Number Nine

Kisah klasik mengenai kehidupan asrama siswa badung yang kemudian menjadi persahabatan yang indah. Ada cinta, harapan, tawa, kesedihan dan juga kebahagiaan.

YAOI, SMUT, PORNOGRAPHY a Little, OOC, and Typo.

Pairing : Chanbaek (Main Pair), Kaisoo, Hunhan, KrisTao, dll.

Main Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Mr. Han (OC).

Do Kyungsoo, Kim Jongin, Oh Sehun, Park Luhan (Marga saya ganti), Suho, Kris Wu, Kim Minseok, Chen, Tao, dan Lay.

Genre : Humor, Roman, drama.

Warning : Terinspirasi dari karya, Anthony Buckeridgeyang brilliant, tapi cerita sepenuhnya milik saya. No to Plagiator!

.

.

.

Semua orang punya masa lalu.

Tinggal bagaimana kita bisa menyikapinya. Menjadikannya sebagai pemanis; atau tetap bertahan pada masa lalu dan tetap berdiri di titik itu.

Lalu, setelah ini, mana cara yang kau pilih,

Park Chanyeol?

.

.

Mr. Han tengah bersantai. Ia memanfaatkan waktu luangnya untuk menikmati secangkir kopi di salah satu kedai kopi yang ada di Jepang. Ia sedang menyusun daftar kunjungan-tiket dan lain sebagainya. Tentu saja dibantu dengan Mr. Kim yang lemah lembut. Mereka memang kompak, meskipun watak mereka berbanding terbalik, tapi mereka sangat dekat satu sama lain.

Lonceng berbunyi. Pertanda bahwa ada pengunjung yang masuk ke kedai. Seorang wanita muda berwajah menarik, mengenakan baju dress berwarna coklat, masuk sambil mendorong kursi tepat di sebelah Mr. Han. Wanita itu menyapa Mr. Han dan Mr. Kim dengan pandangan ramah.

"Anda kelihatan lelah sekali, Nonna Song," kata Mr. Kim menyambut kedatangan wanita itu. "Wajah Anda terlihat benar-benar lelah. Apa yang Anda lakukan?"

Nonna Song menghela nafas. Mengacuhkan pertanyaan Mr. Kim untuk kemudian beralih pada Mr. Han yang masih berkutat pada urusannya.

"Saya tidak yakin apakah Anda pantas minum secangkir kopi, Mr. Han," kata Nonna Song menyindir. "Enak-enak duduk di sini, sementara Pak Choi yang malang kerepotan mengurusi anak-anak spesial itu."

Mr. Kim tertawa. "Jangan lupa, saya pun kadang-kadang berurusan dengan mereka!"

"Yah, tapi lihat bagaimana Mr. Choi yang tampan begitu kerepotan mengurusi mereka. Apalagi anak-anak itu hampir seluruhnya terkena mabuk masal yang menggemparkan," kata Nonna Song dengan nada sebal.

Mr. Kim hanya tertawa mendengar ocehan gadis cantik itu. Sedangkan Mr. Han menepuk keningnya dengan perasaan cemas. "Jangan bilang, mereka berbuat ulah lagi?"

"Mereka tidak berbuat ulah Mr. Han, tapi yang jelas si Byun itu adalah sumber keributan teman-teman sekelasnya yang lain."

"Bukankah kita semua sudah kebal dengan tingkahnya?" tanya Mr. Kim santai. Dia meminum cangkir tehnya yang masih panas. Mulai merencanakan liburan indahnya di Jepang yang tinggal beberapa hari lagi.

"Kuharap si tampan Choi itu bisa menjaga mereka dengan baik. Aku khawatir kalau-kalau mereka tersesat dan sebagainya. Membayangkannya saja, kepalaku sudah pusing."

Tak lama setelah itu, pintu kedai dibuka kembali. Kali ini bunyinya seperti gemuruh sekawanan bison berlari menuju kubangan tempat minum. Bunyi itu menandakan bahwa anak-anak kelas dua-sembilan sedang menuju kemari. Atau tepatnya, hanya beberapa saja yang kebetulan dipanggil oleh Mr. Han karena membutuhkan tenaga mereka.

"Wow, santai saja, anak-anak!" Mr. Kim melindungi cangkir teh dan roti-roti coklatnya dari kawanan bison yang pertama-tama dilihatnya. Mereka itu; Kyungsoo, Jongin dan Tao tampak begitu menginginkan kue-kue coklat Mr. Kim.

"Ini, ada tugas untukmu, Kyungsoo," kata Mr. Han sambil menyerahkan daftar yang sudah disusunnya ke tangan anak itu. "Pasang daftar ini di bus kalian dan suruh mereka tidak memprotes apapun. Suka atau tidak suka, kamar hotel tidak bisa diganti-ganti lagi!"

"Tidak bisa diganti-ganti, ya, Pak?"

"Tidak!"

"Anda yakin, Pak?"

Mr. Han melotot. "Kau kira kenapa aku mesti susah-susah menjelaskan padamu kalau memang aku tidak yakin dengan apa yang ku ucapkan."

Kyungsoo mengangguk-ngangguk paham.

"Ya, Pak, serahkan saja pada kami."

"Dan jika ada yang memprotes, kau yang akan aku salahkan," kata Mr. Han lagi santai. Ia sudah menyiapkan jurus-jurus jitu jika memang anak-anak konyol ini berbuat ulah terkait dengan kamar hotel mereka.

"Ya, Pak, tentu saja, Pak."

Kyungsoo memandang lembaran-lembaran kertas yang ada di tangannya sekilas. "Bolehkah saya minta lem untuk memasangkannya di bus, Pak?"

"Minta pada Mr. Choi sana!" kata Mr. Han lagi, kali ini dengan nada yang keras. Bukan maksudnya untuk membentak, tapi memang nada bicaranya tidak pernah lembut dengan murid-muridnya. Mr. Han sendiri bingung dengan hal itu.

Dan sewaktu Kyungsoo sampai di busnya, anak-anak yang lain sudah bersiap-siap untuk turun dari bus. Kyungsoo sedikit merutuk; Mr. Han selalu menyuruhnya ini-itu. Sebenarnya kalau difikir-fikir bukankah Mr. Han bisa menyuruh guru yang lain atau siapalah itu. Supir bus atau guru-guru junior. Kyungsoo kan juga tidak ingin terlambat menikmati acara pikniknya.

"Minggir! Minggir!" seru Kyungsoo dengan suara keras sambil menerobos kerumunan teman-temannya itu. "Dan jangan mendorong-dorong! Bagaimana aku bisa memasang daftar ini jika kalian desak begini!"

Kyungsoo masih merutuk ini-itu. Ia bahkan tidak menghiraukan pertanyaan teman-temannya soal; daftar apa itu, apa gunanya daftar itu dan lain sebagainya. Pokoknya dia hanya harus menempel dan segalanya selesai.

Dan ketika Kyungsoo baru saja hendak menempel kertas itu, Chen masuk lagi kedalam bus. Ia mendesak maju sampai ke bangku sambil berseru-seru, "Baekhyun! Baekhyun! Baekhyun! Ada yang melihat Baekhyun?"

