We are MARRIED or NOT?


Main Cast: GS!Sehun, Kai, Luhan, Taeoh

Support Cast: Kris, GS!Chanyeol, Suho, GS!Kyungsoo, GS!Yixing, Yunho (Papa/Grandpa Yun), GS!Jaejoong (Mama/Grandma Jae), GS!Heechul, GS!Baekhyun, oc, dll

Rating: M

Warning: Mature content in some parts

Genre : Romance, AU, OOC, yadong, genderswitch for uke, comedy, family, friendship, dll

Length: Chaptered

Bahasa: Indonesia campur aduk

Summary Lengkap: Kim Sehun, bungsu dari tiga bersaudara, istri dari konsultan geologi tampan Kim Kai, dan Wedding organizer tenar se-antero Korea, masih tidak ada apa-apanya kalau sudah berhadapan dengan Kim Taeoh, anaknya sendiri yang liar bukan main. Menginjak usia kehamilannya yang ke-8 bulan, hubungan Ibu-Anak antara Kai dan Heechul masih menemui jalan buntu. Sehun yang merasa putus asa menerima usul sahabatnya untuk 'menjebak' Kai dan Sang Ibu Mertua tersayang dalam suatu acara jalan-jalan sekeluarga yang tak terduga-duga.


Family-Fun Trap


Chapter 10 (Part I)

Kelinci bodoh.

Tidak. Bukan kelincinya yang bodoh. Tapi AKU.

Dalam dua menit terakhir yang menegangkan, seharusnya kami semua sudah siap sekarang, atau minimal aku sudah berdiri manis disamping kue tart pengantin sambil tersenyum ala seleb ke para tamu undangan, bukannya membungkuk di sekitar semak-semak dan mencari kelinci gemuk yang kabur setelah pintu kandangnya dibuka oleh anak dua tahun. Ralat, monster dua tahun.

Mustinya kelinci itu sudah melompat-lompat sok imut menyusuri karpet merah sambil membawa cincin emas di lehernya. Yang lebih parah lagi, itu kelinci kesayangan keluarga mempelai wanita yang katanya sudah mereka pelihara selama tiga generasi. Kelinci tua gendut bodoh yang sekarang harus kucari dengan penuh perjuangan dan titik darah penghabisan, karena kalau kelinci itu benar-benar raib, mereka hanya akan membayarku seuprit alias keluar dari perjanjian awal. Kalian tahu apa artinya itu? Itu artinya BENCANA. Itu artinya aku bakal rugi ampun-ampunan mengingat kelima puluh staf-ku tersayang juga butuh amplop berisi duit untuk dibawa pulang. Aku benci tekor. Jadi itu tidak akan terjadi. Lupakan saja, pokoknya akan kucari kelinci itu sampai kiamat.

Baiklah. Aku menyerah. Ini tidak akan sampai kiamat. Punggungku sakit. Beginilah resiko hamil tua. Aku harus duduk di suatu tempat. Mengistirahatkan perut buncit dan tulang-tulang tiga puluhku yang payah ini.

"Eonni? Apa kau sudah menemukannya?" Joy menghampiriku sambil menjilati es krim ungu. Sempat-sempatnya dia makan disaat genting begini!

"Kalau yang kau maksud itu kelinci… tidak. Belum ketemu. Tapi aku butuh sesuatu yang segar-segar untuk mulutku, jadi bagaimana kalau—"

"OH!" seru Joy tiba-tiba. "Aku akan mencari di sebelah sana!" Sialan. Dia malah kabur.

"Sudah dapat sesuatu?" kali ini giliran Wendy yang mendekat sambil mengunyah sandwich buah. Sial, sial, sial. Kenapa semua orang malah makan disaat begini?! Apa cuma aku yang cemas soal kelinci dan potongan upah?

"Masih ada berapa menit waktu yang tersisa untuk mencari?" aku ngos-ngosan sambil menahan hasrat untuk tidak menyambar sandwich di tangan Wendy.

Wendy melirik jam tangannya dengan raut enteng. "Satu menit sembilan belas detik."

"Ya ampun!" aku refleks terloncat dari bebatuan keras yang kududuki. "Kita tidak punya waktu bersantai! Ayo guys, cari, cari!" pekikku memberi semangat ke rekan-rekan kerja timku yang masih berkutat diantara semak belukar, memantau dari atas pohon, bahkan ada juga yang mengaduk-ngaduk kolam ikan (Itu Ken dari bagian Sound System, dia memang 'agak-agak').

"Sudah coba mencari di penitipan mantel?" tanya Wendy masih asik mengunyah, tidak membantu sama sekali.

Tentu saja aku sudah mencoba mencari di penitipan mantel. Aku sudah mengecek setiap biliknya sambil merangkak-rangkak. Sesudah itu, kuperiksa dibawah wastafel sebanyak dua kali. Berjalan tak tentu arah di ballroom hotel, mencari-cari tanpa hasil di karpet biru yang berpola, dibawah kursi-kursi bercat keemasan, dibawah serbet-serbet yang teronggok, dan di tempat-tempat mustahil lainnya.

Polisi? Cuih. Kusangka mereka akan datang dengan pasukan-pasukan khusus dan sirine meraung-raung begitu aku menelpon, bukannya menyuruhku datang ke kantor polisi dan melaporkan kehilangan. Aku tidak punya waktu untuk melapor! Aku harus segera menemukan kelinci pembawa cincin sialan itu!

Cepat-cepat aku menuju ke meja bundar tempat kami briefing sore ini, lalu kembali merangkak dibawahnya. Bisa-bisanya aku membiarkan hal ini terjadi. Bagaimana aku bisa begitu tolol? Sebenarnya aku punya banyak prajurit yang bisa diandalkan. Tapi aku tidak bisa duduk-duduk dan menonton saja seperti yang dilakukan Wendy, aku terlalu terpacu. Aku mulai berjalan mondar-mandir di rute yang sama. Melewati pot bunga besar… melewati meja yang ada surat kabarnya… melewati tempat sampah besar yang mengkilap… kembali lagi ke pot bunga…

ARGHH! AKU MENYERAH!

Potong saja upah sialan itu. Masa bodoh. Aku tetap masih bisa mentraktir staf-stafku udon enak langganan Kai di dekat stasiun. Waktu bulan lalu aku membawa semuanya kesana dan paman pemilik kedainya langsung menganggapku semacam Ratu Elizabeth. Pokoknya kami jadi sangat akrab. Ditambah lagi, mereka sudah punya kipas angin besar dan pelayan-pelayan yang selalu tersenyum seolah mereka punya setumpuk sariawan di bibir (See? Itulah gunanya kotak saran).

"Heeeeiii semuanyaaaa! Aku menemukan kelinci itu!" pekik Joonki sambil menunjuk kearah jalan raya.

Jalan Raya? Oh, Tidak. Jangan bilang…

"Isi perutnya keluar!"

Yah. Tidak masalah. Toh, aku juga lagi kepingin makan udon.

.

.

.

.

Seharusnya tadi kutinggalkan saja Taeoh di rumah. Seharusnya kubiarkan dia memanggang cupcake bintang-bintang bersama Ibuku di dapur. Namun entah kenapa di lubuk hatiku yang paling terdalam, aku tak ingin Taeoh terlalu… yaa, kalian tahu kan? Memanggang kue, menghias kue, mengaduk adonan… oke, aku tentunya tidak menyangkal kalau dunia ini dipenuhi oleh chef handal berjenis kelamin laki-laki. Tapi tetap saja rasanya aku tidak rela melihat anak laki-lakiku lebih terhanyut oleh suasana dapur daripada suasana lapangan bola yang kotor atau taman bermain yang becek. Aku tak ingin Taeoh tumbuh menjadi pria yang punya koleksi wajan kesayangan dan menamai wajan-wajannya sendiri dengan nama aktor tampan…

Ya Tuhan. Aku tidak ingin anakku seperti itu.

Jadi waktu Mama menawarkan diri jadi tempat penitipan anak lagi, aku buru-buru mengatakan kalau ballroom Hotel Maribell punya area bermain anak dan aku bisa menitipkan Taeoh disana, dengan kalimat tambahan: "Aku tak ingin Mama terlalu capek. Pergilah ke Salon dengan Kyungsoo eonni sesekali". Ya, kalian tahulah, seperti apa dramatisnya Mama. Bisa-bisa dia bakal tersinggung dan mem-blacklist Taeoh sebagai cucu kesayangan nomer satunya. Kadang itulah yang membuatku merasa bangga pada diri sendiri telah melahirkan Taeoh ke dunia, karena Ibu kandungku menganggap Taeoh sebagai cucu emas dibandingkan anak paling bungsu Chanyeol eonni, padahal mereka seumuran.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa sedikit lebih unggul dibanding kakak pertamaku. Tidak. Aku tidak membenci dia, justru aku menganggap Chanyeol eonni semacam panutan hidup. Buku panduan menuju sukses. Dia sempurna, suaminya tampan, perhatian, tidak pelit dan kaya raya, anak-anaknya manis, dia hampir memiliki segala-galanya. Dari kecil aku selalu berusaha menjadi seperti dia atau bahkan lebih hebat lagi.

Oh ayolah, bukan berarti aku tidak bahagia dengan kehidupanku sendiri. Aku bahagia punya suami seperti Kai. Aku bahagia punya anak seperti Taeoh. Tentu saja aku sangat bahagia, asal yang satunya tidak menggonggong soal "Penghematan uang bulanan", dan yang satunya tidak menggonggong minta "Mobil pemadam kebakaran".

Kembali ke topik area bermain anak, rupanya Hotel Maribell tidak punya area bermain anak sama sekali. Jangankan area bermain anak, kolam renang khusus anak-anak pun mereka tidak punya. Jadi, pelajaran yang bisa kita petik hari ini adalah: Jangan pernah coba-coba tinggalkan kandang berisi kelinci-pembawa-cincin-berusia-tiga-generasi di dekat anak umur dua tahun yang sudah memecahkan-pajangan-bola-dunia-di-sebuah-playgroup, karena resikonya bisa sangat fatal!

Kelinci dengan usus terburai dan upah minim yang hanya dibayarkan setengahnya. Itulah kenyataan pahit yang harus kukantongi dan kubawa pulang hari ini.

Sekali waktu aku pernah menyuruh Kai mengajak Taeoh ke tempat kerjanya, dan pulang-pulang aku mendapati Kai berwajah suram dengan berita "Pembatalan kontrak kerjasama" gara-gara Taeoh menumpahkan Milkshake rasa permen karet ke baju direktur pemasaran Glen Oil. Untung direktur pemasaran itu bersikap bijak dengan mengatakan nodanya akan segera hilang tertiup angin, tapi tetap saja dia tidak berubah pikiran tentang kesepakatannya.

Oke. Berhenti menatap anakku seperti itu, oke? Dia tidak seburuk itu. Aku yakin! Taeoh pasti bisa didisiplinkan. Dia hanya terlalu… aktif. Dan… agresif. Begitulah kata Yixing. Karena aku yakin kita semua pernah nakal waktu se-usia Taeoh, dan menurut Yixing, kenakalannya masih bisa ditoleransi. Selama Taeoh belum mengaktifkan rudal kimia dan meluncurkannnya ke Korea Utara atau memadamkan listrik satu kota, berarti perbuatannya itu masih kita kategorikan 'wajar'.

"Bagaimana tadi?" tanya Kai waktu melihatku berjalan masuk dari pintu depan sambil menggendong Taeoh.

"Kurang begitu lancar," jawabku singkat, kurasa Kai sudah paham apa duduk perkaranya tanpa harus kujelaskan.

"Oh." Dia mengangguk-angguk, lalu mengambil Taeoh dari gendonganku. "Hai, jagoan kecil. Mau main Stars Wars lagi?"

Aku menghela napas lelah. "Sayang, dia butuh istirahat. Main Stars Wars nanti saja."

"Ya sudah, aku akan membawa Taeoh ke kamar. Ayo bobo dengan Daddy, TaeTae." ujar Kai menggesek-gesekkan hidung kurang mancungnya ke hidung mini Taeoh.

Lihat, betapa bahagianya suami dan anakku. Interaksi yang paling kusukai jika pulang kerja dan mendapati suamiku di rumah yaitu menyambut kami sambil bertanya: "Jagoan kecil, mau main Stars Wars lagi?". Jadi aku tak akan menyalahkan Taeoh kalau suatu saat nanti dia ingin mencari pedang cahaya milik Luke Skywalker. Itu didikan dari ayahnya.

Aku celingukan di dapur, biasanya jam segini Papa dan Mamaku sedang bertengkar soal siapa yang lebih pantas menjabat kursi perdana menteri berikutnya. "Dimana papa dan mama?"

"Mereka di sebelah, tadi papamu bertanya soal gunting rumput yang kau pinjam kemarin. Dia mau membersihkan halaman di belakang."

Aku membuka-buka lemari di dapur. "Nanti kukembalikan kalau dia kesini. Aku mau buat susu untuk Taeoh."

"Susuuuu!" telunjuk Taeoh menuding kearahku.

Kai menyeringai. "Ngomong-ngomong, aku juga mau susu."

"Maaf, susu oatmealnya habis." aku meringis sambil berjalan ke meja, membawa kaleng susu formula. "Kalau kopi bagaimana?"

"Tidak. Aku tidak mau kopi. Aku juga tidak mau susu yang itu. Aku ingin susu yang lain." cengiran Kai berubah semakin mesum dan sadarlah aku 'susu' apa yang dia maksud.

Kupelototi dia, "Kai! Ada Taeoh disini."

Dengan tenang Kai mencubiti pipi Taeoh. "Dia tidak akan mengerti. Ayo Taeoh kita bobo siang dulu. Nanti kuceritakan dongeng serigala dan tiga babi kecil. Tapi jangan lama-lama ya, Daddy masih mau bobo siang dengan Mummy-mu."

Taeoh bertepuk tangan riang gembira. "Dongeng! Dongeng! Babi kecil!"

Sementara dua laki-laki beda usia itu menghilang dari pintu dapur, aku memanaskan air diatas teko dan mulai menuangkan beberapa sendok gula dan susu bubuk ke dot plastik Taeoh. Begitu ponselku berdering, aku merogoh ke dalam tas dan menekan tombol yes.

"Hunniee!" suara ceria bernada tinggi menghantam gendang telingaku.

"Oh, hai! Yixing, kau dimana? Gimana kerjaanmu? Aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana?"

"Dengar, Hun. Aku menelpon bukan untuk basa-basi. Saat ini aku cuma punya waktu istirahat lima menit. Dari kemarin aku mau membalas pesan dan menghubungimu tapi tidak pernah sempat. Editorku yang baru benar-benar mimpi buruk! Dia menekanku terus-menerus dan memberiku batas deadline yang tidak wajar. Banyak yang harus kuselesaikan dalam tiga hari, kalau tidak, dia mengancam akan melaporkan aku ke Bosku."

"Astaga. Kurang ajar betul dia!" aku ikut merasa sebal karena tahu persis seperti apa Editor Yixing yang baru. Kami pernah bertemu, dia wanita tua dari The Korea Herald yang baru pindah bulan lalu ke kantor Yixing tapi sudah berlagak paling jenius sedunia. "Sabar ya, say. Aku paham bagaimana perasaanmu. Kalau aku jadi kau, sudah kugambari sepatu jeleknya dengan spidol merah permanen."

Yixing tertawa. "Iya, sepatu pantofelnya memang jelek dan kuno sekali. Eh, terus, gimana? Apa anakmu sudah boleh ketemu sama Granma Lady tersayang?"

