.
.
.
Jam baru menunjukkan pukul 15.12 waktu setempat. Namun, Luhan sudah pulang dari sekolahnya. Mood yang kurang begitu baik pasca berdebat dengan ayahnya tadi, tidak memungkinkan ia untuk mengikuti pelajaran sampai habis. Ya, meskipun dalam mood baik pun, gadis itu akan tetap membolos juga.
Luhan berjalan memasuki rumahnya dengan wajah datar. Terlalu malas rasanya untuk sekadar mengucap 'permisi' atau pun yang lainnya. Tidak akan ada yang menyahut juga.
"Nanti buat makan malam, kau mau memasak apa?"
"Emm, bagaimana kalau kita makan di restoran saja?"
"Boleh. Itu ide yang bagus."
"Kau tidak masalah, 'kan?"
"Tentu saja tidak. Sekalian, kita jalan-jalan."
Luhan mendesah saat melihat ayah dan ibu tirinya sedang duduk berdua di sofa ruang keluarga. Mereka bahkan sama sekali tak melihat kedatangannya. Terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Gadis itu tersenyum miris dan kemudian berlalu pergi menuju kamarnya.
Luhan menaruh tasnya asal. Ia lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Entah kenapa ia teringat saat di rooftop tadi. Mengingatnya, ia merasa malu sendiri. Kalau biasanya ia akan menangis di hadapan Kai, namun tadi sangatlah berbeda. Ia menangis di depan Sehun, murid baru di kelasnya yang akhir-akhir ini mulai dekat dengannya. Bahkan, Sehun-lah tadi yang rela absennya tertulis bolos demi mengantarnya pulang.
"Oh Sehun? Yak, kenapa aku jadi memikirkannya? Ishh," desisnya.
*bad*
Hari sudah semakin malam, namun Luhan belum ada niatan untuk beranjak dari atas tempat tidur. Ia masih betah dengan posisi berbaringnya di sana.
Ceklek
Gadis itu menoleh saat mendengar ada yang membuka pintu kamarnya. Dan ia langsung mendengus saat dilihatnya Baekhyun, berjalan menghampirinya dengan wajah angkuh. Sudah menjadi kebiasaan Baekhyun, apabila masuk ke kamar Luhan, gadis itu langsung masuk saja, tanpa permisi atau pun mengetuk pintu terlebih dahulu.
Luhan pun langsung bangkit dari kegiatan tidurannya. "Kenapa kau kemari?" tanyanya pada Baekhyun dingin.
"Appa menyuruhku untuk memanggilmu. Mereka mengajak kita pergi makan malam di restoran," jawab Baekhyun tak kalah dinginnya.
Luhan yang mendengarnya mendesah. Apa dia sedang bermimpi? Bukannya ayahnya tadi marah padanya? Kenapa sekarang jadi bersikap baik padanya?
"Aku tidak tertarik." Tapi sayang, Luhan terlalu malas jika hanya untuk pergi makan malam dengan keluarganya. Apalagi bersama Baekhyun dan ibu tirinya itu. "Aku sedang tidak nafsu untuk makan di luar," lanjutnya. Apalagi kalau itu denganmu.
"Ya sudah." Baekhyun lalu berbalik, dan beranjak pergi dari hadapan Luhan. Namun, baru beberapa langkah, gadis itu berbalik, menghadap ke arah Luhan yang masih berada di posisinya tadi. "Oh ya, aku mau meminta satu hal padamu," ucapnya.
"Mwo?" sahut Luhan.
"Kau ... jauhi Oh Sehun."
"Mwo?!" Luhan terkesiap. Entah apa maksud dari ucapan Baekhyun tersebut, ia tak mengerti. Menjauhi Sehun? Bukankah selama ini Sehun yang selalu mendekatinya?
"Aku menyukainya," lanjut Baekhyun. Dan itu, membuat Luhan langsung membulatkan matanya tak percaya.
