebulan tidak dicuci! Mereka tidak akan membiarkan hal nista itu terjadi, dan seandainya terjadi, mereka sudah menyiapkan rencana busuk untuk membalas kenistaan kaptennya tersebut, yaitu,

Mencekoki Akashi dengan rumput laut sampai remaja bersurai pirang itu overdosis.

Bagus. Rencana yang sungguh sangat awesome.

"Lebih baik kita langsung masuk saja." Usul Rika.

Semua ornag disana mengangguk. Mereka menghitung dalam hati.

Satu.

Dua.

Tiga.

KLEK

Hening.

Hening.

Super duper ultra mega giga hening.

Sampai suara-suara yang sungguh sangat tidak awesome menggelegar—

"OH MY GOD!"

"OW EM JIHHH!"

"DAFUQ! ASDFGHJKL!"

"ASBDYUAGFGADAJSDIA"

Sebenarnya...

Apa yang mereka lihat?

Penasaran?

Serius? Penasaran? Yang benar?

Ehem, jadi, yang mereka lihat itu adalah...

To be Continue

a/n:

Hai gaes.

Ada yang masih inget ff saya yang satu ini?

Atau... ada yang masih inget saya?

Err, sebenarnya tidak penting sih ingat saya atau tidak *pundung

Maafkan saya kalau chapter ini kurang memuaskan atau humornya kurang atau justru kurang panjang :"( hujat saja Aomine, kawan.

Tidak, bercanda ._.v

Sesuai janji, saya sudah update~ hihi~

Oh ya, btw saya mau curhat bentar. Gapenting sih, tapi sebenarnya penting banget, entah kenapa... saya sangat tidak rela kalau Knb udah tamat. Serius, cuman sampai disitu sajakah saya melihat aksi kedua orang tua saya? Sumpah saya galau, sampai nangis T^T

Err, cuman itu saja sih curhatan saya. Tidak penting? Emang-_-

Saa, Review minna?^^~

Special Thanks to:

Bona Nano | spring field sakura | Monokurobo | ningie cassie | Ichika07 | Angel Muaffi | Shoujo Record |mr DongDong | 46Neko-Kucing Ganteng | Noir-Alvarez | mizurin namikaze | yuu chan | Flow Love / Flow . L | alyazala | amurei | Arista Raksa | Shizuka Miyuki | yuzuru | Lunette Athella | AkiTsuki | kurokolovers | Ryuusan | RallFreecss | Ameru-Genjirou-Sawada | Aka no Rei | rea | Just-Sky | Kuroko Tetsuragi | natsumi | Kanae Miyuchi | LiaZoldyck-chan | jessy . jasmine .7 | Lee Kibum | Mozu The Cookie Spirit | Ah Rin| Namikaze Bluer | akashi sei-ji | florentina caree | Rikka-Yandereki | Zakura-Hatakeyama | Hoshi Uzuki | Guest | rin | Ryouta Kyou | Shiroi no Hikari | Fujiwara Kumiko024 | Ameru Sawada | tetsuya kurosaki | Hatakeyama Zakuro | mega . trisila | Shoujo Record | Myadorabletetsuya | Nura Lau | shittyboy | RyuuZa Kuro | ShizukiArista | nshawol56 | VandQ | haradakiyoshi | Aiko Fusui | Ryuu AkaKuro | KyBlacklist | alysaexostans | JR-7 | Itou kurogami | Saory Athena Namikaze | Kurotori Rei | Uchiha Ryuuki