Aku berjalan ke depan kompor dan mematikan apinya, "Sudah kubicarakan, mau tahu apa tanggapan Kai? Katanya dia lebih suka menjilati telapak kakinya daripada menitipkan Taeoh di ibunya."

Yixing berdecak-decak, "Ya ampun. Separah itukah?"

"Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Hubungan mereka masih berada di titik gelap dan aku sudah mulai putus asa Taeoh akan semakin menjadi-jadi. Aku berharap ibu mertuaku-lah solusi tepatnya, ternyata Kai masih sekeras batu. Kau tahu sendiri kan bagaimana dia?"

"Ya, ya. Aku tahu. Kai memang agak keras kepala. Maka dari itu aku menelponmu, untuk memberikan solusi brilian."

Aku menuang air panas ke dalam dot plastik bergambar anak-anak Dinosaurus sedang tertawa bahagia. "Solusi apa?"

"Ya, kalau aku boleh sarankan, sebaiknya kalian pergi liburan sekeluarga. Ajak ibu mertuamu diam-diam. Pakai taktik yang pernah kuterapkan di Julien dulu. Jebak dia. Kai tak akan bisa berkutik kalau jadwal penerbangannya sudah ada di depan mata."

Dahiku berkerut. "Yixing, apa kau gila? Liburan jebakan? Kai bisa membunuhku! Bagaimana kalau dia kabur dengan Taksi begitu melihat wajah ibunya?"

Yixing menghela napas pelan. "Sehun, dia tidak akan kekanak-kanakan begitu. Memangnya kau?"

"Oke…" aku mulai panas. "Jadi itu solusi brilianmu? Jebak Kai agar dia mau pergi liburan bersama Ibunya?"

"Yeah, why not?" balas Yixing ringan. "You should try it. Awalnya Julien juga tidak setuju soal liburan ke Disneyland itu. Tapi toh dia bisa apa? Terjun dari pesawat? Ayolah, lambat-laun Kai akan menikmatinya. Percayalah. Kesalah-pahaman diantara keluarga seringkali timbul karena intensitas pertemuan yang jarang. Komunikasi dan kebersamaan, hanya itu satu-satunya solusi! Menghabiskan waktu bersama keluarga, adakan perjalanan kecil-kecilan. Kemana saja! Terserah pokoknya. Masih ada harapan untuk mereka berdua. Selagi Taeoh masih kecil dan masalah mereka belum mengendap terlalu dalam, kurasa kesempatan untuk mengakurkan suamimu dan ibunya masih terbuka lebar."

Aku menggigiti kuku, bimbang. "Entahlah, Yixing. Aku belum yakin…"

"Sehun, dengar, coba dulu oke? Tidak akan ada perubahan berarti kalau kau cuma duduk diam dan menunggu. Yang bertindak sebagai pihak ketiga disini kau, kan? Ini sama saja dengan permainan Mak comblang kita waktu SMA dulu. Bedanya, disini kau yang bertindak sebagai 'Mak comblang' bagi Kucing dan Tikus."

Tidak hanya menyarankan liburan jebakan, Yixing juga menyebut suami dan ibu mertuaku 'Kucing dan Tikus'? What a great best friend!

"Ayolah, pikirkan Taeoh, pikirkan kelangsungan hubungan keluarga besar kalian. Sampai kapan kau mau sembunyi-sembunyi terus dari Kai? Apalagi kayaknya anakmu sreg dengan Nenek Heechul kesayangannya. Tidak bebas kan kalau tiap kali mau ketemu harus main petak umpet dulu?"

Iya juga sih. Yixing ada benarnya. Tapi…

"Eh, eh…sudah dulu ya. Si siluman ular datang. Bye!"

Ketika mendengar suara pintu belakang terbuka, tanganku langsung bergerak menutup ponsel dan memasukkanya dalam tas.

"Hei, sayang. Sedang melihat video porno?" Kai menghampiriku sambil mengaduk-aduk isi dot Taeoh dengan sendok kecil. "Lama sekali susunya. Taeoh sudah keburu tidur."

"Maaf.. tadi aku keasyikan ngobrol dengan Yixing." Aku memasang senyum tenang padahal dalam hati bimbang luar biasa. Bingung antara mengambil tindakan jujur atau merahasiakannya.

Tapi aku yakin Kai juga pasti menginginkan Taeoh akur dengan semua nenek-neneknya. Selain itu aku juga merasa yakin Heechul bisa lebih sedikit mendisiplinkan Taeoh. Dan kalau itu artinya aku harus menjadi pihak penengah diantara mereka berdua, maka…

Tepat sekali! Sudah kuduga, Yixing pasti punya solusinya.

"Nah," Kai mendaratkan kecupan di bibirku. "Kapan kita akan pergi melihat-lihat kereta bayi?"

"Segera," kurangkul Kai dan kupeluk dia erat-erat dengan perasaan bimbang. Maafkan aku, Kai. Aku terpaksa mengkhianatimu lagi…

Mendadak makhluk mungil dalam kandunganku bergerak. Aku meraih tangan Kai dan kuletakkan di perutku.

"Dia bilang halo."

"Halo juga, Nak," bisik Kai dengan suara dalam. Kemudian dia mendekapku lebih erat lagi dan aku memejamkan mata, menghirup wangi aftershave-nya, merasakan irama musik indah berdegup-degup di dalam diriku seperti detak jantung.

Hamil itu cukup asyik lho. Okelah perutmu besar, tapi memang seharusnya begitu kan? Dan karena perutmu besar, kakimu jadi kelihatan langsing. Jangan lupa belahan dadamu juga akan terlihat lebih menantang, itu biasanya selalu terjadi pada ibu hamil (Yang harus kuakui, tak pernah gagal membuat birahi Kai meningkat hampir setiap hari).

Entah sejak kapan aku merasa kebahagiaanku semakin berlipat ganda. Punya suami penyayang, dikarunia seorang putra yang tampan, anak kedua kami menendang-nendang diantara kami, dan tinggal di rumah yang indah. Benar-benar sempurna.

Kai mendekat ke telingaku dan berbisik lirih. "Mana susu kembar favoritku?"

Tawaku nyaris menyemprot ke rambutnya. Aku berdehem sekilas, mengatur suara ke nada menggoda. "Buka dan lihat sendiri."

Melalui sudut mataku, aku bisa melihat senyuman kotor Kai melebar dari telinga ke telinga. "Apa aku boleh menikmati susu kental juga?"

Aku balas tersenyum kemudian menciumi leher Kai, "Ya… kau boleh menikmati semuanya. Tapi aku sedang tak ingin susu hangat."

"Yakin?" tanya Kai menaik-naikkan alis menggodaku. "Susu hangat milik Daddy manis lho."

Aku menjulurkan lidah dan pasang wajah pura-pura jijik. "Susu hangatmu tak pernah manis. Selalu asin!"

Kali ini gantian bibir Kai yang bereksplorasi di leherku. "Berani bertaruh kau lebih suka yang asin-asin daripada yang manis-manis."

Oke, ini sangat menggelikan. Aku sudah tak bisa menahan tawaku. "Sudah cukup! Berhenti membicarakan 'susu'."

Pria itu memelototiku, berlagak tersinggung. "Aku tidak mau berhenti sebelum—"

"Susu?" kami berdua menoleh kompak dan mendapati Taeoh berdiri di lorong sambil memeluk guling berwajah Tazmanian Devil. Matanya setengah terpejam. "Mummy… susu?"

Aku menepuk jidat, "Oh ya ampun. Jadi kelupaan." aku buru-buru masuk ke dapur dan keluar lagi sambil membawa botol dot berisi susu sungguhan. "Ini Taeoh sayang."

Taeoh langsung mengenyot dot susu-nya dengan lahap.

"Ayo, jagoan. Saatnya mengisi tenaga!" Kai menggendong Taeoh beserta gulingnya. Sementara dia membawa Taeoh menuju kamar, aku mengekor dibelakang.

Kamar Taeoh adalah surga bagi anak-anak. Sangat menyejukkan mata. Tidak hanya anak-anak yang senang melihat ini, teman-temanku yang notabene para orang dewasa juga berdecak iri. Dindingnya yang berwarna biru muda dihiasi motif bulan sabit kecil warna kuning. Di sudut lain berdiri kokoh lemari berbentuk kapal bajak laut antik yang isinya mainan-mainan robot koleksi Taeoh, sementara di sudut lain ada kereta api kecil dari kayu yang bisa dinaiki, lengkap dengan rel dan tiga gerbong kereta yang juga berfungsi sebagai rak koleksi mainan. Kasur Taeoh berbentuk mobil Cadillac tahun 50-an, dua meja nakas di sisinya berbentuk ban mobil unik dan tempat sepatu Taeoh berbentuk peti harta karun. Dia bahkan punya komidi kecil sungguhan yang bisa berputar-putar dan Tenda sirkus yang dilengkapi panggung sandiwara boneka sendiri.

Tapi sekarang tenda sirkus itu berpindah diatas kasur. Bersama mainan-mainan lain yang seharusnya berada di lemari dan di gerbong.

"Dia membawa semua mainannya ke tempat tidur lagi," Kai memungut power ranger merah dan meletakkannya di rak lemari. "Hari ini termasuk tenda sirkus."

Aku hanya tertawa kecil sambil membantu Kai mengembalikan semua mainan ke tempat semula.

Kebiasaan baru Taeoh sebelum tidur adalah mengumpulkan mainan-mainannya, lalu dia bawa naik semua keatas kasur untuk diajak tidur bersama, sampai nyaris tak ada celah untuk dirinya sendiri. Kemarin malam aku mendapati dia tidur lelap sambil memeluk kuda poni kayunya, dan ada sekitar dua puluh robot ikut meramaikan tempat tidur, plus komidi putar diatas selimut. Nyaris membuatnya tak kebagian tempat.

Aku terduduk di pinggir ranjang, senyam-senyum mengamati Kai mengusap rambut Taeoh dengan lembut, ekspresinya dipenuhi welas asih. Suka sekali melihat suamiku melaksanakan perannya jadi suami yang baik.

Sejauh ini aku telah menikahi pria yang tepat.

"Kai," aku membuyarkan kegiatan Kai. "Apa kau ingat tahun lalu pernah bilang tak ingin tambah anak?"

Kai tersenyum jahil. "Kenapa? Masih tidak terima aku berhasil menghamilimu lagi?"

Aku menggeleng, "Tidak kok. Justru aku yang heran kau bisa berubah pendirian secepat itu. Padahal kau sendiri yang bilang kita tak akan sanggup punya dua anak sebelum becus mengontrol perilaku Taeoh."

Kai menghela napas sambil merapatkan selimut Taeoh. "Jauh-jauh hari, aku sudah memikirkan semua ini secara matang. Selain itu, aku sudah banyak membaca literatur tentang anak dan menemukan banyak fakta mengejutkan kalau perilaku anak bisa berubah jika dia dikaruniai seorang adik. Ada sebuah keluarga di Ontario dengan dua anak mereka, kita sebut saja 'si sulung dan si bungsu'. Si bungsu ini tindak-tanduknya sebelas dua belas dengan Taeoh…"

Beginilah Kai, jika dia sudah setuju dengan sesuatu, biasanya selalu diikuti dengan cerita-cerita pelengkap untuk mendukung opininya.

"Lalu saat ibu mereka melahirkan seorang anak lagi, si bungsu tadi menunjukkan sikap protes karena takut posisinya tergantikan. Tapi perlahan-lahan dia berubah, meskipun tidak secara instan. Semuanya melalui proses pembelajaran dan pendewasaan diri. Awalnya hubungan kakak-adik ini sering diwarnai dengan cekcok dan perkelahian. Lambat-laun, begitu si bungsu ini berusia tujuh belas, dia menjadi sangat penyayang dan protektif terhadap adik perempuannya. Dia berubah menjadi seorang kakak yang bertanggung jawab. Bukan si bungsu yang egois lagi."

Aku mendongak, "Jadi itukah alasanmu menghamiliku? Karena si bungsu?"

Kai terkekeh, "Ya. Maumu apa? Karena si sulung?"

Aku balas tertawa. Buru-buru mengatupkan mulut begitu melihat Taeoh merubah posisi tidurnya sambil mengecap-ngecap.

Ups. Sudah waktunya minggat.

Kugiring Kai keluar kamar, lalu mematikan lampu sebelum memastikan pintu tertutup dengan baik.

"Jadi…" ujar Kai setelah pintu tertutup rapat. "Topik tentang 'susu' berakhir begitu saja?"

"Well, sayangnya iya," aku melipat kedua lengan di dada. "Karena aku lelah sekali hari ini," tambahku sambil menepuk-nepuk pundak yang terasa pegal. "Kalau nonton TV saja boleh."

Sekilas aku bisa melihat ada setitik raut kecewa di wajah Kai, namun dalam sedetik senyum lebar dan penuh pengertian bertengger di wajahnya.

"Oke. Kalau begitu aku akan mengambil buah zaitun dan jus sari jeruk di kulkas."

Tak butuh waktu lama, tau-tau saja kami sudah berkumpul di dalam kamar. Nongkrong di depan TV berdua sambil ngemil buah zaitun dan menonton siaran berita…em, mengkritik si pembawa berita lebih tepatnya.

"Seharusnya dia berhenti menggerak-gerakkan tangan seperti itu," komentarku. "Dia jadi kelihatan canggung sekali. Seharusnya dia ikut pelatihan media."

"Dia sudah ikut pelatihan media," sahut Kai.

Aku berdecak malas. "Berarti pelatihannya jelek, ganti saja." kutekan remote TV dan memindahkannya ke saluran yang menayangkan film kartun The Simpsons.

"Sini, sayang." panggil Kai waktu melihatku kembali menepuk-nepuk pundak. "Biar kupijiti."

Aku beringsut kesamping dan duduk di depannya, lalu dia mulai memijati otot-otot bahuku yang tegang.

"Sehun, tadi kalau mataku tidak salah lihat, kau masuk membawa beberapa kantong belanjaan. Aku yakin itu bukan halusinasi di siang bolong seperti tuduhanmu waktu kapan itu."

Halah, masih dendam rupanya.

"Kau benar. Itu bukan halusinasi. Aku beneran belanja kali ini. Seprai bayi dari Posh Tots. Pokoknya bagus sekali, kau harus lihat nanti. Kata pramuniaganya itu seprai terbaik yang mereka miliki." cerocosku berapi-api.

"Oh…" keheningan panjang melanda. Selalu begitu jika sudah membahas soal barang belanjaan. Tidak ada rasa antusias sama sekali. Sangat Kai banget. "Harganya berapa?"

"Lima ratus dua puluh tujuh ribu won," jawabku ringan.

Tangan Kai berhenti memijat. Aku sudah bisa menebak. Sudah hapal reaksi Kai. Pasti wajahnya sedang memucat dibelakang punggungku. "Kau bayar semahal itu untuk seprai bayi?"

"Itu seprai terbaik, Kai." Aku berusaha sabar menjelaskan. "Jalinan benangnya ada empat ratus."

"Sehun, bayi tidak butuh seprai dengan empat ratus jalinan benang. Toh dia tak bakal menghitung jumlah benangnya ada berapa. Lagipula percuma saja seprai empat ratus jalinan benang kalau tertutupi ompol bayi."

Ya ampun. Aku tak pernah bisa rileks kalau membicarakan topik begini ke suamiku yang agak saklek.

"Bayi kita tak akan mungkin mengompoli seprai Posh Tots." sergahku tersinggung. "Dia penuh pengertian seperti aku kok," kutepuk-tepuk perutku. "Iya kan, sayang?"

