.E.

N

I

G

M

A

.

Act II

THE WEB INSIDE THE CASTLE

.

.

He plunges into the dark water

Down, down into the chasm

And the castle of deceit and hatred

Goes along with him

.

.

.

Disclaimer: Naruto belongs to Kishimoto, not mine.

Genre: Fantasy/Romance/Horror

Warning: OOC, OC, AU, strange words, and painfully (may be) dramatic, the Bahasa Indonesia-English, Japanese mixture usage (my bad), and many more.

.

.

.

Pada suatu saat ada seorang puteri yang tersesat di hutan dan menemukan sebuah kastil dan dia—

Tunggu, kalau dia sudah menemukan kastil itu berarti dia tidak tersesat lagi.

Ssst…dengarkan dulu, tapi sayangnya di dalam kastil itu tidak ada pesta dan ruang dansa atau—

Ibu tiri yang jahat yang—

Kubilang dengarkan dulu, di dalamnya ada pangeran…pangeran yang sangat jahat

Apakah dia jahat pada sang puteri?

Ya

Aih, kenapa?

Karena sang puteri mencoba mencuri takhtanya

Kalau begitu sang puteri yang jahat, pangeran yang baik

Begitukah, tapi sebelumnya sang pangeran juga mencuri dari pangeran yang lain

Kalau begitu mereka semua jahat, dongengmu jelek, tidak ada dongeng yang seperti itu

.

.

.

Chapter 10

The Ghost of Mind

by Primrose Papyrum

.

Aku menggeser-geser posisi tubuhku dengan tidak nyaman. Semua orang sudah berdiri membentuk sebuah lingkaran besar di tengah ruang duduk. Cahaya lilin yang tidak seberapa terangnya membuat bayangan gelap setiap orang bergerak-gerak di permukaan dinding ruangan seperti orang-orang berkerudung hitam yang berdesakan. Aku memperhatikan orang-orang di sekelilingku. Di sebelah kananku berdiri gadis berkacamata dan berambut merah—aku belum tahu namanya dan kelihatannya dia sama sekali tidak tertarik untuk berkenalan denganku. Setelah memandangiku dengan tajam dari kepala sampai ke kaki, gadis itu mendengus dan memalingkan muka. Sekarang giliranku untuk memandangnya dari samping. Tubuhnya tinggi semampai. Sekilas, penampilannya kelihatan berani dan orang mungkin akan mendapatkan kesan yang salah tetapi jika kau melihat lebih teliti; di balik celana jeans pendeknya yang setengah paha, sepatu converse merah yang menghiasi kaki jenjangnya, kaus hitam pendek yang dibalut jaket marun yang hampir memperlihatkan perutnya; ada sosok yang kuat dan berani. Cukup berpengalaman menurutku. Matanya tajam dan awas; sedikit banyak ia menguarkan aura seorang wanita dewasa.

Citra ini agak kabur ketika ia bertengkar dengan anak laki-laki di sebelahnya, siapa namanya? Ah, Suigetsu. Aku tahu namanya karena gadis itu berteriak meleking sambil berusaha memukul Suigetsu. Suigetsu adalah tipe yang tidak serius, sarkatis dan cukup suka mengganggu orang lain. Namun, di balik sikapnya yang kurang ajar itu, dia cukup baik hati.

Kesoktahuanku dalam menilai watak orang lain benar-benar kelewatan sekarang.

Aku melanjutkan pandanganku dan tiba pada sosok Juugo, dia masih diam saja sejak tadi. Hm, dia tidak berubah dari kesan yang kudapatkan ketika pertama kali bertemu dengannya. Oke, kali ini aku tahu dia bisa berubah menjadi pembunuh yang suka menyobek-nyobek orang. Karakteristik yang membuatku tidak begitu suka dekat-dekat dengannya.

Kemudian Neji. Dia memenuhi kriteria tokoh tampan, dingin, cerdas, sekaligus hangat dan sangat peduli pada teman-temannya. Berbeda dengan Sasuke yang angkuh dan arogan, Neji termasuk tipe orang yang sopan dengan caranya yang dingin. Dia tipe seorang pemimpin, bukan seperti seorang pemimpin yang diktator atau sejenisnya, karena dia pasti akan mengorbankan diri untuk teman-temannya.

Lalu Ino. Dia sangat cantik dengan tubuh seorang super model yang berlekuk-lekuk. Dengan rok cokelat, sepatu boots hitam dan blus tosca, dia kelihatan seperti Barbie yang karismatik. Aku harus merasa iri juga karena tidak hanya penampilannya saja yang luar biasa tapi dia juga cerdas dan berbakat. Aku sudah melihat begitu cepat ia menyembuhkan luka Juugo dan lukaku. Merasakan pandanganku padanya, ia balik memandangku dan tersenyum. Aku menjawab dengan tersenyum juga.

Lalu Naruto. Aku selalu bisa merasakan kehangatan terpancar darinya, terutama senyumnya. Sikapnya ceria terkadang konyol dan menurutku tidak akan ada orang di dunia ini yang bisa membencinya. Mata birunya begitu hangat dan ramah. Kemauan keras dan mimpi terpancar dari mata itu. Menurutku, jika dia masuk dalam sebuah cerita, ia akan menjadi tokoh utama yang menyokong teman-temannya. Membawa harapan bagi orang di sekelilingnya.

Ah, pikiran sentimentalku keluar lagi.

Setelah itu Kakashi-sensei

"Aaah, sudah selesai juga, ayo cepat, kau lambat, Teme."

Suara Naruto menghentikan alur pikiranku. Naruto dan Sasuke sudah selesai membuat lambang besar yang rumit berbentuk bulat dengan darah mereka. Mereka melukai ujung-ujung jari mereka untuk membuat lambang itu. Aku harus meringis ngeri. Kalau saja aku belum melihat kekuatan mereka, aku pasti berpikir ini adalah sebuah perkumpulan sekte atau kultus terlarang dengan ritual-ritualnya. Naruto kembali berdiri di sebelah Kakashi-sensei yang berdiri di sebelahku. Sasuke berjalan kembali ke tempatnya; di antara aku dan gadis berambut merah tadi.

