#Peringatan : rate M untuk pembahasan 'Hal Dewasa', anak di bawah umur, pembenci Sex, biarawati, pastur, kyai haji, ibu nyai, pak ustad diharap segera klik Back saya benar-benar g bertanggung jawab atas apa yang akan menimpa kalian bila tetap baca, Typos, Ooc, Gaje, Aneh.#

Timeline : Anggaplah bahwa ini 3 tahun setelah 'the Great Shinobi war 4' berakhir.

#Naruto milik Masashi Kishimoto#

This fic ® Q kyu

"Huaahhhh... melelahkan sekali menikah denganmu Gaara," keluh Sakura, gadis errr... mungkin sekarang lebih pantas disebut wanita... jadi, Wanita muda itu melempar dirinya di atas tempat tidur king size milik Gaara.

Gaara hanya memperhatikannya dengan raut datar, pria itu tengah sibuk melepas tumpukan jubah yang membalut tubuhnya.

Setelah acara lamaran di mana pihak Gaara datang ke Konoha bersama beberapa perwakilan pihak Suna, Segala prosesi pernikahan disiapkan sedemikian rupa. Tsunade yang menjadi wali bagi pihak Sakura pun terpaksa harus memberi libur spesial bagi para Shinobi desanya untuk merayakan moment bergabungnya Konoha dan Suna ini.

Upacara pernikahan dan mengucapan janji pernikahan di kuil Tsuki no Shiro yang merupakan kuil tertua di Konoha. Setelah pelaksanaan beberapa upacara adat dan juga pesta pernikahan keesokan harinya Gaara segera memboyong Sakura ke Suna dan pesta tujuh hari tujuh malam menyambut mereka. Bisa bayangkan betapa lelahnya mereka sebagai mereka?

"Ini pernikahan Kazekage yang pertama, Kazekage terdahulu selalu telah menikah sebelum menjabat," jelas Gaara, dia telah berhasil menanggalkan seluruh lapisan jubahnya hingga menyisakan hakama hitam yang membalut tubuhnya. "Maklumi saja."

"Aku tidak yakin konoha akan mengadakan perayaan seperti ini kalau Tsunade-Shishou menikah," balas Sakura dengan kikik geli setelahnya, meskipun lelah tapi jelas juga bahwa dia merasa lega karena masyarakat Suna yang menyambut baik kehadirannya sebaik Konoha menyambut Gaara kemarin.

"Setidaknya, tinggal kita berdua sekarang," gumam Gaara, dengan raut wajah aneh dan seringai tipis di bibirnya.

"Gaara kau mau apa! Jangan macam-macam! Aku benar-benar lelah!" seru Sakura dengan panik berusaha mendorong tubuh Gaara yang mulai mendekat kearahnya.

Gaara tak menjawab, hanya menampilkan senyum tipis melihat semu merah yang merambat di wajah istrinya. Tangannya dengan lihai mulai melepas balutan shiromuku1 di tubuh Sakura.

"Aku serius Gaara! Aku akan membunuhmu kalau aku tak bisa bangun besok!" Sakura makin panik, entah kenapa dia merasa takut kali ini. Jantungnya berdebar tak karuan seakan ini adalah pengalaman pertamanya, tubuhnya bergetar saat Gaara mulai merendahkan tubuhnya dan meraih bibirnya.

Meski begitu, gelenyar kebahagiaan juga tak luput dari dadanya. Pandangan Gaara yang mengisyaratkan bahwa pria itu benar-benar menginginkannya membuatnya merasa dialah wanita paling berharga didunia.

"Aku siap mati untuk ini," Gaara tersenyum lembut, disingkirkannya anak rambut yang menutupi wajah Sakura. Mengusap lembut wajah Sakura yang memerah, mengecup perlahan kening Sakura, turun kepelipisnya hingga akhirnya dia mengecup setiap centi wajah Sakura yang memerah.

Pria muda itu mengusap setiap mili tubuh Sakura yang telah tak berbalut apapun, mengecup lembut hingga mengetarkan tubuh itu, mengetarkan hingga ke hatinya, sampai kejiwanya. Ritual malam untuk saling menyatukan, bukan sekedar nafsu memiliki tapi lebih untuk membagi cinta, menyatukan jiwa mereka yang tak mampu terpisah.

Bukan haus akan sentuhan, tapi dahaga pada rasa kasih yang menyiram mereka. Setiap sentuhan memang memabukkan, tapi bukan mabuk seperti terkuasai alkohol. Mereka mabuk seperti musafir yang menemukan oase sitengah gurun gersang dan panas.

