dangerouSHIRO present :

"Maple Love Story"

All chara own by SMent

This fanfic using MALExMALE story

So, if you DON'T LIKE that thing…

Make it simple!

DON'T READ my fanfic!

I DON'T NEED FLAMER OR BASHING!

( ¯ _ ¯!)

And if you don't like all pairing in this story,

Just GO AWAY!

XOXOX

~ Bad Memories and Worst Final Decision…~

[Jaejoong POV]

Lee Jaejoong, itulah namaku. Bukan nama sebenarnya memang, tapi aku menyukai nama Lee yang aku sandang sejak sepuluh tahun lalu. Kini aku memang sudah tumbuh menjadi namja muda berumur enam belas tahun, namja yang menjadi anak kesayangan seorang Lee Soo Man.

Kalian tahu Lee Soo Man? Ya, Lee Soo Man yang mendirikan sebuah sekolah keren seantero Korea- terlebih di Seoul itu. Dialah ayahku, tepatnya ayah angkatku. Ayah angkat yang begitu baik padaku, menyayangiku dan mencintaiku layaknya aku adalah darah dagingnya sendiri.

Selain ayah, aku juga punya ibu yang sangat cantik. Siapa ibuku? Itu rahasia. Ibuku yang lembut dan cantik itu menjadi idola perempuan pertama dalam hidupku. Idola yang selalu ada dihatiku dan tak akan pernah terganti. Namun sayang, ibuku meninggal setahun yang lalu. Terlalu cepat memang ibuku itu pergi meninggalkan aku dan ayah, terlalu cepat hingga setelah kematian ibu, ayah berubah menjadi sosok yang tak ku kenal.

Selama setahun, ayah berubah menjadi namja yang dingin dan sama sekali tak acuh pada sekitarnya. Ayah selalu menyibukan dirinya dengan pekerjaannya yang menumpuk, hingga selama setahun itu ayah berubah menjadi seorang worker holic.

Ayah sempat melupakan keberadaanku, melupakan aku yang selalu ada disampingnya, melupakan aku…yang selalu ada untuknya. Jujur saja aku sedih dengan perubahan sikap ayah, tak ada lagi ayah yang menyayangi dan memperhatikanku. Tak ada lagi ayah yang bertanya apakah aku mengalami kesulitan dalam pelajaran sekolah, hingga dari perubahan sikap ayah yang drastic itu, aku merasakan apa yang dinamakan dengan…kesepian.

Namun, ada seseorang yang bisa membuatku lupa akan rasa kesepian yang menjalar dihatiku. Seseorang yang selalu menemaniku jika aku sedang termenung sendirian dibawah pohon maple yang ada ditaman belakang sekolah.

Aku yang tinggal dilingkungan sekolah milik ayah, dan orang itu yang tinggal dan menjadi murid disekolah ini, memudahkan kami untuk saling bertemu.

"Jaejoong, maaf menunggu lama. Tadi sedang jam wajib belajar malam, jadi aku baru diperbolehkan keluar. Kau sedang apa?"

Aku tersentak dari dalam lamunanku yang ternyata cukup rumit. Kutolehkan kepalaku dan mendapati sosok seorang namja tampan bermata musang yang sudah berdiri dengan senyuman menawannya disampingku. Namja yang selama setahun ini memang dekat denganku, namja yang menjadi temanku dalam mengusir rasa kesepian dihatiku karena tak diacuhkan oleh ayah.

Aku membalas senyuman namja itu dan menepuk rerumputan yang ada disampingku, mempersilahkan dirinya untuk duduk. "Gwencahanyo Yun, duduklah…"

Kulihat Yunho mulai duduk disampingku, ia menghela nafas pelan dan menengadah memandang langit malam yang begitu pekat. "Aku lihat kau semakin sering kesini, apa kau semakin kesepian dengan sikap kepala sekolah?"

"…"

Aku memilih untuk tak menjawab, dan tampaknya Yunho enggan untuk bertanya lagi. Keheningan merebak diantara kami, tak ada yang saling bicara. Hingga aku merasa bosan dengan keadaan hening yang tercipta, "Yunnie-ah!"

