THAT BOSS

MainCast: Luhan, Sehun, Kris, Exo

Pairing: Hunhan and Others

Rated: T++

Warning: typo bertebaran

Boys love, yaoi, DLDR

enjoy

.

.

Chapter 10

Kris tidak pernah sebingung ini sebelumnya. Dia pikir, ia akan melompat gembira saat sang Ayah memutuskan untuk mengakhiri hukumannya. Tapi keadaaan yang terjadi sekarang malah jauh berbeda. Kris, duduk di private jet dengan pikiran berkecamuk. Ia menatap ponsel yang ia genggam penuh harap. Agar Luhan menjawab panggilannya.

"Tuan Muda, sudah waktunya kita take off. Mohon untuk menonaktifkan ponsel anda."

Kris mematikan ponselnya lalu melempar benda itu asal. Pandangannya ia bawa keluar jendela. Dia tahu, kepulangannya ke Beijing bukan sesuatu hal yang bagus.

.

.

.

Besok adalah ulang tahun Luhan. Besok adalah hari ulang tahun pertama yang ia rayakan bersama kekasihnya. Pria cantik itu tidak putus putusnya mengumbar senyum. Buktinya, dari tadi ia berbicara dengan Nona Chang dengan wajah yang sumringah. Wanita paruh baya itu sampai bergidik ngeri, takut takut sang pimpinan terbentur otaknya saat mereka landing beberapa hari waktu itu.

"Kenapa kau melihatku seperti itu, Nona Chang?"

Akhirnya, Luhan sadar juga tatapan aneh sekertaris utamanya itu. Nona Chang menarik sudut bibirnya lalu menatap Luhan penuh selidik. "Ada apa denganmu Tuan? Kau terlihat sangat gembira."

Luhan menepuk kedua tangannya sambil tersenyum lebar. "Ah tentu saja, hari ini EXO sampai di Paris. Lalu besok setelah mereka perform, aku akan merayakan ulang tahunku bersama Sehun!-ah iya, jangan lupa minta kepolisian paris untuk menjaga area menara Eiffel nanti malam! Aku ada kencan~" Jelas Luhan dengan nada riang. Luhan terlalu yakin kalau Sehun akan menyiapkan surprise yang manis untuknya. Mengingat, semenjak kepergian Luhan ke Paris, mereka belum berkabar sedikit pun. Awalnya Luhan kesal, ia rindu sekali pada Sehun.

Tapi kemudian, tingkat naricisticnya memberikan sebuah kesimpulan yang berhasil membuat Luhan kembali gembira: Sehun mendiamkannya karena ingin membeirkan kejutan.

Manis sekali.

Semoga saja kejutan yang Luhan maksud adalah kejutan yang indah.

ooo

"Baekki. Kita di Paris! waaah indah ya, nanti kau mau kita berjalan jalan kemana?"

"Kemana saja asal berkencan denganmu Chanyeoliiieee!"

Suara sahut sahutan Chanyeol dan Baekhyun sudah menyapa indera pendengaran para member saat mereka menginjakan kaki di bandara Paris. Masing masing tampak bahagia dengan pasangannya.

"Kalau kau sendiri mau kemana Lay?" Suho berkata sambil merangkul Lay yang sedang mengedarkan pandangannya ke sekililing. Wajah Angelic sang leader entah kenapa tersirat memiliki maksud lain.

"Aku mau ke hotel."

"Aku ingin tidur. Lalu kau akan masuk kekamarku seperti biasa. Lalu kita juga bisa melakukan hal itu. Tau kan, yang kau meminta aku untuk membuka mulut sementara kau a-"

"Yayaya. Iya, kita akan melakukannya." Potong Suho cepat cepat sebelum member lain mencuri dengar omongan Lay yang nyaris membuka rahasia mereka.

Kai-yang notabene nya adalah member paling pervert-sudah menempeli Kyungsoo daritadi dan berbisik bisik hal hal ambigu. Namun, perhatian kekasihnya seolah teralihkan saat mendapati sang maknae mereka bertingkah aneh.

