"~*Sweet Love Story*~"

~Chapter 10:

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di Chapter 9:

.

.

.

.

.

.

Boboiboy sempat mengintip isi kelas dari jendela sebelum memasuki kelas.

Dari Jendela terlihat Yaya yang tengah duduk di bangkunya sambil sibuk mengerjakan sesuatu di bukunya. Entah itu PR atau tidak, tapi Boboiboy rasa kalau hari ini tidak ada PR sama sekali.

Boboiboy kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju ke dalam kelas. Ia sempat mengela napas terlebih dahulu sampai akhirnya ia melewati pintu kelas.

Saat Boboiboy melewati Meja Yaya, Yaya sempat melirik kearah Boboiboy sejenak dengan kepala yang masih menunduk menghadap buku. Yaya sedikit terkejut ketika menyadari Boboiboy melitasi dan melirik ke arahnya. Namun hanya sekian detik saja ia melirik dengan ekor matanya lalu setelah itu ia kembali fokus dengan bukunya.

Boboiboy sempat mengintip sekilas apa yang tengah Yaya kerjakan. Ya, seperti biasa, Yaya mengerjakan tugas yang sama sekali tidak di perintahkan oleh guru.

"Huuffhh..."
Desah Boboiboy setelah duduk di bangkunya.

~Chapter 10:

.

"Eh, Boboiboy, kau sudah mengerjakan PR belum?"
Tanya Gopal yang duduk di sebelah Boboiboy dan tengah mengunyah cemilannya.

"Eh? PR apa?"
Tanya Boboiboy terkejut.

"Kau masih belum mengerjakannya? Ish-ish-ish..."
Ujar Gopal sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"Hishh... kau ini mengada-ada saja. Mana ada PR?"
Ucap Boboiboy kesal.

"Adalah, PR Matematika yang kemarin lho..."

"PR Matematika? Kemarin?"
Gumam Boboiboy sambil mengingat-ingat.

"Iya... PR Matematika, yang lima soal itu."
Tambah Gompal masih sibuk mengunyah.

"Lima soal...?"
Boboiboy masih mengingat.

"Tugas Matematika...? Y-yang... L-lima soal itu! ALAAMMAAAAK!"

"KRIIIINNGGG..."
Bel masuk sekolah berbunyi.

"OH TIDAAAK!"
Boboiboy semakin panik dengan bel masuk yang telah berbunyi.

"Aduh... Ehh... Uhh..."
Gumam Boboiboy menggerutu sambil mengorek-orek isi tasnya mencari sebuah buku.

Setelah menemukan buku yang di maksud, yaitu sebuah buku tulis dan buku paket Matematika, Boboiboy dengan penuh kepanikan membuka buku paket dengan tak teratur, mencari soal PR yang dimaksud.

"Eh... P-PRnya halaman berapa Gopal? A-aku lupa."
Tanya Boboiboy dengan suara bergetar

"Entahlah..."
Ucap Gopal dengan wajah lemas sambil mengangkat bahunya.

"Oh iya..."
Gumam Boboiboy sangat mengingat kalau ia selalu melipat halaman yang dijadikan PR.

Dengan susah payah, akhirnya Boboiboy menemukan sebuah halaman yang terlipat. Namun ia memandang sejenak halaman tersebut.

'Apa benar PRnya yang ini?'
Boboiboy masih ragu-ragu dengan bergulat dengan ingatannya sendiri.

"Ah sudahlah..."
Gerutu Boboiboy kesal dan akhirnya pasrah untuk mengerjakannya.

"Uhh... aduh... pulpennya!"
Seru Boboiboy setelah tidak sadar kalau ia lupa untuk mengambil pulpennya.

Setelah mengambil pulpennya dari dalam tasnya, Boboiboy kemudian membaca soal pertama dengan cepat dan tergesa-gesa.

'Ini... bagaimana caranya?'
Batin Boboiboy kebingungan.

'Ah... lewati sajalah.'

Boboiboy kemudian melewati soal pertama dan kemudian menuju soal pertama. Di soal kedua Boboiboy paham rumusnya namun angka yang akan di hitung terlalu besar dan banyak jumlahnya. Alhasil Boboiboy kemudian selalu melewati setiap soal yang menurutnya sulit sampai akhirnya ia sampai di soal terakhir.

"Aduh... apa tidak ada soal yang lebih mudah?"
Gerutu Boboiboy kesal.

