Author : Miss Galaxy
Title : Truth or Dare? ( Chap 10 )
Cast :
Kim Jong In a.k.a Kai
Do Kyung Soo a.k.a Kyungsoo
And Other Cast
Rated : T
Genre : Yaoi/Shounan-ai, Romance, School life
.
.
.
.
KazekageLaxy present;
Karna saya seorang Kazekage, jadi semua cerita adalah milik saya secara SAH! XDD
DON'T READ IF YOU DON'T LIKE!
WARNING TYHPO! And,
.
.
.
Happy Reading ^^
.
.
.
.
[PREVIEW]
.
.
.
.
"Kyungsoo..Um, kau nakal.."
Kai terus berguman sendiri disela langkah kakinya yang terus menapaki jalanan aspal satu persatu. Dipungguh Kokohnya, si manis Kyungsoo telah bertengger cantik, lelaki manis itu sudah terlelap karna lelah, mungkin karna terlalu banyak menangis tadi.
"Bukankah sudah kubilang agar masuk kedalam rumah hm? Kufikir kau sudah tidur nyaman diranjangmu, ternyata kau mengikutiku ya? Hh.." Kai membawa pandangannya kearah Kyungsoo, menggoyang kepalanya pelan agar Kyungsoo nyaman bersandar di belakang kepalanya.
"Kau keras kepala sih. Kenapa melakukan ini? Ass." Kai meringis, dia berhenti sejenak menyentuh sudut bibirnya yang sedikit robek akibat pukulan Jin tadi. Yeah, meski akhirnya Jin yang terkapar, bukan berarti dia tak terluka.
"Kau mengacaukan balapanku, dan sekarang mengacaukan acara minumku. Kau membuatku Gila Kyungsoo." Kai kembali berjalan dengan langkah agak sempoyongan. Jangan lupakan bir yang dia minum tadi.
"Kau datang tiba-tiba, padahal aku berusaha agar tidak menemuimu lagi." Kai memperbaiki letak tangan Kyungsoo agar memeluk lehernya.
"Kenapa ya? Tapi sakit yang beberapa hari ini kutahan mendadak hilang setelah melihatmu. Aneh!" Kai terkikik dengan ucapannya sendiri. Khas orang mabuk, namun langkah pastinya terus berjalan menuju alamat Apertementnya.
"Ravi si brengsek itu! Dia ingin merebutmu Soo. Tapi tenang saja, aku tidak akan membiarkannya." Angin malam semakin bertiup, membuat tubuh mungil digendongannya menggeliat pelan. Kyungsoo berguman pelan dalam tidurnya.
"Kyungsoo! Aku merasa takut kehilanganmu, aku marah saat kau disentuh orang lain, dan aku hanya ingin namaku saja yang selalu kau sebut. Apakah.." Kai berhenti tepat didepan batas trotoar didepan sebuah gedung berlantai yang tinggi, kepalanya mendongak sekali lagi menatap wajah cantik Kyungsoo.
"Aku mulai mencintaimu?"
.
.
.
.
Cahaya matahari yang menyorot masuk membuat Kyungsoo menggeliat dalam balutan selimut tebalnya. Si mungil merasa terusik, dengan perlahan kelopak matanya terbuka dan menatap langsung kearah langit-langit kamar. Kyungsoo mengerjapkan mata menyesuaikan pengelihatannya. Kepalanya bergerak mengitari ruangan, dan seketika Kyungsoo langsung terduduk saat mulai sadar bahwa dia sedang berada ditempat asing. Lebih tepatnya bukan dikamarnya. Kamar ini terasa asing,
Klek!
Kepalanya bergerak dan matanya membulat mendapati sosok lain yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil dikepalanya.
"K..Kai.." Kyungsoo berguman lirih. Jadi.. Dia berada di kamar Kai? Astaga! Si mungil mulai memutar otaknya, dan ingatannya kembali dimalam saat terjadi perkelahian di Bar. Suga dan Jin yang memperebutkannya, dan..
"Apakah sudah merasa baik? Semalam suhu badanmu naik dan kau terus meracau.." Kai mendekat kemudian membungkuk dihadapan Kyungsoo, punggung tangannya terangkat menyentuh dahi Kyungsoo yang masih tertempel plester penurun panas. Posisi keduanya cukup dekat hingga Kyungsoo mampu mencium oroma tubuh Kai yang sangat segar dan wangi. Kyungsoo refleks mendongak dan matanya tepat menatap wajah Kai. Jantung! Sial, Jangan marathon sepagi ini.
