Pesan Lewat.

Berdasarkan voting yang kemaren, akhirnya terpilih lima suara yang mendukung kalo Bella tetap pergi ke acara makan malamnya tanpa memedulikan surat dari Antonio.

Recommend Soundtrack : watch?v=VweYtlp4O6o


.

A Hetalia Fanfiction

.

.

Chapter 9 of The Boys Broken Heart

.

The Broken Angel

.

.

CAST

Antonio Carriedo

Bella Maes

Lovino Vargas

Lavinia Vargas

Jeanne D' Arc

.

.


.

Mungkin aku telah hancur. Aku hancur jika harus melihat sosokmu terus-menerus.

.

.

Malam itu hujan turun. Malam itu langit terhalang kabut. Bintang-bintang tak menampakkan sinarnya. Malam itu kelam, dan dingin. Kesepian menyelimuti sebagian manusia yang hidup tanpa cinta. Atau hidup ditinggalkan cinta.

Namun, sebuah restoran Prancis yang paling tersohor di kota, tengah dipenuhi oleh hiruk-pikuk manusia, tawa, serta kehangatan. Sorot lampu ruangan yang keemasan itu menyemburat ke trotoar yang gelap. Betapa memberi penghalang antara kesedihan dan kebahagiaan.

Seorang wanita dengan rambut pirang sebahu baru saja menyelesaikan makanan pembukanya. Dia didampingi oleh seorang pria, dan kedua orang tua pria tersebut. Mereka berbincang-bincang dengan sangat akrab, dengan canda dan tawa.

Pria yang duduk di sebelahnya sedang dilanda rasa gugup. Hari ini adalah hari besarnya. Dia sudah merencanakannya sejak berminggu-minggu yang lalu. Dia berharap wanita itu yang akan menjadi pendamping hidupnya nanti. Dia berharap wanita itu akan menerima lamarannya nanti.

Tak jauh dari restoran itu, hanya terhalang oleh beberapa jalanan yang temaram, seorang pemuda Spanyol tengah memetik senar-senar gitarnya. Memainkan alunan melodi yang sedih, dengan tatapan mata yang kosong. Dia bermain gitar di atap apartemennya. Tidak memedulikan betapa rintik hujan telah membuat tubuhnya basah, dingin, dan menggigil. Pemilik iris hijau itu tetap melanjutkan permainan gitarnya.

Dia masih waras. Dia bukan manusia yang kehilangan pegangan hidupnya. Dia hanya sedang patah hati, hal yang wajar bagi setiap orang yang pernah mengalami cinta.

Awalnya malam itu tidak hujan. Antonio sedang menikmati keindahan langit malam, sekaligus kesedihan dari melodi yang dia mainkan di atap apartemennya. Pikirannya melayang pada sosok jelita yang dahulu adalah teman masa kecilnya. Pada hubungannya dengan wanita itu di masa kini. Lalu, pada ketidakjelasan hubungan mereka. Ketidakjelasan yang membuat hubungan mereka berakhir, menggantung, tanpa menyisakan jejak sedikit pun. Kemudian hati Antonio terasa perih.

Pikirannya kembali melayang pada keindahan langit malam, lalu pada Bella, lalu pada hubungan mereka yang menggantung. Kemudian, semua itu berujung dengan menimbulkan rasa sakit yang sama pada lubuk hati Antonio. Siklus itu terus berlanjut, hingga akhirnya hujan turun membasahi bumi. Membasahi luka pada hati Antonio yang belum juga kering.

Hujan itu turun hingga saat ini.

Antonio tahu, malam ini Bella tengah mengadakan pertemuan dengan calon mertuanya. Dan kemungkinan besar, Bella akan dilamar oleh Lovino Vargas. Untungnya, sore tadi dia sempat menyisipkan sebuah surat di tas putih yang biasa Bella pakai. Surat mengenai kehancuran hatinya. Antonio berharap dia masih memiliki kesempatan untuk berbincang dengan Bella, sebelum sebuah cincin berlian melingkar di jari manis wanita itu. Antonio berharap Bella mendatanginya malam ini.