"Aduh... bagaimana nih Gopal?"
Tanya Boboiboy meminta pertolongan.

"Oh, kau masih belum mengerjakannya?
Pasrah sajalah..."
Ucap Gopal kembali melahap keripiknya sambil menopang dagu.

Boboiboy sudah tidak tau lagi harus melakukan apa. Ia sudah sangat panik saat ini, tapi apa daya ia tidak bisa melakukan apa-apa. Boboiboy sempat bingung dengan Gopal yang begitu saja pasrah padahal dia terlihat masih belum mengerjakannya juga.

Boboiboy kini hanya bisa memegangi kepalanya dengan kedua tangannya panik.

"Aduuhh... bagaimana ini?! Bagaimana kalau Cikgu Papa sampai tau kalau aku belum mengerjakan PR!"

"APAAA! KAU MASIH BELUM MENGERJAKAN PR!"
Teriak Papa Zola yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

"Eehh?!"
Gumam Boboiboy yang tersungkur di lantai karena terkejut.

"B-bu-bukan Cikgu."
Ucap Boboiboy gagu.

"BUKAN APAAA?!"
Teriak Cikgu Papa kembali sambil mendekatkan wajahnya dengan berkacak pinggang.

"Bukan Cikgu... sebenarnya..."
Ucap Boboiboy masih tersungkur di lantai.

"Hmm...?"
Gumam Cikgu Papa masih menunggu sambil makin mendekatkan wajahnya ditambah sebelah alis yang naik.

"Ehhh... Ummm..."
Boboiboy hanya diam tak bisa berkata apa-apa sementara ada wajah aneh Cikgu Papa di depan matanya yang masih terus menunggu alasan Boboiboy.

"Ehheemm..."
Batuk Yaya yang sengaja dibuat-buat.

"Banguuunn..."
Seru Yaya yang di ikuti berdirinya semua murid.

"Ehh...?"
Gumam Cikgu Papa heran sambil menoleh.

"Selamat Pagi Cikgu!"
Teriak sang ketua kelas tersebut.

"Selamat Pagi Cikgu!"
Seru para murid mengikuti.

"Ehh?"
Gumam Boboiboy dan Cikgu Papa berbarengan.

Mereka berdua masih diposisi yang sama dengan Boboiboy yang masih tergeletak di lantai dan Cikgu Papa yang ada di depannya. Keadaan hening beberapa saat dengan para murid yang memandangi mereka berdua heran kecuali Fang yang sedang menopang dagu sambil memandang ke luar jendela dan Gopal yang sedang sibuk minum karena tersedak makanannya tadi setelah terkejut dengan kedatangan Cikgu Papa yang mendadak.

"Ehh?"
Cikgu Papa akhirnya berdiri sambil berpura-pura membersihkan bajunya. Dan akhirnya juga Boboiboy dapat duduk kembali ke kursinya.

"SELAMAT PAGI MURID SEMUA! Silahkan kembali duduk..."
Salam Cikgu Papa sambil berteriak lalu menyuruh para muridnya duduk kembali.

"Huuuhh..."
Boboiboy menghembus napas lega, mengira dirinya telah selamat.

"Y-Yaya..."
Panggil Boboiboy pelan dari belakang.

"Ehh...? Iya Boboiboy...?"
Ucap Yaya sembari sedikit menoleh ke belakang.

"T-terima kas..."

"HEYY! BOBOIBOY!"
Teriak Cikgu Papa tiba-tiba memotong sambil menggebrak meja Boboiboy mengejutkannya sampai membuat topi dinosaurus Boboiboy miring.

"Ehh...? K-kenapa Cikgu?"
Gumam Boboiboy kembali panik.

"KENAPA KAU MASIH BELUM MENGERJAKAN PRMU HAAAHH!"
Tanya Cikgu Papa dengan volume yang tinggi karena berteriak.

"Ehh... umm..."
Boboiboy terdiam sesaat.

"Uhh... s-siapa yang bilang belum Cikgu?"
Ucap Boboiboy sedikit ragu.

"S-saya sudah mengerjakannya kok Cikgu."
Ujar Boboiboy merapikan topinya kembali sambil membuka-buka buku tugasnya.

"Haaahhh...?"
Gumam Cikgu Papa sedikit heran.

"B-benar Cikgu, ini..."
Ucap Boboiboy kemudian memperlihatkan PR lama yang sudah ia kerjakan.