Anak yang dipanggil beringsut maju, menerobos kerumunan anak-anak yang lain. "Aku di sini. Kenapa kau panggil-panggil?"

"Aku baru saja berjumpa dengan Dae... siapa sih, namanya? Itu, kau tahu, kan, yang kemarin hari Minggu mengajakmu main bisbol di lapangan," kata Chen agak bingung. "Ia menyuruhku untuk mengatakan padamu untuk bersiap-siap berlatih karena minggu depan adalah pertandingan babak eliminasi."

"Maksudmu si Daehyun, anak kelas dua-satu yang pandai itu, ya?" kata Lay yang berdiri di belakang Chen. "Tidak biasanya si Daehyun yang sombong itu meminta orang berlatih secara pribadi. Memangnya ada hubungan apa kau dengan Daehyun, Baekhyun-ah?"

"Aku tidak terlalu dekat dengannya. Chen, memang dia benar-benar berkata seperti itu?"

"Ya. Itulah yang dikatakan oleh Daekhyun tadi. Yah, kurang lebih," kata Chen. Disodorkannya bingkisan yang dia pegang dari tadi kepada Baekhyun. "Nih, ambil! Dia juga memintaku memberi ini padamu."

"Untukku?" Andaikan Baekhyun tidak ingat apa wujud hadiah ibunya tempo hari, mungkin Baekhyun akan langsung membuka hadiah itu disini. Tapi Baekhyun masih waras untuk tidak membuka hadiah itu di depan teman-temannya. Tak berapa lama setelahnya, Mr. Han tiba-tiba saja membuka pintu bus dengan raut wajah tegas dan juga kesal.

"Keterlaluan! Kalian kira kalian ini sedang main apa? Cepat keluar dari bus! Kita tidak punya banyak waktu!" kata Mr. Han marah-marah. "Kenapa kalian semua belum turun sedang anak-anak normal lainnya sudah dari tadi turun dan menunggu kalian."

"Kami masih menunggu Kyungsoo memasang daftar itu, Pak," kata Tao, seakan itulah yang menyebabkan keributan dari tadi. Mr. Han melotot tapi gayanya masih tetap menunjukkan bahwa dia sedang marah pada mereka.

Dengan gaya seperti itu, Mr. Han menyuruh anak-anak untuk keluar. Guru galak itu mulai membenahi kertas daftar yang ternyata masih belum dipasang juga. Mr. Han menyesal telah menyuruh anak seperti Kyungsoo untuk melakukannya.

"Lihat apa! Cepatlah sedikit! Jangan berjalan seperti keong mau melahirkan!" Mr. Han kembali marah-marah. Merutuk kepergian Mr. Choi yang entah kemana. Seharusnya, bus ini masih tanggung jawab Mr. Choi bukan dirinya.

.

.

.

Selesai melihat-lihat rumah robot di Tokyo, anak-anak langsung kembali ke bus pada pukul tujuh malam. Mereka lelah dan karena faktor itulah, kerjaan Mr. Choi jadi sedikit lebih mudah. Dia memberi Baekhyun selimut karena Mr. Han bilang, Baekhyun tidak tahan dingin. Choi Siwon juga memberi perawatan pada Kyungsoo yang ternyata mudah sekali sakit. Mr. Han juga bilang, kalau Jongin akan memerlukan beberapa obat anti mabuk saat bus mulai berjalan.

Mr. Choi melakukannya dengan baik.

Terkadang, dia akan mengirim pesan pada Mr. Han mengenai apa-apa saja yang harus dia lakukan saat anak-anak mulai pusing dan lain sebagainya. Ternyata, Tao tidak bisa meminum obat dengan air mineral. Dia hanya mau jika menggunakan pisang. Untunglah, Mr. Han tahu semuanya.

"Pak Choi, disini dingin."

Mr. Choi segera menghampiri Luhan. Pria cantik itu masih memejamkan mata. Mungkin dia mengantuk sekali. Tidak perlu dikatakan dua kali, segera saja, Mr. Choi mematikan AC yang ada di atas tempat duduk Luhan.

Dia kira semuanya akan beres, nyatanya tidak. Sehun yang duduk di sebelahnya malah mengeluh. "Pak, jadi panas! Hidupkan lagi!" Keluh Sehun dengan nada keras. Mungkin saking mengantuknya, dia tidak sadar kalau yang disuruh-suruh adalah guru sejarahnya yang baru.

"Tapi, Luhan kedinginan, Sehun," jawab Mr. Choi masih menggunakan nada lembut pada ucapannya. Sehun menggeleng dalam tidurnya. "Berikan saja selimut!"

Mr. Choi mendesah. Ia menghidupkan kembali ACnya lalu, memberi Luhan selimut tambahan.

"Baiklah. Semuanya sudah beres. Saatnya untuk tidur." Mr. Choi berkeliling dan tersenyum puas ketika mendapati anak-anak didiknya sudah pulas tertidur. Mereka pasti kecapekan sekali. Makanya, mereka tidur lebih awal. Mr. Choi duduk di bangku dekat supir lalu tidur disana. Mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum sampai ke hotel. Dia lelah sekali tapi Mr. Choi sangat menikmati liburannya bersama anak-anak bawel ini. Memang benar, mereka merepotkan. Tapi, mereka sebenarnya sangat manis.

Baekhyun merasa begitu hangat. Kehangatan karena tubuh Chanyeol yang bersender di bahunya. Dia bernapas dengan lembut di leher Baekhyun sementara dia masih tertidur, tangannya memeluk pinggang Baekhyun.

Telapak tangan Baekhyun juga masih merah. Baekhyun melirik ke arah Jungmoo yang langsung mendengus begitu melihatnya. Ternyata pria itu belum tidur dan masih sempat melirik-lirik ke arahnya. Tapi tunggu, kenapa juga dia mendengus seperti itu? Baekhyun berfikir, bukankah dia yang seharusnya marah?

"Kau tidak tidur?" Chanyeol terbangun. Mata hitamnya mengawasi Baekhyun dengan intens.

"Aku tidak mengantuk."

"Kau juga harus tidur, Baek."

Chanyeol mengulurkan tangannya agar bisa menggenggam tangan Baekhyun. Mungkin dia lupa tentang insiden beberapa jam yang lalu, karena ketika tangan Chanyeol menyentuhnya, Baekhyun langsung meringis.

"Hei, Baek, kau kenapa?"

Chanyeol langsung melepaskannya, terkejut mendapati reaksi Baekhyun yang seperti tadi. "Karena menampar si brengsek Jungmoo itu?"

Mata Chanyeol yang biasanya dingin berubah membeku saat ia memeriksa tangan Baekhyun. Suaranya bercampur dengan kemarahan yang tiba-tiba muncul saat melihat tangan Baekhyun memerah. Pasti Baekhyun memukul Jungmoo sangat keras.

"Aku tidak apa-apa, kok. Sebentar lagi pasti sembuh."

"Dia seorang Bajingan."