"Sudah turun." Gumannya pelan kemudian menarik diri. Kyungsoo terdiam sejenak, mengatur deru nafasnya yang tiba-tiba saja memburu. Damn! Wangi tubuh Kai sungguh menggelitik hidungnya, dan hal itu membuat Kyungsoo menjadi gugup. Ia menyentuh dahinya dan menemukan sebuah plester tertempel disana. What the? Pasti wajahnya terlihat konyol saat ini. Semoga Kai tidak menempelkan plester bergambar Peroro didahinya.
"Ini..Dimana?"
"Apertementku.." Kyungsoo memutar kepalanya sekali lagi. Tempat ini cukup luas dan mewah. Ah! Kan sudah kuberitahu jika Kai itu orang kaya.
"Apa yang terjadi?" Cicit Kyungsoo pelan.
"Aku sudah menyuruhmu pulang, kenapa masih mengikutiku kemarin?" Kai menjawab tanpa menoleh kearah Kyungsoo, lelaki tan itu membawa nampan dari atas nakas kearah ranjang tempat dimana Kyungsoo terduduk. Roti selai kacang dan Susu Vanilla.
"Kau jadi merepotkan." Kyungsoo mendelik, perasaan gugupnya mendadak hilang. Dengan kesal dia menyibak selimut dan turun dari ranjang.
"Kalau aku merepotkan, lebih baik aku pergi saja!" Kyungsoo mulai sebal. Dia sudah bersiap pergi, namun sebuah tangan mencekal lengannya. Jangan tanya siapa pelakunya.
"Emosimu gampang sekali tersulut. Seperti wanita saja, cepat duduk Kyungsoo!" Kai berdecak, menarik Kyungsoo hingga si mungil kembali terduduk. Dia letakkan nampan berisi sarapan pagi itu diatas paha Kyungsoo. Kemudian mendudukkan dirinya sendiri disampingnya.
"Cepat makan!"
Kyungsoo terdiam menatap sarapan didepannya dengan pandangan kosong.
"Ada apa?" Kai membuka suara setelah menyadari Kyungsoo melamun. Si mungil mengangkat kepalanya, membuat satu garis lurus hingga pandangan keduanya terkunci. Mata itu.. Kyungsoo tak tahu apakah dia sudah jatuh kedalam manik itu atau tidak. Kyungsoo tak tahu apakah perasaan yang selama ini dirasakannya salah atau benar. Kyungsoo butuh kepastian, Kyungsoo butuh harapan yang pasti. Maka dengan segenap keyakinan, Heartlipsnya mulai bergerak.
"Truth or Dare?"
Dahi lelaki tan itu berkerut tajam, matanya menyipit menatap tak mengerti pada Kyungsoo. Sebenarnya apa yang sedang lelaki bermata bulat ini fikirkan?
"Apa maksudmu?"
"Truth or Dare?"
"Hentikan Kyungsoo!"
"Truth or Dare?"
Kai menghela nafas, ia menatap pasrah pada Kyungsoo yang masih ngotot dan keras kepala. Sepertinya dia harus menjawab pertanyaan konyol ini dengan cepat. Mimik wajahnya berubah menjadi serius, otaknya terus berputar memilih jawaban tepat yang tak merugikannya kelak, dan jawaban itu..
"Truth."
Kyungsoo mengedip sekali sebelum menatap serius kearah Kai. Sepertinya jawaban barusan cukup membuatnya puas.
"Apakah kau mencintaiku?"
Bagai tersambar petir dipagi buta, Kai tersentak kaget. Matanya melebar mendengar pertanyaan yang baru saja Kyungsoo luncurkan. Dia tatap wajah cantik didepannya ini dalam–dalam. Kyungsoo butuh jawaban.
"Aku.." Sejak kapan seorang Kim Kai gugup? Sialan!
"Apakah kau mencintaiku?"
Sebisa mungkin Kai menutupi rasa kagetnya dengan merubah raut wajahnya kembali datar seperti Kai yang biasa, pandangannya terpaling kearah lain asalkan jangan sampai menatap wajah penuh harap disampingnya ini. Kai berdehem sekali mencairkan suasana yang tiba-tiba hening.
"Aku tidak tahu."
"Aku butuh kepastian! Aku tak mau berdiri didalam bayang-bayang semu."
"Aku tak pernah menyuruhmu berdiri didalam bayangan semu itu."
"Tapi kau yang membawaku kesana." Ada sedikit nada kesal dalam ucapannya. Nafas Kyungsoo naik turun menahan emosi. Rasanya dia ingin sekali menangis, kenapa mencari jawaban atas pertanyaan hatinya sendiri sangat sulit? Kai yang telah menyeret perasaannya terlampau dalam, kini ia ingin melepaskan diri? Bodoh! Kai sendiri yang membawanya kedalam bayang-bayang semua itu. Terdengar helaan nafas panjang setelahnya. Kyungsoo menundukkan kepalanya, dia ingin menyerah saja.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Karna aku ingin tahu! Aku tidak mau dipermainkan!"