Kemudian Kakashi-sensei membuat gerakan-gerakan tangan yang rumit yang tidak bisa diikuti oleh mataku. Alur darah di lantai mendesis dan dengan hentakan keras seakan lantai di bawah kami melesak; sebuah lubang bersinar muncul di lantai dengan angin menderu-deru di sekitarnya. Cairan kebiruan bening yang menyilaukan menutupi lubang itu. Aku harus menyipitkan mataku untuk melihat lubang itu karena angin yang berhembus begitu kuat seakan-akan bisa menerbangkanku seperti selembar kertas.

"Semuanya! Berpegangan tangan! Sekarang kita harus melompat bersama-sama, kuhitung sampai tiga; satu…dua…tiga!" teriakan Kakashi-sensei terdengar berusaha mengalahkan deruan angin.

Aku tidak bisa melihat wajah masing-masing orang karena bahkan untuk membuka mata pun sulit. Yang kurasakan setelahnya adalah kedua tanganku ditarik ke depan oleh Sasuke dan Kakashi-sensei dengan keras; aku tersungkur jatuh ke dalam lubang itu.

Rasanya seperti tenggelam di dalam air tapi aku tidak kehabisan napas. Angin menderu-deru menampar wajah dan rambutku; dan di dalam air tidak mungkin ada angin yang terasa normal seperti ini. Kemudian aku merasakan kami diputar-putar seperti berada di dalam tornado. Mungkin seperti itu, karena aku sendiri belum pernah berada di dalam tornado.

Diputar. Terus diputar-putar. Aku bahkan tidak bisa merasakan pening atau mual lagi.

Suara bergemuruh memenuhi telingaku. Tiba-tiba tubuhku seperti ditarik ke belakang seakan ada magnet yang menarikku. Aku merasa seperti paku yang berusaha dipisahkan dari paku-paku yang lain. Tarikan itu semakin kuat dan semakin kuat.

Apakah ini normal, apakah ini bagian dari proses gila berpindah dimensi?! Aku ingin berteriak seperti itu pada yang lain tapi yang keluar dari mulutku hanya engahan napasku yang tersedak-sedak.

Dan kutemukan jawabannya ketika genggaman tangan Kakashi-sensei dan Sasuke berubah begitu kuat sampai rasanya menyakitkan. Kuku-kuku mereka seakan terbenam di kulitku. Aku tidak sempat berteriak kesakitan karena Ino sudah berteriak menggantikan teriakanku.

"Apa yang terjadi?! Aku merasa ditarik ke—" suaranya terhenti dengan tiba-tiba membuatku berusaha sekuat tenaga membuka mata. Aku melihat tubuh Ino terlempar ke belakang, bayangan ngeri dan ketakutan terpancar dari wajahnya ketika tubuhnya menghilang di balik cairan kebiruan itu. Kedua tangannya masih berusaha menggapai-gapai yang lain.

Belum sempat ada yang merespon, tarikan luar biasa kuat menyentakkan tubuhku ke belakang, aku hanya bisa mengangakan mulutku ketika kedua tanganku terpisah dari tangan Kakashi-sensei dan Sasuke.

Hal terakhir yang kulihat adalah tubuh Suigetsu yang lenyap di cairan kebiruan di belakangnya dan mata Sasuke yang melebar—wajahnya gelap dan keras seakan ia marah dan ketakutan luar biasa pada saat yang bersamaan… dan juga tangan pucatnya yang berusaha meraih tanganku.

Kemudian gelap.

.

Oh, Mother, I want a warm soup and a kiss on the forehead every night.

Oh, Father, I want to touch the sky when you lift me through your shoulder.

See that child; he steals from neighbor and destroys things

Because in that way, everyone will pay attention to him

In that way, everyone knows that he exists.

.

Naruto terangguk-angguk lesu. Mata birunya memandangi kedua kaki pendeknya yang telanjang; kotor dan tergores-gores karena ia baru saja kabur dari tukang kue yang mengejarnya. Ia baru saja mencuri kue cukup banyak. Tapi ia masih lapar, suara perutnya terdengar keras. Kejadian tadi siang membuat mata birunya tergenang air mata. Tapi ia segera mengusapnya; tak boleh menunjukkan pada orang lain bahwa ia lemah!

"Dasar berandalan cilik tak tahu diuntung, kurang ajar! Kau memang hanya membawa petaka di desa ini. Kau menyentuh kue-kueku dengan tanganmu yang kotor. Ini makan sisanya!"

Paman penjual kue itu melemparkan sisa kue di dalam kotak yang masih cukup banyak ke tubuh Naruto yang masih berlari. Naruto masih ingat bagaimana tubuhnya membeku melihat kue-kue berbentuk binatang lucu itu berserakan di jalan. Orang-orang di sekitar jalan itu berbisik-bisik satu sama lain—memandangi Naruto dengan wajah ngeri dan jijik.

Rasa mual di perut dan sakit di dadanya masih tersisa sampai sekarang. Ia menguatkan cenkeraman tangannya pada ayunan dan mengayunkan tubuhnya setinggi mungkin.

Angin sepoi-sepoi menerpa rambut dan wajahnya.

"Kelihatannya menyenangkan," sebuah suara kecil dan feminine di depannya membuat Naruto menghentikan ayunannya.

"Siapa kau?!" sahut Naruto kasar.

"Namaku Rika, aku selalu melihatmu bermain ayunan sendirian. Apakah ayunan ini milikmu?" sahut gadis kecil di depannya dengan mata terbuka lebar. Ia mengenakan rok biru dan memegang kotak makan.

"Ya, ini ayunanku, jadi pergi sana!" Naruto menjawab acuh tak acuh dengan bibir dikerucutkan.