"K-kau menyukai Oh Sehun?" Luhan lalu mendesah. Kemudian, gadis itu menyeringai. Jadi selama ini, Baekhyun memperhatikannya. Saudara tirinya tersebut mungkin saja cemburu karena melihatnya yang dekat dengan Sehun.
"Ne! Aku menyukainya. Jadi, menjauhlah darinya."
"Bukankah kau masih menyukai Park Chanyeol? Kenapa kau cepat sekali mengubah perasaanmu?"
"Kenapa? Apa aku salah kalau aku menyukai Oh Sehun?"
"Aniya. Tentu saja tidak. Hanya saja ... sepertinya aku tidak bisa menjauh darinya. Dia yang terus saja mendekatiku. Dan aku, tidak bisa menghindarinya. Dia seperti memiliki daya tarik magnet yang kuat, sehingga aku tidak bisa untuk tidak ikut tertarik ke dekapannya." Luhan sengaja memanas-manasi Baekhyun. Sepertinya kali ini akan jauh lebih menarik dibandingkan dengan foto dia dan Chanyeol beberapa hari yang lalu.
"Luhan-ssi!" Baekhyun mulai meninggikan suaranya. Wajahnya mulai memerah karena menahan amarah yang sebentar lagi siap untuk meledak.
"Waeyo? Apa kau marah?" Luhan berjalan mendekati Baekhyun. Tangannya terlipat di depan dada. Sekali-kali bersikap angkuh di hadapan saudara tirinya itu tak masalah, 'kan?
"Ne! Aku marah, Luhan-ssi!"
"Sebelum kau marah, ah kau sudah marah, ya, ternyata. Aku hanya ingin bilang, kalau Sehun bahkan sudah pernah memelukku. Kau tahu, pelukannya sangat nyaman. Um ... mungkin saja tak lama lagi dia akan menciumku, atau bahkan ... menginginkanku untuk menjadi kekasihnya. Who knows?"
"Xi Luhan-ssi!" Baekhyun maju perlahan. Dan itu membuat Luhan mau tak mau harus berjalan mundur. "Aku, sangat-sangat membencimu." Gadis itu lalu mengulurkan kedua tangannya untuk mencoba mencekik leher Luhan.
"Aku membencimu, Luhan-ssi! Kenapa kau selalu membuat hidupku tak tenang?!"
Luhan dengan sekuat tenaga mencoba melepaskan tangan Baekhyun dari lehernya. Ia tidak mau mati konyol di tangan Baekhyun. Ya, meskipun selama ini ia sangat ingin cepat-cepat mati.
"Kau tahu, selama ini aku selalu menahannya. Kenapa selalu kau, hah? Kenapa bukan aku?!"
Luhan merasakan napasnya yang mulai tercekat. Ia tahu kalau Baekhyun memang lebih kuat darinya. Namun, kali ini ia tidak boleh lengah sedikit pun. Ke mana ayah dan ibu tirinya? Kenapa mereka tidak datang kemari untuk melerai kedua anaknya itu? Mungkin mereka tidak mendengarnya.
"Harusnya kau yang iri padaku! Bukan malah aku yang iri padamu! Bukankah kau lebih buruk dariku, hah?!"
"Ya! Aku memang lebih buruk darimu!" Akhirnya, Luhan berhasil melepaskan tangan Baekhyun dari lehernya.
Bugh!
Dan tak lupa pula membalas perbuatan yang dilakukan oleh gadis di hadapannya tersebut dengan sebuah tinjuan yang mendarat tepat di pipi sebelah kiri Baekhyun.
"Akh!" Baekhyun merintih. Tinjuan Luhan ternyata cukup kuat untuk sekadar membuat ujung bibirnya berdarah.
Luhan menyeringai. Ada perasaan bangga tersendiri saat dia berhasil lepas dari cekikan tangan Baekhyun dan juga berhasil meninju pipi saudara tirinya tersebut. "Bagaimana, hah? Apa itu sakit?"
"Neo ..." Mata Baekhyun mulai berkaca-kaca. Sedari tadi dia terus memegangi permukaan pipinya yang masih terasa nyut-nyutan. Dan mungkin saja besok akan kelihatan bengkak.