Kyungsoo terisak pelan, sangat pelan sampai-sampai semua kesedihannya tak terlihat. Dia hanya sedih memikirkan perasaannya yang tak tentu arah jalannya. Sekali lagi dia butuh Kepastian. Hingga dia merasakan tubuh Kai terasa sangat dekat dengannya, dan tak menyadari bahwa dagunya kini terangkat dan sebuah kecupan mendarat didahinya. Kyungsoo membeku! Andai saja tak ada plester dikeningnya, pasti bibir Kai benar-benar menyentuh dahinya sekarang.
"Aku tak tahu Kyungsoo! Ayo kita mencari itu semua bersama-sama.."
.
.
.
Luhan berdiri dengan terheran-heran pagi ini. Lelaki manis mirip rusa itu sedari tadi terus mengernyitkan dahinya bingung. Bagaimana tidak? Pagi ini sahabatnya itu terlihat sangat berbeda. Ah, maksudnya bukan dari penampilan. Well, penampilan Kyungsoo yang sederhana tetap membuatnya terlihat manis. Namun yang berbeda untuk hari ini adalah, sosok Kyungsoo baru saja keluar dari sebuah mobil Battley Mansory bersama Kai. Catat! KAI.
Sebenarnya ini tidak salah. Mereka sepasang kekasih kan? Jadi ini semua terlihat wajar, hanya saja baru kali ini Luhan melihat Kyungsoo sangat menurut bahkan mau digandeng berjalan melewati koridor sekolah yang kini mulai ramai. Para penggosip itu! Luhan mendengus, berani bertaruh bahwa sebentar lagi pasti akan ada gossip picisan yang tersebar. Si lelaki rusa itu mengangkat bahunya acuh, seketika matanya menangkap sosok lain yang baru saja datang bersama motor Ninjanya. Luhan sudah hafal siapa sosok lelaki pucat itu. Saat pandangan keduanya bertabrakan, segera saja Luhan berlari pergi meninggalkan Sehun yang masih menatapnya dengan senyum kemenangan.
.
.
.
Kai tersentak saat menyadari sesuatu membentur punggungnya, dia memutar kepala kemudian menatap sinis sang pelaku.
"Ada apa?" Geramnya kesal, sementara Sehun hanya mengedikkan bahunya acuh. Lelaki pucat itu menunjuk kearah Kalender Mini yang baru saja dia lemparkan kearah sahabatnya itu.
"Kenapa memberiku tanggalan?" Kai semakin dibuat kesal, dia tatap Kalender dan Sehun bergantian dengan tak mengerti.
"Lihat tanggalnya."
"Aku sudah tahu, tak perlu memberitahuku lagi." Kai meletakkan kalender mini itu diatas meja, kemudian melanjutkan lagi acara bermain gamenya. Sehun yang melihat itu memutar bola mata malas, dia mendekat kemudian mengangkat kalender itu tepat didepan muka Kai.
"Kau fikir aku mengingatkan hari ulang tahunmu? Maaf saja ya, itu tidak penting! Lihat tanggal yang dilingkari garis merah ini…Bodoh!" Kai mendesis kesal mendengar kalimat terakhir yang Sehun ucapkan, sambil menahan kesal, dia tatap tanggal yang Sehun maksud.
"Memang ada apa ditanggal ini?"
"Kau memang bodoh!"
"Tutup mulutmu Brengsek!" Sehun tak akan takut dengan ancaman itu, tangannya bergerak menunjuk kebagian kalender paling bawah, dimana sebuah keterangan tertera disana, dan seketika barulah Kai tersentak.
"Dari mana kau mendapatkannya?" Sehun tersenyum menang.
"Kelas Luhan!"
.
.
.
Kyungsoo tak pernah berfikir sebelumnya bahwa semua ini akan terjadi. Si mungil itu mendongak dan mendapati Kai telah berdiri didepannya. Luhan yang melihat itu langsung terbatuk sengaja dengan berlebihan, membuat Kyungsoo rasaya ingin mencekiknya saja. Kyungsoo merutuk dalam hati, semua mata kini tertuju padanya.
"A..ada apa?"