Yang satu memberikan hidup, yang lain memberikan arti.

"Ahhh!" pekikkan merdu terdengar saat Gaara menghisap puncak salah satu gunung oase milik Sakura. Sementara tangannya terus memanjakan dengan pijatan-pijatan lembut namun begitu menginginkan.

Tak ada yang mampu mengalihkan perhatian Gaara dari setiap desahan indah yang menyertai setiap gerakan yang dilakukannya pada wanita dibawahnya. Bahkan ledakan-ledakan kembang api yang beruntun tanpa jeda diluar sana, tidak lebih menenangkan dari pada lantunan indah yang di perdengarkan oleh Sakura.

Malam hanabi di luar sana, bukan untuk dunianya. Dalam dunianya hanya ada Sakura. Wanita yang terus mengejang dan mengeliat liat dibawah sentuhannya. Wanita yang terus menyebutkan namanya, seakan nama Gaara kini berubah makna menjadi surga.

"Gaara! Gaara! Gaarahhhh!"

Gaara. Menjadi mantra terindah ditelinganya. Dalam hatinya terucap sebuah niat bahwa dia akan terus membuat mantra itu melantun hingga matahari terbit pagi ini, tak akan membiarkan malam ini terjeda tanpa namanya.

_Q_

.

.

Five Years Letter.

"GYAAAAAA KAA-CHAAANNNNN!" teriakan seorang anak kecil melengking tinggi memenuhi kediaman Sabaku, kaki-kaki kecilnya berlari begitu cepat menyusuri lorong-lorong yang berbelit. "KAA-CHAAANNN TOOLOOONGGG!" kaki kecilnya terus berlari, wajah berpipi bulat itu terlihat ketakutan.

"Chikyu-kun, jangan menjahili Kurou-ji terus," kata Sakura memperingatkan, begitu pria kecil itu tiba di sisinya dan bersembunyi dibalik kakinya.

Tak lama kemudian –sesuai dugaan Sakura– muncul pria berambut kecoklatan dengan wajah penuh pasir. "Kemana anak itu?" geram Kankurou.

"Kaa-channn..." si kecil berbisik ketakutan memohon perlindungan.

"Kemana anak itu Sakura, jangan melindunginya... biar ku gantung dia di pintu gerbang sampai malam!" Kankurou kembali meruntuk, tangannya masih mengibas-ibaskan sisa pasir yang memenuhi wajahnya.

"Chikyu-kun, cepat minta maaf pada Kurou-ji dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi!" kata Sakura tegas, ditariknya lengan kecil yang melingkar dikakinya, dan mendorong maju anak berambut merah dengan jade pucat yang tampak ketakutan.

"Maafin Chikyu, Kurou-ji...," ujar pria kecil itu dengan kepala tertunduk. Kankurou terpaksa menerima jabatan tangan kecil itu demi si adik ipar yang menatap mereka, meski begitu dia tetap waspada dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.

"Ya sudah, sekarang kita sarapan dan segera berkemas," gumam Sakura, dengan cekatan wanita muda itu mengangkat anak kecil berambut merah dan mendudukkannya di atas salah satu kursi.

Setelah menikah dengan Gaara, Sakura resmi menjadi warga suna. Sejak kejadian di mana Gaara yang hampir menghancurkan Suna, kini tak ada lagi pihak yang berani sedikitpun untuk mencampuri urusan pribadi Gaara –setidaknya itu yang dikatakan Kankurou pada Sakura–.

Sakura kini tinggal dikediaman Sabaku bersama empat orang Rei lainnya. Hal ini tak lain karena Temari dan Kankurou yang ngotot tidak mengijinkan Gaara menempati rumah yang Gaara beli untuk keluarga barunya –sebenarnya Temari dan Kankurou lebih banyak memohon pada Sakura–.

Rei Chikyu no Sabaku, replika kecil seorang Gaara yang lahir delapan bulan setelah pernikahan mereka. Rambut merah dengan jade pucat dan kemampuan mengendalikan pasir yang sangat menakjubkan diusianya yang ke empat, hanya saja dengan alis dan tanpa lingkar hitam disekitar matanya juga pribadi yang lebih condong ke Sakura.

"Kurou-ji... Aku sudah menguasai Suna Raishin lho..." pria kecil itu tersenyum –jahil– sambil menengguk susu dalam gelasnya.