Kai memutar bola mata. "Terserah saja. Padahal seprai-seprai lama Taeoh banyak sekali menumpuk di gudang. Aku sengaja menyimpannya untuk berjaga-jaga, karena katanya dulu kau mau belajar mendaur ulang semua itu menjadi gorden anak. Tapi sampai sekarang tak tersentuh sama sekali."

Berisik sekali sih dia. "Aku sibuk, tau! Kau lihat sendiri kan akhir-akhir ini aku kebanjiran job dari wisatawan asing juga. Jika aku ibu-ibu pengangguran, dari dulu sudah kujahit semua seprai di rumah kita menjadi gorden."

"Well, tak perlu sarkastik, sayang. Aku hanya memperingatkan. Itu saja. Atau… kita bisa mulai program penghematan kecil-kecilanmu mulai dari sekarang? Caranya mudah, tinggal pakai saja baju-bajumu lebih dari satu kali. Karena seingatku, kau jarang sekali memakai sesuatu lebih dari satu kali. Malah—kebanyakan—hampir tidak pernah."

Itu lagi. Itu lagi!

"Aku memakainya lebih dari sekali kok," dengusku sebal. "Jangan selalu melebih-lebih—"

"Berapa kali kau memakai kardigan dengan kancing merah itu?" sambar Kai dengan muka polos.

"Eh… ini…" aku gelagapan, agak frustasi.

"Berapa banyak pakaian yang kaupunya dan tersimpan begitu saja di lemari?" tanya Kai. Dia sepertinya menikmati sekali melihatku menderita kebingungan.

"Eh…"

"Apa kau tahu persis berapa jumlahnya?" desak Kai.

"Aku… aku tidak… itu…" spontan aku berbalik dan menantangnya. "Kalau begitu, berapa banyak pakaian yang kaupunya?" balasku.

Kai berpikir tak sampai tiga detik. "Sembilan setelan jas, beberapa sudah terlalu tua untuk dipakai. Sekitar tiga puluh kemeja. Dua puluh lima kaos oblong dan dua puluh tiga celana. Lima puluh dasi. Harus kuplih-pilih untuk dibuang. Aku tidak perlu belanja lagi selama setahun kecuali untuk beli kaus kaki."

Ck. Tuan Kim Kai memang selalu punya jawaban.

"Kau kan laki-laki. Lain dong! Profesiku menuntut aku untuk selalu tampil elegan dan modis setiap hari."

"Aku tahu," jawab Kai santai. "Intinya, mulai sekarang, kalau mau pakai apa-apa minimal tiga kali dulu sebelum membeli yang baru. Dengan cara seperti itu, kau akan terbiasa lebih berhemat sedikit dan mungkin saja tagihan bajumu bisa turun." Dia mengendikkan bahu. "Katanya kau perlu ide untuk menghemat uang. Sebagai kepala rumah tangga yang baik, aku cuma membantu mencari solusi."

Ughhh. "Oke, oke." kulipat lengan di dada. "Aku akan memakai semua baju yang ada di lemariku tiga kali sebelum berpikir untuk belanja lagi. Puas?"

Apa susahnya sih? Akan kutunjukkan pada Kai kalau memakai ulang baju-baju sebanyak tiga kali itu sangat gampang. Keciiil. Lagipula, pakaianku kan tidak banyak-banyak amat.

"Tapi… kita masih bisa beli baju dan keperluan untuk Taeoh, kan? Juga untuk bayi kita?" tiba-tiba aku dihinggapi rasa cemas.

Kai tertawa pelan, "Tentu saja anak-anak kita masih boleh beli keperluan. Taeoh memang membutuhkan baju-baju baru, dia kan masih dalam masa pertumbuhan."

"Baiklah," jawabku, berusaha tidak merasa jealous. Kalau masih kecil bisa dapat keringanan. Tidak adil. Kuharap aku juga masih dalam masa pertumbuhan dan semua bajuku harus diganti selama tiga bulan.

Kai mengecup ubun-ubunku, "Pundakmu sudah lebih enak sekarang?"

"Sejuta kali lebih enak. Trims."

.

.

.

.

Aku tahu harusnya hari ini kami khusus pergi membeli keperluan berdua saja, tapi aku butuh 'pengalih perhatian' untuk Kai kalau-kalau bakat ceramahnya muncul di tengah jalan. Jadi tidak salah hari ini aku mengajak Chanyeol eonni sebagai teman belanja senasib. Dan kayaknya membawa partner belanja yang sudah lebih dulu memiliki anak perempuan bakal lebih membantu ketimbang kebingungan sendiri. Tentunya sebagai Ibu aku tahu apa-apa saja yang harus dibeli, tapi terkadang sifatku yang pikun dan gampang terbuai membuatku sulit untuk fokus membeli satu barang. Kayak waktu kapan itu aku bilang pada Kai ingin beli satu celemek bayi lalu sejam kemudian aku pulang ke rumah dengan kantong belanjaan yang beranak-pinak.

Taeoh sudah kutitipkan di Mama, biar saja dia memanggang cupcake bintang-bintang lagi. Lebih sedikit yang dibawa, lebih mudah kita bereksplorasi.

Kami akan pergi ke pameran perlengkapan bayi hari ini. Akan ada sekitar lima ratus stan, juga produk-produk gratis, peragaan busana ibu-anak, serta koleksi kereta bayi terlengkap yang bisa ditemukan di bawah satu atap. Aku berangkat dari rumah bersama Kai dan ceritanya kami akan langsung janjian ketemuan di lokasi, karena Chanyeol eonni akan berangkat bersama Kris oppa.

Saat turun dari mobil, kulihat sudah banyak orang berbondong-bondong menuju pintu masuk pameran. Belum pernah aku melihat para orangtua dan rombongan bayi sebanyak itu seumur hidupku. Kami bahkan belum masuk ke ruang pameran!

"Huuun!"

Aku menoleh dan melihat Chanyeol eonni, mengenakan sundress keren hijau jeruk nipis, menggandeng Yichan yang terlihat imut dengan gaun mungil bertepian bulu-bulu, sepatu bot putih dan topi bergaris-garis yang lucu sekali. Sedangkan Kris oppa… oh, tak usah ditanya. Pria itu selalu tampak keren pakai baju apa saja.

"Hai!" aku bergegas menghampiri kakakku dan memeluknya erat-erat. "Asik ya? Kita bakal belanja perlengkapan bayi bersama."

"Ya, dan kalau saja kami masih boleh…" Chanyeol eonni melempar lirikan kode ke Kris oppa yang pura-pura tertarik memandangi umbul-umbul merah jambu. "Oh, iya. Ini tiket masuk kita," Chanyeol eonni merogoh tasnya dan menyerahkan masing-masing selembar tiket untukku dan Kai. "Ditambah voucher yang bisa ditukar minuman di area food court."

"Anak-anak mana?" mataku berkeliling mencari kakak-kakak Yichan, barangkali mereka sengaja bersembunyi dibalik pohon besar disana untuk mengagetkan aku.

Chanyeol eonni menggeleng. "Sudah kutitipkan di ibu mertuaku. Mereka akan bersenang-senang bersama hari ini," ujarnya dengan nada sayang.

"Oh ya? Memangnya mereka ngapain saja?" tanyaku penasaran.

"Umma akan mengajari anak-anak cara mencabuti bulu-bulu ayam liar."

Ternyata bukan hanya ibu mertuaku yang aneh, ibu mertua Chanyeol eonni juga sama anehnya.

"Halooo, Nak!" sapa Chanyeol eonni membungkuk sedikit di depan perutku dengan ekspresi kocak. "Aku Bibi Chanyeol, sebentar lagi kita akan bertemu. Jadilah anak baik ya? Eh perkenalkan, ini kakak Yichan. Ayo Yichan, beri salam pada adikmu, sebentar lagi kau akan jadi kakak." Chanyeol menarik anaknya lebih dekat. "Bilang 'halo' pada adik dalam perut."

Yichan melambaikan tangan sambil tersenyum. Cantik sekali. Matanya bulat jernih dan dia punya lesung pipi. Persis Chanyeol eonni versi mini.

"Halo adik dalam perut," sapanya riang.

"Sudah punya nama untuk anakmu?" timpal Kris oppa.

"Belum," jawabku jujur. "Terus terang saja tidak kepikiran sampai kesana, rencananya kami akan memberinya nama setelah dia lahir."

Kris oppa ber-Oo panjang. "Kalian sudah tahu jenis kelaminnya kan?"

Aku mengangguk senang, "Sudah. Kami sempat ke dokter kandungan minggu lalu. Waktu itu ahli sonogram-nya bilang jenis kelamin bayi kami perempuan."

Chanyeol eonni segera memelukku lagi dan menyalami Kai dengan heboh. "Selamat ya! Impian kalian terkabul."

Saat kami memasuki ruang pameran, aku memekik antusias. Tempat ini besar sekali. Di sekeliling kami terpajang foto-foto bayi berukuran raksasa, kios-kios beraneka warna, penjaga pintunya berpakaian ala tentara mainan dan para SPG-nya mengenakan kostum tokoh-tokoh film kartun terkenal, mereka sibuk membagi-bagikan tas belanja. Lagu tema The Lion King mengalun dari pengeras suara, dan badut diatas egrang bermain lempar-lemparan dengan pisang mainan dari busa.

Kalau tadi digandeng Chanyeol eonni, sekarang Yichan digendong Kris oppa karena dia mulai rewel setelah seorang bapak bertampang menyeramkan mencubiti pipinya. Sementara Kai langsung terlibat obrolan seru dengan Kris oppa dari semenjak datang tadi, dan sama sekali tidak sadar dirinya berada dimana kalau sudah membahas soal bisnis. Benar-benar tepat mengajak Kris oppa sebagai 'pengalih perhatian'.

"Nah," ujar Chanyeol eonni berlagak sok penting. "Kau sudah membuat daftar?"

"Daftar?" ulangku tanpa memperhatikan. Mataku sibuk jelalatan di kereta bayi, tas popok, baju-baju bayi, dan segala perlengkapannya yang dikemas dalam bentuk menarik.

"Daftar perlengkapan bayi yang kaubutuhkan," Chanyeol eonni menerangkan dengan sabar sambil mengaduk-aduk isi tas, mengeluarkan secarik kertas yang terlipat rapi. "Kebetulan sekali aku sudah membuatkan ini untukmu, karena aku tahu kau pasti datang kesini cuma bawa diri dan suami. Tanpa persiapan sama sekali." Dia menggeleng-geleng. "Sudah punya alat pensteril botol?"

Alat pensteril botol? Aku menerka-nerka dimana dulu pernah menyimpan benda seperti itu. Apa memang aku tidak punya? Kalau begitu tak ada salahnya dibeli.

Aku mengendikkan bahu, "Mm…belum." Mataku terpaku pada kereta bayi merah cerah dengan tutup polkadot. Pasti keren sekali mendorong kereta bayi kayak begitu di jalanan.

"Bantal untuk menyusui?"

Aku asal menggeleng. "Belum."

"Ada rencana menggunakan pompa payudara elektrik?"

"Idih." Aku bergidik ngeri. "Memangnya harus? Ohh, lihat itu!" telunjukku secara otomatis terangkat. "Ada baju terusan dilengkapi sayap bidadari!"

"Sehun…" Chanyeol eonni bersedekap. "Kau tentu tahu punya bayi bukan sekedar memenuhi isi lemari mereka dengan baju-baju bagus kan? Kau tentu memiliki… ekspektasi yang realistis kan?"

"Tentu saja aku memiliki ekspektasi yang realistis!" sergahku sedikit tersinggung. "Dan aku akan membeli semua yang ada dalam daftar itu. Aku akan menjadi ibu yang paling siap. Ayo, kita mulai."

Ketika kami berjalan diantara deretan stan, kepalaku berputar kesana kemari. Belum pernah aku melihat peralatan bayi sebanyak itu… mainan-mainan lucu menggemaskan…

"Kau akan membutuhkan kursi mobil," Chanyeol eonni mulai lagi. "Ada yang bisa dipasang di mobil, ada juga yang bisa dipasangi roda…"

"Oke." aku mengangguk lesu. Jujur saja, aku tak begitu semangat memilih-milih kursi mobil. Apalagi kami pernah beli untuk Taeoh dulu dan tak pernah dipakai sampai sekarang karena anak itu lebih suka meloncat-loncat diatas kursi mobil daripada mendudukinya.

Tiba-tiba mataku tertumbuk pada stan Disco Baby. "Hei, eonni! Itu penghangat kaki bayi!"

Chanyeol eonni tidak menggubrisku, "Kau butuh pensteril botol dan alat-alat makan. Lihat ini, ada yang berupa microwave, meskipun kau akan memberikan bayimu ASI, tapi kau juga—"

"Kerincingan bola disko!"

"Ya ampun!" wajahnya berubah cerah. "Aku harus membeli satu untuk dipasang di kamar Yichan!" dia langsung menjatuhkan brosur-brosur di tangannya dan menarikku kesana.

Ini terbalik. Kayaknya aku yang berhasil mempengaruhi dia.

Ada kaus bertuliskan "disco girl" dan "disco boy", juga topi-topi bisbol kecil yang menggemaskan. Aku membeli topi itu, juga sepatu kaus rajutan, dan mantel mini. Di stan sebelahnya, aku membeli handuk pantai bayi serta payung pantai mini. Chanyeol eonni membeli karousel Winnie The Pooh dilengkapi remote control.

"Maaf, nona-nona?" Kai menginterupsi kesenangan kami. "Apa urusan belanja-belanja iseng ini sudah selesai? Kapan kita beli kereta bayinya?"

Segera saja aku memutar bola mata dan Chanyeol eonni terkikik kecil melihatku.

"Baiklah, Tuan paduka. Kita langsung ke area kereta bayi." Kutatap Kris oppa dan Chanyeol eonni, "Kalian bagaimana? Siapa tahu butuh kereta dorong baru untuk Yichan."

Kris oppa menggeleng tegas, "Dia sudah tidak butuh. Lagipula kereta dorong kami di rumah ada lima, ditambah tiga macam kereta dorong milik Sophia dulu. Jadi semua jumlahnya tujuh! Kita tak perlu beli apa-apa lagi. Iya kan, darling?" ucapnya manis tapi penuh ancaman.

Chanyeol eonni menelan ludah, lalu cengengesan aneh. "I-iya.. tidak butuh lagi. Heheh. Kami menunggu di food court saja, nanti kita ketemu disana. Bye bye!"

"Oke deh, see you!" aku melambaikan tangan dan Kai hanya melempar senyum ke mereka sambil merangkul pundakku. Tapi baru saja kami menjauh tiga meter, mendadak ponselku berdering dan ternyata itu pesan dari Chanyeol eonni.

Kalau disana nanti ada kereta bayi Urban Baby model cosy-toes, tolong belikan untukku ya?

Nanti kuganti

Luv u~ :*

Ckckck. Dasar orang aneh. Sejak kapan dia jadi gila mengkoleksi kereta bayi?

Kami menuju pintu masuk berbentuk kubah yang luas bersama pasangan-pasangan lain. Dan begitu kami melangkah masuk, aku merasakan secercah kebahagiaan. Lagu Twinkle Twinkle Little Stars versi orkestra yang lembut mengalun dari pengeras suara, membangkitkan selera belanja dan jiwa keibuanku sekaligus.