"Kenapa? Kau mau lagi?" Luhan memegangi tangannya yang tadi dia gunakan untuk meninju Baekhyun. Lalu, gadis itu mendengus. "Padahal, kekuatanku tadi belum sepenuhnya kukeluarkan. Apa kau mau lagi? Mumpung aku masih dalam mood yang buruk. Mood buruk sangat serasi dengan tingkah laku yang buruk, 'kan?"
Luhan kemudian berjalan mendekati Baekhyun. Malam ini, entah kenapa ia sangat ingin melampiaskan segala amarahnya pada Baekhyun. Tanpa memikirkan terlebih dahulu apa yang akan terjadi setelahnya.
Baekhyun tetap pada posisinya dengan air mata yang sudah mengalir di permukaan pipinya. Berat rasanya untuk sekadar beranjak pergi dari ruangan tersebut. Kakinya seperti ada yang menahannya. Luhan sudah bersiap untuk meninju wajah Baekhyun. Gadis bersurai abu-abu itu mulai mengangkat tangannya. Namun ...
"Xi Luhan-ssi!" Tuan Xi datang bersama dengan istrinya ke kamar itu. Luhan dengan berat hati menurunkan tangannya. "Apa yang kau lakukan, hah?!"
Luhan bergeming, sedangkan Baekhyun masih tetap memegangi pipinya sambil terisak. Luhan menghela napas berat. Tak lama lagi, ia pasti akan dimarahi lagi oleh ayahnya.
"Baekhyun-ah, kau tak apa-apa?" tanya Choi Shin Young dengan ekspresi wajah khawatirnya melihat Baekhyun yang masih terisak. "Astaga! Pipimu!"
"Eomma ... Luhan hiks meninju wajahku," ucap Baekhyun.
"Apa?!" Shin Young terkesiap. Wanita paruh baya itu kemudian beralih menatap Luhan sinis.
Luhan yang merasa ditatap seperti itu langsung memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain, tepatnya ke arah jendela.
"Shin Young-ah, bisa kau bawa Baekhyun keluar dari sini? Aku ingin berbicara empat mata dengan Luhan," perintah Tuan Xi pada istrinya. Shin Young menurut. Ia membawa Baekhyun pergi dari ruangan itu.
Kini, tinggallah Luhan hanya berdua saja dengan ayahnya. Mata teduh pria paruh baya itu kini berubah tajam. Hanya Luhan lah yang mampu membuatnya seperti itu.
Plak!
Dan tak membutuhkan kata-kata yang panjang untuk diucapkan, Tuan Xi langsung saja menampar permukaan pipi Luhan. "Tak bisakah kau membuat appa tersenyum sekali saja, hah?! Kenapa kau selalu saja berbuat ulah?"
Luhan memegangi pipinya sembari tersenyum miris. Dalam satu hari ini, sudah dua kali ia kena tampar dari ayahnya. Padahal, tidak semuanya adalah kesalahannya.
"Kenapa kau hanya diam saja, Luhan-ah?"
"Kenapa? Apa dengan aku berbicara Appa akan berada di pihakku? Tidak, 'kan! Apa selalu saja menyalahkanku, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa ini sosok appa-ku yang dulu?!"
"Luhan-ah!" bentak Tuan Xi.
Namun, hal itu tidak membuat Luhan diam saja. "Benar, 'kan?" Gadis itu mulai terisak.
"Luhan-ah, Appa–"
"Kenapa? Itu benar, 'kan? Selama ini, aku selalu merasa kesepian. Apa Appa tahu itu? Tidak, 'kan! Selama ini Appa selalu sibuk dengan pekerjaan Appa, sampai-sampai melupakan kewajiban Appa sebagai seorang ayah. Bahkan, saat eomma meninggal, apa Appa ada di sisinya? Tidak, 'kan! Appa lebih mementingkan pekerjaan daripada keluarga."
Tuan Xi terdiam. Merasa bersalah. Semua yang diucapkan oleh Luhan adalah benar adanya. Selama ini, ia hanya mementingkan pekerjaan.
