Game Changer

Pair and Cast:

Park Jimin (Jimin) x Min Yoongi (Suga)

Kim Seokjin

Rated: M

Length: Chaptered

Warning:

Fiction, GS! for Yoongi and Seokjin. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

Summary:

"Park Jimin is my wildest nightmare." -Min Yoongi- / "Min Yoongi is my game changer." -Park Jimin- / MinYoon with GS!Yoongi and slight! Other couple. Inspired by Fifty Shades Trilogy.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 9

Rasanya bukan hanya Yoongi yang tegang menunggu kalimat selanjutnya dari Jimin. Saat ini semua orang benar-benar terpaku pada Jimin dan Yoongi. Mereka semua benar-benar penasaran berapa kiranya nominal terakhir yang ditawarkan Jimin.

Jimin menatap Yoongi, "Tawaran terakhirku adalah dua ratus juta. Itu seharga dengan nilai sebuah perusahaan skala menengah," Jimin memalingkan pandangannya dan menatap pria asing yang sejak tadi menjadi saingannya, "Dan kurasa kau tidak akan mau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk dansa, bukan?"

Pria asing itu tertawa kecil dan mengangkat kedua tangannya, "Okay, I give up."

Yoongi menggeleng pelan, gila, Jimin benar-benar gila. Dia tidak menyangka pria itu akan benar-benar mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk memenangkan Lelang Dansa ini.

MC acara itu terlihat tergagap, dia berdehem beberapa kali dan menutup lelang itu karena dana yang dikumpulkan sudah benar-benar lebih dari cukup. Dari posisinya berdiri, Yoongi bisa melihat Jimin mengeluarkan sesuatu yang terlihat seperti sebuah buku cek, dan dia terlihat menulis sesuatu di sana kemudian memberikannya pada Jiyeon.

Jiyeon terlihat menatap Jimin, dan mengucapkan beberapa patah kata yang sayangnya tidak bisa didengar Yoongi yang berdiri cukup jauh dari mereka.

Yoongi sendiri tidak mampu bergerak sedikitpun, rasanya dia masih gemetar karena Jimin baru saja membuang uangnya dengan jumlah yang cukup banyak. Bahkan jika Yoongi bekerja selama puluhan tahun tanpa henti, dia masih ragu dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu.

"Yoongi,"

Yoongi menoleh dan dia melihat Jimin tengah berada di sebelahnya, karena Yoongi masih berdiri di panggung kecil itu, tinggi mereka menjadi sejajar dan Yoongi bisa menatap mata Jimin dengan langsung.

"Apa aku baru saja membuatmu bangkrut?" tanya Yoongi pelan.

Jimin tersenyum miring, "Tidak, kau hanya menguras salah satu rekeningku."

"Maaf.." cicit Yoongi.

"Tidak masalah, aku tidak keberatan jika setelah ini aku harus menjual salah satu cabang perusahaanku karena uang yang kukeluarkan malam ini."

Yoongi memekik kaget, "Astaga! Maafkan aku!"

Jimin meraih pergelangan tangan Yoongi, "Berhenti meminta maaf dan turun dari sana. Aku harus menikmati dansaku karena aku sudah benar-benar membayar mahal untuk itu."

Yoongi melangkah turun dengan hati-hati dan Jimin membawanya ke tengah lantai dansa, mereka mendengar musik dimulai dan Jimin mulai bergerak dengan luwes diikuti oleh gerakan canggung Yoongi.

"Kau mahir berdansa?" tanya Yoongi.

"Yah, tidak juga."

"Tapi kau jelas jauh lebih baik dari aku yang sekaku batang pohon."

Jimin tertawa kecil, dia mengusap pinggul Yoongi. "Relax, you're doing great."

"Aku tidak percaya itu."

Jimin tertawa lagi dan dia menunduk untuk menempelkan dahinya dengan dahi Yoongi.

"Jim,"

"Ya?"

"Kau kenal pria tadi?"

"Siapa?"

"Yang bersaing denganmu dalam lelang."

Jimin menjauhkan dahinya dan menatap Yoongi, "Dia Matthew, rekan bisnisku dari Milan."

"Dia datang ke pesta ulang tahun Jiyeon?"

Jimin menghela napas pelan, "Dia selalu tertarik pada Jiyeon, tapi aku tidak pernah merestui hubungannya dengan Jiyeon. Dia seumuran denganku dan aku tidak mau Jiyeon menjadi kekasih dari seseorang seperti Matthew."

"Kenapa?"

"Matthew itu orang yang bebas, aku tidak mau dia mempermainkan Jiyeon."