YA! Damn! Kenapa dia harus gugup? Kai masih diam dengan wajah Cool –Seperti biasanya. Well, Kai si Pemimpin Gangster pembuat onar itu telah kembali sekolah setelah beberapa hari menghilang asal kalian tahu, dan semua ini terjadi karna di pagi hari itu. Yeah! Dipagi hari dimana Kai mencium kening Kyungsoo dan mengatakan bahwa dia akan mencoba melakukan semuanya dari awal. Apa ini terdengar seperti meyakinkan perasaan masing-masing? Kyungsoo rasa semua ini benar. Mereka terikat dalam sebuah hubungan karna sebuah permainan bodoh, dan kini mereka terjebak dalam sebuah perasaan semu. Rasa tergantung itu mau tak mau membuat keduanya mencari perasaannya sendiri. Dan itulah sebabnya kenapa Kyungsoo memberikan Truth or Dare pada Kai, dan sepertinya semua presepsinya hampir benar. Kai juga masih meyakinkan perasaannya. Tinggal menunggu dan memutuskan nantinya.
"Kyungsoo!"
Si mata bulat itu tersentak dari semua pemikirannya. Astaga! Dia melamun. Dan dia tak sadar bahwa Kai telah menariknya hingga berdiri saat ini.
"Waktu istirahat hanya lima belas menit. Ayo kekantin!" Dan tangan besar Kai telah menggandeng erat jemarinya. Kyungsoo tersipu malu, dia menunduk menyembunyikan wajah tomatnya. Belum lagi semua pasang mata benar-benar terkunci padanya saat ini, Kyungsoo sangat malu. Inikah yang Kai maksud mencari 'sesuatu' itu bersama-sama?
Luhan yang sedari tadi hanya memperhatikan tersenyum seorang diri, matanya yang terlalu fokus pada Kai dan Kyungsoo yang kini sudah berlalu sampai tak menyadari bahwa Sehun kini tengah berdiri didepan mejanya, menatapnya intens.
"Hai Girl."
Luhan tersadar, dia mendelik pada Sehun yang baru saja memangggilnya dengan..apa? Girl! YA! Sepertinya manusia albino ini sama-sama stress seperti si rambut aneh itu, ah~ siapa namanya ya? Ya! Zelo. Luhan mendengus kesal, dia segera beranjak meninggalkan Sehun keluar kelas. Tapi hei~ Sehun kembali mengekorinya.
"YA! Berhenti mengikutiku Sehun!"
"Aku tidak mau."
Luhan berhenti melangkah hingga Sehun yang dibelakangnyapun ikut berhenti. Si pucat hanya tersenyum tampan, membuat Luhan mendadak gugup seketika.
"Pergi! Jangan mengikutiku. Apa kau tak punya teman?"
"Tidak."
"Kalau begitu cari."
"Tidak."
Luhan jengah, dia mendekat kemudian menendang tulang kering Sehun keras-keras, membuat si pucat langsung meringis sakit.
"AHK! Kenapa menendangku Luhannie yang cantik?"
Luhan mendelik sekali lagi, orang ini benar-benar menyebalkan. Jika saja dia tak merasakan wajahnya akan terbakar atas panggilan manis barusan, mungkin...Tunggu! Apa katanya tadi? Luhannie yang Cantik? Shit! Luhan segera berlari pergi sambil memegangi kedua pipinya. Ya! Dia malu!
.
.
.
"Apa yang kau suka?"
Kyungsoo berhenti mengunyah roti selainya saat pertanyaan Kai meluncur dari bibirnya, mata bulat itu mengedip-ngedip menatap lelaki tan didepannya dengan bingung.
"Apa maksudnya?"
"Apa yang kau suka Kyungsoo?" Kai mendesah kesal. Lelaki mungil ini polos atau bodoh sih? Kai melipat kedua tangannya didepan dada, memperhatikan Kyungsoo yang terlihat tengah berfikir sambil mengunyah kembali rotinya. Astaga! Si mungil ini benar-benar mirip Puppy dan menggemaskan! Lihat mata bulatnya yang bergerak-gerak keatas dan astaga! Bibir itu! Berhentilah mengerucut. Tanpa sadar si lelaki tan mulai gusar ditempatnya.
"Aku suka Pororo, Spagetthi..Umh, aku suka salju dan.. apa lagi ya? Ah! Aku suka menonton flim Anime Jepang!" Kyungsoo sedikit memekik saat mengucapkan kalimat akhirnya, membuat otak Kai yang baru saja berfantasi kembali tersadar.
"Memang kenapa?" Kyungsoo menggigit Rotinya kembali hingga selai nanas menodai sudut bibirnya. Lelaki tan itu mendelik, kemudian melemparkan tissue kearah Kyungsoo!
"Makanmu masih seperti anak kecil. Bersihkan itu!" Dan Kai bawa pandangannya kearah lain, kemanapun itu asalkan jangan menatap sosok mungil didepannya ini.
.
.
.