"Kenapa kau masih disini?" tanya sebuah suara yang membuat Antonio menoleh ke belakang.

Antonio menaruh gitarnya ke lantai atap, "Jeanne…" katanya dengan tatapan mata yang kosong.

"Ayo kita pergi ke restoran itu! Aku ingin menunjukkan sesuatu,"

Antonio hanya menggeleng, "Tidak. Aku memang pantas sendiri. Aku tak mampu membahagiakan Bella. Aku pantas… sendiri,"

"Tutup mulutmu!" bentak Jeanne.

Wanita itu menarik Antonio dari posisi duduknya. Kemudian, mereka berdua berjalan menuruni atap. Meninggalkan gitar coklat yang kini terisi genangan air hujan.

Beberapa saat kemudian, mereka tiba di restoran tempat Bella dan calon keluarganya melakukan pertemuan.

"Untuk apa kau membawaku kesini?" tanya Antonio yang merasa sakit di hatinya mulai meradang lagi.

"Aku ingin menyadarkanmu. Memang sulit… tapi aku akan berusaha,"

"Apa maksudmu?"

"Kau tak sadar? Kau tak ingat apapun, bukan?"

"Ingat apa?" lirih Antonio. "Apalagi yang harus aku ingat?"

Antonio merasa setetes air mata meluncur melintasi wajahnya. Dia teringat pernah mengunjungi restoran ini bersama Bella. Saat itu hari Natal.

"Hidup terus berjalan, Antonio… bisakah kau berhenti menoleh ke belakang?"

Antonio mengepalkan kedua tangannya. Berusaha menahan rasa sesak yang mulai menyerang tenggorokannya.

"Antonio… tolong lihatlah dirimu, lihatlah diriku, kita-…"

"Aku benci diriku!" kata Antonio memotong kalimat Jeanne. "Lelaki macam apa yang menangisi nasibnya?! Lelaki macam apa yang membiarkan cintanya pergi bersama lelaki lain?!"

Jeanne ikut mengusap matanya yang mulai digenangi air.

"Antonio kau lelaki yang hebat,"

"Hatiku sakit, aku kira aku… hancur, Jeanne! Tak ada lagi cahaya di hidupku…"

Jeanne menggeleng, "Jika kau begitu mencintainya, temuilah dia…" Jeanne menunjuk pada sepasang manusia yang berdiri di luar restoran. Nampaknya mereka tengah membicarakan sesuatu yang membahagiakan.

Antonio terbelalak, "Aku tak mungkin menemuinya sekarang,"

"Tidak sekarang, tunggu hingga Lovino pergi."

Antonio sempat mempertimbangkannya, tapi akhirnya dia menganggap menemui Bella hanya akan memperdalam lukanya. Dan lagi, itu merupakan keputusan yang bodoh.

"Lebih baik aku pergi dari sini," kata Antonio.

Antonio baru mulai beranjak, ketika kedua tangan Jeanne mendorongnya ke hadapan Bella yang kini tengah sendiri. Di jari manis wanita itu telah melingkar sebuah cincin emas. Lovino telah kembali ke dalam restoran, hendak menyampaikan sebuah kabar gembira kepada kedua orangtuanya.

Bella tersenyum menatap jari manisnya. Dia seakan tak menyadari kehadiran Antonio.

Antonio merasa gugup. Dia tak bisa mundur sekarang, Bella berada tepat di hadapannya. Entah apa yang harus dikatakannya sekarang, dia tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Terakhir kali dia berbincang dengan Bella adalah beberapa minggu yang lalu. Dan itupun berjalan sangat singkat.

Kini, Antonio merasa canggung berhadapan lagi dengan sosok itu.

"B…Bella," lirih Antonio.