"Ohh... baguslah kalau begitu."
Ucap Cikgu Papa hanya memperhatikan sekilas tanpa membacanya.

"Huuuhhh... selamat..."
Gumam Boboiboy pelan karena untungnya saja Cikgu Papa tidak menyadarinya. Dan untungnya saja Ia sempat menemukan PR lama yang jumlahnya sama yaitu 5 soal dan kebetulan sekali tipe-tipe soal tersebut hampir sama dan mirip.

"SUDAAAHHH!"
Teriak Cikgu Papa tiba-tiba kembali membuat Boboiboy tersentak kaget.

"KEBENARAN SUDAH TAK SABAR! MARI KITA KOREKSI PRNYAAAAA!"
Teriak Cikgu Papa dengan penuh semangat.

"Baiklah. Soal No.1, Gopal, maju ke depan!"
Perintah Cikgu Papa.

'Haahh? Maju ke depan?'
Batin Boboiboy mulai panik.

Gopalpun segera bangkit dari duduknya dan kemudian maju dengan membawa buku tugasnya di genggamannya.

"Ehh?"
Boboiboy sempat heran dengan Gopal yang katanya belum mengerjakan PR tetapi dia sangat tenang dan percaya diri sekali maju ke depan.

"Setelah ini... Boboiboy maju ke depan, bersiap untuk soal No.2."

'APAA?!'
Batin Boboiboy berteriak panik. Tidak biasanya Cikgu menyuruhnya untuk maju ke depan. Padahal soalnya cuman ada 5 saja, tetapi kenapa harus ada dirinya di antara salah satunya?

Kini Gopal tengah menuliskan jawabannya di depan papan tulis. Sementara Boboiboy terus berkeringat sambil stress memegangi kepalanya sendiri.

"Aduhh! Bagaimana ini!"

"Duh... sialan, matilah aku..."
Gerutu Boboiboy tak ada hentinya. Ia hampir putus asa. Entah hukuman apa yang akan diberikan oleh Cikgu Papa nanti ia tidak tau namun ia kini sudah pasrah dan siap menerima hukuman tersebut. Sampai akhirnya...

*Cletukkk...*
Bunyi segumpal kertas yang menghantam kepala Boboiboy yang tengah menunduk.

"Eh...?"
Gumam Boboiboy mengangkat wajahnya dan kemudian mencari benda yang menghantam kepalanya tadi.

'Eh... A-apa ini?'
Batin Boboiboy heran saat melihat segumpal kertas yang ada di depan matanya. Ia lalu segera mengambilnya dan membuka selembar kertas yang menggumpal tersebut yang entah dari mana asalnya.

Boboiboy kemudian membaca secarik kertas tersebut. Isi selembar kertas yang sudah lecek tersebut hanya ada angka "No.2" dan angka-angka seperti rumus beserta jawaban yang ada disampingnya.

"Eh, dari siapa ini?"
Gumam Boboiboy kembali bertanya-tanya.

Setelah membolak-balik kertas tersebut, ia akhirnya menemukan sebuah tulisan yang berada di pojok bawah kanan kertas yang tulisannya tidak begitu jelas karena ukuran hurufnya yang sangat kecil dan ditambah lagi kertas yang sudah lecak semakin membuatnya sulit untuk dibaca.

Setelah menerawang dengan penuh susah payah, Boboiboy akhirnya dapat membaca huruf tersebut satu demi satu.

Huruf pertama terlihar paling jelas yaitu huruf "Y". Lalu huruf kedua sedikit tidak jelas dan menyerupai huruf "a". Sedangkan huruf ketiga bentuknya seperti mirip dengan huruf pertama yaitu "Y". Dan huruf yang terakhir yang paling susah, karena sepertinya huruf tersebut belum sempurna dan belum selesai dibuat. Boboiboy kemudian akhirnya mencoba untuk menebak-menebak siapa orang yang telah menulisnya. Siapa lagi nama orang di kelas ini yang ketiga huruf depannya "Y - a- y" kecuali...

"Yaya...?"

"BAGUS! CHAABAASS GOPAL... CHAABAASS... JAWABAN KAMU BENAAAARR!"
Teriak Cikgu Papa.

'Apa?!'
Boboiboy tak percaya dengan jawaban Gopal yang tak disangka-sangka ternyata benar.

"Eh?"
Boboiboy menoleh tak sadar kalau ternyata Gopal sudah berada di sebelahnya.

