Bagian 4, Rebah Manja di Tidurmu
HADIRLAH DALAM MIMPIKU MALAM INI, SEKEJAP SAJA. TELAH CUKUP BAGIKU ... JIKA ITU TERJADI DAN ESOK KAU BEBAS KUTEMUI LAGI—DAN LAGI.
...
Hujan menggiring rinduku yang basah kuyup menuju rumah hatimu. Menggigilku dibelit damba untuk segera menatap matamu, lekat-lekat ...
Red's POV
AAAAAAAAAAAAAA!
Teriakku dalam hati, karena ternyata hari ini hujan turun dengan deras. Dan aku lupa membawa payung apalagi mantel. Padahal hari ini aku punya janji dengannya dan aku sudah membawa hadiah. Untung hadiahnya kecil dan bisa kumasukkan dalam kantung jaketku.
Aku hanya bisa berlari cepat menuju rumahnya. Suasana sore yang dingin ditambah hujan membuatku sedikit menggigil. Tapi aku sudah berjanji akan datang ke rumahnya dan aku akan menepatinya apapun yang terjadi.
Saat akhirnya aku sampai ke rumahnya, aku langsung mengetuk pintunya.
Sementara itu, Yellow's POV
"Eh? Siapa yang mengetuk pintunya?" tanyaku pada Chuchu. Dia hanya menggeleng tanda tidak tahu. Aku memutuskan untuk berjalan ke pintu depan. Saat aku sampai di sana dan membuka pintunya, betapa terkejutnya aku karena ternyata yang mengetuk pintunya adalah Red-san.
"Red-san!?" seruku.
"Hehehe, sore, Yellow," kata Red-san.
"Red-san mengapa basah begini, dan mengapa Red-san tidak membawa payung, mantel, atau apapun itu yang membuatmu kering? Ayo cepat masuk, nanti Red-san masuk angin," kataku sambil menarik Red-san masuk.
Aku langsung berlari ke kamarku, mengambil handukku. Dan kembali ke Red-san yang hanya berdiri di depan pintu.
"Ini, pakai ini agar tubuhmu kering," kataku. Red-san langsung mengambilnya dan mulai mengeringkan rambut dan wajahnya. Red-san berhenti saat handuknya ada di wajahnya, dan dia seperti menghirup bau handukku.
'EEEEEEEEEHHHHHH! BAGAIMANA INI? BAGAIMANA INI?' pikirku panik.
"Handukmu wangi, Yellow ... " kata Red-san. Sontak aku berhentidari pikiran panikku dan menjadi heran.
"Eh? Apa?" tanyaku.
"Handukmu wangi. Kau baru selesai mandi ya?" tanya Red-san. Pipiku langsung memerah karena memang yang dikatakan Red-san adalah fakta. Red-san hanya tersenyum.
"Sudah, tak apa-apa. Tapi, kau punya pakaian kering tidak?" tanya Red-san, lalu aku teringat pakaiannya Paman Wilton.
"Oh, ada. Sebentar," kataku, lalu aku mengambil pakaian di kamarnya.
Red's POV
'Benar-benar aku merindukan hal ini,' pikirku. Mengingat Yellow yang selalu siap membantu, aku senang karena dia masih begitu.
Sampai kapanpun ...
...
Aku selalu berharap dia baik-baik saja dan bisa melewati malam ini dalam tidur lena yang menguras bahagia ... semoga!
Yellow's POV
Akhirnya, pekerjaan rumahku selesai. Aku tidak menyangka bisa menyelesaikan PR biologi ini, ya, walaupun memang biologi adalah pelajaran favoritku, tapi PR yang ini cukup susah. Dan aku tahu apa yang akan kulakukan malam ini.
Aku mengambil Pokegear-ku dan menghubungi seseorang. Ya, aku ingin berbicara dengan Red-san. Menunggu, menunggu, dan menunggu, akhirnya wajahnya Red-san muncul.
"Hai, Red-san!" seruku.
"Hai, Yellow. Kau sedang apa?" tanya Red-san.
"Baru saja selesai dengan PR biologiku. Bagaimana dengan Red-san?" tanyaku.
"Masih pusing. Mungkin kau bisa membantuku?" tanya Red-san.
"Tentu! Aku senang membantumu, Red-san," kataku, dengan sedikit merah merona di pipiku. Lalu aku menjelaskan bagian-bagian yang menurut Red-san sulit. Dan setelah selesai, Red-san ingin menyudahi obrolan ini, tapi ...
"Tunggu, Red-san, jangan pergi dulu," kataku, dengan wajah agak sedih. Red-san jadi heran.
"Ada apa, Yellow? Takut sendirian ya?" tanya Red-san, dan pipiku langsung memerah karena Red-san tahu apa yang kurasakan. Aku hanya bisa mengangguk.
"Hehehe, aku sebenarnya juga ingin bicara denganmu, tentang dansa besok Sabtu itu," kata Red-san.
"Eh? Dansa? Oh, ya. Red-san sudah menemukan pasangan dansanya?" tanyaku. Dalam hati berharap jawabannya belum.
"Belum. Justru aku tak bisa ikut karena ada kompetisi Pokemon di Saffron," kata Red-san. Aku hanya bisa bernapas lega. "Kau tidak apa-apa sendirian di pesta itu nanti?" tanyanya tiba-tiba.
"Eh?" tanyaku.
"Ya, pasti ada laki-laki yang akan mengajakmu dansa nanti. Dan ... " tiba-tiba Red-san terdiam. Setelah satu tarikan napas, Red-san meneruskan kalimatnya.
"Yellow, bisakah kau ikut aku ke Saffron? Aku tak ingin kau sendirian di sana," kata Red-san. Pipiku sudah memerah berapa kali? Aku hanya bisa mengangguk.
"Syukurlah. Kutunggu besok Sabtu di taman. Aku ingin tidur sekarang," kata Red-san.
"Aku juga. Selamat malam, Red-san. Mimpi indah," kataku, dengan senyum tertempel di wajahku, dan wajahnya.
"Malam juga, Yellow. Mimpi indah juga," kata Red-san.
Intinya, dia baik-baik saja. Dan siap untuk tidur yang bermimpi indah.
...
Khusyuk dalam diam ... mengais beningnya hati yang masih serupa warna pelangi. Aku hanya ingin tenang dibuai indahnya rindu yang menggigit ... itu saja!
Red's POV
"Hei, Yellow,"
"Ya, Red-san?"
"Bagaimana bisa rambutmu selembut ini?"
"Red-san! Jangan membuatku malu!"
"Benar, aku serius, rambutmu lembut, kulitmu juga,"
"Red-san!"
Yellow hanya bisa menutupi wajahnya yang semakin memerah karena malu, yang justr membuatku lebih menyukai perempuan rambut pirang yang sekarang tidur di pangkuanku.
"Kau manis sekali saat kau malu, Yellow," kataku sambil terkekeh. Dan kali ini, Yellow memukul-mukul dadaku.
"Red-san! Sudah! Pipiku memerah terus karena kau!" seru Yellow. Aku hanya bisa tertawa sambil berpura-pura kesakitan karena pukulan dari Yellow.
"Auh, aduh! Oke, oke, oke, aku selesai. Tapi aku serius. Bagaimana bisa?" tanyaku. Yellow sekarang duduk di sampingku.
"Oh, jadi Red-san serius? Oke, jadi untuk rambut, aku memakai lidah buaya tiap hari. Dan untuk kulit, karena itulah aku jarang keluar rumah dan memakai pakaian panjang terus," kata Yellow.
"Benar juga, Blue cenderung terbuka dan pasti pakai pelindung kulit, sementara kau sudah tahu cara hematnya," kataku.
"Ya, maklum, tak punya uang untuk membeli lotion kulit," kata Yellow.
"Tidak apa-apa, Yellow. Kau sudah cantik dari pabriknya, kok," kataku. Dan Yellow memukulku lagi sambil menahan malu.
Hehehe, aku suka tipe Yellow yang seperti ini, tetap rendah hati dengan hatinya yang suci.
...
Tepekur dalam hiba damba untuk perjalanan hati yang kutempuh .. semoga tenang menyepuh di setiap inci langkahmu.
Red's POV
Beberapa hari yang lalu ...
"Kau serius melakukan ini, Senior Red?" tanya Emerald.
"Ya. Aku akan melakukan perjalanan pulang sendiri ke rumah," kataku.
"Mengapa?" tanya Ruby.
"Ya, kalau itu kalian tidak perlu tahu," kataku.
"Oh, oke. Ini pasti panggilan jiwa petualangmu, Senior Red. Aku pernah merasakannya juga, sering malahan," kata Sapphire.
"Kalau kau bukan sering lagi, tapi selalu," kata Ruby.
"Apa maksudmu, bocah yang tidak berani kotor?" tanya Sapphire, mulai tersinggung.
"Kau selalu saja lari ke alam liar seperti seekor gorila. Ayolah, sedikit manusiawi sebentar," kata Ruby.
"Kau itu yang tidak berani mengambil resiko," kata Sapphire.
"SUDAH, KALIAN BERDUA! KALAU INGIN MENIKAH SEKARANG, SINI, AKU JADI PENGHULUNYA!" seru Emerald yang tak tahan marah karena melihat tingkah dua temannya ini. Aku hanya bisa terdiam melihat tingkah Pemegang Pokedex dari Hoenn ini.
Ya, itu yang terjadi beberapa hari yang lalu. Kali ini, aku sudah ada di Johto. Sebentar lagi sampai ke Kanto dan menuju tempat yang menjadi alasan mengapa aku memilih untuk berjalan sendiri.
Aku ingin merasakan penderitaanmu untuk mendapatkanku. Kali ini, biarkan aku merasakannya dan datang ke rumahmu, dan bertemu denganmu.
... Yellow ...
...
Pasrahkan segalanya pada Sang Pencipta. Saat bahagia mengecup mimpi nirwana yang menasbihkan hati selalu berdegup dan setia berjalan ke arahmu.
Yellow's POV
Ya Tuhan, tiada kekuatan yang melampaui kekuatan-Mu. Engkau yang Maha Suci sementara hamba-Mu ini hanyalah hamba yang lemah lagi hina. Namun Engkau telah memberikan karunia-Mu pada tiap makhluk-Mu, termasuk daku, dan karena itulah, kali ini daku menengadahkan tanganku pada-Mu, memohon padamu setiap permohonan yang ada dalam hatiku.
Ya Tuhan, sesungguhnya daku mencintai seseorang, yang kali ini sedang berada jauh di sana. Berjuang dan bertarung untuk masa depan Bumi dan masa depan kami. Ya Tuhan, lindungilah dia. Lindungilah dia dari segala gangguan dan godaan yang datang padanya. Lindungilah dia dan berilah dia petunjuk agar dia dapat menjalankan tugas dan menyelesaikan misinya dengan baik.
