Warning : Fluffy and Sweet!Shizuo. OOC!Shizuo diakhir. Mengandung Mature konten. Tapi karena saya tidak berpengalaman menulis SMUT, maaf kalau jadinya agak… awkward? Yang mau baca silahkan. yang agak kurang nyaman, nggak usah dibaca nggak papa, langsung loncat ke kirio's note di akhir aja karna saya mau ngucapin terimakasih ke kalian :')
.
Heaven Knows
The Epilogue
by kiriohisagi
.
"Hoi, Dotachin," suara Shinra menangkap perhatian Izaya. "Jangan murung begitu dong. Aku tahu kau jomblo dan segalanya, tapi kami berdua tetap temanmu kok." Shinra menatap Kadota yang tadi sempat melamun dengan pandangan simpati. Izaya tertawa melihat pandangan 'The Hell, Shinra!' dari Kadota barusan. Mereka bertiga sedang duduk di meja beton kebangsaan mereka seperti biasa sekarang.
Kadang hidup memang penuh misteri, yeah? Siapa sangka Shinra pada akhirnya benar-benar pacaran dengan si seksi Celty Sturluson? Dan siapa sangka Kadota tetap jomblo sampai detik ini.
Kadota mendengus, lalu menggeleng kasihan pada Shinra.
"Mungkin aku jomblo, tapi aku bukan perjaka sepertimu." Katanya, menusuk ke ulu hati karena sekarang Shinra sudah ngomel-ngomel tentang bagaimana setelah ini dia dan Celty akan menghabiskan malam pertama dengan super romantis dan penuh cinta.
"—lagipula, bukan aku saja yang perjaka! Izaya kan juga perjaka!"kata Shinra berapi-api, menunjuk Izaya yang sepenuhnya diam, menyeruput minuman yang tadi dia beli di kafetaria.
"Hei, Izaya. Ayo dong, sebagai sesama perjaka yang punya pacar kita harus menjujung hak-hak kita agar tidak ditindas—" Shinra menghentikan teriakan tidak tahu malunya ketika Izaya hanya menggaruk belakang kepalanya.
"Apa?" tanya Shinra, mulai khawatir. Ketika Izaya tidak kunjung menjawab, Shinra menggeleng-gelengkan kepalanya. "Oh, I don't believe this. Kau melakukannya!" lolong Shinra. "Kau meninggalkanku sendiri dalam lingkaran keperjakaan ini? Izaya, kupikir kau setia kawan!" jerit Shinra merasa seperti yang paling terluka.
"Dude, akhirnya." Kata Kadota tertawa, menepuk pundak Izaya. Membuat Izaya ikut tertawa melihat ke-antikan teman-temannya, sekaligus malu. Sudah tiga bulan berlalu pasca kejadian sial itu, sejak Shizuo menciumnya dan sejak Izaya bilang cinta pada pirang itu.
Dan Izaya mau tidakmau teringat pada malam itu, saat mereka membicarakan semuanya. Saat Izaya menyerahkan seluruh tubuhnya pada orang yang sangat berarti di hidupnya.
Malam saat Izaya sadar kalau dia tidak bisa untuk tidak membagi kata 'selamanya' dengan Shizuo.
.
.
"Aku pulang." Adalah kata yang diucapkan Izaya pertama kali ketika dia membuka pintu Apartemen pasca pulang dari rumah sakit. Shizuo yang sudah lebih dahulu masuk dan berjalan ke arah sofa, berbalik ketika Izaya mengucapkannya. Shizuo .
"Apa?" tanya Izaya bingung. Shizuo menggeleng.
"Kau tadi bilang 'Aku pulang.'" kata Shizuo. Izaya mengangkat satu alisnya, tidak tahan untuk tersenyum juga.
"Karena aku merasa ini rumahku?"