"Soo. Uhmm kalau nanti ki-"

Omongan Kai berhenti ketika Kyungsoo tiba tiba melepaskan diri dari rangkulannya dan menghampiri Sehun yang berjalan lesu di barisan paling belakang.

"Sehun?" Kyungsoo menyentuh pundak Sehun, membuat pria albino yang tertunduk itu menghentikan langkahnya.

"Semua baik baik saja?"

Ada perasaan khawatir yang terbersit di bola mata bundar Kyungsoo. Sehun sendiri sebenarnya ingin sekali mengatakan semua pada hyung yang sudah ia anggap seperti eomma nya sendiri. Tapi lidahnya tiba tiba menjadi kelu.

"Ya. Tentu, semua baik baik saja." kata Sehun dengan sebuah senyum yang dipaksakan. Tanpa sadar, member lain yang tadinya sedang berjalan, sekerang sudah ikut berhenti dan menatap Sehun sama herannya.

"Kau pendiam sekali." Baekhyun berkomentar diseberang sana

"Padahal kan kau biasanya norak." Timpal Chanyeol.

Sehun bisa menangkap raut wajah penuh selidik Suho diseberang sana. Maka, pria itu memutuskan untuk tersenyum-setulus mungkin-sambil kembali melangkah.

"Aku hanya lelah setelah perjalanan jauh." katanya. Kemudian, ia berjalan hingga berada di barisan paling depan dan menyumpal telinganya dengan headset.

Untuk saat ini, ia tidak ingin berbicara dulu dengan para hyung nya.

.

.

.

"kau kenapa?" Kai bertanya pertama kali saat mereka selesai dengan latihan dance mereka. Sehun menggeleng. "Biasanya kau manja. Ada apa denganmu Hun." Hyung-partner-in-crime Sehun (Chanyeol) celetuk dari belakang. Si telinga elf tampak sedang meminum air mineralnya dengan nafas tersengal. Dia selalu payah kalau urusan menari.

"Aku tidak apa apa."

"Jika ada sesuatu, ceritakanlah pada kami." Kyungsoo berkata lembut. Sesuatu yang sangat langka terjadi. Sehun hanya menghela nafasnya lalu memebrikan sebuah senyum terbaik yang bisa ia ukir sekarang.

"Aku hanya gugup. Ini konser besar." Sehun berbohong. Dia tidak mungkin akan membeberkan ancaman Tuan Xi tepat saat EXO akan menggelar konser world tour mereka. Suho akan mati berdiri. Diikuti oleh member lain.

.

.

.

Konser itu berjalan lancar, meskipun Sehun berusaha mati matian agar dirinya tetap fokus. Agar semua hal yang mengganggu pikirannya tidak mengacaukan konser ini. Setiap saat mereka kembali ke backstage untuk berganti wardrobe atau pun minum, Sehun akan terlihat termenung meskipun nafasnya tidak beraturan. Bahkan, karena tidak fokus, ia sempat salah mengambil properti yang seharusnya milik Chanyeol.

Hal itu semakin membuat para member lain menyadari bahwa ada hal lain dibalik kegugupan Sehun.

.

Di akhir Konser, Suho memberikan ucapan terima kasih dan salam terakhir. Meskipun mereka berada di Paris, leader EXO itu tetap menggunakan bahasa Korea yang nantinya akan diterjemahkan langsung oleh staff yang sudah disediakan. Para member berjejer disamping Suho. Melambai, tersneyum, tertawa bahagia.

Sehun benar benar harus kerja keras untuk tetap tersenyum saat itu.

"Aku ingin berterima kasih pada semua EXO L yang sudah menyempatkan diri menonton konser kami. Aku tidak percaya respon kalian akan se-luarbiasa ini. Kami EXO, sangat bersyukur atas dukungan kalian. Semoga, setiap saat kami bisa menjadi lebih baik dan membuat kalian bangga."

"EXO L, saranghaja!"