Dan jika Engkau menghendaki, izinkahlah kami untuk dipertemukan kembali dan disatukan dalam ikatan cinta yang suci lagi baik. Berikanlah kami pula kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi keterpisahan ini sampai pada akhirnya kami dapat disatukan kembali.
Ya Tuhan, ampunilah segala kesalahanku, yang mungkin membuatku justru menjauh darinya. Berikanlah daku petunjuk agar daku dapat berjalan di jalan yang lurus dan mampu bertemu dengannya kembali.
Ya Tuhan, kabulkanlah segala permohonan daku.
Amin.
...
Ada yang hilang darimu malam ini. Tak kudengar bisik lembutmu merambah sepi. Kenapa justru galau yang kautitipkan pada arakan rindu yang kubangun di batas mimpi?
Yellow's POV
Ini dimulai dari akan diselenggarakannya acara penghargaan Pokemon di Kanto. Ada banyak orang di sana dan aku bekerja di bagian humas. Namun hal yang tidak terkira adalah aku justru sakit di hari briefing pertama.
Untung saja aku menghubungi salah satu kepala humas,Red -san. Aku masih ada di rumah jadi kuhubungi dia lewat Pokegear.
"Red-san, maaf, aku tak bisa berangkat nanti," kataku.
"Oh, oke. Akan kuberi tahu kepala humasmu," kata Red-san.
"Juga tolong, kalau ada dokumen pendukung, tolong aku titip," kataku.
"Siap, Yellow. Istirahatlah dulu, Yellow. Semoga cepat baikan," kata Red-san.
"Terima kasih, Red-san," kataku. Lalu aku mematikan Pokegear-nya.
...
"Yellow, rapatnya sudah selesai. Ini dokumennya. Sayang, sepertinya aku tidak menjadi kepala humas untukmu. Tapi tetap berjuang, oke? Semoga lekas sembuh, Yellow!"
Itu yang tertulis di atas kumpulan dokumen yang dibawa oleh teman sekelompokku. Setelah menerimanya, tiba-tiba Pokegear-ku berbunyi. Perlahan aku berjalan ke kamarku untuk membawa dokumen itu dan mengambil Pokegear-ku.
"Hai, Yellow. Kau sudah baikan?" tanya Red-san.
"Lebih baik, tapi masih lemas," kataku.
"Oh, oke. Istirahatlah dulu. Jangan paksakan dirimu. Sayang ya kita tidak satu kelompok," kata Red-san.
"Ya, paling tidak kita masih bisa berbincang seperti ini," kataku.
"Ya. Oke, aku ingin melanjutkan pekerjaanku, walaupun sebenarnya kepalaku agak pusing tapi aku kuat. Semoga lekas sembuh, Yellow! Sampai nanti," kata Red-san sebelum menutup teleponnya.
Sejenak, aku terdiam di tempat tidurku, bingung ingin melakukan apa, sampai akhirnya, aku tahu kalau aku tidak tahan terpisah dengan Red-san. Rasanya seperti terpisah sangat jauh. Dan akhirnya aku tidak tahan lagi. Aku menulis di perpesanan Pokegear dan mengirimkan pesan kepada Red-san.
Aku tahu seharusnya aku tidak mengatakan ini, tapi, aku akan mulai menangis sekarang.
Ya, aku menangis. Aku tak tahan terpisahkan darinya. Saking lamanya aku menangis, sampai aku tak sadar kalau aku tertidur.
...
Keesokan harinya, badanku sudah lebih baik, namun masih sedih dengan apa yang terjadi tadi malam. Saat aku mengecek Pokegear-ku, ternyata ada pesan. Pesan dari Red-san.
Tidak apa-apa, jangan khawatir. Kau tahu aku kuat, kan?
Aku hanya bisa tersenyum. Dan pada akhirnya, pada pagi itu, aku menjawab pesannya.
Aku tahu kau kuat, Red-san, untukku. :')
...
Andai saja aku punya pilihan malam ini, kan kutemui dia dengan senyum tanpa dosa. Tulus menyimpan damba yang setia bersimpuh di kaki langit. Andai saja ...
Red's POV
Namun sekarang, aku berada dalam perang. Aku sekarang berada di dalam pesawat perang yang sedang dalam perjalanan menuju medan pertempuran.
"Red, kau tidak apa-apa?" tanya Gold di sampingku. Itu nyadarkanku dari lamunanku.
"Ah, aku tidak apa-apa. Hanya memikirkan apa yang seharusnya kulakukan malam ini. Menemani istriku tidur, menenangkannya, dan membuatnya tidur nyenyak," kataku.
"Sabar, Red. Aku juga melakukan hal yang sama pada istriku, dan saat aku pergi, dia juga kangen dan berharap aku kembali hidup-hidup," kata Gold.
"Itu juga harapan kita semua. Tapi kalau ada yang gugur, paling tidak kita gugur demi negara," kataku, dan Gold mengangguk.
"Prajurit, kita sudah mendarat di basis 23. Bersiaplah untuk turun dari pesawat," kata sang pilot. Akupun berdiri dan memerintahkan anak buahku untuk bersiap.
"Oke, kawan-kawan, bersiap untuk turun. Pastikan senjata kalian terisi penuh, karena aku tidak ingin ada yang gugur di hari pertama kita. Itu akan jadi sangat buruk di catatan harianku," kataku. Kemudian sebuah pemikiran muncul di otakku.
Aku akan pulang, Yellow, menang ataupun kalah.
...
Meretas sapa kembali tanpa galau menengahi. Hanya bilur senyummu yang kupagut dalam debar bahagia tak terurai. Maaf, aku tak di sana malam ini ...
Red's POV
... jadi aku sedih sekarang ...
Saat Yellow memberitahuku dia sedang sibuk bersama pamannya untuk pergi, rasanya semangatku untuk berlatih pagi ini berkurang, mungkin 75%
Pika sampai heran mengapa aku lemas seperti kertas. Dia mengelus-elus kakiku sambil memasang wajah khawatirnya.
"Oh, Pika? Maaf, sepertinya aku terlalu merindukan Yellow," kataku. Pika langsung memasang wajah tersinggungnya. Dan sebagai lanjutannya, dia menyetrumku dengan sengatan listrik tegangan tinggi.
"Aduh! Sakit tahu!" seruku. Lalu Pika berbicara, sepertinya menyuruhku untuk mengembalikan semangatku untuk latihan.
"Benar juga, kalau aku latihan keras dan menang, ini bisa menjadi cerita luar biasa saat Yellow kembali. Pika, kau jenius!" seruku sambil memeluknya. Pika hanya memasang wajah senyuman para pakar.
"Oke, semua Pokemonku, keluarlah dari bola kalian!" seruku, dan semua Pokemon berbagai jenis keluar dari bolanya untuk bersiap-siap berlatih denganku.
...
Kucari sepotong mimpi indah malam ini. Sendiri ...
Yellow's POV
Ini mimpi teraneh yang pernah kualami. Berdiri di lapangan datar berwarna perak dan melihat semua gedung berwarna perak dan langit berwarna putih. Dan aku adalah satu-satunya benda berwarna di sana. Setelah terpaku melihat betapa futuristik tapi sepinya tempat dimana aku berdiri saat ini, aku memilih untuk masuk ke kota itu.
Kota itu memiliki banyak gedung tinggi, jalan, bahkan taman. Tapi semuanya keperakan, bahkan tidak ada tumbuhan hijau sama sekali. Dan karena langitnya putih, tidak ada bayangan yang terlalu jelas terlihat, kecuali bayanganku.
Kemudian, aku melihat ada beberapa kotak di trotoar, mereka tersusun rapi dan berderet. Aku jadi penasaran dan mulai berjalan di atasnya, sati persatu, agar tidak jatuh. Setelah aku sampai ke ujung barisan kotak perak itu, yang bahkan aku tak tahu berapa panjangnya, aku melihat sesuatu yang tidak biasa.
Manusia.
Ada manusia lain di mimpiku.
Di mimpi dimana tidak ada apapun di sini selain gedung-gedung perak.
Tapi siapa?
Aku mulai mendekati manusia itu. Namun ternyata dia masih sangat jauh, jadi dari awalnya aku berjalan, kini aku berlari. Setelah berlari sangat lama dan melelahkan, akhirnya aku sampai ke manusia itu, yang nampaknya sedang terdiam.
Jaket merahnya, rambutnya, tubuhnya yang tinggi, benar-benar mengingatkanku akan dia.
Dan dia membawa sesuatu.
Rasa keingintahuanku muncul dan ingin kulepaskan, namun apa daya aku terlalu malu untuk mengungkapkannya. Jadi, aku hanya terdiam di sampingnya. Hanya hening yang menangkap kami di mimpi yang memang sudah hampa dari awalnya ini. Namun berikutnya dia yang mulai berbicara.
"Lihatlah apa yang kugenggam," katanya. Aku ikut melihat apa yang dia bawa. Sebuah bola Pokemon.
Aku heran mengapa orang ini membawa bola Pokemon. Dan kemudian, dia bergerak, berpindah ke hadapanku.
"Aku sudah menunggumu sejak lama. Akhirnya kau datang juga. Aku sudah melihat dunia ini sejak lama, dan aku senang mengetahui ada hal berwarna yang bisa kulihat selain hanya warna putih perak ini," katanya. Dan dia berlutut sambil melakukan permintaannya.
"Yellow ... " dan tiba-tiba dari bawah kaki kami, warna-warna selain putih perak mulai bermunculan. Pertama, coklat tanah, lalu hitam aspal dan putih pucat beton, lalu warna-warna dari cat. Dan secara mengejutkan, pohon-pohon dan rumput-rumput tumbuh dari tanah. Bunga-bunga bermekaran dan hewan-hewan muncul entah dari mana. Dan akhirnya, langit berubah warna menjadi biru cerah.
Dan orang itu melanjutkan bicaranya.
"Namaku Red, menikahlah denganku, Yellow, ... " dan tiba-tiba sinar yang terang menyilaukan datang ke mataku, memblokir pandanganku ke laki-laki yang baru saja aku kenal namun sudah ingin menikahiku itu.
Dan pada saat itulah aku terbangun dari tidurku.
"Eh? Mimpi?" tanyaku. Dan aku melihat sekitarku, kamarku. Masih seperti biasa dan tidak ada putih perak seperti dalam mimpi. Yang membedakan hanya satu. Sebuah kotak putih perak di bagian samping tempat tidurnya, di meja. Dan seingatku, tidak ada kotak itu kemarin. Aku terbangun dan melihat isi kotaknya.