"Aku bahkan bingung, kenapa Appa bisa memperbolehkan Baekhyun untuk tinggal di rumah ini. Padahal, jelas-jelas dia hanyalah anak dari mantan istri Appa. Apa jangan-jangan, Baekhyun adalah anak kandung Appa? Katakan, Appa?!"
Tuan Xi masih terdiam.
"Kenapa Appa hanya diam saja, hah?! Apa yang aku katakan itu benar? Jawab, Appa!" teriak Luhan.
"Ne. Itu benar, Luhan-ah. Baekhyun adalah anak kandung Appa." Akhirnya, Tuan Xi bersuara.
"Mwo?" Luhan tertegun. "B-baekhyun anak kandung Appa? J-jadi ... itu benar?" Ia lalu mendesah.
"Maafkan Appa, Luhan-ah. Appa salah."
"J-jadi, Appa dulu berselingkuh dari eomma?" Luhan tertawa miris. "Appa jahat. APPA JAHAT!"
Tuan Xi berlutut di hadapan Luhan. "Maafkan Appa, Luhan-ah. Appa sungguh minta maaf. Appa menyesal," sesalnya.
"Kenapa baru sekarang Appa meminta maaf?! Kenapa tidak dari dulu sebelum eomma meninggal?!"
"Appa–"
"Aku benci Appa," potong Luhan, lalu melangkah pergi dari sana. Terlalu sakit rasanya mengetahui fakta bahwa ternyata saudara tirinya itu adalah anak kandung ayahnya sendiri. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika tahu bahwa ayahnya pernah berselingkuh dari ibunya. Siapa pun pasti akan sakit hati jika mengalami hal itu.
*bad*
Luhan menatap air sungai Han yang tenang dalam diam. Air mata masih mengalir di permukaan pipinya. Gemerlap cahaya yang berasal dari gedung pencakar langit pun juga ikut menemani keterdiamannya di sini. Ia sendiri.
Terkadang, alasan yang masuk akal pun tak luput dari kebohongan.
"Apa eomma dulu tahu tentang kelakuan appa? Kalau iya, eomma adalah wanita paling kuat di dunia ini," ucap Luhan lirih. "Eomma ... appa jahat. Luhan benci appa."
Luhan kemudian menghela napas berat. Sekarang, tak ada gunanya lagi marah-marah sama ayahnya. Semuanya sudah terlanjur terjadi, walaupun telah berlalu sejak puluhan tahun yang lalu. Namun, rasa sakit itu mungkin tak akan bisa sembuh, bagaimana pun Luhan mengobatinya.
Luhan memegangi dada kirinya. Ada rasa sakit di sana, walaupun tidak sesakit biasanya.
Pluk
Sebotol minuman kaleng tiba-tiba saja mendarat di pangkuan Luhan. Sontak saja gadis itu terkejut dan langsung mendongak, siapa kira-kira pelaku utamanya.
"Kau menangis lagi?" ujar sang pelaku, lalu mendudukkan diri di samping Luhan.
Luhan mendengus saat melihat sang pelaku tersebut yang ternyata adalah seorang pemuda yang dikenalnya. Ia lantas langsung menghapus sisa-sisa air mata di pipinya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya kemudian.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh, kalau aku berada di sini?"
Luhan menggeleng. "Aniya, bukan seperti itu. Hanya saja ...," gadis itu menggantung kalimatnya.
"Ini tempat umum, Luhan-ssi. Siapa pun berhak datang ke sini. Selama kita tidak menimbulkan masalah," ujar pemuda itu. Lalu, ia menatap Luhan sambil tersenyum. "Bukankah seperti itu, Luhan-ssi?"
"Ya, kau benar. Siapa pun berhak datang ke tempat ini. Termasuk orang yang buruk sepertiku," ucap Luhan menyetujui. Gadis itu kemudian menaruh minuman tadi ke sebelahnya.