Sedetik kemudian sebuah suara bising seperti cicitan burung terdengar dari bawah meja...

"ARGHHH!"

Bruahh... Duaghhh!

Kankurou mengerang dan terjungkal dari kursinya, raut kesakitan muncul diwajahnya sementara kedua tanggannya memegang kaki kirinya.

"Benarkan aku sudah bisa!" Chikyu tersenyum lebar sebelum turun dengan cepat dan berlari menghilang dari ruang makan.

"Anak itu... CHIKYUUUUU!" geram Kankurou, sementara Sakura hanya tersenyum pasrah melihat Kankurou yang murka karena kejahilan anaknya.

"KYAAAA TOU-CHAANNNNN TOOOLONGGGG!"

.

.

"Kalian jadi berangkat?" tanya Kankurou sekali lagi.

Gaara mengangguk pelan sambil memasukkan beberapa tas-tasnya kedalam kereta kuda, sementara Sakura masih sibuk dengan anaknya yang agak susah disuruh memakai jubah.

"Kurou-ji takut sendirian ya?" tanya Chikyu, raut kesal jelas terpatri di wajahnya karena harus mengalah pada Kaa-channya yang terus mendesak.

"Aku tidak akan merindukanmu kau tahu!" balas Kankurou masam. "Kenapa tidak menunggu Temari-nee dan pria pirang itu kembali dari bulan madu sih?"

"Hanabi di Konoha kan malam ini, kami kan tak mau melewatkan itu. Lagi pula Temari-nee dan Temujin-Nii akan kembali besok kan?" jelas Sakura sekali lagi.

Mereka akan ke Konoha hari ini, undangan perayaan ulang tahun Konoha datang dari Tsunade bersamaan surat dari Ino yang mengabarkan kelahiran putri pertama mereka. Membuat Sakura tak lagi bisa bersabar untuk tidak mengunjungi kampung halamannya. Sudah lama sekali dia tidak berkunjung kesana.

Setelah mengucapkan sampai jumpa pada Kankurou, kereta kuda milik ANBU pengawal Gaara segera berangkat membawa ketiganya.

"Konoha itu seperti apa Kaa-chan?"

"Masa Chikyu lupa? Dulukan kita pernah kesana waktu Shika-jichan dan Ino-bachan menikah," jawab Sakura, wanita pink itu menggerakkan tangannya untuk merapatkan jubah putih si Sabaku kecil.

Anak kecil itu menggeleng dengan raut polosnya.

"Konoha itu tempat yang indah," jawab Gaara.

"Benarkah Tou-chan?"

Gaara menganguk meyakinkan. "Ditempat itulah Tou-chan menemukan wanita terindah." Tambahnya dengan senyum tipis yang membuat Sakura merona.

.

.

Mereka tiba dikonoha tepat tengah hari dan disambut dengan heboh oleh pemuda pirang yang tengah dalam masa percobaannya sebagai Rokudaime Hokage. Naruto memeluk Sakura begitu erat, menepuk-nepuk punggung Gaara dengan penuh semangat dan membawa Cikyu di atas pundaknya sebelum berputar-putar dan tertawa lebar.

Sakura terpaksa membiarkan Naruto membawa pergi putranya berkeliling sementara dia dan Gaara membereskan barang-barang mereka di rumahnya, dengan sekali sapuan pasir Gaara membuat seluruh debu dan sarang-sarang laba-laba dirumah itu lenyap. Sakura memang masih mempertahankan rumah kecilnya itu, dia tak berniat menjualnya ataupun menyewakannya pada orang lain karena rumah itu adalah satu-satunya peninggalan orang tuanya.

Sementara Gaara membereskan pakaian-pakaian yang mereka bawa di kamar, Sakura memutuskan untuk kepasar sebentar dan memasak makan siang untuk keluarga kecilnya.

"Aku lapar," gumam Gaara, pemilik rambut merah itu telah berdiri di belakang istrinya dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri.

"Sebentar lagi dan jangan macam-macam!" sergah Sakura yang tengah mengaduk karee, tangannya jadi bergetar karena Gaara mulai mengecup dan menghisap tengkuknya dengan intens.

"Sekali saja, hemm..." dia mematikan kompor di depan Sakura dan membalikkan tubuh istrinya, menawan bibir pink itu dalam kecupan-kecupan intensnya.

"Kenapa tiba-tiba..."

"Rumah ini membuatku mengingat saat pertama kita..."

