TOO FAR SERIES

(NEVER TOO FAR)

by RyeoTa Hasu

(Original Story by Abbi Glines)

Cast :

Lee Sung Min (19 y.o)

Cho Kyu Hyun (24 y.o)

Shim Chang Min as Kyuhyun's step brother (24 y.o)

Lee Tae Min as Kyuhyun's youngest step brother (21 y.o)

Choi Si Won (25 y.o)

Lee Hyuk Jae aka Eunhyuk (19 y.o)

Lee Dong Hae (24 y.o)

Kim Hee Chul (26 y.o)

Park Jung Soo aka Leeteuk (26 y.o)

Kim Ryeo Wook (21 y.o)

Kim Ki Bum (21 y.o)

Kim Jung Mo (19 y.o)

Cho Ji No

Lee Sung Jin as Sungmin's twins brother (already passed away)

Bae Soo Ji aka Suzy

Lee Min Ho

Cast lain menyusul

Disclaimer :

This original story is fromToo Far Series Novel by Abbi Glines

I just remake it with my own idea and with Kyumin as main Cast

Kyumin dan Cast lainnya milik Tuhan YME, Orang tua dan Agensi

Hasu hanya meminjam namanya untuk kepentingan cerita

Rate :

M (Mature)

Warning :

Boy's Love / YAOI, OOC, MPREG, hurt/comfort, Mature Contain, some explisit sexual activity, uncensored,

.

.

a.n :

karena mayoritas readers ff ini banyak yg ga login n mungkin akan kesulitan nyari lanjutannya kalo terpisah, jadi... Hasu putuskan untuk melanjutkannya disini aja biar gampang,ok? Ok?

Mulai chap ini settingnya ada 2, di Jeju and Ilsan. Dan ada beberapa pergantian POV dari Kyu and Min.

Levelnya jg naik hohoho (lirik warning).

Buat yang nyariin Joongki Ahjushi (#digeplakJoongki), dia bakal muncul lg kok... ^.^

Silahkan kirim spam sepuas kalian ke Hasu karena chap depan akan (sangat) menyebalkan, hehe...

Chap ini cukup panjang dan membosankan. So,

Be patient All! ^.^

.

DON'T LIKE? DON'T READ!

MAKE IT SIMPLE

HAPPY READING ^.^

.

.

Chapter 10

o.o.o.o.o.o.o.

.

.

(Kyuhyun POV)

(Flashback Tiga belas tahun yang lalu)

.

Terdengar suara ketukan di pintu kemudian disertai seretan langkah kaki.

Dadaku terasa nyeri.

Eomma telah meneleponku saat mereka dalam perjalanan pulang dan mengatakan padaku apa yang telah ia lakukan dan sekarang ia ingin pergi keluar untuk minum bersama teman-temannya.

Aku menjadi satu-satunya orang yang harus menenangkan Taemin.

Eomma tidak akan bisa mengatasinya jika itu mengakibatkan stres.

"Hyung?" Suara Taemin terdengar sendu. Dia menangis.

"Aku ada di sini, Taetae," kataku sambil berdiri dari sofa kecil yang aku duduki di sudut ruangan.

Ini adalah tempat persembunyianku. Di rumah ini aku perlu tempat untuk bersembunyi. Jika tidak memilikinya maka sesuatu yang buruk akan terjadi.

Helaian rambut Taemin melekat di wajahnya yang basah. Bibir bawahnya gemetar saat ia menatapku dengan pandangan sedihnya.

Aku hampir tidak pernah melihat matanya bahagia.

Eomma hanya memberinya perhatian ketika Taemin meminta dibelikan sesuatu dan kemudian memamerkannya pada orang lain.

Selain dari itu dia akan mengabaikan Taemin. Hanya aku yang benar-benar memperhatikannya. Dan aku akan melakukan yang terbaik untuk membuat ia merasa diinginkan.

"Aku tidak melihatnya. Dia tidak ada di sana," dia berbisik seiring dengan sebuah isakan kecil yang terlepas.

Aku tidak perlu bertanya siapa "dia".

Eommaku telah lelah mendengar Taemin yang terus bertanya tentang ayahnya. Jadi dia memutuskan untuk membawa Taemin menemui ayahnya. Kuharap Taemin mengatakannya padaku. Kuharap aku bisa ikut pergi bersamanya.

Tatapan terluka di wajah Taemin membuat tanganku mengepal. Jika aku bisa bertemu pria itu aku ingin memukul hidungnya. Aku ingin melihatnya berdarah.

"Kemarilah," kataku, meraih tangannya dan menarik adikku ke dalam pelukanku.

Dia membungkus erat pinggangku dan memelukku erat. Saat seperti ini membuatku sulit bernafas.

Aku tidak suka kehidupan yang telah ia jalani.

Setidaknya aku tahu ayahku menginginkanku. Dia meluangkan waktunya bersamaku.

"Dia punya anak yang lain. Dan mereka kembar. Mereka… sangat manis. Rambut mereka berbeda, pirang seperti Eomma mereka. Kulit mereka pucat. Dan mereka juga memiliki Eomma yang unik dan membiarkan mereka bermain di lumpur. Mereka memakai sepatu lusuh. Sepatu yang kotor."

Taemin iri pada sepatu yang kotor. Eomma memang tidak akan membiarkannya berpenampilan tidak sempurna sepanjang waktu. Dia tidak pernah memiliki sepasang sepatu lusuh yang kotor. Eomma memperlakukan Taemin tak lebih dari anak manis yang harus dapat dibanggakan.

"Mereka tidak mungkin lebih manis darimu," Aku meyakinkan Taemin karena aku sangat mempercayainya.

Taemin tersedu dan kemudian menarik dirinya. Kepalanya terangkat dan matanya menatapku.

"Mereka sangat manis. Aku melihat mereka. Aku bisa melihat foto di dinding, kedua pria kecil itu dan bersama seorang pria berseragam. Pria itu... menyayangi mereka. Dia... Abeojiku... tidak menyayangiku."

Aku tidak bisa berbohong padanya.

Taemin benar. Pria brengsek itu tidak menyayanginya.

"Dia orang bodoh. Kau memiliki aku, Taetae. Kau selalu memilikiku."

.

.

(Flashback End)

(Kyuhyun POV END)

.

.

.oooO

.

(Sungmin POV)

.

Ternyata aku sudah cukup jauh.

Jelas saja.

Tidak ada seorangpun yang pergi sejauh ini ke pusat kota Seoul hanya untuk pergi ke apotik.

Kecuali,

tentu saja karena mereka sedang memerlukan sesuatu yang tidak ingin warga kota mengetahui apa yang mereka beli.

Sesuatu yang jika di beli di apotik lokal akan tersebar ke seluruh kota dalam beberapa jam.

Terutama jika kau belum menikah dan membeli kondom atau... alat tes kehamilan.

Dan itulah yang ku lakukan.

Aku seorang pria. Dan aku membeli alat tes kehamilan. Tertawalah mereka jika mengetahui hal ini.

Aku meletakkan alat tes kehamilan di atas meja dan tidak menatap pada kasir.

Aku tidak bisa.

Rasa takut dan malu di mataku adalah sesuatu yang tidak ingin kubagi dengan orang asing. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa kukatakan pada siapapun.

Bahkan dengan Jungmo maupun Joongki Ahjushi.

Sejak aku mendorong pergi Kyuhyun keluar dari kehidupanku 3 minggu lalu, aku perlahan-lahan kembali ke rutinitasku dulu dengan menghabiskan waktu bersama Jungmo dan Joongki Ahjushi.

Ini mudah.

Mereka tidak akan menekanku untuk berbicara, tapi ketika aku membicarakannya mereka mendengarkan.

"16.500 won," wanita di samping meja kasir berkata. Aku bisa mendengar nada keprihatian dalam suaranya.

Tidak mengejutkan.

Ini adalah sesuatu yang memalukan bagi seorang pria membeli tes kehamilan. Mungkin aku terlihat brengsek dimatanya.