Yoongi tertawa kecil, "Ternyata kau memang posesif pada siapapun ya."

Jimin menyeringai, "Yeah, tapi aku hanya super posesif padamu. Kau itu milikku dan aku benar-benar ingin mencabut mata pria-pria yang sejak tadi memperhatikan tubuhmu."

"Mereka tidak memperhatikanku."

"Ya, mereka memperhatikanmu."

"Jim, aku tidak menarik. Kenapa mereka mau memperhatikanku?"

"Min Yoongi, kau masih saja menolak pesona yang memancar dari dirimu? Aku nyaris gila karena penampilanmu malam ini."

"Eh?"

"Ya, penampilanmu membuatku sangat ingin menarik lepas gaun itu dari tubuhmu. You showed too much skin.."

Yoongi menggigit bibir bawahnya gugup.

"Dan berhentilah menggigit bibirmu atau aku akan ikut menggigitnya juga."

.

.

.

.

.

.

.

Sesi dansa berakhir dan Yoongi memutuskan untuk mencari Jiyeon sementara Jimin berkeliling menyapa beberapa teman dan rekan bisnis keluarganya. Yoongi memutuskan untuk menyingkir dari percakapan Jimin bersama rekan bisnisnya karena dia tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.

Jadi, daripada terlihat bodoh, Yoongi memilih untuk menyingkir dan mencari Jiyeon. Yoongi melihat Jiyeon tengah berdiri bersama beberapa orang gadis yang kelihatannya adalah teman-temannya.

"Jiyeon,"

Jiyeon berbalik dan menatap Yoongi, "Eonnie!"

Yoongi tersenyum dan melangkah lebih dekat, "Aku mencarimu."

"Kenapa mencariku? Dimana Jimin Oppa?"

"Dia sedang mengobrol dengan rekan bisnisnya."

"Aah.." Jiyeon mengangguk-angguk, "Oya, Jimin Oppa sudah membayar biaya lelang tadi, aku tidak menyangka dia langsung memberikan ceknya padaku."

Yoongi meringis, "Kurasa dia agak keterlaluan malam ini. Seharusnya dia tidak mengeluarkan uang sebanyak itu."

Jiyeon tertawa keras, "Jimin Oppa pasti akan memberikan hidupnya pada Eonnie jika Eonnie memintanya."

Yoongi tertawa kecil dan menggeleng. Tidak, dia tidak yakin Jimin akan melakukan itu, mungkin perbuatan Jimin malam ini pun berdasarkan dari egonya yang memang tidak pernah mau mengalah pada orang lain.

Yoongi agak terlonjak saat merasakan sebuah lengan memeluk pinggannya. Dia menoleh ke belakang dan melihat Jimin tengah berdiri di sebelahnya dan memeluk pinggangnya.

"Excuse me, Ladies. But I had to take her." Jimin tersenyum tampan dan Yoongi bisa merasakan kalau teman-teman Jiyeon terkesiap.

"Oh, okay. Oppa ajak saja Yoongi Eonnie berjalan-jalan di sekitar sini." ujar Jiyeon seraya tersenyum riang.

Jimin melemparkan senyumnya sekali lagi kemudian dia membawa Yoongi pergi dari sana.

"Kita mau ke mana?" tanya Yoongi.

"Berkeliling, aku akan menunjukkan suatu tempat padamu."

"Tempat apa?"

"My another secret place."

Jimin mengajak Yoongi menyusuri halaman belakang yang ternyata sangat luas itu dan mereka berhenti di depan sebuah jalan setapak.

"Kita mau ke mana?"

Jimin meraih tangan Yoongi dan menggenggamnya, "Ikut saja."

"This is not your another 'Play Room', right?"

Jimin tertawa, "This is my another 'Play Room', but this one is kinda different."

Yoongi mengerutkan dahinya tapi dia menurut saja saat Jimin membawanya berjalan menyusuri jalan setapak itu dan saat mereka berhenti, di hadapannya ada sebuah rumah pohon yang cukup besar.

"A tree house?" ujar Yoongi seraya menatap Jimin dengan tatapan tidak percaya.

"Yap, ini rumah pohon milikku." Jimin menatap Yoongi dengan senyum lebar di wajahnya. "Wanna see it?"

Yoongi membalas senyum itu, "Absolutely."

Yoongi berjalan menuju tangga untuk naik ke rumah pohon itu, dia melepas sepatunya dan menaiki tangga itu dengan bertelanjang kaki. Untungnya belahan gaunnya yang tinggi memudahkan dia dalam memanjat tangga.

Jimin terkekeh pelan, "Aku tidak menyangka kau akan melepas sepatumu untuk menaiki tangga."