Ternyata mantel bulu warna kuning. Dan ada surat di dalamnya.
"Yellow, ini sudah musim dingin, lebih baik kau memakai ini agar kau tetap hangat. Dariku, Red,"
Lalu aku membuka jendela kamarku dan benar saja, salju sudah turun dan menyelimuti daerah dekat rumahku. Kesimpulannya adalah...
'Mimpi yang aneh,' pikirku.
...
Terima kasih terdalam untuk setiap kata yang terucap, untuk setiap doa yang terendap. Semoga semua menjelma nyata, hari ini, esok, dan seterusnya.
Sederhana saja. Pernikahan. Ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan dipersatukan lewat ikatan cinta yang suci dan murni. Dimulai dari pengikatan janji suci, sampai saat mereka berpesta untuk merayakan penyatuan mereka.
Itu juga yang terjadi pada Red dan Yellow. Mereka baru saja menikah dan baru saja pula pesta resepsi mereka selesai. Mereka berdua duduk di kursi pengantin mereka setelah berdiri selama hampir 15 jam.
"Red-san ... " panggil Yellow.
"Ya, sayang?" tanya Red, dan kali ini pipinya Yellow langsung memerah.
"Red-san! Jangan panggil 'sayang' di sini, aku malu ... " kata Yellow sambil menutupi wajahnya yang masih memerah, Red hanya bisa tersenyum.
"Akhirnya resepsinya selesai, sayang," kata Red sambil merangkul Yellow yang ada di sampingnya. Yellos hanya bisa mengangguk.
"Aku lelah, Red-san ... " kata Yellow yang kali ini menyandarkan kepalanya di pundaknya suaminya ini.
"Sama," kata Red. Lalu hening datang menjemput mereka. Setelah energi mereka terkumpul, Yellow melanjutkan pembicaraan yang tertunda itu.
"Red-san, terima kasih," kata Yellow.
"Untuk apa?" tanya Red. Lalu Yellow menutup matanya sabil menjawab pertanyaan suaminya itu.
"Terima kasih telah menbuat impianku terwujud. Bersamamu terus sampai maut memisahkan kita," kata Yellow.
"Itu tidak benar," kata Red. Yellow langsung heran.
"Tidak benar?" tanya Yellow.
"Ya. Kita tidak akan terpisahkan oleh maut. Kita akan terus mencinta sampai kita bertemu lagi di surga, lalu kita akan saling mencintai lagi," kata Red. Yellow hanya bisa terharu mendengarkan ucapan Red tadi, lalu merangkulnya erat-erat.
"Terima kasih, Red-san," kata Yellow di tengah-tengah tangisan harunya, sementara Red menenangkannya dengan mengelus kepalanya.
...
Hanya ada desah manja yang kaubisikkan menjelang lena menyekat sapaku. Tidur ... tidurlah, Sayang. Aku akan terjaga untukmu.
Yellow's POV
Aku sekarang sedang berbaring di tempat tidurku. Aku sudah memakai pakaian tidurku, sudah menyikat gigi, bahkan sudah berada di dalam selimut. Tapi aku belum tidur. Aku sedang menunggu teman tidurku. Ya, teman tidurku kali ini, dan kemarin, dan besok, adalah suamiku sendiri.
Dan akhirnya, dia datang.
"Ahh, segarnya. Kau sudah siap tidur, Yellow?" tanya suamiku, langsung heran melihatku yang sudah terbungkus selimut.
"Ya, Red-san", kataku.
Ya, suamiku, Red-san.
"Ya sudah, aku menyusul," kata Red-san, berjalan ke tempat tidurku lalu berbaring di sampingku. Setelah menemaniku terbungkus oleh selimut, Red-san bertanya padaku.
"Yellow, bagaimana harimu?" tanya Red-san.
"Ya, akhirnya lukisanku tentang Gunung Silver selesai, dan mulai membuat sketsa Snorlax," kataku sambil tersenyum.
"Snorlax? Posenya bagaimana?" tanya Red-san.
"Tidur," kataku sambil terkekeh. Red-san juga ikut terkekeh.
"Snorlax ya?" kata Red-san dan masih terkekeh. Aku juga masih terkekeh.
"Untuk apa juga aku menggambar Snorlax?" tanyaku, dan akhirnya kami tak bisa menahan keinginan untuk tertawa. Setelah beberapa saat, akhirnya tertawaan kami terhenti.
"Ya, Snorlax ya? Aku tidak masalah kau ingin menggambar apa," kata Red-san. Aku mengangguk.
"Ya. Red-san ... "
"Ya, Yellow?"
"Aku lelah,"
"Ya sudah, lebih baik kita tidur sekarang," kata Red-san. Aku hanya mengangguk dan akhirnya aku dan Red-san saling memeluk dan akhirnya tertidur.
...
Lelahku telah menembus batas kantuk. Tapi tak jua bisa kutepikan kangenku walau sekejap. Merama-rama di langit kamar, mengundang bayangmu untuk hadir, lagi.
Red's POV
Aku hanya bisa meraba kaca jendelaku, melihat pemandangan di luar sana. Sebuah pemandangan indah sebuah dunia dimana aku berasal. Dan kali ini, benar-benar tempat dimana aku berasal.
Saat ini, aku, Green, Gold, Silver, Ruby, dan Emerald sedang berada di Stasiun Ruang Angkasa Internasional. Kami semua memiliki misi untuk memperbaiki stasiun dan memasang piranti baru untuk ekspansi stasiun. Sebenarnya kali ini misi kami sudah selesai, namun kami harus menunggu sampai ada perintah berikutnya.
Jadi, ya, kami beristirahat. Gold sudah terlalu lama tidur, bahkan tidak terganggu sama sekali dengan perubahan yang terjadi karena kami mengorbit Bumi selama 90 menit sekali. Ruby masih memikirkan desain baju ruang angkasa yang baru, Silver dan Emerald bermain catur magnet, Green sedang membaca jurnal, dan aku ...
Hanya melihat Bumi sambil menyentuh kaca jendela. Aku sebenarnya juga ingin tidur setelah memimpin kelompokku dalam pemasangan piranti baru, namun ada satu hal yang membuatku tidak bisa tidur.
Setelah selesai perangkaian piranti itu, para istri kami menelepon kami. Mereka merindukan kami. Dan sebenarnya kami juga merindukan mereka. Ada yang sudah menyiapkan masakan saat kami pulang nanti, ada yang marah-marah karena kami belum pulang, ada yang sangat merindukan kami sampai menangis tersedu-sedu.
Itu istriku, Yellow, dia benar-benar merindukanku. Aku juga merindukannya. Karena itulah, aku memintanya bersabar sebentar sampai aku kembali.
Dan kali ini, aku melihat Hutan Viridian, rumah kami. Dan dalam hatiku, aku berkata kepada Yellow di rumah.
Aku akan kembali, Yellow.
...
Sampai mata ini enggan terlelap dalam rayuan mimpi, aku masih saja berharap bisa mendengar bisik lembutmu mengusik sepi, menelusup tiba-tiba tanpa permisi.
Yellow's POV
... dan itu ditambah dengan memeluk guling seerat-eratnya dan menangis ...
... sampai merengek hal yang sama setiap malam ...
... galau hal yang sama ...
Betapa payahnya aku. Ya, aku payah. Padahal aku adalah Sang Penyembuh dan orang yang berhasil mengalahkan Guile Hideout, tapi aku masih payah.
Payah, aku payah, payah, payah, payah, payah, payah, payah, payah, payah, payah, payah, payah, payah, payah, payah, payah, payah ... hanya itu yang bisa aku lakukan sambil menggelengkan kepalaku karena tidak percaya kalau aku masih lemah.
Masih memeluk gulingku, aku masih menangis dan tak bisa melakukan apa-apa selain menangis.
'Mengapa? Mengapa aku menangis terus? Dia hanya pergi sebentar, Yellow, untuk melindungi dunia dan dirimu. Kau tak perlu menangis begitu, Yellow,' pikirku, berusaha untuk menenangkan diri sendiri dari kegalauan ini.
Dan hasilnya ...
Beberapa jam kemudian, Red's POV
Aku berhasil membuka pintunya. Untung saja Yellow memberikan kunci cadangan ke rumah. Aku meletakkan sepatuku di raknya dan berjalan menuju kamarku. Melihat Yellow tertidur dengan wajah yang tidak senang, aku langsung duduk di sampingnya perlahan dan mengelus rambutnya.
"Aku sudah pulang, Yellow, jangan menangis," kataku. Dan akhirnya dengan melepas jaketku dan menyisakan T-shirt dan celana pendekku, aku tidur di sampingnya sambil memeluknya.
"Sudah, sudah, sayang. Aku sudah di sini, engkau aman sekarang," kataku sambil mengelus rambutnya sebelum aku terbawa suasana dan juga ikut tertidur.
Ya, istriku, Yellow, merindukanku,
...
Mataku terpejam tak mau. Selalu saja bayangmu merambah ruang batinku. Mengikatku dalam rindu yang merebas deras menuju kepadamu. Selalu begitu ...
Red's POV
Oke, ini sudah malam tapi aku tidak bisa tidur. Aku sudah minum susu dan membaca buku sampai aku lelah tapi tetap aku tidak bisa tidur.
'Ah, kuharap dia baik-baik saja,' pikirku. Itulah hal yang tidak bisa membuatku tidur. Istriku sedang pergi bersama teman-temannya liburan, sebagai hadiah ulang tahun pernikahan Blue. Ya, aku maklumi, sekali-kali dia perlu liburan juga.
Tapi betapa bodohnya aku yang tidak ikut dengannya, padahal Gold dan Ruby bisa ikut. Ah, rapat gym leader sialan! Aku jadi menyesal tidak bisa ikut dengannya dan akhirnya aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena tak ada yang bisa memelukku.
Sudahlah, akan kucoba untuk tidur sekarang, selagi aku sudah ada di kasur dan sudah berbaring. Akan kututup mataku sekarang.
...
Neutral POV
Terdengar suara teriakan dari rumahnya Red. Cukup keras sampai membuat Pokemon di sekitarnya terbangun. Tidak ada orang di rumah itu selain Red sendiri. Sepertinya ada yang terjadi di rumahnya Red.
Setelah dilihat dari dekat, ternyata saat itu Red sedang duduk di kasurnya, memegang teleponnya, menunggu sesuatu. Tepatnya seseorang. Ya, Red sedang menunggu teleponnya tersambung dengan seeorang. Tapi siapa?
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya teleponnya tersambung.
