Hola Minna. Gaktahu kenapa saya pengen ada sekuelnya gini ya?
SEKUEL FROM 'PRICKLY ROSE'
DISCLAIMER : TITE KUBO.
WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO (maaf kalau ada kekurangan pengetikan)
RATE : M (for safe)
ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan atau kemiripan situasi dan cerita dengan fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun itu tidak disengaja.
.
.
.
Baru saja berbalik untuk meninggalkan kamar itu, tahu-tahu Senna bangun dan langsung memeluknya dari belakang. Ketika Ichigo berbalik ingin melepaskan tangannya, wanita itu langsung menciumnya.
Ichigo mendorong paksa Senna hingga dia nyaris terjungkal. Tapi Ichigo tak peduli. Dia sangat marah!
Dengan penuh emosi, Ichigo mengusap kasar bibirnya sendiri dengan punggung tangannya.
"Apa yang kau lakukan hah!" bentak Ichigo.
"Aku bisa gila kalau kau memperlakukanku begini Ichigo..." lirihnya.
"Kau sudah tidak waras Senna! Aku ini sudah menikah! Bukan lagi pria lajang yang pantas kau kejar-kejar! Berhentilah bertindak bodoh dan lupakan aku! Aku benar-benar tidak ingin kembali padamu sekalipun kau akan mati."
Ichigo membanting pintu ruang Senna dengan kesal dan meninggalkan wanita itu dengan penuh emosi. Dia jadi meninggalkan isterinya selama ini!
Dengan kecepatan penuh Ichigo berusaha menyusul kembali ke kebun binatang itu. Jika saja Ichigo tega, dia tak peduli kalau wanita itu mati kehabisan darah atau tangannya putus. Dia tak peduli. Tapi sayang, ternyata rasa kepeduliannya masih ada. Seharusnya dia meninggalkan wanita itu begitu saja di rumah sakit tadi. Tidak perlu menunggunya sampai bangun.
Ichigo sudah berkeliling selama satu jam mencari isterinya. Tapi sosok mungil itu tak ada dimana pun. Apa Rukia sudah pulang ke rumah?
Ichigo sekali lagi harus merasa bersalah karena menelantarkan wanita itu.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia menghapus jejak basah di pipinya. Kejadian tadi membuatnya benar-benar kaget. Walaupun Rukia tahu sepertinya itu perbuatan sengaja dari Senna. Sebab mana mungkin Ichigo mau diciumnya! Ichigo sudah janji dia tidak akan kembali pada wanita itu. Jadi mana mungkin Ichigo mengingkari janjinya. Mungkin benar Ichigo menemani Senna di rumah sakit karena suatu hal. Tapi bukan untuk kembali pada wanita itu!
Rukia tahu itu dengan jelas. Rukia tahu. Tapi entah kenapa melihat adegan tadi rasanya membuatnya begitu sakit dan kesal. Seharusnya dia percaya suaminya. Suami yang dia cintai. Walau suaminya tidak pernah mencintai Rukia sebesar dia mencintainya. Apa yang kau pikirkan Rukia? Kau sudah berjanji akan berjuang hingga akhir bukan?
"Maaf, kau melihatku menangis lagi..." ujar Rukia kikuk.
Saat ini Kokuto duduk di sebelahnya. Mereka ada di taman yang tak jauh dari rumah sakit itu. Rukia tak tahu kenapa Kokuto ada di rumah sakit tadi. Hanya saja, setelah menangis tadi, Kokuto mengajaknya ke suatu tempat untuk menemaninya. Rukia jadi tak ingin menangis lagi di depan pria ini. Rasanya aneh menangis di depan orang lain yang tak begitu dikenalnya. Kalau dia menangis di depan Yumichika, pasti sahabatnya itu akan menggigit Ichigo. Padahal Rukia sudah janji tidak akan menangis lagi pada Ichigo.
"Aku sudah lebih baik. Tolong jangan bilang pada Yumichika kalau aku menangis tadi ya. Dia bisa khawatir..." ujar Rukia lagi.
"Lalu kau pikir aku tidak khawatir?"
Rukia mengangkat wajahnya menatap pria berambut putih itu. Pria itu begitu serius menatapnya. Rukia sampai salah tingkah.
"Ehh? Maaf kalau membuatmu khawatir. Aku sama sekali tidak bermaksud begitu..." kata Rukia akhirnya.
"Maaf kalau aku mencampuri urusanmu. Tapi... aku hanya tidak suka melihatmu menangis karena pria itu. Ahh sudahlah. Bagaimana kalau kita pergi sebentar hari ini? Kau mau kemana? Aku akan menemanimu."
Entah kenapa pria ini selalu ada ketika Rukia memang membutuhkan seseorang untuknya. Tapi bukan seseorang yang menggantikan posisi Ichigo di hatinya. Dia hanya ingin... seseorang yang membuatnya nyaman, selain kakaknya dan Yumichika tentunya.
"Aku... ingin ke tempat yang tinggi..." ujar Rukia akhirnya.
.
.
*KIN*
.
.
"ARRRGGGHHH! DASAR ICHIGO BODOH! APA YANG KAU LAKUKAN TADI! DASAR SUAMI BODOH!"
Rukia menjerit sekencangnya di atas sebuah menara tinggi. Yah, menara Tokyo Tower. Di puncak menara itu, Rukia menjerit dengan puas hingga beberapa pengunjung menoleh padanya. Tapi Rukia tak peduli itu. Dia hanya ingin menjerit sepuasnya. Hanya itu yang terpikirkan untuk menghilangkan rasa kesal di dalam kepalanya. Selama ini dia selalu memendamnya dan tidak memikirkannya. Tapi kali ini dia ingin meluapkannya seluap-luapnya.
Nafas Rukia tersengal hebat setelah berteriak sekencangnya tadi. Dadanya naik turun membuatnya harus bernafas lebih ekstra lagi.
"Kau sepertinya puas sekali," sindir Kokuto yang masih berdiri di sebelah Rukia, tersenyum menikmati wanita ini berteriak sekencangnya di sisinya.
"Ahh~ sudah lama tidak berteriak sekencang ini. Rasanya lega sekali. Dulu waktu di Eropa, aku selalu mencari tempat tinggi untuk berteriak begini kalau aku rindu kakakku dan Tokyo. Ternyata berguna untuk di saat seperti ini," ujar Rukia senang.
"Baguslah. Aku senang kau puas. Lalu... kau mau apalagi sekarang?"
Rukia sekali lagi menoleh ke arah pria berambut putih itu.
"Kenapa... kau mau melakukan ini? Katamu kau sibuk kan?"