"Eh, Gopal. Bagaimana bisa kau..."

"SUDAAAH! Sekarang... BOBOIBOOOOY! CEPAT MAJU!"
Teriak Cikgu Papa memerintah.

"Ehh... uhh... t-tapi..."

"KENAPA?! JADI BENAR KAU BELUM MENGERJAKAN YA?!"

"Eh... t-tidak Cikgu."
Jawab Boboiboy gemetar.

"Kalau begitu... KENAPA KAU TIDAK MAJU KEDEPAN HAAAAHHH?!"
Teriak Cikgu Papa.

"Ehh... i-ini Cikgu, baru saja saya mau maju."
Ujar Boboiboy bangkit dari duduknya sambil membawa selembar kertas tadi.

Sesampainya di depan papan tulis, Boboiboy sempat menggaruk-garuk kepalanya ragu apakah ia akan mengikuti isi kertas tersebut atau tidak. Ia memandangi sejenak kertas lecak tersebut. Sesekali Boboiboy melirik ke arah Yaya namun Yaya tiba-tiba mengalihkan matanya pada bukunya sendiri dan pura-pura tidak tau.

Setelah dipikir-pikir, percuma juga Boboiboy meragukan isi kertas tersebut karena hanya itulah satu-satunya harapan baginya untuk selamat. Lagi pula inikan jawaban dari Yaya, jadi ia tidak sepantasnya meragukan kepandaian sang Rangking 1 di kelasnya itu. Selain itu juga Yaya adalah orang yang baik, jadi dia tidak akan mungkin jahil dan memberikan jawaban yang salah.

"CEPATLAAHH! KAMU INI TUNGGU APA LAGIIIII!"
Teriak Cikgu Papa yang kesal melihat Boboiboy hanya diam sedari tadi.

"I-iya, B-baik Cikgu."

Boboiboy kemudian hanya bisa pasrah dan kemudian segera menuliskan apa yang ada di dalam kertas tersebut. Belum sampai menempelnya ujung spidol tersebut dengan papan tulis, tiba-tiba Cikgu Papa menghampirinya.

"Eh, Kenapa kamu hanya membawa selembar kertas?"
Tanya Cikgu Papa menyelidiki karena heran dengan Boboiboy yang tidak membawa bukunya.

"Ehh... uhh... Ohh, tadi kertas saya tidak sengaja robek Cikgu."
Jawab Boboiboy berbohong.

Boboiboy kesal dengan dirinya sendiri yang kenapa tadi tidak membawa sekaligus bukunya agar tidak ketahuan. Namun untungnya Cikgu Papa hanya mengangguk pelan sambil mengelus-elus jenggotnya.

"Huuuffhhh..."
Gumam Boboiboy pelan karena merasa lega.

"Lalu... kenapa kertasmu itu sangat lecak?"
Tanya Cikgu Papa kembali membuat Boboiboy gemetar.

"Uhhh... Oh, itu, biasalah Cikgu."

"Haaahh?"
Cikgu Papa masih belum paham.

"Itulah Cikgu, biasa... si Gopal..."
Ujar Boboiboy mengecilkan volume suaranya pada akhir kalimat.

"Ohhhh..."
Gumam Cikgu Papa kini telah paham.

Boboiboy kembali menghela napas berat. Tak menyangka kalau "Akting" nya tadi cukup berhasil untuk mengelabuhi seorang Cikgu Papa.

Boboiboy kemudian kembali menuliskan atau mungkin lebih tepatnya menyalin jawaban Yaya ke papan tulis. Ia terus menuliskan rumus-rumus dan angka yang cukup panjang, meskipun wajahnya terus mengernyit tak paham dengan apa yang telah ditulisnya sendiri.

Setelah selesai menulis, Boboiboy mundur beberapa langkah dari papan tulis sebagai pertanda ia telah selesai. Jantung mulai berdebar menantikan hasil benar atau salahkah jawaban yang ia tulis. Sebenarnya ia tidak terlalu khawatir dengan jawaban yang telah di berikan Yaya, namun ia lebih khawatir kalau ia salah menuliskan angka atau rumus dan lebih takut lagi kalau saja nanti ia ditanya dan disuruh menjelaskan rumus yang baginya sungguh asing itu.

"Hmmm..."
Gumam Cikgu Papa tengah mengoreksi jawaban yang ada di papan tulis. Boboiboy masih menanti dengan wajah yang berkeringat.