Baekhyun fikir mereka telah menyelesaikan urusan ini. Tapi, ternyata kemarahan Chanyeol belum mereda. Baekhyun tersenyum dan memegang lengan Chanyeol. Menenangkan kekasihnya.

"Aku tidak suka dia menyentuhmu, Baek."

"Dia tidak melukaiku, dia hanya berlaku tidak pantas. Chanyeol, aku baik-baik saja. Tanganku hanya sedikit merah, itu saja."

"Kau baik-baik saja?"

"Tentu saja, Chanyeol. Aku baik-baik saja."

Tiba-tiba saja tangan Chanyeol membelai wajah Baekhyun. Dia juga mengelus tangan Baekhyun yang terluka. Jari-jarinya membelai dengan lembut.

Diperlakukan begitu, Baekhyun malu setengah mati. Antara senang, malu dan perasaan berdebar yang membuatnya begitu aneh. Persis seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta.

Baekhyun tersenyum. Dia memeluk Chanyeol.

"Yeol?"

"Hm?"

"Apakah kau mencintaiku?"

"Tentu saja, Baek."

"Kenapa kau punya banyak rahasia?"

Chanyeol terdiam.

"Aku mengantuk..."

"Tidur, Baek."

.

.

.

Chanyeol masih terjaga. Sedangkan anak-anak yang lain sudah tidur karena kelelahan. Jongin mendengkur sedangkan Kyungsoo yang berada di sebelahnya selalu bergerak-gerak saat tertidur.

Chanyeol menyentuh pipi Baekhyun yang masih mengantuk dan tampak kelelahan. "Kau pucat, Baek. Kau tidak apa-apa?"

Chanyeol menarik Baekhyun ke pangkuannya, memeluknya erat. Dia dengan lembut mengelus rambut Baekhyun dan menggenggam tangannya.

"Kita masih lama sampai hotel, Yeol?" Baekhyun mengeratkan pelukanya. Dari jarak sedekat ini, Baekhyun bisa mendengar suara detak jantung Chanyeol. Berdebar untuknya. Dan dia menyukainya.

"Sepertinya begitu."

"Aku mengantuk. Aku ingin segera sampai hotel."

"Aku juga. Dan kita bisa bercumbu disana."

Chanyeol mengecup rambut Baekhyun.

"Apa kau hanya bisa memikirkan hal itu?"

"Sayangnya, begitu."

Chanyeol tertawa lembut dan dia masih mengelus rambut Baekhyun—memberi pria cantik itu kedamaian yang luar biasa. Baekhyun memeluk leher Chanyeol dan mulai tertidur lagi. "Bangunkan aku kalau kita sudah sampai, Yeol."

"Tentu, sayang. Tidurlah."

Mereka kemudian tiba di hotel sekitar pukul sepuluh malam. Karena banyak siswa yang merupakan putra dari donatur. Maka, tak heran jika kamar hotel yang mereka tempati juga tergolong mewah. Banyak dari para donatur, meminta rekomendasi khusus mengenai tempat inap dan juga bus yang digunakan.

Termasuk, hotel ini.

Kamar suite hotel ini benar-benar sangat nyaman dan mewah. Meskipun tidak termasuk kedalam jajaran kelas termahal, tapi cukup mewah jika dibandingkan dengan tempat asrama mereka.

Mr. Han menikmati suasana malam itu dengan penuh ketenangan. Guru yang dijuluki sebagai guru tergalak di asrama itu tampak begitu menikmati suasana yang tenang dan juga sunyi. Berada di antara anak-anak kelas 2-1 tak terlalu melelahkan. Mereka masih bisa diatur dan tidak terlalu bertingkah.

Segalanya sempurna. Liburannya indah dan dia tidak perlu membentak-bentak karena memang tidak diperlukan. Anak-anak kelas 2-1 memang terkenal dengan sikap penurut dan mereka sangat cerdas.

Ngomong-ngomong soal santai, saat ini mereka tengah berada di hotel. Mr. Choi tampak kerepotan mengurus anak-anak itu. Ada saja yang tidak mau sekamar dengan ini, dengan itu. Yah, wajar saja karena ada beberapa yang tidur sekamar bukan dengan teman sebangkunya. Itu terjadi karena jumlah anak-anak yang ganjil. Dan Mr. Han heran, hal remeh temeh seperti itu saja bisa membuat mereka bawel. Apa mereka memang ditakdirkan rempong seperti itu dari mereka lahir?

"Selamat siang, Mr. Han. Bagaimana liburan Anda, Pak? Menikmati liburannya?" Mr. Han terkejut. Sekitar sepuluh orang murid bertanya dengan serempak. Mereka itu tentu saja murid-muridnya di kelas 2-9. Ah! Rupanya mereka sudah selesai berdebat dengan Mr. Choi.

"Tentu saja menikmati. Anak kelas satu memang lebih menurut dibanding anak kelas sembilan. Aku tidak perlu bersusah-susah dan darah tinggiku bisa terkontrol."

"Pak, tadi saya tidak mabuk. Mr. Choi merawat saya dengan baik," kata Kyungsoo dengan wajah berbinar senangnya.

"Saya juga tidak mabuk, Pak. Untung saya bukan lelaki kenalan ayah yang setiap pergi berkendara dia selalu mabuk. Ya, kan, Pak?" tanya Tao dengan wajah bangga. Mr. Han menegakkan tubuhnya. Baru saja dia menikmati malam harinya yang tenang tapi mereka malah mengacaukannya.

"Ya, kan, Pak?" desak Tao lagi, meminta pendapat Mr. Han. Guru pengawas yang berwatak galak itu bahkan mendelik ke arah Tao.

"Ya kan, apa?"

"Untung saya bukan dia," ulang Tao lagi, menjelaskan.

"Dia itu siapa?" tanya Mr. Han masih juga belum mengerti. Meskipun dia terbiasa menghadapi kelakuan anak-anak konyol ini, bukan berarti Mr. Han terbiasa dengan pemikiran-pemikiran mereka.

"Anak lelaki kenalan ayah saya itu, Pak."

"Ya, itu mungkin sekali," kata Pak Han asal menjawab.

Tidak berhenti disitu saja, Mr. Han harus menjawab bahwa keadaannya baik-baik saja dan tujuh kali pula ia menjawab bahwa liburannya menyenangkan. Kemudian, Mr. Han pergi dari situ. Ia ingin mengecek murid-muridnya yang lain. Apakah ada yang sakit, mabuk, atau yang lainnya. Mr. Han memang bertanggung jawab penuh pada anak-anak kelas dua.

"Astaga, sudah pukul delapan!" Mr. Han menolehkan kepalanya. Menatap Xiumin, muridnya yang kini tampak sibuk mencari-cari sesuatu di kantong plastik miliknya.

"Ada apa, Xiumin, kau perlu obat atau apa?" tanya Pak Han dengan suara pelan. Tentu saja tidak setiap saat dia marah-marah dan meninggikan suaranya.

"Tidak, Pak. Jam delapan adalah waktu saya untuk meminum obat diet. Apakah saya sudah cukup kurus sekarang, Pak?"

"Ya, mungkin."

"Mungkin, Pak?"

Mr. Han menghela nafas pasrah.