]Bella menoleh ke arahnya, tetapi tak mengatakan apa-apa. Dia hanya memandang, lalu beralih pada hujan yang turun.

"Maafkan aku telah mengirim surat itu. Aku tahu kau marah. Seharusnya aku tak mengganggu hidupmu lagi… aku minta maaf. Aku hanya ingin kau tahu, untuk terakhir kalinya, umm…"

Bella menoleh lagi ke arahnya. Tetapi tatapan matanya tak bertemu dengan iris hijau milik Antonio. Antonio merasa ada yang ganjil.

Antonio menarik nafas panjang sebelum berkata,"Aku mencin-…"

Kalimat yang sedikit melukiskan isi hatinya itu, terputus.

Tiba-tiba, Lovino berlarian dari dalam sebari memegang ponselnya. Dia segera memberikan ponsel itu pada Bella, ketika dia telah sampai di samping Bella.

"Ada apa?!" tanya Bella terkejut.

"A…aku kurang mengerti situasinya. Lavinia ingin berbicara denganmu, katanya ini penting," kata Lovino terengah-engah.

Bella segera menempelkan ponsel itu ke telinganya. Terdengar suara panik Lavinia dari ujung telepon.

.


Empat jam sebelumnya.

"Antonio?" sapa seorang gadis dengan rambut coklat yang ikal.

"Ah, Lavinia…" balas Antonio dengan tawanya.

Gadis bernama Lavinia itu menampakkan rona merah pada wajahnya.

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya gadis itu penasaran.

Antonio mencari-cari alasan yang tepat. Kehadirannya di perusahaan milik Vargas yang sama sekali tak ada sangkut-paut dengannya dapat menimbulkan tuduhan yang berbahaya.

"Umm… ada sedikit urusan,"

"Bohong!" bantah Lavinia. "Kau berusaha menemui Kak Bella lagi, ya?"

Antonio tertawa hambar, "Untuk apa? Tidak, aku serius,"

"Tak usah menutupinya, aku tahu, kok!"

Antonio masih tertawa sampai Lavinia kembali menegurnya.

"Tolong jangan dekati Kak Bella lagi!"

Antonio menatap Lavinia dengan wajah serius, sekaligus penasaran. Lavinia memalingkan wajahnya.

"Aku tidak mendekati-…"

Lavinia memotong kalimat Antonio dengan cepat, "Malam ini mereka akan mengadakan pembicaraan yang penting. Aku rasa malam ini Kak Lovino akan melamar dia. Well, intinya sebentar lagi Kak Bella dan Kakakku akan menikah…"

DEG!

Tiba-tiba dada Antonio terasa sesak. Air mata menggenangi bola matanya. Sekujur tubuhnya mematung. Indera pendengarannya seakan menolak apa yang baru saja didengarnya.

Hatinya terasa sangat perih mendengar kabar itu.

"…aku harap kau tahu diri!" kata Lavinia sebari meninggalkan pria yang tengah mengalami syok itu.

Setelah beberapa saat berdiam diri, akhirnya Antonio berjalan menuju tempat parkir motornya dengan hati yang hancur. Dia datang kemari untuk menarik Bella kembali ke dekapannya, bukan untuk mendengar kabar mengenai kebahagiaan Bella dan Lovino. Namun, apa yang terjadi justru sebaliknya.

Kita memang tak akan pernah tahu kehendak Tuhan.

Setetes air mata jatuh mengikuti gravitasi bumi. Menghancurkan segala mimpi dan impian seorang insan. Antonio menyentuh dadanya, mengapa terasa begitu sakit, begitu dalam dan tak tertahankan. Inikah rasa pahit dari 'jatuh' cinta?

Mungkin, satu kabar lagi mengenai kebahagiaan mereka, dan Antonio hancur berkeping-keping.

Antonio telah sampai di tempat motor Ducati hitamnya diparkirkan. Tangan kanannya meraih helm, sementara tangan kirinya menghapus genangan air yang menghalangi penglihatannya. Antonio menarik nafas yang panjang. Dia tengah mempersiapkan diri sebelum memasuki jalan raya.