Menurut buku kehamilan yang pernah kubaca, sangat penting mengikutsertakan pasangan kita dalam segala aspek kehamilan. Sebab jika tidak, pasanganmu bisa sakit hati dan merasa terasing. Itu sebabnya sebisa mungkin aku selalu mengikutsertakan Kai. Seperti misalnya, dua hari yang lalu, aku mengajak Kai nonton bareng DVD baruku '18 Gaya Senam Pernapasan Ibu Hamil'. Meskipun nontonnya baru lima menit karena tiba-tiba dia teringat ada rapat penting yang harus dihadiri. Tidak apa-apa. Intinya Kai tidak merasa diabaikan.

Kupandangi Kai dengan wajah berbinar-binar. "Bagaimana menurutmu? Darimana sebaiknya kita mulai?"

"Apa yang kita butuhkan?" Kai mengusap-usap kening, barangkali pusing melihat ratusan kereta bayi berjejer di depannya. "Kereta bayi biasa? Kereta multifungsi? Kereta traveling?"

"Permisi tuan dan nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Kami menoleh dan melihat pria pendek berkepala bulat dan berambut cepak menghampiri kami. Dia mengenakan kemeja khas pramuniaga disini dengan tanda pengenal bertuliskan 'Joel Kim'.

Joel? Nama yang keren. Sangat tidak matching dengan orangnya.

"Kami membutuhkan kereta bayi," kata Kai.

Mata Joel tertuju ke perutku kemudian naik ke wajahku. "Kereta bayi seperti apa yang Anda cari?"

"Masih bingung menentukan," aku melirik Kai. "Terlalu banyak pilihan disini. Rasanya kami perlu bantuan."

Joel mengangguk-angguk sopan. "Ya, tentu saja. Silahkan lewat sini." Dia membimbing kami memasuki pusat area "Travel System" sambil menjelaskan panjang lebar fungsi dan kegunaan masing-masing kereta, persis seperti pemandu di museum.

"Setiap pasangan berbeda," tukas Joel dengan intonasi suara 'menjual'. "Untuk mengarahkan Anda pada pilihan yang tepat, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan mengenai gaya hidup Anda." Joel meraih notes kecil dari sakunya. "Sehari-hari anda lebih banyak melakukan aktifitas seperti apa? Jalan-jalan di trotoar? Shopping? Off-road? Menyelam? Atau mendaki gunung?"

"Semuanya," jawabku spontan akibat terhipnotis aura sales Joel.

"Semuanya?" jerit Kai tak percaya. "Sehun, kapan kita pernah mendaki gunung?"

"Mungkin suatu saat nanti aku kepingin." Aku membayangkan diriku mendorong kereta bayi dengan entengnya mendaki Gunung Everest, sementara bayiku berceloteh riang. "Menurutku kita tidak boleh membatasi kemungkinan seperti itu."

"Hm-hm," Joel sibuk mencatat. "Sekarang, Anda membutuhkan kereta yang bisa dilipat dan mudah dinaikkan ke mobil? Atau Anda ingin kereta yang biasa dipakai anak agen mata-mata Rusia?" pertanyaannya sukses membuat aku dan Kai kompak terkesima bengong.

Aku menggaruk kepala. Sejak kapan membeli kereta dorong bayi jadi serumit ini? Kalau dulu kereta bayi Taeoh hadiah persalinan dari salah satu mantan klienku yang berprofesi sebagai dokter anak.

Ini semua gara-gara Kai. Aku menjual kereta dorong Taeoh di eBay sebagai bentuk pelampiasan karena tidak diizinkan punya anak lagi. Ujung-ujungnya dia malah berubah pikiran.

"Kita lihat-lihat saja dulu model yang ada," akhirnya aku bisa menjawab.

Joel mengantongi buku notenya kembali. "Oke, kita bisa mulai dari sana."

Setengah jam kemudian kepalaku sudah pusing. Kami melihat-lihat kereta yang bisa diubah menjadi kursi mobil, kereta buggy dengan ban sepeda, kereta bayi yang dilengkapi kasur pegas jerman, serta kereta canggih yang bisa melindungi bayi dari polusi juga ideal untuk "shopping" dan menikmati "latte" (aku senang kereta yang ini).

Sebenarnya aku sudah kepingin minum latte, tapi Kai masih asyik melihat-lihat. Dia sibuk meneliti rangka kereta dorong yang memiliki roda paling besar dan paling kasar diantara semua kereta dorong yang ada disini. Kereta itu dibungkus bahan bercorak tentara dan mirip tank.

"Model ini paling mudah diputar-putar." Mata Joel berkilat-kilat semangat saat dia mendemonstrasikannya. "Bisa dibilang Soldier ini Rajanya semua kereta off-road. Anda lihat as rodanya yang berpegas?"

"Soldier?" aku terperangah. "Kita tidak akan membeli kereta Soldier!"

Kedua lelaki itu tidak menggubrisku.

"Sangat canggih." Kai meraih pegangannya dengan raut terkesima. "Enak dipegang."

"Itu kereta laki-laki!" aku memprotes. "Kita butuh kereta cantik untuk bayi perempuan, Kai!"

Ukh! Lagi-lagi aku tidak dianggap.

"Tempo hari ada mantan agen rahasia FBI datang kesini, Tuan Kim." Joel merendahkan suaranya. "Ini kereta bayi yang dia pilih."

"Aku sangat menyukainya." Kai mendorong kereta itu maju mundur. "Sehun, sebaiknya kita beli yang ini saja."

"Oke." aku memutar bola mata sebal. "Kau saja yang pakai kereta itu."

Kai melotot tak terima. "Apa maksudnya aku saja yang pakai ini?"

"Soalnya aku mau yang ini!" sergahku ngotot.

"Bercanda ya?" tukas Kai mengamati kereta pilihanku sambil mencibir meremehkan. "Yang itu kelihatannya seperti mainan murahan."

"Keretamu kayak tank! Jangan harap aku mau mendorong kereta sangar begitu di jalan! Lagipula aku kan tidak berencana membawa bayiku ikut berperang."

"Kalau boleh saya sarankan." Joel menengahi adu mulut tak penting kami. "Sejauh pengamatan saya, menuruti perkataan istri Anda diusia kehamilannya itu penting sekali, Tuan. Saya juga punya istri yang sedang hamil tua dan sikapnya begitu emosional. Tapi tidak apa-apa, bersikap emosional itu wajar. Itu karena pengaruh hormon."

Yang benar saja deh. Orang selalu menyalahkan hormon. Seperti Kai kemarin malam, waktu melihatku menangis gara-gara iklan di TV yang ada anak anjingnya. Aku tidak terpengaruh hormon, aku normal-normal saja kok. Iklannya saja yang memang mengharukan.

Aku melihat Kai dirundung rasa galau, bolak-balik dia mengamati keretaku, lalu kereta di tangannya, keretaku, begitu seterusnya. Aku yakin sekali dia tidak akan bertahan lama. Soalnya sikap Kai sangat manis dan penuh pengertian selama aku hamil. Biasanya aku suka ngidam kombinasi yang aneh-aneh. Seperti tempo hari, mendadak aku sangat menginginkan nanas dan kardigan pink. Kemudian Kai yang pulang larut malam terpaksa berkeliling mencari toko buah yang buka tengah malam dan rela mengantri bareng segerombolan ibu-ibu demi kardigan pink pesananku.

"Kita beli saja kereta itu." ujar Kai menghela napas pasrah. "Aku benar-benar tidak keberatan."

Tuh. Kubilang juga apa.

.

.

.

.

Aku dan kakakku menghabiskan sepanjang hari bersama, asyik sekali pokoknya. Mobilku sangat imut-imut, jadi aku memasukkan kelebihan muatan ke bagasi mobil Range Rover milik Kris oppa yang besar dan lapang. Setelah itu kami melaju bersama menuju ke pusat kota, minum teh di Café Hello Kitty—yang sempat diprotes Kai dan Kris oppa karena katanya mereka bisa gatal-gatal dikelilingi tembok Pink bergambar kucing Pink. Asal tahu saja, itu tidak ngaruh. Aku dan Chanyeol eonni tetap keluar sebagai juara dan dua orang itu kalah.

Setelah puas hangout di café, kami mampir ke Lotte Plaza sebentar dan disana aku membeli empat Maternity jeans di Seven for All Mankind, sementara Chanyeol eonni membeli dua tas dan kacamata di Valentino. Tahu-tahu sudah tiba waktu makan malam dan kami memutuskan untuk makan di Bon Chon gara-gara Yichan ngiler melihat anak-anak lain makan ayam bumbu saus merah.

Kecapekan berkeliling di dua tempat sekaligus, kami akhirnya pulang dan Range Rover ikut mengantar barang-barangku ke rumah. Disaat Kai dan Kris oppa bekerja sama menurunkan barang-barang dari kedua mobil, Papa keluar rumah sambil mengenakan selop tidur favoritnya.

"Wow," dia berdecak-decak waktu melihat tas-tas menggunung di lantai. "Jadi kamar bayi kalian sudah lengkap sekarang?"

"Eh…" Baru aku ingat belum membeli alat pensteril botol, bantal menyusui atau penghangat kaki bayi sekali cas. Ya sudahlah. Masih ada tujuh minggu lagi kok. Masih lama.

Kai terhuyung-huyung masuk membawa kolam plastik, mainan kuda-kudaan karet, dan sekitar enam tas belanja. Kris oppa hanya membawa dua karena dia sibuk mengutak-atik ponsel di tangan lainnya. Sedangkan Chanyeol eonni langsung ngeloyor ke kamar mandi karena ingin mengganti popok Yichan.

"Kalian membeli dua kereta dorong?" Papa membantuku membawa masuk kereta dorong yang satu lagi. Yang milik Chanyeol eonni. Tentu saja aku tak akan mengakui itu di depan suaminya.

"Ya… kami sengaja beli dua untuk ganti suasana," jawabku cepat begitu Chanyeol eonni mengintip dari kamar mandi dan melempariku pelototan penuh arti.

Papa mengernyit, "Memangnya kereta dorong Taeoh mana? Seingatku itu masih bagus."

Harus ya seluruh dunia tahu kalau aku menjual kereta dorong anakku sendiri demi melampiaskan kesal?

"Sudah berada di tempat yang lebih baik." Aku mengangguk-angguk sok asik sambil tersenyum sok kalem.

Baru saja Papa hendak buka mulut ketika suara dari belakang lebih dulu menyambar. "Se—wah, ada kalian toh!" tak perlu menoleh untuk tahu suara melengking siapa itu. Pasti Mama. "Sini, sini, Yichan. Sudah lama kalian tidak ketemu. Ayo Taeoh main sama sepupumu sana." Mama menurunkan Taeoh dari gendongannya, tapi anak itu malah ngibrit ke kamar sambil cengengesan. Dasar anakku…

Yichan berlari mengejar Taeoh sambil berteriak, "Petak umpet!"

"Kalian tak ingin menginap dulu?" Papa bertanya ke Kris oppa. "Atau minum anggur sebentar sambil ngobrol-ngobrol?"

Pria itu menggeleng sambil tersenyum sungkan. "Kayaknya tidak, Pa. Maaf. Kami musti buru-buru hari ini, soalnya harus menjemput anak-anak dulu. Mungkin lain kali saja."

"Padahal kalau mau akan kusiapkan kamarnya. Kalian bisa tidur sementara di kamar kosong, toh bayinya juga belum lahir," timpal Mama.

Kai manggut-manggut setuju. "Ya, menginap saja dulu, biar ada yang menemani Taeoh bermain, besok Yichan baru kalian jemput lagi di Happy Land."

Chanyeol eonni keluar dari kamar Taeoh sambil menggendong Yichan. "Sayangnya hari ini tidak bisa. Nanti saja sekalian ulang tahunnya Taeoh dan merayakan persalinan keduanya Sehun."

Oh iya. Ulang tahun Taeoh. Aku kok bisa-bisanya lupa sih? Dan itu dua belas minggu dari sekarang! Aku berharap anak kedua kami sudah lahir sebelum hari-H jadi acara syukurannya bisa dirangkap. Pasti seru. Kami bisa mendirikan tenda-tenda di halaman belakang dan aku bisa mengajak teman-temanku beserta para suami dan anak-anak mereka untuk menginap. Rumah ini pasti bakal lebih ramai dari pasar malam.

"Betul juga! Kalian menginapnya pas acara ultahnya Taeoh saja," usulku berbinar-binar antusias.

"Ide bagus." Kris oppa tersenyum tipis kearahku lalu tatapannya berpindah dari Papa, Mama ke Kai. "Kalau begitu kami pamit dulu."

"Terima kasih sudah menemani jalan-jalan hari ini," ucap Chanyeol eonni.

Kuberi dia pelukan erat, "Seharusnya aku yang bilang terima kasih kakakku sayang."

"Sama-sama adikku sayang, dan oh iya…" dia merendahkan volume suaranya. "Titip kereta bayinya. Besok akan kuambil."

Aku menyeringai lebar. "Sip deh."

Kali ini gantian Mama yang memeluk Chanyeol eonni. "Jaga diri kalian baik-baik ya, terus jangan malas suruh anak-anakmu makan. Jangan sampai mereka sakit."

Chanyeol eonni tertawa pelan. "Pastilah Mamaku sayang, aku kan tidak mungkin menelantarkan anak-anakku sendiri."

Setelah tiga orang itu pulang, aku akhirnya bisa merebahkan diri di sofa sambil menghela napas lega. Dokter kandunganku memang sudah menganjurkan agar aku tidak terlalu capek dan banyak bergerak, namun entah kenapa badanku rasanya ngilu-ngilu kalau cuma tidur-tiduran saja seharian tanpa melakukan apa-apa. Aku justru lebih suka menghabiskan waktu dengan beraktifitas di luar ruangan daripada di dalam ruangan.

Oh iya, ngomong-ngomong soal dokter kandunganku, dia adalah Dokter Sooman. Dokter yang sangat piawai menenangkan hati orang. Beliau berusia enam puluhan, dengan rambut ubanan dipangkas rapi, setelan jas bergaris-garis, dan wangi aftershave kuno tercium samar-samar dari tubuhnya. Dan dia sudah membantu kelahiran ribuan bayi, termasuk Kai! Jujur saja agak sulit membayangkan Ratu Es seperti Heechul ngeden diatas ranjang rumah sakit sambil megap-megap. Tapi biar bagaimanapun, itu pasti pernah terjadi bertahun-tahun silam. Begitu tahu aku hamil, Kai berkata kami harus segera menghubungi Dokter Sooman karena dialah dokter kandungan terbaik di negeri ini.

"Aku ke sebelah dulu, mau lihat nasinya sudah matang apa belum." Bersamaan dengan menghilangnya Mama dibalik pintu penghubung, kami mendengar ketokan pelan di pintu depan. Siapa ya malam-malam begini?

"Biar aku saja," Papa beranjak dari sofa dan mendekati pintu.

"Selamat malam." Ternyata pria dari agen pengiriman barang. "Ada kiriman dari .kr untuk Nyonya Kim Sehun."

Fashion Pack? Kapan aku pernah memesan barang dari situ?

Dengan raut wajah bingung aku menghampiri pintu. "Kiriman untukku?"

Kai memandangiku tidak iklas. "Sehun, bukannya kau sudah janji mau memakai semua bajumu sebanyak tiga kali?"

"Aku tidak belanja, oke? Pasti ada kesalahan," tandasku diliputi bingung luar biasa. Ini aneh sekali. Kapan aku pernah memesan barang sih? Seingatku tidak pernah.

"Silahkan tanda tangan disini," dia memberiku nota dan pulpen.

"Tunggu sebentar!" aku mengangkat tangan. "Aku tidak mau tanda tangan karena aku tak ingat pernah memesan sesuatu!"

