Tsujigiri: an act where after receiving a new sword or developing a new fighting style or weapon test its effectiveness by attacking a human opponent.
Note: kata yang di-italic merupakan kata dalam bahasa asing atau tidak baku.
.
.
.
Chapter 09: Tsujigiri
Ketika Sakura sampai di Forty-Fourth Training Ground pagi itu ia dapat melihat Rock Lee yang di kedua tangan dan kakinya dipasangi beberapa besi yang menurut Sakura terlihat sangat berat. Tenten juga telah berada di sana namun tanpa senjata-senjata yang selalu di bawanya, kecuali sebuah pedang kayu yang disandarkan di pohon.
"Ohayou!" sapa gadis musim semi itu ketika ia telah sampai di hadapan salah dua anggota Tim Gai.
"Ohayou," balas Lee dan Tenten bersamaan, Lee dengan semangatnya dan Tenten dengan nada ceria.
"Lee-san, ketika kau bilang akan latihan dengan metode baru maksudmu itu?" Sakura menunjuk besi-besi yang terpasang di tangan dan kaki Lee serta yang berada di tanah.
Lee mengangguk dengan semangat kemudian memberikan gadis itu senyum lebar khasnya. "Aku yakin Sakura-san sudah memiliki stamina yang cukup dan juga kecepatan Sakura-san juga sudah lebih dari rata-rata. Dan aku ingin melatih Sakura-san untuk bisa bergerak dengan cepat dengan beban yang—mungkin—akan Sakura-san bawa ketika misi nanti."
Awalnya Sakura menatap Lee dengan horor. Tak perlu diberitahu pun Sakura tahu besi-besi yang dipasang di tangan dan kaki Lee sangat, sangat berat. Yang membuatnya terkejut adalah bagaimana Lee tetap bisa bergerak dengan normal tanpa terlihat bahwa ia terbebani, ia bahkan terlihat biasa saja, layaknya orang normal yang tidak sedang membawa apa pun. Namun mendengar alasan mengapa pemuda dengan semangat yang tak pernah padam tersebut ingin membuat dirinya mengenakan besi-besi tersebut membuatnya mengerti. Ia tidak boleh menyerah, mulai dari awal lagi tak apa, kan?
"Jangan khawatir, Sakura, besi untukmu tidak seberat yang sedang dipakai Lee sekarang. Yang akan kaupakai nanti merupakan besi yang paling ringan. Kalau kau sudah bisa membiasakan menggunakan besi tersebut—ah, aku lupa, kau diwajibkan untuk tetap mengenakan besi-besi tersebut di luar latihan untuk membiasakan diri, kalau kau sudah terbiasa, sedikit demi sedikit Lee akan mengganti besimu dengan yang lebih berat," jelas Tenten padanya. Ia merasa ingin menganga saat itu juga ketika mendengarnya, namun Sakura menahan diri dan hanya mengangguk. Kalau ia bisa bertambah kuat maka ia akan melakukannya, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya.
"Kalau begitu bisa kita mulai sekarang?"
Lee tersenyum lebar mendengar nada suara Sakura. Tanpa berkomentar Lee mengambil empat besi paling ringan kemudian memberikannya pada Sakura. "Pasang di masing-masing tangan dan kaki."
Sakura menuruti perintah Lee tanpa berkata apa pun. "Ringan?" Sakura mengangguk, besi-besi tersebut hanya terasa seperti ketika ia membawa dua kantung belanjaan di kedua tangannya hanya saja kakinya sedikit terasa berat namun itu bukan masalah baginya. Lee kembali memberikan empat besi padanya, memerintahkan dirinya untuk memasang besi-besi tersebut.
"Bagaimana?" tanya pemuda dengan alis tebal tersebut.
"Ah, lumayan berat namun tak masalah bagiku."
Lee mengangguk. "Aku ingin menambah bebannya, namun kita coba seperti ini dulu. Lari sepuluh menit tak masalah, Sakura-san?" tanya Lee padanya. Sakura menggeleng sebagai jawaban yang dibalasan dengan anggukan oleh Lee.
Sebelum mereka lari, Lee menyuruh mereka untuk pemanasan dulu agar otot mereka tidak tegang. Apalagi Sakura baru pertamakali lari dengan membawa beban di kaki dan tangannya. Tenten telah memasang besi yang lebih berat dari Sakura namun lebih ringan dibanding milik Lee.
Sebelum mereka mulai lari, Lee mengingatkan Sakura agar ia tidak memaksakan diri dan memulai dengan lari-lari kecil saja. "Kalau merasa tidak kuat, katakan pada kami," ujarnya pada Sakura yang hanya dibalas dengan anggukan.
Ketika mereka baru mencapai waktu lima menit, Sakura merasa bahwa beban yang ia bawa terasa semakin berat rasanya ia ingin berhenti lari dan hanya jalan saja namun ia memaksa dirinya untuk melanjutkan terus. Mengingatkan dirinya bahwa ia hanya perlu menahan beban tersebut hingga lima menit ke depan, maka Sakura terus melanjutkan larinya.
Setelah sepuluh menit terlewati dan mereka telah berhenti berlari, Sakura merasa lelah sekali. Rasanya ia ingin melepaskan besi-besi di tangan dan kakinya kemudian tidur saat itu juga, namun ia menahan dirinya. Lee dapat melihat keletihan di wajah Sakura, maka ia mendekati gadis yang kini tengah berusaha memegang botol tanpa membuat tangannya bergetar.
"Masih bisa melanjutkan latihan, Sakura-san?" tanya Lee yang tidak terlihat lelah sedikit pun bahkan pemuda tersebut belum mengeluarkan keringat—ia masih terlihat segar.
Sakura, berusaha mengatur napasnya yang terpenggal akibat kelelahan namun gagal, menjawab dengan suara yang sedikit tercekat, "Ah, a—aku hanya butuh i—istirahat lima menit."
Lee menangguk kemudian meninggalkan Sakura, membiarkan gadis itu istirahat sejenak untuk meluruskan kakinya. Pemuda itu kemudian berjalan ke arah Tenten yang tengah melatih gerakan-gerakan barunya tak jauh dari tempat Sakura duduk.
Sakura memperhatikan kedua orang tersebut. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan staminanya hanya karena besi-besi yang beratnya tak seberapa tersebut. Mengingat suaranya ketika menjawab pertanyaan Lee tadi membuatnya ingin mengubur dirinya. Melihat bagaimana Tenten dan Lee tak terlihat lelah sedikit pun membuat dirinya merasa masih lemah.