Aku memberinya 20.000 won tanpa mengangkat mataku dari kantong kecil yang ia letakkan di depanku.

Kantong itu menyimpan satu jawaban yang kubutuhkan dan itu membuatku takut.

Aku memang seorang pria, tapi aku berbeda. Dan aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku dalam 3 minggu ini.

Semoga hal yang ku takutkan tidak terjadi.

"Kembalianmu 3.500 won," katanya saat aku meraih dan mengambil uang itu dari tangannya yang terulur.

"Terima kasih," gumamku dan mengambil kantong belanjaanku.

"Kuharap semuanya akan baik-baik saja," kata wanita itu dengan suara lembut.

Aku mengangkat mataku dan bertemu sepasang mata coklat penuh simpati. Dia orang asing yang tidak akan pernah kulihat lagi tapi saat ini sangat membantu jika ada orang lain yang kukenal. Aku tidak akan merasa begitu kesepian.

"Aku juga," jawabku sebelum berbalik dan berjalan menuju pintu.

Kembali ke matahari musim panas yang menyengat.

Aku mengambil dua langkah menuju tempat parkir ketika mataku menatap pada sisi kemudi trukku.

Joongki Ahjushi tengah bersandar di sana dengan lengan bersedekap. Topi baseball abu-abu yang ia pakai bertuliskan ARMY ditarik kebawah menutupi dengan rendah tatapan matanya dariku.

Aku berhenti dan menatapnya.

Tidak ada kebohongan tentang ini.

Dia tahu aku tidak ke sini untuk membeli kondom.

Ada ada satu kesimpulan lain. Meskipun tak mampu melihat ekspresi matanya aku tahu jika... dia kini tahu.

Aku menelan gumpalan di tenggorokanku yang sudah kutahan sejak aku mengendarai truk pagi ini dan pergi ke kota ini.

Sekarang bukan hanya aku dan orang asing di balik meja yang tahu. Pria yang seperti ayah kedua bagiku kini juga tahu.

Aku memaksakan diriku untuk melangkah mendekat.

Dia akan bertanya sesuatu dan aku akan menjawab.

Setelah beberapa minggu berlalu dia layak mendapatkan jawaban. Dia layak tahu yang sebenarnya. Tapi bagaimana aku menjelaskan ini?

Aku berhenti hanya beberapa kaki di depannya. Aku senang bahwa topi yang dia pakai menutupi wajahnya. Akan lebih mudah untuk menjelaskan jika aku tidak bisa melihat apa yang dia pikirkan melalui matanya.

.

.

Kami berdiri dalam keheningan.

Aku ingin dia bicara terlebih dulu tapi setelah beberapa menit dia tidak mengatakan apapun sehingga aku tahu dia ingin aku bicara lebih dulu.

"Bagaimana kau tahu aku ada di sini, Ahjushi?" Aku akhirnya bertanya.

"Kau tinggal di rumahku sekarang. Saat kau pergi dengan bersikap aneh tentu saja aku khawatir padamu," jawabnya.

Air mata menggantung di mataku. Aku tidak boleh menangis tentang hal ini. Aku akan menangisi semua yang ingin kutangisi.

Menggenggam tas yang berisi tes kehamilan lebih erat, aku meluruskan pundakku. "Kau mengikutiku," kataku. Ini bukanlah pertanyaan.

"Tentu saja," jawabnya, kemudian menggelengkan kepalanya dan mengalihkan tatapannya dariku dan beralih pada hal lain. "Apakah kau akan mengatakannya padaku, Lee Sungmin?"

Dia memanggilku dengan namaku. Dia serius.

Apakah aku akan mengatakan padanya? Aku tak tahu. Aku tidak berpikir sejauh itu.

"Aku tidak yakin ada yang harus kukatakan." Jawabku jujur.

Joongki Ahjushi menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan tawa kecil yang sama sekali tidak terdengar lucu, "Tidak yakin? Kau datang ke sini karena tidak yakin?"

Dia marah. Atau apakah dia terluka?

"Sampai aku memakai tes ini aku tidak yakin. Aku sedikit mual dan lemah. Itu saja. Mungkin ini terdengar konyol tapi kau sangat mengenalku Ahjushi. Aku... hanya berjaga-jaga saja."

Perlahan, Joongki Ahjushi mengangkat pandangannya hingga tatapannya tertuju padaku. Dia mengangkat tangannya dan memiringkan topinya kebelakang. Bayangan telah hilang dari matanya.

Ada rasa tak percaya dan rasa sakit di sana.

Aku tidak ingin melihatnya seperti ini.

Joongki ahjushi yang selalu tersenyum dan menyayangiku memandangku dengan kecewa dan sedih.

"Benarkah? Hanya itu yang bisa kau katakan? Setelah semua yang telah kita lalui hanya segitukah nilaiku dihadapanmu BunnyMin?"

Aku terengah-engah dan air mata yang tidak inginku tumpahkan menuruni wajahku. Aku tidak ingin tangis sialan ini.

Aku memperkecil jarak diantara kami dan menghambur ke pelukannya.

Aku tidak ingin dia menghakimiku. Aku membutuhkan dukungan moral darinya.

Aku mengira Joongki Ahjushi akan mendorongku.

Namun dia justru membalas pelukanku dan membelai punggungku lembut. Dia berusaha menenangkanku.

Membuatku merasa mendapatkan kekuatan.

Setelah beberapa saat, aku melepaskan diri darinya.

"Aku... ingin pulang Ahjushi." Kataku tanpa menatap matanya.

"Ya, kita lanjutkan dirumah sayang. Aku akan mengikutimu di belakang. Berhati-hatilah. Tenangkan dirimu sayang."

Joongki Ahjushi menggeser tubuhnya dan membuka pintu trukku.

Aku memanjat ke tempat duduk di belakang kemudi dan melemparkan kantong plastik kecil pada kursi di sampingku sebelum menyalakan truk dan mundur dari tempat parkir.

Aku bisa melihat Joongki Ahjushi yang langsung melangkah menuju mobilnya.

Ini belum selesai.

Tapi setidaknya aku tak perlu lagi merahasiakan apapun.

Aku bisa memberitahu padanya dan meminta solusi darinya. Mungkin?

.

(Sungmin POV END)

.

.

.oooo

.

(Kyuhyun POV)

.

Ombak yang menerjang pantai biasanya menenangkanku. Aku sudah terbiasa duduk di dek ini dan mengamati air sejak aku masih kecil.

Ini selalu membantuku menemukan sisi pandang yang lebih baik dalam banyak hal.

Namun kini, itu tidak berpengaruh lagi untukku.

Rumah sudah kosong. Hanya ada aku disini, sendiri.

Eomma dan... pria yang aku harapkan agar ia terbakar selamanya di neraka sudah pergi, segera setelah aku kembali dari Ilsan dan melalui pertengkaran konyol dengan mereka, mereka melarikan diri dan pergi.

Aku marah, rusak, dan liar.

Setelah mengancam nyawa pria yang dinikahi Eomma itu, aku mendesak mereka untuk segera pergi. Aku tidak ingin melihat salah satu dari mereka dan mendengar omong kosong apapun lagi.

.

(Flashback)

"Akhirnya kau kembali juga anak bodoh! Apa yang kau dapat dengan mengejarnya hah?! Dia sama jalangnya dengan Eommanya. Tidak pantas untukmu-"

"Hentikan Bae Sooji! Cukup dengan semua sumpah serapahmu itu!" bentakku pada Eomma. Aku muak dengan ocehannya.

Aku sedang hancur dan terbakar. Aku tak butuh bensin yang akan semakin membuat aku terbakar hingga hangus tak bersisa.

Eomma dan Taemin menatapku tak percaya.

"Kyu?! Kau membentakku? Eommamu sendiri?!" seru Eomma marah.

"Kau tak pantas memanggil dirimu Eomma, Bae Sooji." Kataku datar.

"Kyuhyun..." terdengar suara pria laknat yang ku benci itu.

"DIAM! Aku tak ingin mendengar suara laknat darimu itu!" Bentakku padanya.