"Kalau tidak kulepas aku tidak akan bisa naik." sahut Yoongi.

Yoongi berhasil tiba di rumah pohon itu dan dia tersenyum menatap Jimin yang masih menaiki tangga. Jimin berhasil tiba di atas dan dia memeluk pinggang Yoongi.

"Aku tidak menyangka seorang Park Jimin memiliki rumah pohon."

"Kau adalah orang pertama yang kuajak ke sini. Bahkan aku tidak pernah mengajak Jiyeon ke sini."

"Sungguh?" tanya Yoongi tidak percaya.

"Tentu saja." Jimin berjalan ke arah pintu rumah pohon itu dan membukanya, "Ayo, masuklah."

Yoongi melangkah masuk sementara Jimin menyalakan lampu-lampu kecil warna-warni yang menempel di seluruh penjuru dinding rumah pohon itu. Yoongi tersenyum sambil menatap sekeliling, rumah pohon itu tidak terlalu luas, isi di dalamnya hanyalah selembar kasur yang terlihat empuk, setumpuk bantal dan selimut, dan juga lemari buku mungil dan sebuah TV dengan DVD player dan mini speaker.

"Tempat ini sangat nyaman." Yoongi menatap ke lampu-lampu kecil yang menyala, karena penerangannya hanya itu, keseluruhan ruangan terlihat agak remang-remang tapi tidak gelap.

Jimin melepaskan topengnya, "Kau suka?"

"Tentu saja."

Jimin melangkah menghampiri Yoongi seraya melepas jasnya dan melonggarkan dasinya. "Kau ingat kalau aku akan memberikanmu hukuman, kan?"

Yoongi menatap sekitarnya, "Here?"

"Yeah, why not? I haven't tried to do it here before."

Yoongi tidak bisa menghindar, kondisi ruangan yang sempit membuat Jimin bisa dengan cepat menangkap tubuhnya. Jimin melepaskan topeng yang sejak tadi dipakai Yoongi.

"Kau terlihat seksi dengan topeng itu, tapi aku lebih suka melihat wajahmu secara keseluruhan." Jimin mengulurkan tangannya dan mengelus wajah Yoongi kemudian jarinya terhenti saat dia tiba di bibir Yoongi yang agak terbuka.

"Kau terlihat sangat seksi malam ini, Min Yoongi. Dan kau benar-benar membuatku terbakar karena gairah sejak aku melihatmu tadi." Jimin merendahkan tubuhnya dan memberi kecupan ringan di bibir Yoongi.

Yoongi mengangkat lengannya dan secara refleks mencengkram lengan atas Jimin.

Jimin melepaskan kecupannya dan menatap mata Yoongi, "Malam ini, aku mengizinkan kau menyentuhku semaumu."

.

.

.

.

.

Yoongi mengerang penuh ekstasi saat Jimin mengecupi dadanya yang terbuka karena Jimin sudah melepaskan gaun yang melekat di tubuhnya. Yoongi berhasil mencegah Jimin merobek gaunnya karena gaun itu memang memiliki potongan yang agak ketat sehingga agak sulit dilepaskan.

Yoongi tidak bisa membayangkan kalau Jimin merobek gaunnya, dia akan keluar dengan mengenakan apa?

Jimin mengecup-ecup dada atas Yoongi, "Tadi kau memperlihatkan bagian ini pada semua orang, kan? Kau harus dihukum." Jimin menggigit dada Yoongi dan membuat sebuah kissmark yang sangat mencolok karena kulit Yoongi yang putih pucat.

Yoongi menjerit kecil dan refleks mencengkram rambut Jimin. "J-Jimin.. jangan.. disana.. ahh.."

"Kenapa?"

"I-itu akan terlihat.. uhh.."

Jimin menjilat puncak payudara Yoongi, "Bukankah itu bagus? Kau jadi tidak bisa memakai pakaian terbuka lagi."

Yoongi mengerang pelan karena Jimin memuluti kedua payudaranya. Dia meremas-remas dan mengacak rambut Jimin, karena Jimin memperbolehkannya menyentuhnya semaunya, maka sejak tadi Yoongi benar-benar tidak bisa diam. Dia terus saja meremas-remas rambut Jimin, bahkan sesekali dia juga mendorong kepala Jimin agar semakin menempel padanya.

Yoongi menjerit saat mulut Jimin tiba di kewanitaannya. Dia mendesah keras dan mengerang panjang saat dia merasakan lidah Jimin mulai bergerak di bawah sana.