"Ne?"

Aku tersenyum padanya dan mengerlingkan mataku dengan jahil, "mau temani aku jalan-jalan? Aku bosan nih…" pintaku sambil merajuk.

Yunho menautkan satu alisnya, tampak sekali dia heran dengan permintaanku itu. "Kau ini gila ya? Mau jalan-jalan dan keluar lewat mana?"

"Ada jalan kok Yun, tapi bilang dulu kau mau menemaniku!"

Yunho tampak ragu, ia mengerutkan keningnya dan tampak berfikir. Setelah lama berfikir dengan ditemani ocehan dan rayuanku, akhirnya Yunho menyetujui permintaanku. Dengan segera kuraih pergelangan tangannya dan kutarik pelan agar ia berdiri, setelahnya kembali kutarik pergelangan tangan Yunho dan kubawa dirinya berlari menuju taman belakang yang tampak remang.

"Mau kemana Jae? Memangnya disana ada jalan keluar?" kata Yunho.

"Jangan banyak bicara Yunnie, nanti juga kau akan tahu. Sesekali, jadilah anak nakal…"

XOXOX

[Yunho POV]

Aku hanyalah namja biasa yang asalnya pun dari keluarga yang biasa. Jung Yunho, itulah namaku. Aku adalah siswa tahun kedua disebuah sekolah berasrama khusus namja yang sangat terkenal di Korea. SM Senior High-School, itulah nama sekolahku. Aku yang namja berasal dari keluarga biasa ini memang tak mungkin bisa bersekolah disekolah itu, tapi terima kasih pada tuhan karena dia memberikanku berkah berupa otak yang begitu cemerlang, hingga aku bisa menyabet beasiswa tahunan yang selalu diadakan oleh sekolah luar biasa itu.

Tadinya kehidupanku sebagai murid sekolahan berjalan dengan baik, namun semuanya sirna ketika aku mengenalnya. Mengenal sosok namja yang membuatku lupa akan tujuanku bersekolah di SM Senior High-School, yang membuatku lupa akan semua yang harus kulakukan di sekolah ini.

Ya, sosok seorang Lee Jaejoong memang sangat sayang untuk dilewatkan. Namja yang cantiknya bahkan melebihi ratusan yeoja yang ada dipemilihan miss Korea tahun lalu. Namja yang memiliki kulit seperti susu, yang memiliki rambut sehitam kayu eboni, yang memiliki mata besar beriris kelam namun bening, juga yang memiliki bibir tipis nan merah semerah delima.

Aku tersenyum disela-sela istirahat siang yang aku habiskan dengan mengerjakan tugas untuk besok. Membayangkan sosok seorang Jaejoong memang kadang membuatku merasa seperti orang yang tidak waras, hanya dengan memikirkannya aku bisa tersenyum sendirian.

"Kau kenapa Yun?"

Aku sedikit tersentak ketika merasakan tepukan pelan seseorang dibahuku. Aku menoleh dan mendapati sosok sunbaenim ku disekolah ini, "oh Jay-hyung…mengagetkanku saja. Ada apa?"

Namja tampan bernama lengkap Kim Jay itu mengernyitkan keningnya, "justru aku yang ingin bertanya ada apa denganmu hoobae ku tersayang. Kau tersenyum-senyum sendiri begitu, tampak mengerikan."

"Hyung-ah bisa saja. Aku hanya tersenyum karena bisa menemukan rumus sederhana untuk penyelesaian soal fisika ini kok." Jawabku sambil kembali berpura-pura focus pada soal-soal fisika yang berada dihadapanku.

Jay-hyung memilih untuk duduk dikursi yang berada didepanku. Ia tampak memperhatikanku yang masih berpura-pura memperhatikan soal-soal fisika, sesekali dapat kudengar tawa kecil Jay-hyung.

Aku mengalihkan pandanganku dari soal-soal fisika, kutatap sosok Jay-hyung yang ternyata masih memandangiku. "Kenapa kau memandangiku hyung?"

"Aku hanya ingin lihat berapa lama kau berpura-pura mengerjakan soal matematika itu dihadapanku."