Ia mendesah sebelum berdiri dan mendekati Tenten dan Lee. Dirinya memutuskan bahwa jika ia ingin menjadi kuat maka dirinya harus bisa berdiri sejajar dengan Tim Gai karena menurutnya berdiri sejajar dengan Naruto dan Sasuke masih jauh di angan-angannya.
"Lee-san, kita bisa mulai kembali!" ujar Sakura berusaha terdengar semangat ketika ia telah berada di belakang Lee dan Tenten yang tengah mendiskusikan hal yang ia tak mengerti.
Keduanya menengok ke belakang dan mendapati Sakura yang tengah tersenyum pada mereka. Lee dan Tenten saling memandang sebelum kemudian Lee membalas senyuman Sakura dengan lebar sambil mengacungkan jempolnya pada Sakura.
Setelah itu mereka melakukan push-up, sit-up, back-up, spider lunge, glute bridge, plank tap squat, squat jump, side lunge, jumping lunge, single-leg deadlift, reverse lunge, dan walkout masing-masing dua set serta diakhiri dengan plank selama tigapuluh detik—seluruh tubuh Sakura bergetar ketika ia melakukan plank akibat kelelahan dan menahan bebannya walau hanya tigapuluh detik membuat dirinya merasa bahwa ia sudah di ambang batasnya. Bahkan ketika mereka melakukan pendinginan ia akhirnya menggunakan cakranya karena tenaganya—staminanya telah terkuras habis. Kalau ia tak menggunakan cakra, Sakura yakin saat pendinginan ia pasti sudah tak sanggup untuk berdiri.
Setelah selesai latihan yang memakan waktu hanya satu jam tersebut, Sakura menyeret dirinya—yang sudah penuh dengan peluh—ke bawah pohon sebelum kemudian menjatuhkan dirinya. Sakura mengerang ketika ia menjatuhkan seluruh tubuhnya ke samping. Tenten menghampiri gadis merah muda tersebut dan terkekeh ketika melihat Sakura yang tepar di atas tanah dan memejamkan matanya.
"Masih ingin mengunjungi tokoku, Sakura?" tanya Tenten dengan nada menggoda sebelum ia tertawa kecil. Sangat jarang melihat Haruno Sakura, gadis dengan kekuatan yang bisa membuat tanah bergetar, kelelahan seperti saat ini. Ia hanya pernah melihat Sakura kelelahan ketika ia bekerja di rumah sakit lebih lama dan menghabiskan cakranya untuk mengobati pasien, itu pun Sakura terlihat masih memiliki tenaga setidaknya untuk berjalan.
Sakura membuka matanya ketika mendengar suara Tenten. Gadis bercepol dua itu sedang menunduk memandanginya yang—menurutnya—terlihat menyedihkan. Sakura membangunkan dirinya, berusaha untuk duduk. "Tentu saja. Hanya berikan aku istirahat sejenak untuk mengembalikan tenagaku."
.
.
.
Sakura beristirahat selama tigapuluh menit. Tenaganya telah pulih kembali namun rasa lelah masih terasa, bahkan seluruh badannya terasa sakit membuatnya ingin pulang ke apartemennya kemudian berendam air hangat untuk menghilangkan rasa letih dan meregangkan otot-ototnya yang menegang.
Ia dan Tenten tengah berjalan menuju toko senjata milik keluarga gadis bercepol itu. Sakura tidak melepaskan besi-besi tadi dari tangan dan kakinya. Jalannya masih sedikit terseret, namun tubuhnya mulai terbiasa dengan beban-beban tersebut. Kalau ia terus seperti ini mungkin kurang lebih dalam seminggu ia bisa meningkatkan beban besi-besi tersebut.
Tenten, walau pun seharusnya ia boleh melepaskan besi-besi tersebut dari tubuhnya, masih mengenakan beban tersebut. Ketika Sakura bertanya alasan kenapa gadis tersebut tidak melepaskan besi miliknya. Tenten hanya mengedikkan bahunya dan menjawab, "Aku harus 'menemanimu', tahu? Setidaknya aku akan mengenakannya hingga kita sampai di toko. Lagipula Tim Gai sepakat bahwa di antara kami tidak ada yang boleh makan tulang kawan* dan aku mengaplikasikan hal tersebut tak hanya di dalam tim namun juga di luar tim."
Sakura merasa kagum dengan Tim Gai karen mereka tidak membiarkan satu pun dari anggotanya sengsara. Jika salah satu mereka sakit, maka yang lainnya juga sakit. Jika salah satunya senang, maka yang lainnya juga senang. Layaknya saudara kembar yang memiliki ikatan kuat sehingga dapat merasakan suka duka satu sama lain.
Ketika mereka sampai di toko, sesuai dengan omongannya, Tenten melepaskan besi-besinya dari kaki dan tangannya kemudian menyimpan besi-besi tersebut di balik konter. Saat Sakura masuk ke dalam (jujur saja, selama ini ia tak pernah mengunjungi sebuah toko persenjataan karena senjata yang ia pakai hanya kunai dan shuriken) ia dapat melihat berbagai jenis senjata yang digantung di dinding bercat merah. Lucunya—menurut Sakura—ia merasa seperti masuk ke toko alat musik, hanya saja kali ini yang dijual adalah senjata. Dan memang jika harus mendeskripsikan seperti apa toko persenjataan tersebut ia akan menjawabnya seperti itu, karena tak ada cara yang lebih tepat untuk menjelaskannya. Kau hanya perlu membayangkan sebuah toko alat musik kemudian mengganti barang-barang yang dijual menjadi senjata dan dinding yang biasa bercat putih diganti menjadi merah dan voila jadilah toko persenjataan.
Sakura memperhatikan senjata-senjata tersebut satu persatu. Maniknya menjelajahi seluruh ruangan yang dipenuhi senjata tersebut. Ada beberapa senjata yang tak pernah Sakura lihat. Ketika ia selesai melihat-lihat, perhatiannya kembali ke Tenten yang kini tengah bersandar di konter sambil memperhatikan Sakura.
"Mau kujelaskan beberapa hal?" tanya gadis bercepol tersebut pada Sakura ketika dirinya mendekat. Ia hanya mengangguk sebagai balasan. Tenten terkekeh melihat mata Sakura yang menunjukkan rasa antusiasnya. "Kau tidak terlihat seperti seseorang yang kelelahan."
Sakura mengerjapkan matanya. Ketika sadar bahwa ia memperlihatkan rasa antusiasnya seperti anak kecil yang akan dibelikan dango oleh ibunya, wajah Sakura sedikit memerah sebelum menjawab, "Ah, aku bisa melupakan rasa lelahku jika seseorang dapat membuatku antusias." Tersenyum kecil kemudian ia melanjutkan, "tolong jelaskan padaku."
