Disclaimer; Naruto © Masashi Kishimoto
"Hanya sebuah fanwork, tidak mengambil keuntungan material apa pun dalam pembuatannya."
Memoirs
Kakinya berhenti di tengah perjalanan melewati koridor.
Dari lapangan terdengar suara bola berbenturan dengan semen berkali-kali sampai membuatnya menoleh. Hanya saja Sasuke tidak mengerti kenapa ia melakukan itu atau kenapa ia merasa kakinya harus berhenti. Di sana hanya ada sekumpulan siswa berseragam olahraga.
Tepatnya seragam basket.
Memang ada yang menarik atensi Sasuke; yaitu fitur lelaki tan yang sangat ia kenal. Pria itu tengaj menggenggam bola oranye dan memantulkannya di lantai sambil berlari. Dia adalah Naruto. Si pirang berisik. Sasuke cukup terpukau melihat tubuhnya yang tinggi dan atletis. Dari kejauhan warna matanya tetap terlihat biru, rambut tetap mencolok, juga kulit eksotis menawan. Well, sebenarnya pria itu tak buruk juga dalam hal penampilan.
Minusnya hanya sifat yang urakan dan berisik.
Oh, dan Sasuke baru tahu kalau Naruto masuk klub basket.
Ia mendesah, lagi-lagi berpikiran tentang si pirang itu seolah-olah menganggapnya orang yang dekat, padahal tidak. Naruto baginya hanya orang asing yang masuk dalam kehidupannya yang damai untuk mengacaukan segalanya. Bukankah itu terdengar mengerikan?
Selama ini Sasuke tidak memedulikan siapa pun yang merusak mood-nya.
Kenapa ia harus repot?
Apa ada perubahan signifikan dari toleransi hatinya untuk hal semacam ini?
Dipikir-pikir tidak juga.
Sasuke mengangkat bahu, memutuskan untuk kembali kelas dan melupakan apa yang dipikirkannya. Saat itu seorang gadis yang bertugas sebagai bendahara kelasnya sedang berkeliling membagi-bagikan kertas persegi empat yang mirip semacam kupon. Sasuke diberi satu.
"Klub basket kita akan bertanding melawan tim sekolah lain. Pertandingannya jam tiga."
Hm?
Dahi Sasuke mengernyit. Bukan karena kebingungan atas penjelasan tersebut, akan tetapi untuk hal di luar pekerjaannya pun gadis itu tetap saja berwajah kaku dan tak bersahabat. Sasuke tak heran kenapa ia diangkat sebagai anggota struktur kelas bagian keuangan.
Siapa namanya? Oh, Temari.
"Kalau tidak berminat untuk ikut, kembalikan tiket pada kotak di meja itu." Temari menunjuk kotak di meja guru. Lalu pergi.
Basket, ya?
Tiket itu digenggam Sasuke hati-hati. Imajinasinya menggambarkan siluet wajah Naruto tersenyum saat ia menatap benda itu.
"Tsk."
Ingin dirobeknya, tapi Temari mengawasi gerak-gerik seisi kelas.
Langkah kaki membawanya bangkit menuju meja guru. Ia tak banyak berpikir lagi dan ragu karena ia tak akan bisa datang. Tangannya terjulur dengan sebuah tiket yang siap jatuh ke kotak, tapi kemudian terhenti.
Tiket itu bersiluet Naruto; tubuh berbahu lebar, atletis dan basah keringat.
Brengsek!
Tiket jatuh. Sasuke bergeming beberapa detik. Lalu tiket itu diambil lagi cepat-cepat.
Akan tetapi ia kembali kalah dengan egonya, nalurinya berkata untuk datang, akan tetapi otak bertanya-tanya apa keuntungannya untuk datang ke pertandingan? Kehadirannya tak akan merubah apa pun; jika sekolahnya ditakdirkan menang maka mereka akan menang, begitu juga sebaliknya.
Egonya benar.
Tiket bersiap untuk dilempar lagi, dan kali ini ada yang memegang tangannya. Sasuke mendongak. Melihat Naruto di depannya tengah memicingkan mata dengan ekspresi serius.
"Kau berniat untuk tidak datang?" katanya.
Sasuke menarik tangannya dari genggaman pria itu, namun gagal. Kemudian ia berusaha menarik lagi hanya untuk mendapatkan hasil yang sama. Sebaliknya tangan tan itu menariknya ke arah berlawanan sampai ia oleng ke depan dan menggunakan tangan lain untuk menopang tubuh di meja.
