Disclaimer: "I don't own all characters in here. They are belongs to them selves. If I can, I would do it ! xD I don't own the story. The original story made by Guiyeon. I just insipired by her story. I make no money from this—please don't sue me. "

Title: SHINE

Based on manhwa: "That Guy Was Splendid" by Guiyeon

Author : blackorange aka nda
Rating : T

Main Casts: Kim Jaejoong, Jung Yunho, Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin

Other Casts: Shirota Yuu, TOP, Tiffanny, Jessica

Genre : AU, crack, romance, fluff, humor, school life.
Length this chapter : 24 pages MsW


"Ten: Hurt"

Jaejoong berjalan mondar-mandir di lorong rumah sakit menunggu kabar Changmin yang sedang menjalani operasi kecil di hidungnya yang benar-benar patah. Ia menggigit ibu jari tangan kanannya gelisah dan panik. Pikirannya berkecamuk dengan bagaimana keadaan Changmin yang sedang di operasi dan juga apa yang terjadi di Game Center setelah ia menghiraukan teriakan frustasi Yunho yang memanggil namanya.

Apa Changmin baik-baik saja? Apa operasinya berjalan lancar? Apa dia akan mati?

Lalu, apa Yunho baik-baik saja? Apa dia kehilangan kontrolnya lagi? Apa dia mengamuk di Game Center dan melukai orang-orang?

Apakah semuanya akan baik-baik saja?

"Berhentilah berjalan mondar-mandir seperti setrikaan, Changmin akan baik-baik saja." Suara Junsu akhirnya terdengar di tengah-tengah kegelisahan dan kepanikan Jaejoong.

Jaejoong menghentikan langkah kakinya. Manik matanya yang hitam bergerak menatap Junsu yang duduk tenang di kursi tunggu rumah sakit. Ekspresi wajahnya terlihat begitu tenang dan datar, seperti tidak terjadi apapun. Jaejoong mulai menggigit bibir bawahnya gelisah ketika melihat ekspresi wajah Junsu yang seperti itu. Ia tahu –Junsu sedang marah padanya.

Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada sahabatnya. Begitu banyak asumsi–asumsi yang berputar dikepalanya. Begitu banyak hal yang ingin ia ketahui. Ia ingin tahu segalanya.

"Entah aku harus merasa kasihan padamu, simpati padamu, marah padamu, kesal padamu, atau kecewa padamu. Entah apa yang harus kurasakan padamu sekarang. Emosi itu begitu bercampur aduk tidak karuan." Ucap Junsu lagi yang membuat Jaejoong semakin terdiam.

Jika Junsu merasakan emosi yang bercampur aduk seperti itu padanya, bagaimana perasaan yang dirasakan oleh yang lain padanya? Yoochun? TOP? Yuu? Dan.. Yunho?

Lalu, bagaimana dengan perasaannya sendiri?

"…."

Jaejoong hanya diam tidak mengomentari. Ia sendiri mulai tidak bisa mengerti dirinya lagi. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan semua benang kusut itu. Ia merasa begitu kacau dan berantakan. Rasanya ia ingin tertabrak oleh sebuah container besar dan mengalami amnesia, sehingga ia tidak perlu lagi mengingat memori dan perasaan yang begitu menyakitkan itu atau bahkan mungkin sekalian saja mati. Ia ingin melupakannya, melupakan segalanya. Tapi ia sadar bahwa ia tidak bisa melakukannya. Ia sudah terkurung dan terjebak di dalam labirin hatinya sendiri. Ia tidak bisa menemukan jalan keluarnya. Ia tidak bisa menemukan jawabannya. Ia kehilangan arah.

"Kau benar." Jawab Jaejoong akhirnya. Ia menyandarkan punggung pada dinding rumah sakit sambil menyapu rambut black-maroon nya ke belakang kepala, terlihat begitu stress dan frustasi. "–aku bahkan sampai tidak bisa mengenali diriku sendiri." Lanjutnya pelan.

Manik mata Junsu menatap lekat-lekat wajah kusut sahabatnya. Wajah cantiknya terlihat begitu pucat. Kedua matanya terlihat memerah karena menahan tangis. Air mukanya terlihat begitu lelah. Ekspresi wajahnya terlihat begitu tertekan.

Jaejoong terlihat begitu berantakan.

Namun Junsu hanya berdecak pelan menanggapi ucapan Jaejoong yang tak bermakna ketika ia lebih tahu apa yang sedang dirasakan sahabatnya. Ironis.

"Apa artinya Jung Yunho bagimu?" suara Junsu kembali terdengar.

Manik mata hitam Jaejoong bergerak menatap wajah serius Junsu. Ia memikirkan pertanyaan itu di dalam benaknya. Memikirkan jawaban yang tidak ia temukan.

"Kenapa kau terlihat begitu berantakan hanya karena seorang Jung Yunho?"

"Apa yang kau lihat dari sosoknya?"

"Apa yang kau rasakan padanya?"

"Apa kau menyukai Yunho, hum?"

Pertanyaan-pertanyaan tidak sabar Junsu membuat Jaejoong membelalakan mata terkejut karenanya. Ia menatap sahabatnya tanpa mengerjapkan mata barang sedetikpun. Ia bahkan sampai lupa caranya untuk bernafas.

Pertanyaan-pertanyaan itu begitu terngiang dan berdengung bising di dalam telinganya. Wajahnya mulai terasa memanas bahkan mungkin memerah ketika ia mendengarnya. Jantungnya mulai berdegub kencang seolah akan mencuat dari dalam rongga dada ketika ia memikirkannya.

Pertanyaan-pertanyaan yang mampu membuat lidah Jaejoong terasa kelu hingga membuatnya begitu kehilangan kata-kata.

Ia seolah bisu.

Beberapa detik lamanya mereka hanya terdiam saling tatap. Jaejoong membiarkan pertanyaan Junsu menggantung di udara. Junsu pun tidak mendesak atau memaksanya untuk segera menjawab pertanyaan itu. Jaejoong tidak tahu bagaimana harus menjawabnya ketika ia sendiri bingung dan bimbang dengan perasaan yang dirasakan olehnya.

Apa yang selama ini ia rasakan pada Yunho hingga membuatnya begitu berantakan? Siapa Yunho bagi dirinya hingga ia bisa merasakan perasaan sakit itu? Apa yang ia lihat dari Yunho hingga membuatnya begitu kalang kabut tidak karuan?

Pertanyaan Junsu tidak terjawab ketika pintu ruang operasi terbuka dan seorang dokter keluar dari dalamnya. Kedua kepala mereka menoleh menatap dokter yang sedang berbicara dengan suster yang berjalan di sampingnya. Jaejoong dan Junsu langsung menghampiri dokter yang menangani operasi Changmin.

"Bagaimana keadaannya? Apa Changmin baik-baik saja? Apa operasinya berhasil? Dia tidak akan mati 'kan?" tanya Jaejoong begitu panik dan khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada Changmin. Ini semua salahnya hingga membuat Changmin juga ikut terseret ke dalam peliknya masalah yang ia hadapi. Ini semua salahnya.

Dokter itu tertawa pelan mendengar pertanyaan Jaejoong. Ia menggelengkan kepalanya.

"Dia baik-baik saja. Operasinya lancar, lukanya tidak terlalu serius meskipun ia mengalami banyak pendarahan. Ia akan baik-baik saja setelah beberapa minggu masa pemulihannya." Jawab dokter itu yang membuat Jaejoong dan Junsu menghembuskan nafas lega.

"Apa kami bisa menjenguknya?" tanya Junsu yang membuat dokter paruh baya itu menolehkan kepala menatap wajah khawatir Junsu. Ia tersenyum ramah dan menepuk pelan pundak Junsu.

"Kalian bisa menjenguknya."

"Kamsahamnida." Ucap keduanya bersamaan sambil menundukkan kepala kepada dokter senior itu.

Jaejoong dan Junsu langsung masuk ke dalam ruang operasi. Changmin terlihat sedang duduk di atas tempat tidur rumah sakit. Ekspresi wajahnya terlihat begitu serius seperti memikirkan sesuatu. Sebuah bandage berwarna putih terlihat menempel melintang di atas batang hidungnya yang mancung.

Changmin mendongakan kepala menatap kedua hyung nya. Ia tersenyum tipis ketika melihat wajar khawatir keduanya, membuat Jaejoong langsung berlari menabrakkan tubuhnya dan memeluk Changmin.