"Mm.. bagaimana ya? Hari ini aku ingin jadi lampu genie untukmu. Jadi... apapun yang kau inginkan aku akan mengabulkannya. Bagaimana?"
"Kau akan menyesal mengabulkan semua permintaanku."
"Benarkah? Apa itu?"
"Bisakah kau membuat Ichigo jatuh cinta padaku?"
Kokuto diam mendengar permintaan wanita ini. Bagaimana dia bisa membuat seorang pria brengsek jatuh cinta pada wanita sebaik ini? Haruskah dia mengabulkannya? Sekilas permintaan Rukia tadi adalah permintaan tulus dari matanya. Kokuto tahu itu. Tahu dengan jelas bahwa wanita ini sangat mencintai pria itu. Kalau Kokuto bisa, dia tidak ingin Rukia terjerumus terlalu jauh dalam perasaan itu. Perasaan yang tak mungkin terbalaskan.
"Hahaha... mana mungkin bisa. Genie tidak bisa membuat seseorang jatuh cinta. Katamu kau genie kan? Kenapa tidak tahu peraturan itu? Genie tidak bisa membunuh orang dan membuat orang lain jatuh cinta. Kau juga, pasti tidak bisa mengabulkannya."
"Kalaupun aku bisa mengabulkannya, aku tidak akan membiarkanmu jatuh cinta pada orang seperti itu."
Mata cantik Rukia terbelalak mendengar kata-kata pria itu. Kokuto terlihat serius tadi.
"Ahh~ sudahlah. Genie akan mentraktirmu makan. Kau lapar kan? Apa yang bisa kubelikan untukmu? Biar kutebak... kau suka pasta? Ahh... apa sebaiknya kita makan es krim?"
Sayang sekali. Meskipun Kokuto tidak akan membiarkannya jatuh cinta pada Ichigo, tapi tetap saja Rukia akan jatuh cinta terus dan terus pada pria itu.
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo sangat gelisah sekarang. Sudah lebih dari empat jam dia berkeliling di kebun binatang itu, menunggu Rukia. Tapi wanita mungil itu tetap tidak ada di sana. Apa mungkin dia pergi? Kalaupun iya dia pergi kemana? Ichigo sempat meminta Renji menengoknya di butik Yumichika, tapi, Yumichika sedang tidak ada di tempat. Kata pegawainya sedang menghadiri Tokyo Fashion Week. Sudah pasti Rukia tidak mungkin di sana dan bersama Yumichika. Rukia juga tak mungkin ada di tempat Byakuya. Sudah pasti tidak ada di sana.
Bahkan hari sudah beranjak malam seperti ini dia, Rukia tetap belum kembali.
Apa yang harusnya dia lakukan?
Ichigo memutuskan untuk pergi mencarinya sekali. Dengan langkah terburu Ichigo keluar dari apartemennya untuk mencari istri mungilnya itu. Mungkin saja dia―
Pandangan matanya terfokus pada seorang pria dan wanita yang berjalan menuju apartemennya. Mereka berdua tampak begitu akrab mengobrol satu sama lain. Dan sialnya itu adalah istrinya dan seorang pria yang beberapa waktu lalu terang-terangan mengatakan tidak suka Ichigo bersama istrinya. Sekarang mereka berjalan berdua dengan begitu akrab?
Ichigo tak percaya ini.
Akhirnya setelah pasangan itu mendekat ke arah Ichigo, mata sang wanita langsung terfokus padanya. Sepertinya dia menggumam memanggil nama Ichigo.
Dengan langkah besar, Ichigo mendekat ke arah mereka berdua.
"Dari mana saja kau?" tanya Ichigo hanya fokus pada isterinya.
"A-aku... aku―" Rukia tampak gelagapan.
"Dia pergi denganku. Aku yang mengajaknya. Ada masalah?" sela Kokuto.
"Aku bertanya pada isteriku. Bukan padamu. Ayo pulang," Ichigo menarik lengan Rukia untuk menjauh dari pria berambut putih itu.
Kentara sekali kalau Ichigo sedang emosi saat ini. tapi dia tidak ingin meledakkan emosinya di depan wanita mungil itu.
Baru saja akan menarik lengan Rukia, Kokuto beralih menghalangi Ichigo dan menarik wanita itu ke belakang Kokuto. Rukia terkejut dengan sikap mendadak dari Kokuto itu.
"Apa kau menganggap, apa yang kukatakan terakhir kali itu cuma candaan?"
"Kokuto!" bentak Rukia.
"Apa kau mau selamanya hidup seperti ini? Kau selalu menangis karena dia kan? Kenapa kau mau hidup bersama orang yang selalu membuatmu menangis? Kalau dia mencintaimu, dia tidak akan membuatmu menangis!"
"Kokuto!" pekik Rukia lagi.
Ichigo tampak tertegun mendengar kata-kata pria itu. Memang benar. Selama ini Rukia selalu menangis karena dia. Ichigo belum bisa mencintai wanita itu. Belum... makanya sulit sekali membuatnya membalas kata-kata pria itu.
"Apa Rukia? Akui saja kalau itu benar. Seharusnya kau meninggalkan pria yang selalu membuatmu menangis. Kenapa kau harus mengorbankan hidupmu untuk orang seperti ini?"
PLAAK!
Kedua pria itu tampak terdiam saat itu.
"Ini... bukan urusanmu. Ichigo itu suamiku. Kau tidak berhak mengatakan apapun tentang suamiku!"
Setelah menampar Kokuto, karena kata-katanya, Rukia justru menarik lengan Ichigo menjauh dari sana. Itu memang benar. Kata-kata Kokuto benar. Tapi Rukia tak mau Ichigo mendengar itu. Dia tak mau membuat Ichigo merasa bersalah lagi. Rukia tak mau setiap kali mereka bertengkar, Ichigo akan merasa bersalah padanya. Rukia benci itu.
Setelah sampai di apartemen mereka, Rukia menatap sebal pada suaminya itu.
Ichigo tetap diam tanpa memberikan komentar apapun.
"Demi Tuhan Ichigo! Apakah kau tidak bisa mengatakan apapun tadi hah! Setidaknya katakan sesuatu! Kenapa kau diam saja Kokuto mengatakan hal itu di depanmu hah! Di depanku!" jerit Rukia menyadari suaminya ini bertingkah bodoh sekali.
"Bagaimana aku bisa mengatakan sesuatu kalau apa yang dia katakan benar? Kau selalu menangis karena aku."
"Bukan itu masalahnya! Bukan itu masalahnya Ichigo! Sudah ratusan kali aku bilang aku tidak apa-apa!"