"Aku menyadarinya. Ini... bukan kesalahannya. Bukan kesalahan Goo Hye Sun maupun Lee Sungmin." Kataku menahan geram sambil menatap Eommaku dan pria brengsek itu.

"Tapi salah kalian!" tuduhku pada mereka.

"HYUNG!" teriak Taemin.

"Diam Taetae. Ini bukan urusanmu. Pulanglah ke rumahmu atau pergilah ke atas." Pintaku padanya dengan tenang. Aku tak boleh melampiaskannya pada Taemin. Dia juga korban.

Aku bisa mendengar langkah kaki Taemin yang berlari keluar dari ruang tamu dan langkahnya yang menaiki tangga dengan terburu-buru.

Itu sedikit lebih baik.

Aku menatap Eommaku dan pria brengsek itu yang sok menenangkan Eommaku.

Cih! Aku tidak percaya dia adalah ayah dari Lee Sungmin-KU yang baik hati dan tegar itu.

"Eomma. Ini... semua adalah salahmu. Penyebab berawalnya masalah ini... adalah dirimu." Kataku tenang namun penuh penekanan.

Setelah merenungkan semua yang terjadi di mobil dalam perjalanan kembali dari Ilsan, aku akhirnya menyadarinya.

Semua penderitaan ini takkan terjadi jika... bukan karena dua orang dihadapanku ini.

"Apa maksudmu Kyu? Kau menuduhku apa?" seru Eommaku marah. Dia menampik tangan suaminya yang berusaha menyuruhnya tetap tenang.

"Kau... tidak pernah menikah dengan Abeojiku, kalian hanya bertunangan meskipun kau menyembunyikannya dari yang lain, tapi kemudian kau hamil dan melahirkanku. Aku mendengarnya bahwa kau adalah penggemar berat Abeoji. Jadi, kau bersedia melakukan apapun bahkan rela mengandung anaknya tanpa adanya jaminan ikatan pernikahan. Yang kau pikirkan hanyalah kebanggaan menjadi kekasih seorang vokalis band rock terkenal Korea. Aku takkan menyalahkanmu dan menyesalinya. Karena kenekatanmu aku terlahir di dunia. Dan untungnya Abeoji mau mengakuiku dan memberikan hakku sebagai anaknya. Lalu kemudian, kau meninggalkan Abeoji dan bertunangan dengan pria ini," aku menunjuk suaminya, "dan kau hamil." Jeda sejenak.

Aku berusaha menenangkan diri mengingat cerita Abeojiku tentang hubungannya dengan Eomma yang diceritakannya lewat telepon semalam.

"Abeoji menceritakannya. Kau dan pria ini sedang renggang, dan... Abeoji melihatmu dekat dengan Jonghyun Ahjushi, teman satu band Abeoji. Tapi kau sudah bertunangan jadi Abeoji pikir mungkin kau hanya sekedar fangirling saja. Tapi kemudian kau hamil, dan... saat kehamilanmu membesar, dia... dia meninggalkanmu." Aku menghela nafas keras. Emosiku membludak.

"CUKUP KYUHYUN!" teriak Eommaku.

Dia menangis? Kenapa? Apa yang ku katakan benar?

"Pria ini lebih memilih Go Hye Sun, Eomma Sungmin, dibandingkan dirimu, padahal kau sedang hamil. Kenapa? Apa dia se-brengsek itu? Atau... Taemin, adikku... bukan anaknya? Bukan anak pria ini? Jadi dia dengan tenang meninggalkanmu dan menikah dengan Go Hye Sun." Aku menatap pria itu yang hanya diam, tidak mengelak maupun membenarkan.

"CHO KYUHYUN!"

"Kau akhirnya menikah dengan Shim Abeoji, Abeoji Changmin. Itu karena kau merasa malu telah memiliki aku dan Taemin namun belum pernah sekalipun menikah. Benarkan? Rencana pernikahanmu dengan pria ini berantakan, jadi... harga dirimu terlalu tinggi untuk menerima hal memalukan itu. Kau menimpakan kesalahan pada pria ini dan Eomma Sungmin lalu... kau memanfaatkan kebaikan hati Shim Abeoji yang memang masih berduka atas kematian Eomma Changmin, dan mengira kau bisa menjadi Eomma pengganti untuk Changmin yang saat itu masih kecil sama sepertiku. Tapi akhirnya jiwa liarmu yang tidak bisa menjaga kesetiaan pun memutuskan berpisah dengan Shim Abeoji yang baik hati. Dan tak lama kau menikah dengan pria lain yang bisa memenuhi jiwa liar dan bebasmu itu. Dan kini," aku menatap sinis pada pria dihadapanku, "kau mendapatkan kembali tunanganmu yang dulu kabur, dengan memanfaatkan kepolosanku untuk menuntut tanggung jawabnya atas Taemin. Dan bodohnya itu ku lakukan, karena aku menyayangi Taemin."

Aku tak sanggup lagi membongkar semua keburukan dan kemunafikan yang dimiliki Eommaku ini. Eomma kandungku.

"Kau membuatku menghancurkan hidup keluarga lain. Keluarga yang bahagia. Keluarga dari orang yang... kucintai."

Pria brengsek aka Lee Min Ho memandangku tak percaya. Eommaku memandangku dengan wajah merahnya yang shock dan marah.

"YA. AKU MENCINTAI LEE SUNGMIN. Dia adalah hidupku. Dan kini... kalian telah menghancurkannya. Kalian menghancurkan hidupku!"

Aku menatap pada pintu yang tertutup.

"Pembicaraan selesai. Silahkan pergi dari RUMAHKU."

Aku sama sekali tak mau memandang mereka. Aku muak.

Semua ini memuakkan.

Aku mendengar langkah terburu-buru dan pintu yang dibuka kasar.

Dan tak butuh waktu lama, aku mendengar suara mesin mobil yang meninggalkan rumahku.

Mereka pergi. Bagus.

.

(Flashback End)

.

Aku harusnya menelepon Eomma dan bicara dengannya, tapi aku belum mampu memberanikan diri untuk melakukan itu.

Memaafkan memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Aku akui, aku memang bersikap terlalu kasar padanya. Walau bagaimanapun, dia adalah Eommaku. Wanita yang melahirkanku.

Taemin telah mampir beberapa kali dan meminta aku agar bicara dengannya.

Ini bukanlah kesalahan Taemin tapi... aku juga tidak bisa bicara dengannya tentang hal ini. Dia mengingatkanku tentang sesuatu yang telah hilang. Sesuatu yang pernah hampir aku miliki. Sesuatu yang aku tak pernah berharap bisa menemukannya.

Suara gedoran keras berasal dari pintu depan rumah membuyarkan lamunanku. Berbalik, aku menoleh. Bel pintu berdering diikuti dengan suara ketukan lagi.

Siapa itu? Tidak ada yang datang kesini lagi kecuali Taemin dan Changmin sejak Sungmin pergi.

Aku meletakkan bir di atas meja sampingku dan berdiri.

Siapapun itu, mereka harus punya alasan yang benar- benar kuat mengenai kedatangan mereka ke sini tanpa diundang.

Aku berjalan melintasi rumah yang tetap bersih sejak kunjungan terakhir Kang Ahjumma.

Dengan tidak adanya pesta-pesta atau kehidupan sosial maka menjadi lebih mudah untuk menjaga segala benda dari kerusakan. Aku menyadari bahwa aku jauh lebih suka keadaan seperti ini.

Ketukan terdengar lagi ketika aku sampai di pintu depan dan aku menyentaknya hingga terbuka, bersiap untuk memberitahu siapa pun itu agar segera pergi namun tak sepatah katapun sanggup keluar dari mulutku.

Dia bukan seseorang yang kuharap bisa kulihat lagi. Aku hanya bertemu pria itu sekali dan aku langsung membencinya.

Sekarang dia ada di sini.

Aku ingin meraih bahunya dan mengguncangnya sampai ia menceritakan bagaimana keadaan Sungmin.

Apakah dia baik-baik saja? Di mana dia tinggal?