Gaara tak melanjutkan kalimatnya, dia milai memagut lembut dan menghisap dalam bibir kenyal Sakura, menjelajah dengan lidah liarnya, mengecap setiap rasa didalam mulut Sakura, bertukar saliva manis dan menciptakan desahan pembangkit gairah.

Tak butuh waktu lama untuk keduanya saling menelanjangi satu sama lain, pengalaman membuat mereka semakin lihai dan hapal setiap titik yang mampu membuat pasangannya terbuai.

"Ohhh... Gaara...!" Sakura mendesah ringan saat merasakan kesejatian Gaara yang menyentuh tipis pintu kewanitaannya, menggodanya.

Gaara tak mengacuhkannya, pria muda itu masih menikmati aroma mengairahkan yang menguar disekitar puncak payudara Sakura, menghisap kuat-kuat salah satunya dan meremas lembut yang lainnya.

"Gaaraahhh... kitaahh didap... uhhh... lang-sung...oh... saja!"

Mengerti maksud kalimat terbata dari Sakura, Gaara mulai memasukkan kesejatiannya di lubang surga itu. Sakura mengerang dan menahan perih saat benda keras itu menyeruak di tubuh bagian bawahnya. Menggigit bibirnya, tangannya meremas helai merah yang masih setia didadanya.

"Ohhh..." desahnya ringan saat kesejatian Gaara mulai bergerak.

Siapa yang dapat mengira pria sedingin Gaara bisa berubah menjadi pria panas yang liar?. Hanya Sakura! Hanya wanita itu yang tahu seberapa panas dan liarnya Gaara saat bersamanya.

"Arggghhhh!" erang Sakura saat Gaara memulai tempo 'liar'nya. Sering kali membuat Sakura harus mengalami multiple orgasme sebelum Gaara mencapai orgasme pertamanya. Melelahkan! Sangat!. Suaminya bisa menjadi pribadi yang 'lebih' hiperaktif dari Naruto saat tengah 'bermain' dengannya.

Bibir pemuda itu mulai merangkak keatas, membiarkan dadanya yang bekerja menggesek dan menekan dada Sakura, kedua tangannya meremas liar pantat istrinya dan lidahnya menyeruak tak terkendali dimulut hangat Sakura.

Sakura mengerang tertahan merasakan titiknya terhantam cepat-kuat dan terus menerus dibawah sana. Tubuhnya mulai terasa lepas kendali, pandangannya mulai memutih, dia yakin tidak akan lama lagi dia...

"EMMHHH..." klimaks.

Bukan saatnya merileks... karena suami tercintanya masih saja menghantam titik kenikmatannya penuh-penuh, hampir tanpa jeda, begitu kuat...

"ARGGHH!" Gaara mengerang, membiarkan bibir Sakura terlepas. Kini giliran Sakura yang menawan bibir itu dan menjelajahkan lidahnya dalam mulut Gaara sementara Gaara berkonsentrasi pada klimaksnya yang akan...

"Argghh..." datang... dengan hentakan terakhir yang begitu kuat dan mengetarkan tubuh Sakura, membuat otot-otot rahimnya kembali mengejang dan...

"AHHH!" klimaks kedua untuk wanita itu. "Yeah!"

Gaara tersenyum tipis menatap wajah penuh keringat di depannya, diusapnya peluh percintaan mereka yang menempel dikening Sakura. Turun ke pipinya, mengangkat rahang lembut itu dan...

"Uhhh!" Sakura meletakkan tangannya dibibir Gaara. "Satu kali! Aku harus memasak sebelum Chikyu-kun kembali," dia memperingatkan suaminya.

Gaara tersenyum kecut dan menjauhkan bibirnya dari bibir sang istri, dengan terpaksa menarik keluar kesejatiannya yang masih menegang dari kewanitaan.

Sakura terkikik geli. "Selesaikan sendiri di kamar mandi," diusapnya pipi Gaara sebelum meraih pakaiannya yang tercecer dilantai dapur. Uh! Agak linu saat berjalan.

Setelah memastikan Gaara beranjak kekamar mandi di kamar mereka, Sakura juga beranjak kekamar mandi di dekat dapur untuk membersihkan diri sebelum kembali memasak makan siang mereka yang terlambat.

Beberasa saat setelah Sakura selesai memasak dan menata meja, Naruto datang bersama Chikyu yang masih setia di pundaknya. Keduanya menolak makan bersama pasangan suami istri itu, Chikyu berkata kalau Naru-ji baru saja mentraktirnya ramen paling enak di Konoha.