"Yeah. Ini rumahmu." Kata Shizuo singkat, lalu melempar dirinya sendiri ke sofa dan menyalakan televisi. "Sekarang buatkan aku susu pisang." perintah Shizuo. Izaya sampai harus mendengus sebelum berjalan ke dapur untuk membuat susu yang paling Shizuo suka di dunia.
Ketika Izaya kembali dengan segelas susu pisang dan duduk disamping Shizuo sambil menyodorkannya, Shizuo meringis kesenangan.
"You're the best!" kata Shizuo, mencium pipi Izaya.
Dan mata Izaya melebar karenanya. Pipinya memerah. Dia masih belum terbiasa dengan semua ini. Benar, selama dua minggu Izaya di rumah sakit, mereka memang sudah membicarakan semuanya. Tentang perasaan mereka, tentang mau dibawa kemana hubungan mereka—yang belakangan mereka sepakat untuk menamainya 'pacaran'.
Memang, selama dua minggu di rumah sakit, Shizuo selalu mengunjunginya setiap hari setelah pulang kuliah. Kadang Shizuo malah menginap dikamarnya, tidur di sofa yang disediakan. Atau kadang mereka menghabiskan waktu dengan berciuman di sofa—walau untuk itu Izaya harus menggeser tiang infusnya bersamanya.
Tapi tetap saja, kembali ke apartemen mereka seperti ini, membuat Izaya tidak percaya bahwa Shizuo benar-benar menjadi miliknya.
Jadi Izaya menghela nafasnya dan menyandarkan kepalanya ke bahu Shizuo. Membuat Shizuo yang awalnya sedang tertawa-tawa karena melihat anime di TV menjadi diam.
"Ada apa?" tanya Shizuo heran. Izaya menggeleng.
"Cuma tidak percaya kalau sekarang aku punya kau?"
"Hell, flea, makin lama kau makin cheesy." Gerutu Shizuo, yang langsung mendapat pukulan lengan dari Izaya.
"Shizu-chan aku serius!" jerit Izaya tidak terima. Shizuo terkekeh dan buru-buru mengecup bibir Izaya.
"Tentu saja, bodoh. Kau punya aku, jadi berhentilah percaya kalau semua ini mimpi."
"Tapi kau straight." Kata Izaya lagi, membuat Shizuo memutar matanya.
"Kupikir kita sudah melewati pertanyaan ini berbelas hari yang lalu."
"Iya, dan aku masih merasa khawatir suatu saat kau tergoda dengan cewek seksi. Aku gay dari awal, aku tidak pernah tertarik pada cewek. Tapi kau?"
"Dan harus dengan apa aku meyakinkanmu?" tanya Shizuo, serius. Izaya langsung terdiam, menatap bola mata Shizuo yang cemerlang. Izaya menggeleng.
"Aku tidak tahu."
Ini, dan Shizuo sukses memutar badannya menghadap Izaya. Menatapnya tepat di manik mata, memegang bahunya.
"Aku cuma mengatakannya sekali, jadi dengarkan. Oke?" Izaya mengangguk. "Aku mencintaimu karena kau adalah kau. Persetan dengan gender. Aku tidak peduli dengan orientasi seksualku entah aku straight, entah aku gay, entah aku bi, aku tidak peduli. Yang aku tahu aku mencintaimu dan end of story."
Izaya terdiam. Masih menatap mata Shizuo.
"Dan kalau kau belum mengerti juga…" kata Shizuo, mendekatkan dirinya ke Izaya dan mengecupnya lembut di bibir. Ketika Izaya mulai balas menciumnya, Shizuo memperdalam ciumannya. Menjelajah setiap lekuk bibir Izaya sampai Izaya melenguh dan membuka mulutnya.
Tidak menyia-nyiakan ini, Shizuo melesakkan lidahnya masuk ke mulut Izaya untuk merasakan langit-langit mulut Izaya dan menyapu seluruh bagian yang membuat Izaya menjadi gila.