Mata gadis kecil di depannya merebak basah, dengan langkah gontai ia berbalik pergi.

"Tunggu!" tiba-tiba suara Naruto menghentikannya. Gadis itu berbalik dan melihat anak laki-laki di depannya menggaruk-garuk rambut kuningnya dengan kikuk. Matanya tidak berani melihat gadis di depannya. "Kau boleh pakai, tapi sebentar saja, aku sedang baik hati hari ini" kata Naruto, kali ini ia turun dari ayunan.

Senyuman lebar merekah dan tawa kecil terdengar dari gadis itu. "Kauuu baiik sekali, terimakasih."

Naruto nyengir lebar sekarang. "Jangan lama-lama."

Gadis itu meletakkan kotak makannya di rumput dan menaiki ayunan itu. Dengan tertawa-tawa ia mengayunkan tubuhnya ke depan dan ke belakang. "Namamu siapa?" tanya gadis itu.

"Naruto, Naruto Uzumaki." jawab Naruto nyengir lagi.

"Baiklah, Naruto, kau tahu, aku selalu ingin ayunan yang diletakkan di pohon…terutama pohon yang tinggiii dan banyaaak angiiin, tapi kakak dan orangtuaku tidak pernah mengizinkanku."

"Kau bisa pakai ayunan ini setiap sore jika kau mau—setelah aku selesai memakainya," jawab Naruto.

"Oooh, benarkah, terimakasih, pasti menyenangkan jika—"

Perkataan gadis itu terputus ketika perut Naruto bergemuruh karena lapar. Suara perut itu ditanggapi tawa cekikikan oleh gadis itu. "Kau beruntung, aku belum memakan makan siangku, biar kubagi denganmu, aku bawa banyaaak."

Gadis itu melompat turun dari ayunan dan menghampiri kotak makan siangnya. Membuka tutupnya dan mengambil sebuah onigiri; mengulurkannya pada Naruto. Naruto menerimanya dengan tidak percaya.

"Terimakasih!" teriak Naruto penuh semangat dan segera melahap onigiri itu dalam tiga kali gigitan. Mengunyah makanan di mulutnya dengan kecepatan luar biasa. Angin semilir menggerakkan daun-daun dan batang pohon di atas mereka. Langit masih kebiruan walaupun matahari mulai turun ke arah barat.

"Ahahahaha, kau tidak usah terburu-buru, ini aku kasih lagi kalau kau masih lapar, onigiri buatan ibuku memang—"

"RIKAAA!"

Kedua anak kecil itu tersentak ketika mereka melihat segerombolan anak laki-laki yang lebih dewasa dua tau tiga tahun dari mereka menghampiri dengan ekspresi marah. "Apa yang kau lakukan dengan makhluk ini, hah! Apa kau sudah gila!" seorang anak laki-laki tinggi menyambar lengan gadis itu dan menyeretnya berdiri. Ia melempar pandangan marah dan jijik pada Naruto. "Sudah kubilang jangan dekat-dekat dengannya!"

"Tapi…tapi kak, aku hanya…Naruto tidak jahat," gadis kecil itu menjawab terbata-bata dengan air mata merebak di kelopak matanya.

"Jangan membantah!" teriak anak laki-laki itu; mengguncang tubuh adiknya, membuat kotak makan itu terlepas dari tangannya, jatuh terbalik beserta isinya di rumput.

"Hei! Apa yang kau lakukan!" teriak Naruto—bangkit berdiri.

Seakan mengacuhkan keberadaan Naruto, anak laki-laki itu melanjutkan kemarahannya. "Dan apa ini, kenapa makhluk ini memakan makan siangmu, hah!"

"Tapi kakak, aku…"

"Aku kulaporkan kau pada ayah dan ibu, biar tahu rasa kau. Kau memberinya makan kan?"

Gadis itu gemetar ketakutan.

"Mulai sekarang, kau tidak akan punya teman—baru tahu rasa kalau—"

"Tidak, Kak."

"Ha?"

"Aku—aku tidak memberinya makan, dia memaksaku tadi, kalau tidak kuberi dia bilang akan memukulku."

.

And then they all are just so damn same.

.

"Naruto!"

"to—Naruto, bangunlah!"

Mata biru itu terbuka memandangi langit biru di atasnya—sama dengan langit di mimpinya. Apakah mereka pingsan seharian? Ino membantunya bangkit berdiri. Dia melihat ke sekelilingnya; ada Neji, Kakashi-sensei, Karin, Suigetsu, dan Juugo. Tangan mereka semua terikat ke belakang oleh sebuah tali terbuat dari aliran ficels. Wajah mereka semua suram dan tegang. Beberapa pasang kudang bergerombol dengan penungganggnya yang berkerudung hitam dan bermata semerah darah.

Pasukan kastil Uchiha.

Dan di mana Sasuke dan Sakura?

.

.

.

Udara dingin menggigit tulang pipiku. Aku merasakan angin itu merasuk ke tulang-tulangku. Aku berusaha membuka mata. Gelap. Tidak sepenuhnya gelap karena aku bisa melihat rumput berbayang di depan mukaku dan tumbuhan akar-akaran yang menusuk-nusuk mukaku.

Aku bangkit dan duduk memandang ke sekeliling. Aku melihat sebuah tanah datar penuh genangan air, rumput, dan semak-semak— aku berada di pinggir sebuah rawa. Langit cerah dengan bulan dan bintang yang membantuku untuk melihat ke sekeliling, hanya sesekali ada awan hitam tipis yang bergerombol mendekat. Angin bertiup dan mendesis di antara pohon-pohon di belakangku.

Oke, aku berhenti sejenak dan mengawasi pemandangan di depanku.

Sial, ini pasti bercanda!