Beberapa saat kemudian, Ducati hitam itu pun meluncur membelah keramaian jalan. Antonio memacu kendaraannya dengan kecepatan diatas rata-rata. Dia memilih melewati jalanan sepi yang berbatasan dengan laut. Dengan begitu, dia dapat leluasa memakai kecepatan penuh.

Kini matahari mulai tenggelam. Langit sore yang temaram bagai mencerminkan isi hati Antonio. Sosok dalam helm hitam itu kembali teringat pada Bella.

Antonio kembali teringat pada kenangan manis mereka berdua. Pada senyuman Bella yang hangat. Masa kecil dimana mereka bersama. Saat-saat mereka berpisah, lalu dipertemukan kembali. Kemudian, Antonio merasa hatinya sakit, sesak!

Dia teringat bagaimana Bella mencampakkannya. Dia teringat bagaimana sosok itu lama-lama pudar dari hidupnya. Dia teringat inbox yang tak pernah terisi lagi oleh pesan-pesan manis dari Bella. Sosok itu semakin pudar. Tak ada lagi ucapan istimewa di hari ulang tahunnya. Tak ada lagi yang menanyakan kabarnya, atau sekedar menanyakan apakah dia telah tidur atau belum di malam hari.

Rasa sakit itu amat perih! Antonio tak kuasa menahan tangisnya lagi.

Sosok itu hilang begitu saja. Hilang tanpa ada klimaks dalam ceritanya. Hanya hilang.

Antonio terisak. Dia tersadar akan besarnya rasa cinta yang dia miliki untuk Bella. Dia tersadar betapa kata-kata tak dapat mewakilkan perasaan cintanya. Dia tersadar dia merindukannya, Antonio merindukan Bella.

Seandainya dia mendapat kesempatan untuk mengulang cerita itu. Dia akan memenuhi hari-hari Bella dengan kebahagiaan. Dia akan berusaha mendekap wanita itu agar dapat selalu bersamanya. Dia akan mengalah di setiap argumen. Dia akan membenarkan segala pendapat Bella. Dia akan menahan semua rasa cemburu yang muncul, ketika melihat Bella bersama teman lelakinya. Dia rela melakukan apapun untuk mendapatkan wanita itu kembali.

Antonio bersumpah pada dirinya sendiri. Seandainya dia memiliki kesempatan kedua untuk bersama wanita itu lagi, dia akan benar-benar mengorbankan dirinya. Dia akan benar-benar memberikan segala yang dimilikinya untuk kebahagiaan wanita itu.

Segalanya.

Seandainya dia bisa selalu berada di sisi wanita itu…

Antonio menangis. Entah berapa tetes air mata yang telah membuat helmnya basah dan berembun. Dia merasa kasihan pada dirinya sendiri. Betapa menyedihkannya sosok yang sangat kesepian ini.

Tiba-tiba Antonio mengerjapkan kedua matanya yang basah. Sebuah sorot lampu menyilaukan penglihatannya, hingga dia harus membuka kaca helm.

.


.

'Kesalahan apa yang telah aku perbuat, Tuhan?

Mengapa dia pergi dariku begitu saja?

Alasan apa yang membuatnya meninggalkanku dengan sejuta rasa sakit ini?

Aku benci rasa sakit ini. Aku benci harus melihat mereka bahagia, sementara aku begitu menderita disini! Apa yang harus aku lakukan?

Tuhan, Apa yang dapat membuatku kembali ke tahun-tahun itu? Ke tahun-tahun dimana hidupku begitu cerah, bahagia, penuh tawa…

Aku hanya ingin bersamanya, Tuhan…

Tolonglah aku, aku hanya ingin melindunginya dengan kedua tanganku ini!'

.

.


.

"A…APA?!" isak Bella dalam.

Bella menutupi mulutnya, dia menangis.