Oh Tuhan, aku berharap Sungmin tidak tinggal bersamanya. Kecuali dengan Ahjushi di pemakaman waktu itu, kelihatannya di pria yang baik.

Berbeda dengan pria dihadapanku ini.

Atau mungkin?

Bagaimana jika Sungmin telah...

Tidak, tidak, tidak, itu tidak mungkin terjadi.

Dia tidak akan melakukannya. Sungminku tidak akan bunuh diri.

Tanganku mengepal erat membentuk tinju di sisi tubuhku.

"Aku perlu tahu satu hal," Jungmo, pria ini, pria dari masa lalu Sungmin, berkata saat aku menatapnya dengan pandangan tak percaya dan kebingungan. "Apakah kau," ia berhenti dan menelan ludah.

"Apakah kau... meniduri—" Dia melepas topi dan mengusap rambutnya. Aku melihat lingkaran hitam di bawah matanya dan ekspresi lelah di wajahnya.

Jantungku seakan berhenti. Aku meraih lengan atasnya dan menggoncang tubuhnya.

"Di mana Sungmin? Apakah dia baik-baik saja?"

"Dia baik-baik saja. Maksudku, dia tidak dalam masalah. Lepaskan aku sebelum kau mematahkan lenganku," bentak Jungmo, menyentak lengannya menjauh dariku. "Sungmin masih hidup dan sehat di Ilsan. Itu bukan alasan kenapa aku ada di sini."

Lalu kenapa dia ada di sini? Kami hanya punya satu keterkaitan. Lee Sungmin.

"Ketika dia meninggalkan Ilsan, dia adalah pria manis yang polos. Sangat polos dan baik. Aku pacar pertama dan satu-satunya. Aku tahu betapa polosnya dia. Kami sudah bersahabat sejak kami masih kecil. Tapi Sungmin, pria yang pulang itu bukan lagi Sungminku yang sama saat dia pergi. Dia tidak bicara apapun padaku. Dia tidak mau bicara denganku. Dia hanya mempercayai Joongki Ahjushi. Dan aku tak sengaja mengetahuinya. Jadi, aku hanya perlu tahu apakah kau dan dia... apakah kalian... Aku hanya akan mengatakan ini, apa kau pernah menidurinya?"

Pandanganku kabur saat aku bergerak tanpa memikirkan yang lain kecuali ingin membunuhnya.

Dia telah melewati batas.

Dia tidak boleh bicara tentang Sungmin seperti itu.

Dia tidak boleh mengajukan pertanyaan semacam itu atau meragukan kepolosannya. Sungminku masih polos, dasar sialan. Dia tidak punya hak. Dan dia Sungmin-KU, bukan miliknya.

"Astaga Cho! Turunkan dia!" terdengar suara Changmin berteriak padaku.

Aku mendengar suaranya tapi seakan begitu jauh dan terdengar seperti di dalam terowongan.

Aku terfokus pada orang di depanku saat kepalan tanganku mengenai wajahnya dan darah menyembur dari hidungnya.

Dia berdarah. Aku ingin dia berdarah. Aku ingin memukul seseorang hingga berdarah.

Dua lengan melilit lenganku dari belakang dan menarikku menjauh saat Jungmo terhuyung mundur memegangi hidungnya dengan tatapan panik di matanya. Well, hanya salah satu matanya. Mata yang lain sudah bengkak dan tertutup.

"Sebenarnya apa yang kau katakan padanya?" Tanya Changmin dari belakangku. Ternyata Changmin yang telah melilitku.

"Jangan kau katakan!" Bentakku saat Jungmo membuka mulutnya untuk menjawab.

Aku tidak ingin mendengar dia bicara tentang Sungmin seperti itu.

Apa yang kami lakukan memang lebih dari sekedar sesuatu yang kotor atau salah.

Tapi pria ini bertingkah seolah aku telah menghancurkan Sungmin.

Sungmin masih polos. Luar biasa polos. Apa yang telah Jungmo lakukan tidak pernah mengubah hal itu.

Lengan Changmin mengencang di tubuhku saat ia menarikku ke dadanya. "Sebaiknya kau pergi sekarang. Aku hanya bisa menahannya untuk sementara waktu. Dia punya otot sepuluh kilo lebih banyak dibanding denganku dan ini tidak semudah seperti yang terlihat. Kau harus lari, bung. Jangan kembali. Kau beruntung karena aku muncul."

Jungmo mengangguk, dengan terhuyung kembali ke truknya.

Kemarahan sedikit mereda dalam pembuluh darahku tapi aku masih merasakannya. Aku ingin lebih menyakitinya.

Untuk mencuci bersih pikiran apapun yang mungkin dia miliki di kepalanya bahwa Sungmin tidak sesempurna seperti saat ia meninggalkan Ilsan. Dia tak tahu apa saja yang telah Sungmin lalui. Penderitaan yang telah dia lalui karena keluargaku.

Bagaimana pria lemah itu bisa menjaga Sungmin? Sungmin membutuhkanku.

"Kalau aku melepaskanmu apa kau akan mengejar mobilnya atau kita berdua sudah tenang?" Tanya Changmin mulai melonggarkan cengkeramannya pada tubuhku.

"Aku sudah tenang," Aku meyakinkannya saat aku membebaskan diri dari kungkungannya dan menghampiri pagar untuk berpegangan, lalu menarik nafas dalam-dalam.

Rasa sakit itu kembali dengan kekuatan penuh. Aku telah berhasil mengubur rasa itu hingga hanya terasa berupa denyutan samar, tapi melihat si pengecut itu, membuatku mengingat segalanya.

Malam itu. Malam yang tak akan pernah bisa kupulihkan ke asalnya. Malam yang telah dan akan membekas dalam diriku untuk selamanya.

"Bisakah aku bertanya padamu sebenarnya apa yang terjadi atau kau juga akan menghajarku?" Tanya Changmin sambil menjaga jarak di antara kami.

Bagaimanapun Changmin adalah saudara dan teman baikku, diatas semua kepentingan dan tujuan yang melatar belakanginya. Meskipun Eommaku telah bercerai dengan Shim Abeoji dan memiliki beberapa suami setelah itu tapi Changmin masih tetap keluargaku. Dia cukup paham untuk mengetahui bahwa ini adalah tentang Sungmin.

"Mantan pacar Sungmin," jawabku tanpa menoleh ke arahnya.

Changmin berdeham. "Jadi? Ah, dia datang ke sini untuk mengejekmu? Atau kau menghajarnya sampai babak belur hanya karena dia pernah menyentuh Sungmin?"

Dua-duanya. Atau mungkin bukan.

Aku menggeleng.

"Tidak. Dia datang ke sini mengajukan pertanyaan tentang aku dan Sungmin. Sesuatu yang bukan urusannya. Dia menanyakan sesuatu yang salah. Dia juga mengatakan hal aneh yang tidak aku mengerti terkait pertanyaannya itu."

"Ah, aku mengerti. Itu masuk akal. Well, dia sudah membayar perbuatannya. Tapi, mungkin terjadi sesuatu dengan Sungmin? Sudah 3 minggu berlalu bukan? Sejujurnya aku juga mengkhawatirkannya. Kau tahu maksudku kan? Dia juga korban."

Aku mengangkat bahu. Sejujurnya aku berharap tidak terjadi apapun yang salah dengan Sungmin.

"Entahlah. Yang jelas pria tadi telah menghancurkan hariku ini." Gerutuku.

"Kalau begitu dari pada kau kembali membanting barang-barang dan menghancurkan rumahmu dan membuatmu jadi gelandangan, lebih baik kita bertanding game, aku akan menghiburmu." Ajak Changmin.

Dia benar. Sudah cukup dengan kegilaanku 3 minggu ini.

"Ide bagus. Aku masih memegang rekor kemenangan kan?"

.

.

(Kyuhyun POV END)

.

.

.ooooO

.

(Sungmin POV)

.

Makam Eomma dan Sungjin adalah satu-satunya tempat yang ada dalam pikiranku saat ini.

Aku tidak punya rumah.