"Shizu—nghh…" Shizuo tersenyum dalam ciumannya ketika mendengar Izaya mendesah. Dan tanpa membuang waktu lebih lama, Shizuo merebahkan Izaya di sofa.
Ruangan yang awalnya sunyi sekarang penuh dengan suara desahan kecil entah milik siapa. Nafas mereka memburu, mengimbangi satu sama lain. Ketika tangan Shizuo menelusup masuk ke dalam kaus Izaya dan menyapu seluruh permukaan kulit Izaya, Izaya sudah tidak memikirkan apapun lagi. Mereka menikmatinya, setiap detik, setiap sapuan, setiap lumatan. Izaya tidak tahu sebelumnya kalau ciuman mampu membuat orang se-meleleh-ini.
Untuk itu, Shizuo melepas ciuman mereka sesaat. Dia menatap Izaya dengan sisa nafasnya yang memburu.
"Kau, tidak apa-apa? Apa kita lanjutkan saja di…" Shizuo melirik pintu kamar Izaya. Lalu buru-buru menambahkan, "Itu kalau kau percaya padaku." Shizuo menatap Izaya yang terengah dengan mata dan bibir yang separuh terbuka. Holly Hell, pikir Shizuo. Makhluk dibawahnya begitu indah.
Jujur, Izaya masih ragu dan takut. Dia tidak tahu apa yang akan mereka lakukan setelah ini tepat atau tidak. Tapi lewat tatapan mata Shizuo yang begitu yakin atas ini, Izaya mengangguk.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Izaya, dia melihat Shizuo terseyum begitu lembut. Mereka berciuman sesaat sampai akhirnya Shizuo berhenti dan menggendong Izaya ketempat tidur. Mereka menghabiskan sisa hari itu dengan saling menghafalkan dan saling menandai bagian tubuh masing-masing.
"Nnhhh…Shizu —uhh" Izaya tidak bisa meneruskan kata-katanya ketika Shizuo mulai menjelajahi setiap bagian dadanya, menjilatinya, memainkan nipple- nya. Demi apa, Izaya tidak bisa berpikir apapun. Dadanya berpacu cepat seiring makin liarnya tangan Shizuo menjamah tubuhnya. Makin turun… turun… sampai Izaya menyerah bertahan untuk terus berkata 'jangan' yang seratus derajat berkebalikan dengan hatinya.
Shizuo sendiri tidak berkata apapun, dia melakukan semuanya dengan hati-hati dan lembut. Seolah Izaya adalah barang pecah belah yang sangat berharga. Tapi fakta bahwa dia laki-laki tidak membuatnya mau menunggu lama. Celananya sudah sesak sejak tadi, jadi Shizuo harus bergerak cepat.
Shizuo melihat Izaya yang berada di bawahnya dan dia terbius sesaat. For God's Sake, tidak ada yang lebih indah dari Izaya. Melihat Izaya terengah karena menikmati setiap sentuhannya itu seperti ekstasi, adiktif. Shizuo rasa, Shizuo bisa hidup hanya dengan melihat Izaya seperti ini.
Dan Shizuo hampir-hampir tidak mempercayai penglihatannya, ketika Izaya, yang sudah setengah telanjang, menekuk kakinya dan membukanya… untuk Shizuo.
"Flea, kau yakin?" Tanya Shizuo, menahan nafasnya tapi matanya tidak lepas dari Izaya. Dan ketika Izaya mengangguk, Shizuo merasa bertanggung jawab untuk memimpin semua ini. Izaya begitu mempercayainya. Tapi karena ini adalah pertama kalinya Shizuo melakukannya dengan laki-laki, dia tidak tahu banyak hal. Tapi untuk Izaya, apapun akan Shizuo lakukan. Jadi yang Shizuo lakukan setelahnya adalah membuka rak kecil di samping tempat tidurnya dan mengeluarkan lube dari sana. Semacam lotion untuk tubuh, tapi mungkin bisa digunakan disaat-saat seperti ini.