"Anda memesan sesuatu, nyonya." Suaranya jemu, seakan-akan sudah ribuan kali mendengar alasan seperti itu. "Dua puluh barang."

DUA PULUH?!

Rahang Kai ternganga lebar, "D-dua puluh?"

"Akan kutunjukkan bonnya kalau kalian tidak percaya." Orang itu memutar mata dan kembali ke mobil.

Oke, ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin aku memesan dua puluh barang sekaligus dari .kr dan tidak bisa mengingatnya sama sekali? Apa aku diam-diam mengidap Alzheimer?

Aku memperhatikan Kai dan Papa saling bertukar pandang dibelakangku.

"Aku tidak melakukannya! Aku tidak pernah memesan apa-apa. Pasti kesalahan teknis komputer," ucapku membela diri.

"Sehun, jangan pakai alasan itu lagi." keluh Kai lelah.

"Itu bukan alasan! Sungguh." seruku putus asa. "Aku memang tidak ingat pernah pesan barang."

Papa menggaruk-garuk lehernya. "Well… tidak ada penjelasan lain. Seseorang jelas telah memesan ini."

"Mungkin identitasku dicuri. Atau mungkin aku belanja dalam tidur…" kataku, mendadak dapat inspirasi.

Ya, ya, pasti begitu! Sekarang semuanya jadi masuk akal. Ternyata aku ini orang yang suka 'belanja-dalam-tidur'. Aku bisa membayangkan diriku bangkit tanpa suara dari ranjang, menuruni tangga dengan pandangan kosong, membuka komputer, dan mengetikkan detail-detail kartu kreditku…

Tapi mengapa aku tidak membeli tas keren dari Lyst yang sudah lama kuidam-idamkan? Apakah sisi diriku yang 'belanja-dalam-tidur' ini seleranya kurang bagus? Bisakah aku menulis surat request tas untuk diriku sendiri yang suka 'belanja-dalam-tidur' itu?

"Belanja dalam tidur?" Kai menaikkan sebelah alis. "Wah sudah dapat alasan baru ya."

"Tidak kok," bantahku. "Ini sama seperti 'Berjalan-dalam-tidur'. Itu hal yang lumrah terjadi. Hanya saja aku melakukannya sambil belanja online. Itulah mengapa aku menyebut kasus langka-ku ini sebagai 'Belanja-dalam-tidur'."

"Nak, dari kecil aku tak pernah melihatmu berjalan-jalan dalam tidur." Papa mengulum senyum geli.

"Berarti aku baru terjangkit kondisi medis itu sekarang. Selalu ada keajaiban yang terjadi di dunia yang sempit ini, Pa." tukasku ekstra yakin.

Mulut Kai berkedut-kedut menahan tawa. "Gitu ya?"

"Benar sekali. Sangat berbahaya membangunkan orang-orang yang dalam kondisi begitu," aku mewanti-wanti dia. "Mereka bisa kena serangan jantung. Jadi kau harus membiarkan mereka."

"Oooh," Kai mengangguk-angguk dengan raut menyebalkan. "Berarti kalau aku melihatmu sedang memborong Jimmy Choo lewat internet sambil pakai piyama, aku harus membiarkanmu? Karena kalau dibangunkan kau bisa mati kena serangan jantung?"

"Hanya kalau itu di tengah malam dan pandanganku kosong," tambahku.

"Sayang," Kai tertawa pendek. "Pandanganmu memang selalu kosong di tengah malam."

Kurang ajar dia.

"Pandanganku tidak kosong!" aku mulai panas, sementara petugas tadi menampakkan diri lagi di pintu depan.

"Ini dia," diangsurkannya secarik kertas ke tanganku. "Dua puluh dress Dolce and Gabbana."

"Dua puluh dress?" kupandangi kertas itu tak percaya. "Memangnya kenapa aku memesan dua puluh dress dengan bentuk yang sama?" Dan asal tahu saja, satu dress harganya tujuh belas juta won. Yang kalau kita kalikan dua puluh maka…

AKU TELAH BERUTANG TIGA RATUS EMPAT PULUH JUTA DI BANK!

Ya Tuhan.

Tolong… mataku mulai berkunang-kunang.

Sejujurnya, aku memang pernah melihat dress ini di internet. Dress hitam dengan payet-payet bunga daisy warna kuning emas. Bahkan aku memasukkannya dalam keranjang belanja, tapi tak pernah benar-benar berniat…

Oh, tidak. Tidak. Tidak mungkin. Sebuah bayangan mengerikan menyergap kepalaku. Aku meninggalkan laptop dalam keadaan terbuka di kamar, halaman situs yang lupa kututup, Taeoh memanjat naik ke kursi…

"Taeoh," aku menyipitkan mata ke anak itu. "Apa kau yang memainkan laptop Mummy?"

"Kau bercanda ya." Kai terperanjat. "Dia tidak mungkin bisa melakukannya."

"Mungkin saja!" balasku defensif. "Dia bisa menggerakkan mouse dengan mudah. Dan situs itu ada tombol sekali klik. Kalau dia mengetuk-ngetuk keyboard sebanyak-banyaknya dan mengklik mouse sebanyak-banyaknya…"

"Maksudmu Taeoh yang memesan semua ini?" Papa juga sama-sama kaget.

"Yaa… habis siapa lagi…? Kalau bukan aku dan kalau bukan Kai…"

"Mau dibawa kemana?" petugas itu menyela kami. Tahu-tahu saja dia sudah kembali sambil mengangkat kotak besar. Kotak itu sebesar ayahku.

Aku menggeleng-geleng panik. "Tidak! Aku tidak menginginkan dua puluh dress! Bawa kembali!"

"Tidak bisa." Orang itu menggeleng sambil meletakkan satu kotak di dekat pintu. "Kalau mau dikembalikan, Anda harus menerima kiriman ini dulu baru mengisi formulir pengembalian."

Apa gunanya menerima kiriman? Toh aku tidak menginginkannya.

"Hanya ini saja? Dalam satu kotak?" tanya Papa mengamati kotak besar itu dari dekat. "Tidak seburuk dugaanku."

"Itu baru satu," orang itu mengoreksi omongan Papa. "Dress-nya dikemas satu-satu dengan gantungan sendiri." ujarnya sambil menurunkan kotak lain lagi. Mataku melotot ngeri memandangi kotak-kotak raksasa yang berjejer mirip peti mati disamping Papa.

Aku berkacak pinggang sambil memelototi Taeoh. Tak tahan aku untuk menyalahkan dia. "Kau anak yang sangat nakal, Taeoh. Kau tidak boleh memesan sembarangan dari internet! Dan aku… aku… aku bersumpah tidak akan membuatkan susu lagi untukmu!"

"Mauuuuuu!" dia mengacungkan tangan ke kotak-kotak itu.

"Ada apa?" Mama muncul dari ambang pintu. Sesaat aku mengira bola matanya akan terlontar seperti per. "Apa-apaan ini?"

"Ada kekeliruan," sahutku cepat. "Tidak akan lama kok disini. Akan kukembalikan secepatnya." Aku menoleh ke petugas itu. "Ehm, maaf, permisi, kalau saya mengembalikan ini apa uang saya bisa kembali?"

"Tergantung," jawabnya sambil menggendong kotak ke-16. "Ada masing-masing ketentuannya, tidak sembarangan. Memang ada yang bisa mengembalikan barangnya ke pihak pengirim jika ada kesalahan dan uang mereka akan kembali dengan aman. Tapi setau saya, di Fashion Pack tidak bisa. Sekali pesan, tak bisa dikembalikan."

"Lho? Gimana sih?! Tadi bilangnya bisa?" aku tersulut emosi bagai Raksasa buas yang ingin menghancurkan rumah warga.

Petugas itu hanya berwajah datar sambil menggendong kotak ke-17. Tidak bersimpati sama sekali. "Maaf nyonya, saya baru ingat."

ARGHHHHH!

Kai merebut kertas dari tanganku. Dia juga ikut membeku waktu melihat angka yang tertera disitu. "Honey, ini semacam lelucon atau harganya memang tujuh belas juta?"

Aku mengangguk lemah, merosot di lantai seperti pelaku kejahatan yang siap dirajam sampai mati. "Harganya memang tujuh belas… juta."

Mama ketutupan kotak ke-19 jadi aku tak bisa melihat ekspresi seramnya. "Tujuh belas juta untuk semua ini atau tujuh belas juta untuk satu gaun?"

Tenggorokanku kering dan gatal. Juga seret. "Tujuh belas untuk… satu gaun."

Hening. Keheningan horror yang panjang menyelimuti kami. Sampai-sampai begitu si petugas berhasil menurunkan kotak ke-20, kami masih mematung dalam pose yang sama. Yang kedengaran cuma suara kecapan mulut Taeoh yang sedang mengunyah roti madu.

Bagaimana ini?

Mimpi buruk yang selama ini kutakutkan menjadi nyata. Aku terlilit utang! Demi Tuhan… aku terlilit utang…

Dan itu gara-gara anakku sendiri…

.

.

.

.

Salah satu keuntungan punya suami milyuner-yang-menyamar-jadi-rakyat-jelata adalah, dia mampu melunasi utang-utangmu di Bank hanya dalam sekali kedipan mata. Walaupun ekspresi wajah Kai setelah melunasi utang itu seperti seekor Singa laut tua yang dipaksa melompati lingkaran api.

Fine. Jadi pada dasarnya aku masih terlilit utang. Bedanya dengan yang tadi, kali ini aku berutang di suamiku. Meski kedengarannya tidak terlalu buruk, tapi percayalah… sekali utang tetap utang! Itu akan menghantui kita seumur hidup, menempel terus bagai benalu pohon, dan akan terus mengikuti kita sampai ke liang kubur. Satu-satunya cara melunasinya yaitu dengan menjual kembali gaun-gaun dungu itu ke setiap orang yang kukenali.

Eonni, apa kau mau dress Dolce and Gabbana seharga tujuh belas juta?

Aku menekan tombol send ke nomer Chanyeol eonni dan Kyungsoo eonni sekaligus. Balasan dari mereka datang tak sampai dua menit. Aku membuka sms pertama dari Kyungsoo eonni.

Apa kau gila?

Kucoret nama Kyungsoo eonni dari daftar.

Sms kedua dari Chanyeol eonni. Semoga dia tertarik. Kalau tidak, akan kubocorkan ke suaminya kalau dia sembunyi-sembunyi membeli kereta bayi lagi.

Seperti apa modelnya?

Aku mengetik balasan sambil menyisipkan pesan gambar.

Bagus sekali. Gaun ini pernah muncul di Summer Collection for Paris Runway tahun lalu.

Gimana? Tertarik?

Ponselku berdering semenit kemudian dan buru-buru kubuka.

Aku sering melihat gaun ini dipakai teman sekantorku.

Ya ampun. Aku lupa kalau dia benci memakai sesuatu sudah dimiliki duluan oleh orang lain.

Oh, ayolah, eonni. Aku lagi terlilit utang

Sedang butuh uang untuk melunasinya.

Bantu aku plis plis plis ;(

Dua menit kemudian.

Kau terlilit utang? Pasti sebentar lagi kiamat!

Ini keajaiban dunia ke-13! Seorang Kim Sehun terlilit utang

Apa gudang emas Kai baru saja dirampok orang?

Sialan. Bisa tidak sih dia menjawab 'iya' tanpa harus berbelit-belit? Pakai menghina segala lagi.

Pertama, Kai tidak punya gudang emas

Kedua, kau mau membantuku apa tidak sih?

Jawaban terakhir Chanyeol eonni spontan membuatku menarik napas kecewa.

Tidak. Maaf. Hehe.

Kau tahu sendiri kan aku pantang memakai barang yang mirip

Semoga masalah utangmu cepat teratasi, adik kecil ;-)

Btw, aku punya beberapa kenalan yang mungkin tertarik dengan gaun ini

Nanti kubantu menawarkannya ke mereka.

Aku baru saja mau membalas "tidak butuh", tapi kita tidak boleh menolak pertolongan orang di saat-saat genting begini kan? Siapa tahu ada salah seorang teman kakakku yang cukup gila untuk memborong semuanya.

"Sayang?" aku sedikit tersentak mendapati tubuh Kai sudah berdiri menjulang di depanku. Saking terlalu keasikan aku tidak sadar dia masuk. "Masih memusingkan utang?"

Aku mengangkat kedua kakiku naik ke kasur, berusaha merebahkan punggung. "Yaaa… gitu deh."

Kai duduk di pinggiran ranjang, memijat pelan tungkai kakiku menggunakan satu tangan. "Santai. Jangan tegang begitu, aku 'kan bukan orang lain."

"Mana bisa santai?" dengusku sambil memutar bola mata. "Kalau aku berutang tiga ribu won sih tidak apa-apa. Tapi masalahnya ini tiga ratus empat puluh juta won! Kau tahu bagaimana banyaknya itu?"

"Iya, iya, aku tahu."

Aku bergeser sedikit jadi kami bisa tidur berdampingan. Kai memeluk pinggangku dari belakang dan aku bisa merasakan perasaan nyaman dan tenang menjalariku. Dalam sekejap aku langsung lupa soal utang dan dua puluh gaun dalam peti mati di garasi.

Bercanda. Aku tidak mungkin melupakannya semudah itu.

Kai mendaratkan kecupan-kecupan kecil di area pundak. Menancapkan hidungnya disana dan menghirup aromaku dalam-dalam. Mau tidak mau dia berhasil membuatku melenguh pelan saat jari-jarinya bergerak membelai puncak 'gunung kembar' milikku.

"Butuh hiburan?" tanyanya, tak berhenti mendaratkan kecupan disana-sini.

Aku tersenyum sambil menoleh sedikit. "Boleh. Apa setelah itu utangku bisa lunas?"

Kai terkekeh kecil lalu menjulurkan lidah meledekku. "As you wish!"

Aku tak ingat bagaimana cara kami melepas baju atau siapa yang memulai duluan, tau-tau saja aku sudah duduk di pangkuan Kai dalam keadaan telanjang, sementara Kai mendekapku dari belakang. Kami melakukan posisi seks paling aman yang dianjurkan dunia medis. Gaya seperti ini tidak akan berbahaya karena perutku tak akan ketindihan. Selain itu, aku hanya perlu mengangkang lebar-lebar sambil menggerak-gerakkan bokongku naik turun sedikit. Kai juga hanya perlu mendorong pinggulnya sedikit tanpa perlu repot-repot melakukan push up seperti dalam posisi seks kebanyakan.

Bunyi decitan kulit dan desahan horny kami membahana, cukup keras hingga menyerupai lolongan dua serigala yang dimabuk asmara. Aku berharap Taeoh maupun orangtuaku sudah tidur lelap. Jangan sampai kejadiannya seperti waktu itu, ketika kami sedang asik-asik, tiba-tiba saja kedengaran suara rintihan orang mengaduh kesakitan dari luar pintu. Rupanya itu suara Papa yang jempol kakinya habis terbentur tembok gara-gara terlalu semangat mengintip.

"Enghh~ Kaii…" aku menggigiti bibir saat telunjuk Kai bermain di kedua nipple-ku, lalu meremas-remas payudaraku dengan tangan-tangan besarnya yang terlatih. Gawat. Aku bisa langsung orgasme hanya karena ini.

Kai mempercepat tempo sodokannya dan jeritanku semakin menjadi-jadi. Kemudian jari-jemarinya berpindah meremas bokong, dan aku merasakan gelombang kesenangan baru saja mengalir keluar membasahi penis besar milik Kai. Penis besar dalam 'plastik pengaman'.