Dan aku tidak bisa kembali ke rumah Joongki Ahjushi. Tidak setelah kekecewaan yang dirasakannya setelah melihat hasil yang ditunjukkan alat itu.

Aku hamil. Yah, aku, pria yang dikenalnya polos dan sangat dia percayai, hamil.

Dan ini adalah anak Kyuhyun.

Aku bisa melihat kekecewaan di wajahnya.

Dia memang tidak mengatakan apapun. Hanya tersenyum lemah dan mengurung diri di kamarnya.

Tapi aku tahu, dia kecewa. Pada dirinya, dan juga diriku.

Dia kecewa karena merasa gagal menjagaku. Dan kecewa karena aku tak bisa menjaga diriku sendiri. Padahal aku berhasil melakukannya 5 tahun terakhir ini, sebelum kepergianku ke Jeju.

Aku juga tak mungkin ke rumah Kim Halmeoni.

Dia adalah nenek Jungmo.

Jungmo mungkin ada di sana menungguku. Atau mungkin tidak juga. Kami tidak lagi bertemu sejak 3 minggu yang lalu.

Aku duduk di depan makam mereka. Diatas rerumputan.

Aku menarik lutut di bawah dagu dan melingkarkan tangan di kakiku.

Aku tak perduli jika pakaianku kotor. Aku membutuhkan mereka untuk menenangkan perasaanku.

Aku kembali ke kota ini karena disinilah satu-satunya tempat yang kutahu akan aku datangi.

Tapi sekarang, aku harus pergi.

Aku tidak bisa tinggal di sini.

Sekali lagi hidupku akan segera berubah 360%.

Jujur saja, ini adalah keadaan yang tidak siap untuk kuhadapi.

Aku ingat Eomma pernah berkata padaku bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan manusia dalam menghadapinya.

Tapi kini aku mulai bertanya-tanya, apakah itu hanya untuk orang-orang yang rajin beribadah dan berdoa sebelum mereka pergi tidur di malam hari? Mengapa Tuhan tidak tanggung-tanggung memberikan cobaannya padaku?

Mengasihani diri sendiri tidak akan menolongku.

Aku harus mencari tahu jawaban dari semua masalahku ini.

Aku juga sudah terlalu banyak merepotkan semua orang, terutama Joongki Ahjushi dan... Jungmo.

"Aku berharap kau ada di sini, Eomma, Sungjin-ah. Aku tak tahu harus berbuat apa dan aku tidak punya siapa pun yang bisa memberiku saran," bisikku lirih. Aku percaya bahwa mereka bisa mendengarkanku.

"Aku merindukan kalian. Aku tidak ingin sendirian tapi... begitulah kenyataannya. Aku sangat takut."

Suara yang terdengar hanyalah desiran angin menerpa daun-daun di pepohonan.

"Eomma. Kau pernah memberitahuku jika aku bimbang aku bisa coba bertanya pada hati nuraniku. Aku sudah berusaha Eomma, tapi aku sangat bingung. Mungkin kau bisa membantuku dengan menunjukkan padaku ke arah yang benar, entah bagaimana?"

Aku menyandarkan dagu di lututku dan memejamkan mata, tidak mau menangis.

Hanya bertanya padanya membuatku merasa lebih baik. Meskipun aku tidak akan mendapatkan jawaban tapi itu tidak menjadi masalah.

.

.

Suara pintu mobil ditutup memecah kedamaianku.

Aku menurunkan tangan dari kakiku dan menoleh kebelakang di pelataran parkir dan melihat mobil yang terlalu mahal dibandingkan dengan truk tuaku.

Memutar mataku untuk melihat siapa yang telah melangkah keluar dari dalam mobil aku terkesiap kemudian melompat.

Itu Eunhyuk. Dia ada di sini!

Dia di Ilsan... dan mengendarai mobil yang terlihat sangat-sangat mahal.

Rambut pirangnya sudah berganti coklat dan sedikit panjang tergerai.

Senyum tersungging di bibirnya saat mataku bertemu dengan matanya.

Aku tidak bisa bergerak. Aku takut aku sedang berkhayal.

Apa yang Eunhyuk lakukan di sini?

"Kau tidak punya ponsel. Bagaimana bisa aku menghubungimu dan bilang aku datang untuk menemuimu sedangkan aku tak punya nomor yang harus dihubungi? Hmmm?" Kata-katanya tidak masuk akal namun hanya mendengar suaranya membuatku berlari mendekatinya.

Eunhyuk tertawa dan membuka lengannya saat yang aku melemparkan diriku kepadanya.

"Aku tak percaya kau ada di sini," kataku setelah memeluknya.

"Ya, aku juga. Ini perjalanan yang panjang. Tapi sepadan karena kau meninggalkan ponselmu di Jeju aku tak punya cara untuk bicara denganmu."

Aku ingin menceritakan semuanya tapi aku tidak bisa.

Belum. Aku perlu waktu.

Dia sudah tahu tentang Abeoji. Dia tahu tentang Taemin. Tapi yang lainnya...

Aku tahu dia tidak mengetahuinya. Tentang keadaanku yang berbeda.

"Aku sangat senang kau ada di sini tapi bagaimana caranya kau menemukanku?"

Eunhyuk menyeringai dan memiringkan kepalanya. "Aku menyetir mengelilingi kota untuk mencari trukmu. Itu tidak sulit. Tempat ini punya sesuatu seperti cctv berjalan. Meskipun aku terlewat, aku masih bisa menemukanmu dengan mudah."

"Aku tidak tahu kau memiliki mobil sebagus itu?" tanyaku melirik ke arah mobil itu.

"Itu milik Donghae. Mobilnya sangat nyaman dikendarai."

Dia masih bersama Donghae. Bagus.

Tapi dadaku terasa sakit.

Donghae mengingatkanku pada Country Club di Jeju. Dan Country Club mengingatkanku pada Kyuhyun.

"Aku akan menanyakan bagaimana kabarmu tapi... kau terlihat seperti tongkat yang berjalan. Apakah kau pernah makan sejak kau pergi meninggalkan Jeju?"

Semua pakaianku sekarang longgar. Makan sulit dilakukan mengingat simpul besar yang terus terikat erat di dadaku setiap saat.

"Ini adalah beberapa minggu yang buruk tapi kurasa aku semakin membaik. Melupakan banyak hal dan menghadapinya."

Eunhyuk mengalihkan tatapannya ke makam di belakangku. Keduanya.

Aku bisa melihat kesedihan di matanya saat ia membaca kedua batu nisan itu.

"Tidak ada yang bisa mengambil pergi kenanganmu. Kau memilikinya," katanya sambil meremas tanganku.

"Aku tahu. Aku tidak percaya mereka. Abeoji seorang pembohong, begitu juga Bae Sooji. Aku tidak percaya satu pun dari mereka. Eommaku, dia tidak akan melakukan apa yang mereka tuduhkan. Jika ada yang harus disalahkan itu adalah Abeoji. Dia menyebabkan rasa sakit ini. Bukan Eommaku. Eommaku tak akan pernah."

Eunhyuk mengangguk dan menggenggam tanganku dengan erat.

Hanya memiliki seseorang yang mendengarkanku dan tahu bahwa mereka percaya padaku, bahwa mereka percaya Eomma tidak bersalah sudah cukup membantu.

"Apa saudara kembarmu sangat mirip denganmu maksudku benar-benar mirip dan uh, unik?"

Memori terakhirku dari Sungjin adalah saat dia tersenyum. Senyum riangnya jauh lebih manis dibanding senyumku. Giginya sempurna tanpa bantuan kawat gigi. Matanya lebih cerah dibanding mataku.

Tapi semua orang mengatakan kami identik. Mereka tidak melihat perbedaannya. Aku selalu heran kenapa. Aku bisa melihatnya dengan jelas.

"Kami kembar identik," jawabku. "Dan yah, kami unik. Berkat Eomma kami."

"Aku tidak bisa membayangkan ada dua Lee Sungmin. Kalian pasti sudah mematahkan hati seluruh wanita di kota ini dan membuat para pria terkena diabetes karena kemanisan kalian."