"Well," mulainya. Ia berjalan memutari konter dan mendekati sebuah rak senjata yang berisi bermacam-macam pedang. "Karena kemarin kau bilang ingin menggunakan katakana aku akan menjelaskan beberapa hal mengenai pedang, terutama katakana."
Jeda sejenak. Tenten terlihat sedang berpikir untuk memilih kata-kata yang tepat agar Sakura mengerti. "Pertama-tama, perlu diingat bahwa katakana sebenarnya digunakan oleh samurai, namun banyak ninja yang memilih katakana sebagai senjata mereka." Gadis dengan manik coklat tua itu mengambil sebuah pedang melengkung yang terlihat seperti katakana bagi Sakura. "Ciri khas katakana adalah bentuk bilahnya melengkung, gagangnya bulat, dan warna bilahnya perak mengkilat."
Tenten kemudian mengembalikan katakana tersebut kembali ke tempatnya sebelum ia mengambil pedang lain yang ukurannya lebih kecil. Gadis itu memperlihatkan pedang tersebut pada Sakura kemudian berkata, "Ini adalah wakizashi, pedang ini adalah pedang pendamping katana. Bentuknya bahkan mirip dengan katakana, namun bilahnya hanya melengkung sedikit. Beberapa orang menggunakannya secara bersamaan dengan katakana, namun terkadang hanya dijadikan sebagai cadangan. Namun hanya samurai yang menggunakan wakizashi dan semua samurai memilikinya." Ia meletakkan kembali pedang tersebut. "Ninja hanya menggunakan katakana saja, aku jarang mendengar ninja yang menggunakan katakana dan wakizashi. Bahkan aku hampir tidak pernah mendengar ninja yang memiliki wakizashi."
"Hmm," Sakura bergumam sambil mengangguk-angguk. "Aku tak pernah tahu itu."
Tenten tersenyum pada Sakura. "Memang tak banyak yang tahu," ucapnya sambil mengambil sebuah pedang lurus berwarna kehitaman. "Ini pedang khusus ninja. Nama pedang ini adalah ninjato. Ciri khas ninjato adalah bilahnya yang lurus, warnanya yang kehitaman, dan gagangnya yang berbentuk kotak."
Sakura kemudian bertanya ketika mendengar penjelasan Tenten tentang ninjato, "Kalau itu pedang khusus ninja, lalu kenapa aku jarang melihat ninja yang menggunakan ninjato? Aku bahkan lebih sering melihat ninja menggunakan katakana dibanding ninjato."
Tenten mengembalikan ninjato ke tempatnya kemudian ia berjalan ke rak yang lain. "Ah, mungkin mereka jarang memakainya. Tapi memang jumlah ninja yang membeli katakana di toko ini jauh lebih banyak dibanding ninja yang membeli ninjato. Namun sebagian besar ninja yang membeli ninjato juga selalu membeli katakana. Jadi bisa dibilang ninjato merupakan pedang pendamping katakana bagi ninja."
Mereka telah sampai di rak senjata-senjata yang memiliki rantai. Sakura kurang tahu senjata-senjata tersebut, namun ada satu atau dua senjata yang ia ingat pernah digunakan oleh Tenten di ujian chuunin dan juga di beberapa misi.
Tenten mengambil senjata yang rantainya cukup panjang dengan ujung yang terlihat seperti arit. "Ini senjata kesukaanku," ucap Tenten sambil mengelus senjata tersebut. "Nama senjata ini kusarigama, aku pernah memakai ini saat ujian chuunin, kau ingat?" ujarnya pada Sakura. Gadis itu menatap Sakura sambil memberikan cengirannya.
"Aa, aku ingat," jawab Sakura. "Dan kau juga menggunakannya di beberapa misi."
"Ah, ya, tapi mungkin yang kau maksud itu manriki-gusari." Tenten menunjuk senjata lain yang tergantung di rak. "Aku jarang membawa kusarigama kecuali di misi level A atau S."
"Oh."
"Well, perlu diketahui kusarigama adalah senjata baik untuk menyerang mau pun melindungi dirimu. Sungguh, senjata ini sangat efektif karena kau bisa menghentikan gerakan musuh dengan kusarigama," jelas Tenten antusias. "Panjang rantai kusarigama kurang lebih seribu hingga empatribu milimeter. Ujungnya berbentuk sabit dan—aku jamin—sangat mematikan."
"Sementara manriki-gusari," ucapnya sambil menaruh kusarigama kembali ke tempatnya dan mengambil manriki-gusari yang terlihat lebih pendek. "Adalah senjata tersembunyi dan kau hanya bisa menggunakannya untuk melindungi dirimu, kau tidak bisa menyerang musuh hanya dengan ini. Kecuali kalau lawanmu adalah warga sipil."
Sakura tertawa mendengar kalimat terakhir Tenten yang dibalas dengan cengiran oleh sang pemilik toko. "Bentuk senjata ini simple. Hanya ada dua besi di masing-masing ujung rantai dengan berat rata-rata tiga ratus hingga empat ratus gram. Panjang rantai tergantung dari tiap-tiap toko. Aku meminta pada penempa senjata agar membuatnya lebih pendek daripada kusarigama. Kurasa si penempa tersebut mengatakan padaku panjangnya sekitar tujuhratus hingga sembilanratus milimeter."
Setelah menaruh kembali manriki-gusari tersebut ke tempatnya, Tenten membawa Sakura kembali ke konter. Gadis tersebut masuk ke dalam konter dan membuka kunci etalase konter tersebut. Sang pemilik toko mengeluarkan beberapa senjata-senjata kecil dan menaruhnya di atas konter.
"Kusarigama merupakan senjata berat kesukaanku," ucap Tenten. "Namun ketika misi aku lebih suka membawa senjata-senjata kecil seperti kunai atau shuriken dan senjata-senjata di atas sini."
Sakura mengambil salah satu senjata yang terlihat seperti cakar hewan.
"Oh, itu tekko-kagi. Kau menggunakannya saat sedang bertarung menggunakan taijutsu, kujamin sangat efektif, ringan, dan mematikan," ujar Tenten memberikan seringaian yang terlihat seperti predator bagi Sakura. "Terbuat dari besi dan ditempa oleh penempa terhebat di Konoha. Bentuknya seperti empat cakar beruang yang menempel di besi oval."