Dan entah kenapa, hal itu membuat Sehun menitikkan air mata. Fans dan member mungkin mengira, hal itu adalah bentuk keharuan yang menyelimuti atmosfer venue konser.

Tapi sebenarnya, ada sebab lain.

.

.

"Luhan?" Sehun mengerjap kaget saat mendapati Luhan dengan pakaian rapih sudah berada di ruang ganti EXO. Ia sedang duduk disofa besar dan langsung berdiri ketika para member menyeruak masuk kedalam ruangan. Yang lain hanya membungkuk sopan-meskipun sama terkejutnya-otomatis ereka bergeser, memberi jalan untuk Sehun.

"Hai Sehun. Selamat atas konser pertama mu di Paris. Kau tampil sangat hebat!" Luhan memberikan seonggok buket bunga besar dengan kartu ucapan 'congratulations EXO' tak lupa, dia juga mmeberikan bertumpuk tumpuk makanan yang disiapkan di ruang ganti.

Sehun menatap wjah Luhan yang berbinar cerah

"Terima kasih Lu."

Senyum Luhan perlahan memudar, ia menyentuh rahang Sehun dengan tatapan khawatir.

"Kau terlihat lebih kurus. Ada apa denganmu?"

"Ah, ini hanya karena aku sering latihan. Mungkin aku terlalu lelah."

"Kau harus menjaga kesehatanmu. Jangan terlalu memaksakan diri. Kau membuatku khawatir."

"Thanks Luhan. Kau juga harus tetap sehat ya."

Entah kenapa, ada suasana canggung diantara keduanya dan itu bisa dirasakan dengan sangat oleh Luhan.

"kau tidak merindukan aku ya?" kata Luhan sambil mempoutkan bibirnya. Biasanya, Sehun akan membalasnya dengan godaan. Seperti "memangnya kau berharap aku rindukan?" atau "cih. Siapa juga yang rindu padamu" tapi ketika Sehun menjawab dengan sebuah raut wajah serius yang ganjil, Luhan menyadari memang ada hal yang aneh.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Sehun. Wajahnya datar, tampak tidak begitu penasaran. Luhan menatap kekasihnya lekat lekat.

"Kau… terlihat.. tidak seperti biasanya."

Sehun menyunggingkan sebuah senyum

"Aku hanya lelah."

Tapi senyum itu tdak menenangkan Luhan. Tidak seperti senyum Sehun biasanya. Luhan hanya bisa mengangguk mengerti.

"Baiklah. Aku akan membiarkanmu beristirahat."

Luhan baru saja berbalik dan ingin keluar ruangan saat Sehun kembali memanggilnya.

"Luhan?"

"Ya?"

"Bisakah kita bertemu nanti malam? Jam 11?"

"Dimana?"

"Tempat yang ingin kau datangi, menara Eiffel.?"

Ada jeda beberapa detik. Wajah Sehun yang terlalu datar membuat Luhan tidak berani mengharapkan sesuatu yang selama ini ia impikan di menara Eiffel. Entah kenapa, dari intonasi ajakan Sehun ada sesuatu buruk yang tersirat disana. Tapi Luhan mencoba mengenyahkan pikiran itu. Sebisa mungkin ia berfikir bahwa tingkah aneh Sehun hanya karena pria itu kelelahan.

Luhan akhirnya memberikan senyum terbaiknya. "Ah tentu saja. Aku akan menunggumu disana."

"Baiklah, sampai bertemu disana."

Dan Luhan pun menghilang dibalik pintu keluar. Meninggalkan Sehun yang menatap pintu itu dalam diam.

Sementara, pegangan nya pada buket bunga itu mengeras.

.

.

.

Sesampainya di Beijing, Kris langsung dibawa ke gedung Xi China Entertainment. Para pesuruh yang mengantarnya bahkan tampak tidak berminat untuk memberi tahu apa yang terjadi. Pewaris kedua XI China Ent pun hanya bisa terus menggenggam ponselnya. Berharap Luhan dengan ajaib mengangkat panggilan atau pesan yang dari tadi berkali kali ia kirim.