"BABO!" lengking Jaejoong merasa kesal karena perbuatan bodoh Changmin, namun ia juga merasa lega ketika Changmin terlihat baik-baik saja. Well, Changmin masih bernafas dan dalam bentuk utuh tanpa kehilangan apapun, " –kau membuatku khawatir, babo!" lengking Jaejoong lagi sambil mengeratkan pelukannya di leher Changmin.

Changmin hanya menghembuskan nafas sambil melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping Jaejoong. Membiarkan Jaejoong memeluknya dengan begitu erat. Ia menyandarkan dagunya di atas pundak kiri Jaejoong, kemudian memejamkan kedua mata sambil mendengar omelan hyung nya yang mengalun di kedua telinganya.

"Kau membuatku ketakutan setengah mati, Shim Changmin!" Suara Junsu membuat Changmin membuka mata dan menatap hyung nya yang berdiri tidak jauh di hadapannya. Junsu berjalan mendekati Changmin, lalu menggetok pelan kepalanya karena gemas, " –mungkin kau ingin terlihat begitu keren dengan aksi heroik mu, tapi kau terlalu bodoh untuk tidak menyadari dengan siapa kau berurusan."

"Junsu yah~ tolong jangan membahasnya sekarang." Ucap Jaejoong sambil melepaskan pelukannya. Ia menolehkan kepalanya ke samping kanan dan menatap Junsu dengan tatapan memohon untuk tidak membahas itu sekarang.

"Tidak.. tolong katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin tahu siapa laki-laki itu." Suara tenor Changmin membuat Jaejoong menolehkan kepalanya kembali menatap magnae nya.

Manik mata hitam Jaejoong menatap mata Changmin yang sedang menatapnya dengan tatapan serius. Ia tahu, lambat laun Changmin akan menanyakannya. Namun ia belum siap untuk menceritakannya ketika ia sendiri tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi dan siapa Jung Yunho bagi dirinya. Ia tidak tahu.

Jaejoong mengerlingkan matanya sambil berbalik.

"Aku akan mengurusi administrasinya." Ucap Jaejoong sambil hendak berjalan menjauhi Changmin untuk menghindarinya. Namun tangan panjang Changmin menarik lengan kiri Jaejoong untuk tidak pergi kemanapun.

"Hyung.." panggil Changmin pelan. Nada suaranya terdengar seperti memohon, membuat Jaejoong hanya bisa menggigit bibir bawahnya.

"Ceritanya panjang." Ucap Junsu sambil duduk di atas tempat tidur rumah sakit tepat di samping Changmin.

"Junsu.." Jaejoong menatap Junsu kemudian menggeleng pelan.

"Aku atau kau yang akan menceritakannya? Dia mendapati tulang hidungnya patah hingga seperti itu bukan untuk sesuatu hal yang sia-sia. Dia berhak tahu." Junsu mendengus pelan. Sedikit kesal dengan sikap pengecut Jaejoong yang kini lari dari kenyataan.

Jaejoong terdiam ketika mendengar ucapan Junsu. Manik matanya yang hitam bergerak menatap batang hidung Changmin yang terluka. Ia menghembuskan nafasnya menyerah. Tentu saja ia tidak akan pernah bisa bersembunyi dari bayangannya sendiri –dan ia akan selalu membutuhkan pelindungnya, pasti.

"Jung Yunho." Suara melodis Jaejoong perlahan terdengar. Ia menundukkan kepalanya ketika nama itu meluncur dari dalam mulutnya. Terasa begitu manis namun juga begitu pahit di lidahnya. "–namanya Jung Yunho. Dia seorang kkapgae."

Bitter sweet feeling.

"Kkapgae?!" pekik Changmin terkejut. Matanya membelalak ketika mendengar kata itu keluar dari bibir merah cherry Jaejoong. Intuisinya tidak pernah salah. Ia memang merasa ada sesuatu yang 'berbahaya' dari orang bernama Jung Yunho itu. 'Sesuatu' yang akan melukai hyung nya.

"Bagaimana kau bisa bertemu dengannya? Dia seorang kkapgae?!" Tanya Changmin lagi tidak sabar. Bagaimana bisa hyung yang begitu lugu dan polos bertemu dengan seorang kkapgae?

Jaejoong menatap mata Changmin memohon untuk tidak membahasnya sekarang, namun tatapan tajam Changmin membuat Jaejoong menyerah untuk lari dari kenyataan yang sedang menghimpitnya. Menyerah untuk berlari dari bayangannya. Menyerah untuk menyembunyikan benang kusut yang belum berhasil ia urai dari Changmin.

Jaejoong mulai menceritakan bagaimana ia bisa bertemu dan mengenal Yunho hingga membuatnya harus terjerat dan tertarik ke dalam lingkaran kehidupan seorang kkapgae. Cerita Jaejoong itu membuat Changmin kehilangan kata-katanya. Changmin tidak tahu harus marah dan kesal kepada siapa ketika kisah pertemuan Jaejoong dan Yunho terdengar begitu konyol dan ironis. Di satu sisi, Jaejoong memang bersalah karena sudah memaki seorang kkapgae, namun di sisi lain, Yunho juga ikut bersalah ketika dia bersikap kekanak-kanakan seperti bocah yang tidak bisa bersikap dewasa.

Changmin menghela nafasnya frustasi. Jaejoong tidak pernah berubah.. sedikitpun.

"Aku tahu aku bodoh." Lirih Jaejoong pelan ketika mendengar helaan nafas Changmin.

"Ya, kau memang bodoh, hyung. Begitu bodoh hingga membuatku selalu tidak bisa tenang untuk meninggalkanmu begitu saja sendirian di sini. Tiga tahun meninggalkanmu membuatku kecolongan seperti ini." geram Changmin kesal. Kesal ketika ia tidak bisa melindungi Jaejoong untuk yang kedua kalinya. Ia selalu saja terlambat.

"Maaf." Cicit Jaejoong sambil menundukkan kepalanya. Ia merasa malu ketika seseorang yang jauh lebih muda darinya bisa bersikap lebih dewasa. Ia selalu merasa malu ketika Changmin lah yang selalu melindunginya. Ia selalu merasa malu ketika ia tidak bisa menjadi hyung yang bisa di andalkan dongsaeng nya. Ia selalu merasa malu.

Namun kenyataan bahwa Changmin adalah bayangannya, perisainya, pelindungnya, dan segalanya bagi Jaejoong, membuatnya tidak bisa hidup tanpa Changmin di sisinya. Ia membutuhkannya. Membutuhkan Changmin untuk melindungi dan menutupi sisi rapuhnya.

"Kau tidak perlu meminta maaf." Jawab Changmin menggeleng pelan. Sedikit menyesal telah berkata seperti itu ketika hyung nya dalam keadaan down. Ia hanya marah pada dirinya sendiri karena merasa tidak berguna ketika ia selalu terlambat untuk melindungi Jaejoong. Ia selalu menemukan Jaejoong dalam keadaan retak dan pecah. Begitu mudah hancur jika ia salah menyentuhnya.

"Hyung.." Panggil Changmin yang membuat Jaejoong mendongakan kepalanya kembali dan menatap Changmin, " –apa hubungan mu dengan Yunho?" lanjut Changmin sambil menatap mata hitam dan besar Jaejoong. Mata hitam yang seperti kehilangan fokusnya. Jaejoong seperti kehilangan arah dan tersesat.

"Aku tidak tahu." Jawab Jaejoong cepat. Ia mengerlingkan matanya menatap Junsu yang juga sedang menatapnya.

Changmin mengeratkan genggaman tangannya. Seolah memberikan kekuatan pada Jaejoong bahwa ia akan selalu ada di sisinya untuk melindunginya.

"Jangan berbohong padaku." Ucap Changmin sambil berdiri di hadapan Jaejoong. Ia tahu, sorot mata itu sedang membohonginya, "–kalau dia bukan siapa-siapamu, kenapa kau terlihat begitu.. hancur?"

Lagi-lagi Jaejoong terdiam. Pertanyaan Changmin membuat tenggorokan Jaejoong tiba-tiba terasa begitu tercekat. Jantungnya kembali berdegub dengan cepat hingga membuatnya sulit untuk bernafas. Rasa sakit yang pernah ia rasakan dulu seolah kini menggerogotinya kembali. Luka tak kasat mata yang tertoreh dan tergores di hatinya seolah menganga kembali. Terasa begitu menyesakkan dan menyakitkan ketika seseorang memperdalam luka itu.

Kedua matanya mulai memanas. Sesuatu yang terasa basah dan hangat berdesak-desakan seperti akan pecah membuncah di kedua sudut matanya. Namun Jaejoong berusaha menahannya. Ia menelan ludah untuk menelan kembali rasa 'sakit' yang tersangkut di tenggorokannya. Menghilangkan rasa sakit yang begitu menyiksanya.