Pemuda itu menghela napas panjang. Lalu, ia berkata, "Kau terus saja mengatakan bahwa kau itu orang yang buruk. Seakan-akan, kata buruk itu sudah menjadi bagian dari hidupmu. Tidak adakah kata lain selain buruk yang bisa menggambarkan dirimu?"
"Entah."
"Bagaimana kalau cantik saja? Bukankah itu terdengar jauh lebih baik?"
Luhan yang mendengarnya berdecak. "Oh Sehun-ssi! Kau tahu, itu terlalu mainstream. Dan juga ... semua wanita ingin disebut cantik."
"Kau juga, 'kan?"
"Tidak. Apa untungnya dipanggil cantik kalau tingkah laku saja masih buruk."
Pemuda yang ternyata adalah Sehun itu berdeham. "Ya, kau benar."
"Kau tahu, apa yang paling menyakitkan di dunia ini?" Luhan bertanya kepada Sehun.
"Gagal ... menikah," jawab Sehun. Luhan yang mendengarnya tertawa miris. "Kenapa? Aku benar, 'kan?" tanya Sehun kemudian.
"Ya. Pendapat setiap orang berbeda-beda. Itu pendapatmu," jawab Luhan.
"Kalau pendapatmu bagaimana?"
"Yang paling menyakitkan di dunia ini ... adalah pengkhianatan."
"Apa?!" Sehun tak mengerti dengan maksud jawaban Luhan itu. Pengkhianatan? Siapa yang berkhianat?
"Itu adalah hal yang paling menyakitkan."
"Kalau boleh tahu, siapa yang berkhianat?" tanya Sehun ingin tahu.
"Apa itu penting buatmu?" tanya Luhan balik.
Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya ... tidak, sih. Tapi, setidaknya rasa penasaranku bisa berkurang."
"Kau tidak perlu tahu. Tidak penting. Dan itu sudah berlalu." Ya, tidak penting. Namun, rasa sakitnya sulit untuk sembuh.
"Baiklah, kalau itu maumu. Aku tidak akan memaksa." Sehun lalu merogoh ponsel di saku celananya, sekadar untuk melihat jam yang tertera di sana. "Sudah malam. Kau tak ingin pulang? Mau kuantar?" tawar Sehun.
Luhan menggeleng. "Untuk apa pulang. Tidak ada gunanya."
"Berarti, kau tidak ingin pulang? Kau mau tidur di sini?"
"Tidak." Luhan lalu bangkit dari duduknya. "Bisa kau antar aku ke rumahnya Kai?"
"Ya?"
"Aku akan menginap di sana. Kalau kau tidak mau, tolong pinjamkan aku uangmu untuk naik bus."
Sehun ikut berdiri. "Jadi, kau akan menginap di rumahnya Kai?"
"Ne."
"Tidak boleh!"
"Kenapa?"
"Kau tahu 'kan, Kai itu seperti apa. Aku khawatir kalau dia akan berbuat macam-macam padamu."
Luhan mendesah. "Aku sudah mengenal Kai cukup lama. Dan kau tahu Sehun-ssi, Kai tidak tinggal sendiri. Tapi, dia tinggal bersama dengan appa dan eomma-nya."
"Benarkah? Maaf, aku baru tahu."
"Makanya, sebelum berbicara, berpikirlah terlebih dahulu."
"Iya, iya. Maaf," sesal Sehun.
Luhan kemudian melangkah pergi dari sana, diikuti oleh Sehun di belakangnya.
*bad*
Luhan dan Sehun kini berada di depan pintu gerbang rumah Kai. Di dalam sana tampak sepi. Luhan kemudian memencet bel yang ada di sisi kolom gerbang tersebut. Namun, tak kunjung ada yang membukakannya. Gadis itu pun mencoba memencetnya sekali lagi, namun hasilnya tetap nihil.
"Sepertinya di dalam sana tidak ada orang," ujar Sehun yang sedari tadi hanya memperhatikan Luhan memencet bel.