Semua kembali berjalan wajar seperti hari-hari sebelumnya, saat ini –Seperti biasa – sosok Kyungsoo tengah berjalan riang memasuki kelasnya. Well, Kyungsoo memang seorang yang periang, dan keberadaan lelaki tan yang beberapa hari ini bersamanya cukup membuat keadaan hatinya semakin membaik. Namun pagi ini Kyungsoo kesekolah seorang diri dengan alasan bahwa Kai ada urusan yang tak Kyungsoo ketahui. Mengingat lelaki tan itu seketika membuat pipi Kyungsoo memanas. Sikapnya yang dewasa membuat Kyungsoo merasa nyaman, mungkinkah ini jawabannya?
"Kyungsoo!"
Si mungil tersentak ditempat, kemudian dia berbalik dan menemukan sosok Luhan memasuki kelas dengan wajah pucat, dahi Kyungsoo dibuat bertemu karnanya. Ada apa dengan anak ini?
"Lu-"
"Kau harus ikut denganku Soo!" Ucap Luhan dengan raut wajah kacau, Kyungsoo semakin dibuat bingung, dia tatap Luhan dengan pandangan menuntut.
"Sebenarnya ada apa Luhan Hyung?"
"Tak ada waktu. Ayo cepat ikut aku!" Dan sungguh Kyungsoo membenci Luhan yang seenak jidatnya sudah menarik tangannya keluar kelas. Ah! padahal dia baru saja menginjakkan kaki disana selama beberapa menit.
"Luhan Hyung! Sebenarnya ada apa sih?" Jengkel Kyungsoo, namun toh dia tetap mengikuti Luhan menuju kearah parkiran dimana sebuah mobil sedan hitam telah terparkir disana.
"Lu-"
"Kai kecelakaan pagi ini, dan kondisinya kritis. Kau puas?"
Dan butuh beberapa detik bagi Kyungsoo mencerna ucapan Luhan barusan, seketika matanya melebar dan perasaannya mulai diselimuti kekhawatiran.
"APA?"
Oh sungguh! Baru tadi pagi Kai mengiriminya pesan, dan sekarang lelaki tan itu kecelakaan? Kyungsoo tatap wajah Luhan sekali lagi. Jika dilihat, ekspresi Luhan terlihat sangat meyakinkan saat ini. Dan seketika Kyungsoo mulai panik, dia mulai menarik-narik Luhan agar cepat-cepat membawanya kerumah sakit. Yes! Sorak Luhan dalam hati.
.
.
.
Kyungsoo tak henti-hentinya merepas kepalan tangannya sendiri menahan gugup, sesekali heartlipsnya akan berguman memanjatkan Do'a. kyungsoo mendongak menatap Sehun yang terlihat serius dibangku kemudi.
"Sehun-ah! Kenapa lama sekali sampainya?"
Sehun melirik Kyungsoo lewat kaca spion diatasnya. Dibalik flat facenya, lelaki pucat itu terkikik geli melihat ekspresi Kyungsoo yang terlihat sangat khawatir saat ini, ekor matanya menatap Luhan disampingnya.
"Sebentar lagi sampai."
Mobilpun berbelok dan berhenti disuatu tempat. Kyungsoo menghela nafas lega karna dia akhirnya sampai juga. Entah karna Kyungsoo yang terlalu khawatir atau apa, waktu seolah berjalan lamban hingga menuju rumah sakitpun rasanya sangat lama. Tunggu! Rumah sakit? Dahi Kyungsoo bertemu saat tubuhnya telah keluar sepenuhnya dari dalam mobil. Bangunan ini tak terlihat seperti rumah sakit baginya. Rasanya sangat aneh. Rumah sakit seharusnya penuh dengan orang-orang yang dirawat dan…bukan bangunan tertutup seperti ini.
"Luhan Hyung! Inikah tempat- YA! YA! Kenapa mataku ditutup? YA! Lepaskan aku!" Kyungsoo memekik tak terima saat Sehun menutup kedua matanya dengan dasi sekolah. Si mungil itu terus memberontak dalam dekapan Sehun yang kini tengah menyeretnya masuk kedalam bangunan yang Kyungsoo sendiri tak tahu apa itu. Perasaan takut itu mulai menyergap kedalam hatinya. Jangan-jangan..Sehun dan Luhan bersekongkol untuk menjebaknya dan menjualnya pada om–om mesum? Ah! TIDAKK!
.
.
.
"LEPASS! YA!"
Sehun mendesis sebal, sepertinya dia agak kewalahan menghadapi Kyungsoo yang tak lelahnya berontak sedari tadi. Luhan yang berada disampingnya segera memberi aba-aba saat dia telah berhasil membawa Kyungsoo kedalam ruangan yang ternyata,
"Satu,"
"Dua,"
"Tiga,"
DOOOR!