Dalam hati, Kris berdoa kakaknya baik baik saja.

.

.

.

Sudah berhari hari Luhan memimpikan ini. Duduk disebuah kursi taman di dekat menara Eiffel. Disaat hari ulang tahunnya. Dan bersama kekasih nya yang sangat ia cintai. Sudah berhari hari pula Luhan melongok kearah kalender, sekedar memastikan waktu sudah berganti agar lebih cepat menuju hari ulang tahunnya. Luhan bukan lah anak kecil yang akan semangat di hari ulang tahun. Dia sudah menginjak kepala dua sekarang dan sudah dua dekade lebih ia menjalani hidupnya.

Tapi ulang tahun ini benar benar berkesan. Tahun ini, Luhan sangat menantikan tanggal 20 April. Terbukti dari kedatangan pria itu yang lebih cepat satu jam dari waktu yang ditentukan. Luhan sudah duduk dengan manis dibangku taman dari jam 10 malam. Sesekali ia menatap jam tangan mahalnya, berharap jarum jam menunjukan pukul 11 malam dan Sehun akan tiba.

Saat itu sudah pukul 11:15, dan Sehun belum juga muncul. Luhan sudah ingin menelfon kekasihnya sampai tiba tiba sosok jangkung familiar terlihat mendekat kearahnya. Bibir Luhan tertarik membuat Senyuman.

"Maafkan aku terlambat." kata Sehun ketika pria itu sudah tiba. Ia memberikan pelukan dan kecupan singkat pada Luhan yang menyambutnya dengan senyum merekah

"Ah tidak apa apa. Kau pasti lelah."

Keduanya lalu duduk diatas bangku tersebut. Senyum Luhan masih saja mengembang, tetapi berbeda dengan Sehun yang masih datar seperti biasanya.

"Aku tidak akan berlam alama. Udaranya dingin. Aku tidak mau kau sakit." Kata Sehun. Luhan mengangguk patuh. Sehun menggeser tubuhnya agar bisa menatap wajah Luhan secara penuh.

"Luhan. Maaf kan aku jika beberapa hari terakhir, aku jarang menghubungimu. Ada… beberapa hal yang harus kuselesaikan."

"Iya aku mengerti." Senyum manis Luhan membuat jantung Sehun mencelos. Pria itu tertunduk sebelum kembali melanjutkan omongannya.

"Lu."

"Hm?"

Sehun mendongak, menatap Luhan yang sedang memandangnya dengan sorot mata hangat penuh cinta. Namun, dibalas dengan pandangan kosong dingin sedingin udara malam bersalju itu.

"Aku pikir.. kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini."

Luhan merasa, tubuhnya lemas seketika.

.

.

.

Ada yang aneh dengan suasana hari itu. Bahkan, jika boleh jujur, sejak kedatangannya ke Beijing, semua memang sudah aneh. Kris ingin sekali menculik salah satu orang kepercayaan perusahaan dan mengintrogasi mereka di ruang tertutup. Terlalu banyak hal yang ingin ia tanyakan. Ini benar benar tidak wajar. Ada sesuatu yang sedang terjadi saat ini. Perasaan Kris mendadak tidak enak.

Para pesuruh mengantarkan Kris kesebuah ruangan besar, ruangan yang Kris hafal luar kepala itu adalah ruang meeting besar dimana jejeran direksi membahas hal penting dan rahasia. Kris jarang masuk kesini, hanya orang orang dengan posisi tertinggi yang bisa masuk kesana.

Kris pikir, dia akan disambut oleh kakaknya dengan senyum mengejek andalan seperti biasa. Tetapi, ia malah mendapati orang orang tua berdasi ketat dan sang Ayah yang duduk di ujung meja.

"Selamat pagi Tuan Muda Yifan" Tuan Xi menyapa dengan ringan. Membuat Kris sedikit tergagap ditempatnya berdiri.

"Pagi, Ay-maksudku, Tuan Besar Xi."