"Ahhh… ahhh. Terus sayaaang! Shit. Aku mencintaimu~ ahhh!" aku mendengar diriku bergumam dan mendesah norak di telinga Kai. Pria itu menarik wajahku mendekat kemudian menyerang bibirku lagi dengan lumatan-lumatan cepat. Mengulum bibir atas dan bawah bergantian, hingga kami terlibat adu tangkas lidah. Aku membiarkan Kai menang dan mendominasi. Selalu begitu. Ada kalanya aku berusaha mengimbangi dia dengan terus meladeni setiap pergerakan lidahnya, walaupun ujung-ujungnya tetap dia juga yang menang.

Saat sedang nikmat-nikmatnya merasakan kejantanan Kai di lubangku, tiba-tiba kaki-kaki kecil dalam kandunganku kembali menendang-nendang.

Aku meraih tangan Kai dan kuletakkan di perut. "Kau dengar itu? Dia bilang lebih cepat lagi."

"Oke, Nak. Mari kita bersenang-senang bertiga." bisik Kai dengan seringai mesum paling indah yang pernah kulihat.

Lalu kami menghabiskan sisa malam penuh gairah itu dengan tangan Kai yang tetap menempel di perutku. Merasakan getaran-getaran kecil di telapak tangannya sambil membisikkan kalimat-kalimat yang membuat jantungku berdebar keras seperti alunan musik yang merdu.

Seperti inilah kami. Pasangan Kim yang berbahagia.

.

.

.

.

You Have 3 New Notifications Mail

Seo Joo-hyun

Ke:sehuna_kim

Sept 01 pada 13:20 PM

Dear Mrs. Kim

Terima kasih untuk e-mail yang anda kirimkan, senang sekali menerima saran dari orangtua murid seperti anda. Sayangnya kami tidak bisa menerima usulan studi tour sebulan sekali ke luar negeri. Karena para balita belum paham apa itu studi tour.

Dengan hormat,

Seo Joo-hyun, kepala playgroup Happy Land.

NB: Jangan khawatir soal insiden kecil kecipratan tinta. Lagipula Bu Taeyeon memang berniat mengecat ulang rambutnya.

.

.

Seo Joo-hyun

Ke:sehuna_kim

Sept 02 pada 10:02 AM

Dear Mrs. Kim

Terima kasih untuk e-mail balasan yang sebelumnya anda kirimkan, senang sekali menerima saran dari orangtua murid seperti anda. Sayangnya kami tidak bisa menerima usulan studi tour ke luar negeri bagi para orangtua murid. Karena terus terang saya tidak melihat adanya keuntungan dari kegiatan tersebut.

Dengan hormat,

Seo Joo-hyun, kepala playgroup Happy Land.

NB: Jangan khawatir soal insiden kecil ketumpahan lem. Lagipula Bu Sunny memang berniat potong rambut.

.

.

Seo Joo-hyun

Ke:sehuna_kim

Sept 03 pada 11:32 AM

Dear Mrs. Kim

Terima kasih lagi untuk e-mail balasannya, tapi kami juga tidak bisa menyediakan ruang pijat khusus orangtua murid yang sedang hamil tua.

Dengan hormat,

Seo Joo-hyun, kepala playgroup Happy Land.

NB: Jangan khawatir soal insiden kecil memecahkan pajangan bola dunia. Lagipula saya masih bisa membeli bola dunia yang baru.

.

.

Sehuna_Kim

Ke:Seo Joo-Hyun

Sept 06 pada 08.21 AM

Kepada Ibu Seohyun

Saya berterima kasih sekali anda mau membalas email-email saya sebelumnya. Saya tidak keberatan kalau anda tidak mau mengadakan studi tour berkala atau menyediakan ruang pijat khusus orang hamil. Tapi jika dalam waktu dekat ada pesta yang ingin anda hadiri dan anda kebingungan karena tidak punya kostum, saya punya dress Dolce and Gabanna seharga tujuh belas juta. Jika anda tertarik, anda bisa lihat gambar dibawah ini.

Dengan hormat,

Orangtua Kim Taeoh.

.

.

.

.

Aku tidak tahan. Aku benar-benar tidak tahan. Sementara Bomi menuangkan kopi untuk anggota timku yang lain, di luar aku tampak tenang, tersenyum pada semua orang, bahkan berbasa-basi ramah. Tapi di dalam aku benar-benar tidak sabar menunggu kabar dari Chanyeol eonni atau melompat ke tengah ruangan konferensi sambil berteriak "ADA YANG MAU GAUN?!". Sumpah. Belum pernah aku terjebak dalam perasaan sefrustasi ini.

Disaat Ravi—Lighting Coordinator—maju ke depan dan berkoar-koar soal lampu dan sebagainya, aku sedang mengemuti pulpen, berusaha fokus pada penjelasannya.

"Kita rencananya nanti mau menggunakan dengan "Daylight" di ballroom dan "Reception Area 1" di ruang resepsi, terus setelah dinner, pihak yang bersangkutan meminta ruangan khusus untuk Party dan kami nanti akan menggunakan efek "Strobe" disitu…"

"Strobe? Bukankah hitam putih agak terlalu membosankan?" aku mendengar seseorang menyela. "Bagaimana dengan "Disco Rainbow"?"

"Tapi "Strobe" sangat cocok untuk wedding theme-nya itu sendiri, maksudku, mereka 'kan 'Future Wedding'? Bayangkan saja para tamu berdansa ala robot dengan dresscode 'Future Human' mereka," Ravi mempertahankan idenya.

Sambil menunggu mereka selesai berdebat, aku mencatat beberapa hal yang penting, lalu mengangkat tangan setelah seisi ruangan menjadi ricuh hanya karena persoalan lampu.

"Oke. Cukup, Ravi. Bagus sekali." Kulayangkan pandanganku ke beberapa orang, "Teman-teman sanggahannya ditunda dulu, nanti setelah semua PJ acara naik, kalian bebas mengeluarkan isi kepala kalian disitu. Atau sambil perang siram kopi juga boleh."

Aku mendengar seisi ruangan tertawa kecil menanggapi leluconku.

"Next?" tatapanku terarah ke Ken, Sound System Coordinator.

Pria itu maju sambil membawa clipping di tangannya dan aku bisa melihat layar slide berubah lagi, menampilkan gambar-gambar ruangan dengan seperangkat alat pengeras suara canggih yang sudah dipasang di sisi-sisi tersembunyi agar tidak mengganggu dekorasi utama.

Tanganku kembali bergerak untuk mencatat, menambahkan beberapa detail dan memberi tanda panah di sketsa gambar rancanganku sendiri. Ken terlalu pintar. Saking pintarnya, aku tidak menyangka dia pernah memasang alat pengeras suara dibalik kotak tissue toilet.

Kemudian waktu dia mengatakan akan menyetel lagu 'Halo'–nya Beyonce dan 'What Now'–nya Rihanna secara berturut-turut pada jam makan siang, Wendy yang duduk disampingku tiba-tiba angkat tangan. Apa dia tidak mengerti bahasa manusia? Kubilang kan sanggahannya ditunda dulu tadi.

Ah, sudahlah. Asal tidak sericuh tadi saja.

Ken melirikku ragu-ragu, minta persetujuan. Aku menoleh dan melempar senyum ke Wendy. "Ya, silahkan. Two minutes, please."

"Halo dan What Now? Aku sebenarnya tidak masalah dengan pilihan lagu-lagu itu, apalagi di saat makan kita biasanya butuh irama lagu pengiring yang lebih tenang dan lembut, tapi kesannya agak keluar dari tema. Apa ada yang berpikiran sama denganku?"

Sekitar dua puluh pasang mata saling lirik, kemudian bergumam dan berbisik-bisik tidak jelas lalu mengangguk-angguk kompak.

"Betul juga," kali ini datang dari Hayoung. "Kalau boleh kusarankan, kita pakai lagu-lagu bergenre Electro atau Progressive House. Mungkin seperti 'Colors'–nya Hardwell, 'Red Lights'–nya Tiësto, 'Cool'–nya Alesso, atau 'I Want You To Know'–nya Zedd. Saya rasa pilihan lagu-lagu itu juga bagus untuk diputar di tengah-tengah suara gemerisik piring beradu dengan sendok."

Aku melihat Ken kelabakan mencatat judul-judul lagu itu di kertasnya. "Bisa diulangi?"

Waktu Hayoung mendikte ulang judul-judul lagu tadi, aku melirik kebawah meja dan mengeluarkan ponsel. Mengusap layarnya sambil setengah berharap Chanyeol eonni yang mengabariku, tapi ternyata cuma sms sampah dari operator. Ck. Hapus saja!

Begitu semua PJ telah selesai membawakan presentasi dan perang debat berakhir dengan satu kesepakatan damai, aku memberikan mereka beberapa arahan serta masukan disana-sini, kemudian menyuruh Namjoon—kepala Traffic Management Officer—untuk berdiri dan menjabarkan kinerja produksi secara keseluruhan.

Mendadak salah seorang diantara kami berdeham untuk menginterupsinya pidatonya. Itu Jaebum, aku tak pernah benar-benar mengerti pada staf baruku ini, dia selalu menjabarkan segala sesuatu dengan bahasa-bahasa bisnis yang ribet. Dari caranya bicara, aku tahu dia ingin pamer pada semua orang kalau dia mantan karyawan teladan SC corporation Yang Terhormat.

"Aku tidak setuju." Jaebum mencondongkan tubuhya ke depan. "Kalau kita akan memaksimalkan konsep inovasi dengan cara yang fungsional, tentu saja kita perlu berfokus pada kompetensi strategis kita—"

"Maaf," aku mengangkat tangan dan semua orang berpaling kearahku untuk memperhatikan.

"Ya?" ujar Jaebum sambil tersenyum puas. Dikiranya aku akan setuju dengan omongannya yang sulit dimengerti ras makhluk planet bumi.

"Aku tidak mengerti ucapanmu," ungkapku polos apa adanya.

Ruangan itu diterpa gelombang keterkejutan, dan Wendy mendengus geli disebelahku.

"Seperti yang kalian tahu," aku mengendikkan bahu santai. "Aku tak pernah tertarik mempelajari istilah-istilah dalam dunia bisnis. Jadi…" aku menoleh dan melempar senyum paling manis untuk Jaebum. "Dengan tidak mengurangi rasa hormat, bisakah kau menerjemahkan apa yang barusan kau katakan dalam bahasa yang kumengerti?"

"Oh," ucap Jaebum, kelihatan malu kena teguran. "Well, aku hanya berkata bahwa dari sudut pandang strategis, walaupun visi perusahaan ini…" suara Jaebum memudar ketika dia melihat kerutan di dahiku bertambah satu garis.

"Ulangi lagi," ucapku kalem. "Tanpa menggunakan kata strategis."

"Oh…iya.." kata Jaebum sambil menggosok hidungnya canggung. "Intinya, aku hanya berusaha menyampaikan… kita harus… berkonsentrasi saja pada… apa yang kita kerjakan dengan baik."

"Ah!" seruku menjentikkan jari. "Sekarang aku mengerti. Namjoon, silahkan lanjutkan."

Wendy melirik padaku, memutar matanya dan tersenyum lebar, dan aku tak bisa menahan diri untuk tidak membalas senyumnya. Kayaknya dia setuju sekali dengan tindakan heroikku tadi.

"Baiklah," aku berdehem pelan diakhir rapat. Maju kedepan dan berdiri, menatap wajah-wajah di depanku satu-persatu. Tatapan mereka semua terarah padaku. Seperti menunggu layar monitor jatuh supaya mereka bisa tertawa terpingkal-pingkal melihat bos mereka terloncat kaget.

Jangan harap itu terjadi lagi.

Tapi… tapi… ya ampuun! Aku sudah tidak tahan! Ekspresi mereka semua terlihat sama. Terlihat seperti sedang membutuhkan gaun baru.

Mulutku terkunci rapat. Seluruh kosakata yang ingin kuucapkan menguap di udara hampa.

"Oke, guys… aku ingin mengatakan bahwa aku sangat bangga kita bisa menyelesaikan tugas lagi bersama-sama. Bahkan…" tunggu dulu, aku tadi mau bilang apa? Dolce and Gabbana? Bukan. Gaun fantastis? Bukan. Tujuh belas juta? Aaakkh! Otak, bisa fokus dulu?

"Bahkan…" seringai aneh yang pastinya tampak mengerikan terpancar ke seluruh ruangan. "Aku… kita tahu… kinerja divisi kita…"

Baiklah. Sudah cukup.

"Ada yang mau gaun?"

.

.

.

.

Aku tidak percaya ini.

Aku beneran mengatakannya!

Ada yang mau gaun? Pfuh. Tolol sekali. Dan setelah aku capek-capek berkoar-koar soal kelebihan-kelebihan gaun yang kupesan sambil menyebutkan nama sederet artis yang kemungkinan besar pernah memakai gaun itu, semua orang hanya memandangiku seolah-olah aku telah menciut menjadi seukuran ikan mas. Seusai rapat aku langsung berdoa semoga lantai bisa langsung menelanku detik itu juga karena… sumpah, memalukan sekali! Aku sampai rela promosi di depan rekan-rekan kerjaku sendiri dan menurunkan sedikit harga diriku, tapi mereka semua hanya menggeleng simpati sambil berdecak-decak. Jaebum si jenius malah senyam-senyum sambil berkata, "Seingatku Song Hye Gyo tidak pernah memakai gaun itu".

Lihatlah betapa jeniusnya dia.

Meski begitu, ada hikmahnya juga tadi aku merendahkan diri, karena setelah rapat divisi putaran kedua, aku mendapat kabar dari Baekhyun yang katanya tertarik ingin membeli gaunku. Horeee!

Langkah-langkahku ringan menaiki undakan tangga penthouse baru Baekhyun. Semenjak menikah, Baekhyun dan suaminya tinggal disini. Penthouse mewah yang katanya bekas anak Perdana Mentri Korsel tahun 2006. Sudah pasti harganya bombastis. Yaa… tak heran sih untuk pasangan pengacara senior sekelas mereka.

"Baekhyun," seruku di depan pintu. Menekan bel berkali-kali tapi tak ada seorangpun yang keluar menemuiku. Mana sih mereka? Katanya siang ini tidak kemana-mana. "Baekhyun! Helooo? Permisii?"

Tidak ada jawaban. Aku merasa agak kecewa. Apa jangan-jangan dua orang itu baru saja pergi untuk menghindari sales gaun tujuh belas juta sepertiku?

Ah, tidak mungkin. Baekhyun tidak mungkin begitu. Aku tahu dia pasti ada di dalam. Sedang malas-malasan di kasur bersama Daehyun.

Sambil berdiri terpaku di lorong, aku mendengar suara berdebum-debum dari dalam. Suara berdebum yang sangat aneh. Ya Tuhan. Apa itu? Apa yang—

Dan kemudian aku melihatnya, melalui jendela ruang duduk. Di lantai, di dekat sofa, ada dua tas kerja warna hitam dan beberapa pakaian berhamburan. Ampun. Berantakan sekali. Apa yang sedang mereka lakukan sih?

Didorong rasa penasaran, aku mencoba memutar kenop pintu. Terkejut menemukan pintu kayu putih itu terkuak lebar di depanku. Ternyata tidak dikunci. Bahaya sekali! Dasar ceroboh. Untungnya ini aku, bagaimana kalau ada orang jahat yang berniat macam-macam? Mereka pasti sudah habis.