"Dan sampai kapan kau mau mengatakan hal itu Rukia! Sudah cukup! Sudah... jangan menyiksa dirimu lagi! Kau pantas bahagia. Kalau bersamaku kau tidak bisa bahagia... pergilah. Aku tidak memaksamu untuk tinggal bersamaku!"
"Kenapa kau selalu memaksaku keluar dari hidupmu? Kenapa kau selalu mendorongku pergi? Apakah menurutmu bersamamu aku tidak bahagia? Kalau aku tidak bahagia... kenapa aku mau menikah denganmu? Kalau kau tidak menginginkanku kenapa kau mau menikah denganku?"
Ichigo diam menyaksikan ekspresi penuh kekesalan dari isterinya itu. Sekali lagi wanita itu harus menangis karena pertengkaran mereka hari ini.
"Aku tahu... aku tahu kenapa kau tidak bisa mencintaiku sekarang. Karena kau tak pernah membiarkan hatimu untuk mencintaiku. Kau tidak pernah membuka hatimu untuk menerimaku. Sejak awal... kau memang tidak pernah berniat untuk memberikan secuil hatimu untukku."
Rukia menghapus air matanya dengan kesal dan langsung meninggalkan Ichigo di ruang tamunya. Berlari masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya. Ichigo bahkan tidak berteriak di depannya. Tidak memarahinya sedikitpun. Karena ekspresi seperti itulah yang membuat Rukia kesal!
Dan akhirnya, Rukia hanya sanggup menangis menahan getir di hatinya.
.
.
*KIN*
.
.
Rasanya Renji tidak mau menghiraukan bell apartemennya yang berbunyi sejak tadi itu. Tapi malangnya, malah terdengar pintu apartemennya yang terbuka dan menutup. Apa-apaan malam seperti ini?
Ketika Renji keluar dari kamarnya, dia malah melihat sahabatnya duduk di sofanya sambil menekuk wajahnya.
"Astaga! Aku seperti isteri keduamu saja Ichigo! Apa kau bertengkar lagi dengan Rukia?" sindir Renji.
Tampaknya itu benar. Ichigo hanya diam saja. Itu adalah puncak emosi si kepala labu ini. kalau dia terlalu kesal atau terlalu marah, Ichigo cenderung akan diam saja. Merasa diacuhkan, Renji bergerak menuju dapurnya dan mengambil beberapa minuman kaleng dari lemari esnya. Satu dia sodorkan pada Ichigo dan satunya diminumnya sendiri. Orang itu bahkan terlihat seperti seseorang yang sudah bosan hidup!
"Baiklah. Aku mendengarkanmu. Ada apa?" ujar Renji setelah duduk di sebelah sofa pria itu.
"Bagaimana caranya agar Rukia pergi dariku?" tanyanya tanpa ekspresi.
"Hah?"
"Aku sudah tidak kuat lagi melihatnya menangis terus. Lebih baik dia pergi dariku."
"Gampang. Kau tinggal temui saja kakaknya dan bilang, aku sudah menyiksa adikmu! Selesai. Presdir kita yang terhormat itu akan segera mencincangmu dan membawa Rukia pergi darimu. Tapi, tentu saja akan membuat gadis itu semakin menangis karena kehilanganmu."
"Yang serius Renji..."
"Kapan aku tidak serius menanggapi masalahmu hah? Wajar kalau Rukia menangis terus. Kau tidak pernah memberikannya kesempatan untuk bersamamu. Kau selalu berusaha membuat gadis itu menjauh darimu. Coba kau pikir, gadis mana yang bisa setegar itu hah? Dijauhi oleh suaminya sendiri. Tidakkah menurutmu itu menyakitkan?"
Yah. Ichigo selalu membuat gadis itu menjauh darinya. Selalu mendorongnya pergi. Berusaha untuk tidak mencintainya secuil pun.
"Ini sudah tiga tahun Ichigo. Kurasa tiga tahun sudah cukup untukmu melupakan Yukia. Hiduplah dengan normal Ichigo. Sudah saatnya kau melepaskan orang mati. Dengan tingkahmu seperti ini tidak akan membuat Yukia hidup kembali. Kau boleh mencintainya seumur hidupmu, tapi buka juga hatimu untuk orang lain yang bersedia mencintaimu.
"Rukia sudah terlalu banyak berkorban untukmu. Tapi kau... kau sekalipun tidak pernah berkorban untuknya. Apa pernah kau berpikir alasan sebenarnya kenapa gadis itu menangis? Karena kau tidak pernah memberinya kesempatan. Bukan karena kau tidak memperlakukannya dengan baik. Kau tidak pernah memberinya kesempatan untuk dicintai olehmu. Itu masalahnya."
Banyak pertimbangan yang Ichigo pikirkan jika dia mencintai Rukia. Dia hanya tak ingin, Ichigo menganggapnya mencintai seseorang yang sudah mati di dalam diri Rukia. Walaupun seperti itu, Ichigo juga tidak ingin mencintai Yukia di dalam diri orang lain.
"Rukia itu... sudah cukup banyak memberikanmu waktu untuk mencintainya. Cobalah Ichigo. Cobalah mencintainya. Tidak sulit bukan? Tidak ada yang Rukia tuntut darimu selain berusaha untuk mencintainya. Satu-satunya wanita yang menerimamu apa adanya, bersedia menerima masa lalumu. Tidak menuntut apapun darimu. Yang dia inginkan hanyalah cinta darimu. Apa kau pernah menemukan wanita lain yang seperti Rukia? Ada wanita yang mau suaminya mencintai wanita lain selain isterinya kecuali Rukia?
"Ayolah Ichigo. Berhenti bersikap kekanakan seperti itu. Terimalah takdir. Yukia itu sudah mati. Tidak mungkin hidup kembali. Kau harus meneruskan hidupmu. Kalau kau tidak bisa sekaligus, cobalah pelan-pelan mencintainya. Rukia sudah lama menunggumu bukan? Mau sampai kapan kau membuatnya menunggu? Terlalu banyak berpikir malah akan menyakiti kalian berdua. Jangan sampai menyesal untuk kedua kalinya Ichigo. Kalau sampai kau melepaskan kesempatan ini, kau pasti akan lebih menyesal daripada melepaskan kesempatan yang pertama."
Semua kata-kata Renji memang benar adanya. Tidak sedikitpun ada yang salah. Ichigo memang tidak pernah memberikan Rukia kesempatan dicintai olehnya.
Bahkan, di depan orang asing sekalipun, Rukia tetap memperlakukannya sebagai suami yang baik meskipun jelas, Ichigo tak pernah memperlakukannya dengan baik.