"Besi oval ini digunakan sebagai pegangan, kau harus memegangnya dengan erat kalau tidak ingin senjata ini terjatuh. Terkadang banyak yang mengakalinya dengan mengikatkan tali dari besi oval trsebut di pergelangan tangan, namun sekarang banyak yang memesan agar besi oval tersebut diganti dengan sarung tangan agar lebih efektif. Aku memesang beberapa yang dibuat menjadi sarung tangan." Tenten menunjuk ke senjata yang tergeletak di samping kunai.
Sakura mencoba senjata tersebut di tangannya. "Oh!" serunya sambil mengibaskan tangannya seperti beruang yang mencari mangsa. Sakura tertawa kecil setelah mencobanya. "Aku suka ini."
"Hmm, aku juga suka ini," jawab Tenten. "Ada dua jenis tekko -kagi. Cakar yang berada di punggung tangan dan yang cakarnya tersembunyi di telapak tangan."
"Sugoi," ucap Sakura dengan mata berbinar.
Tenten memangku dagunya di tangan kanannya, sambil memperhatikan Sakura ia memberikan sebuah senjata bergerigi tajam pada gadis musim semi tersebut. "Ini tekken, fungsinya sama seperti tekko-kagi. Biasanya aku menjadikannya sebagai pendamping tekko-kagi. Jadi sebelah tanganku memegang tekko-kagi dan sebelahnya tekken." Sakura dapat melihat kilatan gembira di mata coklat Tenten ketika gadis itu menjelaskan padanya. "Panjang tekken kurang lebih seratus hingga seratus duapuluh milimeter dengan berat dua ratus hingga dua ratus limapuluh gram. Ada dua jenis tekken, yang satu di mana ia hanya memiliki tiga gerigi dan yang satunya memiliki lima gerigi dengan tambahan dua gerigi di masing-masing ujungnya. Kemudian ada tekken yang memiliki pegangan seperti tekko-kagi da nada yang bisa kau gunakan seperti cincin."
Tenten meletakkan tekken tersebut ke atas konter kemudian mengambil sebuah senjata sekecil cincin. "Ini kakute. Ini senjata tersembunyi, kau gunakan seperti cincin dan geriginya kau sembunyikan di dalam telapak tangan. Biasanya kau gunakan untuk menyusup dan berpura-pura menjadi teman musuh, kau bisa menaruh racun di gerigi kemudian ketika kau bersalaman dengan musuhmu ia akan tertusuk gerigi dan boom musuhmu akan terkena racun mematikan milikmu."
Sakura berdecak kagum setelah mendengar penjelasan Tenten. Ada banyak senjata yang tidak ia ketahui dan itu membuatnya ingin menguasai seluruh senjata tersebut. "Ck, mendengar penjelasanmu membuatku ingin membeli seluruh senjata yang kau jelaskan tadi."
Tenten mengangkat sebelah alisnya kemudian tersenyum pada Sakura. Kedua tangannya memangku dagunya. "Oh? Menurutmu kenapa aku hanya menjelaskan beberapa senjata saja, Sakura?"
"Karena aku tidak banyak tahu mengenai senjata?" jawab Sakura dengan nada tak yakin.
"Machigatta." Masih tersenyum, Tenten memiringkan kepalanya sambil memandang Sakura. "Salah, Sakura. Kau sendiri yang bertanya padaku kemarin apa senjata yang cocok untukmu. Jadi aku membawamu hari ini ke sini dan hanya menjelaskan padamu senjata-senjata yang menurutku cocok untukmu. Yang berarti seluruh senjata yang kujelaskan tadi bisa kaugunakan, semua atau pilih salah satu terserah padamu." Kemudian ia mengedikan bahunya.
"Termasuk pedang-pedang tadi?"
"Hmm."
"Kau yakin?"
"Sangat."
"Tapi aku bahkan tidak tahu cara menggunakannya," ujarnya lemah.
Tenten mengerutkan keningnya ketika mendengar pernyataan Sakura kemudian ia mendesah. "Maka itu aku akan melatihmu, Sakura. Kau sendiri yang meminta padaku, ingat?"
Mata Sakura berbinar ketika mendengarnya. "Kau akan melatihku?" tanyanya dengan antusias.
"Tentu saja. Tapi sebelum itu." Tenten membuka sebuah lemari tua yang berada di balik konter. Ketika ia membuka lemari tersebut Sakura bisa melihat pedang-pedang kayu yang menumpuk di dalamnya. Gadis pemilik toko tersebut kemudian melempar dua pedang kayu ke arah Sakura yang ditangkap tanpa meleset olehnya. "Yang terlihat seperti katakana adalah bokken. Yang berbentuk kotak adalah shinai. Aku memberikannya padamu, gratis, mulai sekarang setiap kita latihan bawa kedua benda tersebut, mengerti?"
"Ha'i, shishou!" seru Sakura membuat Tenten terkekeh.
"Tak perlu formal, Sakura. Aku hanya senang ada kunoichi yang tertarik menggunakan senjata. Sejauh ini kunoichi yang kukenal menggunakan senjata hanya Temari. Ada yang ingin kau tanyakan, Sakura?"
"Oh, aku hanya ingin bertanya bagiaman cara kau menggunakan kusarigama?"
"Ah, itu. Aku menyarankan kalau kau menggunakan kusarigama, gunakan hanya pada lawan yang menggunakan senjata. Karena kusarigama digunakan untuk menghentikan musuhmu dan senjatanya dengan melilitkan rantai di senjata atau lengan musuh. Kemudian kau menggunakan sabitnya untuk menghabisi musuh, minimal kau memotong tangannya," ujar Tenten santai. "Kalau lawanmu tidak memiliki senjata dan hanya menggunakan taijutsu, kau bisa menggunakan manriki-gusari untuk menghentikan gerakan lawan."
Sakura mengangguk-angguk mendengar penjelasan yang lebih dari jelas tersebut dari Tenten. "Jadi, aku bisa menggunakan semua senjata yang kau sebutkan tadi?"
"Oh, semua itu terserah padamu. Aku hanya menunjukkan senjata untukmu."
Setelah itu mereka mengobrol tentang hal lain. Tenten memberinya tips-tips gerakan taijutsu yang bisa menjatuhkan Lee dalam sekejap, lalu ia juga mengingatkan Sakura tentang beban besi yang akan bertambah setiap ia terbiasa (Tenten mengatakan tersebut karena gadis itu tersadar Sakura terlihat tidak sedang membawa beban sama sekali yang ditepis oleh Sakura).
