Chapter 10
James mengangkat kepalanya melewati pintu jebakan. Tongkatnya yang telah di padamkan siap tergenggam erat di tangan kanannya. Dan matanya menemukan ruangan dengan desain kehancuran serta debu tebal yang memberi taunya bahwa mereka sedang berada di sebuah rumah tua yang konon paling berhantu di Inggris.
"Waaaaw." Desis James sambil mengangkat tubuhnya sepenuhnya dan mengedarkan pandangan berkeliling. Rose menyusul disebelahnya sambil memegang lengan James keras sekali sampai ia berjengit kesakitan.
"Apa kalian bisa minggir agar aku dapat menghirup udara segar?" Terdengar suara teredam Fred dari dalam lorong.
James naik ke lantai lebih dulu. Papannya berderit sedikit ketika ia mengangkat tubuhnya. Lalu ia menarik tangan Rose, membantunya naik. Fred muncul kemudian sambil menghirup udara sepanjang ia mampu karena udara di dalam lorongt memang sangat pengap.
"Wheeew," Keluh Fred. "Bokong besar kalian berdua membuat..." Tapi kata-kata Fred terhenti ketika matanya menemukan bentuk ruangan yang mungkin tak seperti dengan apa yang pernah ia bayangkan tentang Shrieking Shack. "Cool..." Bisiknya dramatis.
"Apanya yang Cool?" Tanya Rose heran mendengar pernyataan Fred, yang sekarang sedang keluar dari pintu jebakan di bantu James.
"Tempat ini." Jawab Fred sambil melambai kesekelilingnya. "Lihat desainnya! Aku menyesal tidak menyelidiki tempat ini lebih awal. Ini bisa jadi markas besar biang onar jika suatu saat kita butuh tempat pelarian."
"Dad pernah berpesan padaku agar aku sebaiknya tidak mendekati tempat ini." Kata James. Matanya menelusuri jejak sepatu besar dan kecil di seluruh ruangan yang menuju ke pintu jebakan, bordes dan pintu samping yang terbuka, hanya sedikit tertutup papan. "Rumah ini menyimpan kenangan yang sangat istimewa untuknya dan ia tak ingin aku menghancurkannya."
Fred mendengus kedalam udara dingin yang menyelimuti sekitarnya mendengar itu. Rose tampak sangat was-was dan tegang. "Dimana Hugo? Sepertinya tak ada tanda-tanda kehidupan disini."
"Ayo kita periksa lantai atas!" Ajak James kepada yang lainnya dan ia mendahului berjalan melewati koridor yang mengantar mereka ke tangga yang pegannya telah copot.
Tak ada siapapun di sana. Ruangan atas yang James dan Rose hanya pernah mendengar dalam cerita ayah dan ibu mereka ternyata lebih parah dari kedengarannya. Fred memeriksa ruangan-ruangan yang lain. Tapi tetap tak ada tanda kehidupan lain kecuali kehidupan koloni laba-laba yang lebih senang jika tempat mereka tak terusik manusia.
"Jadi kemana Hugo pergi kalau tidak kesini?" Kata Rose memecah keheningan yang dingin ini. Kekhawatiran di wajahnya semakin nyata terlihat.
"Hogsmead, mungkin." Usul Fred.
"Yeah, mungkin ia dan teman-temannya hanya bertaruh siapa yang berani menerobos lorong Dedalu untuk pergi ke Hogsmead dan membeli Butterbeer sebagai bukti bahwa ia telah sampai kesana. Dan kita sudah panik hanya karena melihat lebel namanya dalam peta perampok." Kata James mulai tampak kesal memikirkan kemungkinan ini.
"Ku harap kau benar James." Kata Rose. "Tapi..., tunggu. Apa kalian dengar sesuatu atau ini hanya imajinasiku saja?"
Mereka berdua diam dan menajamkan pendengaran untuk menangkap bunyi sekecil apapun. Dan itu dia. Samar-samar terdengar suara sekitar dua orang yang sedang menuju, sepertinya rumah itu. Yeah, suaranya semakin jelas. Tapi...
"Tidak Weasley. Aku tidak bisa memberikan ini kepadamu sekarang. Semua ini harus di cek lebih dulu, dan aku tidak berhak melakukannya." Kata sebuah suara yang sepertinya mereka kenal baik.
"Aku sudah tidak kuat Justin. Kakiku sudah hampir beku dan tidak dapat bergerak lagi. Aku tak yakin bisa melewati lorong ini sampai ke dalam kastil." Jawab suara lain yang kali ini benar-benar mereka kenal.
Rose hampir melonjak dan berteriak saat mendengar suara adiknya. Tapi James segera membekap mulutnya agar Rose tidak membocorkan keberadaan mereka kepada Hugo dan Justin serta entah apakah ada orang lain lagi bersama mereka
"Ssstt." Desis James. "Sebaiknya kita intip saja apa yang mereka lakukan. Untuk apa Hugo bersama degan Justin di tempat seperti ini?" kata James.