"Ada apa?!" tanya Antonio ikut panik.

Wanita itu tak membalas. Tubuhnya menjadi sangat lemah, dia merosot ke tanah. Cepat-cepat Lovino menyokongnya.

Bella menangis terisak-isak, "Dia mengalami kecelakaan… mayatnya baru saja ditemukan. Mereka… mereka baru mengetahui identitasnya tadi…" lirih Bella terputus-putus.

"Siapa?" tanya Lovino.

"Temanku…kenalan Lavinia…oh, dia… dia teman baikku," kata Bella di tengah tangisnya.

Hati Antonio mencelos.

"Antonio?" tebak Lovino.

Bella mengangguk lemas.

"A…APA MAKSUD KALIAN?! AKU ADA DISINI!" seru Antonio.

Pasangan itu tak bereaksi apa-apa terhadap teriakan Antonio.

"Apa kalian buta?! HEY! Lihat aku! Aku ada disini, Bella! Lavinia berbohong kepadamu!"

Antonio mulai panik.

"BELLA!" jerit Antonio sepenuh tenaganya.

Bella menoleh dengan tiba-tiba.

"Ada apa?" kata Lovino.

"Aku… seperti mendengar suaranya," lirih Bella ragu-ragu.

Antonio terbelalak tak percaya. Dia tak mengerti apa yang sedang terjadi disini.

Tib-tiba, Jeanne muncul di sampingnya.

"Aku sudah menyuruhmu, kan?" tanya wanita itu datar.

"Jeanne, apa maksud semua ini? Mengapa mereka tak menyadari kehadiranku?"

"Antonio, aku mohon padamu untuk mengingat satu hal,"

"Apa?"

"Kapan terakhir kali kau bertemu denganku?"

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Antonio berusaha mengingat, menembus kabut yang kini menghalangi segala memori di otaknya. Tiba-tiba dia tersadar, terakhir kali dia bertemu dengan Jeanne adalah di sebuah pemakaman. Pemakaman yang dipenuhi dengan lily putih. Saat itu sosok yang paling kehilangan adalah sahabatnya –Francis. Pemakaman itu diadakan sehari setelah Bastille Day. Pemakaman itu adalah pemakaman Jeanne sendiri.

Hati Antonio mencelos.

"Kau…kau sudah…" lirih Antonio sebari melangkah mundur, hingga bagian belakang tubuhnya kini merapat ke tembok.

"Aku sudah meninggal, ya, bertahun-tahun yang lalu. Oh, betapa patah hati telah membutakan pikiranmu…"

"Tunggu dulu!" jerit Antonio histeris. "Maksudmu, aku… juga?" tanya Antonio dengan perasaan yang takut. Takut Jeanne akan menjawab 'ya'.

Jeanne mengangguk pelan, membuat rasa takut itu berubah menjadi kesakitan.

'Apa?'

Antonio merosot ke tanah. Dia mengacak-ngacak rambutnya, memegangi kepalanya yang kini mulai terasa sakit. Rasa tak percaya bercampur aduk memenuhi hatinya.

Dia mulai teringat satu-persatu kepingan kisah hidupnya yang terakhir.

Dia teringat akan sorot lampu mobil yang menyilaukan matanya. Ketika dia membuka kaca helm, mobil itu hanya berjarak setengah meter darinya.

"Aku menyuruhmu untuk mengingat itu," kata Jeanne sedih.

.

.

'Tuhan, mengapa kau mengambil diriku secepat ini?'

.

.

Mobil itu telah membuatnya terpental ke laut.

Antonio teringat bagaimana gelombang air yang besar menyapu dirinya ke dasar laut. Dia sekarat dengan dikelilingi oleh warna biru tua yang kelam. Dia teringat rasa sakit di hatinya yang lambat laun pudar.

Lalu, sebuah cahaya putih mendatanginya.

Antonio terisak ketika mendapat ingatan itu

"Aku telah… bagaimana aku tak ingat akan hal itu!" jeritnya.