"Halo? Ya, ini aku. Aku kangen kau. Bagaimana liburanmu di Kalos? Ya, mungkin oleh-oleh dari Prism Tower. Aku tidak bisa tidur. Aku kangen kamu. Ya, sepertinya sekarang aku bisa tidur karena sudah bisa mendengarkan suaramu. Ya, selamat siang di Kalos, sayang, aku mencintaimu,"
Dan Red langsung tertidur lelap setelah itu. Telepon genggamnya yang masih menyala menunjukkan jawaban dari pertanyaan tadi.
"Panggilan terakhir: 6 menit 33 detik. Yellow,"
Ya, begitulah.
...
Kamu secantik matahari pagi ini dengan rambut yang mengikal mayang dan wajah polos bidadari. Mimpi apa kamu semalaman?
Red's POV
Perlahan, kubuka mataku. Aku harus membuat mataku siap melihat terangnya pagi. Setelah mataku kuat melihat terangnya pagi, kuhirup udara sedalam-dalamnya, mencari oksigen yang masih segar. Dan yang kudapat adalah bau harum dari seseorang.
Siapa?
Orang di sampingku, yang tidur bersamaku malam ini, dan kemarin, dan besok, dan besoknya lagi ...
Dan sepertinya dia menyusulku untuk bangun sekarang, dengan rambut pirang panjangnya yang sedikit menutupi wajahnya, dia perlahan membuka mata kuning kecoklatannya. Dan saat akhirnya kedua mata kita saling memandang satu sama lain, kami berdua langsnug tersenyum.
"Selamat pagi, Yellow," kataku.
"Selamat pagi juga, Red-san," kata Yellow, masih lemas.
"Apakah tidurmu nyenyak?" tanyaku. Yellow mengangguk.
"Nyenyak seperti bayi," kata Yellow.
"Bagaimana mimpimu semalam?" tanyaku, lagi.
"Ya, mimpi yang biasa, melihat matahari bersinar cerah saat aku berbaring di bawah pohon, dan kau ada di sampingku, merangkulku, dan kadang bermain-main dengan rambutku," kata Yellow, dengan wajah yang sedikit memerah.
"Sepertinya aku dapat posisi yang menyenangkan di mimpimu, Yellow," kataku, sambil tersenyum.
"Selalu, Red-san. Kau selalu berada di posisi spesial di mimpiku, sebagai orang yang paling kucintai," kata Yellow, lalu dia memelukku dengan lembut. Akupun membalasnya dengan pelukan yang lembut. Dan pagi itu diisi dengan sesi pelukan lembut dan mesra seperti biasanya.
Tapi rasanya seperti tidak biasa karena memang itulah rasanya cinta.
...
Lewat desah dan sapa manja, kuantarkan dia terlelap dalam tidur. Semoga indah mengemuka hingga pagi menjelma dengan kemilau senyumnya.
Red's POV
"Aaaahhhh, Red-san ..."
"Ya, Yellow?"
"Daku lelah, ingin tidur sekarang,"
"Daku juga, Yellow. Ayo kita tidur bersama lagi,"
"Ya, Red-san ..." lalu aku memandang Yellow, dan kami tertawa.
"Aneh sekali kita ya, Yellow," kataku, sambil tertawa.
"Kita seperti tokoh yang ada di buku ini saja," kata Yellow sambil menunjukkan buku yang baru saja kita selesai baca, 56.400.000 mm/hour.
"Yang sama yang mana?" tanyaku.
"Ya, kau memanggil dirimu sendiri 'daku', seperti tokoh utamanya," kata Yellow, aku hanya bisa tertawa.
"Benar juga, 'Lalu dikau sukanya susu atau kopi?', lalu dijawab 'kopi'," kataku.
"Lalu kita saling memberikan pelukan," kata Yellow.
"Tapi kita lebih beruntung daripada mereka," kataku. Yellow melihatku dengan heran.
"Mengapa, Red-san?" tanya Yellow.
"Ya, mereka hanya bisa melakukan pelukan secara virtual selama bertahun-tahun, tapi kita bisa saling berpelukan secara langsung," kataku, sambil mengelus rambutnya Yellow.
"Ya, tertulis di bukunya juga kalau ceritanya diambil dari kisah nyata sang penulis dan sekarang mereka sudah menikah," kata Yellow.
"Berarti mereka sudah beruntung sekarang, seperti kita berdua," kataku. Yellow mengangguk. Lalu tiba-tiba, Yellow mengantuk.
"Ah, daku mengantuk ..." kata Yellow.
"Ya, kalau dikau mengantuk, lebih baik dikau tidur sekarang," kataku. Lalu kurangkul dia dengan lembut dan dia melakukan hal yang sama padaku.
"Selamat malam, Red-san," kata Yellow.
"Selamat malam juga, Yellow, mimpi indah," kataku. Akhirnya kami berdua tidur dengan lelap.
...
Salahku, mungkin. Maafkan, tulus kuminta. Aku tak ingin membuat senyummu sirna. Tidurlah dalam mimpi nirwana. Esok pagi semoga menjelang dengan rekah bahagia.
Red's POV
Aku hanya bisa berdiri di depannya. Terdiam. Tak mampu mengatakan apa-apa. Tak mampu melakukan apa-apa. Hanya terdiam. Aku yang terdiam ini adalah orang yang bersalah atas apa yang terjadi hari itu.
Aku dan dia sedang berada di tepi sungai di Hutan Viridian. Cuacanya mendung dan aku sudah mengajaknya untuk pulang. Tapi dia masih menunggu pancingannya untuk termakan ikan. Aku sudah berusaha keras untuk mengajaknya pulang tapi dia tetap tidak ingin pergi. Lalu tiba-tiba ada sesuatu yang datang dari arah hulu sungai.
Air sungai tiba-tiba meluap dan langsung menerjangnya. Dia mulai terbawa arus. Aku mencoba untuk meraihnya. Aku berenang secepatnya untuk dapat meraihnya. Pada awalnya aku optimis dia akan berhasil kutangkap. Tapi berikutnya semuanya berubah saat sebuah longsoran dasar sungai mengubah arahnya, membuatnya justru menjauh.
Aku hanya bisa mendengarkan suara teriakannya, namun tidak mampu lagi untuk mendapatkannya. Dia sudah terlepas dariku. Dia sudah hilang.
Dia baru ditemukan 4 hari kemudian di tepi hutan. Sayangnya, dia tidak selamat dari arus banjir itu. Dia harus menjadi satu dari 52 orang yang tewas karena banjir tiba-tiba ini.
Ini sudah 2 bulan sejak banjir itu, dan aku masih tidak bisa berhenti untuk mengunjungi pemakamannya. Setiap kali aku datang ke sana, perasaan bersalah itu selalu datang. Aku tidak bisa menyelamatkannya.
'Maafkan aku, ini salahku yang tidak sigap saat itu. Beristirahatlah dengan tenang. Tetatplah tersenyum di sana sampai kita bertemu,' pikirku sambil memeluk topi jerami miliknya. Lalu setelah itu, aku memilih pergi daripada aku bertambah sedih karena ini.
...
Puja-puji untuk-Mu, Tuhan ... yang telah menyudahi gelisahku. Kini, dia kembali secantik kemarin dengan senyum polos bidadari.
Ya Tuhan, saat ini daku berdoa pada-Mu. Daku hanyalah manusia yang kecil dan hina di dunia yang Engkau ciptakan,karena itulah daku memohon kepada Engkau yang Maha Kuat.
Ya Tuhan, daku berterima kasih padamu. Syukurku daku sembahkan kepada-Mu. Engkau yang telah membebaskanku dari dunia yang semu dan kosong dengan memberikan hadiah paling idtimewa dalam hidupku.
Ya Tuhan, hari ini adalah ulang tahun pernikahanku dan Yellow yang ke-40 dan kami berdua masih bersama. Walaupun tubuh kami sudah menua dan tidak sekuat dan seindah dulu, namun perasaanku kepadanya masih tetap sama.
Ya Tuhan, berikanlah kesehatan kepada istriku. Istriku yang telah menjadi teman seumur hidupku. Berikanlah karunia-Mu kepada istriku, yang telah memberikanku perasaan bahagia. Berikanlah kemurahhatian-Mu kepada istriku yang sudah membuat hari-hariku semakin berwarna setiap hari.
Ya Tuhan, berikanlah kami kekuatan agar kami berdua tetap bisa saling setia. Berikanlah kami kekuatan untuk mengarungi bahtera rumah tangga ini bersama sampai akhir hayat, dan jadikanlah perasaan cinta kami sebagai jalan indah menuju surga yang akan kami masuki bersama.
Ya Tuhan, jadikanlah senyumnya senyum yang terindah bagiku, dan jadikanlah senyumku senyum yang terindah baginya. Jadikanlah pelukannya pelukan yang indah bagiku, dan jadikanlah pelukanku pelukan yang indah baginya.
Ya Tuhan, pertahankanlah kami dalam satu ikatan cinta abadi yang tidak akan pernah terputus sampai kapanpun.
Ya Tuhan, kabulkanlah doaku. Kabulkanlah doaku dan Yellow.
Amin.
...
Mengunduh rindu dan doa untukmu yang kini telah berjarak, lagi. Tak kuasa kubayangkan dirimu seorang diri terbaring lemah ditelan gerahnya mimpi. Tabahmu kupinta, karena esok tak akan lama ... dan aku akan selalu ada, untukmu.
Yellow, aku tahu kau sedang bersedih karena ini sudah 6 bulan kita berpisah karena aku harus melanjutkan belajarku di Unova. Kau juga sedang melanjutkan studimu di Kalos kan?
Aku juga sedih, Yellow. Aku juga sedih. Ditambah rindu yang tidak berkesudahan. Rasa yang terus kutahan untuk bertemu denganmu lagi. Namun sayang, kegiatan kita di dunia kita masing-masing ternyata menghambat niat kita untuk bersatu kembali.
Apa kau sedang di kamar tidurmu, bersedih sambil memeluk gulingmu karena kau merindukanku? Kalau begitu, aku juga melakukan hal yang sama. Aku tahu kita saling merindukan.
Hubungan jarak jauh ini memang menguji kesabaran kita, Yellow. Mungkin bukan hanya kesabaran, tapi juga kedewasaan, kekuatan, sampai ketahanan melawan godaan yang terus datang menyerang kita. Yellow, banyak sekali perempuan cantik di Unova, tapi aku hanya memikirkanmu. Aku dengar di Kalos banyak laki-laki tampan. Semoga kau bisa tahan dan hanya memikirkanku.
Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi. Aku benci sendirian di sini seperti orang bodoh dan hanya bisa bermodalkan telepon genggamku. Aku sudah menabung untuk pergi ke Kalos, dan uangnya sebentar lagi cukup. Aku siap pergi ke Kalos. Esok tidak akan lama, aku akan datang kepadamu.