"Ya, kau sudah kurus, Xiumin."

Mr. Han kembali berkeliling. Ia mendengar bunyi berisik di samping kanannya. Ternyata, beberapa siswa sedang berebut-rebut mengambil makanan. Bunyi langkah mereka keras sekali. Sampai-sampai Pak Han tidak tahan juga dan akhirnya menghampiri mereka. Sekali lagi, Pak Han dikerumuni anak-anak yang menyapanya dengan berisik.

"Ah. Mr. Han. Untung Anda datang. Menurut Anda, siapa dulu yang boleh mengambil makanan ini? Saya atau Luhan?" tanya Chen tiba-tiba. Dia membuat Mr. Han memutar matanya untuk kali pertama.

"Konyol! Hal seperti itu kau tanyakan?"

"Tadi Hyuna memberikan ini pada kami. Dia bilang, terserah siapa yang akan memakannya. Yang pasti, Hyuna tidak suka rumput laut dan kebetulan dia melihat kami berdua. Tapi, Pak, saya datang lebih dulu dan melihat makanan ini. Tapi Luhan bilang dia duluan yang melihatnya. Sementara saya berfikir bahwa..."

"Ya, ya, ya. Kau yang lebih dulu melihatnya."

"Jadi, saya kan, Pak, yang pantas mendapatkannya?" tanya Chen bangga sekaligus senang. Luhan mendelik dan wajahnya hampir menangis karena kalah. Luhan memang tidak suka dengan kekalahan.

"Tapi, terkadang mengalah itu lebih baik, Chen," kata Mr. Han lembut. Dia harus mengantisipasi Luhan yang mungkin saja akan kecewa karena kekalahannya. Ya, Luhan memang anak yang baik. Tidak banyak bertanya seperti Kyungsoo. Tidak banyak berbuat ulah seperti Baekhyun, tapi dia mudah sekali tersinggung. Meskipun, dia tidak menunjukkan secara terang-terangan.

"Begitu, ya?" tanya Chen lirih. Dia memberi makanan berupa snack rumput laut itu kepada Luhan. Dan Luhan yang memeluk Chen lalu berterima kasih. Merasa bahwa semuanya sudah beres, Mr. Han kembali ke tempat guru-guru berkumpul. Merencanakan kegiatan mereka di Jepang.

.

.

.

18. Siapa dia?

Baekhyun saat ini berdiri di pintu, membeku. Astaga, hotel ini bagus sekali! Bahkan ada sofa di depan ranjang besar itu. Baekhyun heran, siapa pendonor yang begitu kaya raya mau membiayai ekstra untuk biaya piknik mereka. Anaknya pasti tampil glamour sekali!

"Kau mau berdiri di situ sepanjang malam atau ikut masuk denganku?" tanya Chanyeol, suaranya lembut, meletakkan kopor mereka di samping ranjang.

Baekhyun hanya terbengong-bengong sebelum akhirnya tersadar dari lamunannya. Dia mengikuti Chanyeol dan terduduk di ranjang—merehatkan tubuhnya sejenak.

"Kau ingin mandi di shower? Atau berendam? Apa yang kau butuhkan, Baekhyun?"

Chanyeol menatap Baekhyun. Tidak ada yang berubah dari tatapan itu—meskipun suara Chanyeol melembut dan perkataannya penuh perhatian. Tapi, percayalah, pria itu masih berwajah datar dan tanpa ekspresi. Tapi Baekhyun sudah kebal. Dia justru mencintai Chanyeol yang seperti itu. Bagaimanapun wataknya, pria itu sebenarnya sangat perhatian.

"Berendam. Aku ingin berendam, Chan. Biar aku lakukan sendiri."

"Biar aku saja. Kau istirahat dulu, Baek."

Chanyeol berjalan dengan langkah lebar ke arah kamar mandi. Tak berapa lama, suara air menggema dari sana. Baekhyun tersenyum. Ternyata Chanyeol benar-benar menyiapkan air untuknya. Baekhyun membaringkan tubuhnya yang remuk; dia kelelahan dan saat Baekhyun sedang memandang langit-langit kamar, tiba-tiba ponsel Chanyeol kembali bergetar. Sepertinya ada pesan masuk.

Baekhyun beranjak dari tidurnya, agak ragu ketika akhirnya Baekhyun tidak tahan lagi. Ia melihat ponsel Chanyeol. Hanya melihat tidak jadi masalah; Chanyeol pasti tidak akan marah padanya.

"Siapa ini?"

Baekhyun mengernyitkan dahinya ketika nama asing muncul dari layar ponsel Chanyeol. Bukan nama eomma, mommy atau sesuatu seperti harapan Baekhyun. Tapi nama Brengsek yang menghubungi kekasihnya. Lantas, siapa itu Brengsek? Apakah itu inisial? Kenapa Chanyeol mau repot-repot memberi inisial di ponselnya? Dan, apakah itu umpatan? Kenapa Chanyeol yang acuh mengumpat dan menamai orang ini dengan sebutan brengsek? Ini aneh. Jelas, ini bukan dari ibunya. Bahkan Baekhyun saja dinamainya dengan Byun Baekhyun. Tapi kenapa dia menghubungi Chanyeol? Baekhyun fikir dia harus mencari tahu sekarang.

"Baek, kemarilah! Airnya sudah siap."

Baekhyun menghela nafas. Mungkin lain kali dia akan mengecek ponsel Chanyeol. Atau mereka bisa saja bertukar ponsel agar orang asing itu tidak menghubungi Chanyeol lagi? Ah, mana mungkin pria itu mau bertukar ponsel. Chanyeol saja selalu melarangnya menyentuh benda eletronik itu, apalagi bertukar ponsel. Baekhyun akhirnya menyerah. Ia segera beranjak dan menyusul Chanyeol ke kamar mandi. Pria itu bahkan sudah memasukkan garam mandi di bathup.

Baekhyun tersenyum, menghampirinya.

"Kemarilah, sayang."

"Terima kasih, Chanyeol."

"Hn."

Dengan lembut, Chanyeol melepaskan jaket Baekhyun. Meletakkannya ke atas kursi di kamar mandi, kemudian membuka kancing kemeja yang dikenakan oleh Baekhyun.

Baekhyun gugup setengah mati.

Wajahnya memerah.

"Aku malu, Chanyeol! Aku bisa melakukannya sendiri. Kau keluar dulu. Aku mau mandi," katanya gusar. Tapi, Chanyeol tidak mau menurut. Ia masih melanjutkan membuka kancing kemeja Baekhyun satu demi satu.

Tatapannya seakan menelanjangi Baekhyun.

Membuat Baekhyun menunduk karena terlalu malu. Sial, dia bahkan masih malu pada Chanyeol. Padahal, ini sudah beberapa bulan sejak mereka berkencan.

"Kau gugup sekali. Aku sudah pernah melihat tubuhmu, Baekhyun. Jadi, kenapa mesti malu lagi."

"Tetap saja, aku malu, Chan."

Baekhyun menunduk. Tidak berani menatap Chanyeol meski hanya beberapa detik. Baekhyun heran, kenapa dia masih seperti ini pada Chanyeol. Malu—gugup—terkadang takut dan juga gelisah.