"Eh?"

Jay-hyung tertawa mendapati reaksi bodohku, ia menopangkan tangannya keatas meja yang ada diantara kami dan mulai memasang senyum penuh misteri yang membuatku sedikit tidak nyaman. "Apa anak kepala sekolah yang dekat denganmu akhir-akhir ini, sudah membuatmu tak mencintai soal-soal fisika lagi Jung Yunho?" Tanya Jae-hyung dengan nada jahil.

Refleks aku melemparkan gulungan kertas buram yang ada didekatku padanya, dan terdengarlah tawa menyebalkan milik Jay-hyung yang amat kubenci. Dia memang menyebalkan kalau sedang menjahili aku, apalagi kalau ditemani tiga temannya lagi.

"Hei! Kenapa kau melemparku dengan kertas, heh? Kemana sikap sopan santunmu, anak muda?"

Aku mendelik dan bersiap untuk bangkit dari kursi, namun Jay-hyung menahan pergelangan tanganku lebih dulu hingga aku kembali terduduk. Kutatap Jay-hyung dengan tatapan sebal, "mau apa lagi kau hyung? Kalau kau mau menggodaku, lain kali saja."

"Duduklah dulu, Yun. Kau ini sepertinya sangat tidak senang dengan diriku ya."

Aku mendecak, "memang aku tidak senang denganmu Kim Jay-hyung!"

Tampak Jay-hyung memasang wajah terluka ketika aku mengucapkan kata-kata itu. Mau tak mau aku tertawa sedikit melihat wajah bodohnya, aku pun dengan sabar meladeni lagi obrolan-obrolannya yang sedikit ngawur itu. Sementara Jay-hyung mengoceh, aku memilih untuk kembali mengerjakan soal-soal fisika yang ada dihadapanku.

"…apa kau sudah berpacaran dengan anak kepala sekolah Yun?" Tanya Jay-hyung tiba-tiba, yang langsung membuatku mematahkan isi pensil mekanik yang tengah kugunakan. Aku menatap Jay-hyung dengan tatapan horror, "kau bicara apa sih hyung?"

"Jawab saja Yun…" Jay-hyung tampak memaksa.

Aku pun akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang dan menggeleng, sebagai tanda dan jawaban akan pertanyaannya. Jay-hyung tersenyum tipis melihat gelengan kepalaku, ia menepuk pergelangan tanganku dan membuat kode agar aku mendekat padanya. Aku yang penasaran, akhirnya mendekatkan tubuhku padanya. Dan saat itu juga kudengar Jay-hyung berbisik, "kau tahu cerita cinta pohon maple?"

XOXOX

[Normal POV]

"Kau ini sebenarnya mau mengajakku kemana sih Yun? Aku baru pulang sekolah…"

Yunho tampak tak perduli dengan protes dari sosok cantik Jaejoong yang kala itu masih menggunakan seragam sekolahnya dengan lengkap, bahkan tas ransel yang biasa ia gunakan masih tercangklok rapi dipundaknya.

Jaejoong hanya mendesis ketika ia tak mendengar jawab apapun dari Yunho, akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti saja kemana Yunho membawanya. "Nah, sampai!" kata Yunho pada akhirnya.

Jaejoong memperhatikan sekitarnya dan mendapati bahwa Yunho membawanya ketaman belakang sekolah milik sang ayah yang ditumbuhi oleh pohon-pohon maple yang tengah berubah warna. Pohon-pohon yang membuat suasana musim gugur nampak lebih indah dengan warna cokelat kemerahan yang mendominasi, Jaejoong menatap tak mengerti pada sosok Yunho, "jadi kau menarikku dari gerbang depan hanya untuk membawaku kesini? Kau lucu sekali Jung Yunho! Minggir, aku mau pulang."

Yunho menarik pergelangan tangan Jaejoong, membuat tubuh Jaejoong yang tak seimbang jatuh kedalam pelukannya. Jaejoong seketika tersipu saat menyadari posisinya dengan Yunho yang terlihat- sangat romantis- itu, "Yun! Lepaskan aku, bagaimana kalau ada yang melihat?"