Tetap bertahan di sana, Yellow. Jangan sampai kau menyerah. Ingat, kita harus berjuangbersama untuk bisa bertemu lagi.
Aku mencintaimu. Aku merindukanmu, dan kuharap kau juga begitu padaku.
Yellow.
...
Coba melewati malam dengan bersandar hanya pada bayangmu. Berbekal sapa senja, kubilas sepi yang perlahan menancapkan sendu. Biarlah sejenak kupeluk kesendirian, dan izinkan esok aku menemuimu dalam buncah rindu yang membungkam pilu.
Red's POV
Akhirnya, setelah menabung selama 2 tahun dan memenangkan beberapa lomba Pokemon, aku sudah punya uang yang cukup untuk perjalananku dari Unova ke Kalos untuk menemui Yellow lagi. Tentunya aku sangat gembira untuk bertemu Yellow lagi setelah lama berpisah.
Saat ini, aku ada di kapal yang membawaku dari Unova ke Kalos. Di suatu malam yang dingin dan sepi karena sebagian besar penumpangnya tertidur. Aku tidak bisa tertidur karena hanya memikirkan apa yang terjadi saat aku bertemu dengan Yellow.
Teleponku dengan Yellow tadi sore telah membuatku semakin kangen dengannya. Dari tadi aku hanya melihat fotonya yang kusimpan rapi di galeri foto telepon genggamku. Saat aku dan Yellow saling terhubungn lewat telepon tadi, dia berkata kalau dia akan menjemputku langsung di pelabuhan dimana aku akan turun. Aku berkata bahwa aku turun di Kota Coumarine. Aku setuju dengannya.
Ya, aku tidak bisa mengobrol lama dengannya karena aku tahu dia perlu banyak istirahat untuk bertemu denganku di sana, jadi aku persilakan dia untuk istirahat. Jadi untuk malam ini, aku sendirian lagi. Aku tahu rasanya agak menyesakkan dada tapi paling tidak ini adalah hari terakhirku merasakan hal seperti ini. Besok akan sangat berbeda.
Kita berdua akan saling memandang, saling berpelukan sampai-sampai kami berdua tak ingin dipisahkan. Dan aku harus menunggu sampai waktunya datang. Dan sampai saat itu tiba ...
Izinkan aku memeluk kesendirian untuk terakhir kalinya.
...
Manjamu menyudutkanku di batas mimpi yang menyentuh bibir surgaloka. Tak tahu dengan cara apa lagi aku melukiskan bahagiaku. Kini, biarlah rasaku yang berbicara dari kedalamannya.
Yellow's POV
Di luar cerita.
Aku dan Red-san kembali melakukan kebiasaan kami. Berbaring di bawah pohon favorit kami sambil menikmati cuaca yang cerah. Tiba-tiba aku jadi memikirkan sesuatu.
"Red-san, aku boleh tanya?" tanyaku.
"Boleh, tanyalah," kata Red-san.
"Kalau seumpamanya aku pergi lama lalu aku kembali, apa yang akan kau lakukan?" tanyaku.
"Kau ingin jawaban jujur atau jawaban bohong?" tanya Red-san dengan suara usil. Aku hanya bisa tersenyum sinis dengan apa yang dikatakan Red-san.
"Red-san? Kau tahu aku hanya ingin jawaban jujur?" tanyaku. Red-san lalu tertawa.
"Aku tahu, aku tahu. Tapi kau siap mendengarkan jawabanku?" tanya Red-san. Aku mulai memiliki firasat aneh.
"Kau tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh kan?" tanyaku.
"Tidak, tidak, aku tidak berani melakukan hal seperti Blue. Aku bukan Blue," kata Red-san membela diri. Aku hanya tersenyum.
"Oke. Aku siap," kataku sambil memasang tangan pada telingaku seperti telinga gajah. Lalu Red-san mendekatiku dan berbisik padaku.
"Pertama, memelukmu sampai aku lelah. Lalu menggenggam tanganmu dan tidak kulepaskan. Lalu kita berbaring seperti ini dan aku membelai rambutmu, dan kemudian tertidur," kata Red-san. Pipiku sedikit memerah karena apa yang dikatakan Red-san.
"Red-san, aku jadi malu," kataku sambil akhirnya memegang pipiku yang memerah. Red-san tersenyum saja.
"Ya, itu juga yang ingin kulihat darimu, lalu aku berkata kalau kau manis," kata Red-san. Aku tak tahaan lagi, dan akhirnya aku memukul Red-san dengan pelan beberapa kali.
"Red-san! Jangan membuatku malu!" seruku sambil memukul Red-san. Red-san mengeluarkan suara pura-pura sakit sambil tertawa. Lalu aku memutuskan untuk berhenti memukulnya dan memilih untuk memeluknya.
"Kalau aku, cukup memelukmu seperti ini saja, sudah membuatku senang, Red-san," kataku sambil tersenyum padanya. Akhirnya kami memutuskan untuk berpelukan sedikit lebih lama.
...
Lelaplah dalam damai yang memagut sampai pagi menyambutmu dengan bahagia baru.
Red's POV
Aku sedang mengerjakan tugas penelitian perkembangan trainer yang ada di Kanto. Maklum, tugasku sebagai gym leader bukan hanya bertarung melawan mereka. Itu aku di atas panggung. Di belakang panggung, aku harus menganalisis kemampuan mereka sehingga aku bisa memberikan arahan yang tepat kepada mereka.
Aku melakukan ini pada waktu malam saat gym sudah ditutup, dan aku melakukannya di rumahku. Di sebuah kamar dimana aku tidak sendirian. Istriku sudah tidur sekitar 2 jam yang lalu. Namun tiba-tiba dia seperti mengeluarkan suara yang menunjukkan dia sedang menangis. Awalnya aku anggap hanya sebentar. Namun ...
"Red-saaan, ..." istriku memanggilku. Suaranya seperti orang yang menangis. Aku segera meninggalkan pekerjaanku dan mulai mengelus rambutnya Yellow. Aku juga sempat menanyakan beberapa hal ke Yellow.
"Yellow, ada apa?" tanyaku.
"Aku, aku takut ..."
"Mengapa?"
"Aku tak mau ditinggal Red-san, aku mau Red-san tetap bersamaku, aku tak mau Red-san pergi," katanya sambil menangis. Aku langsung memeluknya dan mengelus pinggangnya dengan lembut.
"Sudah, sudah, Yellow. Aku tetap di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu," kataku.
"Kau yakin?" tanya Yellow, sudah sedikit lebih tenang.
"Ya. Aku akan berada di sisimu, selamanya," kataku. Pada akhirnya, Yellow ikut memelukku, dan beberapa saat kemudian lagi, dia mengeluarkan senyuman di bibirnya. Sebelum dia tertidur lepas, dia sempat berterima kasih padaku.
"Red-san, terima kasih telah bersamaku," kata Yellow.
"Sama-sama, Yellow," kataku. Karena pekerjaanku sudah selesai, aku memilih untuk menenangkannya terus dalam tidurnya. Walaupun itu berarti aku juga tertidur.
'Tidak apa-apa, pekerjaanku sudah selesai, dan aku bisa bersamamu sekarang, Yellow,' pikirku sebelum aku ikut tertidur.
...
Menjamu pagi, merayakan mimpi indah bersamamu yang singgah semalaman.
Yellow's POV
"Red-san! Ayo kejar aku kalau kau bisa!" seruku. Aku dan Red-san sedang main kejar-kejaran di padang rumput yang luas. Kami berdua bersenang-senang sampai akhirnya kami kelelahan. Untungnya ada pohon di tengah-tengah padang rumput iti dan kami dekat ke sana.
"Red-san, ayo ke pohon!" seruku.
"Ya, Yellow!" seruku. Lalu kami berdua berlari ke pohon itu dan berteduh di bawahnya. Kami merasakan angin sejuk yang membuat kami merasa nikmat beristirahat di bawah pohon itu.
"Red-san?"
"Ya?"
"Menurut Red-san, apakah dunia nyata bisa seindah dunia ini?" tanyaku.
"Entahlah, Yellow. Walaupun begitu ada satu hal yang akan tetap sama antara dunia nyata dan dunia ini," kata Red-san sambil tersenyum padaku.
"Apa itu, Red-san?" tanyaku.
"Yellow. Yellow tak pernah berubah. Yellow yang baik, manis, suka menolong, tidak sombong, tidak egois, sederhana, dan baik hati," kata Red-san. Itu cukup untuk membuat pipiku memerah seperti nama orang yang baru saja memujiku itu.
"Saat bangun, jangan lupa seperti ini saat bertemu denganku. Oke?" tanya Red-san. Lalu tiba-tiba sinar terang membuatku kesilauan dan setelah aku membuka mataku lagi, hal pertama yang kulihat adalah Red-san yang tersenyum di sampingku. Di tempat tidur kami. Di rumah kami. Red-san, suamiku, menyambutku yang baru terbangun dengan senyuman manisnya.
Selamat pagi, Yellow.
...
Rebah lelah dalam bingkai wajahnya. Berharap dia hadir dalam tidurku, malam ini. Setidaknya, dalam mimpi. Meski hanya sekejap, telah cukup bagiku.
Red's POV
" ... dan pada akhirnya perang antara Kanto dan Johto berakhir dengan Perjanjian Silver, dimana tidak ada lagi ekspansi wilayah setelah perjanjian ini ditandatangani. Selesai,"
Aku baru saja menyelesaikan sebagian rangkuman dari buku sejarah Kanto. Cukup melelahkan merangkum 34 halaman yang semuanya isinya tulisan. Kali ini aku sudah menulis 22 halaman. Aku ingin melanjutkannya besok karena aku sudah lelah. Lagipula tugas ini baru dikumpulkan 4 hari lagi. Daripada terburu-buru dan justru jadi kacau, lebih baik kukerjakan sekarang.
Setelah menata buku pelajaranku, aku langsung terjun ke tempat tidurku dimana ada bantal, guling, kasur, dan selimut yang siap menemaniku berjalan ke alam mimpi. Setelah aku merebahkan tubuhku di akas kasur, meletakkan kepalaku di atas bantal sambil memeluk guling, dan menutupi tubuhku dengan selimut agar tidak kedinginan,aku memulai perjalananku ke dunia mimpi.
Di sana, aku bertemu dengan seorang tua yang sedang duduk di bawah putih, badannya sedikit kurus, dan janggutnya panjang. Aku ingin berbicara dengannya.
"Permisi?" dan orang tua itu langsung merespon dengan tanggapan yang aneh.