"Kau tidak perlu malu, Baek. Mendekatlah!"

"Ini sudah dekat. Mau seberapa dekat?"

Chanyeol tersenyum.

"Dekat. Hingga tidak ada jarak lagi."

Baekhyun menurut. Percuma mengusir Chanyeol, pria ini sangat keras kepala dan tidak mudah dibujuk. Setidaknya, ketika dia mengatakan sesuatu—maka itu adalah mutlak.

"Jangan dekat-dekat dengan Jungmoo lagi. Mengerti?" Chanyeol membimbing Baekhyun memasuki bathup. Dengan perlahan dan juga hati-hati—seakan-akan Baekhyun adalah kaca yang mudah sekali pecah.

"Aku tidak dekat dengannya. Dia yang mengajakku bicara." Baekhyun bersungut—membuat Chanyeol tidak tahan untuk tidak mengecup bibir merah tersebut. Dia mengecupnya—hanya lima detik kemudian melepaskannya lagi.

Baekhyun merona. Meskipun singkat, tapi tetap saja hatinya berbunga-bunga. "Hadiah itu. Daehyun. Kenapa dia memberimu kaos olahraga?"

"Itu karena aku kandidat terbaik tim sekolah. Aku berbakat dalam bermain bisbol, Chanyeol! Jadi, Daehyun memberiku itu agar aku semangat berlatih. Jongin dan Sehun juga. Mereka kan bagus dalam permainan," kata Baekhyun panjang-lebar; menjelaskan bahwa semua orang yang akan ikut tim juga diperlakukan yang sama oleh Daehyun. Kapten tim bisbol sekolah.

"Lalu, siapa yang mengirimimu coklat?"

"Sudah aku bilang, itu sepertinya salah kirim."

"Sebodohnya apapun orangnya, dia pasti bisa membaca namamu di loker. Kecuali jika dia memang buta huruf, Baekhyun."

"Mungkin dia salah mengira aku oranglain."

Chanyeol mendesah. Mengakhiri perdebatan yang menurutnya sendiri—sebenarnya konyol. Ia lebih memilih menggosok punggung Baekhyun. Menenangkan hati kekasihnya yang pasti masih terluka oleh Jungmoo.

Baekhyun adalah tipikal yang mudah sekali terluka. Meski dia terlihat tegar dan selalu ceria, sebenarnya dia mudah tersentuh, mudah menangis, dan mudah percaya oleh oranglain. Dan Chanyeol fikir, Baekhyun pasti kecewa dengan Jungmoo.

"Baek."

"Hm?"

"Jangan mudah percaya pada oranglain. Kau bisa terluka nantinya."

"Aku bisa mempercayaimu, kan, Yeol?"

DEG!

"Yeol?"

"Jangan percaya pada siapapun. Bahkan jika itu adalah aku." Baekhyun menoleh ke belakang. Tatapannya tampak marah. Chanyeol tahu apa yang pria ini fikirkan. Seharusnya, dia mengatakan kata-kata romantis yang memintanya untuk mempercayai Chanyeol.

Tapi, ada sisi yang lain yang membuat Chanyeol tidak bisa mengatakan hal itu. Benar kata Baekhyun. Dia memiliki banyak rahasia. "Aku hanya bercanda, Baek."

Melihat wajah terluka Baekhyun, Chanyeol tidak bisa menjadi egois untuk sekarang ini. Seberapa inginnya dia untuk jujur, dia tidak akan tega menyakiti Baekhyun. Tidak akan pernah.

"Busanya banyak, Yeol!"

Tanpa sadar, Chanyeol juga ikut memecahkan balon-balon busa sabun—seperti yang dilakukan oleh Baekhyun. Chanyeol tahu jika dia terjerat dalam pesona pria cantik ini maka, dia juga akan terseret ke dalam kekonyolan-kekonyolan lainnya. Chanyeol tahu dengan jelas. Tapi dia tidak perduli.

"Yejin."

Perkataan Chanyeol membuat Baekhyun tersadar dari dunianya. Dia menoleh dengan cepat. Menatap Chanyeol dengan pandangan sendu sekaligus gusar. Chanyeol tahu bahwa Baekhyun takut akan sesuatu.

"Dia temanku sejak aku berusia tujuh tahun."

Lengan Chanyeol melingkar di sekitar bahu Baekhyun. Meski kemejanya basah, Chanyeol tetap memeluk tubuh kurus itu. Menguatkan dirinya sendiri.

"Seperti yang aku bilang, aku memiliki dua orang ibu. Ibu kandungku tinggal di Busan, dekat dengan asrama kita. Sedangkan, ayah dan ibu tiriku menetap di Seoul sekarang."

Baekhyun diam. Inilah saat-saat yang paling ditunggunya. Mendengar dari mulut Chanyeol sendiri tentang kisah keluarganya. Baekhyun sendiri sering mengisahkan tentang keluarganya. Keluarga kecilnya yang hidup begitu sederhana.

"Aku tidak pernah akur dengan ayah. Aku membencinya. Setiap hari aku berontak agar dia memperhatikan aku dan juga ibuku. Tapi sayangnya, dia tidak pernah perduli. Bahkan jika kami mati, mungkin dia hanya bilang, 'Benarkah? Kalau begitu siapkan pemakaman.' Mungkin itu yang akan dia katakan."

Baekhyun ingat kalau ini adalah kali pertama Chanyeol bicara begitu panjang. Dan pertama kalinya pria itu menceritakan tentang kehidupan pribadinya. Chanyeol bukan pria mulut besar yang mudah mengumbar-umbar ceritanya ke oranglain. Karena itulah, Baekhyun merasa tersanjung Chanyeol mau mengeluh padanya.

"Yejin adalah tetanggaku. Karena kami tinggal di Amerika kami mudah akrab. Aku kurang suka bergaul dengan orang-orang Amerika. Mereka hanya mengajakku having seks atau semacamnya. Sedangkan Yejin, dia gadis yang sangat baik."

Karena itu kalian dekat?"

Chanyeol mengangguk. Dia memeluk Baekhyun dari belakang. Melanjutkan ceritanya. "Ayahku meniduri hampir semua gadis di perusahaannya. Sangat banyak. Sampai-sampai aku tidak ingat wajah wanita-wanita jalang itu."

"Kau tak ikut meniduri mereka juga, kan?" Baekhyun bertanya. Hatinya tiba-tiba terasa sakit. Lebih sakit daripada saat dia terbaring di rumah sakit. Hatinya tiba-tiba membeku, tangan Baekhyun memegang erat bahu Chanyeol. Dia merasa takut dan... Entahlah, Baekhyun benar-benar sensitif jika berkaitan dengan pria ini.

"Tidak. Aku bersumpah, Baek. Aku tidak pernah meniduri wanita-wanita itu." Baekhyun terdiam. Tiba-tiba merasa bersalah.

Chanyeol menatap Baekhyun begitu kaku. Baekhyun sudah sangat mengenalnya, dan Baekhyun menyadarinya. Kilatan kemarahan di mata Chanyeol mengungkapkan sebuah kebenaran—bahwa ia benar-benar marah, meskipun ia menyembunyikannya dengan sangat baik.