"Tak akan ada yang kesini Boo,"

Jaejoong bergerak-gerak dalam pelukan Yunho, mencoba untuk melepaskan diri. Namun sialnya Yunho malah semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh ramping Jaejoong, "kenapa kau bergerak-gerak terus sih Boo?"

"Berhenti memanggilku dengan nama Boo! Namaku Lee Jaejoong, dan segera lepaskan pelukanmu Yun! Bagaimana kalau ayahku melihat?" panik Jaejoong.

"Aku bilang tak akan ada yang melihat Boo! Diamlah, kalau kau tak diam maka aku tak akan melepaskan pelukanku."

Jaejoong pun akhirnya memilih untuk diam, mendengar perintah Yunho yang terdengar sangat mengintimidasi membuatnya sedikit takut juga. Setelah merasa Jaejoong tak akan meronta lagi, Yunho melonggarkan pelukannya pada tubuh Jaejoong.

Namja tampan itu menurunkan lengannya untuk berpindah memeluk pinggang Jaejoong, lengannya yang kokoh melingkar nyaman disana. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Jaejoong."

"…"

"Kau mau mendengarnya atau tidak?"

Jaejoong menengadah menatap kearah Yunho yang lebih tinggi beberapa inchi darinya, mata besarnya yang bening menatap kearah mata tajam bak musang milik Yunho. "Apa yang ingin kau katakana? Aku akan mendengarkannya."

Yunho merendahkan kepalanya, ia arahkan wajahnya kesamping wajah Jaejoong. Namja itu mendekatkan bibir berbentuk hatinya ketelinga Jaejoong, "saranghae…"

"…"

"Aku mencintaimu, sejak pertama kali aku melihatmu menangis dibawah pohon maple ini tepat setelah hari pemakaman ibumu Jae. Aku sungguh sangat mencintaimu…" bisik Yunho

"…"

Yunho yang tak mendapati respon dari Jaejoong pun segera menatap wajah namja cantik itu. Dan betapa terkejutnya Yunho ketika ia melihat mata bening Jaejoong terlihat memerah karena menahan air mata, Yunho langsung menangkupkan kedua telapak tangannya ke pipi putih Jaejoong. "Jae, kenapa kau menangis? Apa kata-kataku salah?"

Jaejoong masih diam, tak mau menjawab ataupun mengeluarkan sepatah kata pun. Yunho pun jadi merasa bersalah, ia tak suka melihat Jaejoong seperti itu. "Jae…"

"Kenapa Yun? Ken-kenapa kau mencintaiku? Itu salah Yun! Kau tahu apa peraturan ayahku yang dibuat untuk sekolah ini? Kalau kau mecintaiku, itu artinya kau menghancurkan dirimu sendiri."

Yunho meraih dagu Jaejoong, ia pandangi wajah sempurna Jaejoong lalu ia kecup hidung bangir Jaejoong. "Tak ada alasan untuk tidak mencintaimu kan Jae? Cinta bisa saja datang dengan cara yang tak terduga, dia juga tak akan memilih kepada siapa dia datang. Dan cinta itu tak pernah salah Jae, tak perduli apapun yang ada dihadapannya...cinta tak akan pernah salah."

Jaejoong menghentakan tangan Yunho yang masih memegangi dagunya, "tapi tidak untukku dan untukmu Yun. Tidak untuk cinta yang kau punya..."

"Katakan padaku Jae! Apakah kau mencintaiku?" tanya Yunho.

"..."

Yunho kembali memegang sisi wajah Jae, dan mengecupinya dengan lembut. Seolah ia berusaha untuk menyampaikan rasa cintanya pada namja cantik itu. Jaejoong tak berkutik, ia pasrah dengan perlakuan Yunho. Namun jauh didalam hatinya, Jaejoong memang mencintai Yunho. Tapi ketakutan masih menyelimuti sebagian besar hatinya, membuatnya takut untuk membalas cinta Yunho.