Aku bangkit berdiri dengan panik ketika hutan lebat dengan pohon-pohon tuanya berkeriut-keriut di depanku. Baunya yang segar dan tua menyusup di hidungku. Lumut dan pakis sudah menempeli akar dan batangnya yang kelihatan besar dan kokoh. Suara-suara bersiul berat, gesekan-gesekan, dan gemerisik berdansa bersama liukan dahan-dahan pohon yang terkena angin. Itu pasti binatang—pasti sejenis burung atau tupai, pasti hanya binatang, pasti hanya binatang—yang biasa!

Sial, kutebak pasti ini hutan angker! Oke aku panik sekarang. Bagaimana tidak? Aku sendirian di tengah rawa dan hutan angker, aku akan mati dimakan binatang buas, dan petualanganku akan berakhir dengan—tokoh utama yang baru saja memulai perjalanan tiba-tiba menghilang dan tidak ditemukan kembali. The End.

Tidak-tidak!

Suara-suara hutan itu semakin terdengar. Kesunyian di sekitarku seperti selimut malam yang berusaha menidurkanku.

Oh ayolah, baru sebentar aku merasakan ketenangan lalu tiba-tiba hal lain muncul, drama lain muncul! Aku tidak pernah diberi kesempatan menenangkan syaraf-syarafku. Dan lagi aku tidak punya apa pun kecuali ransel berisi bukuku dan baju-bajuku, tidak ada senjata, tidak ada alat komunikasi atau peta, apa yang—

Sebuah erangan membuatku terlonjak kaget, jantungku berdegup kencang. Dengan tubuh membeku aku melayangkan pandangan ke sebelah kiri. Dan di sana, aku melihat sebuah tubuh tergeletak tak sadarkan diri. Mayat kah?

Ya ampun. Syarafku sama sekali tidak pernah dibiarkan beristirahat. Hidupku berubah menjadi sangat keren sekarang penuh aksi dan misteri. Aku meringis getir.

Tidak, Sakura, fokus! Aku merasa benar-benar merasa konyol mendengar pikiranku sendiri.

Tubuh itu bergerak-gerak sedikit dan kulihat rambut raven di antara rerumputan yang tertunduk-tunduk karena embun malam.

Demi apa pun! Itu Sasuke! Oke, kurasa ada yang salah dengan otakku, aku benar-benar merasa seperti orang gila sekarang.

Aku segera melesat bangkit berdiri dan menghampiri sosoknya yang masih berusaha meraih kesadarannya kembali. Aku menjatuhkan tubuhku di dekatnya, dan mulai mengguncang-guncang pundaknya.

"Sasuke-Sasuke, bangunlah, Sasuke!"

Cepat bangun dan carilah ide untuk keluar dari tempat ini. Setidaknya, aku akan aman, karena binatang buas mana yang berani padamu. Mereka malah yang akan takut . Ah, apa yang kupikirkan?

Mata hitam itu membuka perlahan dan memandang ke sekeliling. Ia bangkit dengan sikunya dan memandangku lagi dengan mata setengah tertutup. Tidak ada serbuan rasa panik seperti yang kualami tadi.

"Oh, Tuhan, ini sungguh tidak adil," bisikku pelan sambil memandangi rambut Sasuke yang berantakan bergerak-gerak pelan terkena angin malam, turun ke mata dan hidungnya dan—dan…

"Sakura," kata Sasuke pelan melihatku memandangnya tanpa berkedip.

"Kau baru saja terlempar dari lubang berpusar entah apa namanya itu, terjatuh di rerumputan,di tengah malam, kuulangi—rerumputan yang basah dan kotor dan masih tampak seperti itu," jawabku seperti orang linglung.

Alis hitam Sasuke terangkat satu. "Itu?"

Aku menggelengkan kepalaku cepat. Ya, Tuhan, apa yang terjadi denganku? Aku segera bangkit berdiri. Sasuke hanya memandangku penuh tanda tanya. Aku bersyukur dia tidak mengerti maksudku atau kalau tidak aku akan malu setengah mati. Sasuke benar-benar cocok menjadi tokoh novel rupawan yang akan tetap membuat para pembaca wanita tetap membaca hanya untuk membaca betapa kerennya Sasuke. Hah, cukup!

Sasuke bangkit berdiri dan memandang ke sekeliling dengan tajam. "Rupanya kita berdua terpisah dari yang lain."

Ia berjalan agak ke depan dan memandangi hutan di depannya.

"Bagaimana bisa kau—"

"Aku berhasil meraih tanganmu sebelum kau masuk ke jalur lain."

Aku terdiam, bingung harus merespon apa. "Jalur ap—"

"Kurasa aku tahu kita berada di mana, tapi bagaimana bisa?" Sasuke menyela perkataanku lagi. Aku mendengus kesal, dia masih sama angkuh dan tidak sopannya seperti sebelumnya. Tiba-tiba mata onyx-nya memandangku dengan tajam. "Sakura, apa kau merasa sedikit berbeda?"

"Apa maksudmu, Sasuke?" Aku meraba wajahku yang terkena rerumputan dan beberapa daun yang tersangkut di rambutku. "Tidak ada, kurasa."

"Suasana hatimu, maksudku."

Aku terdiam sebentar dan menutup mataku. "Ya," akhirnya aku menjawab," aku merasa ringan dan tenang seakan-akan semua kejadian buruk beberapa saat yang lalu tidak pernah terjadi, seakan itu hanya mimpi buruk yang jauh—bahkan aku bisa sedikit melucu," aku mengakhiri dengan menatap Sasuke lagi. Memandang matanya yang lebih kelam daripada langit malam ini. Aku memandang sosok rupawannya lebih lama lagi. "Kau tahu, Sasuke," lanjutku lagi," kalau kau bisa sedikit lebih ramah, kau benar-benar akan tampak seperti pangeran karena—"

Tiba-tiba saja Sasuke menyambar pergelanganku dan menarikku menuju rawa-rawa. Aku tersentak kaget dan segera meronta. "Apa kau sudah gila, Sasuke? Kau mau menyeberangi rawa-rawa ini, yang becek, kotor dan berkabut dan—"

"Sakura," potong Sasuke, kali ini rahang dan tubuhnya menegang—pertanda yang mulai kukenali ketika ada bahaya besar mendekat.