Dia mencoba untuk meringankan suasana setelah bertanya tentang Sungjin.

Aku menghargainya.

"Hanya Sungjin saja. Aku bersama Jungmo sejak aku masih kecil. Aku tidak mematahkan hati pria dan wanita manapun."

Mata Eunhyuk sedikit terbelalak kemudian membuang pandangannya sebelum berdehem. Aku menunggu sampai ia berpaling lagi padaku.

"Meskipun hanya bertemu dan berbicara denganmu sangat menyenangkan, sebenarnya aku datang ke sini karena suatu tujuan."

Aku menduganya, aku hanya tidak tahu dengan tepat apa tujuannya. "Oke," kataku menunggu lebih banyak penjelasan.

"Bisakah kita bicara tentang ini sambil menikmati kopi?" Dia mengerutkan kening kemudian melirik kembali ke jalan. "Atau dimanapun tempat yang nyaman untuk bicara."

Dia tidak nyaman berbicara di pemakaman seperti aku. Itu normal. Sedangkan aku tidak.

"Ya, oke," kataku dan berjalan untuk mengambil dompetku di dekat makam.

"Itu jawabanmu," bisik sebuah suara lembut yang sangat pelan hingga aku nyaris berpikir kalau aku hanya berkhayal.

Berbalik menengok kembali ke arah Eunhyuk dia tersenyum dengan tangannya terselip di saku depannya.

"Apa kau mengucapkan sesuatu?" Tanyaku bingung.

"Eh, maksudmu setelah aku menyarankan kita pergi?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Ya. Apa kau membisikkan sesuatu?"

Dia mengernyitkan hidungnya dan kemudian memandang ke sekeliling dengan gelisah dan menggeleng. "Tidak... um... kenapa kita tidak keluar saja dari sini?" Katanya meraih lenganku dan menarikku di belakang punggungnya menuju mobil yang dibawanya.

Aku menengok menatap makam Eomma dan kedamaian datang padaku. Apakah itu merupakan-

Tidak. Jelas tidak.

Menggelengkan kepalaku, aku berbalik dan menuju ke sisi penumpang sebelum Eunhyuk mempersilahkan aku masuk.

.

(Sungmin POV END)

.

.

.oooO

.

.

(Kyuhyun POV)

.

Sekarang adalah hari ulang tahun Eomma.

Taemin sudah dua kali meneleponku menanyakan apakah aku akan menelpon Eomma.

Aku tidak bisa melakukannya.

Dia sedang berada di Macau bersama dengan suaminya.

Hal ini sama sekali tidak mempengaruhinya.

Sekali lagi dia kabur untuk menikmati hidupnya sementara itu meninggalkan anaknya di belakang untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

"Taetae menelpon lagi. Kau ingin aku menjawabnya dan mengatakan padanya agar meninggalkan kau sendirian?" Changmin berjalan masuk ke ruang tamu memegang ponselku di tangannya sementara ponsel itu berdering.

Dua orang itu bertengkar seperti layaknya saudara kandung, "Tidak, berikan itu padaku," jawabku, dia melemparkan ponsel itu padaku.

"Taetae," sapaku dengan hangat.

"Apakah kau akan menelepon Eomma atau tidak? Dia sudah dua kali meneleponku sekarang bertanya apakah aku bicara padamu dan jika kau ingat ini adalah hari ulang tahunnya. Dia peduli padamu. Berhenti membiarkan masalah ini menghancurkan segalanya, Hyung! Dia menodongkan senjatanya padaku. Demi Tuhan! Senjata, Hyung! Dia gila! Dia-"

"Berhenti! Jangan berkata apa-apa lagi. Kau tidak mengenalnya. Kau tidak ingin tahu tentangnya. Jadi hentikan. Aku tidak akan menelepon Eomma. Lain kali jika Eomma bertanya katakan padanya seperti itu. Aku tidak ingin mendengar suaranya. Aku tidak peduli akan liburannya atau apa yang dia dapatkan saat ulang tahunnya."

"Ouch," guman Changmin saat dia merebahkan diri pada sofa di seberangku dan menopangkan kaki nya pada sofa kecil di depannya.

"Aku tidak percaya kau berkata seperti itu. Aku tidak memahamimu! Dia tidak mungkin baik dalam-"

"Stop Lee Taemin! Percakapan ini selesai. Telpon aku jika kau butuh aku." Aku menekan tombol end kemudian melemparkan ponselku ke kursi di sampingku dan menyandarkan kepalaku pada bantal.

"Ayo pergi. Bermain game. Sedikit minum. Berdansa dengan beberapa gadis. Lupakan semua omong kosong ini. Semuanya." Ajak Changmin.

Dia menyarankan ini beberapa kali selama lebih dari tiga minggu. Atau setidaknya sejak aku akhirnya berhenti memecahkan sesuatu di rumah dan dia merasa itu sudah cukup aman untuk bicara tanpa takut aku akan membunuhnya atau bunuh diri.

Tidak, aku tidak akan sebodoh itu.

"Tidak," jawabku tanpa melihatnya.

Tidak ada satu alasan pun untuk bersikap seolah aku baik-baik saja.

Sampai aku tahu Sungmin baik-baik saja, aku tidak akan pernah baik.

Dia mungkin tidak akan memaafkanku.

Masa bodoh dia mungkin tidak akan pernah melihatku lagi tapi aku ingin tahu apakah dia sudah pulih.

Aku ingin tahu sesuatu. Apa saja.

"Aku sangat baik untuk tidak ikut campur. Aku membiarkanmu menjadi gila, berteriak pada semua yang bergerak dan menyebalkan. Ku pikir ini saatnya kau bilang sesuatu padaku. Apa yang terjadi ketika kau pergi ke Ilsan? Sesuatu pasti telah terjadi. Kau tidak kembali menjadi orang yang sama. Kau bukan Cho Kyuhyun yang ku kenal."

Aku menyayangi Changmin seperti saudara tetapi tidak mungkin aku mengatakan padanya tentang malam di kamar hotel bersama Sungmin.

Dia telah terluka dan aku sangat putus asa.

"Aku tidak ingin membicarakannya. Tapi aku ingin pergi keluar. Berhenti menatap pada semua dinding ini dan mengingatnya... yeah aku perlu keluar."

Aku berdiri dan Changmin melompat dari tempat duduknya di sofa. Kelegaan nampak nyata di matanya.

"Untuk apa kau pergi keluar? Bir atau gadis atau keduanya?"

"Musik yang keras," jawabku. "Aku benar-benar tidak perlu bir atau gadis... Aku hanya tidak siap untuk itu."

"Kita harus pergi yang jauh. Mungkin ke Seoul?"

Aku melemparkan kunci mobilku padanya, "Tentu, kau yang menyetir."

Bunyi bel menghentikan langkah kami berdua.

Terakhir kali aku punya tamu tak diundang berakhir dengan tidak baik. Seolah ada polisi yang datang untuk menahanku karena memukul wajah Jungmo.

Cukup aneh, tapi aku tidak peduli. Aku tidak takut.

"Aku yang akan membukanya," kata Changmin, menatapku dengan gelisah. Dia memikirkan hal yang sama.

Aku duduk kembali di sofa dan menopangkan kakiku ke atas meja kopi di depanku. Meja kopi kesayangan Eomma.

Dan rasa bersalah tiba-tiba datang karena tidak meneleponnya.

Tapi aku memilih mengabaikannya.

Seumur hidupku aku telah membuat wanita itu bahagia dan menjaga Taemin.

Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku sudah selesai. Dengan semua omong kosongnya.

"Hae-ya, ada apa? Kami baru saja akan keluar. Kau mau ikut?" kata Changmin sambil melangkah mundur dan membiarkan Donghae masuk ke dalam rumah.

Aku tidak bangun. Aku ingin dia pergi.

Melihat Donghae mengingatkanku pada Eunhyuk.

Eunhyuk mengingatkanku pada Sungmin. Lee Donghae harus pergi.