"Katakan Jae,"

"Yun, ak-aku...aku tak tahu. Aku-,"

Yunho tak mengizinkan Jaejoong menyelesaikan kata-katanya, ia potong kata-kata Jaejoong dengan bibirnya yang menempel dibibir tipis nan lembut milik itu. Yunho melumat dan mengecup bibir Jaejoong dengan dalam, ia berusaha untuk jujur dengan hatinya dan dirinya sendiri. Yunho juga berusaha dalam ciumannya agar Jaejoong jujur pada dirinya sendiri, pada cinta yang ia rasakan didalam hatinya.

Lama Jaejoong tak merespon ciuman Yunho, membuat Yunho gemas. Namja tampan itu menarik tengkuk Jaejoong agar ciumannya lebih dalam, "jujurlah pada perasaanmu Jae..." bisik Yunho disela-sela ciuman mereka.

Perlahan walaupun kaku, Yunho mulai merasakan ciuman balasan dari Jaejoong. Senyuman tipis tersungging dibibir Yunho yang masih tak rela melepaskan sensasi lembut yang dimiliki oleh bibir Jaejoong. Yunho menyudahi ciumannya, ia tatap mata bening Jaejoong yang tengah menatapnya juga.

"Mulai sekarang, apapun yang akan terjadi nantinya...percayalah kalau cinta akan menang Jae. Jangan takut dengan apapun yang menghalangi cinta kita, karena cinta mempunyai kekuatannya sendiri untuk melindungi kita. Kau percaya padaku?" tanya Yunho.

Jaejoong menganggukan kepalanya, "aku percaya Yun...saranghaeyo."

XOXOX

"Ayah menemukan ini ditasmu!"

Jaejoong mengalihkan pandangannya dari buku tulis kepada sang ayah- Lee Soo Man. Mata Jaejoong membesar ketika ia melihat sebuah surat yang sangat ia kenal tergenggam ditangan ayahnya. Jaejoong panik, ia segera berdiri menatap sang ayah. "Kenapa ayah membuka tasku? Apa ayah tak tahu kalau itu privasiku?"

PLAK!

Jaejoong merasakan pipinya memanas ketika tamparan sang ayah terasa dipipi kanannya. Jaejoong memegang pipi sebelah kanannya, "kenapa ayah menamparku?"

"Kau menjalin kasih dengan namja, apa itu benar?" Soo Man bertanya dengan nada datar, wajahnya pun terlihat dingin.

Jaejoong tersenyum sinis, "apa peduli ayah? Semenjak ibu meninggal, apa ayah perduli padaku?"

"..."

"Jawab aku! Apa ayah perduli padaku selama ini? setelah ibu meninggal, ayah tak pernah perduli padaku lagi. Ayah berubah menjadi orang yang tak aku kenal, ayah seperti menganggap aku ini tak ada disekitar ayah. Ayah selalu mementingkan pekerjaan ayah, padahal aku disini membutuhkan ayah!" pekik Jaejoong.

PLAK!

Sekali lagi, tamparan kembali Jaejoong rasakan di pipinya. Sungguh kini bukan sakit karena tamparan Soo Man yang ia rasakan, tapi sakit dihatinya karena perlakuan Soo Man jauh lebih terasa. Perlahan Jaejoong merasakan matanya memanas, "jadi ayah sekarang lebih suka memukulku? Selama sepuluh tahun aku bersama ayah dan menjadi anak ayah, sekarang ayah lebih suka memukulku?"

"Jawab saja pertanyaanku!"

Hati Jaejoong semakin sakit, seakan ada ratusan mata pisau yang begitu tajam tengah mengiris-iris hatinya dengan begitu pelan. Jaejoong memejamkan matanya, membuat air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya mengalir tanpa halangan. Jaejoong menatap kedalam mata Soo Man yang terlihat tak berekspresi. "Ya, aku memang mempunyai hubungan dengan namja."

"Kau memalukan! Berani sekali kau menjalin cinta terlarang seperti itu." Desis Soo Man. Namja itu menatap Jaejoong lekat, "siapa namja itu?"

"..."

"SIAPA NAMA NAMJA ITU KIM JAEJOONG?"