"SELAMAT ULANG TAHUN KYUNGSOO!"
Penutup matanya terbuka, dan Kyungsoo masih diam mematung ditempat, membiarkan Conffeti yang Suho semprotkan mengotori kepala dan wajahnya. Butuh untuk beberapa kali kedipan hingga retina matanya mampu melihat dengan jelas keadaan didepannya setelah cukup lama matanya tertutup kain. Kyungsoo menatap bingung pada manusia-manusia didepannya ini. Astaga! Hyungnya terlihat sangat konyol dengan topi kerucut berwarna ungu itu. Apa ini?
"YA! Dimana Kai? Kau bilang dia kecelakaan? Kenapa membawaku kesini?" Kyungsoo berteriak emosi entah karna apa. Dia ingin melihat Kai saat ini. Kemudian Luhan menunjuk keatas, dan Kyungsoo mendongak mendapati sebuah banner besar tertempel ditembok berisi fotonya dan tanggal lahirnya. Matanya membulat, sekali lagi dia menatap keadaan sekeliling. Sebuah gedung rapat yang diubah menjadi pesta ulang tahun? Oh! Demi Neptunus! Kyungsoo menepuk jidatnya sendiri. Bagaimana bisa dia melupakan hari bersejarah dalam hidupnya sendiri?
"Astaga Kyungsoo sayang. Jangan bilang kau lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunmu."
"Ha?"
TAK!
"Ahk!" Kyungsoo meringis mengusap kepala atasnya, kemudian dia memekik melihat siapa si pelaku tersebut.
"Dasar Bodoh! Bagaimana bisa kau melupakan hari ulang tahunmu huh?" Suho tersenyum gemas, kemudian memeluk adik kecilnya itu sayang.
"Selamat ulang tahun my baby Kyungsoo!"
.
.
.
Pesta pagi ini berjalan sangat menyenangkan. Banyak sekali ternyata yang datang. Teman-teman sekelasnya, Baekhyun bersama ehem Chanyeol, Luhan, Suho hyung dan Lay Hyung, keluarganya, Sehun, teman-temannya dan..
Ada yang kurang. Kyungsoo mengedarkan pandangannya kesana kemari diantara para manusia yang masih asik makan ataupun berdansa. Konyol memang! Pesta ulang tahunnya terlihat seperti pesta anak-anak. Dan berterimakasihlah pada acting Luhan yang begitu meyakinkan sampai-sampai membuatnya khawatir setengah mati. Kyungsoo bersumpah akan memukul kepalanya nanti. Yeah~ orang yang sangat dia khawatirkan itu tak ada disini.
Kai.
Bahkan Kai tak datang saat acara potong kuenya. Padahal awalnya Kyungsoo akan memberikan potongan kue keempat padanya.
"Mencari seseorang?"
Kyungsoo menoleh saat sebuah tangan menepuk bahunya. Baekhyun tersenyum dengan sangat lugu, disebrang sana Chanyeol tengah menatapnya intens sebelum akhirnya memalingkan wajahnya. Kyungsoo belum tahu pasti ada hubungan apa antara keduanya, Well dia akan bertanya nanti.
"Tidak." Sungguh Kyungsoo berbohong saat ini.
"Jangan bohong."
"Tidak Baek Hyung!"
"Bahkan orang itu Kai sekalipun?" Kyungsoo diam, Baekhyun menebaknya sesuai sasaran. Sedikit rasa sedih menelusup kedalam hatinya, kenapa dihari seperti ini lelaki tan itu menghilang? Kyungsoo tak mengharapkan apapun, hanya saja dia ingin melihat Kai mengucapkan selamat ulang tahun padanya, itu saja. Ah! Kyungsoo! Kau terlalu berharap.
"Dia ada di parkiran belakang. Cepat temui dia." Ucap Baekhyun seolah-olah dia tahu apa yang tengah Kyungsoo rasakan saat ini. Lelaki manis ber-eyeliner itu segera mendorong tubuh Kyungsoo yang sama mungilnya agar cepat pergi keparkiran belakang. Mau tak mau Kyungsoo menurut, dia membawa langkahnya ke pintu belakang. Sebelum Baekhyun pergi meninggalkannya, si manis itu berbisik.