Yukia... aku harus apa?
.
.
*KIN*
.
.
Setelah menangis semalaman, Rukia melihat isi apartemennya. Tapi tidak ada siapapun di sana. Sepertinya semalam Ichigo pergi entah kemana lagi setelah mereka bertengkar.
Sekarang Rukia harus apa? Rukia sendiri bingung harus apalagi. Sepertinya kata-katanya yang semalam sangat keterlaluan. Sebaiknya, Rukia menelpon Ichigo untuk meminta maaf dengannya.
Dengan perasaan tidak menentu, Rukia membuka ponselnya dan segera menekan nomor sang suami. Sepertinya ponselnya masih aktif. Tidur di mana Ichigo semalam?
"Halo?"
Rukia terkejut karena ponsel Ichigo diangkat oleh orang lain. Rukia kenal suara Ichigo.
"I-Ichigo?"
"Oh, Rukia? Maaf ini aku, Renji. Ichigo sedang mandi. Semalam dia tidur di tempatku. Jangan khawatir, aku tidak melakukan apapun padanya. Kau tenang saja. Aku sudah menceramahinya semalam. Dia tidak akan menjahatimu lagi. Oh ya, kau mau mengatakan sesuatu padanya? Biar nanti kusampaikan."
Rukia lega suaminya ada di tempat sahabatnya. Sepertinya Renji juga mendukung Rukia. Rukia bersyukur masih ada yang mau mendukungnya selain Yumichika tentunya.
"Rukia? Kau masih di sana?" tanya Renji lagi.
"Oh, ya. Tidak apa-apa. Katakan saja padanya kalau aku... baik-baik saja. Dan aku... menunggunya pulang."
"Baiklah. Sampai jumpa."
Rukia sudah memutuskan akan membicarakannya sekali lagi dengan Ichigo. Sikapnya tadi malam sangat tidak bagus. Ichigo pasti kesal padanya.
.
.
*KIN*
.
.
"Dasar penipu! Kau bahkan tidak berani mengangkat telepon darinya! Dia bilang, dia baik-baik saja dan menunggumu pulang! Setelah kerja hari ini kau harus langsung pulang dan bicara baik-baik dengannya! Mengerti! Dan jangan temui aku kalau kau masih ingin membuatnya menderita!"
Renji menyodorkan setelan jasnya pada Ichigo agar laki-laki itu bisa segera pergi ke kantor.
Ichigo masih termenung di sofa Renji. Pria berambut merah itu sudah meninggalkanm kopi hangat dan roti panggang. Yah, kapan orang itu bisa masak dengan benar?
Setelah Renji keluar dari apartemennya, Ichigo banyak berpikir. Berbagai pertimbangan sudah dia pikirkan. Tapi entah kenapa sepertinya tak ada jalan keluar yang benar selain... menjauhkan Rukia dari hidupnya.
.
.
*KIN*
.
.
"Kau... memintaku memindahkanmu ke divisi lain?" ulang Byakuya setelah pagi ini dengan penuh kejutan dia mendapati GM-nya menemuinya dan meminta ijin untuk dipindahkan sesegera mungkin ke divisi lain.
"Ya Presdir. Kalau bisa... bulan depan aku sudah bisa pindah," jawab Ichigo datar.
"Bolehkah aku tahu alasannya?"
Ichigo masih memandang datar pada mata abu-abu pria angkuh di depannya ini. Kuchiki Byakuya yang terhormat. Juga kakak kandung Kuchiki Rukia saat ini.
"Kurasa... Anda sendiri sudah tahu alasannya."
"Kuchiki Senna?" tebak Byakuya.
Bukan hal aneh jika tebakan Byakuya tidak salah. Bagaimanapun Byakuya juga tahu masa lalu dua orang itu. Mantan kekasih yang tidak berakhir baik. Dan bukan salah pria berambut orange ini jika hubungan mereka tidak berakhir baik. Byakuya tak bisa menyalahkan sepihak begitu saja. Masa lalu yang menyakitkan tentu saja membuat beberapa orang menyesal mengenal masa lalu mereka. Dan termasuk pria ini. Byakuya sadar, bahwa membawa Kuchiki Senna kembali masuk ke dalam hidup pria ini sama saja dengan mengacaukan hidupnya. Juga menyakiti hati beberapa orang.
"Apa karena Kuchiki Senna? Kurosaki?" tekan Byakuya sekali lagi menyadari pria itu sama sekali tidak menjawab.
Setelah menarik nafas panjang akhirnya pria itu mau bicara lagi.
"Aku sudah berusaha untuk bersikap profesional. Aku sudah berusaha untuk tidak melibatkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan seperti yang biasa Anda lakukan. Tapi sayang, aku hanyalah manusia biasa. Aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak mengingat semuanya. Karena itu, jika Anda tidak keberatan, aku mohon agar aku bisa dipindahkan ke tempat lain secepat mungkin," pinta Ichigo lagi.
"Jika aku memindahkanmu, termasuk memindahkan jabatanmu, apa yang akan kau lakukan?"
"Itu bukan masalah. Asal aku dipindahkan," jawab Ichigo cepat.
Bukannya Ichigo tidak mempertimbangkan apa yang dikatakan Byakuya soal pindahan jabatan itu. Bisa jadi Ichigo diturunkan dari jabatannya yang sekarang. tapi jujur, Ichigo tak terlalu peduli lagi soal itu. Baginya yang sekarang sebisa mungkin untuk tidak bertemu muka lagi dengan wanita itu.
"Baiklah. Akan kupikirkan permintaanmu. Tapi ada yang ingin kutanyakan padamu."
Ichigo diam menunggu Presdirnya.
"Apakah... kau melakukan ini, demi dirimu... atau demi Rukia?"
Demi Rukia.
Walau Ichigo tahu hubungan Rukia dan Senna sangat buruk, tapi Ichigo tak sampai berpikir ini demi siapa. Yang dia pikirkan adalah sebisa mungkin menjauh dari Kuchiki Senna. Hanya itu. Dan Ichigo sangat berharap kemungkinan dia bisa dimutasi ke kota lain. Itu jauh lebih baik. Tidak apa tempatnya terasing atau tidak dikenal sama sekali. Lebih baik seperti itu daripada tetap di tempat yang penuh dengan masa lalu yang menyakitkan.
"Kurosaki?" tekan Byakuya lagi.
"Aku... hanya ingin bersikap profesional saja. Bukan demi siapa-siapa."