"Apa kau menyukainya?" pertanyaan Changmin membuat Jaejoong merasa semakin tertohok. Pertanyaan yang sama seperti yang di tanyakan Junsu padanya. Pertanyaan 'apa' yang tidak bisa di jawabnya.

Dadanya terasa begitu hangat ketika ia membayangkan wajah Yunho. Wajahnya terasa memerah dan memanas ketika ia mengingat mata coklat hazelnut Yunho yang menatapnya dengan tatapan lembut. Tubuhnya terasa lumer ketika ia mengingat senyum manis Yunho.

Namun, nafasnya terasa tercekat ketika ia mengingat ekspresi datar Yunho. Tubuhnya terasa bergetar ketika ia mengingat tatapan tajam Yunho. Hatinya terasa sakit ketika ia mengingat ucapan dingin Yunho.

Pertanyaan 'apa' yang membuatnya merasa semakin sakit dan terluka ketika ia menyadari.. ia memang menyukai Yunho.

Pertahanannya seolah runtuh ketika sebulir air mata mengalir di pipi kanannya. Topeng semu yang selama ini dipakainya seolah terlepas mengudara ketika ia tidak bisa menyembunyikan lagi sisi rapuhnya yang terluka.

Ia hancur.

Kedua lengan Changmin melingkar di leher jenjang Jaejoong kemudian menarik tubuh yang bergetar itu ke dalam pelukannya. Suara isak tangis Jaejoong pecah ketika ia merasakan hangat tubuh Changmin yang menyelimutinya. Melindunginya dari rasa dingin yang begitu menusuk.

"A –aku tidak tahu Minnie ah –sobs. Aku tidak tahu." Isak Jaejoong di dalam pelukan Changmin dan membiarkan ia membasahi pakaiannya, " –dia sangat menyebalkan, egois, temperamental, dan bar-bar –sobs. Tapi entah mengapa aku merasa sakit ketika dia menatapku dengan tatapan benci dan hatiku terasa semakin sakit ketika melihatnya bersama orang lain. Hiks.."

Changmin hanya diam mendengarkan Jaejoong yang terisak. Hatinya seolah ikut terluka dan berdarah melihat hyung nya yang begitu hancur.

Junsu pun ikut terdiam melihat Jaejoong yang runtuh dan hancur. Ia kini merasa sangat kasihan dan simpati pada sahabatnya. Isak tangis yang sudah lama tidak pernah ia dengar setelah kejadian Siwon yang mengkhianati perasaan tulus Jaejoong membuat Junsu kembali merasakan luka yang tertoreh di hati Jaejoong. Ia semakin merasa simpati padanya ketika menyadari bahwa Jaejoong masih belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Gwangju malam itu. Sesuatu yang akan membuat Jaejoong semakin terluka dan hancur. Ia tidak sampai tega hati untuk menceritakannya.

Ia tidak akan menceritakannya.

"Aku kesal padanya, aku muak dengan sikapnya, dan aku jengah dengan sifatnya.. tapi kenapa hatiku terasa begitu sakit ketika dia menghiraukanku? Kenapa aku merasa begitu kesal ketika ia bersama orang lain? Kenapa aku justru tidak merasa senang ketika ia melepaskan dan membebaskanku?! Kenapa? Kenapa?!" Jaejoong semakin terisak. Ia semakin tenggelam di dalam perasaan yang seolah pecah membuncah di dalam dadanya. Menggerogotinya secara perlahan. Perasaan menyukai yang teramat sangat hingga membuatnya begitu terluka sedemikian hebatnya. Hingga ia tidak tahu lagi dengan apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkan rasa sakit itu.

"Jae hyung.." panggil Changmin pelan.

"Aku menyukainya.. aku menyukainya.. aku menyukainya... aku menyukainya hingga aku sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi.. aku tidak tahu."

Junsu bangkit berdiri dan mendekati keduanya. Hatinya ikut terluka melihat Jaejoong yang seperti itu. Ia melingkarkan kedua lengannya dan memeluk Jaejoong dari belakang. Ia menyandarkan kepala di atas punggung Jaejoong lalu memejamkan matanya. Membiarkan Jaejoong yang menangis terisak dalam diam. Mendengar isakan tangisnya yang terdengar begitu pilu.

Membuat Junsu mulai bertanya-tanya, mengapa kisah cinta Jaejoong harus selalu berakhir bahkan sebelum ia bisa memulainya.

~.~.~.~.~.~

Seminggu telah berlalu sejak kejadian itu. Semuanya terasa begitu tenang seperti permukaan air di atas kolam. Seperti tidak pernah ada kejadian yang begitu memilukan hati. Semuanya hanya seperti mimpi.

Jaejoong menjalani kehidupannya lagi seperti biasa. Ia kembali menjadi Kim Jaejoong –The Prince Of Paran High School. Gadis-gadis mulai kembali mengelilinya kemanapun ia pergi ketika penampilan baru Kim Jaejoong membuat mereka semakin tergila-gila padanya.

Gaya rambutnya berubah. Rambutnya ia potong menjadi sedikit lebih pendek dengan warna yang cukup mencolok. Blonde. Ia mencat rambutnya menjadi pirang.

Auranya terasa begitu berbeda ketika ia merubah penampilannya. Terasa lebih sedikit dewasa, seksi, dan liar –seperti aura seorang bad boy. Mereka bilang seperti itu.

Mungkin tidak ada yang tahu tentang rahasia ini, bahkan kedua orang tua Jaejoong sekalipun. Hanya Junsu dan Changmin yang tahu rahasia kecil yang disembunyikan oleh Kim Jaejoong. Sesuatu hal yang belum pernah di lakukan oleh Jaejoong seumur hidupnya.

Ia mentato tubuhnya, tepat di kedua tulang belikatnya dengan tato berbentuk sayap yang menghiasi tubuh putih pucatnya. Sepasang sayap yang melambangkan 'kebebasan'. Kebebasan dari rasa sakit yang pernah dirasakannya.

Jaejoong berubah.

Pada awalnya, Junsu dan Changmin tidak setuju jika Jaejoong mentato tubuhnya. Namun perkataan Jaejoong saat itu membuat keduanya hanya terdiam membisu tidak bisa berkata-kata.

'Aku ingin merasakan sakit yang nyata. Bukan sesuatu hal yang begitu abstrak namun terasa begitu menyiksaku seperti rasa sakit yang sering kurasakan disini.' Ucapnya tersenyum tipis sambil menyentuh dada kiri dengan jari telunjuk kanannya.

Kalimat yang sesungguhnya membuat Junsu dan Changmin begitu tersiksa. Keduanya tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka membiarkan Jaejoong menyalurkan rasa sakit itu ke tubuhnya jika itu memang bisa membuatnya bangkit dari keterpurukan.

Jaejoong hanya ingin memindahkan rasa sakit secara batin itu ke dalam bentuk fisik. Rasa sakit yang begitu nyata namun dapat sembuh dalam kurun waktu yang singkat.

Jaejoong mencoba melupakan Yunho.

Junsu meletakan dagu di atas meja sambil menatap Jaejoong yang berdiri di ambang pintu kelas dengan gadis-gadis yang mengelilinginya. Jaejoong tersenyum bahkan suara tawanya terdengar begitu renyah ketika mendengar lelucon dari salah satu gadis yang menempel padanya.

Wajahnya memang tersenyum dan suara tawanya terdengar renyah, namun Junsu masih bisa melihat ekspresi terluka itu dan mendengar isak tangisnya.

Junsu menghembuskan nafas keras-keras sambil memeriksa ponselnya yang bergetar tanda sebuah pesan masuk.

From: Chunnie~

Date: Fri, Feb 12

Time: 12.11 PM

Subject: (None)

'Bagaimana kabar Jaejoong?'


To: Chunnie~

Date: Tue, Feb 12

Time: 12.12 PM

Subject: Re: (None)

'Dia baik-baik saja. Well.. kurasa. Tapi seperti ada sesuatu yang 'hilang' darinya. Aku tidak tega melihatnya seperti itu.'


From: Chunnie~

Date: Tue, Feb 16

Time: 12.14 PM

Subject: Re:Re: (None)

'Hhaah~~ apa mereka tidak bisa lebih idiot lagi dari ini? Yunho semakin terjerat oleh permainan Jessica dan Tiffanny. Sajangmin sampai turun tangan untuk mengatasi masalah ini. Tapi kau tidak perlu khawatir, kami baik-baik saja disini. Hanya saja, well.. mungkin sekarang Yunho terlihat lebih seperti mayat hidup. Emotionless and lifeless than before.'