"Jaga Yellow untukku," lalu latarnya langsung berganti ke sebuah acara pernikahan. Mengejutkannya, aku memakai pakaian jas dan apapun itu yang membuatku berpikir bahwa aku yang akan menikah, Dan di depanku adalah seorang perempuan dengan penutup wajah, yang setelah terbuka, ternyata ...
...
"Oh, ya, pernikahanku dengan Yellow tinggal 2 bulan lagi. Cepat sekali waktu berlalu ..." kataku. Lalu aku melanjutkan tidurku kembali.
...
Bisa tidur lena dalam bayang magis senyumannya yang memendarkan damai di setiap lajunya. Gelisah yang sempat singgah, ternyata hanya khawatirku saja.
Yellow's POV
Kali ini, aku tertidur pulas di atas pelukan hanyat dari Red-san. Aku sangat tenang dan menganggap kejadian sebelumnya tidak pernah terjadi.
Tadi, hujan turun sangat deras. Saking derasnya, sampai aku menganggap itu badai. Petir menyambar, hujan turun deras, angin bertiup kencang, aku yakin itu badai. Hujannya masih berlangsung seperti ini sampai malam hari.
Dan masalahnya, Red-san sedang dalam perjalanan ke rumahku. Aku yakin dia pasti kehujanan dan kedinginan, karena itulah aku menyiapkan pakaian ganti dan sup di dekatku. Aku terus menunggu sampai ada tanda-tanda darinya.
Saat akhirnya pintu rumahku diketuk oleh seseorang dari luar, aku langsung bergegas ke sana. Dan setelah aku membuka pintunya, ...
"Red-san? Red-san, cepat masuk, nanti kedinginan. Aku sudah menyiapkan baju ganti dan sup. Cepat ganti baju dulu. Setelah itu makanlah sup buatanku agar tubuhmu hangat," kataku sambil mendorong Red-san ke kamar mandi agar dia cepat-cepat mengganti bajunya yang basah saat kemudian, Red-san datang ke meja makan dimana aku sudah menunggunya di sana.
"Yellow, kau tak perlu melakukan ini. Aku tak ingin merepotkanmu," kata Red-san.
"Tapi nanti Red-san kedinginan. Hujannya deras seperti ini, pasti Red-san kedinginan," kataku.
"Ya, ada benarnya juga. Terima kasih sudah mempersiapkan ini, Yellow," kata Red-san. Aku sempat ingin membalas namun kemudian petir menyambar sangat keras sampai membuatku menjerit aku merasakan pelukan.
"Sudah, sudah, jangan khawatir, itu hanya , jangan takut," kata Red-san sambil menenangkanku.
Dan itulah yang membuatku bisa tertidur nyenyak di atas pelukannya. Dia menenangkanku dari badai itu.
...
Tak ada gelisah yang singgah, setiap kali kamu terlelap manja dan setia ada di sebelahku.
Yellow s' POV
Ada sebuah kebiasaan yang selalu kami lakukan setelah kami menikah. Red-san yang melakukannya dan aku hanya mengikutinya. Aku menikmati idenya Red-san. Sangat menikmatinya. Apa idenya?
Saat Red-san dan aku terpisah oleh jarak karena tugas yang harus dilakukan Red-san, Red-san memiliki ide untuk membuat panggilan video jadi kami bisa saling melihat satu sama lain sebelum kami tidur.
Malam ini, Red-san berada di Kota Lilycove. Dia menginap di salah satu hotel di sana. Sekarang aku sedang berbicara dengannya.
"Jadi Red-san bertemu mereka berdua tadi?" tanyaku.
"Ya, Sapphire juga bicara di rapat tadi, dia berkata tentang efek perubahan iklim terhadap pola hidup Pokemon," kata Red-san.
"Hmmm, apa mungkin karena pencairan es itu juga mempengaruhi kehidupan di Hoenn?" tanyaku.
"Ya, bisa dikatakan seperti itu. Intinya, dia ingin perubahan iklim ekstrem ini segera berakhir," kata Red-san.
"Bukannya dengan perjanjian perubahan iklim sudah cukup?" tanyaku.
"Ya, apa yang tertulis di sana sudah dilakukan, namun tetap ada saja para pelanggar. Juga, butuh waktu lama untuk menjadikan Bumi normal kembali," kata Red-san.
"Ya, paling tidak Red-san sudah berjuang," kataku.
"Ya, untukmu juga, Yellow. Boleh kuminta sesuatu?" tanya Red-san.
"Apa itu, Red-san?" tanyaku.
"Aku ingin melihat wajahmu terus sampai aku tertidur," kata Red-san.
"Aku juga, Red-san," kataku. Pada akhirnya, malam itu kami habiskan dengan saling memandang sampai kami berdua tertidur, walau sebenarnya aku yang tertidur lebih dahulu.
...
Apakah dia baik-baik saja? Masih kumenunggu kabar di batas debar yang mengetuk damba. Dahagaku mengucapkan selamat tidur, untuknya—yang kini masih terjaga.
Yellow's POV
Aku menunggu di depan layar telepon genggamku, di atas kasur, sambil telentang dan menunggu jawaban dari sesuatu.
Tadi siang, Red-san meneleponku, dan itulah yang membuatku khawatir. Pesawat yang akan membawanya dari Unova ke Kanto mengalami kerusakan sebelum berangkat, jadi Red-san harus menunggu di bandara. Lalu tadi sore ternyata pesawatnya sudah dalam keadaan baik, dan Red-san siap berangkat. Setelah dia sampai ke Kanto sore harinya, ternyata cuacanya hujan sampai sekarang, dan hujannya deras. Aku harus menunggu sampai hujannya reda untuk menjemputnya.
Sudah malam, dan aku menunggu apakah Red-san perlu dijemput atau tidak. Namun ternyata jawabannya belum datang juga. Pada akhirnya aku hanya dapat menatap telepon genggamku sambil menunggu jawaban darinya.
Tapi sampai kapan?
Sayangnya tubuhku sudah terlalu lelah untuk menunggu. Mungkin dia akan kembali saat aku sudah tertidur. Ya, mungkin saja dia akan kembali saat aku sudah tidur. Jadi untuk sekarang ini ...
"Selamat malam, Red-san, semoga kau selamat sampai ke rumah," kataku, sebelum aku tenggelam dalam mimpi.
Sementara itu, ...
Red's POV
Aku menulis pesan ke Yellow, bahwa sepertinya aku akan pulang sendiri karena cuaca ini.
"Yellow, maaf aku baru membalas pesanmu. Aku akan pulang sendiri. Jaga dirimu baik-baik sampai aku kembali. Sampai bertemu lagi. Red," lalu kukirim ke Yellow.
Sisanya, tinggal menunggu cuacanya lebih baik.
...
Temaniku dalam tidur sekejap saja. Meski hanya sapa lemahmu yang menjamah di ujung siang yang makin gerah.
Red's POV
"Aku pulang!" seruku, baru saja pulang dari kantor. Pulang pada siang hari yang terik dengan suhu udara tinggi itu sama sekali tidak membantuku menghilangkan kelelahan kerjaku, justru melipatgandakannya.
"Selamat datang, Red-san. Pasti Red-san kepanasan. Di kamar mandi, airnya sudah siap kalau Red-san ingin mandi," kata istriku yang langsung melayaniku dengan ramah. Dia istriku tapi tingkat keramahannya lebih tinggi daripada keramahan pegawai hotel.
"Wha, boleh juga. Terima kasih, Yellow sayang," kataku sambil tersenyum.
"Ah, Red-san, berhentilah memanggilku 'sayang'," kata Yellow sedikit sebal. Aku hanya terkekeh melihat reaksinya.
"Yellow kan sayangku," kataku sedikit menggoda. Lalu Yellow langsung mendorongku ke kamar mandi.
"Red-san mandi saja langsung! Jangan membuatku malu," kata Yellow. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya. Istriku sendiri masih seperti Yellow pada masa kecilnya, dan itulah yang membuatku mencintainya.
Beberapa saat kemudian, aku selesai mandi, dan karena tubuhku masih lelah, aku memilih untuk langsung berbaring di tempat tidurku. Aku sangat kelelahan sampai akhirnya tanpa sadar aku tertidur lelap. Hanya satu suara yang kudengar sebelum aku terlelap.
"Selamat beristirahat ..."
Beberapa saat kemudian, aku terbangun. Aku mencium bau yang berbeda dari biasanya, bau yang lebih wangi daripada biasanya. Aku juga merasakan ada yang merangkulku dan aku juga merangkulnya. Saat aku membuka mataku, aku sedikit kaget karena melihat istriku sendiri tertidur di sampingku, tenang dan tersenyum. Aku mengelus rambutnya dengan lembut sambil bersiap untuk melanjutkan tidurku lagi.
"Selamat malam, Yellow sayang," kataku, sebelum aku tertidur lagi. Sehari itu hanya digunakan untuk tidur, dan entah mengapa aku mendengar suara gumaman Yellow.
"Red-saaan ..."
...
Inginku segera bertemu. Menumpahkan setiap inci cerita yang tertunda, dan jatuhku dalam dekapan tidurmu seketika.
Yellow's POV
"RED-SAAAAAANNNNN!" seruku sambil berlari menyusuri bandara, setelah melihat orang yang ingin aku lihat langsung itu. Dan dia juga melakukan hal yang sama denganku. Berlari saling mendekat.
"Yellow!" seru Red-san. Kami berdua akhirnya saling bertemu setelah berlari agak jauh, tak peduli orang yang ada di bandara, aku langsung melompat untuk memeluk Red-san, dan Red-san langsung menangkapku dan memelukku.
"Red-saaan!" seruku sambil menangis haru. Aku memang sudah menunggu saat seperti ini sejak lama, bertemu lagi dengan Red-san setelah berpisah lama, dan momen ini kupakai sepenuhnya untuk melepaskan semua energi cinta yang kusimpan.
"Sudah, sudah, Yellow. Kau kangen ya?" tanya Red-san.
"Bodoh! Aku kangen Red-san setiap hari, tahu? Saat malam hari sebelum aku tidur, aku selalu berangan-angan apa jadinya kalau kita bertemu," kataku, lalu melanjutkan tangisan haruku.
"Ya, aku juga merindukanmu, Yellow. Karena itulah aku punya ide," kata Red-san.
"Apa itu?" tanyaku.
"Kita berpelukan lama di sini," kata Red-san.
"Tapi, aku malu kalau dilihat banyak orang," kataku.
"Oh, ya. Bagaimana kalau kita pulang?" tanya Red-san. Aku hanya mengangguk, dan akhirnya kami pulang ke rumah.
Di rumah, aku dan Red-san langsung duduk di ruang tamu. Aku berada di samping kanannya dan kami masih berpegangan tangan.