"Hmm... bagus-bagus, jawaban kamu memang tepat sekali..."

"Huuuuhhh..."
Boboiboy kembali menghela napas lega karena akhirnya ia bisa kembali duduk di kursinya setelah sedari tadi berdiri dengan kaki yang terus gemetar.

"Eiitss... tunggu dulu."
Panggil Cikgu Papa.

"Huuuffhh... kenapa lagi Cikgu? Jawaban saya betulkan?"
Ujar Boboiboy sedikit kesal.

"Umm... kenapa di kertas itu cuma ada soal No.2?"

"Eh...? Uhh..."
Boboiboy kali ini hanya bisa diam. Sudah tidak mampu untuk mengelak lagi. Wajah Boboiboy mulai ketakutan dengan jantung yang berdetak kencang.

"Jangan-jangan kamu..."

"HAAA! Cikgu, saya mau maju untuk No.3!"
Seru Yaya memotong ucapan Cikgu.

"Bolehkan Cikgu? Bolehlah..."
Ujar Yaya langsung maju kedepan tanpa ragu dan langsung menuliskan jawabannya di papan tulis.

"Oh, kamu nampak semangat sekali ya? Inilah baru yang namanya anak murid kebenaran sejati! Jaranglah sekali anak murid yang seperti kamu ini. Patutlah... anak murid kebenaran semuanya... seharusnya..."
Ujar Cikgu Papa panjang lebar berceramah kepada para semua muridnya.

Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh Boboiboy untuk mengendap-mengendap, perlahan demi perlahan melangkah menuju kursinya. Ia akhirnya selamat dan duduk di kursinya semula tanpa di sadari oleh Cikgu Papa yang masih terus sibuk mengoceh.

"Fyuuuhhh..."
Ucap Boboiboy sambil menenangkan dirinya.

Boboiboy kemudian teringat kembali akan Gopal yang maju ke depan tadi.

"Eh Gopal, bagaimana kau bisa menjawab soal tadi? Bukannya kau belum mengerjakan PR juga?"

"Ehh...? siapa bilang aku belum mengerjakannya?"
Ujar Gopal menaikan sebelah alisnya.

"Lohh, tapi kau bilang... tadi kau tidak tau halaman berapa PRnya?"
Tanya Boboiboy terkejut.

"Ohh... kalau itu memang betul, aku memang tidak tau halamannya"
Ujar Gopal mengaku.

"Habis, bagaimana kau bisa..."

"Alaaahh... kau seperti yang tidak tau saja. Seperti biasa, sebelum bel masuk aku sudah mulai beraksi."
Ucap Gopal menyisakan tanda tanya.

Boboiboy berpikir sejenak dengan apa maksud ucapan Gopal tersebut sampai akhirnya Boboiboy mencemberutkan wajahnya saat tau apa artinya.

"Maksudmu kau mencontek?"
Tanya Boboiboy dengan wajah lemas.

Gopal hanya cengengesan sesaat.

"Ehh, a-aku tidak menyontek. Aku cuma... meminjam buku orang saja..."
Ujar Gopal membuat alasan.

"Tapi... aku pinjam tanpa izin, hehe..."
Tambah Gopal lagi sambil cengengesan.

"Ohh... KAU AMBIL BUKU FANG LAGI YAAA?"

"Sssstttt... diamlah Boboiboy, nanti ketahuan!"
Ucap Gopal sambil membekap mulut Boboiboy.

"Huuuhhh... pantas saja jawabanmu benar."
Ucap Boboiboy kembali dengan mata lemas.

"Eee... sudahlah, lagi pula kan aku sudah menaruh kembali bukunya kedalam tasnya, dengan keadaan yang masih mulus kok."
Ucap Gopal dengan alasan anehnya.

"Okelah, kalau itu terserah kau, itu menjadi urusanmu. Tapi kenapa kau tadi tidak menolongku haaahhh!"
Ucap Boboiboy kesal.

"Umm... uhhh, hehe... maafkan aku Boboiboy, habisnya... kau tadi tidak tanya sih."

Boboiboy hanya menggelengkan kepalanya lelah menghadapi sifat temannya yang satu itu. Entah apa masalah yang ia punya dengan Gopal hingga Gopal tega tidak menolongnya dalam keadaan sedarurat itu.