Keduanya berbincang agak lama sebelum mata Sakura menemukan jam dinding yang dipasang tepat di atas lemari. Matanya membulat ketika melihat jam telah menunjukkan pukul dua siang, tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Ternyata mengobrol dengan Tenten tanpa sadar membuatnya lupa bahwa ia memiliki jadwal operasi jam tiga nanti. Menenangkan dirinya yang panik, Sakura berujar dengan nada menyesal. "Ah, Tenten. Maaf aku harus pergi sekarang, ternyata aku menghabiskan waktu di sini sampai lupa waktu. Aku ada jadwal operasi setelah ini."
"Kalau begitu, sampai jumpa minggu depan!"
Sakura melambaikan tangannya ketika ia telah mencapai dahan pintu. "Aa," balasnya kemudian ia keluar dari toko. Jarak tercepat menuju Rumah Sakit Konoha adalah dengan melompati loteng-loteng rumah warga. Jadwal operasi memang satu jam lagi, tapi bukan berarti Sakura bisa bersantai. Maka Sakura lompat ke atas loteng dan melompati satu persatu rumah warga.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Sakura merutuki dirinya karena lupa waktu. Padahal niat awal ia akan menyelesaikan aktifitas latihannya jam duabelas dan pergi ke rumah sakit setelah itu. Namun sepertinya kelelahan dan rasa antusiasnya ketika masuk toko senjata Tenten tadi membuatnya lupa niatan awalnya. Memang benar jadwal Sakura di rumah sakit hari itu hanya ada satu operasi, tapi dia juga harus stand-by di sana kalau-kalau ada shinobi yang membutuhkan bantuannya untuk mengobati luka.
Ketika Sakura sampai di depan rumah sakit, ia melihat Neji dan Shikamaru yang berjalan masuk ke dalam. Awalnya ia senang mengetahui bahwa keduanya sudah pulang dari misi yang berarti mereka dapat melanjutkan latihan, namun keningnya berkerut ketika ia melihat Neji yang memapah Shikamaru pelan-pelan.
Sakura cepat-cepat menghampiri mereka. "Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi dengan nada khawatir ketika sampai di samping mereka.
Kedua pemuda tersebut menengok ke arah datangnya suara dan sedikit terkejut ketika menemukan Sakura di sana. "Sakura," sapa keduanya bersamaan.
"Kukira kau sedang latihan," ujar Shikamaru memberikannya senyum. Wajah pemuda nanas tersebut terlihat pucat dan peluh membasahi keningnya.
"Aku ada operasi hari ini," jawab Sakura. "Tapi jawab pertanyaanku, ada apa? Apa yang terjadi?"
"Shikamaru mematahkan kaki kanannya," jawab Neji tenang.
Mata Sakura membulat. "Apa? Bagai—ah, itu bisa nanti. Sekarang kau cepat ke ruanganku," ujar Sakura kemudian ia mengamit lengan kiri Shikamaru kemudian mengalungkannya di lehernya. "Seperti ini lebih cepat."
Ketika mereka masuk ke ruangan Sakura, Neji dan dirinya langsung menidurkan Shikamaru di kasur pasien yang berada di dalam ruangannya. Insting iryonin Sakura tengah mengambil alih (ia bahkan tidak mempedulikan gelang-gelang besinya yang masih terasa berat) dan dengan tangkas ia memeriksa kaki kanan Shikamaru dengan cakra hijau yang berpendar di kedua tangannya. Setelah ia selesai memeriksa, Sakura sedikit bernapas lega. Namun sebelum mengatakan apa pun Sakura memukul-mukul pelan kaki Shikamaru dan terdengar erangan kecil yang keluar dari mulut pemuda tersebut.
"Kau bisa merasakannya?" tanya Sakura yang hanya dibalas anggukan oleh pemuda nanas tersebut. Sekali lagi Sakura bernapas lega karena ada kemungkinan hasil pemeriksaannya salah (akibat kehabisan tenaga saat berlatih dengan Lee tadi walau ia hanya menggunakan cakra pada saat pendinginan) dan Shikamaru akan menjawab 'tidak'. "Tulangmu hanya retak, masih tersambung. Namun kau harus menggunakan gips selama paling tidak satu bulan—yang berarti aku melarangmu untuk pergi misi, kau dengar?—agar posisi tulangmu yang retak tidak bergerak sehingga retakan tersambung lagi."
Sakura kemudian berkata, "Kuharap kau tidak menyukai celanamu." Kemudian ia merobek celana abu-abu yang dikenakan Shikamaru. Ia membuang robekan celana tersebut secara asal ke lantai. "Dan luka di kakimu lumayan parah. Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Sakura dengan nada khawatir.
Sakura mengambil kain yang telah sebelumnya telah dibasahi air yang diberi antiseptik olehnya dan membersihkan luka pemuda tersebut. Kemudian seperti biasa ketika ia mengobati luka, iryonin muda tersebut memberi obat merah. Setelah selesai, Sakura langsung mengalirkan cakra di luka pemuda tersebut. "Aku tidak bisa menutup lukamu dengan sempurna karena aku membutuhkan cakra untuk operasi setelah ini."
"Aa. Tak apa," jawab Shikamaru.
Sakura kemudian melilitkan perban di kaki Shikamaru secara perlahan. Setelah selesai ia berkata, "Aku akan memanggil yang lain untuk menyelesaikannya karena operasi dimulai tigapuluh menit lagi."
"Cobalah untuk tidak bergerak, aku tahu kau berbakat dalam bidang itu." Sakura mengalihkan pandangannya pada Neji. "Kau terluka, Neji?"
Neji yang sedaritadi bersandar di dinding sambil menunduk tanpa mengeluarkan suara sedikit pun mengangkat kepalanya kemudian menatap gadis dengan rambut gulali tersebut. "Aa, tapi hanya luka ringan."
Sakura mengangguk. "Duduklah biar kutangani."
Neji menggeleng. "Aku bisa minta yang lain. Simpan saja cakramu untuk operasi, selain itu kau terlihat lelah terutama dengan gelang-gelang besi yang terpasang di kaki dan tanganmu. Mengingatkanku dengan seseorang."
Sakura menunduk memandangi gelang-gelang besi tersebut. "Oh. Ini," ucapnya. "Akan kujelaskan nanti. Sementara kalian beristirahat dulu di sini, aku tahu kalian pasti lelah setelah pulang misi. Ah, selain itu kau bisa memakai kursiku, Neji, di sana nyaman setidaknya untuk tidur."
Ia membersihkan seluruh barang-barang yang tadi ia keluarkan. Kemudian berjalan ke pintu sebelum berbalik menghadap mereka lagi. "Aku akan memanggil seseorang untuk menyembuhkan lukamu. Sekali lagi kau bisa menggunakan kursiku, Neji." Sakura kembali menghadap pintu. "Istirahat lah, aku akan berusaha menyelesaikan operasi dengan cepat. Setelah itu aku akan mengurus tulang retakmu, Shikamaru."