"Dan Kai yang menyiapkan semua ini. Asal kau mau tahu itu!" Kyungsoo tersentak. Menatap Baekhyun intens. Siapa tahu sahabat satunya ini berbohong seperti yang Luhan lakukan tadi. Tapi heii~ Baekhyun orang yang jujur. Kyungsoo fikir, pesta ini adalah ide konyol Luhan dengan ibunya. Tapi, Jika Kai yang menyiapkan semua ini, kenapa dia bahkan tidak ada disana? Dengan perlahan Kyngsoo memutar knop hingga pintu terbuka, parkiran ini cukup luas dan lengang. Ada beberapa mobil terparkir disinia dan..
Seorang lelaki tan yang asik merokok diatas kap mobil sport merahnya.
Kyungsoo mendengus sebal. Dia berjalan perlahan dengan maksud agar Kai tak mengetahui keberadaannya. Namun baru selangkahpun Kai sudah menoleh. Astaga! Kau tertangkap basah Kyungsoo! Kaki-kaki pendeknya berjalan mendekat hingga kini berdiri dihadapan Kai. Lelaki tan itu segera membuang puntung rokoknya yang masih setengah.
"Aku heran kenapa kau tak pernah mendengarkanku Tuan Kim." Kyungsoo melipat kedua tangannya didepan dada. Kai hanya menatapnya dengan senyuman kecil.
"Oh! Kau bertambah galak setelah bertambah umur Nyonya Do."
"Ya!" Kyungsoo mendelik tidak terima. Dia laki-laki, bukan perempuan. Bibirnya terpout kesal setelahnya.
"Kenapa tidak masuk kedalam?"
"Aku tak mau terlihat bodoh diacara seperti anak-anak itu."
"Tapi kau kan yang menyiapkannya?" Alis Kai tarangkat sebelah, mencoba menyangkal.
"Kenapa kau percaya diri sekali jika aku yang membuatnya?"
"Karna kau menjadi alasan aku dibawa kesini."
"Itu tak ada hubungannya."
Kyungsoo menghentakkan kakinya kesal. Memang berdebat dengan Manusia Kutub ini sangat menyabalkan. Kyungsoo butuh kesabaran super extra untuk menghadapainya. Kenapa dia menyangkal sih?
"Katakan jika kau yang menyiapkannya."
"Tidak."
"Katakan!"
"Kenapa harus?"
Kyungsoo terdiam sejenak, menatap onyx pekat itu dalam-dalam. Seolah jiwanya ikut jatuh kedalam lautan dalam yang bernama Pesona. Kyungsoo tak bisa memungkirinya saat ini. Perlahan dia melangkah maju dan,
"Karna..Berarti kau peduli padaku. Terimakasih," Tangan kecil Kyungsoo terangkat menarik kerah kemeja Kai hingga wajah tampan itu mendekat dan bibir keduanya pun bertemu. Kai tersentak ditempat melihat perlakuan Kyungsoo barusan, namun saat Kyungsoo akan melepaskan diri, dengan cepat tangannya terangkat menahan tengkuk Kyungsoo. Si mungil tersentak dan mencoba berontak, namun semua itu sia-sia. Bibir keduanya kembali bertemu dalam sebuah ciuman yang mulai memanas, sampai-sampai Kyungsoo harus meronta karna mulai kekurangan Oksigen. Kai melepaskan tautannya, benang saliva yang entah milik siapa langsung menjulur jatuh dari sudut bibir Kyungsoo. Kai terkekeh, lihatlah ekspresi Kyungsoo terbakar yang menahan malu saat ini.
"Jadi..Apa kau sudah menemukan apa yang kau cari?" Kyungsoo menggelang.
"A..aku..be-eb. Belum tahu."
Shit! Dia tergagap lagi. Dan Kai yang melihat ekspresi itu sangat gemas. Lelaki tan itu mulai tertawa.
"Jangan tegang seperti itu Kyungsoo!"
Kyungsoo masih diam dengan nafas yang masih memburu. Tangan Kai terangkat mengusap liur dibibir Kyungsoo dan si mungil membiarkan hal itu terjadi. Tatapannya masih jauh berenang disana, membuat otaknya serasa tersendat dan aliran darahnya berhenti tepat diwajahnya. Pasti wajahnya Awkward sekali saat ini. Pertiwi, telan saja aku. Jerit Kyungsoo dalam hati saat lelaki tan itu kini tertawa semakin keras. Sial!
.
.
.
"Ada yang ingin bertemu denganmu."
Jennie menghentikan acara latihan menarinya, diraihnya sebuah handuk kecil untuk mengusap peluhnya. Setelah merapikan diri sebentar, gadis cantik itu segera keluar dari ruang latihan menuju ruang tamu dimana Hanbin sedang bermain ponsel dan..
"Ravi."
Sedang duduk manis disana.
Ravi mengangkat kepalanya dan tersenyum, melambai manis kearah sepupunya itu.