Boboiboy kemudian mencoba melupakan masalahnya dengan Gopal itu kemudian ia kembali memandang selembar kertas tadi yang ada di genggamannya. Hari ini... Yaya sudah menolongnya bertubi-tubi. Entah kenapa Yaya hari ini bagaikan malaikat yang turun dari langit baginya.

Yaya sudah terlalu banyak berbuat baik padanya. Terlalu banyak. Sedangkan... Boboiboy sendiri masih belum tau apa yang akan ia lakukan untuk Yaya.

"Huuuuhhhh..."

~• Skip Time •~

"KRIIIIIINNGG..."
Bel istirahat berbunyi.

Para murid pun mulai pada berhamburan keluar kelas, menuju kantin untuk mengisi perut setelah lelah belajar di kelasnya masing-masing.

Sedangkan Yaya masih sibuk mengemasi dan membereskan bukunya yang ada di atas mejanya. Sedangkan Boboiboy masih duduk diam di belakangnya. Terlihat seperti ragu-ragu ingin menyapa.

"Umm..."
Boboiboy masih diam di tempat.

"Uhh... Ya-... ehh..."

Beberapa saat kemudian Yaya telah selesai membereskan bukunya lalu bangkit dari duduknya.

"Eh, t-tunggu Yaya..."
Cegat Boboiboy sambil bangkit dari duduknya.

Langkah Yayapun terhenti dan lalu kemudian berbalik.

"Eh? I-iya Boboiboy, ke-kenapa?"
Tanya Yaya sedikit terkejut.

"Uhh..."
Boboiboy melirik ke arah selembar kertas yang ada di genggamannya.

"Umm... ini... kertas ini darimu kan?"
Tanya Boboiboy sambil memperlihatkan kertas lecak tadi.

"Uhh... I-iya. Itu memang dariku. M-maaf ya kalau tulisannya agak tidak jelas soalnya aku tadi buru-bu..."

"Eh, iya, tidak apa-apa kok. T-terima kasih banyak ya."
Potong Boboiboy.

Ya, tulisan yang ada kertas tadi memang tidak begitu jelas. Namun setidaknya masih bisa terbaca oleh Boboiboy.

"Oh, i-iya sama-sama..."
Balas Yaya sedikit malu-malu.

Setelah itu pun mereka hanya saling diam tidak berkata.

Boboiboy kemudian tertawa setelah menyadari kalau entah kenapa mereka berdua berbicara sangat kaku sekali layaknya seperti orang yang baru kenal.

"Ya sudah, kalau begitu... ayo kita ke kantin."
Ajak Boboiboy dengan wajah yang telah riang kembali.

Yaya kemudian hanya menurut dan mengikuti langkah Boboiboy yang melangkah keluar kelas.

"Untung saja... PR tadi tidak di kumpulkan dan tidak di nilai. Kalau PR tadi di kumpulkan, bisa habis aku."
Ujar Boboiboy dan hanya di sauti oleh tawa pelan Yaya.

"Dan untung saja tadi ada kau. Kau ini memang gadis yang sangat baik sekali. Sekali lagi terima kasih ya Yaya."

"Iya, s-sama-sama."
Jawab Yaya sedikit malu karena telah di puji.

"Umm... jadi... yang tadi kau kerjakan itu PR ya?"
Tanya Boboiboy kini tengah menyusuri koridor sekolah.

"Umm..."
Yaya diam sejenak.

"Tapi... tumben sekali kau mengerjakan PR di kelas."

"Eh, b-bukan. Itu bukan PR kok."
Ucap Yaya akhirnya menjawab.

"Haahh?"
Gumam Boboiboy sedikit heran.

"Tadi itu sebenarnya... aku sedang mengisi biodata."
Ujar Yaya.

"Biodata? Biodata untuk apa?"
Tanya Boboiboy sambil menoleh kearah Yaya.

"Umm... biodata untuk pemilihan Ketua OSIS yang baru."
Ucap Yaya agak malu.

"Ketua OSIS...?"
Boboiboy berpikir sejenak.

"Ohh... jadi.. kau mau mencalonkan diri ya?"
Tanya Boboiboy antusias.

"I-iya."
Jawab Yaya singkat.

"Tapi, aku rasa... aku tidak jadi daftar."
Tambah Yaya sambil menunduk.

"Eh, kenapa?"
Tanya Boboiboy terkejut.

"Umm... aku tidak yakin kalau aku..."

"Yaya! Kau harus yakin kalau kau pasti bisa!"
Potong Boboiboy penuh semangat.