To: Chunnie~

Date: Tue, Feb 12

Time: 12.15 PM

Subject: Re:Re:Re: (None)

'Apa Yunho baik-baik saja?'


From: Chunnie~

Date: Tue, Feb 16

Time: 12.17 PM

Subject: Re:Re:Re:Re: (None)

'He is losing his mind.'


Junsu menenggelamkan wajahnya ke atas meja. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana meluruskan benang kusut yang membelit Yunho dan Jaejoong. Sehari setelah kejadian itu, Jaejoong hanya mengurung diri di dalam kamar. Sehari setelahnya, Junsu dan Changmin memekik terkejut melihat kedua mata Jaejoong yang membengkak. Lalu esoknya lagi, Jaejoong berkata ingin mentato tubuhnya dan melupakan Yunho. Setalah itu, dia merubah penampilannya dan kembali menjadi Kim Jaejoong yang di idolakan gadis-gadis satu sekolah. Membuatnya justru terlihat semakin menyedihkan.

Junsu tidak tahu pasti bagaimana dengan kondisi Yunho. Ia hanya mengetahui kabarnya dari Yoochun. Ia yakin Yunho terlihat begitu berantakan dan hancur sama seperti Jaejoong. Namun cara Yunho untuk menghilangkan rasa sakitnya begitu berbeda dengan apa yang dilakukan Jaejoong. Membuat semuanya jauh lebih mengkhawatirkan Yunho, karena takut jika ia melakukan hal yang amat sangat gila.

Yunho sempat di tahan di kantor polisi karena menghancurkan mesin-mesin di dalam Game Center –dia benar-benar menghancurkannya. Namun, berkat kekuasaan dan keukuatan kkapgae Chil Sung Pa, mereka membebaskannya begitu saja tanpa persyaratan apapun. Itu menunjukkan bahwa Yunho bisa melakukan hal yang lebih gila dari itu tanpa ada yang berani menghalangi dan menentangnya.

Itu mengerikan.

Yunho tidak berusaha untuk menghubungi Jaejoong, begitu pula dengan sebaliknya. Mereka sama-sama bodoh dan idiot, mereka sama-sama egois, mereka sama-sama keras kepala, dan mereka sama-sama hanya melukai diri sendiri.

Yoochun bilang, Yunho belum pernah seperti ini sebelumnya. Hanya Jaejoong yang mampu membuat hati dingin Yunho mencair, hanya Jaejoong yang mampu membuat tatapan membunuh itu melembut, dan hanya Jaejoong yang mampu membuat bibir itu melengkungkan sebuah senyuman.

Hanya Jaejoong.

Namun, hanya Jaejoong pula yang mampu membuat Yunho kehilangan kontrol, hanya Jaejoong yang mampu membuatnya kehilangan akal sehat, dan hanya Jaejoong yang mampu membuatnya begitu berantakan tidak karuan.

Hanya Jaejoong.

"Ya Junsu yah~! Apa yang kau lakukan mencium meja seperti itu?" suara melodis Jaejoong membuat Junsu mendongakan kepala menatap wajah tersenyum Jaejoong yang sudah berdiri di samping mejanya. Junsu hanya meringis pelan.

"Aku kesepian karena kau begitu sibuk dengan gadis-gadis itu~" jawab Junsu menyindir. Ia bisa mendegar suara tawa renyah Jaejoong.

"Oh ayolah Junsu~~ apa yang kau harapkan dari pangeran sekolah ini? Seharusnya kau bangga memiliki teman yang di idolakan satu sekolah." Jaejoong menggoda Junsu dan terkekeh pelan. Junsu hanya memutar kedua bola matanya sebal. " –malam ini ayo kita pergi ke Club." lanjut Jaejoong sambil berbisik pelan di telinga kiri Junsu, membuat laki-laki bersuara lumba-lumba itu melengking terkejut karenanya.

"APA?!"

"Aiiieee~~ reaksimu berlebihan." Jaejoong mendengus pelan sambil mengorek telinganya yang berdegung bising kemudian duduk di bangkunya yang berada di depan bangku Junsu.

Junsu tidak mengerjapkan matanya dengan mulut menganga ketika menatap wajah Jaejoong.

"Kau bercanda 'kan?"

"Kenapa kau berpikir aku bercanda?"

"Kau pikir umurmu berapa?! Kita tidak akan lolos pemeriksaan kartu identitas."

"Ada Minnie."

"Apa otakmu sudah tidak pada tempatnya lagi? Apa kau lupa kalau Changmin 2 tahun lebih muda dari kita?!"

"Eeiiii~~ apa kau lupa kalau Minnie sudah menjadi seorang mahasiswa?" Jawab Jaejoong sambil memutar kedua bola matanya. " –dia pasti memiliki kartu mahasiswa."

"Tapi –"

"–aku sudah mengajak Yuri dari kelas sebelah, dan dia menerima ajakanku dengan wajah antusias. Heh~ girl is surely the cute one." Ucap Jaejoong memotong ucapan Junsu sambil terkekeh pelan.

"Kau gila, Jae." Ucap Junsu mendengus pelan.

"The craziness that makes me still alive." Jawab Jaejoong sambil tersenyum menyeringai.

~.~.~.~.~.~

Rasanya Junsu ingin menghajar Changmin yang tidak pernah bisa menang melawan Jaejoong dalam hal apapun. Termasuk menolak permohonan Jaejoong yang memintanya untuk ikut ke Club Paradise ketika Jaejoong mengancam tidak akan berbicara lagi padanya jika ia menolak. Changmin selalu lemah jika Jaejoong sudah mengeluarkan senjata andalannya. Jaejoong beralasan ingin pergi ke club sebagai permintaan maaf pada magnae nya karena sudah membuat hidungnya patah. Junsu yakin, alasan itu hanya kamuflase Jaejoong untuk bisa pergi ke club dan minum berbotol-botol alhokol untuk memaksakan diri melupakan Yunho.

Namun Changmin justru berpikir kalau Jaejoong butuh 'sesuatu' untuk bisa menghilangkan rasa stress dan tertekannya hingga ia mengabulkan permohonan itu. Membuat Junsu mau tidak mau ikut bersama mereka untuk mengawasi Jaejoong agar tidak melakukan hal yang lebih gila lagi ketika ia masih dalam kondisi tidak stabilnya.

Mereka bisa lolos masuk ke dalam Club Paradise berkat kartu mahasiswa Changmin dan juga tinggi tubuhnya yang memang terlihat seperti mahasiswa. Penampilan Jaejoong, Changmin, Junsu, dan juga gadis bernama Yuri yang memang sedikit lebih bergaya semakin membantu mereka untuk bisa lolos masuk ke dalamnya.

Sekarang keempatnya sudah berada di dalam club yang cukup terkenal di Gangnam distrik dan duduk di VIP seat ketika Junsu terpaksa mengeluarkan kartu kreditnya untuk memesan tempat yang lebih bersifat privasi. Ia tidak ingin mengambil resiko dan membiarkan Jaejoong berada di tempat umum. Gangnam distrik seperti menjadi pusat pertemuan antar gang dan kkapgae. Ia tidak ingin Jaejoong terlihat oleh mereka terutama gang yang tergabung dalam kkapgae Ssang-Young Pa, Yoochun sudah memperingatinya.

Suara dentuman musik yang bising dan berisik khas club malam begitu menggema hingga penjuru club, seolah mampu menghancurkan gendang telinga. Bau asap rokok, alkohol, dan seks begitu mengudara di dalamnya ketika suasana malam semakin larut dan menggairahkan. Penari-penari striptease mulai terlihat beraksi di atas panggung. Cahaya lampu yang minim membuat semuanya terlihat semakin liar. Membuat setiap insan di dalamnya begitu menggila.

"Hhaah! Rasanya aku ingin melempar kalian ke dalam Sungai Han! Iiish!" Junsu beringsut semakin kesal ketika memperhatikan Jaejoong dan Yuri yang terlihat meliuk-liukkan tubuh mereka dengan gerakan yang begitu seksi dan sensual mengikuti dentuman beat musik di atas dance floor yang dimainkan seorang DJ dari ruang VIP yang dipesannya. Ia merasa kesal karena melihat Jaejoong terlihat bukan seperti dirinya sendiri. Jaejoong terlihat seperti orang lain. Ia belum pernah melihat Jaejoong yang seperti ini sebelumnya.

"Aku akan melakukan apapun untuk bisa membantu Jaejoong hyung melupakannya." Ucap Changmin santai seolah menjawab gerutuan Junsu sambil menyesap segelas orange juice ketika Jaejoong melarangnya untuk meminum alkohol. Junsu langsung menatap magnae nya tajam dari sudut mata.