Dan Sakura menghilang dari balik pintu menuju ruang operasi.
.
.
.
Sakura menyelesaikan operasinya tiga jam kemudian. Itu adalah waktu tercepat yang pernah ia lewati ketika melakukan operasi karena biasanya setidaknya ia membutuhkan waktu empat jam paling sebentar untuk melaksanakan operasi.
Ia bergegas ke ruangannya. Setidaknya Shikamaru pasti masih di sana karena dirinya harus mengurusi kakinya yang retak. Namun ia terkejut ketika mendapati Neji masih di sana. Keduanya tengah tertidur ketika ia masuk. Shikamaru masih di atas ranjang pasien; Neji tertidur di kursi miliknya. Sakura menghela napas pelan kemudian tersenyum kecil.
Ia mencoba menutup pintu dengan perlahan agar tidak membangunkan keduanya, namun usahanya gagal karena Neji telah membuka matanya ketika terdengar suara pintu yang ditutup.
"Sakura," panggilnya dengan suara serak layaknya orang yang baru bangun tidur.
"Maaf membangunkanmu. Kukira kau sudah pulang karena lama menungguku." Sakura menghampiri Shikamaru yang tertidur dengan lengan yang menutupi wajahnya. Ia menepuk lengan pemuda tersebut dengan pelan. "Shikamaru?"
Shikamaru mengintip dari balik lengannya saat mendengar seseorang memanggil namanya. "Sakura…" erangnya ketika mendapati gadis dengan warna rambut tak lazim lah yang membangunkannya.
"Aku akan mengalirkan cakra pada tulangmu yang retak agar mempercepat proses penyembuhan. Setelah itu akan kupasangkan gips, oke?"
Shikamaru hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia masih sangat mengantuk, belum lagi ia kelelahan sehabis pulang misi. Namun ia berusaha melawan rasa kantuknya, setidaknya sampai Sakura selesai mengobatinya. Setelah itu ia ingin pulang dan tidur hingga esok hari tanpa ada yang mengganggunya.
Sakura mengalirkan sisa-sisa cakranya ke kaki kanan Shikamaru. Mungkin setelah ini ia akan menginap di rumah sakit atau tidak. Entahlah, dirinya lelah sekali ingin pulang saat itu juga, berendam air hangat dan tidur di atas kasur empuknya hingga esok hari.
Setelah ia selesai mengalirkan cakra dan memasang gips di kaki Shikamaru, ia bernapas lega karena hari itu seluruh pekerjaannya selesai. Sakura merenggangkan tubuhnya sebelum mengalihkan pandangan pada dua pemuda yang berada di dalam ruangannya. "Kalau kalian lelah, kalian bisa mampir ke apartemenku yang hanya berjarak lima menit dari rumah sakit."
Keduanya tidak menolak, apalagi rumah mereka lumayan jauh dari rumah sakit dan keduanya sangat, sangat, sangat ingin istirahat saat itu juga. Tiga jam istirahat di ruang kerja Sakura terbukti tidak cukup bagi mereka. Apalagi Neji tidur di kursi membuat seluruh tubuhnya sakit.
Neji dan Sakura memapah Shikamaru dari rumah sakit menuju apartemennya. Ketika ketiganya keluar dari rumah sakit mereka berpapasan dengan Ino yang baru akan masuk ke dalam.
Manik aquamarine Ino membulat saat melihat gadis musim semi tersebut. Kemudian ia tersadar bahwa Sakura tengah memapah seseorang sehingga pandangannya beralih kepada pemuda yang tengah dipapahnya dan terkejut kala mendapati Shikamaru dengan gips yang terpasang di kaki kanannya.
"Yamanaka," sapa Neji.
Ino mengangguk dan membalas sapaan pemuda Hyuuga tersebut. "Neji-san." Kemudian beralih kembali pada Sakura dan Shikamaru. "Sakura…"
"Ino," balasnya dengan wajah datar. Ino sedikit meringis mendengar nada suara Sakura yang terdengar sedikit dingin.
Tak ada yang bersuara setelah itu. Suasana di antara mereka sangat kaku dan canggung, Ino memutuskan untuk pergi dari sana karena sudah tak tahan dengan keheningan di antara mereka. "Aku masuk dulu, sampai jumpa," ucap gadis pirang tersebut dengan kaku sebelum ia kemudian masuk ke dalam rumah sakit cepat-cepat tanpa menengok kembali ke belakang.
"Kuasumsikan kau sudah berbicara padanya," ujar Shikamaru yang hanya dibalas gumaman tidak jelas dari Sakura. "Dan?"
Sakura menghela napasnya, tak ingin membicarakan masalah tersebut. Ia lelah dan membicarakan hubungannya dengan Ino akan menambah rasa lelah di otaknya. "Akan kujelaskan lain waktu," ucapnya dengan nada final.
Neji tak bersuara sedikit pun. Ia hanya melirik kedua orang di sampingnya. Ketika Sakura meminta saran dari dirinya dan pemuda Nara tersebut, Neji sedikit kebingungan harus berkata apa karena ia hampir tidak pernah berada di posisi gadis Haruno tersebut. Pun jika ia berada dalam situasi Sakura sekarang, ia yakin seratus persen bahwa ia tidak akan memedulikannya. Jadi saat mereka mengunjungi apartemen Sakura di hari pertama mereka kembali ke desa, Shikamaru lah yang lebih banyak berbicara dan memberi saran—lebih tepatnya menasihati gadis merah muda tersebut. Apalagi Ino adalah teman masa kecil sekaligus rekan satu tim pemuda yang terkenal dengan kemalasannnya tersebut. Maka Neji yang tidak memiliki hubungan yang terlalu dekat dengan Ino atau Sai, memilih untuk tidak banyak berbicara dan tidak ikut campur jika kejadian seperti tadi terjadi lagi di hadapannya.
Ketika mereka telah mencapai apartemen Sakura, Neji lah yang pertama kali melihat sebuah bokken dan shinai yang disampirkan di depan pintu apartemen gadis tersebut beserta dengan sebuah kertas yang ditempelkan di ujung bokken. Maka saat Sakura—yang masih tidak menyadari kedua barang tersebut—sibuk mencari kunci apartemen di tas pinggangnya, Neji memilih untuk mengambil kertas tersebut dan membaca sebuah catatan dari rekan satu timnya, Tenten.
Kau lupa membawanya. Jangan lupa minggu depan, kutunggu di depan tokoku. – Tenten.