"Uhh..."
Gumam Yaya masih menunduk.

"Lagi pula aku juga yakin kalau kau bisa. Bahkan aku rasa kau ini murid yang paling displin di sekolah ini. Selain itu kau juga orang yang tegas ketika menjadi ketua kelas. Jadi... memang sangat pantas sekali kalau kau jadi Ketua OSIS."
Ujar Boboiboy menyemangati.

Yaya masih diam menunduk.

"Umm... yang penting kau harus coba dulu sebelum menyerah."
Ucap Boboiboy sambil merangkul bahu Yaya.

"Haaa! Tenang saja, pokoknya aku janji aku pasti akan menolongmu. Jadi... kalau kau nanti butuh bantuan panggil saja aku, oke?"

Yaya kemudian menoleh kearah Boboiboy.

"Eh, i-iya. Terima kasih."
Ucap Yaya sambil tersenyum, kini semangatnya mulai tumbuh kembali.

Tak berapa lama kemudian mereka telah sampai di kantin sekolah menengah pertama mereka tersebut. Sesampainya di kantin, mereka berdua mendapati tempat pemesanan makanan yang sangat ramai dan padat hingga antriannya panjang sekali karena seperti biasa jam awal istirahat keadaan kantin memang masih sangat ramai sekali.

Boboiboy sedikit menjinjit dan melihat antrian yang sangat padat sekali. Antrian yang tidak bisa ia lewati, tidak jika bersama Yaya.

"Umm... Yaya. Lebih baik kau tunggu dan duduk saja dulu. Biar aku saja yang memesan makanannya. Nah, kau mau beli apa?"
Tanya Boboiboy.

"Uhh... aku... aku pesan mie goreng saja dengan air putih dingin."
Jawab Yaya.

"Itu saja?"
Tanya Boboiboy meyakinkan kembali.

"Iya, a-aku tunggu di sana saja ya."
Ucap Yaya sambil menunjukan kursi dan meja kosong yang tak terlalu jauh dari tempatnya berada.

"Oh, ya sudah. Tunggu aku ya."
Ucap Boboiboy lalu kemudian kembali mendatangi kerumunan antrian tadi.

Yayapun lalu menuju kursi kosong yang di maksud tadi kemudian duduk menunggu Boboiboy yang tengah memesan.

Yayapun mulai senyum-senyum sendiri. Kembali menemukan Boboiboy yang dulu. Sesosok laki-laki yang selalu menghiburnya, memujinya, menemaninya, dan yang paling penting adalah menyemangatinya. Semangat yang selalu Yaya butuhkan di saat rasa rendah diri dan ketidak percayaan dirinya muncul.

Entah kenapa namun amat berbeda rasanya jika ia tengah berada di samping Boboiboy jika di bandingkan dengan laki-laki yang lain. Yaya begitu saja percaya pada sosok laki-laki tersebut dan selalu merasa aman meskipun kemungkinan apapun dapat terjadi.

Bahkan kadang Yaya sendiripun sering bertengkar dengan sehabatnya sendiri yang paling dekat, yaitu Ying. Namun... berbeda rasanya dengan Boboiboy. Tak sanggup rasanya ia Yaya memarahinya. Mungkin ia bisa marah pada Boboiboy, namun hanya di bibir saja, tidak akan sampai di hati. Ingin rasanya Yaya selalu menolong dan berguna bagi Boboiboy bahkan tanpa pamrih sekali pun.

Ya, mungkin inilah rasanya cinta. Rasanya kenyamanan cinta sejati. Yaya sangat bersyukur bisa mencintai seseorang seperti Boboiboy. Dan meskipun Boboiboy tidak mengungkapkannya, Yaya tau kalau Boboiboy juga mencintainya.

"Ihh... apa sih."
Gumam Yaya menggelengkan kepalanya pelan sambil senyum-senyum sendiri. Bisa-bisanya ia sok tau. Bisa-bisanya ia berperilaku seperti ia sudah berpacaran. Di tambah lagi Yaya terlalu sangat yakin sekali kalau Boboiboy juga mencintainya.

Ya... meskipun Boboiboy tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung, namun Yaya sangat yakin kalau Boboiboy akan selalu ada untuknya, ia tidak akan pernah meninggalkannya. Dan Boboiboy akan selalu mendampinginya.