Chikyu tampak sangat akrab dengan Naruto, keduanya seakan begitu cocok satu sama lain. Sakura yakin hal ini terjadi karena dulu, saat dia hamil dia begitu sebal pada Naruto yang terus saja menganggunya di Suna, orang bilangkan agar jangan membenci seseorang saat kau hamil dan Sakura mendapatkan karmanya sekarang. Oh, atau memang bakat alam Naruto yang mudah dekat dengan pengendali pasir? Gaara dan Chikyu, dalam hal ini.

"Naru-ji berjanji mau ngajarin Chikyu Rasengan kalau Chikyu sudah masuk Akademi," ujar Chikyu saat Sakura dan Gaara membawanya melewati lorong-lorong rumah sakit Konoha sore harinya.

"Itu Jutsu yang sulit untuk pengguna dua element sepertimu," gumam Gaara. "Kau harus bisa mengatur gerakan cakra anginmu dan memusatkannya disalah satu tanganmu sebelum membentuk segel."

"Huum... Chikyu mau minta diajarin sama Temari-ba..."

"Sudah cukup membicarakan jutsu-jutsunya," potong Sakura sebelum dia mengetuk sebuah pintu kamar rawat di ujung lorong. "Kita akan menjenguk Ino-bachan."

"Jidat!" pekik Ino kegirangan begitu Sakura masuk.

"Hai Pig, bagaimana kabar... Oh Kami-sama dia cantik sekali..." Sakura berlari kecil dan mengangkat sosok bayi berambut hitam tipis yang tertidur nyaman dalam selimutnya disamping Ino.

"Kapan kalian tiba?" Shikamaru bertanya setelah berjabat tangan sesaat dengan Gaara dan Chikyu. Dua Sabaku yang tampaknya telah dilupakan Sakura.

"Siang tadi," jawab Gaara datar.

"Kau sudah besar hem," Shikamaru mengacak rambut merah Chikyu, anak itu memberengut tipis.

"Dia Shikamaru-jichan dan itu Ino-bachan, istrinya," terang Gaara.

Chikyu mengabaikan Shikamaru dan berlari kecil kearah Kaa-channya yang tengah menciumi si Nara kecil, memberi salam pada Ino dan tersenyum manis. Shikamaru mendecih kecil saat Ino terkikik geli melihat tingkah anak itu.

"Kaa-chan Chikyu mau lihat..." anak kecil itu menarik-narik siku baju Sakura.

Sakura menunduk dan membiarkan anaknya menatap Nara kecil dalam gendongannya.

"Dia tidur?" si kecil Sabaku mengusap pelan kening Nara kecil.

"Iyah... sayang sekali, padahal Kaa-chan ingin lihat matanya."

"Matanya biru, seperti aku Jidat! Aku lebih beruntung dari pada kau!" ujar Ino sementara dagunya menunjuk Chikyu, Sakura paham maksudnya, Ino tengah menyindir Chikyu yang sama sekali tak meninggalkan jejak dirinya.

"Jangan senang dulu Pig, kau akan mati muda kalau dia juga pemalas seperti Tou-channya," balas Sakura.

"Hei apa maksudmu?" Shikamaru menggumam tersinggung. "Ck, merepotkan!"

"Kaa-chan... Chikyu mau mencium Imouto juga..." Sabaku kecil itu menatap memohon pada Kaa-channya yang sedari tadi terus menciumi pipi bulat si Nara kecil.

"Tidak boleh! Tunggu sampai dia lulus ujiuan Jounin," ujar Shikamaru, tampak masih kesal.

"Shika!" gertak Ino.

"Cih, merepotkan."

_Q_

Malam harinya Sakura membawa kedua Sabaku itu ke lapangan sektor tiga Konoha tempat di mana Hanabi akan diadakan beberapa jam lagi. Putra kecilnya tampak gembira dengan berlarian kesana kemari melihat seluruh stand-stand yang memenuhi lapangan sektor tiga yang malam itu berubah menjadi pusat kota.

"Kau mau ini?" Sakura menawarkan setusuk dango pada Gaara.

Gaara memberinya pandangan bertanya sesaat sebelum menerimanya.

"Kaa-chan Chikyu juga mau!" Sakura mengalihkan perhatiannya dari Sabaku senior kearah Sabaku Junior yang berlari cepat menuju arahnya, begitu menerima dangonya anak itu segera berlari lagi meninggalkan kedua orang tuanya.