Byakuya mengangkat sebelah alisnya. Selama ini dia tak curiga sedikitpun mengenai rumah tangga adiknya. Karena selama ini Rukia tak pernah sekali pun mengadu padanya soal rumah tangganya. Byakuya juga mulai merasa Rukia yang sekarang sudah jauh lebih dewasa semenjak menikah. Kelihatannya adiknya satu itu sudah banyak menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi tetap saja insting seorang kakak tidak bisa dibohongi. Sejak di rumah sakit itu, Byakuya yakin ada yang mereka berdua tutupi. Sesuatu yang pasti tidak akan pernah Byakuya pikirkan selama ini.
.
.
*KIN*
.
.
"Kokuto? Kau jarang datang ke butikku selama ini. Tapi apa yang membuatmu ingin bertemu dengan Kokuto?" tanya Yumichika sambil bersedekap dada dengan mimik yang dibuat sebingung mungkin.
Siang ini, entah ada angin apa, hujan apa, badai apa, bencana apa, tidak tahu apa pokoknya, seorang Kurosaki Ichigo datang ke butiknya, menemuinya dan hanya mengatakan bahwa dia ingin dipertemukan dengan Kokuto. Memangnya dari mana pria tampan ini mengenal sosok model bernama Kokuto itu? Aneh.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya saja. Bisa?" pinta Ichigo.
"Tapi... kau tidak berencana ingin berkelahi dengannya kan?"
Ichigo mengerutkan keningnya bingung.
"Ehh? Sudahlah. Tidak apa-apa. Aku akan menghubunginya. Tunggu sebentar," ujar Yumichika setelah mengingat kalimatnya yang terasa aneh. Kenapa dia yang jadinya salah tingkah.
Setelah menghubungi Kokuto, dan tentu saja pria itu merasa aneh karena seorang suami dari gadis yang akhir-akhir ini diam-diam dia perhatikan, membuat Kokuto berpikir banyak. Tapi kemudian Yumichika tak banyak menjelaskan karena dia juga tidak tahu.
Yumichika kembali menemui Ichigo yang menunggunya dengan sabar tanpa banyak protes.
"Kokuto bilang dia akan menemuimu di taman dekat sini. Dia akan tiba dalam waktu 15 menit. Kau bisa?"
"Terima kasih Yumichika. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Ehh... Ichigo! Tunggu dulu!" pekik Yumichika ketika Ichigo akan melangkah keluar.
Ichigo berbalik dan mendapati pria itu―bahkan terlalu meragukan disebut pria dengan tampilan nyentrik dan mencolok ini―berlari menuju ke arahnya.
"Nanti katakan pada Rukia, aku akan mengirimkan kado ulang tahunnya setelah aku pulang nanti. Aku lupa karena sibuk dengan Tokyo Fashion Week kemarin."
"Ulang tahun?" ulang Ichigo yang merasa janggal itu.
"Iya. Ulang tahun. Kemarin kalian kencan kan? Itu ulang tahunnya. Rukia bilang dia akan bikin kejutan untukmu. Makanya mengajak kencan denganmu ke kebun binatang itu. Rukia tidak bilang apapun?"
Sudah. Lengkap sudah.
Ichigo jadi bertambah yakin dengan pilihannya kali ini.
Dia tidak akan lagi membiarkan Rukia bersamanya. Bersama pria brengsek seperti dirinya.
.
.
*KIN*
.
.
"Kejutan sekali kau mau bertemu denganku," ujar Kokuto setelah mereka bertemu di taman yang dimaksud itu. Ichigo bahkan sampai melewatkan jam makan siangnya karena ini. setelah ini, Ichigo yakin semuanya akan baik-baik saja.
"Aku tidak tahu banyak mengenai hubunganmu dengan Rukia. Tapi sepertinya kalian cukup dekat," kata Ichigo tanpa ekspresi menatap Kokuto.
"100 untukmu. Aku juga tidak tahu banyak hubungan pernikahan seperti apa yang kalian lakukan selama ini," balas Kokuto.
"Apa yang kau rasakan terhadap isteriku?" tanya Ichigo langsung.
Kokuto mengernyitkan keningnya bingung lalu mendengus aneh dan tertawa terbahak-bahak di taman itu. Untungnya suasana siang itu cukup sepi.
"Maaf? Kau bertanya apa yang aku rasakan terhadap isterimu? Kau yakin kau menemuiku hanya ingin bertanya ini?" tanya Kokuto tak percaya.
"Ya," jawab Ichigo singkat dan datar. Tanpa ekspresi.
"Baiklah. Karena kau yang meminta aku tak akan sungkan. Sejujurnya, aku menyukainya. Menyukai Rukia. Aku sudah bilang apa yang kukatakan di rumah sakit itu bukan main-main. Jadi, aku sudah berencana akan mengambilnya darimu. Aku tidak ingin melihatnya menangis lagi karena suami bodoh sepertimu!" kata Kokuto dalam.
"Baguslah. Karena aku berencana untuk melepasnya. Terima kasih sudah mau mengambilnya dariku."
Kokuto geram mendengar kata-kata pria itu. Tanpa sadar, dia langsung mencengkeram kerah kemeja pria berambut orange itu dan meninju rahangnya sekuat mungkin. Ichigo sampai terjungkal ke belakang. Tapi, Kokuto merasa belum puas dengan tindakannya itu, karena itu sekali lagi dia memukul Ichigo, merangkak ke atas tubuh pria itu dan meninju wajahnya berulang kali. Sayang, pria ini sama sekali tidak membalas serangan Ichigo. Kokuto sendiri sampai bosan dan berteriak kencang.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau kau benar-benar pria brengsek! Apa kau tidak tahu bagaimana Rukia mencintaimu! Apa kau tidak tahu perasaan gadis itu untukmu! Kenapa kau menikahinya kalau kau hanya mempermainkannya! Bagaimana mungkin kau masih memanggil dirimu pria jika membuat gadis itu terluka seperti ini hah!" jerit Kokuto.
Ichigo bangkit dari tempatnya terguling tadi. Membersihkan kemeja dan jasnya yang kotor terkena tanah dan mengelap luka di sudut bibirnya.
"Karena sejak awal pernikahan kami hanyalah permainan. Sudah saatnya mengakhiri semua ini. Rukia beruntung bertemu denganmu. Setidaknya masih ada pria yang berusaha keras untuknya. Tidak seperti aku."
"Aku bahkan menyesal memukul wajah brengsekmu dengan tanganku ini. tanganku jadi kotor karena pria pengecut sepertimu. Aku tidak tahu masalah apa yang kalian hadapi, tapi aku berani jamin kau akan menyesal meninggalkan gadis yang mencintaimu sepenuh hatinya itu. Dia mencintaimu tanpa syarat. Dia mencintaimu dan tidak menuntut apapun darimu. Tapi kau malah memilih meninggalkannya?"