"Angkat sedikit… rasanya mungkin sedikit aneh, jadi tahanlah sebentar." Shizuo mulai bergerak, dia membuka lebih lebar kedua kaki Izaya dan mempersiapkannya.
Izaya mengangguk penuh antisipasi, rasa takut berkelebat tapi Izaya menarik nafas dalam-dalam. Dia percaya Shizuo. Sangat mempercayainya. Jadi ketika Izaya merasakan satu jari Shizuo memasukinya, Izaya mendesis. Dadanya berdegup kencang. Izaya merasa aneh.
"Sakit?" tanya Shizuo pelan. Izaya menggeleng, nafasnya memburu satu-satu. Dan sial, melihat Izaya seperti itu, menggeleng dengan ekspresi seduktif, terlebih satu jarinya berada di dalam Izaya dan merasakan betapa hangatnya Izaya, Shizuo merasa darahnya mengalir deras dan berkumpul ke satu titik dibawah perutya, membuatnya ereksi-nya berdenyut-denyut sakit.
"Cuma sedikit…uh, aneh." Izaya sendiri, yang merasakan satu jari Shizuo didalamnya, tidak tahu apa kata yang cocok untuk ini. Izaya hanya bisa diam, memutuskan untuk menyerahkan seluruhnya pada Shizuo..
"Bilang padaku kalau sakit ya?" Kata Shizuo setelahnya. Izaya hanya menjawab dengan anggukan pelan, tapi dua jari lagi setelah itu masih terasa baik-baik saja. Izaya bahkan sempat mendesah ketika Shizuo mengeluarkan jarinya, untuk kemudian memasukkannya lagi secara berulang-ulang, mencoba membuat Izaya terbiasa dengan desakan. Izaya sedikit mulai merasa lega, awalnya dia takut membayangkan bagaimana rasanya. Pasti sakit kan? Tapi sejauh ini baik-baik saja, jadi mungkin saja tidak seburuk bayangannya. Lagipula sejak tadi seluruh tubuhnya berdenyut panas. Dia membutuhkan Shizuo secepatnya.
"He, hei. Mulai saja." Kata Izaya menatap Shizuo sambil terengah. Shizuo berhenti dari kegiatannya, hanya untuk menatap Shizuo balik di manik mata.
"Kau benar-benar yakin?" tanya Shizuo sekali lagi, dua kali lipat lebih serius. "Flea, sekali aku memulai, aku tidak akan bisa berhenti. Kau, masih punya waktu untuk berpikir ulang."
Izaya menggeleng, "Jangan buat aku berubah pikiran. Aku ingin kau. Sekarang."
Dan siapa yang bisa menolak permintaan semagis itu? Keraguan Shizuo lenyap entah kemana. Dia mencium Izaya lembut kemudian memposisikan dirinya. Izaya menutup matanya, menghitung mundur.
Dan sesuatu perlahan memasuki dirinya. Pelan, hati-hati. Dan Izaya terhentak.
"Shit." Izaya mengumpat. "Uhh…"
"Sakit?" tanya Shizuo tampak khawatir. Izaya menggigit bibirnya sambil melanjutkan umpatannya dalam hati, tangannya mencengkeram lengan Shizuo erat.
Tiga tangan sama sekali tidak berarti dibanding benda milik Shizuo ini. Izaya meringis… rasanya jauh lebih sakit dari dugaannya. Sialan. Sakit. Sangat sakit.
"Lanjut—uhh—kan saja, memang—hh—harusnya sakit, kan?." Kata Izaya mencoba berbicara, tapi ekspresi kesakitannya benar-benar nyata. Shizuo sampai harus mencium Izaya di bibir untuk menyamarkan rasa sakit sambil terus mencoba memasukkannya lebih dalam.