"Kuambil lagi dangonya," tanpa rasa bersalah wanita pink itu mengambil tusuk dango yang tinggal setengah dari tangan Gaara. "Aku cuma beli dua, kau ini saja..." dan menyerahkan tusukan lain ketangan Gaara.

"Apa ini?"

"Manisan tomat, dulu itu kesukaan Sasuke lhoo..."

Gaara memakan manisan tomat ditangannya dan berkomentar 'enak' dan setelahnya mereka kembali berjalan menyusuri stand-stand di sana. Mereka berhenti di stand memancing, bukan karena tertarik tapi karena putra mereka yang tengah berjongkok di depan kolam ikan dengan memperhatikan beberapa peserta memancing.

"Kaa-chan aku mau itu..." anak itu menengadah memandang Sakura dengan pandangan memohon sementara tangannya menunjuk ikan koki berwarna merah mencolok.

"Tidak boleh, kalau kau berhasil menjaring ikannya, bukan ikannya yang kau dapatkan, tapi itu...," Sakura menunjuk deretan hadiah yang berjejer dirak di belakang si penjaga stand.

"Kalau begitu aku mau itu..." Sabaku kecil itu kembali menunjuk, kali ini boneka berbentuk gentong pasir yang mirip sekali dengan gentong pasir di punggung Gaara.

Sakura terkikik melihat hadiah itu, begitu pula Gaara yang mengerutkan dahinya. "Minta saja pada Tou-chan."

"Hei!" protes Gaara. Jujur saja, Kazekage muda itu sangat lemah dalam permainan seperti itu.

"Naru-jiiiiii!"

"OI PANDA CILIK!"

Sakura kembali terkikik dan Gaara kembali mengernyitkan dahinya. Keduanya memandang satu objek yang sama... pria pirang yang berjalan cepat kearah mereka dengan cengiran lebar di bibirnya.

"Naru-jiii... Chikyu mau itu..."

"Kau mau itu?"

Anak itu mengangguk mantap. Dengan gerakan sigap, Naruto menggulung lengan baju Jouninnya. "Ji-san lima puluh jaring!" berteriak penuh semangat.

Sakura terkikik sementara Gaara tampak datar melihat kedekatan Naruto dengan putranya. "Kau kan sama payahnya dengan Gaara..."

Gaara memandang tajam istrinya, kentara sekali tidak terima disamakan dengan Naruto. Sakura tak memperdulikan hal itu sementara Naruto malah nyengir semakin lebar dan Chikyu yang berteriak kegirangan menyemangati Naruto.

"Aku yakin dengan jaring sebanyak itu kau hanya bisa mendapatkan lollipop."

"Kaa-chan jangan bicara seperti itu! AYO NARU-JI! BERUSAHALAH!"

.

.

"Kaa-chan, kenapa kita kesini?"

"Dari sini hanabinya akan terlihat menakjubkan."

"Benar Panda cilik! Dulu setiap malam hanabi Kaa-chanmu dan Naru-ji juga teman-teman kami selalu berada disini untuk menyaksikannya! Indah sekali kau pasti suka!" Naruto menjelaskan dengan komentar panjang.

Sakura yang berjalan di depan mereka bersama Gaara hanya menengok sebentar kearah anaknya yang berada di pundak Naruto. Chikyu tampak semakin dekat dengan Naruto sejak si Pirang berhasil mendapatkan boneka gentong incarannya. Bahkan sisa perjalanan merekaa menjelajahi stand-stand itu Chikyu tampak telah melupakan keberadaan orang tuanya yang selalu mengekori mereka di belakang.

Setelah mendaki tangga yang begitu panjang akhirnya mereka berempat tiba di atas gunung hokage dengan nafas yang sedikit terengah kecuali Gaara yang tetap berwajah datar dan Chikyu yang hanya duduk dipudak Naruto dan itu berarti hanya Sakura dan Naruto yang terengah.

Dan mereka bukanlah orang yang pertamakali tiba di sana. Sudah ada Hinata bersama Kiba+Akamaru dan Shino, juga Lee dan Tenten. Keadaan puncak gunung Hokage yang malam itu berbeda dari biasanya membuat Sakura terperangah. Dibawah pohon-pohon Sakura yang berdaun hijau tergelar tikar-tikar dengan meja ditengah-tengah yang penuh makanan dan minuman, tak ketinggalan lilin-lilin dan kunang-kunang yang menerangi.