Aku menggigil. "Rawa-rawa ini memberiku perasaan yang mengerikan, Sasuke, kita tidak bisa ke situ—ada—ada sesuatu yang mengerikan di sana," bisikku. Tiba-tiba aku merasakan keinginan kuat untuk menyentuh Sasuke dan tanganku bergerak sendiri menyusuri pundaknya dan ketika jemariku menyentuh pipinya, ketika itu juga Sasuke menarik pinggang dan lenganku dengan begitu keras dan benar-benar menyeretku ke rawa-rawa. Aku meronta-ronta sekuat tenaga tapi cengkeraman Sasuke seperti cengkeraman besi.

Dan saat itu, ketika kakiku dan Sasuke terbenam di air, rumput dan lumpur rawa. Semua perasaan aneh yang nyaman dan tenang itu lenyap tak berbekas dan perasaan yang datang setelahnya sungguh sangat mengerikan. Semua ingatan kesendirian di loteng rumahku, pemakaman kedua orang tuaku, tingkah kejam teman-temanku, teriakan orang-orang yang terbunuh—darah dan darah, mayat Bibi Keiko dan dan Paman Ben—darah—rasa sakit—darah—kebencian—

Dan aku mulai meronta untuk kembali kedaratan. "Sasuke, lepaskan aku!" aku berteriak sekuat tenaga, tapi Sasuke malah melingkarkan lengannya di seluruh tubuhku dan menarikku ke rawa lagi. "Tidak, Sasuke, tidak, mengerikan! Tidak!" Tubuhku gemetar hebat dan air mataku membanjir tak terbendung lagi. "Aku tidak kuat!"

"Dengarkan aku, Sakura, kita harus pergi dari sini dan menyeberangi rawa ini, hutan itu adalah hutan tertua di Jyficia, ia akan memakanmu—"

"Lepaskan aku Sasuke!"

"Ia membuat setiap orang yang datang merasa nyaman dan mengambil emosi negatif mereka, ketika mereka lengah, makhluk-makhluk di hutan ini akan memakanmu—

"Kubilang, lepaskan aku Uchiha!"

"Sakura, kau tidak bisa membayangkan makhluk-makhluk apa yang tinggal di hutan ini, dengarkan aku, Sakura! Berhenti menjadi orang yang lemah dan lawan rasa takutmu!"

Suara telapak tanganku yang bertabrakan dengan pipi Sasuke terdengar nyaring. Kami berdua hanya berdiri mematung, Sasuke memandangku dengan mata kosongnya lagi.

"Kau tidak punya hak,"aku berkata dengan geram," kau tidak punya hak sama sekali untuk berkata seperti itu setelah apa yang kau lakukan padaku, kau kira ini mudah—maafkan aku Uchiha jika aku bukan lah seorang mesin pembunuh dengan hati beku sepertimu!" teriakku dengan terengah-engah.

Tiba-tiba wajah Sasuke menggelap. Ia melepaskan cengkeramannya dari tubuhku dan dengan gerakan begitu pelan ia mendekatiku dan berdiri begitu dekat. Sasuke dengan kelembutan yang mengerikan memegang kedua lenganku sehingga aku berhadapan langsung dengan wajahnya yang menunduk. Mata kosongnya memandang mataku lekat-lekat. "Dengarkan aku, Sakura," Sasuke memulai—bahkan ia begitu dekat sampai bisa kurasakan hembusan napasnya pada hidungku," aku tidak peduli apakah kau benci padaku—jijik atau marah padaku, aku tidak akan membiarkanmu pergi atau mati di tempat seperti ini, akan kulakukan apa saja untuk menyeretmu dari tempat ini, apa saja asal kau bisa keluar hidup-hidup," Sasuke mengangkat tangan kanannya dan mulai memainkan salah satu ujung rambutku," kau—tidak akan kubiarkan pergi walau itu ke kematian sekali pun, Sakura."

"Sas—" suaraku tercekat oleh ketakutan yang amat dalam. Di antara badai perasaan yang kualami sendiri aku sadar bahwa rawa ini dengan kekuatan anehnya juga berhasil membawa sisi gelap Sasuke muncul.

Tiba-tiba mata Sasuke melebar terkejut—seakan-akan ia tidak percaya pada apa yang dikatakannya sendiri. Tangannya melepaskan tubuhku begitu cepat seakan-akan aku ini tumbuhan berduri.

Aku menundukkan kepalaku dan berkata pelan," Baiklah, Sasuke."

Sasuke mengangguk lagi; masih belum memandang mataku. Ia meraih tanganku untuk membantuku berjalan di rawa-rawa. Aku menepis tangannya pelan," aku bisa sendiri."

Sasuke tidak menjawab dan mulai berjalan di depanku. "Jangan sampai terperosok ke air yang dalam, Sakura, ikuti langkahku."

Aku mengangguk. Suara kecipak-kecipak air terdengar jelas di keheningan malam dan aku tidak mau membayangkan binatang macam apa yang tinggal di dasar rawa-rawa ini.

Saat kami baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar bunyi gemerisik, lenguhan, dan desisan dari arah hutan.

Kami segera menengok ke belakang—ke arah hutan yang akan kami tinggalkan. Aku berusaha untuk tidak menjerit ketika kulihat segerombolan makhluk itu merangkak dan berayun di atas dahan-dahan pohon yang cukup besar. Tiba-tiba semua makhluk itu menjatuhkan diri ke tanah dan mulai merangkak ke arah kami layaknya binatang melata. Mereka tampak seperti kadal berkulit kecokelatan basah berbulu dan tanpa ekor. Kepala mereka terangguk-angguk ke depan dan ke belakang. Mata mereka kehijauan dengan lidah merah terjulur ke luar masuk. Suara berdesis-desis itu terdengar jelas seiring mereka merangkak lebih dekat.