"Itu akan lebih baik untuknya. Jadi dia tidak perlu menangis karena aku lagi."
Kokuto maju selangkah lagi dan mencengkeram kerah kemeja Ichigo sekali lagi. Menatap garang mata kecokelatan itu.
"Dengar brengsek! Kau pikir kenapa dia menangis karenamu? Karena kau tidak mencintainya! Kalau kau mencintainya, tentu saja dia tidak akan menangis lagi! Sesulit apapun jalan kalian, kalau kau mencintainya, tentu dia tidak akan menangis! Aku malu sekali mengenal pria pengecut sepertimu! Kau menikahinya hanya untuk membuatnya terluka. Apa kau tidak tahu? pria yang paling brengsek adalah pria yang melukai hati seorang gadis. dan aku sangat berharap suatu saat nanti kau akan menyesal meninggalkan gadis itu!"
Kokuto pergi meninggalkan Ichigo dengan langkah lebar dan penuh kekesalan. Ichigo tertegun sejenak mendengar kata-kata Kokuto tadi. Sama seperti apa yang Renji katakan padanya kemarin malam. Apa benar dia akan menyesal melepaskan Rukia nanti? Apa benar dia akan merasa kehilangan nanti? Tapi kalau seperti ini... sampai kapan dia membuat Rukia menangis?
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo mengirim pesan pada Rukia bahwa dia akan pulang malam hari. Karena itu, Rukia berusaha semaksimal mungkin menyiapkan makan malam terenak yang pernah dia buat. Dia tak tahu Ichigo akan memakannya atau tidak, tapi Rukia hanya ingin memasak sesuatu setelah, rencana kencan yang gagal itu. Rukia sudah siap. Ichigo juga sempat bilang ada yang ingin dia bicarakan dengannya. Dan Rukia berharap itu adalah sesuatu yang baik. Karena Rukia juga ingin membicarakan sesuatu dengan Ichigo.
Rukia ingin berusaha lebih kuat lagi untuk meyakinkan pria itu. Kalau Rukia setulus hati mencintainya. Tanpa meminta ataupun menuntut apapun. Sejak awal, Rukia juga tidak berniat menghapus bayangan Yukia. dia hanya ingin Ichigo mencintainya juga. Walau hanya secuil. Tidak masalah Ichigo yang tidak bisa melupakan Yukia. Karena sejak awal, Rukia sudah menerima konsekuensi mencintai pria itu. Jadi sekarang... itu bukan masalah sama sekali.
Rukia membuka ponselnya. Ini sudah pukul sembilan malam. Agak telat untuk makan malam. Tapi kemudian, ada sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.
Turunlah ke bawah. Aku menunggumu di taman dekat apartemen.
Ichigo menyuruhnya turun. Tapi Rukia sudah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Mungkin ada sesuatu di bawah sana.
Rukia menutupi makan malamnya dan beranjak turun ke bawah. Dia sudah tak sabar bertemu dengan suaminya itu. Rukia sudah memasang wajah sumringah dan memutuskan untuk bicara baik-baik. Dia tidak ingin Ichigo melihatnya menangis lagi. Rukia sudah berusaha untuk tidak menangis lagi. Dia harus. Kalau ingin meyakinkan pada Ichigo kalau dia tidak selemah itu. Kalau Rukia cukup kuat untuk bersama Ichigo.
Dengan nafas tersengal karena terlalu terburu-buru, Rukia tiba di taman yang dimaksud oleh Ichigo. Rukia sudah tersenyum lebar ketika melihat suaminya sudah menunggu di sana sambil duduk di bangku taman itu.
Ketika melihat Rukia berlari ke arahnya, Ichigo berdiri dan menyambut gadis mungil itu. Ichigo berusaha memberikan senyum pada gadis itu. Tapi kemudian, luka di sudut bibirnya tidak mengijinkannya melakukan itu.
"Ichigo? Kau kenapa? Ada apa dengan wajahmu?" kata Rukia panik menyadari memar dan luka di wajah tampan pria itu. Walaupun gelap, tapi cahaya lampu membantu mereka saling melihat dengan jelas satu sama lain.
Tangan mungil Rukia terjulur hendak menyentuh wajah suaminya, tapi kemudian dihentikan oleh Ichigo. Tangan mungil itu digenggam lembut oleh Ichigo.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
Tapi wajah gadis itu tak menunjukkan kalau dia menerima kata-kata Ichigo. Mata cantiknya masih menelusuri wajah Ichigo inchi demi inchi. Ichigo juga bisa melihat bekas memar karena terkilirnya waktu itu. Di tangan mungil ini.
"Ichigo... ada yang ingin―"
"Bagaimana kalau kita berpisah saja Rukia?"
Mata ungu kelabunya membulat lebar ketika mendengar kata-kata Ichigo itu. Serasa seperti ada petir yang menyambarnya, Rukia tak mampu berkata-kata lagi. Bibirnya gemetar beserta tubuh mungilnya. Tapi tangannya masih digenggam oleh Ichigo.
"Ichigo... apa yang―"
"Kurasa... aku yang tidak sanggup Rukia. Aku yang tidak sanggup meneruskan ini sampai tiga bulan. Makanya, kita selesaikan saja sekarang."
"Tidak," setetes air mata bergulir dari pipi putih Rukia.
"Rukia..."
"Aku tidak mau," tetes lainnya ikut membasahi wajah cantik Rukia.
"Tolong―"
"Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan Ichigo! Tidak apa-apa kalau kau belum bisa mencintaiku. Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku. Aku juga sudah bilang tidak apa-apa kalau kau masih mencintai Yukia. Aku juga tidak keberatan kalau kau tidak mau melupakan Yukia. Hanya jangan... jangan bilang berpisah. Aku tidak mau..." rengek Rukia.
"Dan membiarkanmu menangis selamanya? Tidak Rukia. Aku yang tidak mau itu."
"Jadi kau mau kita bagaimana? Aku akan berusaha Ichigo. Kau mau aku bagaimana, aku akan menurutimu. Kalau kau keberatan aku menangis terus, aku akan berusaha untuk tidak menangis lagi. Tolong... selesaikan ini sampai tiga bulan nanti. Kalau memang tidak bisa, aku akan berhenti. Tapi jangan sekarang..."
"Tiga bulan terlalu lama Rukia. Aku tidak bisa membiarkanmu menderita seperti ini."
"Aku justru lebih menderita tanpamu! Tiga bulan bahkan terlalu singkat untukku Ichigo. Aku tidak mau membahas ini."