"Uh, tidak, aku uh... Aku perlu bicara padamu tentang suatu hal," kata Donghae, menyeret kakinya dan memasukkan tangannya ke sakunya. Dia kelihatannya siap untuk melompat keluar dari pintu.

"Oke," balasku.

"Hari ini mungkin bukan waktu yang baik untuk berbicara dengannya, kawan," kata Changmin, melangkah ke depan Donghae dan menatapku. "Kami berdua mau keluar. Ayo pergi. Donghae bisa bicara nanti."

Sekarang aku penasaran, "Aku bukanlah orang yang tidak terkendali, Chwang. Duduklah. Biarkan dia bicara."

Changmin menghembuskan nafas dan menggelengkan kepalanya. "Baiklah. Kau akan mengatakan padanya omong kosong ini sekarang, maka katakan padanya."

Donghae menatap Changmin dengan gugup kemudian dia menatapku kembali.

Dia berjalan dan duduk di kursi yang paling jauh dariku.

Aku menatap saat dia menyelipkan rambutnya di belakang telinganya dan ingin tahu apa yang akan dia katakan adalah hal penting.

"Eunhyuk dan aku menjadi lebih serius," dia memulai.

Aku sudah tahu ini. Aku tidak peduli.

Aku merasakan rasa sakit terbuka di dadaku dan aku mengepalkan tanganku.

Aku harus fokus untuk memasukkan udara ke dalam paru-paruku.

Eunhyuk adalah teman baik Sungmin. Dia tahu bagaimana Sungmin.

"Dan uh... tempat tinggal Eunhyuk sewanya naik dan tempat itu juga buruk. Aku merasa tidak aman dia tinggal disana. Jadi, aku bicara pada Siwon dan dia bilang bahwa Ayahnya punya sebuah rumah besar dengan dua kamar jika aku ingin menyewanya. Aku... uh, menyewanya untuk Eunhyuk dan membayar uang sewa dan semuanya. Tapi ketika aku mengajaknya untuk melihatnya dia marah. Sangat marah. Dia tidak ingin aku membayar uang sewanya. Dia bilang itu membuatnya merasa murahan,"

Dia menghembuskan nafas dan tatapan maaf yang tetap terlihat di matanya tetap tidak berarti. Aku tidak peduli tentang pertengkarannya dengan Eunhyuk.

"Itu dua kali lebih... atau, setidaknya, Eunhyuk berpikir itu dua kali lebih mahal dari tempat tinggal lamanya. Dan sebenarnya itu empat kali lebih mahal dari tempat lamanya. Aku meminta Siwon merahasiakannya. Aku membayar bagian yang lain tanpa dia ketahui. By the way, Eunhyukkie... dia, uh... dia... pergi ke Ilsan hari ini. Dia menyukai rumah itu. Dia ingin tinggal di rumah yang di tepi pantai. Tapi satu-satunya orang yang dia anggap cocok sebagai teman sekamarnya adalah... Sungmin."

Aku berdiri. Aku tidak bisa duduk.

"Whoa kawan...duduklah." Changmin menahanku dan aku menepisnya.

"Aku tidak marah. Aku hanya perlu bernapas," kataku, menatap keluar ke pintu kaca menatap ombak yang menghantam pantai.

Eunhyuk pergi untuk mendapatkan Sungmin. Jantungku berdetak cepat.

Apakah dia akan datang? Sungmin akan kembali?

"Aku tahu kalian berdua berakhir dengan tidak baik. Aku memintanya untuk tidak melakukannya tapi dia marah dan aku tidak suka membuatnya marah. Dia bilang dia merindukan Sungmin, dan dia merasa Sungmin tengah membutuhkan seseorang. Dia, uh, juga bicara pada Siwon agar memberi Sungmin pekerjaan lagi jika dia bisa membuat Sungmin kembali."

Sungmin. Kembali?

Dia tidak akan kembali.

Dia membenciku.

Dia membenci Taemin.

Dia membenci Eommaku.

Dia membenci Abeojinya.

Dia tidak akan kembali ke sini.

Tapi...

Ya Tuhan, aku ingin dia kembali.

Aku menoleh dan melihat Donghae. "Dia tidak akan kembali," kataku.

Rasa sakit di suaraku tidak bisa dipungkiri. Aku tidak peduli untuk menyembunyikannya. Tidak lagi.

Donghae mengangkat bahu.

"Dia mungkin butuh waktu untuk memikirkan hal ini. Bagaimana jika dia kembali? Apa yang akan kau lakukan?" Changmin bertanya padaku.

Apa yang akan kulakukan? Aku akan memohon.

(Kyuhyun POV END)

.

.

.oooO

.

(Sungmin POV)

.

Eunhyuk menghentikan mobil di parkiran Starbucks.

Aku melihat mobil Volkswagen kecil berwarna biru dan memutuskan untuk tidak keluar dari mobil.

Itu mobil milik Victoria.

Aku hanya pernah bertemu Victoria dua kali sejak aku kembali dan dia sudah siap mencakar keluar mataku.

Dia telah menyukai Jungmo semenjak SMA.

Karena aku kembali, dia merasa aku akan mengacaukan hubungan yang berhasil mereka jalani. Dia menganggap aku akan merusak Jungmo dan mengambil kenormalannya lagi.

Aku tidak bermaksud seperti itu. Dia bisa memiliki Jungmo. Aku senang jika Jungmo bahagia dengannya.

Eunhyuk mulai keluar dari mobil dan aku meraih lengannya. "Mari kita bicara di dalam mobil saja," kataku, menghentikannya.

"Tapi aku ingin beberapa es krim yang dicampur dengan Oreo," keluhnya.

"Aku tidak bisa bicara di sana. Aku kenal banyak orang," jelasku.

Eunhyuk menghela napas dan bersandar di kursinya. "Oke baik. Lagipula diriku tidak membutuhkan es krim dan kue."

Aku tersenyum dan santai, berterima kasih atas jendela berwarna gelap. Tidak ada yang menyadari keberadaanku di mobil ini.

"Aku tidak akan berbasa-basi, Sungminnie. Aku merindukanmu. Aku tidak pernah punya teman dekat sebelumnya. Tidak pernah. Kemudian kau datang dan kau pergi. Aku benci ketika kau pergi. Pekerjaan menjadi menyebalkan tanpamu ada di sana. Aku tidak memiliki seorangpun yang bisa di ajak cerita tentang kehidupan seksku dengan Dongahe dan bagaimana manisnya dia yang mana takkan pernah kudapatkan bila aku tak mendengar nasihatmu. Kibum dan Leeteuk sama sekali tak membantu. Mereka hanya bisa memarahiku. Aku hanya merindukanmu."

Aku merasa airmata mulai menggenang.

Hanya merasa dirindukan terasa begitu baik. Aku merindukannya juga. Aku merindukan banyak hal. "Aku juga merindukanmu," jawabku, berharap aku tidak menjadi cengeng.

Eunhyuk mengangguk dan senyum terpasang di bibirnya. "Oke baik. Karena aku ingin kau kembali dan tinggal bersamaku. Donghae menempatkanku di rumah tepi pantai yang merupakan bagian dari properti klub. Aku, bagaimanapun, menolak untuk membiarkan dia membayarnya. Jadi, aku butuh teman sekamar. Tolong kembalilah. Aku membutuhkanmu. Dan Siwon mengatakan kau akan mendapatkan pekerjaanmu kembali, segera."

Kembali ke Jeju?

Dimana Kyuhyun berada... dan Taemin... dan Abeoji.

Aku tidak bisa kembali. Aku tidak bisa bertemu mereka.

Mereka akan berada di klub.

Apakah Abeoji akan mengajak Taemin untuk bermain golf? Bisakah aku melihatnya?

Tidak, aku tidak bisa. Ini akan menjadi terlalu menyakitkan.

Aku sedang hamil dan aku tak ingin tertekan.

"Aku tidak bisa," aku tercekat.

Aku berharap aku bisa.

Aku tidak tahu kemana aku akan pergi sekarang mengetahui bahwa aku hamil tapi aku tidak bisa pergi ke Jeju dan aku tak bisa tinggal disini.