Dan mereka bertiga berjingkat kearah puncak tangga untuk mengintip keadaan di bawahnya. Kali ini suara Hugo dan Justin semakin jelas dan mereka terlindung dalam keremangan cahaya ruangan.
"Aku sudah mulai merasakan kegilaan ini datang lagi Justin. Tubuhku mulai menggil dan tulang-tulangku terasa sakit." Terdengar suara Hugo lagi.
"Ku bilang aku akan memberikan ini kepadamu di dalam kastil Hugo. Kenapa kau ini? Kenapa kau jadi cengeng , sebentar lagi kita sampai." Kata Justin.
Hugo dan Justin langsung menuju pintu jebakan tanpa menoleh-noleh lagi. Hugo tampak terpicang-pincang, sepertinya ada yang salah dengan kaki kanannya.
"Bukankah kaki Hugo yang pernah patah adalah kaki kanannya?" Bisik Fred ketika Justin dan Hugo telah menghilang ke dalam lorong.
"Yeah, aku tak pernah tau bekas lukannya masih terasa sakit sampai sekarang." Kata James. "Aku bahkan tak ingat apakah lengan kiriku pernah hancur terhantam bludger. Madam Pomfrey tak pernah gagal mengobati luka-luka tulang."
"Hugo juga tak pernah bercerita kepadaku." Bisik Rose.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Fred.
"Kita lihat-lihat keluar sebentar yuk! Siapa tau ada sesuatu yang menarik untuk kita ketahui lebih lanjut." Kata James lalu mulai berjalan menuruni tangga. "Dan Fred, beritahu Malfoy juga Albus untuk mengawasi pintu depan kastil. Justin dan Hugo akan segera pulang, barangkali ada sesuatu yang bisa mereka mata-matai."
Sambil berjalan. Fred mulai membuka sebuah kotak plastik kecil dan mengeluarkan dari dalamnya sebuah benda sangat kecil seukuran biji tomat. Lalu Fred meletakkan benda itu di ujung jari telunjuk kirinya, kemudian mengetuknya sekali dengan tongkat sihir. Tidak ada yang terjadi, Fred hanya mendekatkan benda itu ke mulutnya dan berkata pelan tapi jelas.
"Malfoy, apa kau mendengarku? Ini aku Fred. Sebentar lagi Hugo akan muncul di pintu depan kastil bersama Justin Diggel. Tolong cari tau apa yang sedang mereka lakukan!" Fred mengulangi kata-katanya itu sebanyak tiga kali berturut-turut sebelum menempelkan telinga terjulur perteble di kerah jubahnya sendiri.
Albus dan Scorpius berjalan cepat melewati koridor-koridor yang sedah mulai gelap. Obor-obor dalam tancapan sudah mulai menyala dan hawa dingin semakin menusuk tulang. Murid-murid lain masih enggan meninggalkan kehangatan yang bisa di tawarkan sup bawang atau perapian ruang rekreasi. Ini memudahkan Albus dan Scorpius untuk dapat berjalan cepat-cepat tanpa ganguan menuju pintu depan yang saat ini sudah tertutup rapat untuk sedikit menahan angin dingin.
Tak ada orang lain di aula depan. Denting sendok dan garpu serta aroma kaldu dari aula besar sangat menggugah selera, sebenarnya. Tapi Albus dan Scorpius berusaha tak mempedulikan perutnya yang mulai berkeriuk.
"Kau lihat disi... pak... turan..." Terdengar suara entah siapa dari alat penerima suara telinga terjulur portebel.
"Ada apa dengan alat ini?" Tanya Albus memandang alat itu dengan agak jengkel. Suaranya berkemeresek serta terputus-putus seperti suara radio yang gelombangnya meleset.
Scorpius hanya mengangkat bahu. Meski sudah dua tahun lebih mereka berteman, tapi dia belum benar-benar terbiasa dengan barang-barang keluaran WWW. Sesampainya di pintu depan yang sepi, mereka menunggu.
"Apa sebaiknya kita keluar atau kita cari saja tempat untuk bersembunyi?" Tanya Albus "Agar kita dapat mencari tau apa yang mereka lakukan. Jika melihat kita, tentu mereka akan menyembunyikan apapun yang sedang atau akan mereka lakukan."
"Kau benar Al. Sebaiknya kita bersembunyi di balik pilar dan baju Zirah di dekat pintu. Disitu ada jendela kecil. Jadi kita bisa mengawasi keadaan diluar dengan lebih leluasa." Jawab Scorpius. "Ayo, mereka bisa saja datang setiap saat!"