"Hallo~ sepupuku yang cantik."
Jennie mendelik, mendekat dengan kedua tangan terlipat didepan dada.
"Ada apa kesini?" Tanyanya Sewot.
"Kau galak sekali sih."
"Aku tak punya banyak waktu lagi."
"Benarkah? Oke. Buatkan sepupu tampanmu ini minuman dulu, maka aku akan bicara dan pergi." Jennie mendengus. Jadi sepupu kayanya itu hanya numpang minum disini? Sialan. Dengan kesal Jenniepun melangkah memasuki dapur, meninggalkan dua lelaki diruang tamu itu.
"Kapan Jennie akan debut?" Hanbin menoleh pada 'Calon Sepupu Iparnya' tersebut, dia terlihat berfikir sejenak.
"Seminggu lagi." Dan dia kembali menunduk memainkan ponselnya.
"Bagus." Ravi menyeringai, tanpa disadari dia meraih ponsel berwarna putih lainnya diatas meja. Kemudian dengan alasan sibuk, dia berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan.
"Kemana Ravi?" Jennie datang dengan nampan berisi tiga buah Jus, dia tatap Hanbin meminta penjelasan.
"Pulang." Dahi gadis itu berkerut, dan dia baru menyadari bahwa ponsel diatas mejanya telah hilang. Gadis itu menghembuskan nafas gusar. Apalagi yang akan sepupunya itu lakukan?
.
.
.
Kyungsoo masih diam bahkan saat mobil yang ditumpanginya berhenti. Si mungil mendongak dan mendapati rumahnya sendiri telah terpampang nyata dihadapannya. Perlahan dia mulai melepas sabuk pengamannya, menatap sekilas Kai yang masih menatap focus kedepan.
"Terimakasih," Kyungsoo berujar pelan. Jangan tanya lagi, dia masih sangat malu.
"Hm."
Kai hanya menjawab dengan deheman kecil. Tanpa menoleh kebelakang lagi, Kyungsoo mulai melangkah memasuki rumahnya dan berlari-lari menaiki tangga menuju kamarnya.
Klek!
Dan.. seketika matanya membelalak mendapati sebuah kotak besar berwarna biru tergeletak didalam kamarnya. God! Siapa yang membawa kotak yang besarnya bahkan mengalahkan besar tubuhnya? Buru-buru Kyungsoo mengambil sebuah kursi agar sampai kebagian atas kotak, dan matanya kembali membulat setelahnya saat ia berhasil membaca deretan kalimat diatasnya.
12 – 01 – 2015
'Cepat tumbuh besar bocah kecil ^^
Aku akan mengajakmu kencan besok pagi. Bersiaplah'
From : Kim Kai.
Kyungsoo menarik sudut bibirnya keatas, segera dia menarik pita besar yang mengingat kotak itu dan melihat isinya. Sebuah boneka Peroro dan Krong yang sangat besar –Sekali lagi lebih besar dari tubuhnya– membuat Kyungsoo memekik senang, kembali melihat kedalam kotak itu dan mendapati sebuah Origami Musim Salju berlapis kaca bening dan juga tumoukan komik–komik manga favorit Kyungsoo . Si mungil memekik sekali lagi, otaknya kembali teringat sesuatu, ah~ saat Kai menanyakan kesukaannya di kantin tempo lalu. Ini.. semua hadiah ini persis seperti yang Kyungsoo sebutkan. Perasaan bahagia mulai menjalari setiap nadi dalam tubuhnya. Kyungsoo berlalri-lari kearah balkon dengan Origami ditangannya, dibukanya jendela lebar-lebar dan berteriak kencang pada mobil Kai yang baru saja melaju hendak meninggalkan rumahnya.
"KAIIIII~ TERIMAKASIHHH~ AKU SANGAT MENYUKAINYAA~"
Kai tersenyum kecil didalam mobilnya. Sekilas dia melirik kearah balkon dimana Kyungsoo berteriak girang sambil mengacung-acungkan Origaminya. Perasaannya tiba-tiba membaik, dengan senang dia mulai menjalankan mobilnya membelah jalanan. Cukup lama hingga sebuah mobil putih mendahuluinya. Sisi kaca mobil itu terbuka, dan mata Kai terbelalak milihat siapa si pengemudi itu..
"Dia.."
.
.
.
.
TBC.
.
.
.
SORRY FOR LATE TO UPDATE GUYS!
THANK'S BUAT READERS YANG SUDAH MEMBACA, MEM-FOLLOW, ME-FAVORITKAN & ME-RIVIEW FANFICT INI !
THANK'S YOU VERY MUCH GUYS!
SEE YOU NEXT CHAPTER AND SARANGHAE {}