"Kumohon, Sungminnie... Kyuhyun... dia merindukanmu juga. Dia tidak pernah meninggalkan rumahnya. Hae mengatakan dia begitu menyedihkan."

Rasa amarah seketika menggelegak dalam dadaku. Mengetahui bahwa Kyuhyun juga sakit terasa terlalu berat.

Aku membayangkan dia mengadakan pesta dirumahnya dan meneruskan hidupnya. Aku tidak ingin dia bersedih.

Aku hanya perlu bagi kita untuk melanjutkan hidup. Tapi mungkin aku tidak akan pernah bisa. Aku akan selalu mengingatnya.

Aku tidak bisa memberitahu Eunhyuk tentang kehamilanku. Aku tak bisa memberitahunya jika aku berbeda dengannya.

Aku belum siap untuk memberitahu siapa pun.

Aku mungkin tidak akan pernah membiarkan orang lain tahu kecuali Joongki Ahjushi, dan... Jungmo.

Aku akan segera meninggalkan tempat ini. Kemanapun aku pergi aku tak ingin mengenali seorangpun. Aku akan mulai lagi dari awal.

"Lee Minho, eh Abeojimu dan Bae Suzy tidak ada. Mereka pergi. Taemin ada tapi dia lebih tenang dan terkendali sekarang. Ku rasa dia mengkhawatirkan Kyuhyun. Akan sulit pada awalnya, namun setelah kau mencoba melupakan lukamu kau bisa mengatasi mereka. Bahkan segalanya. Selain itu, dari gaya mata Siwon yang mengerjap bahagia ketika aku menyebutkan kau akan kembali kau bisa mengalihkan dirimu padanya. Dia jauh lebih menarik. "

Aku tidak ingin Siwon. Dan tidak ada yang dapat mengalihkan perhatianku. Eunhyuk juga tidak tahu jika Kibummie menyukai Siwon. Aku tahu. Aku melihat dari matanya. Sikapnya.

Dan aku tak ingin menyakitinya.

"Meskipun aku ingin... Aku... hanya tidak bisa. Maafkan aku." Aku menyesal.

Tinggal bersama Eunhyuk dan mendapatkan kembali pekerjaanku di klub akan menjadi jawaban untuk masalahku, sedikitnya.

Eunhyuk mendesah frustrasi dan membaringkan kepalanya kembali di kursi dan memejamkan mata. "Oke. Aku mengerti. Aku tidak menyukainya namun aku mengerti."

Aku mengulurkan tangan dan meremas tangannya erat. Aku berharap sesuatu yang berbeda.

Jika saja Kyuhyun hanya seseorang dari beberapa Pria yang pernah putus denganku mungkin itu lebih baik.

Tapi dia tidak. Dia tidak akan pernah.

Dia lebih dari itu. Jauh lebih dari yang bisa Eunhyuk mengerti.

Dia pria pertamaku. Yang pernah memilikiku seutuhnya. Ayah dari anakku.

Eunhyuk meremas tanganku kembali. "Aku akan membiarkan ini berlalu untuk hari ini. Tapi aku tidak akan segera mencari teman sekamar. Aku memberimu waktu seminggu untuk berpikir tentang hal ini. Lalu aku harus mencari seseorang untuk membantuku membayar tagihan. Jadi kau mau kan? Memikirkan tentang hal ini?"

Aku mengangguk karena aku tahu itu apa yang dia butuhkan walau ku tahu dia menunggu dengan sia-sia.

"Bagus. Aku akan pulang dan berdoa jika Tuhan masih mengingatku sebagai umatnya." Dia mengedipkan mata ke arahku dan kemudian melintasi kursi untuk memelukku.

"Makanlah makanan untukku, oke? Kau terlalu kurus," katanya.

"Oke," jawabku, bertanya-tanya apakah itu akan mungkin.

Eunhyuk duduk kembali.

"Nah, jika kau tidak akan berkemas dan kembali ke Jeju denganku maka setidaknya mari kita pergi keluar. Aku perlu untuk menginap semalam sebelum aku melakukan perjalanan ini lagi. Kita bisa mencari tempat hiburan di suatu tempat dan kemudian lelah setibanya di hotel."

Aku mengangguk.

"Ya. Kedengarannya menarik. Hanya saja tidak ada night club apapun kali ini."

Aku tidak bisa datang ke tempat-tempat itu mulai sekarang. Demi bayiku.

Eunhyuk mengerutkan kening. "Oke...tapi apakah ada sesuatu yang lain?"

Dia punya tujuan.

"Ya...kita bisa menyetir ke Seoul. Disana apapun ada."

"Sempurna. Mari kita bersenang-senang."

.

(Sungmin POV END)

.

.

TBC

.

.

Oke, chap baru di seri yang baru...

Cobaan cinta Kyumin yang pertama, hehe...

Moga ga bosen ya...

Akan indah pada akhirnya kok, hehe

Karena tulisan End di chap kemaren jadi banyak yg review, lumayan.

Jadi, Hasu balas reviewnya ne ^.^

.

danatebh : ini chap baru, tapi dari seri buku lanjutannya... keep reading ne ^.^

Karen Kouzuki : iya. Seri fallen too far udahan. Skrg masuk babak baru di hubungan Kyumin. MPREG? #lirikWarning ... silahkan simak di ceritanya hehe...

abilhikmah : simpan airmatanya chingu, masih ada yg bikin mewek lagi #peace

Za KyuMin : menghindar dari timpukan di belakang Kyu #digeplakMin ... ga tega nyiksa Kyu dgn bunuh diri. Dia udah cukup kesiksa kok, hehe... di chap ini udah ketemu kan jwban soal anak #ehm

PumpkinEvil137 : jangan sakit, tar siapa yg baca ff ini? Hehe... ini cobaan doang, biar cinta mereka makin kuat, hehe

orange girls : yah gitu deh. Nanti jg akan ada cara Kyu buat dapetin Min lagi. #lirikperutMin

Taniea458 : sabar ya chingu #lemparkaosKyubuatLap , ini dah lanjut. Keep reading ne ^.^

Intan ps : dunia ini panggung sandiwara #nyanyibarengKyuMin ... semakin kuat cobaan semakin kuat juga kok perasaan mereka. Apalagi... #lirikperutMin

Lee Minry : ini dah update. Keep reading ne...

PRISNA : jgn bingung chingu, ini Hasu nya yg maruk hehe... karena Min unyu jd Abeojinya hrs wokeh, Minho cocok kan, hehe... kalo Joongki... #efekDOTS

Zagiya Joy : Gemes? Peluk Kyu aja...

Cat13 : Hasu jg mewek ngetiknya #pelukWookie gak kok, ga terlalu lama pisahnya, #lirikcerita ... keep reading ne ^.^

Joyers : ini dah update sayang #kecupdariKyuMin

Michiko Haru : ini updatenya Haru... kita kembar ya? Beda 1 huruf doang ehhe.

Megakyu : ga lama kok pisahnya, keep reading ne ^.^

Kyuminkiss : (?) udah berdebar belom? Hehe... maaf ya jika agak berat bahasanya, gara2 Shindong sih! (apa hubungannya?)

Kiyumin : ini dah lanjut, Keep reading ne ^.^

ShinYangChoi : ini dah update, jgn marahin saya ya. Timpuk duit aja hehe...

LeeVinct: mereka ga pisah kok... Min ga bakal lama2 menderita #lirikperutMin

dwi-yomi : hehe... lagi kena virus DOTS, Joongki cool bgt disitu. Keep reading ne ^.^

shin neul ra : ga kok, ga end benera. Cuma ganti sesi baru aja, hehe... levelnya naik jd MPREG loh... keep reading ne ^.^

.

Thanks juga buat readers yang lain. Maaf kalo ada yg belom kesebut, mungkin kelewat hehe

Maklum ngetiknya malem mulu, jadi matanya agak2 #bow

.

Last,

Keep Reading ^.^

Gomawo

.

.

RyeoTa Hasu