"Aku hanya berteman dengan Yejin. Dan wanita yang sering menelpon dan mengirimiku pesan adalah ibuku. Kau masih tidak mempercayai itu?"

Baekhyun terdiam sebentar, lalu tersenyum.

"Aku percaya. Dia ibumu."

.

.

.

"Bangun, Baekhyun."

Chanyeol membangunkan Baekhyun dengan lembut. Karena Baekhyun masih mengantuk dan lelah, dia hanya membuka mata dan berjalan sempoyongan ke kamar mandi.

Chanyeol hanya tersenyum kecil melihat tingkah kekasih manisnya itu. "Apakah kau baik-baik saja disana?" tanya Chanyeol cukup keras. Baekhyun balik berteriak dan mengatakan dia baik-baik saja.

Chanyeol tidak percaya begitu saja. Dia membuka pintu kamar mandi yang tidak dikunci Baekhyun. Mungkin pria itu terlalu mengantuk dan juga kelelahan. Ceroboh sekali kekasihnya ini.

Baekhyun terkejut dengan kedatangan Chanyeol. Kakinya tersandung bathup di belakangnya. Dia mengaduh dan juga mengumpati Chanyeol. Kakinya tampak memerah karena terantuk bathup.

Chanyeol mendesah. Dia membungkuk ke bawah, memegang pergelangan kaki Baekhyun, dan dengan perlahan melepas kaus kaki yang masih digunakan Baekhyun tadi malam. Pria itu memang selalu mengenakan kaus kaki disaat-saat dingin seperti ini.

Chanyeol berdiri tegak dan melihat ke arah Baekhyun. Baekhyun masih cemberut padanya. "Sudah sadar?" tanyanya, datar.

Baekhyun mengangguk. Tapi tubuhnya masih lelah.

"Kau lelah sekali, ya?" Chanyeol berkata dengan lembut, sambil menatap ke arah Baekhyun. Baekhyun lagi-lagi mengangguk. Matanya memejam; ternyata dia masih mengantuk.

Chanyeol mulai membuka kaos Baekhyun. Baekhyun mendelik. "Aku bisa melakukannya sendiri," gerutunya sebal. Menepis tangan Chanyeol dengan gerakan cepat.

"Aku saja."

Baekhyun menghela nafas. Dia terkadang lupa, Chanyeol itu keras kepala dan tidak mau mengalah. Jadi, dia membiarkan saja pria itu membantunya.

"Mulus sekali."

Chanyeol menyeringai, dia melepas kaos Baekhyun, dan melemparkannya ke lantai kamar mandi. Beberapa kali, pria itu juga mengelus-ngelus semua bagian atas tubuh Baekhyun.

"Kau mencari kesempatan, ya?" tanya Baekhyun malu.

Chanyeol tidak menjawab. Dia hanya menyeringai saja. Membuat Baekhyun semakin gugup dan salah tingkah. Pria ini selalu saja membuatnya gugup seperti ini.

"Duduk," Chanyeol berkata.

Baekhyun menurut. Dia duduk di atas kursi yang ada di kamar mandi sambil terus memperhatikan Chanyeol. Baekhyun bisa mendengar Chanyeol mengobrak-abrik botol yang ada di tas khusus milik Chanyeol. Baekhyun tidak tahu apa yang dibawa pria itu.

Beberapa saat kemudian, Chanyeol memiringkan kepala Baekhyun ke belakang, dan Baekhyun terkejut. Menatap Chanyeol dengan pandangan seolah meminta penjelasan.

Chanyeol memutar matanya malas. Tapi, dia tetap menjelaskannya pada Baekhyun. "Kemarin malam kau menggigau karena kelelahan. Dahimu terkena kepala ranjang. Dan sekarang, dahimu bengkak," kata Chanyeol. Dia mulai menggulung kapas dan dengan lembut, Chanyeol mengusapkannya di dahi Baekhyun yang terluka.

Baekhyun terdiam karena tersentuh.

Dia memperhatikan bagaimana telatennya Chanyeol mengobati lukanya. Dan Baekhyun merasa beruntung memiliki dan dicintai oleh pria ini. Terserahlah kata Kyungsoo yang mengatakan Chanyeol menyebalkan—ketus dan apalah julukan lainnya.

Tapi, satu hal yang pasti. Baekhyun mencintai Chanyeol. Seperti apapun dia dan berapa banyakpun rahasia yang dia miliki. Baekhyun hanya akan percaya pada Chanyeol.

"Sudah selesai," Cahnyeol berkata setelah menempelkan plester dinosaurus ke dahi Baekhyun. Dia tersenyum kecil melihat hasil kerjanya sendiri. Baekhyun ikut-ikutan tersenyum.

"Terima kasih." Baekhyun berseru riang. Dia mencium kening Chanyeol meskipun harus berjinjit. "Ini balasannya karena sudah mengobatiku."

Chanyeol tersenyum.

Dia tidak menghentikan keanehannya dan justru meletakkan beberapa kapsul yang entah apa di tangan Baekhyun. Chanyeol juga menyodorkan segelas air yang tadi sempat diambilnya.

"Jangan kira ini sudah berakhir. Minum itu!"

Baekhyun menatap Chanyeol dan cemberut. "Aku tidak suka minum obat. Obat apa ini? Aku tidak sedang sakit. Aku sehat. Aku hanya mengantuk dan kelelahan."

"Itu obat pereda mabuk. Kau kemarin mabuk di bus. Minum!" perintahnya sekali lagi. Baekhyun terlihat menimbang-nimbang. Tapi Chanyeol tetaplah Chanyeol. Ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada kekasihnya. Bahkan soal hal kecil sekalipun.

"Minum atau kuminumkan!"

Baekhyun memutar matanya, namun melakukan perintah Chanyeol. "Bagus. Apakah kau ingin kumandikan atau mandi sendiri?"

"Aku bisa mandi sendiri!" Baekhyun menjerit dan Chanyeol masih saja menyeringai. Mungkin baginya ini pertunjukkan yang menarik. Tapi bagi Baekhyun itu sangatlah menyebalkan.

"Katakan kau ingin apa?" tanya Chanyeol lagi.

Baekhyun tentu saja bingung maksud perkataan Chanyeol. "Tentu saja aku ingin mandi, Mr. Park! Dan juga buang air kecil kalau kau ingin tahu kelanjutannya."

Chanyeol tertawa. "Kau ingin aku keluar?"

Baekhyun mendengus. "Kau ingin tinggal?"

Chanyeol memiringkan kepalanya ke samping, Baekhyun fikir pria ini sedang melakukan aegyo atau semacamnya. Tapi percayalah, meskipun wajahnya memang—Baekhyun akui Chanyeol itu imut, tapi tetap saja itu mengerikan! Ekspresinya datar tapi dia sedang melakukan aegyo.

"Berhenti melakukan hal itu!"