"Aku senang kita bisa bertemu lagi, Red-san," kataku, lalu aku memeluknya dengan lembut, dan aku bisa merasakan kalau Red-san melakukan hal yang sama. Karena kami masih kelelahan, justru kami terbawa suasana dan akhirnya tidur dalam pelukan kami.
...
Rinduku tumpah tanpa sisa. Damba yang telah kupahatkan pada arakan hari, kini merunut nyata dalam alurnya. Dalam lelapku, kucetak wajahmu, nyata.
Red's POV
Setelah begitu lama, akhirnya aku bisa bertemu dengan Yellow lagi. Perjuanganku menabung selama 2 tahun berbuah manis. Bukan hanya uang untuk perjalanan pulang pergiku dari Kanto ke Unova, namun juga untuk memberikannya hadiah istimewa.
"Yellow,"
"Ya?"
"Aku punya hadiah untukmu," kataku.
"Eh, Red-san? Red-san tak perlu memberikanku apapun," kata Yellow.
"Tidak apa-apa, sekali-kali aku memberikan hadiah," kataku.
"Hmmm, baiklah, apa hadiahnya?" tanya Yellow.
"Tutup matamu erat-erat, jangan mengintip," kataku, lalu Yellow menutup matanya dengan tangannya.
"Sudah, Red-san," kata Yellow.
"Nah, tetap begitu, jangan bergerak," kataku. Lalu aku berjalan ke belakangnya dan memberikan hadiahku untuknya. Aku kalungkan sebuah liontin padanya. Yellow sedikit terkejut saat dia merasakan ada yang menggantung di lehernya. Aku kembali berjalan ke depannya.
"Oke, buka matamu," kataku. Yellow membuka matanya perlahan dan menyentuh liontinnya.
"Indah sekali, Red-san, terima kasih,"
"Sama-sama. Lihatlah bagian dalamnya," kataku. Lalu Yellow membuka liontinnya, dan melihat isinya.
Itu adalah foto kami berdua dengan bentuk senyuman terbaik yang bisa kami lakukan.
"Red-san, mengapa senyuman?" tanya Yellow. Lalu aku mengeluarkan liontin yang juga kupakai dari bajuku, menunjukkannya kepada Yellow.
"Aku ingin kau melihatku tersenyum. Aku juga ingin melihatmu tersenyum. Jadi aku memakai foto untuk membuat itu bisa dilakukan walaupun kita terpisah jauh," kataku.
"Red-san, kau tidak terlalu membutuhkannya," kata Yellow.
"Tidak apa-apa," kataku.
"Serius, urusanku di Unova sudah selesai, aku akan pulang, dan, aku akan pulang bersamamu, Red-san!" serunya. Aku terkejut mendengar berita itu.
"Benarkah?" tanyaku. Yellow mengangguk. Dan saking senangnya aku mendengar berita itu, aku langsung memeluknya.
Itulah yang terjadi beberapa hari yang lalu. Sekarang kami di dalam pesawat yang sedang terbang, dan aku sedang membayangkan orang yang sekarang sedang tidur di sampingku. Dia manis.
...
Tak tahu lagi harus berkata apa. Sepertinya diam jadi pilihan terbaikku dalam tidur, malam ini. Entah esok pagi ...
Red's POV
Aku memilih diam. Tak ingin bicara apa-apa. Rasanya aku ingin membuang mulutku jauh-jauh agar aku tak perlu bicara lagi. Aku tidak mau sampai saat tenang ini diisi dengan kekacauan karena suara-suara yang mengganggu.
Ya, aku ingin tidur dengan tenang. Biasanya aku bisa bercengkerama dengannya, namun karena dia pergi, aku memilih untuk diam. Yellow sedang pergi bersama pamannya untuk menemani pamannya dalam bisnisnya. Aku tidak masalah dengan itu, hanya saja itulah yang mmebuatku diam.
Aku langsung menutupi badanku dengan selimut tebal karena belakangan ini udaranya dingin. Aku hanya memandang langit-langit kamarku tanpa membayagkan apa-apa. Bosan dan merasa hampa saat dia tidak ada di jaringan, dan mungkin karena dia sudah tidur. Aku bosan.
Aku mulai menutup mataku, berusaha untuk tidur. Seharusnya mudah karena aku tak perlu terlalu susah memikirkan apapun. Tapi ternyata aku juga masih susah tidur. Aku sudah mencoba tidak memikirkan apapun dan menutup mataku, tapi aku tetap tidak bisa tidur. Sampai akhirnya, senjata terakhir.
"Selamat malam, Yellow, mimpi indah,"
Heran, setelah aku mengetik pesan ke Yellow, aku baru bisa tidur. Mengapa ya? Mungkin ada yang menjelaskan ini? Kutunggu jawabannya besok pagi saat aku bangun dari tidurku.
...
Meski sapa tak menjaring nyata, selalu kubakukan doaku untuk tidurmu malam ini. Titip mata dan hati, untukmu ...
Ya Tuhan, daku hanyalah hamba yang tidak memiliki kekuatan apa-apa jika dibandingkan dengan kekuatan-Mu, kekuatan yang mampu menciptakan alam semesta dan seisinya. Daku tidak memiliki kekuatan apa-apa jika Engkau tidak memberikannya. Karena itulah daku meminta padamu, Tuhan yang Maha Perkasa, karena hanya Engkau yang dapat mengabulkan permintaanku dengan kekuasaan-Mu.
Ya Tuhan, daku sekarang sedang berpisah dengan kekasihku karena daku memiliki tugas yang tidak dapat ditinggalkan. Dia sendirian di sana sementara daku tidak dapat menjaga dan melindunginya sekarang. Karena itulah daku memohon pada-Mu.
Ya Tuhan, jagalah dia. Ya Tuhan, lindungiah dia. Ya Tuhan, berikanlah kekuatan kepadanya untuk bersabar dalam masa keterpisahan ini . Ya Tuhan, jagalah daku. Ya Tuhan, lindungiah daku. Ya Tuhan, berikanlah kekuatan kepadaku untuk bersabar dalam masa keterpisahan ini. Berikanlah kami ketahanan dan kesabaran dalam masa keterpisahan kami sampai kami dapat dipertemukan dan dipersatukan lagi.
Ya Tuhan, mudahkanlah pekerjaan kami. Mudahkanlah sehingga pekerjaan kami cepat selesai dan kami bisa bertemu lagi.
Ya Tuhan, lindungilah dia dalam tidurnya. Buatlah tidurnya lelap dan nyenyak, dan hadirkan daku dalam mimpi indahnya. Lindungilah daku dalam tidurku. Buatlah tidurku lelap dan nyenyak, dan hadirkan dia dalam mimpi indahku.
Ya Tuhan, lindungilah kami dalam waktu keterpisahan kami sampai akhirnya Engkau izinkan kami untuk dipertemukan dan dipersatukan lagi.
Ya Tuhan, kabulkanlah doa-doa kami, dan sampaikanlah kepadanya bahwa daku mencintainya. Semoga Engkau berkenan mengabulkan doa kami.
Amin.
...
Ada yang hilang, tanpa sapamu menjelang tidurku malam ini. Ada yang kosong, itu pasti. Kangenku terusik lagi. Bahkan, parah sekali, kali ini.
Di luar cerita, Yellow's POV
"Red-san?"
"Ya?"
"Apa yang terjadi kalau aku tiba-tiba menghilang?"
"Eh? Mengapa kau menanyakan hal itu?"
"Ya, aku pernah membayangkan kalau aku kehilangan Red-san, aku tidak yakin aku masih bisa waras atau tidak,"
"Benarkah? Mengerikan,"
"Ya, mengerikan. Aku bisa hanya mengurung diri di dalam kamarku, tidak makan, tidak minum, tidak mandi, ya, mungkin aku bisa gila,"
"Itu berarti itu adalah pertanyaan yang tidak seharusnya ditanyakan,"
"Benar juga, justru pertanyaan itu akan membuat kita stres sendiri, benar kan, Red-san?"
"Benar sekali. Karena itulah bagaimana kalau kita memikirkan hal yang membuat kita bahagia saja?"
"Aku setuju,"
"Walaupun sebenarnya, mungkin kalau kau menghilang, aku akan susah tidur karena kangenku padamu akan melebihi energi setruman Volt Tackle," kataku, lalu aku tertawa.
"Wah, besar sekali berarti tenaganya," kata Yellow.
"Ya, bisa dikatakan begitu. Karena itulah, ayo kita bicarakan hal yang menyenangkan saja," kataku.
"Ya. Aku ingin cerita tentang pancingan, bagaimana?" tanya Yellow.
"Boleh, aku jadi penasaran kalau kau bicara tentang memancing, maksudku, aku tidak terlalu paham tentang memancing. Coba kau ceritakan sedikit tentang memancing itu," kataku, penasaran. Lalu Yellow bercerita banyak tentang memancing, dari pancingan pertamanya, pancingan tersulitnya, alat pancing baru, sampai ketika dia mengikuti satu-satunya lomba memancing dan menang.
"Terus mengapa kau tidak ikut lomba itu lagi?" tanyaku.
"Kekuatanku. Mereka tidak mengizinkanku menggunakan telekinesis," katanya.
"Oh, baiklah, itu masuk akal karena hanya sedikit yang memiliki kekuatan itu," kataku.
"Aku juga tidak apa-apa, lagipula itu membuatku bisa memancing lebih tenang," kata Yellow.
"Bicara tentang memancing, bagaimana kalau kau melatihku memancing sekali-kali?" tanyaku.
"Benarkah? Tentu aku mau mengajarimu, Red-san!" serunya, senang.
...
Sepertinya telah habis kata ... hanya ada bahagia saja, malam ini—karenanya.
Red's POV
Ya, aku tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya diriku bisa bertemu Yellow, bahkan dengan triliunan kata. Hanya bahasa tubuhku yang bisa kulakukan.
Aku merangkul Yellow, Yellow merangkulku. Aku melingkarkan tanganku di pinggang kecil Yellow, sementara Yellow melingkarkan tangannya di leherku. Yellow sedikit berjinjit karena tinggi badanku yang sulit dijangkau Yellow, jadi aku membungkuk sedikit. Kemudian, Yellow menurunkan tangannya sehingga dia juga memeluk pinggangku, lalu Yellow menempelkan bagian samping kepalanya di dadaku dan wajahnya senang, matanya tertutup, sepertinya sedang memperhatikan suara detak jantungku.
Setelah beberapa lama, aku dan Yellow saling memandang dan saling memberikan senyuman. Aku membelai pipinya Yellow yang lembut, dan Yellow melakukan hal yang sama. Lalu aku mengelus rambutnya Yellow yang pirang panjang dan wangi itu, dan Yellow melakukan hal yang sama terhadap rambutku yang hitam jabrik ini.