Rukia menarik tangannya dari genggaman Ichigo, tapi sayangnya pria itu kembali menariknya agar Rukia melihat ke arahnya. Rukia berusaha membuang muka untuk tidak mendengarkan Ichigo lagi.
"Rukia..."
"Tidak! Aku tidak mau dengar! Aku tidak peduli! Selesaikan ini sampai tiga bulan! itu perjanjian pernikahan kita. Kalau belum tiga bulan, aku tidak akan―"
"Rukia!"
Kedua orang itu sama-sama tertegun. Rukia mengenal suara itu. Jantungnya bahkan terasa akan segera lepas sekarang juga. Rukia bisa merasakan tangannya yang lain, yang tidak digenggam Ichigo, ditarik paksa menjauh dari pria berambut orange ini. seketika itu pula Rukia langsung meringis karena ternyata bekas terkilirnya masih terasa.
"Nii-sama..." panggil Rukia dengan suara tercekatnya.
Tatapan angkuh dan dingin itu menusuk kedua orang itu dengan segera. Rukia merasa tubuhnya berubah seperti jelly. Susah bergerak. Dan gemetar. Rukia berusaha melepaskan tangannya dari orang berwajah angkuh itu, tapi ternyata tidak bisa.
"Kau benar-benar mengecewakan Kurosaki!" katanya dingin.
Rukia semakin ketakutan menanggapi kata-kata dinginnya itu.
"Nii-sama! Ini tidak seperti yang Nii-sama pikirkan! Ini salah paham! Ini―"
"Berhenti membelanya Rukia! Mulai sekarang kau lupakan orang ini! Aku akan mengurus perceraian kalian."
"Nii-sama! Hentikan itu! Nii-sama salah paham!" pekik Rukia. Dan Ichigo sama sekali tidak berbuat apapun.
"Apanya yang salah paham? Apa yang kudengar hari ini sudah lebih dari cukup! Aku sudah menduga ada yang tidak beres pada pernikahan kalian. Jadi ini sebabnya. Tiga bulan... apa yang kalian pikirkan? Kalian mempermainkan pernikahan!"
"Bukan! Ini bukan salah Ichigo! Aku... aku yang memintanya Nii-sama! Ichigo tidak salah apapun! Dia tidak tahu apapun! Lepaskan aku Nii-sama!"
"Kita pulang."
"Tidak! Rumahku di sini!" Rukia masih berteriak pada Byakuya akan melepaskannya. Tapi pria angkuh itu tetap menahan tangan Rukia dan menariknya masuk ke dalam mobilnya. Rukia terus meronta, tapi Ichigo tetap diam saja. Itu yang membuat Rukia semakin sedih dan pedih. Bahkan ketika Rukia dipaksa masuk ke dalam mobil pun, Ichigo tetap diam dan tidak berbuat apapun.
Rukia berusaha membuka pintu mobil kakaknya untuk berlari ke tempat Ichigo. Tapi pintu itu langsung dikunci dan Byakuya memegangi lengan Rukia agar gadis mungil itu tidak beranjak kemanapun. Sambil memerintah Kira untuk menjalankan mobilnya, Byakuya tetap memasang wajah datar dan dingin.
"Nii-sama... kumohon, aku mau ke tempat Ichigo. Nii-sama..." isak Rukia. Tapi Byakuya seolah tak mendengar adik kesayangan menangis memohon untuk dilepaskan.
"Mulai sekarang, kau tidak kuijinkan pergi kemanapun Rukia. Kecuali denganku. Dan kau... lupakan Kurosaki itu. Dia benar-benar pria brengsek. Tidak seharusnya kau menikah dengan orang seperti itu!" kata Byakuya tajam.
"Aku mencintainya Nii-sama! Aku mencintainya!" pekik Rukia.
Byakuya masih diam seolah menulikan telinganya untuk tidak terpengaruh tangisan adiknya. Selama ini, Byakuya paling anti membiarkan Rukia menangis. Byakuya tak pernah sekalipun membiarkan adik kesayangannya ini menangis. Karena itu apapun yang Rukia inginkan selalu dikabulkannya.
"Diamlah Rukia! Dia tidak mencintaimu! Dia... tidak mencintaimu!" kata Byakuya tegas sambil menekankan setiap kata itu di depan Rukia.
Rukia langsung terdiam mendengar kata-kata itu. Ichigo... tidak mencintainya.
"Tapi... aku mencintainya... aku... aku mencintainya..." gumam Rukia. Dan gadis mungil ini terus menggumamkan kalimat terakhirnya berkali-kali seperti kaset rusak yang pitanya tak akan kembali memutar dengan baik.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Hueee apa ini? kenapa saya bikin chap yang lebih hancur seperti ini? ada apa sih sama otak saya? kayaknya emang lagi konslet belakangan ini. gak ngerti kenapa...
huft! baiklah. ini konflik terakhir mereka. Ruki udah dibawa Byakuya dan Ichi yang goblok!
err... sebenarnya sih bukan, Ichi gak ngapa-ngapain karena dia gak mau Ruki menderita kalo sama dia. Ichi beneran mikiran kebahagiaan Ruki. gak kayak Senna. hehehe kayaknya emang si Ichi masih terlalu sulit ngelupain Yukia ya? hmmm... setelah chap ini dan kemudian beberapa chap lagi fic ini akan the end! wkwkwkwkwk saya seneng banget kalo ada fic yang mau the end!
dan jujur saya belum memikirkan endingnya. jadi saya gak bisa memprediksi ending fic ini seperti apa. dan gak menutup kemungkinan bakalan mengejutkan. hehehe yah semoga saat itu otak saya gak konslet jadi bisa bikin ending yang memuaskan.
dan soal kemunculan Kokuto, tuh anak gak dibikin buat cemburui Ichi. gak gitu. karena pada dasarnya, saya gak menargetkan Kokuto seperti itu. lebih ke... gimana ya, kayak Renji dan Yumi sih Kokuto itu. nyadarin Ichi betapa cinta Ruki ke dia. hehehe jadi maaf gak ada adegan dramatis yang cemburu gimana gitu. wkwkwkkw
hahh~~ kayaknya ini chap hancur banget ya? lebai? kayak sinetron. yayaya fic saya kayak gitu kok. penuh kekurangan. wkwkkw jadi maaf kalo chap ini membosankan banget. saya cuma mau menekankan pilihan Ichi aja. karena gak mungkin banget yang namanya langsung cinta itu. sekali lagi semua butuh proses. gak mesti kan semuanya jeblek gitu aja? hehehe maafkan kekonsletan otak saya yang gak direparasi selama 20 tahun ini *plak*
balas review...