"Kenapa?" Chanyeol memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tidak menyerah. Baekhyun tidak sanggup untuk menahan tawanya lagi. Chanyeol merasa gagal, tersinggung dan sedikit malu. Jadi dia menghentikan usaha aegyonya itu.

"Berhenti tertawa, Baek. Itu tidak lucu."

"Kau adalah orang yang sangat aneh. Keluar. Aku tak mau kau melihatku mandi. Itu memalukan, Mr. Park!" Baekhyun berdiri dan mendorong Chanyeol untuk keluar dari kamar mandi.

Tak berapa lama, ketika Baekhyun keluar dari kamar mandi, Chanyeol telah mengganti pakaiannya menjadi pakaian kasual. Beberapa kancingnya dia biarkan terbuka. Dan dilihat dari segi manapun, Chanyeol memang mempesona.

Chanyeol berjalan ke arah Baekhyun.

"Menikmati pemandangan, Miss Park?" tanyanya sinis.

"Kurasa kau sedikit gila, Mr. Park."

"Kurasa, kau benar. Aku memang telah tergila-gila padamu."

Chanyeol menarik Baekhyun ke dalam pelukannya. Mencium bibirnya, menyesapnya dalam-dalam agar mendapatkan apa yang ia inginkan. Baekhyun membalasnya. Mereka berciuman sambil tersenyum.

"Baek?" Mata jernihnya masih mengawasi setiap pergerakan Baekhyun. Baekhyun hanya bergumam sebagai balasan. Dia memeluk tubuh hangat Chanyeol.

"Hanya ingin mengucapkan selamat pagi." Chanyeol menjalankan jari-jarinya untuk mengusap rambut Baekhyun. Baekhyun terkikik senang. Dia berharap hal seperti ini tidak akan pernah berakhir. Dia ingin selalu bersama pria ini sepanjang hidupnya.

"Kau tampak cantik pagi ini," katanya sambil mencium pipi Baekhyun. Baekhyun mendongak dan tersenyum manis. Sangat cantik, seperti malaikat. "Terima kasih kau begitu peduli padaku."

"Aku senang merawatmu. Itulah yang selalu ingin kulakukan, sayang," katanya pelan, tapi matanya menyingkapkan sebuah kebenaran dan juga kejujuran. Baekhyun hanya mengangguk.

"Kita turun. Tadi Kyungsoo terus menelponmu. Katanya sarapan paginya sudah disiapkan," katanya mengingatkan. Baekhyun mendengus. Dia bahkan belum berganti baju atau menggunakan pelembabnya. Ini semua gara-gara Chanyeol yang sedari tadi mengganggunya.

"Kau mau aku memakaikan baju untukmu?" tanyanya lagi. Baekhyun mendelik. Dia cepat-cepat memilih baju lalu berjalan ke kamar mandi. "Dalam mimpimu, Park!"

Dan menutup pintu dengan keras.

.

.

Sekitar jam delapan pagi. Saat sarapan di hotel, Chanyeol mengambilkan Baekhyun minuman sedangkan pria manis itu menyelesaikan suapan terakhirnya.

Baekhyun mengobrol dengan Tao, dan ketika mengobrol, Baekhyun akan lupa segalanya. Dia hanya akan fokus pada percakapan Tao dan apa yang dia omongkan.

Tapi, berbeda dengan Jongin. Entah kenapa, tindakan mengambil air minum Chanyeol itu patut dicurigai. Sejak ia dekat dengan pria itu, kecurigaan Jongin semakin bertambah. Pria itu memang sering berkiriman kabar entah dengan siapa. Sering menelpon di tengah liburannya dan menyembunyikan pesan-pesan itu ketika Jongin ingin melihatnya.

Bukankah itu terlihat mencurigakan.

Dia bisa melihat dari meja makannya, Chanyeol mulai memeriksa kembali ponselnya. Mungkin ada teks masuk. Entahlah. Tapi, yang pasti, ada sesuatu dalam diri Chanyeol yang entah bagaimana caranya, membuat Jongin penasaran setengah mati.

Ada sesuatu.

Rahasia yang coba disembunyikan dari pria itu.

Jongin terus mengamati Chanyeol. Dia menggantikan tugas Baekhyun yang masih saja mengobrol dengan Tao. Pria itu memang selalu mudah percaya dengan orang. Bukannya Jongin tidak mempercayai Chanyeol. Pria itu bahkan bisa melihat bagaimana perlakuan manis Chanyeol pada Baekhyun.

Tapi, tetap saja. Chanyeol menyembunyikan sesuatu.

Jongin masih berkutat pada penyelidikannya, sementara Chanyeol sudah bergerak kembali ke meja makan. Dia beradu pandang dengan Jongin beberapa detik sebelum kembali berbicara pada Baekhyun.

Jongin rasa Chanyeol itu paranormal. Dia selalu tahu apa yang sedang difikirkan oleh oranglain dan sialnya, dia ketahuan sedang menguntit.

Kim Yejin yang entah datang dari mana. Tiba-tiba menarik lengan Chanyeol dari belakang. Semua yang ada disana terkejut. Gadis itu memang terkenal dekat dengan Chanyeol tapi untuk menyentuh lengan, biasanya Chanyeol akan membentak siapapun yang menyentuh tubuhnya.

Tapi, ini tidak. Dia hanya menatap Yejin.

"Chanyeol."

Yejin menyapa, menunjukkan giginya yang putih sempurna, dan menunduk ke arah teman-teman sekelas Chanyeol yang lain. Sekedar etika kesopanan saja baginya.

"Ada apa, Yejin?"

"Kau sudah dengar beritanya?"

Chanyeol terdiam. Lalu mengangguk. Wajahnya dingin seperti biasa tapi tatapannya seperti mengisyaratkan sesuatu yang lain. "Kenapa?"

"Chanyeol, kita perlu bicara."

"Kalian berdua terlihat mesra," kata Luhan tiba-tiba. Ia melirik ke arah Baekhyun yang hanya bisa menatap mereka dengan tatapan sedih. Dia bingung harus berbuat apa. Chanyeol tidak sedang melakukan apapun, jadi dia juga tidak bisa memarahi pria itu.

"Chanyeol, kita perlu bicara."

Yejin tidak terlalu memperdulikan sindirian atau pertanyaan Luhan. Dia memang setipe dengan Chanyeol. Tidak perduli dengan lingkungan sekitar dan selalu menjadi dirinya sendiri. Tidak suka, maka dia akan bilang tidak. Dan kali ini, dia butuh bicara. Maka, dia hanya akan bicara dengan Chanyeol.

Chanyeol melingkarkan tangannya di tubuh Baekhyun. Meminta ijin pada kekasihnya. "Baek, tunggu sebentar. Aku akan bicara dengan Yejin."

Baekhyun menatap Chanyeol. Dia harus percaya.

"Baiklah."

Chanyeol berdiri dan Yejin langsung menariknya. Gadis itu tampak begitu akrab dengan Chanyeol. Bahkan sentuhan-sentuhan ringan yang biasanya Chanyeol tidak suka, Yejin bisa melakukannya.

Jongin bisa melihat bagaimana Yejin terus-terusan menyeret tangan Chanyeol. Atau baginya, menggandeng tangan Chanyeol. Jongin tidak suka. Tidak suka saat seseorang mempermainkan sahabatnya seperti ini.