Sudut bibir Neji terangkat sedikit karena membayangkan Haruno Sakura berlatih bersama Tenten yang ia tahu sangat keras jika sudah berhubungan dengan latihan dan senjata. Ia tak sabar ingin mendengar komentar atau celotehan Sakura mengenai latihan bersama Tenten. Heh. Sangat jarang dirinya merasa antusias.
Ia melirik Sakura yang kesusahan merogoh bagian tas pinggangnya yang berada tepat di mana Shikamaru menumpu berat badannya pada gadis tersebut. Setelah dua menit berlalu Sakura berhasil mengambil kunci apartemennya dan baru tersadar bahwa ada dua senjata yang tersandar di depan pintunya.
"Oh!" serunya membuat Shikamaru yang tadi memejamkan matanya kini membuka matanya dan melihat apa yang membuat Sakura berseru.
Neji memberikan secarik kertas yang tadi dia pegang. "Kau melupakannya." Ia mengedikkan dagunya ke arah dua senjata tersebut.
Sakura menerima kertas tersebut dan membacanya. Ia terkikik setelah membaca isi kertas tersebut sebelum melipatnya dan memasukkannya dalam kantung celana. "Padahal aku bisa ambil besok," gumamnya pada diri sendiri.
Sakura melepaskan lengan Shikamaru dari pundaknya dan membuka pintu apartemennya. Ia masuk terlebih dahulu untuk menyalakan lampu. "Kalau kau ingin aku membantumu memapah Shikamaru pulang ke rumahnya," Sakura menatap Neji kemudian melanjutkan, "berikan aku untuk memulihkan tenagaku. Kalian bisa istirahat di kamar. Teh atau kopi?"
"Teh saja untuk kami berdua, terima kasih." Neji masuk ke apartemen Sakura sambil memapah Shikamaru yang kini menumpu seluruh berat badannya pada pemuda bermanik pucat tersebut. Sakura sendiri berjalan menuju dapur kemudian mengeluarkan tiga buah gelas dari dalam kabinet.
Sakura mengambil ceret yang digantung berjejer dengan peralatan dapur lainnya. Mengisisnya dengan air sebelum menaruhnya di atas kompor dan memasaknya. "Kalian bisa makan malam di sini, aku akan masak setelah membersihkan diriku."
Neji dan Shikamaru yang kini telah duduk di sofa hanya mengangguk tanpa berkomentar.
Sambil menunggu air mendidih, Sakura membuka kulkasnya untuk melihat bahan makanan. Ia berdecak ketika melihat bahan makanan yang ia miliki hanya bisa untuk membuat sup miso dan telur gulung. Sakura membuat catatan di kepalanya untuk belanja besok karena besok jadwalnya kosong.
Ia melirik kedua tamunya dan tertawa kecil ketika mendapati bahwa keduanya telah jatuh tertidur di atas sofanya. Bersenandung kecil, Sakura melanjutkan acara memasaknya. Setelah tigapuluh menit hidangan makan malam telah ia tata rapi di atas meja makan yang tersedia di tengah-tengah dapur sederhananya.
Sakura menghampiri kedua pemuda yang tengah terlelap di sofa biru toska miliknya. Ia mengguncang tubuh Neji pelan. "Neji, bangun lah."
Tak sulit membangunkan pemuda bermata pucat itu karena detik berikutnya, matanya terbuka perlahan. Sakura tersenyum kecil kemudian berkata, "Ne, makan malam sudah kusiapkan. Makanlah dulu sebelum kalian pulang."
Tak menunggu jawaban dari Neji, Sakura beralih ke Shikamaru yang sudah mendengkur kecil membuat Sakura sedikit menyunggingkan seringainya. Ia menepuk-nepuk pipi pemuda nanas tersebut pelan. "Shi-ka-maru," panggilnya.
Tidak ada respon.
Sakura kembali menepuk pipi Shikamaru namun pemuda tersebut tak kunjung bangun sementara Neji sudah berjalan ke arah meja makan. Ia mencoba lagi namun hasilnya nihil. Berdecak pelan, Sakura akhirnya menggunakan cara yang biasanya ia gunakan untuk membangunkan Naruto: menyentil dahi pemuda itu.
Sakura menyentil dahi pemuda itu dengan keras membuat pemuda di hadapannya terbangun tiba-tiba karena kesakitan.
"Sakura!" keluhnya sambil mengusap dahinya yang berwarna merah akibat sentilan Sakura yang luar biasa menyakitkan—menurut Shikamaru itu mematikan.
Sakura hanya tertawa sebelum membantu Shikamaru bangun dari sofa menuju meja makan yang kini telah diisi oleh Neji yang menunggu mereka dengan tenang.
"Ittadakimasu," ucap ketiganya bersamaan sebelum mereka mulai memakan makan malam sederhana yang telah Sakura buat.
Mereka makan dalam diam, tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Yang terdengar hanya suara alat makan yang saling beradu. Sakura melirik kedua pemuda yang pandangannya tertuju hanya pada makanan mereka.
"Uhm…" Sakura bergumam mengundang perhatian keduanya. "Kalian tahu kan, kalau kalian lelah kalian bisa menginap di apartemenku?" tanyanya dengan ragu.
Sakura sendiri tidak masalah jika keduanya bermalam di sana toh selama tiga bulan terakhir ini mereka tidur dan melakukan aktifitas lain bersama, bahkan mereka tinggal satu atap. Namun tetap saja Sakura mengantisipasi jawaban keduanya.
Ia memandang keduanya yang kini tengah memandang satu sama lain seperti sedang berbicara dengan mata mereka (hal ini membuat Sakura mendengus dalam hati). Shikamaru mengangkat sebelah alisnya seperti berkata "Aku tidak masalah, lagi pula aku sedang lelah. Bagaimana denganmu?" kemudian Neji mengangguk sebagai jawaban.
Shikamaru mengalihkan perhatiannya kembali ke Sakura. "Tak masalah selama kami tidak merepotkan." Kemudian mengedikan bahunya.
Sakura tersenyum lebar. Entah kenapa Sakura merasa seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya mendengar bahwa keduanya menyetujui untuk bermalam di tempatnya. Ia berpikir mungkin dirinya sudah terlalu terikat dengan keduanya dan terkadang membuat dirinya tanpa sadar merasa bahwa Neji dan Shikamaru adalah pengganti—dalam kasus ini—Naruto dan Sai (dan juga Kakashi, Yamato, dan Sasuke tentu saja) selama absennya mereka dari dirinya tiga bulan terakhir ini, apalagi mereka tinggal satu atap yang tidak pernah dilakukan oleh tim tujuh. Membuatnya mau tidak mau dekat dengan keduanya—juga Lee dan Genma.