Crystalline Arch : makasih udah review senpai... aahhaah emang kiblat fic ini ngarah ke Full House gitu. setiap fic saya pasti ada inspiratornya. dan semua itu pasti dari drama Korea. wkwkwkwwk makasih udah dibilang bagus. saya sempet depresi karena ngebikin fic lebai mulu hehehhe
Wakamiya Hikaru : makasih udah review Hikaru... hehehee kayaknya masih butuh beberapa proses dalam tahap itu. karena fic ini bukan nyeritain Ichi yang berubah cinta mati ke Ruki tapi nyeritain gimana Ichi yang berusaha ngelupain Yukia. hehehehe dan kayaknya Ruk juga gak bakal bisa dingin ke Ichi. heheheh secara dia yang cinta sih... *plak*
Kyouichiru : makasih udah review senpai... hehehe Kokuto gak diproduksi gitu... heheheh jadi gak ada adegan cemburu gimana gitu. wkwkwk
ELLE HANA : makasih udah review senpai... kalo saya sih pengen ngulitinnya heheheh ya ini konflik terakhir kok. hehehe prekuelnya gak sesedih itu kok. hehehe saya yang ngetik aja cuma sampe nangis darah *gubrak* hehheh ya dong, ini kan Ichiruki masa berubah jadi IchiYumi? *plak*
Nyia : makasih udah review senpai... hehehe maaf gak update kilat karena berbagai halangan. dan ini udah update hehehe
Tania : makasih udah review senpai... hehehe maaf jadi telat banget. karena sitkon sih heheheh yah ini udah update
Kim Na Na : makasih udah review senpai... hehehe kayaknya gak mungkin deh sampe 20 chap. saya yang gak sanggup ngetik sebanyak itu. hehehe
ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... ini buat senpai yang selalu nanyain fic ini di semua review fic saya. hehehehe saya seneng senpai nangis lagi. apa chap ini juga nangis? heheheh
d3rin : makasih udah review Rin... aduh lupa ya? jangan panggil senpai dong... heheheh ya ini konflik terakhir sekaligus penderitaan Ruki yang paling berat hehhehe... nih udah update hehehe
Chadeschan : makasih udah review senpai... wah maaf senpai. apa chap kali ini rada ngebosenin? kayaknya sih iya ya? hehehe
Zanpaku nee : makasih udah review senpai... kan Ichi ngilang tiga jam tuh nungguin Senna. nah si Senna emang sempet pingsan, tapi kemudian dia bangun pas nyadar Ichi ada di deket dia. langsung aja deh dia resekin Ruki. hehehehe
Voidy : makasih udah review neechan... pas nee chan bilang kamar serba pink, saya ngebayangin Ruki ama Yumi yang pake baju Loli gitu wkwkkwkw tenang aja neechan, ini masalah terakhir kok. bisa dibilang masalah final mereka. heheheh yaya namanya juga fic jadi banyak masalah apalagi fic saya... *plak*
bathroom concert : makasih udah review senpai... dan saya harap ketika senpai baca chap ini semoga Housekeeping-nya diupdate! saya udah gatal mau baca chap berikutnya tuh... hiks... lama amat, senpai lagi ngembara kemana sih? makasih semangatnya, hmmm kayaknya sih Kokuto gak digunain kesana. maaf ya jadi kecewa. terus maaf sekali lagi kalo chap ini beneran ngebosenin dan ancur...
Riyuu : makasih udah review senpai... hehehe gimana ya? mereka aja konflik melulu gimana mau lemon, tapi tenang aja, mungkin ada bonus nantinya di chap-chap depan. hehehe
Yukio Hisa : makasih udah review Yuki... ya silahkan aja di kasih hehhe. humm nasibnya belum tahu gimana... Ichi juga belum liat kalung itu lagi kan? heheh oh adek kembarnya Ichi? yah mereka kan lagi di Karakura. gak tahu gimana gobloknya Ichi ini. kalo tahu pasti kena bantai Yuzu deh ngebuat Ruki nangis gitu. hehhehe
: makasih udah review senpai... hehehe karakter Senna kayaknya berhasil banget ngebuat orang benci dia ya? kasian... *cupcupcup*
AkiraChan : makasih udah review senpai... wah kalo Senna mati gak ada yang ganggu lagi dong? *dijambak* hehheh yah Senna sih emang ada buat ngacauin keadaan sih hehehe. nih udah update...
Haru no Ai : makasih udah review senpai... hehehe iya Senna emang diciptkan buat bikin rusuh heheheh, wah kenapa mau dikasih ke Byakuya? kasih ke Yumi aja biar bisa bikin baju bareng *gaknyambung*
Dy'angel of sAsuSaku'sliGht'icHiruki : makasih udah review senpai... tenang aja nih udah konflik terakhir beberapa chap lagi tamat kok. hehehe bukannya malas update sih, kadang liat sitkon makanya suka update lama. pada dasarnya saya sih bisa aja update teratur kalo gak ada masalah, alamat FB saya sih bisa di liat di profil saya hehehehe
meyrin kyuchan : makasih udah review senpai... heheh gak papa kok gak bakal rumit lagi ini udah konflik terakhir dan bentar lagi tamat! ehhehehe
Delvin : makasih udah review senpai... iya dong bakal saya lanjutin sampe tamat kalo nggak saya gak mungkin bikin fic ini. hehehehe
Bad Girl : makasih udah review senpai... heeheh senpai udah jarang nongol nih,... emang kayak sinetron sih tapi ini konflik terakhir mereka sih heheheh
Nana the GreenSparkle : makasih udah review senpai... wah sayang, karena ini chap terakhir, jadi mereka belum tentu bisa baikan sih hehehe doain aja yang terbaik...
makasih sekali lagi sama yang udah berpartisipasi di semua fic saya. saya sangat berterima kasih. kayaknya terima kasih aja gak sanggup deh buat ngebales semua kebaikan senpai sama saya selama ini. ehheheh
jadi... mohon reviewnya ya, akhir-akhir ini saya sempet ngerasa depresi banget, pengaruh dari otak yang konslet. jadi tiap dapet review semua senpai, rasanya pelan-pelan depresi saya ilang dan saya semangat buat update fic hehhe maaf kalo saya banyak omong, tapi ijinkan saya bilang begitu karena beneran semua perhatian senpai di fic saya ngebuat saya beneran seneng banget hehehehe
ok deh, sekali lagi reviewnya ya... supaya saya tahu fic ini masih layak lanjut ato nggak. hehehe
Jaa Nee!