"Selamat datang Puteraku. Duduklah. Kita akan membicarakan hal penting." Tuan Xi mempersilahkan Kris duduk disebuah kursi, tepat berhadapan langsung dengan Ayahnya sendiri. Kris menahan gumpalan di kerongkongannya.

"Di-dimana Tuan Luhan?" matanya bergerak gerak mencari keberadaan Luhan yang mungkin saja terselip disuatu tempat.

"Luhan tidak akan mengikuti rapat ini. Yang kami butuhkan sekarang adalah dirimu. Jadi segeralah duduk karena aku tidak ingin membuang buang waktu." senyum ramah Tuan Xi memudar dan digantikan oleh intonasi memerintah.

Dan hal itu membuat Kris semakin yakin, bahwa Luhan dalam masalah

.

.

.

.

BGM: Yiruma-Love Hurts

"Hun? Apa… yang kau bicarakan?" Suara Luhan terdengar lirih, matanya yang hangat sekarang meredup. Sehun menelan ludahnya sebelum melanjutkan. Sebisa mungkin ia mempertahankan dirinya agar tidak goyah. Dia harus melakukan ini sebaik mungkin.

"Aku merasa, aku seharusnya lebih fokus pada pekerjaanku Luhan. Menjalin hubungan asmara disaat groupku masih seumur jagung tampaknya bukan hal bijak. Aku tidak ingin karierku terbengkalai."

Luhan merasa kepanikan mulai menjalari tubuhnya, pria itu menjilat bibir mungilnya dan kedua matanya mulai bergerak gerak gelisah.

"Tapi… tapi aku bekerja dengan perusahaanmu. Kalau kau takut kita tidak bisa memiliki waktu luang, tenang saja. Aku siap ikut kemanapun konsermu. Mengikuti jadwalmu. Me-"

"Luhan." Sehun menandas omongan Luhan dengan nada dingin. Nada yang membuat Luhan seperti orang asing. Luhan memberanikan diri untuk mendongak dan menatap Sehun. Meskipun hatinya sedikit takut.

"Tidak kah kau mengerti? Itu yang tidak aku inginkan!"

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak mau terganggu oleh hubungan ini."

Luhan merasa matanya memanas, hidungnya tergelitik dan dadanya berdenyut nyeri. Yang ia tahu, pandangannya mulai mengabur sekarang.

"Kenapa Sehun.. kenapa? Apakah aku melakukan kesalahan? Apa aku mengecewakanmu? Aku mohon. Jelaskan padaku. Setidaknya aku bisa mengubah itu. Aku bisa introspeksi di-"

"Tidak ada." lagi lagi, Sehun memotong omongan Luhan yang terdengar sangat lirih. Seperti seorang anak yang minta diampuni atas kenakalannya. Sehun sendiri, merasakan hatinya ditusuk ribuan pisau saat terus memperlakukan Luhan seperti ini. Tangan Sehun mengepal. Sekedar untuk menahan emosinya.

Sehun memejamkan mata. "Kau tidak ada salah apapun." dengan sebuah helaan nafas, ia kembali membuka matanya dan membuang pandangannya ke pemandangan Eiffel di depan.

"Karena awalnya, mendekatimu hanyalah sebuah permainan bagiku."

Tidak Luhan, aku mencintaimu

"Kau tau, seperti menantang kemampuanku apa kah aku bisa menaklukan boss menyebalkan dan sok sepertimu."

Aku benar benar mencintaimu!

"Aku hanya bermain main dengan mu Luhan. Tapi ternyata kau menganggapnya terlalu serius."

Tidak! aku mencintaimu segenap hati!

Hening seketika. Baik Luhan dan Sehun terdiam dalam sebuah atmosfer yang menyakitkan. Pemandangan Eiffel yang indah bahkan tidak bisa mengalihkan kecanggungan mereka. tidak bisa mengobati rasa sakit yang bersemayam dihati keduanya.

"Tatap mataku." Luhan berkata dengan suara bergetar. Tenang, namun sarat dengan emosi yang dipendam. Dengan berat hati, Sehun menoleh dan menatap Luhan lurus lurus. Menampakkan raut dinginnya yang Luhan benci.