"Kau tidak tahu apa-apa dan kau tidak mengerti situasinya, Minnie." Desis Junsu sebal. Changmin hanya berdecak pelan menanggapinya.

"Oh yeah? Aku tidak tahu apa-apa? Aku tidak mengerti? Tapi aku tahu satu hal. Jaejoong hyung ingin melupakannya dan aku mengerti konteks kalimat itu. Jadi, apa yang tidak aku ketahui dan yang tidak aku mengerti, hm?"

"Ish! Berhentilah bersikap seolah kau yang paling mengerti dirinya!" Junsu beringsut semakin kesal dengan sikap Changmin yang begitu dingin.

"Dan berhentilah bersikap seolah kau sudah melakukan yang terbaik untuknya!" Changmin mendengus keras. Kesal dengan sikap Junsu yang selalu mengeluhkan sikap Jaejoong yang berubah. Menurutnya, tidak ada yang berubah dari Jaejoong. Ia masih menjadi Kim Jaejoong yang rapuh dan terluka. Hanya topeng semu itu yang menutupinya, hingga membuatnya terlihat seperti orang lain. Namun jauh di dalamnya, ia tidak berubah sama sekali.

"Kau pikir kau sudah melakukan hal yang benar dengan terus membiarkan Jaejoong memakai topengnya dan membiarkannya bersikap seperti orang lain?!"

"Jaejoong hyung bisa memakai topeng itu selama yang ia inginkan jika itu bisa membuatnya melupakan laki-laki itu. Aku akan terus berada di sisinya untuk melindunginya jika terjadi sesuatu padanya!"

"Jaejoong seperti itu karena ia tidak bisa melupakan Yunho! Ia sangat menyukainya! Kau seharusnya mengerti itu, Changmin!"

"Aku tidak akan membiarkan Jaejoong hyung mengingatnya lagi kalau itu hanya terus melukainya! Luka yang ditorehkan si brengsek Choi Siwon masih menganga begitu lebar! Aku tidak akan membiarkan Jung Yunho memperdalam luka itu!" Changmin berteriak marah. "–diamlah! Aku tidak ingin membahas ini dan membuatku marah padamu." Lanjut Changmin sambil menatap tajam Junsu yang akan berargumen lagi dengannya. Tatapan matanya seolah menyuruh Junsu untuk diam tidak membahasnya lagi.

Junsu mengerang frustasi. Ia menghempaskan punggung pada sandaran kursi setengah lingkaran yang di dudukinya. Changmin begitu protektif pada Jaejoong seperti yang ia lakukan beberapa tahun silam ketika Siwon melukai perasaan Jaejoong. Junsu tidak protes dan justru mendukung sikap Changmin saat itu karena Siwon memang begitu brengsek sudah melukai Jaejoong begitu hebatnya.

Namun kali ini situasinya berbeda. Bukan Yunho yang melukai Jaejoong, bukan Yunho yang membuat Jaejoong menangis, dan bukan Yunho yang membuatnya seperti ini. Semuanya terjadi karena kebodohan keduanya, karena keegoisan keduanya, dan karena kekeras kepalaan keduanya.

Keduanya sama-sama terluka.

"Kau tidak mengerti, Minnie.." gumam Junsu pelan sambil memejamkan matanya lelah. Lelah memikirkan bagaimana cara meluruskan benang kusut itu.

Tiba-tiba saja ponsel Junsu bergetar di dalam saku celananya. Ia mengambil benda mungil itu kemudian menatap layar ponsel yang berkedip-kedip. Ia langsung menjawab panggilannya ketika nama Yoochun tertera di LCD ponsel.

"Hallo?" jawab Junsu sedikit berteriak sambil menutup telinganya yang lain ketika suara dentuman musik yang keras dan bising terdengar begitu berisik.

"Junsu, kau bilang kau akan pergi ke Club Paradise bersama Jaejoong?"

"Ya. Bukankah aku sudah memberitahumu?"

"Shit! Sepertinya Jessica masih melakukan tracking pada Jaejoong."

"Maksudmu?"

"Tiffanny membawa Yunho ke Club Paradise bersama gang Jessica malam ini."

"Oh My God Sun! Shit!" suara lengkingan Junsu yang memaki membuat Changmin menolehkan kepala menatap hyung nya. Ia mengerutkan keningnya penasaran dengan siapa Junsu berbicara.

"Yes, shit my dolphin."

"Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?!" tanya Junsu mengerang frustasi.

"Aku juga baru tahu informasi ini! Kau sendiri tahu, semenjak kejadian di Gwangju, Yunho sudah tidak pernah bersama kami lagi! He is losing his fucking mind!"

"Oh sial! Bagaimana ini? Jaejoong masih dalam keadaan tidak stabilnya."

"Same case with Yunho. Aku harap kau cepat keluar dari sana sebelum Jessica dan yang lain menemukannya. Kami sedang dalam perjalanan ke sana."

"Uhm. Baiklah." Jawab Junsu sambil memutuskan sambungan teleponnya dengan Yoochun. Ia menolehkan kepala menatap Changmin sambil menggigit bibir bawahnya panik.

"Mereka ada di sini." Ucap Junsu sambil bangkit berdiri dari duduknya.

"Siapa?"

"Kita harus cepat-cepat keluar dari sini." ucap Junsu tidak menjawab pertanyaan Changmin sambil celingukan mencari Jaejoong di atas dance floor, menghiraukan tatapan penasaran magnae nya. Ia mengumpat pelan ketika tidak menemukan sosok Jaejoong di lautan manusia itu.

"Kita harus mencari Jaejoong. Siapapun nanti yang menemukannya, kita harus langsung membawanya keluar dari sini sekalipun ia menolak." Perintah Junsu pada Changmin sambil berjalan turun menuju dance floor untuk mencari sosok sahabatnya. Membuat Changmin mengernyitkan keningnya tidak mengerti dengan sikap Junsu yang tiba-tiba terlihat begitu panik.

"Apa yang terjadi?" tanya Changmin ingin tahu sambil menahan lengan kiri Junsu.

"Kalau kau ingin melindungi Jaejoong seperti yang kau ucapkan tadi, lakukan saja apa yang aku perintahkan!"

~.~.~.~.~.~

Suara air mengalir dari keran wastafel yang sedari tadi dibuka terdengar begitu menggema di dalam toilet yang sepi. Seseorang menatap aliran air itu dalam diam. Sorot matanya terlihat begitu kosong dan hampa. Kepalanya terasa berdenyut sakit ketika memikirkan banyak hal.

Ia membasuh wajah dengan air yang mengalir dari keran untuk meringankan pikirannya yang semakin hari semakin stress dan semerawut. Ia begitu frustasi ketika bayangan wajah Yunho tidak pernah menghilang dari dalam benaknya. Bayangan wajah yang berusaha untuk di lupakannya.

Semakin ia berusaha untuk melupakannya, bayangan itu justru terlihat semakin nyata. Semakin ia berusaha menghentikan perasaannya, rasa suka itu justru semakin tumbuh di dalam hatinya. Semakin ia lari dari kenyataan, ia justru semakin tenggelam di dalamnya.

Kenyataan bahwa ia begitu menyukainya dan kenyataan bahwa ia tidak bisa melupakannya.

Penampilan baru itu bukan solusinya, tato di punggung atas itu bukan solusinya, gadis-gadis itu bukan solusinya, dan dentuman musik di club malam juga bukan solusinya.

Ia menatap kembali bayangannya yang terpantul di cermin. Menatap wajah pucatnya yang basah oleh air. Manik matanya yang hitam dan besar itu menatap sorot mata yang terpantul di cermin. Sorot mata yang terlihat begitu kosong dan hampa. Ia mendengus pelan.

"Kau terlihat menyedihkan, Kim Jaejoong." Bisiknya mendengus kesal, kemudian tertawa pelan. Menertawai dirinya sendiri yang terlihat begitu menyedihkan.

Ia menegakkan tubuhnya dan mengambil beberapa lembar tisu untuk mengeringkan wajahnya yang basah. Ia bersiap untuk menghambiskan beberapa botol alkohol untuk bisa melupakannya malam ini.

Ia harus bisa melupakannya.

'BRAK!'

Suara pintu toilet yang dibuka kasar membuat Jaejoong menolehkan kepalanya menatap pendatang baru itu. Ia mengerutkan keningnya samar ketika melihat seorang perempuan masuk ke dalam toilet pria.