"Rileks." Kata Shizuo disela ciuman mereka. "Oh Crap—Izaya, rileks." Kata Shizuo berhenti sebentar untuk memejamkan mata, merasa dirinya dipijat oleh otot-otot didalam tubuh Izaya. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa menakjubkan rasanya. Tapi Izaya kesakitan, Shizuo tidak ingin menjadi pihak yang satu-satunya mendapat kesenangan. Shizuo ingin Izaya merasakan sesuatu yang sama.
"Rileks, Flea. Bernafas dengan normal, oke?" Shizuo mencium Izaya lagi, lembut sambil memijat ereksi Izaya yang berdenyut.
"Ngg—aahh." Izaya terkejut merasakan tangan Shizuo melingkupinya, dan memijatnya lembut, berusaha menghilangkan rasa sakitnya. Dan satu-satunya yang harus Izaya lakukan adalah percaya pada Shizuo. Disetiap Shizuo menciumnya, disetiap Shizuo memijatnya, dia tahu, dia tahu semua pasti akan baik-baik saja. Karena itu, Izaya mencoba rileks, se-rileks yang dia bisa. Ketika akhirnya Shizuo berhasil memasukkan seluruhnya, mereka berpandangan.
"Kau… masuk. Benda sebesar itu." Kata Izaya tidak percaya. Shizuo terkekeh. Entah merasa tersanjung atau bagaimana.
"Bergerak sekarang?" Tanya Shizuo. Izaya mengangguk, mulai mengencangkan genggamannya pada bedcover ketika Shizuo mulai mengeluarkan senti demi senti miliknya untuk kemudian mendorongnya lagi masuk dengan kekuatan yang tidak Izaya prediksi.
"Angghh." Izaya terkejut. Sakit. Belum sempat Izaya bernafas, Shizuo melakukannya lagi. Mengeluarkan, untuk kemudian memasukkannya kembali. Izaya menutup matanya, meringis, lalu menggigit bibir bagian bawahnya keras. "Shizu… uhh—sa…kit." Kata Izaya, disela-sela hentakan Shizuo. Shizuo, seperti mengetahuinya, memelankan hentakannya, seperti mencari-cari sesuatu dan kemudian melesakkannya dalam satu hentakan.
"Ahh!" Izaya berteriak tertahan. Kakinya menegang, sesuatu mengenainya. Shizuo tersenyum lalu mencium Izaya singkat di bibir.
"Aku menemukannya." Kata Shizuo.
Dan setelahnya, tidak perlu dijelaskan. Mereka saling merasakan tubuh masing-masing. Mendesah, melenguh, menghentak, dengan peluh yang membasahi tubuh mereka. Dan Izaya tidak pernah tahu kalau sakit dan nikmat bisa bersatu seluar biasa itu.
"Shizu…nggh—ahh—hh—" desahan dan peluh dari Izaya menemani disetiap milik Shizuo mengenai bagian terdalam Izaya. Izaya sudah memeluk punggung Shizuo sekarang, mencengkeramnya dengan kuat.
"Shit. Iza—hh—fuck." Rentetan umpatan Shizuo disetiap hentakannya bersatu magis dengan bunyi derik tempat tidur, suara kulit dan kulit yang bertemu, dan desah nafas Izaya.
Ketika mereka sama-sama tahu kalau mereka tidak bisa menahannya lagi, Shizuo mencium Izaya dengan ganas, menghentak lebih keras dengan kecepatan pinggulnya yang Shizuo tidak tahu lagi sambil memijat milik Izaya dengan cepat.
"Unghhh!" Izaya berteriak. "Shizu…aku—ahh…"
"Come on—" Bisik Shizuo, makin mengeraskan desakannya dan dalam sekali hentakan… seluruh tubuh Izaya menegang.
"Ahhhh!" Izaya berteriak, tubuhnya tersentak beberapa kali ketika miliknya keluar. Shizuo yang tidak tahan karena otot Izaya yang memijat-mijat miliknya terlalu keras, menghentakkan sekali lagi sebelum keluar bersama Izaya. Didalam.