"Jadi yang kau katakan kau akan menemaniku, bersamaku sampai kapanpun, itu hanya bohong?"

"Iya."

"Kau tidak pernah mencintaiku seperti yang kau bilang?"

"Iya."

"Aku hanyalah tidak lebih dari sebuah permainan bagimu?"

"Iya."

Luhan menggigit bibir bawahnya agar tangisannya tidak pecah. Matanya sudah berkaca kaca daritadi, dan ia menahan diri agar tidak menangis. Ia masih berharap bahwa ini hanyalah sebuah kejutan dari Sehun untuk ulang tahunnya. Ia masih berharap bahwa ini hanya tipuan belaka.

"Katakan sejujurnya. Ini hanya lelucon kan? Ini hanya akal akalan agar aku menangis di ulang tahunku kan? Ini bagian dari rencanamu kan Sehun? kau tidak bermaksud begini kan?" Luhan menyempatkan diri untuk tertawa hambar. Sekedar menghibur dirinya dan membuat otaknya untuk tidak berfikir macam macam. Tapi Sehun tidak tertawa. Pria itu bahkan tidak bergeming sedikit pun.

"Akan aku katakan sejujurnya."

Sehun menatap tajam Luhan tanpa berkedip sekalipun.

"Ini bukan lelucon. Ini bukan akal akalanku. Ini bukan bagian dari rencana ulang tahunmu. Karena Demi Tuhan Luhan, aku tidak perduli akan hal itu. Aku bersungguh sungguh. Aku tidak mencintaimu. Tidak pernah memiliki perasaan lebih padamu. Dan aku hanya ingin fokus pada karier ku. Tolong. Anggap saja beberapa bulan kemarin tidak pernah terjadi." Sehun berkata tegas dengan rahang mengeras. Membuat Sehun yang berada didepan Luhan tak ubahnya sebuah lelaki bajingan yang pernah diasumsikan sang Ayah beberapa waktu lalu.

Sontak, Luhan langsung bangkit berdiri dari kursinya karena emosi.

"Kau memintaku untuk melupakannya?! Setelah apa yang kita lakukan?! Menciumku! Meniduriku! Melakukan hal yang manis manis denganku lalu kau membuangku seperti ini! kau brengsek!" makian itu akhirnya keluar juga. Badan Luhan bergetar. Entah karena emosi atau kedinginan. Mungkin karena sakit hati.

Sehun mendongak, membuat tatapan mereka menjadi sejajar. Ia memajukan tubuhnya agar bisa berbicara lebih jelas.

"Aku memang pria brengsek Luhan. Ayolah. Jangan mempermasalahkan sex terlalu berlebihan seperti itu. Kau bukan anak gadis yang aku rebut keperawanannya"

Lu. Tolong jangan begini, kau menyakitiku.

"Tapi memang kau yang merebut keperawananku!" Luhan meraung. Nafasnya memburu dengan emosi di ubun ubun.

"Tapi kau bukan seorang gadis!" Sehun berdiri, membuat Luhan kembali menjadi pihak yang harus mendongak. Keduanya diam. Hanya terdengar nafas Luhan yang memburu sementara Sehun yang masih mencoba membangun pertahanan diri sekuat tenaga. Ia ingin sekali meraup Luhan kedalam pelukannya dan menghujaninya dengan kata maaf. Tapi dia tidak bisa.

Akhirnya Luhan mengangguk lemah. Ia tertawa remeh dengan sebuah senyum getir yang membuat Sehun semakin ingin menarik Luhan dalam dekapannya.

"Aku mengerti." kata Luhan. Tawanya terdengar dingin, sarat akan kekecewaan. Sehun menatap pria yang lebih pendek didepannya dengan tatapan penuh arti.

Luhan mendongak. "Terima kasih. Untuk semuanya."