"Maaf, sepertinya kau salah ma –" ucapannya terhenti ketika manik matanya yang hitam menatap wajah cantik perempuan itu. Ia hanya bisa terdiam melihat Tiffanny yang sedikit sempoyongan berjalan mendekatinya. Wajahnya terlihat begitu memerah, sepertinya ia mabuk.

"Eeehh~~ kau Kim Jaejoong, eh?" tanya Tiffanny sambil berusaha berdiri tegak sambil menyipitkan matanya ketika melihat Jaejoong yang berdiri tidak jauh darinya. Kepalanya terasa berdenyut sakit dan matanya berkunang-kunang karena terlalu banyak minum alkohol.

Manik matanya berusaha fokus menatap Jaejoong. Ia memperhatikan Jaejoong dari atas kepala hingga ujung kaki, kemudian kembali menatap wajah cantik Jaejoong. Ia mendengus pelan ketika menyadari penampilan Jaejoong yang terlihat sangat berbeda.

Rambut pendek pirangnya terlihat sedikit berantakan seperti tidak di tata, namun justru membuat aura liar begitu terpancar darinya. Long sleeve hitam dengan kerah lebar yang memperlihatkan garis tulang selangka yang begitu seksi membalut longgar tubuh rampingnya. Celana skinny berwarna hitam berbahan kulit, membungkus kedua kaki jenjangnya dan sepatu boots sebetis yang dipakainya membuat Jaejoong terlihat begitu seksi.

Tiffanny masih terus memperhatikan Jaejoong dengan seksama. Beberapa tindikan baru bisa terlihat di kedua telinganya. Sebuah kalung rantai berbandul cross menggantung panjang di leher jenjangnya. Pakaian serba hitam yang di pakainya membuat kulit putih pucat Jaejoong terlihat begitu outsanding. Membuat aura ekstrim antara tampan, cantik, seksi dan liar itu tercampur dan terpancar sempurna darinya.

Tiffanny mendengus pelan kemudian tertawa keras setelah melihat penampilan baru Jaejoong.

"Oh my~~ kau terlihat begitu.. begitu.. oh well, fuckable? Eh?" ucap Tiffanny terkekeh pelan sambil mengerluarkan sebatang rokok dari kotak rokoknya. Ia menggigit batang rokok itu kemudian menyalakan pematik apinya dengan susah payah.

Jaejoong mengerlingkan matanya kemudian berjalan hendak meninggalkan toilet tanpa mengatakan apapun pada Tiffanny. Namun langkah kakinya terhenti ketika lengan kanannya di tahan oleh Tiffanny hingga kuku-kuku panjang itu menancap di lengannya, membuat Jaejoong meringis pelan menahan perih.

"Kau pikir kau mau kemana? Kita belum selesai bicara." Desis Tiffanny begitu berbahaya sambil menatap Jaejoong dari sudut matanya.

Jaejoong menolehkan kepala menatap wajah yang dipoles make up itu, membuat wajah cantiknya terlihat semakin cantik seperti Goddess.

Sepatu heels 12cm yang dikenakannya, membuat Tiffanny tidak bisa berdiri dengan stabil. Jaejoong membantu menahan tubuh Tiffanny yang limbung karena tidak mampu untuk berdiri tegak. Ia memegangi Tiffanny agar tidak terjatuh. Ia hendak melepaskan pegangan tangannya ketika di rasa perempuan itu sudah mampu berdiri di atas kedua kakinya, namun cengkraman tangan Tiffanny semakin erat mencengkramnya dan tidak membiarkannya pergi begitu saja.

"Kau tahu.. aku sangat menyukainya." Ucap Tiffanny pelan. Jaejoong hanya diam tidak berkomentar ketika mendengar suara pelan Tiffanny. " –kau mendengarku atau tidak?!" bentak Tiffanny kesal sambil mendongakan kepalanya menatap Jaejoong ketika ia hanya diam saja seolah bisu.

"Ya, aku mendengarnya." Jawab Jaejoong pelan.

"Kalau begitu, kau pasti mengerti kalau aku sangat menyukainya." Ucap Tiffanny lagi sambil menyesap rokoknya kemudian menghembuskan asap rokok itu ke wajah Jaejoong. Jaejoong memalingkan wajah sambil menahan nafas ketika asap rokok itu terhirup olehnya.

"Aku mengenalnya lebih dulu, jauh sebelum kau mengenalnya. Jadi, jangan pernah berpikir untuk merebutnya dariku." Ucap Tiffanny lagi sambil menatap tajam Jaejoong.

Jaejoong hanya menghembuskan nafasnya perlahan. Ia sungguh sedang malas untuk membahas ini. Ia sedang berusaha untuk melupakannya, tapi kenapa sekarang Tiffanny harus tiba-tiba muncul dihadapannya dan membahasnya?

"Aku tidak akan merebutnya darimu, dia milikmu." Jawab Jaejoong yang membuat Tiffanny tersenyum menyeringai.

"Kalau begitu, mati dan menghilanglah dari dunia ini." Desis Tiffanny yang membuat Jaejoong membelalakan matanya terkejut. "–sebelum kau menghilang dari dunia ini, Yunho oppa akan terus mencarimu! Dia tidak akan menatapku atau bahkan melirik padaku sebelum kau menghilang dari dunia ini meskipun aku sudah tidur dengannya!" teriak Tiffanny frustasi sambil menancapkan kuku-kukunya semakin dalam ke lengan Jaejoong.

Jaejoong hanya terdiam membeku di tempatnya ketika mendengar teriakan frustasi Tiffanny dan menghiraukan rasa sakit dari kuku-kuku panjang yang menancap di lengannya. Apakah telinganya benar-benar mendengar kalimat itu? Apa pendengarannya sedang berusaha membohonginya? Apa itu hanya ilusinya saja?

"Kau dengar itu?! Aku sudah tidur dengannya!" teriak Tiffanny memperjelas segalanya. Terdengar begitu jelas hingga mampu meremukan jantung yang berdetak begitu liar di dalam rongga dadanya.

"Ya –apa yang kau lakukan?!" pekik Jaejoong ketika menyadari kuku-kuku itu menancap semakin dalam di lengan kanannya, terasa sakit dan perih.

"Aku ingin kau menghilang dari dunia ini! Kau menghancurkan segalanya! Kau merebut Yunho oppa dariku! Aku sangat membencimu!" teriak Tiffanny begitu histeris.

"Ah –! Aku tidak merebutnya darimu! Dia milikmu! Jadi, sekarang lepaskan cengkramanmu! Ya!" ucap Jaejoong berusaha melepaskan diri. Ia bisa saja mendorong tubuh itu dengan kasar, namun ia tidak mungkin melukai seorang perempuan.

"You bitch!" teriak Tiffanny begitu kesal sambil mendorong tubuh Jaejoong hingga membentur dinding toilet. Jaejoong mengerang pelan ketika punggungnya terasa sakit ketika membentur dinding. Tiffanny langsung mendekatinya dan memukul Jaejoong dengan kedua tangannya.

"Kau bohong! Kau jahat! Aku membencimu!" ucap Tiffanny menangis terisak sambil terus memukul bahu dan dada Jaejoong.

Jaejoong mencengkram kedua tangan yang memukul lemah bahu dan dadanya. Ia menatap perempuan yang masih menangis terisak di depannya. Tiffanny benar-benar terlihat mabuk berat. Jaejoong hanya menghembuskan nafasnya lelah. Lelah dengan permainan yang tidak pernah bisa ia selesaikan.

"Aku tidak berbohong. Dia milikmu. Aku tidak akan merebutnya darimu." Ucap Jaejoong pada Tiffanny. Ia hanya menelan ludahnya perlahan. Menelan rasa sakit yang kembali ia rasakan ketika menyadari bahwa Yunho sudah menjadi milik orang lain.

Ia akan melupakannya.

"Sungguh? Kau tidak berbohong padaku? Kau tidak akan merebutnya dariku?" tanya Tiffanny sambil mendongakan kepala menatap wajah Jaejoong dan menatapnya dengan tatapan penuh harap. Kedua matanya terlihat memerah dan basah karena air mata.

"Sekarang kembali lah ke tempat Yunho. Kau datang bersamanya 'kan?" ucap Jaejoong seperti meyakinkan Tiffanny bahwa ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia hanya ingin perempuan itu cepat pergi dari hadapannya sebelum topeng semu yang selama ini di pakainya terlepas dan mengudara. Sebelum dinding pertahannya hancur kembali.