Wajah mereka hampir bertabrakan.
"Kau harus ikut!" suruh Naruto cuma-cuma.
Sasuke berpikir untuk menarik tangannya lagi, tapi pasti akan percuma. Beberapa orang tengah menatapnya dan ia tahu reputasinya sudah menjadi sangat buruk sejak mengenal Naruto.
"Lepaskan tanganku. Menjijikkan."
Ekspresi Naruto yang awalnya serius langsung luruh.
Tangannya dilepas. Sasuke pikir Naruto marah padanya atau paling tidak lelah untuk mengganggunya. Namun saat ia mendongak, ia melihat pria itu cemberut.
"Aku ada les tambahan." Sasuke menyambar cepat.
"Ini Rabu, Sasuke. Jadwal les kita hari Senin."
Sasuke melempar tiket ke kotak, memberikan ekspresi letih. "Tidak ada alasan bagiku untuk bermain saat tidak ada les."
Naruto mengerang, mendekat ke arah Sasuke dan menarik lengannya dengan ekspresi menyebalkan.
Tidak ada gunanya, pikirnya. Walaupun ingin, Sasuke tidak bisa berbuat banyak. Maka ia berbalik, melepas tangan Naruto dengan sikap lebih pelan dari sebelumnya.
"Kehadiranmu sangat berarti, Teme." Naruto tak habis akal. "Aku butuh semangat untuk menang."
"Kalau begitu menanglah."
"Apa gunanya kalau tidak ada kau?!"
"Aku tidak bisa—"
"Kau bisa!"
Tangan Sasuke mengepal. Naruto memang tak pernah mengerti kesulitan orang lain. Sasuke salah menilai, pria itu egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Ayolah, Sasuke."
Sunyi senyap.
"Jangan terlalu kaku dengan hidupmu. Kau butuh bermain sekali-kali."
Tapi kalimat itu membuat Sasuke marah. Lantas ia berbalik dan menendang perut Naruto sampai ia tersungkur.
Semua orang melihat mereka.
"Aku tidak butuh bermain!"
Sasuke kembali ke bangku. Duduk. Kepalanya panas. Tatapannya benar-benar berubah dingin. Atensi warga kelas langsung menjauh darinya.
Bagus.
Menurut Sasuke mungkin semua orang berpikir; sangat menyebalkan melihat si es batu marah.
"Aku akan bertanding, kau harus melihatnya." Naruto bangun. "Aku ingin kau tahu kenapa aku harus memenangkan pertandingan ini."
Sasuke membuang muka. Tak acuh.
Semuanya hanya emosi. Itu adalah akibat dari seseorang yang tak mengerti bahwa waktu sangat berharga baginya. Acara bermain beberapa hari sebelumnya sudah membuat nilainya sedikit menurun dan mendapat ancaman tegas sang ayah.
Itu artinya tidak ada main lagi.
"Semua orang berniat mencapai sesuatu karena sebuah alasan, kan?" Naruto mendekatinya. "Aku harus menang karena sebuah alasan juga."
Oh, yeah, tetap saja tidak ada hubungannya dengan Sasuke kalau ia tidak datang ke sana.
Naruto bergeming. Perutnya nyeri kena tendangan Sasuke. Ia diam-diam melirik pria itu.
Merasa bersalah.
"Aku membuatmu marah?" tanya Naruto dengan nada yang masih tengil.
Tidak dijawab.
"Payah sekali. Hari ini 'kan ulang tahunku!" katanya lagi.
Lihatlah siapa yang baru saja mengubah nada seriusnya menjadi tidak berdosa seperti itu. Apa ia lupa telah melukai hati Sasuke?
Dan ulang tahun?
Hari ini tanggal 10 Oktober ...
Sasuke menarik napas. Kalau saja ia percaya, tapi ia berkata, "Selamat ulang tahun, Dobe."
"Hm? Dobe?"
Mungkin Sasuke akan mengalah sedikit. Selama ayahnya tidak tahu. Akan tetapi—
"Lihat saja nanti."
Ia tidak berjanji.
"Berjuanglah untuk kemenanganmu."
Kenapa pula ia tak bisa marah lebih lama terhadap pria itu?
tbc ...