Raut wajah Luhan membuat Sehun reflek melangkah maju. Ia hanya ingin menyentuh Luhan

"Lu-"

"Don't" Tapi luhan mengangkat satu jari telunjuknya sambil mundur satu langkah. Gestur agar Sehun diam di tempatnya. Gestur agar Sehun tidak mendekatinya, seolah pria itu adalah hal paling menjijikan.

Luhan menatap Sehun dengan tatapan kosong

"Don't say a word. I had enough." dan di detik kemudian, Luhan membalikan badannya dan berlari menjauh.

Sehun menoleh kearah sebuah mobil yang terparkir tak cukup jauh dari sana. Mata nya menatap tajam dengan aura membunuh yang kentara.

"Well done. Kau menepati omonganmu" Sebuah suara terdengar dari transmitter yang terpasang ditelinganya. Lalu, mobil itu pun pergi.

Meninggalkan Sehun sendirian di dekat menara Eiffel dengan air mata yang perlahan jatuh ke pipinya.

"Maafkan aku Lu…."

ooo

"Selamat pagi Tuan Muda." Nona Chang menyapa Luhan yang sudah siap di ruang TV apartemen nya. Pria itu tampak seperti mayat hdup dengan wajah lesu dan lingkaran mata hitam yang menghiasi mata rusanya.

"Ayo kita berangkat. Aku sudah siap." kata Luhan sambil bangkit dengan gontai.

"Mengenai hal itu, ada yang ingin saya sampaikan Tuan Muda."

Luhan terdiam ditempatnya dengan sebelah alis terangkat.

"Ada apa? Apa private jet kita sedang bermasalah?"

"Bukan."

Nona Chang menghampiri Luhan dan memberikannya sebuah kertas yang berisikan pernyataan dan tanda tangan sang Ayah.

"Sehubungan dengan perintah yang diberikan oleh Tuan Xi. Anda akan menjalani hukuman atas tindakan tidak patuh dan mengencani artis agency bernama Oh Sehun. Beliau meminta anda untuk menetap di Paris dan tidak pergi dari Prancis sampai waktu yang ditentukan." Kata Nona Chang. Sukses membuat Luhan terbelalak lebar

"A-apa! Tapi hubungaku dengan Sehun… aku sudah tidak bersamanya lagi." ada sebuah jeda yang menyakitkan saat melanjutkan kalimat terakhir.

"Tidak ada bantahan Tuan Muda. Ini perintah langsung dari Tuan Xi."

"APA APAAN INI! KAU TIDAK BISA MELAKUKAN INI! AKU AKAN MENGHUBUNGI AYAH!" Luhan membuang kertas itu dan bersiap merogoh sakunya sampai suara Nona Chang kembali membuatnya terdiam

"Alat komunikasi anda sudah kami blockir. Anda tidak diperkenankan untuk menghubungi orang lain kecuali tim yang akan menjaga anda selama di Prancis."

"INI TIDAK ADIL!" Luhan membanting ponselnya begitu saja.

"Aku baru saja ditinggalkan orang yang aku cintai, lalu sekarang keluargaku melakukan ini!" pria itu lalu jatuh terduduk diatas kursi, ia mengusap kasar wajahnya. Emosi yang sudah mati matian ia tahan sejak kemarin malam, akhirnya meledak juga.

Cairan panas itu akhirnya keluar dari mata Luhan tanpa bisa terbendung lagi. Pria itu menangis. Terisak dengan hebat.

"Kenapa Nona Chang! What I did so wrong?! Apa salahku!?" Ia menatap Nona Chang dengan perasaan terluka. Membuat wanita yang berdiri didekatnya itu mau tak mau merasakan hal yang sama.

"Selama ini aku selalu menjadi anak yang berbakti. Tidak pernah membantah. Lalu hanya karena sebuah kesalahan seperti ini, hanya karena aku jatuh cinta, aku diasingkan! Kenapa Ayah tega padaku?!"

"Tidak ada yang menyayangiku!"

Suasana ruangan itu hanya didominasi oleh isak tangis Luhan. Dengan sebuah helaan nafas, Nona Chang menghampiri Luhan dan mengusap pundaknya lembut.