Ini bukan pertama kalinya Jimin melakukan itu, tapi Yoongi selalu merasa lemas dan melayang karena perbuatan Jimin di tubuhnya. Dia merasa seolah dia melakukan ini untuk pertama kalinya dengan Jimin.

"Oh, God! Jimin!" jerit Yoongi saat dia mencapai klimaksnya karena ulah lidah Jimin.

Jimin mengusap sudut bibirnya yang basah karena cairan Yoongi, "Kurasa kau sudah siap untuk menerima kehadiranku di dalam dirimu."

Jimin melepaskan sisa pakaiannya dan menindih Yoongi, dia menggesekkan miliknya yang sudah menegang di depan kewanitaan Yoongi.

"Uuh.." desah Yoongi pelan.

"Do you want me, Min Yoongi?" bisik Jimin pelan dengan suara berat.

"Oh, yes, please.."

"Beg for it."

"Jimin.. please.." Yoongi memohon seraya menatap Jimin dengan mata sayunya.

Jimin terkekeh, dia selalu suka saat melihat Yoongi terlihat begitu pasrah padanya. "Again.."

"Jimin, please, just put it in, I can't hold it anymore.."

Jimin mencium bibir Yoongi, "Okay.."

Jimin memasukkan keseluruhan miliknya dan dia memejamkan matanya karena nikmat. Tubuh Yoongi begitu pas untuk tubuhnya, seolah-olah Yoongi memang diciptakan untuknya dan begitu juga sebaliknya.

Jimin mulai bergerak dan Yoongi terus saja mendesah dan menjerit seraya memeluk leher Jimin dan mengacak-acak rambutnya. Yoongi juga melingkarkan kedua kakinya di pinggang Jimin. Saat ini mereka benar-benar tidak peduli pada keadaan sekitar, mereka tidak peduli jika suara mereka terdengar karena yang ada di pikiran mereka hanyalah kenikmatan yang sedang mereka nikmati.

"Oh, Jimin.. I'm close.." desah Yoongi saat dia merasa klimaksnya mendekat.

Yoongi meraih klimaksnya dan disusul oleh Jimin. Yoongi bisa merasakan bagian dalam tubuhnya tersiram sesuatu yang hangat dan dia terengah-engah.

"Let's go home and continue it in my 'Play Room'.." bisik Jimin sensual.

.

.

.

.

.

.

Yoongi berdiri mematut penampilannya di cermin. Dia sedang bersiap untuk pergi ke tempat kerjanya, Yoongi menatap meja riasnya untuk mengambil lipstick tapi dia terhenti saat melihat sebuah botol kecil berisi pil.

"Oh, ini, kan.." Yoongi mengangkat botol kecil itu dan dia ingat kalau itu adalah obat kontrasepsi yang diberikan dokter padanya. Dahi Yoongi mengerut karena dia lupa berapa kali dia meminum obat itu. Mata Yoongi berputar cepat ke arah kalender dan dia sedikit menghembuskan napas lega karena minggu suburnya baru akan dimulai beberapa hari lagi.

Yoongi membuka botol kecil itu dan menenggak sebuah pil, "Yah, kurasa bukan masalah kalau aku lupa meminumnya."

"Yoongi, apa kau.. oh, kau sedang apa?"

Yoongi menoleh ke arah Seokjin yang berdiri di ambang pintu kamarnya. "Aku? Minum obat." Yoongi mengangkat botol kecil di tangannya.

"Obat? Kau sakit?"

Yoongi menggeleng dan meletakkan botol kecil itu di meja riasnya, "Tidak, ini obat kontrasepsi."

Wajah Seokjin merona, "Oh, kau juga meminum obat itu." Seokjin mengerutkan dahinya, "Tapi sejak kapan kau mulai mengkonsumsi obat itu?"

Yoongi mengangkat bahunya, "Entahlah, mungkin seminggu atau dua minggu lalu. Aku lupa."

"Yoongi, kehidupan seksmu dan Jimin lancar-lancar saja, kan?"

Yoongi mengangguk acuh, "Ya, begitulah. Kenapa?"

"Dan kau rutin meminum obat itu, kan? Karena jika kulihat dari reaksimu kau pasti tidak meminum obat itu dengan teratur."

Yoongi menatap botol obat itu kemudian dia mengangkat bahunya acuh, "Entahlah, aku tidak ingat aku meminumnya, kurasa aku meminumnya kalau aku ingat."

Seokjin membulatkan matanya, "Yoongi! Kau tidak boleh sembarangan pada obat kontrasepsi."

"Kenapa? Toh ini hanya obat kecil. Yang penting aku meminumnya, kan?" Yoongi tersenyum puas setelah dia merasa penampilannya rapi, dia meraih tasnya dan berjalan keluar kamarnya.