Kembali kami saling memandang satu sama lain, dan kali ini tatapan kami lebih dalam. Dalam pikiran kami yang bergejolak, ada satu hal yang tetap sinkron antara pikiran kami. Aku bisa merasakannya karena Yellow memelukku lebih erat daripada yang tadi, dan aku juga melakukan hal yang sama. Akhirnya kami mendekatkan kepala kami dan menutup mata karena kami tahu apa yang akan terjadi berikutnya.
Ciuman dua orang yang dimabuk cinta.
...
Selalu kuiba damba untuk baikmu, kapan pun itu. Selamat tidur, Bebi ...
Yellow's POV
"Red-san?"
"Apa?"
"Main yuk?"
"Main apa?"
"Tebak-tebakan?"
"Tebak-tebakan apa?"
"Tebak-tebakan Pemegang Pokedex,"
"Oke, siapa takut?"
"Oke, siap ya?"
"SIAP!"
"Oke, dia rambutnya hitam, suka mengkhayal, dan sekarang di dalam batu,"
"Black!"
"Benar. Lagi! Lagi! Rambutnya hitam, punya luka di kepala, suka dandan,"
"Siapa lagi kalau bukan Ruby?"
"Benar lagi! Ada lagi. Dia berambut hitam, punya gelar Sang Petarung, dan dia orang yang sedang meneleponku sekarang,"
"Aku!"
"Benaaaaarrrr ..." aduh, tiba-tiba aku mengantuk. Sepertinya aku harus segera tidur.
"Wah, Yellow mengantuk ya?" tanya Red-san.
"Iya, Red-san, aku lelah," kataku, mulai lemas.
"Itu berarti kau harus tidur sekarang," kata Red-san.
"Tapi aku masih ingin bermain dengan Red-san,"
"Ingat, besok kita sekolah, nanti kalau teman-teman melihat kita berdua mengantuk, bagaimana?" tanya Red-san.
"Benar juga,"
"Sudah, tidurlah saja dulu," kata Red-san.
"Tapi aku jadi punya satu pertanyaan," kataku.
"Apa itu?" tanya Red-san.
"Siapa yang akan mematikan telepon ini?" tanyaku.
"Benar juga. Siapa menurutmu yang lebih cocok? Kau atau aku?" tanya Red-san.
"Kau saja, Red-san. Kau yang meneleponku kan?" tanyaku.
"Mengapa tidak kau saja, Yellow?"
"Kau saja, Red-san," kataku.
"Kau saja, Yellow," kata Red-san.
"Kau,"
"Kau,"
"Kau,"
"Kau,"
"Oke, aku punya ide," kata Yellow.
"Apa itu?" tanya Red-san.
"Batu-gunting-kertas virtual. Yang kalah harus mengucapkan selamat malam bagi yang menang dan menutup teleponnya. Jangan curang, Red-san," kataku.
"Oke. Siap, satu, dua tiga!" seru Red-san.
"Aku kertas. Kau apa, Red-san?"
"Batu,"
"Yeey! Aku menang. Aku menunggumu, Red-san," kataku.
"Oke, semoga mimpimu indah, Yellow. Selamat malam, manis," kata Red-san
"EEEHHHH!?" sayangnya salurannya sudah terputus.
Red-san, kau harus tanggung jawab besok telah membuatku aku tersipu malu setengah mati!
...
Tak usai mencecap gelisah ... mengantar jejakmu ke pulau mimpi. Baikmu selalu kuiba dalam doa tulus ikhlas.
Red's POV
Aku dan Yellow baru saja selesai menonton sebuah film di bioskop. Filmnya cukup menarik bagi kami berdua, yaitu tentang evolusi lanjutan Pikachu yang digambarkan seperti zombie. Ya, memang ini film horor. Aku heran mengapa Blue memberikan kami tiket film horor, padahal di waktu yang sama, ada film aksi yang seru.
Yellow terlihat takut tadi. Dia teus memeluk tangan kananku dan saat bagian mengerikannya datang, pelukanya semakin erat dan Yellow ingin menyembunyikan wajahnya di pundakku. Ya, dia sangat ketakutan, bahkan dalam perjalanan pulang kami kali ini, dia masih terlihat ketakutan.
"Sudah, Yellow, itu hanya film, yang kau lihat di film itu tadi tidak nyata," kataku.
"Ya, aku tahu itu tidak nyata, tapi tetap saja mengerikan," kata Yellow.
"Oke, bagaimana kalau aku menemanimu sampai kau tenang?" tanyaku.
"Sungguh? Red-san ingin melakukan itu untukku?" tanya Yellow.
"Ya, Yellow," kataku.
"Hmmm, baiklah, agar aku tidak terus-menerus terjebak dalam rasa takutku juga," kata Yellow. Akhirnya aku menemaninya sampai kami sampai ke rumahnya Yellow.
"Ya, kita sudah sampai,"
"Red-san?"
"Ya?"
"Temani aku terus, aku masih takut," kata Yellow. Aku hanya bisa tersenyum sambil mengelus-elus rambutnya, berusaha untuk menenangkannya.
"Baiklah kalau itu maumu," kataku.
Singkat ceritanya, Yellow akhirnya bisa tidur nyenyak di sampingku. Paling tidak rasa takutnya hilang sekarang. Aku senang kalau Yellow senang.
...
Detik ini, aku hanya ingin mengantarkannya tidur di batas pagi yang meniupkan napas keindahan bertubi-tubi. Semoga kau tahu, rindu ini tetap tak mau beranjak dari tepiku.
Red's POV
Aku dan Yellow sedang melihat langit malam yang penuh bintang. Keindahan langit malam kali ini mengalahkan rasa takut dan kedinginan kami. Aku dan Yellow melihatnya sambil berbaring, melihat luasnya beludru hitam dengan ribuan permata kecil tertempel di beludru itu. Beludru bernama alam semesta dan permata bermana bintang-bintang.
Yellow sangat terkesima oleh indahnya langit malam. Aku juga begitu. Kami melihat sebuah gumpalan agak putih yang ada di langit. Crystal pernah berkata pada kami bahwa itulah gakalsi tempat kita tinggal.
Lalu dalam beberapa waktu, kami melihat bintang jatuh. Mereka jatuh dari manapun mereka mau dan kami hanya bisa melihatnya sebentar sebelum mereka menghilang dalam beludru hitam itu. Yellow terlihat menutup matanya.
"Kau sudah lelah, Yellow?" tanyaku.
"Tidak, aku hanya berharap,"
"Apa yang kau harapkan?"
"Rahasia. Kalau aku beri tahu, harapannya tidak terkabul nantinya," kata Yellow usil.
"Oke, tak masalah," kataku. Lalu aku melihat dari arah timur, langitnya sudah lebih terang.
"Wah, matahari sudah akan terbit?" tanyaku.
"Apa, Red-san?"
"Mataharinya sudah akan terbit dan bahkan kita belum tidur," kataku. Yellow hanya terkekeh.
"Aneh, padahal biasanya aku akan langsung tidur. Melihat bintang benar-benar mesin waktu yang keren," kata Yellow.
"Aku setuju denganmu, Yellow," kataku.
"Ayo tidur," kata Yellow.
"Ya, ayo ke tenda," kataku. Lalu kami berdua masuk ke dalam tenda kami, dan saat akhirnya kami tertidur pulas, mataharinya terbit menyambut siapa saja, selain kami.
Karena kami tertidur pulas bersama pagi ini.
Di luar cerita ...
"Red-san?"
"Ya?"
"Menurutmu apa kita bisa seperti yang ada di buku ini?" tanya Yellow sambil menunjukkan buku itu.
"Ya, menurutku, itu bergantung isi bukunya apa," kata Red.
"Benar juga. Dalam satu bagian buku ini tertulis kalau sang pria merokok. Red-san, bolehkah aku meminta satu hal?" tanya Yellow.
"Apa itu?" tanya Red.
"Kumohon, jangan merokok. Aku tidak kuat nanti," kata Yellow.
"Tenang saja, aku tidak akan merokok. Kalau aku merokok, aku akan mati sia-sia. Padahal aku hanya ingin mati bahagia bersamamu, Yellow," kata Red sambil tersenyum kepada Yellow.
"Oh, Red-san, aku juga ingin mati bahagia bersamamu," kata Yellow yang langsung meluncurkan pelukan hangatnya untuk Red dan Red membalasnya dengan pelukan lembut.
"Red-san?"
"Ya?"
"Kau tidak apa-apa kan kalau Red-san memilihku? Aku hanya anak perempuan biasa yan bahkan tidak menarik," kata Yellow, sedikit gugup.
"Ayolah, Yellow, aku tidak peduli dengan hal seperti itu. Aku hanya memikirkan perempuan yang membuatku bahagia dan senang dalam menjalani hidupku, dan selama aku hidup, hanya kau yang bisa melakukannya, Yellow," kata Red sambil mengelus-elus Yellow.
"Benarkah, Red-san?" tanya Yellow, mulai menahan diri agar tidak menangis.
"Ya, aku benar, Yellow," kata Red. Akhirnya, Yellow tidak bisa menahan emosinya lagi dan akhirnya dia menangis di pelukan Red. Tangisan bahagia seorang perempuan karena laki-laki yang dia cintai juga mencintainya. Sebuah timbal balik cinta yang membuat semua orang iri terhadap mereka.
"Yellow?"
"Ya, Red-san?"
"Ayo kita pulang. Ini sudah sore,"
"Ya, Red-san,"
Akhirnya mereka berpindah dari bawah pohon favorit mereka menuju ke rumah. Buku itu juga dibawa oleh mereka berdua karena mereka masih ingin melanjutkan kegiatan mereka membaca buku itu sampai selesai.
Bab 4 selesai.
Tentang banyaknya perubahan dalam hidup yang membuat fic ini bertambah kaya, memang dunia ini dinamis sampai-sampai aku tak menyangka akan memakai pengalaman pribadi dalam pembuatan fic ini.
Dan bagian fic ini dibuat khusus untuk merayakan Hari Specialshipping ke-11, atau SS11YA, tanggal 28 September 2016. Ya, setahun setelah gerhana bulan total Specialshipping itu, dan setahun itu pula aku berjalan di Specialshipping, semoga fic ini bisa selesai.
BTW, fic ini mulai mendekati Dear You. Tapi bedanya, fic ini masih setengahnya. Masih ada banyak yang akan muncul.
Tugas kalian sekarang adalah memberikanku kripik jaran *dilaser* kritik dan saran agar fic ini bisa lebih baik lagi di masa depan.
RWD, keluar.