Jaejoong membelalakan matanya ketika Soo Man memanggilnya dengan mana keluarganya yang asli, Kim Jaejoong- nama aslinya sebelum ia diadopsi oleh Lee Soo Man dan menyandang nama Lee. Sungguh tak tergambarkan bagaimana rasa sakit yang kini menggores hatinya, "ayah memanggilku apa?"

"Katakan siapa namja itu Kim Jaejoong!"

Jaejoong menatap kedalam mata Soo Man dengan tatapan kosong, sebuah senyum dingin tampak terhias diwajah Jaejoong. "Bahkan ayah sudah memanggilku dengan nama Kim Jaejoong?" Jaejoong tertawa sinis, namun matanya masih memancarkan kekosongan. "Tak akan kuberitahu siapa namja yang aku cintai itu, walaupun aku harus mati!"

XOXOX

Semenjak kejadian itu, hubungan Jaejoong dan Soo Man menjadi buruk. Tak ada lagi canda diantara mereka, jangankan canda...sapaan saja nihil. Jaejoong masih merasa sakit hati dengan sikap Soo Man, dan Soo Man merasa begitu kecewa dengan Jaejoong.

Sore itu ketika hujan deras mengguyur kota Seoul, Soo Man melangkah masuk kedalam sebuah rumah kecil yang dibangun tak jauh dari kompleks SM Senior High-School. Rumah yang ia tempati bersama Jaejoong, yang dulu menjadi rumah terhangat untuk mereka berdua.

Soo man mengedarkan pandangannya ketika ia baru saja masuk kedalam rumah, ia segera mendekati pintu kamar Jaejoong yang tampak terbuka sedikit. Soo Man memasuki kamar itu dan mendapati Jaejoong tengah duduk dikursi meja belajarnya, "namanya Jung Yunho kan?"

"..."

Soo Man menyerahkan secarik surat pada Jaejoong, namun namja cantik itu tak mau melirik sedikit pun. Jaejoong tampaknya masih sibuk dengan buku catatannya, Soo Man akhirnya meletakan surat itu disamping Jaejoong. "Tadi siang, aku sudah mengusir Jung Yunho dari sekolah. Dan aku harap, kau bisa melupakannya."

"..."

"Aku akan memaafkanmu Jaejoong, dan aku masih menganggap dirimu sebagai anakku. Maka dari itu, lupakanlah namja itu dan jadilah Lee Jaejoong yang aku banggakan..."

XOXOX

1 Bulan Kemudian...

'...kau tahu kalau kisah cinta klasik pohon maple itu bisa memberikan akhir yang manis? Kau mau mencobanya? Tuliskan kata-kata cintamu untuk orang yang kau cintai diatas helaian pohon maple.'

Yunho menengadah menatap langit musim gugur yang tampak mendung, entah kenapa fikirannya melayang pada kata-kata sunbaenya di SM Senior High-School dulu. Yunho menghela nafas panjang, mata musangnya menatap pada helaian pohon maple yang berguguran disekitarnya.

Yunho merundukan tubuhnya untuk mengambil sehelai pohon maple yang jatuh ketanah, ia pandangi helai pohon maple itu, "Jay-hyung...izinkan aku mempercayai kata-katamu itu ya." Kata Yunho yang langsung merogoh tas ranselnya untuk mengeluarkan sebuah spidol dari dalam sana.

Yunho mulai menuliskan kata demi kata diatas pohon maple berwarna cokelat itu, dengan diiringi sebuah senyuman yang sarat akan harapan, Yunho menyelipkan doa didalam kata-katanya.

...aku pernah bilang kalau kita tak perlu takut kan Jae?

Maka dari itu, sambutlah tanganku untuk membawamu pergi.

Membawamu pergi, untuk menemui kebahagiaan kita berdua.

Kalau kau mau menyambut uluran tanganku,

Datanglah ketaman dibelakang sekolah

Tempat dimana kita biasa bertemu.

XOXOX

[Soo Man POV]

Aku masuk kedalam rumah yang tampak sepi, semenjak Jaejoong memutuskan untuk tak pernah berbicara lagi denganku, aku merasa hatiku ini semakin dingin. Tak ada lagi yang bisa aku harapkan dari sekitar, begitulah yang aku pikirkan.