"Sial!" kutuk Sasuke—menarik tanganku dan menarikku untuk berjalan lebih cepat.

Aku merasakan sesuatu melingkari pergelangan kaki kananku. Aku menengok ke bawah dan melihat lidah salah satu makhluk itu melingkari kakiku. Aku menjerit dan pasti aku sudah jatuh terseret melewati genangan rawa ke arah mereka jika aku tidak segera menyambar lengan Sasuke untuk berpegangan dengan kuat. Kami hampir ambruk bersama-sama. Sasuke mencengkeram tubuhku erat. Napasku dan napasnya terengah-engah. Kakiku ditarik lagi.

"Lakukan sesuatu, Sasuke!"

"Kau punya sesuatu untuk memotong lidah itu, Sakura, pisau mungkin?" teriak Sasuke di tengah usahanya menarik tubuhku. Aku ditarik lagi dan aku yakin kami tidak bisa bertahan lama. Kenapa hari ini banyak sekali yang suka menarikku. Aku bukan benda yang bisa dilempar ke sana ke mari. Kami bergulat dengan lidah itu sementara makhluk lain semakin mendekat.

"Kau bercanda kan?!" teriakku. "Gunakan saja kukumu atau kekuatanmu seperti sebelumnya!"

"Aku tidak boleh menggunakannya, Sakura," napas memburu Sasuke terasa panas di samping telingaku.

Tarikan yang lebih kuat.

"Hah? Bagaimana mungkin ketika kekuatan gilamu benar-benar diperlukan malah kau tidak bisa menggunakannya!" teriakku dengan nada tinggi.

"Hutan itu tidak boleh merasakan ficels-ku, Sakura!"

Kami sudah bergulat di air sekarang, Sasuke sudah jatuh terduduk mencengkeram tubuhku dengan kedua lengannya. Sementara aku melingkarkan lenganku pada leher Sasuke sekuat tenaga. Kami akan kelihatan seperti orang berpelukan jika saja kakiku tidak sedang ditarik oleh lidah panjang berlendir itu. Dengan sentakan kuat, Sasuke ikut terseret juga bersamaku. Tubuh kami telah basah oleh air rawa ini.

"Sasuke…lakukan sesuatu!" teriakku marah. Tapi napasku membeku ketika kulihat lidah makhluk-makhluk lain juga memanjang dan mulai bergeliat ke arah kami.

"Sasuke!"

Tubuh Sasuke menegang, kemudian tubuhnya menjadi tenang. Tapi aura yang melingkupiku hampir membuatku menjerit kehabisan napas. Ficels-nya begitu hitam dan pekat berpusar di sekeliling kami—membuatku terengah-engah mengambil napas. Kalau sebelumnya aku merasa dingin ketika melihat dari jauh—sekarang ketika aku berada dalam pusarannya—aku tidak berani bergerak karena perasaan berat dan suram hampir mencekikku. Aku bisa merasakan udara berdesis seakan tidak kuat bersentuhan dengan ficels Sasuke. Aku tidak berani memandang Sasuke, aku membuka mata dan berusaha melihat apa yang terjadi.

Lidah yang melingkariku sebelumnya mengambang terputus dari pemiliknya. Aku mengibaskan kakiku untuk melepaskan lidah itu. Aku bergidik teringat tekstur lidah itu pada kulitku. Aku menarik napas kaget ketika kakiku mengambang di atas air.

Tapi yang mengerikan adalah ketika itu juga, makhluk-makhluk itu menjadi liar, dan mulai menjerit meleking-leking—seperti lagu buruk menyayat-nyayat dengan nada tinggi. Mata mereka berubah merah, lendir berjatuhan dari mulut mereka. Mereka menyerbu ke depan dengan buas dan bergemuruh. Mereka melesak ke depan, tidak peduli bahkan ketika air rawa ini kelihatannya membakar dan melelehkan kulit mereka.

Mata-mata merah itu memandang marah ke arah kami.

Tangan pucat Sasuke terangkat lurus ke arah makhluk-makhluk itu, telapak tangannya terbuka dan ketika telapak tangannya mengepal; beberapa makhluk meledak hancur berantakan. Sasuke melakukannya lagi dan buncahan daging dan organ itu melayang ke mana-mana. Mereka tidak memiliki darah; hanya cairan kecoklatan yang melayang ke mana-mana.

Aku hanya bisa berdiri diam; ketakutan membekukanku. Aku menahan diriku untuk tidak meringis jijik dengan pemandangan di depanku.

Sasuke melakukan gerakan yang sama sampai semua makhluk-makhluk itu yang tadinya berjumlah puluhan lenyap. Tubuh mereka bersatu dengan air rawa-rawa. Bahkan sisa daging mereka yang menjijikkan pun tidak ada. Aku masih menahan napas ketika suara lain muncul—seekor laba-laba setinggi tiga meter muncul, merambat dan muncul di antara pohon-pohon tua itu. Aku hanya mengangakan mulutku. Tarantula raksasa.

Aku tersentak ketika tangan Sasuke yang dingin, menarikku maju. Ficels-nya masih berputar seakan menarikku maju juga. Aku masih belum berani memandang Sasuke karena perasaan dingin dan sesak ini benar-benar membuatku gemetar.

Laba-laba itu mengeluarkan suara serak dan bercicit-cicit. Mulutnya terbuka memperlihatkan gigi-giginya yang tajam. Ia kelihatan sangat marah, matanya yang banyak itu bergerak-gerak dengan liar.

Tangan Sasuke terangkat lagi dan salah satu kaki depan laba-laba itu terputus dari tubuhnya. Cicitan kesakitan laba-laba itu membelah langit. Lalu kaki setelahnya dan setelahnya, sampai kaki sebelah kiri laba-laba itu habis dan ia jatuh ke tanah dengan debum keras dan suara lekingan yang menyakitkan telinga. Aku harus menggunakan kedua tanganku untuk meredam suara itu dari telingaku.