"Itu bukan sembarang obat, Min Yoongi!"

Yoongi berdecak, "Jin, aku harus pergi kerja. Kita bahas masalah kontrasepsi ini lain waktu, oke?"

Yoongi melemparkan senyum kecilnya pada Seokjin kemudian dia melangkah meninggalkan apartemen mereka.

Seokjin menghela napas pelan, "Anak itu, apa dia tidak sadar kalau pil kontrasepsi yang tidak diminum secara teratur bisa membuatnya mengandung karena hubungan intim?"

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi bekerja dengan baik selama sisa hari itu. Dia menangani beberapa buku terbitan baru dan juga beberapa novel yang rencananya akan dijual murah.

Yoongi sedang sibuk mendata buku-buku yang baru masuk ketika tiba-tiba saja ponselnya berdering.

"Ya?" sapa Yoongi sambil menjepit ponselnya diantara telinga dan bahunya.

"Yoongi?"

"Ya, Jimin. Ada apa?" tanya Yoongi karena dia sudah hafal suara Jimin sehingga dia bisa langsung mengetahui kalau yang meneleponnya adalah Jimin.

"Tidak, aku hanya ingin memberitahu kalau aku akan terbang ke Italia malam ini. Ada urusan bisnis."

"Hmm, okay.."

"Kau sedang bekerja?"

"Yap."

"Oke, sampai nanti. Aku akan menghubungimu kalau aku sudah kembali ke Korea."

"Tentu."

Yoongi meletakkan kembali ponselnya setelah Jimin memutuskan teleponnya. Namun tak lama kemudian gerakan Yoongi terhenti, dia teringat kata-kata Jungkook yang dulu mengatakan kalau Yoongi akan tahu semuanya apabila dia menyusul Jimin saat dia pergi ke Italia untuk urusan bisnis.

Yoongi menggigit bibirnya, apa dia harus menyusul Jimin?

Tapi untuk apa?

Bagaimana jika Jungkook berbohong?

Yoongi berpikir keras, dia memikirkan berbagai kemungkinan mengenai apa yang kiranya akan dia temukan apabila dia menyusul Jimin ke Italia.

"Kurasa tidak ada apa-apa." Yoongi melanjutkan kembali pekerjaannya tapi dia terhenti lagi. Dia rasa dia mulai tahu apa yang akan dia temui, bukan hal yang tidak mungkin jika Jimin akan bertemu 'dia' yang pernah disebutkan ibu Jimin, kan?

"Apa aku harus menyusulnya?" gumam Yoongi.

Yoongi mengetuk-etuk meja dengan jarinya, dia menimbang-nimbang keputusannya untuk menyusul Jimin ke Italia. Akhirnya setelah terdiam cukup lama, Yoongi meraih ponselnya dan mendial satu nomor.

Terdengar nada sambung cukup lama hingga akhirnya telepon Yoongi diangkat.

"Hei, Hoseok, ini aku.."

Yoongi menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, "Ya, aku menghubungimu karena aku butuh bantuanmu."

"Bantuan apa?" tanya Hoseok di seberang sana.

"Aku ingin meminjam uang padamu."

"Uang?"

"Ya, aku ingin pergi ke Italia jadi aku ingin meminjam uang padamu."

"Oh, tentu. Berapa yang kau butuhkan?"

"Aku akan mengabari jumlahnya padamu. Terima kasih, Hoseok."

"Tentu, jangan sungkan padaku, Yoongi."

Yoongi meletakkan kembali ponselnya ke meja setelah dia menelepon Hoseok. Dia tidak tahu apakah keputusannya tepat atau tidak. Tapi mungkin dia akan menemukan sesuatu yang baru soal Jimin kalau dia menyusulnya ke Italia.

"Kurasa ini bukan masalah besar." Yoongi bergumam pelan.

To Be Continued

.

.

.

.

Haai~

Ini merupakan chapter yang aku tulis sebelum aku hiatus untuk sementara.

Yap, aku akan hiatus selama 1 – 2 bulan sejak pertengahan Januari hingga Februari nanti dikarenakan aku memiliki tugas dari kampus yang mengharuskan aku untuk pergi ke pedalaman. Aku tidak membawa laptopku karena selain takut hilang, di sana juga susah sinyal sehingga tidak mungkin bagiku untuk publish cerita baru atau update chapter.

Jadi.. mungkin aku akan muncul kembali di bulan Februari akhir atau di Maret awal.

So, sampai ketemu di bulan Februari atau Maret nanti!

.

.

.

.

.

Hmm, review? :D

.

.

.

Thanks