Dia berdiri dan mengikuti mereka.

"Jongin, mau kemana? Hei!" Kyungsoo mencoba menghentikan Jongin. Tapi pria itu tidak mau dengar. Dia tetap pada pendiriannya. Dia harus tahu dan segera menyelesaikan urusan Baekhyun.

Katakanlah, dia ikut campur.

Tapi Jongin tidak perduli. Ini semua demi Baekhyun. Jongin ingin melihat tawa Baekhyun lagi, bukan kemurungan atau kesedihan beberapa hari ini. Itu memuakkan.

Jongin berjalan mengendap-endap agar suara langkah kakinya tidak terdengar oleh kedua orang itu. Dia semakin mendekat, tentu saja agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

Mungkin terdengar tidak sopan, tapi Jongin benar-benar penasaran dengan hubungan mereka. Lagipula, ini semua demi sahabat baiknya. Jongin sungguh tidak ingin melihat Baekhyun murung lagi.

"Kau sedang bermain-main dengan Baekhyun sekarang?"

"Jangan sembarangan, Kim Yejin."

Tatapan membakar Chanyeol benar-benar mengerikan. Jongin saja merasa takut dengan tatapan pria itu. Tapi, anehnya, Yejin justru menyeringai. Tidak takut sama sekali. Apakah karena sudah terbiasa?

"Kau bermain-main dengannya. Apakah itu karena dia?"

"Kim Yejin!"

Yejin menyeringai. Jongin baru tahu bahwa wanita bisa melakukan hal itu. Jongin kira hanya pria saja yang bisa menyeringai. "Kau tadi masih baik-baik saja sampai aku menyebut perempuan itu. Kau benar-benar pendendam, Park Chanyeol," katanya dengan nada tenang. Chanyeol mendengus. Tapi dia tetap menatap Yejin.

"Kau tahu hal itu. Tapi, kau masih menyebutnya. Dengar, Kim Yejin, aku paling tidak suka kau menyebut dia di depanku. Kukira kita sudah sepakat."

"Chanyeol."

Kali ini suara Yejin tidak begitu tenang. Dia tampak serius dan dari yang Jongin tahu, gadis itu sebenarnya jarang menampilkan ekspresi seserius ini. Dia setipe dengan Chanyeol. Tapi dia masih bisa tertawa.

"Dia memintaku untuk menyampaikan pesan padamu. Kau tidak bisa dihubungi beberapa kali," katanya. Suaranya begitu dingin dan menakutkan. Tapi tatapan hangatnya pada Chanyeol masihlah sama.

"Sekarang, kau adalah mata-matanya, begitu?" geramnya pada Yejin. Yejin terkesiap. Tapi ia mencoba mengabaikan hal itu—tetap bersikap tenang.

"Tentu saja, tidak, Park!"

Chanyeol tersenyum. Tipis sekali. "Kau masih sama. Setiap kali kau marah, kau pasti akan memanggilku begitu."

"Well?" Yejin menunjukkan sebuah ponsel berwarna putih ke Chanyeol. Dari coraknya saja, Jongin bisa langsung tahu bahwa itu ponsel milik Yejin—karena diam-diam Jongin memang sering memperhatikan Yejin di sekolah.

"Dia benar-benar sudah kembali. Orang-orangku mendapat fotonya di bandara Incheon. Serius sedikit, Park!" bisiknya pelan. Chanyeol terdiam. Dari wajahnya saja, Jongin tahu pria itu sangat terkejut dan juga... ketakutan? Tapi, benarkah?

"Kau serius?" Suara Chanyeol terdengar begitu tenang, bahkan terlalu tenang. Jongin tidak bisa mengingat lagi wajah terkejut Chanyeol tadi. Pria itu memang memiliki banyak wajah.

"Aku serius."

Chanyeol menegakan tubuhnya, menatap tajam kearah Yejin. "Inilah yang kutunggu-tunggu, Yejin. Dia datang, aku akan menyambutnya. Aku memang menyiapkan kejutan yang manis untuknya."

"Jangan bercanda, Park!"

Yejin menegang. Wajahnya yang biasa tampil kalem tiba-tiba menjadi sangat berbeda. Seperti terpancar; keterkejutan, kesedihan dan juga amarah. Sekalipun, Jongin tidak pernah melihat ekspresi Yejin seperti itu. Aish! Keduanya itu sama!

"Aku tidak pernah bercanda, Yejin. Aku memang menantikan saat-saat ini. Kapan terakhir kali orang-orangmu melihatnya di bandara?" Suaranya melembut. Tapi nadanya terdengar seperti nada penuh gelora. Entahlah, Jongin tidak tahu. Sama sekali tidak bisa menebak-nebak apa yang sedang terjadi.

"Dua minggu yang lalu."

"Menarik."

Dan untuk pertama kalinya wajah Chanyeol terlihat begitu sedih. Hanya beberapa detik, karena ketika dia mendongak dan menatap Yejin, tatapannya benar-benar kaku—seperti biasa.

"Apa yang akan kau lakukan?" tungkas Yejin.

"Aku harus tahu, dimana dia sekarang."

"Aku tidak tahu. Orang-orangku kehilangan jejak. Kau tahu dia. Dia itu tidak mudah dilacak. Aku benar-benar tidak tahu dimana dia sekarang."

"Aku tidak suka menunggu dia menghampiriku, Yejin. Aku lebih suka aku yang menjemputnya." Yejin hanya menatap Chanyeol tanpa ekspresi. Dia sudah terbiasa dengan omongan vulgar orang ini. Terbiasa dengan sikap tidak suka berbasa-basi Park Chanyeol. Karena Yejinpun sebenarnya begitu. Sama saja.

"Bukankah dia sering menghubungimu?"

"Lima kali dalam sehari."

Yejin tertawa. "Bukankah ini lucu? Ini sama sekali belum berubah. Dia masih saja bersikap seperti itu? Benar-benar mengerikan."

"Kau kira ini lucu?"

"Dia tidak memberitahumu dia ada dimana?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Aku butuh bantuanmu lagi, Yejin."

Gadis cantik itu hanya tersenyum dengan gayanya yang biasa. Lalu menepuk pundak Chanyeol lagi. Mungkin itu sudah jadi kebiasaannya, menepuk pundak Chanyeol dan Chanyeol juga sudah tampak terbiasa.

"Tentu saja. Aku akan membantumu mendapatkannya kembali. Apapun dan bagaimanapun caranya, aku akan membantumu. Tapi untuk saat ini, kembalilah ke Baekhyun. Nanti dia cemburu lagi padaku."

"Pergilah."

Yejin pergi dari sana, dan dari sini, Jongin baru tahu bahwa bukan Yejinlah yang selama ini menghubungi Chanyeol diam-diam. Tapi seseorang yang disebut mereka dengan; dia. Siapapun dia, ada hubungan apa dengan Chanyeol? Dan kenapa Chanyeol seolah-olah menginginkan dia juga? Ada apa ini? Ada apa sebenarnya?

TBC_