"Hum.. aku datang bersamanya." Jawab Tiffanny sambil melepaskan diri dari Jaejoong. Ia kembali menatap wajah Jaejoong kemudian tersenyum penuh kemenangan. " –Yunho oppa selalu ada di sisiku kemanapun aku pergi. Aku rasa dia benar-benar menyukaiku." Lanjut Tiffanny bergumam pelan.

Tiffanny kemudian berbalik meninggalkan Jaejoong dan berjalan sempoyongan mendekati pintu ketika tiba-tiba saja dua orang laki-laki masuk ke dalam toilet.

"Eh? Apa kita salah masuk toilet?" tanya salah satu dari dua orang itu ketika melihat seorang perempuan di dalam toilet pria.

"Tidak." Jawab yang satunya ketika memeriksa tanda 'men' di depan pintu toilet.

"Hey miss~ apa yang kau lakukan di toilet pria eh~?" tanya laki-laki berambut coklat muda itu sambil mendekati Tiffanny yang berdiri bersandar pada dinding toilet lalu mengangkat dagunya.

"Don't touch me." Desis Tiffanny lemah sambil mendorong tangan laki-laki itu di dagunya. Kepalanya terasa semakin berkunang-kunang seperti akan meledak. Kesadarannya perlahan semakin menghilang seperti akan pingsan.

"Wow~ she is a Goddess!" teriak keduanya ketika melihat wajah cantik Tiffanny.

"Hey, lepaskan. Dia datang bersamaku." Ucap Jaejoong akhirnya sambil berdiri di hadapan Tiffanny untuk melindunginya ketika dua orang laki-laki itu menatap Tiffanny dengan tatapan seperti vampir yang haus akan darah.

"Kau? Hahaha~ kupikir kau teman wanitanya, eh?" ucap laki-laki berambut coklat muda itu sambil menatap Jaejoong dari atas kepala hingga ujung kaki, kemudian kembali menatap wajah cantik Jaejoong. Ia tersenyum menyeringai sambil menjilat bibir dengan lidahnya yang membuat Jaejoong menatapnya dengan tatapan tajam.

"Hey, Jinwoo hyung! Bukankah dia yang waktu itu tiba-tiba datang dan memukul bahumu dengan balok kayu?" ucap laki-laki satunya ketika ia mengenali wajah Jaejoong.

Manik mata hitam Jaejoong bergerak menatap dua orang laki-laki yang berdiri di hadapannya dengan seksama. Mengingat dimana ia pernah bertemu dengan keduanya. Ia membelalakan mata ketika mengingat dimana ia bertemu dengan mereka.

Laki-laki yang di panggil Jinwoo itu mengerutkan keningnya samar sambil memperhatikan wajah Jaejoong. Ia mendekati wajah Jaejoong dan memperhatikannya dengan seksama, membuat Jaejoong memundurkan kepalanya menjauhi wajah Jinwoo.

"Oh shit! Kau benar, DongHoon! Dia yang memukul bahuku dengan balok kayu itu!" ucap Jinwoo ketika ia mengenali sosok Jaejoong. Ia ingat bagaimana Jaejoong memukul bahunya begitu keras dengan balok kayu, "–he?! Kau si 'mainan' Jung Yunho itu 'kan?!" lanjut Jinwoo tersenyum menyeringai sambil menyentuh dan mengangkat dagu Jaejoong. Namun Jaejoong langsung menepisnya.

"Telepon dia sekarang juga untuk bertemu di belakang gedung club." Desis Jinwoo pada Jaejoong. Jaejoong bisa melihat DongHoon yang menelpon seseorang bernama Taecyeon dan menyuruh yang lain untuk datang ke gedung belakang. Mereka akan menjebak dan membalaskan dendam pada Yunho.

"Aku tidak tahu nomornya." Desis Jaejoong menolak.

"Heh? Jangan berbohong padaku. Kau datang bersamanya 'kan? Telepon Jung Yunho sekarang dan suruh dia datang ke belakang gedung sebelum aku mematahkan lenganmu!" desis Jinwoo mengancam Jaejoong.

"Aniya! Yunho oppa datang bersamaku!" teriak Tiffanny dari balik tubuh Jaejoong. Ia menatap Jinwoo dengan tatapan kesal. Jaejoong mengerang pelan ketika Tiffanny tidak bisa membaca situasi.

"Heee? Ah –aku mengingatnya, hyung! Dia Tiffanny, The Princess of Sang High School." Ucap DongHoon mengingatkan Jinwoo ketika mengenali wajah Tiffanny.

"Eh? Princess of Sang High School? Jadi.. dia pacar Jung Yunho?"

"Ya, aku pacarnya!" jawab Tiffanny sambil menyentuh dadanya bangga.

"Eiii~~ kalau begitu kau telepon dan suruh dia datang ke belakang gedung." Ucap Jinwoo sambil menarik Tiffanny yang berdiri di balik tubuh Jaejoong.

"Hey –!" Jaejoong hendak menarik Tiffanny kembali ketika tiba-tiba saja DongHoon menahannya. " –ya, lepaskan!"

"Telepon Jung Yunho sekarang." Perintah Jinwoo pada Tiffanny sambil mengurung tubuh Tiffanny di antara dinding toilet dan juga tubuhnya. Ia menatap Tiffanny dari ujung kepala hingga ujung kaki sambil menjilat bibirnya.

"Kau jangan menelponnya, Tiffanny! Mereka akan menjebaknya!" teriak Jaejoong sambil berusaha melepaskan diri dari cengkaraman DongHoon. " –YA!" ia beringsut semakin kesal ketika DongHoon tidak melepaskannya.

"Siapa kau melarangku menelpon Yunho oppa?!" Tiffanny merasa kesal ketika Jaejoong melarangnya untuk menelpon Yunho. Ia justru langsung mengeluarkan ponselnya dan menelpon Yunho. Seolah ingin menunjukkan pada semua bahwa Yunho adalah miliknya.

"Ya Tiffanny! Apa yang kau lakukan?! Mereka akan menjebaknya!" Jaejoong berteriak frustasi. Ia menendang kaki DongHoon yang menahannya, namun DongHoon justru memukul keras pipi kiri Jaejoong membuat wajah cantik itu terlempar ke samping kanan. Pipinya terasa berdenyut sakit hingga akhirnya ia bisa merasakan darah segar merembes dari luka sobek di pipi bagian dalam yang terasa asam di lidahnya

"Just shut up!" teriak DongHoon mulai kesal.

"Yes~ yes babe~ call him~ dan katakan padanya untuk bertemu di belakang gedung club." ucap Jinwoo tersenyum menyeringai ketika melihat Tiffanny yang menelpon Yunho.

"Yunho oppa! Selamatkan aku! Ada dua orang mesum yang menggangguku! Aku terkurung di toilet pria!" teriak Tiffanny terisak pada Yunho ketika panggilannya tersambung.

"Hey –! Bukan menyuruhnya untuk datang kesini!" teriak Jinwoo kesal sambil menjambak rambut hitam panjang Tiffanny.

"Kyaaaa! Oppa, tolong aku!"

"Jung Yunho! Jangan ke sini! Mereka akan menjebakmu!" teriak Jaejoong berharap teriakannya terdengar oleh Yunho.

"Sudah kubilang diam!" ucap DongHoon sambil menjambak rambut pirang Jaejoong dengan kasar hingga membuat Jaejoong meringis kesakitan. DongHoon langsung mengabari yang lainnya lagi bahwa tempat pembantaian pindah ke toilet pria.

"Kyaaaa! Menyingkirlah dariku, orang aneh!" lengking Tiffanny sambil berusaha melepaskan cengkraman Jinwoo.

Tidak sampai menunggu satu menit, sosok Yunho sudah tiba di dalam toilet pria. Mata coklat hazelnut nya bergerak menatap liar seisi toilet. Nafasnya terdengar naik turun tidak teratur karena berlari ketika ia mendengar suara Jaejoong di ponselnya. Ia mengatupkan rahangnya kuat-kuat ketika melihat Jaejoong yang di jambak begitu kasar oleh DongHoon. Manik matanya kembali bergerak menatap Tiffanny yang tidak ada bedannya dengan Jaejoong.

"Shit! Fuck! Lepaskan mereka!" teriak Yunho sambil memukulkan kepalan tangannya ke dinding toilet. Ia begitu kesal dan marah ketika Jinwoo berhasil menyeretnya lagi ke dalam permainan mereka dan ia semakin kesal ketika ia bertemu dengan Jaejoong kembali setelah sekian lama tidak melihatnya, namun dalam keadaan seperti ini. Ia tidak tahu bagaimana ceritanya Jaejoong bisa terjebak bersama Jinwoo bahkan Tiffanny. Ia tidak bisa memikirkan apa yang terjadi antara Jaejoong dan Tiffanny. Ia terlalu takut untuk membayangkannya.