"Aku juga tak mengerti akan hal ini sebelumnya. Kemudian aku tersadar, aku bukan lagi manusia. Aku sudah berbeda alam dengan Francis,"

"Lalu kenapa kita masih berada disini?! Bukankah surga itu ada?"

"Kita telah dipilih. Kita meninggal dengan tujuan tulus di hati kita… kau ingat apa yang terakhir kali kau minta sebelum kau meninggalkan ragamu?"

"Aku tak ingat…"

Jeanne tersenyum, "Kau pasti ingat…"

.

.

Aku hanya ingin bersamanya, Tuhan…

Tolonglah aku, aku hanya ingin melindunginya dengan kedua tanganku ini!

.

.

Antonio tak mengerti rasa apa yang kini memenuhi hatinya. Sakit, sesak, perih, atau ini kehancuran dirinya?

"Aku diberi kesempatan kedua untuk tinggal di bumi ini. Meskipun dalam wujud yang lain. Aku diberi kesempatan untuk melindungi Francis. Jika kau mengerti, itu pula yang terjadi padamu,"

Antonio menyesal telah meminta permohonan macam itu. Kini, dia terjebak dengan harus menyaksikan kebahagiaan Bella dan Lovino sepanjang hidup mereka. Kini dia terjebak di bumi tanpa dapat merasakan indahnya surga. Bumi adalah tempat yang penuh dengan kesedihan.

"Kau adalah malaikat penjaga Bella mulai saat ini…"

Antonio merasa perih di hatinya semakin dalam.

.

"Bella, aku harap kita bisa selalu bersama..."

Bella tersenyum menatapku, "Amin," katanya ramah.

.

"Bella, mengapa kau tak menjawab teleponku?"

"Maaf, aku sibuk,"

.

"Bella, kau punya waktu luang akhir pekan ini?"

"Tidak"

.

"Bella!"

Kau hanya tersenyum simpul padaku, tanpa menghentikan langkahmu.

.

.

Fold up the dreams into a paper airplane and send it as a letter
Because we can't wait for that meteor
I seriously throw the coin that decides fate
Yet I don't know where I can go

.

.

'Aku adalah malaikat penjaganya?'

.

'Baiklah,'

.

'Mungkin ini sudah menjadi jalan hidupku,'

.

'Menjadi malaikat yang hancur…"

.

.

.

Kini, dia bisa selalu berada di sisi wanita itu.

.

Kita memang tak akan pernah tahu kehendak Tuhan…

.

.

.

The Broken Angel

.

Fin

.


.

POJOK AUTHOR

.

Sebelumnya mau ngasih tau dulu, kalo...

Lavinia = Femnya Romano (Dia sebenarnya naksir sama Antonio. Tapi sayang, Antonio gak peka)

Jeanne D' Arc = masih nyambung sama cerita yang La Memoire

Yosh! ini chapter 9 (yang sebenarnya) yaah! hehe aduh bingung mau ngomong apa...

Pertama-tama, terimakasih kepada... *Ditimpuk galon*

Oke, ehem.

Sebenarnya saya gak tega ngeliat Antonio yang biasanya hepi hepi, di chapter ini jadi mewek mulu.. hiks, ini semua gara2 kalian! *ditendang*

Maaf, hanya bercanda.

Mitosnya, kalo ada yang meninggal mendadak suka gentayangan, ya? hiiiiiiii~

Itu yang mendasari cerita ini. Antonio di saat-saat dia sekarat, hatinya sama sekali belum tenang. Malahan dia meminta permohonan macam itu. Yaa sudah lah...Ikhlaskan saja, Tonio...mungkin jadi broken angel adalah takdirmu.

Sekian... jangan timpuk saya please!

Ditunggu kritik, saran, dan komentar apapun -nya yaaah!

Salam,

Warmlatte.

.

Kita memang tak akan pernah tahu kehendak Tuhan...*Asek*ditimpuk*