"Hai, Baekhyun!" seruku gugup dan was-was. Seolah-olah ada kamera tersembunyi yang menyorotku. "Kau dimana sih? Jangan marah ya aku main masuk saja. Habis kau tidak keluar-keluar sih…" aku berjalan mondar-mandir bimbang di ruang tengahnya, lalu menuju ke pintu kamar. Menguping sebentar, suara berdebum aneh itu masih kedengaran samar-samar. Ketika aku mengetuk, tidak ada sahutan dari dalam. Tapi suara berdebum itu sudah mereda. Aku menatap pintu kayu, mendadak merasa ragu. Tiba-tiba, gagasan kecil muncul di benakku.

Masa bodoh. Berlagak tidak tahu apa-apa saja. Buka pintu kamar seperti tidak disengaja. Toh, Baekhyun tak bisa menyalahkan aku. Salah sendiri dia tidak keluar-keluar.

Aku meraih kenop pintu, membukanya dan langsung menjerit ngeri.

Pemandangan itu begitu mengejutkan. Baekhyun telanjang. Mereka berdua telanjang. Tubuhnya dan tubuh Daehyun terbelit dalam posisi seks paling ganjil yang pernah kulihat. Baekhyun jungkir balik dengan kaki terangkat ke udara, dan kaki Daehyun memeluk kakinya, wajah mereka merah padam dan mereka tersengal-sengal.

"Maaf!" teriakku dengan pipi merona. "Astaga, maaf!"

"Sehun, tunggu!" aku mendengar Baekhyun berseru ketika aku kabur sambil membanting pintu, kemudian berjongkok di belakang salah satu sofanya.

Jantungku berdegup kencang. Aku hampir merasa mual. Seumur hidup belum pernah aku merasa tercengang seperti ini. Seharusnya aku tidak membuka pintu. Seharusnya aku tidak pernah membuka pintu itu.

Benar dugaanku. Mereka sedang bercinta! Tapi maksudku, seks ganjil macam apa itu? Ya ampun. Baru kali ini aku melihat yang seperti itu. Aku tidak… aku tidak…

Aku merasakan seseorang menyentuh bahuku, spontan aku menjerit lagi.

"Sehun, tenang." kata Baekhyun. "Ini aku. Daehyun di kamar."

Aku tidak bisa menengadah. Aku tidak sanggup menatap matanya.

"Baekki, maafkan aku," gumamku pelan sekali sambil menatap lantai. "Maafkan aku! Aku tidak bermaksud lancang. Seharusnya aku tidak… aku tidak mau mengganggu kegiatan seks kalian. Maaf. Kalau begitu aku pergi saja…"

"Sehun, kami tidak berhubungan seks, bego!"

"Iya! Kalian berhubungan seks!" seruku ngotot. "Aku lihat kok! Kalian tidak pakai baju!"

"Kami pakai baju, Sehun sayang." Baekhyun mengguncang-guncang bahuku lebih barbar. "Lihat. Lihat aku!"

"Tidak mau!" pekikku panik. "Aku tidak mau melihatmu!"

Dia memberiku satu tepukan final di pundak. "Lihat aku."

Dengan takut-takut aku mendongak, dan mataku terfokus pada Baekhyun yang berdiri di depanku.

Oh… betul juga. Dia pakai baju senam warna kulit.

"Terus apa yang kalian lakukan kalau tidak berhubungan seks?" tuduhku waspada. "Ngomong-ngomong, kenapa kau pakai baju seperti itu?"

"Kami… kami menari." sahut Baekhyun tampak malu.

"Apa?" aku menatapnya bingung.

"Kami menari, oke? Itu yang kami lakukan!"

"Menari?" aku menggaruk kepala. "Tapi… kenapa kau menari?"

Ini sama sekali tidak masuk akal. Baekhyun dan suaminya menari di kamar dengan gaya aneh dan menggunakan pakaian senam warna kulit? Aku seperti berada di dalam mimpi yang ganjil.

"Aku bergabung dalam sebuah kelompok," tukas Baekhyun setelah beberapa saat kami terdiam.

Kelompok?

Aku membekap mulut. "Ya Tuhan, bukan sekte mesum kan?"

"Bukan, bukan sekte mesum, kok!" ralat Baekhyun tak terima. "Cuma…" dia menggigit bibirnya, kelihatan bimbang. "Beberapa pengacara sering berkumpul dan membentuk… kelompok tari."

Kelompok tari?

Selama beberapa saat aku tidak bisa berkata-kata. Setelah kekagetanku sirna, aku merasakan dorongan aneh untuk tertawa.

"Kau bergabung dengan kelompok… pengacara yang suka menari?"

Baekhyun mengangguk, "Ya."

Di kepalaku, aku membayangkan sekelompok pengacara gendut menari sambil mengenakan topi sombrero, baru dibayangkan sedikit saja sudah membuatku tertawa keras.

"Tuh kan!" seru Baekhyun cemberut. "Makanya aku tidak mau bilang karena kau pasti bakal tertawa!"

"Sori." kataku berusaha mati-matian mengatupkan mulut rapat-rapat. "Sori. Aku janji tidak ketawa lagi. Menurutku itu hebat sekali…" tapi aku tidak tahan, malah cekikikan histeris. "Entahlah… membayangkan pengacara menari…"

"Tidak semuanya pengacara," ujar Baekhyun membela diri. "Ada beberapa bankir juga, dan hakim… Sehun! Jangan ketawa!" dia memelototiku.

"Sori," kataku tak berdaya. "Baekki, aku tidak bermaksud menertawakanmu, sungguh." Aku menghela napas dalam-dalam dan berusaha keras mengatupkan bibir. Tapi aku malah membayangkan para bankir membawa tas kerja mereka sambil menari swan lake. Seorang hakim melompat di panggung, jubahnya berkibaran.

Tawaku menyembur lagi.

"Itu tidak lucu!" Baekhyun memekik sewot. "Hanya sekelompok profesional yang punya kegemaran sama dan ingin mengekspresikan diri melalui tarian. Apa yang salah?"

"Sori, sori…" kataku sambil mengusap air mata dan berusaha menahan tawa berderai ronde ketiga. "Tidak ada yang salah. Kupikir itu ide brilian. Jadi, apakah kalian akan mengadakan pertunjukan atau apa?"

"Tiga minggu lagi. Itu sebabnya kami latihan ekstra."

"Tiga minggu?" aku tertegun, kupelototi dia. Hasrat ingin tertawaku langsung sirna. "Kau memang tidak berniat memberitahu kami, ya?"

Baekhyun mengernyit heran. "Kami?"

"Ya, aku, Yixing dan Jinyoung. Sudah jelas kan?" ucapku agak menuntut. Teman macam apa sih dia? Ada kegiatan sepenting itu kok malah disimpan sendiri?

"Aku belum memutuskan," sahut Baekhyun sambil melepas sepatu tarinya di lantai. "Habisnya aku malu."

"Oh, jangan malu." tukasku sedih sambil kurangkul dia. "Baekki, maaf tadi aku tertawa. Menurutku kegiatan menarimu itu bagus. Dan aku pasti akan datang untuk menonton. Nanti aku duduk di barisan paling depan."

Dia berdecak. "Jangan di barisan paling depan. Kau malah bikin konsentrasiku buyar."

"Kalau begitu… aku akan duduk di tengah, di belakang, dimanapun, terserah kau saja."

Untuk sesaat kami terdiam, lalu tiba-tiba tawa Baekhyun meledak yang membuatku tertular dan ikut tertawa juga. Setelah kami puas tertawa, aku memberinya tatapan ingin tahu. "Hei, setahuku kau tidak bisa menari."

Baekhyun angkat bahu. "Memang tidak. Aku payah. Tapi tetap saja asyik. Kau mau kopi?"

"Sudah tadi. Trims. Teh macha saja."

"Oke," dia bersiap-siap berdiri, kemudian duduk lagi begitu teringat sesuatu. "Terus, mana gaun fantastis yang pernah dipakai Kate Middleton?"

.

.

.

.

Ketika aku kembali ke rumah sore itu, aku menemukan Papa dan Taeoh di halaman belakang, keduanya memakai topi dan sarung tangan, sedang menanam lobak bersama. Mereka begitu tenggelam dalam keasyikan sampai-sampai tidak menyadari aku sudah berdiri di ambang pintu dapur. Mesam-mesem sendiri memperhatikan mereka berdua begitu terhanyut menyekopi tanah. Anehnya aku langsung teringat Heechul, berdiri di ruang ganti, tampak tua, sedih, kesepian dan bertanya-tanya dalam hati kapan dia bisa bertemu lagi dengan cucunya.

Dia belum melihat Taeoh lagi sejak pertemuan kami yang terakhir waktu itu. Dia sudah ketinggalan begitu banyak hal dalam kehidupan Taeoh. Aku tahu itu salah dia sendiri dan aku tahu dia menyebalkan. Tapi tetap saja…

Aku merasa bersalah. Bukan berarti aku mengharapkan Heechul mau menanam lobak seperti ini. Yah, setidaknya mereka kan tetap bisa melakukan sesuatu bersama-sama selain menyusun puzzle. Mungkin… melihat-lihat katalog Chanel?

Taeoh berkonsentrasi penuh ketika menebarkan pupuk diatas tanaman-tanaman lobak. Aku jadi tidak tega mengganggu mereka. Rona pipi Taeoh merah jambu dan hidung kecilnya mengernyit, ada sepercik kecil noda pasir di sekitar wajah tembemnya. Melihat itu semua hatiku serasa diremas-remas. Aku tahan berdiri disini selama-lamanya hanya untuk menonton anakku berkebun bersama kakeknya.

Taeoh melihatku dan ekspresinya langsung berbinar. "Mummy!" dia mengacungkan lobak dengan bangga.

"Bagus sekali, Taeoh!" aku menunduk dan mengecup puncak kepalanya.

"Mamam." Taeoh berusaha menjejalkan sayur lobak kedalam mulutku.

Aku terkikik sambil menjauhkan tangannya. "Taeoh, ini belum bisa dimakan. Musti dimasak dulu."

"Nah, Sehun." Papa mendongak dari kesibukannya mencabuti rumput liar. "Bagaimana kabarmu? Sudah ada yang mau membeli gaunnya?"

"Baru Baekhyun sih, masih sementara menunggu kabar dari teman-temannya Chanyeol eonni dan yang lain."

"Oh." sekarang Papa menarik selang dan menyirami tanamannya. "Tadi Mamamu sudah menawari Kyuhyun dan Ibunya Chanwoo."

"Lalu mereka bilang apa?"

"Katanya terlalu mahal. Kalau bisa didiskon sedikit."

Ya ampun. Apa mereka kira aku mau menarik untung dengan sengaja mematok harga tujuh belas juta?

Aku berdecak keki. "Ya sudah kalau mereka tidak mau. Jangan dipaksa. Terus sekarang Mama kemana?"

"Masih di rumah sebelah. Mengobrol dengan Kyuhyun dan Zhoumi."

Mulutku menggumamkan 'Ooo' singkat.

"Perasaan dulu kau sering melakukan barter dengan klien-klienmu? Barter saja gaun-gaun itu dengan klien-klienmu yang kaya, beri mereka potongan harga besar-besaran, tukar dengan barang-barang mereka yang lebih mahal, yang penting sebanding sama harga gaunnya. Lebih bagus lagi kalau mereka bersedia bayar cash."

"Kalau saja masih bisa begitu…" aku menggeleng-geleng putus asa. "Sepak terjangku ketahuan. Pak Siwon sudah melayangkan surat teguran, katanya aku harus bisa memisahkan antara kepentingan pribadi dengan kerjaan di kantor. Kepala Departemenku juga akan menskorsing dan memotong gajiku kalau aku berani melanggar."

Papa menyeka keringat dengan handuk kecil yang tersampir di bahu. "Turut berduka cita mendengarnya, nak. Bersabar saja. Aku yakin selalu ada jalan buat orang-orang yang sabar."

Aku menengadahkan kepala. "Amen."

"Mummy! Mummy!" Taeoh menarik-narik tasku. "Puzzle?"

.

.

.

.

Ketika kami turun dari taksi, awan-awan kelabu menyelubungi langit seakan-akan mereka sudah menantikan kesempatan untuk mengguyur bumi. Di detik berikutnya, hujan pun mulai menitik. Kupasangkan tudung ke kepala Taeoh dan melangkah dengan sedih memasuki pintu ganda Ritz Carlton. Dari segala hal yang dapat membangkitkan semangat, minum teh bersama Ibu mertuaku jelas bukan salah satunya.

Dia sudah menunggu kami di suite megah seperti sebelumnya, mengenakan setelan warna biru pucat. Di mejanya sudah tersedia tiga puzzle baru untuk Taeoh.

"Ladeee!" Taeoh menghambur dari pintu masuk dan memeluk kaki Heechul dengan gembira. Kilasan rasa kaget dan terguncang terlintas di wajah wanita itu, dan kendati suasana hatiku sedang tidak gembira, aku ingin terkikik.

"Well, Taeoh." katanya canggung, nyaris pedas. "Sebaiknya kau duduk."

Taeoh masih betah memeluk kakinya. Dengan kaku, Heechul menepuk pundak anak itu. Aku bertanya-tanya apakah pernah ada anak kecil yang memeluk Heechul.

Kai. Dia pasti pernah melakukannya. Jauh sebelum semua kerumitan di keluarga mereka terjadi. Memikirkan itu membuat perutku melilit.

Di meja tersaji hidangan teh dan kue-kue mahal pembangkit selera seperti waktu itu, tapi aku terlalu mulas untuk makan apapun. Aku hanya ingin melalui cobaan ini dan pulang.

"Tunggu sebentar, Taeoh." ujar Heechul ketika Taeoh memanjat sofa disebelahku. "Aku membelikanmu kue istimewa."

Heechul menuju meja di dekat dinding. Ketika berbalik, dia membawa nampan perak dengan tudung makanan, pipinya bersemu merah madu, dan… apa sepertinya aku melihat ada senyuman kecil disana. Apa dia sedang penuh semangat?

Diletakkannya nampan itu di depan kami dan dibukanya tudung perak.

Oh Tuhanku yang baik. Berapa harganya itu?

Kue itu berbentuk hati, dilapisi gula-gula warna pink yang sempurna, dengan hiasan truffle pink dan ceri yang diatur simetris di tepiannya. Dibagian tengah kue ada nama 'Taeoh' yang dilukis dengan krim putih dan ditaburi permen warna-warni.

"Kaulihat?" Heechul memandangi Taeoh untuk melihat reaksinya. "Kau suka?"

"Kue!" seru Taeoh, matanya berbinar penuh hasrat. "Kuekuuuu!"

"Itu bukan kue biasa." kata Heechul agak tajam. "Itu kue dengan namamu diatasnya. Kau tidak lihat?"

"Mom, dia belum bisa membaca," aku menjelaskan dengan lembut. "Belum cukup umur."

"Oh." Heechul tampak agak kecewa. "Begitu." dia hanya berdiri, masih memegangi tudung perak, dan bisa kulihat raut wajahnya tampak berkecil hati.

"Tapi kue itu bagus sekali," tambahku buru-buru. "Benar-benar bagus. Taeoh suka sekali kok. Iya kan, sayang?"

Aku sangat-sangat tersentuh karena dia mau repot-repot menyiapkannya, bahkan aku kepingin mengabadikan kue cantik itu dalam kamera. Dengan harapan Kai tidak akan iseng membuka-buka ponselku lalu bertanya kapan aku membelikan Taeoh kue seperti ini.