Luhan menghela napas pendek. Bingung. Kalau Kai tidak ada, lantas dia akan menginap di mana? Sauna? Oh, dia tidak suka tempat seperti itu. Hotel? Ingat, dia tidak membawa uang sepeser pun. Gadis itu kemudian menatap ke arah Sehun. "Sehun-ssi," panggilnya.
"Ya?"
"Bisa kau hubungi Kai? Aku ingin tahu, di mana dia sekarang."
"Ne." Sehun menurut. Ia lalu merogoh ponselnya yang ada di saku celana, dan menghubungi nomor ponsel Kai.
"Halo!" sahut Kai dari seberang telepon.
"Yak, Kai-ya! Kau di mana sekarang?" tanya Sehun."Ah, aku di Busan sekarang. Mengunjungi kakek dan nenekku. Waeyo?"
"Ng ... anu." Sehun lalu menatap Luhan, kemudian ia memberikan ponselnya kepada gadis itu. Namun, Luhan menolaknya sambil menggelengkan kepala. "Aniya. Tidak kenapa-napa. Aku hanya ingin bertanya saja," ucap Sehun kemudian."Oh."
"Ya sudah kalau begitu. Titip salam buat harabeoji dan halmeoni di sana."
"Ne. Annyeong!"
Sehun lalu mengakhiri panggilannya. Pemuda itu kemudian menatap Luhan yang kelihatan sedang gelisah. "Kau ... tidak apa-apa, Luhan-ssi?" tanyanya.
"Ah, aniya," jawab Luhan sedikit terkejut.
"Ng ... lalu, kau mau tidur di mana?" tanya Sehun.
"Entahlah ... aku tidak tahu. Yang jelas, aku sedang tidak ingin pulang ke rumah," jawab Luhan sendu. Tapi, bukan Luhan namanya jika tidak memiliki ide di saat keadaan seperti ini. "Sehun-ssi, boleh aku pinjam uangmu? Aku akan menginap di hotel saja."
Sehun mengernyit. Hotel? Kenapa harus hotel? Bukannya Sehun tak membawa uang dan tak ingin meminjamkan uangnya, dia hanya heran saja, kenapa Luhan harus menginap di hotel saat masih ada dirinya?
"Kau tidak keberatan, 'kan?" tanya Luhan.
Sehun tidak langsung menjawab. Pemuda itu malah menarik tangan Luhan dan mengajaknya memasuki mobil.
"Kita mau ke mana?" tanya Luhan begitu mobil mulai melaju meninggalkan jalanan menuju rumah Kai. "Apa ke hotel?"
Sehun tersenyum. Lalu, ia berkata, "Ya, tentu saja."
Luhan tersenyum lega. Akhirnya, dia tidak bingung lagi akan menginap di mana.
*bad*
Luhan mengernyitkan dahinya bingung saat ia dan Sehun sudah turun dari mobil. Ia bingung. Di hadapannya tampak berdiri sebuah rumah– ah, lebih tepatnya sebuah mansion mewah berlantai tiga. Gadis itu kemudian menatap ke arah Sehun, menuntut sebuah jawaban. Apakah betul ini adalah hotel?
"Waeyo?" tanya Sehun.
"Ini ... di mana?" tanya Luhan balik.
"Ah ... ini. Oke, selamat datang di rumah keluarga Oh."
"Mwo?!"
.
.
.
Tbc ...
Yuhuuuu! I'm coming!
Akhirnya bisa update lagi.
Bagaimana chapter kali ini? Agak panjangan, 'kan, daripada chapter-chapter yang sebelumnya? #iyainaja.
Oh, ya. Beberapa hari yang lalu, aku membaca review-an ff ini. Ada yang review katanya nyesal baca ff ini.
Duh, plis ya. Aku nulis ff ini hanya sekadar hobi saja. Dan juga, aku nulis ff ini buat yang ingin membacanya saja. Ya kalau nggak suka, ya jangan dibaca toh. Gitu aja kok repot.
Dan juga, kalau ada typo atau ejaan yang salah, mohon maaf yg sebesar-besarnya.
Oke, udahan aja bacotannya.
Silakan review! Terima kasih.