~ Boboiboy's Scene:

Boboiboy masih sibuk berjinjit. Mencari celah dan mencari kesempatan diantara kesempitan kerumunan yang ramai tersebut. Ia kini masih berada di paling belakang kerumunan tersebut. Terus berusaha sambil berpikir cara tercepat dan teraman untuk melewat mereka semua.

~• 5 Menit Kemudian •~

"HIIIIYAAAAAA!"
Teriak seorang super hero pengendali elemen tersebut.

Ia bukan tengah bertarung dengan Adudu ataupun sedang berperang. Namun kini Boboiboy tengah berjuang. Berjuang sekuat tenaga untuk bertahan dari kerumunan manusia dengan tangan yang penuh makanan dan minuman. Ia terpaksa menerobos kerumunan tersebut karena hanya itulah satu-satunya cara. Boboiboy mungkin bisa saja menggunakan kuasanya untuk menghadang mereka semua, menghempaskan mereka semua dengan mudah bagaikan kapas dan bulu-bulu yangv berterbangan baginya. Namun ia pasti akan menyakiti orang lain jika ia menggunakan kuasanya. Dan ia tidak ingin menyakiti siapa pun. Jadi... tidak ada pilihan lain selain mengorbankan tubuhnya sendiri.

"Haduuuhh... Huuuhhh... huuuhh..."
Desah Boboiboy ngos-ngosan saat sesampainya di meja Yaya.

"I-ini Yaya..."
Ucap Boboiboy sambil meletakan makanannya diatas meja.

"Uhh..."
Gumam Boboiboy kesakitan sambil memegangi bahu dan punggungnya.

"KREEETEKK..."
Bunyi sendi punggung Boboiboy yang bergeser lalu di sertai dengan desahan mengaduh Boboiboy.

"Haaaduuuh..."

"Ehh...?"
Gumam Boboiboy heran ketika melihat bangku yang ada di depannya kosong tak dihuni.

"M-mana Yaya?"
Ucapnya seketika berhenti melakukan aktivitasnya memutar bahu.

Sejenak ia mencari-cari sosok Yaya di sekitar kantin tersebut dari jauh. Namun ia kembali melupakannya ketika rasa ngilu di bahunya kembali kumat.

"Uhh... uh, aduuuhhh... Ah sudahlah, mungkin dia sedang ke kamar mandi."
Ujar Boboiboy kemudian duduk di kursi.

"Fyyuuuhhh..."
Desah Boboiboy kelelahan sambil menyapu jidatnya.

"Eh?"
Mata Boboiboy kemudian tiba-tiba terbelalak dan baru sadar akan sesuatu.

Boboiboy kemudian menyentuh keatas dahinya kembali dan meraba-raba kepalanya sendiri.

"Eh... M-mana topiku!"
Teriak Boboiboy ketika tangannya menyentuh rambutnya.

Boboiboy kemudian kembali menoleh kearah kerumunan ramai tadi dengan tatapan wajah yang trauma.

"TIIDAAAAAAKK!"

.

.

.

.

.

.

.

## To Be Continue ##

.

.

.

.

.

.

A/N:

Sebenarnya Aku kepengen bikin chapter ini lebih panjang lagi. Tapi kayaknya bakalan lama selesainya karena lanjutnya panjang banget dan karena juga cuma di sini momen yang pas untuk di cut scenenya :-D Hehe... sorry ya semua.

Oh iya, di sini ada yang pernah baca ff-ku yang judulnya "Super Hero Yang Terlupakan" nggak? Soalnya aku mulai mau serius untuk ngelanjutin ff itu karena chapternya yang baru 2 chapter tapi Reviewnya banyak banget. Jadi aku mau tanya disini ada nggak yang nunggu ffku itu?

Jadi maaf kalau ff yang ini agak lama updatenya karena aku juga lagi mulai fokus untuk update ff SHYT. Selain itu Author juga lagi di kampumg nih. Jadi... gimana ya waktu yang tepat kalau mau nulis updatetan ffku ini.

Untuk ff ini, untuk chapter selanjutnya akan ada flasback yang lumayan panjang. Kira-kira flasbacknya siapa ya? Makanya Review yang banyak untuk mau tau cerita selanjutnya. Tak bosan-bosannya Author selalu mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyak untuk semua yang sudah mereview ffku ini. Oke, jangan lupa untuk menjawab pertanyaanku yang tadi ya!

Jumpa Lagi Di Chapter Selanjutnya!