Jinwoo dan DongHoon langsung mendorong dan melepaskan keduanya. Mereka tersenyum menyeringai melihat Yunho yang mengamuk seperti itu. Tubuh Jaejoong jatuh tersungkur ke atas lantai, sedangkan Tiffanny yang sudah terlepas dari Jinwoo langsung berlari berlindung di balik tubuh jangkung dan tegap Yunho sambil terus menangis.

"Akhirnya~ kita bertemu lagi, Jung Yunho." Ucap Jinwoo tersenyum licik.

"Sudah kubilang kau jangan datang ke sini." Gumam Jaejoong sambil berusaha bangkit berdiri ketika tubuhnya terasa bergetar begitu hebat saat melihat wajah itu lagi. Wajah yang sudah lama tidak ia lihat, wajah yang ia rindukan, wajah yang berusaha ia lupakan.

"Hhah, kau jangan terlalu percaya diri. Aku datang ke sini bukan untukmu." Yunho mendengus pelan. Pikirannya begitu kacau ketika ia tidak tahu dan tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Bagaimana Jinwoo bisa menyeret Jaejoong ke dalam permaian mereka, bagaimana Tiffanny bisa terjebak di sini, dan bagaimana Jaejoong bisa berada di tempat yang sama dengan Tiffanny. Semua pertanyaan-pertanyaan itu membuat semua uratnya menegang.

"Hhah! Maaf kalau aku terlalu percaya diri." Jawab Jaejoong berdecak pelan. Kedua matanya terasa memanas ketika sesuatu yang basah dan hangat kembali berdesak-desakan di kedua sudut matanya. Seolah akan pecah membuncah mengalir di pipinya yang terasa berdenyut sakit ketika menyadari bahwa Yunho datang untuk menolong Tiffanny.. tentu saja.

Rasanya ia ingin pergi meninggalkan tempat itu sekarang juga ketika rasa sakit di dada kembali membelenggu dan melilitnya bagai kawat berduri. Namun kedua kakinya seolah membeku dan terpaku di atas lantai. Mungkin hanya ini kesempatan terakhir yang ia miliki untuk bisa melihatnya. Melihat tubuh tinggi tegapnya, menatap mata coklat hazelnut nya, dan menatap wajah tampannya. Ia ingin menikmatinya untuk yang terakhir kali sebelum ia benar-benar melupakannya.

"Terimakasih Jung karena sudah membuat kami menginap di rumah sakit seminggu lamanya." Desis Jinwoo sambil membunyikan tulang-tulang jarinya. Kesal ketika mengingat bagaimana ia dan yang lainnya berakhir di rumah sakit dalam kondisi yang begitu menyedihkan. Hingga membuat gang Double Dragon di blacklist dalam keanggotaan kkapgae Ssang-Young Pa karena tidak mampu melawan Yunho dan gang nya. Ini seperti semacam kompetisi.

Yunho hanya menyeringai dan berdecak pelan.

"Kalian hanya beruntung karena masih bisa menghirup udara. Kalau saja tidak ada yang menghentikanku untuk membunuh kalian, aku sudah mengirim kalian ke neraka." Desis Yunho sambil menatap tajam Jinwoo. Manik matanya yang coklat bergerak perlahan menatap tubuh Jaejoong yang masih bergetar hebat.

"Menyingkirlah dari sana, Kepala Labu!" teriak Yunho pada Jaejoong.

Jaejoong tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berpijak. Manik matanya yang hitam bergerak menatap wajah dingin Yunho kemudian menatap Jinwoo dan DongHoon yang tersenyum licik. Ia tahu, mereka akan menjebaknya. Ia tidak mungkin meninggalkan Yunho seorang diri meskipun ia mungkin tidak sekuat Yunho, tapi setidaknya ia bisa sedikit membantunya. Ia ingin merasa berguna bagi Yunho, walau hanya sekali saja.

"Kau hanya seorang diri, jangan berpikir kau bisa menang melawan mereka. Mereka akan menjebakmu. Entah berapa orang yang mereka panggil untuk –"

"–bagian mana dari kalimatku yang tidak kau mengerti?! JUST GET THE FUCK OFF FROM HERE!" Yunho berteriak marah memotong ucapan Jaejoong yang ingin membantunya sambil menatap wajah cantik itu dengan tatapan tajam. Berharap Jaejoong segera pergi dari sana sebelum semuanya di bawah kontrol.

Jaejoong terlonjak kaget dan tercekat ketika Yunho berteriak seperti itu padanya. Tatapan mata coklat Yunho terlihat begitu tajam dan dingin. Amarah terpancar jelas dari ekspresi wajahnya. Yunho seperti muak untuk melihatnya.

"Fuck you, Jung Yunho! Fuck you! Just go and die!" teriak Jaejoong begitu kesal dan marah ketika Yunho meneriakinya sambil berlari meninggalkan tempat itu. Ia membentur bahunya pada bahu Yunho ketika melewatinya yang berdiri di depan pintu.

Berharap Yunho kembali memanggil namanya, berharap Yunho mengejarnya, dan berharap ia bisa memperbaiki segalanya.

"Jaejoong hyung!" panggil Changmin ketika tubuhnya tertabrak oleh Jaejoong yang baru keluar dari toilet saat ia akan mencari hyung nya di sana. Ia mengumpat pelan ketika Jaejoong menghiraukan panggilannya. Ia hendak mengejar Jaejoong ketika tiba-tiba saja ia mendengar keributan dari dalam toilet.

Jaejoong hanya terus berlari menghiraukan seseorang yang memanggil namanya ketika ia tahu bukan Yunho yang memanggilnya. Dentuman musik khas club malam kembali terdengar begitu berisik dan bising seolah mampu meledakan gendang telinganya. Ia mulai berbaur dan tenggelam di dalam lautan manusia yang ada di dance floor. Pandangannya mengabur ketika air hangat itu terbendung di kedua sudut matanya kemudian pecah dan mengalir di kedua pipinya. Tenggorokannya kembali tercekat hingga rasanya ia sulit untuk bernafas. Tubuhnya tidak jarang menabrak dan membentur orang-orang yang ada sana. Orang-orang yang di tabrak olehnya mengumpat dan memakinya, namun ia tidak peduli dengan makian itu.

Ia hanya ingin keluar dari tempat yang menyesakkan itu dan menghirup udara malam yang terasa dingin dan menyegarkan.

================= TBC ===============

NB: (please read!)

1: annyeong every bodeeeeeehh? xDDD miss meh? :3 hehehe finally! Chapter 10 kelar jg #fyuh *elap keringet*

2: ternyata di chapter 10 masih angst xD aku kira udh bisa masuk ke fluffy scene, tnyata belum saatnya 8D *troll face* gimana2 ama ceritanya? Makin bikin penasaran ga? Aaaahhhh hopefully part ini bikin kalian semakin terbawa emosi ceritanya :'D

3: Aku mau bahas chapter 9 dulu.. Di akhir cerita sebenernya ga niat maen tebak2an ama kalian xD aku kira kalian ngeh klo yg ngomong di last part itu Jessica, pdhl deskripsinya udh cukup mengarah ke si Jessica kan? Aku jd ngerasa fail ga bsa menyampaikan maksudnya D;8

4: di chapter ini lebih menggambarkan perasaan yang di rasakan Jaejoong sih xD aku cma mau menyampaikan perasaan slowly die nya si jeje yang ga bsa lupain yunho.. ohohohoho *ketawa jahat*

5: oh iya, di review part 9 kmrn aku liat ada review yang mengarah ke arah bashing chara yg ada di sini... Aku harap untuk selanjutnya, jangan ada yg bashing satupun chara di sini yah.. remember, this is just fanfiction! not real thing.. jd please tahan emosi kalian karena aku ga mau ada fanwar disini.. *seriously, fanwar is not sexy anymore in this day*

6: kayaknya aku bakal update seminggu sekali.. jd bersabar sajalah untuk part2 selanjutnya ;)

7: Makasih buat semua reader yg ga bisa aku sebutin satu2 *cipokin satu2 xD* yang udah sabar nungguin, baca, dan review ff ini! X3 aaaaaakkkkk aku seneng bgt kalian semakin antusias ama ceritanyaaaaaaa bikin aku makin makin semangat buat terus lanjutin ini ampe kelar xD ehehehehe

8: happy reading and reviews are lovelyyyyyyyyyyyyyy ^^

9: last, but not least.. thank you so much! #smooch

10: thank you! ^o^/

11: *spoiler**cough*Part Eleven: Kiss*cough**spolier*