"Luhan…"

"Aku tau ini berat untukmu. Tapi aku juga tidak bisa membantumu menghadapi Tuan Besar."

Ia mendudukan dirinya disamping Luhan, membawa putra sulung keluarga Xi itu kedalam pelukannya. Membuat Tangis Luhan semakin pecah.

"Aku mohon Lu. Jalanilah hukuman ini. Hanya itu satu satunya cara agar kau bisa kembali. Jika kau membantah, Tuan besar bisa melakukan hal yang lebih buruk."

Bekerja untuk Luhan selama bertahun tahun, membuat hubungan mereka bukan hanya sebatas Sekertaris utama dan atasan. Luhan anak yang baik dan Nona Chang tahu itu. Mereka sudah menganggap satu sama lain seperti saudara. Maka dari itu, Nona Chang mengerti sekali apa yang dirasakan Luhan saat ini. Namun, dia tidak memiliki kuasa apapun untuk membantu Luhan 'melawan' hukuman Ayahnya.

"Kau tidak sendiri. Ada aku yang menemanimu." Nona Chang berkata kemudian. Mencoba menenangkan sang pewaris utama yang sudah ditinggalkan oleh orang orang yang dia percaya.

.

.

.

"Apa?! Tuan menunjukku sebagai pimpinan project ini?!" Kris trekejut luar biasa. Baru kemarin ia kembali ke Korea, menjadi Mahasiswa biasa yang menjalankan hukumannya, lalu tiba tiba sang Ayah memanggilnya kembali dan memberikan jabatan tinggi untuknya. Apa dia sedang bermimpi?

"That's what I said." Tuan Xi berkata dengan senyumannya. Kris berdehem, mencoba mengatur kembali degub jantungnya yang tidak normal.

"Lalu bagaiman dengan Tuan Luhan? Dia lah yang mengepalai project ini kan?" Tanya Kris hati hati.

"Luhan sedang mengurus urusan penting. Dia tidak akan kembali dalam waktu dekat. Oleh karena itu, aku harus mempersiapkan penggantinya. Mengingat kau lah yang paling dekat dengan Luhan selama project ini. Kurasa, kau pilihan yang tepat."

Ada yang aneh dengan cara Tuan Xi menjawab Kris. Pria itu tidak menatap mata Kris dan sesekali melirik Kris dengan tatapan ganjil. Sebuah gestur yang Kris hafal sekali bahwa sang Ayah sedang berbohong ataupun menutupi sesuatu.

Kris terdiam dengan pikiran pikiran di benaknya. Jika ia ingin tahu kebenarannya, Jika ia ingin tahu apa yang terjadi dengan Luhan, dan Jika ia ingin menyelamatkan Luhan, maka satu satunya cara adalah ikut terlibat didalamnya. Mencari informasi secara diam diam. Dan itu hanya bisa ia lakukan jika Kris memiliki posisi dalam perusahaan tersebut.

"Bagaiman, tuan muda Yifan?" Suara Tuan Xi membuyarkan lamunan Kris. Putra bungsu keluarga Xi itu pun mendongak. Jika ia ingin berhadapan dengan orang licik, maka ia juga harus menjadi licik. Dia harus berpura pura dan ber-akting seolah ia masih seperti anak bodoh yang tidak menyadari apa apa.

Sebuah smirk tercipta diwajah tampan Kris,

"Dengan senang hati." dan Kris pun meraih penanya lalu membubuhkan tanda tangannya di surat penyerahan jabatan yang tadi disodorkan kearahnya.

Xi Yi Fan, akan menjadi aktor untuk menghadapi Ayahnya sendiri.

.

.

.

.

.

TBC

A/N:

Jadi ceritanya si Sehun rambutnya panjang dan dia pake Coat jadi transmitternya ga keliatan. WKWK *maksa*

Maapkeun atas lambatnya Update ini. Semoga kalian masih sabar baca cerita ini yang tinggal 7 Chap lagi.

Thank you for reading, aku tunggu reviewnya :*

-Moza