Albus dan Scorpius segera bersembunyi dibalik baju zirah dan pilar yang mengapit pintu utama. Di sana mereka bisak duduk dengan nyaman walau agak dingin, dan mereka juga bisa mengawasi keadaan di aula depan juga halaman yang terlihat dari jendela kecil yang ada di balik pilar itu.
Matahari sudah benar-benar menghilang sekarang walau seharian ini memang ia tak tampak. Kegelapan mulai menyebar dan pohon Dedalu berdiri bergeming seolah tak terusik oleh butiran salju yang sekarang mulai turun lagi.
"...ngan...lu cep...nafas...bis..." Suara dari telinga terjulur masih terus bergumam berisik, membuat Albus semakin gemas dan berkata..."Kemarikan alat itu Scorp!" lalu merebutnya dari tangan Scorpius dan membantingnya dilantai. Tidak puas ketika Albus masih mendengar alat itu berbunyi dengan berisik, ia mengeluarkan tongkatnya, mengacungkan kearah benda itu dan bergumam "Reducto."
Terdengar suara letupan kecil dan alat penerima sinyal telinga terjulur itupun hancur berkeping-keping. Scorpius melongo takjub melihat apa yang bisa dilakukan Albus jika ia sedang jengkel.
"Whoooa... Kau bisa membuat kita ketahua Al." Bisik Scorpius tak percaya.
"Sudahlah Scorp. Lebih baik lihat keluar. Apakah Hugo dan Diggle sudah tampak? Kakiku mulai terasa beku."
Scorpius yang lebih dekat dengan jendela segera melongok keluar dan ia hampir terjengkang kebelakang karena kaget. Sesosok tinggi besar dan berbulu lebat sedang menuju kearah pintu depan. Jejak-jejak sebesar tutup tempat sampah tertinggal dalam salju. Dan...
"Kau kenapa Scorp?" Tanya Albus. Tapi belum sempat ia melanjutkan, terdengar bunyi derak pintu depan yang terbuka dan Hagrid masuk ke dalam aula depan mengenakan mantel tikus mondoknya serta jenggot dan rambutnya yang awut-awutan seperti kawat dipenuhi salju.
Albus membekap mulutnya sendiri untuk mencegahnya menjerit karena kaget. Tapi Hagrid tidak menydari keberadaan mereka yang bersembunyi di balik pilar dan ia terus berjalan memasuki aula besar.
"Akan ku bunuh James kalau ini hanyalah sesuatu yang tak berguna." Gumam Albus sambil membetulkan posisi duduknya agar lebih nyaman.
Mereka menunggu sampai beberapa waktu lagi. Salju sudah kembali turun, membuat malam menjadi benar-benar dingin. Albus melihat Peeves yang sedang menembus dinding dan kelihatanya ia sedang bertengkar dengan Nick. Mereka kembali menembus dinding di sisi yang lain dan menghilang lagi. Suasana hening lagi. Scorpius mulai bergumam tak sabar karena tubuhnya sudah mulai menggigil.
Sepuluh menit kemudian, ketika Albus melongokkan kepalanya kejendela dan memandang lurus ke arah Dedalu, dilihatnya dua siluet sosok manusia sedang berjalan beriringan. Yang satu bertubuh tinggi agak besar, satunya lagi kecil agak pendek dan berjalan terpincang-pincang. Albus dan Scorpius memicingkan mata untuk melihat sosok itu lebih jelas. Tapi tiba-tiba terdengar bunyi klik pintu yang terbuka dan angin dingin berhembus masuk ke dalam aula depan. Tanpa mereka sadari, ada orang lain yang sedang berindap untuk menyelinap keluar dari kastil.
Dolphine dan Winfrey. Mereka berbisik serius dan dengan sangat hati-hati melangkahi ambang pintu. Serpihan salju menerobos memasuki aula sebelum pintu mengayun tertutup lagi. Albus dan Scorpius tak bergeming ditempatnya melihat pemandangan di luar yang sangat ganjil itu.
Siluet Dolphine dan Winfrey yang bertubuh tinggi besar berdiri dihalaman, di bawah naungan pohon Birch untuk sedikit memngindari salju. Dan kedua sosok yang berjalan dari arah Dedalu sekarang bergerak mendekati Dolphine dan Winfrey yang rupanya memang menunggu mereka.
Setelah berada cukup dekat, barulah Albus dan Scorpius menyadari kalau sosok yang berjalan dari arah Dedalu itu adalah Hugo dan Diggle. Mereka berempat berbicara dengan serius lalu Winfrey mengeluarkan tongkatnya dan mengacungkan lurus ke muka Hugo. Terlihat sambaran sinar putih, tapi Hugo tetap berdiri dan sepertinya tak ada yang terjadi.
Diggle menyerahkan sesuatu yang langsung dikantongi oleh Winfrey. Lalu mereka berjalan kembali ke kastil. Hugo dan Diggle berjalan agak di belakang, membiarkan yang lainnya berjalan lebih dulu.
oo 0 oo