Aku beranjak kearah kamar Jaejoong, ditengah malam seperti ini pastilah ia sudah tidur, atau masih menangis? Memang selama sebulan semenjak aku mengusir namja bernama Jung Yunho itu, Jaejoong semakin sering menangis. Aku ini ayah yang jahat ya...

Kubuka pintu kamar Jaejoong yang tak terkunci, setelah pintu itu terbuka kegelapan menyapa pengelihatanku. Aku pun meraba dinding kamar Jaejoong untuk menemukan sakelar lampu, kutekan sakelar itu ketika kutemukan.

Kamar yang semula gelap, kini menajdi terang benderang. Namun ada yang aneh, aku tak menemukan sosok Jaejoong. Ranjang anak itu kosong, kucoba melangkahkan kakiku kearah kamar mandi yang ada dikamar itu, namun hasilnya sama...sosok Jaejoong tak terlihat.

"Jae! Kau dimana?" panggilku.

Ketakutan dan kepanikan mulai menjalar disetiap aliran darahku, aku takut terjadi apa-apa pada anak itu. Aku segera beranjak keluar dari kamar Jaejoong, namun mataku terpaku pada secarik kertas yang ada diatas meja belajar Jaejoong.

Kulangkahkan kakiku mendekat kearah meja itu, dan segera kuraih kertas yang telah dihiasi oleh tulisan rapi milik Jaejoong.

...Appa,

Aku mencintaimu dan menyayangimu melebihi orang tua kandungku.

Terima kasih kau sudah menyelamatkan aku dari panti asuhan

Sepuluh yang lalu...

Namun,

Maafkan aku untuk kali ini saja...

Maafkan aku yang tak bisa berbakti padamu sebagai Lee Jaejoong.

Maafkan aku yang kini lebih memilih jalan sebagai seorang Kim Jaejoong.

Aku tahu aku telah membuatmu malu,

Namun aku tahu diri.

Aku pergi dari rumahmu, bersama dengan namja itu.

Namja yang aku cintai dengan segenap hatiku.

Namja yang kau usir, tanpa kau lihat bagaimana rupanya

Ataupun suaranya.

...Appa,

Aku yakin aku akan bahagia.

Aku tak ingin memaksamu untuk menerima hubunganku dengannya.

Aku hanya ingin bilang,

Cinta itu membuatku kuat.

Cinta itu membuatku bertemu denganmu.

Dan cinta itu, yang membuatku terpisah darimu.

Aku memang anak yang tak berguna,

Mungkin kau menyesal telah mengadopsi diriku.

Namun kau harus tahu,

Aku sangat senang bisa menjadi seorang Lee Jaejoong

Meski hanya sepuluh tahun.

Aku tak sanggup untuk berkata apapun, ku letakkan surat yang ditulis oleh Jaejoong itu dengan pelan. Kini hatiku memang sudah membeku, bukan dingin lagi. Kini aku tahu...cinta hanya menyebabkan penderitaan. Cintaku pada istriku hanya membuatku melukai Jaejoong dan diriku sendiri saat istriku pergi untuk selamanya. Dan cinta yang membuatku kehilangan anak yang aku sayangi, walaupun dia bukan darah dagingku sendiri.

Kini aku bersumpah, "...cinta tak akan pernah hidup disini."

END FOR MEMORY

Saya tahu memang ceritanya cukup maksa!

Saya Cuma mau bilang, setelah chapter ini saya mungkin akan men-DISCONTINUE-kan

Cerita ini.

Tapi tenang,

Kalian boleh vote kok...

Kalian silahkan vote dgn cara berikan tanggapan kalian tentang fic ini.

Silahkan kalian add fb saya,

Dan tolong beri tanggapan apakah fic ini harus diberhentikan atau dilanjut hingga tamat.

Dna jangan lupa disertai alasan^^

Saya ga akan memaksa kalian untuk melakukan vote itu,

Jadi...

Mind to leave me some review?

But, PLEASE BE POLITE!!