Sakura disambut dengan pekikan girang dan pelukan hangat dari mereka semua tak lupa juga mereka menyalami Gaara dan kembali terpekik melihat Chikyu yang memandang mereka dari atas pundak Naruto...

"K-Kawai..." gumam Hinata, gadis itu tampaknya tak tahan untuk tidak mencubit pipi Chikyu dan mengusap-usap rambut merahnya.

"Siapa yang menyiapkan semua ini?"

"Aku dan Hinata!" seru Tenten.

"Kami juga membantu Sakura-chan..." Lee juga berseru semangat.

Tak lama kemudian Neji datang bersama seorang gadis berambut pirang yang memeluk lengan Neji dengan malu-malu.

"Jadi gosip yaang kudengar itu benar ya? Kapan kalian akan segera menikah?" Sakura berseru dengan raut tertarik dan tak percaya. Meski tinggal di Suna bukan berarti Sakura tak tahu menahu tentang segala berita yang beredar di Konoha, berkat surat yang dikirim teratur oleh Ino, Sakura jadi tahu tentang segala gosip bahkan yang tidak diketahui oleh mereka yang tinggal di Konoha.

Shion tampak merona dan membungkukkan kepalanya. "Setelah Natal tahun ini..." gumamnya pelan.

"Sayang sekali Shika dan Ino tidak bisa datang..." seorang pemuda bertubuh tambun datang bersama seorang dengan cat wajah yang sangat tak asing bagi Sakura.

"Kurou-nii?"

"Hai Sakura, Gaara, dan yang lainnya... bolehkan aku bergabung? Rumahku jadi seperti tempat bercinta sejak Tema-nee dan Temu-nii tiba dirumah!"

"Kurou-ji pasti merindukanku ya?" tembak Chikyu dari atas pundak Naruto.

"Sedang apa kau disitu! Naruto kenapa kau mau-maunya mengendong bocah setan itu!" geram Kankurou, agaknya masih belum bisa melupakan insiden pagi mereka... umm sebenarnya insiden 'setiap' pagi mereka.

"Tou-chan... Kurou-ji bilang kalau Tou-chan itu setan..."

Gelak tawa terdengar dan Narutolah yang paling keras diantaranya. Namun semua itu terhenti saat lilin-lilin padam dan kunang-kunang menghilang tiba-tiba saat ledakan pertama kembang api muncul memenuhi langit. Seketika mereka semua memandang kelangit dan mulai mengambil tempat duduk di atas tikar yang di sediakan.

Sakura membiarkan Chikyu duduk di pangkuannya sementara Gaara di sampingnya dan memeluk pinggangnya dengan hangat. Malam yang sempurna bagi Sakura, berkumpul dengan teman dan keluarganya, menikmari setiap titik cahaya yang berpendar di langit. Kebahagiaan yang sempurna untuknya dan rasanya dia tak akan pernah siap kegilangan segala rasa hangat yang menyelimuti dadanya.

Meski begitu, Sakura tetap sadar bahwa moment ini akan segera berlalu cepat atau lambat. Dan atas semua itu dia masih bersyukur karena baginya, setiap kebahagiaan akan datang selama Gaara bersamanya. Tak ada hidup yang sempurna, ranjau-ranjau yang tersembunyi akan selalu siap meledakkan kesempurnaan itu, namun bagi Sakura selama Gaara disampingnya dia yakin dia siap menghadapi sebesar apapun ledakan yang akan mengguncangnya di tengah jalan.

Sakura menatap Gaara penuh-penuh, menikmati wajah tampan suaminya yang terlihat berwarna-warni karena cahaya kembang api yang meledak di sana-sini. Selama kepercayaan itu masih ada, selama kasih itu masih saling mengaliri, selama genggaman tangan itu tak terlepas. Segala hitam putih dalam hidup Sakura siap menghadapinya.

Merasa diperhatikan, Gaara pun mengalihkan perhatiannya dari latar langit malam Konoha. Dia tersenyum tipis dan dengan lembut mengusap helaian pink Sakura yang sedikit bergerak tertiup angin. Saling mendekat dan saling menarik hingga akhirnya dua bibir itu saling bersentuhan dan mengecup hangat. Berpagut lembut dengan rasa saling menginginkan.

Untung bagi keduanya, ledakan kembang api dengan sukses meredam erangan Sakura saat Gaara menerobos tanpa peringatan dan masuk kedalam mulut hangat Sakura.