Lalu sunyi. Suara cicitan itu kini melemah tapi masih terdengar menandakan bahwa laba-laba itu masih hidup.

"Ayo pergi, Sakura, " suara Sasuke yang dingin menyadarkanku.

Aku berusaha mengumpulkan suaraku lagi. Dengan gemetar aku berkata," laba-laba itu masih hidup, Sasuke, dan dia kesakitan." Aku berjengit ketika cicitan lemah itu terdengar lagi dan tubuh laba-laba itu menggeliat-geliat berusaha bangkit. Aku berkata sambil mengarahkan pandanganku di bawah dagu Sasuke, aku tidak berani memandangnya matanya.

"Kau takut padaku, Sakura," suara Sasuke yang pelan dan tanpa nada itu semakin membuat tubuhku bergetar.

Aku tidak merespon. Kemudian kepala laba-laba itu meledak dan hancur seperti nasib makhluk-makhluk sebelumnya. Aku berjengit ketakutan. Suara cicitan itu berhenti sama sekali.

Sasuke mengambil satu langkah ke arahku dan aku mengambil satu langkah ke belakang.

Jangan mendekat! Aku ingin berteriak tapi tidak ada satu suara pun keluar.

Tiba-tiba suara berdebum seperti bunyi langkah kaki berat yang berlari terdengar. Aku mengarahkan pandanganku ke arah hutan dengan gemetar. Sekarang apa lagi? Ini tidak ada habisnya. Kapan semua ini berakhir?

"Troll," gumam Sasuke dengan tenang ia mengarahkan pandangannya pada hutan di depan kami. Dia terdiam seakan menanti makhluk itu tiba-tiba menerjangnya.

Mataku melebar. Troll, jadi makhluk itu benar-benar ada? Ini gila!

Suara yang lain muncul, suara berderap yang anggun. Seekor kuda hitam yang anggun melesak keluar dari kegelapan pepohonan. Kuda itu anggun dengan surai yang lembut diterpa angin. Tapi sosoknya kelihatan dingin dan kejam. Angkuh walaupun ia hanya seekor kuda. Ada sayap di punggungnya—mengingatkanku pada bulu-bulu burung gagak. Kuda itu meringkik mengangkat kakinya di depan Sasuke. Ada pelana yang tergantung di punggungnya dan ada pedang tergantung di punggungnya, diikatkan dengan kuat oleh tali.

Suara berdebum itu begitu dekat.

Tanah dan deaunan di sekitar kami juga ikut bergetar. Tubuh troll itu menyembul keluar juga pada akhirnya. Ia memiliki wajah bodoh yang mengerikan. Tangannya besar dan gempal menyibak dedaunan pohon. Saat melihat Sasuke, ia meraung dan memukul-mukul dadanya. Dia menerjang maju dengan suaranya bergemuruh.

Sesaat kukira Sasuke tidak akan melakukan apa-apa, tapi sedetik kemudian Sasuke bergerak secepat kilat menghunus pedang dari tempatnya, berlari, melompat, dan dengan satu tebasan, kepala troll itu menggelinding di lantai hutan ini. Darah kehitaman terciprat ke mana-mana. Aku benar-benar merasa mual.

Tubuh besar troll itu ambruk di tengah posisinya yang sedang berlari.

Bum.

Dengan tenang Sasuke berjalan lagi ke arah kuda itu, mengembalikan pedang itu ke tempatnya. Tangan Sasuke membelai kepala kuda itu. "Shadowfeather, kau bisa menemukanku rupanya," gumam Sasuke. Aku belum bisa menemukan kekuatanku untuk berbicara setelah semua yang terjadi jadi aku memandang Sasuke dan kuda itu tanpa bisa berkata apa-apa.

"Sakura, ayo kita pergi dari sini." Suara Sasuke terdengar lagi, ia memandang ke arahku, tapi aku memilih untuk menunduk. "Kalau kita tidak cepat akan semakin banyak makhluk yang datang."

Kata-katanya terbukti karena terdengar suara kepakan sayap bergemuruh dari arah hutan. Aku berjalan dengan kaku ke arah Sasuke. Aku melihat tangan Sasuke terulur untuk membantuku naik ke atas kuda itu. Kuda itu memandangku dengan dingin dari balik manik kedua mata merahnya—seakan-akan ingin menerjangku tapi mengurungkan niatnya karena aku adalah teman Sasuke.

"Cepat, Sakura," kata Sasuke lagi. Aura dingin dan kejam itu sudah lenyap. Aku mengangkat mukaku dan memberanikan memandang Sasuke. Mata dinginnya masih memandangku tapi ekspresinya kelihatan letih.

Aku meraih tangannya. Hangat—tidak dingin seperti tadi.

Aku melompat ke atas kuda itu. Tubuhnya kuat dan kokoh. Kakinya mengetuk-ngetuk rerumputan dengan tidak sabar. Kedua kakiku dijulurkan di depan sayap itu yang kini sudah mengembang lebar. Sasuke melompat naik di belakangku, mendesak tubuhku ke depan agar kakinya mendapat tempat.

"Berpegangan erat, Sakura," bisik Sasuke kemudian ia menepuk kuda itu sebanyak dua kali dengan lembut. Sayap-sayap itu berkepak dan kita melesat naik. Udara malam yang dingin dan angin yang menghempas kami—membuatku sulit bernapas. Aku mencoba menghirup napas dalam-dalam. Jadi ini rasanya terbang tanpa menggunakan apa pun—tanpa mesin, tanpa balon udara atau sejenisnya.

"Sasuke," kataku cukup keras agar bisa didengar. Sasuke tidak menjawab tapi aku tahu dia mendengarkan. "Makhluk-makhluk itu kelihatan marah—seakan-akan mereka mengenalimu."