Sakura menggelengkan kepalanya. "Tidak akan merepotkan," jawabnya meyakinkan. "Kalian bisa memakai kasurku, malam ini aku ingin mengerjakan sesuatu jadi kalian bisa menggunakan kasurku sesuka kalian."
"Aa. Arigatou, Sakura," ucap Neji tersenyum kecil.
Wajah Sakura sedikit memerah mendengar Neji memanggilnya dengan nama depannya untuk pertamakalinya. "Tidak masalah. Kalian juga bisa menggunakan kamar mandi—kalau di ransel kalian masih ada pakaian bersih."
"Maaf merepotkanmu," jawab Neji yang disetujui Shikamaru dengan anggukan.
Sakura mengibaskan tangan di depan wajahnya. "Tidak, tidak. Tak apa, aku tahu kalian lelah apalagi komplek rumah kalian lumayan jauh dari sini."
Mereka menghabiskan makan malam setelahnya, kembali tidak ada suara. Setelah itu Sakura menyuruh keduanya untuk membersihkan diri karena dia ingin mencuci piring, yang tentu saja ditolak keduanya karena mereka ingin membantu dan Sakura menolak bantuan mereka mentah-mentah dengan diakhiri gadis itu mendorong kedua pemuda itu masuk ke kamarnya sementara Sakura akan menyelesaikan pekerjaan mencuci piringnya.
Duapuluh menit kemudian Sakura—yang telah menyelesaikan kegiatan mencuci piringnya—menunggu di sofa ruang tamu sambil membaca gulungan yang dikasih Tsunade kepadanya beberapa hari yang lalu.
Ia menyeruput teh hangat yang ia bikin untuk kedua kalinya sambil membenarkan kacamata hitam yang sedikit turun. Gulungan tersebut berisi tentang penjelasan kuchiyose no jutsu—Teknik Memanggil. Teknik tersebut merupakan ninjutsu ruang-waktu yang memungkinkan pemanggilan untuk membawa hewan atau orang melintasi jarak jauh dengan darah sebagai tumbalnya (Sakura menaikan alisnya ketika membaca bagian tersebut).
Segel tangan untuk menggunakan teknik tersebut adalah babi (Sakura mendengus karena teringat dengan Ino), anjing, burung, monyet, dan kambing. Ia juga membaca tentang kontrak yang harus ia laksanakan sebelum ia dapat melakukan teknik tersebut. Ada beberapa hewan yang dapat dipanggil dengan teknik tersebut—namun kasus kali ini, Sakura diharuskan untuk dapat memanggil Katsuyu di mana Katsuyu adalah seekor (Sakura berpikir apakah ia harus menyebutnya seekor atau seseorang atau sebuah karena Katsuyu sama seperti ninken milik Kakashi) siput yang hanya dapat dipanggil hanya jika ia telah sepenuhnya menguasai segel yin—byakugou no in—dan memiliki segel tersebut di kening miliknya sama seperti Tsunade. Karena untuk memanggil Katsuyu diperlukan cakra yang banyak sebab (menurut catatan kecil Tsunade yang diberikan kepada Sakura bersamaan dengan gulungan tersebut) segel tersebut tersambung dengan Katsuyu di mana dengan cakra dari byakugou dapat membantu proses penyembuhan ketika Katsuyu mentransfer cakra dari byakugou ke orang-orang yang akan disembuhkannya.
Sakura menghela napasnya setelah membaca setengah dari isi gulungan tersebut. Teh di cangkirnya telah habis dan matanya telah terasa berat. Ia memutuskan untuk menyudahi aktifitas membacanya saat itu, ketika ia melirik jam dinding di ruang tamu ia agak terkejut karena ia telah menghabiskan tiga jam hanya untuk membaca dan menyerap isi gulungan tersebut.
Sakura bangkit dari sofa menuju kamarnya, ketika ia membuka pintu kamar tersebut gelap. Ia mengintip ke dalam dan mendapati Neji dan Shikamaru telah tertidur pulas di atas kasurnya. Tersenyum kecil, Sakura berjalan menuju lemarinya untuk mengambil selimut—ia tidak ingin membangunkan kedua shinobi yang terlihat sangat lelah tersebut. Sakura memutuskan untuk tidur di sofa.
Ketika ia kembali ke ruang tamu dengan selimut tebal di tangannya, Sakura menaruh selimut tersebut di atas sofa. Ia kemudian mengambil catatan kecil di atas meja untuk melihat jadwal kegiatannya esok hari. Dan mendapati bahwa ia hanya memiliki jadwal operasi satu kali dan itu pun sore hari yang berarti pagi hingga siang hari jadwalnya kosong. Sakura juga tidak memiliki jadwal latihan hingga tiga hari ke depan.
Sakura, sambil berpikir apa yang harus ia lakukan esok hari, menyamankan dirinya di atas sofa. Ia telah membuat catatan di kepalanya hal-hal yang akan dikerjakannya besok salah satunya adalah belanja untuk mengisi kulkasnya yang telah kosong, kemudian mengambil kruk milik Shikamaru yang ia tinggalkan tadi di rumah sakit (Sakura memukul keningnya ketika mengingat bahwa tongkat kruk tersebut ia tinggalkan), dan sisa harinya akan ia habiskan di perpustakaan.
Setelah memikirkan hal-hal tersebut Sakura jatuh tertidur masih dengan gelang besi yang terpasang di kaki dan tangannya serta dengan pikirannya dipenuhi buku strategi yang akan ia baca di perpustakaan esok hari.
.
.
.
A/N: Long chapter! Yes! I'm guessing cerita ini bakal nyampe 30-40 chapters sih kayaknya dengan ide-ide gila gue yang berseliweran di kepala tapi juga its hard to write down your idea into a story apalagi gue yg gregetan kepengen nulis pake Bahasa inggris (ini engak sok, seriusan deh) soalnya di kepala gue juga emang konversasi akan pembicaraannya juga dalam Bahasa inggris dan gue rada kebingungan gimana cara terjemahin ke Bahasa Indonesia tanpa itu kelihatan kaku (kalo kalian nyadar ada beberapa deskripsi yang kaku di tiap chapter karena emang gue kebingungan dan nulis apa adanya aja). Juga maaf karena sepertinya masih banyak typo di chapter ini which belum bisa gue edit karena gue sibuk dan belum sempet baca ulang. But seriously I might repair it at the end of the year, who knows?
Daaan terima kasih sudah mau baca cerita yg gak jelas dengan penuh imajinasi saya ini, your review on this story is appreciated!