Heechul memotong seiris kue itu untuk Taeoh, yang langsung disambar dan dijejalkan secara rakus ke dalam mulutnya. Krim dan remah-remah berceceran dimana-mana. Cepat-cepat aku mengambil serbet, berusaha mencegah semuanya jadi kotor, tapi yang mengejutkan, ibu mertuaku ini tidak sekaku biasanya. Dia bahkan tidak protes ketika ceri berlapis gula menggelinding ke karpet Ritz yang mewah.

Mata Heechul terpaku ke perut buncitku, seolah-olah menunggu bayi ajaib meloncat keluar dari dalam sana. "Berat badanmu meningkat banyak sekali, Sehun. Apa Dr. Sooman mengizinkanmu?"

Tuh kan? Dia selalu begitu! Bukannya menanyakan kabar atau mengatakan "Sehat sekali kau kelihatannya". Lagipula aku tidak meningkat-meningkat amat kok, cuma naik beberapa kilo. Salah ya? Toh setelah melahirkan bakal menyusut sendiri ke ukuran normal.

"Aku lagi hamil, jadi wajar saja." jawabku berusaha bersabar. "Dan kemungkinan bayiku besar."

Ekspresi Heechul tidak melunak sama sekali. "Kuharap tidak terlalu besar. Bayi-bayi yang kegemukan itu jelek."

Jelek? Dia baru saja menghina bayiku ya?

Ingin sekali kubalas: "Aku justru senang bayiku besar. Supaya kami bisa mentato punggungnya yang lebar dengan gambar elang", tapi sikonnya sedang tidak mendukung untuk melakukan perang. Lagipula dia sudah berbaik hati. Jadi, yaa… tersenyum sajalah.

"Nah, aku sudah membeli beberapa puzzle baru," katanya sambil menyesap teh. "Yang bergambar Notre Dame ini sangat menarik."

Notre Dame? Untuk anak dua tahun? Apa salahnya kalau dia beli yang bergambar Pikachu dan kawan-kawan?

Namun yang mengejutkan lagi, Taeoh tampak serius mendengarkan, terpana ketika Heechul menjelaskan padanya tentang bermacam-macam teknik menyusun puzzle dan perlunya mulai dari tepi. Ketika Heechul menumpahkan keeping-keping puzzle, mata Taeoh membulat antusias, dan baru mengambil dengan gaya malu-malu ketika Heechul menyuruhnya. Dia terus-menerus menoleh padaku seakan-akan mengajakku untuk turut serta, tapi aku tidak dapat memaksakan diri untuk ikut bermain. Ada ketegangan yang mengalir dalam diriku seperti kawat baja. Semakin lama semakin tegang.

Liburan jebakan. Apa yang harus kulakukan? Apa aku bisa mewujudkannya? Apa tidak usah saja? Mengapa ide Yixing baru terasa konyol sekarang?

Ponselku berdering dan aku nyaris terlompat dari sofa saking tegangnya. Bagaimana kalau itu Kai dan dia mendengar suara Heechul sedang mengobrol bersama anaknya?

Ketika kukeluarkan dari saku celana, aku melihat nama Chanyeol eonni tertera di layar.

"Permisi sebentar," ujarku cepat, lalu menuju sisi lain ruang duduk yang luas. "Hai, eonni, ada apa?"

"Dengar, aku tidak akan bicara lama-lama." suaranya tampak terburu-buru bercampur letih. "Tapi aku sudah berusaha keras menawarkannya dan tidak seorangpun yang berminat. Kebanyakan kenalanku lebih suka memesan langsung dari pembelanja pribadi mereka daripada membeli dari agen yang kurang terpercaya."

"Apa?" aku nyaris mendidih karena emosi. Sok sekali mereka. Berani-beraninya mengataiku 'agen kurang terpercaya'! Memangnya aku berusaha menipu dengan sengaja memesan dua puluh gaun murahan dan mengaku-ngaku itu sebagai rancangan desainer?

"Maaf…" terdengar suara helaan napas panjang. "Mereka memang begitu. Aku bisa apalagi?"

Mendengar suara kakakku lesu begini, aku jadi tidak tega. "Ya sudah. Terima kasih ya, eonni."

Ketika menutup telpon, aku nyaris tak dapat bernapas. Apa yang harus kulakukan dengan Sembilan belas sisanya? Chanyeol eonni tidak mau, teman-temannya mengira aku pembual, Yixing tak berminat, Jinyoung bilang kemahalan, Kyungsoo eonni mengira aku sinting, Kepala Playgroup menolaknya mentah-mentah, tetangga-tetangga minta didiskon, staf-staf di kantor ramai-ramai mengasihaniku… aku harus bagaimana lagi?

Bagaikan raga kosong tak bernyawa, aku berjalan kembali ke sofa. Meraih roti kecil bertabur gula dan melahapnya penuh nafsu. Kemudian mencomot satu lagi. Mungkin gula bisa membantuku berpikir.

Mendadak aku menyadari Heechul telah berhenti menyusun puzzle bersama Taeoh. Pandangannya yang bak es tertuju kearahku. Awas saja kalau dia berani menghina rambutku jelek, sumpah, akan kulempar roti ini kepadanya.

"Sehun, apa kau baik-baik saja?"

Dengan tangan gemetar aku menuangkan secangkir teh untuk diriku sendiri dan kumasukkan tiga bongkah gula, tehnya sedikit tumpah.

"Sejujurnya, tidak. Aku tidak baik-baik saja."

Heechul masih dengan tenang kembali menyusun potongan puzzle itu seolah-olah tidak ada apa pun yang terjadi, namun setelah beberapa menit terdiam, dia menoleh dan dengan dingin bertanya. "Apa kau baru menerima kabar buruk?"

"Semacam itulah." Kusesap lagi teh di tanganku. Dan tahu-tahu saja aku merasakan dorongan tak tertahankan untuk menumpahkan semuanya. "Tadinya aku berhutang sebanyak tiga ratus empat puluh juta di bank, sekarang aku berutang sebanyak tiga ratus empat puluh juta di suamiku." aku mengendikkan bahu. "Kau tahu? Aku benci berutang. Benci sekali. Paling anti! Itu sama seperti wabah penyakit menular yang harus secepatnya kusingkirkan. Dan sekalinya berutang, tak tanggung-tanggung, nilainya fantastis! Meskipun Kai suamiku, tapi aku tidak bisa tenang-tenang saja. Aku memang boros dan sering berbelanja ini itu, tapi aku tak pernah sekalipun merepotkan Kai dengan merengek minta sesuatu yang berlebih. Aku selalu berusaha membayar semua tagihan dan belanjaanku dengan gaji yang kuperoleh. Dengan hasil jerih payahku sendiri."

Heechul tetap bergeming, mulutnya terkunci rapat. Tidak masalah. Niatku memang cuma ingin bicara, tak perduli apa pendapatnya.

"Aku juga tidak bisa menyalahkan Taeoh, ini keteledoranku meninggalkan laptop terbuka dengan halaman situs belanja yang lupa ditutup. Dia baru dua tahun dan selalu dipenuhi rasa ingin tahu. Taeoh tidak mengerti apa-apa. Jadi pada dasarnya, ini salahku. Awalnya aku memang ingin memesan satu, maksudku, gaun itu bagus sekali, dengan payet-payet keemasan dan panjang seperti yang selalu digunakan artis Holywood saat berjalan di karpet merah. Lalu gara-gara kecerobohanku, petugas mengantar gaun itu ke rumah. Dikemas dalam dua puluh kotak peti mati besar, tersimpan rapat di gudang dan sekarang aku bingung harus berbuat apa terhadap Sembilan belas sisanya."

Alisnya berkerut. "Sembilan belas?"

"Ya," aku mengangguk kecil. "Baekhyun, temanku, sudah membooking satu. Baru-baru ini."

"Jadi, dia bersedia membeli atau hanya berniat membooking?"

"Ehmm…" kupandangi dia dengan agak curiga. "Bersedia membeli."

Aku memperhatikan raut serius Heechul yang sekarang tampak dipenuhi tekad.

Oh. Ya ampun. Jangan bilang…

"Seperti apa modelnya? Perlihatkan padaku."

.

.

.

.

Aku tidak akan bertanya apa-apa. Aku juga akan berlagak pura-pura tidak tahu saja. Karena memakai barang-barang yang sama setiap hari adalah ciri khas Heechul. Bahkan, aku curiga dia sengaja membeli tiga puluh pasang sepatu kulit dengan model yang sama. Jadi bukan masalah besar 'kan kalau dia memakai gaun hitam yang modelnya itu-itu saja setiap hari?

Kukira aku sedang bermimpi. Sampai kemudian Taeoh menjejalkan ceri kedalam mulutku, aku langsung sadar kalau aku tidak sedang berada di dalam mimpi apapun. Rasa cerinya nyata. Ini nyata! Ibu mertuaku bersedia memborong Sembilan belas sisanya.

Horeee!

Baiklah, intinya aku sangat berterima kasih sekali dan bertekad ingin membalas jasa-jasa baik sang ibu mertua dengan mengajaknya jalan-jalan.

Aku sudah menceritakan ide jalan-jalan sekeluarga itu pada Heechul. Awalnya dia menolak keras dengan mengatakan beragam hal-hal menyayat hati tentang sikap keras Kai yang membuat moodku ikut-ikutan drop. Tapi aku juga orang yang cukup keras. Jika aku sudah berambisi terhadap sesuatu, aku tak akan menyerah dan pulang dengan tangan kosong sebelum mendapat kepastian. Mungkin karena dia sudah lelah berdebat melawan argumenku, akhirnya bendera kemenangan berupa kata 'Ya' berhasil kukantongi dan kubawa pulang dengan senyum bangga.

Begitu sampai di rumah, aku buru-buru menghapus senyum bangga itu dan fakta bahwa Taeoh telah memakan dua potong besar kue mahal pemberian Nenek Lady-nya. Aku tidak ingin Kai tahu rencana ini dulu. Pokoknya planning jalan-jalan sekeluarga ini harus berhasil!

Aku mendengar suara di pintu, dan cepat-cepat berdiri. Persis ketika menoleh, aku melihat Kai masuk ke kamar sambil berbicara di ponselnya.

"Tentu saja aku masih memegang kendali," hardiknya marah ke telpon. "Mereka pikir mereka itu siapa…" dia terdiam beberapa saat. "Ya, aku tahu," katanya dengan intonasi lebih tenang. "Ya. Oke, akan kulakukan. Sampai besok, Jackson. Terima kasih."

Dia mematikan ponsel, menyimpannya, dan menatapku seolah hampir lupa siapa aku.

"Hai." sapanya agak linglung.

"Hai!" ujarku riang gembira. "Hai, orang asing!"

Kai mengusap wajahnya dengan lelah. "Maafkan aku. Terus terang urusannya jadi sedikit… ruwet."

Dia menghampiri meja kecil di samping tempat tidur dan menuang segelas Wine, kemudian menenggaknya sampai habis. Lalu dia mengisi gelasnya lagi dan meneguknya selagi aku mengamati tingkah lakunya dengan khawatir. Wajah Kai tampak pucat dan tegang, dan matanya berbayang hitam. Rambutnya kacau seolah sudah ribuan kali ditarik dan dijambaki.

Aku beranjak dan duduk disebelahnya, kemudian mengusap-usap lembut punggung Kai. "Apakah semuanya berjalan lancar?" tanyaku hati-hati.

"Masih berjalan," sahut Kai. "Hanya itu yang bisa kukatakan." Dia berjalan gelisah menuju ke jendela dan memandang keluar, menatap langit Seoul yang berkilauan. Aku refleks menggigiti bibir melihat suamiku stress begitu, ikut-ikut dirundung rasa cemas.

"Sayang, tak bisakah orang lain menghadiri rapat-rapat itu? Tak bisakah orang lain datang dan meringankan bebanmu? Misalnya… Shinwoo?"

"Pada tahap ini aku tak bisa membawa orang baru. Sampai saat ini akulah yang menangani semuanya, aku harus menyelesaikannya sampai tuntas. Hanya saja aku tak menyangka mereka begitu…" dia duduk di kursi terdekat sambil meneguk minumannya. "Astaga, mereka melontarkan banyak sekali pertanyaan! Aku tahu orang-orang Amerika memang teliti, tapi…" dia menggeleng tak percaya. "Coba bayangkan, mereka harus tahu segalanya! Siapa klien-klienku, perusahan-perusahaan apa yang pernah bekerja denganku, semua memo yang pernah kukirim, siapa resepsionismu di tahun 2006, kau mengendarai mobil apa, apa pasta gigi yang kupakai. Goddamn!"

Dia terdiam lagi dan meneguk isi gelasnya.

Aku menatapnya dengan sedih. "Sepertinya mereka jahat sekali."

Seulas senyum muncul di wajah Kai. "Mereka tidak jahat. Mereka hanya investor yang konservatif, dan ada yang membuat mereka ragu-ragu. Entah apa." dia menghembuskan napas keras-keras. "Aku harus memenangkan hati mereka. Aku perlu meluruskan semua ini."

Suara Kai agak bergetar, dan ketika aku melirik tangannya, kulihat dia menggenggam gelasnya erat-erat. Sejujurnya, aku belum pernah melihat Kai seperti ini. Biasanya dia tampak penuh percaya diri, begitu yakin…

"Sayang," aku menghampiri dia lalu duduk di lengan kursi. "Menurutku malam ini kau perlu istirahat. Kau tak ada rapat malam ini, bukan?"

"Tidak," sahut Kai sambil mendongak. "Tapi aku perlu memeriksa beberapa berkas. Besok ada rapat penting dengan semua investor. Aku harus menyiapkan diri."

"Kau sudah siap!" tukasku meremas bahunya pelan. " Yang kaubutuhkan adalah bersantai. Kalau kau bekerja semalaman, besok pagi kau malah semakin lelah dan tegang." Aku mengambil gelas dari genggamannya dan mulai memijati bahunya. "Ayolah, Kai. Kau betul-betul perlu istirahat. Aku yakin Jackson setuju. Betul kan?"

"Dia memang menyuruhku bersantai," Kai mengaku sesudah merenung lama.

"Nah, kalau begitu, bersantailah! Bersenang-senang beberapa jam tak akan merugikan siapapun. Kita harus jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan." Aku mencium belakang lehernya dengan lembut. "Bersiap-siaplah. Mandi dan ganti baju. Keringatmu bau sekali."

Hening. Sejenak aku mengira Kai akan menjawab dia tak punya waktu. Tapi tiba-tiba dia menoleh, dan syukurlah, kulihat ada setitik senyum di bibirnya. "Baiklah. Mari kita pergi."

.

.

.

TBC—

A/N: Saya terlalu malas posting judul baru dengan cerita baru -_- karena cerita ini masih bagian daripada yang dulu, hanya saja ini saya percepat delapan bulan kemudian xD, jadinya ya saya gabung disini aja. Anggap aja extra chap tambahan untuk bener-bener nuntasin cerita ini yang agak menggantung. Terus cerita ini saya bagi dalam dua chap dan kemungkinan besar bakal end di chap depan.

Jujur ada yang nyaranin bikin sequelnya beberapa bulan kemudian aja, tapi saya udah gak sabar pengen nuntasin konflik cerita keluarga absurd ini. Suka banget karakter Sehun di ff saya yang ini. Dan karena belum tentu saya mau bikin cerita keluarga ini versi lebih panjang dalam satu judul baru lagi, makanya saya lanjut disini. Saya harap temen2 gak keberatan ya (-_-;).

Terus mungkin judulnya juga agak-agak ngaco, habis saya bingung nyari istilah bahasa inggris yang keren untuk 'jalan-jalan sekeluarga jebakan' xD

Oke. Gitu aja. Bila masih ada temen2 reader yang berniat mereview silahkan :D