Napas Sasuke berhembus di leherku ketika ia menjawab," hutan itu dekat tempat Orochimaru berada," dia diam sebentar menyadari bahwa perkataannya belum menjawab pertanyaaanku," tentu saja mereka marah," lanjutnya," dulu aku menggunakan makhluk-makhluk seperti itu sebagai bahan latihan, kurasa mereka ingin membalas dendam akan kematian teman-temannya."

Karena tubuh kami begitu dekat, pasti Sasuke bisa menyadari tubuhku yang bergetar dan merinding mendengar perkataannya.

"Kurasa kau harus tahu hal-hal seperti itu, Sakura." Kali ini suara Sasuke pelan dan hampir terbang terbawa angin sebelum aku sempat mendengarnya. Tapi aku mendengarnya dengan begitu jelas.

Kemudian kami terdiam. Perkataan Sasuke yang terakhir mengandung satu arti yang jelas; tidak ada gunanya menutup-nutupi masa laluku yang kelam maupun sisi itu yang masih tersisa sekarang.

Matahari terbit di balik pegunungan, membawa sinar hangat yang menyilaukan—kehangatannya membuncah cerah di cakrawala. Langit pagi itu begitu indah. Udara sejuk dan dingin pada saat yang bersamaan. Aku bisa melihat sekarang pegunungan biru cerah dengan kabut di kakinya. Di deretan belakang, aku samar-sama bisa melihat puncaknya yang diselimuti salju. Hutan dan padang rumput membentang di bawah kami—begitu hijau dan cerah. Aku menengok ke belakang—rawa dan hutan tua itu hampir tidak terlihat sekarang.

Hamparan bunga-bungaan tampak terselip di tengah padang rumput yang kami lewati. Warna-warna cerahnya begitu menggoda.

Tempat ini indah sekali.

Tangan kiri Sasuke melingkari pinggangku dengan sangat protektif ketika kami harus meliuk-liuk di antara tebing-tebing pegunungan. Aku tidak tahu harus merasa hangat atau dingin pada saat itu.

Rasa kantuk menyerangku dan tanpa sadar aku mulai terlelap.

.

.

.

Ketika aku terbangun, matahari siang menyakiti mataku. Aku tersentak ketika menyadari bahwa aku telah tertidur dengan bersandar pada Sasuke. Sasuke melepaskan pegangan eratnya ketika menyadari aku telah terbangun.

"Kita hampir sampai."

Dan aku melongokkan kepalaku ke depan. Aku melihat dataran rendah yang luas dekat dengan pegunungan. Ada sebuah kastil besar yang berdiri di bawah kaki gunung yang indah itu. Dataran di bawahnya penuh dengan rumah-rumah penduduk, bahkan hampir tampak seperti perkotaan dengan bangunannya yang tinggi-tinggi.

Kuda yang kami tunggangi melesat semakin cepat. Kami mendarat di pelataran kastil sebelah kanan. Shadowfeather mendarat dengan anggun—hampir tanpa suara. Saat itu juga beberapa orang datang mengelilingi kami dengan seragam dan pedang di tangan mereka. Sasuke melompat turun dan membantuku untuk turun. Beberapa orang wanita berpakaian seragam juga menyerbu mendekat.

"Sakura butuh mandi, makan, dan istirahat," kata Sasuke pada mereka dan tanpa mengatakan satu patah kata pun mulai menuntun kudanya ke arah lain. Wanita—tidak—gadis-gadis itu serentak berkata," baik, Sasuke-sama," dengan masih menundukkan kepala mereka

Aku hanya bisa melongo.

Mereka mendekatiku dan tersentak melihat penampilanku. Aku tidak bisa menyalahkan mereka—aku benar-benar kelihatan parah. Rambutku penuh dengan rumput serta dedaunan, mukaku terasa kotor dan berminyak. Jeans, sepatuku, serta pulloverku sudah penuh lumpur dan kotor. Menyadari bahwa mereka telah bersikap tidak sopan dengan melihatku terlalu lama—mereka kembali tertunduk. "Mari, Nona," kata salah satu dari mereka—meraih tanganku dengan sangat lembut seakan-akan takut melukaiku secara tidak sengaja. Aku hanya meringis kebingungan.

Tiba-tiba dari arah dalam kastil muncul dua orang yang dikawal oleh empat orang prajurit. Mereka mengenakan jubah merah dan berjalan dengan sangat angkuh, ketika berpapasan dengan mereka—gadis-gadis ini menunduk hampir sembilan puluh derajat—dan diacuhkan begitu saja. Yang satu kelihatannya lebih tua dari yang lain. Ia berwajah keras dan kaku. Orang yang di sebelahnya cukup membuatku menahan napas juga. Aku tidak tahu bahwa ada orang yang sama rupawannya dengan Sasuke atau lebih di dunia ini tapi orang itu benar-benar luar biasa—bahkan kelihatan cukup mengerikan—seakan tak bercacat. Mereka mempunyai rambut dan warna mata yang sama dengan Sasuke.

Keluarga Sasuke. Mereka menghampiri Sasuke dengan langkah cepat. Sasuke yang masih menuntun kudanya berhenti ketika melihat kelompok itu mendekat.

Mereka melewatiku seakan aku tidak ada. Huh, sekarang aku tahu bagaimana Sasuke mendapatkan sikapnya yang arogan itu.

Gadis-gadis yang berada di sekelilingku menarik pergelanganku dengan lembut lagi. "Mari, Nona, Anda pasti sangat capek."

"Ha? Ah-iya, terimakasih." Aku berusaha tersenyum pada mereka tapi mereka sudah menunduk lagi.

Yang benar saja? Dunia macam apa ini? Abad ke-15?

Dan aku sudah melangkahkan kakiku memasuki kastil yang megah itu.

.

.

Everybody wants the throne—but not everybody has the cruelty to gain it.

.

.Chapter 10 Ends.