"Kaa-chan dingin..." seruan polos putra mereka dengan sukses memotong kegiatan itu. Chikyu yang sekilas melihat wajah tou-cannya menempel ketat diwajah Kaa-channya yang memiringkan kepalanya dengan tatapan bingung. "Kaa-chan dan Tou-chan sedang apa?"

"Uhuk.. uhukk... tidak apa-apa Chikyu..." Sakura mengusap kepala Chikyu dengan sayang, keadaan gelap membantunya menyembunyikan rona merah diwajahnya. "Kaa-chan peluk biar hangat," dan memeluk putra kecilnya dalam dekapan kasih sayang, tentu saja mereka tak melupakan keberadaan buah hati mereka.

Gaara pun ikut andil dengan memeluk tubuh Sakura dan Chikyu dalam satu rengkuhan hangatnya. Pria dingin berwajah datar itu mengusap rambut merah putranya dan rambut pink istrinya sebelum kembali merengkuh keduanya dengan sikap hangat yang protektif.

_FIN_

Kali ini beneran FIN!

1. Pakaian adat untuk mempelai wanita jepang

Lalu Chikyu itu berarti Tanah. Sangat berhubungan dengan pasir, makanya kyu gambari dia sebagai replika Gaara, berambut merah dan bermata jade.

Caps kemarin Rush y? Wehehe.. Gomen... Kyu gugup bikinnya, mana pusing mikirin besok mau makan apa pula! *?* Tapi Caps ini enggak Rush lagi kan?Kyu berusaha semaksimal mungkin untuk Caps terakhir ini! Dan... YOSH!

Fic pertama Kyu telah KOMPLIT! #nabur pasir gaara# wow! G nyangka menjadi Author itu tugas yang berat! Dan Fic ini sama sekali g akan sampai pada kata FIN tanpa Kalian yang selalu mendukung KYU. HONTOUNI ARIGATOU GOZAIMAZUUUUU! #bungkuk-bungkuk!

Rasa terimakasih yang sangat besar Kyu ucapkan pada :

Garaa Lovers, Devil's of Kunoichi, Ddbb, Hikari Meiko Eunjo , Riku Aida , Tabita Pinkybunny , Mimi, Ryunna Sakihara, Vialesana, Saku, Kikyo Fujisaku, Asagi Hime-chan, Midori Kumiko, Joe, Ghie, Cutie White, cheria, Cherrysakusasu, Haruno Gemini-chan, suzuna nuttycookie icy,hyeri, Auriya Kazuya, r, illan, Uchiha Sakura97, V3yagami, Kikyo Fujisaku, Saku, ddbb, Joe, Ghie, Cutie White, Violetz Eminemers, Sky pea-chan, Gieyoungkyu, Eiji Zavreans, Lhyn hatake, Lady Zhion, Mhe, Gaasaku, Hugana, Melody chang, vvvv, Nyan-nyin-nyun suka Gaara, Ichikawa Hikaru, Kurosaki Kuchiki, Uchiha DianeLexy, Mona Rukisa-chan, Risuki Taka, Lulhu Sabakhu Haruno, Ai' Haruno, Hikari Hyun Arisawa, kururu. Pah, Arisu, Seiryuu 'Fujoshi' Hatake, Gaara lope, Gaasuka, Lind' SakuraZawa, Tsukiyomi Kumiko, Nitha Sabakuuchiha, Ria Kishimoto, namina88, Pledis, nanana Nara, Kikyo Fujikazu, Hatake Hadei-chan un, Nariopa, Rain, Ayhank-chan UchihArlinz, Yusha Daesung, Sasa-chan, Elang-hitam, d3rin, L.A Agrimony, Choco-momo, Yukina Itou Sephiienna Kitami, Akuma techo, Michi rukawa, Gyblue12, Hatake Depharamita Archuleta, Nanairo Zoacha, uchihyuu, nagisa, kirokiro, Haza ShiRaifu, Michi Rukawa, Angelica ShellyZanti, HarunoZuka, Uchiha hime is Poetry Celemoet, Soldier of Light, tictic, Rhainy Akatsuki Rain, Rievectha Herbst, narusaku, chy karin, Ayumi, Cheriamethyst, Yummy, Smpen namesatoru mochii, dan KAMU yang telah setia mengikuti Fic inidari awal hingga kata terakhirnya.

(Maaf kalo ada nama yang g kesebut.)

Sampai Jumpa di Fic GAARA X SAKU Kyu Selanjutnya!

_Mind to Last Rifyu?_