.
.
"Shizuo-san kurangajar! Berani-beraninya dia menodai Izaya!" lengkingan Shinra makin menakutkan, sampai Kadota harus menyumpal mulutnya dengan rumus-rumus relativitas yang tadi Shinra bawa.
Izaya tertawa terpingkal melihat dua temannya bertengkar tapi mendadak terdiam ketika ponselnya bergetar.
Email dari Shizuo.
Aku masih menemani Delic dan Tom di kelas. Tunggu aku sebelum pulang?
Tapi bukan Izaya namanya kalau tidak mengerti arti dari email Shizuo. Tentu saja Shizuo ingin Izaya untuk menjemputnya di kelas. Jadi, pada akhirnya Izaya meletakkan ponselnya di saku dan berdiri, bersiap untuk berangkat ke kelas Shizuo.
"Hei, aku pergi dulu oke? Shizu-chan sudah akan pulang." Kata Izaya. Kadota mengangguk sementara Shinra masih mengomel tentang betapa kurangajarnya Shizuo.
Ketika Izaya sudah berada di depan kelas Shizuo dan melihat Shizuo sedang berdebat dengan kedua temannya itu, Izaya mau tidak mau penasaran.
"Sudah kubilang kau jangan ikut karaokean dengan kami!" sentak Delic pada Shizuo.
"What the hell, dude? Aku teman kalian." Kata Shizuo, tidak terima.
"Problemnya, Shizuo, setiap kau ikut karaoke dengan kami, cewek-cewek pada nempel padamu." Ganti Tom yang menjelaskan.
"Fine, aku akan bawa Izaya oke? Kalau aku bilang pada mereka aku sudah punya pacar, masalah selesai kan?"
"Dan speak of the devil." Sahut Delic, bersiul ketika melihat Izaya masuk ke kelas mereka. Izaya tertawa.
"Hai." Izaya tersenyum ketika berjalan dan berhenti di samping Shizuo yang langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Izaya.
"Hai, flea." Shizuo mengecup pipi Izaya gemas. Izaya terkekeh ketika melihat Delic dan Tom yang langsung facepalmed mendengar nama panggilan Shizuo untuknya.. "Mau ikut karaokean denganku tidak?"
Izaya pura-pura memasang raut berpikir, tapi ketika Shizuo mulai tidak sabar, Izaya terkekeh lagi.
"Tentu saja." Katanya.
Dan mereka menghabiskan sisa siang itu untuk berkaraoke. Dan menunjukkan pada cewek-cewek centil yang ingin bergelayut manja pada Shizuo kalau Shizuo sudah ada yang punya.
Hidup tidak bisa lebih indah dari ini, kan?
.
END
.
Kirio's note :
Untuk kalian yang sudah bikin saya tersenyum. Para Shizaya-shipper yang meninggalkan review, menekan tombol fave atau follows, atau mungkin silent reader yang tidak sengaja baca fic ini kemudian suka, terimakasih banyak! Untuk semua tagihan-tagihannya baik di PM, mention, DM, message fb (walau saya gak tahu awalnya bisa dpt fb saya dari mana. LOL) dan pertanyaan kapan fic ini apdet, untuk semua cinta Shizaya yang kita bagi bersama, untuk semua sesi fangirling, thanks! Dengan ini Heaven Knows resmi buyar :) Tapi cinta saya ke Shizaya nggak pernah akan buyar *hassekkk*
Sampai ketemu di fanfiksi berikutnya. Just saying… up till now Im writing a fanfiction for : Shizaya, AoKaga (kurobasu), Grelliam (kuroshitsuji), Bossubaki Twins (sketdan), KuroFai (Tsubasa Chronicle), and possibly dual story Drarry-AlScorp (Harry Potter) feel free to visit my account dan fangirling-an bareng! :)
